i
ANALISIS DAMPAK PERALIHAN PENGELOLAAN BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN
TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH KABUPATEN MAROS
MIRNAWATI
JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2013
ii
ANALISIS DAMPAK PERALIHAN PENGELOLAAN BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN
TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH KABUPATEN MAROS
sebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi
disusun dan diajukan oleh
MIRNAWATI A31109110
kepada
JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2013
iii
ANALISIS DAMPAK PERALIHAN PENGELOLAAN BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN
TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH KABUPATEN MAROS
disusun dan diajukan oleh
MIRNAWATI A31109110
telah diperiksa dan disetujui untuk diuji Makassar, Oktober 2013
Pembimbing I Pembimbing II
Dr. Yohanis Rura, S.E., M.SA, Ak. Drs. Muhammad Ashari, M.SA, Ak.
NIP. 19611128 198811 1001 NIP. 19650219 199403 1002
Ketua Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Hasanuddin
Dr. Hj. Kartini, S.E., M.Si., Ak.
NIP. 19650305 199203 2001
iv
ANALISIS DAMPAK PERALIHAN PENGELOLAAN BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN
TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH KABUPATEN MAROS
disusun dan diajukan oleh
MIRNAWATI A31109110
telah dipertahankan dalam sidang ujian skripsi pada tanggal 2013 dan
dinyatakan telah memenuhi syarat kelulusan
Menyetujui, Panitia Penguji
No. Nama Penguji Jabatan Tanda Tangan
1. Dr. Yohanis Rura, SE., M.SA., Ak. Ketua 1………
2. Drs. Muhammad Ashari, M.SA., Ak. Sekertaris 2………...
3. Dr. Syarifuddin, SE, M.Soc.Sc, Ak Anggota 3………
4. Drs. Deng Siraja, M.Si., Ak. . Anggota 4………...
5. Drs. Abd. Rahman, Ak. Anggota 5………...
Ketua Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Hasanuddin
Dr. Hj. Kartini, S.E., M.Si., Ak.
NIP. 19650305 199203 2001
v Saya yang bertanda tangan di bawah ini,
nama : MIRNAWATI
NIM : A31109110
jurusan/program studi : AKUNTANSI
dengan ini menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa skripsi yang berjudul ANALISIS DAMPAK PERALIHAN PENGELOLAAN BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH
KABUPATEN MAROS
adalah karya ilmiah saya sendiri dan sepanjang pengetahuan saya di dalam naskah skripsi ini tidak terdapat karya ilmiah yang pernah diajukan oleh orang lain untuk memperoleh gelar akademik di suatu perguruan tinggi, dan tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis dikutip dalam naskah ini dan disebutkan dalam sumber kutipan dan daftar pustaka.
Apabila di kemudian hari ternyata di dalam naskah skripsi ini dapat dibuktikan terdapat unsur-unsur jiplakan, saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut dan diproses sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku (UU No. 20 Tahun 2003, pasal 25 ayat 2 dan pasal 70).
Makassar, Oktober 2013 Yang membuat pernyataan,
MIRNAWATI
vi Bismillahirrahmanirraim
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Segala puji serta rasa syukur peneliti panjatkan kepada Allah SWT, memohon pertolongan kepadaNya, dan memohon ampun kepadaNya. Peneliti bersaksi bahwa Muhammad Shallallahu’alaihi wa Sallam adalah hamba dan utusanNya. Alhamdulillah dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala, peneliti akhirnya dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Analisis Dampak Peralihan Pengelolaan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Terhadap Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Maros’’ peneliti menyusun skripsi ini dalam rangka memenuhi salah satu persyaratan untuk menyelesaikan pendidikan pada jenjang Strata Satu (S1) Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin.
Peneliti menyadari bahwa terselesaikannya skripsi ini berkat campur tangan dari berbagai pihak. Walaupun diantaranya merupakan hasil pemikiran peneliti namun banyak pula yang peneliti ambil dari tulisan dan tuturan kata orang lain, baik untuk dikutip maupun sebagai bahan untuk peneliti olah lebih lanjut. Untuk itulah peneliti ingin mengucapkan rasa syukur serta berterima kasih dan memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada pihak-pihak yang ikut serta dalam membantu pembuatan skripsi ini. Ucapan terima kasih peneliti berikan kepada:
1. Bapak H. Muhammad Amin dan mamaku tersayang Hj. Rahayu sebagai pembimbing hidup peneliti yang memberikan kasih sayang yang tulus,
vii
orang tua yang telah membesarkan peneliti dan menyekolahkan hingga kejenjang yang tinggi. Peneliti menyadari bahwa apa yang peneliti berikan kepada beliau tidak akan mampu membalas segala kebaikannya rasa terima kasih yang peneliti berikan tidak sebanding dengan semua pengorbanan beliau kepada peneliti. Bapak dan mamaku tersayang terima kasih buat semangat dan motivasi yang engkau berikan, air mata disetiap doa tulusmu semoga Allah memberikan kebahagian dan senantiasa menjagamu, amin ya Allah. Kakakku Rahmi dan Adikku Indah Ayu Lestari, Muh. Zulkifli Amin. Terima kasih buat doanya, semangat, dukungan serta bantuannya kepada peneliti selama hidup peneliti. Serta buat yang tersayang kemanakanku Aan dan Akhsan yang selalu menghibur peneliti setiap saat. Ucapan terima kasih peneliti sampaikan kepada seluruh keluarga besar yang memberikan semangat serta terima kasih atas segala doanya.
2. Bapak Dr. Yohanis Rura, S.E., M.SA, Ak dan Drs. Muhammad Ashari, M.SA, Ak, terima kasih atas waktu yang diberikan kepada peneliti, yang membimbing, memberikan arahan, motivasi dari awal penyusunan hingga penyelesaian skripsi ini.
3. Bapak Drs. Rusman Thoeng, M.com.BAP.AK sebagai Penasehat Akademik peneliti, terima kasih telah membimbing peneliti mulai dari awal perkuliahan hingga peneliti menyelesaikan studi dikampus tercinta.
4. IbuDR. Hj. Kartini, SE., M.Si., Akselaku KetuaJurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin.
viii
pengajaran yang terbaik buat peneliti ilmu yang bermanfaat buat masa depan peneliti. Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya atas didikannya selama ini.
6. Riswan Baharuddin, S.E yang insya Allah akan menjadi imam dalam kehidupan peneliti, terima kasih atas semangat, dukungan, doa serta kesediannya yang selalu setia mendampingi, membantu peneliti hingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini.
7. Pemerintah Kabupaten Maros khususnya Dinas Pendapatan Daerah terima kasih buat kesediannya memberikan data yang peneliti butuhkan dalam membantu penyusunan skripsi ini.
8. Para pegawai Jurusan Akuntansi, pegawai akademik, pegawai kemahasiswaan Fakultas Ekonomi dan Bisnis, dan seluruh staf lainnya yang telah membantu peneliti dalam kelancaran urusan akademik. Terima kasih atas bantuannya.
9. Sahabat kecilku yang tersayang Karina Putri, S.pd dan Isma Amri, sahabat terbaik peneliti yang selalu ada saat susah maupun senang terima kasih atas doa dan dukungannya selama ini.
10. Seluruh teman-teman seangkatan K09nitif terima kasih atas bantuannya, segala kebaikan yang kalian berikan kepada peneliti, terima kasih yang sebesar-besarnya karena telah membantu banyak hal selama peneliti menjalani perkuliahan dikampus tercinta. Terima kasih buat kalian semua yang tidak sempat peneliti sebutkan namanya.
11. Kepada seluruh teman-teman di Fakultas Ekonomi dan Bisnis angkatan 2006, 2007, 2008, 2009, 2010, 2011, dan 2012 serta semua pihak yang
ix
Harapan peneliti, semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi para penuntut ilmu, baik dalam bangku perkuliahan maupun bidang penelitian, agar dapat menciptakan pelajar-pelajar yang berkualitas. Peneliti memohon maaf jika dalam penulisan skripsi ini terdapat kesalahan karena segala kesalahan seutuhnya jadi tanggup jawab peneliti, peneliti menyadari bahwa skripsi ini jauh dari kesempurnaan. Akhirnya kepada Allah-lah peneliti memohon agar usaha ini dijadikan sebagai amal shaleh dan diberikan pahala olehnya.
Makassar, Oktober 2013
Mirnawati
x
ANALISIS DAMPAK PERALIHAN PENGELOLAAN BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN TERHADAP PENDAPATAN ASLI
DAERAH KABUPATEN MAROS Mirnawati
Yohanis Rura Muhammad Ashari
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak peralihan pengelolaan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD), mengetahui efektivitas pengelolaan BPHTB dan mengetahui prospek penerimaan BPHTB dalam meningkatkan PAD Kabupaten Maros.
Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data berupa penelitian kepustakaan dan penelitian lapangan yang terdiri dari observasi dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah analisis proporsi, koefisien korelasi, elastisitas, efektifitas dan tren positif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dampak peralihan pengelolaan BPHTB terhadap PAD Kabupaten Maros tidak berpengaruh terhadap kenaikan penerimaan PAD, pengelolaan BPHTB di Kabupaten Maros masih tidak efektif dan prospek penerimaan BPHTB pada tahun-tahun yang akan datang terus mengalami peningkatan. Peningkatan penerimaan BPHTB ini akan memberikan dampak pada peningkatanpenerimaan PAD Kabupaten Maros.
Kata kunci: Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan, Pendapatan Asli Daerah, Pemerintah Daerah.
TRANSITION IMPACT ANALYSIS MANAGEMENT ACQUISITION OF LAND AND BUILDING OF REGIONAL REVENUE MAROS REGENCY This research aims to determine the impact of management transition Tax on Acquisition of Land and Building (BPHTB) on regional revenue (PAD), knowing the effectiveness of management and BPHTB prospects in increasing regional revenue of Maros Regency. This study uses data collection techniques such as library research and field research consisted of observation and documentation.
Data analysis are the analysis of proportions, correlation coefficient, elasticity, effectiveness and a positive trend. The results showed that the impact of the management transition of BPHTB to Maros Regency not affect the increase in regional revenue, BPHTB management in Maros Regency still ineffectiveand BPHTB prospects in the years to come is constantly increasing. The increase of BPHTB will have an impact on the increase in regional revenue receipts of Maros Regency.
Key words:Tax on Acquisition of Land and Building, Regional Revenue, Local Government
xi
Halaman
HALAMAN SAMPUL ... i
HALAMAN JUDUL ... ii
HALAMAN PERSETUJUAN ... iii
HALAMAN PENGESAHAN ... iv
HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN ... v
PRAKATA ... vi
ABSTRAK ... x
DAFTAR ISI ... xi
DAFTAR TABEL... xiii
DAFTAR GAMBAR ... xiv
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Rumusan Masalah ... 6
1.3. Tujuan Penelitian ... 6
1.4.Kegunaan Penelitian ... 6
1.5. Sistematika Penulisan ... 7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 9
2.1. Pendapatan Asli Daerah ... 9
2.1.1.Pengertian Pendapatan Asli Daerah ... 9
2.1.2. Sumber-Sumber Pendapatan Asli Daerah ... 10
2.2. Pajak ... 13
2.2.1. Pengertian Pajak ... 13
2.2.2. Unsur-Unsur dan Ciri-Ciri Pajak ... 13
2.2.3. Fungsi Pajak ... 14
2.2.4. Syarat-Syarat Pemungutan Pajak ... 15
2.2.5. Asas-Asas Pemungutan Pajak... 16
2.2.6. Sistem Pemungutan Pajak ... 17
2.2.7. Pengelompokan Pajak ... 18
2.2.8. Kewajiban dan Hak Wajib Pajak ... 20
2.2.9 Sanksi Perpajakan ... 21
2.3. Pajak Daerah ... 22
2.3.1. Pengertian Pajak Daerah ... 22
2.3.2. Dasar Hukum Pajak Daerah ... 23
2.3.3. Pengelompokan Pajak Daerah ... 25
2.3.4. Fungsi Peraturan Daerah tentang Pajak ... 26
2.4. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan ... 27
2.4.1. Pengertian BPHTB ... 27
2.4.2. Objek Pajak BPHTB dan Objek yang Tidak Dikenakan BPHTB . 28 2.4.3. Subjek Pajak dan Wajib Pajak BPHTB ... 32
2.4.4. Dasar Pengenaan BPHTB ... 32
2.4.5. Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak ... 33
2.4.6. Tarif dan Perhitungan BPHTB... 34
2.4.7. Saat Terutang BPHTB ... 34
xii
3.1. Rancangan Penelitian... 41
3.2. Tempat dan Waktu ... 41
3.3.Populasi dan Sampel ... 42
3.4. Jenis dan Sumber Data ... 42
3.5. Teknik Pengumpulan Data ... 43
3.6. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional ... 43
3.7. Instrumen Penelitian ... 44
3.8. Analisis Data... 44
BAB IV PEMBAHASAN ... 48
4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 48
4.1.1 Gambaran Umum Kabupaten Maros ... 48
4.1.2.Gambaran Umum Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Maros 49 4.1.2.1 Visi, Misi, Tujuan dan SasaranDinas Pendapatan Daerah Kabupaten Maros ... 49
4.1.2.2Struktur Organisasi dan Tata Kerja Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Maros ... 53
4.1.2.3 Tugas Pokok, Fungsi dan Tata Kerja Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Maros ... 54
4.2 Analisis Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan terhadap Pendapatan Asli Daerah ... 61
4.2.1 Analisis Proporsi ... 61
4.2.2 Analisis Koefisien Korelasi ... 62
4.2.3 Analisis Elastisitas ... 64
4.3 Analisis Efektifitas Pengelolaan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan ... 65
4.4 Analisis Prospek Penerimaan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan ... 66
BAB V PENUTUP ... 71
5.1 Kesimpulan ... 71
5.2 Keterbatasan Penelitian ... 72
5.3 Saran ... 73
DAFTAR PUSTAKA ... 75
xiii
Tabel Halaman
2.1.Penelitian-Penelitian Terdahulu ... 36 4.1.Luas Wilayah Menurut Kecamatan Tahun 2010 ... 49 4.2.Proporsi Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan
terhadap Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Maros Tahun 2011-2013 ... 61 4.3.Koefisien Korelasi ... 62 4.4.Elastisitas Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan
terhadap Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Maros Tahun 2011-2013 ... 64 4.5.Efektivitas Pengelolaan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan
Bangunan Kabupaten Maros Tahun 2011-2013 ... 66 4.6.Dasar Perhitungan Prediksi Penerimaan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Kabupaten Maros ... 67 4.7Prediksi Penerimaan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan
Bangunan Kabupaten Maros Tahun 2013-2020 ... 69
xiv
Gambar Halaman
4.1.Struktur Organisasi dan Tata Kerja Dinas Pendapatan Daerah
Kabupaten Maros ………53
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Adanya keputusan pemerintah tentang suatu perubahan sistem pemerintahan dari sistem sentralisasi menjadi sistem desentralisasi karena pemberian dana atau sumbangan kepada seluruh daerah yang ada di Indonesia untuk mendorong pertumbuhan daerah yang menjadi salah satu sumber dananya ternyata pada kenyataan belum cukup memberikan pengaruh pada pertumbuhan daerah. Hal tersebut mengharuskan pemerintah dapat lebih meningkatkan pendapatan daerah khususnya pada sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD). Pada kondisi seperti ini, tentunya daerah tidak mengalami kemajuan karena Pendapatan Asli Daerah itu sendiri tidak cukup untuk memberikan peningkatan dari segi pertumbuhan pembangunan dan pembiayaan.
Dulunya pemerintah pusat mengurusi seluruh daerah yang ada di Indonesia sehingga ada daerah yang tidak tersentuh perhatian pemerintah pusat, karena daerah yang ada di Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak sedikit melainkan dalam jumlah yang sangat banyak dan luas.
Sistem desentralisasi dilaksanakan sesuai dengan penetapan Undang- Undang Nomor 22 Tahun 1999 mengenai pemerintah daerah sebagaimana yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 bahwa dalam mengurus rumah tangganya sendiri pemerintah daerah diberikan sumber-sumber pendapatan serta penerimaan keuangan daerah untuk membiayai seluruh
1
aktivitas dalam rangka pelaksanaan tugas pemerintah dan pembangunan guna kesejahteraan masyarakat adil dan makmur.
Upaya meningkatkan Pendapatan Asli Daerah sebagai sumber utama pendapatan daerah yang dapat dipergunakan oleh daerah dalam melaksanakan pemerintahan dan pembangunan daerah sesuai dengan kebutuhan untuk memperbaiki ketergantungan dalam mendapatkan dana. Pendapatan Asli Daerah dianggap sebagai alternatif untuk memperoleh tambahan dana yang dapat digunakan untuk segala keperluan pengeluaran yang telah ditentukan oleh daerah masing-masing khususnya keperluan rutin. Namun, upaya untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah tidak hanya dapat ditinjau dari segi daerah masing-masing tetapi dalam kaitannya dengan kesatuan Perekonomian Indonesia.
Peningkatan Pendapatan Asli daerah bersumber dari hasil pajak daerah dan dipungut sendiri oleh pemerintah daerah. Sumber PAD yang terdiri dari, pajak daerah, retribusi daerah, laba dari badan usaha milik daerah, dan pendapatan asli daerah lainnya yang sah.
Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB), awalnya dikelola oleh pemerintah pusat karena BPHTB merupakan sumber pendapatan Negara yang menjadi kewenangan oleh pemerintah pusat. BPHTB dulunya merupakan salah satu penerimaan Negara yang menopang pembangunan nasional.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004, Dana Bagi Hasil dari penerimaan BPHTB adalah sebagai berikut.
1. 20% (dua puluh persen) bagian pemerintah dari penerimaan BPHTB dibagikan dengan porsi yang sama besar untuk seluruh kabupaten dan kota.
2. 80% dibagikan dengan rincian 16% (enam belas persen) untuk daerah provinsi yangbersangkutan dan disalurkan ke Rekening Kas Umum Daerah provinsi dan64% (enam puluh empat persen) untuk daerah kabupaten dan kota penghasil dan disalurkan ke Rekening Kas Umum Daerah kabupaten/kota.Penyaluran Dana Bagi Hasil BPHTB sebagaimana dimaksud dilakukan sesuai dengan peraturan perundang- undangan.
Undang-Undang No. 28 Tahun 2009 ditetapkan pada tanggal 15 September 2009 dan berlaku secara efektif pada tanggal 1 Januari 2010. Khusus untuk BPHTB, mulai dapat dipungut oleh daerah pada tanggal 1 Januari 2011 (Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan dan Direktur Pajak Daerah danRetribusi Daerah, 2011:3).Lahirnya Undang-Undang Nomor 28 tahun 2009 memberikan angin segar bagi daerah dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan pengembangan daerah. Undang-Undang ini memberikan kewenangan kepada daerah untuk mengelolah pajak yang dulunya dikelolah oleh pemerintah pusat yaitu Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB). Pemberian kewenangan itu diharapkan mampu meningkatkan Pendapatan Asli Daerah karena pemerintah daerah akan menerima hasil pungutan BPHTB secara utuh tanpa harus dibagi ke pemerintah pusat.
Secara konsepsional, terdapat beberapadasar pemikiran mengenai kebijakanpengalihan BPHTB yang semula sebagaipajak pusat menjadi pajak daerah, antaralain (Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan dan Direktur Pajak Daerah danRetribusi Daerah, 2011:3) sebagai berikut.
1. BPHTB layak ditetapkan sebagai pajakdaerah.
BPHTB memenuhi kriteria dan prinsip-prinsip pajak daerah yang baik, seperti:
a. objek pajaknya terdapat di daerah (local-origin), b. objek pajak tidak berpindah-pindah (im-movable), dan
c. terdapat hubungan yang erat antara pembayar pajak dan pihak yang menikmati hasil pajak tersebut (the benefit-tax link principle).
2. Meningkatkan Pendapatan AsliDaerah.
Penetapan BPHTB sebagai pajak daerah akan meningkatkan pendapatan yang bersumber dari daerah itu sendiri (Pendapatan Asli Daerah) Hal ini berbeda dengan penerimaan BPHTB sebagai pajak pusat, meskipun pendapatan BPHTB kemudian diserahkan kepada daerah, penerimaan ini tidak dimasukkan ke dalamkelompok pendapatan asli daerah, melainkan sebagai dana perimbangan (Dana Bagi Hasil).
3. Meningkatkan akuntabilitas daerah(local accountability).
Penetapan BPHTB sebagaipajak daerah, menyebabkan kebijakan BPHTB(objek, subjek, tarif, dan dasarpengenaan pajak) ditetapkan olehdaerah dan disesuaikan dengan kondisidan tujuan pembangunan daerah.
Terdapat begitu banyak potensi dari Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan khususnya pada peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Namun, realisasi dari potensi ini terhadap PAD akan terwujud apabila pengelolaan BPHTB dilakukan dengan baik serta adanya bantuan dari pihak-pihak terkait.
Kabupaten Maros merupakan salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan yang terus mengalami perkembangan pembangunan, diharapkan memiliki angka
transaksi jual beli tanah yang besar sehingga menghasilkan pungutan dari Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) yang besar pula.
Pendapatan dari pungutan BPHTB ini diharapkan semakin meningkatkan perolehan pajak daerah dan menjadi salah satu kekuatan bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD) pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Maros sehingga pembangunan daerah dapat berjalan secara cepat sesuai dengan tujuan pemerintah daerah dan pemerintah pusat.
Letak Kabupaten Maros yang berbatasan langsung dengan Kota Makassar membuat Kabupaten Maros mengalami pembangunan yang cukup signifikan dibandingkan dengan kabupaten lain. Pembangunan di Kota Makassar yang saat ini tidak hanya di pusat kota tetapi kebagian kota yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Maros, seperti halnya pembangunan jalan tol, pembangunan bandara internasional, dan pembangunan lainnya membuat Kabupaten Maros memperoleh manfaat yang besar. Harga tanah yang ada di Kabupaten Maros mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Diharapkan dengan naiknya harga tanah akibat adanya dampak dari pembangunan seperti yang telah dijelaskan di atas membuat potensi pendapatan daerah dari Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan cukup besar dalam menopang Anggaran Pendapatan Belanda Daerah di Kabupaten Maros.
Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti ingin melakukan penelitian dengan judul “Analisis Dampak Peralihan Pengelolaan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan terhadap Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Maros”.
1. 2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut.
1. Bagaimana dampak peralihan pengelolaan BPHTB terhadap Pendapatan PAD Kabupaten Maros?
2. Bagaimana efektivitas pengelolaan BPHTB di Kabupaten Maros?
3. Bagaimana prospek penerimaan BPHTB dalam meningkatkan PAD Kabupaten Maros?
1.3. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan, maka tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Mengetahui dampak peralihan pengelolaan BPHTB terhadap PAD Kabupaten Maros.
2. Mengetahui efektivitas pengelolaan BPHTB di Kabupaten Maros.
3. Mengetahui prospek penerimaan BPHTB dalam meningkatkan PAD Kabupaten Maros.
1.4. Kegunaan Penelitian
Penelitian ini dapat memberikan manfaat baik secara teoretis maupun praktis.
1. Manfaat teoretis
Manfaat teoretis pada penelitian ini adalah sebagai berikut.
a. Penelitian ini mampu memberikan tambahan informasi atau pengetahuan demi pengembangan ilmu pengetahuaan khususnya di bidang perpajakan.
b. Penelitian ini dapat menjadi bahan perbandingan atau acuan dalam pengembangan penelitian selanjutnya, khususnya di bidang perpajakan.
2. Manfaat praktis
Manfaat praktis pada penelitian ini adalah:
a. Penelitian ini mampu memberikan informasi tambahan yang bisa dijadikan salah satu bahan pertimbangan dalam pengelolaan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan oleh Pemerintah Kabupaten Maros khususnya Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Maros sehingga dapat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Maros.
b. Sebagai bahan informasi bagi aparatur pemerintah dan masyarakat Kabupaten Maros tentang Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan.
1.5. Sistematika Penulisan
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini menguraikan penjelasan mengenai latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian dan sistematika penulisan.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini berisi penjelasan mengenai landasan teori yang membahas mengenai teori-teori dan konsep-konsep umum yang akan digunakan dalam penelitian.
BAB III METODE PENELITIAN
Bab ini berisi penjelasan mengenai bagaimana penelitian ini dilakukan. Dimulai dari rancangan penelitian, tempat dan waktu, populasi dan sampel, jenis dan sumber data, teknik pengumpulan data, variabel penelitian dan defenisi operasional, instrumen penelitian serta analisis data.
BAB IV HASIL PENELITIAN
Bab ini berisi penjelasan mengenai analisis data dan informasi yang didapatkan dari hasil observasi dan penelitian kepustakaan. Dengan demikian, akan diperoleh suatu hasil analisis yang akan dijadikan dasar dalam pembuatan kesimpulan dan saran penelitian ini.
BAB V PENUTUP
Bab ini berisi penjelasan mengenai kesimpulan dan saran dari penelitian ini bagi Pemerintah Kabupaten Maros, dan pihak-pihak yang berkepentingan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pendapatan Asli Daerah
2.1.1. Pengetian Pendapatan Asli Daerah
Pendapatan pemerintah daerah meliputi semua penerimaan uang melalui rekening kas umum daerah maupun bendahara penerimaan, yang menambah ekuitas dana merupakan hak pemerintah daerah dalam satu tahun anggaran dan tidak perlu dibayar kembali oleh pemerintah. Pendapatan pemerintah daerah dirinci menurut urusan pemerintahan daerah, organisasi, kelompok, jenis, objek, dan rincian objek pendapatan. Pendapatan daerah dikelompokkan atas pendapatan asli daerah, dana perimbangan, dan lain-lain pendapatan daerah yang sah (Ritonga, 2010:184-185).
Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan Nomor 2 paragraf 8 menyatakan bahwa “pendapatan adalah semua penerimaan Rekening Kas Umum Negara/Daerah yang menambah ekuitas dana lancar dalam periode tahun anggaran bersangkutan yang menjadi hak pemerintah, dan tidak perlu dibayar kembali oleh pemerintah”. Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 Pasal 1 menyatakan bahwa,
“pendapatan daerah adalah hak pemerintah daerah yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih”.
Pada pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan Nomor 2 paragraf 22 dijelaskan bahwa “pendapatan diakui pada saat diterima pada Rekening Kas Umum Negara/Daerah”. Artinya, sebelum pendapatan tersebut disetor oleh bendahara
9
penerimaan kekas umum daerah, uang yang berasal dari pendapatan tersebut belum boleh dicatat sebagai pendapatan. Pencatatan pendapatan baru dapat dilaksanakan pada saat uang tersebut sudah disetor kekas umum daerah (Tanjung, 2009:64). Adapun pengertian pendapatan asli daerah adalah semua penerimaan daerah yang berasal dari sumber ekonomi asli daerah (Ritonga, 2010:185).
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004, “pendapatan daerah adalah hak Pemerintah Daerah yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih dalam periode tahun bersangkutan”.Adapun “Pendapatan Asli Daerah, selanjutnya disebut PAD adalah pendapatan yang diperoleh Daerah yang dipungut berdasarkan Peraturan Daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan”.PAD bertujuan memberikan kewenangan kepada Pemerintah Daerahuntuk mendanai pelaksanaan otonomi daerah sesuai dengan potensi daerah sebagai perwujudan desentralisasi.
2.1.2. Sumber Pendapatan Asli Daerah
Adapun sumber-sumber pendapatan asli menurut Undang-Undang RI No.32 Tahun 2004, yaitu sebagai berikut.
1. PAD yang terdiri dari:
a. Hasil pajak daerah yaitu pungutan daerah menurut peraturan yang ditetapkan oleh daerah untuk pembiayaan rumah tangganya sebagai badan hukum publik. Pajak daerah sebagai pungutan yang dilakukan pemerintah daerah yang hasilnya digunakan
untukpengeluaran umum yang balas jasanya tidak langsung diberikan sedang pelaksanaannya dapat dipaksakan.
b. Hasil retribusi daerah yaitu pungutan yang telah secara sah menjadi pungutan daerah sebagai pembayaran pemakaian atau karena memeroleh jasa pekerjaan, usaha atau milik pemerintah daerah bersangkutan. Retribusi daerah memunyai sifat-sifat yaitu pelaksanaannya bersifat ekonomis, ada imbalan langsung walau harus memenuhi persyaratan-persyaratan formil dan materiil, tetapi ada alternatif untuk mau tidak membayar, merupakan pungutan yang sifat budgeternya tidak menonjol, dalam hal-hal tertentu retribusi daerah adalah pengembalian biaya yang telah dikeluarkan oleh pemerintah daerah untuk memenuhi permintaan anggota masyarakat.
c. Hasil perusahaan milik daerah dan hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan. Hasil perusahaan milik daerah merupakan pendapatan daerah dari keuntungan bersih perusahaan daerah yang berupa dana pembangunan daerah dan bagian untuk anggaran belanja daerah yang disetor ke kas daerah, baik perusahaan daerah yang dipisahkan,sesuai dengan motif pendirian dan pengelolaan, maka sifat perusahaan daerah adalah suatu kesatuan produksi yang bersifat menambah pendapatan daerah, memberi jasa, menyelenggarakan kemanfaatan umum, dan memperkembangkan perekonomian daerah.
d. Lain-lain pendapatan daerah yang sah ialah pendapatan- pendapatan yang tidak termasuk dalam jenis-jenis pajak daerah,
retribusi daerah, pendapatan dinas-dinas. Lain-lain usaha daerah yang sah mempunyai sifat yang terbuka bagi pemerintah daerah untuk melakukan kegiatan yang menghasilkan baik berupa materi dalam kegiatan tersebut bertujuan untuk menunjang, melapangkan, atau memantapkan suatu kebijakan daerah disuatu bidang tertentu.
2. Dana perimbangan diperoleh melalui bagian pendapatan daerah dari penerimaan pajak bumi dan bangunan baik dari perdesaan, perkotaan, pertambangan sumber daya alam, dan bea perolehan hak atas tanah dan bangunan. Dana perimbangan terdiri atas dana bagi hasil, dana alokasi umum, dan dana alokasi khusus.
3. Lain-lain pendapatan daerah yang sah adalah pendapatan daerah dari sumber lain misalnya sumbangan pihak ketiga kepada daerah yang dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundangan-undangan yang berlaku.
Dalam upaya meningkatkan PAD, Daerah dilarang (Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004):
1. menetapkan Peraturan Daerah tentang pendapatan yang menyebabkanekonomi biaya tinggi; dan
2. menetapkan Peraturan Daerah tentang pendapatan yang menghambatmobilitas penduduk, lalu lintas barang dan jasa antardaerah, dankegiatan impor/ekspor.
2.2. Pajak
2.2.1. Pengertian Pajak
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum Perpajakan,“Pajak adalah kontribusi wajib pajak kepada Negara yang terutang oleh pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang- Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan Negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”.Pajak adalah iuran wajib yang dipungut oleh pemerintah dari masyarakat untuk menutupi pengeluaran rutin Negara dan biaya pembangunan tanpa balas jasa yang dapat ditunjuk secara langsung.
2.2.2. Unsur-unsur dan Ciri-ciri Pajak
Pajak memiliki unsur-unsur (Mardiasmo, 2011:1), yaitu sebagai berikut.
1. Iuran dari rakyat kepada Negara.
Yang berhak memungut pajak hanyalah Negara. Iuran tersebut berupa uang (bukan barang).
2. Berdasarkan undang-undang.
Pajak dipungut berdasarkan atau dengan kekuatan undang-undang serta aturan pelaksanaannya.
3. Tanpa jasa timbal atau kontraprestasi dari negara yang secara langsung dapat ditunjuk. Dalam pembayaran pajak tidak dapat ditunjukkan adanya kontraprestasi individual oleh pemerintah.
4. Digunakan untuk membiayai rumah tangga negara, yakni pengeluaran- pengeluaran yang bermanfaat bagi masyarakat luas.
Adapun ciri-ciri pajak (Waluyo, 2009:3), yaitu sebagai berikut.
1. Pajak dipungut berdasarkan undang-undang serta aturan pelaksanaannya yang sifatnya dapat dipaksakan.
2. Dalam pembayaran pajak tidak dapat ditunjukkan adanya kontraprestasi individual oleh pemerintah.
3. Pajak dipungut oleh negara baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.
4. Pajak diperuntukan bagi pengeluaran-pengeluaran pemerintah, yang bila dari pemasukannya masih terdapat surplus, dipergunakan untuk membiayai public investment .
5. Pajak dapat pula memunyai tujuan selain budgeter, yaitu mengatur.
2.2.3. Fungsi Pajak
Fungsi pajak terbagi atas dua (Waluyo, 2009:6), yaitu sebagai berikut.
1. Fungsi Penerimaan (Budgeter)
Pajak berfungsi sebagai sumber dana yang diperuntukkan bagi pembiayaan pengeluaran-pengeluaran pemerintah. Sebagai contoh:
dimasukkannya pajak dalam APBN sebagai penerimaan dalam negeri.
2. Fungsi Mengatur (reguler)
Pajak berfungsi sebagai alat untuk mengatur atau melaksanakan kebijakan dibidang sosial dan ekonomi. Sebagai contoh: dikenakannya pajak yang lebih tinggi terhadap minimum keras, dapat ditekan. Demikian pula terhadap barang mewah.
2.2.4. Syarat-syarat Pemungutan Pajak
Agar pemungutan pajak tidak menimbulkan hambatan atau perlawanan, maka pemungutan pajak harus memenuhi syarat sebagai berikut (Mardiasmo, 2011:2).
1. Pemungutan pajak harus adil (Syarat Keadilan)
Sesuai dengan tujuan hukum, yakni mencapai keadilan, undang-undang dan pelaksanaan pemungutan harus adil. Adil dalam perundang- undangan diantaranya mengenakan pajak secara umum dan merata, serta disesuaikan dengan kemampuan masing-masing. Sedang adil dalam pelaksanaannya yakni dengan memberikan hak bagi Wajib Pajak untuk mengajukan keberatan, penundaan dalam pembayaran dan mengajukan banding kepada Majelis Pertimbangan Pajak.
2. Pemungutan pajak harus berdasarkan undang-undang (Syarat Yuridis) Di Indonesia, pajak diatur dalam UUD 1945 pasal 23 ayat 2. Hal ini memberikan jaminan hukum untuk menyatakan keadilan, baik bagi negara maupun warganya.
3. Tidak mengganggu perekonomian (Syarat Ekonomis)
Pemungutan tidak boleh mengganggu kelancaran kegiatan produksi maupun perdagangan, sehingga tidak menimbulkan kelesuan perekonomian masyarakat.
4. Pemungutan pajak harus efisien (Syarat Finansiil)
Sesuai fungsi budgetair, biaya pemungutan pajak harus dapat ditekan sehingga lebih rendah dari hasil pemungutannya.
5. Sistem pemungutan pajak harus sederhana
Sistem pemungutan yang sederhana akan memudahkan dan mendorong masyarakat dalam memenuhi kewajiban perpajakannya. Syarat ini telah dipenuhi oleh undang-undang perpajakan yang baru.
Contoh:
a. Bea Materai disederhanakan dari 167 macam menjadi 2 macam tarif.
b. tarif PPN yang beragam disederhanakan menjadi hanya satu tarif, yaitu 10%.
c. pajak perseroan untuk badan dan pajak pendapatan untuk perseorangan disederhanakan menjadi pajak penghasilan (PPh) yang berlaku bagi badan maupun perseorangan (orang pribadi)
2.2.5. Asas-asas Pemungutan Pajak
Asas pemungutan pajak dibagi dalam beberapa asas (Waluyo, 2009:15), yaitu sebagai berikut.
1. Asas Menurut Falsafah Hukum
Hukum pajak harus mendasarkan pada keadilan. Selanjutnya keadilan ini sebagai asas pemungutan pajak untuk menyatakan keadilan kepada hak negara untuk memungut pajak, muncul beberapa teori dasar, sebagai berikut.
a. Teori Asuransi b. Teori Kepentingan c. Teori Gaya Pikul d. Teori Bakti
e. Teori Asas Daya Beli 2. Asas Yuridis
Untuk menyatakan suatu keadilan. Hukum pajak harus memberikan jaminan hukum kepada negara atau warganya. Oleh karena itu, pemungutan pajak harus didasarkan pada undang-undang. Landasan hukum pemungutan pajak di Indonesia adalah Pasal 23A Amandemen Undang-Undang Dasar 1945.
3. Asas Ekonomis
Seperti pada uraian sebelumnya pajak mempunyai fungsi regular dan fungsi budgeter. Asas ekonomi ini lebih menekankan pada pemikiran bahwa negara menghendaki agar kehidupan ekonomi masyarakat agar terus meningkat. Untuk itu, pemungutan pajak harus diupayakan tidak menghambat kelancaran ekonomi sehingga kehidupan ekonomi tidak terganggu.
4. Asas Pemungutan Pajak Lainnya
Terdapat tiga asas yang digunakan untuk memungut pajak dalam Pajak Penghasilan, yaitu:
a. Asas Tempat Tinggal b. Asas Kebangsaan c. Asas Sumber
2.2.6. Sistem Pemungutan Pajak
Sistem pemungutan pajak dapat dibagi menjadi (Waluyo, 2009:17):
1. Official Assesment System
Sistem ini merupakan sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang kepada pemerintah (fiskus) untuk menentukan besarnya pajak yang terutang.
Ciri-ciri official Assessment System adalah sebagai berikut.
a. Wewenang untuk menentukan besarnya pajak terutang berada pada fiskus.
b. Wajib Pajak bersifat pasif.
c. Utang pajak timbul setelah dikeluarkan surat ketetapan pajak oleh fiskus.
2. Self Assessment System
Sistem ini merupakan pemungutan pajak yang memberi wewenang, kepercayaan, tanggung jawab kepada Wajib Pajak untuk menghitung, memperhitungkan, membayar, dan melaporkan sendiri besarnya pajak yang harus dibayar.
3. Withholding System
Sistem ini merupakan sistem pemungutan pajak yang memberikan wewenang kepada pihak ketiga untuk memotong atau memungut besarnya pajak yang terutang oleh Wajib Pajak.
2.2.7. Pengelompokan Pajak
Mardiasmo (2011:5) menyatakan bahwa pajak dapat dikelompokkan menurut.
1. Menurut golongannya
a. Pajak langsung, yaitu pajak yang harus dipikul sendiri oleh Wajib Pajak dan tidak dapat dibebankan atau dilimpahkan kepada orang lain. Contoh: Pajak Penghasilan.
b. Pajak tidak langsung, yaitu pajak yang pada akhirnya dapat dibebankan atau dilimpahkan kepada orang lain. Contoh: Pajak Pertambahan Nilai.
2. Menurut sifatnya
a. Pajak Subjektif, yaitu pajak yang berpangkal atau berdasarkan pada subjeknya, dalam arti memerhatikan keadaan diri Wajib Pajak. Contoh: Pajak Penghasilan
b. Pajak Objektif, yaitu pajak yang berpangkal pada objeknya, tanpa memerhatikan keadaan diri Wajib Pajak. Contoh: Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah.
3. Menurut lembaga pemungutannya
a. Pajak Pusat, yaitu pajak dipungut oleh Pemerintah Pusat dan digunakan untuk membiayai rumah tangga negara. Contoh: Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah, dan Bea Materai.
b. Pajak Daerah, yaitu pajak yag dipungut oleh Pemerintah Daerah dan digunakan untuk membiayai rumah tangga daerah.
Pajak daerah terdiri atas.
1) Pajak Provinsi, contoh: Pajak Kendaraan Bermotor dan Pajak Bahan Bakar Kendaraan bermotor.
2) Pajak Kabupaten/Kota, contoh: Pajak Hotel, Pajak Restoran, dan Pajak Hiburan.
2.2.8. Kewajiban dan Hak Wajib Pajak
Kewajiban yang dimiliki oleh Wajib Pajak (Mardiasmo, 2011:56), yaitu sebagai berikut.
1. Mendaftarkan diri untuk mendapatkan NPWP.
2. Melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP.
3. Menghitung dan membayar sendiri pajak dengan benar.
4. Mengisi dengan benar SPT (SPT diambil sendiri), dan memasukkan ke Kantor Pelayanan Pajak dalam batas waktu yang telah ditentukan.
5. Menyelenggarakan pembukuan/pencatatan.
6. Jika diperiksa wajib:
a. memperlihatkan dan atau meminjamkan buku atau catatan, dokumen yang menjadi dasarnya dan dokumen lain yang berhubungan dengan penghasilan yang diperoleh, kegiatan usaha, pekerjaan bebas Wajib Pajak, atau objek yang terutang pajak.
b. memberikan kesempatan untuk memasuki tempat atau ruangan yang dipandang perlu dan memberi bantuan guna kelancaran pemeriksaan.
7. Apabila dalam waktu mengungkapkan pembukuan, pencatatan, atau dokumen serta keterangan yang diminta, Wajib Pajak terikat oleh suatu kewajiban untuk merahasiakan, maka kewajiban untuk merahasiakan itu ditiadakan oleh permintaan untuk keperluan pemeriksaan.
Hak yang dimiliki oleh Wajib Pajak (Mardiasmo, 2011:56-57), yaitu sebagai berikut.
1. Mengajukan surat keberatan dan surat banding.
2. Menerima tanda bukti pamasukan SPT.
3. Melakukan pembetulan SPT yang telah dimasukkan.
4. Mengajukan permohonan penundaan penyampaian SPT.
5. Mengajukan permohonan penundaan atau pengangsuran pembayaran pajak.
6. Mengajukan permohonan perhitungan pajak yang dikenakan dalam surat ketetapan pajak.
7. Meminta pengembalian kelebihan pembayaran pajak.
8. Mengajukan permohonan penghapusan dan pengurangan sanksi, serta pembetulan surat ketetapan pajak yang salah.
9. Memberikan kuasa kepada orang untuk melaksanakan kewajiban pajaknya.
10. Meminta bukti pemotongan atau pemungutan pajak.
11. Mengajukan keberatan dan banding.
2.2.9. Sanksi Perpajakan
Sanksi perpajakan merupakan jaminan bahwa ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan (norma perpajakan) akan dituruti/dipatuhi. Atau bisa dengan kata lain sanksi perpajakan merupakan alat pencegah (preventif) agar Wajib Pajak tidak melanggar norma perpajakan. Dalam undang-undang perpajakan dikenal dua macan sanksi yaitu sanksi administrasi dan sanksi pidana. Ancaman terhadap pelanggaran suatu norma perpajakan ada yang diancam dengan sanksi pidana saja, dan ada pula yang diancam dengan sanksi administrasi dan sanksi pidana. Perbedaan sanksi administrasi dan sanksi pidana adalah (Mardiasmo, 2011:59):
1. sanksi administrasi merupakan kerugian Negara, khususnya yang berupa bunga dan kenaikan.
2. sanksi pidana merupakan siksaan atau penderitaan. Merupakan suatu alat terakhir atau benteng hukum yang digunakan fiskus agar norma perpajakan dipatuhi.
2.3. Pajak Daerah
2.3.1. Pengertian Pajak Daerah
Pajak merupakan sumber keuangan pokok bagi daerah-daerah di samping Retribusi Daerah. Pajak daerah adalah pajak Negara yang diserahkan kepada Daerah untuk dipungut berdasarkan peraturan perundang-undangan yang dipergunakan guna membiayai pengeluaran Daerah sebagai badan hukum publik (Kaho, 2010:143-145). Berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009
,
Pajak daerah, yang selanjutnya disebut Pajak, adalahkontribusi wajib kepada daerah yang terutang oleh orangpribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkanUndang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan daerahbagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Adapun Fadli (2012) yang memberikan pengertian tambahan menyatakan bahwa
“pajak daerah adalah pajak yang dikelola atau pemungutannya dilakukan oleh pemerintah daerah untuk mengisi kas Negara”.
Ciri-ciri yang menyertai pajak Daerah dapat diikhtisarkan seperti berikut (Taho, 2010:145).
a. Pajak Daerah berasal dari pajak Negara yang diserahkan kepada Daerah sebagai pajak Daerah;
b. Penyerahan dilakukan berdasarkan undang-undang;
c. Pajak daerah dipungut oleh Daerah berdasarkan kekuatan undang- undang dan/atau peraturan hukum lainnya;
d. Hasil pungutan pajak Daerah dipergunakan untuk membiayai penyelenggaraan urusan rumah tangga Daerah atau membiayai pengeluaran Daerah sebagai badan hukum publik.
2.3.2. Dasar Hukum Pajak Daerah
Landasan hukum pemungutan pajak oleh pemeritah Daerah diatur dalam Pasal 58 Undang-undang No.5 Tahun 1974 yang lengkapnya berbunyi sebagai berikut.
1. Dengan undang-undang ditetapkan ketentuan pokok tentang pajak dan retribusi Daerah;
2. Dengan Peraturan Daerah ditetapkan pungutan pajak dan retribusi Daerah;
3. Peraturan Daerah dimaksud dalam ayat (2) pasal ini, berlaku sesudah ada pengesahan pejabat yang berwenang, menurut cara yang diatur dalam undang-undang dan tidak boleh berlaku surut;
4. Pengembalian atau pembebasan pajak Daerah dan atau retribusi Daerah hanya dapat dilakukan berdasarkan Peraturan Daerah.
Dasar hukum pemungutan pajak daerah adalah Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Beberapa istilah di
dalam undang-undang ini yang terkait dengan pajak daerah (Pasal 1 Undang- Undang Nomor 28 Tahun 2009), yaitu sebagai berikut.
1. Daerah Otonom, selanjutnya disebut Daerah adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.
2. Pajak Daerah, yang selanjutnya disebut Pajak, adalah kontribusi wajib kepada Daerah yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan Daerah bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
3. Badan adalah sekumpulan orang dan/atau modal yang merupakan kesatuan, baik yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi perseroan terbatas, perseroan komanditer, perseroan lainnya, badan usaha milik negara (BUMN), atau badan usaha milik daerah (BUMD) dengan nama dan dalam bentuk apapun, firma, kongsi, koperasi, dana pensiun, persekutuan, perkumpulan, yayasan, organisasi massa, organisasi sosial politik, atau organisasi lainnya, lembaga dan bentuk badan lainnya termasuk kontrak investasi kolektif dan bentuk usaha tetap.
4. Subjek Pajak adalah orang pribadi atau Badan yang dapat dikenakan Pajak.
5. Wajib Pajak adalah orang pribadi atau Badan, meliputi pembayar pajak, pemotong pajak, dan pemungut pajak, yang mempunyai hak dan
kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan perpajakan daerah.
2.3.3. Pengelompokan Pajak Daerah
Pajak daerah itu dibagi menjadi dua jenis dan beberapa objeknya (Pasal 2 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009), yaitu sebagai berikut.
1. Jenis Pajak provinsi terdiri atas:
a. Pajak Kendaraan Bermotor;
b. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor;
c. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor;
d. Pajak Air Permukaan; dan e. Pajak Rokok.
2. Jenis Pajak kabupaten/kota terdiri atas:
a. Pajak Hotel;
b. Pajak Restoran;
c. Pajak Hiburan;
d. Pajak Reklame;
e. Pajak Penerangan Jalan;
f. Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan;
g. Pajak Parkir;
h. Pajak Air Tanah;
i. Pajak Sarang Burung Walet;
j. Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan; dan k. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan.
2.3.4. Fungsi Peraturan Daerah tentang Pajak
Terdapat tiga fungsi perda pajak dan retribusi (Bagijo, 2011:12-13), yaitu sebagai berikut.
1. Fungsi pertama perda pajak dan retribusi adalah fungsi anggaran yang erat kaitannya dengan fungsi perencanaan. Fungsinya yang demikian, maka pajak dan retribusi mempunyai posisi yang strategis bagi kegiatan pembangunan yang diinginkan di daerah. Kegagalan memenuhi target penerimaan sesuai dengan anggaran, akan berpengaruh terhadap pelaksanaan perencanaan pembangunan yang telah ditetapkan, yang akan memberikan dampak kegagalan bagi daerah dalam melaksanakan misinya mengembangkan dan meningkatkan pembangunan dalam rangka kesejahteraan rakyat di daerah.
2. Fungsi kedua perda pajak dan retribusi sehubungan dengan anggaran adalah fungsi pengaturan. Dalam hal ini pemerintah daerah harus menetapkan pengaturan yang jelas tentang jenis maupun besarnya tarif pajak dan retribusi yang dibebankan kepada rakyat. Pengaturan yang dituangkan dalam perda harus dapat menjamin kepastian hukum bagi rakyat di daerah. Makna kepastian hukum dalam fungsi pengaturan adalah tidak boleh ada tumpang tindih antara sebuah jenis pajak atau retribusi lainnya yang diikuti dengan kejelasan wewenang pemerintah provinsi dan wewenang kabupaten atau kota.
3. Fungsi ketiga perda pajak dan retribusi sebagai instrumen anggaran adalah fungsi distribusi. Pemda memainkan peran sebagai fasilitator yang baik dalam distribusi kenyamanan kepada rakyat dengan prinsip “saling dukung” (subsidi silang). Peranan ini tidak dapat lepas dari rasionalitas
“prinsip keadilan” dalam proses distribusi penikmatan fasilitas yang dibiayai dari pajak dan retribusi.
2.4. Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan 2.4.1. Pengertian BPHTB
Dalam pembahasan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan, dijumpai pengertian yang sudah baku. Pengertian tersebut adalah (Mardiasmo, 2011:340):
1. BPHTB adalah pajak yang dikenakan atas perolehan hak atas tanah dan bangunan. Dalam pembahasan ini, BPHTB selanjutnya disebut pajak.
2. perolehan hak atas tanah dan atau bangunan, adalah perbuatan atau peristiwa hukum yang mengakibatkan diperolehnya hak atas tanah dan atau bangunan oleh orang pribadi atau badan.
3. hak atas tanah dan atau bangunan, adalah hak atas tanah, termaksud hak pengelolaan, beserta bangunan di atasnya, sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria, Undang-undang Nomor 16 Tahun 1985 tentang Rumah Susun, dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku lainnya.
2.4.2. Objek Pajak BPHTB dan Objek Pajak yang Tidak Dikenakan BPHTB
Objek Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah perolehan hak atas tanah dan/atau bangunan. Hak atas tanah dapat meliputi (Diana dan Setiawati, 2009:679-680).
1. Hak milik. Hak milik adalah hak turun-temurun, terkuat, dan terpenuh yang dapat dipunyai orang pribadi atau badan-badan hukum tertentu yang ditetapkan oleh pemerintah.
2. Hak guna usaha. Hak guna usaha adalah hak untuk mengusahakan tanah yang dikuasai langsung oleh Negara dalam jangka waktu sebagaimana yang ditentukan oleh perundang-undangan yang berlaku.
3. Hak guna bangunan. Hak guna bangunan adalah hak untuk mendirikan dan mempunyai bangunan-bangunan atas tanah yang bukan miliknya sendiri dengan jangka waktu yang ditetapkan dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria.
4. Hak pakai. Hak pakai adalah hak untuk menggunakan dan/atau memungut hasil dari tanah yang dikuasai langsung oleh Negara atau tanah milik orang lain, yang memberi wewenang dan kewajiban yang ditentukan dalam keputusan pemberiannya oleh pejabat yang berwenang memberikannya atau dalam perjanjian dengan pemilik tanahnya, segala sesuatu sepanjang tidak bertentangan dengan jiwa dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
5. Hak milik atas satuan rumah susun. Hak milik atas satuan rumah susun adalah hak milik atas satuan yang bersifat perseorangan dan terpisah.
Hak milik atas satuan rumah susun meliputi juga hak atas bagian
bersama, benda bersama, dan tanah bersama yang semuanya merupakan satu kesatuan yang tidak terpisah dengan satuan yang bersangkutan.
6. Hak pengelolaan. Hak pengelolaan adalah hak menguasai dari Negara yang kewenangan pelaksanaannya sebagian dilimpahkan kepada pemegang haknya, antara lain, berupa perencanaan peruntukan dan penggunaan tanah, penggunaan tanah untuk keperluan pelaksanaan tugasnya, penyerahan bagian-bagian dari tanah tersebut kepada pihak ketiga dan/atau bekerja sama dengan pihak ketiga.
Adapun perolehan hak atas tanah dan/atau bangunan tersebut meliputi (Diana dan Setiawati, 2009:680-682).
1. Pemindahan hak karena:
a. jual beli b. tukar menukar c. hibah
d. hibah wasiat. Hibah wasiat adalah suatu penetapan wasiat yang khusus mengenai pemberian hak atas tanah dan/atau bangunan kepada orang pribadi atau badan hukum tertentu, yang berlaku setelah pemberi hibah wasiat meninggal dunia.
e. waris
f. pemasukan dalam perseorangan atau badan hukum lainnya.
Pemasukan dalam perseroan atau badan hukum lainnya adalah pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan dari orang pribadi atau badan kepada Perseroan Terbatas atau badan hukum lainnya
sebagai penyertaan modal pada Perseroan Terbatas atau badan hukum lainnya tersebut.
g. pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan. Pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan adalah pemindahan sebagian hak bersama atas tanah dan/atau bangunan oleh orang pribadi atau badan kepala sesama pemegang hak bersama.
h. penunjukan pembeli dalam lelang. Penunjukan pembeli dalam lelang adalah penetapan pemenang lelang oleh pejabat lelang sebagaimana yang tercantum dalam Risalah Lelang.
i. pelaksanaan putusan hakim yang memunyai kekuatan hukum tetap.
Sebagai pelaksanaan dari putusan hakim yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap, terjadi peralihan hak dari orang pribadi atau badan hukum sebagai salah satu pihak kepada pihak yang ditentukan dalam putusan hakim tersebut.
j. penggabungan usaha. Penggabungan usaha adalah penggabungan dari dua badan usaha atau lebih dengan cara tetap mempertahankan berdirinya salah satu badan usaha dan melikuidasi badan usaha lainnya yang menggabung.
k. peleburan usaha. Peleburan usaha adalah penggabungan dari dua atau lebih badan usaha dengan cara mendirikan badan usaha baru dan melikuidasi badan-badan usaha yang bergabung tersebut.
l. pemekaran usaha. Pemekaran usaha adalah pemisahan suatu badan usaha menjadi dua badan usaha atau lebih dengan cara mendirikan badan usaha baru dan mengalihkan sebagian aktiva dan passiva kepada badan usaha baru tersebut yang dilakukan tanpa melikuidasi badan usaha yang lama.
m. hadiah. Hadiah adalah suatu perbuatan hukum berupa penyerahan hak atas tanah dan/atau bangunan yang dilakukan oleh orang pribadi atau badan hukum kepada penerima hadiah.
2. Pemindahan hak baru karena:
a. kelanjutan pelepasan hak. Pemberian hak baru karena kelanjutan pelepasan hak adalah pemberian hak baru kepada orang pribadi atau badan hukum dari Negara atas tanah yang berasal dari pelepasan hak.
b. diluar pelepasan hak. Pemberian hak baru diluar pelepasan hak adalah pemberian hak baru atas tanah kepada orang pribadi atau badan hukum dari Negara atau dari pemegang hak milik menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Objek pajak yang tidak dikenakan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah objek pajak yang diperoleh (Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 Pasal 85):
1. perwakilan diplomatik dan konsulat berdasarkan asas perlakuan timbal balik;
2. Negara untuk penyelenggaraan pemerintah dan/atau untuk pelaksanaan pembangunan guna kepentingan umum;
3. badan atau perwakilan lembaga internasional yang ditetapkan dengan Peraturan Menteri Keuangan dengan syarat tidak menjalankan usaha atau melakukan kegiatan lain dengan tidak adanya perubahan nama;
4. orang pribadi atau Badan karena konversi hak atau karena perbuatan hukum lain dengan tidak adanya perubahan nama;
5. orang pribadi atau badan karena wakaf; dan
6. orang pribadi atau Badan yang digunakan untuk kepentingan ibadah.
2.4.3. Subjek Pajak dan Wajib Pajak BPHTB
Subjek pajak Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah orang pribadi atau Badan yang memperoleh Hak atas Tanah dan/atau Bangunan. Wajib Pajak Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunanadalah orang pribadi atau Badan yang memperoleh Hak atas Tanah dan/atau Bangunan (Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 Pasal 86).
2.4.4. Dasar Pengenaan BPHTB
Dasar pengenaan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah nilai perolehan objek pajak. Nilai perolehan objek pajak, dalam hal (Undang- undang Nomor 28 Tahun 2009 Pasal 87):
1. jual beli adalah harga transaksi;
2. tukar menukar adalah nilai pasar;
3. hibah adalah nilai pasar;
4. waris adalah nilai pasar;
5. pemasukan dalam peseroan atau badan hukum lainnya adalah nilai pasar;
6. pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan adalah nilai pasar;
7. peralihan hak karena pelaksanaan putusan hakim yang mempunyai kekuatan hukum tetap adalah nilai pasar;
8. pemberian hak baru atas tanah sebagai kelanjutan dari pelepasan hak adalah nilai pasar;
9. pemberian hak baru atas tanah di luar pelepasan hak adalah nilai pasar;
10. penggabungan usaha adalah nilai pasar;
11. peleburan usaha adalah nilai pasar;
12. pemekaran usaha adalah nilai pasar;
13. hadiah adalah nilai pasar; dan/atau
14. penunjukan pembeli dalam lelang adalah harga transaksi yang tercantum dalam risalah lelang.
Jika nilai perolehan objek pajak sebagaimana yang dimaksud di atas tidak diketahui atau lebih rendah dari pada Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) yang digunakan dalam pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan pada tahun terjadinya perolehan, dasar pengenaan yang dipakai adalah NJOP Pajak Bumi dan Bangunan.
2.4.5. Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak
Besarnya nilai perolehan objek pajak tidak kena pajak ditetapkan paling rendah sebesar Rp 60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah) untuk setiap Wajib Pajak. Dalam hal perolehan hak karena warisan atau hibah wasiat yang diterima orang pribadi yang masih dalam hubungan keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat ke atas atau satu derajat ke bawah dengan pemberi hibah wasiat, termasuk suami/istri, nilai perolehan objek pajak tidak kena pajak ditetapkan paling rendah sebesar Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah). Nilai perolehan Objek Pajak tidak kena pajak ditetapkan dengan peraturan daerah (Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 Pasal 87).
2.4.6. Tarif dan Perhitungan BPHTB
Tarif Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan ditetapkan paling tinggi sebesar 5% (lima persen). Tarif Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan ditetapkan dengan peraturan daerah (Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 Pasal 88).
Besaran pokok Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif dengan dasar pengenaan pajak setelah dikurangi nilai perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang terutang dipungut diwilayah daerah tempat tanah dan/atau bangunan berada (Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 Pasal 89).
2.4.7. Saat Terutang BPHTB
Saat terutangnya pajak Bea Perolehan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan ditetapkan untuk (Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 Pasal 90):
1. jual beli adalah sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta;
2. tukar-menukar adalah sejak tanggal dibuatkan dan ditandatanganinya akta;
3. hibah adalah sejak tanggal dibuat ditandatanganinya akta;
4. hibah wasiat adalah sejak tanggal dibuat danditandatanganinya akta;
5. waris adalah sejak tanggal yang bersangkutanmendaftarkan peralihan haknya ke kantor bidangpertanahan;
6. pemasukan dalam perseroan atau badan hukumlainnya adalah sejak tanggal dibuat danditandatanganinya akta;
7. pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan adalahsejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta;
8. putusan hakim adalah sejak tanggal putusanpangadilan yang mempunyai kekuatan hukum yangtetap;
9. pemberian hak baru atas Tanah sebagai kelanjutandari pelepasan hak adalah sejak tanggalditerbitkannya surat keputusan pemberian hak;
10. pemberian hak baru di luar pelepasan hak adalahsejak tanggal diterbitkannya surat keputusanpemberian hak;
11. penggabungan usaha adalah sejak tanggal dibuat danditandatanganinya akta;
12. peleburan usaha adalah sejak tanggal dibuat danditandatanganinya akta;
13. pemekaran usaha adalah sejak tanggal dibuat danditandatanganinya akta;
14. hadiah adalah sejak tanggal dibuat danditandatanganinya akta; dan 15. lelang adalah sejak tanggal penunjukkan pemenanglelang.
2. 5. Penelitian Terdahulu
Penelitian ini menggunakan acuan yang berasal dari penelitian-penelitian sebelumnya, yang dijadikan perbandingan dalam melakukan penelitian.
Penelitian-penelitian terdahulu dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 2.1. Penelitian-penelitian Terdahulu
2.1. Penelitian-penelitian Terdahulu Peneliti
(Tahun)
Judul Penelitian
Tujuan Penelitian Metode Penelitian
Hasil Penelitian a. Ferry
Afi Andi (2011)
Analisa Dampak Pemindahan Kewenangan Pemungutan Bea
Peralihan Hak atas Tanah
dan/atau Bangunan kepada Pemerintah Daerah terhadap Kemandirian Keuangan Daerah.
Untuk mengenali dampak yang akan timbul dari proses pengalihan kewenangan pemungutan
BPHTB dari
Pemerintah Pusat kepada
Pemerintah
Daerah dan
manfaatan dari proses pengalihan kewenangan pemungutan
BPHTB bagi
Pemerintah Daerah.
Metode studi literature.
a. Perbedaan NPOPTKP akan menimbulkan penurunan penerimaan BPHTB bagi Pemerintah Daerah yang selama ini mempunyai NPOPTKP yang jauh dibawah Rp. 60 juta.
b. Beberapa daerah lambat dalam menyiapkan perangkat peraturan dan sumber daya manusia karena tidak melihat keuntungan dari peralihan BPHTB dari Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Daerah.
c. Adanya kemungkinan terganggunya penerimaan Pajak Penghasilan atas Pengalihan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan akibat lambatnya Peraturan Daerah mengenai BPHTB. Tetapi hal ini hanya sedikit pengaruhnya terhadap penerimaan pajak secara keseluruhan.
d. Dengan beralihnya penerimaan BPHTB dari pemerintah pusat kepada kabupaten/kota, yang selama ini porsi 64% untuk daerah kabupaten/kota penghasil menjadi 100% akan menambah secara signifikan PAD kabupaten/kota. Namun demikian,
Lanjutan Tabel 2.1
kabupaten/kota yang selama ini disamping kabupaten/kota menerima 64% bagi hasil BPHTB, pemerintah pusat dari bagiannya sendiri selama ini (20%) dibagikan dengan porsi yang sama besar untuk seluruh kabupaten dan kota, sehingga dengan berlakunya undang-undang PDRD tidak mendapatkan porsi yang sama, yangselama ini diberikanoleh pemerintah pusat.
e. Peralihan kewenangan BPHTB kepada Pemerintah Daerah di satu sisi akan meningkatkan kemandirian Pemerintah Daerah yangmempunyai potensi BPHTB yang tinggi. Tetapi disisi lain akansemakin mengurangi penerimaan daerah-daerah yang kurangdalam potensi BPHTB. Hal ini berpotensi mempertajamkesenjangan antara daerah-daerah yang maju dan yang tertinggal.
f. Daerah yang menghadapi penurunan penerimaandikhawatirkan akanmerespon dengan membuat aturan-aturanyang dapat merugikan dunia usaha,masyarakat, danbahkan lingkungan.
Lanjutan Tabel 2.1 b. Kosasi,
Eva Maria S, Abdul Yusuf (2012)
Analisis Sistem Pajak BPHTB dari Pajak Pusat Menjadi Pajak Daerah terhadap PAD Kabupaten Karawang.
Untuk melakukan analisis Sistem Pajak BPHTB dari Pajak Pusat menjadi Pajak daerah terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kab. Karawang.
Penelitian ini dilakukan melalui pendekatan kualititatif dengan teknikpengu m-pulan data Triangulasi yang diperoleh dari
wawancara dan studi dokumentasi.
a. Sudah terdapat beberapa persiapan yang dilakukan dalam pelaksanaan BPHTB yang beralih sistem, seperti legalitas melalui Perda no.4 tahun 2011, alur penerimaan dan pelayanan untuk pelaksanaan pembayaran BPHTB, syarat syarat yang harus dipersiapkan wajib pajak, juga beberapa persiapan lainnya yang dilakukan di DPPKAD.
b. Tercatat selama periode pengamatan dalam Laporan Anggaran danRealisasi Pendapatan Kabupaten KarawangTahun 2012sampai dengan bulan Agustusmencapai peningkatan 362,30% Dari yangdianggarkan 45.000.000.000,00dengan realisasi163.036.150.027,00. Dengan keseluruhan PAD yang menjadi target Pemerintah Daerah 273.225.186.007,00 dengan nilai realisasi 331.785.375.181,00. Dengan demikian PAD dengan adanya kontribusi BPHTB mencapai 121,43%, . BPHTB berhasil menyumbang hampir setengah dari total PAD yaitu 49,13% karenakesiapan dari Dinas PPKAD yang terus menjadi fokus utama dalammemberikan pelayanan kepada masyarakat wajibpajak BPHTB.
Lanjutan Tabel 2.1 c. Riswan
Baha- ruddin (2013)
Analisis Kesiapan Pemerintah Kota
Makassar Menyambut Pengelolaan Pajak Bumi dan
Bangunan Perdesaan dan
Perkotaan Tahun 2013.
Untuk mengetahui sudah sejauh mana
kesiapanPemerinta h Kota Makassar dalam menyambut pengelolaan Pajak Bumi
danBangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB P2) sebagai pajak daerah yang terkait dengan
pemenuhan syarat- syarat peralihan antara lain, kesiapan
peraturanpengelola an
Penelitian ini menggu-nakan analisa data kualitatif, pendekat-an penelitian kualitatif merupakan metode
penelitian yang sifatnya
deskriktif.
Hasil Penelitian menunjukkan bahwa sejauh ini Pemerintah Kota Makassar sudah siap untuk mengelolah PBB P2 ini walaupunmasih memiliki banyak kendaladankekurangan yang akan terus dievaluasi dan diperbaiki ke depannya. Adapun kendala-kendala yang masih di hadapi oleh Pemerintah Kota Makassar yaitu masalah yang berkaitan dengan Sumber Daya Manusia (SDM), yaitu tentang penentuan jumlah pegawai yang nantinya menjadi pengelola Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan dan adanya proses pendataan ulang atau penilaian terhadap lima kecamatan.
Lanjutan Tabel 2.1
PBB P2, kerjasama dengan pihak lain, sarana prasarana yang dibutuhkan dalam pengelolaan PBB P2, kesiapan organisasi dan
Sumber Daya
Manusia (SDM), proses sosialisasi yangdilakukan dan mengetahui kendala- kendala yang masih dihadapi Pemerintah Kota Makassar.
Sumber: Diolah sendiri.