BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Kontaminasi dan pencoklatan (browning) eksplan merupakan masalah utama yang sering muncul pada tahap inisiasi. Inisiasi merupakan tahap awal kultur jaringan yang bertujuan menghasilkan eksplan yang bebas dari mikroorganisme kontaminan. Pengamatan kontaminasi dan browning dilakukan terhadap kultur jaringan jabon selama 4 minggu. Eksplan berasal dari indukan berumur ± 3 bulan yang diberi 2 macam perlakuan yaitu karantina dan lama perendaman dalam antibiotik.
Tabel 2 Tingkat kontaminasi, kematian eksplan, browning dan tingkat hidup eksplan jabon terhadap kombinasi perlakuan karantina dan perendaman antibiotik Kombinasi
perlakuan
Kontaminasi (%)
Kematian eksplan (%)
Browning (%)
Hijau (%)
A0B0 92,50 85,00 10,00 15,00
A0B1 90,00 100,00 22,50 0,00
A0B2 90,00 97,50 5,00 2,50
A1B1 100,00 100,00 5,00 0,00
A1B2 95,00 100,00 2,50 0,00
A2B1 100,00 100,00 12,50 0,00
A2B2 97,50 100,00 15,00 0,00
Rata-rata 95,00 97,50 10,36 2,50
A0: karantina 0 hari, A1: karantina 7 hari, A2: karantina 14 hari, B0: perendaman 0 hari, B1:
perendaman 1 hari, B2: perendaman 2 hari Tabel 3 Jenis kontaminan pada eksplan jabon
Jenis kontaminan Persentase(%)
Bakteri 9,28 Cendawan 10,36 Bakteri+cendawan 75,36
Berdasarkan hasil penelitian, kontaminasi yang terjadi mencapai 95%, kematian eksplan 97,5%, browning 10,36%, dan eksplan hidup sebesar 2,5% dari seluruh eksplan yang ditanam Persentase kontaminasi eksplan tertinggi terdapat pada perlakuan A1B1 dan A2B1 sebesar 100%, sedangkan persentase terendah sebesar 90% pada kombinasi perlakuan A0B1 dan A0B2. Persentase kematian eksplan 100% terjadi pada kombinasi perlakuan A0B1, A1B1, A1B2, A2B1 dan A2B2, sedangkan 2 kombinasi perlakuan lainnya masih terdapat eksplan yang masih hijau/hidup yaitu A0B0 (15%) dan A0B2 (2,5%). Persentase browning
eksplan te pada kom eksplan ja oleh bakt 10,36% da
Gambar 2
Gambar 3
Ke kontamina
0 20 40 60 80 100 120
Persentase (%)
0.0 20.0 40.0 60.0 80.0 100.0 120.0
Persentase (%)
ertinggi pad mbinasi perl
abon melip teri+cendaw an kontamin
Eksplan y karantina perendam
Eksplan ya hari, A1: k perendama ematian ter asi kemudia
A0B0 A
Bro
A0B0 B
da kombina lakuan A1B puti bakteri wan sebany nasi bakteri
yang menga 0 hari, A man 0 hari, B1
ang terkontam karantina 7 h an 1 hari, B1 rtinggi pada
an diikuti b
A0B1 A
owning
A0B1 Bakteri+cend
asi perlakua B2 sebesar
dan cenda yak 75,36%
i sebanyak 9
alami kemat A1: karantina
1: perendama
minasi selam ari, A2: kara : perendaman a semua pe bahan steri
A0B2 A1
Kombinas Bahan
A0B2 A
Kombina dawan
an A0B1 se 2,5% (Tab awan. Perse
%, kontam 9,28% (Tab
tian selama a 7 hari, A an 1 hari, B2
ma 4 minggu antina 14 har
n 2 hari) erlakuan ste ilan dan br 1B1 A1 si Perlakuan n sterilan
A1B1 A1
asi perlakuan Cendaw
ebesar 22,5 el 2). Jenis entase kont minasi cend
el 3).
4 minggu A2: karanti 2: perendama
pengamatan ri, B0: peren
erilisasi dis rowning (G
B2 A2B
Kon
1B2 A2B n
wan
5% dan tere s kontamin taminasi ek dawan seba
pengamatan na 14 hari an 2 hari)
n (A0: karan ndaman 0 har
sebabkan k Gambar 2).
B1 A2B2
taminasi
B1 A2B2 Bakteri
endah pada ksplan anyak
n (A0:
i, B0:
ntina 0 ri, B1:
karena Jenis 2
2
kontamina kontamina kemudian
Gambar 4
Pe karantina browning perlakuan Persentase lebih rend eksplan pa sama. Per dibanding hijau/hidu (Gambar 4
0 20 40 60 80 100 120
Persentase (%)
an yang a an terbanya
diikuti han
Pengaruh pe ke-4 penga ersentase ko
tinggi dib dan hijau/
karantina e kontamin dah dibandin
ada perlaku rsentase bro gkan dengan up sampai a
4).
Kontamins Karan
ada pada k pada sem nya bakteri d
erlakuan kara amatan
ontaminasi bandingkan /hidup. Pers
7 hari dan nasi dan kem
ngkan deng uan karantin
owning pada n karantina akhir penga
si Kem tina 0 hari
eksplan be mua kombina dan hanya c
antina terhad
dan kema n dengan p
sentase kon n 14 hari
matian eks gan karantin na 0 hari dan a perlakuan a 0 hari d amatan terd
matian eksplan Kondi Karant
erupa bakt asi perlakua cendawan (G
dap kondisi e
atian ekspl persentase ntaminasi d
mempunyai plan pada na 7 dan 14 n 14 hari me n karantina dan karantin dapat pada
n Brow
isi eksplan tina 7 hari
teri dan c an adalah ba Gambar 3).
eksplan jabon
an pada s eksplan y dan kematia
i nilai yan perlakuan 4 hari. Pers
empunyai n 7 hari lebih na 14 hari
perlakuan
wning
Karant
cendawan.
akteri+cend
n pada mingg
emua perla yang meng
an eksplan ng hampir s karantina 0 entase brow nilai yang ha h rendah ap i. Eksplan karantina 0
Hijau tina 14 hari
Jenis dawan
gu
akuan alami pada sama.
0 hari wning
ampir pabila yang 0 hari
Gambar 5
Pe perendam hari, 1 ha eksplan p sama. Per dibanding perlakuan hijau/hidu dan 2 hari
Gambar 6 0 20 40 60 80 100 120
Persentase (%)
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90
Persentase (%)
Pengaruh pe ke-4 penga ersentase ko
an tinggi. P ari dan 2 ha ada perlaku rsentase kem gkan denga
perendam up sampai a i (Gambar 5
Persentase cendawan h
Kontamina Perenda
I I
erlakuan pere amatan
ontaminasi Persentase k ari mempun uan perenda
matian eksp an perlaku man 2 hari
akhir pengam 5).
kenaikan ju hingga 7 har
asi Kema
aman 0 hari
II III
endaman ter
dan kema kontaminasi nyai nilai ya
aman 1 dan plan pada p uan lainnya mempunya matan terda
umlah ekspla ri setelah pen atian eksplan Kondi Perend
IV Hari ke-
rhadap kond
atian ekspl eksplan pa ang hampir n 2 hari me
perlakuan p a. Tingkat ai presentas apat pada pe
an yang men nanaman
Brown isi eksplan daman 1 hari
V -
isi eksplan ja
an pada s ada perlakua
sama. Pers empunyai ni perendaman browning se terendah erlakuan pe
ngalami kont ning
Peren
VI VI
abon pada m
emua perla an perendam sentase kem
ilai yang ha 0 hari tere g eksplan h. Eksplan erendaman 0
taminasi bak Hijau daman 2 hari
II
Cen Bak
minggu
akuan man 0 matian ampir endah pada yang 0 hari
kteri dan ndawan kteri
Ko mengalam pada hari (Gambar 6
Gam
Da dimultipli mengandu dengan pe eksplan pa
A
ontaminasi mi kenaikan
ke-5 dan m 6).
mbar 7 Kondi terko (C) E tidak dimu alam penel kasi. Ekspl ung ZPT BA enambahan
ada akhir pe
D
bakteri dan sampai har mulai konsta
isi eksplan p ontaminasi ja Eksplan men k mengalami ultiplikasi
litian ini an tersebut AP 1,5 mg/
ZPT menga engamatan d
B
n cendawa ri ke-6. Kon
an pada har
pada minggu amur, (B) Ek ngalami brow pertumbuha
dihasilkan kemudian /l. Eksplan y
alami pertam dapat diliha
B
n terjadi p ntaminasi m ri ke-6 sam
ke-4 pengam ksplan terkon wning, (D) Ek
an,(E) Ekspla
3 botol dipindahka yang dipind mbahan tin at pada Gam
E
pada hari k mencapai per mpai pada ak
matan; (A) Ek ntaminasi bak ksplan hijau an yang siap
eksplan ja an kedalam dahkan ke d ggi, ruas da mbar 7.
C
ke-2 inisias rsentase tert
khir pengam
ksplan kteri,
tetapi
abon yang media MS dalam medi an daun. Ko
i dan tinggi matan
siap yang a MS ondisi
4.2 Pembahasan
4.2.1 Kondisi Bahan Tanaman
Eksplan yang digunakan dalam penelitian ini merupakan tunas dari tanaman jabon yang berumur ± 3 bulan yang merupakan tanaman dengan jaringan muda yang sedang aktif tumbuh. Kavitha et al. (2009) melakukan penelitian respon pertumbuhan eksplan jabon terhadap perbedaan jenis eksplan. Eksplan jabon dari jaringan muda tanaman yang aktif tumbuh akan memberikan respon pertumbuhan yang baik dalam kultur jaringan dibandingkan dengan tunas dorman ataupun tunas yang sudah berkayu. Waktu bertunas dan banyaknya tunas eksplan jabon akan maksimum apabila yang digunakan adalah jaringan muda yang sedang aktif tumbuh, sedangkan jaringan tua tidak memberikan respon, bahkan akan mengalami pencoklatan dan mati.
Naghmouchi et al. (2008) menyatakan bahwa eksplan carob (Ceratonia siliqua) yang mempunyai karakteristik juvenile akan memberikan respon yang bagus dalam pembentukan tunas dan kecepatan pembentukan akar dalam media kultur. Penggunaan eksplan muda akan lebih optimal dalam pembentukan tunas dibandingkan dengan penggunaan eksplan yang sudah berlignin. Respon eksplan akan menurun seiring dengan naiknya umur eksplan.
Eksplan yang berasal dari jaringan tanaman yang masih muda memiliki kandungan fenol yang lebih rendah dibandingkan jaringan tanaman yang sudah tua. Penggunaan tanaman muda dapat mengurangi kemungkinan browning yang terjadi pada eksplan.
4.2.2 Karantina Tanaman dan Perendaman Antibiotik
Karantina tanaman induk bertujuan untuk mempersiapkan bahan eksplan yang sehat dan bebas dari kontaminan internal. Bahan eksplan yang sehat sangat penting dalam kultur jaringan tanaman. Eksplan yang sudah terinfeksi patogen kemungkinan besar akan terkontaminasi saat dikulturkan. Karantina dilakukan dengan pemberian antibiotik, fungisida atau bakterisida secara kontinyu pada tanaman yang akan dikulturkan. Hal ini bertujuan untuk mematikan ataupun mengurangi mikroba yang ada di dalam jaringan tanaman. Pengontrolan kontaminasi mikroba sangat sulit dilakukan terutama untuk tanaman berkayu yang berasal dari lapangan (Bausher et al. 1998).
Karantina penting dilakukan karena sterilisasi permukaan tidak cukup membunuh mikroba kontaminan. Konsentrasi bahan sterilisasi yang rendah dan waktu yang singkat pada sterilisasi permukaan, tidak bisa membunuh mikroba kontaminan. Namun, jika konsentrasi dan waktu perendaman eksplan dengan bahan sterilisasi dinaikkan, mikroba akan terbunuh dan dapat mematikan eksplan.
Kegiatan karantina dilakukan sebagai kontrol pertumbuhan cendawan dan bakteri secara kontinyu. Kegiatan karantina ini juga sebagai penurun tingkat kontaminasi secara internal dan secara tidak langsung mengurangi besarnya konsentrasi bahan sterilisasi serta lamanya waktu sterilisasi yang akan merusak eksplan.
Perendaman eksplan dengan antibiotik dilakukan sebagai bagian dari sterilisasi internal jaringan eksplan. Eksplan yang telah terpotong masih membutuhkan oksigen untuk melakukan aktivitas selnya. Eksplan tersebut diberikan oksigen dengan menggunakan aerator dalam air kaya oksigen dalam proses peredamannya. Seperti dalam proses karantina, perendaman antibiotik dilakukan untuk membunuh ataupun mengeliminir mikroba yang ada di dalam jaringan eksplan.
Kontaminasi eksplan paling rendah pada perlakuan tanpa perendaman. Hal ini disebabkan jaringan eksplan yang sebelumnya dioles alkohol mengalami luka dan saat perendaman mikroba dari jaringan eksplan yang lain akan sangat mudah masuk jaringan yang luka. Air sebagai sarana metabolisme eksplan juga diduga dapat memobilisasi mikroba ke jaringan eksplan. Dosis dan waktu perendaman antibiotik yang tidak tepat juga mengakibatkan tujuan perendaman yaitu menurunkan tingkat kontaminasi belum tercapai.
4.2.3 Tingkat Browning Eksplan
Browning (pencoklatan) merupakan gejala munculnya warna coklat pada eksplan sehingga akan menghambat pertumbuhan eksplan. Queiroz et al. (2008) mengemukakan bahwa browning terjadi akibat adanya enzim polifenol oksidase yang mengakibatkan terjadinya oksidasi senyawa fenol menjadi quinon yang memproduksi pigmen berwarna coklat ketika jaringan terluka. Kavitha et al.
(2009) mengatakan bahwa browning pada eksplan jabon adalah hal yang umum terjadi karena adanya oksidasi dari senyawa fenol. Hal ini selaras dengan jenis jabon yang memiliki senyawa fenol berupa tanin (Nugroho 2011). Senyawa fenol
ini mengalami oksidasi akibat adanya pelukaan terhadap eksplan. Senyawa fenol yang teroksidasi pada media mengakibatkan eksplan tidak dapat mengambil nutrisi dari media sehingga pertumbuhan eksplan terhambat dan akhirnya eksplan akan mati.
Persentase browning pada penelitian ini rendah, yaitu sebesar 10,36%.
Usaha untuk mengurangi browning dalam penelitian ini diantaranya ialah penggunaan bahan tanaman yang masih muda. Tanaman muda mempunyai kandungan fenol yang lebih rendah dibandingkan dengan tanaman tua.
Kandungan fenol yang lebih rendah akan menurunkan tingkat browning yang terjadi. Peristiwa pencoklatan pada eksplan saat ditanam dapat dikurangi dengan melakukan pembilasan air secara berulang. Hal ini dilakukan untuk melarutkan senyawa fenol yang ada dalam jaringan tanaman.
Kavitha et al (2009) menyarankan untuk menginkubasi eksplan jabon pada medium baru di dalam ruangan yang gelap untuk mengurangi tingkat browning yang terjadi. Onuoha et al. (2011) dalam penelitiannya untuk mencegah browning pada kultur jaringan pisang (Musa parasidiaca) menyarankan untuk merendam eksplan dengan menggunakan antioksidan berupa potassium sitrat-sitrat selama 2 jam sebelum dilakukan pengkulturan. Poudyal et al. (2008) mengkaji masalah browning pada jenis pear Yali, Ainkansui dan Abbe Fetel. Poudyal menyarankan penambahan asam askorbat atau dengan penambahan Polivinil Pirolidon (PVP) pada media kultur, inkubasi eksplan pada kondisi gelap selama 96 jam, dan perlakuan dingin dengan disimpan dalam kulkas selama 12 jam. Perlakuan ini terbukti mampu mengontrol browning pada eksplan pear.
4.2.4 Tingkat Kontaminasi Eksplan
Secara umum, tingkat kontaminasi tinggi pada semua perlakuan. Penyakit lodoh oleh serangan cendawan pada tanaman induk (Gambar 8) diduga menyebabkan tingginya kontaminasi pada semua perlakuan. Patogen penyebab penyakit lodoh ini dengan cepat akan menyebar ke jaringan tanaman. Hifa patogen lodoh menyebar melalui tanah, dan infeksi patogen terjadi melalui penetrasi langsung pada epidermis yang masih lemah yang melindungi jaringan tanaman yang masih sukulen (Boyce 1961). Banyak jenis cendawan yang berasosiasi dengan jaringan tanaman, dan umumnya akan menyebabkan
kontamina terlihat se ketika tun akibatnya dalam kul
Gambar 8
Tin karantina tinggi pad terjadi pad karantina menguran Suwandi ( toksisitas kemampu tersebut a mikroba y kombinasi efektifnya rentang w
A
asi pada ek ehat dan se nas dikultu cendawan tur jaringan
Kondisi tan yang sehat Kondisi sem ngkat kont
dibandingk da perlakua da tanaman belum tun ngi mikroba
(1992) men antibiotik an mikroba akan dituru yang lebih i dari tiga a antibiotik waktu pembe
ksplan yang gar, diduga urkan patog akan cepat n sangat pen
naman induk t, (B) Kond mai jabon ya aminasi ek kan dengan an karantina yang diberi ntas, sehin a justru ak ngatakan ba k. Resisten a untuk be unkan dari h tahan terh
jenis anti ini disebab erian antibio
B
dikulturka a sudah teri gen tersebu
tumbuh dal nting pemak
kan jabon di disi tanaman ang mati terk ksplan jabon
n perlakuan a diduga ka ikan antbiot ngga karant kan mengha ahwa mikrob nsi muncul
eradaptasi d i generasi hadap antib biotik belu bkan karen otik yang ku
B
n (Altan et infeksi dida ut akan iku
lam botol-b kaian ekspla
i rumah kaca n jabon yang kena serangan n lebih ren n karantina.
arena adany tik. Resisite tina yang asilkan mik ba akan ber l dengan dengan ling ke genera biotik. Pen um dapat b na kurangny urang lama.
t al. 2009).
alam jaring ut terbawa botol kultur.
an yang ben
a; (A) Kond g mulai ters
n lodoh ndah pada
. Kontamin ya resisitens ensi ini terja bertujuan kroba yang rusaha bera adanya f gkungannya asi sehingg nyebab lain berfungsi m ya dosis an
C
Tanaman gannya, seh
dalam jari . Oleh karen nar-benar se
disi tanaman serang lodoh
perlakuan nasi yang c
si mikroba adi karena p membunuh g lebih res adaptasi terh fleksibilitas
a, dan resis ga menghas n diduga k maksimal. T ntibiotik ata
yang ingga ingan, na itu hat.
jabon h, (C)
tanpa cukup yang proses h dan sisten.
hadap dan stensi silkan karena Tidak aupun
Kontaminasi secara umum dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu faktor eksplan, faktor manusia, faktor media dan faktor lingkungan. Kontaminasi dari faktor eksplan dicirikan dengan awal muncul sumber kontaminasi berasal dari eksplan (Gambar 9A). Dalam penelitian ini banyak didapatkan juga kontaminasi yang berawal dari ruas antar tangkai daun (Gambar 9D). Kavitha et al (2009) mengatakan bahwa kontaminasi paling banyak dari kultur jaringan tunas jabon adalah cendawan. Cendawan sebagian besar berawal dari stipula yang berada di antara tangkai daun. Kontaminasi di bagian stipula dapat dihilangkan dengan menggunakan bahan kimia pada eksplan. Dengan cara ini persentase kontaminasi pada bagian stipula oleh cendawan dapat dikurangi. Kontaminasi ini biasa terjadi akibat adanya sterilisasi permukaan yang tidak sempurna. Pemilihan bahan sterilisasi, dosis serta lama waktu sterilisasi mempengaruhi keefektifan dalam membunuh kontaminan yang ada di permukaan eksplan.
Kontaminasi yang muncul dari media juga terkadang bisa terjadi.
Kontaminasi dari faktor media disebabkan karena kurang rapatnya penutup botol sehingga mikroba bisa masuk lewat celah penutup botol. Kontaminasi yang berasal dari media kultur ditandai dengan munculnya cendawan atau bakteri berawal pada media (Gambar 9B). Faktor manusia dan lingkungan juga menjadi penyebab tingat kontaminasi yang cukup tinggi, kurang terampilnya pekerja serta kurang sterilnya peralatan yang dipakai juga bisa mempengaruhi persen kontaminasi pada eksplan. Odutayo et al (2007) menyatakan bahwa ada hubungan antara jenis kontaminan dengan lingkungan laboratorium, pekerja, dam peralatan yang digunakan. Bakteri dan cendawan yang ditemukan sebagai kontaminan, jenisnya sama dengan bakteri dan cendawan yang ada di udara laboratorium, peralatan laboratorium, kulit pekerja, serta sarung tangan pekerja ketika melakukan penelitian.
Secara umum, berdasarkan jenis kontaminan kontaminasi terdapat 2 jenis, yaitu kontaminasi bakteri dan kontaminasi cendawan. Kontaminasi bakteri dicirikan dengan adanya cairan putih bening pada media di pangkal eksplan yang akan berubah menjadi putih pekat ataupun berubah warna. Kontaminasi cendawan dicirikan dengan adanya hifa putih yang tumbuh pada botol kultur, baik itu muncul dari media ataupun eksplan. Kondisi media kultur yang lembab dan
banyak m dari pada kelamaan
Ga
Ko dan terus mencapai Kontamin Sebagian +cendawa
mengandung pertumbuh akan menu
ambar 9 Kon cen me tan ontaminasi b
meningkat persentase nasi yang t
besar ekspl an.
A
C
g nutrisi, m han eksplan
tupi eksplan
ntaminasi cen ndawan bera enutupi ekspl ngkai daun
bakteri dan t pada ming
e tertinggi erjadi seba lan mengala
menyebabkan nnya. Cend n yang akhi
ndawan; (A) awal dari med
lan, (D) cend
n cendawan ggu pertam
pada har anyak 95%
ami dua jen
n pertumbu dawan yang irnya memb
cendawan b dia, (C) cend dawan yang b
mulai mun a. Kontami ri ke-5 set dari selur nis kontami
B
D
uhan cenda g menyeran bunuh ekspl
berawal dari dawan tumbu
berawal dari
ncul pada ha inasi cenda telah pena ruh eksplan inasi sekalig
wan lebih ng eksplan
an (Gambar
eksplan, (B) uh cepat dan i sipula antar
ari kedua in wan dan ba anaman eks
n yang dita gus yaitu ba
cepat lama r 9C)
r
nisiasi akteri splan.
anam.
akteri
4.2.5 Toksisitas Antibiotik dan Bahan Sterilisasi
Antibiotik merupakan senyawa yang dihasilkan oleh mikroorganisme seperti cendawan dan bakteri yang digunakan untuk membunuh mikrorganisme lain. Aktivitas antibiotik ialah mengganggu kinerja sel bakteri. Aktivitas antibiotik dalam mengganggu sel bakteri juga bisa mengganggu aktivitas sel tanaman yang akhirnya mematikan eksplan. Cantika (2006) menyatakan bahwa konsentrasi antibiotik yang terlalu tinggi akan dapat mematikan sel tanaman.
Pemakaian bahan-bahan sterilisasi dengan konsentrasi yang terlalu tinggi ataupun waktu yang terlalu lama juga akan bersifat toksik bagi tanaman. Residu dari bahan sretilan yang masih tertinggal di eksplan juga akan dapat mematikan eksplan jika pembilasan kurang bersih.
Bahan sterilisasi digunakan untuk sterilisasi permukaan eksplan. Bahan sterilisasi bersifat toksik, oleh karena itu konsentrasi tidak boleh terlalu tinggi dan waktu sterilisasi tidak boleh terlalu lama. Bahan sterilisasi yang digunakan dalam penelitian ini dan diduga mengakibatkan terjadinya kematian eksplan adalah alkohol 70% dan NaOCl. Alkohol 70% merupakan bahan sterilisasi yang kuat dan dapat membunuh kontaminan, akan tetapi jika terlalu banyak akan mematikan jaringan tanaman. Dalam penelitian pendahuluan dilakukan percobaan penggunaan alkohol 70% selama 3 menit, akan tetapi 85%−90% eksplan mengalami kematian. Alkohol 70% digunakan dengan cara dioles di permukaan eksplan, hal ini dimaksukan untuk menghilangkan kontaminan yang ada di permukaan eksplan. Akan tetapi, Widyaningrum (2000) menyatakan bahwa penggunaan alkohol 70% dapat mengakibatkan eksplan mengalami dehidrasi yang diikuti pengeluaran klorofil dari jaringan eksplan. Hal ini dapat terlihat dari hilangnya warna hijau pada eksplan jabon yang dioles dengan menggunakan alkohol 70% (Gambar 10A). Hilangnya klorofil dari jaringan tanaman mengakibatkan jaringan eksplan mati setelah ditanam.
NaOCl yang dipakai ialah konsentrasi 5% dan 7,5% selama 3−5 menit.
Konsentrasi dan waktu perendaman yang terlalu tinggi akan mengakibatkan rusaknya jaringan eksplan. Jaringan eksplan yang rusak ditunjukkan dengan mulai memutihnya eksplan jabon ketika direndam dalam larutan NaOCl (Gambar 10B).
Eksplan ini akhirmya akan mati setelah beberapa hari ditanam dalam medium MS
(Gambar membunu yang men menguran Konsentra dengan se sangat efe yang dina karena Na
Gambar 10
4.2.6 Ke Ek botol eksp Kavitha e panjang d eksplan ja tinggi bis lemah den (2009) m untuk ind perbanyak
A
10C). Ko uh kontamin
neliti tentan ngi tingkat
asi NaOCl edikit kerusa ektif dalam aikkan akan aOCl dalam
0 Kerusaka coklat se eksplan m
emungkina ksplan jabon
plan dilak et al. (2009 dari tunas d abon adalah sa menghas ngan lebih enyatakan duksi tunas kan dan pe
onsentrasi N nan. Hal ini ng efek per kontamina yang tepa akan pada e m mengontro n secara dr m konsentras
an jaringan etelah dioles mengalami k
an Dilakuka n yang tidak kukan pem
9) menyat dari jabon. K
dengan BA silkan lebih
panjang ta BAP meru s dan rege erkembanga
B
NaOCl ya i sesuai den rbedaan kon asi eksplan at dapat ef eksplan. Na ol tingkat k rastis mena si tinggi ber
eksplan ole s alkohol, (B kematian akib
an Multipl k mengalam indahan ke takan BAP Konsentrasi AP 1 mg/l da
h banyak tu angkai, sert upakan horm
nerasi tuna an tunas da
B
ng terlalu ngan pernya
nsentrasi N n alpukat fektif dalam aOCl merup kontaminasi aikkan pula sifat toksik
h bahan ste B) eksplan bat kerusaka
likasi mi kontamin
e media ho P bisa men i paling bai alam mediu unas, akan
ta ukuran mon sitokin as. Penamb ari alpukat
rendah ju ataan Zulfiq NaOCl terha
(Persea am m mengont pakan bahan i, tetapi kon a persen ke
bagi tanam
erilisasi; (A) memutih ka an jaringan.
nasi dan tum ormon MS+
nghasilkan ik untuk pe um ½ MS. K
tetapi tuna daun kecil.
nin yang u bahan BAP
(Persea a
C
uga tidak qar et al. (2 adap keefek mericana m trol kontam n sterilisasi nsentrasi N ematian eks man.
) eksplan m arena NaOC
mbuh, seban +BAP 1,5 tunas sehat erbanyakan Konsentrasi
as yang m . Zulfiqar mum digun P penting u americana M
akan 2009) ktifan mill.).
minasi yang NaOCl splan,
enjadi Cl, (C)
nyak 3 mg/l.
t dan tunas
lebih muncul et al.
nakan untuk Mill).
Konsentrasi BAP yang terlalu rendah ataupun terlalu tinggi akan akan menghasilkan jumlah eksplan yang lebih sedikit. Ada perbedaan morfologi dari respon eksplan alpukat dengan konsentrasi BAP yang berbeda. Konsentrasi BAP yang terlalu tinggi akan menghasilkan tunas yang padat tanpa mengalami perpanjangan. Pemilihan konsentrasi dari ZPT sangat penting untuk regenerasi tunas.