• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGEMBANGAN UNIT PRODUKSI PADA LAYANAN TEKNIK DAN BISNIS SEPEDA MOTOR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENGEMBANGAN UNIT PRODUKSI PADA LAYANAN TEKNIK DAN BISNIS SEPEDA MOTOR"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

PENGEMBANGAN UNIT PRODUKSI PADA LAYANAN TEKNIK DAN BISNIS SEPEDA MOTOR Arif Saifudin 124 Jurnal Inovasi Pembelajaran Karakter (JIPK) Vol. 7, No. 2, Mei 2022

PENGEMBANGAN UNIT PRODUKSI PADA LAYANAN TEKNIK DAN BISNIS SEPEDA MOTOR

Arif Saifudin

SMKN 1 Kandeman Kab Batang Prop Jawa Tengah email: [email protected]

Abstract

Production unit plays an important role in education of vocational schools but unfortunately not all vocational schools can manage it effectively. The problems faced by the production unit at vocational school in implementing its program are inadequate infrastructure, very minimal human resources managing the program, lack of school principal’s commitment, and lack of cooperation between the schools and industry. This study is limited to the management problem faced by the Production Unit of State Vocational High School 1 Warungasem, the study program of Motorcycle Engineering and Business. This includes HR management aspects, customer service, marketing strategies, and financial management.

This study is quantitative research which aims to describe the management of the Motorcycle Engineering and Business Production Unit of the State Vocational High School 1 Warungasem. The respondents in this study were the school leaders, the Production Unit managers, teachers, and students. The data collection used questionnaires, observations, and interviews. Then they were analyzed using quantitative descriptive data. The results of the questionnaire assessment showed an average score of 44.4 or 84.2% for the aspect of HR management and an average score of 79.4 or 83.6% for the aspect of Customer Service. It means that both aspects are very good. Meanwhile, the Marketing Strategy obtained an average score of 15.3 or 76.5% which means it is good and the aspect of financial management obtained quite good result with an average score of 20 or 66.7%.

Keywords: production unit; motorcycle engineering; management aspect.

Abstrak

Kendala yang dihadapi sekolah dalam pelaksanaan program unit produksi adalah masalah sarana prasarana yang kurang memadai, sumber daya manusia yang mengelola program unit produksi sangat minim, komitmen kepala sekolah yang kurang dan kerjasama antara dunia kerja dengan sekolah masih kurang, penelitian ini dibatasi pada masalah pengelolaan Unit Produksi di SMK N 1 Warungasem program keahlian teknik dan bisnis sepeda motor, meliputi : Aspek pengelolaan SDM, layanan konsumen, strategi pemasaran dan pengelolaan keuangan.

Penelitian ini termasuk penelitian kuantitatif, yang bertujuan untuk mendeskripsikan pengelolaan Unit Produksi Teknik dan Bisnis Sepeda Motor di SMK Negeri 1 Warungasem. Responden dalam penelitian ini adalah pimpinan sekolah, pengelola unit produksi, guru, dan siswa. Data yang dikumpulkan menggunakan kuesioner, observasi, dan wawancara. Data dianalisis menggunakan data deskriptif kuantitatif. Aspek pengelolaan SDM diperoleh hasil penilaian angket nilai rata-rata sebesar 44,4 atau 84,2%, Aspek layanan konsumen diperoleh hasil penilaian angket nilai rata-rata sebesar 79,4 atau 83,6%. Ini menyatakan kedua Aspek sudah sangat baik.

Sementara Aspek strategi pemasaran diperoleh hasil penilaian angket nilai rata-rata sebesar 15,3 atau 76,5%, ini berarti baik. Aspek pengelolaan keuangan diperoleh hasil cukup baik dengan penilaian angket nilai rata-rata sebesar 20 atau 66,7%.

© 2022 Jurnal Inovasi Pembelajaran Karakter

Kata Kunci: unit produksi; teknik sepeda motor; aspek pengelolaan.

(2)

Jurnal Inovasi Pembelajaran Karakter (JIPK) Volume 7 Nomor 2, Mei 2022

PENGEMBANGAN UNIT PRODUKSI PADA LAYANAN TEKNIK DAN BISNIS SEPEDA MOTOR Arif Saifudin 125 PENDAHULUAN

“Pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti,pikiran, dan tubuh anak. Bagian-bagian itu tidak boleh dipisahkan agar kita dapat memajukan kesempurnaan hidup anak-anak kita.”Ki Hadjar Dewantara. Salah satu institusi sekolah yang mempersiapkan peserta didiknya untuk mampu terjun langsung di dunia kerja setelah lulus adalah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). SMK dipersiapkan untuk mencetak tenaga terampil yang siap bekerja dengan berbagai kompetensi dan mampu mengikuti perkembangan IPTEK. Mengacu pada isi penjelasan pasal 15 Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Tahun 2003, pendidikan kejuruan merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja di bidang tertentu.

Permasalahan yang dihadapi pendidikan nasional khususnya pendidikan kejuruan saat ini adalah banyaknya lulusan SMK yang mempunyai kompetensi di bawah standar yang dibutuhkan dalam dunia usaha maupun dunia industri. Pendidikan kejuruan mencetak lulusan dalam rangka penyiapan tenaga kerja yang terlatih dan siap kerja (ready for use). (Murniati dan Nasir, 2009: 2).

Hanya sebagaian kecil informan yang mengatakan, bahwa pekerjaan yang digeluti lulusan sekolahnya sesuai dengan latar belakang Pendidikan (bidang keahliannya). Kondisi tersebut memperlihatkan, bahwa tingkat relevansi SMK dengan DU/DI rendah. (Fakhri dan Yufriawati, 2008) Salah satu permasalahan krusial yang dihadapi pendidikan kejuruan adalah kompetensi lulusan yang belum sesuai dengan kriteria kualifikasi kemampuan peserta didik menurut standar yang ditentukan. (Sukmawaty dan Sugiyono, 2016).

Unit produksi di lingkungan SMK berfungsi sebagai : (1) wahana pelatihan berbasis produksi bagi siswa; (2) wahana menumbuhkan dan mengembangkan jiwa wirausaha pada diri siswa SMK;

(3) sarana praktik produktif secara langsung bagi siswa; (4) membantu pendanaan untuk pemeliharaan, penambahan fasilitas dan biaya-biaya operasional pendidikan lainnya; dan (5) menambah semangat kebersamaan, karena dapat menjadi wahana peningkat aktivitas produktif siswa serta memberi ‘income’ serta peningkatan kesejahteraan warga sekolah (Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan, 2007 : 7). Dilihat dari fungsinya Unit Produksi memiliki peranan penting dalam Pendidikan di SMK, namun sayangnya tidak semua SMK memiliki Unit Produksi. Kendala yang dihadapi sekolah dalam pelaksanaan program unit produksi adalah masalah sarana prasarana yang kurang memadai, sumber daya manusia yang mengelola program unit produksi sangat minim, komitmen kepala sekolah yang kurang dan kerjasama antara dunia kerja dengan sekolah masih kurang (Hasanah & Malik, 2015).

Penelitian tentang Unit Produksi di Sekolah Menengah Kejuruan telah banyak dilakukan, dikaji dan diteliti pada dekade terakhir. Meskipun penelitian tersebut tidak semua berasal dari bidang keahlian yang sama, tetapi hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai pembanding atau pengembang terhadap penelitian yang dilaksanakan. Adapun penelitian yang relefan dengan penelitian yang dilaksanakan di antaranya :

Penelitian yang dilakukan oleh Hadriah , dkk (2018) dalam penelitian tersebut di jelaskan Unit produksi merupakan salah satu bentuk sumber belajar di lingkungan sekolah yang sengaja disiapkan sebagai tempat praktik kewirausahaan. Penerapan unit produksi sendiri memiliki landasan hukum yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1990 pasal 29 ayat 2 yaitu "Untuk mempersiapkan siswa sekolah menengah kejuruan menjadi tenaga kerja, pada sekolah menengah kejuruan dapat didirikan unit produksi yang beroperasi secara profesional.”

Penelitian yang dilakukan oleh Firdaus (2012) dari hasil penelitianya disimpulkan kegiatan unit produksi sekolah perlu perhatian dari seluruh warga sekolah, agar manajemen kegiatan bisa lebih sistematis dan profesional. Penelitian yang dilakukan oleh Irawan dan Suhardi (2018) tentang Implementasi Manajemen Strategik Unit Produksi, yang hasil penelitianya membahas 1) Perencanaan strategik diantaranya, (a) kesesuaian Tujuan Program Unit Produksi dengan Visi dan

(3)

Jurnal Inovasi Pembelajaran Karakter (JIPK) Volume 7 Nomor 2, Mei 2022

126 PENGEMBANGAN UNIT PRODUKSI PADA LAYANAN TEKNIK DAN BISNIS SEPEDA MOTOR Arif Saifudin

Misi Sekolah, dan (b) menyusun Program Kerja Unit Produksi secara berkala, 2) Pelaksanaan strategik diantaranya, (a) menjalin kerja sama dengan instansi pemerintah maupun swasta, (b) marketing atau pemasaran unit produksi dilakukan oleh warga sekolah yakni kepala sekolah, guru, peserta didik, orang tua/wali murid maupun alumni, (c) pemberdayaan alumni dan siswa sebagai tenaga kerja, (d) pelaksanaan waktu kegiatan produksi tidak mengganggu PBM, dan, (e) transparansi dalam pengelolaan keuangan dan 3). Pengawasan strategik unit produksi diantaranya, (a) penyebaran instrumen kepuasan pelanggan, (b) pengawasan dalam bentuk laporan kegiatan yang disusun secara berkala yakni laporan persemester, dan per tahun.

Penelitian yang dilakukan oleh Oktaviany, dkk (2019) tujuan penelitiannya adalah untuk mengetahui dan menganalisis keterlaksanaan pengelolaan program unit produksi di SMK Negeri 1 Mandau ditinjau dari konteks, input, proses dan produk kegiatan. Hasil pengolahan dan analisis data menunjukkan bahwa (1) Keterlaksanaan komponen konteks masih belum terlaksana dengan baik, karena kondisi lingkungan yang kurang mendukung. (2) Keterlaksanaan komponen input sudah berjalan dengan cukup baik, perencanaan dan pengorganisasian sumber daya sudah dilakukan sesuai dengan prasyarat manajemen organisasi. (3) Keterlaksanaan komponen proses sudah berjalan dengan cukup baik, pelaksanaan serta pengawasan kegiatan sudah sesuai dengan perencanaan. (4) Keterlaksanaan komponen produk sudah berjalan dengan baik, kegiatan unit produksi sudah mampu menciptakan siswa yang memiliki jiwa wirausaha, memiliki skill dan kompetitif serta menguasai teknologi sejalan dengan tujuan pendidikan nasional.

Penelitian yang dilakukan oleh Gunadi dan Usman (2015:45) yang menyatakan Perencanaan UPJ Jurusan Teknik Konstruksi Kayu belum dilakukan dengan baik, UPJ sebagai sarana belajar sesuai jadwal pelajaran dan sebaga unit produksi hanya sesuai pesanan; kendala dalam perencanaan yaitu tidak ada rapat rutin pengelola yang khusus membahas UPJ dan lemahnya dokumentasi; tidak semua pengelola terlibat dalam perencanaan karena kepala bengkel dan Ketua UPJ hanya melibatkan wakil kepala sekolah dan bendahara sekolah hanya ketika ada pesanan dalam jumlah besar; pengorganisasian sumber daya manusia, bahan baku, peralatan dan keuangan belum cukup baik, meskipun sudah ada pembagian tugas, pendelegasian tugas dan wewenang, serta koordinasi;

kendala dalam pengorganisasian yaitu kekurangan personalia, sarana yang masih terbatas, peralatan yang kurang, bahan baku dan keuangan yang terbatas serta koordinasi di antara pengelola;

langkahlangkah pelaksanaan memperlihatkan fungsi pelaksanaan yang diterapkan lebih menyerupai pelaksanaan proses produksi.

Menurut Tim Reality (2008) pengelolaan berasal dari kata kelola, mengelola yang artinya menyelenggarakan. Menurut samino (2009:121) bahwa menejemen selalu terkait dengan pengelolaan sumber daya yang dimiliki oleh suatu organisasi atau sumber daya yang ada untuk mencapai tujuanyang telah ditetapkan. Jadi bisa disimpulkan pengelolaan adalah suatu kegiatan untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Pengelolaan yang dibahas dalam penelitian ini adalah pengelolaan Unit Produksi bengkel sepeda motor.

METODE PENELITIAN

Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif survey, dengan pendekatan deskriptif kuantitatif. Menurut Sudjana dan Ibrahim (2012:64) penelitian deskriptif adalah penelitian yang berusaha mendeskripsikan suatu gejala, peristiwa, kejadian yang terjadi pada saat sekarang.

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengelolaan Unit Produksi Teknik dan Bisnis Sepeda Motor di SMK Negeri 1 Warungasem.

(4)

Jurnal Inovasi Pembelajaran Karakter (JIPK) Volume 7 Nomor 2, Mei 2022

PENGEMBANGAN UNIT PRODUKSI PADA LAYANAN TEKNIK DAN BISNIS SEPEDA MOTOR Arif Saifudin 127 Tabel 1. Kategori jenjang

No Kategori Skor Responden

1 Sangat baik X > M + 1,5 SD

2 Baik M + 1,5 SD > X ≥ M + 0,5 SD

3 Cukup baik M + 0,5 SD > X ≥ M - 0,5 SD

4 Kurang baik M - 0,5 SD > X ≥ M - 1,5 SD

5 Tidak baik : X ≤ M - 1,5 SD

Kriteria evaluasi yang digunakan dalam penelitian ini ditetapkan sebelum kegiatan evaluasi.

Setiap aspek dianggap sesuai jika memenuhi syarat serta mencakup kaasan indikator-indikator dan dilakukan analisis data untuk mendapatkan kategorisasi dari tiap aspek-aspeknya.

Pengkategorisasian tiap tiap aspek adalah sebagai berikut : 1. Aspek SDM

Butir instrumen angket terdiri dari 5 item pertanyaan dengan 4 pilihan jawaban dengan model skala Likert. Rentang skor yang diberikan 1 sampai dengan 4. Hal ini berarti skor ideal terendah adalah 5 dan skor ideal tertinggi adalah 20. Rata-rata idealnya adalah (20+5)/2 = 12,5 dan simpangan baku ideal adalah (20-5)/6 = 2,5. Batasan-batasan kategori untuk aspek SDM adalah : Sangat Baik : X ≥16,25

Baik : 16,25 > X ≥13,75

Cukup Baik : 13,75> X ≥ 11,25 Kurang Baik : 11,25> X ≥ 8,75 Tidak Baik : X ≤ 8,75

2. Aspek pelayanan

Butir instrumen angket terdiri dari 20 item pertanyaan dengan 4 pilihan jawaban dengan model skala Likert. Rentang skor yang diberikan 1 sampai dengan 4. Hal ini berarti skor ideal terendah adalah 20 dan skor ideal tertinggi adalah 80. Rata-rata idealnya adalah (80+20)/2 = 50 dan simpangan baku ideal adalah (80-20)/6 = 10. Batasan-batasan kategori untuk aspek pelayanan adalah :

Sangat Baik : X ≥ 65

Baik : 65 > X ≥ 55

Cukup Baik : 55 > X ≥ 45 Kurang Baik : 45 > X ≥ 35

Tidak Baik : X ≤ 35

3. Aspek strategi promosi

Butir instrumen angket terdiri dari 20 item pertanyaan dengan 4 pilihan jawaban dengan model skala Likert. Rentang skor yang diberikan 1 sampai dengan 4. Hal ini berarti skor ideal terendah adalah 20 dan skor ideal tertinggi adalah 80. Rata-rata idealnya adalah (80+20)/2 = 50 dan simpangan baku ideal adalah (80-20)/6 = 10. Batasan-batasan kategori untuk aspek strategi promosi adalah :

Sangat Baik : X ≥ 65

Baik : 65 > X ≥ 55

Cukup Baik : 55 > X ≥ 45 Kurang Baik : 45 > X ≥ 35

Tidak Baik : X ≤ 35

(5)

Jurnal Inovasi Pembelajaran Karakter (JIPK) Volume 7 Nomor 2, Mei 2022

128 PENGEMBANGAN UNIT PRODUKSI PADA LAYANAN TEKNIK DAN BISNIS SEPEDA MOTOR Arif Saifudin

4. Aspek pengelolaan keuangan

Butir instrumen angket terdiri dari 5 item pertanyaan dengan 4 pilihan jawaban dengan model skala Likert. Rentang skor yang diberikan 1 sampai dengan 4. Hal ini berarti skor ideal terendah adalah 5 dan skor ideal tertinggi adalah 20. Rata-rata idealnya adalah (20+5)/2 = 12,5 dan simpangan baku ideal adalah (20-5)/6 = 2,5. Batasan-batasan kategori untuk sspek pengelolaan keuangan t adalah :

Sangat Baik : X ≥16,25

Baik : 16,25 > X ≥13,75

Cukup Baik : 13,75> X ≥ 11,25 Kurang Baik : 11,25> X ≥ 8,75 Tidak Baik : X ≤ 8,75

HASIL DAN PEMBAHASAN

Aspek pengelolaan SDM pada hasil penelitian menunjukan bahwa pelaksanaan unit produksi jurusan Teknik dan Bisnis Sepeda Motor sudah terlaksana dengan baik, hal tersebut terlihat dari indikator (1) jumlah SDM; (2) kompetensi SDM; dan (3) beban tugas SDM. Semua guru pada jurusan Jurusan Teknik dan Sepeda Motor sudah memilki sertifikat serta memiliki kompetensi yang relevan dibidangnya.

Hasil penelitian yang dilakukan menunjukan bahwa keterlibatan DU/DI dalam pelaksanaan Unit Produksi masih kurang. Instruktur Eksternal dari DU/DI belum ikut dalam pelaksanaan Unit Produksi. Perlu adanya dorongan kepada sekolah untuk menjalin kerjasama dengan DU/DI dalam hal pengelolaan Unit produksi. Hal ini bisa saling menguntungkan kedua pihak, dimana sekolah akan mendapat transfer ilmu, teknologi dan sarana prasarana sedangkan industri akan memperoleh sumberdaya manusia yang mampu dilatih menjadi tenaga profesional. Pola kemitraan SMK dengan DUDI dapat mengintegrasikan manfaat akademis dan ekonomis dengan model pelatihan terintegrasi. Industri dan SMK memiliki sumberdaya yang sama yaitu pengetahuan, keahlian dan sumber-sumber. ( Purnamawati dan Yahya :19)

Aspek Pengelolaan layanan konsumen pada hasil penelitian menunjukan bahwa pelaksanaan unit produksi SMK Negeri 1 Warungasem sudah terlaksana dengan sangat baik, hal tersebut terlihat dari indikator (1) Administrasi Kompetensi; (2) Tempat Unit Produksi; (3) Kecukupan Sarana dan Prasarana; (4) Kondisi Sarana dan Prasarana; (5) Kecepatan menyelesaikan pekerjaan; (6) Waktu pelaksanaan Unit Produksi; (7) prosedur Unit Produksi; (8) pengawasan Unit Produksi; dan (9) sistem pengerjaan.

Berdasarkan instrumen penelitian yang diisi oleh responden terdiri dari pimpinan sekolah, pengelola unit produksi, guru, dan siswa. Aspek layanan konsumen sangat baik. Unit Produksi memiliki Gedung/bengkel yang standar dengan ukuran 7x12 dan ukuran 7x7, di tunjang dengan peralatan operasional yang sesuai perkembangan teknologi seperti bike lift, tool set, tire changer otomatis dan scanner. Selain itu tata ruang juga sudah sesuai standar bengkel resmi. Secara keseluruhan kategori sangat baik untuk layanan konsumen. Ini menjadi nilai plus bagi SMKN 1 Warungasem, mengingat masih banyak sekolah yang terkendala dalam sarana dan prasarana seperti yang dinyatakan (Hasanah & Malik, 2015) kendala yang dihadapi sekolah dalam pelaksanaan program unit produksi adalah masalah sarana prasarana yang kurang memadai, sumber daya manusia yang mengelola program unit produksi sangat minim, komitmen kepala sekolah yang kurang dan kerjasama antara dunia kerja dengan sekolah masih kurang

Aspek strategi pemasaran pada hasil penelitian menunjukan bahwa pelaksanaan unit produksi SMK Negeri 1 Warungasem sudah terlaksana dengan baik, hal tersebut terlihat dari indikator (1) media promosi; dan (2) biaya pemasaran. Berdasarkan instrumen penelitian yang diisi oleh responden terdiri dari pimpinan sekolah, pengelola unit produksi, guru, dan siswa. Secara

(6)

Jurnal Inovasi Pembelajaran Karakter (JIPK) Volume 7 Nomor 2, Mei 2022

PENGEMBANGAN UNIT PRODUKSI PADA LAYANAN TEKNIK DAN BISNIS SEPEDA MOTOR Arif Saifudin 129 keseluruhan kategori cukup baik untuk aspek strategi pemasaran dan perlu tingkatkan lagi media promosinya melalui media online. Wijaya, dkk (2020) dalam peneliatanya menyebutkan mitra unit produksi SMKN 3 Tabanan mampu meningkatkan pendapatanya serta mampu meningkatkan kegiatan pemasaran produk.

Aspek pengelolaan keuangan pada hasil penelitian menunjukan bahwa pelaksanaan unit produksi SMK Negeri 1 Warungasem sudah terlaksana dengan baik, hal tersebut terlihat dari indikator (1) perencanaan keuangan; (2) insentif mekanik; dan (3) neraca keuangan. Berdasarkan instrumen penelitian yang diisi oleh responden terdiri dari pimpinan sekolah, pengelola unit produksi, guru, dan siswa. Secara keseluruhan kategori cukup baik untuk pengelolaan keuangan.

Pengelolaan keuangan ini sangat penting dalam suatu usaha maka perlu adanya transparasi dalam pengelolaan keuangan. Irawan dan Suhardi, (2018) menyatakan pelaksanaan strategi yang diterapkan unit produksi sekolah di SMKN 3 Mataram, yaitu: Pertama, Menjalin kerja sama dengan instansi pemerintah maupun swasta. Kedua, Marketing atau pemasaran unit produksi dilakukan oleh warga sekolah yakni kepala sekolah, guru, peserta didik, orang tua/wali murid maupun alumni. Ketiga, Pemberdayaan alumni dan siswa sebagai tenaga kerja. Keempat, Pelaksanaan waktu kegiatan produksi tidak mengganggu PBM, dan Kelima, Transparansi dalam pengelolaan keuangan.

PENUTUP

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan : (1) Aspek pengelolaan SDM diperoleh hasil penilaian angket nilai rata-rata sebesar 44,4 atau 84,2%.

Pengelolaan SDM di Unit Produksi sudah sangat baik, memiliki instruktur yang memadai yang berjumlah 5 orang dan semua instruktur memiliki sertifikat kompetensi, serta memiliki pengalaman mengajar minimal 3 tahun. Disamping itu ada upskilling berkala bagi instruktur. keterlibatan DU/DI dalam pelaksanaan Unit Produksi masih kurang; (2) Aspek layanan konsumen diperoleh hasil penilaian angket nilai rata-rata sebesar 79,4 atau 83,6%. Aspek layanan konsumen sangat baik. Unit Produksi memiliki Gedung/bengkel yang standar dengan ukuran 7x12 dan ukuran 7x7, di tunjang dengan peralatan operasional yang sesuai perkembangan teknologi seperti bike lift, tool set, tire changer otomatis dan scanner. pihak luar.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Hakim. 2010. Model Pengembangan Kewirausahaan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dalam menciptakan kemandirian Sekolah. Riptek, Vol.4, No.1, Tahun 2010, Hal.: 1 - 14 Hambali, I. M. 2019. Examining the relevance of Indonesian vocational high school career

outcomes to the labor market. Journal of Social Studies Education Research, 10(1), 133–155.

Mahfud, Tuatul. 2013. “Praksis Pembelajaran Kewirausahaan Pada Unit Produksi Jasa Boga.”

Jurnal Pendidikan Vokasi 2(1).

Marniati, Marniati, Mein Kharnolis, and Agus Hery Supadmi Irianti. 2018. “The Implementation Of Entrepreneurship Education And Production Unit In Vocational High Schools.”

112(Iconhomecs 2017): 55–57.

Sangi, Nontje, Altje Wajong, and Luckie Sojow. 2019. “Production Unit Management Based on Product Innovation in SMK Manado.” 299(Ictvet 2018): 240–42.

Sutopo, Adi. 2013. “Evaluasi Efektivitas Unit Produksi Dalam Mempersiapkan Kompetensi Kerja Siswa Smk.” Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan 16(2): 419–36.

Supraptono, E., Samsudi, M., Sudana, I. M., & RW, M. B. (2018, September). The Analysis of Collaboration Needs between Vocational Schools and Industry in Internship Based on the Alignment of Graduates' Competence. In International Conference on Science and Education and Technology.(247) (pp. 110-114).

(7)

Jurnal Inovasi Pembelajaran Karakter (JIPK) Volume 7 Nomor 2, Mei 2022

130 PENGEMBANGAN UNIT PRODUKSI PADA LAYANAN TEKNIK DAN BISNIS SEPEDA MOTOR Arif Saifudin

Sukmawaty, Wahyu Eka, and Sugiyono Sugiyono. 2016. “Pengembangan Model Manajemen Unit Produksi Smk Program Studi Keahlian Tata Busana Di Kabupaten Sleman.” Jurnal Pendidikan Vokasi 6(2): 219.

Tripathi, Kaushiki, and Manisha Agrawal. 2014. “Tripathi, K. and Agrawal, M., 2014. Competency Based Management in Organizational. Global Journal of Finance and Management, 6(4), Pp.349-356.” Global Journal of Finance and Management 6(4): 349–56.

Referensi

Dokumen terkait

Sistem pencernaan atau sistem gastroinstestinal (mulai dari mulut sampai anus) adalah sistem organ dalam manusia yang berfungsi untuk menerima makanan,

Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui kepuasan kerja, mutasi kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap semangat kerja karyawan, artinya karyawan merasa

Motivasi karir merupakan suatu perencanaan suatu keahlian atau professional seseorang di bidang ilmunya yang dinilai berdasarkan pengalaman kerja yang akan

Kesimpulannya H0 ditolak, karena nilai thitung > ttabel dan nilai signifikansi < 0,05 yang berarti bahwa variabel faktor-faktor pendidikan (X) berpengaruh

Getaran pada kapal dapat diklasifikasikan menjadi getaran global dan getaran lokal. Getaran global terjadi karena adanya resonansi global [1]. Resonansi global

Pada tahun 2000 di negara Cina, tengah disibukan mempromosikan kreativias sebagai komponen penting dalam sistem pendidikan nasional negara mereka.. Sebelumnya para pemimpin

digunakan untuk memperkenalkan produk atau cara kerja yang dibuat melalui proses merekam gambar dan suara, menata urutan dan menyambung atau memotong gambar dan menyatukannya menjadi

Ini adalah gerakan diluar kesadaran si bayi, tidak terkoordinasi dan merupakan gerak primitive, Setelah gerak reflek berkurang maka akan berkembang menjadi gerak sederhana