ANALISIS MANAJEMEN PERSEDIAAN BAHAN BAKU BIJI KOPI DENGAN METODE EOQ (ECONOMIC ORDER QUANTITY) PADA
KEDAI SOUTHBOX COFFEE (Periode Tahun 2021)
Muhamad Rizaldi
Prodi Manajemen, Universitas Pelita Bangsa E-mail : [email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah Perhitungan Economic Order Quantity (EOQ) dapat dijadikan sebagai Pengendalian Persediaan Bahan Baku Kedai Southbox Coffee. Penelitian ini dilakukan dengan membandingkan antara metode pengendalian persediaan menurut kebijakan kedai dengan metode Economic Oerder Quantity (EOQ).
Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Tehnik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi. Tehnik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan langkah (1) Mengumpulkan informasi mengenai jumlah persediaan bahan baku pada tahun 2021. (2) Mengolah data-data tersebut untuk mengetahui pengendalian persediaan bahan baku berdasarkan kebijakan kedai. (3) Menganalisis data-data yang telah diolah tersebut menggunakan metode Economic Oerder Quantity (EOQ).
Hasil penelitian membuktikan bahwa Economic Oerder Quantity (EOQ) lebih efisien dari metode yang digunakan oleh kedai. Penerapan metode Economic Oerder Quantity (EOQ) dapat mengurangi total biaya yang harus dikeluarkan oleh perusahaan yaitu sebesar Rp582.187. Dengan metode EOQ ini dapat menghindari terjadinya keterlambatan penyediaan bahan baku, karena penyediaan bahan baku dapat dipastikan konstan dan sesuai leadtime. Maka mencapai tujuan penelitian, kedai sebaiknya menggunakan metode Economic Oerder Quantity (EOQ).
Kata kunci : Economic Order Quantity (EOQ), Pengendalian Persediaan Bahan Baku, Efisien.
PENDAHULUAN
Manajemen adalah sebuah proses untuk mengatur sesuatu yang dilakukan oleh sekelompok orang atau organisasi untuk mencapai tujuan organisasi tersebut dengan cara bekerja sama memanfaatkan sumber daya yang dimiliki (Burhanudin, 2019). Persediaan atau inventory adalah salah satu unsur dari modal kerja, merupakan aktiva yang selalu berputar dan senantiasa mengalami perubahan.
Penentuan besarnya investasi atau alokasi dalam persediaan merupakan masalah penting bagi perusahaan, karena persediaan mempunyai efek langsung terhadap keuntungan perusahaan.
Kesalahan dalam penetapan besarnya investasi dalam persediaan akan mengganggu tercapainya tujuan perusahaan (Nilwan, 2011).
Pengawasan persediaan merupakan masalah yang sangat penting, karena jumlah persediaan akan menentukan atau mempengaruhi kelancaran proses produksi serta keefektivan dan efisiensi setiap perusahaan. Jumlah atau tingkat persediaan yang dibutuhkan oleh perusahaan berbeda-beda. Persediaan tergantung dari volume produksinya, jenis pabrik, dan prosesnya. Pada dasarnya semua perusahaan mengadakan perencanaan dan pengendalian bahan dengan tujuan pokok meminimumkan biaya dan untuk memaksimumkan laba dalam waktu tertentu (Darmawan, 2015).
Efektivitas biaya persediaan ini dapat dilakukan dengan melakukan manajemen persediaan pada perusahaan tersebut, karena tanpa manajemen persediaan, perusahaan akan mengalami kelebihan atau kekurangan persediaan bahan baku. Ada beberapa alasan sehingga efektivitas perusahaan ini menjadi sangat penting. Alasan pertama yaitu penyimpanan bahan yang diperlukan perusahaan agar dapat memenuhi pesanan pembeli dalam waktu yang cepat. Jika perusahaan tidak memiliki persediaan
bahan dan tidak dapat memenuhi pesanan pembeli pada saat tepat, maka kemungkinannya pembeli akan berpindah ke perusahaan lain. Alasan yang kedua untuk berjaga-jaga pada saat bahan di pasar sulit diperoleh, sehingga perusahaan perlu untuk menyimpannya (Darmawan, 2015).
Perusahaan yang memiliki persediaan bahan baku kurang kurang dari yang dibutuhkan maka kelancaran proses produksi akan terganggu, kebutuhan pelanggan akan produksi tersebut tidak terpenuhi sehingga perusahaan akan kehilangan konsumen dan kesempatan memperoleh laba akibat habisnya bahan baku. Apabila persediaan bahan baku berlebihan mengakibatkan penggunaan dana yang tidak efisien karena tidak banyak modal yang tertanam untuk satu jenis bahan saja sehingga dapat meningkatkan biaya penyimpanan dan biaya perawatan serta memperbesar risiko apabila barang tersebut rusak atau hilang (Darmawan, 2015).
Dalam manajemen persediaan bahan baku, dipergunakan metode EOQ. Selain menentukan EOQ, perusahaan juga perlu menentukan waktu pemesanan kembali bahan baku yang akan digunakan atau Reorder Point (ROP) agar pembelian bahan yang sudah ditetapkan dalam EOQ tidak mengganggu kelancaran kegiatan produksi (Darmawan, 2015). Usaha kedai southbox coffee merupakan jenis usaha yang kegiatan utamanya memproduksi minuman dengan bahan baku utamanya adalah biji kopi. Berdasarkan observasi awal ternyata persediaan biji kopi yang menjadi bahan baku dalam pembuatan.
Kedai ini belum direncanakan dengan baik, sehingga persediaan biji kopi di gudang kurang optimal. Hal tersebut terlihat pada saat usaha kedai southbox Coffee yang sering mendapatkan pesanan minuman yang cukup banyak, sehingga pemilik melakukan pemesanan biji kopi dengan jumlah yang lebih dari jumlah
biasanya dan akan dapat menyebabkan kelebihan persediaan biji kopi.
Sebagai contoh yang bisa kita ambil Misalnya pada bulan Januari, Usaha kedai southbox Coffee melakukan pembelian bahan baku biji kopi sebanyak 6 kg tetapi bahan baku yang digunakan hanya sebanyak 5 kg sehingga terjadi kelebihan bahan baku sebanyak 1 kg. pada bulan Maret juga terjadi kelebihan bahan baku sebanyak 2 kg karena Usaha kedai southbox Coffee melakukan pembelian bahan baku sebanyak 4 kg sehingga bahan yang tersedia untuk diproses sebanyak 4 kg, tetapi bahan baku yang digunakan hanya sebanyak 2 kg. Dampak dari kelebihan bahan baku biji kopi tersebut, Usaha kedai southbox Coffee mengeluarkan biaya pemesanan terlalu banyak dikarenakan biji kopi tidak akan dipakai guna menjaga kualitas bahan baku tersebut.
Berdasarkan observasi awal di Kedai Southbox Coffee, dapat diketahui bahwa pengendalian persediaan bahan baku di Kedai Southbox Coffee masih menggunakan cara perhitungan tradisional. Dengan cara perhitungan tradisional tersebut, maka frekuensi pembelian bahan baku dalam satu periode, waktu pembelian, jumlah bahan baku yang dibeli dalam setiap kali pembelian, jumlah minimal bahan baku yang harus ada dalam persediaan pengaman (safety stock), dan kapan dilakukan pemesanan kembali atau reorder point bahan baku tidak dapat ditentukan dengan tepat (Prihasdi, 2012).
Dengan cara perhitungan tradisional tersebut, frekuensi pembelian bahan baku dalam satu periode, waktu pembelian, jumlah bahan baku yang dibeli dalam setiap kali pembelian, jumlah minimal bahan baku yang harus ada dalam persediaan pengaman (safety stock), dan kapan dilakukan pemesanan kembali atau reorder point bahan baku tidak dapat ditentukan dengan tepat. Mengingat dalam
pengambilan keputusan pembelian bahan baku ada metode EOQ yang dapat meningkatkan efisiensi pembelian bahan baku dalam perusahaan, dilakukan penelitian di perusahaan tersebut. Dalam penelitian tersebut dibandingkan cara perhitungan tradisional yang dipakai perusahaan dalam pengambilan keputusan pembelian bahan baku dengan metode EOQ. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode EOQ lebih efisien dibandingkan dengan cara perhitungan tradisional dan berpengaruh positif terhadap total biaya pembelian bahan baku (Prihasdi, 2012).
Apabila manajemen persediaan tradisional dikelola dengan baik maka akan menghasilkan laba maksimal yang mensyaratkan untuk meminimalkan biaya yang berkaitan dengan persediaan.
Serta mendukung pemesanan dalam satuan-satuan kecil dan mendorong jumlah persediaan yang sedikit atau bahkan tidak ada (Hansen, 2012). Dengan Menggunakan metode EOQ, persediaan bahan baku dapat kita buat minimum, biaya serendah-rendahnya, dan mutu lebih baik. Penggunaan metode ini dalam pengendalian persediaan bahan baku akan mampu meminimumkan terjadinya out of stock sehingga proses produksi dapat berjalan dengan lancar juga dapat mewujudkan efisiensi persediaan bahan baku (Prihasdi, 2012).
Penghematan biaya penyimpanan bahan baku dan penggunaan gudang juga dapat dilakukan dengan metode ini.
Begitu juga risiko yang timbul karena persediaan bahan baku yang menumpuk di gudang dapat pula diatasi dengan memanfaatkan metode ini. Selain melakukan pengendalian dalam pembelian bahan baku, perusahaan juga perlu menentukan waktu pemesanan kembali bahan baku yang akan digunakan atau reorder point (ROP) agar pembelian bahan baku yang sudah ditetapkan dengan EOQ tidak mengganggu
kelancaran proses produksi (Prihasdi, 2012).
Berdasarkan dengan uraian diatas yang sudah dijelaskan dengan sangat rinci, maka peneliti tertarik untuk meneliti mengenai pengendalian persediaan bahan baku dengan memberikan keterbaruan yakni dengan memberikan variabel economic order quantity. Dengan demikian judul penelitian ini “Analisis Manajemen Persediaan Bahan Baku Biji Kopi Dengan Metode EOQ (Economic Order Quantity) Pada Kedai Southbox Coffee”.
TINJAUAN PUSTAKA
Menurut (Darmawan, 2015) persediaan merupakan sejumlah barang yang ada di gudang yang akan dipergunakan untuk memenuhi suatu tujuan tertentu di dalam perusahaan.
Perusahaan dapat berupa bahan mentah, bahan pembantu, barang dalam proses, barang jadi maupun suku cadang. Suatu perusahaan hampir bisa dikatakan tidak ada yang beroperasi tanpa persediaan, meskipun sebenarnya persediaan hanyalah suatu sumber dana yang menganggur, tetapi dapat berpengaruh terhadap kelangsungan aktifitas perusahaan. Sehingga harus dapat mengendalikannya agar tepat sasaran.
Menurut (Assauri, 1993, hal. 221) persediaan yang ada dalam persediaan yang terdapat dalam perusahaan berdasarkan fungsinya dapat dikelompokan dalam beberapa jenis, yaitu:
1. Batch Stock atau Lot Size Inventory yaitu persediaan yang diadakan karena kita membeli atau membuat bahan-bahan atau barang- barang dalam jumlah yang lebih besar daripada jumlah yang dibutuhkan pada saat itu.
2. Fluctuation Stock yaitu persediaan yang diadakan untuk menghadapi fluktuasi permintaan
konsumen yang tidak dapat diramalkan.
3. Anticipation Stock yaitu per- sediaan yang diadakan untuk menghadapi fluktuasi permintaan yang dapat diramalkan, berdasarkan polamusiman yang terdapat dalam satu tahun dan untuk menghadapi penggunaan atau penjualan permintaan meningkat.
Menurut (Heizer, 2015, p. 187) terdapat tiga biaya dasar yang ber- hubungan dengan persediaan: penyim- panan, transaksi (Pemesanan), dan biaya kekurangan.
1. Biaya Penyimpanan
Biaya untuk menyimpan sebuah barang dalam persediaan untuk jangka waktu tertentu, biasanya satu tahun. Berhubungan dengan kepemilikan fisik dalam penyimpanan. Biayanya meliputi bunga, asuransi, pajak, depresi, keusangan, kemunduran, kebusukan, pencurian, kerusakan, dan biaya pergudangan (Panas, Penerangan, Sewa, Keamanan) 2. Biaya Pemesanan
Biaya untuk memesan dan menerima persediaan. Biaya ini bervariasi dengan penempatan pesanan actual. Di samping biaya pengeriman, biaya ini meliputi penentuan berapa banyak yang dibutuhkan, penyiapan faktur, biaya pengiriman, inspeksi barang pada saat kedatangan untuk mutu dan kuantitas, dan memindahkan barang ke penyimpanan sementara.
3. Biaya Kekurangan
Biaya yang terjadi ketika permintaan melebihi pasokan persediaan yang ada ditangan. Biaya ini meliputi biaya kesempatan untuk tidak melakukan penjualan, kehilangan niat baik pelanggan, pembebanan terlambat, dan biaya- biaya serupa (Heizer dan Render, 2015:188).
Economic Order Quantity (EOQ) adalah jumlah pembelian persediaan yang dilakukan dengan efisien agar biaya persediaan keseluruhan menjadi sekecil mungkin. EOQ dihitung dengan memperhatikan variabel biaya persediaan.
Ada 2 macam biaya yang digunakan sebagai dasar perhitungan EOQ, yaitu biaya pemesanan (ordering cost) dan biaya penyimpanan (carrying cost) (Turnip, 2017).
Menurut (Salesti, 2014) maka dapat di rumuskan sebagai berikut:
EOQ = √
D = Total Penggunaan Bahan Baku
S = Biaya pemesanan setiap kali pesan (Rp) H = Biaya penyimpanan (Rp)
Frekuensi Pembelian Bahan Baku
Menurut (Nilwan, 2011) untuk menentukan frekuensi pembelian barang dagangan yang paling menguntungkan dapat dilakukan dengan membagi kebutuhan barang dagangan selama satu periode dengan pembelian barang dagangan yang optimal.
Menurut (Robyanto, 2013) maka dirumuskan sebagai berikut:
Frekuensi pembelian =
Keterangan:
RU = Total Penggunaan Bahan Baku EOQ = kuantitas pesanan atau pembelian
ekonomis
Persediaan Pengamanan (Safety Stock) Menurut (Ahyari, 1987, p. 168) pada umumnya untuk menanggulangi adanya keadaan kehabisan bahan baku dalam perusahaan maka perusahaan yang bersangkutan akan mengadakan persediaan pengamanan. Persediaan
pengamanan ini akan digunakan per- usahaan apabila terjadi kekurangan bahan baku, atau keterlambatan datangnya bahan baku yang dibeli oleh perusahaan.
Menurut (Robyanto, 2013) dirumuskan sebagai berikut :
Safety stock = Rata-rata keterlambatan bahan baku perhari x kebutuhan bahan baku perhari
Titik Pemesanan Kembali (Reorder Point) Menurut (Ahyari, 1987, p. 169) di dalam melaksanakan pembelian kembali, manajemen perusahaan akan mem- pertimbangkan panjangnya waktu tunggu yang diperlukan di dalam pembelian bahan baku tersebut.
Menurut Robyanto dan Dewi (2013) maka dapat dirumuskan sebagai berikut ini :
Reorder Point = Safety Stock + Kebutuhan bahan baku selama leadtime.
Penentuan Persediaan Maksimum (Max- imum Inventory)
Menurut (Simbar, 2014) persediaan maksimum diperlukan oleh perusahaan agar jumlah persediaan yang ada digudang tidak berlebihan sehingga tidak terjadi pemborosan modal kerja.
Menurut (Robyanto, 2013) Adapun untuk mengetahui besarnya persediaan maksimum dapat digunakan rumus:
Maxsimum Inventory (MI) = SS + EOQ Keterangan:
SS = Persediaan Pengamanan EOQ = Kuantitas Pemesanan atau
Pembelian Ekonomis
Menentukan Besarnya Total Biaya Persediaan
Menurut (Andira, 2016) dalam menghitung biaya persediaan untuk
pembelian bahan digunakan rumus sebagai berikut:
TIC = √ Dimana:
TIC = Total Inventory Cost
D = Jumlah kebutuhan bahan baku selama setahun
S = Biaya pesan untuk setiap pemesanan (Rp)
H = Tarif biaya penyimpanan perunit tiap periode (Rp)
Perhitungan total biaya persediaan berdasarkan kebijakan perusahaan
TIC = (Pengunaan rata-rata) (C) + (P) (F) Dimana:
C = Biaya penyimpanan
P = Biaya pemesanan tiap kali pesan F = Frekuensi pembelian yang
dilakukan perusahaan Efesiensi Biaya
Menurut (Robyanto, 2013) menghitung efesiensi biaya persediaan yang dicapai sebelum dan sesudah diadakannya analisis persediaan yang efektif.
Efisiensi biaya = TIC sebelum EOQ – TIC setelah EOQ.
Di mana :
TIC = Total biaya persediaan
EOQ = Jumlah pembelian yang ekonomis METODE PENELITIAN
Teknik Pengumpulan Data 1. Observasi
Menurut (Herdiansyah, 2014, p.
131) observasi adalah suatu
kegiatan mencari data yang digunakan untuk memberikan suatu kesimpulan atau diagnosis.
Peneliti mengadakan kunjungan dan pengamatan secara langsung dengan tujuan untuk mendapatkan keterangan tentang apa sebenarnya yang telah di pelajari dengan apa yang dijumpai pada objek penelitian.
2. Wawancara
Menurut (Moleong, 2014, p. 186) wawancara merupakan percakapan dengan maksud tertentu, percakapan dilakukan oleh dua pihak yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara (interviewer). Wawancara merupakan metode pengumpulan data yang digunakan pada hampir semua penelitian kualitatif (Herdiansyah, 2014, p. 117).
3. Dokumen
Penelitian ini memanfaatkan data- data yang berhubungan dengan masalah yang diteliti khususnya mengenai tentang metode pengendalian persediaan bahan baku menggunakan economic order quantity (EOQ), seperti data kebutuhan bahan baku tahun 2021.
Menurut (Robyanto, 2013) Teknis analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan langkah sebagai berikut:
1. Mengumpulkan informasi mengenai jumlah persediaan bahan baku pada tahun 2021.
2. Mengolah data-data tersebut untuk mengetahui pengendalian per- sediaan bahan baku berdasarkan kebijakan kedai.
3. Menganalisis data-data yang telah diolah tersebut menggunakan metode economic order quantity (EOQ)
Pengendalian persediaan bahan baku agar dapat dikatakan efisiensi, kemudian
dibandingkan antara total biaya persediaan pada saat sebelum penggunaan metode economic order quantity dan setelah menggunakan metode economic order quantity. Hasil dari perbandingan tersebut dapat diketahui metode yang paling efisien dan dapat dijadikan rekomendasi atau masukan bagi kedai. Dikatakan efisien apabila TIC sebelum EOQ < TIC setelah EOQ maka tidak efisien.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tabel 4.1 Pembelian Bahan Baku Biji Kopi Tahun 2021
Tabel 4.2 Sisa Penggunaan Bahan Baku Biji Kopi Tahun 2021
Pada tabel 4.1 diatas dapat disajikan data pembelian yang dilakukan oleh kedai selama setahun yang dilakukan setiap bulan dengan frekuensi pembelian sebulan 2 kali atau 24 kali dalam satu tahun. Tabel diatas juga menyajikan jumlah kilo gram (kg) biji kopi yang dibeli kedai dan rincian harga setiap bulannya. Sedangkan pada tabel 4.2 disajikan bahwa tahun 2021 kedai menggunakan bahan baku sejumlah 36 kg berarti sisa penggunaan bahan selama setahun sejumlah 12 kg. Menurut (Nissa, 2017) untuk menentukan jumlah pembelian bahan baku dengan 2 kali pemesanan dalam satu bulan maka dalam satu tahun melakukan pemesanan 24 kali pemesanan pada kedai dapat dihitung sebagai berikut.
Tabel 4.3 Biaya Pesan dan Biaya Simpan Bahan Baku Tahun 2021
Perhitungan Biaya Pesan dan Biaya Simpan Biaya pemesanan setiap kali pesan (S) =
=
= Rp10.000
Biaya Penyimpanan per satuan bahan baku (H) =
=
= Rp10.667
Kedai Southbox coffee melakukan pembelian bahan baku biji kopi selama setahun dengan frekuensi pembelian 24x dalam setahun. Sehingga dapat mengakibatkan adanya pengeluaran biaya pemesanan dan biaya penyimpanan.
Maka dapat diketahui pengeluaran biaya pemesanan sejumlah Rp10.000 dan biaya penyimpanan Rp10.667 dalam setahun.
Perhitungan Total Biaya Persediaan Berdasarkan Kebijakan Kedai
Menurut (Nissa, 2017) untuk memperhitungkan total biaya persediaan, telah diketahui sebagai berikut:
a. Total Penggunaan Bahan Baku 36 kg b. Biaya Penyimpanan (H) Rp10.667 c. Biaya pemesanan tiap kali pesan (S)
Rp10.000
d. Frekuensi Pembelian 24 kali
Perhitungan total biaya persediaan (TIC) bahan baku, sebagai berikut:
TIC = (Pengunaan rata-rata) (C) + (P) (F)
= (36 x 10.667) + (10.000 x 24)
= 384.012 + 240.000
= Rp624.012
Perhitungan Jumlah Pemesanan Bahan Baku dengan Metode EOQ
Pembelian bahan baku yang ekonomis didasarkan pada:
1) Total Penggunaan Bahan Baku per tahun (D) 36 kg
2) Biaya pemesanan setiap kali pesan (S) Rp10.000
3) Biaya penyimpanan (H) Rp10.667 Berdasarkan data diatas, Menurut Salesti (2014) maka dapat di rumuskan sebagai berikut:
EOQ =
√
= √
= 8,2 kg Frekuensi Pembelian
Menurut (Robyanto, 2013) maka di- rumuskan sebagai berikut:
Frekuensi pembelian =
=
= 4kali pembelian Jadi, sisa bahan baku biji kopi yang telah di hitung dengan metode EOQ adalah EOQ x Frekuensi Pembelian
= 8,2 x 4
= 32,8
Jika dilakukan pembelian bahan baku yang efisien dan dapat menguntungkan, kedai hanya melakukan pembelian bahan baku sebanyak 4 kali dalam satu tahun dengan jumlah total persediaan 8,2 kg. Sedangkan kedai melakukan pembelian bahan baku sebanyak 24 kali dalam satu tahun dan hanya berdasarkan perkiraan – perkiraan saja untuk satu kali pembelian dengan jumlah total sisa persediaan bahan baku sebanyak 36 kg, sehingga terjadi penghematan sebesar 3,2 kg.
Persediaan Pengaman (Safety Stock)
Menurut (Robyanto, 2013) untuk menghitung persediaan Pengamanan di- gunakan data sebagai berikut:
1) Rata-rata keterlambatan setiap dilakukan pemesanan adalah 2 hari.
2) Jumlah hari kerja selama periode adalah 296 hari
3) Kebutuhan bahan baku biji kopi
=
= 0,12 kg/hari
Dengan demikian persediaan pengamanan sebagai berikut:
Safety Stock = Rata-rata keterlambatan bahan baku perhari x kebutuhan bahan baku perhari
= 0,12 kg/hari x 2 hari
= 0,24 kg
Rata-rata persediaan minimum yang dimilki kedai tidak ada, sedangkan dengan melaksanakan persediaan bahan baku yang efisien, safety stock yang sebaiknya diterapkan pada kedai sebanyak 0,24 kg..
Pemesanan kembali (Reorder point)
Menurut (Robyanto, 2013) maka dapat di rumuskan sebagai berikut:
Reorder point= Safety Stock + Kebutuhan bahan baku selama leadtime
= 0,24 KG + 0,24 kg = 0,48
Kedai melakukan pemesanan kembali pada saat persediaan bahan baku biji kopi hampir habis. Sedangkan dengan melaksanakan analisis persediaan bahan baku yang efisien. Kedai harus mengadakan pemesanan kembali pada saat persediaan bahan baku biji kopi sebanyak 0,48 kg.
Penentuan Persediaan Maksimum (maximum inventory)
Menurut (Robyanto, 2013) untuk mengetahui besarnya persediaan mak- simum dapat digunakan rumus:
Maximum Inventory = SS + EOQ
= 0,24 + 8,2 = 8,44 Kg Menentukan Besarnya Biaya Per-sediaan
Menurut ( A n d i r a , 2 0 1 6 ) dalam menghitung biaya persediaan untuk pembelian bahan digunakan rumus sebagai berikut:
TIC = Total Inventory Cost
1) Total Penggunaan Bahan Baku (D) 8,2 kg
2) Biaya pemesanan setiap kali pesan (S) Rp10.000
3) Biaya penyimpanan (H) Rp10.667) TIC = √
= √ = √
= Rp41.825
Berdasarkan perhitungan diatas dapat diketahui dengan analisis persediaan bahan baku yang efektif, maka total biaya persediaan bahan baku yang harus ditanggung oleh kedai selama satu tahun sebesar Rp41.825
Efisiensi Biaya
Efisiensi biaya = TIC sebelum EOQ – TIC setelah EOQ
= 624.012 – 41.825 = Rp582.187
Berdasarkan tingkat efisiensi biaya persediaan bahan baku pada kedai dapat diketahui dengan membandingkan jumlah biaya persediaan bahan baku biji kopi yang dikeluarkan oleh kedai Rp624.012 dengan jumlah biaya persediaan setelah dilakukan analisis efisiensi persediaan sebesar Rp41.825. Maka tingkat efisiensi yang diperoleh setelah dilakukannya analisis ditunjukkan oleh adanya penurunan biaya persediaan sebesar Rp582.187.
Hal ini menurut (Robyanto, 2013) dengan menghitung efisiensi biaya persediaan yang dicapai sebelum dan sesudah diadakannya pengeluaran biaya persediaan. Berarti hal ini merupakan analisis persediaan yang efektif.
Perbandingan Antara Kebijakan Kedai dengan Metode EOQ
Tabel 4.4 Perbandingan Biaya Total Perediaan Berdasarkan Kebijakan Kedai dan Metode EOQ
Dari tabel diatas dapat diketahui perolehan total persediaan yang dilakukan dengan Metode EOQ sebesar 32,8 kg dengan frekuensi pembelian sebanyak 4 kali. Jumlah ini lebih kecil dibandingkan dengan total sisa persediaan yang dilakukan oleh kedai yaitu sebesar 36 kg dengan frekuensi pembelian sebanyak 24 kali.
Safety stock berdasarkan kebijakan kedai tidak ada, sedangkan dengan menggunakan metode EOQ dapat diterapkan sebesar 0,24 kg. Pemesanan kembali menurut kebijakan kedai pada saat persediaan hampir habis, dengan menggunakan metode EOQ kedai harus mengadakan pemesanan kembali pada saat persediaan bahan baku sebanyak 0,48 KG. Persediaan maksimum menurut kebijakan kedai tidak ada sehingga dengan metode EOQ persediaan maksimum yang dapat dipertahankan kedai sebesar 8,44 KG per hari.
Total biaya persediaan berdasarkan kebijakan kedai sebesar Rp624.012, sedangkan apabila menggunakan metode EOQ dapat diketahui total biaya persediaan bahan baku biji kopi sebesar Rp41.825. Maka total biaya persediaan yang dapat dihemat oleh kedai sebesar Rp582.187.
Dengan demikian membuktikan bahwa TIC sebelum EOQ > TIC setelah EOQ sehingga dengan menggunakan metode perhitungan EOQ dapat melakukan efisiensi terhadap biaya persediaan dibandingkan dengan kebijakan kedai dan dapat dijadikan sebagai pengendalian persediaan bahan baku karena dengan menggunakan metode perhitungan EOQ dapat menghasilkan biaya yang minimal.
Sehingga kedai dapat mengalokasikan kelebihan anggaran persediaan untuk keperluan yang lebih menguntungkan bagi kedai. Hal ini menurut (Ahyari, 1987, p. 163) berarti didalam perusahaan, maka kebijaksanaan pembelanjaan dalam perusahaan yang bersangkutan akan dapat mempengaruhi seluruh kebijaksanaan pembelian dalam perusahaan yang bersangkutan tersebut. Pemakaian bahan baku dari kedai bersangkutan dalam periode-periode yang telah lalu untuk keperluan proses produksi akan dapat dipergunakan sebagai salah satu dasar pertimbangan didalam penyelenggaraan bahan baku tersebut.
KESIMPULAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis yang sudah dijelaskan pada bab empat diatas, bahwa penerapan metode economic order quantiy (EOQ) yang berada di kedai Southbox coffee telah menghasilkan efisiensi biaya persediaan bahan baku. Dengan efisiensi biaya persediaan bahan baku itulah, maka dapat disimpulkan bahwa kebijakan pengadaan bahan baku yang dilakukan kedai Southbox coffee selama ini belum bisa efisien dan belum bisa menunjukkan biaya yang minimum.
Artinya dari hasil penelitian dan penjabaran yang sudah dilakukan oleh peneliti, bahwa kedai yang sudah menggunakan metode economic order quantiy (EOQ) untuk biaya bahan baku,
lebih sedikit dibandingkan dengan kedai yang belum menggunakan metode economic order quantiy (EOQ) yang hasilnya biaya persediaan yang dikeluarkan akan lebih besar.
Dengan menggunakan kebijakan kedai yang artinya kedai belum menggunakan metode economic order quantiy (EOQ), total persediaan bahan baku kopi sebanyak 36 kg (kilo gram) dan kedai melakukan pemesanan sebanyak 2 kali dalam sebulan atau 24 kali dalam satu tahun dan total biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan sebesar Rp624.012.
Sedangkan kedai yang menggunakan metode economic order quantiy (EOQ) mempunyai total persediaan bahan baku sebanyak 32,8 kg dengan pemesanan sebanyak 4 kali pembelian dalam satu tahun.
Penerapan metode economic order quantiy (EOQ) dapat membantu kedai dalam menghemat dengan total persediaan bahan baku sebesar Rp582.187. Hal ini dapat membutikan TIC sebelum EOQ >
TIC setelah EOQ sehingga dapat disimpulkan bahwa metode EOQ efisien dan dapat dijadikan sebagai pengendalian persediaan bahan baku.
Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang sudah diperoleh oleh peneliti, maka penulis akan meberikan saran yang diharapkan akan bermanfaat bagi kedai dimasa yang akan datang.
1. Kedai hendaknya melakukan peninjauan kembali dalam me- nentukan kebijakan yang dijalankan kedai kaitannya dengan peng- endalian persediaan bahan baku yang selama ini dilakukan. Karena dari hasil penelitian diatas telah ditemukan bahwa perhitungan menggunakan metode EOQ lebih efisien.
2. Penggunaan metode economic order quantity (EOQ) dapat menentukan
persediaan yang sesuai dengan kebutuhan kedai tetapi tetap memperhatikan persediaan pengamanan (Safety Stock). Sehigga dapat menekan kerugian yang terjadi akibat kurang tepatnya kedai mengelola atau mengendalikan persediannya.
3. Kedai sebaiknya menentukan besarnya Safety stock dan re-order point dalam pengendalian persediaan bahan baku untuk melindungi atau menjaga kemungkinan kekurangan bahan baku yang lebih besar dari perkiraan dan untuk menjaga keterlambatan bahan baku yang dipesan.
DAFTAR PUSTAKA
Andira, O. E. (2016). Analisis persediaan bahan baku tepung terigu menggunakan metode EOQ (economic order quantity).
Universitas Gunadarma, Vol 21 No.3 . Assauri. (1993). Manajemen Produksi dan
Operasi. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Universitas Indonesia.
Darmawan, G. A. (2015). PENERAPAN ECONOMIC ORDER QUANTITY (EOQ) DALAM PENGELOLAAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU TEPUNG PADA USAHA PIA ARIAWAN DI DESA BANYUNING TAHUN 2013. e-Journal Bisma Universitas Pendidikan Ganesha, 3.
Hansen. (2012). Akuntansi Manajerial.
Jakarta: Salemba empat.
Heizer, J. D. (2015). Manajemen operasi:
Manajemen keberlangsungan dan rantai pasokan. Jakarta: Salemba Empat.
Nilwan, A. (2011). ANALISIS PERHITUNGAN ECONOMIC ORDER QUANTITY (EOQ) DAN PENGARUHNYA TERHADAP PENGENDALIAN PERSEDIAAN
BARANG DAGANGAN. JURNAL Akuntansi & Keuangan, 2, 305.
Nissa, K. (2017). Analisis Pengendalian Persediaan Bahan Baku Kain Kemeja Poloshirt Menggunakan Metode Economic Order Quantity (EOQ) di PT Bina Busana Internusa . International Journal of Social Science and Business, Vol.1 (4).
Prihasdi, R. D. (2012). EFISIENSI METODE ECONOMICAL ORDER QUANTITY (EOQ) DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN PEMBELIAN BAHAN
BAKU DAN PENGARUHNYA
TERHADAP TOTAL BIAYA PEMBELIAN PADA PT AMITEX (AMANAH MITRA INDUSTRI) BUARAN KABUPATEN PEKALONGAN. Jurnal akuntansi Diponegoro, 1, 1-2.
Robyanto, C. B. (2013). Analisis Persediaan Bahan Baku Tebu pada Pabrik Gula Pandji PT. Perkebunan Nusantara XI (Persero) Situbondo, Jawa Timur.
Universitas Udayana, Issn: 2301-6523 Vol. 2, No.1.
Salesti, J. (2014). Analisis penerapan metode economic order quantity pada persediaan bahan baku (studi kasus PT. Imeco Batam Tubular) . Jurnal Measurement, Issn: 2252-5394 Vol. 8, No. 8.
Simbar, M. (2014). Analisis Pengendalian Persediaan Bahan Baku Kayu Cempaka Pada Industri Mebel Dengan Menggunakan Metode EOQ (Studi Kasus pada UD. Batu Zaman).
Manado. Universitas Sam Ratulangi.