177
Hukum Perjanjian di Indonesia
Taufik Hidayat Lubis
Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara E-mail: [email protected]
Abstract
Perjanjian merupakan suatu perbuatan hukum yang dilakukan oleh dua belah pihak atau lebih didasari atas kehendak yang sama untuk saling mengikatkan diri. Perjanjian harus dilakukan dengan dasar adanya tindakan yang saling timbal balik oleh para pihak yang membuatnya.. Dua belah pihak atau lebih menunjukkan perjanjian dapat dilakukan bukan hanya dua pihak saja akan tetapi lebih dari dua pihak dapat yaitu tiga, empat atau lebih. Intinya perjanjian itu dapat dilakukan lebih dari pada satu subjek hukum saja. Didasari atas kehendak yang sama adalah untuk memberikan perlindungan atas kehendak para pihak yang membuat perjanjian. Kehendak merupakan dasar dari seseorang mau atau tidak maunya untuk membuat perjanjian, apabila seseorang sudah berkehendak maka akan direalisasikannya dalam bentuk kesepakatan
Kata Kunci:
Perjanjian, perbuatan hukum, saling mengikatkan diri
How to cite:
Lubis T.H., (2022), “Hukum Perjanjian di Indonesia ”.Jurnal Sosek Vol 2(3) 177-190
PENDAHULUAN
Membahas hukum perjanjian di Indonesia tidak lepas dari Nederlands Burgerlijk Wetboek, bahkan Napoleonic Code atau Code Napoleon (yang lebih dikenal dengan istilah the Code Civil des Francais atau Civil Code of the French yang ditetapkan sebagai undang- undang pada tanggal 21 Maret 1804 di Perancis) pun memiliki pengaruh besar terhadap KUHPerdata Indonesia. Bukan tanpa sebab, Perancis yang pernah menguasai Belanda pada saat itu pernah menerapkan Code Napoleon (Wetboek Napoleon, ingerigt voor het Koningrijk Holland) di wilayah Kerajaan Hollandia (Kingdom Holland).
Code Napoleon diperkenalkan di Kerajaan Hollandia ketika Louis Napoleon, adik dari Napoleon Bonaparte, menjadi raja di Kerajaan Hollandia. Pada tahun 1806 Louis Napoleon menunjuk sebuah komite untuk mengadopsi Code Napoleon untuk diterapkan di seluruh wilayah Kerajaan Hollandia. Wetboek Napoleon tersebut resmi berlaku di tahun 1809 bersamaan dengan menetapkan beberapa keputusan raja yang pernah ada dalam sebuah undang-undang. Hal ini mengakibatkan sedikit demi sedikit menghilangkan hukum-hukum yang dipengaruhi Roman Law dan hukum-hukum lokal pada saat itu.
Pengadopsian Code Napoleon pada saat itu banyak mempengaruhi hukum Belanda ke dalam tradisi Perancis yaitu dalam pemahaman ius commune karena ius commune merupakan sumber utama dari Code Napoleon. Di tahun 1811 Code Napoleon sepenuhnya berlaku di seluruh wilayah Belanda hingga tahun 1813. Sejak Perancis meninggalkan Belanda di tahun 1813, Code Napoleon masih tetap digunakan di seluruh wilayah Kerajaan Hollandia bersamaan itu pula di tahun yang sama Kerajaan Belanda (The Kingdom of the Netherlands) pun lahir. The Kingdom of the Netherlands memiliki konstitusinya untuk pertama kali di tahun 1814, di saat itu Raja Willem I menginginkan keberadaan Code Napoleon diganti dengan KUHPerdata Nasional Belanda (a national Dutch civil code). Nederlands Burgerlijk
178 Wetboek yang lahir di tahun 1838 sebenarnya intisari dari the code of Nicolai (KUHPerdata yang dibuat oleh seseorang berketurunan Belgia yang bernama Nicolai of Liege, penginisiasi lahirnya Nederlands Burgerlijk Wetboek dengan banyak dipengaruhi oleh Code Napoleon). Nicolai of Liege banyak mengadaptasi Code Napoleon ke dalam Nederlands Burgerlijk Wetboek, alasan sangat sederhana mengapa Code Napoleon masih diinginkan di Belanda. Karena pada saat itu karena masyarakat sudah terbiasa dengan hukum-hukum Perancis sejak tahun 1804, itulah mengapa usaha Joan Melchior Kemper seorang Professor hukum dari Universitas Leiden ditolak Parlemen Belanda ketika ingin mengajukan konsep KUHPerdata miliknya. Joan Melchior Kemper ingin kembali ke tradisi hukum Belanda lama yaitu ke paham Roman-Dutch Law dengan menghilangkan konsep ius commune yang dibawa oleh Perancis. Karena itu sangat tepat apabila J. van Kan menjelaskan bahwa kodifikasi yang dilakukan Belanda terkait dengan Nederlands Burgerlijk Wetboek merupakan saduran asli dari Code Napoleon yang mana dengan kata lain KUHPerdata yang berlaku di Belanda sejak tahun 1838 merupakan ciplakan dari Code Napoleon. Terkait dengan hukum perjanjian di Indonesia, segala pengaturannya dimulai dari Burgerlijk Wetboek (BW) voor Nederlands- Indisch yang kemudian hingga saat ini masih berlaku di Indonesia dengan merujuk Burgerlijk Wetboek voor Nederlands-Indisch.
PEMBAHASAN
Sejarah Hukum Perjanjian di Indonesia
Pemberlakuan Burgerlijk Wetboek voor Nederlands-Indisch (Hindia-Belanda saat ini Indonesia) dimulai pada tanggal 1 Mei 1848 berdasarkan Staatsblaad Nomor 23 tahun 1847, menariknya penerapan Burgerlijk Wetboek voor Nederlands-Indisch ini menggunakan asas konkordansi yaitu pemberlakukan Burgerlijk Wetboek yang ada di Belanda diberlakukan juga di Indonesia. Penggunaan KUHPerdata di Indonesia hingga saat ini masih tetap menggunakan isi dari Burgerlijk Wetboek voor Nederlands-Indisch walaupun beberapa pasal sudah tidak berlaku lagi di antaranya:
a. Pasal-pasal tentang benda tidak bergerak yang melulu berhubungan dengan hak-hak mengenai tanah
b. Pasal-pasal tentang tata cara memperoleh hak milik melulu mengenai tanah c. Pasal-pasal tentang penyerahan benda-benda tidak bergerak, tidak pernah berlaku d. Pasal-pasal tentang penyerahan benda-benda tidak bergarak tidak pernah berlaku e. Pasal-pasal tentang kerja rodi, Pasal 673 KUHPerdata
f. Pasal-pasal tentang hak dan kewajiban pemilik pekarangan bertetangga, Pasal 625-672 KUHPerdata
g. Pasal-pasal tentang pengabdian perkarangan (erfdienstbaarheid), Pasal 674-710 KUHPerdata
h. Pasal-pasal tentang hak osptal, Pasal 711-719 KUHPerdata i. Pasal-pasal tentang hak erfpacht, Pasal 720-736 KUHPerdata
j. Pasal-pasal tentang bunga tanah dan hasil sepersepuluh, Pasal 373-755 KUHPerdata
k. Pasal yang masih berlaku tetapi tidak penuh, dalam arti tidak berlaku lagi sepanjang mengenai buni, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dan masih tetap berlaku sepanjang mengenai benda-benda lain:
1) Pasal-pasal tentang benda pada umumnya
2) Pasal-pasal tentang cara membedakan bendam Pasal 503-505 KUHPerdata
3) Pasal-pasal tentang benda sepanjang tidak mengenai tanah, terletak di antara Pasal-pasal 529-568 KUHPerdata
179 4) Pasal-pasal tentang hak milik sepanjang tidak mengenai tanah, terletak di antara Pasal-
pasal 570 KUHPerdata
5) Pasal-pasal tentang hak memungut hasil (uruchtgebruuk) sepanjang tidak mengenai tanah, Pasal 756 KUHPerdata
6) Pasal-pasal tentang hak pakai sepanjang tidak mengenai tanah, Pasal 818 KUHPerdata 7) Pasal-pasal tentang mengenai hipotek sepanjang tidak mengenai tanah
Mahkamah Agung melalui Surat Edaran Nomor 3 Tahun 1963 perihal gagasan menganggap Bugerlijk Wetboek tidak sebagai undang-undang dengan menyatakan beberapa pasal yang ada di dalam BW tidak lagi berlaku di antaranya:
a. Pasal-pasal 108 dan 110 B. W. tentang wewenang seorang isteri untuk melakukan perbuatan hukum dan untuk menghadap di muka pengadilan tanpa izin atau bantuan dari suami
b. Pasal 128 ayat (3) B. W. mengenai pengakuan anak, yang lahir diluar perkawinan, oleh seorang perempuan Indonesia asli. Dengan demikian, pengakuan anak tidak lagi berakibat terputusnya perhubungan hukum antara ibu dan anak, sehingga juga tentang hal ini tidak ada lagi perbedaan diantara semua warga negara Indonesia.
c. Pasal 1682 B. W. yang mengharuskan dilakukannya satu penghibahan dengan akta notaris.
d. Pasal 1579 B.W. yang menentukan, bahwa dalam hal sewa menyewa barang si pemilik barang tidak dapat menghentikan persewaan dengan mengatakan, bahwa ia memakai ssendiri barangnya, kecuali apabila pada waktu membentuk persetujuan sewa menyewa ini dijanjikan diperbolehkan.
e. Pasal 1238 B. W. yang menyimpulkan bahwa pelaksanaan suatu perjanjian hanya dapat diminta di muka Hakim, apabila gugatan ini didahului dengan suatu penagihan tertulis.
Sebenarnya tindakan Mahkamah Agung dengan mengeluarkan SEMA tersebut di atas dianggap melampaui kewenangannya hingga membekukan ketentuan undang-undang.
Mahkamah Agung RI pernah menjelaskan isi dari SEMA tersebut bahwa itu ditujukan sebagai upaya pembinaan kepada hakim-hakim bawahannya karena SEMA tersebut ditujukan kepada para Ketua Pengadilan Negeri dan para Ketua Pengadilan Tinggi agar melayani pemberian keadilan kepada warga negara Indonesia dengan tidak lagi merujuk atas ketentuan pasal-pasal yang tidak diberlakukan lagi. Walaupun alasan Mahkamah Agung terkesan konstruktif, namun masih ada juga pihak dari kalangan akademis keberatan akan alasan tersebut kendatipun SEMA itu dimaksudkan untuk melakukan pembinaan terhadap hakim- hakim bawahannya.
Walaupun banyak perdebatan mengenai kedudukan KUHPerdata peninggalan Belanda yang hingga saat ini masih digunakan, namun yang pastinya KUHPerdata masih berlaku di Indonesia selama belum dirumuskan undang-undang yang baru. Logika hukumnya adalah didasari dari Undang-Undang Dasar 1945 tepatnya di aturan peralihan sebagai aturan yang ada di Indonesia. Dengan demikian sangatlah relevan apabila perjanjian masih menggunakan KUHPerdata sebagai salah satu rujukan aturan mengenai hukum perjanjian di Indonesia selain dari aturan-aturan lainnya.
Keberadaan KUHPerdata Indonesia yang merupakan hasil konkordansi dari Nederlands Burgerlijk Wetboek dan Nederlands Burgerlijk Wetboek yang merupakan kodifikasi dari Code Napoleon adalah rangkaian peraturan dengan memiliki satu sumber induk hukum yang sama yaitu Corpus I(J)uris Civilis, yang merupakan kumpulan aturan yang telah dikodifikasi kemudian diterbitkan pada tahun 533-534 masehi oleh Kaisar Yustinianus (Justinian). Corpus Iuris Civilis berisikan:
a. Institutes (pengantar prinsip-prinsip dasar)
b. Digest atau Pandects (ringkasan para ahli hukum orang-orang Romawi di masa lalu).
Kumpulan yang cukup banyak dan sistematis dari 39 penulis ahli hukum Romawi terutama dari abad pertama hingga ketiga.
180 c. Justinian Code (kompilasi perundang-undangan yang dibuat oleh orang-orang Romawi di masa lalu, suntingan dan dari beberapa sumber hukum lainnya). Kumpulan konstitusi kekaisaran yang disusun sistematis dari tahun 117-534 masehi.
d. Novellae (bagian perundang-undangan yang dibuat setelah Justinian Code dan Digest selesai). Buku ke-4 ini terdiri dari aturan konstitusi yang dikeluarkan oleh Yustinius dan penerusnya setelah tahun 534 masehi.
Sebagai catatan penting bahwa kehadiran Corpus Iuris Civilis ini memiliki pengaruh yang besar terhadap perkembangan hukum perdata di beberapa negara Eropa termasuk Indonesia yang secara tidak langsung juga memiliki paham atas Roman law. Oleh karena itu tidak salah apabila pemahaman perjanjian yang ada di dalam Corpus Iuris Civilis ini digunakan sebagai salah satu rujukan dalam pembahasan buku ini.
Bahwa dengan menggunakan pendekatan historis, penulis berupaya untuk menterjemahkan arti dari perjanjian dalam KUHPerdata dan mengkaitkannya dengan apa yang diatur dalam Corpus Iuris Civilis sebagai induk sumber hukum perdata bagi negara- negara yang menganut sistem hukum Eropa Kotinental khususnya Indonesia. Lalu dihubungkan juga dengan beberapa pengertian yang ada di dalam Code Napoleon dan Nederlands Burgerlijk Wetboek. Sebagai bahan perbandingan Code Napoleon atau saat ini lebih dikenal dengan Code Civil des Francais yang sudah direvisi pada tanggal 1 Oktober 2016 dengan KUHPerdata Indonesia khususnya mengenai perjanjian, dan juga Nieuw Burgerlijk Wetboek.
Pengertian Perjanjian
Membahas pengertian perjanjian yang ada di Indonesia maka tidak lepas dari pengertian perjanjian yang ada di Code Napoleon ataupun juga yang telah direvisi pada tanggal 1 Oktober 2016, Burgerlijk Wetboek Belanda lama dan Nieuw Burgerlijk Wetboek (NBW).
Bahkan kalau ditarik kembali pemabahasannya pun akan akan sampai ke Corpus Iuris Civilis yang dibuat oleh Justinian I. walaupun ius commune merupakan gabungan dari pemahaman Roman Law dan Church Canon Law, namun pengaruh Corpus Iuris Civilis lebih besar dibandingkan dengan Church Canon Law atas isi Code Napoleon.
Persetujuan awalnya lebih dikenal di Indonesia, seiring waktu berjalan perubahan istilah tersebut pun terjadi dan kata perjanjian menggantikan kata persetujuan. Ini terbukti terbitan ke-25 daru buku milik dari R. Surbekti yang berjudul Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang kemudian menggantikan istilah persetujuan menjadi perjanjian. Istilah perjanjian memang merujuk pada kata „overeenkomst‟, namun bagi R. Subekti dan R. Tjitrosudibio menterjemahkan kata „overeenkomst‟ yang ada di dalam KUHPerdata menjadi kata
„persetujuan‟, ini dapat dibaca pada Pasal 1233 KUHPerdata mengenai lahirnya perikatan karena disebabkan persetujuan dan undang-undang. Pengertian yang dibuat oleh R. Subekti dan R. Tjitrosudibio tersebut ada di dalam sebuah buku yang hingga saat ini masih digunakan oleh seluruh civitas akademik dan praktisi di Indonesia yang berjudul Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Kata „overeenkomst‟ awalnya diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia menjadi kata „perjanjian‟ akan tetapi entah mengapa di edisi ke-25 dalam Buku Kitab Undang-Undang Hukum Perdata karya R. Subekti dan R. Tjitrosudibio tersebut mengubah kata persetujuan tadi menjadi kata perjanjian. Kata „persetujuan‟ memang tidak banyak mendapat penolakan bahkan beberapa ahli menyatakan kata persetujuan adalah kata yang sama pula dengan kata „perjanjian‟.
Di buku yang lain R. Subekti mendefinisikan persetujuan sama artinya dengan perjanjian, “dapat dikatakan bahwa dua perkataan (perjanjian dan persetujuan) itu adalah sama artinya”. Sukarmi di dalam bukunya yang berjudul Cyber Law: Kontrak Elektronik dalam Bayang-Bayang Pelaku Usaha meletakkan perjanjian sama dengan persetujuan,
181
“…dalam Buku III KUHPerdata diatur juga mengenai hubungan hukum yang sama sekali tidak bersumber pada suatu persetujuan atau perjanjian…”. Wirjono Prodjodikoro menterjemahkan kata „overeenkomst‟ sebagai dari kata „persetujuan‟. Di dalam buku yang berjudul Kompilasi Hukum Perikatan karya Taryana Soenandar, et. Al sama sekali tidak mempermasalahkan isi Pasal 1313 KUHPerdata yang menggunakan kata „persetujuan‟
bahkan Taryana Soenandar, et. al berpendapat kata persetujuan tersebut sama dengan kata perjanjian “Para sarjana Hukum Perdata pada umumnya berpendapat bahwa definisi perjanjian yang terdapat di dalam ketentuan di atas (Pasal 1313 KUHPerdata…”.
Penterjemahan kata „overeenkmonst‟ dari sebuah buku yang berjudul Pengantar Studi Hukum Perdata II karya H. F. A Vollmar adalah dengan kata „perjanjian‟ atau „persetujuan‟. Djaja S.
Meliala menterjemahkan kata „overeenkomst‟ dengan dua makna yaitu perjanjian atau persetujuan.
S. Wajowasito dalam bukunya yang berjudul Kamus Umum Belanda-Indonesia menterjemahkan kata „overeenkomst‟ menjadi „persamaan‟, „persetujuan‟, „percocokan‟,
„perjanjian‟. Kata „overeenkmost‟ di dalam Kamus Hukum: Bahasa Belanda, Indonesia Inggris diterjemahkan dengan kata „persetujuan‟, „permufakatan‟. Di dalam English-Ducth and English-Dutch Dictionary in the New Spelling, kata „overeenkomst‟ diartikan dengan kata agreement, conformity, congruity. Di dalam Bahasa Indonesia, kata perjanjian maupun persetujuan memiliki kesamaan. Perjanjian adalah persetujuan (tertulis atau dengan lisan) yang dibuat oleh dua pihak atau lebih, masing-masing bersepakat akan menaati apa yang tersebut dalam persetujuan itu. Sedangkan persetujuan adalah sebagai pernyataan setuju (atau pernyataan menyetujui); pembenaran (pengesahan, perkenan, dan sebagainya).
Kata „overeenkomst‟ memang dapat diartikan ke Bahasa Indonesia menjadi kata
„perjanjian‟ maupun „persetujuan‟ namun kata „overeenkomst‟ tidak sama dengan kata
„verbintenis‟ apabila dikaitkan dengan Pasal 1233 KUHPerdata yang mengandung arti perjanjian dan undang-undang adalah bagian dari perikatan. Walaupun kata „verbintenis‟
dapat juga diartikan sebagai kata „perjanjian‟ namun karena konteksnya Hukum Perikatan yang diatur dalam Buku ke-3 KUHPerdata maka makna dari kata „verbintenis‟ bukanlah perjanjian akan tetapi menurut beberapa ahli mendalilkannya sebagai kata „perikatan‟.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat dipahami bahwa kata „overeenkmost‟ bermakna perjanjian. Makna dari overeenkomst sama sekali tidak dapat diartikan sama dengan verbintenis karena dalam ruang lingkup Hukum Perikatan di Buku-3 KUHPerdata keduanya berbeda, walaupun memiliki perbedaan yang cukup signifikan namun kedua-duanya saling berkaitan. Selanjutnya apa sebenarnya yang dimaksud dengan perjanjian? Apabila merujuk pengertian kata „Perjanjian‟ ke dalam Bahasa Inggris yaitu „agreement‟ maka berdasarkan Black‟s Law Dictionary kata „agreement‟ bermakna “a mutual understanding between two or more persons about their relative rights and duties regarding past or future performances; a manifestation of mutual assent by two or more persons (cases: contracts).” Frasa „mutual understanding‟ bermakna adanya kesepahaman yang saling timbal-balik, perjanjian itu adalah kesepahaman yang saling bertimbal-balik antara dua orang atau lebih mengenai hak dan kewajibannya baik atas masa lalu maupun di masa datang. Makna timbal-balik diartikan masing-masing pihak (bukan salah satu pihak saja) saling meletakkan kesepahamannya atas perjanjian yang dibuat. Di dalam Oxford Advanced Learners‟s Dictionary of Current English perjanjian adalah “(1) An arrangement, a promise or a contract made with somebody, (2) the state of sharing the same opinion or feeling, (3) the fact of somebody approving of something and allowing it to happen”.
Pasal 1313 KUHPerdata disebutkan perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih. Sedangkan menurut beberapa ahli, definisi perjanjian adalah sebagai berikut:
182 a. Menurut Subekti perjanjian adalah suatu peristiwa di mana seorang berjanji pada seorang
lain atau di mana dua orang itu saling berjanji untuk melaksanakan sesuatu hal.
b. Menurut KRTM Tirtodiningrat perjanjian adalah suatu perbuatan hukum berdasarkan kata sepakat di antara dua orang atau lebih untuk menimbulkan akibat-akibat hukum yang dapat dipaksanakan oleh undang-undang
c. Menurut R. Setiawan pengertian perjanjian yang ada di Pasal 1313 KUHPerdata tidak lengkap dan sangat luas, oleh karena itu perlu dilakukan perbaikan definisi tersebut:
1) Perbuatan harus diartikan sebagai perbuatan hukum yaitu perbuatan yang bertujuan untuk menimbulkan akibat-akibat hukum
2) Menambahkan perkataan “atau saling mengikatkan dirinya” dalam Pasal 1313 KUHPerdata
3) Sehingga perumusannya menjadi, “Perjanjian adalah perbuatan hukum di mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya atau saling mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih”.
d. Menurut Djumadi, “Perjanjian adalah suatu peristiwa di mana seseorang berjanji kepada orang lain atau di mana dua orang atau lebih saling berjanji untuk melaksanakan suatu hal”
e. Menurut Gunawa Widjaja menjelaskan bahwa perjanjian adalah salah satu sumber perikatan artinya perjanjian melahirkan perikatan yang menciptakan kewajiban pada salah satu atau lebih pihak dalam perjanjian
f. Menurut Polak, “Perjanjian adalah suatu persetujuan tidak lain suatu perjanjian (afspraak) yang mengakibatkan hak dan kewajiban”.
Pengertian perjanjian yang ada di dalam Pasal 1313 KUHPerdata ternyata menimbulkan reaksi dari beberapa ahli yang secara terang-terangan tidak sepaham dengan pengertian perjanjian sesuai yang diatur di dalam Pasal 1313 KUHPerdata, hal ini dikarenakan adanya kejanggalan dalam pemberian arti dari perjanjian:
a. Suryodiningrat memberikan argumentasi bahwa:
1) Hukum tidak ada sangkut pautnya dengan setiap perikatan dan demikian pula tidak ada sangkut pautnya dengan setiap sumber perikatan, sebab apabila penafsiran dilakukan secara luas, setiap janji adalah persetujuan
2) Perkataan perbuatan apabila ditafsirkan secara luas, dapat menimbulkan akibat hukum tanpa dimaksudkan (misalnya: perbuatan yang menimbulkan kerugian sebagai akibat adanya perbuatan melawan hukum)
3) Definisi Pasal 1313 KUHPerdata hanya mengenai persetujuan sepihak (unilateral), satu pihak sajalah yang berprestasi sedangkan pihak lainnya tidak berprestasi (misal:
schenking atau hibah). Seharusnya persetujuan itu berdimensi dua pihak di mana para pihak saling berprestasi
4) Pasal 1313 KUHPerdata hanya mengenai persetujuan obligatoir (melahirkan hak dan kewajiban bagi para pihak), dan tidak berlaku bagi persetujuan lainnya (misalnya:
perjanjian liberatoir/membebaskan; perjanjian di lapangan hukum keluarga; perjanjian kebendaan; perjanjian pembuktian)
b. Purwahid Patrik menyatakan beberapa kelemahan dari definisi Pasal 1313 KUHPerdata, yaitu:
1) Definisi tersebut hanya menyangkut perjanjian sepihak saja. Hal ini dapat disimak dari rumusan “satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih lainnya”. Kata „mengikatkan‟ merupakan kata kerja yang sifatnya hanya datang dari satu pihak saja, tidak dari kedua pihak. Sedang maksud perjanjian itu para pihak saling mengikatkan diri sehingga tampak kekurangannya yang seharusnya ditambah dengan rumusan “saling mengikatkan diri”
183 2) Kata perbuatan mencakup juga tanpa consensus/kesepakatan termasuk perbuatan mengurus kepentingan orang lain (zaakwaarneming) dan perbuatan melanggar hukum (onrechtmatige daad). Hal ini menunjukkan makna „perbuatan‟ itu luas dan menimbulkan akibat hukum
3) Perlu ditekankan bahwa rumusan Pasal 1313 KUHPerdata mempunyai ruang lingkup di dalam hukum harta kekayaan (vermogensrecht).
c. Ahmadi Miru dan Sakka Pati menerangkan bahwa pengertian yang dibuat dalam Pasal 1313 KUHPerdata tidak lengkap, karena hanya satu pihak saja yang mengikatkan diri kepada pihak lain. Pengertian yang ada di dalam Pasal 1313 KUHPerdata seharusnya juga menerangkan tentang adanya dua pihak yang saling mengikatkan diri tentang suatu hal.
Artinya kalau hanya disebutkan bahwa satu pihak yang mengikatkan diri kepada pihak lain maka tampak seolah-olah yang dimaksud hanyalah perjanjian sepihak. Tetapi kalau disebutkan juga tentang adanya dua pihak yang saling mengikatkan diri, maka pengertiannya menjadi berbeda yaitu perjanjian itu memang meliputi baik perjanjian sepihak maupun perjanjian dua pihak.
Di Belanda sendiri definisi perjanjian sudah mengalami perubahan, sesuai dengan perubahan KUHPerdata Belanda yang baru disebut dengan Nieuw Burgerlijk Wtboek (NBW) sebagaimana diatur dalam Buku 6 Bab 5 Pasal 6:213, “Een overeenkomst in de zin van deze titel is een meerzijdige rechtshandeling, waarbij een of meer partijen jegens een of meer andere een verbintenis aangaan” yang terjemahan dalam Bahasa Inggrisnya “A contract in the sense of this title is multilateral juridical act whereby one or more parties assume an obligation towards one or more other parties”.
Terjemahan kata „overeenkomst‟ yang dibuat oleh P.P.C Haanapel et.al di atas adalah
„contract‟ bukan „agreement‟ sehingga apabila diterjemahkan kontrak adalah perbuatan hukum yang dilakukan satu orang atau lebih untuk saling (timbal-balik) mengikatkan diri terhadap satu orang atau lebih lainnya. Pengertian kontrak (terjemahan penterjemah) dalam NBW di atas sedikit berbeda dengan pengertian perjanjian sebelumnya yang diatur dalam Pasal 1233 Burgerlijk Wetboek, “Eene overeenkomst is eene handeling waarbij een of meer personen zich jegens een of meer andere verbinden”. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia- nya yang apabila disesuaikan dalam KUHPerdata Indonesia khususnya di Pasal 1313 adalah
“Suatu perjanjian adalah suatu perbuatan di mana satu orang atau lebih mengikatkan diri terhadap satu orang lain atau lebih”, terjemahan dalam Bahasa Inggris-nya, “An agreement is an act pursuant to which one more individuals bind themselves to one or several others”.
Mindy Chen-Wishart, et.al menterjemahkan kata „overeenkomst‟ dengan kata
„Perjanjian‟ (agreement) bukan kontrak, Perbedaan pengertian perjanjian yang ada di dalam BW lama dengan NBW (yang baru) salah satunya adalah penggunaan kata „handeling‟ (di BW lama) sedangkan di NBW menggunakan kata „rechtshandeling‟. Kata „handeling‟
diartikan sebagai kata „Perbuatan‟ saja sedangkan „rechtshandeling‟ diartikan sebagai frasa
„Perbuatan hukum‟ atau juridical act. Di dalam BW lama dengan NBW masih tetap menggunakan kata mengikatkan diri yang mana dalam Bahasa Belanda-nya adalah
„verbintenis‟ (di NBW) dan „verbiden‟ (di BW lama). Mengenai makna dari „verbintenis‟, Penter Haanappel, et.al menterjemahkan „verbintenis‟ menjadi kata „obligation‟ (kewajiban).
Kata „verbintenis‟ adalah bentuk kata benda yang bermakna “the state of being, eg in marriage, friendship”. Sebenarnya makna antara „state of being‟ dengan „obligation‟ tidaklah sama karena state of being bermakna suatu pernyataan untuk menyamakan atau menyatukan keinginan sedangkan obligation adalah kewajiban. Mindy Chen-Wishart, et.al sendiri mengartikan verbinden yang merupakan kata kerja dari kata „verbintenis‟ dengan kata „bind‟
yang berarti mengikatkan diri „to tie up‟. Secara makna memang terjemahan Mindy Chen- Wishart, et.al lebih tepat apabila dibandingkan dengan terjemahan yang dibuat oleh P.P.C
184 Haanapel et.al, karena makna dari sebuah perjanjian atau kontrak itu adalah untuk
„mengikatkan‟.
Namun apakah terjemahan kata „verbintenis‟ menjadi „obligation‟ merupakan suatu kesalahan yang dibuat oleh P.P.C Haanapel et.al? Belum tentu karena dalam proses penterjemahan P.P.C Haanapel et.al harus menyesuaikan makna bahasa sumbernya (Belanda)
„verbintenis‟ ketika diterjemahkan ke bahasa target (Inggris) „Obligation‟, dan hasil terjemahannya (ke Bahasa target) tidak boleh menghilangkan makna dari bahasa sumbernya.
Dan menurut P.P.C Haanapel et.al makna verbintenis adalah kewajiban (obligation). Dengan demikian arti dari kontrak yang ada di dalam Buku 6 Bab 5 Pasal 6:213 adalah “perbuatan hukum timbal balik (multilateral) yang dilakukan satu orang atau lebih yang menerbitkan kewajiban terhadap satu orang atau lebih lainnya”.
Frasa “…multilateral juridical act...” (meerzijdige rechtshandeling) menunjukkan arti perbuatan hukum yang saling timbal balik. Kontrak memang sudah seharusnya dilakukan karena adanya keinginan dua belah pihak, bukan salah satu pihak. Penegasan makna saling timbal balik (multilateral) ini dibuat memang digunakan untuk mencegah adanya paham seolah-olah perjanjian hanya diinginkan atau dilakukan oleh sepihak saja. Oleh karenanya penggunaan teks saling timbal balik sudah tepat digunakan untuk menunjukkan perjanjian itu muncul karena adanya kehendak oleh kedua belah pihak untuk saling mengikatkan diri yang di dalamnya ada akibat hukum. Oleh karena itu penggunaan kata recthshandeli dalam definisi overeenkomst di NBW sangat relevan dengan kedudukan overeenkomst sebagai genus dari perbuatan hukum (juridical act(s)). Hal ini seperti yang dijelaskan oleh Arthur S.
Hartkamp juga, “A contract is a species of the genus „juridical act‟. Juridical act may described as an act by which juridical effects are produced, due to the expressed intention of one or more acting persons. Most multilateral juridical acts are contracts”.
Berdasarkan penjelasan di atas timbul pertanyaan, apakah perjanjian juga merupakan genus dari perbuatan hukum, seperti kontrak yang merupakan genus dari perbuatan hukum?
Bahkan dengan jelas Arthur S. Hartkamp menyebutkan istilah kontrak merupakan genus dari perbuatan hukum bukan perjanjian. Bahkan di beberapa literatur yang ada istilah kontrak lebih mendominasi dari pada istilah perjanjian. Padahal apabila dilihat dari sejarahnya, Belanda yang melakukan kodifikasi Burgerlijk Wetboek atas Code Napoleon di tahun 1838 silam sama sekali tidak menggunakan istilah „kontrak‟ seperti yang ada di dalam Pasal 1101 Code Napoleon, contrat. Padahal bisa saja pada saat kodifikasi Burgerlijk Wetboek berlangsung istilah overeenkomst tidak digunakan akan tetapi menggunakan istilah contract dalam Bahasa Belanda-nya untuk menyesuaikan istilah contrat yang ada di Pasal 1101 Code Napoleon. Atau memang di sekitar tahun 1800-an istilah contract belum ada di Bahasa Belanda? Apabila memang benar, bisa saja istilah contrat dalam Bahasa Perancis diserap dan digunakan dalam Burgerlijk Wetboek di masa itu. Tapi yang pasti Belanda saat itu menggunakan istilahnya sendiri yaitu overeenkomst untuk menunjukkan suatu hubungan hukum yang dikarenakan adanya perjanjian. Namun mengapa seperti Arthur S. Hartkamp menggunakan istilah kontrak dan mengapa pula P.P.C Haanapel et.al menterjemahkan overeenkomst menjadi istilah contract bukan agreement?
Penggunaan frasa „perbuatan hukum‟ memang sangat berpengaruh kepada makna dari perjanjian bahkan di Belanda sendiri kata „handeling‟ atau perbuatan sudah digantikan dengan kata „rechsthandeling‟. Apakah pergantian itu memang untuk menyesuaikan perjanjian adalah sebagai genus dari perbuatan hukum atau untuk menghindarkan multitafsir atas makna dari kata perbuatan? Memang tidak bisa dipastikan jawabannya namun yang terjadi di Indonesia sendiri penggunaan kata „perbuatan‟ menjadi salah satu permasalahan karena Purwahid Patrik menganggap kata perbuatan mencakup juga tanpa consensus/kesepakatan termasuk perbuatan mengurus kepentingan orang lain (zaakwaarneming) dan perbuatan melanggar hukum (onrechtmatige daad). Hal ini menunjukkan makna „perbuatan‟ itu luas dan menimbulkan
185 akibat hukum. J. Satrio juga menganggap kata „perbuatan‟ yang digunakan dalam Pasal 1313 KUHPerdata lebih tepat jika digantikan frasa „perbuatan/tindakan hukum‟, karena istilah
„tindakan hukum‟ tidak hanya menunjukkan bahwa akibat hukumnya dikehendaki atau dianggap dikehendaki tetapi di dalamnya juga sudah tersimpul adanya „sepakat‟ yang merupakan ciri dari perjanjian yang tidak mungkin pada onrechtmatige daad dan zaakwaarneming.
Mayoritas para ahli yang mendefinisikan perjanjian memang menghindari kata
„perbuatan‟ kecuali KRTM Tirtodiningrat dan R. Setiawan. Namun penulis menganggap bukanlah suatu kesalahan apabila KRTM Tirtodiningrat dan R. Setiawan masih tetap menggunakan kata „perbuatan‟ tersebut. Karena kata „perbuatan‟ dimaksudkan untuk menjelaskan adanya peristiwa atau tindakan yang dilakukan seseorang kepada orang lainnya.
Hal ini sama juga dengan penggunaan kata „peristiwa‟ yang dibuat oleh R. Subekti dan Djumadi atas pengertian perjanjian.
Perjanjian pada dasarnya adalah suatu tindakan, perbuatan atau peristiwa untuk mengikatkan diri kepada orang lain sehingga terbentuknya suatu hubungan hukum. Sehingga dapat dimaknai pengertian perjanjian dalam Pasal 1313 KUHPerdata adalah sebagai bentuk perbuatan yang menimbulkan efek hukum, namun hanya saja di tidak ditegaskan sebagai bentuk perbuatan hukum. Ada atau tidaknya kata „hukum‟ setelah kata „perbuatan‟
sebenarnya tidak menghilangkan makna perjanjian itu sebagai bentuk perbuatan hukum karena seperti yang dijelaskan di atas bahwa sesuai dengan doktrin yang ada, frasa „perbuatan hukum‟ hanya dikenal oleh negara-negara yang menganut sistem hukum civil law, seperti Indonesia, dan atas pemahaman itu pula perjanjian atau kontrak merupakan genus dari perbuatan hukum. Sehingga apabila suatu definisi perjanjian masih menggunakan kata
„perbuatan‟ saja maka tidak berarti perjanjian yang dimaksud bukanlah suatu perbuatan hukum yang tidak memiliki akibat hukum, karena makna perjanjian sudah mengandung perbuatan hukum yang direalisasikan dalam suatu bentuk perbuatan nyata.
Apabila dibandingkan dengan pengertian perjanjian yang diatur dalam Code Napoleon yang menggunakan istilah „contrat‟ (Bahasa Perancis) atau „contract‟ (Bahasa Inggris), maka Pasal 1101 Code Napoleon disebutkan “Le contra test une convenction par laquelle une ou plusiurs personnes s‟obligent, envers une ou plusieurs autres, a donner, a faire ou a ne pas faire quelque chose” yang dalam terjemahan ke Bahasa Inggris adalah “a contract is an agreement which binds one or more persons, towards another or several others to give, to do, or not to do something”, terjemahannya adalah kontrak merupakan suatu perjanjian yang mengikat satu pihak atau lebih kepada satu pihak atau lebih lainnya dalam rangka untuk memberikan sesuatu, melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu. Pengertian kontrak yang diatur dalam Pasal 1101 Code Napoleon tersebut tak ubahnya dengan yang ada di dalam Pasal 1313 KUHPerdata Indonesia yang meletakkan perjanjian hanya unilateral saja,
“Perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih” hal ini dapat dilihat dari terjemahan “binds one or more persons, towards another or several others” yang jelas sama dengan Pasal 1313 KUHPerdata
“…satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih”.
Kemudian di dalam Pasal 1101 Code Napoleon tersebut juga mencantumkan frasa “to give, to do, or not to do something” yang frasa tersebut juga ada di Pasal 1234 KUHPerdata Indonesia
“…untuk memberikan sesuatu, berbuat sesuatu dan tidak berbuat sesuatu” dan Pasal 1314 ayat kedua KUHPerdata “…memberikan sesuatu, berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu”.
Walaupun di dalam Pasal 1101 Code Napoleon tidak menjelaskan perjanjian yang saling timbal balik (mutual), namun di Pasal 1102 dan 1103 dijelaskan suatu perjanjian yang bersifat synallagmitacal dan unilateral:
186 a. Pasal 1102 “Le contrat est synallagmatique ou bilatéral lorsque les con- tractans s'obligent réciproquement les uns envers les autres” diterjemahkan dalam Bahasa Inggris
“a contract is synallagmitcal or bilateral when the contractors bind themselves nutually some of them towards the remainder”.
b. Pasal 1103: “Il est unilatéral lorsqu'une ou plusieurs personnes sont obligées envers une ou plusieurs autres, sans que de la part de ces dernières il y ait d'engagement”
diterjemahkan dalam Bahasa Inggris “It is unilateral when it binds one person or several towards one other or several others, without any engagement being made on the part of such latter”.
Sama halnya dalam KUHPerdata khususnya di Pasal 1314 juga menjelaskan bagaimana perjanjian dapat dilakukan secara bilateral maupun unilateral namun posisisnya terbalik, unilateral terlebih dahulu lalu bilateral. Pasal 1314 KUHPerdata di ayat pertama disebutkan
“suatu perjanjian dengan cuma-cuma adalah suatu perjanjian dengan mana pihak yang satu memberikan suatu keuntungan kepada pihak yang lain, tanpa menerima suatu manfaat bagi dirinya” (perjanjian unilateral) dan di ayat kedua “suatu perjanjian atas beban adalah suatu perjanjian yang mewajibkan masing-masing pihak memberikan sesuatu, berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu”.
Namun saat ini pengertian kontrak dalam KUHPerdata Perancis telah diubah dengan pengertian yang baru. Perubahan tersebut karena adanya revisi yang kemudian berdasarkan ordonanasi pada tanggal 1 Oktoer 2016 mengubah beberapa pasal yang ada di dalam KUHPerdata Perancis khususnya di Pasal 1101-12311-7 yang mana di dalam perubahan pasal-pasal tersebut merupakan pasal tentang kontrak atau perjanjian. Perubahan tentang kontrak atau perjanjian tersebut membawa perubahan yang cukup signifkan dalam maknanya apabila dibandingkan dengan makna sebelumnya.
Bukannya kontrak dimaknai adanya perjanjian yang dibuat oleh para pihak secara timbal balik, akan tetapi kontrak lebih dimaknai perjanjian atas adanya kehendak dua orang atau lebih untuk menciptakan, memodifikasi atau mentransfer kewajiban. Penggunaan kata kehendak atau keinginan „wills‟ dalam arti atas kontrak apabila dibandingkan dengan arti perjanjian yang ada di dalam NBW sangatlah jauh berbeda untuk menunjukkan adanya keterikatan seseorang kepada orang lain yang didasarkan dengan adanya kontrak atau perjanjian. Kata „agreement‟ lalu diubah dengan „concordance‟ lalu dihubungkan dengan kata
Sebelum 1 Oktober 2016 Sesudah 1 Oktober 2016
Article 1101:
Le contrat est une convention par laquelle une ou plusieurs personnes s‟obligent, envers une ou plusieurs autres, à donner, à faire ou à ne pas faire quelque chose
Terjemahannya:
Article 1101:
A contract is an agreement which binds one or more persons, towards another or several others to give, to do, or not to do something
Article 1101:
Le contrat est un accord de volontés entre deux ou plusieurs personnes destiné à créer, modifier, transmettre ou éteindre des obligations.
Terjemahannya:
Article 1101:
A contract is a concordance of wills of two or more persons intended to create, modify, transfer or extinguish obligations
187
„wills‟ menujukkan bahwa kontrak itu merupakan bagian dari kehendak para pihak yang membuat perjanjian. Kata „bind‟ yang awalnya digunakan kemudian dihilangkan menunjukkan bahwa kontrak memang ditujukan untuk mengikatkan para pihak yang membuat perjanjian, oleh karenanya tidak perlu lagi ditegaskan bahwasannya kontrak adalah untuk mengikat.
Perjanjian sebenarnya bukanlah hanya sekedar dari hubungan hukum yang dilakukan oleh kedua belah pihak secara timbal balik (bilateral) atau tidak (unilateral) akan tetapi perjanjian juga seharusnya mengedepankan bagaimana perjanjian atau kontrak dibentuk berdasarkan dari adanya kehendak atau keinginan para pihak yang membuat perjanjian untuk saling mengikatkan diri. Tujuan dari tulisan ini adalah bagaimana kedudukan kehendak atau keinginan dari sebuah perjanjian yang harus dilindungi dan menjadi bagian yang harus ada tanpa ada pengecualian sehingga kehendak atau keinginan para pihak yang membuat perjanjian bukan hanya sekedar dari formalitas yang selalu dianggap ada ketika para pihak yang membuat perjanjian telah sepakat.
Bahwa dapat dikatakan definisi kontrak dalam Pasal 1101 KUHPerdata Perancis sejak 1 Oktober 2016 tersebut jauh lebih baik dari pada definisi sebelumnya, dan menurut penulis sendiri definisi ini pun lebih baik dari pada definisi yang dibuat dalam NWB sendiri.
Kedudukan kehendak atau keinginan dua orang atau lebih yang ada di dalam Pasal 1101 tersebut sudah mewakili dari adanya tindakan atau perbuatan para pihak yang membuat perjanjian secara timbal balik, karena pada dasarnya kehendak atau keinginan dalam perjanjian adalah sebagai bentuk perbuatan yang didasari dari adanya kesadaran kedua belah pihak (para pihak dalam perjanjian) untuk melaksanakan perjanjian. Berbeda dengan perjanjian yang dilakukan oleh kedua belah pihak atau lebih secara timbal balik, belum tentu perjanjian tersebut terbentuk atau mengikat karena adanya kehendak atau keinginan para pihak yang membuat perjanjian. Bisa saja perjanjian tersebut dilakukan karena adanya kekhilafan, paksaan, penipuan dan atau penyalahgunaan keadaan. Perbandingan yang dilakukan penulis bukan dimaksudkan untuk mencari kesalahan atau kekurangan hukum perjanjian di salah satu negara akan tetapi perbandingan dilakukan untuk mencari definisi terbaik agar pengertian dari perjanjian di Indonesia jauh lebih baik dari pada sebelumnya.
Bagi penulis sendiri, pengertian perjanjian tidak hanya dimaknai dari apa yang dimaksud dengan perjanjian saja akan tetapi perjanjian juga harus dimaknai adanya suatu peristiwa hukum sebagai akibat dari adanya hubungan kausa dari para pihak yang telah membuat perjanjian. Perjanjian tidak dapat diartikan hanya sebagai kata yang tanpa menunjukkan suatu keadaan atau peristiwa tertentu karena perjanjian adalah suatu keadaan di mana telah terjadinya tindakan sebab akibat yang dilakukan satu orang atau lebih kepada satu orang atau lebih lainnya. Dengan kata lain kata „perjanjian‟ tidak akan lagi menimbulkan suatu pertanyaan apakah perjanjian itu mengikat atau tidak, karena memang pada prinsipnya perjanjian itu mengikat bagi para pihak yang membuatnya.
Bahwa dasar dari pertanyaan di atas sangatlah logis karena implikasi dari perjanjian itu adalah menciptakan hubungan hukum di antara beberapa pihak dan ketika perjanjian itu dilakukan, apakah perjanjian itu memang sudah dianggap menjadi perjanjian yang memiliki konsekuensi hukum atau tidak sehingga para pihak yang mengikatkan diri harus melakukan hak dan kewajibannya sesuai dengan yang diperjanjikan? Sebenarnya sangatlah sederhana menjawab pertanyaan itu karena yang dinamakan perjanjian adalah apabila perjanjian itu telah sesuai dengan syarat sahnya perjanjian sesuai yang ada di dalam Pasal 1320 KUHPerdata dan kapan perjanjian itu lahir adalah ketika perjanjian itu sudah sesuai dengan syarat sahnya perjanjian yang diatur dalam Pasal 1320 KUHPerdata dan kapan perjanjian itu mengikat adalah ketika perjanjian itu sesuai dengan syarat sahnya perjanjian sesuai yang diatur dalam Pasal 1320 KUHPerdata. Walaupun sebenarnya tidak mutlak apabila perjanjian itu dikatakan mengikat harus didasari dengan sahnya perjanjian karena terdapat pula suatu
188 perjanjian yang melanggar syarat sah perjanjian namun perjanjian itu tetap mengikat, sebagai contoh suatu perjanjian yang melanggar syarat subjektif perjanjian. Perjanjian yang melanggar syarat sah subjektif mengakibatkan perjanjian tetap mengikat selama tidak dibatalkan.
Bahwa kedudukan Pasal 1313 KUHPerdata tidak dapat dipisahkan dengan Pasal 1320 KUHPerdata, karena makna dari perjanjian yang diatur dalam Pasal 1313 KUHPerdata adalah karena adanya kesesuaian dengan Pasal 1320 KUHPerdata. Makna dari „mengikatkan diri‟
yang ada di dalam Pasal 1313 KUHPerdata memang dianggap rancu karena hanya satu pihak saja yang mengikatkan diri akan tetapi di luar dari kerancunya tersebut, perjanjian merupakan perbuatan untuk mengikatkan yang berarti terbentuknya suatu hubungan hukum yang menghasilkan hak dan kewajiban atau kewajiban saja. Terbentuknya hubungan hukum yang menghasilkan hak dan kewajiban atau kewajiban saja itu hanya bisa terjadi karena telah berkesesuaian dengan Pasal 1320 KUHPerdata. Sehingga dapat dikatakan eksitensi dari Pasal 1313 KUHPerdata merupakan eksistensi yang sama pula atas Pasal 1320 KUHPerdata kecuali untuk ayat 1 dan 2 Pasal 1320 KUHPerdata karena syarat sah cakap dan kesepakatan adalah syarat yang kondisional di mana perjanjian tetap memiliki hubungan hukum walaupun syarat cakap dan kesepakatan itu dilanggar dan tidak dibatalkan.
Berdasarkan penjelasan di atas penulis menyimpulkan bahwasannya perjanjian merupakan suatu perbuatan hukum yang dilakukan oleh dua belah pihak atau lebih didasari atas kehendak yang sama untuk saling mengikatkan diri. Salah satu poin utama dari pengertian itu adalah saling mengikatkan diri. Perjanjian harus dilakukan dengan dengan dasar adanya tindakan yang saling timbal balik oleh para pihak yang membuatnya.
Kekurangan Pasal 1313 KUHPerdata seperti yang telah dijelaskan sebelumnya adalah kehilangan makna dari mutual understanding yaitu tidak adanya hubungan timbal balik bagi para pihak yang membuat perjanjian jadi seolah-olah perjanjian itu hanya dilakukan oleh salah satu pihak saja sedangkan pihak lain tidak mau membuat perjanjian. Oleh karena itu dengan menggunakan frasa saling mengikatkan diri menunjukkan para pihak yang membuat perjanjian memang saling berhubungan yang tujuannya memang untuk mengikatkan diri sehingga terbentuklah hubungan hukum yang menghasilkan hak dan kewajiban atau kewajiban saja.
Kata „hukum‟ setelah kata „perbuatan‟ untuk menunjukkan perjanjian itu merupakan perbuatan hukum, namun penggunanaan kata „hukum‟ tersebut bagi penulis adalah untuk menegaskan apabila perjanjian itu merupakan perbuatan hukum, sehingga bagi orang awam yang tidak paham dengan doktrin perbuatan hukum akan segera mengetahui apabila perjanjian itu adalah perbuatan hukum.
Dua belah pihak atau lebih menunjukkan perjanjian dapat dilakukan bukan hanya dua pihak saja akan tetapi lebih dari dua pihak dapat yaitu tiga, empat atau lebih. Intinya perjanjian itu dapat dilakukan lebih dari pada satu subjek hukum saja. Didasari atas kehendak yang sama adalah untuk memberikan perlindungan atas kehendak „will‟ para pihak yang membuat perjanjian. Kehendak merupakan dasar dari seseorang mau atau tidak maunya untuk membuat perjanjian, apabila seseorang sudah berkehendak maka akan direalisasikannya dalam bentuk kesepakatan.
KESIMPULAN
Pemberlakuan Burgerlijk Wetboek voor Nederlands-Indisch (Hindia-Belanda saat ini Indonesia) dimulai pada tanggal 1 Mei 1848 berdasarkan Staatsblaad Nomor 23 tahun 1847, menariknya penerapan Burgerlijk Wetboek voor Nederlands-Indisch ini menggunakan asas konkordansi yaitu pemberlakukan Burgerlijk Wetboek yang ada di Belanda diberlakukan juga di Indonesia. Penggunaan KUHPerdata di Indonesia hingga saat ini masih tetap
189 menggunakan isi dari Burgerlijk Wetboek voor Nederlands-Indisch. Perjanjian merupakan suatu perbuatan hukum yang dilakukan oleh dua belah pihak atau lebih didasari atas kehendak yang sama untuk saling mengikatkan diri. Salah satu poin utama dari pengertian itu adalah saling mengikatkan diri. Perjanjian harus dilakukan dengan dengan dasar adanya tindakan yang saling timbal balik oleh para pihak yang membuatnya. Kata „hukum‟ setelah kata
„perbuatan‟ untuk menunjukkan perjanjian itu merupakan perbuatan hukum, namun penggunanaan kata „hukum‟ tersebut bagi penulis adalah untuk menegaskan apabila perjanjian itu merupakan perbuatan hukum, sehingga bagi orang awam yang tidak paham dengan doktrin perbuatan hukum akan segera mengetahui apabila perjanjian itu adalah perbuatan hukum. Dua belah pihak atau lebih menunjukkan perjanjian dapat dilakukan bukan hanya dua pihak saja akan tetapi lebih dari dua pihak dapat yaitu tiga, empat atau lebih.
Intinya perjanjian itu dapat dilakukan lebih dari pada satu subjek hukum saja. Didasari atas kehendak yang sama adalah untuk memberikan perlindungan atas kehendak „will‟ para pihak yang membuat perjanjian. Kehendak merupakan dasar dari seseorang mau atau tidak maunya untuk membuat perjanjian, apabila seseorang sudah berkehendak maka akan direalisasikannya dalam bentuk kesepakatan
DAFTAR PUSTAKA
Barrister of The Inner Temple. Code Napoleon or The French Civil Code. London: William Benning. 1827.
Chen-Wishart, Mindy. Dkk, eds. Studies in the Contract Laws of Asia II. Oxford: Oxford University Press. 2018
Djumadi. Hukum Perburuhan Perjanjian Kerja. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. 2004 Garner, Bryan A.. Black‟s Law Dictionary. Edisi ke-enam Eagen: West. 2009
Haanappel, Penter. dkk. (Pent). The Civil Code of The Netherlands Antilles and Aruba.
Netherlands: Kluwer Law International. 2002
Hage, Jaap dan Bram Akkermas. eds.. Introduction to Law. Berlin: Springer. 2014
Hartkamp, Arthur S. Contract Law in the Netherlands. Edisi ke-dua. Alphen aan den Rijn:
Wolters Kluwer. 2015.
Hernoko, Agus Yudha. Hukum Perjanjian Asas Proporsionalitas dalam Kontrak Komersial.
cetakan ke-4. Jakarta: Prenadamedia Group. 2014
Hornby, A. S.. Oxford Advanced Learner‟s Dictionary of Current English. Edisi ke-enam.
Oxford:
Oxford University Press. 2000
Kassoti, Eva. The Juridical Nature of Unilateral Acts of States in International Law. Leiden:
Martinus Nijhof. 2015
Marilang. Hukum Perikatan: Perikatan yang Lahir dari Perjanjian. Makassar: Indonesia Prime. 2017
Meliala, Djaja S. Perkembangan Hukum Perdata Tentang Benda dan Hukum Perikatan.
cetakan II. Bandung: CV. Nuansa Aulia. 2008
Miru, Ahmadi dan Sakka Pati. Hukum Perikatan: Penjelasan Makna Pasal 1233 sampai Pasal 1456 BW. cetakan ke-7. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persadan. 2016
Muhammad Sadi Is. Pengantar Ilmu Hukum. cetakan ke-2. Jakarta: Kencana. 2017 Puspa, Yan Pramadya. Kamus Hukum: Bahasa Belanda. Indonesia Inggris. Semarang: CV.
Aneka Ilmu. 1977.
Rijn, C. J. van. Dutch-English and English Dictionary in The New Spelling. Gouda: G.B. van Goor sons. 1920
Soenandar, Taryana. dkk. Kompilasi Hukum Perikatan. Banding: PT. Citra Aditya Bakti.
2016
190 Subekti. Hukum Perjanjian. Bogor: PT. Intermasa. 2005
Tanpa nama, arti “arti kata perjanjian”, diakses melalui https://kbbi.web.id/perjanjian pada tanggal 13 Desember 2019.
Tanpa nama”, verbintenis meaning” diakses melalui
https://dictionary.cambridge.org/dictionary/dutch-english/verbintenis, pada tanggal 13 Desember 2019.
Vollmar, H. F. A. Pengantar Studi Hukum Perdata II, diterjemahkan oleh I. S. Adiwimarta.
Jakarta: CV. Rajawali. 1984
Wajowasito, S. Kamus Umum Belanda-Indonesia. Jakarta: PT. IchtiarBaru Van Hoeve. 2001 Widjaja, Gunawan. Perikatan yang Lahir dari Perjanjian. Cetakan ke-6. Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada. 2014
Wouters, Michaela. The Voice of The Law in Transition Jurists and Their Languages. Leiden:
KITLV Press. 2008.