33 BAB III
UPACARA SIRAMAN BABARIT
A. Sejarah Siraman Babarit
Upacara siraman babarit atau tingkeban menurut cerita yang dikembangkan secara lisan, memang sudah ada sejak zaman dahulu.
Bedasarkan hasil wawancara dengan ibu Anay44 seorang dukun beranak ia menceritakan bahwa asal mula dilaksanakanya siraman ini dahulu (tidak diceritakan kapan tepatnya) nenek moyang mereka mempunyai banyak anak tetapi tidak satupun yang mampu bertahan hidup lama, sehingga diadakannya sebuah upacara siraman untuk kehamilan yang bertujuan untuk meminta keselamatan kepada Allah SWT.
Upacara siraman babarit atau tingkeban berasal dari nama seorang ibu yaitu Niken Satingkeb, istri dari Sedyo. Mereka berdua memiliki sembilan orang anak, akan tetapi kesembilan anaknya tersebut tidak serang pun yang berumur panjang. Berbagai usaha telah mereka jalani, tetapi tidak pula membuahkan hasil, sehingga suatu saat mereka memberanikan diri untuk datang menghadap Raja Jayabaya. Kemudian raja menasehati mereka agar menjalani beberapa ritual. Ritual adalah bentuk atau metode tertentu dalam melakukan upacara keagamaan atau upacara penting. Tatacara dan bentuk
44 Wawancara dengan Ibu Anay seorang Dukun Beranak di Sadomas, Jum’at tanggal 20 November 2015 pukul 09:00 WIB, dikediamannya.
34
upacara makna dan dasar itu menyiratkan bahwa aktivitas teknis dalam hal ada atau tidaknya sifat seremonial.45
Sebagai syarat pokok dalam ritual ini mereka harus rajin menyembah kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan khusyu dan senantiasa berbuat baik welas asih kepada sesama. Selain itu mereka juga diharuskan mensucikan diri,
mandi dengan menggunakan air suci yang berasal dari tujuh sumber mata air.
Kemudian berpasrah diri lahir batin dengan dibarengi permohonan kepada Allah SWT, dengan menyertakan sesaji yang diantaranya adalah bunga yang terdiiri dari tujuh macam, dan kelapa gading yang masih muda. Setelah serangkaian ritual yang dianjurkan oleh Raja Jayabaya dilaksanakan, ternyata Allah SWT mengabulkan permohonan mereka. Ki Sedyo dan Nyi Niken Satingkeb mendapat momongan yang sehat dan berumur panjang.46 Atas dasar inilah akhirnya upacara siraman babarit tetap dilksanakan bahkan menjadi suatu keharusan bagi masyarakat.
Kehidupan adalah proses bertumbuh kembang warga masyarakat yang memberi kesadaran akan hidup dan masalah yang dihadapi pada setiap tahapan atau prosesnya sebagai awal kehidupan lain. Orang pada mulanya tidak ada, menjadi ada, dan kemudian menjadi tidak ada lagi, karena setiap orang itu menempuh proses atau perjalanan hidup. Keberhasila pada setiap
45 Yuni setianingsih, situs nyimas gandasari dan hubungannya dengan tradisi budaya keislaman masyarakat desa Panguragan. (kripsi program sarjana STAIN Cirebon).
46 Dewi Mauly, Makalah Antropologi Nujuh Bulanan,
http://dewimauly.blogspot.com.id/2013/03/makalah-antropologi-nujuh-bulan.html diakses tanggal 03 Januari 2015.
35
tahap perjalanan hidup itu dianggap mampu menempuh atau mengatasi kritis dalam daur hidup, seperti dari tidak ada menjadi ada dikandung ibu, kemudian lahir, mencapai usia 40 hari, menjadi anak, remaja, dewasa lalu menikah, dan menjadi tua, yang kemudian akan meninggal. Ritual yang dilakukan pada setiap tahapan daur hidup adalah jawaban terhadap krisis yang dilalui atau dihadapi oleh setiap orang yag menjalaninya.47
47Upacara Tradisional Daerah Jawa Barat, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Darerah, 1981/1982, hal. 11
36 B. Perlengkapan Upacara Siraman Babarit
Tradisi sebagai sistem budaya mengandung makna adanya sistem gagasan bedasarkan pengetahuan, keyakinan dan norma serta nilai-nilai sosial budaya.48 Karena sudah diakui dan disepakati bersama, maka tradisi tersebut bisa menjadi adat istiadat yang berlaku bagi masyarakat disuatu daerah, bisa juga adat istiadat berlaku disuatu desa tertentu, tetapi tidak diakui oleh masyarakat di daerah lain. Tradisi yang ada dalam setiap masyarakat adalah tatanan sosial yang mapan baik yang berhubungan dengan unsur-unsur kehidupan maupun sebagai aturan sosial yang memberi pedoman tingkah laku anggota atau masyarakat. Sehubungan dengan itu, tradisi merupakan sosial budaya yang selalu ingin dipertahankan oleh masyarakat sebagai identitas penting bagi kehidupan mereka.49
Ketiga tradisi yang harus dilaksanakan pada zaman dahulu yaitu tradisi siraman, rujakan dan brojolan. Tetapi dengan seiring perkembangan zaman, ketiga tradisi tersebut diringkas secara pelaksanaannya menjadi satu, yaitu ketika pelaksanaan siraman babarit atau siraman tujuh bulanan.
Jauh-jauh hari sebelum usia kandungan memasuki tujuh bulan, calon orang tua bayi harus menentukan hari yang baik sesuai primbon jawa.Adapun
48 Abdullah Ali, Sosiologi Islam, Bogor, IPB press, 2005, hal. 195
49 Abdullah Ali, Muludan Tradisi Bermakna. Cirebon, Percetakan Lestari, 2001, hal. 30
37
alat-alat yang di gunakan dalam prossi upacara siraman babarit adalah sebagai berikut50:
a. Air siraman yang terdiri dari tujuh sumber mata air untuk syarat siraman.
b. Kelapa gading dua buah yang telah diukir dengan gambar Rama dan Shinta, maknanya yaitu jika kelak bayi lahirkan laki-laki akan tampan seperti rama, jika perempuan akan cantik seperti shinta.
c. Telur ayam kampung, yang nantinya dipecahkan ini mengandung makna berupa ramalan. Jika telur pecah maka bayi yang lahir perempuan, jika telur tidak pecah maka bayi yang akan dilahirkan adalah laki-laki.
d. Kain batik tujuh buah atau bisa mencapai dua puluh tujuh buah. Ini untuk prosesi ganti kain, maknanya bahwa ibu yang tengah mengandung sebaiknya tidak memikirkan hal yang sifatnya keduniawian dan berpenampilan sederhana.
e. Sesajen tumpeng, maknanya adalah sebagai penghormatan kepada leluhur yang sudah tiada.
f. Souvenir atau bisa dalam bentuk berkat untuk yang hadir dalam upacara siraman babarit maknanya ialah saling berbagi.
50 Wawancara dengan Ibu Anay seorang Dukun Beranak di Sadomas, Jum’at tanggal 20 November 2015 pukul 09:00 WIB, dikediamannya.
38 C. Prosesi Upacara Siraman Babarit
1. Pengajian
Tamu undangan berkumpul untuk membacakan ayat suci Al-Qur’an.
Pengajian diawali dengan siraman rohani bagi kedua calon orang tua dan semua tamu yang hadir. Ayat-ayat Al-Qur’an seperti surat Yusuf, Maryam dan Lukman dilantunkan sebagai tanda kecintaan pada sang pencipta.
Do’a Nurbuat dipanjatkan untuk keselamatan dan kebaikan anaknya kelak.
2. Siraman
Prosesi siraman inilah yang dianggap sakral, karena mulai dari hari sampi jam pelaksanaannya ditentukan dan tidak boleh dilanggar. Sakral menurut Eliade51 yaitu memanifestasikan diri sebagai sebuah realitas yang secara keseluruhan berbeda tingkatannya dengan realitas-realitas
“alami”.Sakral sendiri bagi masyarakat Sunda yaitu sebagai sarana manusia berhubungan dengan Illahi.52
Siraman dilaksanakan di halaman rumah dengan menggunakan tujuh sumber mata air yang telah diberi bacaan-bacaan ayat suci Al-Qur’an tadi ketika pengajian. Kemudian air tadi dicampurkan kedalam air bunga yang disimpan di sebuah wadah yang besar yg berbentuk gentong yang sudah disediakan di tempat siraman. Siraman ini dilakukan dengan cara
51 Daniel L. Pals, Dekonstruksi Kebenara; Kritik tujuh Teori Agama, Yogyakarta: IRCiSoD, 2001, hal. 270
52 Wawancara dengan Bapak Sanusi, Tokoh masyarakat Desa Sadomas, Rabu 09 Desember 2015 pukul 14.00 WIB di rumahnya
39
memandikan wanita hamil dengan suaminya menggunakan gayung.
Sesepuh yang bertugas menyiram sebanyak tujuh orang53, tetapi setelah para sesepuh selesai memandikan seluruh keluarga beramai-ramai berebutan untuk memandikan. Siraman ini merupakan gambaran agar kelahiran bayi kelak suci bersih. Kemudian kelapa yang dipangku oleh wanita hamil sejak prosesi siraman dilakukan dijatuhkan saat berdiri. Ini menyimbolkan agar kelak dilancarkan saat melahirkan. Setelah itu dilanjutkan menginjak telur dan katung bungbas (bambu kecil yang berukuran satu jengkal tangan) oleh suaminya.Setelah siraman selesai calon ibu dipakaikan kain tujuh warna, yang melambangkan sifat-sifat baik yang akan dibawa oleh jabang bayi dalam kandungan.
3. Prosesi Ganti Busana
Dalam prosesi ganti busana ini calon ibu dipakaikan kain sebanyak 7 buah kain atau lebih bisa mencapai 27 buah yang di dapat dari orang tua wanita hamil dan suaminya.54 Motif kain yang akan dipakai dipilih yang terbaik dengan harapan agar kelak sibayi juga memiliki kebaikan- kebaikan yang tersirat dalam lambang kain. Ganti kain ini dilakukan di ruang tamu didalam rumah oleh sesepuh yang terdiri dari kaum ibu- ibu.Prosesi ganti busana ini mengandung makna bahwa wanita yang
53 Wawancara dengan Ma Ebang, Minggu 13 Desember 2015 pukul 14:00 WIB, di kediamannya
54 Wawancara dengan Ibu Anay seorang Dukun Beranak di Sadomas, Jum’at tanggal 20 November 2015 pukul 09:00 WIB, dikediamannya.
40
sedang mengandung sebaiknya tidak memikirkan hal yang sifatnya keduniawian dan berpenampilan bersahaja.
Setelah prosesi upacara siraman babarit selesai, wanita hamil dan suaminya duduk di depan rumah dan mencicipi rujak babarit (rujak yang terdiri dari buah-buahan yang ditumbuk dibuat khas hanya untuk acara siraman babarit) bersama dengan para keluarga besar dan para tamu undangan.
4. Rujakan
Bahan-bahan rujak kesintren tidak jauh berbeda dengan rujak-rujak pada umumnya.55 Yang membedakan buah-buahan yang digunakan harus terdiri dari tujuh macam buah, tujuh buah bermakna memakmurkan dan dalam kehidupan terdapat manis dan pahitnya kehidupan. Tujuh buah itu ialah buah delima, mangga muda, jeruk merah (jeruk Bali), pepaya mongkal, bengkuang, kedondong, dan ubi jalar. Yang wajib ada ialah buah delima dan jeruk merah (jeruk Bali) karena ini mempunyai makna khusus selebihnya hanya pelengkap saja.. Buah delima yang matang dan berwarna merah mempunyai makna akan membuat bayi yang akan dilahirkan sangat menarik dan disenangi orang. Sedangkan jeruk merah (jeruk Bali) mempunyai makna tersendiri, jeruk merah rasanya manis dan bila dikupas kulitnya mudah dikelupas. Hal ini dimaknai agar bayi yang
55 Wawancara dengan Ma Ebang, Minggu 13 Desember 2015 pukul 14:00 WIB, di kediamannya
41
akan dilahirkan kelak akan mudahdan lancar serta tidak mengalami kesulitan, semudah mengupas jeruk merah tersebut. Tujuh macam buah- buahan yang dibuat rujakan ini melambangkan rasa kekeluargaan, kegotongroyongan masyarakat kesuburan dan kemanisan hidup.
42
D. Pihak-Pihak yang Terlibat dalam Upacara siraman Babarit
Pihak-pihak yang terlibat dalam prosesi upacara siraman babarit ini adalah sebagai berikut:
1. Wanita hamil dan suaminya, karena sudah jelas bahwa merekalah pelaku utama dalam prosesi upacara babarit ini.
2. Dukun beranak, tugasnya sebagai penyelenggara teknis upacara, dialah yang bertanggung jawab atas terselenggaranya upacara siraman ini. Dan dia juga bertugas sebagai penghubung untuk menyampaikan berbagai keinginan dan harapan yang punya hajat.
3. Keluarga dari pihak istri dan dari pihak suami, terutama dari kaum ibu-ibunya. Mereka sangat berperan dalam upacara ini karena merekalah yang membantu tenaga dan fikiransupaya upacara dapat berlangsung dengan baik, mereka juga bertugas ganti kain dalam prosesi upacara ganti kain.
4. Tetangga dan keluarga serta kerabat mereka terlibat sebagai tamu undangan. Mereka hadir untuk berpartisifasi dan memanjatkan do’a bagi wanita yang sedang hamil dan bagi bayi yang tengah dikandungnya.
5. Ibu-ibu pengajian, mereka bertugas untuk membacakan ayat-ayat Al-Qur’an. Salah satu ayat yang dibacakan pada selamatan ini ialah Qur’an Surat Yusuf, dengan harapan agar kelak nanti bayi yang akan dilahirkan berparas dan berperangai seperti Nabi Yusuf
43
dalam keluhuran budi dan akhlaknya, kesabaran dan kepatuhannyakepada orang tua.
44 E. Nilai-Nilai Sebuah Tradisi
Dalam suatu kebudayaan tradisi sunda pada umumnya terdapat nilai-nilai dasar yang terkandung didalamnya, misalnya :
1. Nilai Religius Magis
Religius magis hidup dalam kesukuan masyarakat sunda. Nialai tersebut mempengaruhi dan akhirnya menjadi tradisi yang hidup subur dan kekal dalam kehidupan masyarakat. Masalah asal mula dan inti dari suatu unsur universal seperti religi tegasnya masalah mengapakah manusia percaya kepada suatu kekuatan yang dianggap lebih tinggi dari padanya, dan masalah mengapakah manusia melakukan berbagai hal dengan cara- cara yang beraneka ragam untuk mencari hubungan dengan ketentuan- ketentuan tersebut.
Sejarah perkembangan religi masyarakat sunda telah dimulai sejak jaman perkembangan, dimana waktu itu nenek moyang masyarakat Jawa sudah beranggapan bahwa semua benda yang ada dikelilingnya itu bernyawa dan semua yang bergerak dianggap hidup dan mempunyai kekuatan ghaib atau mempunyai roh yang berwatak baik maupun jahat.
Sisa-sisa religius sampai sekarang masih ada dalam kehidupan masyarakat sunda, hanya tlah berubah fungsinya menjadi kesenian rakyat tradisional.
45 a. Nilai Gotong Royong
Dalam masyarakat yang berbentuk komuniti kecil sering tampak seolah-olah adanya suatu rasa saling tolong menolong yang besar, sehingga seluruh kehidupan masyarakat itu rupanya bedasarkan rasa yang besar, yang terkandung dalam jiwa oara warganya itu.
Dalam bahasa indonesia dipakai istilah rasa gotong royong untuk menyebut rasa saling bantu membantu itu. Demikian sistem gotong royong itu memang sering menunjukan perbedaan mengenai sifat lebih atau kurang rela dalam hubungan dengan beberapa macam lapangan aktivet dalam kehidupan sosial. Berhubungan dengan itu maka sering juga bisa kita bedakan adanya beberapa macam tolong menolong (gotong royong), diantaranya sebagai berikut :
1) Tolong menolong dalam aktivet pertanian.
2) Tolong menolong dalam aktivet sekitar rumah tangga.
3) Tolong menolong dalam aktivet persiapan pesta dan upacara.
4) Tolong menolong dalam peristiwa kecelakaan, bencana dan kematian.
Dalam aktivet pertanian seperti halnya yang sangat berkaitan dengan bercocok tanam, orang bisa mengalami musim sibuk, tetapi sebaliknya juga musim yang lega. Dalam aktivet rumah tangga, ialah kalau misal ada orang yang memperbaiki atap rumahnya. Ada pun tolong menolong dalam aktivet oersiapan pesta dan upacara, dalam aktivet ini merangsang bagi
46
para pembantu bersifat langsung, ialah ikut merayakan pesta, ikut menikmati makanan enak dan seterusnya.56
Sikap hidup masyarakat sehari-hari seperti sikap bergotong royong dan tolong menolong masih dijunjung tinggi oleh masyarakat. Hal ini menunjukan sifat tradisional masyarakat desa. Corak hidup masyarakat yang demikian menunjukan ciri tradisional masyarakat desa yang mempunyai suasana demokratis dimana sebelum mengambil keputusan untuk melakukan tindakan tertentu selalu diawali dengan musyawarah, sehingga setiap kegiatan adalah hasil keputusan bersama seluruh wargga masyarakat.
Masyarakat (society) adalah sebuah kata yang dulu lebih sering dimaknai dengan gaya dan pesta makan orang-orang elit. Sistem pemikiran yang dominan adalah individualistik, dengan kecenderungan melihat tatanan sosial, mulai dari sebuah keluarga hingga sebuah desa atau seluruh bangsa tidak lebih sebagai kumpulan orang-orang terpisah yang kebetulan berkumpul pada satu tempat dengan berbagai kepentingannya.
Pandangan Durkheim tentang hal ini jelas berbeda. Ia lebih jauh mengatakan bahwa fakta sosial jauh lebih fundimental dibanding fakta individu, bahwa fakta sosial sama nyatanya dengan fakta fisik, dan
56 Koetjayaningrat, Beberapa Pokok Antropologi Sosial, Jakarta, Dian Rakyat, 1967, hal. 158
47
individu sering disalah pahami ktika pengaruh masyarakat yang begitu kuat terhadapnya dikesampingkan atau tidak dipehatikan dengan teliti.
Bagaimana pun juga, manusia bukan hanya individu, tetapi selalu dimiliki oleh suatu yang lain orang tua, sanak saudara, kota, suku, partai politik, tradisi entis atau kelompok-kelompok lainnya.
Dalam pandangan Durkheim adalah sia-sia belaka apabila kita menganggap mampu memahami apa sebenarnya individu itu, jika hanya dengan mempertimbangkan insting biologis, psikologi individu atau kepentingan pribadi yang terisolasi. Kita harus menjelaskan individu melalui masyarakat dan menerangkan masyarakat dalam hubungan sosial.57
Desa sebagai persekutuan hidup primer bagi warga masyarakatnya.
Warga Desa saling membutuhkan untuk memperoleh nafkah dan menanggulangi bencana musibah dari luar maka timbulah rasa kesetiakawanan dan kesediaan saling membantu tanpa menuntut imbalan.
Dengan kata lain warga desa merupakan suatu warga besar atas dasar sukarela bersama-sama menanggung suka duka hidup, membentuk masyarakat mandiri di bawah pinpinan seorang kepala Desa dan dijiwai
57 Daniel. L. Pals, Denkontruksi kebenaran kritik tujuh agama. Yogyakarta, IRCiSoD,2001. Hal.
138
48
semangat gotong royong, artinya warga Desa merasa bertanggung jawab atas keselamatan warga Desa yang lain.58
Semangat gotong royong itu menyebabkan sikap yang mengandung pengertian terhadap kebutuhan sesama warga masyarakat. Dalam masyarakat yang berjiwa gotong royong, kebutuhan umum akan dinilai lebih tinggi daripada kebutuhan individu, kerja bakti untuk umum adalah suatu hal yang terpuji, dalam sistem hukumnya hak individu tidak diutamakan secara berlebih-lebih. Akhirnya adat gotong royong tersebut ciri khas kepribadian bangsa indonesia. Sementara itu dalam jaman modern ini gotong royong berkurang tetapi jangan sampai hapus atau hilang melainkan disempurnakan. Maka dari itu sering dilakukannya adat gotong royong dalam kehidiupan desa antara lain untuk keperluan masyarakat desa terutama sekitar upacara tradisional.
b. Nilai Mistisme Dalam Tradisi Islam Sunda
Islam merupaan konsep ajaran agama yang humanis yaitu agama yang mementingkan manusia sebagai tujuan sentral dengan mendasarkan pada onsep “humanisme theosentrik” yitu poros islam adalah ajaran Tauhid yang diarahkan untuk menciptakan kemaslahatan kehidupan dan peradaban umat manusia. Prinsip humanisme theosentrik inilah yang akan
58 Maharkesti, Kajian Nilai-Nilai Budaya Bersih Kali di Gunung Bang, Yogyakarta, Laporan Penelitian Jarahnitra, 1996, hal.90
49
ditransformasikan sebagai nilai yang dihayati dan dilaksanakan dalam konteks masyarakat budaya.59
Sistem kebudayaan terdiri atas nilai-nilai budaya berupa gagasan yang sangat berharga bagi proses kehidupan. Oleh karena itu, nilai budaya dapat menentukan karakteristik suatu lingkungan kebudayaan, dimana nlai tersebut dianut. Nilai budaya langsung atau tidak langsung akan diwarnai oleh tindakan masyarakatnya serta produk kebudayaan yang bersifat materil. Kebudayaan terdiri dari dua komponen pokok yaitu komponen isi dan komponen wujud. Komponen wujud dari kebudayaan terdiri dari siatem budaya berupa ide dan gagasan serta sistem sosial berupa tingkah laku dan tindakan. Adapun komponen isi terdiri dari tujuh unsur universal, yaitu bahasa, sistem teknologi, ekonomi, organisasi sosial, ilmu pengetahuan, agama, dan kesenian.
59 Koentjoroningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, Jakarta, Rineka Cipta, 1990, hal. 160