PENILAIAN WALKABILITY
UNTUK WILAYAH PERKOTAAN DI INDONESIA
Senjaya Setianto Universitas Katolik Parahyangan
Jln. Ciumbuleuit 94, Bandung Telp: (022) 2032655 [email protected]
Tri Basuki Joewono Universitas Katolik Parahyangan
Jln. Ciumbuleuit 94, Bandung Telp: (022) 2032655 [email protected]
Abstract
Walking is one of the most important mode in urban transportation. Increasing the quality of the experience of pedestrian (walkability) in specific area may encourage people to walk. This study has an aim to compare several methods of evaluating walkability and to do an analysis to obtain a proposed method of walkability evaluation for Indonesia. In this study, variables from 40 different methods were classified according to type of data, namely objective, subjective, qualitative, and quantitative. Analysis obtained 10 objective methods that combined qualitative and quantitative data. The selected methods can be proposed to be used in pedestrian facilities assessment as well as to be a basis for developing the pedestrian facilities design and planning guidelines in Indonesia.
Keywords: Walking, Pedestrian, Walkability, Walkability Assessment Methods, Urban Trasnportation
Abstrak
Berjalan kaki merupakan moda yang memiliki peranan penting terkait transportasi perkotaan.
Peningkatan kualitas pengalaman pejalan kaki (walkability) di suatu kawasan dapat mendorong orang untuk berjalan kaki. Studi ini bertujuan untuk membandingkan berbagai metode penilaian walkability dan melakukan analisis untuk mendapatkan metode penilaian walkability yang dapat diterapkan di Indonesia.
Dalam studi ini, variabel-variabel dari 40 metode penilaian walkability yang ada diklasifikasikan berdasarkan jenis datanya, yaitu obyektif, subyektif, kualitatif, dan kuantitatif. Hasil analisis mendapatkan 10 metode penilaian yang obyektif yang juga mengombinasikan data kualitatif dan kuantitatif. Metode terpilih tersebut dapat diusulkan untuk digunakan dalam penilaian fasilitas pejalan kaki maupun menjadi dasar pengembangan penyusunan pedoman pembangunan fasilitas pejalan kaki di Indonesia.
Kata-kata kunci: Berjalan kaki, Pejalan Kaki, Walkability, Metode penilaian walkability, Transportasi perkotaan
PENDAHULUAN
Berjalan kaki merupakan moda transportasi utama dan mendasar bagi hampir semua manusia. Namun fasilitas pejalan kaki di Indonesia masih minim dalam hal kualitas dan kuantitas serta diperburuk dengan perawatan yang tidak memadai.
Buruknya kualitas fasilitas berjalan kaki tersebut menjadikan masyarakat Indonesia lebih memilih untuk menggunakan kendaraan saat mencapai tujuan yang hanya berjarak 300 meter (Susantono, 2014). Bahkan separuh dari penduduk perkotaan lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi sebagai moda transportasi sehari-hari (Susantono, 2014). Ketiadaan maupun buruknya kualitas fasilitas pejalan kaki juga berdampak pada rendahnya penggunaan angkutan publik yang pada akhirnya berkontribusi pada semakin buruknya masalah kemacetan.
Dengan permasalahan kemacetan dan keterbatasan lahan perkotaan, pemerintah perlu memberikan perhatian yang lebih besar kepada pejalan kaki dibanding kendaraan
bermotor dalam mengurai permasalahan transportasi. Salah satu hal yang perlu disiapkan adalah penyediaan fasilitas pejalan kaki yang dapat menarik minat pengguna.
Fasilitas yang baik perlu didukung panduan pembangunan maupun panduan penilaian.
Salah satu panduan yang perlu dalam mendukung peningkatan kualitas fasilitas pejalan kaki adalah penerapan konsep walkability. Konsep walkability dapat digunakan sebagai orientasi perencanaan dan pembangunan di bidang transportasi (Lo, 2011). Walkability sendiri pada dasarnya merupakan indikator mengenai kelayakan suatu kawasan bagi pejalan kaki, dengan harapan meningkatkan kegiatan berjalan kaki masyarakat di kawasan tersebut (Nyagah, 2015). Litman (2014) mengemukakan bahwa dengan meningkatkan walkability dan kegiatan berjalan kaki di suatu kawasan maka akan menghasilkan manfaat yang signifikan bagi masyarakat di kawasan tersebut.
Persoalan walkability di Indonesia menjadi krusial karena regulasi terkait pejalan kaki di Indonesia, yaitu UU No 22 Tahun 2009 dan Peraturan Menteri PU No.
03/Prt/M/2014, memiliki fokus pada aspek fasilitas pejalan kaki dan bukan mengenai keseluruhan kawasan yang dilalui dan keseluruhan pengalaman yang dialami pejalan kaki yang dapat mendorong orang untuk berjalan kaki sebagai moda sehari-hari. Saat ini masih sangat sedikit pembahasan yang dilakukan tentang konsep dan metode penilaian walkability di Indonesia. Pada umumnya diskusi tentang walkability dikembangkan untuk kondisi di luar Indonesia. Hal ini memunculkan pertanyaan tentang kesesuaian untuk kondisi lokal di Indonesia. Tujuan dari studi ini adalah membandingkan berbagai metode penilaian walkability dan melakukan analisis untuk mendapatkan metode penilaian walkability yang dapat diterapkan di Indonesia.
KONSEP WALKABILITY
Perspektif saat menilai kegiatan berjalan kaki tidak terlepas dari definisi pejalan kaki yang beragam. Salah satu definisi menempatkan berjalan kaki sebagai suatu moda transportasi, sementara definisi yang lain menempatkan berjalan kaki hanya sebagai kegiatan olahraga ataupun rekreasi (Lo, 2011). Fasilitas pejalan kaki sendiri terdiri atas fasilitas utama seperti trotoar dan penyeberangan, fasilitas bagi penyandang disabilitas, fasilitas sementara pada areal konstruksi, dan fasilitas pendukung seperti rambu dan drainase (Pusat Penelitian dan Pengembangan Jalan dan Jembatan, 2013).
Walkability pun memiliki beragam definisi karena melibatkan berbagai disiplin ilmu, mulai dari rekayasa lalu-lintas, perencanaan transportasi, perancangan kota, sosial politik, kesehatan publik, hingga menyangkut hak penyandang disabilitas (Lo, 2011).
Namun, pada dasarnya walkability merupakan indikator mengenai kelayakan suatu kawasan bagi pejalan kaki (Nyagah, 2015). Istilah ini juga mencerminkan keseluruhan kondisi berjalan pada suatu daerah (Wibowo et al., 2015).
Beberapa manfaat dari peningkatan walkability diantaranya adalah peningkatan aksesibilitas terutama bagi mereka yang memiliki kekurangan maupun kebutuhan khusus terkait transportasi, penghematan biaya perjalanan, efisiensi penggunaan lahan melalui pengurangan jumlah lahan yang digunakan untuk jalan maupun fasilitas parkir, peningkatan kualitas kesehatan melalui kegiatan berjalan kaki, pengembangan ekonomi
METODE PENILAIAN WALKABILITY
Berbagai metode untuk menilai walkability telah dikembangkan dalam dua dekade terakhir. Antara satu metode dengan metode lainnya memiliki kesamaan dan perbedaan di berbagai aspek, terutama variabel yang dinilai. Hal tersebut dikarenakan rangkaian variabel yang dinilai maupun definisi walkability dari tiap metode ini dirancang berdasarkan disiplin ilmu yang dikedepankan maupun pemahaman akan ruang pejalan kaki tersebut (Lo, 2011). Ruang pejalan kaki, menurut Lo (2011), dapat dipandang sebagai ruang hampa, sebagai suatu pipa, sebagai jaringan, sebagai wadah pendanaan, sebagai suatu tempat, sebagai rute akses, sebagai fasilitas kesehatan, dan sebagai ruang komunal yang merdeka dan bebas.
Metode penilaian walkability umumnya memiliki dua pendekatan studi, yaitu subyektif dan obyektif (Nyagah, 2015). Data yang tersedia dapat diklasifikasikan lebih lanjut menjadi data kualitatif dan kuantitatif (Phillips, 1989). Menurut Nyagah (2015), pendekatan subyektif mengutamakan pengalaman berjalan kaki dari para individu pejalan kaki. Berbagai kelengkapan maupun karakteristik dari lingkungan di sekitar diukur secara subyektif dengan cara mengumpulkan persepsi responden terkait infrastruktur pejalan kaki. Namun pendekatan subyektif memiliki tingkat keandalan yang rendah ketika memperkirakan perilaku ketika berjalan kaki. Adapun pendekatan obyektif, masih menurut Nyagah (2015), yang umumnya mengevaluasi dampak dari ciri kota terhadap kegiatan berjalan kaki, tidak mengikutsertakan masukan maupun persepsi dari pejalan kaki sehingga tidak mampu menggambarkan beberapa karakteristik yang mempengaruhi persepsi pejalan kaki akan lingkungan berjalan kaki mereka. Oleh karena keterbatasan dari kedua pendekatan tersebut, maka beberapa studi mulai mengkombinasikan kedua pendekatan dalam satu studi.
Walaupun demikian, metode-metode penilaian walkability yang telah dikembangkan di berbagai negara maju tersebut tidak dapat diaplikasikan begitu saja di Indonesia dikarenakan metode-metode tersebut dikembangkan berdasarkan kondisi dan kebutuhan yang belum tentu sesuai dengan situasi di Indonesia. Hal ini berdampak pada tingkat keandalan maupun relevansinya. Hal ini diperjelas oleh Maghelal dan Capp (2011) yang menyatakan bahwa metode yang melibatkan pendekatan subyektif tidak dapat diaplikasikan begitu saja di luar kondisi dan lokasi studi aslinya. Sementara metode dengan pendekatan obyektif yang hanya melibatkan data kuantitatif tidak mampu memberikan hasil studi dengan pemahaman yang mendalam sehingga dibutuhkan pengkombinasian dengan data kualitatif yang memiliki parameter yang jelas sehingga meminimalisir unsur subyektifitas (Grosvenor, 2000).
Oleh karena itu, dari berbagai metode yang ada saat ini, hanya metode yang menggunakan pendekatan obyektif dan juga mengkombinasikan data kuantitatif- kualitatif yang dapat diaplikasikan dalam penilaian walkability di wilayah perkotaan Indonesia. Hal tersebut karena selain metode-metode tersebut dapat menilai walkability secara lebih komprehensif, juga tidak memerlukan banyak penyesuaian ketika digunakan di wilayah studi yang berbeda dengan wilayah studi aslinya (Maghelal dan Capp, 2011; Vale et al., 2016)
ANALISIS PERBANDINGAN
Penelitian dilakukan dengan melakukan tinjauan pustaka terhadap berbagai literatur yang berkaitan dengan kata kunci seperti walkability, walkability assessment, walking accessibility, dan pedestrian infrastructure assessment. Dari berbagai literatur yang telah ditinjau, variabel-variabel dari 40 metode dan studi yang didapat kemudian diklasifikasikan berdasarkan jenis datanya. Tabel 1 menyajikan hasil klasifikasi jenis data dari 40 metode yang dibahas. Analisis ini dilakukan dengan mengacu pada metode klasifikasi yang dikembangkan oleh Maghelal dan Capp (2011). Hasil studi Maghelal dan Capp menjadi landasan dalam studi ini karena merupakan penyempurnaan dari berbagai studi serupa yang telah ada sebelumnya, yaitu yang dilakukan oleh Moudon dan Lee (2003).
Dalam studi ini dilakukan pengklasifikasian data penilaian walkability dalam klasifikasi data obyektif, subyektif, kualitatif, dan kuantitatif. Hasil klasifikasi data disajikan dalam Tabel 1. Analisis menunjukkan bahwa sebagian besar metode penilaian walkability yang ada, yaitu sebanyak 23 metode, menggunakan pendekatan obyektif.
Namun dari 23 metode itu, hanya 10 metode yang memadukan data kualitatif dan kuantitatif.
Tabel 1 Klasifikasi Jenis Data
Jenis Data Yang Dinilai
No Metode Obyektif Subyektif Kualitatif Kuantitatif
1 Walking Permeability Indices (Allan, 2011) X - - X
2 Grade-separated Pedestrian Systems
(Bandara, 1994) X - - X
3 Walkability Index (Bradshaw, 1993) X X X X
4 Pedestrian Performance Measures (Dixon,
1996) X - X X
5 Walkability Checklist (DOT, 2003) - X X -
6 Florida Pedestrian Level of Service (FDOT,
2009) X - - X
7 Pedestrian Level of Service (Fort Collins,
1996) X X X X
8 Qualitative Level of Service (Khisty, 1944) - X X -
9 Pedestrian Infrastructure Prioritization
Decision System (Moudon, 2001) X - - X
10 Pedestrian Location Identifier 1 (Moudon,
2001) X - - X
11 Pedestrian Location Identifier 2 (Moudon,
2001) X - - X
12 Pedestrian Deficiency Index (Portland,
1998) X - - X
13 Pedestrian Environmental Factors
(Portland, 1993) X - X X
14 Pedestrian Potential Index (Portland, 1998) X - - X
15 Pedestrian Level of Service (Gallin WA-
LOS, 2001) X X X X
Jenis Data Yang Dinilai
No Metode Obyektif Subyektif Kualitatif Kuantitatif
18 Level of Service (Highway Manual, 1997) X - - X
19 Neighborhood Environment Walkability
Scale (Saelens et al., 2003) X X X X
20 Walkability Index (Frank et al., 2005) X - - X
21 Built Environment Index for Walking
(Rodriguez et al., 2005) X - - X
22 Walkability Index (McCormack et al.,
2006) X - - X
23 Level of Service Indicator (Kim et al.,
2006) - X X -
24 Active Neighborhood Checklist (Hoehner
et al., 2006) X X X X
25 Global Walkability Index (Krambeck,
2006) X X X X
26 Pedestrian Infrastructure (Shah, 2008) X X X X
27 Systematic Pedestrian and Cycling
Environmental Scan (Pikora et al., 2002) X - X X
28 WABSA Project Walking Suitability
Assessment Form (Emery et al., 2003) X X X X
29 St. Louis University Analytic Audit Tool
(Brownsonet al., 2004) X - X X
30 The Irvine-Minnesota Inventory (Boarnet
et al., 2006) X - X X
31 Pedestrian Environmental Data Scan
(Clifton et al., 2007) X - X X
32 Walkability and Pedestrian Facilities in
Asian Cities (Leather et al., 2011) X X X X
33 Walkability Assessment Tool
(Philadelphia et al., 2010) - X X -
34 HPE's Walkability Index (Hall, 2010) X - X X
35 Pedestrian Environmental Quality Index
(SFDPH, 2008) X X X X
36 Walkability Audit of North Adams,
Massachusetts (Eidmann et al., 2011) X X X X
37 Walkability Measures for City Area in
Indonesia (Wibowo et al., 2015) X - X X
38 Walkability and Bikeability (Horacek et
al., 2012) X - X X
39 Walkability Checklist (WalkSanDiego,
2011) X X X X
40 Neighbourhood Walkability Checklist
(Heart Foundation, 2011) X - X X
Variabel-variabel dalam metode yang memiliki pendekatan obyektif dan memadukan data kualitatif-kuantitatif kemudian diklasifikasi kembali berdasarkan variabel penilaiannya (Tabel 2). Dari hasil analisis, trotoar dan persimpangan merupakan variabel penilaian walkability yang paling mendasar, karena terdapat dalam kesepuluh metode tersebut. Variabel penilaian terkait kendaraan (tujuh metode), kenyamanan (tujuh metode), keamanan (enam metode), jalan (enam metode), keragaman penggunaan lahan (enam metode), dan pemisahan lateral (empat metode) merupakan variabel penilaian opsional, disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi
wilayah studi. Sementara variabel jarak dan pemisahan lateral merupakan variabel penilaian walkability yang masing-masing hanya terdapat di satu metode, sehingga bukan merupakan variabel penilaian walkability yang umum dan mendasar. Hasil analisis tersebut dapat digunakan dalam pengembangan metode penilaian walkability di Indonesia.
Selain itu, kesepuluh metode penilaian walkability yang terdapat di Tabel 2 dapat memberikan pemahaman tidak hanya mengenai kondisi bangunan fisik fasilitas pejalan kaki, namun juga persepsi pejalan kaki secara terbatas yang merupakan bagian dari walkability. Metode-metode tersebut juga tidak membutuhkan banyak penyesuaian ketika diaplikasikan di luar wilayah studi aslinya. Beberapa penyesuaian yang dilakukan sebatas konversi satuan atau penetapan parameter lebih lanjut terkait data kualitatif.
Berdasarkan hasil analisis tersebut, maka kesepuluh metode penilaian walkability dapat diusulkan dalam penilaian fasilitas pejalan kaki maupun pengembangan penyusunan pedoman pembangunan fasilitas pejalan kaki di Indonesia.
KESIMPULAN
Segala perencanaan dan kebijakan terkait pejalan kaki terutama di ranah transportasi sudah seharusnya mulai menempatkan pejalan kaki itu sendiri sebagai prioritas utama. Konsep walkability yang telah dikembangkan dalam dua dekade terakhir dapat dijadikan kerangka acuan dalam meningkatkan kegiatan berjalan kaki dan memecahkan berbagai permasalahan transportasi di Indonesia. Melalui peningkatan walkability dan kegiatan berjalan kaki, suatu kawasan dapat berkembang baik secara ekonomi maupun sosial sehingga mampu memberi dampak positif yang signifikan untuk jangka panjang.
Saat ini di Indonesia belum tersedia metode penilaian yang dapat digunakan untuk keperluan menyediakan panduan pembangunan fasilitas pejalan kaki maupun panduan penilaian. Berdasarkan literatur dari 40 metode yang telah ada di berbagai negara, maka studi ini melakukan analisis untuk mendapatkan metode yang dapat diusulkan untuk digunakan di Indonesia.
Sepuluh metode yang didapat dari studi ini dapat menjadi alternatif sementara untuk diaplikasikan di wilayah perkotaan di Indonesia karena menggunakan pendekatan obyektif dan memadukan jenis data kualitatif dengan data kuantitatif, sehingga hanya memerlukan sedikit penyesuaian. Namun, di masa datang masih dibutuhkan metode- metode penilaian walkability yang dikembangkan berdasarkan kondisi dan kebutuhan di Indonesia sehingga mampu memberi dampak yang optimal.
No Metode
Rancangan Kepadat-
an Demo- grafik
Keragam- an Peng- gunaan
Lahan
Kualitas
Jarak Trotoar Jalan Persim- pangan
Kenda- raan
Pemi- sahan Lateral
Keamanan Kenyamanan
1 Dixon, 1996 - X X X X X - X - -
2 Portland, 1993 (PEF) - X X X - - - - - -
3 Pikora et al., 2002 - X X X X - - X X X
4 Brownsonet al., 2004 - X X X X X X X - X
5 Boarnet et al., 2006 - X X X X X - X X X
6 Clifton et al., 2007 - X X X X X - X X X
7 Hall, 2010 - X - X X - - X - -
8 Wibowo et al., 2015 X X - X X - - - X X
9 Horacek et al., 2012 - X - X - - - - X X
10 Heart Foundation, 2011 - X - X - - - - X X
DAFTAR PUSTAKA
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.
Boarnet, M. G., Kristen Day, Mariela Alfonzo, Ann Forsyth, dan Michael Oakes. 2006.
The Irvine-Minnesota Inventory to Measure Built Environment: Reliability Tests.
American Journal of Preventive Medicine. 30 (2): 153-159.
Brownson, Ross C., Christine M. Hoehner, Laura K. Brennan, Rebeka A. Cook, Michael B. Elliott, dan Kathleen M. Mcmullen. 2004. Reliability of Two Instruments for Auditing the Environment for Physical Activity. Journal of Physical Activity and Health. 1: 189-207.
City of Philadelphia. 2010. Philadelphia2035: Planning and Zoning for a Healthier City. Philadelphia: Philadelphia Department of Public Health
City of Portland. 1993. The Pedestrian Environment Volume 4A. Portland: 1000 Friends of Oregon Making the Land Use Transportation Air Quality Connection.
City of San Fransisco. 2008. Pedestrian Environmental Quality Index. San Fransisco:
San Fransisco Department of Public Health.
Clifton, K. J., A. D. Livi Smith, dan Daniel Rodriguez. 2007. The Development and Testing of an Audit for the Pedestrian Environment. Landscape and Urban Planning. 80 (1-2): 95-110.
Dannenberg, A. L., T. W. Cramer, dan C. J. Gibson. 2005. Assessing the walkability of the workplace: A new audit tool. American Journal of Health Promotion 20: 39- 44.
Direktorat Jenderal Penataan Ruang. 2014, Makalah Presentasi Kebijakan Penataan Ruang Perkotaan. Semarang, 5 Juni 2014.
Eidmann, J., Alex Long, Clara Noomah, dan Emily Ury. 2011. A Walkability Study of North Adams, Massachusetts. Pittsfield: Berkshire Regional Planning Commision.
Emery, J., dan Crump, C. 2003. The WABSA Project: Assessing and Improving your Community’s Walkability and Bikeability. Chapel Hill: The University of North Carolina at Chapel Hill.
Frank, L. D., Michael J. Greenwald, Sarah Kavage, dan Andrew Delvin. 2011. An Assessment of Urban Form and Pedestrian and Transit Improvements as an Integrated GHG Reduction Strategy. Washington: Washington State Department of Transportation.
Grosvenor, Tim. 2000. Qualitative Research in the Transport Sector. TRB Transportation Research Circular E-C008: Transport Surveys: Raising the Standard.
Harahap, F. R.. 2013. Dampak Urbanisasi Bagi Perkembangan Kota di Indonesia.
Jurnal Society, I (1): 35-45. Bangka: Jurusan Sosiologi Universitas Bangka Belitung.
Hall, R. A. 2010. HPE’s Walkability Index – Quantifying the Pedestrian Experience.
ITE 2010 Technical Conference and Exhibit Compendium of Technical Papers.
Heart Foundation. 2011. Neighbourhood Walkability Checklist. (Online).
(http://www.heartfoundation.org.au/images/uploads/publications/Neighbourhood
Phillips, dan C. Byrd-Bredbenner. 2012. Sneakers and Spokes: An Assessment of The Walkability and Bikeability of US Postsecondary Institutions. Journal of Environmental Health. 74: 8-15.
Krambeck, H. V. 2006. The Global Walkability Index. Master of City Planning and Master of Science in Transportation Thesis. Cambridge: Massachusetts Institute of Technology.
Leather, J., Herbert Fabian, Sudhir Gota, dan Alvin Meija. 2011. Walkability and Pedestrian Facilities in Asian Cities. Metro Manilla: ADB Sustainable Development Working Paper Series.
Litman, T. A. 2014. Economic Value of Walkability. Victoria Transport Policy Institute.
Maghelal, P. K., dan Capp, C. J. Walkability: A Review of Existing Pedestrian Indices.
URISA Journal. 23: 5-19.
Nyagah, Peris. 2015. A Multi-~Procedural Approach to Evaluating Walkability and Pedestrian Safety. UNLV Theses, Dissertations, Professional Papers, and Capstones. Paper 2568. Nevada: University of Nevada, Las Vegas.
Pemerintah Republik Indonesia. 2007. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang. Jakarta.
Pemerintah Republik Indonesia. 2009. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas Angkutan Jalan. Jakarta.
Pemerintah Republik Indonesia. 2014. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor:
03/Prt/M/2014 Tentang Pedoman Perencanaan, Penyediaan, Dan Pemanfaatan Prasarana Dan Sarana Jaringan Pejalan Kaki Di Kawasan Perkotaan. Jakarta:
Kementerian Pekerjaan Umum.
Perone, J. S. dan Tucker, Lisa. 2003. An exploration of triangulation of methodologies:
Quantitative and Qualitative methodology fusion in an investigation of perceptions of transit safety. Tampa: Center for Urban Transportation Research.
Phillips, D. C. 1989. Subjectivity and Objectivity: an Objective Inquiry. Qualitative inquiry in education: The continuing debate. (19-37)
Pikora, T.J., F. C. Bull, Konrad Jamrozik, Matthew Knuiman, Billie Giles-Corti, dan R.
J. Donovan. 2002. Developing a Reliable Audit Instrument to Measure the Physical Environment for Physical Activity. American Journal of Preventive Medicine. 23 (3): 187-194.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Jalan dan Jembatan. 2011. Penyusunan Naskah Ilmiah Fasilitas Pejalan Kaki. Bandung.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Jalan dan Jembatan. 2013. Rancangan Pedoman Perencanaan Teknis Fasilitas Pejalan Kaki. Bandung.
PWA (Partnership for a Walkable America). 2001. Walkability Checlist and Bikeability
Checklist. (Online).
(http://www.pedbikeinfo.org/cms/downloads/walkability_checklist.pdf, diakses 29 Juli 2016)
Tanan, N. dan Suprayoga, G. B. 2015. Fasilitas Pejalan Kaki Dalam Mendukung Program Pengembangan Kota Hijau. Jurnal HPJI. 1: 17-28.
Singh, K. dan Jain, P. K. 2011. Methods of Assessing Pedestrian Quality of Service.
Journal of Engineering Research and Studies. 2 (1): 116-124.
State of Florida. 2009. Quality/Level of Service Handbook. Florida: State of Florida Department of Transportation.
Susantono, Bambang. 2013. Transportasi & Investasi. Jakarta: Kompas Media Nusantara.
Susantono, Bambang. 2014. Revolusi Transportasi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Vale, D. S., Miguel Saraiva, dan Mauro Pereira. 2016. Active Accessibility: A Review of Operational Measures of Walking and Cycling Accessibility. The Journal of Transport and Land Use. 9 (1): 209-235.
WalkSanDiego. 2011. Walkability Guide. (Online).
(https://d3n8a8pro7vhmx.cloudfront.net/circulatesd/pages/240/attachments/origi nal/1444429273/WalkabiltyGuide-
English_Revised_December_2011.pdf?1444429273, diakses 29 Juli 2016).
Wibowo, S. S., Natalia Tanan, dan Nuryani Tinumbia. 2015. Walkability Measures for City Area in Indonesia (Case Study of Bandung. Journal of The Eastern Asia Society for Transportation Studies. 11: 1507-1521.