• Tidak ada hasil yang ditemukan

Persepsi Pasien Skizofrenia Tentang Perawatan Diri di Rumah Sakit Jiwa Prof dr M Ildrem Medan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Persepsi Pasien Skizofrenia Tentang Perawatan Diri di Rumah Sakit Jiwa Prof dr M Ildrem Medan"

Copied!
74
0
0

Teks penuh

(1)

Persepsi Pasien Skizofrenia Tentang Perawatan Diri di Rumah Sakit Jiwa Prof dr M Ildrem Medan

SKRIPSI

Oleh

Epi Susanti Siahaan 141101052

FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2018

(2)
(3)
(4)

PRAKATA

Dengan mengucap puji dan syukur atas berkat rahmat allah SWT yang telah menyertai penulis dalam menyelesaikan skripsi ini yang berjudul “Persepsi Pasien Skizofrenia Tentang Perawatan Diri di Rumah Sakit Jiwa Prof dr M Ildrem Medan”.

Penulisan skripsi ini merupakan salah satu kegiatan dalam menyelesaikan tugas akhir di Program Studi Ilmu Keperawatan, Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara.

Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada Bapak Setiawan, S.Kp.,MNS., Ph.D selaku Dekan Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara. Ibu Sri Eka Wahyuni, S.Kep., Ns., M.Kep selaku Wakil Dekan 1 serta seluruh staf dan dosen pengajar Fakutas Keperawatan Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan kesempatan dan fasilitas kepada penulis untuk menyelesaikan Studi Jenjang Sarjana Keperawatan.

Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada Ibu Roxsana Devi Tumanggor, S.Kep.,Ns., M.NURS selaku dosen pembimbing yang sudah meluangkan waktu untuk membimbing penulis dalam penulisan skripsi ini, memberikan arahan dan masukan yang sangat berharga sehingga skripsi ini dapat diselesaikan tepat waktu.

Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada Bapak Abdul Siahaan dan Ibu Diana B.Manalu selaku orang tua saya, Liana B.Manalu selaku mak tua saya, Ammar Siahaan SE selaku abang saya, dan adik-adiksaya Pajar Siahaan, Marsa Siahaan dan Marudut Siahaaan, dan Amsal Hidayat selaku sahabat saya dan serta keluarga besar saya yang selalu memberi dukungan, semangat, perhatian dan doa

(5)

yang tidak ada henti hentinya selama ini kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

Penulis juga tidak lupa untuk mengucapkan terimakasih kepada teman sedoping saya dan teman-temanseangkatan 2014 yang telah memberikan dorongan dan bantuan kepada penulis.

Semoga allah SWT memberikan berkat dan rahmatnya kepada semua pihak yang telah banyak membantu penulis. Harapan penulis semoga skripsi ini dapat bermamfaat demi kemajuan ilmu pengetahuan Khusunya profesi keperawatan.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih ada kekurangan,oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kesempurnaan skripsi ini. Akhir kata penulis berharap semoga skripsi ini bermamfaat bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya.

Medan, Juli 2018 Penulis

(Epi Susanti Siahaan) 141101052

(6)

Daftar Isi

Halaman

Halaman judul………. i

Halaman persetujuan... ii

Daftar isi……….. iii

Bab 1. Pendahuluan ……… 1

1. Latar Belakang ………. 1

2. Rumusan Masalah ……… 5

3. Tujuan Penelitian………... 6

4. Manfaat Penelitian ……… 6

Bab 2. Tinjuan Pustaka ……… 7

2.1 KonsepPersepsi……….. 7

1. Pengertian……… 7

2. Faktor-faktor……… 8

2.2 KonsepSkizofrenia……… 9

1. Pengertian……….. 9

2. Epidiomologi……… 10

3. Etiologi ……… 11

4. Perjalanaan penyakit ... 12

5. Tipe-tipeSkizofrenia……… 13

2.3 Defisit Perawatan Diri pada Pasien Skizofrenia……… 14

1. Definisi ……… 14

2. Etiologi……….. 15

3. Proses TerjadinyaMasalah ………. 16

4. TandadanGejala………... 16

5. Jenis-jenis defisit perawatan diri………….. 17

6. Brief Psychiatric Rating Scale ... 18

Bab 3. Kerangka Penelitian ……….. 20

1. Kerangka penelitian ……….. 20

2. Definisi Operasional ………. 21

Bab 4. Metodologi Penelitian ………... 23

1. DesainPenelitian……….. 23

2. Populasi, Sampel……….. 23

3. Teknik Sampling………... 24

4. Tempat dan Waktu Penelitian ……….. 24

5. Pertimbangan etik……….. 25

6. Instrument penelitian ……… 26

7. Validitas dan Reliabilitas Instrumen………. 28

(7)

9. Analisa data ………... 30

Bab 5. Hasil Penelitian dan Pembahasan ... 31

1. Hasil penelitian ... 31

2. Pembahasan ... 35

Bab 6. Kesimpulan dan Saran ... 41

1. Kesimpulan ... 41

2. Saran... 41

Daftar Pustaka ... 42 Lampiran 1. Jadwal Tentatif Penelitian

Lampiran 2. Inform Consent Lampiran 3. Instrumen Penelitian Lampiran 4. Taksasi Dana

Lampiran 5. Surat Izin Penelitian Lampiran 6. Surat Komisi Etik Lampiran 7. Hasil Uji Validitas Lampiran 8. Hasil Uji Reabilitas Lampiran 9. Hasil Uji Penelitian Lampiran 10. Lembar Buti Bimbingan Lampiran 11. Riwayat Hidup

Lampiran 12. Master Data

(8)

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Definisi Operasional ... 21

Tabel 2. Distribusi Frekuensi Karaktristik responden ... 31

Tabel 3.Distribusifrekuensi Berdasarkan BPRS... 33

Tabel 4.Distribusi frekuensiPersepsi pasien Perawatan Diri mandi... 33

Tabel 5.Distribusi Frekuensi Persepsi Pasien Perawatan Diri Berpakaian... 34

Tabel 6.Distribusi Frekuensi Persepsi Pasien Perawatan Diri Makan... 34

Tabel 7. Distribusi Frekuensi Persepsi Pasien Perawatan Diri Toileting... 35

(9)
(10)

Judul penelitian : Persepsi Pasien Skizofrenia Tentang Perawatan Diri di Rumah Sakit Jiwa Prof dr M Ildrem

Nama :Epi Susanti Siahaan

Nim :141101052

Fakultas/Jurusan : Keperawatan/ Ilmu Keperawatan Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK

Perawatan diri merupakan salah satu aspek penting bagi orang dengan skizofrenia.

Bagi penderita skizofrenia, perawatan diri merupakan masalah yang sering di hadapi mereka. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana persepsi pasien Skizofrenia tentang perawatan diri di Rumah Sakit Jiwa Prof dr M Ildrem Medan.Penelitian ini bersifat deskriptif dengan teknik Accidental Sampling.

Populasi dalam penelitian ini adalah pasien skizofrenia yang rawat jalan, jumlah populasi pada tahun 2016 pada bulan Januari-April sebanyak 3.653orang, pengambilan sampel dengan menggunakan rumus Slovin, sampel dalam penelitian ini adalah 98 orang responden. pengumpulan data dilakukan dengan dua cara yaitu sekunder dan primer. Sekunder yang dilakukan dengan cara melihat status pasien dan primer dilakukan dengan cara wawancara terhadap responden. Pengumpulan data BPRS dilakukan dengan cara mewawancarai pasien skizofrenia. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Sakit Jiwa Prof dr M Ildrem Medan pada tanggal 27 April- 21 Mei 2018. Berdasarkan analisis univariat, dari hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi pasien skizofrenia tentang perawatan diri mandi, berpakaian, makan, dan toileting di Rumah Sakit Jiwa Prof dr M Ildrem Medan(Poli Klinik) tahun 2018 di kategorikan 100% Baik dan memiliki kemandirian untuk melakukan perawatan diri tanpa bantuan orang lain/ keluarga di rumah dan hasil BPRS menunjukkan nilai yang rendah yaitu memiliki nilai <40.

Kata Kunci:Persepsi pasien Skizofrenia, Perawatan Diri

(11)

1

BAB I PENDAHULUAN 1.Latar Belakang Masalah

Pada era globalisasi seperti sekarang ini banyak permasalahan sosial yang muncul dalam masyarakat, diantaranya disebabkan oleh faktor politik, sosial budaya serta krisis ekonomi yang tidak kunjung usai. Hal ini akan semakin memicu berbagai gangguan kejiwaan dimasyarakat, dari gangguan jiwa yang ringan hingga gangguan jiwa yang berat (Pusat Penelitian dan Pengembangan Departemen Kesehatan 2007/Puslitbang Depkes, 2007).

Setiap perubahan situasi kehidupan baik positif maupun negatifdapat mempengaruhi keseimbangan fisik, mental, dan psikososial sepertibencana dan konflik yang dialami sehingga berdampak sangat besarterhadap kesehatan jiwa seseorang yang berarti akan meningkatkan jumlahpasien gangguan jiwa.

Skizofreniamerupakan manifestasi dari bentukpenyimpangan perilaku akibat adanya distorsi emosi sehingga ditemukanketidakwajaran dalam bertingkah laku.

Hal ini terjadi karena menurunyasemua fungsi kejiwaan. Skizofreniaadalah gangguan dalam cara berfikir(cognitive), kemauan (volition), emosi (affevtive), tindakan (psychomotor)(Keliat, 2011).Pasien skizofrenia kronis pada umumnya tidakmampumelaksanakan fungsi dasar secara mandiri, misalnya kebersihandiri, penampilan dan sosialisasi. Pasien skizofrenia mengalami kemudurandalam fungsi psikososialnya. Mereka mengalami penurunan kemampuanuntuk bergerak dan berkomunikasi dengan orang lain, serta tidak mampumenghadapi realitas.

Salah satu bentuk gangguan kejiwaan yang memiliki tingkat keparahanyang tinggi adalah skizofrenia, dimana hingga saat ini penanganannya

(12)

Belum memuaskan. Hal ini terutama terjadi di negara-negara yang sedang berkembang karena ketidaktahuan keluarga maupun masyarakat terhadap jenis gangguan jiwa ini (Hawari, 2003).Skizofrenia mempunyai faktor penyebab diantaranya faktor biologis, genetika, dan faktor psikososial.Penyebab faktor biologis skizofrenia tidak diketahui. Tetapi dalam dekade yang lalu semakin banyak penelitian telah melibatkan peranan patofisiologis untuk daerah tertentu di otak, termasuk sistem limbic, korteks frontalis, dan ganglia basalis. Ketiga daerah tersebut saling berhubungan sehingga disfungsi pada salah satu daerah mungkin melibatkan patologi primer lainnya (Kaplan & Sadock, 2010). Sedangkan faktor genetik skizofrenia adalah ketidakseimbangan neurotransmitter, kerusakan struktural otak yang disebabkan oleh infeksi virus prenatal atau kecelakaan dalam proses persalinan, dan stressor psikologis Barlow & Durand (2007).Skizofrenia merupakan gangguan jiwa yang paling banyak terjadi, gejalanya ditandai dengan adanya distorsi realita, disorganisasi kepribadian yang parah, serta ketidak mampuan individu berinteraksi dengan kehidupan sehari-hari, hampir 1%

penduduk dunia mengalami skizofrenia dalam hidup mereka dan penderita terbanyak pada usia 15-35 tahun. Dari 1000 orang dewasa 7 diantaranya mengalami skizofrenia (Elvira & Hadisukanto, 2010). Menurut World Health Organisasion (2016), terdapat sekitar 35 juta orang terkena depresi, 60 juta orang terkena bipolar, 21 juta orangterkena skizofrenia, serta 47,5 juta terkena dimensia. Gangguan jiwa yangmenjadi salah satu masalah utama dinegara-negara berkembang adalahskizofrenia termasuk jenis psikosis yang menempati urutan atas dari seluruh gangguan jiwa yang ada (Nuraenah, 2012). Menurut NationalInstitute of Mental

(13)

Health (NIMH), skizofrenia mencapai 13% daripenyakit secara keseluruhan dan

diperkirakan akan berkembang menjadi25% ditahun 2030. Kejadian tersebut akan memberikan andilmeningkatnya prevalensi skizofrenia dari tahun ke tahun diberbagainegara. Skizofrenia menyerang siapa saja. Data APA (2014) menyebutkan1% populasi penduduk dunia menderita skizofrenia. 75%

penderitaskizofrenia mulai mengidapnya usia 16-25 tahun, Usia remaja dan dewasamuda paling beresiko karena tahap ini, kehidupan manusia penuh denganberbagai tekanan (stresor) (Sawono, 2010).

Skizofrenia merupakan gangguan jiwa atau gangguan otak kronis yang mempengaruhi individu sepanjang kehidupanya yang salah satunya ditandai dengan kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari. Berdasarkan Riset Kesehatan Jiwa (2013) jumlah pasien skizofrenia diIndonesia terus bertambah, terdapat 14,1

% penduduk Indonesia mengalami skizofreniamulai dari yang ringan hingga berat.

Trihono (2011) mengatakan, dari temuan dilapangan terlihat prevalensi penderita skizofrenia berat sebanyak 1,7/1000 orang.

Pemeliharaan kebersihan diri berarti tindakan memeliharakebersihan dan kesehatan diri seseorang untuk kesejahteraan fisik danpsikisnya. Seseorang dikatakan memiliki kebersihan diri baik apabilaorang tersebut dapat menjaga kebersihan tubuhnya yang meliputi kebersihan kulit, tangan dan kuku dan kebersihan genetalia. Menurut Thomas (2013) defisit perawatan diri merupakan salah satu gejala yang sering ditemukan pada pasien dengan skizofrenia, dimana defisit perawatan diri sering diidentikan dengan gangguan jiwa, 70% diantaranya

(14)

mengalami defisit perawatan diri, (Hardiyah, 2010). Salah satu gangguan yang dialami pasien dengan skizofrenia adalah kurangnya perawatan diri atau defisit personal hygiene. Menurut Anggriana T.W (2010), personal hygiene adalah

perawatan diri dimana sesorang merawat fungsi-fungsi tertentu seperti mandi, toileting, kebersihan tubuh secara umum dan berhias. Kurangnya perawatan diri

pada pasien skizofrenia terjadi akibat adanya perubahan proses pikir sehingga kemampuan untuk melakukan aktivitas perawatan diri menurun, kurang perawatan diri ketidakmampuan merawat kebersihan diri, makan secara mandiri, berhias diri secara mandiri, dan toileting ( Keliat dan Akemat, 2010 ). Pasien yang mengalami skizofrenia seringkali kurang memperdulikan perawatan diri. Dalam teori Orem mengemukakan mengenai perawatan diri, yang merupakan aktivitas dan inisiatif dari individu itu sendiri dalam memenuhi serta mempertahankan kehidupan kesehatan serta kesejahteraan. Apabila seseorang mengalami kelemahankemampuan dalam melakukan atau melengkapi aktivitas perawatan dirisecara mandiri seperti mandi (hygiene), berpakaian atau berhias, makan,BAB dan BAK (toileting).Defisit perawatan diri merupakan suatu kondisi pada seseorang yang mengalami kelemahan kemampuan dalam melakukan atau melengkapi aktivitas perawatan diri secara mandiri, seperti mandi (hygiene), berpakaian/berhias, makan, dan BAB/BAK (toileting) (Fitria, 2009).

Salah satu aspek penting dalam pelaksanaan rehabilitasi pada klien dengan skizofrenia adalah memulihkan kemampuan klien dalam perawatan diri.Sebuah penelitian melaporkan bahwa upaya perawatan diri yang adekuat sangat dibutuhkan bagi klien yang mengalami gangguan jiwa untuk memenuhi keinginan

(15)

mereka dalam mencapai kehidupan yang adekuat (Moore&Pichler,1999). Masalah kurangnya perawatan diri pada klien skizofrenia ini menjadi lebih kompleks lagi bila dikaitkan dengan besarnya stigmayang melekat kuat pada individu dengan gangguan jiwa. Katchnig(2000) menegaskan bahwa klien dengan gangguan jiwa umumnya tidak menyukai stigma yang melekat di dirinya, sehingga menurunkan minat untuk meminta bantuan dari profesional untuk meningkatkan kemampuannya dalam melakukan kegiatan sehari-hari termasuk perawatan diri. Oleh karena itu, personal hygiene sangat perluditerapkan mengingat banyak manfaat yang ada untuk

mencegah segalapenyakit yang bisa ditimbulkan.

Berdasarkan fenomena di atas,maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian terkait dengan Persepsi Pasien Skizofrenia tentang Perawatan diri di Rumah Sakit jiwa prof dr M Ildrem Medan.

2.Rumusan Masalah

Berdasarkan data yang telah ditemukan pada latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana Persepsi Pasien Skizofrenia tentang Perawatan diri di Rumah Sakit jiwa prof dr M Ildrem Medan.

3. Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian ini yakni untuk mengetahui bagaimana Persepsi Pasien Skizofrenia tentang Perawatan diri di Rumah Sakit jiwa prof dr M Ildrem Medan.

4. Manfaat Penelitian 4.1. Bagi Peneliti

(16)

Dapat menambah dan meningkatkan wawasan, pengetahuan, keterampilan dalam mengumpulkan, mengelola, menganalisa serta menginformasikan data temuan tentangPersepsi Pasien Skizofrenia tentang Perawatan diri di rumah Sakit jiwa prof dr M Ildrem Medan.

4.2. Bagi Institusi Rumah Sakit

Sebagai masukan dan informasi bagi perawat pelaksana di unit pelayanan keperawatan jiwa dalam rangka mengambil kebijakan untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan khususnya pada klien yang mengalami gangguan skizofrenia tentang perawatan diri.

4.3.Bagi Institusi Pendidikan Keperawatan

Sebagai sumber informasi dan bahan acuan dalam kegiatan proses belajar mengajar tentang persepsi pasien tentang perawatan diri di rumah sakit dalam meningkatkan mutu pendidikan yang akan datang di bidang keperawatan.

(17)

7

BAB II Tinjauan Pustaka 2.1 Konsep Persepsi

2.1.1 Definisi

Ada banyak ahli yang mendefinisikan persepsi. Sunaryo (2013) mendefinisikan persepsi sebagai proses akhir pengamatan suatu objek yang di awali oleh proses pengindraan, yaitu proses diterimanya stimulus oleh alat indra, kemudian individu ada perhatian, lalu diteruskan keotak, dankemudian individu menyadari dan dapat mengerti tentang lingkungan yang ada disekitarnya maupun tentang hal yang ada didalam diri individu yang bersangkutan.

Menurut Sugihartono,dkk (2007) persepsi adalah kemampuan otak dalam menerjemahkan stimulus atau proses untuk menerjemahkan stimulus yang masuk ke dalam alat indera manusia. Persepsi manusia terdapat perbedaan sudut pandang dalam penginderaan. Ada yang mempersepsikan sesuatu itu baik atau persepsi yang positif maupun persepsi negatif yang akan mempengaruhi tindakan manusia yang tampak atau nyata.

Berdasarkan hal tersebut,perasaan, kemampuan berfikir, pengalaman- pengalaman yang dimiliki individu tidak sama, maka dalam mempersepsi sesuatu stimulus, hasil persepsi mungkin akan berbeda antar individu satudengan individu lain. Setiap orang mempunyai kecenderungan dalam melihat benda yang sama dengan cara yang berbeda-beda.Perbedaan tersebut bisa dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya adalah pengetahuan, pengalaman dan sudut pandangnya.

Persepsi juga bertautan dengan cara pandang seseorang terhadap suatu objek tertentu dengan cara yang berbeda-beda dengan menggunakan alat indera yang

(18)

dimiliki, kemudian berusaha untuk menafsirkannya. Persepsi baik positif maupun negatif ibarat file yang sudah tersimpan rapi di dalam alam pikiran bawah sadar kita. File itu akan segera muncul ketika ada stimulus yang memicunya, ada kejadian yang membukanya. Persepsi merupakan hasil kerja otak dalam memahami atau menilai suatu hal yang terjadi di sekitarnya (Waidi, 2006).

2.1.2 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Persepsi

Menurut Sobur (2003), beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi yakni : (1) faktor fungsional persepsi, (2) faktor struktural persepsi, (3) faktor situasi persepsi (4) faktor personal persepsi. (1) faktor fungsional persepsi adalah faktor yang timbul dari orang yang mempersepsi kebutuhan, sikap (suara hati), kepentingan, pengalaman dan tahapan dalam mempengaruhi tanggapan seseorang terhadap sesuatu. (2) faktor struktural persepsi yaitu faktor yang muncul dari apa yang akan dipersepsi, misalnya hal-hal baru seperti gerakan,tindak-tanduk dan ciri- ciri yang tidak biasa akan turut juga dalam menentukan persepsi orang yang melihatnya. (3) faktor situasi persepsi merupakan faktor yang muncul sehubungan karena situasi pada waktu mempersepsi sebagai contoh orang yang memakai pakaian renang di tempat yang tidak ada hubungannya dengan olahraga renang tentunya akan mempengaruhi persepsi yang dilihatnya. (4) sementara itu, faktor personal persepsi meliputi: pengalaman, motivasi, kepribadian.

2.2 Konsep Skizofrenia 2.2.1 Definisi

Menurut Faisal (2008) Skizofrenia adalah kepribadian yang terpecah antara pikiran, perasaan, dan perilaku. Dalam artian apa yang dilakukan tidak sesuai

(19)

dengan pikiran dan perasaanya serta mengalami gangguan emosional.Skizofrenia adalah suatu gangguan jiwa berat yang ditandai dengan penurunan atau ketidakmampuan berkomunikasi, gangguan realitas (halusinasi atau waham), afek tidak wajar atau tumpul, gangguan kognitif (tidak mampu berpikir abstrak) serta mengalami kesukaran melakukan aktivitas sehari- hari (Keliat, 2011).Skizofrenia adalah penyakit otak neurobiologikal yang serius dan menetap, ditandai dengan kognitif dan persepsi secara efek yang tidak wajar (Laraia, 2009). Penyakit ini bersifat kronik dan melalui 3 fase, yaitu fase prodromal, fase aktif, dan fase residual.

Fase prodromal dimulai dengan perubahan perasaan dan mood, fase aktif biasanya disebut dengan psikosis yaitu munculnya gejala halusinasi, delusi dan ilusi (Sadock

& Sadock, 2010). Skizofrenia bisa menyerang siapa saja tanpa memandang jenis kelamin, ras, maupun tingkat sosial ekonomi (Maramis,2005). Skizofrenia dikarakteristikkan dengan gejala psikosis, halusinasi, delusi, disorganisasi pembicaraan dan perilaku, afek datar, penurunan kognitif, ketidakmampuan bekerja atau kegiatan dan hubungan sosial yang memburuk (Bustilo, 2008).

2.2.2 Epidemiologi

Skizofrenia dapat ditemukan pada semua kelompok masyarakat dan di berbagai daerah. Insiden dan tingkat prevalensi sepanjang hidup secara kasar hampir sama di seluruh dunia. Gangguan ini mengenai hampir 1% populasi dewasa dan biasanya onsetnya pada usia remaja akhir atau awal masa dewasa. Pada laki-laki biasanya gangguan ini mulai pada usia lebih muda yaitu 15-25 tahun sedangkan pada perempuan lebih lambat yaitu sekitar 25-35 tahun. Insiden skizofrenia lebih tinggi pada laki-laki daripada perempuan dan lebih besar di daerah urban dibandingkan

(20)

daerah rural (Sadock, 2010). Pasien skizofrenia berisiko meningkatkan risiko penyalahgunaan zat, terutama ketergantungan nikotin. Hampir 90% pasien mengalami ketergantungan nikotin. Pasien skizofrenia juga berisiko untuk bunuh diri dan perilaku menyerang. Bunuh diri merupakan penyebab kematian pasien skizofrenia yang terbanyak, hampir 10% dari pasien skizofrenia yang melakukan bunuh diri (Kazadi, 2008).

Menurut Howard & Murray (1993) di seluruh dunia prevalensi seumur hidup skizofrenia kira-kira sama antara laki-laki dan perempuan diperkirakan sekitar 0,2%-1,5%. Meskipun ada beberapa ketidaksepakatan tentang distribusi skizofrenia di antara laki-laki dan perempuan, perbedaan di antara kedua jenis kelamin dalam hal umur dan onset-nya jelas. Onset untuk perempuan lebih rendah dibandingkan laki-laki, yaitu sampai umur 36 tahun, yang perbandingan risiko onsetnya menjadi terbalik, sehingga lebih banyak perempuan yang mengalami skizofrenia pada usia yang lebih lanjut bila dibandingkan dengan laki-laki (Durand& Barlow, 2007).

2.2.3 Etiologi

Terdapat beberapa pendekatan yang dominan dalam menganalisa penyebab Skizofrenia, antara lain : (1) Faktor Genetik, (2) Faktor Biokimia, (3) Faktor Psikologis dan Sosial. (1) Menurut Maramis (1995), faktor keturunan juga menentukan timbulnya skizofrenia. Hal ini telah dibuktikan dengan penelitian tentang keluarga-keluarga penderita skizofrenia terutama anak-anak kembar satu telur. Angka kesakitan bagi saudara tiri ialah 0,9 - 1,8%; bagi saudara kandung 7 – 15%; bagi anak dengan salah satu orangtua yang menderita skizofrenia 7 – 16%;

bila kedua orangtua menderita skizofrenia 40 – 68%; bagi kembar dua telur

(21)

(heterozigot) 2 -15%; bagi kembar satu telur (monozigot) 61 – 86%. Skizofrenia melibatkan lebih dari satu gen, sebuah fenomena yang disebut quantitative traitloci.

Skizofrenia yang paling sering kita lihat mungkin disebabkan oleh beberapa gen yang berlokasi di tempat-tempat yang berbeda di seluruh kromosom. Ini juga mengklarifikasikan mengapa ada gradasi tingkat keparahan pada orang-orang yang mengalami gangguan ini (dari ringan sampai berat) dan mengapa risiko untuk mengalami skizofrenia semakin tinggi dengan semakin banyaknya jumlah anggota keluarga yang memiliki penyakit ini (Durand & Barlow, 2007), (2) Skizofrenia mungkin berasal dari ketidakseimbangan kimiawi otak yang disebut neurotransmitter, yaitu kimiawi otak yang memungkinkan neuron-neuron berkomunikasi satu sama lain. Beberapa ahli mengatakan bahwa skizofrenia berasal dari aktivitas neurotransmitter dopamine yang berlebihan di bagian-bagian tertentu otak atau dikarenakan sensitivitas yang abnormal terhadap dopamine. Banyak ahli yang berpendapat bahwa aktivitas dopamine yang berlebihan saja tidak cukup untuk skizofrenia. Beberapa neurotransmitter lain seperti serotonin dan norepinephrine tampaknya juga memainkan peranan (Durand &Barlow, 2007). (3)

Faktor psikososial meliputi adanya kerawanan herediter yang semakin lama semakin kuat, adanya trauma yang bersifat kejiwaan, adanya hubungan orang tua- anak yang patogenik, serta interaksi yang patogenik dalam keluarga (Wiraminaradja & Sutardjo, 2005). Banyak penelitian yang mempelajari bagaimana interaksi dalam keluarga mempengaruhi penderita skizofrenia. Sebagai contoh, istilah schizophregenic mother kadang-kadang digunakan untuk mendeskripsikan tentang ibu yang memiliki sifat dingin, dominan, dan penolak,

(22)

yang diperkirakan menjadi penyebab skizofrenia pada anak-anaknya (Durand &

Barlow, 2007).Menurut Maramis (2005), keluarga pada masa kanak-kanak memegang peranan penting dalam pembentukan kepribadian. Orangtua terkadang bertindak terlalu banyak untuk anak dan tidak memberi kesempatan anak untuk berkembang, ada kalanya orangtua bertindak terlalu sedikit dan tidak merangsang anak, atau tidak memberi bimbingan dan anjuran yang dibutuhkannya.

2.2.4 Perjalanan Penyakit

Perjalanan penyakit skizofrenia sangat bervariasi pada tiap-tiap individu.

Perjalanan klinis skizofrenia berlangsung secara perlahan-lahan, meliputi beberapa fase yang dimulai dari keadaan premorbid, prodromal, fase aktif dan keadaan residual (Sadock, 2003; Buchanan, 2005). Pola gejala premorbid merupakan tanda pertama penyakit skizofrenia, walaupun gejala yang ada dikenali hanya secara retrospektif. Karakteristik gejala skizofrenia yang dimulai pada masa remaja akhir atau permulaan masa dewasa akan diikuti dengan perkembangan gejala prodromal yang berlangsung beberapa hari sampai beberapa bulan. Tanda dan gejala prodromal skizofrenia dapat berupa cemas, gundah (gelisah), merasa diteror atau depresi. Penelitian retrospektif terhadap pasien dengan skizofrenia menyatakan bahwa sebagian penderita mengeluhkan gejala somatik, seperti nyeri kepala, nyeri punggung dan otot, kelemahan dan masalah pencernaan (Sadock, 2003).

Fase aktif skizofrenia ditandai dengan gangguan jiwa yang nyata secara klinis, yaitu adanya kekacauan dalam pikiran, perasaan dan perilaku. Penilaian pasien skizofrenia terhadap realita terganggu dan pemahaman diri (tilikan) buruk sampai tidak ada. Fase residual ditandai dengan menghilangnya beberapa gejala

(23)

klinis skizofrenia. Yang tinggal hanya satu atau dua gejala sisa yang tidak terlalu nyata secara klinis, yaitu dapat berupa penarikan diri (withdrawal) dan perilaku aneh (Buchanan, 2005).

2.2.5 Tipe-tipe Skizofrenia

Menurut American Psychiatric Association (2000),tipe-tipe Skizofrenia dibagi menjadi 5 yaitu: (1) Tipe Paranoid, (2) Tipe Terdisorganisasi, (3) Tipe Katatonik, (4) Tipe tidak Tergolongkan, (5) Tipe Residual. (1) Tipe Paranoid yaitu, suatu tipe Skizofrenia yang memeiliki kriteria yaitu preokupasi dengan satu atau lebih waham atau halusinasi dengar yang menonjol: bicara terdisorganisasi, prilaku terdisorganisasi atau katatonik, atau efek datar yang tidak sesuai, (2) Tipe terdisorganisasi yaitu suatu tipe Skizofrenia yang memiliki kriteria semua seperti berikut yang menonjol ini: bicara terdisorganisasi, perilaku terdisorganisasi dan afek datar yang tidak sesuai serta tidak memenuhi kriteria untuk tipe katatonik, (3) tipe katatonik yaitu suatu tipe skizofrenia dimana gambaran klinis didominasi oleh sekurangnya dua seperti hal-hal berikut ini: (a) imobilisasi motorik seperti yang ditunjukkan oleh katalepsi (termasuk fleksibilitas lilin) atau stupor, (b) aktifitas motorik yang berlebihan (yang tampaknya tidak bertujuan dan tidak dipengaruhi oleh stimulus eksternal), (c) negativisme yang ekstrem atau mutisme (d) ekolalia atau ekopraksia, (4) tipe tidak tergolongkan yaitu suatu tipe Skizofrenia dimana ditemukan gejala yang memenuhi kriteria A tetapi tidak memenuhi kriteria untuk tipe katatonik, terdisorganisasi, atau paranoid, (5) tipe residual yaitu suatu tipe skizofrenia dimana kriteria berikut ini terpenuhi: tidak adanya waham, halusinasi, bicara terdisorganisasi, dan perilaku katatonik terdisorganisasi atau katatonik yang

(24)

menonjol serta terdapat terus bukti- bukti gangguan seperti yang ditunjukkan oleh gejala negatif dua atau lebih gejala yang tertulis dalam kriteria A untuk Skizofrenia yang lebih lemah (misalnya, keyakinan yang aneh, pengalaman persepsi yang tidak lazim).

2.3 Defisit Perawatan Diri pada Pasien Skizorenia 2.3.2 Definisi

Perawatan diri adalah salah satu kemampuan dasar manusia dalam memenuhi kebutuhannya guna memepertahankan kehidupannya, kesehatan dan kesejahteraan sesuai dengan kondisi kesehatannya, klien dinyatakan terganggu keperawatan dirinya jika tidak dapat melakukan perawatan diri (Departemen Kesehatan /Depkes, 2010).

Defisit perawatan diri merupakan salah satu masalah timbul pada pasien gangguan jiwa. Pasien gangguan Jiwa kronis sering mengalami ketidakpedulian merawat diri. Keadaan ini merupakan gejala perilaku negatif dan menyebabkan pasiendikucilkan baik dalam keluarga maupun masyarakat (Yusuf, Rizky

&Hanik,2015). Defisit perawatan diri adalah suatu keadaan seseorangmengalami kelainan dalam kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas kehidupan sehari –hari secara mandiri. Tidak ada keinginan untuk mandi secara teratur, tidak menyisir rambut, pakaian kotor, bau badan, bau napas, dan penampilan tidak rapi. Defisit perawatan diria dalah ketidakmampuan dalam:

kebersihan diri, makan, berpakaian, berhias diri, makan sendiri, buang air besar atau kecil sendiri (toileting) (Keliat, dkk, 2011).

(25)

2.3.3 Etiologi

Menurut Tarwoto dan Wartonah (2000), penyebab kurang perawatan diri yakni kelelahan fisik dan penurunan kesadaran. Sedangkan Menurut Depkes (2010), penyebab kurang perawatan diri sebagai berikut: (1) Faktor presdiposisi antara lain : (a) perkembangan yaitu keluarga terlalu melindungi dan memanjakan klien sehinggaperkembangan inisiatif terganggu, (b) biologis yaitu penyakit kronis yang menyebabkan klien tidak mampu melakukan perawatan diri,(c) Kemampuan realitas turun yaitu klien dengan gangguan jiwa dengan kemampuan realitas yang kurang menyebabkan ketidakpedulian dirinya dan lingkungan termasuk perawatan diri, (d) Sosial yaitu kurang dukungan dan latihan kemampuan perawatan diri lingkungannya. Situasi lingkungan mempengaruhi latihan kemampuan dalam perawatan diri. (Mukhripah & Iskandar, 2012), (2)faktor presipitasi yaitu merupakan faktor presipitasi defisit perawatan diri adalah kurang penurunan motivasi, kerusakan kognisi atau perseptual, cemas, lelah/lemah yang dialami individu sehingga menyebabkan individu kurang mampu melakukan perawatan diri (Mukhripah & Iskandar, 2012).

2.3.4 Proses terjadinya Masalah

Kurangnya perawatan diri pada pasien dengan gangguan jiwa terjadi akibat adanya perubahan proses pikir sehingga kemampuan untuk melakukan aktivitas perawatan diri menurun. Kurang perawatan diri tampak dari ketidakmampuan merawat kebersihan diri, makan secara mandiri, berhias diri secara mandiri, dan toileting buang air besar (BAB) atau buang air kecil (BAK) secara mandiri (Yusuf, Rizky & Hanik,2015).

(26)

2.3.5 Tanda dan Gejala

Adapun tanda dan gejala defisit perawatan diri menurut Fitria (2009) antara sebagai berikut: (1) Mandi/hygiene : klien mengalami ketidakmampuan dalam membersihkan badan, memperoleh atau mendapatkan sumber air, mengatur suhu atau aliran air mandi, mendapatkan perlengkapan mandi, mengeringkan tubuh, serta masuk dan keluar kamar mandi, (2) Berpakaian/berhias : klien mempunyai kelemahan dalam meletakkan atau mengambil potongan pakaian, menanggalkan pakaian, serta memperoleh atau menukar pakaian. Klien juga memiliki ketidakmampuan untuk mengenakan pakaian dalam, memilih. pakaian, meggunakan alat tambahan, mengguakan kancig tarik, melepaskan pakaian, menggunakan kaos kaki,mempertahankan penampilan pada tingkat yang memuaskan, mengambil pakaian dan mengenakan sepatu, (3) Makan : klien mempunyai ketidakmampuan dalam menelan makanan, mempersiapkan makanan, menangani perkakas, mengunyah makanan, meggunakan alat tambahan, mendapat makanan, membuka container, memanipulasi makanan dalam mulut, mengambil makanan dari wadah lalu memasukannya ke mulut, melengkapi makan, mencerna makanan menurut cara diterima masyarakat, mengambil cangkir atau gelas, serta mencerna cukup makanandengan aman, (4) Eliminasi : klien memiliki keterbatasan atau ketidakmampuan dalam mendapatkan jamban atau kamar kecil, duduk atau bangkit dari jamban, memanipulasi pakaian untuk toileting,membersihkan diri setelah BAB/BAK dengan tepat, dan menyiram toilet atau kamar kecil (Damaiyanti, Mukhripah, & Iskandar, 2012).

(27)

2.3.6 Jenis-jenis Defisit Perawatan Diri

Adapun jenis-jenis Perawatan Diri anatara lain yaitu : (1) Kurang perawatan diri : Mandi / kebersihan. Kurang perawatan diri (mandi) adalah gangguan kemampuan untuk melakukan aktivitas mandi/kebersihan diri, (2) Kurang perawatan diri : Berpakaian. Kurang perawatan diri (mengenakan pakaian) adalah gangguan kemampuan memakai pakaian dan aktivitas berdandan sendiri, (3) Kurang perawatan diri : Makan. Kurang perawatan diri (makan) adalah gangguan kemampuan untuk menunjukkan aktivitas makan, (4) Kurang perawatan diri : Toileting. Kurang perawatan diri (toileting) adalah gangguan kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas toileting sendiri (Nurjannah, 2004).

2.4 Brief Psychiatric Rating Scale

Pemulihan atau kesembuhan klien skizofrenia dapat dipantau dengan berbagai alat ukur. Salah satu alat ukur untuk menilai perkembangan pemulihan atau kesembuhan pada pasien skizofrenia. skizofrenia adalah menggunakanalat ukur BPRS (Brief Psychiatric Rating Scale)yaitu skala penilaian psikiatrik yang terdiri dari 18 item dengan skala likert. Alat ukur ini telah digunakan secara luas dan divalidasi sehingga instrumen ini dapat digunakan untuk memantaukemajuan pengobatan harian penderita psikosis yang di rawat inap sehingga memudahkan penatalaksanaan penderita, terutama dalam hal penentuan saat rehabilitasi dan kapan penderita diperbolehkan pulang atau berobat jalan (Sukarto, 2002). BPRS mengukur tingkat keparahan gejala pada pasien gangguan jiwa, khususnya Skizofrenia, dimana skor kurang dari 40 dikategorikan gejala tidak parah, sehingga

(28)

dapat dilakukan intervensi (Leucht, Kane, Kissling, Haman, Etschel, & Engel, 2005). Dalam penelitian ini, BPRS digunakan untuk menyaring potensi pasien sebagai responden dengan mengukur kondisi responden berdasarkan gejala psikotik mereka.BPRS merupakan instrumen yang dikembangkan oleh Overall dan Gorham pada tahun 1962. Dengan instrumen ini, pemeriksa dapat mengetahui derajat berat ringannya psikosis. Instrumen ini telah lazim digunakan diluar negeri, terutama untuk memantau kemajuan pengobatan dan berbagai penelitian khasiat obat terhadap gangguan psikotik, serta dapat pula untuk menilai adanya gangguan afektif atau timbulnya psikosis (Sweinger, 1983).Apabila BPRS dapat digunakan untuk mengetahui timbulnya psikosis, maka sebaliknya diharapkan dapat pula digunakan untuk mengetahui hilangnya atau terbebasnya penderita dari tanda dan gejala psikosis.BPRS dikembangkan untuk memberikan teknik penilaian yang cepat terhadap evaluasi perubahan pasien dengan gejala psikotik. Instrumen ini sangat efisien untuk digunakan dalam menilai pengobatan perubahan pada pasien kejiwaan terutama dengan gejala psikotik, sementara pada saat yang sama BPRS dapat menghasilkan deskripsi komprehensif pada karakteristik gejala utama. Alatukur ini digunakan karena ringkas, efisiensi, cepat karena hanya membutuhkan waktu 10 hingga 20 menit dan ekonomis karena prosedur evaluasi lebih rinci (Leutch,Kane, Kissling, Haman, Etschel, & Engel, 2005).

(29)

19

BAB III

KERANGKA KONSEP 3.1.Kerangka Konsep

Berdasarkan landasan yang telah diuraikan dalam tinjuan pustaka maka kerangka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Persepsi Pasien Skizofrenia tentang Perawatan diri di Rumah Sakit Jiwa Medan. Dapat dilihat pada skema.

3.1 Kerangka penelitian

Persepsi pasien Skizofrenia tentang perawatan diri meliputi : Mandi : (skor : 16 – 24 baik), (skor : 6-15 buruk)

Berpakaian : (skor :16-24 baik), (skor : 6-15 buruk) Makan : (skor : 21-32 baik), (skor : 8-20 buruk) Toileting : (skor : 11-16 baik) , (skor : 4-10 buruk)

-

(30)

3.2. Definisi Operasional Table 3.2 Definisi Operasional

Penelitian ini terdiri dari Satu variabel, yaitu variabel persepsi pasien Skizofrenia tentang perawatan diri yang akan dijelaskan pada table 3.2

Variabel Definisi Operasional Cara ukur Hasil ukur Skala ukur Persepsi pasien

Skizofrenia tentang

perawatan diri:

a. Mandi

b. Berpakaian

c. Makan

d. Toileting

Kemampuan untuk melakukan atau memenuhi aktivitas mandi.

Kemampuan untuk memenuhi aktivitas berpakaian lengkap dan berhias diri.

Kemampuan untuk memenuhi atau mencukupi aktivitas makan.

Kemampuan untuk melakukan atau melengkapi kegiatan eliminasi.

Kuesioner

Baik : 16 – 24 Buruk : 6 - 15 Baik : 16-24 Buruk : 6-15

Baik : 21-32 Buruk : 8-20

Baik : 11-16 Buruk : 4-10

Ordinal

(31)

21

BAB IV

METODOLOGI PENELITIAN 4.1 Desain Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif, yaitu suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk memberikan gambaran atau deskripsi tentang suatu keadaan objektif (Notoatmojo,2012).

4.2 Populasi, Sampel, dan Teknik Sampling 4.2.1 Populasi

Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti (Notoadmodjo,2012).Pada bulan Januari sampai April 2016 kunjungan rawat jalan terdapat sebanyak 3.653 orang penderita Skizofrenia.

4.2.2 Sampel

Sampel merupakan objek yang di teliti dan dianggap mewakili seluruh populasi(Notoadmodjo, 2012). Sampel dalam penelitian ini adalah pasien skizofrenia yang dirawat jalan di RS Jiwa Prof. Dr M. Ildrem Medan dengan kriteria inklusi sebagai berikut: 1) Usia 15-60 Tahun, 2.) Bisa berbahasa Indonesia, 3.) Bersedia ikut serta dalam penelitian, dan 4.) Memiliki nilai BPRS <40.

Rumus besar sampel sebagai berikut rumus Slovin:

n= 𝑁

1 + 𝑁(𝑑)2

n= Besar Sampel N= Besar Populasi

d= Derajat ketepatan yang digunakan ( 10%= 0,1) Perhitungan besar Sampel

(32)

n= 𝑁

1+𝑁(𝑑)2

n= 3.653

1+3.653 (0,1)2

n= 3.653

1+3.653 (0,01)

n= 3.653

1+36,53

n= 3.653

37,53

= 97,33 digenapkan 98 orang sampel 4.2.3 Teknik Sampling

Pengambilan sampel pada penelitian ini dilakukan dengan teknik Accidental sampling, merupakan sebuah teknik yang digunakan untuk pengambilan berdasarkan kebetulan, artinya siapapun orangnya yang bertemu dengan peneliti dapat dijadikan sebagai sampel dengan catatan bahwa peneliti melihat orang tersebut layak digunakan sebagai sumber, Sugiyono (2015), dan Memberikan kesempatan yang sama kepada setiap anggota yang ada didalam populasi untuk dijadikan sampel.

4.3 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini sudah dilakukan di Rumah Sakit Prof Dr M Ildrem Medan dengan pasien Skizofrenia yang dirawat jalan pada bulan Apri-Mei 2018. Rumah sakit ini di pilih sebagai tempat penelitian karena banyak pasien gangguan jiwa di Rumah Sakit tersebut.

4.4 Pertimbangan etik

Penelitian ini sudah dilakukan dan peneliti sudah mendapatkan rekomendasi dari program studi Ilmu Keperawatan, Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera

(33)

Rumah Sakit Jiwa Medan. Setelah mendapatkan izin dari Rumah Sakit Jiwa Medan, peneliti melakukan pengumpulan data dengan memberikan lembar persetujuan(informed consent) kepada responden yang akan diteliti. Sebelum responden mengisi dan menandatangani lembar persetujuan, peneliti menjelaskan maksud, tujuan dan prosedur penelitian. Peneliti menanyakan kesedian responden untuk berpartisifasi dalam penelitian dengan menandatangani lembar persetuan tersebut.

Untuk menjaga kerahasian responden, peneliti tidak mencantumkan nama lengkap tetapi hanya mencantumkan inisial nama responden atau hanya kode di lembar kuesioner. Kerahasian responden dijamin oleh peneliti dan hanya kelompok data tertentu saja yang akan dilaporkan sebagai hasil penelitian.

Perinsip etik yang di penuhi adalah sebagai berikut( Potter & Perry, 2010):

(1) Autonomy, komitmen terhadap responden dalam mengambil keputusan tentang penelitian. Persetujuan yang di baca dan ditanda tangani responden sebelum sebelum penelitian menggambarkan penghargaan terhadap otonomi. Persetujuan yang ditandatangani merupakan jaminan bahwa peneliti telah mendapatkan persetujuan dari responden sebelum penelitian dilakukan; (2) Beneficence, melakukan niat baik; peneliti ini merupakan kegiatan positif untuk membantu responden; (3) Nonmaleficence, tidak mencederai orang lain; penelitian ini tidak berbahaya sehingga tidak akan mencederai responden; (4) Fidelity, kesetian;

persetujuan untuk menepati janji; (5) Justice, prinsip ini merujuk kepada keadilan,;

dalam melakukan penelitian, peneliti melakukanya dengan cara yang sama kepada responden.

(34)

4.5 Instrumen penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner. Kuesioner yang digunakan dibuat oleh peneliti sendiri yang merupakan kuesioner perawatan diri berdasarkan teori. Kuesioner dalam penelitian ini ada tiga, yaitu: kuesioner pertama yakni alat skrining untuk menseleksi sampel penelitian dengan menggunakan Brief PsychiatricRating Scale (BPRS) dimana nilai BPRS harus dibawah dari <40 untuk dijadikan responden dan melakukan wawancara langsung kepada calon responden, kuesioner skor BPRS diadopsi dari Overall dan Gorham (1962) dalam bahasa Inggris kemudian dibantu oleh ibu Roxsana Devi Tumanggor untuk menerjemahkan kedalam bahasa Indonesia, bentuk instrumen ini adalah dalam bentuk skala penilaian psikiatrik yang terdiri dari 18 item yang terdiri dari keparahan simptom positif dan simptom negatif pada pasien gangguan psikotik, termasuk gangguan berfikir, emotional withdrawel, retardasi, ansietas dan depresi, sifat permusuhan dan kecurigaan, dengan menggunakan skala likert (0) tidak dinilai, (1) tidak ada, (2) sangat ringan, (3) ringan, (4) sedang, (5) agak berat, (6) berat, (7) sangat berat. Hasil penelitian terhadap keseluruhan responden di ukur dengan skala ordinal. Setelah seleksi pasien, maka sampel kemudian diberikan instrumen kedua dan ketiga yakni kuesioner Data Demografi (KDD) dan kuesioner Perawatan Diri (KPD). Kuesioner data demografi digunakan untuk mengkaji data demografi responden yang meliputi nama (inisial), umur, jenis kelamin, pendidikan dan agama. Kuesioner persepsi pasien Skizofrenia tentang Perawatan Diri meliputi Perawatan Diri mandi, berpakaian, makan, dan toileting.

(35)

Kuesioner ini digunakan untuk melihat persepsi pasien Skizofrenia tentang perawatan diri. Kuesioner ini terdiri dari 24 pernyataan negatif dan positifyang dibagi menjadi mandi (1-6), berpakaian (7-12), makan (13-20), toileting (21- 24).Kuesioner ini berpedoman pada Skala Likert dengan pilihan jawaban yang tersedia di kuesioner yaitu:Sangat tidak setuju diberi (skor 4), Tidak setuju diberi (skor 3), Setuju diberi (skor 2), dan Sangat setuju diberi (skor 1). Hasil dari jawaban kuesioner ini akan di kelompokkan menjadi persepsi pasien Skizofrenia tentang perawatan diri seperti:

Berdasarkan rumus statistik p = 𝑟𝑒𝑛𝑡𝑎𝑛𝑔

𝑏𝑎𝑛𝑦𝑎𝑘 𝑘𝑒𝑙𝑎𝑠

Maka dapat dikategorikan tingkat persepsi sebagai berikut:

Skor 16-24, dikategorikan sebagai persepsi mandi yang baik Skor 6-15, dikategorikan sebagai persepsi mandi yang buruk Skor 16-24, dikategorikan sebagai persepsi berpakaian yang baik Skor 6-15, dikategorikan sebagai persepsi berpakaian yang buruk Skor 21-32, dikategorikan sebagai persepsi makan yang baik Skor 8-20, dikategorikan sebagai persepsi makan yang buruk Skor 11-16, dikategorikan sebagai persepsi toileting yang baik Skor 4-10, dikategorikan sebagai persepsi toileting yang buruk

(36)

4.6 Validitas dan Reliabilitas Instrumen 4.6.1 Validitas

Suatu ukuran yang menunjukkan suatu instrumen benar-benar dapat dijadikan alat untuk mengukur apa yang akan diukur dan instrumen dianggap valid (Setiadi, 2007). Uji validitas pada penelitian ini sudah dilakukan oleh peneliti menggunakan metode validitas isi yaitu dengan menguji instrumen yang mengacu pada isi dan telah di validitaskan oleh ibu Sri Eka Wahyuni, S.kep., Ns., M.kep, selaku dosen keperawatan jiwa di Departemen Komunitas Jiwa Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara. Menurut Polit & Beck (2012) suatu alat ukur dianggap valid jika content validity index (CVI) >0,6.

4.6.2 Reliabilitas Instrumen

Setelah dilakukan uji validitas kemudian dilanjutkan dengan uji reliabilitas.

Uji reliabilitas ialah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukuran dapat dipercaya dan sejauh mana hasil pengukuran tetap konsisten bila dilakukan dua kali atau lebih dengan menggunakan alat ukur yang sama (Notoatmodjo, 2010).

Instrumen penelitian ini berbentuk kuesioner perawatan diri dan lembar wawancara BPRS. Uji reliabilitas dilakukan untuk menguji konsisten responden dalam merespon instrumen. Dalam penelitian ini sudah dilakukan uji reliabilitas pada 30orang responden yang berbeda dari responden penelitian dengan karakteristik yang sama. Uji reliabilitas ini dilakukan di Rumah Sakit Jiwa Prof Dr M Ildrem Medan. Pengujian reliabilitas dalam penelitian ini dilakukan dengan internal consistency yaitu melakukan uji coba satu kali saja, kemudian hasil yang diperoleh dengan teknik tertentu. Uji reliabilitas sudah dilakukan menggunakan program

(37)

komputerisasi yaitu analisis cronbach alpha jika nilai apha >0.7 artinya reliabilitas mencukupi(sufficientreliability) sementara jika nilai alpha > 0.80 ini mensugestikan seluruh item reliabel dan seluruh tes secara konsisten memiliki reliabilitas yang kuat. Hasil uji reliabilitas diperoleh 0,802 sehingga dapat disimpulkan kuesioner dalam penelitian ini sudah reliabel.

4.7 Pengumpulan Data

Pengumpulan data sudah dilakukan di Rumah Sakit Jiwa Prof. Dr M Ildrem Medan selama bulan April-Mei 2018. Proses-proses dalam pengumpulan data dalam penelitian ini melalui beberpa tahap. Pengumpulan data dilakukn setelah peneliti menerima surat izin pelaksanaan penelitian dari institusi pendidikan Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara dan surat izin dari lokasi penelitian. Selanjutnya menentukan responden sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan sebelumnya, cara pengambilan sampel dilakukan dengan menskrining pasien terlebih dahulu untuk kemungkinan pasien yang akan di jadikan sebagai responden dengan menggunakan BPRS,dalam menilai skor BPRSini dilakukan pemeriksaan menggunakan lembar wawancara langsung kepada penderita saat penderita atau responden sedang dilakukan penilaian skor BPRS, responden dapat dijadikan sampel jika nilai BPRS <40. Setelah didapat pasien untuk menjadi responden maka peneliti menjelaskan waktu, tujuan, manfaat,dan prosedur pelaksanaan penelitian kepada calon responden dan yang bersedia berpartisipasi diminta untuk menandatangani surat persetujuan sebagai responden/informed consent. Responden diminta mengisi kuesioner yang diberikan oleh peneliti.

Selama pengisian kuesioner responden diberi kesempatan untuk bertanya pada

(38)

peneliti bila ada pertanyaan yang tidak dipahami. Selanjutnya data yang diperoleh dikumpulkan untuk dianalisa.

4.8 Analisa Data

Setelah data semua terkumpul, maka dilakukan pengolahan data melalui beberapa tahapan. Tahapan pertamaediting, yaitu mengecek nomor responden, kelengkapan (semua pertanyaan sudah terisi) sesuai petunjuk. Tahap kedua coding yaitu melakukan peng”kodean” yaitu memberi kode atau angka tertentu pada kuesioner untuk mempermudah peneliti saat memasukkan data (data entry). Tahap yang ketiga processing, yaitu memasukkan jawaban-jawaban dari masing-masing responden yang sudah diberi kode kedalam program atau software komputer. Tahap keempat adalah cleaning, yaitu mengecek kembali untuk melihat kemungkinan- kemungkinan adanya kesalahan-kesalahan kode, ketidaklengkapan, dan sebagainya, kemudian dilakukan pembetulan atau koreksi (Notoatmodjo, 2010).

Analisa data yang digunakan untuk instrument penelitian adalah analisis univariat yang bertujuan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan setiap variabel penelitian.

Hasil analisa data penelitian disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan persentase.

(39)

29

BAB V

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini akan diuraikan hasil penelitian dan pembahasan mengenai Persepsi Pasien Skizofrenia tentang Perwatan Diri di Rumah Sakit Jiw Prof Dr. M Ildrem Medan. Pengumpulan data penelitian dilakulan mulai dari tanggal 27 April- Mei 2018 di Rumah Sakit Jiwa Prof Dr. M Ildrem Medan. Jumlah sampel yang di dapat sebagai responden sebanyak 98 responden.

5.1. Hasil Penelitian

5.1.1. Karakteristik Responden

Hasil dari penelitian dapat diketahui krakteristik responden pasien Skizofreni yang dilihat berdasarkan jenis kelamin Laki-laki 53 orang(54,1%), Perempun 45 orang (45,9). Dilihat dari usia remaja akhir 24 orang (24,5%), dewasa awal 31 orang (31,6), dewasa akhir akhir 25 orang (25,5%),Lansia Awal 14 orang (14,3%), Lansia Akhir 4orang (4,1%). Dilihat dari pendidikan SD 7 orang (7,1%), SMP 30 orang (30,6%), SMA 58 orang (59,2%), Sarjana 2 orang (2,0%), Tidak Sekolah 1 orang (1,0%), dan dilihat berdasarkan agama Islam 48 orang (49,0%), Kristen 50 orang (51,0%),dapat dilihat pada tabel berikut:

(40)

Tabel 5.1.1 Distribusi Frekuensi Karkteristik Responden (pasien)

Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Total

Usia

17-25(Remja Akhir) 26-35(Dewasa Awal) 36-45(Dewasa Akhir) 46-55(Lansia Awal) 56-65(Lansia Akhir) Total

Pendidikan SD

SMP SMA SARJANA Tidak Sekolah Total

Agama Islam Kristen Total

53 45 98

24 31 25 14 4 98

7 30 58 2 1 98

48 50 98

54,1 45,9 100,0

24,5 31,6 25,5 14,3 4,1 100,0

7,1 30,6 59,2 2,0 1,0 100,0

49,0 51,0 100,0 Karakteristik Responden Frekuensi Persentase(%)

(41)

5.1.2 Persepsi Pasien Skizofrenia Tentang Perawatan Diri di Rumah Sakit Jiwa Prof dr M Ildrem Medan (Poli Klinik)

Tabel 1. Distribusi frekuensi Persepsi pasien tentang Perawatan Diri mandi

Persepsi pasien tentang perawatan diri mandi

Frekuensi Persentase(%)

Baik Buruk Total

98 0 98

100,0 0 100,0

Berdasarkan Tabel 1. Diketahui seluruh responden mengalami perawatan diri Mandi kategori Baik, yaitu 98 orang (100,0%). Disimpulkan bahwa mayoritas persepsi psien Skizofreni tentang Perawatan diri mandi di Instalasi rawat jalan di Poli Klinik Rumaah Sakit Jiwa Prof Dr M Ildrem Medan adalah baik.

Tabel 2. Distribusi Frekuensi Persepsi Pasien Tentang Perawatan Diri Berpakaian

Persepsi pasien tentang perawatan diri Berpakaian

Frekuensi Persentase(%)

Baik Buruk Total

98 0 98

100,0 0 100,0

Berdasarkan Tabel 2. Diketahui seluruh responden mengalami perawatan diri Berpkaian kategori Baik, yaitu 98 orang (100,0%). Disimpulkan bahwa mayoritas persepsi psien Skizofreni tentang perawatan diri Berpakaian di Instalasi rawat jalan di Poli Klinik Rumaah Sakit Jiwa Prof Dr M Ildrem Medan adalah baik.

(42)

Tabel 3. Distribusi Frekuensi Persepsi Pasien Tentang Perawatan Diri Makan Persepsi pasien tentang

Perawatan diri Berpakaian

Frekuensi Persentase(%)

Baik Buruk

Total

98 0 98

100,0 0 100,0

Berdasarkan Tabel 3. Diketahui seluruh responden mengalami perawatan diri Makan kategori Baik, yaitu 98 orang (100,0%). Disimpulkan bahwa mayoritas persepsi psien Skizofreni tentang perawatan diri Makan di Instalasi rawat jalan di Poli Klinik Rumaah Sakit Jiwa Prof Dr M Ildrem Medan adalah baik.

Tabel 4. Distribusi Frekuensi Persepsi Pasien Tentang Perawatan Diri Toileting

Persepsi pasien tentang Perawatan diri Toileting

Frekuensi Persentase(%)

Baik Buruk Total

98 0 98

100,0 0 100,0

Berdasarkan Tabel 4. Diketahui seluruh responden mengalami perawatan diri Toileting kategori Baik, yaitu 98 orang (100,0%). Dapat disimpulkan bahwa mayoritas persepsi psien Skizofreni tentang perawatan diri Toileting di Instalasi rawat jalan di Poli Klinik Rumaah Sakit Jiwa Prof Dr M Ildrem Medan adalah baik.

(43)

5.2 Pembahasan

Desain deskriptif digunakan dalam penelitian ini dengan tujuan untuk mengetahui persepsi pasien Skizofrenia tentang perawatan diri di Rumah Sakit Jiwa Prof dr M Ildrem Medan yang berada di Poli Klinik, dan jumlah respondent yang terlibat adalah 98 orang. Dari hasil penelitian di peroleh karakteristik respondent pasien Skizofrenia dilihat berdasarkan jenis kelamin mayoritas terdapat pada Laki-laki 53 orang (54,1%), Dilihat berdasarkan usia mayoritas pada dewasa awal 31 orang (31,6%). Dilihat berdasarkan pendidikan mayoritas terdapat pada SMA 58 orang (59,2%). Dilihat berdasarkan Agamamayoritas terdapat pada Kristen 50 orang (51,0%).

Dalam pembahasan ini, peneliti mencoba menjawab pertanyaan penelitian yaitu bagaimana persepsi pasien Skizofrenia tentang Perawatan diri skizofernia di Poli Klinik Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Sumatera Utara Medan.

Persepsi adalah kemampuan otak dalam menerjemahkan stimulus atau proses untuk menerjemahkan stimulus yang masuk ke dalam alat indera manusia. Persepsi manusia terdapat perbedaan sudut pandang dalam penginderaan. Ada yang mempersepsikan sesuatu itu baik atau persepsi yang positif maupun persepsi negatif yang akan mempengaruhi tindakan manusia yang tampak atau nyata, Sugihartono,dkk (2007).

Perawatan diri adalah salah satu kemampuan dasar manusia dalam memenuhi kebutuhannya guna mempertahankan kehidupannya, kesehatan dan kesejahteraan sesuai dengan kondisi kesehatannya, klien dinyatakan terganggu keperawatan dirinya jika tidak dapat melakukan perawatan diri (Departemen

(44)

Kesehatan/Depkes,2010).Perawatan diri terbagi atas tiga bagian, yaitu: 1. Mandi &

berpakaian, 2. Makan, 3. Toileting.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 98 orang (100%) responden memiliki persepsi perawatan diri dengan kategori baik. Hasil analisa data penelitian untuk perawatan diri (mandi & berpakaian) pada pasien Skizofrenia di poli Rumah Sakit Jiwa Prof dr M Ildrem Medan, didapat keseluruhan responden, memiliki persepsi perawatan diri (mandi & berpakaian) yang baik yaitu 98 responden (100%). Mandi dan berpakaian yang baik adalah seseorang yang mampu melakukan atau menyelesaikan aktivitas kehidupan sehari-hari secara mandiri, seperti adanya keinginan untuk mandi secara teratur, menyiapkan peralatan untuk mandi, menggunakan peralatan mandi seperti sabun, sampo dan gayung, mampu menggososk seluruh bagian badan saat mandi, mampu mengeringkan tubuh setelah mandi dengan menggunakan handuk, menggosok gigi pada saat setelah sarapan dan sebelum tidur, mengganti pakian yang kotor setelah mandi, ,menggunakan pakian yang lengkap, mampu menjaga kebersihan pakaian , menempatkan pakian yang kotor ditempatnya, mampu membedakan pakian yang kotor dan bersih, menggunting kuku jika panjang (Keliat, dkk, 2011).

Sejalan dengan penelitian Meisaroh 2014, mengemukakan bahwa pasien gangguan jiwa yang dalam kesehariannya diajarkan oleh anggota keluarga untuk selalu menggunakan sabun, bersikat gigi, mengganti pakaian setelah mandi, dan menyisir rambut dalam mandi dan berpakian , secara tidak langsung dalam diri pasien gangguan jiwa akan tercipta sebuah perilaku untuk menggunakan sabun, bersikat gigi , mengganti pakaian setelah mandi, menyisir rambut dalam mandi dan

(45)

berpakian. Hal ini dikarenakan dalam diri pasien gangguan jiwa terjadi proses adaptasi untuk melakukan hal baru yaitu melaksanakan personal hygiene (mandi dan berpakaian). Dengan dukungan keluarga yang baik yang diwujudkan dalam bentuk selalu mengajarkan cara mandi dan berpakaian yang benar, menyediakan sabu, pasta gigi, sikat, pakaian, sisir, menjaga kebersihan kulit dan kuku, memotong kuku jika panjang, dapat berdampak positif pada perilaku personal hygiene (mandi dan berpakaian) pada pasien gangguan jiwa.

Hasil analisa data penelitian untuk perawatan diri (makan) pada pasien Skizofrenia di Poli Rumah Sakit Jiwa Prof dr M Ildrem Medan, didapat keseluruhan responden, memiliki persepsi tentang perawatan diri (makan) yang baik yaitu 98 responden (100%). Makan yang baik adalah kemampuan untuk menunjukkan aktivitas makan, seperti mampu untuk mempersiapkan makanan, menyiapkan alat untuk makan, mampu menggunakan alat tambahan (sendok makan), cuci tangan sebelum makan dan sesudah makan, mengambil cangkir atau gelas, mendapat makanan, mampu untuk mengunyah makanan, mampu memanipulasi makakan dalam mulut, mampu mengambil makanan dari wadah lalu memasukkan kedalam mulut, mampu mencerna makanan menurut cara diterima masyarakat, serta mencernamakanan cukup aman ( Mukhripah, 2012).

Sejalan dengan penelitian Meisaroh 2014, mengemukakan bahwa perilaku untuk melakukan perawatan diri (makan) dengan metode yang benar akan menjadikan seseorang untuk makan yang disiplin atau teratur. Bentuk dukungan keluarga untuk selalu mengajarkan kepada anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa seperti makan secara teratur, makan jangan terburu-buru,

(46)

mengunyah makanan, minum setelah makan, kemudian setelah selesai makan piring di tempatkan pada tempat piring yang kotor, dan mengajarkan untuk menyuci piring yang telah digunakan atau di pakai secara tidak langsung akan berpengaruh pada perilaku anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa. Adanya proses pembelajaran yang dilakukan keluarga kepada anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa dalam pelaksanaan personal hygiene (makan) menjadikan pasien gangguan jiwa termotivasi untuk dapat melakukan personal hygiene (makan) secara mandiri. Membangkitkan dorongan dan semangat pada anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa, yang dilakukan secara rutin dan terus menerus akan berdampak positif dalam pelaksanaan perawatan diri (makan).

Hasil analisia data penelitian untuk perawatan diri (toileting) pada pasien Skizofrenia di Poli Rumah Sakit Jiwa Prof dr M Ildrem Medan, didapat keseluruhan responden, memiliki persepsi tentng perawtan diri (toileting) yang baik yaitu 98 responden (100%). Eliminasi atau toileting yang baik adalah kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas toileting sendiri, seperti mampu dalam mendapatkan jamban atau kamar kecil, mampu duduk atau bangkit dari jamban, mampu untuk memanipulasi pakaian untuk toileting, mampu membersihkan diri setelah BAB/BAK dengan tepat, dan mampu untuk menyiram toilet atau kamar kecil (Nurjannah, 2004).

Sejalan dengan penelitian Meisaroh (2014), pasien gangguan jiwa yang memiliki dukungan keluarga yang baik, akan mampu untuk mandiri dalam perawatan diri (toileting). Hal ini karena dalam diri pasien jiwa terjadi proses perubahan perilaku ke arah positif akibat ari bantuan keluarga untuk selalu

(47)

mengajarkan cara perawatan diri (toileting) yang benar seperti selalu kekamar kecil jika ingin buang air kecil atau besar, membersihkan diri setelah buang air besar atau kecil, dll. Selain itu, perilaku anggota keluarga yang selalu menjaga kebersihan dirinya setelah buang air besar dan kecil akan menjadi motivasi tersendiri bagi pasien jiwa untuk dapat meniru pola kebiasaan untuk melakukan perawatan diri (toileting).

Pasien gangguan jiwa yang memiliki dukungan keluarga yang baik secara tidak langsung akan berdampak pada pelaksanaan personal hygienepada diri pasien tersebut. Keluarga yang memiliki pengetahuan mengenai pentingnya pelaksanaan personal hygiene, akan selalu berusaha untuk membantu dan mendukung anggota

keluarga yang mengalami gangguan jiwa dalam pelaksanaan personal hygiene.

Selain itu, dukungan sosial ekonomi yang dimiliki keluarga juga berperan penting dalam pelaksanaan personal hygiene. Pasien jiwa yang memiliki latar belakang keluarga dengan status ekonomi yang kuat, cenderung akan mampu untuk melaksanakan dan melakukan personal hygiene dengan lebih baik dibanding dengan pasien jiwa yang berasal dari keluarga dengan sosial ekonomi yang kurang.

Kebiasaan keluarga, jumlah orang dirumah, dan ketersediaan air panas atau air mengalir hanya merupakan beberapa faktor yang mempengaruhi perawatan personal hygiene. Praktik personal hygiene pada penderita gangguan jiwa dapat

berubah dikarenakan situasi kehidupan, misalnya jika mereka tinggal dirumah sakit jiwa, mereka tidak dapat mempunyai privasi dalam lingkungan yang baru. Privasi tersebut akan mereka dapatkan dalam rumah mereka sendiri, karena mereka tidak mempunyai kemampuan fisik untuk melakukan personalhygiene sendiri. Untuk

(48)

dapat meningkatkan kemampuan personal hygiene pada pasien jiwa dibutuhkan peran serta berbagai pihak untuk mendukung pelaksanan personal hygiene.

(49)

39

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah di sajikan dapat disimpulkan bahwa persepsi pasien Skizofrenia tentang perawatan diri (mandi, berpakaian, makan dan toileting) di Rumah Sakit Jiwa Prof dr M Ildrem Medan di Poli Klinik tahun 2018 kategori baik dan memiliki kemandirian untuk melakukan perawatan diri tanpa bantuan orang lain/ keluarga di rumah.

6.2 Saran a. Bagi Peneliti

Hasil penelitian ini dapat menambah wawasan dalam perawatan diri pasien dan menambah pengalaman dalam penelitian di bidang keperawatan khususnya pada Perawatan diri pada pasien Skizofrenia.

b.Bagi Peneliti Selajutnya

Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai alat dan informasi dan disarankan bagi peneliti selanjutnya mengambil responden yang dirawat inap agar data yang di dapat lebih relevan.

6.3 Keterbatasan Penelitian

Instrumen dalan penelitian ini beberapa poin tidak ada seperti cuci tangan sebelum dan sesudah makan, menggunting kuku jika panjang, menggunakan sabun jika mandi, dll.

(50)

Daftar Pustaka

Alex Sobur. 2003. PsikologiUmum. Bandung. PustakaSetia

American Psychiatric Associaton. 2000. Diagnostic and Statistical Manual of MentalDisorders Fourth Edition Texs Revision, DSM-IV-TR. Arlington, VA: American Psychiatric Association.

Arif. 2006. Skizofrenia Memahami Dinamika Keluarga Pasien. Bandung: Rafika Aditama.

Buchanan Net al :Schizophrenia Patien Outcome Research Team (PORT); The 2009 Schizophrenia PORT Psychopharmacologi call treatmen Recommendation and Statement. Shizofrenia Bul 2010.

Damaiyanti, Mukhripah, & Iskandar. 2012. Asuhan Keperawatan Jiwa. Bandung:

Rafika Aditama.

Departemen Kesehatan/ Depkes. 2000. Standar Pedoman Perawatan Jiwa: Jakarta.

Durand V,M & Barlow D,H. 2007. Skizofrenia dengan Gangguan Psikotik. Pustaka Pelajar: Yogyakarta.

Elvira, SD & Hadisukanto. 2010. Buku Ajar Psikiatri. Jakarta: FK UI.

Feliciano, DU & Mattoy KL, Moore EE. 1999. Trauma Sixth Edition. New York:

Mc Graw- Hill.

Fitria, Nita. 2009. Prinsip Dasar dan Aplikasi penulisan Laporan pendahuluan dan strategi pelaksanaan tindakan keperawatan (LP& SP) untuk Tujuh Diagnosa Keperawatan Jiwa berat bagi program S1 Keperawatan.

Jakarta: Salemba Medika.

Hawari, Dadang. 2003. Pendekatan Holistik Pada Gangguan Jiwa. Jakarta: Fk UI.

Kazadi. NJB, Moosa, M, Ytt, Jeancih Fy. 2008. Factor Assosiated With RelapsInschizopgrenia. SAJP: Vol 14.

Keliat B.A, dkk. 2011. Keperawatan Kesehatan Jiwa Komunitas: CMHN ( Basic Cours). Jakarta: EGC.

Keliat, B.A. & Akemat. (2010). Model PraktikKeperawatan Profesional Jiwa.

Jakarta:EGC.

Maramis, F.W. 2005. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa . Surabaya: Airlangga University Press.

Medical Record RSJ Daerah Provinsi Sumatera Utara. 2016

Notoatmodjo, Hanifa. 2012. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: EGC.

(51)

Nurjanah, I. 2004. Pedoman Penanganan pada Gangguan Jiwa Mnajemen Proses Keperawatan dan Hubungan Traupetik Perawatan Klien. Yogyakarta:

Moco Media.

Potter, Perry. 2010. Fundamental of Nursing: Consep, proses, and practice. Edisi 7. Vol 3. Jakarta : EGC.

Sadock. J, Benjamin & Sadock. A, Virginia. 2010. Kapalan& Sadock Buku Ajar Psikiatri Klinis Edisi 2. Jakarta: EGC.

S. N. Ade Hermawan Direja. 2011. Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta: Nuha Media.

Sugihartono, dkk. PsikologiPendidikan. Yogyakarta. UNY press.

Stuart, G.W& Laraia,M.T. 2009. Principle and Practikce of Psyciatric Nursing 9th.ed, st Lovis: Mosby Year Book.

Sunaryo. 2013. Psikologi untuk Keperawatan. Jakarta: EGC.

Tarwoto & Wartonah. 2000. Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses Keperawatan.

Jakarta: Salemba Medika.

Thomas. (2013). Asuhan Keperawatan Jiwa. (1st, Penyunt.) Yogyakarta.

WHO.2013. Global Status Report on Road. Safety Word Health Organization, Global Health Observatory (GHO) Data : di akses pada tanggal 15 November, 2017.

WHO. (2013). Perilaku Kekerasan dan Defisit Perawatan Diri. Dipetik 21, 2017, dari http//perilaku-kekerasan.htm

Yusuf, Risky Fitryasari, PK& Anik Endang Nibayati. 2015. Buku Ajar Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: Salemba

.

(52)

Lampiran 1

Jadwal Persiapan Skripsi No Aktivitas penelitian Septembe

r

Oktober Novembe r

Desember Januari februari Maret April Mei Juni juli

Minggu ke 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 Pengajuan judul

penelitian

2 Penyusunan bab I

3 Penyusunan bab II

4 Penyusunan bab III

5 Penyusunan bab IV

6 Penyerahan proposal

7 Sidang proposal

8 Revisi proposal

9 Penelitian

10 Penyusunan skripsi

11 Penyerahan skripsi

12 Sidang skripsi

13 Revisi skripsi

Referensi

Dokumen terkait

kemampuan untuk melakukan aktivitas perawatan diri (mandi, berpakaian,

Oleh karena itu, perawat diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan keluarga melalui pemberian pendidikan kesehatan tentang skizofrenia, meliputi pengertian, tanda

Oleh karena itu, perawat diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan keluarga melalui pemberian pendidikan kesehatan tentang skizofrenia, meliputi pengertian, tanda

Oleh karena itu, perawat diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan keluarga melalui pemberian pendidikan kesehatan tentang skizofrenia, meliputi pengertian, tanda

Hubungan Pengetahuan tentang Gangguan Jiwa dengan Dukungan Keluarga yang Mempunyai Anggota Keluarga Skizofrenia di RSJD Surakarta.. disadur pada tanggal 29

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran tingkat kepatuhan pasien rawat jalan skizofrenia dan untuk mengetahui hubungan antara karakteristik pasien

toileting.Perawatan diri mandi adalah suatu hambatan kemampuan untuk melakukan aktivitas mandi/hygiene, perawatan diri berpakaian/berhias adalah.. suatu hambatan kemampuan

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran tingkat kepatuhan pasien rawat jalan skizofrenia dan untuk mengetahui hubungan antara karakteristik pasien