• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal Middle East and Islamic Studies Jurnal Middle East and Islamic Studies

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Jurnal Middle East and Islamic Studies Jurnal Middle East and Islamic Studies"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

Volume 8

Number 1 Volume 1 Januari-Juni 2021 Article 3

June 2021

Genealogi dan Gerakan Sosial Protes Taman Gezi Genealogi dan Gerakan Sosial Protes Taman Gezi

Muhammad Rafsanjani

Universitas Indonesia, [email protected] Muhamad Syauqillah

Terrorism Studies, School of Strategic and Global Studies Universitas Indonesia, [email protected]

Follow this and additional works at: https://scholarhub.ui.ac.id/meis Part of the Near and Middle Eastern Studies Commons

Recommended Citation Recommended Citation

Rafsanjani, Muhammad and Syauqillah, Muhamad (2021) "Genealogi dan Gerakan Sosial Protes Taman Gezi," Jurnal Middle East and Islamic Studies: Vol. 8: No. 1, Article 3.

DOI: 10.7454/meis.v8i1.129

Available at: https://scholarhub.ui.ac.id/meis/vol8/iss1/3

This Article is brought to you for free and open access by the School of Strategic and Global Studies at UI Scholars Hub. It has been accepted for inclusion in Jurnal Middle East and Islamic Studies by an authorized editor of UI Scholars Hub.

(2)

GENEALOGI DAN GERAKAN SOSIAL PROTES TAMAN GEZI

Abstract

The Gezi Park Protest is the largest demonstration in the history of the AKP’s power in Turkey. This paper wants to see the protest not only from the surface but also from the roots of Turkish society. In an effort to meet this goal, the authors use theory, first, political cleavages and, second, social movements with a focus on collective challenges, political opportunity structures and framing. The method which used in this paper is qualitative research method, data collection using existing data methods. This study found that the PTG was not actually a protest against the urban planning policy of Taqsim Square, but rather a protest against the accumulated disappointment of the secular groups against Erdogan's government.

Protes Taman Gezi adalah demonstrasi terbesar sepanjang sejarah AKP berkuasa di Turki.

Tulisan ini ingin melihat protes tidak hanya dari permukaannya saja melainkan juga dari akar pembelahan masyarakat Turki. Dalam upaya memenuhi tujuan ini, penulis menggunakan teori, pertama, pembelahan politik dan, kedua, gerakan sosial dengan fokus pada tantangan kolektif, struktur kesempatan politik serta pembingkaian. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif, pengumpulan data menggunakan metode existing data. Penelitian ini menemukan bahwa PTG bukan protes terhadap kebijakan tata kota Taqsim Square semata melainkan sebuah protes akumulasi kekecewaan kelompok sekuler terhadap pemerintah Erdogan.

Keywords: gezi park protest, social movement, political cleavage, Turkey

PENDAHULUAN

Protes Taman Gezi merupakan demonstrasi terbesar yang dihadapi pemerintah Erdogan sejak berkuasa di Turki, sejak tahun 2002 (BBC, 2013).

Protes ini menggerakkan ratusan ribu orang turun ke jalan berdemonstrasi di beberapa kota besar seperti Istambul, Izmir, Ankara, Eskisehir. Secara agregat, aksi diperkirakan melibatkan sekitar 3,5 juta orang selama kurang lebih 4 bulan dari Mei hingga Agustus 2013 (Park, Goodwin, & Han, 2017). Protes ini

mulanya sebuah protes kelompok aktivis lingkungan bernama Taksim Solidarity terhadap rencana alih fungsi taman hijau Gezi untuk realisasi “Taksim Pedestrianization Project”. Proyek Pedestrianisasi Taksim adalah rencana pemerintah, dirancang sejak 2011, yang di dalamnya terdapat alih fungsi Taman Gezi menjadi museum (rekonstruksi barak militer Usmani) dan pendirian area komersil. Lokasi Taman Gezi terletak di pojok Taksim Square yang pada zaman Kesultanan Usmani di lokasi tersebut tegak sebuah barak militer.

(3)

Protes Taman Gezi berkembang secara cepat dari protes aktivis “pemerhati kebijakan kota” menjadi gerakan kolektif melawan pemerintah. Demonstran dimotori generasi muda, rata-rata berusia 28 tahun, mereka menggaungkan aksinya melalui media sosial dan berhasil menarik perhatian masyarakat di belahan kota lain Turki.

Seiring gelombang massa berkembang, isu demonstrasi mengalami pergeseran, dari isu kebijakan tata kota menjadi isu penentangan terhadap pemerintah Erdogan. Beberapa peneliti mengungkapkan bahwa isu dan demonstrasi meluas karena tindakan represif aparat keamanan. Penanganan aparat terhadap demonstrasi dianggap berlebihan, hal ini mengakibatkan warga Turki bersimpati terhadap demonstrasi dan mengubah isu menjadi perlawanan terhadap represi dan otoritarianisme pemerintah. Namun bila dilihat dari “skala kekerasan”, tindakan aparat Turki saat itu tergolong rendah mengingat upaya yang dilakukan untuk membubarkan massa berupa penyemprotan water cannon, gas air mata serta cairan merica. Penanganan demonstran seperti ini relatif biasa (tanpa korban jiwa disebabkan tembakan peluru tajam atau aniaya aparat misalnya) dan sangat tidak meyakinkan bila menempatkannya sebagai faktor pemicu meluasnya demonstrasi. Dari segi garis

waktu, resonansi demonstrasi bertambah menggema setelah Erdogan berkomentar.

Terdapat sejumlah penjelasan dari para peneliti terkait Protes Taman Gezi.

Muge Aknur (2014) melihat Protes Taman Gezi sebagai gerakan sosial dengan membahas aspek konfrontasi rakyat biasa dengan elit, kesempatan dan hambatan politik, serta faktor pendorong gerakan.

Aknur berkesimpulan bahwa gerakan sosial Protes Taman Gezi berhasil melewati tahap kemunculan dan mencapai tahap penyatuan heterogenitas demonstran, namun gagal mencapai tahap birokratisasi.

Menurut artikel ini pemugaran area hijau dan pengembangan proyeknya oleh pebisnis pro pemerintah menjadi kesempatan politk. Kesempatan politik kedua adalah intervensi perdana menteri Erdogan dalam kehidupan pribadi masyarkat yang mencoba menerapkan kehidupan Islami di ranah publik, misalnya pembatasan penjualan minuman beraklohol. Dua perkembangan ini menjadi kesempatan politik bagi generasi muda liberal, menurutnya, generasi muda merasa diintervensi kehidupan publik serta privatnya oleh pemerintah. Menurut penulis analisis kesempatan politk Aknur belum menjelaskan “lahan subur” yang memungkinkan gerakan sosial tumbuh, bagian yang dijelaskannya identik dengan tantangan kolektif. Menurut penulis strukur kesempatan politik perlu melihat

(4)

fenomena internasional dan domestik.

Semangat zaman Arab Spring yang sedang hidup di kawasan Timur Tengah saat itu perlu dilihat sebagai faktor internasional yang menjadi struktur kesempatan politik karena, secara psikologis, potensial menjadi pendorong optimisme dan harapan bagi demonstran Protes Taman Gezi. Dari segi politik domestik, polarisasi politik antara pemerintah dan oposisi juga perlu dipertimbangkan keberadaannya sebagai kesempatan politik.

Farro dan Demirhisar (2014) menjelaskan aspek kemunculan, mobilisasi melawan kebijakan kota, serta keterlibatan subjektif antar demonstran dan makna yang mereka bawa. Farro dan Demirhisar juga membahas metode komunikasi dan pengorganisiran protes demonstran yang mereka lakukan secara online maupun offline. Mereka mengungkap mayoritas demonstran terdiri dari anak muda lulusan setingkat SMA, mahasiswa, dan para pekerja profesional, dengan rata-rata usia mereka 28 tahun. Dalam artikel ini diungkapkan bahwa aspek keresahan dan ketidakpastian masa depan akan pekerjaan dan kebebasan individu menjadi keresahan bersama. Ada semacam kecemasan eksistensial generasi muda dalam menghadapi masa depan, dan—menurut penulis—ketidakpastian ini bisa disebabkan oleh kebijakan rezim ataupun tidak. Artikel Farro dan Demirhisar

mencoba memasuki ranah motivasi subjektif dan makna para peserta demonstran PTG, namun belum menemukan benang merah aspek keresahan bersama yang mampu bertransformasi menjadi tindakan kolektif.

Pengungkapan kecemasan individual yang diperolehnya melalui wawancara, terlampau mengungkap keresahan pribadi, terpaut jauh dari konteks gerakan kolektif.

Meskipun demikian artikel ini memberi inspirasi penting tentang apa pemersatu

“kimiawi” para demonstran protes Taman Gezi?

Hatem Ete (2013) membahas dinamika di balik protes Taman Gezi.

Menurut Ete, dinamika di balik protes adalah konsolidasi sektoral AKP dan

ketidakmampuan oposisi

merepresentasikan suara konsituennya serta suara rakyat non pendukung AKP.

Dalam waktu yang panjang AKP melakukan kebijakan dan konsolidasi terhadap konsituennya, di saat yang sama meninggalkan kelompok konsituen lain.

Upaya AKP memenuhi tuntutan basis massanya mengakibatkan kekecewaan, ketidakpuasan, dan kemarahan dari basis masa lain/oposisi. Kondisi ini diperburuk performa partai oposisi yang tidak mampu bekerja, tidak mampu “menerjemahkan suara rakyat kedalam kosakata politik”.

Ketika oposisi tidak bekerja, suara rakyat tidak tersampaikan, keterwakilan tidak

(5)

dirasakan, hal ini berubah menjadi keputusasaan, dan akhirnya menjadi protes. Dalam bahasa Rocky Gerung, dalam sebuah tulisan di Koran Kompas tahun 2006, “tidak ada yang memimpin frustrasi rakyat”. Jika tidak ada yang memimpin frustrasinya, rakyat akan mencari dan menemukan jalannya sendiri.

Bagi penulis Ete telah mengungkap permukaan polarisasi masyarakat Turki, namun belum menyentuh akar, hanya menjelaskan konsituen dan non-konsituen AKP serta ketidakmampuan partai opoisis menerjemahkan suara konsituennya sehingga timbul protes.

Berdasarkan tinjauan literatur di atas, penelitian ini ingin menjawab pertanyaan, mengapa protes terhadap kebijakan tata kota di Istanbul meluas ke kota-kota lain disertai pergeseran isu dan tuntutan dari penolakan rencana tata kota menjadi penolakan rezim AKP/Erdogan?

Penelitian ini ingin melihat akar PTG dari kondisi masyarakat Turki yang terbelah secara ideologis selain dari aspek gerakan sosial. Sehingga yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah, pertama, pembelahan politik masyarakat Turki, kedua, penjelasan Protes Taman Gezi melalui teori gerakan sosial dengan memfokuskan pada aspek: tantangan kolektif, struktur kesempatan politik, dan pembingkaian budaya.

Teori yang digunakan dalam tulisan ini adalah teori political cleavages Seymour Martin Lipset & Stein Rokkan serta social movement Sidney Tarrow.

Pembelahan sosial secara sederhana didefinisikan sebagai “pembelahan politik permanen dalam sebuah masyarakat”.

Lipset dan Rokkan melakukan studi mengidentifikasi “basis sosial dari politik”

dengan melakukan kajian terhadap perkembangan sejarah yang menghasilkan ragam sistem partai politik di Eropa modern. Menurutnya, pembelahan politik muncul sebagai hasil dari dua proses sejarah penting: revolusi nasional (national revolution), yang mendorong pembentukan negara-bangsa Eropa modern, dan revolusi industri, yang mendorong pembentukan sistem kapitalisme Eropa modern.

Revolusi nasional menyebabkan dua pembelahan struktural: pertama, pembelahan antara “the center” dan “the periphery”, atau antara kelompok/daerah yang berusaha memaksakan agenda publik tertentu pada wilayah lain versus kelompok/daerah yang ingin mempertahankan otonomi tradisional.

Kedua, pembelahan antara “the state” dan

“the church”, atau antara kelompok yang berusaha memisahkan urusan negara dari otoritas agama versus kelompok yang meyakini kebenaran dan operasi ketidakterpisahan antara negara dan

(6)

agama. Sedangkan revolusi industri membentuk dua pembelahan struktural lainnya: pertama, antara “agriculture” dan

“industry”, atau pembelahan antara kelompok/daerah yang kelangsungan hidupnya bergantung pada kegiatan produksi tradisional versus kelompok/daerah yang berusaha menghilangkan cara-cara produksi ekonomi tradisional yang lambat, mendorong modernisasi produksi. Kedua, antara modal (capital) dan tenaga kerja, atau antara kelompok yang mendominasi industri versus mereka yang hanya memiliki tenaga sebagai manusia (Fabbrini, 2001). Perkembangan pembelahan politik di Turki sesuai dengan perkembangan revolusi nasional yang melahirkan dikotomi pusat dan pinggiran sebagaimana terjadi di Eropa yang dijelaskan oleh Lipset dan Rokkan.

Sidney Tarrow mendefinisikan gerakan sosial sebagai tantangan kolektif, berdasarkan tujuan bersama dan solidaritas sosial, dalam interaksi berkelanjutan dengan elit, lawan, dan pihak berwenang (Tarrow, 2011). Gerakan sosial merupakan satu bentuk dari ragam politik perlawanan (contentious politics). Bentuk lain dari politik perlawanan misalnya unjuk rasa, pemogokan, terorisme, pemberontakan, atau revolusi. Sebagai upaya yang lebih teknis penulis menggunakan 3 kerangka dalam teori gerakan sosial, yaitu,

tantangan kolektif, kesempatan politik, dan pembingkaian budaya.

Teori gerakan sosial merupakan upaya sitesis dari dua teoritisi yang saling bertentangan, antara strukturalis dan pilihan rasional. Para teoritisi strukturalis melihat sebuah aksi kolektif perlawanan (contentious collective actions) sebagai akibat dari perubahan-perubahan dalam sistem negara atau internasional—

penjelasan Theda Skocpol dalam States and Social Revolutions misalnya.

Sedangkan teoritisi pilihan rasional berpandangan bahwa aksi politik perlawanan merupakan puncak kumpulan tindakan-tindakan individu. Menurut pendekatan ini perubahan struktural dipahami sebagai opsi bagi individu.

Kesempatan politik dalam teori gerakan sosial diadopsi dari argumen para pemikir strukturalis. Sehingga secara struktural, gerakan sosial muncul ketika terjadi perubahan kondisi struktur politik yang membuka kesempatan bagi para demonstran untuk melaksanakan gerakan yang tujuannya mengubah keadaan.

Gerakan sosial adalah cara yang ditempuh oleh orang-orang yang tidak memiliki akses terhadap lembaga negara (mapan), bertindak atas nama klaim baru dalam menentang pemerintah atau lawan (Tarrow, 2011).

Aspek pembingkaian dalam PTG perlu diketengahkan mengingat

(7)

gelombang PTG berkembang berkat infrastruktur media sosial. Pembingkaian atau framing adalah “tell the audience how to think about something”. Dalam proses pembingkaian ini sebuah isu diseleksi, dieksklusi dan dielaborasi. Gerhard dan Rucht merumuskan 3 kategori pembingkaian aksi kolektif. Pertama diagnostik, framing identifikasi masalah atau menyalahkan lawan/pemerintah;

kedua, prognostik, mengemukakan solusi- solusi; dan ketiga motivasi, menghasut individu untuk terlibat dan bertindak dalam aksi kolektif (Harlow, 2011).

Meskipun gerakan sosial dalam kasus PTG memiliki aspek media sosial, menurut beberapa sosiolog, antara gerakan sosial online dan offline sebenarnya tidak terdapat banyak perbedaan. Gerakan sosial online dipahami sebagai perkembangan gerakan sosial konvensional yang ditopang infrastruktur baru, teknologi informasi.

Keunggulan fitur teknologi ini antara lain cepat, murah serta tidak terbatas oleh ruang dan waktu.

METODE PENELITIAN

Metode kualitatif digunakan dalam penelitian ini. Metode kualitatif merupakan metode yang dapat

menggambarkan, menafsirkan, dan mendapatkan pengetahuan mendalam tentang satu fenomena (McCombes, 2020).

Metode ini mampu menjadi cara untuk menjawab pertanyaan penelitan yang telah dikemukakan. Masalah yang dibahas dalam penelitian ini lebih condong ke masalah praktis daripada teoretis.

Dalam penelitian kualitatif secara umum terdapat tiga pilihan upaya pengumpulan data: interviews (focus groups), participation observation, existing data (McCombes, 2020).

Penelitian ini menggunakan jenis existing data, di mana penulis mengamati dan menggali tentang satu fenomena. Penulis mengumpulkan data tentang peristiwa Protes Taman Gezi berupa tulisan ilmiah dalam jurnal, buku, opini surat kabar, dan berita harian surat kabar online.

Selanjutnya penulis berupaya memahami peristiwa beserta kronologinya. Hasil dari pembacaan tersebut dimasukan dan dipilah berdasarkan kerangka teori yang digunakan. Lalu mendalami peristiwa yang terkait kerangka teori.

HASIL PENELITIAN

Pembelahan Politik Islam-Sekuler dalam Masyarakat Turki

(8)

Untuk memahami pembelahan politik dalam masyarakat Turki era kontemporer kita mesti flashback ke masa lalu negara Turki modern. Wilayah Turki selama berabad-abad adalah wilayah monarki Islam, Kesultanan Usmani. Islam sebagai agama dan entitas kekuasaan berhasil mengakar kuat dalam masyarakat Turki hingga Islam menjadi bagian dari budaya Turki. Pada awal abad 20 ide sekularisme dan gerakan sekularisasi mulai mencuat di tengah Kesultanan Usmani yang mulai rapuh. Ketika Kesultanan Usmani runtuh akibat kalah dalam Perang Dunia I, ide sekularisme ini menemukan tempat sebagai pengganti sistem monarki Islam sebelumnya. Ide negara sekular untuk republik baru dicanangkan oleh Mustafa Kemal Ataturk. Ataturk melakukan perubahan sangat radikal, menggiring Turki secara politik dan budaya ke alam sekularisme barat. Ia menghapus kekhalifahan, mengganti peradilan syariah dengan hukum sipil, mengganti sistem penulisan alfabet Arab dengan Latin, menghapus peran agama di ruang publik, serta mengawasi lembaga dan kegiatan keagamaan masyarakat dalam rangka mengotrol dan membatasinya.

Kekuasaan baru yang dipegang oleh kelompok Kemalis/skularis berhasil membungkam kelompok non-Kemalis, yang mayoritasnya adalah kelompok muslim karena Kemalis menggunakan

sendi-sendi utama negara untuk meredamnya. Skularisme yang tertuang dalam konstitusi, dijaga oleh dua entitas powerful yaitu pengadilan (mahkamah konstitusi) dan militer, siapapun yang melawannya bisa dibubarkan oleh pengadilan atau berhadapan dengan militer.

Agenda skularisasi yang dilakukan secara top-down mengakibatkan Turki terbelah kedalam “political cleavage”, dengan "center" adalah kota, modern, terdidik, sekuler dan "periphery" adalah pedesaan, tradisional dan agama (Mardin, 1973). Implementasi skularisasi di Turki ternyata terbatas hanya efektif di pusat- pusat kota, sebagian besar daerah pedesaan tidak tersentuh. Secara kuantitas jumlah kelompok elit/sekuler yang mendominasi ini sedikit karena sebagian besar penduduk Turki berada di pedesaan.

Pembuka titik balik bagi kelompok muslim adalah perkembangan politik Turki tahun 1960an. Pada masa itu gerakan kelompok kiri menjamur di Turki.

Kelompok ini berhadapan dengan nasionalis sayap kanan sebagai kekuatan antikomunis. Polarisasi politis antara kelompok kiri dan kanan nasionalis meningkat pada tahun 1970-an hingga mengakibatkan konflik kekerasan sipil sehingga memaksa militer melakukan kudeta pada September 1980 “demi memulihkan keadaan”.

(9)

Rezim militer yang baru merangkul kelompok muslim dan memperkuat peran Islam untuk upaya membasmi ideologi dan kelompok kiri. Pendidikan agama mulai dihidupkan dengan mewajibkannya di semua sekolah dan pembukaan kelas-kelas Al-Quran (Rabasa & Larrabee, 2008).

Rezim militer melonggarkan skularisme ketat sebagaimana sebelumnya dilakukan di awal republik berdiri. Perubahan ini membuka jalan bagi kelompok Islam untuk masuk dan memperkuat pengaruhnya dalam negara serta elemen masyarakat sipil. Rangkulan negara terhadap kelompok Islam dilakukan selain dalam rangka menyingkirkan kelompok kiri juga untuk mencari dukungan dalam agenda liberalisasi ekonomi yang dicanangkan rezim, terutama era Turgut Ozal. Perjalanan sejarah ini sampai pada perkembangan kebangkitan kelompok Islam yang muncul sebagai kekuatan ekonomi (Borjuis Anatolia) dan politik pada tahun 1990-an. Puncaknya adalah kemenangan Partai Refah pada Pemilu 1995 yang menempatkan pemimpinnya Necmetin Erbakan menjadi perdana menteri. Kemenangan partai Islam ini menjadi tamparan bagi kelompok sekuler, untuk pertama kali sejak Republik berdiri Turki dipimpin oleh kelompok Islam.

Perkembangan kebangkitan kelompok muslim ini, secara otomatis dan inhern, membuka clash antara mereka

dengan kelompok sekuler. Masing-masing kelompok memandang bahwa rival ideologisnya adalah ancaman bagi ide dan keberlangsungan gerakan. Pertentangan antara Islam-sekuler memuncak pada peristiwa pelengseran Perdana Menteri Necmetin Erbakan pada 29 Februari 1997 oleh Dewan Keamanan Nasional dan pembubaran partainya pada Januari 1998.

Peristiwa pelengseran Erbakan dan pembubaran Partai Refah menjadi momen introspeksi dan redesain agenda serta strategi para aktivis Milli Gorus ini. Milli Gorus adalah sebuah gerakan kebangkitan politik Islam di tengah tatanan sekularisme Turki. Gerakan ini diinisiasi oleh Erbakan pada tahun 1970-an. Selain sebagai inisiator, Erbakan juga menjadi semacam referensi gerakan bahkan “pemimpin spiritual”. Tercatat Milli Gorus secara jatuh-bangun telah bermetamorfosis kedalam 5 partai politik: National Order Party (1970), National Salvation Party (1972), Welfare Party (1983), Virtue Party (1997), Felicity Party (2001). Gerakan Milli Gorus bisa dipahami juga sebagai upaya kelompok Islam untuk tampil kembali di panggung politik-negara dengan dua misi sekaligus, pertama, mengoreksi westernisasi Turki, kedua, menampilkan Islam—bagi mereka adalah tradisi Turki—namun dengan pembaruan, Islam yang sesuai dengan realitas kehidupan modern (Yang & Guo, 2018).

(10)

Pasca pembubaran Partai Refah, partai baru pun didirikan, Partai Fazelit.

Namun terjadi pergolakan pemikiran di dalam partai antara kelompok tradisionalis dan reformis. Kelompok tradisionalis didominasi oleh generasi lama, seperti Necmetin Erbakan dan Recai Kutan, yang masih berpandangan sinis terhadap sekularisme dan barat, bahkan dahulunya berpandangan bahwa sekularisasi di Turki merupakan sebuah kesalahan sejarah.

Sebaliknya para generasi muda atau

"reformis", dipimpin oleh Recep Tayyip Erdoğan (waktu itu walikota Istanbul) dan Abdullah Gül, berpandangan bahwa partai Islam harus menghindari wacana konfrontatif dengan kelompok sekularis dan mengurangi narasi-narasi agama.

Lebih jauh partai Islam harus berjalan beriringan dengan wacana-wacana barat seperti demokrasi dan hak asasi manusia (Rabasa & Larrabee, 2008). Muara konflik di antara sesama aktivis Milli Gorus ini adalah perpecahan dan pembentukan partai baru, kelompok tua membentuk partai Saadet Partisi (Felicity Party), kelompok muda membentuk Adalet ve Kalkınma Partisi (Justice and Development Party).

Transformasi kelompok muda ternyata terbukti berhasil dan membawa AKP memenangi pemilu berturut-turut sejak pertama kali mengikutinya, tahun 2002, 2007 dan 2011—sebelum Protes Taman Gezi. Di awal-awal pembentukan

dan berkuasa, AKP sekularis friendly, namun semakin hari semakin bergeser menjadi/dianggap Islami terutama setelah beberapa momen, di antaranya, upaya

“kriminalisasi” perzinahan melalui undang-undang pidana tahun 2004, kontroversi Imam Hatip (Rabasa &

Larrabee, 2008), protes perusahaan TEKEL tahun 2007 (sebuah pabrik tembakau dan minuman beralkohol) dan Referendum Konstitusi tahun 2010 (Yavuz

& Öztürk, 2019).

Perkembangan AKP seperti ini menimbulkan kekhawatiran kelompok masyarakat sekularis di mana kelompok Kemalis/sekularis dan Islam pernah mengalami benturan eksistensial. Perlu diingat bahwa sekularisme yang dianut oleh Kemalis di awal pembentukan negara bukan sekularisme Anglo-Saxon:

pemisahan antara urusan ranah privat/agama dan publik/negara. Namun sekularisme Jacobin Revolusi Prancis, di mana sekularisme menjadi semacam ideologi negara positivis untuk menciptakan tatanan sosial baru (Yavuz &

Öztürk, 2019).

Kecemasan akan ingatan di masa lalu dan pengalaman masa kini, menjadi energi potensial yang bisa meledak menunggu waktunya (struktur kesempatan politik). Di tahun 2011 “angin perubahan”

melanda Timur Tengah. Terjadi revolusi politik yang mendorong penggantian

(11)

status quo rezim-rezim otoriter. Momen ini dinamai oleh pengamat, hingga akhirnya masyarakat, sebagai Musim Semi Arab (Howard & Hussain, 2013).

Peristiwa Musim Semi Arab tersiarkan oleh media mainstream maupun sosial ke seluruh dunia Islam. Meskipun harus ada pembuktian lebih jauh ihwal hubungan Musim Semi Arab dengan Protes Taman Gezi, namun Musim Semi Arab secara tidak langsung menjadi pemantik semangat dan harapan bagi kelompok sekuler Turki dan beberapa kalangan mengatakan bahwa Protes Taman Gezi sebagai Turkish Spring (Schubel, 2013).

Protes Taman Gezi dianggap banyak peneliti berkomposisikan pemrotes lintas kelompok dan ideologi, namun laporan beberapa lembaga survei menunjukan, sebagaimana disimpulkan Ete dan Tastan, “The Quantitative research conducted during the protests at the Gezi Park reveals that the majority of the protesters are affiliated with the CHP”

(Ete & Taştan, The Gezi Park Protests: a Political, Sociological, and Discursive Analysis, 2014). Survey Metropoll juga melaporkan sebanyak 49,4 % demonstran memiliki afiliasi dengan partai politik dan 50,6 %-nya tidak merasa memiliki afiliasi.

Sebanyak 41,7 % dari yang memiliki afiliasi, mereka berafiliasi dengan CHP.

Selain itu survey Genar menyebutkan 66,5

% demonstran berpartisipasi pada pemilu

sebelumnya, dan dari angka partisipasi ini sebanyak 72,7 % memilih CHP. Survei ini juga menyebutkan sebanyak 64,6%

protester akan memilih CHP pada pemilu berikutnya. Menurut rumus “politik aliran”

Turki, CHP adalah partai yang basis

massanya adalah kelompok

sekuler/Kemalis.

Sekilas tentang Protes Taman Gezi Suara penolakan mengenai rencana tata kota baru di Taksim Square mencuat sejak pengumuman proyek tersebut oleh Perdana Menteri Erdogan pada saat kampanye di Pemilu 2011. Gerakan penolakan itu semakin berbentuk di tahun 2012 ketika 80 organisasi melakukan deklarasi bersama menolak proyek Taksim dan mengumumkan pembentukan Taksim Solidarity. Taksim Solidarity adalah organisasi payung yang di dalamnya

terdiri dari 128 aneka

kelompok/organisasi, serikat pekerja, serikat profesi, organisasi non-pemerintah (Elicin, 2015). Eskalasi penolakan memuncak ketika Mei 2013 dilakukan eksekusi penebangan pohon yang memicu para aktivis itu turun langsung ke taman berdemonstrasi dan menghadang alat berat yang akan bekerja. Selain itu mereka juga menduduki taman dengan mendirikan tenda-tenda. Aksi protes ini viral, terutama ketika foto seorang wanita berbaju merah disemprot gas air mata tersebar di media

(12)

sosial. Foto “woman in red” ini menjadi gambar populer bahkan menjadi simbol perlawanan.

Beberapa hari kemudian, tepatnya 29 Mei, PM Erdogan merespon demonstasi dengan menyatakan tidak akan membatalkan apa yang telah direncanakan.

Esoknya polisi berupaya membubarkan massa dengan menghancurkan tenda demonstran bahkan ada sebagian tenda yang dibakar. Tindakan aparat ini membuat protes semakin viral di media sosial, memicu kemarahan serta simpati warganet. Pada malam harinya di Taman Gezi berkumpul lebih dari 10.000 orang (Hürriyet Daily News, 2013).

Dari kronologi awal PTG bisa kita lihat bahwa pembubaran demonstrasi dan tanggapan Erdogan—Pemerintah menyebut para pendemo sebagai

“calpucu” dan teroris—terhadap demonstrasi memicu gelombang demonstrasi membesar dan meluas.

(Demirhan, 2014).

Setalah fase ini, selain demonstrasi meluas ke beberapa kota lain juga isunya mulai bergeser, dari isu tata kota dan lingkungan menjadi demonstrasi kekecawaan terhadap pemerintah. Massa berdemonstrasi menentang “represi aparat” dan bahkan menyerukan

“pergantian rezim”. Terdapat dugaan dari beberapa pengamat bahwa aksi massa ini merupakan luapan kekecewaan dari

kelompok sekularis terhadap pemerintah yang mereka sebut “konservatif Islam”.

Anggapan itu ternyata cukup berdasar seperti yang di singgung di atas, berdasarkan sebuah survey para peserta demonstran sebesar 49% merupakan simpatisan partai CHP. Selain simpatisan CHP, komposisi lain dari demonstran, sebesar 30%, adalah orang-orang kiri.

Kalangan kiri ini terbagi dua. Pertama kiri nasionalis, mereka yang berhaluan kiri dan berpandangan bahwa pemilu merupakan kanal aspirasi ideologi—di Turki terdapat partai berhaluan kiri namun tidak lolos ke parlemen. Mereka menggunakan hak pilih pada pemilu dengan memilih partai-partai berhaluan kiri. Kedua kini murni, yaitu orang-orang yang tidak mempercayai sistem politik dan instrumen demokrasi.

Mereka menilai kendatipun partai-partai kiri yang ada memenangi pemilu, keadaan akan tetap sama, tidak akan ada perubahan berarti. Bagi mereka demokrasi beserta pemilu sudah cacat sejak awal (Ete &

Taştan, 2014).

Yang menarik adalah, terdapat persamaan kuat antara demonstran yang mempercayai sistem pemilu dan menggunakan hak pilihnya. Persamaan tersebut adalah mereka memilih sebuah partai politik untuk mencegah AKP berkuasa. Dengan kata lain, mereka sama sama tidak ingin AKP berkuasa. Bagi mereka pemerintahan yang sedang

(13)

berkuasa (AKP) telah merenggut kebebasan dan mengganggu kehidupan pribadi—sebuah pengakuan dalam survey (Konda, 2014). Salah satunya adalah kebijakan pemerintah terkait pelarangan penjulan minuman beralkohol. Mereka menganggap rezim AKP sebagai ancaman eksistensi dan mereka menduga rezim akan memarjinalkan secara perlahan kelompok yang tidak sejalan dengan rezim. Salah seorang pemrotes berkata

“kali ini tidak boleh minum alkohol, besok mungkin akan dilarang juga orang bertato dan bercelana pendek” (Ete & Taştan, 2014).

Menurut penulis tidak cukup kuat dan meyakinkan jika menjadikan alih fungsi Taman Gezi dijadikan satu-satunya pemicu meluasnya demonstrasi besar ini.

Nampaknya yang lebih bisa penulis terima adalah bahwa Protes Taman Gezi merupakan protes kelompok sekularis terhadap pemerintah Islami yang mereka anggap sebagai ancaman bagi eksistensinya. Demonstrasi alih fungsi taman adalah momen untuk meluapnya antipati terhadap pemerintah yang telah lama. Protes ini cenderung reaktif dan ditopang oleh media sosial. Akis kolektif reaktif sangat mungkin terjadi di era teknologi informasi dan kebebasan berpendapat di dalamnya. Masyarakat menjadi mudah tersulut, the madding crowd mudah terkonsolidasi di ruang

maya secara real time dan massal hingga bertransformasi menjadi tindakan kolektif.

Berikut akan dibahas geliat protes kelompok anti-pemerintah ini menggunakan kacamata teori gerakan sosial. Sisi-sisi yang akan diketengahkan adalah tantangan kolektif, kesempatan politik, dan framing.

Tantangan Kolektif: Pembangunan Replika Barak Usmani, Represi Aparat, dan Dominasi Erdogan

Tantangan kolektif dalam PTG menurut penulis terbagi menjadi dua: yang terkait langsung dengan protes dan tidak.

Penyertaan tantangan kolektif yang tidak terkait langsung PTG dikarenakan penulis memandang PTG sebagai perjalanan sejarah—dalam masyarakat Turki yang terbelah—yang tidak terpisah dari peristiwa politik masa lalu. Tantangan kolektif Protes Taman Gezi adalah akumulasi kekecewaan (tantangan) kelompok sekuler terhadap pemerintah Erdogan. Akumulasi ini terdiri, pertama, tantangan kolektif jangka pendek yaitu peristiwa yang memicu protes secara langsung terkait PTG: penggusuran Taman Gezi, represi polisi dan retorika Erdogan.

Kedua tantangan kolektif jangka panjang, peristiwa/fakta politik yang mengecewakaan kelompok sekuler jauh sebelum PTG yaitu penguasaan AKP atas parlemen dengan kondisi partai oposisi

(14)

“tidak bekerja”, rakyat non-konsituen AKP tidak memiliki kanal representatif suara (Ete, The Political Reverberations of the Gezi Protests, 2013), dan keberhasilan AKP/pemerintah Erdogan melemahkan militer sebagai garda penjaga sekularisme.

Penggusuran Taman Gezi bukan hanya persoalan setuju atau tidak setuju proyek pemugaran Taksim berdasarkan alasan lingkungan atau utilitas ruang publik. Lebih dari itu, pemugaran Taman Gezi adalah pemugaran makna. Taman Gezi adalah makna, bukan sekedar tempat.

Taman Gezi memiliki sejarah panjang, ia pernah asosiatif dengan komunitas Armenia, lalu menjadi basecamp militer Kesultanan Usmani, kemudian setelah tahun 1930-an menjadi simbol urbanisme Republik sekuler (Whitehead & Bozoğlu, 2017). Sebelum PTG Taman Gezi adalah ruang bersama (didominasi kelompok sekuler), tempat dialektika dan kuali peleburan antar warga masyarakat serta ideologinya. Proyek Pedestrianisasi Taksim adalah tindakan Rezim, sengaja ataupun tidak, yang condong untuk memonopoli ruang bersama itu dengan satu tone Islam: pembangunan replika barak Usmani dan masjid. Protes taman Gezi adalah pertentangan makna di atas Taman antara penghidupan kembali nuansa Kesultanan Usmani sebelum 1930- an versus tempat kosmopolit (“cosmopolitan freedom”) yang

didominasi kelompok sekular pasca 1930- an.

Dari segi urutan peristiwa, PTG awalnya sebuah protes damai, demonstran menduduki taman dan mendirikan tenda- tenda sembari menyatakan opininya melalui pamflet atau poster. Namun kondisi ini berubah ketika polisi berupaya membubarkan pemrotes dengan memukul mundur dan membakar beberapa tenda demonstran. Peristiwa ini tersiarkan secara luas/viral di media sosial. Tindakan represif aparat ini menjadi tantangan bagi demonstran (karena demonstran tidak mengharapkannya) sekaligus pembangkit kegusaran kelompok sekuler di belahan kota lain yang telah menyaksikan respon/retorika Erdogan terhadap protes.

Dua hal ini—represi aparat dan retorika Erdogan—menjadi tantangan kolektif dan membangkitkan kelompok sekuler untuk turun ke jalan menentang kesewenang- wenangan pemerintah. Pernyataan Erdogan yang menyerang/merendahkan pemrotes dengan menyebutnya sebagai perampok/pengacau (capulcu), dan berupaya mendelegitimasi protes dengan mengatakan mereka terperdaya kekuatan luar negeri yang tidak menginginkan pemerintahannya (Erkoc, 2013). Bahkan Erdogan mengatakan protes itu merupakan serangan terhadap pemerintah dan partai AKP.

(15)

Selain tantangan jangka pendek di atas, tantangan jangka panjang juga perlu dikemukakan yaitu kelompok Islam menguasai parlemen dan pelemahan militer olehnya. Partai AKP sejak pertama kali mengikuti pemilu memperoleh kemenangan dan mendapat mayoritas kursi di parlemen. Hasil pemilu 2002 AKP menguasai 66% parlemen, pemilu 2007 menguasai 62% dan pemilu 2011 menguasai 59.5% (Daily Sabah, n.d.).

Seiring menguatnya posisi politik AKP di Parlemen, pemerintah Erdogan juga mampu melemahkan militer yang posisinya sepanjang sejarah Turki modern sangat kuat sebagai garda penjaga sekularisme. Bagaimana AKP melemahkan posisi militer yang sangat powerful? Pelemahan posisi militer salahsatunya (yang terkuat menurut penulis) adalah dampak dari terbongkarnya serangkaian rencana kudeta di era pemerintahan Erdogan (Rodrik, 2011). Kiranya perlu menjelaskan sedikit rinci bagaimana proses pelemahan posisi militer ini.

Pada tahun 2007 sebuah surat kabar memuat berita tentang buku catatan, milik seorang laksamana angkatan laut yang memuat rencana pengondisian kekacauan di Turki. Cipta kondisi itu ditujukan untuk mengkudeta pemerintahan Erdogan. Dalam buku tersebut kudeta direncanakan tahun 2004 dengan tiga

sandi Sarıkız, Ayisigi dan Eldiven. Dari pengungkapan buku terungkap—menurut pemerintah—jaringan bawah tanah bernama Ergenekon. Kelompok Ergenekon terdiri dari politisi, akademisi, pegawai pemerintah, tentara dan polisi yang tidak menghendaki Erdogan dan AKP berkuasa pasca pemilu tahun 2002.

Penyelidikan jaringan Ergenekon dilakukan hingga menyeret 275 nama (Tirto.id, 2016).

Selain kasus Eegenekon, kasus Sledgehammer juga mengungkap “rencana kudeta” oleh beberapa petinggi militer yang ujungnya mendepak mereka dari posisi di tubuh militer. Pada Januari 2010 harian Taraf menerima sejumlah dokumen berupa CD dan rekaman suara dari seorang anonim yang mengaku pernah bekerja pada Jenderal Cetin Dogan. Dokumen tersebut memuat rapat militer di bawah pimpinan sang Jenderal. Rapat itu membahas beberapa kemungkinan ancaman termasuk menghadapi potensi pemberontakan kelompok islamis. Dalam bagian dokumen terdapat satu operasi bernama Sledgehammer yang membahas rincian operasi sangat rumit untuk mengacaukan negara dan menggulingkan pemerintahan AKP yang baru terpilih.

Rencana tersebut di antaranya pemboman dua masjid Istanbul di waktu salat Jumat, penjatuhan pesawat militer Turki, daftar wartawan yang harus ditangkap serta

(16)

struktur kabinet baru lengkap dengan nama-nama menterinya. Semua pembahasan sangat rinci dan teknis termasuk rencana program pemerintah (Rodrik, 2011).

Peristiwa-peristiwa yang mempersalahkan militer di mata publik itu beberapa tahun kemudian disambut amandemen konstitusi Turki 2011 melalui referendum tahun 2010. Konstitusi tahun 1982 yang diamandemen itu merupakan produk junta militer hasil kudeta tahun 1980 (Aknur, Towards More Democratic Civil-Military Relations in Turkey, 2013).

Dalam konstitusi hasil amandemen posisi militer di gelanggang politik menjadi sangat lemah dibanding sebelumnya. Jika sebelumnya militer dapat melakukan apapun (“pelaksanaan hak dan kebebasan dasar dapat ditangguhkan sebagian atau seluruhnya”) dalam keadaan darurat, setelah amandemen militer tidak dapat lagi bertindak sejauh itu dengan konsekuensi hukuman. Hal ini tercermin dalam perubahan Pasal 15 undang-undang dasar (constituteproject.org, 2019).

Buntut dari dua peristiwa rencana kudeta dan perubahan tatanan politik ini adalah peradilan kasus percobaan kudeta yang mengakibatkan puluhan jenderal dicopot dan dipenjara. Kondisi ini membuat posisi politik AKP semakin kuat.

Di panggung negara militer kini lemah, di panggung politik oposisi AKP juga lemah.

Mereka pun dalam menghadapi pemilu 2011 tidak mempunyai rival perebut kekuasaan yang signifikan.

Keadaan ini mencemaskan masyarakat kelompok sekular terlebih ketika riak-riak kebijakan “rezim Islami”

digulirkan. Kecemasan ini menemukan momen dalam protes Taman Gezi, represi aparat terhadap demonstran menjadi ancaman konkret kesewenang-wenangan pemerintah atas lawan-lawan politiknya.

Kecemasan ini membangkitkan kelompok sekuler. Komposisi kelompok sekuler yang langsung terlibat dalam PTG terdiri dari berbagai latar belakang, mulai dari pemerhati lingkungan, karyawan, mahasiswa, pekerja seni, serikat pekerja, kelompok kiri, hingga kelompok minoritas LGBT (Sarfati, 2015). Sehingga yang muncul akhirnya bukan hanya perlawanan terhadap kebijakan alih fungsi Taman Gezi, namun aksi masa melawan dominasi Erdogan di Turki.

Kesempatan Politik: Dinamika Timur Tengah, Oposisi dan Public Figure Untuk memahami mengapa protes massal terjadi ada baiknya melihat struktur kesempatan politik. Kesempatan adalah serangkaian keadaan yang memungkinkan pemrotes melakukan protes. Dalam penjelasan PTG, penulis melihat tiga aspek sebagai kesempatan politik, pertama sebuah hipotesis yang hubungan langsunya

(17)

perlu diteliti lebih jauh, yaitu kesempatan politik “psikologis” dari dinamika global di kawasan Timur Tengah (Musim Semi Arab), kedua, konfigurasi politik nasional Turki, kesempatan keterbelahan elit, ketiga keterlibatan kelompok budaya pop.

Beberapa tahun sebelum PTG terjadi pergolakan politik di kawasan Timur Tengah. Gelombang aksi massa menentang rezim-rezim otoriter menyapu beberapa negara di kawasan itu. Dalam

“gelombang revolusi” yang dinamai Musim Semi Arab ini mampu menumbangkan rezim pemerintah di Tunisia, Mesir, Libya, Yaman, dan beberapa negara lain menghasilkan reformasi. Secara garis waktu MSA terjadi akhir 2010 hingga 2012, dan PTG terjadi tahun 2013. MSA yang awalnya di Tunisia mampu menjalar ke negara-negara timur tengah dan resonansinya keluar dari kawasan itu lantaran difasilitasi oleh infrasturkutur teknologi internet selain pemberitaan konvensional. Internet dianggap sebagai salah satu pendorong cosmopolitanism, cross-border spaces beyond sovereign states. Sebuah studi (Webb, 2017) misalnya menilik jangkauan MSA dan solidaritas mahasiswa terhadapnya di “negara-negara bagian selatan” (global south) melalui sebuah survey yang dilakukan terhadap mahasiswa di Peru, Pakistan dan Kenya.

Penelitian ini mengungkapkan 53,1 %

responden mengatakan internet sebagai salah satu sumber berita utama. Selain itu survey juga menemukan bahwa faktor pembentuk opini tentang isu internasional atau global, sebanyak 23,1% responden mengatakan posisi dan pernyataan pemerintah, 55,5% opini media dan civil society, 21,4 % percakapan dengan teman.

Survey juga menemukan bahwa 68%

responden mengetahui fenomena Arab Spring, 61.4 % diantaranya mendukung atau berada di sisi demonstran (in solidarity). Riset Webb mengungkapkan bahwa MSA adalah bukti jika globalisasi juga terjadi “dari bawah”, dan jangkauannya sangat luas. Sehingga secara sederhana di era globalisasi ini fenomena seperti MSA mampu menjangkau negara- negara selatan di kawasan bahkan benua lain. Dengan demikian ke tiga negara itu saja resonansi MSA mampu merambat, apalagi ke negara sekawasan seperti Turki.

Pembacaan warga Turki terhadap Musim Semi Arab menjadi inspirasi dan dorongan psikologis bahwa perubahan yang dianggap tidak mungkin ternyata mungkin bisa terjadi. Kondisi psikologis ini membangkitkan harapan dan semangat untuk melawan pemerintah AKP di Turki.

Bukti hipotesis ini adalah adanya sebagian pengamat yang menganggap PTG sebagai Turkish Spring (Seymour, 2013) (Mingo, 2013).

(18)

Selain kesempatan psikologis dari revolusi yang terjadi di kawasan, PTG juga mendapatkan kesempatan politik dari kondisi politik dalam negeri. Sebelum Referendum Konstitusi tahun 2017, Turki menjalankan sistem parlementer yang telah membentuk fragmentasi politik tegas antara pemerintah dan oposisi. Eksistensi partai dan kelompok oposisi di Turki menjadi kesempatan politik bagi aksi massa. Partai-partai oposisi sebagaimana direpresentasikan oleh elitnya secara terbuka memihak kepada demonstrasi.

Saat Protes Taman Gezi terjadi kabinet pemerintahan Erdogan III menguasai 59,45% parlemen (Daily Sabah, n.d.) dan menghadapi 2 kekuatan oposisi. Pertama partai politik nasionalis, CHP beserta MPH—yang terakhir kini menjadi koalisi AKP (2020). Kedua koalisi Blok Buruh, Demokrasi dan Kebebasan. Koalisi ini adalah aliansi partai Kurdi dan sejumlah partai sayap kiri kecil yang tidak lolos ke parlemen (Ciddi, 2014).

Partai oposisi menunjukan manuver secara terbuka untuk memperbesar gelombang protes. Sırrı Süreyya Önder misalnya, seorang anggota Parlemen dari partai BPD, terlibat aksi langsung di jalan, menyerukan penolakan terhadap kesewenang-wenangan pemerintah atas lahan hijau. Reaksi CHP juga serupa, wakil presiden partai, Gürsel

Tekin, menyatakan mendukung para protester (Hürriyet Daily News, 2013).

Bahkan CHP meminta anggota partainya datang ke Taksim untuk ikut langsung dalam protes (Polat & Subay, 2016).

Sisi elit oposisi ini memberi celah kepada demonstran untuk terus melakukan aksi oleh sebab mendapat simpati, elit oposisi memberi legitimasi etis dalam aksi menentang “kesalahan elit penguasa”.

Kedua, tentu sebagai elit, mereka memiliki pengikut yang mereka minta untuk terlibat langsung dalam protes.

Selain elit partai politik, Protes Taman Gezi juga melibatkan kalangan budaya pop, artis. Aspek ini membuat protes sangat “viral” dan mampu mendorong generasi muda terlibat.

Penyanyi Can Bonomo yang kini memiliki 875,5 ribu follower, Memet Ali Alabora (2,8 jt Pengikut), Okan Bayülgen (6,8 jt Pengikut) adalah beberapa diantara artis penggerak PTG. Keterlibatan seniman tidak hanya beropini di media sosial namun bertindak langsung dalam aksi.

Pianis Turki Yiğit Özatalay melakukan konser bersama pianis Jerman Davide Martello di Taksim Square untuk mendukung Protes Taman Gezi (Hürriyet Daily News, 2013). Selain dari artis Turki, Protes Gezi juga mendapat perhatian dan simpati dari artis dunia. Tilda Swinton misalnya, berfoto dengan menampakan poster "untuk warga dunia, saat ini, polisi

(19)

dengan kejam menyerang warga yang memprotes pemerintah di Istanbul”. Aktris yang membintangi film Narnia dan Avengers ini memiliki 72,7 juta follower Twitter. Penyanyi Madonna juga memposting sebuah foto dalam akun instagramnya dengan caption “Stop the violence in Turkey! Start a revolution of love! Tolerance=human dignity and respect!” (Hürriyet Daily News, 2013).

Saat ini instagram Madonna diikuti 15,1 juta follower. Akun media sosial selebritis selain memiliki jumlah follower banyak juga rata-rata pengikutnya adalah generasi muda. Simpati dari artis dunia dimaknai sebagai strukutur kesempatan politik karena memperbesar resonansi gaung dan menjangkau lebih luas khalayak di dalam negeri maupun luar negeri. Secara psikologis mereka “menyalahkan”, sebagai upaya menekan, pemerintah Turki dan memberi legitimasi etis bagi demonstran untuk terus bergerak.

Fenomena keterlibatan seniman dan artis dalam Protes Taman Gezi menyimpan teka teki, mengapa artis yang kecenderungan umumnya apolitis terlibat dalam gerakan sosial? Fenomena ini terjadi setidaknya karena dua hal yang berkaitan. Pertama Perdana Menteri Erdogan dan elit AKP sebelum 2013 intens mengungkapkan narasi bahkan rencana kebijakan publik yang Islami seperti ketidaksetujuan terhadap aborsi,

pembatasan penjualan minuman beralkohol, termasuk pembangunan replika barak Usmani di Taman Gezi.

Kecenderungan semakin Islami ini menjadi ancaman eksistensial bagi kelmpok sekularis yang di dalamnya terdapat kelompok seniman dan artis.

Kedua salah satu penggerak aksi kolektif PTG, Osman Kavla, merupakan aktivis seni yang memiliki jaringan luas dan kuat dengan keuangan memadai dari dukungan pengusaha filantropi George Soros.

Menurut pemerintah Turki, George Soros beberapa kali mentransfer sejumlah uang kepada Osman Kavala. Kavla selain aktivis seni juga seorang pebisnis, ia memiliki lembaga hub seniman dan artis, Anadolu Kültür. Secara formal lembaga ini mengampanyekan pluralisme di Turki (Kucukgocmen & Solaker, 2018). Dalam webisetenya Anadolu Kültür menerangkan bahwa mereka merupakan “lembaga budaya nirlaba, dengan orang-orang dari berbagai bidang seni, dunia bisnis dan masyarakat sipil…” memiliki “mimpi masyarakat di mana keanekaragaman budaya dianggap sebagai kekayaan, bukan konflik, dan bebas dari prasangka, dipelihara dan beragam” (Anadolu Kültür, 2019-2020).

Pembingkaian: Hak atas Kota dan Melawan Otoritarianisme

(20)

Seperti di singgung pada bagian teori, framing atau pembingkaian memiliki 3 tipe utama, diagnostik, prognostik dan motivasional. Gagal atau berhasilnya sebuah framing bergantung pada tingkat gaung dari “pengalaman hidup target audiens” dan “stok kultur masyarakat”.

Sehingga efektifitas sebuah framing dalam satu masyarakat belum tentu sama berhasil dalam masyarakat lain. Protes Taman Gezi dianggap oleh beberapa peneliti sebagai

“bentuk baru” dan tidak dikategorikan sebagai gerakan sosial namun mereka merasa lebih cocok memasukannya kedalam kategori gerakan sosial baru.

Salah satu cirinya adalah spontanitas dan kesetaraan antar demonstran atau leaderless (Sarfati, 2015). Sarfati menilai positif hal ini dan menyebutnya sebagai bentuk baru. Namun menurut penulis ketiadaan pemimpin dalam aksi masa menunjukan ketidakmatangan dan reaktifitas dari protes.

Dari aksi yang sangat heterogen dan tidak terpimpin ini Yusuf Sarfati mengelompokan dua framing utama.

Pertama hak atas kota dan kedua melawan otoritariansime. Melawan otoritarianisme bergaung dalam 3 tema besar, yaitu kekerasan polisi, tutup mata media arus utama dan tuntutan kebebasan individu.

Hak atas kota, menurut penulis, muncul dari kelompok kiri. Mereka memprotes implementasi kebijakan kota neo-liberal

yang menepis suara penduduk dari kota tempat tinggal mereka. Bagi demonstran, implementasi kebijakan kota yang neo- liberal mendorong konsumerisme dan penghancuran terhadap karakter historis kota serta menenggelamkan ruang bersama

“yang hidup”. Salah satu jargon yang mereka bawa adalah quotes dari Karl Marx

“capitalism will cut down the tree if it can’t sell its shadow”. Selain itu mereka juga menuliskan “these trees are not for sale”, “capital get out, these streets are ours” “we own this city” “AKP hands off my neighborhood” dan sebagainya (2015).

Framing melawan otoritarianisme Erdogan muncul dalam beberapa bentuk ekspresi. Salahsatu yang dominan dan menjadi pemicu ledakan demonstrasi adalah cara-cara kasar atau kekerasan yang dilakukan polisi dalam upaya membubarkan massa aksi yang damai.

Ikon pesan ini yang paling popular adalah gambar “woman in red”, seorang perempuan berbaju merah disemprot gas air mata. Sosok perempuan dalam woman in red mencerminkan karakter masa aksi yang damai (memakai gaun, membawa tas, sangat santai, dan tidak bermaksud melakukan perlawanan/kekerasan) namun ditangani semena-mena oleh polisi.

Bentuk otoritarian rezim Erdogan lain yaitu tidak meliputnya media arus utama terhadap aksi masa dikarenakan tekanan pemerintah. Media-media di Turki

(21)

dikuasai oleh konglomerat yang mereka tidak hanya berbisnis pewartaan saja namun juga bidang-bidang lain. Jaringan usaha konglomerasi media ini bersentuhan dengan proyek-proyek pemerintah, sehingga para pemilik media sangat bergantung kepada rezim Erdogan. Pada tanggal 31 Mei dan 1 Juni saat terjadi puncak aksi masa Protes Taman Gezi, CNN Turki tidak menyiarkannya peristiwa itu, CNN malah menanyangkan dokumenter pinguin. Pinguin kemudian menjadi simbol dan olok-olok bagi media mainstream. “Media for sale” “Turn off the TV and go onto the street for freedom”

“revolution will not be televised, it will be tweeted” (Sarfati, 2015).

Kebebasan individu menjadi isu/bingkai yang menunjukan pemerintah di bawah Erdogan otoriter. Seperti telah disinggung di atas, peserta aksi massa dari berbagai kelompok, beberapa di antaranya adalah kelompok LGBT, feminist, anak muda kelas menengah urban terdidik.

Salah satu issu yang mereka tolak adalah wacana pelarangan aborsi oleh Erdogan bahkan untuk korban perkosaan. Bagi para aktifis aborsi adalah pilihan. Beberapa saat sebelum meletusnya aksi taman Gezi, pemerintah juga melakukan himbauan pelarangan berciuman di stasiun kereta yang marak dilakukan oleh anak-anak muda di sebuah kota di Turki. Anak-anak muda melawannya dengan sengaja

berciuman di ruang publik. Juga yang menjadi isu bentuk pengekangan kebebasan adalah pelarangan penjualan minuman beralkohol yang diperbolehkan hanya di tempat tertentu (Sarfati, 2015).

Dalam PTG, beberapa demonstran memperlihatkan diri meminum bir sebagai bentuk pembangkangan/perlawanan.

“Pemerintah melarang alkohol, rakyat semakin mabuk” tertera tulisan pada sebuah poster demonstran yang terpublish di Twitter.

SIMPULAN

Penyebab mengapa Protes Taman Gezi, sebuah protes kebijakan tata ruang di Istanbul, bisa menjalar ke kota lain disertai pergeseran isu adalah karena sejatinya PTG bukan (hanya) protes pro-kontra kebijakan Taman Gezi, melainkan protes kelompok sekuler terhadap pemerintah AKP. Protes ini merupakan akumulasi ketegangan polarisasi masyarakat Turki antara kelompok Islam dan sekuler pasca pemilu 2002. Politik perlawanan kelompok sekuler mencuat saat memperebutkan klaim atas ruang publik historis Taman Gezi, meskipun secara langsung gelombang ini dipantik oleh protes aktivis lingkungan dan represi aparat disertai manuver-manuver oposisi pemerintah. Penelitian ini berupaya menawarkan penjelasan terhadap aksi terbesar sepanjang Erdogan berkuasa. Jika

(22)

memahami hanya melalui fenomena protes atau gerakan sosial PTG saja tanpa meninjau akar historis dan peta masyarakat Turki, seseorang akan kesulitan menjelaskan perluasan aksi ke kota-kota lain disertai pergeseran isu dari kebijakan kota ke demonstrasi anti pemerintah.

Kendati demikian, naskah ini belum begitu mengena dalam melihat hubungan langsung antara Musim Semi Arab dan Protes Taman Gezi.

Perkembangan polarisasi masyarakat Turki perlu ditinjau lebih lanjut pasca protes Taman Gezi dari aspek globalisme beserta fenomena menguatnya politik indentitas yang menyertainya. Selain itu penelitian berdasarkan perspektif pemerintah atau AKP sendiri perlu diketengahkan dalam jamuan akademis.

Selama ini, sejauh pengetahuan penulis, perspektif penelitian yang melimpah terkait politik Turki khususnya PTG, mayoritas menggunakan sudut pandang demonstran dan tidak simpatik terhadap pemerintah/AKP. Tulisan ini berupaya berada di tengah, meskipun penulis akui penggunaan litelatur yang simpatik terhadap pemerintah/AKP sangat terbatas.

(23)

DAFTAR PUSTAKA

Aknur, M. (2013). Towards More Democratic Civil-Military Relations in Turkey. L’Europe en formation, 1-31.

Aknur, M. (2014). The Gezi Park Protests As A Social Movement In Turkey:

From Emergence To Coalescence Without Bureaucratization. Studia Europaea.

Anadolu Kültür. (2019-2020). About Us.

Retrieved from Anadolu Kültür:

https://www.anadolukultur.org/33- hakkimizda/

Arda, B. (2015). The Construction of a New Sociality through Social Media: the Case of the Gezi Uprising in Turkey. Conjuctions.

Aydın-DuzgIt, S. (2019). The Islamist- Secularist Divide and Turkey’s Descent into Severe Polarization.

In T. Carothers, Democracies Divided: The Global Challenge of Political Polarization (pp. 17-37).

Washington DC: Brookings Institution Press.

BBC. (2013, Juni 12). Q&A: Protests in Turkey. Retrieved from BBC:

https://www.bbc.com/news/world- europe-22780773

Carothers, T., & Youngs, R. (2015). The Complexities of Global Protests.

Washington: Carnegie Endowment for International Peace.

Ciddi, S. (2014). Political Opposition in Turkey: From Political Parties to the Gezi Protest. Georgetown Journal of International Affairs, 44-54.

CNN. (2020, Februari 19). Turkish activist Osman Kavala re-arrested hours after his Gezi Park acquittal.

Retrieved from CNN:

https://edition.cnn.com/2020/02/18 /asia/turkey-gezi-park-trial-verdict- intl/index.html

constituteproject.org. (2019). Turkey's Constitution of 1982 with Amendments through 2002. Oxford University Press. Retrieved from https://www.constituteproject.org/c onstitution/Turkey_2002.pdf constituteproject.org. (2019). Turkey's

Constitution of 1982 with Amendments through 2011. Oxford University Press.

Daily Sabah. (2014, November 20).

Istanbul locals to decide on the fate of Gezi Park. Retrieved from Daily Sabah:

https://www.dailysabah.com/turkey /2014/11/20/istanbul-locals-to- decide-on-the-fate-of-gezi-park Daily Sabah. (2020, Februari 18). Kavala

and 8 others acquitted in Gezi trial. Retrieved from Daily Sabah:

https://www.dailysabah.com/invest igations/2020/02/18/kavala-and-8- others-acquitted-in-gezi-trials Daily Sabah. (n.d.). Turkey Elections.

Retrieved from Daily Sabah:

https://www.dailysabah.com/electi on-results

Demirhan, K. (2014). Social Media Effects on the Gezi Park Movement in Turkey: Politics Under Hashtags.

In B. Pa ̆tru ̧t, & M. Pa ̆tru ̧t, Social Media in Politics (pp. 282-285).

Switzerland: Springer International Publishing.

Deutsche Welle. (2018, Mei 28).

Remembering the Gezi Park protests and the dream of a different Turkey. Retrieved from

Deutsche Welle:

https://www.dw.com/en/rememberi ng-the-gezi-park-protests-and-the-

(24)

dream-of-a-different-turkey/a- 43952443

Elicin, Y. (2015). Defending the City:

Taksim Solidarity. Journal of Balkan and Near Eastern Studies, 1-16.

Erkoc, T. (2013). Taksim Gezi Park Protests: Birth and Backlash of a Political Sphere. In B. Gökay, & I.

Xypolia, Reflections on Taksim – Gezi Park Protests in Turkey (pp.

43-45). England: Keele European Research Centre.

Eroglu, C. (2015). Understanding The Gezi Movement in Istanbul: Artist Perspectives. Leiden: Leiden University.

Ete, H. (2013). The Political Reverberations of the Gezi Protests. Insight Turkey, 15-25.

Ete, H., & Taştan, C. (2014). The Gezi Park Protests: a Political, Sociological, and Discursive Analysis. İstanbul: SETA.

Fabbrini, S. (2001). Cleavages: Political.

In N. Smelser, & P. Baltes, International Encyclopedia of the Social & Behavioral Sciences (pp.

1987-1988). Pergamont.

Farro, A., & Demirhisar, D. G. (2014).

The Gezi Park Movement: a Turkish Experience of the Twenty- First-Century Collective Movements. International Review of Sociology: Revue Internationale de Sociologie.

Giddens, A., & Sutton, P. (2020, Mei 14).

Chapter Summary for Chapter 22 Politics, Government and Social Movements. Retrieved from Sociology by Anthony Giddens

and Philip Sutton:

https://politybooks.com/giddens7/s

tudentresource/summaries/Student _Summary_22.asp

Gole, N. (2013). Gezi – Anatomy of a Public Square Movement. Insight Turkey, 7-14.

Gürcan, E. C., & Peker, E. (2015).

Challenging Neoliberalism at Turkey’s Gezi Park: From Private Discontent to Collective Class Action. New York: Palgrave Macmillan.

Gürcan, E. C., & Peker, E. (2015).

Challenging Neoliberalism at Turkey’s Gezi Park. New York:

Palgrave Macmillan.

Haciyakupoglu, G., & Zhang, W. (2015).

Social Media and Trust during the Gezi Protests in Turkey.

Computer-Mediated Communication.

Hadiz, V. R. (2016). Islamic Populism in Indonesia and the Middle East.

Cambridge: Cambridge University Press.

Harlow, S. (2011). Social media and social movements: Facebook and an online Guatemalan justice movement that moved offline. New Media & Society, 228-230.

Howard, P., & Hussain, M. (2013).

Democracy’s Fourth Wave?

Digital Media and the Arab Spring.

New York: Oxford University Press.

Human Rights Watch. (2020, Juni 19).

Turkey: Gezi Protests Trial to Begin. Retrieved from Human

Rights Watch:

https://www.hrw.org/news/2019/06 /19/turkey-gezi-protests-trial-begin Hürriyet Daily News. (2013, Juni 3).

World celebrities join in against police violence in Turkey.

Retrieved from Hürriyet Daily

(25)

News:

https://www.hurriyetdailynews.co m/world-celebrities-join-in-

against-police-violence-in-turkey-- 48099

Hürriyet Daily News. (2013, Juni 6).

Timeline of Gezi Park protests.

Retrieved from Hürriyet Daily News:

https://www.hurriyetdailynews.co m/timeline-of-gezi-park-protests-- 48321

Konda. (2014). GEZİ REPORT: Public perception of the ‘Gezi protests’, Who were the people at Gezi Park?

Konda.

Kucukgocmen, A., & Solaker, G. (2018, November 26). Soros foundation to close in Turkey after attack by Erdogan. Retrieved from Reuters:

https://www.reuters.com/article/us- turkey-security-soros/soros-

foundation-to-close-in-turkey- after-attack-by-erdogan- idUSKCN1NV1KL

Mardin, S. (1973). Center-Periphery Relations: A Key to Turkish Politics? Daedalus, 169-190.

McCombes, S. (2020, Maret 13). How to write a research methodology.

Retrieved from Scribbr:

https://www.scribbr.com/dissertati on/methodology/

Mingo, A. (2013, Juni 1). TURKISH SPRING? Retrieved from European Public Affairs:

https://www.europeanpublicaffairs.

eu/turkishspring/

Oz, M. (2016). Mainstream media’s coverage of the Gezi protests and protesters’ perception of mainstream media. Global Media and Communication.

Park, L., Goodwin, H., & Han, L. (2017).

“I Have the Government in My Pocket ... ”: Social Media Users in Turkey, Transmit-Trap Dynamics, and Struggles Over Internet Freedom. Communication, Culture

& Critique, 574-579.

Payzin, S. (2019, Juli 19). Turkish government trying to blame Gezi Park protest on ‘foreign actors’, says imprisoned civil society leader. Retrieved from Open Democracy:

https://www.opendemocracy.net/en /turkish-government-trying-to- blame-gezi-park-protests-on- foreign-actors-says-imprisoned- civil-society-leader/

Polat, F., & Subay, O. O. (2016). Political Movement By Apolitical Activist:

Gezi Park Protests. European Scientific Journal, 107.

Rabasa, A., & Larrabee, S. (2008). The Rise of Political Islam in Turkey.

Santa Monica: RAND Corporation.

Rodrik, D. (2011). Ergenekon and Sledgehammer: Building or Undermining the Rule of Law?

Turkish Policy Quarterly.

Sarfati, Y. (2015). Dynamics of Mobilization during Gezi Park Protests in Turkey. In I. Epstein, The Whole World is Texting: Youth Protest in the Information Age (pp.

29-33). Rotterdam: Sense Publishers.

Schubel, V. J. (2013, 11 7). The Gezi Park Protests: Is Turkey becoming Egypt? Retrieved from Informed Comment:

https://www.juancole.com/2013/07 /protests-becoming-schubel.html Seymour, R. (2013, Mei 31). Istanbul park

protests sow the seeds of a Turkish

(26)

spring. Retrieved from The Guardian:

https://www.theguardian.com/com mentisfree/2013/may/31/istanbul- park-protests-turkish-spring

Tarrow, S. (2011). Power in Movement, Social Movements and Contentious Politics. New York: Cambridge University Press.

Turkey's Constitution of 1982 with Amendments through 2017. (2020, Februari 4). Retrieved from constituteproject.org:

https://www.constituteproject.org/c onstitution/Turkey_2017.pdf?lang=

en

Webb, A. K. (2017). Resonance of the Arab Spring: Solidarities and Youth Opinion in the Global South. International Political Science Review, 6-10.

Whitehead, C., & Bozoğlu, G. (2017).

Protest, Bodies, and the Grounds of Memory: Taksim Square as

‘heritage site’ and the 2013 Gezi Protests. Heritage & Society, 1-26.

Wikipedia. (2020, Maret 31). Reactions to the Gezi Park protests. Retrieved

from Wikipedia:

https://en.wikipedia.org/wiki/React ions_to_the_Gezi_Park_protests Wikipedia. (2020, Mei 26). 2011 Turkish

general election. Retrieved from Wikipedia:

https://en.wikipedia.org/wiki/2011 _Turkish_general_election

Wiktorowicz, Q. (2004). Islamic Activism:

A Social Movement Theory Approach. Bloomington: Indiana University Press.

Yang, C., & Guo, C. (2018). “National Outlook Movement” in Turkey: A

Study on the Rise and Development of Islamic Political Parties. Journal of Middle Eastern and Islamic Studies (in Asia), 1-28.

Yavuz, M., & Öztürk, A. E. (2019).

Turkish secularism and Islam under the reign of Erdoğan.

Southeast European and Black Sea Studies, 1-9.

Yayla, A. (2014, Juni 3). What’s left for the future from Gezi Protests?

Retrieved from Yeni Safak:

https://www.yenisafak.com/en/colu mns/atillayayla/whats-left-for-the- future-from-gezi-protests-2004057 Yayla, A. (2015, April 7). Is it the Gezi

spirit in CHP or the CHP spirit in Gezi? Retrieved from Yeni Safak:

https://www.yenisafak.com/en/colu mns/atillayayla/is-it-the-gezi-spirit- in-chp-or-the-chp-spirit-in-gezi- 2009993

Yeni Safak. (2015, April 3). Wave of terror, those documents and the Gezi-Gülen Movement alliance….

Retrieved from Yeni Safak:

https://www.yenisafak.com/en/colu mns/ibrahimkaragul/wave-of- terror-those-documents-and-the- gezi-gulen-movement-alliance- 2009912/

Yeni Safak. (2019, Juni 26). Turkish court rules Gezi Park suspect stay in jail.

Retrieved from Yeni Safak:

https://www.yenisafak.com/en/new s/turkish-court-rules-gezi-park- suspect-stay-in-jail-3484177

Referensi

Dokumen terkait

saluran napas bawah tidak memungkinkan dan pasien tidak memiliki tanda-tanda atau gejala infeksi pada saluran pernapasan bawah. Sampel dari saluran napas harus diambil

dana-dana zakat yang potensial dan mengumpulkan dana dengan memanfaatkan power Pemerintah Daerah Jakarta, (b) memaksimalkan pemungutan zakat secara online, (c)

guru di kelas. Strategi yang digunakan subjek E ini dirasa efektif. Sedangkan strategi dengan berteman dengan pelaku bullying dirasa kurang efektif karena perilaku

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan: (1) aktivitas belajar siswa kelas X MIA 4 SMA Negeri 4 Surakarta tahun pelajaran 2016/2017 pada materi larutan elektrolit dan

6 Zunly Nadia Nadia, Perilaku Keagamaan Komunitas Muslim (Pemahaman Hadis Dalam NU Dan Salafi Wahabi Di Indonesia), Jurnal Living Hadis, no.. diformalkan pada kelompok,

Pada angular cheilitis yang berhubungan dengan defisiensi nutrisi, lesi terjadi bilateral dan meluas beberapa milimeter dari sudut mulut pada mukosa pipi dan ke lateral pada

Dalam kehidupan masyarakat sekarang tidak lepas dari demokrasi atau bidang kekuasaan politik, teori yang dimaksud dapat disebut ideologi penguasa atau ideologi elite.. Bagi

[r]