• Tidak ada hasil yang ditemukan

Leli Purwanti ¹, Mega Isvandiana Purnamasari ², Ayattullah Muhammadin Al Fath ³ 1 Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, STKIP PGRI Pacitan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Leli Purwanti ¹, Mega Isvandiana Purnamasari ², Ayattullah Muhammadin Al Fath ³ 1 Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, STKIP PGRI Pacitan"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

http://repository.stkippacitan.ac.id 1 ANALISIS SIKAP SOSIAL PADA SISWA SLOW LEARNED MELALUI

PENGGUNAAN MEDIA PUZZLE DI SD NEGERI KENDAL KECAMATAN PUNUNG KABUPATEN PACITAN

TAHUN PELAJARAN 2019/2020

Leli Purwanti ¹, Mega Isvandiana Purnamasari ², Ayattullah Muhammadin Al Fath ³

1Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, STKIP PGRI Pacitan Email: [email protected]

2 Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, STKIP PGRI Pacitan Email: [email protected]

3 Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, STKIP PGRI Pacitan Email: [email protected]

Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) penerapan media puzzle untuk siswa slow learned; (2) sikap sosial siswa slow learned melalui media puzzle.Jenis penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Pelaksanaan penelitian pada semester genap tahun pelajaran 2019/2020. Penelitian ini menggunakan subjek yang dipilih secara purposive sampling pada siswa kelas IV SDN Kendal merupakan siswa yang mengalami lamban belajar. Serta menggunakan 2 informan yaitu guru kelas, dan satu teman dekat rumah siswa lamban belajar. Objek penelitian ini adalah sikap sosial siswa slow learned melalui penerapan media puzzle. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi, wawancara tidak terstruktur, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis data yang dikemukakan oleh Milles dan Huberman, yakni pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan verivikasi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Penerapan media puzzle dalam pelaksanaannya sudah sesuai sintaks yang ada yakni tahap pembagian kelompok, penyampaian materi, tahap kegiatan kelompok, tes individu, evaluasi; (2) Berdasarkan observasi sikap sosial yang diberikan, sikap sosial anak lamban belajar rata-rata memiliki kriteria kurang baik. Faktor lingkungan sekolah siswa lamban belajar tergolong baik. Saran guru, sebaiknya memberikan pendampingan personal kepada siswa supaya memahami dan meyelesaikan masalah yang dimiliki siswa.

Kata Kunci: Slow Learned, Sikap Sosial, Media Puzzle

Abstract. The research aims to determine: (1) the application of learning using puzzles media for slow learners; (2) students’social attitudes through the application of the puzzles media.The type of this research was descriptive qualitative. The research was done on the second semester on the academic year of 2019/2020. This research used subjects selected by purposive sampling in the students’ of class IV SD Negeri Kendal who identified as slow in learning. This research also used 2 informans, they were teacher and one classmates, and one close friend of the as slow learners.The object of this rsearch was the social attituds of slow larnrs through the application of the puzzles media. The data were collected by observation, unstructed interviews, and documentation. Then, the data analyzed by using Miles and Huberman including data reduction, data presentation and verificationThe result showed that: (1)The application of puzzles media in its implementation was ini accordance to the existing syntax namely the stage of group division, the delivery of material, the stage of group activities, individual test, and evalution;(2)Based on observations of social attitudes given, the social attitudes of slow learning children on average had unfavorable criteria. School environment factors students are slow learnes classified as good. Teacher’s advice, it is better to provide personal assistance to students in order to unserstand and slove problems owned by students.

Keywords:

Slow Learned, Social Attitude, Puzzles Media

PENDAHULUAN

Pendidikan pada intinya merupakan suatu proses mengajar, membimbing, mendidik, melatih, sedangkan inti dari proses pengajaran adalah siswa belajar. Oleh karena itu mengajar dan belajar mempunyai keterikatan yang tidak boleh dipisahkan

(2)

http://repository.stkippacitan.ac.id 2 satu sama lain. Proses ini dijumpai adanya berbagai hambatan dan permasalahan dalam

praktik. Permasalahan itu diantaranya adalah masalah kesulitan belajar yang dialami siswa. Kesulitan belajar dapat diartikan sebagai kondisi proses belajar yang ditandai oleh beberapa hambatan tertentu yang dialami siswa dalam upaya mencapai hasil belajar. Terdapat beberapa jenis kesulitan belajar yang dialami siswa dan membutuhkan perhatian guru.

Salah satu kondisi yang dijumpai guru adalah slow learned, yaitu anak yang mengalami lamban belajar. Anak lamban belajar (slow learned) merupakan anak yang memiliki potensi intelektual sedikit di bawah anak normal, tetapi tidak termasuk anak tunagrahita, biasanya memiliki IQ sekitar 80-85 (Garnida, 2015:16). Hal itu berakibat kesulitan untuk mencapai hasil belajar sesuai dengan capaian kelompok usia sebaya.

Karakteristik belajar yang lambat itulah sebagai ciri khusus dari siswa lamban belajar.

Proses pembelajaran sejatinya juga menanamkan pendidikan karakter bagi siswa, atau kompetensi kepribadian dan sosial. Sikap sosial sangat dibutuhkan untuk menjalin hubungan dengan orang lain dalam kehidupan sehari-hari. Sikap merupakan sesuatu yang dipelajari dan sikap menentukan sifat individu dalam bereaksi terhadap suatu situasi serta menentukan apa yang dicari individu dalam kehidupan (Slameto, 2013:

188). Hasil studi awal di salah satu SD, peneliti menemukan sikap sosial slow learned yang cenderung pasif. Siswa slow learned belum maksimal dalam mengerjakan tugas.

Hal ini mungkin karena mereka kurang percaya diri. Sebaliknya, mereka dapat melaksanakan tanggung jawab yang diberikan kepadanya meskipun pada saat melaksanakannya cenderung lamban dalam mengerjakan tugas.

Alternatifnya, guru dapat menerapkan media puzzle. Menurut Jamil (2012: 20) media puzzle merupakan bentuk teka-teki dengan model menyusun potongan-potongan gambar menjadi kesatuan gambar utuh. Media tersebut merupakan salah satu alternatif media pembelajaran yang diharapkan mampu menanamkan pendidikan karakter dalam proses pembelajarannya, salah satunya adalah sikap sosial yang positif. Indikator sikap sosial meliputi jujur, disiplin, tanggung jawab, toleransi, gotong royong, santun atau sopan, dan percaya diri. Pada penelitian saya memilih 3 indikator sikap sosial yaitu disiplin, tanggung jawab dan percaya diri.

(3)

http://repository.stkippacitan.ac.id 3 METODE PENELITIAN

Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian kualitatif menurut Sukmadinata (2011: 60) adalah suatu penelitian yang ditujukan untuk mendeskrepsikan dan menganalisis fenomena, peristiwa, aktivitas sosial, sikap, kepercayaan, persepsi, pemikiran orang, baik secara individual maupun kelompok.Subjek penelitian pertama dalam penelitian ini adalah siswa lamban belajar kelas IV, sedangkan subjek penelitian kedua dalam penelitian ini adalah wali kelas IV SDN Kendal Kecamatan Punung Kabupaten Pacitan Tahun Pelajaran 2019/2020.

Subjek dipilih dengan cara purposive sampling artinya peneliti memilih subjek berdasarkan tujuan penelitian. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Instrumen pada penelitian ini adalah peneliti sebagai instrumen utama, observasi sebagai instrumen bantu pertama, wawancara sebagai instrument bantu kedua, dan dokumentasi sebagai instrumen bantu ketiga .

Instrumen utama bertujuan untuk mencari dan mengumpulkan data langsung dari sumber data. Instrumen bantu pertama pada penelitian ini adalah lembar observasi sikap sosial siswa anak lamban belajar. Instrumen ini digunakan untuk melihat dan mengamati situasi dan kondisi selama proses pembelajaran berlangsung baik dari penerapan media maupun siswa. Instrumen bantu kedua yaitu wawancara instrumen pedoman wawancara ini adalah sebagai acuan peneliti dalam melaksanakan wawancara kepada subjek penelitian yang meliputi kepala sekolah, guru maupun siswa yang terkait dengan penerapan media puzzle terhadap sikap sosial siswaslow learned, Instrumen bantu ketiga yaitu dokumentasi instrumen pedoman dokumentasi ini adalah sebagai acuan peneliti dalam memperoleh keterangan berupa catatan penting atau dokumen yang penting yang ada hubungannya dengan masalah yang akan diteliti.

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL

Hasil observasi sikap disiplin pada saat proses pembelajaran menggunakan media puzzle menerangkan, bahwa siswa dalam menyelesaikan untuk menyusun puzzle tidak tepat waktu hal ini dapat dibuktikan dengan hasil pekerjaan siswa lamban belajar yang belum selesai dan merangkai puzzle belum urut. Namun disisi lain siswa lamban belajar tersebut pada saat mengikuti proses pembelajaran sangat tertib dan mau mendengarkan.

(4)

http://repository.stkippacitan.ac.id 4 Sedangkan Hasil observasi sikap tanggung jawab pada proses pembelajaran

menggunakan media puzzle menerangkan, bahwa siswa dalam menyusun puzzle belum benar atau hasil akhirnya tidak runtut sesuai dengan contoh gambar, hal tersebut terjadi karena siswa lamban belajar ketika menyusun puzzle hanya dikerjakan semaunya saja tanpa berpikir terlebih dahulu agar hasilnya benar, tetapi ia sudah berusaha untuk segera menyelesaikan tugasnya tersebut walaupun hasilnya kurang baik. Kemudian Hasil observasi sikap percaya diri pada proses pembelajaran menggunakan media puzzle menerangkan, bahwa siswa lamban belajar cenderung kurang yakin dan ragu-ragu dalam menyusun puzzle dan terkesan takut, selain itu tingkat konsentrasinya mudah.

terganggu. Dalam teknik observasi, peneliti membuat instrumen yang selanjutnya dinamakan lembar observasi, pada lembar observasi peneliti menetapkan 3 indikator dengan tiap sub indikator ditetapkan 8 subindikator yang harus diamati. Hasil pengamatan proses pembelajaran menggunakan media puzzle, akan dijelaskan setiap indikatornya sebagai berikut:

Tabel Hasil Pencapaian Indikator

No Indikator Sub Indikator Ya Tidak 1 Disiplin a. Siswa

mengerjakan/mengumpulkan tugas sesuai dengan tepat waktu.

b. Siswa tertib dalam mengikuti pembelajaran.

 c. Siswa memperhatikan guru

ketika pembelajaran.

 2 Tanggung

Jawab

a. Siswa melaksanakan tugas individu dengan baik.

 b. Siswa menyelesaikan tugas yang

sudah menjadi kewajibannya.

3 Percaya diri

a. Siswa tidak canggung dan yakin dengan kemampuan sendiri dalam bertindak.

b. Siswa konsentrasi menyusun puzzle.

 c. Siswa tidak mudah putus asa

dalam mengerjakan sesuatu.

Tabel menunjukkan bahwa pencapaian indikator satu menunjukkan, pertama bahwa siswa slow learned dalam mengerjakan/mengumpulkan tugas tidak sesuai dan

(5)

http://repository.stkippacitan.ac.id 5 tidak tepat waktu. Dapat dikatakan demikian karena pada saat siswa tersebut diberi

tugas untuk menyusun puzzle hasilnya tidak sesuai yang diharapkan dan cara menyusunnya tidak urut, selain itu waktu yang diberikan tidak cukup bagi siswa tersebut untuk menyelesaikan tugasnya. Kedua, siswa tertib dalam mengikuti pembelajaran menggunakan media puzzle.Dalam hal ini siswa slow learned tertib dan teratur dalam mengikuti pembelajaran yang diberikan oleh guru. Ketiga, siswa slow learned juga memperhatikan guru ketika pembelajaran berlangsung. Hal ini dapat dibuktikan dengan memperhatikan tingkah laku siswa tersebut yaitu walaupun dalam situasi apapun siswa slow learnedtetap mendengarkan penjelasan dari guru.

Indikator dua menunjukkan, pertama siswa dalam melaksanakan tugas individu belum dilakukan secara baik, hal ini terbukti ketika diberi tugas baik tugas tertulis maupun tugas menyusun puzzle hasil akhirnya kurang memuaskan. Kedua siswa belum menyelesaikan tugas dengan benar, dikatakan demikian karena pada saat diberi tugas untuk menyusun puzzle iahanya mengerjakan semaunya saja tanpa berpikir terlebih dahulu.

Indikator ketiga menunjukkan, pertama siswa kelihatan canggung dan tidak yakin dengan kemampuan sendiri dalam bertindak. Hal ini terlihat ketika guru sudah menyuruh siswa tersebut untuk segera menyusun ia awalnya kelihatan bingung dan ragu sehingga ia sering membolak balikkan potogan gambar tersebut. Kedua siswa tidak konsentrasi dalam menyusun puzzle, bisa dikatakan demikian karena ia merasa dalam situasi panik dan takut. Apalagi jika tidak bisa mengerjakan maka siswa tersebut konsentrasinya buyar dan tidak fokus terhadap apa yang akan dilakukan dalam menyusun puzzle tersebut. Ketiga siswa slow learned tidak mudah putus asa dalam mengerjakan tugas menyusun puzzle, walaupun sebenarnya ia tidak bisa mengurutkan potongan gambar dengan baik namun ia tetap berusaha untuk menyelesaikan hal ini terbukti ketika diamati siswa tersebut terus berusaha mengurutkan gambarnya agar tersusun dengan benar.

PEMBAHASAN

Penggunaan media puzzle dilaksanakan pada hari Senin, 13 April pukul 13.00- 15.00 WIB dengan Tema 4/Sub Tema 3 pembelajaran 2 kelas IV. Soebachman (2012:

48) Mengatakan bermain “puzzle” adalah permainan yang terdiri atas kepingan kepingan dari satu gambar tertentu yang dapat melatih tingkat konsentrasi.Perencanaan

(6)

http://repository.stkippacitan.ac.id 6 yang harus dilakukan sebelum penelitian adalah menyusun rencana pelaksanaan

pembelajaran (RPP) dengan bantuan menggunakan media puzzle tersebut.Disini dalam proses pembelajaran memberikan pendekatan agar dapat membantu anak lamban belajar menguasai materi. Adapun materi pembelajaran pada saat melaksanakan penelitian tersebut meliputi mendiskusikan makna sila ketiga Pancasila dan menggambar dengan tema nelayan. Jumlah siswa yang hadir dalam penelitian tersebut berjumlah satu orang yaitu siswa lamban belajar sendiri.

Penyusunan instrumen penelitian yang meliputi lembar observasi untuk memantau aktivitas siswa dalam pembelajaran menggunakan media puzzle dan acuan untuk mengetahui sikap sosial yang ditunjukkan siswa slow learned tersebut. Menurut Elly Sari Melinda ( 2013: 53) berpendapat bahwa pengertian dari lamban belajar (slow learned) adalah anak yang memiliki potensi intelektual sedikit di bawah anak normal, tetapi tidak termasuk anak tunagrahita (biasanya memiliki IQ sekitar 80-85). Pada saat pembelajaran menggunakan media puzzle, pembelajaran dimulai dengan mengucap salam terlebih dahulu dan mempersiapkan siswa dalam memulai pelajaran. Dan selanjutnya guru menyampaikan kompetensi yang akan dicapai serta menyampaikan apersepsi untuk mendorong rasa ingin tahu tentang makna sila ke tiga Pancasila. Guru menyampaikan materi secara jelas dan selain itu guru memberi tugas untuk menyusun puzzle dan mengerjakan soal tertulis.

Pelaksanaan pembelajaran menggunakan media puzzle pada siswa slow learned kelas IV SDN Kendal Kecamatan Punung Kabupaten Pacitan, peneliti menggunakan beberapa teknik untuk mendapatkan informasi atau data yang diinginkan oleh peneliti.

Peneliti menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Menurut Sugiyono (2016: 203), observasi merupakan teknik pengumpulan data yang mempunyai ciri lebih spesifik yang tidak terbatas pada orang tetapi juga objek-objek alam yang lain.

Sedangkan wawancara merupakan salah satu bentuk kegiatan tanya jawab dan tatap muka (face to face) antara pewawancara (interviewer) dan yang diwawancarai (interviwee) tentang masalah yang diteliti, dimana pewawancara bermaksud memperoleh persepsi, sikap, dan pola pikir dari yang diwawancarai yang relevan dengan masalah yang diteliti (Gunawan, 2013: 160). Sedangkan Dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkip, buku, surat

(7)

http://repository.stkippacitan.ac.id 7 kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, lengger, agenda, dan sebagainya (Arikunto,

2013: 274).

SIMPULAN DAN SARAN SIMPULAN

Berdasarkan hasil pembahasan dan penelitian tentang analisis sikap sosial pada siswa slow learned melalui penggunaan media puzzle di SDN Kendal Kecamatan Punung Kabupaten Pacitan, dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Sikap disiplin yang ditunjukkan pada siswa slow learned tesebut termasuk tergolong baik,. Bisa dikatakan demikian karena pada saat proses pembelajaran menggunakan media puzzle tersebut sikap disiplin yang ditunjukkan siswa slow learned yaitu ia tertib dalam mengikuti pembelajaran serta mau memperhatikan penjelasan dari guru.

2. Sikap tanggung jawab yang ditunjukkan pada siswa slow learned tersebut yaitu termasuk tergolong kurang baik. Bisa dikatakan demikian karena pada saat proses pembelajaran menggunakan media puzzle tersebut, sikap tanggung jawab yang ditunjukkan siswa slow learned yaitu sebenarnya siswa tersebut sudah mau untuk mengerjakan tugas yang sudah menjadi kewajibannya namun disisi lain hasil akhir dari tugas tersebut kurang dari apa yang diharapkan karena ia dalam mengerjakan hanya semaunya saja tanpa berpikir terlebih dahulu.

3. Sikap percaya diri yang ditunjukkan pada siswa slow learned tersebut yaitu termasuk tergolong kurang baik. Bisa dikatakan demikian karenapada saat proses pembelajaran menggunakan media puzzle sikap percaya diri yang ditunjukkan siswa slow learned yaitu ia canggung dan tidak yakin terhadap kemampuannya sendiri selain itu tingkat konsentrasinya juga masih kurang, sehingga pada saat menyusun puzzle ia terkesan takut salah.

SARAN

Berdasarkan hasil pembahasan dan penelitian tentang analisis sikap sosial pada siswa slow learned melalui penggunaan media puzzle di SDN Kendal Kecamatan Punung Kabupaten Pacitan, penulis mengajukan saran sebagai berikut:

1. Saran untuk Guru

(8)

http://repository.stkippacitan.ac.id 8 Diharapkan guru dapat meningkatkan perkembangan sikap sosial siswa melalui

penggunaan media tertutama media puzzle untuk menarik perhatian siswa, sehingga dalam proses pembelajaran terasa menyenangkan. Selain itu guru lebih aktif, kreatif, dan inovatif dalam proses pembelajaran sehingga siswa akan termotivasi dalam proses belajar mengajar.

2. Saran untuk Orang Tua

Orang tua hendaknya menjalin kerja sama dengan guru atau pihak sekolah dalam menangani siswa slow learned dengan aktif bertanya atau memberikan informasi perkembangan belajar anak.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto. 2013. Prosedur Penelitian. Jakarta: PT Bumi Aksara

Garnida, D. 2015. Pengantar Pendidikan Inklusif. Bandung: PT. Refika Aditama

Gunawan, Iman. 2013. Metode Penelitian Kualitatif: Teori dan Praktik. Jakarta: Bumi Aksara

Jamil, Sya’ban. 2012. 56 Games Untuk Keluarga. Jakarta: Republika Penerbit

Melinda, Elly Sari. (2013). Penbelajaran Adaptif Anak Berkebutuhan Khusus. Jakarta:

PT Luxima Metro Media

Slameto. 2013. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta

Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif. Dan R&D. Bandung: Alfabeta

Sukmadinata, N.S. 2011. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

Gambar

Tabel Hasil Pencapaian Indikator

Referensi

Dokumen terkait

Supaya penelitian ini mencapai sasaran sesuai dengan tujuan yang diharapkan, peneliti merasa perlu untuk merumuskan masalahnya. Maka yang menjadi pokok masalah

17 Biaya variabel pembenihan ikan patin siam Pangasius hypophthalmus di Cabang Dinas Kelautan dan Perikanan Wilayah Utara Cijengkol, Subang,. Jawa Barat

Ditinjau dari model lintasan 1, diperoleh informasi bahwa material terindikasi lumpur memiliki tebal minimal 6,45 m dan menebal (mencapai batas kedalaman model) mulai dari

Periode triwulan I Tahun 2016 pertumbuhan produksi Industri Mikro Kecil (IMK) di wilayah Provinsi Kalimantan Utara secara tahunan (y-on-y) menunjukkan pertumbuhan yang positif,

Data antropometri yang menyajikan data ukuran yang berbagai macam anggota tubuh manusia dalam persentil tertentu yang sangat besar manfaatnya pada saat suatu

Billing pada layanan internet didasarkan pada perhitungan volume paket data yang dikirim dan paket data yang diterima (Volume Based).Sistem ini memiliki 2 layanan

Lalu pilih surat yang ingin di disposisikan , dan klik pada nomor surat Maka akan muncul tampilan seperti dibawah ini, kemudian klik tombol.2. Maka akan muncul tampilan seperti

 KAKR Moderamen perlu kiranya menambahkan materi tentang Kecerdasan Majemuk yang disampaikan oleh Howard Gardner saat memberikan pemberdayaan/pembinaan guru-guru