5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI
2.1. Tinjauan Pustaka
Tinjauan Pustaka atau tinjauan literatur adalah ringkasan komprehensif berdasarkan penelitian sebelumnya tentang suatu topik yang bersifat relevan. Pada bagian ini mencakup penjelasan, merangkum , memperjelas penelitian sebelumnya. Sehingga tinjauan Pustaka dapat memberikan gambaran umum mengenai penelitian yang serupa dan menjadi referensi bagi peneliti selanjutnya.
2.1.1. Penelitian Terdahulu
Pada penelitian ini memiliki beberapa jurnal dan tugas akhir dari penelitian terdahulu yang serupa sebagai referensi dalam penyelesaianya. Berikut merupakan penelitian terdahulu yang telah dilakukan oleh AR Indra Tjahjani dan Atika Dalima Vurry (2020) yang berjudul “Kebutuhan Parkir Alternatif Untuk Toko Chandra Super Store Tanjung Karang”. Menurut hasil Analis penelitian diperoleh data akumulasi maksimum parkir untuk mobil sebanyak 592 kendaraan, sedangkan sepeda motor adalah 676 kendaraan, dan jika di rata-rata sebanyak 536 untuk mobil dan 580 untuk motor. Untuk volume parkir kendaraan maksimum didapatkan 1803 mobil yang terpakir dan 1764 untuk motor. Durasi parkir kendaraan mobil selama 3,6 jam dan 3,7 jam untuk motor. Hasil untuk pergantian parkir mobil dan motor maksimal adalah 4,145 dengan rata-rata 3,284 dengan rat-rata 3. Lalu untuk indeks parkir tertinggi sebesar 136,092 % untuk mobil dan 114% untuk motor. Kapasitas parkir maksimal 435 SRP sedangkan kebutuhan 572 SRP, sehingga dapat disimpulkan bahwa kapasitas eksisting belum mampu menampung permintaan kendaraan yang masuk. Perbandingan antara kapasitas parkir yang tersedia dengan kebutuhan parkir saat ini menunjukan bahwa kapasitas tersebut tidak dapat memenuhi kebutuhan parkir.
Untuk referensi sistem antrian parkir penelitian terdahulu telah dilakukan oleh Arya Nugraha dengan judul “ Evaluasi Kebutuhan Dan Kinerja Pelayanan Parkir Dan Sistem Antrian Pada Pusat Perbelanjaan Di Bandar Lamping Studi Kasus : Areal Parkir Transmart Carrefour Bandar Lampung (2019) hasil analisis dari penelitian
6 ini akumulasi parkir tertinggi sebesar 162 kendaraan dengan indeks parkir 54%.
Untuk kebutuhan parkir areal transmart carrefour memiliki jumlah petak yang belum memenuhi standar dari Pedoman teknis penyelenggaraan fasilitas parkir direktorat jendral perhubungan darat (1996) dikarenakan jumlah petak parkir hanya sebanyak 300 SRP parkir sedangkan seharusnya 400 SRP. Meskipun demikian areal parkir masih dapat menampung dan melayani pelanggan yang datang. Maka dari itu perlunya penelitian lebih mendalam tentang hal ini. Volume parkir tertinggi terjadi pada hari Sabtu yaitu 468 kendaraan dengan tingkat pergantian parkir 1,560 kendaraan / hari / SRP. Durasi parkir kendaraan rata-rata pada hari Sabtu 116 menit.
Kapasitas parkir sebanyak 1552 kendaraan. Kinerja pelayanan gerbang parkir baik gerbang masuk Adapun keluar menggunakan 3 gerbang mall transmart carrefour dengan sistem multi channel single phase hasilnya masih dapat melayani banyaknya kendaraan yang datang tanpa adanya antrian yang Panjang. Hasil ini diperoleh dari tingkat kedatangan 16 kendaraan/jam dan waktu pelayanan 15,6 detik/ kendaraan pada pintu masuk. Dengan demikian masih banyak kebebasan pada pintu parkir yang memiliki nilai probabilitas pintu masuk sebesar 0,366 sehingga dapat disimpulkan bahwa pintu masuk parkir kendaraaan tidak terlalu sibuk.
Pada penelitian Evaluasi Kapasitas Dan Pelayanan Gerbang Tol Waru-Tanjung Perak yang dilakukan oleh Ilham Mustika Aji Sumantri (2016) berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa pada gerbang tol waru-tanjung perak menggunakan sistem model antrian FIFO (First in First out) yang memiliki 3 gerbang yaitu gerbang tol 1 waru dan ramp, gerbang tol utama , dan gerbang tol dupak yang memiliki waktu pelayanan yang berbeda. Dari hasil tingkat kedatangan , diketahui bahwa tingkat kedatangan pada gerbang tol waru 1 dan ramp sebesar 261,83 kend/jam/gardu; pada gerbang waru utama sebesar 2478,86 kend/jam/gardu; pada gerbang tol dupak 3 sebesar 323,83 kend/ jam/gardu. Kapasitas udah memenuhi stansar pelayanan minimum (SPM) dimana syaratnya adalah ≤ 450 kend/jam/gardu.
Dengan jumlah tingkat kedatangan yang ada maka jumlah gardu yang perlu dibuka dimasing-masing gerbang tol yaitu Waru 1 dan Ramp = 8 gardu ; untuk Waru Utama = 8 gardu; dan untuk Dupak 3=9 gardu. Dalam usaha meminimumkan nilai n, q, d, w, dapat disimpulkan urutan prioritas pengambilan kebijakan yaitu prioritas
7 pertama adalah kebijakan meminimumkan waktu pelayanan sekecil mungkin , selanjutnya adalah kebijakan menambah pintu tol serta kebijakan penerapan gardu sistem tandem.
2.2. Landasan Teori
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti parkir yaitu menghentikan atau menempatkan kendaraan pada tempat yang ditampung beberapa waktu. Mengingat aturan penataan dan pemberhentian kerja kantor Direktorat Jenderal Perhubungan Darat (1998). Parkir adalah suatu kondisi dimana kendaraan tidak bergerak dalam keadaan tidak kekal. Setiap perjalanan berkendara dimulai dan berakhir di garasi parkir, akibatnya area berhenti menyebar di awal perjalanan atau di carport, halaman atau tepi dan menuju akhir perjalanan.
Berdasarkan definisi yang telah di jelaskan maka pengertian parkir ialah suatu keadaan dimana kendaraan diam yang bersifat sementara, memiliki durasi tertentu yang membutuhkan area untuk tempat pemberhentian yang telah di atur oleh pemerintah maupun penyedia jasa layanan parkir.
2.2.1. Jenis Parkir
Dilihat dari aturan khusus pelaksanaan pemberhentian kantor oleh Ditjen Perhubungan Darat pada tahun 1998, ada beberapa macam pemberhentian, namun untuk CST digunakan jenis pemberhentian berikut:
1. Gedung Parkir Bertingkat
Struktur bertingkat adalah pilihan untuk pemberhentian off-road.
Pemberhentian semacam ini dapat diterapkan pada gerai ritel, penginapan, kantor atau kondominium. Gedung perhentian bertingkat memiliki kantor sebagai palang pintu terprogram dan pedoman untuk tempat parkir yang dapat diakses.Untuk tarif dari Gedung parkir ini tergantung kepada pihak penyedia fasilitas parkir seperti pemerintah ataupun swasta. Kebijakan dari pemerintah mengenai tarif parkir yang dikelola oleh pemerintah sendiri telah di atur sesuai dengan PERDA yang memuat tentang biaya nominal parkir . Sementara itu, jika administrasi bersifat privat, otoritas publik tidak membiayai sehingga area privat biasanya membebankan tarif yang lebih tinggi dari yang seharusnya.
Padahal, wilayah privat justru mendapat pengelolaan oleh otoritas publik agar
8 tidak membuat kerusakan dan membebani klien administrasi. Gedung parkir bertingkat menjadi pilihan yang cocok di pusat perkotaan yang memiliki kapasitas lahan terbatas. Jenis parkir ini dapat menampung kapasitas kendaraan melebih pelataran parkir karena pemanfaatan lahan yang digunakan menjadi efisien.
Gambar 2.1. Gedung Parkir Bertingkat
Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Gedung_parkir
2. Parkir juga bisa berlandasan statusnya yaitu seperti berikut : a. Parkir Umum
Jenis parkir ini yaitu pakai jalan, maupun arena yang pengelolaannya diatur oleh pemerintah daerah.
b. Parkir Khusus
Parkir ini ialah parkiran yang memakai petak yang dilakukan oleh tala lain dedikasi seumpama swasta maupun komponen saham maupun perorangan.
Tempat parkir partikular pakai memperoleh izin dari pemerintah daerah, yaitu gedung parkiran, parkiran, tempat parkir bebas biaya.
c. Parkir Darurat (Insidentil)
Parkir ini ialah parkiran di tempat khalayak yang menggunakan jalanan, petak, atau. Lapangan kepunyaan Pemerintah Daerah maupun swasta karena adanya suatu laku yang bersifat darurat.
3. Parkir berdasarkan jenis kendaraan
Berdasarkan jenis kendaraan, ada beberapa macam parkir yang memiliki tujuan untuk mempermudah pelayanan, yaitu :
a) Sepeda
9 b) Parkir untuk gerbong,dokar dan becak
c) Kendaraan bermotor
d) Parkir bagi minibus, kendaraan, truk, dan sebagainya 4. Parkir menurut tujuannya
Berdasarkan tujuannya parkir dapat dipisahkan menjadi:
a) Parkir penumpang adalah parkir yang diperuntukkan mendapatkan dan menurunkan wisatawan
b) Parkir untuk perdagangan adalah penghentian untuk menumpuk/membuang produk
Dua jenis parkir tergantung pada tujuan mereka untuk membatasi waktu tunggu dan memiliki efektivitas waktu.
5. Menurut jenis kepemilikan dan aktivitas
Dilihat dari jenis kepemilikan dan aktivitasnya, ia dapat dibedakan menjadi 3, yaitu:
a) Diakui parkiran yang bekerja oleh pemerintah lingkungan
b) Parkir yang diklaim pemerintah daerah tetapi dikerjakan oleh area swasta c) Dioperasikan oleh pihak swasta perorangan / usaha.
2.2.2 Satuan Ruang Parkir (SRP)
Satuan Tempat Parkir (SRP) adalah proporsi wilayah yang layak untuk menempatkan kendaraan, termasuk ruang bebas dan lebar bukaan jalan masuk. Hal- hal tertentu tanpa kejelasan, Satuan Ruang Parkir yaitu menjadi SRP untuk kendaraan penumpang (Pedoman Teknis Sarana Parkir, Ditjen Perhubungan Darat 1998). Satuan tempat parkir dapat ditentukan dengan memikirkan hal-hal berikut:
1. Dimensi Kendaraan Standar
berikut ukuran kendaraan untuk mobil penumpang yang tertera yaitu :
Gambar 2.2. Dimensi Kendaraan
10 Keterangan :
a = jarak gandar L = Total Panjang
b =Depan gantung (front overhang) h = Total Tinggi c = Belakang gantung (Rear overhang) B = Total Lebar d = Lebar Jarak
2. Ruang Bebas Kendaraan Parkir
Dalam memarkirkan kendaraan terdapat ruang parkir jalan gratis yang diizinkan menghadap ke jalan samping dan memanjang yang disebut dengan ruang bebas kendaraan parkir. Tempat parkir bebas yang menghadap ke arah horizontal ditentukan ketika pintu kendaraan di buka oleh penumpang, diperkirakan dari ujung jalan masuk luar jalan ke badan kendaraan yang berdekatan dengannya. Hal ini bertujuan agar jalan tersebut tidak akan ditabrak oleh kendaraan pembanding lainnya saat pengguna kendaraan keluar dari kendaraan tersebut. Jarak mendatar adalah 5 cm. Sementara ruang bebas arah membujur adalah suatu keadaan dimana terdapat jarak sebelum kendaraan untuk menjauhi tumbukan dengan pembatas ataupun mobil yang melewati lintasan, ruang bebas membujur adalah 30 cm.
3. Lebar Bukaan Pintu Kendaraan
Ukuran lebar untuk membuka pintu masuk kendaraan bergantung pada kenyamanan dan kegunaan karakteristrik pengguna kendaraan yang menggunakan fasilitas parkir. Untuk situasi ini, karakteristrik pengguna yang menggunakan fasilitas parkir dipilih menjadi tiga kelompok, khususnya sebagai tabel dibawah ini :
Tabel 2.1. Lebar Bukaan Pintu Pintu belakang/depan
terbuka tahap awal 55 cm
- Karyawan kantor
- Pengunjung kegiatan perkantoran universitas, perdagangan, pemerintah
I
Pintu depan atau belakang terbuka tahap awal 75 cm
- Pengunjung fasilitas olahraga, pusat hiburan/ rekreasi, pusat perdagangan eceram/ swalayan, rumah sakit dan bioskop.
II
Pintu depan terbuka penuh dan ditambah untuk pergerakan kursi roda
- Disabilitas III
Sumber : Pedoman Perencanaan dan Pengoperasian Fasilitas Parkir,1998
11 2.2.3. Penentuan Satuan Ruang Parkir (SRP)
Sebagaimana ditunjukkan oleh kelompok I dan kelas II, Satuan Tempat Parkir (SRP) dipisahkan menjadi tiga kumpulan kendaraan dan berdasarkan golongan III susunan SRP untuk kendaraan pemudik dibagi menjadi tiga kelompok, khususnya sebagai berikut:
Tabel 2. 2. Penentuan satuan ruang parkir.
Jenis kendaraan Satuan ruang parkir (m) a. Golongan I mobil penumpang 2,30 x 5,00 b. Golongan II mobil penumpang 2,50 x 5,00 c. Golongan III mobil penumpang 3,00 x 5,00
Sumber : Pedoman Perencanaan dan Pengoperasian Fasilitas Parkir,1998
Dilihat tabel diatas yakni menunjukan SRP kendaraan yang telah di analisis dengan berbagai pendekatan. Analisis tersebut telah dilakukan secara matematik kedalam jenis kendaraan dilakukan dengan cara pada uraian berikut ini :
1. Satuan Ruang Parkir (SRP) dapat dilihat pada gambar berikut ini :
Gambar 2.3. Satuan Ruang Parkir Mobil Penumpang dalam cm Keterangan :
Dalam satuan sentimeter (cm) B = Lebar total kendaraan R = Jarak bebas arah lateral O = Lebar pintu bukaan Lp = jumlah ruang parkir L = total kendaraan
Bp = Lebar dari total ruang Parkir a2 = jarak bebas longitudinal
12 Tabel 2.3. Golongan Satuan Ruang Parkir Mobil Penumpang
Golongan I (cm) Golongan II (cm) Golongan III (cm)
B 170 170 170
O 55 75 80
R 5 5 50
L 470 470 470
A1 10 10 10
A2 20 20 20
Bp 230= (B+O+R) 250 (B+O+R) 300 (B+O+R)
Lp 500 = (L+a1+a2) 500=(L+a1+a2) 500 =(L+a1+a2)
Sumber : Pedoman Perencanaan dan Pengoperasian Fasilitas Parkir,1998
2. Satuan Ruang Parkir (SRP) untuk menunjukan kendaraaan roda dua dapat ditampilkan pada gambar dibawah ini :
Gambar 2.4. SRP motor penumpang dalam cm 2.2.4. Sistem Pola Parkir
Sistem pemberhentian atau parkir memiliki susunan yang diidentikkan dengan parkir, penting untuk merancang contoh pemberhentian yang akan dibangun.
Contoh pola parkir dapat diterima apabila sesuai dengan ketentuan dalam Petunjuk Teknis Sarana Parkir, Direktorat Jenderal Perhubungan Darat, (1998). Contoh sistem pola parkir yaitu :
1. Pola parkir parallel
Pola parkir yang dapat memuat kendaraan kurang dari pola parkir bersudut.
2. Pola parkir bersudut
a. Pola yang membentuk sudut 30°, 45°, 60°
Desain parkir jenis ini memudahkan pengemudi dalam melakukan maneuver dibandingkan pola parkir 90% dan memiliki daya tampung
13 lebih banyak dari parkir pararel.
b. Membentuk Sudut 90°
Pola parkir ini lebih menguntungkan dari parkir pararel dalam segi kapasitas namun lebih rendah dalam hal manuver keluar masuk kendaraan dibanding sudut dibawahnya.
1) Parkir Sudut 0°
Gambar 2.5. Tata cara parkir parallel 2) Pola Sudut 30°
Gambar 2.6. Pola Parkir Membentuk Sudut 30°
3) Pola Sudut 45°
Gambar 2.7. Gambaran Cara Parkir Membentuk Sudut 45°
14 4) Pola Sudut 60°
Gambar 2.8. Gambaran Parkir Membentuk sudut 60°
5) Pola sudut 90°
Gambar 2.9. Gambaran Parkir Membentuk sudut 90°
6) Pola Parkir Sepeda Motor
75 cm 75 75 75 75 75
Gambar 2.10. Desain Parkir Sepeda Motor
200 cm
15 2.2.5. Karakteristik Parkir
karakteristik penghentian / parkir dapat direncanakan sebagai sifat dasar yang menjadi evaluasi pelayanan administrasi parkir dan masalah parkir yang terjadi dalam lokasi penelitian. Mengingat gagasan area parkir, akan ada kenyataan tentang kondisi perparkiran. Parkir diperlukan sebagai bagian dalam mengurangi atau menghilangkan hambatan atau kemacetan pada jam sibuk, mengurangi bahaya kecelakaan dan memiliki pilihan untuk membuat kondisi area parkir dapat dimanfaatkan secara produktif dan efisien, menjaga keindahan lingkungan dengan membangun penggunaan jalan yang efektif dan efisien, terutama di jalan-jalan di mana ada kemacetan.
Menurut Hobbs, 1995 bagian dalam pendekatan parkir mesti melihat dengan cermat sejumlah sifat parkir, antara lain :
2.2.5.1. Volume Parkir
Volume parkir adalah perhitungan jumlah yang memuat tempat parkir pada ruang terbatas tanah dalam periode terbatas. Perhitungan volume parkir dapat dimanfaatkan sebagai tanda aksesibilitas tempat parkir untuk yang dapat memenuhi kebutuhan parkir untuk kendaraan bisa dikatakan iya atau tidak (Hobbs, 1995). Mengingat volume ini, adalah layak untuk merancang estimasi plot penghentian yang diperlukan jika plot penghentian atau parkir lain akan dibangun. Rumus yang dapat dipergunakan seperti berikut ini :
VP =Ei + X (2.1)
Keterangan :
VP = Volume Parkir
Ei = Kendaraan yang masuk
X = Kendaraan yang telah parkir sebelum waktu survey 2.2.5.2. Akumulasi Parkir
Akumulasi parkir adalah jumlah kendaraan yang ada disuatu tempat parkir dengan berbagai rentang waktu dan dipartisi menurut jenis kelas pergerakannya, dimana gabungan antara jumlah total kendaraan yang parkir dalam kurun waktu tertentu menunjukkan beban parkir dalam satuan jam kendaraan per jam tertentu waktu periode (Hobbs, 1995). Data ini didapatkan dengan memasukkan kendaraan yang
16 telah memanfaatkan area parkir selain kendaraan yang keluar dan mengambil kendaraan yang aktif. Perhitungan jumlah atau akumulasi parkir, persamaan yang dapat digunakan yaitu :
Akumulasi = X+Ei-Ex (2.2)
Keterangan :
Ei = Jumlah kendaraan yang masuk Ex = kendaraan keluar
X = Total kendaraan yang telah ada sebelumnya 2.2.5.3. Durasi Parkir
Lamanya waktu parkir harus diketahui dalam memutuskan berapa lama kendaraan akan dihentikan untuk tujuan tertentu. Hal ini menyiratkan bahwa durasi parkir yaitu selang waktu kendaraan yang tinggal disuatu tempat.
LP = Wk-Wm (2.3)
dengan :
LP = lama parkir Wk = waktu keluar Wm = waktu masuk
Lama parkir normal adalah waktu yang dibutuhkan setiap kendaraan untuk berhenti di tempat parkir. Tempat parkir dapat melayani lebih banyak kendaraan jika kerangka waktu parkirnya pendek, berbeda dengan kendaraan yang ditinggalkan dalam jarak waktu yang lama . Untuk menemukan waktu rata-rata lama parkir , ada persamaan berikut ini :
Mean/durasi parkir rat-rata = ∑ 𝑓.𝓍
∑ 𝑓 (2.4)
Keterangan :
f = jumlah kendaraan yang parkir selama survei x= jumlah dari interval
17 2.2.5.4. Kebutuhan Parkir
Kebutuhan lahan parkir adalah wilayah yang dibutuhkan untuk jumlah kendaraan.
Kebutuhan tempat parkir dibagi menjadi 2 bagian, yaitu:
1. Kebutuhan ruang parkir efektif (KRP)
Kebutuhan tempat parkir yang efektif yaitu wilayah yang digunakan tergantung pada perhitungan jumlah kendaraan terbesar. Kebutuhan tempat parkir yang menarik dapat ditentukan dengan persamaan:
KRP = JK X SRP (2.5) Dimana :
KRPeff = kebutuhan tempat parkir efektif (m2) JK = Volume maksimum
SRP = satuan tempat parkir kendaraan 2. Kebutuhan ruang gerak (KRM)
Kebutuhan ruang gerak adalah ruang bebas bagi kendaraan untuk melakukan belokan dengan tujuan agar mudah masuk dan keluar dari wilayah tersebut. Hal-hal penting untuk ruang untuk kesalahan dapat dikendalikan dengan rumus :
KRM = KRPef x 55% atau 60% (2.6) Dimana:
KRM = Memindahkan kebutuhan ruang KRPef = Kebutuhan tempat parkir yang sukses
55% = Ruang gerak kendaraan dihitung pada titik 90°
60% = Ruang gerak sepeda dihitung pada titik 90°
Kebutuhan parkir dibagi atas kebutuhan dan peruntukkannya salah satunya ialah pasar swalayan. Standar kebutuhan luas area untuk perparkiran memiliki hal-hal yang bergantung pada pelayanan,tarif yang diberlakukan , ketersedian ruang parkir,tingkat kepemilikan kendaraan bermotor, tingkat pendapatan masyarakat.
berikut adalah standar kebutuhan parkir untuk pasar swalayan berdasarkan Pedoman Perencanaan dan Pengoperasian Parkir Direktorat Jendral Perhubungan Darat ISBN : 979-95401-1-9
18 1) Kebutuhan parkir swalayan
Tabel 2. 4.Kebutuhan SRP di Pasar Swalayan
Berdasarkan tabel diatas kita dapat mengetahui kebutuhan satuan ruang parkir untuk swalayan dari luas area total, dan jika luas area total dari Gedung tidak terdapat dalam tabel perlu dilakukan interpolasi sehingga hasil yang didapatkan menjadi akurat.
2.2.5.5. Indeks Parkir
Yang dimaksud dengan indeks parkir yaitu jumlah parkir yang berada di areal parkir pada area tersebut dengan jumalah yang diatur. Dalam mencari indeks parkir, persamaan yang menyertainya dapat digunakan:
Indeks parkir = 𝑨𝒌𝒖𝒎𝒖𝒍𝒂𝒔𝒊 𝒑𝒂𝒓𝒌𝒊𝒓 ×𝟏𝟎𝟎%
𝑹𝒖𝒂𝒏𝒈 𝑷𝒂𝒓𝒌𝒊𝒓 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝑻𝒆𝒓𝒔𝒆𝒅𝒊𝒂 (2.7)
Setelah dihitung jika nilai indeks parkir di bawah 100%, ini berarti bahwa minat tempat parkir lebih dari batas parkir yang dapat diakses, dengan asumsi nilai indeks parkir adalah 100%, minat tempat parkir diimbangi dengan batas yang telah disiapkan, maka dengan asumsi NIP melebihi 100%, maka minat untuk tempat parkir melebihi kapasitas yang seharusnya.
2.2.5.6. Kapasitas Parkir
Kapasitas parkir adalah jumlah kendaraan maksimum yang masuk untuk beban parkir yang merupakan jumlah kendaraan per periode panjang tertentu. Rentang waktu parkir berbagai kendaraan akan mempengaruhi kapasitas parkir tergantung pada lamanya waktu pelayanan parkir di setiap harinya, khususnya pemanfaatan lahan parkir dari mulai kendaraan masuk sampai kendaraan meninggalkan kawasan parkir. Untuk menghitung kapasitas parkir dapat menggunakan persamaan
Kapasitas = waktu pelayanan
durasi rata-rata
×
Petak parkir (2.8)19 2.2.5.7. Tingkat Pergantian Parkir (Turn over)
Turn over merupakan penyesuaian pergantian di tempat parkir, hal ini penting untuk diketahui karena untuk mengetahui nilai turnover kendaraan dengan melihat jumlah kendaraan selama penelitian dengan membaginya dengan jumlah SRP dikalikan dengan lama waktu survey. untuk mengetahui nilainya dapat diperoleh dengan persamaan :
TR : 𝒏
𝑹 (2.9)
Dengan :
TR = angka rolling parkir (kend/SRP/Jam)
n = Jumlah total kendaraan pada saat dilaksanakan survei (Kendaraan) R = Ruang parkir yang tersedia (SRP)
2.2.6. Teori Antrian
Baris tunggu adalah antrian yang dipisahkan oleh barisan tamu yang pergi ke fasilitas untuk mendapatkan setidaknya satu administrasi atau pelayanan. Lining hipotesis harus dikonsentrasikan dengan tujuan akhir untuk fokus pada pengembangan arus lalu lintas, dua orang dan kendaraan (Hoobs, 1979). Garis tunggu ini disebabkan oleh batas layanan yang tidak memenuhi tuntutan atau permintaan dari pemakai fasilitas.
Berdasarkan contoh antrian tersebut, pada dasarnya antrian dapat terjadi karena proses bergeraknya kendaraan atau manusia terganggu oleh pelayanan yang harus dilalui oleh pengguna fasilitas. Kegiatan ini yang mengakibatkan gangguan atau hambatan pada perpindahan arus kendaraan sehingga terjadinya antrian. Jika kondisi ini terus terjadi dapat menimbulkan permasalahan baik dari sisi pengguna maupun pengelola. Bagi pengguna yang dipermasalahkan adalah waktu tunggu yang dibutuhkan sedangkan dari sisi pengelola biasanya adalah panjangnya antrian yang akan menggangu kegiatan lainnya.
Teori antrian adalah suatu pendekatan untuk mengkaji permasalahan tersebut dengan memberikan data penting yang nantinya akan digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan pilihan dengan merencanakan karakteristik dengan sistem antrian tersebut.
20 2.2.6.1. Tingkat Pelayanan (µ)
Tingkat pelayanan dikatakan menggunakan notasi μ ialah total kendaraan atau orang yang dilayani di suatu tempat dalam waktu tertentu, biasanya dinyatakan dalam satuan kendaraan/ jam atau orang/menit. Terlepas dari tingkat untuk pelayanan, disebut juga Service Time (ST) atau waktu pelayanan (WP) yang dapat diartikan sebagai waktu yang dibutuhkan oleh satu tempat administrasi atau untuk memiliki pilihan untuk melayani satu kendaraan atau satu orang dapat diperoleh sebagai berikut:
WP = 𝟏
µ (2.10)
Keterangan :
WP = waktu pelayanan µ = tingkat pelayanan
Demikian juga sebaliknya disebut dengan notasi ρ diartikan yang dicirikan sebagai pembagian natara tingkat kedatangan (𝜆) tingkat pelayanan (μ) dengan prasyarat bahwa nilainya harus secara konsisten di bawah 1.
ρ =𝝀
𝝁< 𝟏 ( 2.11)
Keterangan :
ρ = Banyaknya lalu lintas 𝜆 = tingkat kedatangan μ = tingkat pelayanan
Setelah memastikan jika hasilnya 𝜌 > 1, ini menunjukkan tingkat kedatangan lebih besar daripada tingkat pelayanan. Jika situasi saat ini berlanjut, garis tunggu akan terus bertambah Panjang (tanpa batas).
2.2.6.2. Disiplin Antrian
Disiplin antrian adalah strategi bagi kendaraan atau orang yang mengantri. Berikut jenis jenis disiplin antrian yang biasa dipergunakan di bidang transportasi, lebih spesifiknya:
1. First in First Out (FIFO)
Sistem disiplin antrian FIFO adalah suatu keadaan dimana kendaraan yang pertama tiba akan mendapatkan pelayanan terlebih dahulu. Umumnya disiplin
21 antrian ini diterapkan pada bidang transportasi. Contohnya adalah pada saat antrian gerbang tol. Pada contoh pelayanan untuk manusia adalah pada saat antrian loket pembayaran seperti listrik dan telpon , loket antrian bank dan lain sebagainya.
Gambar 2.11. Contoh Antrian FIFO
Sumber : https://www.matakota.id/
2. First In Last Out (FILO)
Jenis antrian ini berbeda dengan antrian FIFO dimana kendaraan /manusia yang tiba akan mendapatkan pelayanan terakhir kali. Contoh disiplin antrian semacam ini adalah: Jalur kapal ferry di pelabuhan (kendaraan utama yang masuk akan menjadi yang terakhir) jalan menuju masuk dan meninggalkan produk atau barang ke gudang (barang yang diperoleh pertama akan menjadi yang terakhir).
Gambar 1.12. Contoh Antrian FILO
Sumber : https://www.cnnindonesia.com/
22 3. First Vacant first Served (FVFS)
Disiplin antrin first vacant first served (FVFS) adalah semacam garis tunggu di mana individu yang muncul lebih dulu akan dilayani terlebih dahulu di loket yang kosong. Jalur ini biasa digunakan pada jalur untuk loket tiket, loket pembayaran dan lain-lain. Sistem antrian ini hanya akan membentuk 1 baris tetapi jumlah administrasinya berlipat ganda.
Gambar 2.13. Contoh Antrian FVFS
Sumber : https://bogor.tribunnews.com/