BAB III
SULTAN ISKANDAR MUDA DAN KEJAYAAN KERAJAAN ACEH
A. Biografi Sultan Iskandar Muda
Sultan Iskandar Muda merupakan salah seorang raja Aceh Darussalam yang terbesar. Sehingga pada masa pemerintahannya, Kerajaan Islam yang terletak di ujung utara Pulau Sumatera ini, mengalami puncak kejayaannya. Pada waktu kelahirannya ada yang menulis tahun 1588 dan 1590, sedangkan A.
Hasyim menulis 1593 (1001 H).1 Sampai saat ini belum diketahui secara pasti mengenai tahun kelahiran Sultan Iskandar Muda. Namun dari hasil identifikasi dari beberapa sumber ada yang menegaskan bahwa ia lahir sekitar tahun 1583 M.2 Menurut sebuah manuskrip (MS).3 Sultan lahir pada hari Senin Rabiul Awal 999 H. yang bila dicocokkan dengan tahun Masehi jatuh pada hari Selasa (bukan hari Senin) tanggal 27 Januari 1591. Adapun Transkipsi dari pada MS tersebut adalah sebagai berikut:
“Bismillahirrahmanirrahim. Bahwasannya pada tarikh tahun 999 Hijriah, pada dua belas rabi‟ul awwal , hari Isnin, pada waktu dhuha, telah dilahirkan Allah ta‟ala seorang hamba yang kuat lagi perkasa bernama Abdullah Sulaiman ibn Mansur yaitu dalam Dar al Dunia Madinat al Salatin al-Asyih al-Kubra, Bandar al-Ma‟mur Aceh Darussalam, yaitu pada zaman paduka Sri Sultan Ala ad-Din Mansur Syah ibn Ahmad, raja Perak. Maka pada hari itu disembelih kambing satu dan pada waktu dicecap dengan kurma, air zam-zam, delima, pisang, buah zahib. Maka pada hari ke tujuh disembelih lembu, „akikah dan dicukur rambut dan ditimbang dengan emas. Maka diberi sedekah pada fakir miskin serta khanduri. Hadir para alim ulama membaca do‟a selamat. Maka pada hari itulah dinamakan oleh Sultan Ala ad-Din Mansur Syah, Raja Perak Pocut Abdullah Sulaiman Mansur yang akan memegang kerajaan Aceh. Kemudian maka berkata al-Syaikh Abd‟l-Khair:
inilah Iskandar Muda Mansur al-Asyi. Kemudian maka berkata al-Syekh
1 H. Harun Nasution, dkk. Ensiklopedia Islam Indonesia,(Jakarta, 1992, Penerbit Djambatan), hlm. .441
2 Denys Lombard, Op.cit, hlm. 233
3MS. disimpan di Universitas Kebangsaan Malaysia
Muhammad Yamin: Inilah Mahkota Alam Mansur. Kemudian tuan kita yang mengimani, mengempu? Negeri bahwa angin, Mahkota Alam Iskandar Perkasa Alam Syah al-Kuat, intiha, dengan Mukhtasar Tadzkirat tabaqat Mahkota Alam oleh Wazir al sabil al-Mijahid-Ulama, Teungku di–Mele, Sayyid Abdullah ibn ahmad ibn Ali ibn Abdul Rahman ibn Usman ibn Hasan ibn Wandi Mule Sayidi Laila al-Habib Syarif Abdullah ibn Said Abdullah al- Habib Syarif Ibrahim Sultan Jamal al-alam Badr. Al-Munir al-Jamal Lail”.4
Menurut catatan R.A Hoesein Djajadiningrat dalam buku yang dikarang oleh Rusdi Sufi, menyebutkan bahwa Sultan „Alauddin Ri‟ayat Syah Sayyid al- Mukammil (1588-1604) telah mempunyai enam orang anak, di antaranya empat orang laki-laki dan dua orang putri. Anak laki-laki diberi nama Maharaja Di Raja, Sultan Muda, Sultan Husen, dan Sultan Abangta Merah Upak. Anak pertama meninggal pada waktu ia masih hidup, sedangkan anak kedua diangkat menjadi tangan kanannya dalam memerintah Kerajaan Aceh, dan anak yang ketiga ditetapkan sebagai sultan di Pedir dan putra yang terakhir meninggal di Kerajaan Johor. Kini giliran anak perempuan yang diberi nama Putri Raja Indra Bangsa dan Raja Putri. Putri Raja Indra Bangsa merupakan putri kesayangan dari Sultan„Alauddin Ri‟ayat Syah Sayyid al-Mukammil. Ia telah dinikahkan dengan Sultan Mansyur, cucu dari Sultan Alauddin Riayat Syah al-Qahhar (yang memerintah Kerajaan Aceh tahun 1537-1571). Dari pernikahannya pada tahun 1590, lahirlah seorang bayi laki-laki yang telah diberi nama Darma Wangsa Tun Pangkat, yang kini bergelar Sultan Iskandar Muda.5
Dari pihak leluhur ibu Iskandar Muda termasuk keturunan keluarga Raja Darul-Kamal dan dari pihak ayah keturunan keluarga Raja Makota Alam.6 Ibunya, Putri Raja Indra Bangsa, atau nama lainnya Paduka Syah Alam, yang merupakan anak dari Sultan „Alauddin Ri‟ayat Syah, Sultan Aceh yang ke-10 (Sultan Aceh dari 1589-1604), merupakan anak Sultan Firman Syah cucu dari Sultan Inayat
4 Rusdi Sufi, Op.cit, hlm. 32-33
5Ibid, hlm. 33
6 Darul al Kamal dan Mahkota Alam merupakan dua tempat pemukiman bertetangga yang terpisah oleh sungai dan yang menggabungkannya merupakan asal mula Aceh Darus-Salam Iskandar Muda seorang diri yang telah mewakili kedua cabang tersebut, maka ia berhak sepenuhnya menuntut tahta.
Syah, Raja Darul-Kamal. Putri Raja Bangsa menikah dengan mendirikan sebuah upacara besar-besaran dengan Sultan Mansur Syah, anak dari Sultan „Abdul–Jalil.
Sultan „Abdul-Jalil yang merupakan putra Sultan „Ala ad-Din Riayat Syah al- Qahhar, Sultan Aceh ke-3 atau 1539-157, keturunan raja Makota Alam yang pertama yang disebut dengan Muzaffar Syah. Jadi, sebenarnya ayah dan ibu dari Sultan Iskandar Muda merupakan sama-sama pewaris kerajaan.7
Hikayat Aceh telah menceritakan “setelah wafatnya Sultan Zainal
„Abidin” para pemimpin telah berkumpul untuk menawarkan sebuah mahkota kepada „Ala ad-Din Ria‟ayat Syah, tetapi dengan cara halus ia menolak dan mengatakan bahwa Mansyur Syah-lah yang lebih pantas diberikan mahkota tersebut dibandingkan denganku. Tetapi Mansyur Syah agak menolak atas kehormatan yang telah diberinya tersebut dengan alasan karena masih terlalu muda untuk menjadi seorang pemimpin yang harus menggantikan mertuanya yang telah gugur saat menduduki Ghuri, kerajaan kecil di pantai timur Sumatera yang rajanya telah menyerang ke Aceh.8
1. Masa Kanak-Kanak Sultan Iskandar Muda
Menurut keterangan Hikayat Aceh, pernikahan kedua orang tua Sultan Iskandar Muda telah diadakan pada masa pemerintahan Sultan Alaudin, anak dari Sultan Ahmad dari Perlak (tahun 1579-1558). Masih dalam naskah Hikayat Aceh, telah mengisahkan tentang pertumbuhan Sultan Iskandar Muda, disaat umurnya menginjak ke 4 tahun kakeknya yang begitu menyayanginya dengan secara khusus, telah memberikan sebuah permainan “gajah emas dan kuda”. Selain itu juga ada permainan otomatis berupa dua ekor domba, lalu gasing dan kelereng yang terbuat dari emas. Ketika ia berumur 5 tahun, kakeknya telah memberikan sebuah anak gajah yang diberi nama dengan Indra Jaya sebagai teman bermainnya. Pada umurnya ke 6 tahun ia sudah mulai berburu gajah liar dan diumurnya yang ke 8 tahun ia sudah mulai bermain perahu di sungai untuk
7 Denys Lombard, Op. cit, hlm.. 230-231
8 Ibid, hlm. 32
menyusun sebuah perang serta dilengkapi dengan perlengkapan perang seperti meriam-meriam kecil. Menginjak umur ke 9 tahun ia telah membagi perang sambil membangun sebuah benteng-benteng pertahanan, ketika ia menginjak umur ke 12 tahun, ia sudah mulai memburu kerbau liar hingga sampai di umurnya yang ke 13 ia mulai bekerja dengan bimbingan Fakih Raja Indra. Setelah itu kakeknya menyuruh membuatkan 30 batu tulis dari logam yang dimulai dari cucunya hingga teman-temannya. Ia juga belajar mengaji membaca Al-qur‟an, lalu datanglah seorang guru pedang untuk mengajarkan kepandaian ia dalam bermain pedang.9
2. Nama Seorang Sultan
Banyak versi mengenai penamaan Iskandar Muda, waktu kecilnya bernama Sulaiman, setelah 3 tahun neneknya memberi nama Abangta Raja Munawar Syah dan setelah ia dewasa mendapat beberapa nama lagi seperti:
Pancagah, Johan Alam Syah, Perkasa Alam Syah, Darma Wangsa, dan Iskandar Muda. Telah diceritakan juga ketika kecilnya ikut diasuh Laksamana Malahayati dan Laksamana Muda Cut Meurah Inseun, dan setelah ia berusaha 6 tahun, ditunjuklah beberapa orang guru dan ulama untuk mendidiknya dalam bidang- bidang keagamaan Islam seperti, bahasa, hukum, seni budaya, kemiliteran dan ketangkasan jasmani. 10
Ketika usianya menginjak baligh, ayahnya menyerahkan Iskandar Muda bersama beberapa budak pengiringnya kepada Teungku di Bitai (seorang ulama dari keturunan Arab dari Baitul Maqdis yang begitu menguasai ilmu falak dan ilmu firasat). Dari ulama Tengku, ia belajar khusus mempelajari ilmu nahwu, melihat kecerdasan dan keuletan serta kemuliaan sikap dan tingkah laku Iskandar Muda kini menjadi salah satu murid yang paling disayang oleh Teungku di Batai.
Semenjak itulah panggilan Peurkasa terhadap Iskandar Muda yang sangat belia.
9 Rusdi Sufi, Op. cit, hal. 35
10 H. Harun Nasution, dkk. Ensiklopedia Islam Indonesia,(Jakarta, 1992, Penerbit Djambatan), hal.441
Mesipun ia masih belia, kepopulerannya di kalangan istana ditambah dengan julukan yang dimilikinya hingga sampai keseluruh pelosok negeri. 11
B. Kerajaan Aceh Pada Masa Sultan Iskandar Muda Naik Tahta
Di tahun 1604 M, kakeknya Sultan Sayyid al-Mukammil, turun tahta dan digantikan oleh putranya Raja Muda Ali dengan gelar Sultan „Alauddin Riayat Syah V, dan sebagai wakilnya adalah adik kandungnya sendiri yaitu Raja Husain Syah, yang berkedudukan di Pidie. Sultan tersebut merupakan abang dari ibunda Iskandar Muda. Ia juga bukan raja yang bijaksana, ia malah mengusir Iskandar Muda beserta ibunya dari keraton Darud12 tempat di mana ia dilahirkan dan dibesarkan. Kakeknya merupakan seorang mantan raja yang membawa keduanya kerumah pribadinya. Di situlah Iskandar Muda menyampaikan kritikan terhadap pamannya yang telah memerintah, karena ia merasa tertuduh menghasut yang akhirnya melarikan diri ke Pedir (Pidie).13
Di tahun pertama dari pemerintahan sultan baru tersebut ditandai dengan adanya bencana-bencana yang besar menimpa Kerajaan Aceh, yaitu adanya musim kemarau yang menimbulkan bencana kelaparan dan berjangkitnya suatu penyakit yang membahayakan sehingga banyak korban di kalangan penduduknya.
Sultan tidak mampu mengatasi kesulitan yang sedang ia hadapi, ditambah suatu pertikaian yang membuat pertumpahan darah antara saudaranya yang menjabat sebagai sultan di Pidie. Meskipun hanya untuk beberapa lama Sultan Ali Riayat Syah untuk menduduki jabatannya sebagai sultan, kerajaan telah mengalami kancah perampokan, pembunuhan, sampai terjadinya ketidakaturan yang sangat menyedihkan. Sebab itulah pemerintahan berjalan tidak mulus, hal tersebut disebabkan ia menduduki jabatan dengan cara yang tidak wajar yaitu dengan cara
11Ibid, hlm. 441
12Istana Darud merupakan istana yang telah dibangun masa Sultan Alaiddi Riayat Syah al-Qahhar (1557-1568 M), konon, istana ini mempunyai tujuh lapis pengamanan pengawalnya yang terdiri dari pasukan kuda dan pasukan gajah. Istana tersebut terbakar setelah kurang lebih 40 tahun pemerintahan Sultan Iskandar Muda, sedangkan selang 40 tahun setelah Iskandar Muda, Kesultanan Aceh dipimpin oleh Ratu Naqiatuddin Syah.
13 Prof.Dr. H.Harun Nasution, Op.cit, hlm. 442
mengusir ayah kandungnya sendiri, dan tidak memperhatikan atas bahaya yang mengancam kerajaan. Dari rasa ketidak puasan atas kekuasaan yang sedang ia singgahi sekarang ditambah dengan hadirnya Iskandar Muda yang telah merusak kepemimpinannya sampai ia merasa kesal, sehingga sultan memutuskan untuk memberi hukuman terhadap Iskandar Muda karena ketidaksenangan atas perbuatan yang telah dilakukannya. Tetapi Iskandar Muda dapat menyelamatkan diri dari tahanan dan mencari tempat persembunyian (perlindungan) dari pamannya yang bernama Sultan Pidie (Sultan Husain).14
Iskandar Muda telah diterima dengan baik atas kedatangannya ke Pidie tempat di mana pamannya tinggal dan menjabat, akan tetapi Sultan Aceh menginginkan agar Iskandar Muda diserahkan kembali kepadanya. Namun Sultan Pidie tidak bersedia, mengingat akan Iskandar Muda merupakan cucu dari anak kesayangan ayah mereka. Perkara tersebut menjadikan hubungan antara Pidie (Pedir) dengan Aceh terpecah. Setelah terjadinya pertempuran di antara keduanya yang menelan banyak korban jiwa, dan akhirnya Sultan Husain beserta rakyatnya tidak mampu lagi menghadapi pihak Aceh, dengan secara terpaksa Sultan Husain menyerahkan kemenakannya15 terhadap Sultan Aceh.16
Pada saat Portugis berada di bawah pimpinan Alfonso de Castor pada tahun 1606 menyerang Aceh, Iskandar Muda masih menjadi tawanan. Saat ia mendengar akan adanya penyerangan ia memohon kepada sultan agar diperkenankan untuk ikut berperang dalam melawan Portugis. Di saat permohonannya terkabulkan oleh Sultan Aceh,dan akhirnya Iskandar Muda bergabung dengan tentara Aceh yang lainnya untuk melakukan penyerangan terhadap bangsa Portugis di sebuah benteng yang telah direbutnya. Lama berperang akhirnya Aceh berhasil mengusir kembali bangsa Portugis, Iskandar Muda lah dengan keberanian yang dimiliki dalam pertempuran tersebut yang
14 Rusdi Sufi, Op.cit, hlm. 35
15 Kemenakan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yaitu anak saudara (adik atau kakak.), yang bertalian secara adat, ataupun bertalian darah.
16Ibid, hlm. 36
akhirnya berhasil merebut benteng17 itu kembali, dari situ Iskandar Muda menjadi terkenal dan menarik semua perhatian orang-orang di kalangan istana Aceh.
Wafatnya seorang Sultan Ali Riayat Syah (hari Rabu, 4 April 1607), karena serangan jantung, dan sebagai penggantinya ialah Maharaja Darma Wangsa Tun dengan gelar Sultan Iskandar Muda.18 Pada mulanya para penghuni istana sangat keberatan atas dinobatkannya Darma Wangsa Tun sebagai seorang sultan pengganti dari Sultan Aceh karena seharusnya yang berhak ialah Sultan Husain untuk memangku jabatan karena ia masih saudara kandung dari Sultan Ali Ri‟ayat Syah. Tetapi atas persetujuan dari pembesar istana “Malikul-Adil (raja yang adil)”, akhirnya ia diangkat sebagai sultan baru di Aceh.19
Menurut laporan Agustin de Beaulieu tercantum dalam karangannya Rusdi Sufi, Iskandar Muda diangkat sebagai seorang Sultan karena ibunya (Putri Raja Indra Bangsa) berhasil memperdaya orang-orang yang ada di istana.
Sebelum Sultan Husain datang dari Pidie, karena mengetahui bahwa saudaranya Sultan Aceh telah wafat dan meminta hak waris dari saudaranya tersebut. Ketika datang ke Aceh semuanya telah berubah dan tidak ada sambutan dari para pejabat atau pengawal istana seperti biasanya. Di mana ia mulai memasuki istana dengan selayaknya, tetapi Sultan Iskandar Muda sebagai sultan baru itu malah menyuruh para pengawal untuk menangkap dan memasukkannya ke dalam Penjara.20
Terdapat sebuah sumber dari Eropa yang terdapat dalam bukunya Denys Lombard, yang telah merujuk pada suatu peristiwa gagalnya penyerbuan Don Martin Affonso di Aceh, telah menyebutkan bahwa Iskandar Muda dinobatkan sebagai Sultan (yaitu tanggal 29 Juni1606). Sedangkan menurut Bustanus-Salatin
17Benteng Indra Patra adalah benteng peninggalan kerajaan Hindu pertama di Aceh yang digunakan sebagai tempat peribadatan dan benteng pertahanan dari gempuran musuh.
Kemudian benteng ini direbut oleh Kerajaan Islam Aceh dan dijadikan sebagai benteng pertahanan. Benteng ini dipimpin oleh seorang laksamana perang perempuan Aceh yang sangat terkenal yaitu Laksamana Malahayati.
18 Raden Hoesein Djajadiningrat, Kesultanan Aceh, (Banda Aceh, Maret 1984, Museum Negeri Aceh), hlm. 175
19H. Harun Nasution, Op. cit, hlm. 442
20Rusdi Sufi, Op. cit, hlm. 37
ditemukannya sebuah karangan bahwa ia diangkat sebagai seorang Raja atau Sultan sekitar pada tanggal 6 Zulhijjah 1015 (pada bulan April 1607 Masehi).
Sultan Iskandar Muda menikah dengan seorang putri dari Kesultanan Pahang, yang lebih dikenal dengan Putroe Phang. Dari hasil pernikahannya, Sultan Iskandar Muda dikaruniai dua anak, yaitu Meurah Pupok dan Putri Safiah. Konon, karena terlalu cintanya sang sultan terhadap istrinya, sultan memerintahkan pembangunan gunongan di tengah Medan Khayali (Taman Istana) sebagai tanda cintanya. Kabarnya, sang puteri selalu sedih karena memendam rindu yang amat sangat terhadap kampung halamannya yang berbukit-bukit. Oleh sebab itu sultan membangun gunongan untuk mengobati rindu sang puteri. Hingga saat ini gunongan masih dapat disaksikan dan dikunjungi oleh wisatawan. 21
Perjalanan Sultan Iskandar Muda menuju Johor dan Malaka pada 1612 sempat berhenti disebuah Tajung (pertemuan sungai Asahan dan Silau) untuk bertemu dengan Raja Simargolang, sampai akhirnya ia menikahi salah seorang puteri dari Raja Simargolang yang kemudian dikaruniai seorang anak bernama Abdul Jalil (yang dinobatkan sebagai Sultan Asahan). Hal tersebut menunjukkan bahwa perluasan kerajaannya sangat berpengaruh terhadap kerajaan lain, karena ia sangat terampil dalam berkomunikasi dengan baik dan mempunyai interpersonal yang bagus, sehingga dapat mempengaruhi kerajaan lain di bawah kerajaannya dengan politik kekeluargaan setelah berhasil menikahi seorang putri dari Raja Simargolang dan membuat semakin kuat untuk kerajaan yang dipimpin.
Sultan Iskandar Muda mulai menduduki tahta Kerajaan Aceh pada usianya yang terbilang cukup muda (14 tahun). Ia berkuasa di Kerajaan Aceh antara 1607 hingga 1636, atau hanya selama 29 tahun. Tetapi semua itu masih dalam perdebatan di antara kalangan ahli sejarah. Mengacu pada Bustan al- Salatin, ia dinyatakan sebagai sultan pada tanggal 6 Dzulhijah 1015 H atau sekitar Awal April 1607. Masa kekuasaannya tersebut dikenal sebagai masa paling gemilang dalam sejarah Kerajaan Aceh Darussalam. Ia dikenal sangat piawai dalam membangun Kerajaan Aceh menjadi suatu kerajaan yang kuat,
21 Denys Lombard, Op. cit , hal. 107
besar, dan sangat disegani oleh kerajaan-kerajaan lain di Nusantara, namun juga oleh dunia luar. Pada masa kekuasaannya, Kerajaan Aceh termasuk dalam lima kerajaan terbesar di dunia.22
Tindakan Sultan Iskandar Muda untuk mengawali karirnya yang pertama yaitu, mengamankan kerajaan dari golongan orang kaya yang semenjak tahun 1604 telah melakukan persengkongkolan menjadi kekuatan oposisi istana. Ia telah menjatuhkan hukuman yang setimpal dengan segala tindakan sewenang-wenang yang dilakukan oleh para oposisi yang tidak mau memberikan dukungan dalam mengupayakan penegakkan kebenaran. Di satu sisi, para penerus generasi muda sebagian besar merupakan teman dekatnya semasa kecil yang pernah belajar mengaji bersama dan saling memberikan dukungan yang luar biasa di antara satu sama lain. Dari situlah mengapa ia disebut sebagai Sultan Iskandar Muda, tidak salah lagi karena ia mempunyai dukungan utama dan mempunyai balatentara dari orang-orang yang telah memiliki semangat juang.23
Aceh terdiri dari beberapa kaum dan sukee (suku), maka Sultan Iskandar Muda mengangkat dan menetapkan pimpinan adat terhadap masing-masing kelompok sukee. Selain untuk menyatukan di antara mereka, pengangkatan adat tersebut untuk mempermudah dalam menerapkan berbagai program pemerintahan.
Supaya menjamin kelanggengan Kerajaan Aceh di bawah panji-panji persatuan, kedamaian dan kemakmuran Sultan Iskandar Muda pada saat berkuasa, ia telah membagi aturan hukum dan tata negara ke dalam empat bidang yang kemudian dijabarkan secara praktis sesuai dengan tatanan kebudayaan masyarakat Aceh.
1. Pertama, bidang hukum yang diserahkan kepada Syaikhul Islam atau Qadhi Malikul Adil. Hukum merupakan asas tentang jaminan terciptanya keamanan dan perdamaian, dengan adanya hukum diharapkan bahwa peraturan formal ini dapat menjamin dan melindungi segala kepentingan rakyat.
22Nisa,SultanIskandarMuda,Http://media.acehprov.go.id/uploads/sultan_iskandar_mud a.pdf. Diunduh hari Senin, tanggal 16-05-2016, jam 10:58:59. Wib
23Ibid
2. Kedua, bidang adat yang diserahkan kepada kebijakan sultan dan penasehat.
Bidang ini merupakan perangkat undang-undang yang berperan besar dalam mengatur sebuah tata negara mengenai martabat hulubalang dan pembesar kerajaan.
3. Ketiga, bidang Resam yang merupakan urusan panglima. Resam adalah peraturan yang telah menjadi adat istiadat (kebiasaan) dan diimpelentasikan melalui perangkat hukum dan adat. Artinya, setiap peraturan yang tidak diketahui kemudian ditentukan melalui resam yang di lakukan secara gotong- royong.
4. Keempat, bidang Qanun yang merupakan kebijakan Maharani Putro Phang sebagai permasaisuri Sultan Iskandar Muda. Aspek ini telah berlaku semenjak berdirinya Kerajaan Aceh.24
Kebijakan yang mengenai sebuah adat, hukum, qanun dan resam tersebut telah tertuang dalam sebuah hadih maja yang masih dikenal oleh masyarakat Aceh, yang berbunyi sebagai berikut. "Adat bak Peutoe Meureuhom, Hukom bak Syiah Kuala " (Adat di bawah kekuasaan Sultan, kehidupan hukum beragama di bawah keputusan Tuan Syiah Kuala). Menurut Adat Aceh, seyogyanya “fungsi raja” dalam berbagai Kesultanan Malaya (Melayu) ada beberapa asas-asas pokok diantaranya : 1. Tahta yang bertumpu pada kekuasaan, 2. Ketegasan dalam memerintah, 3. Kesabaran disaat sedang murka, 4. Mengangkat rakyat yang lemah (membesarkan yang kecil), 5.
Merendahkan seseorang yang tinggi akan kuasanya, 6. Menghormati sesama baik yang tua maupun muda, sekalipun orang tersebut hina, 7. Merendahkan orang yang sombong, 8. Mematikan yang hidup dan menghidupkan yang mati (sudah tentu perumusan yang agak khas untuk apa yang kita namakan „hak atas hidup dan mati‟), maksudnya meskipun sudah mati ia tetap layak mendapatkan haknya seperti dimandikan, dikafani, dikuburkan, dan terakhir kita mendoa‟akan dengan secara baik. 9. Keikhlasan seseorang ketika menghadap, 10. Kemasyhuran dalam peradilan, yang telah tersiar sampai ke luar negeri, kewajiban ke 11. Seorang raja
24 ibid
tidak boleh mengulur-ulurkan perkara yang harus diputuskan antara dua pihak berlawanan sebab kelambanan sedemikian sangat merugikan kedua belah pihak.25
Setelah Sultan Iskandar Muda menetapkan orang-orang kepercayaan untuk mengurus urusan-urusan tersebut, kemudian ia menyusun dan mengeluarkan berbagai hukum atau peraturan sebagai pegangan, mengenai aturan yang menentukan martabat, kewajiban dan hak segala Uleebalang dan para pembesar kerajan semua sudah tertuang dalam qanun yang dikenal dengan adat Meukota Alam.
Menurut Adat Aceh, penyusunan adat qanun, Sultan Iskandar Muda telah melibatkan beberapa orang termuka atau orang-orang besar di antaranya para Syaikhul-Islam, Orang Kaya Maharaja Lela, Penghulu Karkun Raja Setia Muda, Katibul Muluk Sri Indra Suara dan Sri Indra Muda, beserta para perwira-perwira Balai Besar untuk menyusun sebuah peraturan (qanun) yang harus disesuaikan dengan maklumat raja dan tatakrama. Selain itu juga, qanun dibuat pada masa Sultan Iskandar Muda, yang ditemukan pada bagian naskah Tajus-Salatin yang dikarang oleh Bukhari Al-Jauhari. Bahkan pada naskah tersebut ada bab khusus yang membahas secara manusiawi mengenai bagaimana hubungan baik antara seorang raja dengan rakyatnya termasuk dengan masyarakat non muslim, begitu pula dengan sebaliknya.26 Dari teks tersebut juga ditetapkan dengan mengenai pemimpin perang, uleebalang, penghulu dan pegawai raja, selain perayaan- perayaan dan profesi-profesi kerajaan, baik yang berkaitan dengan agama maupun tidak, hal tersebut dengan Adat Majlis Raja-Raja, secara garis besar membicarakan etika yang harus diikuti Istana. Setiap peraturan harus dipahami secara mendalam yang terdapat dalam Adat Aceh mengenai perayaan-perayaan diantaranya yaitu dibangun sebuah ritual-ritual yang bernilai sangat tinggi, yang mayoritasnya memadukan perayaan-perayaan keagamaan dengan adat (tradisional) dalam satu paket. Dari naskah-naskah kuno peninggalan abad ke-16
25 Denys Lombard, Op.cit, hlm. 237
26Nisa, Sultan Iskandar Muda, Op.cit.
menunjukan bahwa seorang Sultan Iskandar Muda telah memiliki kebijakan yang luar biasa dalam menetapkan sebuah peraturan (qanun) yang telah menjamin kelangsungan hidup bagi kerajaan Aceh.27
Sultan Iskandar Muda telah menetapkan sebuah rencong sebagai tanda atau lambang kehormatan kekuasaan tertinggi. Tanpa adanya rencong otomatis tidak ada pegawai yang mengaku bahwa dirinya adalah prajurit yang bertugas dalam perintah kerajaan, dari setiap pegawai istana yang bertugas menyambut tamu asing itu diwajibkan mengenakan rencong. Demikian dengan halnya sebuah peraturan (qanun) yang dikeluarkan oleh seorang raja akan mempunyai sebuah kekuatan yang telah dibubuhi dengan lambang (cap). Tanpa adanya cap peraturan tersebut tidak akan ada sebuah pegangan. Salah satu cap yang masih tersisa dari masa Kesultanan Aceh adalah cap Sembilan (Cap Sikureueng), pada lambang tersebut pada lingkaran bagian tengah tertera seorang raja yang sedang memerintah, sedangkan pada bagian sekeliling sampingnya tertera nama delapan orang pendahulunya yang besar-besar.28
pertama kali yang harus dibenahi ialah ia harus konsolidasi ke dalam wilayah Aceh sebelah timur hingga ke Tiamang, kemudian di sebelah barat terutama di luar Aceh yang sudah dikuasai seperti Natal, Paseman, Tiku, Pariaman, Salida dan Indrapura ditempatkan pada tenaga-tenaga ahli berwibawa dalam melaksanakan tugasnya. Kemudian ia berusaha untuk menaklukkan wilayah-wilayah yang sering terganggu oleh Portugis dan Johor. Aru dan Deli telah dikuasai tahun 1612-1613, dengan membawa armada dan tentara yang cukup, ia menyerang Johor karena sudah bersekongkol dengan Portugis. Kini benteng Johor, Batusawar dihancurkan dan rajanya Sultan Ala‟udin telah melarikan diri, sedangkan adiknya Raja Bungsu tertangkap dan kemudian dikembalikan lagi ke Johor dengan adanya syarat-syarat tertentu, bahkan ia akan dinikahkan dengan adiknya Sultan Iskandar Muda.29
27 Amirul Hadi, Op.cit, hlm. 113
28 Nisa, Sultan Iskandar Muda, pdf , Op.cit.
29Prof. Dr. H. Harun Nasutions, Op.cit, hlm. 442
Di tahun 1615, berencana untuk menyerang Portugis di Malaka, tetapi urung setelah ia melihat persiapan dari Portugis. Sementara itu hubungan dengan Johor kembali tegang, untuk kedua kalinya Sultan Iskandar Muda menyerang Johor dan akhirnya Sultan Ala‟udin dapat dihukum mati. Raja Bungsu lari ke Tembelan dan meninggal di sana pada tahun 1623 M. Pada tahun 1617-1620 M.
ditaklukkannya Bintan, Baning, Pahang, Kedah dan Perak. Kemudian di tahun 1623-1625 M. dapat ditaklukkannya Nias, Inderagiri, Jambi dan Asahan.30 Disamping itu perluasan wilayah kekuasaan dan usaha mematahkan dominasi orang-orang Eropa, dan banyak usaha-usaha lain yang ditaklukkan Sultan Iskandar Muda. Ia juga melakukan penertiban mengenai susunan pemerintahan, kewajiban dan hak kedudukan rakyatnya terhadap pemerintahan dan penertiban perdagangan. Dalam bidang keagamaan ia mendirikan sebuah masjid Baiturrahman, lembaga pengajian dan rumah-rumah ibadah lainnya. Tentang keilmuan dan keislaman yang dimiliki, Sultan Iskandar Muda sangat beruntung karena pada saat itu banyak para ulama-ulama dan para pujangga Islam yang mau memberikan ilmunya kepadanya, diantara para ulama dan pujangga tersebut seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin dari Pasai, Syekh Nuruddin Ar-Raniri dan Syekh Abdurrauf dari Singkel, perundang-undang yang telah diadakan dan dapat dikenal dengan sebutan Adat Meukuta Alam. Adapun hubungan dengan luar negeri, baik utus mengutus atau dengan cara surat menyurat sangatlah luas antara lain dengan Inggris, Turki, dan Belanda.31
Setelah berjaya menduduki tahta tertinggi Kesultanan Aceh Darussalam, Perkasa Alam yang bergelar Sultan Iskandar Muda segera merancang program untuk meluaskan wilayah Kesultanan Aceh Darussalam. Beberapa misi yang diusung dalam rangka program tersebut adalah antara lain :
Menguasai seluruh negeri dan pelabuhan yang ada di Selat Malaka dan menetapkan terjaminnya wibawa atas negeri-negeri itu sehingga tidak
30Ibid, hlm. 442.
31 Ibid, hlm. 443
mungkin kemasukan taktik licik pemecah-belah “devide et impera” yang diterapkan kaum penjajah dari Barat.
Memukul mundur Johor supaya tidak lagi dapat ditunggangi oleh Portugis maupun Belanda.
Memukul negeri-negeri di sebelah timur Malaya, sejauh yang merugikan pedagang-pedagang Aceh dan usahanya untuk mencapai kemenangan dari musuh, seperti Pahang, Patani, dan lain-lain.
Memukul Portugis dan merampas Malaka.
Menaikkan harga pasaran hasil bumi untuk ekspor, dengan jalan memusatkan pelabuhan Samudera ke satu pelabuhan di Aceh, atau sedikit-dikitnya mengadakan pengawasan yang sempurna sedemikian rupa sehingga kepentingan kerajaan tidak dirugikan.32
Sebelum Sultan Iskandar Muda wafat, ia telah menuliskan beberapa wasiat untuk para wazir, hulubalang, pegawai dan para rakyatnya. Ada delapan wasiat yang telah disampaikan oleh seorang Sultan Iskandar Muda di antaranya sebagai berikut:
Pertama, hendaklah semua orang tanpa terkecuali supaya selalu ingat kepada Allah dan memenuhi janji serta mentaati peraturannya. Tausiah yang pertama ini tidak hanya diperintahkan untuk rakyatnya saja melainkan tausiah ini juga diberlakukan untuk keluarga istana bahkan untuk semua wazir, hulubalang, pegawai kerajaan. Melalui wasiat tersebut tetaplah mendorong tumbuhnya Syiar Islam dan girahnya keagamaan di seluruh wilayah Kerajaan Aceh Darussalam.33
Kedua, setiap raja jangan sampai menghina para alim ulama dan para cendikiawan. Pesan yang kedua ini lebih ditunjukan kepada raja-raja (diri sendiri), sebelum ditunjukan kepada rakyatnya. Pesan yang kedua ini juga telah mengandung filosofi bahwa setiap pemimpin atau penguasa tidak hanya pandai dalam memberikan instruksi atau perintah terhadap pegawainya, sedangkan untuk
32 Mohammad Said, Op.cit, hlm. 285
33Sunny Leone, Inilah Delapan Wasiat Sultan Iskandar Muda, http://Jurnal rakyat.blogspot.co.id/2015/04/inilah-delapan-wasiat-sultan-iskandar-muda.html, hari jum‟sat tanggal 15-06-2016, di unduh jam 13:43. wib
diri sendiri mengabaikannya. Pesan ini mengajari kita supaya bercermin bagaimana begitu baiknya hubungan raja (umara) dengan para ulama pada masa itu. Ulama telah ditunjukkan sebagai mufti kerajaan, hal ini tidak terlepas dari pesan para Rasulullah saw, “terdapat dua golongan manusia, apabila kedua golongan tersebut baik maka akan baiklah semua manusia. Tetapi jika dua golongan tersebut jelek atau rusak maka akan rusaklah kehidupan manusia ini diantara dua golongan tersebut ialah umara dan ulama”.
Ketiga, Raja jangan sampai cepat percaya apabila mendapatkan informasi atau berita yang disampaikan kepadanya. Wasiat yang ketiga ini berkolerasi dengan isyarat yang terdapat dalam Alqur‟an surah al-Hujurat:6 yang artinya:
ةلاهجب اموق اوبيصت نأاونيبتفءابنب قس اف مكء اج نااونما نيذلااهيااي نيمد ان متلعف ام ىلعاوحبصتف
“Hai orang-orang yang beriman jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidakmenimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.34
Agar setiap kali ada berita atau informasi yang belum jelas kebenarannya supaya dapat dilakukan investigasi kebenarannya. Tujuan dari surah tadi yaitu supaya tidak terjadinya fitnah di antara sesama.35
Keempat, setiap Raja hendaklah memperkuat pertahanan dan keamanannya. Dalam wasiat ini merupakan hal yang penting, karena dengan kuatnya pertahanan negara, menjadikan negara tersebut berwibawa. Pertahanan keamanan negara tidak dapat ditunjukkan kepada prajurit-prajurit yang terlatih, tetapi juga harus diserukan kepada rakyat untuk saling bekerja membantu bangsa, agama serta tanah airnya dari segala yang berbentuk ancaman yang datang baik itu datang dari luar maupun dari dalam.
34 QS. Al-Hujurat ayat 6
35 Sunny Leone, Op.cit..
Kelima, bagi para Raja diwajibkan untuk merakyat, untuk sering turun ke desa melihat-lihat keadaan rakyatnya. Pesan ini sangat simpatik dan seperti itulah jiwa dari seorang pemimpin (khalifah), tidak hanya memerintah, duduk dan berdiam di tempat singgahnya dengan segala kemewahan dan kesenangan, tetapi semua itu justru digunakan untuk kepentingan rakyatnya. Seorang raja, tidak hanya ahli mendengar para pembisik dari hulubalang dan wazirnya, seorang sultan juga tidak hanya pandai menerima dan membaca laporan dari kurirnya, tetapi seorang raja harus menjadi raja yang arif, adil dan bijaksana serta amanah menyaksikan sendiri apa yang sedang terjadi dan dialami oleh rakyatnya. Sifat semacam ini mengingatkan kepada pemimpin Khalifah Umar bin Khattab saat menjabat. Sultan juga sangat menghargai prestasi yang telah dibuat oleh para rakyatnya, rakyat yang baik akan diberikan penghargaan sedangkan yang sebaliknya tidak mendapatkan sanksi berupa tegura dan peringatan supaya bisa menjadi rakat yang baik.36
Keenam, hendaknya para raja menjalankan hukum berdasarkan Al- Qur„an dan Sunnah Rasul.
Ketujuh, sebagai seorang raja tidaklah pantas untuk berhubungan dengan orang jahat. Pesan tersebut dapat dipahami agar semua orang itu mempunyai kewajiban untuk menegakkan amar makruf nahi mungkar. Kerajaan tidak boleh memberikan kesempatan kepada siapapun untuk melakukan segala bentuk kemaksiatan yang menjurus kepada kefasidan. Akan tetapi hanya berkenaan dengnan syariat keagamaan kerajaan akan memberikan dukungan sepenuhnya untuk dijalankan37.
Kedelapan, seorang raja wajib menjaga harta dan keselamatan rakyatnya dan dilarang bertindak zalim. Pesan terakhir ini bermaksud agar raja harus bertindak adil di dalam semua aspek dan tidak perlu diskriminatif dalam penegakkan hukum, dan sebagai seorang raja harus menjaga hak-hak rakyat, dan
36Ibid
37Ibid
tidak harus membebani rakyat dalam hal-hal yang tidak mampu dikerjakan oleh rakyatnya.
Wasiat-wasiat ini mengindikasikan bahwa Sultan Iskandar Muda merupakan pemimpin yang saleh, bijaksana, serta memperhatikan kepentingan Agama, Rakyat, dan Kerajaannya.38 Prof. Hamka, melihat kepribadian yang ada pada diri Sultan Iskandar Muda sebagai sosok seorang pemimpin yang berpegang teguh terhadap prinsip yang dipegangnya serta syariat Islam, dan ia juga termasuk pemimpin yang saleh. Antony Reid melihat kepribadian seorang Sultan Iskandar Muda atas kepemimpinannya yang sangat berjaya atas menjalankan kekuatan yang sentralistis, otoriter dan mempunyai sifat ekspansionis. Sifat karakter yang dimiliki seorang sultan banyak dipengaruhi tetapi yang ada pada diri sultan yang satu ini memiliki karakter yang sama seperti kakeknya. Keberhasilan dan kegemilangan Kerajaan Aceh Darussalam saat ini tidak luput dari kekuasaan monarki karena sebuah model kerajaan sangat berbeda dengan konsep kenegaraan modern yang sudah demokratis.39
Pemimpin terbesar Kesultanan Aceh Darussalam, “Sultan Iskandar Muda” telah mangkat dengan tiba-tiba pada tanggal 27 Desember 1636 M.
Kematiannya ini disebabkan karena racun yang diberikan oleh wanita Makasar atas dasar perintah dari orang-orang Portugis. Sebelum ia mangkat, sultan memerintahkan kepada ajudannya untuk menyingkirkan anak laki-laki yang merupakan putra satu-satunya, karena tindakan anak tersebut tidak disukai.
Menurur R.A Hoesein Djajadiningrat bahwa sultan telah menghukum putranya sendiri karena kejahatan yang telah dilakukannya, dan sultan sangat takut suatu hari akan terjadi pertumpahan darah di Aceh bila ia meninggal. Mungkin hal tersebut ada hubungannya dengan penunujukkan Iskandar Tsani sebagai pengganti Sultan Iskandar Muda.40
38 Ibid
39Anonimous,Sejarah-Sultan-Iskandar-Muda,
http://www.tendasejarah.com/2013/09/sejarah-sultan-iskandar-muda-lengkap.html. tanggal 1-07- 2015 9;32, diunduh pada tanggal 27-6-2016, 10:30 wib.
40 R.A Hoesein Djajadiningrat, Op.cit, hlm. 175
Detik-detik terakhir sebelum Sultan Iskandar Muda meninggal, ia telah memerintahkan kepada pengawalnya untuk melenyapkan orang-orang Portugis yang telah ada di kerajaannya. Hal tersebut ia lakukan karena rasa kesal terhadap orang-orang Portugis yang telah menghancurkan cita-citanya, atau balas dendam atas kekalahan perang Aceh di Malaka pada tahun 1629. Akibat peperangan tersebut angkatan perang Aceh menjadi lemah, terutama armada lautnya. Seperti telah disebutkan sebelumnya Aceh melakukan serangan secara tiba-tiba terhadap Malaka Portugis, dan Aceh lebih awal telah melakukan penaklukkan-penaklukkan kerajaan Melayu di Semenanjung Malayu. Hal tersebut meskipun angkatan perang Aceh secara gemilang dapat ditaklukkan kerajaan-kerajaan tersebut, tetapi banyak juga tentara Aceh yang binasa. Akhir pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda, kerajaan Aceh kini menjadi lemah akibat kekurangan penduduknya. Hal ini akibat banyak ekspansi yang dilakukannya terhadap kerajaan-kerajaan Melayu di Semenanjung tanah Melayu.41
41 Rusdi Sufi, Op.cit, hlm 83-84