LAMPIRAN 1
RELIABILITAS
&
VAR00020 96.2800 311.203 .325 .913
VAR00021 96.1657 309.622 .389 .912
VAR00022 95.5257 313.550 .327 .913
VAR00023 97.0857 307.447 .458 .911
VAR00024 95.5029 311.792 .388 .912
VAR00025 97.0400 303.981 .482 .911
VAR00026 97.0514 307.762 .503 .911
VAR00027 96.2457 307.416 .387 .912
VAR00028 96.9200 305.373 .470 .911
VAR00029 96.8629 306.441 .477 .911
VAR00030 96.7371 304.126 .541 .910
VAR00031 96.6743 306.393 .455 .911
VAR00032 97.2457 304.267 .552 .910
VAR00033 96.3657 305.992 .453 .911
VAR00034 95.6514 312.102 .344 .913
LAMPIRAN 2
LAMPIRAN 3
1. Uji Normalitas
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
KELAS10 KELAS11 KELAS12
N 92 81 71
Normal Parametersa,b Mean 138.7174 140.0617 141.2676
Std. Deviation 12.88864 11.50472 17.25022
Most Extreme Differences Absolute .062 .078 .175
Positive .036 .039 .103
Negative -.062 -.078 -.175
Kolmogorov-Smirnov Z .595 .703 1.474
Asymp. Sig. (2-tailed) .871 .707 .126
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
2. Uji Deskriptif
Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
Statistic Statistic Statistic Statistic Std. Error Statistic
SE 244 54,00 168,00 139,9057 ,88842 13,87760
Valid N (listwise) 244
Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
KELAS10 92 87.00 162.00 138.7174 12.88864
KELAS11 81 111.00 163.00 140.0617 11.50472
KELAS12 71 54.00 168.00 141.2676 17.25022
LAMPIRAN 4
ALAT UKUR PENELITIAN
&
SKALA PENELITIAN ASLI
(STUDENT ENGAGEMENT INSTRUMENT)
&
No :
SKALA PSIKOLOGI
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
KATA PENGANTAR
Dengan hormat,
Dalam rangka memenuhi persyaratan untuk menyelesaikan pendidikan sarjana di Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara, saya bermaksud mengadakan penelitian di bidang Psikologi Pendidikan. Untuk itu saya membutuhkan sejumlah data yang hanya akan dapat saya peroleh dengan adanya kerjasama dari anda dalam mengisi skala ini.
Dalam pengisian skala ini tidak ada jawaban benar atau salah. Yang saya harap dan butuhkan adalah jawaban yang paling mendekati keadaan anda yang sesungguhnya. Karena itu, saya harapkan anda bersedia memberikan jawaban yang sejujur-jujurnya tanpa mendiskusikan dengan orang lain.
Semua jawaban akan dijaga kerahasiaannya dan hanya digunakan untuk keperluan penelitian ini saja.
Cara menjawab pernyataan-pernyataan tersebut akan dijelaskan dalam petunjuk pengisian. Oleh karena itu, perhatikan terlebih dahulu petunjuk pengisian sebelum anda mulai mengerjakan. Bacalah setiap pernyataan, jangan sampai ada pernyataan yang terlewati atau belum terisi.
Bantuan anda dalam menjawab pernyataan pada skala ini merupakan bantuan yang sangat besar artinya bagi keberhasilan penelitian ini. Untuk itu saya mengucapkan terima kasih.
Hormat Saya, Peneliti
Resi Pratiwi Ritonga
INSTRUMEN KETERLIBATAN SISWA
PANDUAN PENGISIAN
Gunakan jenis pensil No. 2 atau pena dengan tinta biru atau hitam saja.
Jangan gunakan pena dengan jenis tinta yang dapat mengembang menembus kertas. Jangan menuliskan tanda asing atau tidak dikenal pada formulir ini.
Berikan tanda silang (X) di dalam lingkaran yang tersedia.
Keterangan : STS = Sangat Tidak Setuju TS = Tidak Setuju
N = Netral S = Setuju
SS = Sangat Setuju
BENAR : X TIDAK BENAR : √
IDENTITAS DIRI
Nama / inisial :
Kelas :
Usia :
STS TS N S SS
1. Keluarga/wali selalu ada jika saya membutuhkan mereka. 1 2 3 4 5
2. Setelah menyelesaikan tugas sekolah, saya memeriksanya kembali apakah sudah
benar. 1 2 3 4 5
3. Para guru selalu ada jika saya membutuhkan mereka. 1 2 3 4 5
4. Siswa-siswa disini menyukai diri saya apa adanya. 1 2 3 4 5
5. Staff di sekolah saya bersedia meluangkan waktu untuk mendengarkan
permasalahan dari siswa 1 2 3 4 5
6. Siswa-siswa di sekolah peduli kepada saya 1 2 3 4 5
7. Siswa-siswa di sekolah selalu ada saat saya membutuhkan mereka. 1 2 3 4 5
8. Pendidikan yang saya jalani akan menciptakan banyak peluang bagi masa depan
saya. 1 2 3 4 5
9. Hal penting yang harus dipelajari, saya peroleh di sekolah. 1 2 3 4 5
11. Melanjutkan pendidikan setelah tamat SMA merupakan hal yang penting. 1 2 3 4 5
12. Jika sesuatu yang baik terjadi di sekolah, keluarga ingin mengetahui hal tersebut. 1 2 3 4 5
13. Sebagian besar guru di sekolah, menaruh perhatian terhadap saya sebagai pribadi,
tidak hanya sebagai siswa. 1 2 3 4 5
14. Siswa-siswa di sini menghormati hal yang saya katakan. 1 2 3 4 5
15. Jika saya mengerjakan tugas sekolah, saya akan melihatnya kembali apakah saya
sudah mengerti atau tidak. 1 2 3 4 5
16. Secara umum, guru-guru terbuka dan tulus terhadap saya. 1 2 3 4 5
17. Setelah SMA, saya berencana melanjutkan pendidikan. 1 2 3 4 5
18. Saya akan belajar, hanya jika guru memberikan saya hadiah. 1 2 3 4 5
19. Sekolah merupakan hal penting untuk mencapai tujuan masa depan saya. 1 2 3 4 5
20. Saat saya punya masalah di sekolah, keluarga saya bersedia membantu saya. 1 2 3 4 5
22. Saya senang berbicara dengan guru-guru di sini. 1 2 3 4 5
23. Saya senang berbicara dengan siswa-siswa di sini. 1 2 3 4 5
24. Saya punya beberapa teman di sekolah. 1 2 3 4 5
25. Jika saya meraih prestasi di sekolah, hal itu semata karena kerja keras saya. 1 2 3 4 5
26. Ujian yang diberikan di kelas berguna sekali untuk mengukur kemampuan saya. 1 2 3 4 5
27. Saya merasa aman di sekolahh. 1 2 3 4 5
28. Saya merasa memiliki sesuatu untuk diceritakan tentang apa yang terjadi di sekolah. 1 2 3 4 5
29. Keluarga/wali ingin saya di sekolah terus berusaha walau dihadapkan pada hal-hal
yang amat sulit. 1 2 3 4 5
30. Saya optimis terhadap masa depan saya. 1 2 3 4 5
31. Di sekolah, para guru peduli dengan siswa-siswa. 1 2 3 4 5
33. Belajar itu menyenangkan sebab saya menjadi lebih baik pada bidang tertentu. 1 2 3 4 5
34. Apa yang saya pelajari di kelas akan menjadi hal yang sangat penting bagi masa
depan saya. 1 2 3 4 5
35. Peringkat-peringkat yang ada di kelas, berguna untuk
SURVEY SISWA/I SMA YPSIM
NAMA/INISIAL :
JENIS KELAMIN :
KELAS :
UMUR :
INTSTRUKSI :
Dibawah ini terdapat 15 pernyataan, anda diminta untuk memilih pilihan YA/TIDAK pada pernyataan yang sesuai dengan diri anda. Anda bisa
memberikan tanda centang(√) pada kolom yang tersedia.
NO PERNYATAAN YA TIDAK
1. Bersekolah di YPSIM merupakan pilihan saya sendiri 2. Menurut saya sekolah YPSIM merupakan sekolah yang baik 3. Saya kurang suka dengan lingkungan sekolah YPSIM 4. Saya senang dengan suasana kelas di SMA YPSIM
5. Saya lebih senang berteman dengan teman yang berasal dari suku yang sama
6. Menurut saya semua kegiatan di sekolah merupakan hal yang menyenangkan
7. Saya rutin menghadiri kegiatan ekstrakulikuler di sekolah 8. Menurut saya, peraturan di sekolah terlalu ketat dan saya merasa
9. Saya sering terlambat ke sekolah (lebih dari 5 kali)
10. Saya memiliki motivasi yang besar untuk selalu berprestasi di sekolah 11. Saya sering tidak hadir (absen) di sekolah (lebih dari 5 kali)
12. Saya lebih nyaman jika dalam berkegiatan di sekolah, saya bersama teman yang berasal dari suku yang sama
13. Saya pernah berkelahi dengan teman sekelas saya 14. Saya pernah tidak mengerjakan tugas dari sekolah 15. Saya sering dihukum dalam kelas
Arifin, A.A (2012). Impelemntasi Pendidikan Multikulutural dalam Praksis Pendidikan di Indonesia. Jurnal Pembangunan dan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi 1(1), 79
Azwar, S. (2004). Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Banks, James A. dkk. (2010). Multicultural Education: Issues and Persepectives.
Boston-London: Allyn and Bacon Press classroom learning and motivation. Educational Psychologist, 18, 88-108.
Crocker, Linda, & James, Algina (1986). Introduction to Classical and Modern Test Theory.USA: Harcourt Brace Jovanovich Inc.
Doll, B., Pfohl, W., Yoon, J. (2010). Handbook of youth prevention science. New York : Routledge.
Finn, J. D., & Voelkl, K. E. (1993). School characteristics related to school engagement. Journal of Negro Education, 62, 249-268.
Fredricks, J.A., Blumenfeld, P.C., & Paris, A.H. (2004). School engagement: Potential of the concept, state of the evidence. Review of Educational Research, 74(1), 59-109.
Fredricks, J.A., Blumenfeld, P., Friedel, J., & Paris, A.H. (2004). School engagement K.A. Moore & L.H. Lippman (Ed.), What do children need to flourish? Conceptualizing and measuring indicators of positive development (pp. 305- 321). New York: Springer.
Fredricks, J.A. & McColskey. The measurement of school engagement: A comparative analysis of various methods and student self-report instruments. Handbook of research onschool engagement (pp.763-782). Fredricks, J., McColskey, W., Meli, J., Mordica, J., Montrosse, B., & Mooney, K.
Gumono, T.A. (2011). Pentingnya pendidikan multikultural untuk mewujudkan masyarakat madani. Proceeding Semnas FISIP UT, 156-159.
Gollnick & Chinn. (2013). Multicultural education in a pluralistic society (9th ed). United States: Pearson.
Hadi, Sutrisno. (2000). Metodologi Research (Jilid 1-4). Yogyakarta: Penerbit Andi.
Johnson, M. K., Crosnoe, R. and Elder, G. H. (2001). Students’ attachment and
academic engagement: The role of race and ethnicity. Sociology of Education 74: 318–40).
Kovalik, Susan. 2010. Kin’s Eye View of Science: a conceptual, integrated approach to teaching science K-6. California: Corwin.
Lippman, L., Rivers, A. (2008). Assesing school engagement: A guide for out-of-school time program paractitioner. Brief Research to Results Trends Child. Mania, Sitti. (2010). Implementasi pendidikan multikultural dalam pembelajaran.
Lentera Pendidikan, 13 (1), 78-91
National Research Council & Institute of Medicine. (2004). Engaging schools: Foster- ing high school students' motivation to learn. Washington, DC: National Academy Press.
Riduwan. (2005). Skala Pengukuran Variabel-Variabel Penelitian. Bandung: Alfa bet.
Skinner, E. A., & Belmont, M. J. (1993). Motivation in the classroom: Reciprocal effect of teacher behavior and student engagement across the school year. Journal of Educational Psychology, 85, 571-581.
Tan, Sofyan. (2006). Pendidikan multikulturalisme: solusi ancaman disintegrasi bangsa. Jurnal Antropologi dan Sosial Budaya ETNOVISI, II (1), 36-39 Trowler, V., (2010). Student Engagement literature review. Lancaster University :
Departement of Educational Research.
Willms, J. D., and Flanagan, P. (2007). Canadian students: tell them from me. Education Canada, 47(3), 46–50.
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif yang bersifat deskriptif yang dimaksudkan untuk mengetahui gambaran student engagement pada sekolah bermuatan multicultural. Menurut Azwar (2000) metode deskriptif merupakan metode yang bertujuan untuk menggambarkan secara sistematik dan akurat, fakta dan karakteristik mengenai populasi atau mengenai bidang tertentu. Pada penelitian ini, data yang dikumpulkan hanya bersifat deskriptif, tidak bermaksud untuk mencari penjelasan, melakukan pengujian hipotesis, membuat prediksi maupun mempelajari implikasi.
A. IDENTIFIKASI VARIABEL
Penelitian ini hanya menggunakan satu variabel yang akan diukur yaitu, student engagement pada sekolah bermuatan multikultural.
B. DEFENISI OPERASIONAL VARIABEL
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan skor dari tiap-tiap aspek student engagement, yaitu affective engagement dan cognitive engagement. Semakin tinggi skor total yang diperoleh seorang siswa, maka semakin tinggi pula student engagement yang dimiliki siswa tersebut.
C. POPULASI DAN METODE PENGAMBILAN SAMPEL
1. Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi didefinisikan sebagai kelompok subjek yang hendak dikenai generalisasi hasil penelitian. Sebagai suatu populasi, kelompok subyek ini harus memiliki ciri-ciri atau karakteristik-karakteristik bersama yang membedakannya dari kelompok subyek yang lain (Azwar, 2004). Dalam penelitian ini populasinya adalah seluruh siswa/i SMA YPSIM yang berjumlah 628.
2. Teknik Sampling
3. Jumlah Sampel Penelitian
Menurut Azwar (2004), secara tradisional statistika menganggap jumlah sampel yang lebih dari 60 subjek sudah cukup banyak. Namun, sesungguhnya tidak ada angka yang dapat dikatakan dengan pasti. Slovin (dalam Riduwan, 2005) menentukan ukuran sampel suatu populasi dengan formula :
n = N/N(d)2 + 1
n = 628/ 628(0.05) 2 + 1 n = 244
Keterangan : n = sampel N = populasi
d = nilai presisi 95% atau sig. = 0,05
Berdasarkan perhitungan di atas, maka sampel dalam penelitian ini berjumlah 244 orang siswa SMA.
D. ALAT UKUR YANG DIGUNAKAN
Appleton (2006), alat ukur ini hanya membagi 2 kategori saja yaitu, student engagement tinggi dan studentengagement rendah.
Alat ukur student engagement yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat ukur adaptasi dan bahasa yang digunakan dalam alat itu adalah bahasa Inggris. Oleh karena itu, agar subjek penelitian lebih mudah memahami isi alat ukur penelitian ini, maka alat ukur student engagement telah diterjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia oleh salah seorang translator dari salah satu lembaga belajar bahasa Inggris di kota Medan yaitu, BBC. Setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dilakukan lagi pemeriksaan oleh professional judgement yaitu dosen pembimbing.
Pengambilan data dalam penelitian yang dilakukan dengan menggunakan skala student engagement dengan blue print yang disajikan dalam tabel 1 berikut :
Aitem berbentuk pernyataan dengan lima pilihan respon, yaitu SS (sangat setuju), S (setuju), Netral (N), TS (tidak setuju), dan STS (sangat tidak setuju). Setiap pilihan tersebut memiliki skor masing-masing. Untuk SS diberi skor 5 (lima), S diberi skor 4 (empat), N diberi skor 3 (tiga), TS diberi skor 2 (dua), dan STS diberi skor 1 (satu). Selain aitem-aitem tersebut, di dalam alat ukur juga tertera identitas diri yang harus diisi oleh subjek penelitian. Identitas diri tersebut meliputi nama, kelas, usia, dan jenis kelamin.
E. UJI COBA ALAT UKUR
1. Validitas alat ukur
Di dalam penelitian ini akan diuji validitasnya berdasarkan validitas isi. Validitas isi tes ditentukan melalui pendapat profesional (professional judgement) dalam proses telaah soal. Pendapat profesional diperoleh dengan cara berkonsultasi dengan dosen pembimbing.
2. Uji Daya Beda Aitem
Uji daya beda aitem dilakukan untuk melihat sejauh mana aitem mampu membedakan antara individu atau kelompok yang memiliki atau yang tidak memiliki atribut yang diukur. Dasar kerja yang digunakan dalam analisis aitemini adalah dengan memilih aitem yang mengukur hal yang sama dengan yang diukur oleh tes sebagai keseluruhan. Kriteria pemilihan aitem berdasarkan korelasi aitem menggunakan batasan rix 0,30. Semua aitem yang mencapai koefisien korelasi
Alat ukur student engagement ini telah diujikan kepada 2577 siswa/i SMA di negara Amerika. Hasilnya menunjukkan bahwa daya beda aitem instrumen ini memuaskan karena koefisien korelasinya melebihi 0,30. Hal ini berarti setiap aitem student engagement telah mewakili indikatornya masing-masing.
3. Reliabilitas alat ukur
Menurut Hadi (2000) reliabilitas alat ukur menunjukkan konsistensi alat ukur yang bersangkutan bila diterapkan beberapa kali pada kesempatan berbeda. Prosedur pengujian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah koefisien reliabilitas alpha. Data untuk menghitung koefisien realibilitas alpha diperoleh melalui penyajian suatu bentuk skala yang dikenakan hanya sekali saja pada sekelompok responden (single-trial administration). Reliabilitas dinyatakan oleh koefisien realibilitas (rxx`) yang angkanya berada dalam rentang 0 sampai dengan 1. Koefisien reliabilitas yang semakin mendekati angka satu menandakan semakin tinggi reliabilitas. Sebaliknya, koefisien yang semakin mendekati angka 0 berarti semakin rendah reliabilitas yang dimiliki.
4. Hasil uji coba alat ukur
10 kali lipat dari banyaknya aitem yang hendak dianalisis. Oleh karena itu uji coba dilakukan pada 175 siswa/i di SMA Sultan Iskandar Muda.
Pengolahan data uji coba dalam penelitian ini dilakukan sekali saja. Uji coba alat ukur student engagement ini dilakukan untuk melihat apakah bahasa yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia telah dipahami dengan baik oleh siswa/i. Selain itu dari hasil uji coba juga diperoleh koefisien alpha keseluruhan aitem sebesar 0,914, sedangkan untuk daya beda aitem yang telah ditentukan sebelumnya (rix > 0,30) ditemukan bahwa seluruh aitem berada pada rix > 0,30.
Sehingga seluruh aitem dinyatakan baik dan tidak ada yang harus diganti.
F. PROSEDUR PELAKSANAAN PENELITIAN
Prosedur pelaksanaan penelitian terdiri dari 3 tahap. Ketiga tahap tersebut adalah tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap pengelolaan data.
1. Tahap persiapan
Penelitian ini menggunakan student engagement instrument yang dikembangkan oleh Appleton dkk (2006) berdasarkan dimensi-dimensi dari student engagement yaitu affective engagement dan cognitive engagement. Skala ini terdiri dari 35 aitem. Dalam penelitian ini skala tersebut telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Penyusunan skala ini dioperasionalisasikan dalam bentuk aitem-aitem pernyataan dan kemudian dibuat blue print dari skala tersebut.
2. Tahap Pelaksanaan
sebelumnya, peneliti terlebih dahulu meminta izin dan kesediaan subjek untuk mengisi skala. Kemudian peneliti memberikan instruksi dan memberikan penjelasan terkait dengan student engagement.
3. Tahap Pengolahan Data Penelitian
Pengolahan data di lakukan dengan menganalisa menggunakan bantuan program SPSS. Alasan yang mendasari digunakannya analisa statistik adalah karena statistik dapat menunjukkan kesimpulan (generalisasi) penelitian. Pertimbangan lain yang mendasari adalah statistik bekerja dengan angka, bersifat objektif dan universal (Hadi, 2000).
G. METODE ANALISIS DATA
Pada bab ini akan diuraikan mengenai hasil penelitian. Pembahasan akan dimulai dengan memberikan gambaran umum subjek penelitian dilanjutkan dengan hasil penelitian, analisa data, serta pembahasan dari penelitian yang telah dilakukan.
A. ANALISA DATA
1. Gambaran umum subjek penelitian
Penelitian ini melibatkan 244 subjek. Sebelum melakukan analisis data, peneliti akan menguraikan gambaran subjek penelitian berdasarkan jenis kelamin dan tingkat kelas.
a. Pengelompokkan subjek berdasarkan jenis kelamin
Pengelompokkan subjek berdasarkan jenis kelamin terdiri atas 2 kategori, yaitu laki-laki dan perempuan. Pada penelitian ini jumlah subjek perempuan lebih banyak dibandingkan dengan jumlah subjek laki-laki. Subjek perempuan berjumlah 126 orang (51,63%) dan subjek laki-laki berjumlah 118 orang (48,36%). Penyebaran subjek dapat dilihat dalam tabel 2 berikut :
Tabel 2. Penyebaran Subjek Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin Frekuensi (N) Persentase
Laki-laki 118 51,63 %
Perempuan 126 48,36%
b. Pengelompokkan subjek berdasarkan tingkat kelas
Pengelompokkan subjek berdasarkan tingkat kelas terdiri atas 3 kategori, yaitu kelas 10, kelas 11, dan kelas 12. Pada penelitian ini jumlah subjek kelas 10 lebih banyak dibandingkan dengan jumlah subjek kelas 11 dan kelas 12. Subjek kelas 10 berjumlah 92 orang (37,70%), subjek kelas 11 berjumlah 81 orang (33,21%), dan subjek kelas 12 berjumlah 71 orang (29,09%). Penyebaran subjek dapat dilihat dalam tabel 3 berikut.
Tabel 3. Penyebaran Subjek Berdasarkan Tingkat Kelas
2. Uji normalitas
3. Hasil Utama Penelitian
a. Gambaran umum student engagement subjek penelitian
Gambaran student engagement siswa di SMA Sultan Iskandar Muda dapat dilihat dari skor mean, standar deviasi serta nilai minimum dan maksimum dari skor skala student engagement. Berikut ini merupakan tabel yang memuat nilai empirik dan nilai hipotetik pada subjek penelitian.
Tabel 5. Gambaran Skor Minimum, Maksimum, Mean dan Standar Deviasi Student EngagementSubjek
Variabel Rentang Nilai Nilai Empirik Nilai Hipotetik
Min Maks Mean SD Mean SD
Student
Engagement 54 168 139,9 13,87 105 23,3
Dari tabel 5 dapat kita ketahui skor student engagement dari 244 subjek penelitian diperoleh skor minimum sebesar 54 dan skor maksimum sebesar 168. Data menunjukkan mean empirik student engagement sebesar 139,90 dengan standard deviation sebesar 13,87, sedangkan mean hipotetik sebesar 105 dengan standard deviation sebesar 23,3. Jika dilihat perbandingan antara mean empirik dengan mean hipotetik, maka diperoleh mean empirik lebih besar daripada mean hipotetik dengan selisih 34,9. Hasil ini menunjukkan bahwa student engagement subjek penelitian lebih tinggi daripada rata-rata student engagement berdasarkan tolak ukur skala.
Rumus Pertimbangan Eror Standar dalam Pengukuran
Taraf kepercayaan yang digunakan sebesar 95% yang berarti sama dengan
taraf signifikansi 5% atau α = 0,05 maka α/2 = 0,025. Nilai z 0,025 adalah 1,98
(dapat dilihat dengan menggunakan tabel deviasi normal). Hasil pengolahan data yang dihasilkan yaitu kategori tinggi, rendah dan tidak tergolongkan karena tujuan awal dari penelitian hanya ingin membagi subjek ke dalam 2 (dua) kategori saja.
Berdasarkan kategorisasi pada tabel 6 dan skor mean dan standar deviasi yang ada, maka diperoleh penggolongan student engagement serta frekuensi subjek dalam setiap kategori seperti yang ada pada tabel 7 berikut:
Tabel 7. Penggolongan Student Engagement Siswa Di SMA Sultan Iskandar Muda
Variabel Rentang Skor Kategorisasi Frekuensi (N) Persentase
Dari tabel 7 dapat dilihat bahwa mayoritas siswa di SMA Sultan Iskandar Muda memiliki tingkat student engagement yang tergolong tinggi yaitu sebanyak 133 orang (54,50%), sedangkan yang tergolong rendah sebanyak 83 orang (34,01%) dan sebanyak 28 orang (11,47%) tidak tergolongkan.
4. Hasil Tambahan Penelitian
Penelitian ini juga memperoleh hasil tambahan penelitian, yaitu berdasarkan jenis kelamin.
a. Gambaran Subjek Berdasarkan Jenis Kelamin
Berdasarkan jenis kelamin, gambaran subjek penelitian dapat dilihat pada tabel 8 berikut ini:
Tabel 8. Gambaran Subjek Berdasarkan Jenis Kelamin
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa nilai mean tertinggi subjek penelitian berdasarkan jenis kelamin terdapat pada subjek yang memiliki jenis kelamin perempuan dengan skor mean sebesar 140,64, sedangkan pada jenis kelamin laki-laki memperoleh skor mean sebesar 139,11.
b. Gambaran Subjek Berdasarkan Tingkatan Kelas
Berdasarkan tingkatan kelas, gambaran subjek penelitian dapat dilihat pada tabel 9 berikut ini:
Jenis
Kelamin N Min Max Mean SD
Tabel 9. Gambaran Subjek Berdasarkan Tingkat Kelas
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa nilai mean tertinggi subjek penelitian berdasarkan tingkatan kelas terdapat pada subjek yang berada pada kelas 12 dengan skor mean sebesar 141,2 sedangkan mean terendah subjek penilitian berdasarkan tingkatan kelas terpadat pada subjek kelas 10 dengan skor mean sebesar 138,7.
B. PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil utama penelitian terhadap 244 orang subjek penelitian, diperoleh gambaran student engagement siswa SMA Sultan Iskandar Muda. Student engagement subjek penelitian yang berada pada kategori tinggi sebanyak 133 orang, yang berada pada kategori rendah sebanyak 83 orang, dan 28 orang tidak tergolongkan.
Subjek yang berada pada kategori tinggi sebanyak 133 orang. Menurut Connell (1990) Siswa yang tinggi dalam student engagement akan berpartisipasi dalam kegiatan belajar, memiliki emosional yang positif, dan mereka dapat bertahan dalam menghadapi tantangan. Sedangkan yang berada pada kategori rendah sebanyak 83 orang. Menurut Skinner & Belmont (1993) , siswa yang rendah pada student engagement akan menjadi pasif, tidak berusaha keras, bosan, mudah menyerah, dan menampilkan emosi negatif, seperti marah, menyalahkan,
Tingkatan
kelas N Min Max Mean SD
dapat digambarkan berdasarkan jawaban-jawaban subjek pada skala student engagement yang digunakan pada penelitian ini.
Dalam konsep student engagement, Fredricks (2004), membagi faktor-faktor yang mempengaruhi student engagement menjadi dua yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Dalam faktor eksternal mencakup mengenai tingkat sekolah dan tingkat kelas, serta untuk faktor internal mencakup kebutuhan individu. Dalam hasil utama penelitian ini, salah satu faktor eksternal dapat diidentifikasi yaitu dari faktor tingkat kelas.
Berdasarkan tingkat kelas, skor mean subjek penelitian dari kelas 12 menunjukkan kategori student engagement yang tinggi, sedangkan pada kelas 10 dan 11 menunjukkan skor student engagement yang lebih rendah. Hasil penelitian di SMA Sultan Iskandar Muda mengidentifikasi bahwa ada pengaruh tingkat kelas dalam hal student engagement. Hal ini bisa terjadi dikarenakan pada awal masuk sekolah siswa masih beradaptasi dengan lingkungan sekolah. Ditambah lagi sekolah SMA Sultan Iskandar Muda merupakan sekolah yang bermuatan multikultural, dimana lingkungan sekolahnya berbeda dengan lingkungan sekolah pada umumnya, sehingga siswa pada awal masuk sekolah memerlukan waktu untuk beradaptasi. Semakin naik tingkat kelas, maka siswa sudah bisa lebih engagement dengan lingkungan sekolahnya.
Bab ini akan menguraikan kesimpulan dan saran-saran yang berhubungan dengan hasil penelitian yang diperoleh. Pada bagian pertama akan dijabarkan kesimpulan dari penelitian ini dilanjutkan dengan saran-saran yang dapat berguna bagi penelitian yang akan datang dengan topik yang sama.
A. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada SMA Sultan Iskandar Muda Medan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Student engagement siswa SMA Sultan Iskandar Muda Medan secara umum tergolong dalam kategori tinggi.
2. Berdasarkan jenis kelamin, student engagement pada perempuan lebih tinggi dari pada laki-laki.
3. Berdasarkan kategorisasi tingkat kelas, student engagement tergolong tinggi pada kelas 12, diikuti kelas 11 dan yang terakhir kelas 10.
B. SARAN
Berdasarkan hasil yang diperoleh dalam penelitian ini, penulis ingin mengemukakan beberapa saran :
1. Saran metodologis
masing-masing tingkat kelas, sehingga secara keseluruhan variabel penelitian dapat tergambarkan dalam satu sekolah. Pada penelitian ini jumlah subjek penelitian yang diperoleh terbatas dan tidak merata dalam setiap tingkat kelas dikarenakan adanya keterbatasan di lapangan.
b. Untuk penelitian selanjutnya dengan variabel yang sama yaitu student engagement , peneliti bisa mengaitkannya dengan variabel lain seperti tingkat prestasi, karena terdapat salah satu aspek student enagegement yang bisa berkaitan dengan tingkat prestasi yaitu aspek kognitif.
2. Saran praktis
a. Kepada siswa-siswi SMA di sekolah bermuatan pendidikan multikultural Sultan Iskandar Muda, hendaknya mempertahankan dan meningkatkan student engagement sehingga siswa dapat memperoleh hasil belajar yang baik dengan cara aktif dalam kegiatan- kegiatan yang ada di sekolah, memiliki semangat yang tinggi dalam kegiatan belajar, serta mematuhi peraturan yang dibuat oleh sekolah.
A. STUDENT ENGAGEMENT
1. Definisi Student Engagement
Menurut National Research Council dan Institute of Medicine (2004), dalam ruang lingkup sekolah konsep engagement meliputi beberapa bagian, yang pertama adalah perilaku, yang tediri dari ketekunan, usaha, perhatian, mengikuti kelas yang menantang. Selanjutnya, yang kedua adalah emosi, yang terdiri dari ketertarikan, rasa bangga dalam keberhasilan, dan yang ketiga adalah kognitif yang terdiri dari evaluasi dalam belajar dan regulasi diri siswa. Definisi student engagement terdiri dari komponen psikologis yang berkaitan dengan rasa memiliki siswa kepada sekolah, penerimaan aturan yang ada di sekolah, dan komponen perilaku yang berkaitan dengan partisipasi dalam kegiatan sekolah (Finn, 1993).
memiliki hubungan baik dengan guru, teman sebaya, serta adanya dukungan orang tua dalam pembelajaran.
Siswa yang tinggi dalam student engagement akan beraprtisipasi dalam kegiatan belajar, memiliki emosional yang positif, dan mereka dapat bertahan dalam menghadapi tantangan (Connell, 1990 dan Connell & Wellborn, 1991). Sebaliknya, siswa yang rendah pada student engagement akan menjadi pasif, tidak berusaha keras, bosan, mudah menyerah, dan menampilkan emosi negatif, seperti marah, menyalahkan, dan penolakan (Skinner & Belmont, 1993).
Fredricks (2004) menyebutkan bahwa student engagement berkaitan dengan hasil akademik yang positif, termasuk prestasi dan ketekunan di sekolah. Hal itu akan meningkat dengan dukungan dari guru serta rekan-rekan di kelas, tantangan sebuah tugas, peluang untuk mengambil pilihan, dan struktur yang memadai. Komponen psikologis (affective) menekankan pada rasa memiliki siswa atau keterikatan ke sekolah, yang ada hubungannya dengan perasaan diterima dan dihargai oleh rekan-rekan mereka, dan oleh orang lain di sekolah mereka (Willms, 2007). Saat ini student engagement telah berperan dalam upaya memperbaiki rendahnya tingkat prestasi akademik, mengatasi tingginya tingkat kebosanan siswa dan ketidakpuasan siswa di sekolah, serta mengatasi angka putus sekolah yang tinggi di daerah perkotaan (National Research Council & Institute of Medicine, 2004).
dapat mengidentifikasi sekolahnya, merasa terikat, serta memiliki hubungan yang baik dengan guru, teman sebaya, dan ada dukungan orang tua dalam pembelajaran.
2. Aspek Student Engagement
Appleton (dalam Doll, 2010) menyatakan bahwa aspek dari student engagement adalah kognitif dan afektif, yaitu :
a. Cognitive Engagement
Aspek ini merujuk pada keadaan yang lebih internal, seperti regulasi diri siswa, usaha yang dilakukan dalam mengerjakan pekerjaan sekolah, hasil yang diperoleh dalam belajar, serta tujuan pribadi dan otonomi. Aspek kognitif ini terdiri dari 3 sub indikator, yaitu kontrol dan relevansi tugas sekolah, harapan dan tujuan siswa di masa mendatang, dan motivasi intrinsik siswa (Doll, 2010).
b. Affective Engagement
Aspek ini merujuk pada sejauh mana siswa berinteraksi dengan guru dan teman-temannya dalam lingkungan sekolah, serta siswa memiliki rasa memiliki dengan sekolah dan menjadi bagian dari sekolah. Aspek afektif ini terdiri dari 3 sub indikator, yaitu hubungan antara guru-siswa, dukungan teman sebaya dalam belajar, dan dukungan keluarga dalam belajar (Doll, 2010).
3. Faktor yang Mempengaruhi Student Engagement
a. Faktor eksternal (lingkungan)
Faktor eksternal atau faktor lingkungan mencakup tingkat sekolah dan konteks kelas. Tingkat sekolah menggambarkan apa dasar siswa memilih sekolah tersebut, siswa memiliki tujuan yang jelas, ukuran sekolah, partisipasi siswa dalam kebijakan dan manajemen sekolah, kesempatan bagi staf dan mahasiswa untuk terlibat dalam upaya yang kooperatif, serta tugas akademik yang memungkinkan untuk pengembangan diri. Dalam faktor konteks kelas mencakup dukungan dari guru di dalam kelas, teman-teman, struktur kelas, tingkatan kelas, dan karakteristik tugas yang diberikan.
b. Faktor internal
Faktor internal mencakup kebutuhan individu yang berisi tentang kebutuhan untuk keterkaitan, kebutuhan untuk otonomi, kebutuhan untuk berkompetensi.
B. PENDIDIKAN MULTIKULTURAL
1. Defenisi Pendidikan Multikultural
Menurut Banks (2010) Pendidikan multikultural mencakup tiga hal yaitu ide atau konsep, gerakan pembaharuan pendidikan, dan proses. Pendidikan multikultural mengandung ide bahwa semua siswa terlepas dari perbedaan jenis kelamin, kelas sosial, karakteristik etnis, ras, atau budaya dan harus memiliki kesempatan yang sama untuk belajar di sekolah.
dari setiap individu mempengaruhi keseluruhan hidup individu tersebut. Budaya mendefenisikan siapa manusia. Menurut Gumono (2011) budaya mempengaruhi bagaimana individu makan, berpakaian, berbicara, berpikir, dan lain sebagainya. Di dalam konteks pendidikan, siswa berasal dari budaya yang berbeda-beda. Tidak semua siswa dapat diajari dengan cara yang sama. Guru perlu menyadari bahwa budaya dari setiap siswa akan mempengaruhi bagaimana mereka belajar, dan setiap siswa memiliki perbedaan kebutuhan, kemampuan dan pengalaman.
2. Dimensi Pendidikan Multikultural
Secara spesifik, Banks (2010) menyatakan bahwa pendidikan multikultural dapat dikonsepsikan atas lima dimensi, yaitu :
a. Integrasi konten yaitu pemaduan konten menangani sejauh mana guru menggunakan contoh dan konten dari beragam budaya dan kelompok untuk menggambarkan konsep, prinsip, generalisasi serta teori utama dalam bidang mata pelajaran atau disiplin mereka.
b. Proses penyusunan pengetahuan adalah sesuatu yang berhubungan dengan sejauh mana guru membantu siswa paham, menyelidiki, dan untuk menentukan bagaimana asumsi budaya yang tersirat, kerangka acuan, perspektif dan prasangka di dalam disiplin mempengaruhi cara pengetahuan disusun di dalamnya.
c. Menurunkan prasangka yaitu aspek ini fokus pada karakteristik dari sikap rasial siswa dan bagaimana sikap tersebut dapat diubah dengan metode dan materi pengajaran.
berbagai kelompok ras, budaya, dan kelas sosial. Termasuk dalam pedagogi ini adalah penggunaan beragam gaya mengajar yang konsisten dengan banyaknya gaya belajar di dalam berbagai kelompok budaya dan ras.
e. Pemberdayaan budaya sekolah harus diperiksa oleh semua anggota staf sekolah. Mereka semua juga harus berpartisipasi dalam penataan ini. Adanya praktek pengelompokan dan pelabelan, keikutsertaan dalam bidang olahraga, ketidakseimbangan dalam prestasi, ketidakseimbangan dalam penerimaan program pendidikan berbakat/khusus, dan interaksi antara staf dan siswa di seluruh bagian etnis dan ras yang merupakan variabel penting untuk menciptakan budaya sekolah yang memberdayakan siswa dari kelompok ras dan etnis yang beragam.
C. YAYASAN PENDIDIKAN SULTAN ISKANDAR MUDA
Yayasan ini didirikan dengan prinsip memberikan kesempatan kepada semua anak bangsa, tanpa membeda-bedakan suku, agama, ras, gender dan tingkat sosial dan ekonomi untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas. Pendidikan berkualitas yang ditawarkan adalah pendidikan yang mengedepankan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi tetap memprioritaskan pembelajaran budi pekerti dan pembentukan karakter anak yang berpedoman pada nilai-nilai saling menghargai, saling menghormati dan gotong royong di dalam bingkai keberagaman (YPSIM, 2012).
Untuk siswa yang kurang mampu secara ekonomi, yayasan ini mengadakan program anak asuh silang dengan sistem silang dan berantai, yaitu program yang bertujuan untuk memberikan beasiswa bagi anak yang kurang mampu, serta bertujuan untuk meminimalisir prasangka terhadap kelompok etnis atau agama tertentu dengan memasangkan anak dan orangtua asuh yang berbeda etnis maupun agama. Misalnya, anak dari etnis Jawa mendapatkan orangtua asuh dari etnis Batak, dan sebagainya. Sedangkan bagi mereka yang tidak lulus anak asuh, YPSIM memberikan alternatif pengurangan uang sekolah yang tercipta dengan adanya inisiatif subsidi silang yang dilakukan. Hal ini menunjukkan inisiatif YPSIM untuk turut melibatkan pihak orangtua dan masyarakat luas untuk turut serta menyukseskan pendidikan multikultural di Indonesia (YPSIM, 2012).
topik-nuansa multikultural di YPSIM tidak hanya dirasakan dalam kultur sekolah dan kultur kelas seperti adanya rumah ibadah dari tiap agama besar di Indonesia, pembagian tempat duduk yang lintas budaya, tetapi juga terdapat dalam setiap pembelajaran yang diterapkan di dalam kelas. Sebagai contoh, dalam pelajaran IPA SD, ketika mempelajari bahwa pohon menghasilkan oksigen, guru menambahkan ilustrasi, bahwa mungkin saja pohon tersebut terdapat di rumah keluarga orang Batak, namun oksigen tersebut tetap dapat dirasakan oleh tetangga mereka yang adalah orang Jawa. Dalam hal ini guru mengajarkan arti berbagi tanpa membeda-bedakan. Ini adalah contoh kecil yang dapat diterapkan oleh guru di YPSIM dalam mengajarkan siswa untuk menjadi pribadi yang menghargai keberagaman (YPSIM, 2012).
YPSIM telah merancang pedoman pembelajaran yang disusun berdasarkan sejumlah nilai, deskripsi, maupun indikator yang menjadi acuan kompetensi yang harus dicapai siswa dalam pembelajaran multikultural. Nilai-nilai tersebut yang akhirnya dipakai untuk kemudian merancang Rencana Kegiatan Harian (bagi tingkat TK), serta Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (bagi tingkat SD, SMP, SMA/SMK). Dengan adanya RKH, RPP, dan Silabus inilah guru dapat mengintegrasikan nilai dan indikator multikultural ke dalam setiap pembelajaran di kelas.
a. Nilai religius
Yang dimaksud dalam hal ini adalah bagaimana sikap dan perilaku siswa dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.
b. Nilai jujur
Nilai jujur yang dimaksud adalah upaya menjadikan siswa sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan. c. Nilai toleransi
Nilai toleransi adalah sikap dan tindakan siswa yang mampu menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.
d. Nilai disiplin
Nilai disiplin mencakup perilaku tertib dan patuh pada berbagai peraturan dan yang berlaku di sekolah dan di luar sekolah.
e. Kerja keras
Nilai kerja keras mencakup upaya siswa yang sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas.
f. Nilai kreatif
g. Nilai demokratis
Nilai demokratis di tunjukkan oleh cara berpikir, bersikap, dan bertindak yang memberikan kesempatan yang sama bagi dirinya dan orang lain dalam berekspresi, memberikan pendapat, menjalankan hak dan kewajiban tanpa membeda-bedakan.
h. Nilai rasa ingin tahu
Nilai ini ditunjukkan oleh sikap dan tindakan yang berusaha mengetahui lebih mendalami dari sesuatu yang dipelajari, dilihat, dan didengar.
i. Nilai Nasionalisme
Dilihat dari cara berpikir, sikap dan perbuatan yang menunjukkan kepedulian dan penghargaan tinggi terhadap suatu bahasa, lingkungan, sosial budaya ekonomi dan poltik bangsa.
j. Nilai menghargai prestasi
Ditunjukkan oleh sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi orang lain, serta mampu mengakui dan menghormati keberhasilan orang lain.
k. Nilai bersahabat dan komunikatif
Ditunjukkan oleh rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerjasama dengan orang lain.
l. Nilai cinta damai
m. Nilai gemar membaca
Ditunjukkan oleh kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang bermanfaat.
n. Nilai peduli lingkungan
Ditunjukkan oleh perilaku yang berupaya mencegah kerusakan alam dan upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.
o. Nilai peduli sosial dan kesejahteraan
Ditunjukkan oleh kerelaan memberi bantuan pada setiap orang yang membutuhkan.
p. Nilai tanggung jawab
Ditunjukkan dari sikap dan perilaku seseorang dalam melaksanakan tugas dan kewajiban yang harus dilakukan terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan, dan Tuhan Yang Maha Esa.
q. Nilai keseteraan gender
Mencakup sikap dan perilaku yang tidak membedakan laki-laki dan perempuan dalam hak dan kewajiban dalam lingkungan keluarga, sekolah dam masyarakat.
r. Nilai pluralisme
D. STUDENT ENGAGEMENT SISWA SMA SULTAN ISKANDAR MUDA
Student engagement adalah sejauh mana siswa termotivasi dan berkomitmen untuk belajar, menunjukkan perilaku dan sikap positif, dan memiliki hubungan baik dengan guru, teman sebaya, serta adanya dukungan orang tua dalam pembelajaran (Trowler, 2010).
Menurut Appleton (dalam Doll, 2010) student engagement bukan sebagai atribut dari siswa, melainkan sebagai keadaan yang sangat dipengaruhi oleh kapasitas sekolah, keluarga, dan masyarakat untuk memberikan dukungan yang konsisten untuk belajar. Selanjutnya, student engagement membutuhkan aspek afekktif dalam lingkungan akademik, misalnya perilaku positif siswa dan hubungan antar teman, serta perilaku aktif dari siswa, misalnya kehadiran, partisipasi dalam kelas, usaha, perilaku prososial (Doll, 2010).
kegiatan belajar. Aspek ini terdiri dari 3 sub indikator, yaitu kontrol dan relevansi tugas, harapan dan tujuan siswa di masa mendatang dan motivasi intrinsik siswa tersebut di sekolah.
Berdasarkan aspek dari student engagement yang disebutkan oleh Appleton, maka perlu diketahui juga hal- hal apa saja yang bisa mempengaruhi student engagement. Menurut Fredericks (2004) faktor yang mempengaruhi student engagement terdiri dari 2 faktor, yaitu faktor eksternal atau lingkungan dan faktor internal. Faktor eksternal merupakan faktor yang berasal dari lingkungan siswa tersebut, dalam hal ini lingkungan terbesar pada siswa adalah lingkungan sekolahnya. Bagaimana hubungan siswa tersebut dengan guru-guru di sekolahnya ataupun dengan teman-temannya. Serta apakah kegiatan-kegiatan di sekolah tersebut bagus dan bisa menarik minat dari siswa nya untuk mengikuti berbagai kegiatan sekolah. Selain lingkungan sekolah, lingkungan keluarga juga mempengaruhi student engagement siswa. Bagaimana orang tua mendukung kegiatan belajar anaknya dan memantau perkembangan anaknya di sekolah.
Hasil penelitian terbesar mengenai student engagement adalah penelitian yang dilakukan oleh Johnson et al. (2001) terhadap 134 sekolah yang tersebar di Amerika. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa siswa Afrika Amerika lebih engagement daripada siswa kulit putih dan Amerika Hispanik, setidaknya dalam salah satu aspek student engagement yaitu behavior yang telah diukur. Dari hasil penelitian ini bisa dilihat bahwa terdapat fenomena yang berbeda pada tingkat student engagement yang terkait dengan perbedaan ras/etnis di sekolah yang tersebar di Amerika. Penelitian sebelumnya ini mendorong peneliti untuk melihat student engagement pada sekolah yang memiliki komposisi dari berbagai ras, etnis, dan agama, atau sering disebut sekolah bermuatan pendidikan multikultural.
anak asuh silang yang dimana program ini juga masih berkaitan mendukung konsep tersebut
Selain aspek student engagement, terdapat juga faktor-faktor yang bisa mempengaruhi student engagement. Fredericks et al. (2004) mengemukakan faktor yang mempengaruhi student engagement yaitu dari eksternal dan internal. Faktor yang mempengaruhi student engagement dari eksternal adalah tingkat sekolah, pada faktor ini mencakup bagaimana cara siswa memilih sekolahnya, ada tujuan yang jelas dan konsisten di sekolah, partisipasi siswa dalam kebijakan dan manajemen sekolah, kesempatan bagi staf dan mahasiswa untuk terlibat dalam upaya yang kooperatif, dan tugas akademik yang memungkinkan untuk pengembangan produk. Dari hasil wawancara pada siswa YPSIM bisa mengidentifikasi salah satu faktor yang mempengaruhi student engagement, yaitu dari cara mereka memilih bersekolah di YPSIM, terlihat ada beberapa siswa yang memilih sekolah YPSIM karena memang ingin bersekolah di sekolah tersebut dan mengatakan bahwa sekolah tersebut merupakan sekolah yang bagus, tetapi ada juga yang memilih bersekolah di YPSIM karena mereka tidak lulus di sekolah lain. Hal ini bisa mempengaruhi student engagement.
kelasnya baik dari guru-guru yang berbeda-beda suku dan agama, maupun dari teman-teman sendiri yang juga berbeda-beda suku dan agamanya. Faktor yang mempengaruhi student engagement dari dari faktor eksternal merupakan faktor yang cenderung tergantung pada lingkungan sekolah. Lippman and Rivers (2008) mengemukakan bahwa lingkungan sekolah yang baik dapat menjadi instrumen dalam meningkatkan student engagement.
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Indonesia merupakan kondisi yang kaya akan suku bangsa atau sering disebut multikultural, negara Indonesia dibangun dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika. Semboyan ini diharapkan merangkul berbagai bidang di Indonesia termasuk dalam bidang pendidikan. Hal ini sudah terlihat dan didukung dengan adanya Peraturan Pemerintah No. 66 tahun 2010 pasal 53 menjelaskan bahwa "satuan pendidikan wajib memberikan layanan pendidikan kepada calon peserta didik dan peserta didik, tanpa memandang latar belakang agama, ras, etnis, gender, status sosial, dan kemampuan ekonomi". Peraturan pemerintah ini diharapkan dapat menjadi pemersatu masyarakat Indonesia yang multikultural dari bidang pendidikan. Oleh karena itu diharapkan bahwa tidak ada lagi diskriminasi dalam dunia pendidikan.
bahkan perpecahan bangsa (Gumono, 2011). Kerentanan yang dapat memicu konflik ini juga bisa terjadi dalam sekolah yang bermuatan pendidikan multikultural. Oleh karena itu, siswa perlu diberi pengetahuan yang luas tentang keberagaman, sehingga nantinya tidak menimbulkan konflik ataupun diskriminasi. Sekolah yang bermuatan pendidikan multikultural akan memiliki lingkungan yang berbeda dari sekolah umum, karena pada sekolah yang bermuatan multikultural memiliki jumlah siswa yang berasal dari berbagai etnis dan terdapat dimensi pendidikan multikultural yang diterapkan dalam lingkungan sekolah, serta perbedaan dalam fasilitas yang ada di sekolah tersebut. Jika sekolah tersebut berhasil menciptakan dan menerapkan konsep multikultural di sekolahnya, maka lingkungan sekolah menjadi nyaman bagi setiap orang di sekolah tersebut, tetapi sebaliknya, jika gagal maka lingkungan sekolah bisa menjadi ancaman bagi setiap orang di sekolah tersebut terutama bagi peserta didik. Lingkungan sekolah dapat memberikan pengaruh pada berbagai hal. Salah satunya dapat berpengaruh dengan student engagement. Lippman dan Rivers (2008) mengemukakan bahwa lingkungan sekolah dapat menjadi instrumen dalam menggambarkan student engagement. Hal ini didukung juga oleh Fredricks (2004) yang menyebutkan bahwa terdapat 2 faktor besar yang mempengaruhi student engagement yaitu faktor eksternal (lingkungan) dan faktor internal.
komponen perilaku yang berkaitan dengan partisipasi dalam kegiatan sekolah. Selain defenisi, terdapat juga aspek dari student engagement.
Menurut Appleton (dalam Doll, 2010) aspek dari student engagement terdiri dari 2 yaitu afektif & kognitif. Aspek afektif berisi tentang interaksi antara siswa dengan guru, interaksi antara siswa dengan siswa lainnya serta siswa tersebut mendapat dukungan dari orangtuanya dalam kegiatan belajar. Dalam teorinya, Appleton (2006) menyebutkan bahwa siswa yang tinggi dalam aspek afektif ini adalah siswa yang memiliki banyak jumlah teman di sekolahnya, aktif dalam mengikuti kegiatan di sekolah dan siswa yang tidak pernah melanggar peraturan sekolah karena siswa tersebut memiliki kepatuhan yang tinggi terhadap guru-gurunya. Di sisi lain, Appleton juga menjelaskan tentang siswa yang tinggi pada aspek ini adalah mereka yang berhubungan baik dengan keluarganya dan menunjukkan kepuasan terhadap keluarganya. Aspek yang kedua adalah kognitif, aspek ini lebih menggambarkan bagaimana siswa tersebut menunjukkan usaha dalam belajarnya, berusaha dalam mengerjakan tugas-tugas sekolah dengan baik. Dalam teorinya, Appleton (2006) menyebutkan bahwa siswa yang tinggi dalam aspek kognitif adalah siswa yang selalu mengerjakan tugas-tugas di sekolah, siswa yang memperoleh nilai tugas dan ujian yang tinggi serta siswa yang berada pada ranking kelas yang baik.
membuat siswa disengangement dengan sekolah. Kemudian, hasil penelitian dari Kovalik (2008) juga melakukan penelitian kepada 250 siswa/i di Amerika dan menemukan bahwa anak laki-laki lebih disengagement daripada anak perempuan dikarenakan faktor sosial dan biologis. Dalam penelitiannya ini ia menjelaskan bahwa anak laki-laki dari dasar biologisnya terlahir dengan fisik yang kuat sehingga laki-laki akan lebih aktif dan lebih mudah menjalin pertemanan, sehingga lebih mudah terpengaruh untuk melakukan hal-hal yang bisa melanggar peraturan sekolah dan ini akan menyebabkan siswa tersebut disengagement terhadap sekolahnya.
Selain itu ada juga hasil penelitian lain yang dilakukan oleh Johnson et al. (2001) terhadap 134 sekolah yang tersebar di Amerika. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa siswa Afrika Amerika lebih engagement daripada siswa kulit putih dan Amerika Hispanik, setidaknya dalam salah satu aspek student engagement yaitu behavior yang telah diukur. Dari hasil penelitian ini bisa dilihat bahwa terlihat fenomena yang berbeda pada tingkat student engagement yang terkait dengan perbedaan ras/etnis di sekolah yang tersebar di Amerika. Hasil penelitian ini juga menjadi dasar peneliti untuk melihat apakah sekolah yang bermuatan pendidikan multikultural di kota Medan memiliki fenomena dalam konsep studentengagement.
Hamzah Pekan I, Gang Bakul, Medan Sunggal, Sumatera Utara. Sekolah ini sudah berdiri sejak tahun 1987 dan sudah mengemban sebuah visi untuk mengatasi permasalahan sosial yang ada di dalam masyarakat, yakni kemiskinan dan diskriminasi yang merugikan masyarakat marjinal di Indonesia (YPSIM, 2012). Selain itu YPSIM juga mengemban beberapa misi. Secara keseluruhan misi tersebut sejalan dengan tujuan sekolah yang berbasis multikultural, diantaranya sekolah YPSIM menyelenggarakan pendidikan dari tingkat playgroup sampai SMA/SMK dengan dasar kurikulum nasional yang berbasis budaya, karakter dan kewirausahaan. Kemudian YPSIM juga menyelenggarakan program anak asuh silang dan berantai, menyelenggarakan pendidikan ekstra kurikuler yang membangun kebersamaan dan terakhir YPSIM berusaha menumbuhkan sikap saling menghormati antar umat beragama (YPSIM, 2012). Program yang dibentuk oleh YPSIM ini merupakan usaha untuk menghilangkan diskriminasi dari berbagai perbedaam yang ada di sekolah tersebut dimana sekolah tersebut berbasis multikultural yang terdiri dari berbagai suku dan agama.
memberdayakan siswa dari beragam kelompok, ras, etnis dan budaya. Yayasan Perguruan Sultan Iskanda Muda membuat suatu model pembelajaran bermuatan multikultural dengan menyusun RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran), dimana didalamnya bermuatan nilai multikultural seperti, religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras dan ulet, kreatif dan mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, nasionalisme, menghargai prestasi, bersahabat dan komunikatif, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial dan kesejahteraan, tanggung jawab, kesetaraan gender, dan pluralism (YPSIM, 2012). Nilai – nilai tersebut sejalan dengan dimensi pendidikan multikultural yang dikemukakan oleh Banks (2010) yaitu integrasi konten, proses penyusunan pengetahuan, menurunkan prasangka, kesetaraan pedagogi, dan pemberdayaan budaya di sekolah.
Untuk melihat apakah studentengagement tergambar dalam sekolah yang bermuatan pendidikan multikultural, dalam hal ini adalah SMA Sultan Iskandar Muda Medan, maka peneliti melakukan wawancara terhadap salah seorang guru dan beberapa orang siswa di sekolah tersebut.Wawancara berikut ini terkait dengan kelebihan dan kekurangan dari sekolah YPSIM :
tidak teratur. Contohnya seperti cabut dari sekolah, terlambat, dan ada beberapa siswa yang bermasalah dengan absensi. Masalah yang terkait dengan perilaku siswa ini menurut kami bukan hal yang ringan, karena ada beberapa siswa sampai diberikan surat panggilan orangtua karena memang perilakunya tidak bisa diperingati oleh guru-guru di sekolah
lagi”.
(E, Komunikasi Personal 14 Agustus 2015) Selain itu, peneliti juga melakukan wawancara dengan beberapa siswa di sekolah. Dalam hal ini fokus peneliti adalah pada siswa/i SMA YPSIM. Hasil wawancara diperoleh peneliti yang terkait dengan bagaimana respon siswa terhadap sekolahnya yang berfokus pada keadaan sekolah yang berbasis multikultural tertuang dalam kutipan berikut ini :
"Sekolah disini menyenangkan kak, teman sekelasku dari berbagai suku. Mereka asik-asik, apalagi teman sebangku saya yang sukunya India, kami sudah sahabatan dari kelas 1 SMA kak sampai sekarang. Kemudian kak, disini ada hal yang gak kita temukan di sekolah lain, misalnya kalau upacara kita akan berdoa menggunakan empat agama yaitu Islam, Kristen, Hindu, dan Budha"
(M, Komunikasi Personal 23 Januari 2015) "Biasa aja sih kak, tapi disini peraturannya ketat, contohnya kalau celana kuncup langsung digunting kak pinggirnya. Tapi ada uniknya juga kak yaitu temen-temen disini berasal dari berbagai suku kak, tapi kalau saya memilih kawan dekat masih nyaman kalau yang sama sukunya dengan saya kak, yaitu Tionghoa juga, alasannya karena enak aja gitu kalau kami sama-sama suku Tionghoa kak".
(R, Komunikasi Personal 23 Januari 2015)
“Sekolah ini banyak kegiatan ekskul nya kak, saya ikut ekskul basket kak, karena teman-teman saya banyak ikut ekskul ini juga. Kemarin saat baru masuk sekolah ini saya ikut ekskul tari, tetapi di ekskul itu rata-rata yang ikut dari teman-teman suku India kak, sementara saya orang batak, saya kurang nyaman di ekskul itu, ga bisa dapat kawan yang akrab kak, kemudian pada semester selanjutnya saya pindah ke basket dan saya nyaman karena banyak teman yang satu suku sama saya di dalamnya kak, jadi lebih asyik ekskul nya kak”.
Kemudian ada juga hasil wawancara terkait dengan alasan siswa bersekolah di YPSIM :
"Saya masuk ke YPSIM karena tidak lulus sekolah negeri kak, kemudian saya mendengar informasi dari saudara saya, kalau sekolah YPSIM bagus dan fasilitasnya lengkap. Setelah masuk sini memang bagus kak sekolahnya, fasilitasnya juga lengkap, bisa dilihat kak ada 5 rumah ibadah yang dibuat untuk masing-masing agama. Ekstrakulikulernya juga banyak kak dan asik- asik, ada dari berbagai jenis olahraga, seni seperti siaran radio, vocal, melukis dll. Siswa-siswa disini juga diwajibkan ikut kegiatan ekskul kak, jadi satu kelas pasti kami ikut ekskul smua kak. Tidak ada yang tidak mengikuti kegiatan di sekolah kak. Kalau ada kegiatan seperti pentas seni , semua kelas harus ikut terlibat dalam acara itu kak. Asik lah kak sekolahnya.
(Y, Komunikasi Personal 23 Januari 2015) "Saya bersekolah di sini karena memang kemauan saya kak, kebetulan rumah saya dekat dari sini, dan warga sini juga sering bilang kalau sekolah ini bagus kak, dari kedisiplinannya dan saling menghargainya itu kak tinggi disini, siswa-siswanya dari berbagai suku kak, tapi semua dilakukan setara kak, baik di kelas maupun pada kegiatan-kegiatan sekolah , misalnya pada acara besar keagamaan, tidak ada larangan buat yang berbeda agama untuk melihat ataupun ikut dalam perayaan hari keagaamaan itu kak. Di dalam kelas juga tidak ada guru-guru yang lebih menyayangi siswa dari salah satu suku, semuanya disamakan kak.
di antara teman yang berbeda suku, hal ini dapat memicu munculnya masalah dalam lingkungan sekolah yang bermuatan multikultural seperti yang dijelaskan sebelumnya.
Selain wawancara, peneliti juga melakukan survey kecil kepada 30 siswa/i di YPSIM. Survey ini berisi 15 pernyataan mengenai keadaan siswa tersebut di lingkungan sekolah. Hasil menunjukkan adanya perbedaan dari beberapa siswa. Secara keseluruhan dari 30 siswa menunjukkan perasaan puas terhadap sekolah YPSIM. Hal ini bisa terlihat dari ada beberapa siswa yang tertarik dengan kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan di sekolah, kemudian beberapa siswa menunjukkan bahwa bersekolah di YPSIM merupakan pilihan dirinya sendiri dan mengatakan bahwa mereka menyukai lingkungan sekolah YPSIM.
Selain itu survey juga menunjukkan ketidakpuasan dari beberapa siswa terhadap YPSIM. Hal ini terlihat dari beberapa siswa mengakui bahwa peraturan sekolah terlalu ketat, beberapa siswa sering datang terlambat ke sekolah. Dimana seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa peraturan yang terlalu ketat akan menurunkan tingkat student engagement siswa terhadap sekolahnya. Selain itu ada beberapa siswa mengakui bahwa ia lebih ingin berinteraksi dan berkegiatan dengan teman yang berasal dari suku yang sama. Informasi yang diperoleh melalui hasil wawancara dan hasil survey ini dikaitkan dengan aspek student engagement yang sudah dijelaskan sebelumnya sehingga tergambar fenomena studentengagement dari aspek afektif dan kognitif.
Iskandar Muda Medan yang dilakukan oleh Susy (2014). Penelitian ini berisi tentang gambaran sikap siswa SMA terhadap pembelajaran bermuatan pendidikan multikultural. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa secara umum, sikap siswa SMA YPSIM terhadap pembelajaran bermuatan multikultural berada pada kategori positif. Hal ini merupakan suatu bentuk penilaian ataupun evaluasi siswa terhadap pembelajaran yang mengintegrasikan nilai-nilai multikultural ke dalam kurikulum yang diajarkan guru di sekolah. Pada penelitian ini evaluasi siswa tersebut lebih dominan kepada penilaian positif (memihak) dibandingkan penilaian negatif (tidak memihak). Sikap terdiri dari 3 komponen yang saling berhubungan, yaitu komponen kognitif (cognitive), afektif (affective), dan konatif (conative) (Azwar, 2013). Dapat dilihat dari komponen sikat tersebut, ada 2 komponen yang sama dengan aspek dari student engagement yaitu, aspek afektif dan kognitif. Hasil penelitian ini semakin menambah beragamnya fenomena yang tergambar dari SMA Sultan Iskandar Muda. Sehingga pada akhirnya peneliti dapat menggambarkan studentengagement di sekolag tersebut.
Berdasarkan penjelasan diatas, peneliti merasa perlu untuk mengetahui bagaimana gambaran student engagement siswa SMA di sekolah bermuatan multikultural yaitu SMA Sultan Iskandar Muda.
B. RUMUSAN MASALAH
Bagaimana gambaran dari student engagement pada siswa yang bersekolah di sekolah bermuatan multikultural (Studi kasus SMA Yayasan Pendidikan Sultan Iskandar Muda) ?
C. TUJUAN PENELITIAN
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah : untuk mengetahui gambaran student engagement pada siswa yang bersekolah di sekolah bermuatan multikultural (Studi kasus SMA Yayasan Pendidikan Sultan Iskandar Muda).
D. MANFAAT PENELITIAN
1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat teoritis dalam memberikan informasi dan perluasan teori di bidang psikologi pendidikan, yakni mengenai konsep student engagement. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat memperkaya sumber kepustakaan penelitian di bidang psikologi pendidikan, sehingga hasil penelitian ini nantinya diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan penunjang untuk penelitian selanjutnya.
2. Manfaat Praktis
Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat:
b. Untuk Siswa/i SMA Sultan Iskandar Mudan Medan, diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan suatu gambaran tentang student engagement yang mereka miliki.
E. SISTEMATIKA PENULISAN
Sistematika penulisan pada penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Bab I - Pendahuluan
Pada bab ini berisi penjelasan mengenai latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan sistematika penulisan.
2. Bab II - Landasan Teoritis
Pada bab ini berisi teori-teori kepustakaan yang digunakan sebagai landasan dalam penelitian, antara lain teori mengenai student engagement, pendidikan multikultural dan deskripsi SMA Sultan Iskandar Muda Medan.
3. Bab III - Metode Penelitian
Berisi penjelasan mengenai metode penelitian yang berisikan tentang identifikasi variabel, definisi operasional variabel, subjek penelitian, jenis penelitian, metode dan alat pengumpulan data, validitas dan reliabilitas alat ukur, prosedur pelaksanaan penelitian serta metode analisis data.
4. Bab IV- Analisa Data dan Pembahasan
5. Bab V - Kesimpulan dan Saran
ABSTRAK
Sekolah yang bermuatan pendidikan multikultural akan memiliki lingkungan yang berbeda dari sekolah umum. Lingkungan sekolah dapat berpengaruh terhadap student engagement. Menurut Appleton (dalam Trowler, 2010) student engagement adalah sejauh mana siswa termotivasi dan berkomitmen untuk belajar, menunjukkan perilaku dan sikap positif, memiliki hubungan yang baik dengan guru, teman sebaya, serta adanya dukungan orang tua dalam pembelajaran. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang bertujuan untuk melihat gambaran student engagement pada siswa/i SMA Sultan Iskandar Muda Medan. Sampel dalam penelitian ini adalah siswa/i SMA Sultan Iskandar Muda dari kelas 10 sampai kelas 12 yang berjumlah 244 orang. Dalam penelitian ini alat ukur yang digunakan adalah student engagement instrument yang dikembangkan oleh Appleton (2006). Uji reliabilitas alat ukur dilakukan dengan teknik koefisien Alpha Cronbranc dengan koefisien alpha keseluruhan aitem sebesar 0,914. Data yang diolah dalam penelitian ini adalah nilai mean, standar deviasi, skor minimum, dan skor maksimum. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara umum student engagement pada SMA Sultan Iskandar Muda Medan termasuk kategori tinggi (54,50%).
ABSTRACT
A school with multicultural education will have a different environment then the others. School environment could affect the student engagement. According to Appleton (in Trowler, 2010) student engagement is how far student being motivated and committed to study, shown a positive behavior, and have relationship with teacher, friends, and parents that support their study. This research is a descriptive research that has a purpose to see student engagement on Sultan Iskandar Muda senior high school’s student. The sample in this research are 244 Sultan Iskandar Muda senior high school’s student from tenth grade to twelve grade. In this research, researcher uses student engagement instrument which is developed by Appleton (2006). The scale’s reliability test is done with alpha cronbach coefficient technique with a value 0.914. The data are processedin this study is the mean, standard deviation, minimum scores, and maximum score. The result shown that commonly student engagement in Sultan Iskandar Muda senior high school is counted as high (54,50 %).
SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi persyaratan
Ujian Sarjana Psikologi
Oleh :