LAPORAN AKHIR
PENELITIAN DISERTASI DOKTOR
FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB RENDAHNYA MUTU PENDIDIKAN MATA PELAJARAN IPS DI SMP KOTA BANDA ACEH
Oleh:
Zulfadhli, S.Pd.,M.Pd.,M.Si, NIDN. 0018057403
Dibiayai Oleh:
Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Sesuai dengan Kontrak Penelitian Nomor SP DIPA-042.06.1.401516/2018 Tahun Anggaran 2018
UNIVERSITAS SYIAH KUALA NOVEMBER 2018
iii
IDENTITAS DAN URAIAN UMUM
1. Judul Penelitian: Faktor-Faktor Penyebab Rendahnya Mutu Pendidikan Pelajaran IPS Di SMP Kota Banda Aceh
2. Tim Pelaksana
No Nama Jabatan Bidang
Keahlian
Instansi Asal Alokasi Waktu (Jam/Minggu) 1 Zulfadhli,
S.Pd.,M.Pd.,M.Si
Ketua Ekonomi/
Akuntansi
FKIP Unsyiah
8 jam/minggu
3. Objek Penelitian (jenis material yang akan diteliti dan segi penelitian):
Informasi yang terkait dengan faktor penyebab rendahnya mutu pendidikan IPS..
4. Masa Pelaksanaan
Mulai : 5 Februari 2018 Berakhir : 16 November 2018 5. Usulan Biaya DRPM Ditjen Penguatan Risbang:
Tahun ke-1 : Rp 50.000.000 6. Lokasi Penelitian
Pada SMP di Kota Banda Aceh 7. Prediksi lulus S-3:
Tahun 2019
8. Temuan yang ditargetkan (penjelasan gejala atau kaidah, metode, teori, atau antisipasi yangyang dikontribusikan pada bidang ilmu):
(1).Faktor-Faktor Penyebab Rendahnya Mutu Pendidikan IPS,
(2) Suatu Model sebagai alternatif solusi unruk meningkatkan mutu mapel IPS 9. Kontribusi mendasar pada suatu bidang ilmu (uraikan tidak lebih dari 50 kata, tekankan
padagagasan fundamental dan orisinal yang akan mendukung pengembangan iptek):
Sebagai sumbangan pemikiran dengan melahirkan suatu model dalam upaya peningkatan mutu pendidikan di bidang IPS
10. Jurnal ilmiah yang menjadi sasaran (tuliskan nama terbitan berkala ilmiah internasionalbereputasi, nasional terakreditasi, atau nasional tidak terakreditasi dan tahun rencana publikasi):
iv
a.International Journal of Education Development b.International Journal of Innovation and learning
v DAFTAR ISI
Halaman HALAMAN SAMPUL ...
HALAMAN PENGESAHAN ...
IDENTITAS DAN URAIAN UMUM ...
DAFTAR ISI ……….………..……..……….
RINGKASAN ...
BAB I. PENDAHULUAN ...
1.1 Latar Belakang ...
1.2 Urgensi Penelitian ...
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ... ...
2.1 Mutu Pendidikan ...
2.2 Pendidikan IPS ...
2.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Mutu Pendidikan ...
2.4 Upaya Peningkatan Mutu ...
2.5 Meningkatkan Mutu Pendidikan dari Perspektif PIPS ...
2.6 Peta Jalan (Road Map) Penelitian ...
BAB III. METODE PENELITIAN ...
3.1 Pendekatan dan Metode Penelitian ...
3.2 Subjek dan Objek Penelitian ...
3.3 Teknik Pengumpulan Data ...
3.4 Informan Penelitian dan Teknik Penentuan Informan Penelitian ..
3.5 Keabsahan Data dan Metode Analisis data ...
3.6 Rencana Kegiatan Penelitian ...
BAB IV. BIAYA DAN JADWAL PENELITIAN …..…...……….…
4.1 Biaya Penelitian ...
4.2 Jadwal Penelitian ...
BAB V . HASIL PENELITIAN ...
5.1 Kondisi Lokasi Penelitian ...
5.2 Pembahasan ...
5.2.1 Faktor-faktor yang Paling Dominan Penyebab Rendahnya Mutu Pendidikan Mata Pelajaran IPS ...
5.2.2.Model Untuk Peningkatan Mutu Pendidikan Mata Pelajaran IPS Di SMP Kota Banda Aceh ...
i ii iii v vii 1 1 3 4 4 5 6 9 9 11 13 13 13 13 14 14 14 16 16 18 19 19 20 20 20 24
23
vi
BAB V. PENUTUP ... 28
5.1 Kesimpulan ... 28
5.2 Saran ... 28
DAFTAR PUSTAKA …...……..……….…..……..……... 29
LAMPIRAN ... 31
vii RINGKASAN
Penelitian yang berjudul “Faktor-Faktor Penyebab rendahnya Mutu Pendidikan Mata Pelajaran IPS Di SMP Kota Banda Aceh” dilatarbelakangi oleh tuduhan atas rendahnya mutu pendidikan selalu dituju kepada guru. Padahal masih banyak faktor lain yang mendukung terhadap terbentuknya pendidikan yang bermutu untuk berbagai jenjang pendidikan. Kondisi ini menarik untuk dikaji melalui suatu penelitian yang difokuskan pada jenjang pendidikan Sekolah Menengah Pertama di Kota Banda Aceh. Rumusan masalah pada penelitian ini adalah: (1) Apa faktor yang menyebabkan rendahnya mutu pendidikan IPS pada SMP di Kota Banda Aceh, (2) Bagaimana model sebagai alternatif solusi untuk mengatasi masalah tersebut?.
Tujuan pada penelitian ini adalah untuk mendapatkan data tentang faktor-faktor penyebab rendahnya mutu, serta faktor dominan mempengaruhi mutu pendidikan, serta model alternatif solusi yang dapat ditawarkan. Penelitian ini mengunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Subjek penelitian adalah para pelaku pendidikan yaitu: guru, kepala sekolah, pegawai Dinas Pendidikan, serta tokoh-tokoh yang terkait dengan pendidikan di Kota Banda Aceh. Penentuan sampel mengunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Informasi/data penelitian selanjutnya akan di analisis melalui data reduction, data display dan conclusion drawing/verification. Hasil penelitian diperoleh bahwa faktor dominan yang mempengaruhi rendahnya mutu pendidikan mata pelajaran IPS di SMP Kota Banda Aceh adalah faktor internal yaitu indikator motifasi berprestasi (77,78%), dan faktor ekternal yaitu indikator guru (72,22%), dan indikator kurikulum (66,67%). Model yang dapat ditawarkan berupa:
(1) untuk indikator motfasi berprestasi, perbaharui metode, model dan type pembelajaran melalui hal-hal atau media yang disukai siswa, (2) untuk indikator guru, perlu penyegaran melalui workshop, pelatihan dan lain-lain serta kerja sama Dinas Pendidikan dengan Perguruan Tinggi dalam menyiapkan SDM guru, dan (3) untuk indikator kurikulum, perlu diadakan pelatihan pengelolaan database dan pelatihan program komputer yang mendukung penyiapan perangkat pembelajaran
Kata Kunci: Mutu Pendidikan
1 BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Isu tentang mutu pendidikan selalu menjadi bahan perbincangan yang paling hangat terutama ketika menjelang dan sesudah Ujian Nasional yang dilaksanakan diberbagai daerah, termasuk di Aceh. Berbagai pihak menjadi tersangka atas carut marutnya pendidikan nasional Indonesia. Salah satu pihak yang selalu menjadi sorotan atas rendahnya mutu pendidikan adalah guru. Dalam hal ini, seakan-akan gurulah yang menjadi penanggung jawab utama atas mutu pendidikan di negeri tercinta ini. Mohd. Ilyas (mantan kepala Dinas Pendidikan Aceh) pernah memberikan penyataan melalui Harian Serambi Indonesia (Ishak, 2013:115) yang mengatakan bahwa “lemahnya pendidikan di Aceh berpokok pangkal pada lemahnya pengetahuan guru”.
Kita tahu bahwa pelaku pendidikan bukan hanya guru. Namun sayangnya yang sering disalahkan adalah guru. Sebagai contoh, pada saat pengumuman hasil UN tahun 2014, jumlah siswa SMA/MA se-Aceh yang tidak lulus mencapai 785 orang dari 56.982 orang yang ikut UN. Ketidaklulusan ini terbesar jumlahnya se-Indonesia meskipun secara persentase termasuk rendah, yakni 1,38% dari total peserta.
Nazamuddin (wakil ketua Majelis Pendidikan Daerah) juga mengatakan “salah satu faktor penyebab mutu pendidikan di Aceh belum mampu mengimbangi mutu di pulau Jawa dan Bali karena kemampuan gurunya yang masih jauh di bawah rata-rata nasional” (Serambi Indonesia, Kamis 22 Mei 2014).Dari pernyataan ini sangat jelas bahwa guru menjadi pihak utama yang menjadi sorotan atas rendahnya mutu pendidikan di Aceh.
Rahmad Nuthihar (Serambi Indonesia, 24 Mei 2014) mengatakan
“menjadikan guru sebagai “kambing hitam” karena tidak mampu meluluskan siswanya saat UN tidaklah tepat. Seyogyanya sebagai pengamat pendidikan Aceh seharusnya tidaklah serta merta mendeskriditkan guru semata. Ada banyak persoalan
2 lainnya yang menyebabkan siswa tersebut tidak lulus UN. Ujian nasionalpun bukan tolok ukur mutu guru dan ketuntasan saat mengajar di sekolah”.
Terkait dengan masalah siapa yang harus disalahkan ketika mutu pendidikan rendah, Ishak (2013:110) mengatakan:
Ketika argumen itu dibuka menjadi lebih jauh lagi muncullah sederetan masalah pendidikan yang kemudian mendapat pengakuan bersama. Ada yang setuju dengan pendapat bahwa mutu pendidikan kita banyak berpangkal pada peranan guru yang belum maksimal dalam memperbaiki kondisi pendidikan, diantaranya rendahnya mutu guru. Ada juga yang berani menyalahkan politisi wakil rakyat, mereka kurang berpihak pada anggaran pendidikan yang memadai. Lain lagi dengan pendapat yang mengatakan bahwa pemerintah dan manajemen pendidikan kurang mampu mengurus proses pendidikan secara profesional. Bahkan tidak sedikit pula yang menyalahkan pihak masyarakat sendiri yang kurang peduli dan rendahnya partisipasi untuk dunia pendidikan.
Terkait mutu pendidikan, Tabrani Yunis (Serambi Indonesia, senin 20 April 2015) secara tegas mengatakan “banyak faktor penyebabnya bila kita ingin kaji secara lebih mendalam. Pemerintah daerah seharusnya bisa lebih kritis melihat persoalan pendidikan Aceh. Kritis dalam arti terus mengidentifikasi dengan sungguh- sungguh sejumlah masalah yang dihadapi Aceh dalam sektor pendidikan ini. Tentu bukan hanya mengidentifikasikannya, tetapi mampu menganalisis dengan tepat faktor-faktor apa saja yang menyebabkan kualitas pendidikan di Aceh tidak berubah”.
Berdasarkan femomena tersebut, ternyata banyak pihak yang harus bertanggung jawab atas persoalan rendahnya mutu pendidikan baik di tingkat pendidikan atas, menengah, maupun pendidikan dasar. Melempar tanggung jawab atas rendahnya mutu pendidikan kepada pihak tertentu bukanlah keputusan yang bijak. Oleh karena itu menjadi tugas bersama untuk mencari solusi penyelesaianya dengan berbagai pendekatan yang akan dilakukan terutama untuk proses pendidikan pada tingkat menengah menginggat cukup banyak persoalan yang ditimbulkan pada jenjang pendidikan tersebut khusunya pada mata pelajaran IPS. Maka menarik perhatian penulis untuk mengkaji lebih lanjut dalam suatu penelitian disertasi doktor yang berjudul “Faktor-Faktor Penyebab Rendahnya Mutu Pendidikan Mata Pelajaran
3 IPS Di SMP Kota Banda Aceh”. Beberapa permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini yaitu:
1. Apa faktor-faktor yang paling dominan penyebab rendahnya mutu pendidikan Mata Pelajaran IPS Di SMP Kota Banda Aceh?
2. Apa model yang dapat ditawarkan untuk memperbaiki kondisi tersebut dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan khusunya Mata Pelajaran IPS Di SMP Kota Banda Aceh?
1.2 Urgensi Penelitian
Penelitian ini rasanya sangat penting untuk dilakukan dengan harapan untuk masa yang akan datang tidak ada lagi pihak yang disalahkan atas rendahnya mutu pendidikan di Aceh tanpa didukung oleh data yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Oleh karena itu perlu perhatian yang lebih serius dalam pengelolaannya. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan oleh dr. H. Zaini Abdullah (Gubernur Aceh) bahwa pendidikan menjadi salah satu sektor yang sangat diutamakan oleh pemerintah Aceh, guna mencetak generasi terbaik Aceh dimasa yang akan datang (Kiprah Pendidikan, 2017)
Rencana target capaian dari penelitian ini dapat diperhatikan pada tabel 1.1 berikut:
Tabel 1.1
Rencana Target Capaian Tahunan
No Jenis Luaran Indikator Capaian
Kategori Sub
Kategori
Wajib Tambahan TS1 TS+1 TS+2 1 Pulikasi ilmiah di
jurnal
International terindeks
√ √
2 Artikel ilmiah dimuat di proseding
International terindeks
√ √
3 Model/Rekayasa Sosial
√ √
4 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Mutu Pendidikan
Mutu dalam pandangan seseorang terkadang bertentangan dengan mutu dalam pandangan orang lain, sehingga tidak aneh jika ada dua pakar yang tidak memiliki kesimpulan yang sama tentang bagaimana cara menciptakan institusi yang baik.
Menurut Arcaro (Qomar, 2012:42) Mutu adalah “sebuah proses terstruktur untuk memperbaiki keluaran yang dihasilkan. Mutu bukanlah benda magis atau sesuatu yang rumit.Mutu didasarkan akal sehat”.Nugroho (2008: 14) mengatakan “mutu pendidikan berkenaan dengan seberapa mendalam pendidikan memberikan nilai tambah kepada para peserta didik, khususnya guru dan murid”. Amri (2013:290) mengatakan:
Dalam rangka umum mutu mengandung makna derajat (tingkat) keunggulan suatu produk (hasil kerja/upaya) baik berupa barang maupun jasa; baik yang tangible maupun yang intangible.dalam konteks pendidikan pengertian mutu, dalam hal ini mengacu pada proses pendidikan dan hasil pendidikan. Dalam
“proses pendidikan “ yang bermutu terlibat berbagai input, seperti; bahan ajar (kognitif, afektif, atau psikomotorik), metodologi (bervariasi sesuai kemampuan guru), sarana sekolah, dukungan administrasi dan sarana prasarana dan sumber daya lainnya serta penciptaan suasana yang kondusif.
Manajemen sekolah, dukungan kelas berfungsi mensinkronkan berbagai input tersebut atau mensinergikan semua komponen dalam interaksi (proses) belajar mengajar baik antara guru, siswa dan sarana pendukung di kelas maupun di luar kelas; baik konteks kurikuler maupun ekstra-kurikuler, baik dalm lingkup subtansi yang akademis maupun yang non-akademis dalam suasana yang mendukung proses pembelajaran. Mutu dalam konteks “hasil pendidikan”
mengacu pada prestasi yang dicapai oleh sekolah pada setiap kurun waktu tertentu (apakah tiap akhir cawu, akhir tahun, 2 tahun atau 5 tahun, bahkan 10 tahun). Prestasi yang dicapai atau hasil pendidikan (student achievent) dapat berupa hasil test kemampuan akademis (misalnya ulangan umum, Ebta atau Ebtanas). Dapat pula prestasi di bidang lain seperti prestasi disuatu cabang olah raga, seni atau keterampilan tambahan dapat berupa kondisi yang tidak dapat dipegang (intangible) seperti suasana disiplin, keakraban, saling menghormati, kebersihan, dan sebagainya.
5 M.Nurdin (2005:79-80) Pengertian mutu dalam pendidikan dapat dilihat dari beberapa indikator yang menjadi tolak ukur pendidikan yaitu:
1. Hasil akhir pendidikan. Hasil akhir pendidikan merupakan tujuan akhir pendidikan. Dari hasil tersebut diharapkan para lulusannya dapat memenuhi tuntutan masyarakat bila ia bekerja atau melanjutkan studi ke lembaga pendidikan yang lebih tinggi.
2. Hasil langsung pendidikan. Hasil langsung pendidikan itu berupa:(a) pengetahuan, (b) sikap, dan (c) keterampilan. Hasil inilah yang sering digunakan sebagai kriteria keberhasilan pendidikan.
3. Proses pendidikan. Proses pendidikan merupakan interaksi antara raw input, instrument input, dan lingkungan. Untuk mencapai tujuan pendidikanpada proses ini, tidak berbicara mengenai wujud gedung sekolah dan alat-alat pelajaraan, akan tetapi bagaimana mempergunakan gedung dan fasilitas lainnya agar siswa dapat belajar dengan baik.
4. Instrument input. Terdiri dari tujuan pendidikan, kurikulum, fasilitas dan media pendidikan, sistem administrasi pendidikan, guru, sistem penyampaian, evaluasi, serta bimbingan dan penyuluhan.instrumental input tersebut harus dapat berinteraksi dengan raw input (siswa) dalam proses pendidikan.
5. Raw input dan lingkungan, juga memengaruhi kualitas mutu pendidikan.
2.2 Pendidikan IPS
Pendidikan IPS adalah penyederhanaan atau adaptasi dari disiplin ilmu-ilmu sosial dan humaniora, serta kegiatan dasar manusia yang diorganisasikan dan disajikan secara ilmiah dan pedagogis/psikologis untuk tujuan pendidikan.
Pendidikan IPS adalah seleksi dari disiplin ilmu-ilmu sosial dan humaniora, serta kegiatan dasar manusia yang diorganisasikan dan disajikan secara ilmiah dan psikologis untuk tujuan pendidikan (Soemantri, 2001:92).
6 Pengertian pendidikan IPS yang pertama berlaku untuk pendidikan dasar dan menengah sedangkan yang kedua berlaku untuk perguruan tinggi. Perbedaan dari kedua definisi ini terletak pada istilah “penyederhanaan” untuk pendidikan dasar dan menengah sedangkan untuk pendidikan tinggi adalah istilah “seleksi”. Sapriya (2009:13) mengatakan bahwa:
PIPS memiliki kekhasan dibandingkan dengan mata pelajaran lain sebagai pendidikan disiplin ilmu, yakni kajian yang bersifat terpadu (integrated), interdisipliner, multidimensional bahkan cross-disipliner. Karakteristik ini terlihat dari perkembangan PIPS di sekolah yang cakupan materinya semakin meluas seiring dengan semakin kompleks dan rumitnya permasalahan sosial yang memerlukan kajian secara teritegrasi dari berbagai disiplin ilmu-ilmu sosial, ilmu pengetahuan alam, teknologi, humaniora, lingkungan bahkan sistem kepercayaan.
2.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Mutu Pendidikan
Para ahli mencoba mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan kemerosotan mutu pendidikan, agar dapat menemukan solusi tepat.Tilaar (2006:5) menyebutkan karena kesempatan yang tidak merata dalam memperoleh pendidikan yang baik dari anak-anak bangsa ini.Syafaruddin (2008:30) menyebutkan rendahnya rancangan kurikulum, pemeliharaan bangunan yang tidak sesuai, lingkungan kerja yang tidak kondusif, sistem dan prosedur yang tidak mencukupi. Sementara itu, menurut Depdikbud (1989) sebagimana dikutip Mulyasa (2002:179-180) terdapat tiga faktor pengaruh:
1. Kebijakan dan penyelenggaraan pendidikan nasional mengunakan education production function atau input output analysis yang tidak dilaksanakan secara konsekuen.
2. Penyelenggaraan pendidikan nasional dilakukan secara birokratik- sentralistik, sehingga menempatkan sekolah sebagai penyelenggara pendidikan sangat tergantung pada keputusan birokrasi yang jalurnya sangat panjang dan terkadang kebijakan yang dikeluarkan tidak sesuai dengan kondisi sekolah setempat.
7 3. Peran serta masyarakat, khususnya orang tua siswa dalam
penyelenggaraan pendidikan selama ini sangat minim.
Drost (2005:ix) mengatakan “terkait dengan mutu pendidikan adalah masalah mengenai kurikulum, proses pembelajaran, evaluasi, buku ajar, mutu guru, sarana dan sarana pendidikan”.Yamin dan Maisarah (2012:36-43) mengatakan “faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pendidikan adalah: faktor anak didik, faktor pendidik, faktor tujuan pendidikan, faktor sumber belajar, dan faktor lingkungan pendidikan.
Nugroho (2008:42) mengatakan “salah satu isu pokok dalam pendidikan adalah kualitas pendidikan. Terdapat lima isu strategis berkenaan dengan mutu pendidikan, yaitu kualitas kurikulum, lulusan, guru, infrastruktur pendukung, dan buku pelajaran”. Hadis dan Nurhayati (2012: 3-4) mengatakan :
Dalam perspektif makro banyak faktor yang mempengaruhi mutu pendidikan, diantaranya faktor kurikulum, kebijakan pendidikan, fasilitas pendidikan, aplikasi teknologi informasi dan komunikasi dalam dunia pendidikan khususnya dalam proses belajar mengajar di kelas, dilaboratorium, dan di kancah belajar lainnya melalui fasilitas internet, aplikasi metode, strategi, metode evaluasi pendidikan yang tepat, biaya pendidikan yang memadai, manajemen pendidikan yang dilaksanakan secara profesional, sumber daya manusia para pelaku pendidikan yang terlatih, berpengetahuan, berpengalaman, dan profesional.Dalam perspektif mikro atau tinjuan secara sempit dan khusus, faktor dominan yang berpengaruh dan berkontribusi besar terhadap mutu pendidikan ialah guru yang profesional dan guru yang sejahtera.
Pada tingkatan yang lebih sederhana, yaitu pada proses belajar dan pembelajaran yang merupakan bagian dari proses pendidikan, faktor-faktor yang mempengaruhi belajar dan pembelajaran dapat dilihat pada gambar 2.1 berikut.
8 Gambar 2.1.Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Belajar dan Pembelajaran.
Adabtasi Dari Suryobroto (Ratumanan, 2004: 10).
Media Bahan Sarana/prasarana
Guru Kurikulum Evaluasi, dst
Fisik Sosial Budaya, dst
Pada gambar di atas terlihat bahwa terdapat 3 (tiga) faktor utama yang saling berinteraksi dan mempengaruhi terjadinya kegiatan belajar dan pembelajaran yang pada akhirnya menentukan hasil belajar siswa, yakni: masukan mentah, masukan instrumental, dan masukan lingkungan.
Masukan Mentah
Masukan Instrumen
Kegiatan Belajar dan Pembelajaran
Hasil Belajar
Masukan Lingkungan
9 Pendapat tersebut identik dengan yang dikemukakan oleh M. Nurdin (2005:
73) yang mengatakan beberapa indikator yang menjadi tolok ukur mutu pendidikan adalah:
1. Hasil akhir pendidikan. Hasil akhir merupakan tujuan akhir pendidikan.
Dari hasil tersebut diharapakan para lulusannya dapat memenuhi tuntutan masyarakat bila ia bekerja atau melanjutkan studi ke lembaga pendidikan yang lebih tinggi.
2. Hasil langsung Pendidikan. Hasil langsung ini berupa: (a) pengetahuan, (b) sikap, (c) keterampilan. Hasil inilah yang sering digunakan sebagai kriteria keberhasilan pendidikan.
3. Proses Pendidikan. Proses pendidikan merupakan interaksi antara raw input, instrument input, dan lingkungan, untuk mencapai tujuan pendidikan. Pada proses ini, tidak berbicara mengenai wujud gedung sekolah dan alat-alat pelajaran, akan tetapi bagaimana mempergunakan gedung dan fasilitas lainnya agar siswa dapat belajar dengan baik.
4. Instrumental input. Terdiri dari tujuan pendidikan, kurikulum, fasilitas dan media pendidikan, sistem administrasi pendidikan, guru, sistem penyampaian, evaluasi, serta bimbingan dan penyuluhan. Instrumental input harus dapat berinteraksi dengan raw input (siswa) dalam proses pendidikan.
5. Raw input dan lingkungan, juga memengaruhi kualitas mutu pendidikan.
Terkait dengan masalah siapa yang harus disalahkan ketika mutu pendidikan rendah, Ishak (2013:110) mengatakan:
Ketika argumen itu dibuka menjadi lebih jauh lagi muncullah sederetan masalah pendidikan yang kemudian mendapat pengakuan bersama. Ada yang setuju dengan pendapat bahwa mutu pendidikan kita banyak berpangkal pada peranan guru yang belum maksimal dalam memperbaiki kondisi pendidikan, diantaranya rendahnya mutu guru. Ada juga yang berani menyalahkan politisi wakil rakyat, mereka kurang berpihak pada anggaran pendidikan yang memadai. Lain lagi dengan pendapat yang mengatakan bahwa pemerintah dan manajemen pendidikan kurang mampu mengurus proses pendidikan secara
10 profesional. Bahkan tidak sedikit pula yang menyalahkan pihak masyarakat sendiri yang kurang peduli dan rendahnya partisipasi untuk dunia pendidikan.
2.4 Upaya Peningkatan Mutu
Kebijakan-kebijakan yang telah ditempuh pemerintah dalam menutup kesenjangan antara cita-cita dan realita pendidikan di Indonesia meliputi mengejar mutu pendidikan, menerapkan desentralisasi pendidikan, menerapkan manajemen berbasis sekolah, memperbaiki kurikulum, memperbaiki sistem pembelajaran, dan meningkatkan kesejahteraan pendidik (Qomar, 2012:41-83).
2.5 Meningkatkan Mutu Pendidikan Dari Perspektif PIPS.
Konsep pendidikan PIPS memusatkan perhatian pada persoalan kemasyarakatan dan kebangsaan dalam upaya menjaga integrasi bangsa. kurikulum PIPS yang disajikan harus mampu memberikan kesadaran untuk mau belajar dan juga melalui proses pembelajaran tersebut diperoleh suatu skill untuk bekerja dan mengembangkannya untuk masa mendatang. Lebih dari itu harus mampu memberikan kesadaran kepada peserta didik untuk menjadi warga negara yang baik sehingga upaya peningkatan mutu pendidikan dapat dilakukan. Hal ini selaras dengan sistem pendidikan dunia era globalisasi abad XXI, yaitu dalam rangka mencerdasakan umat manusia dan memelihara persaudaraan. Pemikiran ini telah disadari oleh UNESCO yang merekomendasikan “empat pilar pembelajaran” untuk memasuki era globalisasi, yaitu program pembelajaran yang diberikan hendaknya mampu memberikan kesadaran kepada masyarakat sehingga mau dan mampu belajar (learning know or learning to learn). Bahan belajar yang dipilih hendaknya mampu memberikan suatu pekerjaan alternatif kepada para peserta didiknya (learning to do), dan mampu memberikan motivasi untuk hidup dalam era sekarang dan memiliki orientasi hidup ke masa depan (learning to be). Pembelajaran tidak cukup hanya diberikan dalam bentuk ketrampilan untuk dirinya sendiri, tetapi juga keterampilan untuk hidup bertetangga, bermasyarakat, berbangsa dan hidup dalam pergaulan antar
11 bangsa-bangsa dengan semangat kesamaan dan kesejajaran (learning to live together) (Delors dalam Anwar, 2004:5).
Rudito dan Famiola (2008: 57) mengatakan bahwa bentuk-bentuk modal sosial (social capital) pada dasarnya terbentuk dari dua jenis solidaritas sebagai upaya individu-individu untuk berkelompok, yaitu solidaritas mekanik dan solidaritas organik. Lebih lanjut mareka juga mengemukakan ”kemampuan dari pranata sosial mengatur individunya sering disebut juga sebagai modal sosial, individu-individu yang ada dalam pranata sosial tersebut berbagi (sharing) nilai dan norma dan menjadikannya sebagai pedoman dalam hubungan satu dengan lainnya, sehingga masing-masing anggota komuniti tersebut yang terikat dengan pranata sosial yang bersangkutan akan merasa percaya atau membangun kepercayaan (trust).
Pendapat lainnya dikemukakan oleh Maryani (2006:4) yaitu “kebersamaan, solidaritas, toleransi, semangat kerja sama, kemampuan berempati, merupakan modal sosial yang melekat dalam kehidupan bermasyarakat. Hilangnya modal sosial tersebut dapat dipastikan kesatuan masyarakat, bangsa dan negara akan terancam, atau paling tidak masalah-masalah kolektif akan sulit untuk diselesaikan. Tanpa adanya modal sosial, masyarakat sangat mudah diintervensi bahkan dihancurkan oleh pihak luar”.
Dari beberapa pendapat ini dapat disimpulkan bahwa modal sosial memiliki peran yang cukup penting dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan menginggat persoalan ini merupakan masalah kolektif yang sudah cukup lama belum terselesaikan.
2.6 Peta Jalan (Road Map) Penelitian
Penelitian ini diawali dengan kondisi rendahnya mutu pendidikan secara umum dan mutu pendidikan mata pelajaran IPS secara khusus. Tahap berikutnya akan dilakukan pengumpulan data untuk mengetahui penyebab rendahnya mutu pendidikan mata pelajaran IPS dari para informan. Selanjutnya proses identifikasi untuk mengetahui faktor penyebab rendahnya mutu. Dari hasil identifikasi tersebut dapat diketahui faktor penyebab yang paling dominan baik dari faktor internal
12 maupun faktor eksternal. Tahap akhir akan disusun suatu model pengembangan pendidikan untuk meningkatkan mutu pendidikan mata pelajaran IPS di SMP Kota Banda Aceh. Lebih jelas perhatikan gambar 2.2 berikut.
Gambar 2.2 Peta Jalan Penelitian
Rendahnya Mutu Pendidian Aceh
Data bersumber dari Sekolah
Pengumpulan Data Penyebab Rendahnya Mutu Pendidikan
Data dari Dinas Pendidikan
Identifikasi Faktor yang Mempengaruhi Faktor Internal
Faktor Eksternal
1. Kebijakan Pendidikan 2. Sarana Prasarana 3. Guru 4. dll
Metode/Model Peningkatan Mutu Pendidikan untuk SMA di
Propinsi Aceh Faktor Paling Dominan
Mempengaruhi Mutu Pendidikan
Luaran
1. Kecerdasan 2. Minat 3. Gaya Belajar 4. dll
13 BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Pendekatan dan Metode Penelitian
Penelitian ini mengunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif kualitatif. Menurut Wina Sanjaya (2013:47) metode deskriptif kualitatif adalah:
Metode penelitian yang bertujuan untuk mengambarkan secara utuh dan mendalam tentang realita sosial dan berbagai fenomena yang terjadi di masyarakat yang menjadi subjek penelitian sehingga tergambarkan ciri, karakter, sifat dan model dari fenomena tersebut. Bentuk dari penelitian deskriptif kualitatif ini dapat kita lihat dari format pelaksanaan penelitian dalam bentuk studi kasus. Penelitian deskriptif studi kasus ini berusaha untuk memperoleh gambaran secara lengkap dan detail tentang kejadian dan fenomena tertentu pada suatu objek dan subjek yang memiliki kekhasan.
Dengan demikian pelaksanaan penelitian dengan mengunakan metode studi kasus adalam mengali informasi sebanyak-banyaknya dan sedalam-dalamnya kemudian mendeskripsikannya dalam bentuk naratif sehingga memberikan gambaran secara utuh tentang fenomena yang terjadi.
3.2 Subjek dan Objek Penelitian
Subjek pada penelitian ini adalah pelaku pendidikan yaitu guru dan kepala sekolah, kepala dinas pendidikan, kepala majelis pendidikan daerah, siswa dan orang tua siswa. Sedangkan objek berupa informasi terkait dengan rendahnya mutu pendidikan mata pelajaran IPS di Kota Banda Aceh.
3.3 Teknik Pengumpulan Data
Menurut Hamid Darmadi (2013:302), terdapat empat media untuk mengumpulkan data dalam proses penelitian. Keempat media tersebut penggunaannya dapat dipilih satu macam, atau gabungan antara dua media tersebut, tergantung macam data yang diharpkan oleh peneliti. Keempat media pengumpulan data tersebut adalah kuesioner, observasi, wawancara, dan dokumentasi. Untuk
14 kebutuhan penelitian ini, peneliti hanya mengunakan media observasi, wawancara, dan dokumentasi.
3.4 Informan Penelitian dan Teknik Penentuan Informan Penelitian
Informan pada penelitian ini adalah guru dan kepala sekolah, kepala dinas pendidikan, kepala majelis pendidikan daerah, siswa dan orang tua siswa. Teknik penentuan informan penelitian mengunakan sampling pertimbangan (purposive sampling). Menurut Hamid Darmadi (2013:57) sampling pertimbangan “terjadi apabila pengambilan sampel dilakukan berdasarkan pertimbangan perorangan atau pertimbangan peneliti”.
3.5 Keabsahan Data dan Metode Analisis Data
Beberapa cara menentukan keabsahan data menurut Hamid Darmadi (2013:293-294) yaitu “(1) kredibilitas, (2) transferabilitas, (3) dependabilitas, dan (4) konfirmabilitas. Untuk menganalisis data penelitian ini, ditempuh prosedur yang disarankan Nasution (1992:129) yakni: “(1) reduksi data, (2) display data, (3) Pengambilan kesimpulan dan verifikasi”.
3.6. Rencana Kegiatan Penelitian
Penelitian ini adalah bagian dari penelitian untuk disertasi yang berjudul
“Analisis Mutu Pendidikan Aceh” dalam rangka penyelesaian program doktor pada prodi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Universitas Syiah Kuala. Bagian dari disertasi ini dilakukan melalui Penelitian Disertasi Doktor (PDD) Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) dengan judul “Faktor-Faktor Penyebab rendahnya Mutu Pendidikan Mata Pelajaran IPS di SMP Kota Banda Aceh”. Proses penelitian yang akan dijalaksanakan secara lebih singkat, perhatikan gambar 3.1 berikut.
15 Gambar 3.1
Rencana Kegiatan
Analisis Mutu Pendidikan Aceh
Mutu Pendidikan di Tingkat SMA
Faktor-Faktor Penyebab rendahnya Mutu Pendidikan
Pelajaran IPS Di Kota Banda Aceh
Mutu Pendidikan di Tingkat SMP
Pengumpulan data dari informan
Judul Penelitian Program Doktor
Identifikasi faktor penyebab rendahnya mutu pendidikan IPS yang paling dominan di
Kota Banda Aceh
Judul Penelitian Skim PDD
Guru, kepala sekolah, kepala dinas pendidikan, kepala majelis pendidikan daerah, orang tua siswa dan siswa sebagai informan
Merumuskan suatu model yang Dapat meningkatkan Mutu Pendidikan Untuk Mata pelajaran IPS Di Kota Banda Aceh
16 BAB IV
BIAYA DAN JADWAL PENELITIAN
4.1 Biaya Penelitian
Penelitian Disertasi Doktor yang telah dilaksanakan secara keseluruhan menghabiskan biaya sebesar Rp.50.000.000 (lima puluh juta rupiah). Adapun rincian biaya berdasarkan beberapa aspek kebutuhan dan jenis pengeluaran secara lebih jelas disajikan pada tabel berikut.
Tabel. 4.1 Anggaran Biaya 1. Honorium
Honor Honor/Jam Waktu
Minggu Total (Rp) (Rp) (Jam/Minggu)
Tenaga Lapangan 1 25.000 8 20 4.000.000
Tenaga Lapangan 2 25.000 8 20 4.000.000
Tenaga Administrasi 25.000 8 28 5.600.000
Sub Total (Rp) 13.600.000
2. Bahan Habis Pakai dan Peralatan
Material
Justifikasi
Kuantitas
Harga
Total (Rp)
Pemakaian Satuan (RP)
Kertas A4 80 gram adm dan pelaporan 5 Rem 45.000 135.000
Kertas F4 80 gram adm dan pelaporan 2 Rem 48.000 96.000
Amplop ukuran 24 x 40 cm administrasi 1 kotak 40.000 40.000 Ballpoint Tizo TG397-C administrasi 1 lusin 75.000 75.000
Spidol Whiteboard administrasi 1 kotak 83.000 83.000
CD RW Verbatim administrasi 5 keping 5.000 25.000
Materai 6000 administrasi 20 lembar 6.000 120.000
Materai 3000 administrasi 15 lembar 3.000 45.000
Lem Kertas Merk Fox ukuran 1 kg administrasi 1 tube 25.000 25.000 Lem Putih Uhu merk UHU administrasi 1 tube 12.000 12.000 Map penyimpan dokumen Merk administrasi 3 buah 17.000 51.000
17 Biola
Stabillo Boss Supler Plus administrasi 2 set 65.000 130.000
Tissue gulung administrasi 4 gulung 5.000 20.000
Tissue kotak administrasi 10 kotak 13.000 130.000
Catrige hitam HP 704 adm dan pelaporan 8 buah 125.000 960.000 Catrige warna Hp 704 adm dan pelaporan 5 buah 125.000 625.000 Flasdisk Merk Transender 18 G administrasi 3 buah 200.000 600.000 Paket Internet Adm dan pelaporan 21 paket 65.000 1.365.000 Paket Telepon Adm dan pelaporan 21 paket 50.000 1.050.000
Sub Total (Rp) 5.587.000
3. Perjalanan
Material Justifikasi Kuantitas Harga
Total (Rp)
Pemakaian Satuan (Rp)
Transportasi Ketua Pengumpulan dan
Pengolahan Data 40 hari 50.000 2.000.000
Transportasi Tenaga Lapangan 1 Pengumpulan Data 30 hari 20.000 600.000
Transportasi Tenaga Lapangan 2 Pengumpulan Data 30 hari 20.000 600.000
Transportasi Tenaga Administrasi Penyimpanan Data 36 hari 20.000 720.000 Sewa mobil selama kegiatan
Survey awal, penelitian, triangulasi
data dll 35 hari 400.000 14.000.000
Sub Total (Rp) 17.920.000
4. Lain-lain
Kegiatan Justifikasi Kuantitas Harga
Total (Rp) Satuan
Sewa Penginapan Pengolahan data dan FGD
2 malam x 6
kamar 400.000 4.800.000
Makan Penelitian dan
penyusunan laporan 112 30.000 3.360.000
Snack Penelitian dan
penyusunan laporan 224 kotak 10.000 2.240.000
Penyusunan laporan Administrasi 1 paket 1.093.000 1.093.000
Cetak laporan Administrasi 1 paket 150.000 150.000
Perbaikan Laporan Pelaporan 1 paket 750.000 750.000
Publikasi 1 artikel 500.000 500.000
Sub Total (Rp) 12.893.000
Jumlah (Total Keseluruhan) 50.000.000
18 4.2 Jadwal Penelitian
Penelitian yang telah dilakukan pada SMP Kota Banda Aceh Propinsi Aceh telah terlaksana sesuai dengan jadwal pada tabel 4.2 berikut.
Tabel 4.2
Jadwal Pelaksanaan Penelitian
No Kegiatan Bulan Ke
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
1 Persiapan/penjajakan penelitian √ √ √
2 Pengumpulan data √ √ √ √ √ √ √
3 Triangulasi data √ √ √ √ √
4 Pengelohan dan analisa data √ √ √ √ √
5 Penyusunan laporan penelitian √ √ √
6 Pelaporan √ √
19 BAB V
HASIL PENELITIAN
5.1 Kondisi Lokasi Penelitian
Lokasi pada penelitian ini adalah seluruh Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang ada di kota Banda Aceh. Berikut adalah daftar nama dan alamat dari Sekolah Menengah Pertama di kota Banda Aceh.
Tabel 5.1
Daftar Nama dan Alamat Sekolah Menengah Pertama Di Kota Banda Aceh
No Nama Sekolah Alamat Sekolah
1. SMP Negeri 1 Jl. Prof. A. Majid Ibrahim I Gp. Punge Jurong
2. SMP Negeri 2 Jl. Ayah Gani Gp. Bandar Baru
3. SMP Negeri 3 Jl. Nyak Adam Kamil III Gp. Neusu Jaya 4. SMP Negeri 4 Jl. H. T. Daud Syah No. 24 Gp.
Peunayong
5. SMP Negeri 5 Jl. Iskandar Muda Lambung
6. SMP Negeri 6 Jl. Tgk Lam U No. 1 Gp. Kota Baru 7. SMP Negeri 7 Jl. Kr. Tripa Gp. Geuceu Komplek 8. SMP Negeri 8 Jl. Hamzah Fansuri No. 1 Gp. Kopelma
Darussalam
9. SMP Negeri 9 Jl. H. T. Daud Syah No. 26 Gp.
Peunayong
10. SMP Negeri 10 Jl. Poteumeureuhom Gp. Lamteh
11. SMP Negeri 11 Jl. Tengku Chik Cot Aron Gp. Lamjabat 12. SMP Negeri 12 Jl. Pawang Itam No. 2 Gp. Jawa
13. SMP Negeri 13 Jl. Ir. M. Taher Gp. Cot Mesjid 14. SMP Negeri 14 Kompleks Cinta Kasih Gp. Panteriek 15. SMP Negeri 15 Jl. Utama No. 28 Gp. Lamjamee
16. SMP Negeri 16 Jl. Taman Makam Pahlawan Gp. Peuniti 17. SMP Negeri 17 Jl. Sultan Iskandar Muda Gp. Suka
Ramai
18. SMP Negeri 18 Jl. Tgk. Chik Dipineung Gp. Kuta Alam 19. SMP Negeri 19 Jl. Sultan Malikulsaleh Lamlagang
20 20. SMP Budi Dharma Jl. Sultan Iskandar Muda No.31 Gp. Suka
Ramai
21. SMP Cut Mutia Jl. Tgk. Chik Ditiro Gp. Ateuk Pahlawan 22. SMP Fatih Bilingual School Jl. Sultan Malikulsaleh Gp. Lamlagang 23. SMP Ibnu Khaldun Jl. Tgk. H. Muhammad Hasan No. 38 Gp.
Lueng Bata
24. SMP Inshafuddin Jl. Mujair I No. IA 25. SMP Islam YPUI Jl. Syiah Kuala No. 5 26. SMP Kartika XIV-1 Jl. Nyak Adam Kamil IV 27. SMP Kemala Bhayangkari Jl. Cut Nyak Dhien 28. SMP Methodist Jl. Pocut Baren No.3
29. SMP Muhammadiyah Jl. Prof. A. Majid Ibrahim No.131 30. SMP. T. Nyak Arief-
Bilingual School
Jl. T. Nyak Arief No. 1 Rukoh Labui
Sumber Data: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Banda Aceh 2018
5.2 Pembahasan
5.2.1 Faktor-faktor yang Paling Dominan Penyebab Rendahnya Mutu Pendidikan Mata Pelajaran IPS Di SMP Kota Banda Aceh.
Berdasarkan hasil pengolahan data, maka berikut ini akan disajikan hasil penelitian sesuai dengan rumusan masalah yang telah ditentukan dimuka. Adapun yang menjadi masalah pertama pada penelitian ini adalah faktor-faktor yang paling dominan penyebab rendahnya mutu pendidikan Mata Pelajaran IPS Di SMP Kota Banda Aceh. Untuk lebih jelas dapat diperhatikan pada tabel berikut:
21 Tabel 5.2
Hasil Rekapitulasi Faktor-Faktor Penyebab Rendahnya Mutu Pendidikan Mata Pelajaran IPS Di SMP Kota Banda Aceh
FAKTOR
INDIKATOR INFORMAN
JUMLAH % PERINGKAT
MUTU 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18
Internal Kecerdasan √ √ √ √
√ √ √ √
8 44,44 3
Motivasi Berprestasi √ √ √
√ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
14 77,78 1
Minat √
√ √
√ √
√ √ √ √ √ √
11 61,11 2
Kebiasaan Belajar √
√
√ √
√ √ √ √
8 44,44 3
Gaya belajar √
√
√ √ √ √
6 33,33 4
Keadaan Emosi √
√
√ √
4 22,22 5
Faktor Fisik Anak √ √ √ 3 16,67
6
Faktor Kurukulum √
√ √
√
√ √ √ √ √ √ √ √
12 66,67 2
Ekternal Kebijakan Pemerintah √
√
√
3 16,67 7
Sarana dan Prasaranan √ √
√
√
4 22,22 6
Lingkungan Kerja √
√
2 11,11 8
Lingkungan Pendidikan √
√
√
√
4 22,22 6
Sistem dan Prosedur √
1 5,55 9
Buku Ajar √
√ √
√
4 22,22 4
Guru √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 13 72,22 1
Evaluasi √
√
√
√ √
5 27,78 5
Tujuan Pendidikan √
√
2 11,11 8
Faktor Sosial Ekonomi √ √ √ √ √ √ √ √ 8 44,44 3
Faktor Situasional √
√
2 11,11 8
Faktor Sosial di Sekolah √
√
2 11,11 8
Budaya √ √ √ 3 16,67 7
22
Kesempatan yang tidak merata 0 0
Kebijakan Penyelenggaran Pendidikan √ 1 5,55 9
Peran serta Masyarakat/orang tua √ √ √ √ √ √ 6 33,33 4
Aplikasi teknologi informasi &
komunikasi
√
√
1 5,55 9
Biaya Pendidikan 0 0
SDM Pelaku pendidikan √
√
√
3 16,67 7
23 Bersadarkan hasil pengolahan data yang disajikan pada tabel 5.1 di muka, hasil analisis membuktikan bahwa penyebab utama rendahnya mutu pendidikan di SMP Kota Banda Aceh untuk faktor internal adalah indikator motifasi berprestasi (77,78%), kecerdasan (61.11%), serta minat dan kebiasaan belajar (44,44%).
Sedangkan untuk faktor eksternal, penyebab utama rendanya mutu pendidikan adalah indikator guru (72,22%), kurikulum (66,67%), dan faktor sosial ekonomi (44,44%).
Dari hasil penelitian tersebut dapat kita ketahui bahwa persentase penyebab rendahnya mutu pendidikan yang pertama adalah indikator motifasi berprestasi.
Informasi lebih lanjut yang peneliti peroleh bahwa kondisi siswa saat ini lebih banyak terpengaruh oleh kehadiran media sosial yang dapat diakses melalui handphone dan fasilitas-fasilitas permainan (game). Faktor penyebab rendahnya mutu pendidikan yang kedua adalah indikator guru. Hasil wawancara dengan responden menemukan bahwa guru yang mengajar mata pelajaran IPS Terpadu di SMP tidak berlatar belakang pendidikaan IPS. Mereka hanya sebagai guru yang berlatar belakang salah satu disiplin IPS yaitu ekonomi, sejarah, geografi dan sosiologi. Jadi belum terdapat guru yang mengajar IPS Terpadu sebagai salah satu mapel di SMP, yang benar-benar berlatar belakang pendidikan dari prodi/jurusan IPS. Kondisi inilah yang membuat guru mengalami hambatan dalam penyajian materi kepada siswa karena bidang kajiannya yang telah dipelajari dari jenjang pendidikan sarjana belum menyeluruh.
Jadi kondisi saat ini, guru yang mengajar mapel IPS hanya berlatar belakang salah satu disiplin IPS yaitu ekonomi, sejarah, geografi, atau sosiologi.
Faktor penyebab rendahnya mutu pendidikan yang ketiga adalah kurikulum.
Hasil wawancara dengan responden menemukan bahwa intensitas perubahan kurikulum yang tinggi mengakibatkan para guru disibukkan oleh urusan administrasi berupa pembaharuan perangkat pembelajaran. Pemanfaatan waktu bagi mereka lebih banyak dihabiskan untuk menyiapkan perangkat pembelajaran dari pada belajar untuk menyiapkan materi ajar.
24 5.2.2 Model Untuk Peningkatan Mutu Pendidikan Mata Pelajaran IPS Di SMP
Kota Banda Aceh.
Sehubungan dengan rumusan masalah kedua, terkait dengan model yang dapat ditawarkan untuk memperbaiki kondisi tersebut dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan khusunya Mata Pelajaran IPS Di SMP Kota Banda Aceh, maka berdasarkan hasil penelitian, peneliti merumuskan suatu model dalam upaya peningkatan mutu. Dari hasil penelitian telah ditemukan bahwa ternyata penyebab rendahnya mutu pendidikan tidak semata-mata disebabkan oleh indikator guru sebagai mana yang sering dimunculkan dari hasil pemberitaan pada mediacetak dan elektronik. Pada hasil penelitian ini terbukti bahwa terdapat indikator motifasi berprestasi yang merupakan faktor internal. Oleh karena itu, berikut ini disajikan suatu model dalam upaya perbaikan mutu pendidikan mapel IPS di SMP Kota Banda Aceh. Untuk lebih jelas, perhatikan gambar berikut:
25 Gambar 4.1
Model Peningkatan Mutu Pendidikan Mapel IPS di SMP Kota Banda Aceh
Dari gambar 4.1 di atas dapat dijelaskan bahwa terdapat tiga indikator utama (dominan) penyebab rendahnya mutu pendidikan mata pelajaran IPS di SMP Kota Banda Aceh yaitu motifasi belajar siswa, guru, dan kurikulum. Model yang dapat ditawarkan untuk menjawab permasalan pertama adalah melalui perbaharuan metode, model dan type pembelajaran melalui pemanfaatan hal-hal atau media yang disukai siswa. Media sosial difungsikan secara positif dalam proses pembelajaran. Jadi
Motifasi Belajar/berprestasi
rendah
Tingkat Penguasaan Materi Menjadi
Rendah
Perubahan Kurikulum
Perbaharui metode, model dan type pembelajaran melalui hal-hal atau media yang disukai siswa.
1. Penyegaran melalui workshop, pelatihan dll.
2. Kerja sama Dinas Pendidikan dengan Perguruan Tinggi dalam menyiapkan SDMguru.
Siswa terpengaruh kehadiran media sosial
Latar belakang pendidikan guru bukan jurusan/prodiI Pendidikan IPS
Alokasi waktu guru tercurahkan untuk penyesuaian perangkat pembelajaran karena database yang kurang baik dan penguasaan teknologi yang terbatas
1. Pelatihan pengelolaan database
2. Pelatihan program komputer yangmendukung penyiapan perangkat pembelajaran
P E N I N G K A T A N
M U T U
P E N D I D I K A N
26 jangan menghindari media sosial. Tugas guru mengarahkan pemanfaatan media sosial tersebut untuk hal-hal yang lebih konstruktif.
Permasalahan kedua menyangkut indikator guru akibat luasnya cakupan materi IPS Terpadu, maka untuk menjawab permasalahan saat ini harus dilakukan penyegaran guru melalui pendalaman materi, workshop, pelatihan dan lainnya dengan memperhatikan kebutuhan guru menurut disiplin ilmu. Dalam hal ini harus memperhatikan latar belakang disiplin ilmu dari guru yang bersangkutan. Sebagai contoh, materi ekonomi diberikan kepada guru yang berlatar belakang disiplin sejarah dan geografi dan sebaliknya. Hal ini untuk menghindari rasa bosan bagi peserta kegiatan. Cara lainnya adalah dengan menyiapkan materi sesuai kebutuhan peserta, bukan disiapkan oleh panitia pelaksana kegiatan. Hal ini akan lebih bermakna dan tepat sasaran.
Untuk menjawab permasalahan dimasa yang akan datang, maka Dinas pendidikan harus bekerja sama dengan Perguruan Tinggi dalam menyiapkan tenaga pengajar (guru) untuk kebutuhan dunia pendidikan. Perguruan tinggi harus mewadahi kebutuhan dunia kerja guru. Sebagai contoh, sampai saat ini guru yang berlatar belakang pendidikan sarjana pendidikan IPS di Aceh sangat langka karena belum terdapat perguruan tinggi terutama di daerah yang membuka jurusan atau program studi dimaksud,
Permasalah ketiga menyangkut indikator kurikulum. Guru merasa terbebani apabila intensitas perubahan kurikulum tinggi. Dampak dari perubahan kurikulum adalah harus dilakukanya penyesuaian perangkat pembelajaran serta berbagai komponen terkait. Hasil penelitian menemukan bahwa umumnya guru tidak memiliki database yang baik. Selain itu tingkat penguasaan teknologi termasuk program- program komputer yang masih tergolong rendah. Inilah yang membuat guru merasa terbebani ketika perlu penyesuaian perangkat pembelajaran. Perubahan kurikulum tak mungkin dapat dihindari demi penyempurnaan pendidikan. Maka guru harus dibekali dengan sistem pengelolaan database yang baik dan tingkat penguasaan teknologi terutama komputer yang lebih mendukung. Dana sertifikasi idealnya tidak semuanya
27 untuk konsumsi, namun harus ada bagian untuk pengembangan diri termasuk pengadaan laptop untuk pribadi.
28 BAB VI
PENUTUP
6.1 Kesimpulan
Berdasarkan rumusan masalah, maka kesimpulan dari penelitian ini adalah:
1. Faktor dominan yang mempengaruhi rendahnya mutu pendidikan mata pelajaran IPS di SMP Kota Banda Aceh adalah faktor internal yaitu indikator motifasi berprestasi (77,78%), dan faktor ekternal yaitu indikator guru (72,22%), dan indikator kurikulum (66,67%).
2. Model yang dapat ditawarkan berupa:
- Untuk indikator motfasi berprestasi, perbaharui metode, model dan type pembelajaran melalui hal-hal atau media yang disukai siswa.
- Untuk indikator guru, perlu penyegaran melalui workshop, pelatihan dan lain-lain serta kerja sama Dinas Pendidikan dengan Perguruan Tinggi dalam menyiapkan SDM guru.
- Untuk indikator kurikulum, perlu diadakan pelatihan pengelolaan database dan pelatihan program komputer yang mendukung penyiapan perangkat pembelajaran
6.2 Saran
Pendidikan menjadi tanggung tanggung jawab semua elemen yang terlibat di dalamnya. Jangan pernah menyalahkan pihak-pihak tertentu akibat rendahnya mutu pendidikan sebelum didasari oleh suatu penelitian. Maka menjadi tugas semua elemen yang terlibat untuk memperbaiki indikator-indikator mutu yang belum maksimal seperti yang terdapat pada penelitian ini.
29 DAFTAR PUSTAKA
Amri, Sofan. 2013. Peningkatan Mutu Pendidikan Sekolah Dasar dan Menengah Dalam Teori, Konsep dan Analisis. Prestasi Pustaka: Jakarta
Darmaningtyas. 2005. Pendidikan Rusak-Rusakan. LKiS: Yogyakarta
Drost, J. SJ. 1998. Sekolah Mengajar atau Mendidik. Suwarno et.al (eds). Kanisius:
Yogyakarta.
---, 2005.Dari KBK Sampai MBS.Kompas: Jakarta
Hadist, A dan Nurhayati B. 2010.Manajemen Mutu Pendidikan. Alfabeta: Bandung Hamid Darmadi. 2013. Dimensi-Dimensi Metode Penelitian Pendidikan dan Sosial.
Alfabeta. Bandung
Ishak Hasan. 2013. Simfoni Di Balik Jurang: Andai Lee Kuan Yew Kiprah Pendidikan, Edisi 3 Tahun 2017
Mulyasa, E. 2002.Kurikulum Berbasis Kompetensi Konsep, Karakteristik dan Implementasi. PT. Remaja Rosda Karya: Bandung.
---, 2002.Manajemen Berbasis Sekolah: Konsep, Strategi, dan Implementasi. PT.
Remaja Rosda Karya: Bandung.
M. Nurdin. 2005. Pendidikan yang Menyebalkan. Penerbit Ar-Ruzz: Yogyakarta Nugroho, Rian. 2008. Pendidikan Indonesia: Harapan, Visi, dan Strategi.Pustaka
Pelajar: Yogyakarta.
Sapriya. 2009. Pendidikan IPS: Konsep dan Pembelajaran. PT. Remaja Rosdakarya:
Bandung
Qomar, Mujami. 2012. Kesadaran Pendidikan Sebuah Penentu Keberhasilan Pendidikan. Ar-Ruzz Media: Yogyakarta.
Ratumanan, Tanwey Gerson. Belajar dan Pembelajaran. Unesa University Press:
Ambon
Serambi Indonesia, Kamis 22 Mei 2014 ---, Sabtu 24 Mei 2014
30 Soemantri, Nu’man (2001) Menggagas Pembaharuan Pendidikan IPSI. PT. Remaja
Rosdakarya: Bandung
Syafaruddin.2008. Efektifitas Kebijakan Pendidikan Konsep Strategis dan Aplikatif Kebijakan Menuju Organisasi Sekolah Efektif. Rineka Cipta: Jakarta.
Tilaar, H.A.R. 2000.Paradigma Baru Pendidikan Nasional. PT Rineka Cipta: Jakarta.
---. 2005. Analisis Kebijakan Pendidika Era Otonomi Daerah. PT. Raja Grafindo Persada: Jakarta.
---. 2006. Standarisasi Pendidikan Nasional Suatu Tinjauan Kritis. PT Rineka Cipta: Jakarta.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Wina Sanjaya. 2013. Penelitian Pendidikan: Jenis, Metode dan Prosedur. Kencana Prenada Media Group. Jakarta
Yamin, Martinis dan Maisah. 2012. Orientasi baru Ilmu Pendidikan. Referensi:
Jakarta