• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penerapan Akad Musyarakah dalam Perbanka

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Penerapan Akad Musyarakah dalam Perbanka"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

TINJAUAN YURIDIS TERHADAP AKAD MUSYARAKAH DAN IMPLEMENTASINYA DALAM PERBANKAN

SYARIAH DI INDONESIA

Makalah ini Disusun Guna Memenuhi Tugas dalam Menempuh Mata Kuliah Hukum Ekonomi Islam kelas D

Oleh:

Nanda Dwi Haryanto E0014288

FAKULTAS HUKUM

(2)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syari’ah menyebutkan bahwa fungsi utama dari Perbankan Syariah adalah menghimpun dan menyalurkan dana pada masyarakat. bentuk penghimpunan dana itu berupa simpanan dan investasi, dan bentuk penyaluran dana berupa pembiayaan berdaarkan prinsip syariah. Bentuk pembiayaan pada Perbankan Syariah dibagi menjadi tiga berdasarkan prinsipnya yaitu jual beli, prinsip sewa, dan prinsip bagi hasil.(Septian Riza Alfarisi, 2013: 1)

Pelaksanaan kegiatan usaha pada Bank Isla di Indonesia tunduk pada ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai perbankan di Indonesia, seperti Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 dan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998. Namun, kegiatan usaha pada Bank Islam ini pun harus sesuai dengan ketentuan syariah. Ketentuan-ketentuan akad dalam Hukum Islam yang telah diuraikan di atas menjadi landasan dalam pelaksanaan kegiatan usaha pada bank Islam.

Pemerintah telah mengeluarkan beberapa peraturan sehubungan dengan kegiatan usaha yang dapat dilakukan oleh Bank Islam, baik Bank Umum Syariah maupun Bank Perkreditan Rakyat Syariah. Bank Umum Syariah dalam menjalankan kegiatan usahanya diatur oleh Bank Indonesia melalui pasal 36 Peraturan Bank Indonesia No. 6/24/PBI/2004. Kegiatan-kegiatan tersebut antara lain sebagai berikut:

1. Penghimpunan dana

a. Giro berdasarkan prinsip wadi’ah

(3)

2. Penyaluran dana a. Prinsip jual beli

1) Murabahah 2) Ishtishna 3) Salam

b. Prinsip bagi hasil 1) Mudharabah 2) Musyarakah c. Prinsip sewa menyewa

1) Ijarah

2) Ijarah munthahiya bittamlik

d. Prinsip pinjam meminjamberdasarkan akad qardh 3. Jasa pelayanan

a. Wakalah b. Haealah c. Kafalah d. Rahn

Perbankan dengan sistem bagi hasil dirancang untuk terbinanya kebersamaan dalam menanggung resiko usaha dan berbagi hasil usaha antara: pemilik dana (shohibul amal) yang menyimpannya uang di bank selaku pengelola dana (mudharib), dan masyarakat yang membutuhkan dana yang bias berstatus peminjam dana atau pengelola usaha. (mudharib). (Karnaen Perwataatmadja, dkk. 2005:147)

Priinsip bagi hasil dalam akad musyarakah dan mudharabah semula adalah akad utama dalam pembiayaan dengan akad tersebut hanya menghasilkan bagian kecil untuk perbankan. (Septian Riza Alfarisi, 2013: 1)

(4)

Musyarakah merupakan akad kerjasama antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu di mana masing-masing pihak memberikan kontribusi dana dengan kesepakatan bahwa keuntungan dan risiko akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan. Kerjasama yang terjadi dalam musyarakah pada hakikatnya dilaksanakan dengan prinsip kemitraan dengan tujuan untuk memperoleh suatu keuntungan. (Septian Riza Alfarisi, 2013: 1)

Berdasarkan penjelasan di atas, kelompok kami tertarik untuk membahas lebih lanjut mengenai akad musyarakah. Bagaimana implementasinya di Indonesia itu sendiri

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana penjelasan Konsep dan teori Musyarakah ?

(5)

BAB II PEMBAHASAN

A. Konsep dan Teori Musyarakah

Musyarakah adalah akad kerja sama antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu, yaitu masing-masing pihak member kontriibusi dana berdasarkan kesepakatan bahwa keuntungan dan resiko akan ditanggung bersama sesuai dengan aqad.

Dasar hukum musyarakah adalah sebuah hadis riwayat Abu Dawud dari Abu Hurairah yang artinya: Rasulullah saw bwrsabda: Sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla berfirman: Aku adalah pihak ketiga dari dua orang yang bersyarikat, selama salah satunya tidak mengkhianati yang lainnya.

Musyarakah terdiri dari dua jenis, yaitu (1) musyarakah pemilikan yang terwujud karena warisan, wasiat, atau kondisi lainnya yang berakibat kepemilikan satu asset oleh dua orang atau lebih. Dalam musyarakah ini, kepemilikan dua orang atau lebih berbagi dalam sebuah asset nyata, dan berbagi pula dari keuntungan yang dihasilkan asset tersebut; dan (2) Musyarakah akad (kontrak) terwujud dengan cara kesepakatan antara dua orang atau lebih yang setuju bahwa tiap orang dari mereka memberikan modal musyarakah. Merekapun sepakat berbagi keuntungan dan kerugian. (Zainudin Ali, 2010: 69)

Menurut Undang-Undang Tahun 2008 Tentang Perbankan Syariah Akad Musyarakah adalah Akad kerja sama diantara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu yang masing-masing pihak memberikan porsi dana dengan ketentuan bahwa keuntungan akan dibagi sesuai dengan kesepakatan, sedangkan kerugian yang ditanggung sesuai dengan porsi dana masing-masing.

(6)

Menurut Jefri Khalil pembiayaan musyarakah adalah akad antara dua orang atau lebih menyetorkan modal dan dengan keuntungan dibagi sesame mereka menurut porsi yang disepakati. (Jafril Khalil, 2002: 50)

Musyarakah merupakan suatu perkongsian antara dua pihak atau lebih dalam suatu proyek dimana masing-masing pihak berhak atas segala keuntungan dan bertanggungjawab akan segala kerugian yang terjadi sesuai dengan penyertaannya masing-masing. Jenis-jenis musyarakah antara lain:

1. Syirkah Mufawadha

a. Setoran dana harus sama b. Keuntungan dan kerugian c. Kerja dan tanggung jawab d. Beban Hutang

2. Syirkhah Al-Inan

a. Setiap pihak memberikan porsi dari keseluruhan dana b. Berpartisipasi dalam kerja

c. Berbagi keuntungan dan kerugian yang besar kecilnya telah disepakati bersama

d. Semua ulama membolehkan jenis Musyarakah ini 3. Syirkhah A’Maal

Kerja sama dua pihak atau lebih yang masing-masing memiliki keahlian yang sama

4. Syirkhah Wujuh

a. Yang dipertaruhkan dalam praktek ini adalah Reputasi dan Prestise b. Membeli barang secara kredit dan dijual secara tunai

c. Keuntungan dan kerugiaan dibagi berdasarkan jaminan yang diberikan kepada penyuplai

d. Karena tidak perlu modal, maka kontrak ini lazim disebut Syirkhah Piutang

Rukun Musyarakah antara lain:

(7)

c. Proyek/kegiatan usaha (Masyru’) d. Modal (Ra’sul Maal)

e. Nisbah bagi hasil (Nisbaturibhin)

f. Ijab Qobul (Sighat) (Anggota Komisi Yudisial, 2013: 88-89)

Selain rukun juga terdapat syarat pokok musyarakah, menurut Usmani syarat tersebut adalah:

1. Syarat akad

2. Pembagian proporsi keuntungan 3. Penentuan proporsi keuntungan 4. Pembagian kerugian

5. Sifat modal

6. Manajemen musyarakah 7. Penghentian musyarakah

8. Penghentian musyarakah tanpa menutup usaha. (Ascarya, 2011: 53)

B. Penerapan Musyarakah di Perbankan Syariah di Indonesia

Musyarakah yaitu pemilik modal yang mengadakan perjanjian untuk menyertakan untuk menyertakan modalnya kepada suatu proyek. Masing-masing pihak memiliki hak untuk ikut serta dalam manajemen proyek tersebut. Prinsip ini juga dapat diterapkan ke dalam semua jenis pembiayaan. Perbedaannya dengan mudharabah ialah pembiayaan yang dilakukan hanya untuk sebagian yang merupakan penyertaan dengan campur tangan pengelola bank pada suatu usaha atau proyek secara ad hoc, baik sementara maupun tetap. Untuk bank yang sehat dan memiliki keuntungan mka keuntungan tersebut akan dibagi dalam sistem bagi hasil, atau menurut porsi masing-masing pihak.

Bentuk-bentuk musyarakah dalam perbankan syariah antara lain sebagai berikut:

(8)

2. Musyarakah digunakan untuk skim pembiayaan modal kerja. Bank merupakan partner awal dari sebuah usaha atau proses produksi. Dalam skim ini pihak bank akan menyediakan dana untuk membeli aset atau alat-alat produksi, begitu juga dengan partner musyarakah lainnya 3. Musyarakah digunakan untuk jangka pendek. Misalnya pembiayaan

perdagangan, eksport, import atau keperluan khusus nasabah lainnya. (Suhrawadi K. Lubis dan Farid Wajdi, 2012: 58)

Pembiayaan musyarakah, yaitu pembiayaan sebagian kebutuhan modal pada suatu usaha untuk jangka waktu terbatas sesuai kesepakatan. Hasil usaha bersih dibagi antara bank sebagai penyandang dana (shohibul maal) dengan pengelola usaha (mudharib) sesuai dengan kesepakatan. Umumnya porsi bagi hasil yang ditetapkan sesuai dengan prosentase kontribusi masing-masing. Pada akhir jangka waktu pembiayaan, dana pembiayaan dikembalikan kepada pihak bank. Dalil-dalil yang menjadi landasan hukum syariah dalam pembiayaan musyarakah antara lain sebagai berikut:

1. QS. Shad (38): 24 “Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebagian mereka berbuat zalim kepada sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan amatlah sedikit mereka ini.”

(9)

Skema Musyarakah

Fatwa DSN No. 08/DSN-MUI/VI/2000 mengatur mengenai pembiayaan musyarakah dengan ketentuan sebagai berikut:

1. Ijab Kabul

Ijab Kabul yang dinyatakan oleh para pihak harus memerhatikan hal-hal berikut ini:

a. Penawaran dan penerimaan harus secara eksplisit menunjukkan tujuan kontrak

b. Penerimaan dan penawaran dilakukan pada saat kontrak, dan

c. Akad dituangkan secara tertulis melalui korespondensi, atau dengan menggunakan cara-cara komunikasi modern.

2. Subjek Hukum

Para pihak yang berkontrak harus cakap hukum dan memerhatikan hal-hal berikut ini:

a. Kompeten dalam memberikan atau diberikan kekuasaan perwakilan b. Setiap mitra harus menyediakan dana dan pekerjaan, dan setiap

mitra melaksanakan kerja sebagai wakil

c. Setiap mitra memiliki hak untuk mengatur aset musyarakah dalam proses bisnis normal

(10)

memperhatikan kepentingan mitranya, tanpa melakukan kelalaian dan kesalahan yang disengaja

e. Seorang mitra tidak diizinkan untuk mencairkan atau menginvestasikan dana untuk kepentingannya sendiri.

3. Objek Akad

Objek akad pada musyarakah terdiri dari modal, kerja, keuntungan, dan kerugian . Masing-masing ditentukan hal-hal berikut ini

a. Modal

1) Modal yang diberikan harus tunai, emas, perak, atau barang yang nilainya sama. Modal dapat terdiri dari aset perdagangan, seperti barang-barang, properti, dan sebagainya. Jika modal berbentuk aset harus terlebih dahulu dinilai dengan tunai dan disepakati oleh para mitra.

2) Para pihak tidak boleh meminjam, meminjam, meminjamkan atau menghadiahkan modal musyarakah kepada pihak lain, kecuali atas dasar kesepakatan

3) Pada prinsipnya, dalam pembiayaan musyarakah tidak ada jaminan, namun untuk menghindari terjadinya penyimpangan, bank (LKS) dapat meminta jaminan.

b. Kerja

1) Partisipasi para mitra dalam pekerjaan merupakan dasar pelaksanaan musyarakah, akan tetapi kesamaan porsi kerja bukanlah merupakan syarat. Seorang mitra boleh melaksanakan kerja lebih banyak daripada yang lainnya, dan dalam hal ini ia boleh menuntut bagian keuntungan tambahan bagi dirinya. 2) Setiap mitra melaksanakan kerja dalam musyarakah atas nama

pribadi dan wakil mitranya. Kedudukan masing-masing dalam organisasi kerja harus dijelaskan dalam kontrak

(11)

1) Keuntungan harus dikuantifikassi dengan jelas untuk menghindarkan perbedaan dan sengketa pada waktu alokasi keuntungan atau ketika penghentian musyarakah

2) Setiap keuntungan mitra harus dibagikan secara proporsional atas dasar seluruh keuntungan dan tidak ada jumlah yang ditentukan di awal yang ditetapkan bagi seorang mitra

3) Seorang mitra boleh mengusulkan, bahwa jika keuntungan melebihi jumlah tertentu, kelebihan atau presentasi itu diberikan kepadanya

4) Sistem pembagian keuntungan harus tertuang dengan jelas dalam akad

d. Kerugian

Kerugian harus dibagi diantara para mitra secara proporsional menurut saham masing-masing dalam modal.

4. Biaya operasional

Biaya operasional dibebankan pada modal bersama. (Karnaen Perwataatmadja, 2005: 148-152)

Hak dan kewajiban para pihak akibat terjadinya kegiatan pembiayaan musyarakah di perbankan syariah:

Peraturan BAPEPAM No. IX.A.14 (Kep.430/BL/2012) tentang Akad-Akad Yang Digunakan Dalam Penerbitan Efek Syari’ah menjelaskan bahwa Hak dan Kewajiban pihak-pihak dalam Musyarakah adalah:

1. Wajib menyediakan modal sesuai dengan tujuan musyarakah, baik dalam porsi yang sama atau tidak dengan pihak lainnya

2. Wajib menyediakan tenaga dalam bentuk partisipasi dalam kegiatan usaha musyarakah, dalam hal satu atau lebih pihak tidak dapat berpartisipasi dalam kegiatan usaha musyarakah, maka hal ini wajib disepakati dalam musyarakah

(12)

4. Wajib menanggung kerugian secara proporsional berdasarkan kontribusi modal masing-masing pihak

5. Berhak mengusulkan bahwa jika keuntungan melebihi jumlah tertentu, maka kelebihan dimaksud dapat diberikan kepada satu atau lebih pihak, dan

6. Berhak meminta jaminan kepada pihak lain dalam musyarakah untuk menghindari terjadinya penyimpangan.

Metode bagi hasil dan bagi resiko akibat terjadinya kemitraan pada kegiatan pembiayaan Musyarakah

Secara Umum, keputusan fatwa DSN-MUI nomor 08/DSN-MUI/IV/2000 tentang Pembiayaan Musyarakah menjelaskan dalam ketentuan mengenai obyek syirkah terkait dengan keuntungan dan kerugian yakni :

1. Keuntungan harus dikuantifikasi dengan jelas untuk menghindarkan perbedaan dan sengketa pada waktu alokasi keuntungan atau ketika penghentian musyarakah

2. Setiap keuntungan mitra harus dibagikan secara proporsional atas dasar seluruh keuntungan dan tidak ada jumlah yang ditentukan di awal yang ditetapkan bagi seorang mitra

3. Seorang mitra boleh mengusulkan bahwa jika keuntungan melebihi jumlah tertentu, kelebihan atau prosesntase itu diberikan kepadanya

4. Sistem pembagian keuntungan harus tertuang dengan jelas dalam akad. 5. Kerugian harus dibagi antara para mitra secara proporsional menurut

saham masing-masing dalam modal.

Kemudian dalam Peraturan BAPEPAM No. IX.A.14 (Kep.430/BL/2012) tentang Akad-Akad Yang Digunakan Dalam Penerbitan Efek Syari’ah dijelaskan juga bahwa pembagian keuntungan dan kerugian para mitra adalah sebagai

berikut:

(13)

2. untuk kepentingan pembagian keuntungan secara priodik, maka keuntungan musyarakah dihitung berdasarkan selisih lebih dari kekayaan musyarakah akhir periode setelah dikurangi dengan modal musyarakah awal priode dan kewajiban akhir priode kepada pihak lain yang terkait dengan kegiatan musyarakah

3. seluruh keuntungan musyarakah harus dibagikan kepada para pihak secara proporsional berdasarkan kontribusi modal atau sesuai nisbah yang disepakati dan tidak diperkenankan menentukan jumlah nominal keuntungan atau persentase tertentu dari modal bagi satu atau lebih pihak pada awal kesepakatan

4. dalam hal terdapat satu atau lebih pihak yang memberikan kontribusi lebih dalam pengelolaan, maka pihak tersebut dapat menerima bagi hasil tambahan sesuai dengan kesepakatan.

5. besarnya bagian keuntungan masing-masing pihak wajib dituangkan secara tertulis dalam bentuk rasio/nisbah; dan

6. kerugian musyarakah harus dibagi di antara para pihak secara proporsional berdasarkan kontribusi modal.

Sedangkan risiko dalam suatu akad dijelaskan pada pasal 42 Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia No. 02 Tahun 2008 tentang Kompilasi Hukum Ekonomi Syari’ah (KHES) yang menyatakan bahwa kewajiban memikul kerugian yang tidak disebabkan kesalahan salah satu pihak dinyatakan sebagai risiko. (Septian Riza Alfarisi, 2013: 11-13)

Transaksi musyarakah dilandasi adanya keinginan para pihak yang bekerjasama untuk meningkatkan nilai aset yang mereka miliki secara bersama-sama. Termasuk dalam golongan musyarakah adalah semua bentuk usaha yang melibatkan dua pihak atau lebih dimana mereka secara bersama-sama memadukan seluruh bentuk sumbar daya baik yang berwujud maupun tidak berwujud.

(14)

kontribusi masing-masing pihak dengan atau tanpa batasan waktu yang menjadikan musyarakah sangat fleksibel.

Ketentuan umum musyarakah adalah semua modal disatukan untuk dijadikan modal proyek musyarakah dan dikelola bersama-sama. Setiap pemilik modal berhak turut serta dalam menentukan kebijakan usaha yang dijalankan oleh pelaksana proyek. Pemilik modal dipercaya untuk menjalankan proyek musyarakah tidak boleh melakukan tindakan seperti:

1. Menggabungkan dana proyek dengan harta pribadi

2. Menjalankan proyek musyarakah dengan pihak lain tanpa ijin pemilik modal lainnya

3. Memberi pinjaman kepada pihak lain

4. Setiap pemilik modal dapat mengalihkan penyertaan atau digantikan oleh pihak lain

5. Setiap pemilik modal dianggap mengakhiri kerjasama apabila menarik diri dari perserikatan, meninggal dunia, atau menjadi tidak cakap hukum 6. Biaya yang timbul dalam pelaksanaan proyek dan jangka waktu proyek

harus diketahui bersama. Keuntungan dibagi sesuai kesepakatan sedangkan kerugian dibagi sesuai dengan porsi kontribusi modal

7. Proyek yang akan dijalankan harus disebutkan dalam akad. Setelah proyek selesai nasabah mengembalikan dana tersebut bersama bagi hasil yang telah disepakati untuk bank. (PKES, 2008: 37-39)

Manfaat musyarakah dalam pembiayaan sistim perbankan, di antaranya sebagai berikut.

1. Bank akan menikmati peningkatan dalam jumlah tertentu pada saat keuntungan usaha nasabah meningkat

2. Bank tidak berkewajiban membayar dalam jumlah tertentu kepada nasabah pendanaan secara tetap, tetapi disesuaikan dengan pendapatan /hasil usaha bank, sehingga bank tidak akan pernah mengalami negative spread.

(15)

4. Bank akan lebih selektif dan hati-hati (prudent) mencari usaha yang benar-benar halal, aman, dan mengutungkan. Hal ini karena keuntungan yang riil dan benar-benar terjadi itulah yang akan dibagikan.

(16)

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan

Musyarakah adalah akad kerja sama antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu, yaitu masing-masing pihak member kontriibusi dana berdasarkan kesepakatan bahwa keuntungan dan resiko akan ditanggung bersama sesuai dengan aqad. Musyarakah terdiri dari dua jenis, yaitu (1) musyarakah pemilikan yang terwujud karena warisan, wasiat, atau kondisi lainnya yang berakibat kepemilikan satu asset oleh dua orang atau lebih. (2) Musyarakah akad (kontrak) terwujud dengan cara kesepakatan antara dua orang atau lebih.

Jenis-jenis musyarakah antara lain: 1. Syirkah Mufawadha

a. Setoran dana harus sama b. Keuntungan dan kerugian c. Kerja dan tanggung jawab d. Beban Hutang

2. Syirkhah Al-Inan

a. Setiap pihak memberikan porsi dari keseluruhan dana b. Berpartisipasi dalam kerja

c. Berbagi keuntungan dan kerugian yang besar kecilnya telah disepakati bersama

d. Semua ulama membolehkan jenis Musyarakah ini 3. Syirkhah A’Maal

Kerja sama dua pihak atau lebih yang masing-masing memiliki keahlian yang sama

4. Syirkhah Wujuh

(17)

c. Keuntungan dan kerugiaan dibagi berdasarkan jaminan yang diberikan kepada penyuplai

d. Karena tidak perlu modal, maka kontrak ini lazim disebut Syirkhah Piutang

Rukun Musyarakah antara lain:

a. Pemilik dana (Syarik/Shahibuul Maal) b. Pengusaha (Musyarik)

c. Proyek/kegiatan usaha (Masyru’) d. Modal (Ra’sul Maal)

e. Nisbah bagi hasil (Nisbaturibhin) f. Ijab Qobul (Sighat)

(18)

B. Saran

Bank Syariah mempunyai celah yang cukup baik untuk maju, apabila kontrak seperti musyarakah menjadi produk utama dibandingkan dengan produk jual beli. Alternatif solusi Bank Syariah dalam mengembangkan produk musyarakah, yang intinya menanggung resiko. Alternatif tersebut antara lain:

1. Adanya lembaga penjamin yang memiliki kredibilitas dan amanah dalam mem back-up usaha yang dijalankan dengan sistem musyarakah, lembaga penjamin ini bertanggungjawab apabila terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan di kemudian hari terhadap usaha yang dijalankan. 2. Dalam menjalankan usaha, sebaiknya dilakukan secara bersama atau

kolektif. Jangan mempercayakan suatu usaha pada seseorang atau satu pihak saja. Karena dengan kebersamaan, banyak manfaat yang diperoleh darinya.

3. Usaha yang dijalankan harus memiliki prospek yang cukup baik. Bank Syariah harus mempunyai sasaran dan target usaha yang jelas dan layak untuk dikembangkan.

(19)

DAFTAR PUSTAKA

BUKU:

Ali, Zainuddin. 2010. Hukum Perbankan Syariah. Jakarta: Sinar Grafika.

Anggota Komisi Yudisial. 2013. Proceeding: Pelatihan Tematik “Ekonomi Syariah” Bagi Hakim Pengadilan Agama. Jakarta: Komisi Yudisial Republik Indonesia.

Ascarya. 2011. Akad dan Produk Bank Syariah. Jakarta: Rajawali Pers.

Burhanuddin S. 2010. Aspek Hukum Lembaga Keuangan Syariah. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Lubis, Suhrawadi K dan Farid Wajdi. 2012. Hukum Ekonomi Islam. Jakarta: Sinar Grafika.

Perwataatmadja, Karnaen dan Gemala Dewi, dkk. 2005. Bank dan Asuransi Islam di Indonesia. Jakarta: Kencana.

JURNAL:

Referensi

Dokumen terkait

Sementara, penerapan nisbah bagi hasil dalam pembiayaan sindikasi perbankan syariah melalui akad musyarakah yang sesuai dengan prinsip syariah adalah apabila pada

dapat diterapkan dalam akad pembiayaan mudharabah pada perbankan syariah sesuai Pasal 35 dan 36 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Bank Syariah yang

Menurut Antonio (2001), Al- Musyarakah adalah akad kerjasama antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu dimana masing-masing pihak memberikan kontribusi dana

Akad musyarakah yang digunakan di perbankan syariah telah sesuai dimana akad musyarakah terdapat ijab qabul, adanya subyek perikatan yaitu pihak bank dengan nasabah, serta adanya

Undang-Undang Perbankan Syariah memberikan penjelasan yang dimaksud dengan akad mudharabah adalah akad kerja sama suatu usaha antara pihak pertama (malik, shahibul

Penerapan Prinsip Mudharabah Dalam Perjanjian (Akad) di Perbankan Syariah Akad mudharabah dapat dijumpai pada Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah Pasal

Para faqih mendefenisikannya sebagai akad antara dua sekutu dalam modal dan keuntungan.10 Musyarakah mutanaqisah berarti suatu akad kerjasama antara dua pihak atau lebih suatu usaha

Penerapan Akad Musyarakah Pada Pembiayaan Modal Usaha di Bank Muamalat Kantor Cabang Bengkulu dapat dilakukan dengan beberapa prosedur, yaitu dari calon nasabah mengajukan permohonan