• Tidak ada hasil yang ditemukan

NURUL AKMALIA G1B011065

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "NURUL AKMALIA G1B011065"

Copied!
134
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS KEMAMPUAN MEMBAYAR (ABILITY TO PAY) DAN

KEMAUAN MEMBAYAR (WILLINGNESS TO PAY)TERHADAP PREMI

BPJS KESEHATAN BAGI PENDERES GULA KELAPA DI KECAMATAN CILONGOK KABUPATEN BANYUMAS

SKRIPSI

Oleh:

NURUL AKMALIA G1B011065

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT

(2)
(3)

HALAMAN PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini: Nama : Nurul Akmalia

NIM : G1B011065

Menyatakan bahwa skripsi yang saya tulis yang berjudul:

Analisis Kemampuan Membayar (Ability To Pay) Dan Kemauan Membayar

(Willingness To Pay) Terhadap Premi Bpjs Kesehatan Bagi Penderes Gula

Kelapa Di Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas

Merupakan bagian dari penelitian dengan judul:

Extending Social Health Protection To Informal Sector In Indonesia: How To Enroll Palm Sugar Farmers In National Health Insurance

Yang diketuai oleh:

Nama : Dr. sc. hum Budi Aji S.KM, M.Sc NIP : 19770827 200212 1 002

Jurusan/Fak : Jurusan Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman

Skripsi yang saya tulis ini adalah benar-benar hasil karya ilmiah saya, dan tidak sedang atau pernah ditulis oleh orang lain. Semua data yang saya sajikan adalah diperoleh dari penelitian yang saya lakukan, kecuali data-data yang bersumber dari kepustakaan yang saya sebutkan di dalam skripsi ini.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya.

Purwokerto, Agustus 2015

(4)

Segala puji bagi Allah, Tuhan yang Maha pengasih lagi Maha penyayang, serta sholawat dan salam semoga terlimpahkan kepada makhluk-Mu yang paling mulia, Nabi Muhammad S.A.W. dengan penuh rasa syukur penulis dapat menyelesaikan penelitian dan menyusun skripsi dengan judul “Analisis Kemampuan Membayar (Ability To Pay) Dan Kemauan Membayar

(Willingness To Pay) Terhadap Premi BPJS Kesehatan Bagi Penderes Gula

Kelapa Di Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas”. Pelaksanaan penelitian dan penyusunan skripsi ini tentunya tidak lepas dari jasa-jasa, dukungan, arahan dan kerjasama dari berbagai pihak, oleh karena itu penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada :

1. Dr. Warsinah, M.Si., Apt., selaku Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Unsoed.

2. Arif Kurniawan, SKM, M.Kes., selaku Ketua Jurusan Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Unsoed.

3. Dr. sc. hum Budi Aji, SKM, M.Sc., dan Siti Masfiah, SKM., M.Kes, MA., selaku dosen pembimbing skripsi yang telah banyak memberikan bimbingan, arahan, semangat dan motivasi dengan penuh kesabaran dan perhatian untuk terselesaikannya skripsi ini.

4. Arif Kurniawan, SKM, M.Kes., dan Sadiyanto, SKM, M.Kes, selaku penelaah skripsi yang telah memberikan banyak masukan, komentar dan bimbingannya. 5. Dyah Umiyarni Purnamasari,S.KM, M.Si., selaku moderator seminar

usul/hasil yang telah memberikan arahan, bimbingan, dan nasihat kepada peneliti.

(5)

7. Ibu, Bapak, kedua saudara saya dr. Dwi Wulandari dan Ridho Aulia Ahmad yang selalu memberikan dukungan dalam bentuk motivasi, semangat dan doa pada peneliti, sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini dengan sangat baik.

8. TIM skripsi Shella Kartika Andira, Vika Liska, Siti Nurul A, Nindya, dan Novi Nur K yang selalu membantu dan memotivasi peneliti dari awal proses proposal hingga terselesaikannya skripsi ini.

9. Teman-teman di JKM Unsoed angkatan 2011 khususnya Alfian, Iqbal, Adi,

Riko, Eni, Nurendah, Indri, Ba’da, Novita, Siska, Siti Lasry, Dwi Annisa, Puri, Rifayang telah memberikan banyak bantuan, dukungan, semangat dan doa sehingga dapat terselesaikannya skripsi ini.

10.Sahabat sejak SMP saya Imaduddin yazid yang selalu memotivasi dan menjadi acuan bagi peneliti dalam proses penyusunan skripsi ini.

11.Seluruh pihak yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung yang telah membantu penyelesaian skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa kemampuan penulis terbatas sehingga penyususnan skripsi ini masih jauh dari sempurna. Saran yang bersifat membangun penulis terima demi kesempurnaan skripsi ini. Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan penulis pada khususnya

(6)

PURWOKERTO 2015

INTISARI NURUL AKMALIA

ANALISIS KEMAMPUAN MEMBAYAR (ABILITY TO PAY) DAN

KEMAUAN MEMBAYAR (WILLINGNESS TO PAY)TERHADAP PREMI

BPJS KESEHATAN BAGI PENDERES GULA KELAPA DI KECAMATAN CILONGOK KABUPATEN BANYUMAS

Ability dan willingness to pay (ATP-WTP)merupakan salah satu faktor yangmempengaruhi seseorang mengikuti jaminan kesehatan. ATP dan WTP pada sektor informal penderes gula kelapa di kecamatan cilongok kabupaten banyumas belum diteliti. Penelitian bertujuan untuk menganalisis ATP dan WTP responden terhadap premi BPJS kesehatan.Jenis penelitian adalah deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional.Pengumpulan data melalui wawancara dengan kuesioner.Jumlah populasi sebanyak 6.512 pekerja penderes gula kelapa, jumlah sampel 105 responden, diambil melalui teknik Simple random sampling.Data dianalisis secara deskriptif untuk melihat kesesuaian antara ATP, WTP dan premi BPJS kesehatan. ATP dan WTP dihitung dengan menggunakan perhitungan disposable income. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata ATP 1 yaitu sebesar Rp. 61.203,00 (perkeluarga) dan ATP 2 yaitu sebesar Rp. 231.444,00 (perkeluarga), sedangkan WTP yaitu sebesar Rp. 36.679,00 (perkeluarga. Secara keseluruhan hasil analisis Penderes gula kelapa memiliki WTP < ATP 1 < ATP 2 dalam satu keluarga. Sedangkan berdasarkan premi per keluarga dengan rata-rata 2 anggota dan 4 anggtota keluarga ATP 2 lebih besar dari premi sedangkan WTP lebih rendah dari premi. Pemerintah seharusnya merumuskan kembali premiBPJSdalamrespon terhadapkarakteristikyang unik (pendapatan sektor informal)penderes gula kelapa dalam rangka mendukung pelaksanaan universal health coverage pada tahun 2019.

(7)

PURWOKERTO 2015

ABSTRACT NURUL AKMALIA

ANALYSIS OF ABILITY TO PAY AND WILLINGNESS TO PAY FOR BPJS

HEALTH PREMIUMS FOR PALMSUGAR FARMERSIN SUB

DISTRICTCILONGOKBANYUMAS REGENCY

ATP and WTP influence health insurance enrollment for the uninsurance.

(8)

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PENGESAHAN ... ii

HALAMAN PERNYATAAN ... iii

PRAKATA ... iv

INTISARI ... vi

ABSTRACT ... vii

DAFTAR ISI ... viii

DAFTAR TABEL ... xi

DAFTAR GAMBAR ... xii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Perumusan Masalah ... 7

C. Tujuan ... 7

1. Tujuan Umum ... 7

2. Tujuan Khusus ... 8

D. Manfaat ... 8

1. Bagi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan ... 8

2. Bagi Masyarakat... 8

3. Bagi Jurusan Kesehatan Masyarakat ... 9

4. Bagi Peneliti ... 9

E. KeaslianPenelitian ... 9

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 13

A. Tinjauan Pustaka ... 13

1. Jaminan Kesehatan ... 13

1.1Pengertian ... 13

(9)

1.4Mekanisme Penyelenggaraan ... 17

1.5Fungsi dan Tugas BPJS Kesehatan ... 20

2. Petunjuk Teknis Kepesertaan BPJS ... 23

2.1Kelompok Peserta BPJS Kesehatan ... 23

2.2Iuran ... 26

3. Premi Asuransi Kesehatan ... 27

4. Pekerja Sektor Informal ... 30

5. Kemampuan Membayar/ Ability To Pay (ATP) ... 32

6. Kemauan Membayar/ Willingness To Pay (WTP) ... 36

7. Hubungan Tarif, ATP dan WTP ... 41

B. Kerangka Teori... 44

BAB III METODE PENELITIAN... 45

A. Kerangka Konsep ... 45

B. Variabel Penelitian ... 45

C. Definisi Operasional... 46

D. Jenis dan MetodePenelitian ... 49

E. Lokasi Penelitian ... 50

F. Populasi dan Sampel ... 50

1. Populasi ... 50

2. Sampel ... 54

G. Sumber Data ... 53

1. Data primer... 53

2. Data sekunder ... 53

H. Cara Pengumpulan Data ... 54

I. Instrumen Penelitian... 54

J. Analisis Data ... 55

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ... 56

1. Gambaran Umum Lokasi... 56

2. Karakteristik Responden... 58

3. Pengeluaran Rumah Tangga Responden ... 60

4. Ability To Pay (ATP) ... 62

(10)

B. Pembahasan... 65

1. Karakteristik Responden ... 66

2. Riwayat Penyakit Keluarga ... 68

3. Ablitiy To Pay (ATP) ... 70

4. Willingness To Pay (WTP) ... 72

5. Analisis Kesesuaian Tingkat ATP dan WTP Responden Terhadap Premi JKN Kelompok PBPU ... 74

BAB V. SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan ... 80

B. Saran ... 81

DAFTAR PUSTAKA ... 83

(11)

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1.1. Keaslian Penelitian ... 9 Tabel 2.1. Definisi Operasional ... 47 Tabel 3.1. Pembagian Sampel di Tiap-Tiap Desa ... 51 Tabel 4.1. Tingkat Pendidikan Masyarakat Kecamatan Cilongok

Kabupaten Banyumas tahun 2014 ... 57 Tabel 4.2. Jenis Pekerjaan Masyarakat Kecamatan Cilongok Kabupaten

Banyumas Tahun 2014 ... 57 Tabel 4.3. Karakteristik Responden Pekerja Informal (Penderes

Gula Kelapa) Di Kecamatan Cilongok Tahun 2015 ... 59 Tabel 4.4. Total Pengeluaran Rumah Tangga Responden

(Penderes Gula Kelapa) dalam sebulan di Kecamatan

Cilongok Tahun 2015 ... 60 Tabel 4.5. Pengeluaran pangan dan non pangan Perkapita

Perbulan Keluarga/Rumah Tangga Responden (Penderes

Gula Kelapa) di Kecamatan Cilongok Tahun 2015…………. 61

Tabel 4.6. ATP Responden (tiap keluarga) untuk premi BPJS

Kesehatan di Kecamatan Cilongok Tahun 2015 ... 62

…..

Tabel 4.7. WTP Responden (perkeluarga) untuk Premi BPJS

Kesehatan di Kecamatan Cilongok Tahun 2015 ... 63 Tabel 4.8. WTP Responden (perkeluarga) untuk Premi BPJS

Kesehatan di Kecamatan Cilongok Tahun 2015 ... 63 Tabel 4.9. Gambaran Analisis Kesesuaian Tingkat ATP dan

WTP Tenaga Kerja Informal (Penderes Gula Kelapa) Terhadap Premi BPJS Kesehatan Kelompok PBPU

(12)

DAFTAR GAMBAR

(13)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1. Informed Consent ... ... 89

Lampiran 2. Lembar Skrining ... 91

Lampiran 3. Kuesioner Penelitian ... 92

Lampiran 4. Rekapitulasi Hasil Penelitian ... .. ... 101

Lampiran 5. Hasil Output SPSS ... 107

Lampiran 6. Hasil Dokumentasi ... 113

Lampiran 7. Surat Izin Penelitian ... 117

(14)

A. Latar Belakang

Derajat kesehatan masyarakat merupakan salah satu penentu indikator pembangunan manusia. Peningkatan status kesehatan sangat dipengaruhi oleh tanggung jawab masyarakat, swasta dan pemerintah yang berkaitan dengan kebijakan, sistem pembiayaan dan sosial budaya serta perilaku yang berlaku pada masyarakat (Kemenkes RI, 2013). Hak kesehatan yang tercantum dalam UUD 45 pasal 28H dan pasal 34, dan diatur dalam UU 36/2009 bahwa setiap orang memiliki hak yang sama untuk memperoleh akses terhadap sumber daya di bidang kesehatan dan memperoleh pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, dan terjangkau. Setiap orang juga mempunyai kewajiban untuk turut serta dalam program jaminan kesehatan sosial. Guna mewujudkan komitmen global, pemerintah bertanggung jawab atas pelaksanaan jaminan kesehatan masyarakat bagi kesehatan perorangan (Kemenkes RI, 2013).

(15)

(mandatory) berdasarkan Undang-Undang No.40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional. Tujuannya adalah agar semua penduduk Indonesia terlindungi dalam sistem asuransi, sehingga mereka dapat memenuhi kebutuhan dasar kesehatan masyarakat yang layak (Kemenkes RI, 2013).

Pemerintah membentuk Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) sejak tanggal 19 Oktober 2004 yang kemudian diatur dalam UU Nomor 24 Tahun 2011 yang terdiri atas BPJS kesehatan dan ketenagakerjaan dan sistemnya diatur pada UU Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (UU SJSN). Ada dua kelompok peserta yang dikelola BPJS Kesehatan yaitu peserta penerima bantuan iuran (PBI) dan peserta non-PBI. Peserta PBI terdiri dari fakir miskin dan orang tidak mampu, sedangkan peserta non-PBI terbagi menjadi 3 yaitu Pekerja Penerima Upah (PPU), Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) dan Bukan Pekerja. Kelompok ini membayarkan iuran sesuai dengan premi yang telah ditetapkan oleh BPJS sebagai penyelenggara. Peserta non-PBI ini terdiri dari PNS, anggota TNI, anggota POLRI, karyawan perusahaan swasta, pekerja mandiri, bukan pekerja seperti veteran, penerima pensiun, dan lain sebagainya (Kemenkes RI, 2013).

(16)

peserta, PBPU sebanyak 3.565.240 peserta dan BP sebanyak 4.922.121 peseta (BPJS kesehatan, 2014).

Pekerja sektor informal merupakan pekerja yang tidak mendapat gaji dan tidak memiliki hubungan formal perusahaan-perusahaan atau disebut sebagai pekerja di luar hubungan kerja (Nazara, 2010). Survei mencatat sekitar 80% pekerja sektor informal di Indonesia masih belum mempunyai perlindungan sosial maupun jaminan kesehatan sehingga sangat memprihatinkan mengingat kegiatan ekonomi sektor informal sangat terpapar pada risiko kecelakaan kerja maupun kesehatan (Loop & Andadari, 2009). Loop & Andadari (2009), dalam surveinya kepada para pekerja informal, menemukan bahwa prioritas jaminan sosial yang diperlukan oleh pekerja informal yaitu perlindungan terhadap kecelakaan kerja (36%) dan perlindungan kesehatan pekerja (29%). Permasalahannya antara lain sejumlah besar dari mereka tidak masuk katagori penerima bantuan iuran, harus membayar iuran/ kontribusi kepada BPJS Kesehatan, termasuk pekerja informal yang dekat titik cut off (pemisah antara wajib membayar dan tidak), sehingga tantangan terbesar untuk implementasi JKN2014 adalahkepesertaan di sektor informal (Loop & Andadari, 2009).

(17)

menempati urutan pertama di Kabupaten Banyumas dengan jumlah petani penderes paling banyak yaitu sekitar 6,2% atau sebesar 6.512 petani penderes gula kelapa yang masuk dalam sektor informal (Diperindakop, 2014).

Petani penderes gula kelapa merupakan kelompok pekerja informal yang tidak memiliki penghasilan yang tetap setiap bulannya, selain itu juga memiliki risiko untuk terkena kejadian sakit, dan bukan merupakan sasaran program pemerintah serta memiliki persentase yang cukup besar. Risiko kerja bagi pekerja penderes gula kelapa antara lain kecelakaan kerja yang menimbulkan kecacatan ringan, sedang, dan berat maupun hingga menyebabkan kematian (Diperindakop, 2014). Hal ini dibuktikan dengan tingginya kasus kecelakaan pada penderes yang jatuh dari pohon kelapa tahun 2010 hingga tahun 2011 di Banyumas mencapai 134 kasus, diantaranya sebanyak 53 penderes meninggal dan 81 penderes lainnya mengalami kelumpuhan. Sedangkan pada tahun 2014 di Banyumas jumlah kecelakaan kerja pada penderes sebanyak 70 orang (Diperindakop, 2014). Sementara itu, berdasarkan data di Lembaga Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya dan Lingkungan Hidup (LPPSLH) program pertanian, mencatat angka kecelakaan kerja setiap desa di Kabupaten Banyumas dalam setahun rata-rata berjumlah dua orang (LPPSLH, 2014).

(18)

Sensus 2014 mencatat dari jumlah penduduk Jawa Tengah sebanyak 33,264,339 jiwa dan yang mengikuti kepesertaan BPJS kesehatandi Jawa Tengah Juni 2014 sebanyak 17,606,343 peserta atau sekitar 52,9% penduduk Jawa Tengah dengan persentase pekerja informal yang masuk dalam peserta non-PBI Peserta Bukan Penerima Upah (PBPU) hanya sekitar 1,77%. Sedangkan jumlah penduduk Jawa Tengah yang belum mengikuti kepesertaan BPJS kesehatan sebesar 47,1%. Di Banyumas penduduk yang mengikuti kepesertaan BPJS menurut data laporan kepesertaan BPJS kesehatan Purwokerto hingga Maret 2015 sebanyak 976,966 peserta atau sekitar 60,8% penduduk Banyumas dengan persentase non-PBI sebanyak 255,404 peserta atau sekitar 15,9% penduduk Banyumas dengan jumlah PBPU sebanyak 54,808 atau hanya sekitar 3,4%. Peserta PBI sebanyak 721,562 atau sekitar 44,9% (BPJS Kesehatan, 2015). Menurut data kepesertaan BPJS Kesehatan hingga Maret tahun 2014 di Kecamatan Cilongok yang mengikuti kepesertaan BPJS Kesehatan sebanyak 68,230 atau sekitar 60,3% dengan peserta non-PBI sebanyak 2,656 atau hanya sekitar 2,3% dari jumlah penduduk di Kecamatan Cilongok dan PBI sebanyak 65,574 peserta atau sekitar 58% (BPJS Kesehatan, 2014).

(19)

berpengaruh salah satunya adalah ability to pay (ATP) dan willingness to pay (WTP) (Handayani dan Gondodiputro, 2012). Dengan melihat ATP dan WTP masyarakat dapat dilihat selisihnya terhadap premi yang berlaku sehingga dapat dijadikan rekomendasi kaitannya dengan upaya perluasan kepesertaan BPJS kesehatan di sektor informal (Handayani dan Gondodiputro, 2012).

Perhitungan ATP terdiri atas pendekatan langsung dan tidak langsung. Pendekatan langsung menggunakan tingkat penghasilan sedangkan pendekatan tidak langsung menggunakan survei tingkat konsumsi dengan dua batasan ATP yang digunakan antara lain dengan mengunakan ATP 1 dan ATP 2. ATP 1 adalah besarnya kemampuan membayar setara dengan 5% dari pengeluaran non makanan sedangkan ATP 2 adalah besarnya kemampuan membayar yang setara dengan jumlah pengeluaran untuk konsumsi alkohol + tembakau, sirih + pesta/upacara (Depkes RI, 2004).

(20)

responden yaitu sebesar Rp. 25.500 yaitu setara dengan premi kelas III yang telah ditetapkan BPJS kesehatan, sedangkan WTP lebih rendah.

Berdasarkan latar belakang dan hasil penelitian sebelumnya menunjukkan adanya perbedaan tingkat ATP dan WTP di tiap daerah serta perbandingan yang berbeda terhadap premi yang telah ditentukan BPJS kesehatan. Selain itu, belum ada penelitian yang meneliti secara spesifik tingkat kesesuaian antara ATP dan WTP premi BPJS kesehatan bagi tenaga kerja informal khususnya penderes gula kelapa di Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas, oleh karena itu dilakukan penelitian untuk mengetahui ATP dan WTP pekerja sektor informal (Penderes gula kelapa) terhadap premi BPJS Kesehatan di Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, maka permasalahan yang akan diteliti dapat dirumuskan dalam bentuk pertanyaan penelitian yaitu, “Berapa ATP dan WTP pekerja sektor informal (Penderes gula kelapa) dan bagaimana kesesuaiannya terhadap premi BPJS Kesehatan di Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas ? ”

C. Tujuan

1. Tujuan Umum

(21)

2. Tujuan Khusus

a. Mengetahui karakteristik responden, seperti umur, tingkat pendidikan, jumlah anggota keluarga dan status kesehatan (riwayat penyakit kronis dan akut).

b. Mendeskripsikan ATP tenaga kerja informal (penderes gula kelapa) terhadap premi BPJS Kesehatan di Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas.

c. Mendeskripsikan WTP tenaga kerja informal (penderes gula kelapa) terhadap premi BPJS Kesehatan di Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas.

d. Menganalisis kesesuaian antara tingkat ATP dan WTP tenaga kerja informal (penderes gula kelapa) terhadap premi BPJS Kesehatan kelompok PBPU.

D. Manfaat

1. Bagi BPJS

Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi kepada penyelenggara jaminan sosial kesehatan mengenai kemampuan membayar dan kemauan membayar Penderes gula kelapa terhadap premi BPJS Kesehatan untuk kemudian dapat dijadikan sebagai salah satu referensi dalam menentukan strategi pembiayaan jaminan kesehatan bagi peserta sektor informal. 2. Bagi Masyarakat

(22)

Kesehatan dengan mekanisme pembiayaan jaminan kesehatan yang sesuai dengan kemampuan dan kemauan membayar masyarakat.

3. Bagi Jurusan Kesehatan Masyarakat

Menambah kepustakaan mengenai pengembangan ilmu kesehatan masyarakat khususnya tentang identifikasi ATP dan WTP Penderes gula kelapa terhadap premi BPJS Kesehatan.

4. Bagi Peneliti

Menambah pengetahuan dan pengalaman dalam penulisan karya tulis ilmiah serta menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh dalam melaksanakan penelitian di lapangan.

E. Keaslian Penelitian

Tabel 1.1 Keaslian Penelitian

No. Penelitian Terdahulu Perbandingan

1. a.Judul

Kemampuan dan kemauan membayar premi asuransi kesehatan di Gunung Kidul

b. Penulis

Ali Gufron Mukti c.Tahun penelitian

2001

d.Hasil penelitian

Mayoritas penduduk memiliki kemauan membayar sebesar Rp. 10.000 sampai dengan kurang dari Rp. 300.000, sedangkan kemampuan membayar masyakat sebesar Rp 60.000/bulan per-KK. Lebih dari 70% responden menginginkan untuk mengikuti asuransi kesehatan walaupun kemauan membayar premi baru sebesar Rp. 2000.

a. Persamaan

1. Variabel Penelitian

Sama-sama menggunakan variabel ATP dan WTP. 2. Desain Studi

Menggunakan desain studi penelitian cross sectional b. Perbedaan

Lokasi penelitian terdahulu ini dilakukan di Gunung kidul, sedangkan pada penelitian yang akan dilakukan dengan perbandingan premi Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di salah satu kecamatan di Kabupaten Banyumas dengan spesifik mendeskripsikan pada tenaga kerja penderes gula kelapa.

2. a. judul

studi kemampuan dan kemauan membayar masyarakat terhadap besaran premi jamkesda di

a.Persamaan

1. Variabel penelitian

(23)

No. Penelitian Terdahulu Perbandingan

Besaran premi jamkesda sudah sesuai dengan tingkat ATP dan WTP masyarakat karena tariff premi berada dibawah ATP dan WTP masyarakat. Besar ATP masyarakat adalah Rp. 34.440,98 dan WTP 64,6% menjawab bersedia, maka tarif ini dinilai sudah sesuai dengan besaran premi jamkesda, namun kenyataannya masyarkat tidak mengikuti program tersebut diduga ada faktor lain yang menyebutkan hal tersebut.

2. Desain studi

Sama-sama menggunakan desain studi cross sectional b.Perbedaan

Analisis Kemampuan dan Kemauan Membayar Petugas Parkir Terhadap Pelayanan Puskesmas Di Kabupaten Banyumas.

Kemampuan membayar masyarakat terhadap pelayanan kesehatan lebih tinggi daripada kemauan membayar masyarkat terhadap pelayanan rawat jalan, namun lebih rendah dari kemauan membayar masyarakat terhadap pelayanan rawat inap.

a. Persamaan

1. Variabel Penelitian

Sama-sama menggunakan variabel ATP dan WTP. 2. Desain Studi

Sama-sama menggunakan desan studi cross sectional. b. Perbedaan

Penelitian terdahulu ini melihat ATP dan WTP pada petugas parkir, sedangkan penelitian ini melihat ATP dan WTP pada tenaga kerja informal yaitu penderes gula kelapa.

4. a. Judul

Analisis ATP (Abillity To Pay) Dan WTP (Willingness To Pay) Petani Dalam Asuransi Kesehatan Terhadap Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Di Dusun Jungkal Desa Pojok, Kecamatan Pulo Kulon, Kabupaten Grobogan Purwodadi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar petani mempunyai penghasilan rata-rata per bulan Rp. 1.070.224, rata-rata pengeluaran untuk pangan per bulan Rp. 311.653, rata-rata pengeluaran non esensial dan non pangan per bulan Rp. 135.573. Berdasarkan rata-rata kemampuan

a. Persamaan

1. Variabel penelitian

sama-sama menggunakan

variabel ATP dan WTP. 2. Desain studi

Sama-sama menggunakan desan studi cross sectional b. Perbedaan

(24)

No. Penelitian Terdahulu Perbandingan kesehatan dengan menggunakan rumus

ATP1 (disposible income x 5%) adalah Rp. 38.311, dan hanya 23,9% yang bersedia membayar premi asuransi kesehatan dengan jumlah nominal premi Rp.20.000-Rp.100.000.

5. a. Judul

Analisis kemampuan dan kemauan membayar pasien rawat inap di rumah sakit umum daerah karangasem tahun 2013

b. Penulis

I Gusti Juliasih dan Putu Dedy Kastama Hardy

c. Tahun penelitian 2013

d. Hasil penelitian

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien rawat inap memiliki kemampuan membayar lebih tinggi dari kemauan membayar serta tarif yang berlaku saat ini.

a. Persamaan

1. Variabel Penelitian

Sama –sama menggunakan variabel ATP dan WTP. 2. Desain Studi

Menggunakan desain studi penelitian cross sectional. b. Perbedaan

Artikel ini meneliti tentang ATP dan WTP pasien rawat inap di RSUD Karangasem, sedangkan dalam penelitian ini meneliti tentang ATP dan WTP tenaga kerja informal yaitu penderes gula kelapa terhadap premi JKN.

6. a. Judul

Analisis Ability To Paydan Willingness To Pay calon peserta JKN bukan penerima upah terhadap premi BPJS (Studi kasus dikabupaten banyumas)

Keseluruhan hasil analisis rata-rata tingkat ATP dan WTP responden tiap keluarga sudah sesuai premi JKN pada kelas III yaitu sebesar Rp. 25.500. jika dilihat hasil rata-rata ATP dan WTP responden tiap tiap keluarga, menunjukkan bahwa nilai rata-rata WTP responden lebih besar jika dibandingkan rata-rata ATP responden. Hal tersebut menunjukkan responden mau untuk membayar premi JKN namun karena berbagai faktor yang mempengaruhi sehingga menyebabkan mereka saat ini belum mengikuti program JKN ini.

2. Desain studi sama-sama menggunakan desain cross sectional

b. Perbedaan

1. Penelitian terdahulu menganalisis ATP dan WTP bagi PBPU secara keseluruhan

diantaranya buruh, petani, wiraswasta dan karyawan swasta sedangkan pada penelitian ini menganalisis ATP dan WTP secara spesifik pekerja di sektor informal yaitu pekerja penderes gula kelapa.

7. a. Judul

Kemampuan Membayar Iuran Jaminan Kesehatan Nasional Bagi Nelayan Di Kabupaten Jember. variabel ATP dan WTP.. 2. Desain studi

(25)

Perbandingan penelitian ini dengan beberapa penelitian terdahulu menunjukkan adanya persamaan dan perbedaan. Dikarenakan adanya perbedaan tersebut, maka peneliti menyatakan bahwa penelitian ini merupakan penelitian baru mengenai ATP dan WTP pekerja sektor informal (Penderes gula kelapa) terhadap premi BPJS Kesehatan di Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas.

No. Penelitian Terdahulu Perbandingan

d.Hasil penelitian

Hasil penelitian menunjukkan bahwa

Sebagian besar responden (54,5%) mampu membayar iuran Jaminan Kesehatan Nasional. Hasil pemaparan menunjukkan bahwa 33 responden memiliki kemampuan membayar iuran Jaminan Kesehatan Nasional untuk kelas rawat 3 yang besar nominalnya adalah Rp.25.500,- per orang per bulan.

Penelitian terdahulu

(26)

A. Tinjauan Pustaka

1.Jaminan Kesehatan a. Pengertian

Asuransi sosial merupakan mekanisme pengumpulan iuran yang bersifat wajib dari peserta, guna memberikan perlindungan kepada peserta atas risiko sosial ekonomi yang menimpa mereka dan atau anggotakeluarganya (UU SJSN No.40 tahun 2004). Sistem Jaminan Sosial Nasional adalah tata cara penyelenggaraan program Jaminan Sosial oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. Jaminan Sosial adalah bentuk perlindungan sosial untuk menjamin seluruh rakyat agar dapat memenuhi kebutuhan dasar hidupnya yang layak.

(27)

semua penduduk Indonesia terlindungi dalam sistem asuransi, sehingga mereka dapat memenuhi kebutuhan dasar kesehatan masyarakat yang layak (Kemenkes-RI, 2013).

b. Azas, Tujuan dan Prinsip Penyelenggaraan

Jaminan sosial diselenggarakan berdasarkan asas kemanusiaan, asas manfaat dan asas keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Asas kemanusiaan berkaitan dengan penghargaan terhadap martabat manusia. Asas manfaat merupakan asas yang bersifat operasional menggambarkan pengelolaan yang efisien dan efektif.Asas keadilan merupakan asas yang bersifat ideal. Ketiga asas tersebut dimaksudkan untuk menjamin kelangsungan program dan hak peserta (Undang-Undang No. 40 Tahun 2004, pasal 2).

(28)

tabungan wajib yang bertujuan untuk menyediakan jaminan sosial bagi seluruh penduduk, guna memenuhi kebutuhan dasar yang layak (Undang-Undang No. 40 Tahun 2004, pasal 3).

Sembilan prinsip Sistem Jaminan Sosial Nasional antara lain: 1) Prinsip Kegotong-royongan

Prinsip ini diwujudkan dalam mekanisme gotong royong dari peserta yang mampu kepada peserta yang kurang mampu dalam bentuk kepesertaan wajib bagi seluruh rakyat, peserta yang berisiko rendah membantu yang berisiko tinggi dan peserta yang sehat membantu yang sakit. Melalui prinsip kegotong-royongan ini, jaminan sosial dapat menumbuhkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

2) Prinsip Nirlaba

Pengelolaan dana tidak dimaksudkan untuk mencari laba (nirlaba) bagi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial, akan tetapi tujuan utama penyelenggaraan jaminan sosial adalah untuk memenuhi sebesar-besarnya kepentingan peserta. Hasil pengembangannya dan surplus dana akan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan peserta.

3) Prinsip Keterbukaan

(29)

4) Prinsip Kehati-hatian

Pengelolaan dana secara cermat, teliti, aman dan tertib. 5) Prinsip Akuntabilitas

Pelaksanaan program dan pengelolaan keuangan yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.

6) Prinsip Portabilitas

Jaminan Sosial dimaksudkan untuk memberikan jaminan yang berkelanjutan meskipun peserta berpindah pekerjaan atau tempat tinggal dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. 7) Prinsip Kepesertaan Bersifat Wajib

Kepesertaan wajib dimaksudkan agar seluruh rakyat menjadi peserta hingga dapat terlindungi.Meskipun kepesertaan bersifat wajib bagi seluruh rakyat, penerapannya tetap disesuaikan dengan kemampuan ekonomi rakyat dan Pemerintah serta kelayakan penyelenggaraan program. Tahapan pertama dimulai dari pekerja di sektor formal, bersamaan dengan itu sektor informal dapat menjadi peserta secara sukarela sehingga dapat mencakup petani, nelayan dan mereka yang bekerja secara mandiri, sehingga pada akhirnya Sistem Jaminan Sosial Nasional dapat mencakup seluruh Rakyat.

8) Prinsip Dana Amanat

(30)

9) Prinsip Hasil Pengelolaan Dana Jaminan Sosial Nasional

Hasil berupa deviden dari pemegang saham yang dikembalikan untuk kepentingan peserta jaminan sosial (Undang-Undang No.40 Tahun 2004, Pasal 4).

c. Kelembagaan

Untuk Penyelenggara Sistem Jaminan Sosial Nasional dibentuk Dewan Jaminan Sosial Nasional. Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) bertanggung jawab langsung kepada presiden.DJSN berfungsi merumuskan kebijakan umum dan sinkronisasi penyelenggaraan sistem jaminan sosial nasional. Pembentukan DJSN ditetapkan melalui Peraturan Presiden (PerPres). DJSN beranggotakan 15 orang yang terdiri dari unsur Pemerintah, tokoh dan ahli yang memahami, bidang jaminan sosial, organisasi pemberi kerja dan organisasi pekerja (Undang-Undang No. 40 Tahun 2004, bab IV pasal 6-12).

d. Mekanisme Penyelenggaraan

Dalam melaksanakan sebuah program yang diperuntukkan bagi seluruh masyarakat Indonesia perlu adanya mekanisme yang mengatur penyelenggaraan terkait program. Hal ini diperlukan agar program dapat terselenggara dengan baik. Maka beberapa hal yang diatur antara lain:

1) Kepesertaan dan Iuran

(31)

tidak mampu). Manfaat yang akan diterima adalah untuk pemenuhan kebutuhan dasar hidup yang layak untuk semua program (menanggulangi risiko ekonomi karena sakit, kecelakaan kerja, menjadi tua, pensiun, atau kematian).

Iuran jaminan kesehatan adalah sejumlah uang yang dibayarkan secara teratur oleh peserta, pemberi kerja dan/ atau pemerintah untuk program jaminan kesehatan. Atas dasar iuran yang dibayarkan setiap peserta berhak memperoleh manfaat jaminan kesehatan yang bersifat pelayanan kesehatan perorangan, mencakup pelayanan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif termasuk pelayanan obat dan bahan medis habis pakai sesuai dengan kebutuhan medis yang diperlukan(Kementerian Kesehatan RI, 2013). Iuran dibayar bersama oleh kontribusi pekerja, pemberi kerja, dan pemerintah.Dana merupakan titipan peserta. Bagi orang miskin/tidak mampu mempunyai hak mendapatkan bantuan untuk membayar iuran/premi dan iuran/premi asuransi yang terkumpul merupakan dana bersama bukan lagi milik perseorangan. Jadi tidak bisa diambil kembali meskipun yang bersangkutan belum pernah memanfaatkan (Undang-Undang No. 40 Tahun 2004, bab V pasal 13-17).

2) Lima program jaminan sosial nasional a) Jaminan Kesehatan (JK)

(32)

bagi setiap peserta/rakyat Indonesia agar dapat hidup sehat, produktif, atau sejahtera. Diberikan dalam bentuk pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan medis.

b) Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK)

Suatu program Jaminan Sosial dengan tujuan memberikan kepastian jaminan pelayanan dan santunan apabila tenaga kerja mengalami kecelakaan saat menuju, menunaikan dan selesai menunaikan tugas pekerjaan dan berbagai penyakit yang berhubungan dengan pekerja.

c) Jaminan Hari Tua (JHT)

Merupakan jaminan yang diselenggarakan degan tujuan untuk memberikan bekal kepada peserta ketika memasuki masa purna tugas/pensiun.Tetapi apabila peserta mengalami cacat tetap sehingga tidak mampu bekerja atau meninggal dunia sebelum masa pensiun maka peserta atau ahli warisnya berhak menerima jaminan hari tua yang dibayarkan sekaligus.

d) Jaminan Pensiun (JP)

(33)

e) Jaminan Kematian (JKM)

Merupakan program jaminan/santunan kematian berdasarkan mekanisme asuransi sosial yang dibayarkan kepada keluarga ahli waris yang meninggal dunia (UU No. 40 Tahun 2004, pasal 18).

e. Fungsi dan Tugas BPJS Kesehatan

Menurut UU No.24 tahun 2011 tentang BPJS, BPJS adalah badan hukum publik yang dibentuk untuk menyelenggarakan program jaminan sosial.BPJS menyelenggarakan sistem jaminan sosial nasional berdasarkan asas kemanusiaan, manfaat dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.BPJS bertujuan untuk mewujudkan terselenggaranya pemberian jaminan terpenuhinya kebutuhan dasar hidup yang layak bagi setiap peserta dan/atau anggota keluarganya.

BPJS menyelenggarakan sistem jaminan sosial nasional berdasarkan prinsip kegotongroyongan, nirlaba, keterbukaan, kehati-hatian, akuntabilitas, portabilitas, kepesertaan bersifat wajib, dana amanat, dan hasil pengelolaan dana jaminan sosial dipergunakan seluruhnya untuk pengembangan program dan untuk sebesar-besarnya kepentingan peserta (UU No. 24 tahun 2011).

Tugas BPJS berdasarkan UU No. 24 tahun 2011, yaitu : a. Melakukan dan/atau menerima pendaftaran peserta.

b. Memumungut dan mengumpulkan iuran dari peserta dan pemberi kerja.

(34)

d. Mengelola dana jaminan sosial untuk kepentingan peserta.

e. Mengumpulkan dan mengelola data peserta program jaminan sosial. f. Membayar manfaat dan/atau membiayai pelayanan kesehatan sesuai

dengan ketentuan program jaminan sosial.

g. Memberikan informasi mengenai penyelenggaraan program jaminan sosial kepada peserta dan masyarakat.

Wewenang BPJS sesuai dengan UU No.24 tahun 2011 dalam melaksanakan tugasnya yaitu :

1) Menagih pembayaran iuran.

2) Menempatkan dana jaminan sosial untuk investasi jangka pendek dan jangka panjang dengan pertimbangan aspek likuiditas, solvabilitas, kehati-hatian, keamanan dana, dan hasil yang memadai. 3) Melakukan pengawasan dan pemeriksaan atas kepatuhan peserta dan

pemberi kerja dalam memenuhi kewajibannya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan jaminan sosial nasional. 4) Membuat kesepakatan dengan fasilitas kesehatan mengenai besar

pembayaran fasilitas kesehatan yang mengacu pada standar tarif yang ditetapkan oleh pemerintah.

5) Membuat atau menghentikan kontrak kerja dengan fasilitas kesehatan.

6) Mengenakan sanksi administratif kepada peserta atau pemberi kerja yang tidak memenuhi kewajibannya.

(35)

memenuhi kewajiban lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

8) Melakukan kerja sama dengan pihak lain dalam rangka penyelenggaraan program jaminan sosial.

Hak dan kewajiban BPJS dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya sesuai dengan UU No. 24 tahun 2011, yaitu :

1) Memperoleh dana operasional untuk penyelenggaraan program yang bersumber dari dana jaminan sosial dan/atau sumber lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

2) Memperoleh hasil monitoring dan evaluasi penyelenggaraan program jaminan sosial dari Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) setiap 6 bulan.

3) Memberikan nomor identitas tunggal kepada peserta.

4) Mengembangkan aset dana jaminan sosial dan aset BPJS untuk sebesar besarnya kepentingan peserta.

5) Memberikan informasi melalui media massa cetak dan elektronik mengenai kinerja, kondisi keuanganm serta kekayaan dan hasil pengembangannya.

6) Memberikan manfaat kepada seluruh peserta sesuai dengan UU tentang SJSN.

7) Memberikan informasi kepada peserta mengenai hak dan kewajiban untuk mengikuti ketentuan yang berlaku.

(36)

9) Memberikan informasi kepada peserta mengenai saldo jaminan hari tua dan pengembangan 1 kali dalam 1 tahun.

10) Memberikan informasi kepada peserta mengenai besar hak pensiun 1 kali dalam 1 tahun.

11) Membentuk cadangan teknis sesuai dengan standar praktik aktuaria yang lazim dan berlaku umum.

12) Melakukan pembukuan sesuai dengan standar akuntasi yang berlaku dalam penyelenggaraan jaminan sosial.

13) Melaporkan pelaksanaan setiap program, termasuk kondisi keuangan secara berkala 6 bulan sekali kepada presiden dengan tembusan kepadaDJSN.

2. Petunjuk Teknis Kepesertaan

a. Kelompok Peserta BPJS kesehatan

Kepesertaan BPJS Kesehatan dibagi menjadi dua kelompok, yaitu Peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) dan Peserta Bukan Penerima Bantuan Iuran (Non PBI) (BPJS Kesehatan, 2014).

1) Kepesertaan PBI (PP No.101 Tahun 2012) Kriteria Peserta PBI, antara lain :

a) Peserta PBI Jaminan Kesehatan meliputi orang yang tergolong fakir miskin dan orang tidak mampu.

(37)

c) Kriteria fakir miskin dan orang tidak mampu sebagaimana dimaksud menjadi dasar bagi lembaga yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang statistik untuk melakukan pendataan.

d) Data fakir miskin dan orang tidak mampu yang telah diverifikasi dan divalidasi sebagaimana dimaksud, sebelum ditetapkan sebagai data terpadu oleh menteri di bidang sosial, dikoordinasikan terlebih dahulu dengan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang keuangan dan menteri dan/atau pimpinan lembaga terkait.

e) Data terpadu yang ditetapkan oleh menteri dirinci menurut provinsi dan kabupaten/kota.

f) Data terpadu sebagaimana dimaksud menjadi dasar bagi penentuan jumlah nasional PBI Jaminan Kesehatan.

g) Data terpadu sebagaimana dimaksud, disampaikan oleh Menteri di bidang sosial kepada menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kesehatan dan DJSN.

h) Menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kesehatan mendaftarkan jumlah nasional PBI Jaminan Kesehatan yang telah ditetapkan sebagaimana dimaksud sebagai peserta program Jaminan Kesehatan kepada BPJS Kesehatan.

(38)

j) Jumlah peserta PBI Jaminan Kesehatan yang didaftarkan ke BPJS Kesehatan sejumlah 86,4 juta jiwa.

2)Peserta Bukan Penerima Bantuan Iuran (Non PBI)

Peserta bukan PBI Jaminan Kesehatan sebagaimana yang dimaksud merupakan peserta yang tidak tergolong fakir miskin dan orang tidak mampu yang terdiri atas (Perpres No 12 Tahun 2013), yaitu terbagi menjadi 3 :

a) Pekerja Penerima Upah (PPU) dan anggota keluarganya, terdiri atas:

(1) Pegawai Negeri Sipil (PNS); (2) Anggota TNI;

(3) Anggota polri; (4) Pejabat negara;

(5) Pegawai pemerintah non pegawai negeri;

(6) Pegawai swasta; dan Pekerja yang tidak termasuk angka sampai dengan angka 6 yang menerima upah.

b) Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) dan anggota keluarganya, terdiri atas pekerja di luar hubungan kerja dan pekerja mandiri.

c) Bukan pekerja dan anggota keluarganya, terdiri atas : (1) Investor;

(39)

(5) Perintis kemerdekaan; dan

(6) Bukan pekerja yang tidak termasuk angka 1 sampai dengan angka 5 yang mampu membayar iuran.

b. Iuran

Iuran yang harus dibayarkan oleh peserta BPJS kesehatan antara lain (Perpres No.111 Tahun 2013 tentang perubahan atas Perpres No.12 Tahun 2013 tentang jaminan kesehatan) :

1)Iuran jaminan kesehatan bagi peserta PBI dibayar oleh pemerintah. Iuran jaminan kesehatan bagi penduduk yang didaftarkan oleh pemerintah daerah dibayar oleh pemerintah daerah.

2)Iuran bagi peserta Bukan Penerima Bantuan Iuran (Non PBI), Iuran jaminan kesehatan bagi peserta PPU dibayar oleh pemberi kerja dan pekerja, iuran jaminan kesehatan bagi peserta PBPU dan bukan pekerja dibayar oleh peserta yang bersangkutan, dengan rincian: a) Iuran bagi Peserta PPU yang bekerja pada lembagapemerintahan

terdiri dari PNS, anggota TNI, anggota polri, pejabat negara, dan pegawai pemerintah non pegawai negeri sebesar 5% dari gaji atau upah per bulan dengan ketentuan : 3% dibayar oleh pemberi kerja dan 2% dibayar oleh peserta.

b) Iuran bagi PPU yang bekerja di BUMN, BUMD dan Swasta sebesar 4,5% dari gaji atau upah per bulan dengan ketentuan : 4% dibayar oleh pemberi kerja dan 0,5% dibayar oleh peserta.

(40)

sebesar 1% dari gaji atau upah per orang per bulan, dibayar oleh PPU.

d) Iuran bagi kerabat lain dari PPU (seperti saudara kandung/ipar, asisten rumah tangga, dll); peserta PBPU serta iuran peserta bukan pekerja adalah sebesar: (1) Sebesar Rp.25.500,- per orang per bulan dengan manfaat pelayanan di ruang perawatan kelas III; (2) Sebesar Rp.42.500,- per orang per bulan dengan manfaat pelayanan di ruang perawatan kelas II; (3) Sebesar Rp.59.500,- per orang per bulan dengan manfaat pelayanan diruang perawatan kelas I.

e) Iuran jaminan kesehatan bagi veteran, perintis kemerdekaan, dan janda, duda, atau anak yatim piatu dari veteran atau perintis kemerdekaan, iurannya ditetapkan sebesar 5% dari 45% gaji pokok PNS golongan ruang III/a dengan masa kerja 14 tahun per bulan, dibayar oleh pemerintah.

f) Pembayaran iuran paling lambat tanggal 10 (sepuluh) setiap bulan.

3. Premi Asuransi Kesehatan

(41)

Untuk menentukan tarif premi yang menjamin keberlangsungan pelayanan atau penggantian kerugian, lembaga asuransi harus memperhatikan prinsip-prinsip berikut (Ilyas, 2005) :

a. Kecukupan (adequacy) artinya tarif premi cukup untuk menutupi manfaat serta biaya-biaya akuisisi, administrasi, dan pajak. Dengan perkataan lain rate premi harus melebihi perkiraan biaya klaim (expected claim cost) agar menguntungkan asuradur.

b. Kewajaran (reasonnableness) artinya tarif premi harus sesuai atau seimbang dengan manfaat yang dijanjikan, artinya bagian tertentu dari tarif premi dikembalikan kepada pemegang polis dalam bentuk kompensasi pembayaran benefits. Jika porsi dari premi terlalu banyak digunakan untuk biaya dan keuntungan, maka premi tidak lagi masuk akal.

c. Keadilan (equity) artinya harus ada keadilan dalam penetapan besaran premi, dan tidak ada diskriminasi. Tertanggung yang memiliki tingkat risiko besar harus membayar premi lebih besar. Dalam asuransi sosial hal ini tidak terlalu perlu dilakukan karena besarnya pooling, sehingga distribusi risiko dan subsidi antar anggota berlangsung lebih baik. d. Fleksibel, artinya tarif premi harus bisa disesuaikan dengan keadaan. e. Persaingan (competitiveness) artinya tarif premi harus mampu

(42)

Selain memperhatikan prinsip-prinsip diatas asuradur dalam menetapkan tarif premi harus memperhatikan faktor-faktor yang dapat berpengaruh yaitu (Ilyas, 2005) :

a. Ruang lingkup manfaat asuransi yang spesifik mempunyai dampak yang dramatis terhadap utilisasi pelayanan kesehatan.

b. Distribusi umur dan jenis kelamin. Telaah utilisasi di banyak perusahaan asuransi menunjukkan bahwa terdapat perbedaan besaran klaim pada kelompok umur dan jenis kelamin. Umur di atas 50 tahun cenderung sakit-sakitan, sedangkan kelompok wanita cenderung lebih sering memanfaatkan pelayanan.

c. Tingkat pendapatan dan pekerjaan. Biaya klaim untuk kesehatan gigi cenderung lebih tinggi pada orang yang berpendapatan tinggi. Orang dengan pekerjaan yang berisiko tinggi merupakan faktor kunci di dalam asuransi longtermdisability.

d. Lokasi geografi. Tarif untuk pelayanan kesehatan biasanya sangat bervariasi tergantung letak daerahnya. Variasi di dalam klaim ditentukan oleh perbedaan tingkat biaya hidup, ketersediaan PPK, dan perilaku umum masyarakat tertanggung.

e. Tingkat partisipasi kelompok. Pada asuransi sosial hal ini tidak menjadi masalah karena pesertanya diwajibkan untuk ikut asuransi. Tingkat partisipasi yang rendah memicu terjadinya antiseleksi.

(43)

g. Lama berlakunya besaran premi. Pada umumnya premi diberlakukan selama satu tahun, jika diberlakukan untuk beberapa tahun maka premi tersebut biasanya lebih mahal dari premi yang berlaku untuk masa asuransi satu tahun.

h. Ability to pay (ATP) atau kemampuan membayar dan willingness to pay (WTP) atau kemauan membayar masyarakat calon peserta akan mempengaruhi besaran premi. Harga premi yang terlalu mahal dengan ATP dan WTP yang kurang baik akan mempersulit upaya pemasaran. Pada asuransi sosial dimana tarif premi ditentukan dengan campur tangan pemerintah dan memungkinkan ditetapkannya sumber pembiayaan yang juga berasal dari subsidi pengukuran ATP dan WTP menjadi cukup penting.

i. Kebijakan pemerintah, khususnya dalam penyelenggaraan asuransi sosial. Dalam UU SJSN pasal 13, 14, dan 17 disebutkan bahwa seluruh penduduk Indonesia diwajibkan menjadi peserta jaminan sosial dan membayar premi berdasarkan proporsi pendapatannya, kecuali untuk fakir miskin yang preminya wajib disubsidi oleh pemerintah.

4. Pekerja Sektor Informal

(44)

mempunyai aturan-aturan budaya sendiri, hukum dan kecakapan terapan tradisional, nilai dan pola sosial, cara-cara bertansaksi dan berproduksi, sistem hubungan sosial dan kontrol sosialnya sendiri (Suradi, 2011). Munkner dan Walter (2001) dalam Suradi (2011) sektor informal, yaitu : mudah dimasuki, ketergantungan pada sumber daya asli, modal yang diperoleh secara lokal dan sedikit, kepemilikan bersifat kekeluargaan, operasi skala kecil, kurang perencanaan, padat karya dan teknologi yang diadaptasikan, produktivitas relatif rendah, biaya produksi pasokan, produksi, harga dan kesesuaian anggaran pendanaan. Kemudian keterampilan diperoleh dari sistem pendidikan nonformal, tetapi biasanya melalui magang atau pelatihan singkat, pasar yang bebas regulasi dan kompetitif atau mudah berubah.

Dikemukakan lebih lanjut oleh Munkner dan Walter (2001)dalam Suradi (2011), bidang usaha yang dapat kelompokkan ke dalam sektor informal, yaitu :

a. Bisnis informal yang berorientasi subsistensi. Ciri-cirinya adalah hambatan untuk masuk ke usaha ini rendah, kebutuhan modal kecil, teknik-teknik yang digunakan usaha yang berorientasi substensi ini seperti, pedagang kecil, kantin, alat transportasi manual dan kereta dorong.

(45)

pembangunan ini, seperti tukang kayu, bengkel, las, reparasi, pengolahan produk pertanian (pengalengan buah, produksi minyak kelapa, penderes kelapa, keset dll).

Petani penderes gula kelapa merupakan kelompok pekerja informal yang tidak memiliki penghasilan yang tetap setiap bulannya, selain itu juga memiliki risiko untuk terkena kejadian sakit, dan bukan merupakan sasaran program pemerintah serta memiliki persentase yang cukup besar. Risiko kerja bagi pekerja penderes gula kelapa antara lain kecelakaan kerja yang menimbulkan kecacatan ringan, sedang, dan berat maupun hingga menyebabkan kematian (Diperindakop, 2014).

5. Kemampuan Membayar / Ability To Pay (ATP)

Menurut Depkes RI (2004) kemampuan membayar kesehatan (Ability To Pay) atau dikenal dengan ATP, yaitu besarnya dana yang sebenarnya dapat dialokasikan untuk membiayai kesehatan yang bersangkutan. Nilai ini merupakan ATP per kapita penduduk, sehingga tidak langsung identik dengan WTP (Willingness To Pay) yang berdasarkan rumah tangga. Dua batasan ATP yang dapat digunakan sebagai berikut :

a. ATP 1 adalah besarnya kemampuan membayar yang setara dengan 5 % dari pengeluaran non makanan. Batasan ini didasarkan bahwa pengeluaran untuk non makanan dapat diarahkan untuk keperluan lain, termasuk untuk kesehatan.

(46)

pesta/upacara. Batasan ini didasarkan kepada pengeluaran yang sebenarnya dapat digunakan secara lebih efesien dan efektif untuk kesehatan. Misalnya dengan mengurangi pengeluaran alkohol /tembakau /sirih untuk kesehatan (Depkes RI, 2004).

Pendekatan yang digunakan dalam analisis ATP didasarkan pada alokasi biaya untuk pemenuhan terhadap kebutuhan sehari-hari dari pendapatan rutin.Dalam konsep ATP, besar kemampuan membayar untuk pelayanan kesehatan adalah jumlah pengeluaran untuk barang non esensial tersebut.Asumsinya adalah kalau seseorang mampu mengeluarkan belanja untuk barang non esensial maka tentu orang tersebut juga mampu mengeluarkan biaya untuk pelayanan kesehatan yang sifatnya esensial (Adisasmita, 2008).

Mukti (2002), menjelaskan bahwa untuk mengetahui kemampuan membayar masyarakat dapat dilihat dari sisi pengeluaran untuk keperluan yang bersifat tersier seperti pengeluaran rekreasi, sumbangan kegiatan sosial, dan biaya rokok.Kemampuan masyarakat membayar biaya pelayanan kesehatan dapat dilihat dari pengeluaran tersier non pangan (Gani, 1997).

(47)

Kemampuan untuk membayar berhubungan dengan tingkat pendapatan dan biaya jasa pelayanan lain yang dibutuhkan masyarakat untuk hidup.

Menurut Gani (1997), perhitungan mengenai kemampuan membayar pelayan kesehatan terdiri atas:

a. 5% pengeluaran rumah tangga non makanan, yaitu perumahan dan bahan bakar, aneka barang dan jasa, biaya pendidikan, pakaian, bahan tahan lama, pajak dan asuransi, keperluan pesta dan upacara adat, dan biaya kesehatan.

b. Pengeluaran untuk keperluan non esensial yaitu:

1) Keperluan non esensial pertama (ATP1) seperti rokok dan kosmetik. 2) ATP1 dengan keperluan pesta dan upacara (ATP2).

Asumsinya adalah kalau seseorang mampu mengeluarkan biaya untuk barang-barang non essensial tentu ia mampu mengeluarkan biaya untuk pelayanan kesehatan yang sifatnya essensial.

(48)

kesehatan diperoleh dari selisih antara total pendapatan dan pengeluaran keluarga.

Thabrany (2009), mengatakan bahwa ATP seseorang mungkin dapat lebih besar dari tarif pelayanan tetapi belum tentu lebih besar dari biaya kesehatan yang harus dikeluarkan ketika orang tersebut menderita sakit.Depkes (2000), menjelaskan bahwa untuk menghitung kemampuan membayar (Ability To Pay) kesehatan ada dua batasan yang dapat digunakan. Langkah-langkah perhitungan ATP dengan menggunakan batasan ATP 1 yakni 5% dari total pengeluaran non makanan adalah sebagai berikut:

a. Menggambarkan jenis-jenis pengeluaran RT dalam sebulan. b. Memilih jenis pengeluaran non makanan RT dalam sebulan c. Menghitung total pengeluaran non makanan RT per-bulan. d. Menghitung ATP = 5% x total pengeluaran non makanan.

Langkah-langkah perhitungan ATP dengan menggunakan batasan ATP 2 yakni setara dengan jumlah pengeluaran untuk konsumsi alkohol + tembakau, sirih + pesta/ upacara adalah sebagai berikut:

a. Menggambarkan jenis-jenis pengeluaran RT dalam sebulan.

b. Memilih jenis pengeluaran untuk konsumsi alkohol + tembakau, sirih + pesta/ upacara RT dalam sebulan.

c. Menghitung total pengeluaran untuk konsumsi alkohol + tembakau, sirih + pesta/ upacara RT per-bulan.

(49)

6. Kemauan Membayar / Willingness to pay (WTP)

Menurut Depkes RI (2004) Willingness to pay (WTP) adalah besarnya dana yang mau dibayarkan keluarga untuk kesehatan. Sedangkan Mukti (2002), berpendapat kamauan membayar dapat dilihat dari pengeluaran sebenarnya yang selama ini telah dibelanjakan untuk keperluan kesehatan. Foreit dan Foreit (2002), dalam Supriyanto (2009) mengatakan bahwa WTP juga disebut sebagai Contingent Valuation Method (CVM) yaitu suatu teknik survei yang didesain untuk menguji hubungan antara harga dan demand dengan menanyakan kepada klien apakah mereka mau membayar untuk sebuah barang atau jasa.

Menurut Hanley dan Spash (1993) metode CVM adalah caraperhitungan secara langsung, dalam hal ini langsung ditanyakan kesedian klien/masyarakat untuk membayar (WTP) yang menitik beratkan pada preferensi masing-masing individu menilai benda publik yang ditekankan pada nilai uang. Salah satu cara mendapatkan nilai WTP diperoleh dengan menggunakan metode pertanyaan langsung (direct question method). Metode ini digunakan dengan cara memberikan pertanyaan langsung berapa harga yang sanggup dibayarkan oleh masyakarat untuk dapat memanfaatkan barang atau jasa yang ditawarkan. Metode ini juga disebut open ended questions (pertanyaan terbuka), artinya setiap masyarakat ditanyakan maksimum WTP yang bersedia dibayarkan tanpa memberikan nilai tawaran.

(50)

a. Metode pertanyaan langsung (direct question method)

Digunakan dengan cara memberikan pertanyaan langsung berapa harga yang sanggup dibayar oleh responden.

b. Metode penawaran bertingkat (bidding game method)

Pewawancara telah menetapkan semua harga yang kemudian ditanyakan kepada responden apakah tawaran harga tersebut layak atau

tidak.Jika responden menjawab “ya” maka harga dinaikkan terus hingga

responden menjawab “tidak”. Angka terakhir yang dicapai tersebut

merupakan nilai WTP tertinggi. Jika responden menjawab “tidak”

untuk harga pertama yang ditawarkan, maka harga diturunkan hingga

responden menjawab “ya”. Angka terakhir dianggap sebagai nilai WTP

terendah.

Prosedur penetapan metode CVM untuk mengidentifikasi WTP seseorang yaitu sebagai berikut: anggap saja bahwa kita mempunyai N responden yang akan dilakukan penelitian untuk mengidentifikasi WTP, sebelumnya kita menetapkan nilai penawaran pertama (Starting bid), jika responden menyatakan “ya” untuk nilai penawaran pertama maka penawaran dinaikkan (Bhi) sampai responden

sepakat, jika responden mengatakan “tidak” maka penawaran

diturunkan (Bli) hingga sepakat (Asfawa and Braun, 2004). WTP tertinggi merupakan angka penawaran tertinggi yang dicapai saat

penawaran pertama diterima sampai responden menjawab “tidak” untuk

(51)

yang diterima oleh responden saat penawaran pertama ditolak dan diturunkan sampai menjawab “ya” (Dewi, 2007).

c. Metode kartu pembayaran (payment card method)

Digunakan dengan bantuan kartu yang berisi daftar harga yang dimulai dari nol sampai pada suatu harga tertentu yang relatif tinggi, kemudian kepada responden ditanyakan harga maksimum yang sanggup untuk dibayar.

d. Metode setuju atau tidak setuju (take it or leave it method)

Dalam metode ini, responden ditawarkan sebuah harga, kemudian

ditanya apakah “setuju” atau “tidak” dengan harga yang ditawarkan

tersebut.

Menurut Handayani dan Gondodiputro (2012), beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk menilai WTP jaminan kesehatan antara lain: a. Riwayat penyakit

1) Penyakit kronis

Penyakit kronis adalah penyakit yang membutuhkan waktu yang cukup lama, tidak terjadi secara tiba-tiba atau spontan, dan biasanya tidak dapat di sembuhkan dengan sempurna (Adelman & Daly, 2001). Suatu penyakit dianggap sebagai penyakit kronis bila penderitanya mengindikasikan gangguan yang pertama kali disadari lebih dari 3 bulan yang lalu dari hari pemeriksaan serta jika jenis kondisi tersebut biasanya memiliki durasi lebih dari 3 bulan.

(52)

etiologi. Berikut ini adalah daftar jenis penyakit kronis yang sering terjadi di jaman modern ini yang sebagian besar menyerang mereka yang berusia diatas 65 tahun, yaitu a)Penyakit Alzheimer, b)Aritmia, c)Ateroskelosis, d)Kanker, e)Penyakit Kardiovaskular, f)Gagal jantung kongestif, g)Penyakit arteri koroner, h)Depresi, i)Dabetes, j)Glukoma, k)Gout, l)Serangan Jantung, m)Osteoartritis, n)Osteoporosis, o)Penyakit Parkinson, p)Penyakit pembuluh darah tepi, q)Artritis rematoid, dan r)Stroke (cedera vaskular serebral). (Christianson, 1998).

Menurut Binam et al (2002) status kesehatan berupa riwayat penyakit kronis pada anggota rumah tangga mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap WTP. Ketika seseorang tidak mengalami sakit maka tidak akan berfikir untuk mengikuti jaminan kesehatan, berbeda halnya dengan dengan seseorang yang sudah mempunyai riwayat penyakit khususnya penyakit kronis yang memiliki pemikiran untuk mulai menabung uangnya untuk kesehatan karena didukung dengan pembiayaan kesehatan yang cukup tinggi pada penyakit kronis (Isnawati, 2012).

2)Penyakit akut

(53)

pengaruh yang signifikan terhadap WTP kaitannya dengan adverse selection dalam menentukan keikutsertaan jaminan kesehatan (Binam et al (2002). Hal ini sesuai dengan penelitian isnawati (2012) bahwa ketika seseorang mengalami sakit dan memerlukan dana yang cukup tinggi untuk biaya pelayanan kesehatan yang memiliki pemikiran untuk mulai menabung uangnya untuk kesehatan karena didukung dengan pembiayaan kesehatan yang cukup tinggi sehingga mendorong seseorang untuk memiliki jaminan kesehatan.

b. Umur

Bahwa semakin bertambah usia semakin besar WTP untuk asuransi kesehatan, karena risiko sakit yang semakin besar.

c. Tingkat pendidikan

Tingkat pendidikan memengaruhi persepsi risiko, derajat keengganan menerima risiko dan persepsi terhadap besarnya kerugian.Semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin bertambah pengetahuan dan kebutuhannya terhadap pelayanan kesehatan, yang selanjutnya meningkatkan WTP untuk asuransi kesehatan.

d. Jumlah anggota keluarga

Jumlah anggota keluarga memengaruhi persepsi kepala keluarga terhadap risiko dan persepsi terhadap besarnya kerugian. Semakin banyak jumlah anggota keluarga, semakin besar risiko sakit, dan semakin besar kerugian finansial yang akan dialami.

(54)

Menurut Hadi (2008) kondisi hubungan antara tarif resmi pelayanan kesehatan yang berlaku dengan menyertakan fakor – faktor ATP dan biaya operasional.

a. Tarif lebih kecil dari ATP

Apabila terjadi kondisi ini maka kemampuan masyarakat sangat baik, karena tarif yang diberlakukan ternyata lebih kecil dari daya beli masyarakat. Pada kondisi ini masyarakat mampu membeli jasa dan barang yang ditawarkan tanpa memikirkan untuk mencari alternatif lain.

b. Tarif hampir sama dengan ATP

Pada kondisi ini pemakai jasa berkemampuan hampir sama dengan tarif yang diberlakukan, tidak semua masyarakat mampu membeli jasa dana barang tersebut, ada kemungkinan sebagian masyarakat yang menggunakan alternatif lainnya.

c. Tarif lebih besar dari ATP

Apabila terjadi kondisi seperti ini maka kemampuan dari masyarakat sangat jelek, karena tarif yang diberlakukan ternyata lebih besar dari daya beli masyarakat, maka sebagian besar masyarakat tidak mampu membeli.Pelaksanaan untuk menentukan tarif sering terjadi benturan antara besarnya WTP dan ATP (Depkes RI, 2004).

d. ATP lebih besar dari WTP

(55)

tersebut relatif rendah, pengguna pada kondisi ini disebut choiced riders.

e.ATP lebih kecil dari WTP

Kondisi ini merupakan kebalikan dari kondisi diatas, dimana keinginan pengguna untuk membayar jasa tersebut lebih besar dari pada kemampuan membayarnya. Hal ini memungkinkan terjadi bagi pengguna yang mempunyai penghasilan yang relatif rendah tetapi utilitas terhadap jasa tersebut sangat tinggi, sehingga keinginan pengguna untuk membayar jasa tersebut cenderung lebih dipengaruhi oleh manfaat, pada kondisi ini pengguna disebut captive riders.

f.ATP sama dengan WTP

Kondisi ini menunjukan bahwa antara kemampuan dan keinginan membayar jasa yang dikonsumsi pengguna tersebut sama, pada kondisi ini terjadi keseimbangan manfaat pengguna dengan biaya yang dikeluarkan untuk membayar jasa tersebut.

Pada prinsipnya penentuan tarif dapat ditinjau dari beberapa aspek utama dalam sistem pelayanan kesehatan. Aspek-aspek tersebut adalah:

a. Pengguna (User)

b. Operator (Pelayanan Kesehatan) c. Pemerintah (Regulator)

(56)

1)WTP merupakan fungsi dari tingkat pelayanan kesehatan, sehingga bila nilai WTP masih berada dibawah ATP maka masih dimungkinkan melakukan peningkatan nilai tarif dengan perbaikan kinerja pelayanan.

(57)

1. Langsung (Revealed WTP) -hedonic princing

- Travel cost

-random utility model

2. Tidak langsung (expressed WTP)

-discrete coise model - contingent choise

-contingent valuation method: - metode pertanyaan langsung -metode penawaran bertingkat -metode kartu pembayaran

B. Kerangka Teori

Gambar 2.1 Kerangka Teori Ability To Pay dan Willingness To Pay WTP

ATP

1. Langsung

- Tingkat

Penghasilan 2. Tidak Langsung

- Survei Konsumsi

(Pangan Dan Non Pangan)

PREMI BPJS ESEHATAN

Faktor-faktor yang mempengaruhi ATP dan WTP:

1. Umur

2. Jumlah anggota keluarga 3. Tingkat pendidikan

(58)

A. Kerangka Konsep

Gambar 3.1 Kerangka Konsep

B. Variabel Penelitian

a. Karakteristik responden seperti umur, tingkat pendidikan, jumlah anggota keluarga dan status kesehatan (riwayat penyakit kronis dan akut) pada pekerja sektor informal (Penderes gula kelapa) di Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas.

ATP pekerja sektor informal terhadap premi BPJS Kesehatan di Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas. Perhitungan ATP dengan pendekatan tidak langsung:

ATP 1 = disposable income x 5% ATP 2 = total pengeluaran untuk

konsumsi alkohol + tembakau, sirih + pesta/ upacara.

WTP Pekerja Sektor Informal (Penderes gula kelapa) terhadap premi BPJS Kesehatan di Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas. Perhitungan WTP dengan pendekatan tidak langsung:

Menggunakan metode Contingent Valuation Method (CVM) dengan penawaran bertingkat (bidding game method)

Karakteristik Responden

- Umur

- Tingkat pendidikan - Jumlah anggota keluarga - Status kesehatan (Penyakit

Kronis)

(59)

b. ATP pekerja sektor informal (Penderes gula kelapa) terhadap premi BPJS Kesehatan di Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas.

c. WTP pekerja sektor informal (penderes gula kelapa) terhadap premi BPJS kesehatan di kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas.

C. Definisi Operasional

Tabel 3.1 Definisi Operasional

No Variabel Definisi Operasional Alat pengukuran

Kategori Ukuran Skala

(60)

No Variabel Definisi Operasional Alat pengukuran

Kategori Ukuran Skala

(muncul lebih dari 3 ada tidaknya anggota keluarga yang mengalami penyakit

akut yang

(61)

No. Variabel Definisi Operasional Alat pengukuran

Kategori Ukuran Skala

(62)

No. Variabel Definisi Operasional Alat kesehatan yang telah ditentukan dengan tidak. Jika responden menjawab “ya” maka harga dinaikkan terus hingga responden WTP dan ATP dilihat dari nilai WTP dan ATP yang sama.

Kuesioner WTP

- Rupiah Nominal

D. Jenis Dan Metode Penelitian

(63)

(penderes gula kelapa) terhadap premi BPJS Kesehatan di Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas. Menurut Notoatmodjo (2010) penelitian deskriptif adalah penelitian yang dilakukan terhadap sekumpulan objek yang bertujuan untuk melihat gambaran fenomena (termasuk kesehatan) yang terjadi di dalam suatu populasi tertentu. Penelitian yang dilakukan menggunakan metode survei dengan desain penelitian cross sectional karena subyek penelitian hanya diobservasi satu kali pada waktu atau saat tertentu.

E. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas.

F. Populasi Dan Sampel

1. Populasi

Notoatmodjo (2005) menyebutkan populasi adalah keseluruhan obyek penelitian atau obyek yang diteliti. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruhpenderes gula kelapa yang ada di Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas Jawa Tengah yaitu sebanyak 6.512 pekerja penderes. Responden dalam penelitian ini adalah kepala rumah tangga, jika kepala rumah tangga berhalangan digantikan dengan pasangan kepala rumah tangga.

2. Sampel

(64)

Sampel pada penelitian ini adalah sebagian pekerja penderes gula kelapa yang terdaftar dalam Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Kabupaten Banyumas. Penentuan besar sampel menurut (Arikunto, 2010):

n = z2.N.p.q d2.(N-1)+ z2.p.q Keterangan :

n = besar sampel minimal N = jumlah populasi studi

p = proporsi target adalah 50% = 0,5 q = proporsi atribut 1-p = 0,5

Z = standar deviasi normal untuk 1,96 dengan CI 90% d = derajat ketepatan yang digunakan adalah 92% atau 0,08 Diketahui bahwa nilai p = 0,5; nilai z = 1,96; nilai d = 0,08 dan nilai N = 6512. Perhitungan besar sampel untuk pekerja penderes gula kelapa:

n = (1,96)2 . 6512.( 0,5).(0,5) (0,1)2 . (6512-1) + (1,96)2. (0,5). (0,5) n = 6254,1248

66,0704

n = 94, 6585 dibulatkan menjadi 95 sampel.

(65)

dari jumlah sampel (Glenn, 1992). Sehingga total sampel sebesar 105 keluarga penderes gula kelapa yang tersebar di 3 (tiga) Desa yang terpilih secara cluster sampling yaitu teknik penentuan sampel bila obyek yang diteliti atau sumber data sangat luas (Sugiyono, 2011). Sampel 3 desa yang terpilih antara lain Desa Pageraji, Langgongsari dan Rancamaya. Teknik pengambilan sampel pada setiap desa yang telah terpilih kemudian menggunakan Simple random sampling yaitu pengambilan anggota sampel dari populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam popuasi itu (Sugiyono, 2011). Untuk mendapatan sampel sesuai dengan jumlah diatas sampel diambil menggunakan beberapa syarat inklusi yaitu sebagai berikut:

a. Kepala keluarga yang bekerja sebagai penderes gula kelapa yang tidak ikut dalam kepesertaan BPJS kesehatan dan kartu banyumas sehat di Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas.

b. Berdomisili dalam wilayah Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas.

c. Responden merupakan kepala rumah tangga atau pasangan kepala rumah tangga.

d. Bersedia menjadi responden.

(66)

didalam data tidak memiliki BPJS/KBS ternyata kenyataannya sudah memiliki) sehingga peneliti mengunjungi membuang responden tersebut dan merandom kembali sebagai gantinya. Secara keseluruhan peneliti telah mengunjungi secara acak 567 responden untuk 105, 462 calon responden diantaranya tidak lolos kriteria.

Adapun pembagian sampel di tiap-tiap Desa dengan menggunakan tabel angka random menurut (Nasir, 1985) diperoleh hasil sebagai berikut:

Tabel 3.1 Pembagian Sampel di Tiap-Tiap Desa

No. Desa Jumlah Sampel

1. Pageraji 60

2. Langgongsari 25

3. Rancamaya 20

Total 105

G. Sumber Data

1. Data primer

Gambar

Gambar 2.1 Kerangka Teori Ability To Pay dan Willingness To Pay Sumber : Modifikasi Depkes (2004) dan Fauzi (2004) dalam Erdiatri (2014)
Gambar 3.1 Kerangka Konsep
Tabel 3.1 Definisi Operasional No
Tabel 3.1 Pembagian Sampel di Tiap-Tiap Desa No. Desa Jumlah Sampel
+7

Referensi

Dokumen terkait

PPAT juga berperan besar dalam meningkatkan sumber penerimaan negara dari pajak, karena mereka ditugaskan untuk memeriksa telah dibayarnya Pajak Penghasilan (PPh) dari

NAMA &amp; NOMOR VIRTUAL ACCOUNT.. JEMAAT GBI

Pengendalian mutu non-numerical merupakan pemeriksaan sistem mutu secara menyeluruh. Adaun penerapan pengendalian mutu non-numerical melalui pendekatan a hazard

Rele proteksi tipe konvensional ada dua jenis, yaitu tipe elektromagnetik dan tipe statis, rele tipe elektromagnetik memiliki beberapa kekurangan diantaranya penambahan

Metode TOPSIS ini dipilih karena metode ini menentukan nilai bobot untuk setiap atribut, kemudian dilanjutkan dengan proses perankingan yang akan menyeleksi alternatif

Proses leveling sumber daya mangakibatkan waktu pelaksanaan proyek yang mundur dari sebelum proses leveling, yaitu sampai minggu ke-12 tanggal 19 September 2009

Penentuan probabilitas durasi aktivitas menggunakan central limit theorem, yakni suatu teori matematis yang menggabungkan aktivitas PERT dengan salah satu continous

Hasil penelitian untuk diagram network dalam penginstalasian tata udara akan diketahui logika ketergantungan antara elemen-elemen atau kegiatan-kegiatan yang mendukung