• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penerapan Model Discovery Learning pada

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Penerapan Model Discovery Learning pada"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

ARTIKEL

OLEH

MUSTIKA PERDANA PUTRI NIM 110151411527

UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

JURUSAN KEPENDIDIKAN SEKOLAH DASAR DAN PRASEKOLAH PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

(2)

PENERAPAN MODEL DISCOVERY LEARNING PADA PEMBELAJARAN ORGAN TUBUH MANUSIA DAN HEWAN

Mustika Perdana Putri 1Widayati

2Rochani

KSDP/ FIP Universitas Negeri Malang E-mail: [email protected]

ABSTRACT: The result of observation at VA grade SDN Karangtengah 1 Blitar showed that studying activity still using conventional method and just some students that actively participated. This research using descriptive qualitative approach. Procedure for collecting data is using observation, interview, questionnaire, and documentation research. The research outcomes shows that: (1) RPP that using discovery learning model have best desain with average result 90%, (2) implementation of discovery learning model done suitably with model’s step with average result 84%, (3) student activity about discovery learning model’s step have average result 63%, (4) studying with discovery learning model can increase student’s learning outcomes.

Keywords: discovery learning, implementation, learning

Pendidikan merupakan pilar yang paling penting dalam menentukan masa depan sebuah bangsa. Hal ini disebabkan karena keberhasilan sebuah bangsa dalam membangun dan membentuk suatu pemerintahan yang dapat

mensejahterakan rakyatnya berawal dari pendidikan masing-masing anggota yang berkecimpung dalam pemerintahan itu sendiri. Pelaksanaan pendidikan dapat dikatakan berhasil apabila dapat membentuk pribadi yang memiliki moral dan kepribadian luhur, cerdas, serta memiliki karakter yang sesuai dengan Pancasila.

Pelaksanaan pendidikan di Indonesia pada saat ini didasarkan pada UUD 1945, Pancasila, dan Kurikulum 2013. “Kurikulum 2013 memiliki tiga aspek penilaian, yaitu aspek sikap (afektif), aspek pengetahuan (kognitif), dan aspek ketrampilan (psikomotor)” (Wikipedia, 2013).

Model yang dapat diterapkan untuk memaksimalkan pemahaman siswa terhadap suatu materi pada pelaksanaan kurikulum 2013 ini salah satunya adalah model discovery learning dalam kegiatan pembelajaran yang berpusat pada kegiatan menemukan pengetahuan. Penemuan (discovery) merupakan suatu model pembelajaran yang dikembangkan berdasarkan pandangan konstruktivisme (constructivist theories of learning) yang menyatakan bahwa siswa harus

1

(3)

menemukan dan membangun pengetahuan sendiri. Model ini menekankan

pentingnya pemahaman struktur atau ide-ide penting terhadap suatu disiplin ilmu, melalui keterlibatan siswa ssecara aktif dalam proses pembelajaran. Agustian (2012) memberikan deskripsi sebagai berikut.

Discovery learning adalah suatu model untuk mengembangkan cara belajar siswa aktif dengan menemukan sendiri, menyelidiki sendiri, maka hasil yang diperoleh akan setia dan tahan lama dalam ingatan, tidak akan mudah dilupakan siswa. Dengan belajar penemuan, anak juga bisa belajar berfikir analisis dan mencoba memecahkan sendiri problem yang dihadapi.

Observasi yang dilakukan pada tanggal 4-5 November 2014 di SDN Karangtengah 1 Blitar, mendapatkan hasil: 1) kegiatan pembelajaran di kelas VA menggunakan metode ceramah, tanya jawab, dan diskusi, 2) keaktifan siswa sebatas pada kegiatan membaca teks pada buku LKS yang telah dibagikan sekolah serta kegiatan tanya jawab yang dilakukan dengan guru, sehingga kegiatan

pembelajaran terkesan monoton dan kurang bervariasi, 3) mayoritas siswa

menyatakan bahwa mereka kurang memahami isi teks pada buku LKS, sementara tujuan akhir dari membaca adalah untuk memahami isi bacaan, 4) hanya 6 siswa yang aktif dalam kegiatan tanya jawab sedangkan yang lain hanya menjadi pendengar. Selain itu, hasil wawancara dengan guru menunjukkan bahwa guru jarang menggunakan model pembelajaran. Beberapa model pembelajaran yang pernah digunakan adalah model pembelajaran STAD, jigsaw, dan talking stick.

Fakta di atas tentunya bertolak belakang dengan prinsip dan ciri-ciri kurikulum 2013 yang mana seharusnya pembelajaran menggunakan pendekatan

scientific serta menggunakan konsep contextual learning. Menurut Piaget, anak-anak usia sekolah dasar berada pada tahap tugas perkembangan operasional konkrit (Concret Operational Thought), artinya aktivitas mental yang difokuskan pada objek-objek peristiwa nyata atau konkrit. Siswa kelas V termasuk anak yang memiliki tugas perkembangan operasional konkrit, yang mana siswa dianjurkan mengalami peristiwa nyata dalam pembelajaran untuk memaksimalkan

pemahaman siswa terhadap suatu materi.

Oleh karena itu diperlukan suatu model pembelajaran yang lebih bervariasi namun tidak menghilangkan fokus dari kegiatan pada suatu pembelajaran serta dapat meningkatkan keaktifan dan kemampuan berfikir siswa dalam

(4)

discovery learning. Hal ini sesuai dengan Kemendikbud (2013: 9) bahwa “pembelajaran dilaksanakan dengan menerapkan model belajar berbasis

penyingkapan/ penelitian yang menghasilkan karya berbasis pemecahan masalah”. Berdasarkan uraian di atas, perlu dilakukan penelitian tentang penerapan model discovery learning untuk mengetahui keberhasilan penerapan model

discovery learning dalam mengaktifkan siswa dalam pembelajaran, maka

dilakukan sebuah penelitian dengan judul "Penerapan Model Discovery Learning

pada Pembelajaran Organ Tubuh Manusia dan Hewan Kelas VA SDN Karangtengah 1 Blitar".

METODE

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif kualitatif. Bagdan dan Taylor (dalam Moleong, 2007: 4)

menyatakan bahwa “Penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang yang perilakunya diamati”. Jenis penelitian ini adalah studi kasus. “Studi kasus adalah uraian mengenai berbagai aspek seorang individu, suatu kelompok, suatu organisasi, suatu program, atau suatu situasi sosial” (Mulyana, 2008: 201).

Kehadiran peneliti di lapangan sangat diperlukan karena peneliti berperan sebagai instrumen (peneliti sebagai perencana, pelaksana pengumpulan data, dan pelapor) serta pengamat (peneliti tidak terlibat secara langsung dalam proses penelitian melainkan hanya bertindak sebagai pengamat penuh). Penelitian ini dilakukan di kelas VA SDN Karangtengah 1 Blitar yang beralamat di Jalan Bali No. 36 Desa Karangtengah Kecamatan Sanan Wetan Kota Blitar.

Data yang dikumpulkan dalam penelitian berupa data kualitatif, meliputi RPP pembelajaran 1, 2, dan 3; aktivitas guru dan siswa ketika pembelajaran dengan model discovery learning berlangsung; serta hasil penilaian proses, sikap, dan hasil siswa. Sumber data penelitian dalam penelitian ini adalah guru kelas dan siswa-siswi kelas VA SDN Karangtengah 1 Blitar. Jumlah siswa kelas VA

(5)

Prosedur pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan observasi, wawancara, angket, dan studi dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan cara reduksi data, tes identifikasi, skala Guttman, daftar cek, dan persentase.

Pengecekan keabsahan data menggunakan teknik kecukupan referensial, triangulasi teknik, dan triangulasi sumber.

HASIL

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan Model Discovery Learning

Paparan data mengenai perencanaan pembelajaran dijabarkan berdasarkan hasil studi dokumentasi dari RPP menggunakan Alat Penilaian Kemampuan Guru 1 (APKG 1) terkait penerapan model

discovery learning pada pembelajaran 1, 2, dan 3 tema 6 subtema 2 di kelas VA SDN Karangtengah 1 Kota Blitar. Penilaian mencakup 21 aspek yang didalamnya terdapat 6 aspek sesuai dengan sintak model discovery learning.

Berdasarkan studi dokumentasi, perencanaan pembelajaran pada pembelajaran 1, 2, dan 3 tema 6 subtema 2 mudah dimengerti karena kegiatan pembelajaran dibuat secara terperinci. Namun masih terdapat hal-hal yang tidak dicantumkan di RPP, yaitu kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan dan ringkasan materi yang disampaikan pada pembelajaran 1, 2, dan 3.

Rentang waktu pada setiap kegiatan pembelajaran tidak ditulis dengan terperinci. Indikator yang dituliskan guru pada RPP sama dengan indikator yang tertulis pada buku guru. Media pembelajaran yang

digunakan pada pembelajaran 1 dan 3 merupakan gambar yang diambil dari buku siswa, sedangkan media pembelajaran pada pembelajaran 2 merupakan alat-alat untuk membuat alat peraga yang disediakan oleh guru dan digunakan oleh siswa. Guru tidak menuliskan langkah model

(6)

Pada RPP pembelajaran 1, terdapat 2 langkah model discovery learning yang tidak ditulis, yaitu mengungkapkan hipotesis dan

membuktikan kebenaran hipotesis siswa. Pada RPP pembelajaran 2, tidak terdapat langkah yang menunjukkan bahwa guru memberi permasalahan serta siswa yang membuat hipotesis dan mengungkapkan hipotesisnya. Pada RPP pembelajaran 3, semua langkah model discovery learning telah tersirat pada kegiatan pembelajaran.

Pelaksanaan Pembelajaran dengan Model Discovery Learning

Paparan data mengenai pelaksanaan pembelajaran dengan model discovery learning dijabarkan berdasarkan hasil observasi dengan menggunakan Alat Penilaian Kemampuan Guru 2 (APKG 2) terkait penerapan model discovery learning pada pembelajaran 1, 2, dan 3 tema 6 subtema 2 di kelas VA SDN Karangtengah 1 Kota Blitar. Penilaian

mencakup 16 aspek yang didalamnya terdapat 8 aspek sesuai dengan sintak model discovery learning. Pembelajaran 1 dilaksanakan pada tanggal 26 Januari 2015, pembelajaran 2 dilaksanakan pada tanggal 28 Januari 2015, dan pembelajaran 3 dilaksanakan pada tanggal 30 Januari 2015.

Berdasarkan hasil observasi pada pembelajaran 1, guru jarang menyampaikan materi dan siswa yang aktif mencari,mengumpulkan, dan mengungkapkan materi yang dibahas. Guru keluar kelas beberapa saat untuk menyiapkan media pembelajaran. Guru tidak memberitahukan rentang waktu pengerjaan tugas sehingga siswa tidak langsung

mangerjakan tugas. Guru berkeliling dari satu kelompok ke kelompok yang lain dan menanyakan kesulitan yang dialami setiap siswa sehingga siswa mendapat penjelasan secara individu dari guru sesuai permasalahan yang dialami. Pada akhir pembelajaran guru tidak memberikan konfirmasi dan hanya melakukan penarikan kesimpulan secara klasikal.

(7)

oleh siswa meskipun guru yang menyediakannya. Lebih dari 10 siswa aktif untuk menjawab pertanyaan dan menyatakan pendapat ketika sesi tanya jawab, tetapi ketika harus menempelkan hasil kerja kelompok berupa gambar organ pencernaan manusia, semua siswa berebut ke depan kelas untuk menempel gambar dan membacakan fungsi organ tersebut.

Berdasarkan hasil observasi pada pembelajaran 3, guru

memberikan permasalahan kepada siswa dan meminta siswa yang berani untuk menuliskan jawaban di depan kelas, setelah itu guru membimbing siswa mengoreksi jawaban-jawaban yang telah ditulis kemudian guru memberikan permasalahan lagi yang masih berkaitan dengan

permasalahan sebelumnya. Guru lebih sering duduk di kursi guru sambil memperhatikan siswa, tetapi ketika ada siswa yang kesulitan guru akan mendatangi siswa dan memberikan penjelasan secara individu. Guru sempat mengulang secara singkat materi yang dipelajari pada

pembelajaran 1 dan 2 untuk menyegarkan kembali ingatan siswa.

Aktivitas Siswa pada Pembelajaran dengan Model Discovery Learning

Paparan data mengenai aktivitas siswa pada pembelajaran dengan model discovery learning dijabarkan berdasarkan hasil observasi aktivitas siswa terkait penerapan model discovery learning pada pembelajaran 1, 2, dan 3 tema 6 subtema 2 di kelas VA SDN Karangtengah 1 Kota Blitar. Penilaian mencakup 8 aspek sesuai dengan sintak model discovery learning.

Berdasarkan hasil observasi pada pembelajaran 1, ada 23 siswa yang mengidentifikasi masalah. Semua siswa tidak merumuskan hipotesis terlebih dulu dan 10 siswa menuliskan hipotesisnya. Ada 11 siswa yang mengumpulkan data, tetapi semua siswa tidak memproses data yang telah dikumpulkan dan hanya menuliskannya saja. Ada 14 siswa yang

(8)

Ada satu siswa yang tidak masuk karena sakit sehingga siswa yang mengikuti pembelajaran sebanyak 29 anak. Guru tidak memberikan konfirmasi dan hanya melakukan penarikan kesimpulan secara klasikal.

Berdasarkan hasil observasi pada pembelajaran 2, guru tidak membimbing siswa untuk membuat kesimpulan. Ada 7 siswa yang

melakukan identifikasi permasalahan. Ada 22 siswa yang merumuskan dan menuliskan hipotesis. Ada 24 siswa yang mengumpulkan data dan 23 siswa yang mengolah data. Ada 3 siswa yang tidak mengetahui

permasalahan yang harus dipecahkan, mengidentifikasi masalah, membuat hipotesis, maupun mengungkapkan hipotesis.

Ada satu siswa yang tidak masuk tanpa alasan. Beberapa kelompok melakukan pembagian tugas kepada masing-masing anggota kelompok agar tugas cepat selesai. Siswa diminta mengerjakan tes akhir setelah membuat teks kemudian diijinkan pulang.

Berdasarkan hasil observasi pada pembelajaran 3, ada 30 siswa yang tidak merumuskan hipotesis dan mengungkapkan data yang mendukung hipotesisnya. Ada 13 siswa yang menuliskan hipotesisnya. Sebanyak 21 siswa mengolah data yang telah dikumpulkan dan 25 siswa mengidentifikasi masalah. Pada langkah yang lainnya 30 siswa ikut berpartisipasi.

Ada satu siswa yang ditegur guru karena berbicara dengan temannya dan menyuruh siswa untuk menyebutkan contoh hewan reptil. Siswa sering menjawab pertanyaan guru secara klasikal.

Ketercapaian Siswa pada Penilaian Pembelajaran dengan Model Discovery Learning

(9)

mencakup 3 aspek yaitu penilaian proses, penilaian hasil, dan penilaian sikap.

PEMBAHASAN

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan Model Discovery Learning

Perencanaan pembelajaran pada pembelajaran 1, 2, dan 3 tema 6 subtema 2 mudah dimengerti karena kegiatan pembelajaran dibuat secara terperinci. Berkaitan dengan komponen RPP, terdapat hal-hal yang tidak dicantumkan dalam RPP, yaitu kegiatan pembelajaran yang akan

dilakukan, ringkasan materi yang akan disampaikan pada pembelajaran 1, 2, dan 3, serta kunci jawaban evaluasi. Guru menyatakan ringkasan materi pelajaran guru hanya memberikan pokok masalah atau inti materi yang selanjutnya siswa mencari sendiri ringkasan materi yang akan dipelajari.

Hasil observasi juga menunjukkan bahwa guru sempat keluar kelas beberapa saat untuk menyiapkan media pembelajaran. Hal ini

menunjukkan bahwa akibat tidak dituliskannya rincian kegiatan siswa, guru harus mempersiapkan media pembelajaran yang diperlukan saat kegiatan pembelajaran berlangsung. Media tersebut telah dicantumkan di dalam RPP, akan tetapi guru terlihat tidak mempersiapkan pada kegiatan apa media tersebut akan digunakan dalam pembelajaran.

Rentang waktu pada setiap kegiatan pembelajaran tidak ditulis dengan terperinci. Guru tidak menuliskan langkah model discovery

learning pada RPP pembelajaran 1, 2, dan 3, namun hanya tersirat melalui kegiatan pembelajaran. Pada RPP pembelajaran 1, terdapat 2 langkah model discovery learning yang tidak ditulis, yaitu mengungkapkan

(10)

Guru telah mampu membuat skenario pembelajaran sesuai dengan sintak model discovery learning yang terdiri dari 6 tahap, yaitu

memberikan permasalahan (stimulation), mengarahkan siswa mengidentifikasi masalah serta merumuskan dan mengungkapkan hipotesis (problem statement), mengatur kegiatan siswa untuk

mengumpulkan data (data collecting), memberikan siswa waktu untuk mengolah data (data processing), memberi kesempatan siswa untuk mengungkapkan data yang mendukung hipotesisnya (verification), dan menarik kesimpulan (generalization).

Berdasarkan hasil penilaian, kegiatan pembelajaran yang disusun dapat berpusat pada siswa yang menggambarkan partisipasi aktif siswa. Hal tersebut ditunjukkan dengan kegiatan bermakna berupa menulis, membaca, membuat hipotesis, mengumpulkan data, mengamati, menalar, mengungkapkan pendapat, membuat laporan, membuat alat peraga, dan presentasi. Persentase penilaian komponen pada RPP pembelajaran 1 mencapai 88% dengan kualifikasi baik, pada RPP pembelajaran 2 mencapai 91% dengan kualifikasi sangat baik, dan pada pembelajaran 3 mencapai 91% dengan kualifikasi sangat baik.

Berdasarkan uraian di atas maka RPP yang di buat guru telah menunjukkan kualifikasi sangat baik dengan komponen-komponen yang terdapat dalam RPP sesuai dengan Kemendikbud (2013: 6) yaitu sebagai berikut.

1) Identitas sekolah yaitu nama satuan pendidikan; 2) identitas mata pelajaran atau tema/ subtema; 3) kelas/ semester; 4) materi pokok; 5) alokasi waktu; 6) tujuan pembelajaran; 7) kompetensi dasar dan indikator pencapaian kompetensi; 8) materi pembelajaran; 9) metode pembelajaran; 10) media pembelajaran; 11) sumber belajar; 12) langkah-langkah pembelajaran; dan 13) penilaian hasil belajar.

Pelaksanaan Pembelajaran dengan Model Discovery Learning

(11)

dengan penemuan siswa didorong untuk belajar sebagian besar melalui keterlibatan aktif mereka sendiri dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip, dan guru mendorong siswa untuk memiliki pengalaman dan melakukan percobaan yang memungkinkan mereka menemukan prinsip-prinsip untuk diri mereka sendiri”. Hal ini juga sesuai dengan salah satu prinsip umum pembelajaran tentang keterlibatan siswa secara langsung dengan mengalami seperti yang diungkapkan oleh John Dewey (dalam Dimyati, 2009: 46) bahwa, “belajar sebaiknya dialami melalui perbuatan langsung, maka inisiatif harus datang dari dirinya sendiri, guru hanya sebagai pembimbing dan fasilitator”.

Guru memberikan permasalahan kepada siswa berupa pertanyaan dan meminta siswa yang berani untuk menuliskan jawaban di depan kelas, setelah itu guru membimbing siswa mengkoreksi jawaban-jawaban yang telah ditulis kemudian guru memberikan permasalahan lagi yang masih berkaitan dengan permasalahan sebelumnya. Hal ini sesuai dengan pendapat Bruner (dalam Agustian, 2012), ”stimulation diberikan dengan menggunakan teknik bertanya yaitu dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dapat menghadapkan siswa pada kondisi internal yang mendorong eksplorasi”.

Guru memberikan penjelasan secara individual kepada siswa yang kesulitan ketika guru sedang berkeliling ke masing-masing kelompok. Hal ini sesuai dengan pernyataan Dimyati (2009: 49) bahwa, “siswa

merupakan makhluk individu yang unik yang mana masing-masing mempunyai perbedaan yang khas, seperti perbedaan intelegensi, minat bakat, hobi, tingkah laku maupun sikap, mereka berbeda pula dalam hal latar belakang kebudayaan, sosial, ekonomi dan keadaan orang tuanya”.

(12)

penemuan. Selanjutnya guru membimbing siswa melaksanakan pembelajaran sesuai dengan sintak model discovery learning yang diharapkan. Persentase pelaksanaan pada pembelajaran 1 mencapai 88% dengan kualifikasi baik, pembelajaran 2 mencapai 75% dengan kualifikasi cukup, dan pembelajaran 3 mencapai 88% dengan kualifikasi baik.

Dalam pelaksanaan pembelajaran dengan model discovery learning, terdapat kekurangan dalam kegiatan pembelajaran yaitu guru tidak memberitahukan rentang waktu untuk mengerjakan tugas maupun mencari informasi. Hal ini mengakibatkan siswa tidak mengetahui waktu yang tersedia dan siswa tidak segera mengerjakan tugas sehingga waktu yang diperlukan melebihi waktu yang telah ditentukan guru.

Aktivitas Siswa pada Pembelajaran dengan Model Discovery Learning

Persentase aktivitas siswa sesuai sintak model discovery learning pada pembelajaran 1 mencapai 50% dengan kualifikasi sangat kurang, pembelajaran 2 mencapai 74.6% dengan kualifikasi cukup, dan pembelajaran 3 mencapai 63.4% dengan kualifikasi kurang. Hal ini disebabkan karena ada langkah dari tahapan model discovery learning yang tidak dilakukan siswa.

Berdasarkan hasil observasi, ada beberapa langkah model discovery learning yang tidak dilakukan siswa. Pada pembelajaran 1 siswa tidak merumuskan hipotesis dan mengolah data, pada pembelajaran 2 siswa tidak menarik kesimpulan, dan pada pembelajaran 3 siswa tidak merumuskan hipotesis dan mengungkapkan data. Hal ini dikarenakan siswa kelas V berada pada tahap perkembangan operasional konkrit sehingga cara berpikir siswa masih sederhana.

Berdasarkan hasil angket, pada pembelajaran 1 dan 3 memiliki hasil yang sama dengan hasil observasi. Hal ini menunjukkan bahwa siswa tidak

merumuskan terlebih dahulu hipotesis tetapi langsung menuliskannya. Siswa juga tidak selalu mengolah data atau mengungkapkan data, data yang telah

dikumpulkan siswa cenderung tidak diolah terlebih dahulu dan hanya dituliskan tanpa disampaikan.

(13)

siswa menarik kesimpulan, hal ini didukung hasil wawancara yang menunjukkan bahwa ada rapat guru sehingga pembelajaran harus berakhir lebih cepat. Pada hasil angket menunjukkan 28 siswa menarik kesimpulan. Hal ini menunjukkan bahwa sebanyak 28 siswa menarik kesimpulan sendiri ketika guru tidak

membimbing siswa untuk menarik kesimpulan.

Data hasil angket siswa menunjukkan bahwa pada pembelajaran 2 ada 1 siswa yang menuliskan bahwa ada materi pelajaran yang diulang. Hal ini

diakibatkan karena guru tidak mencantumkan ringkasan materi yang dibahas pada RPP, sehingga batasan materi yang disampaikan tidak terlihat dengan jelas. Ada satu kelompok yang anggotanya tidak akur sehingga tidak bisa bekerjasama dengan baik. Lebih dari 10 siswa aktif untuk menjawab pertanyaan dan

menyatakan pendapat ketika guru memberikan permasalahan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Mc.Keachie (dalam Dimyati, 2009:44) bahwa, “individu merupakan manusia belajar yang aktif selalu ingin tahu".

Ketercapaian Siswa pada Penilaian Pembelajaran dengan Model Discovery Learning

Penilaian proses menunjukkan pada pembelajaran 1, 2, dan 3 siswa mengalami peningkatan nilai. Berdasarkan hasil studi dokumentasi penilaian proses pada pembelajaran 1 menunjukkan persentase 78.9% dengan kualifikasi cukup, pada pembelajaran 2 menunjukkan persentase 87.9% dengan kualifikasi baik, dan pada pembelajaran 3 menunjukkan persentase 87.9% dengan kualifikasi baik.

Penilaian hasil menunjukkan terjadi penurunan dari pembelajaran 1 ke pembelajaran 2 tetapi terjadi peningkatan pada pembelajaran 3. Berdasarkan hasil studi dokumentasi, penilaian hasil pada pembelajaran 1 menunjukkan persentase 84.7% dengan kualifikasi baik, pada pembelajaran 2 menunjukkan persentase 82.6% dengan kualifikasi baik, pada pembelajaran 3 menunjukkan persentase 85.8% dengan kualifikasi baik.

(14)

Lintang, 2013) menyatakan “pelaksanaan program perbaikan diperuntukkan bagi siswa yang belum mencapai kompetensi yang diharapkan”. Hal ini menunjukkan bahwa siswa tersebut memerlukan program perbaikan agar tujuan

pembelajarannya dapat tercapai. Program perbaikan diberikan guru kepada siswa yang memerlukan perbaikan pada hari sabtu setelah pembelajaran berakhir.

Penilaian sikap menunjukkan pada pembelajaran 1, 2, dan 3 siswa mengalami peningkatan nilai sikap. Berdasarkan hasil studi dokumentasi, penilaian sikap pada pembelajaran 1 menunjukkan persentase 93.9% dengan kualifikasi sangat baik, pada pembelajaran 2 menunjukkan persentase 93.9% dengan kualifikasi sangat baik, dan pada pembelajaran 3 menunjukkan persentase 96.7% dengan kualifikasi sangat baik.

PENUTUP

Kesimpulan

Berdasarkan rumusan masalah, paparan data, temuan penelitian, dan pembahasan, maka secara umum dapat disimpulkan sebagai berikut.

1. Perencanaan pembelajaran yang dibuat guru dalam bentuk RPP dengan menerapkan model discovery learning pada pembelajaran organ tubuh manusia dan hewan di kelas VA SDN Karangtengah 1 Kota Blitar, didesain dengan sangat baik dengan hasil rata-rata 90% dengan kualifikasi sangat baik. 2. Pelaksanaan pembelajaran guru dengan menerapkan model discovery learning

pada pembelajaran organ tubuh manusia dan hewan di kelas VA SDN Karangtengah 1 Kota Blitar, dilaksanakan dengan baik sesuai dengan sintak model discovery learning dengan hasil rata-rata 84% dengan kualifikasi baik. 3. Aktivitas siswa terkait sintak model discovery learning mewujudkan kegiatan yang aktif dan mandiri yang memupuk rasa percaya diri dengan hasil rata-rata 63% dengan kualifikasi kurang.

4. Pembelajaran dengan model discovery learning dapat meningkatkan

(15)

Saran

Pada perencanaan pembelajaran akan lebih baik jika dilengkapi dengan kegiatan yang akan dilakukan siswa agar kegiatan lebih jelas dan guru dapat mempersiapkan apa saja yang diperlukan dalam kegiatan pembelajaran, serta dilampirkan ringkasan materi sehingga batasan-batasan materi yang disampaikan pada tiap pembelajaran jelas dan tidak diulang pada pembelajaran selanjutnya. Tahapan dari model discovery learning akan lebih baik bila dicantumkan agar lebih jelas terlihat kegiatan mana yang menunjukkan masing-masing tahapan dari model discovery learning.

Pada pelaksanaan pembelajaran diharapkan guru telah

mempersiapkan media dan alat evaluasi yang akan digunakan sehingga guru tidak perlu sering keluar kelas ketika kegiatan pembelajaran

berlangsung untuk menyiapkannya. Hasil penilaian menunjukkan bahwa nilai siswa mengalami peningkatan setelah menggunakan model discovery learning, akan lebih baik bila guru lebih sering menerapkan model

discovery learning dan memberikan bimbingan atau tuntunan pada pembelajaran agar siswa dapat memperoleh materi yang sesuai dengan kemampuan masing-masing siswa dan keaktifan siswa dapat berkembang dengan maksimal ke arah yang positif serta semua langkah model

discovery learning dapat dilakukan siswa sehingga hasil belajar siswa menjadi lebih maksimal.

DAFTAR RUJUKAN

Agustian, N. 2012. Model Pembelajaran Discovery Learning, (Online), (http://nosalmathedu10.blogspot.com/2012/07/model-pembelajaran-discovery-learning.html), diakses tanggal 25 Desember 2014.Arikunto, Suharsimi. 2005. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.

Dimyati dan Mudjiono. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta. Kemendikbud. 2013. Kurikulum 2013: Kompetensi Dasar Sekolah Dasar (SD)/

(16)

Lintang. 2013. Tahapan-tahapan Pembelajaran, (Online), (http://alfallahu.blogspot.com/2013/04/tahapan-tahapan-pembelajaran.html), diakses tanggal 21 Februari 2015.

Moleong, J. L. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi Revisi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Mulyana, D. 2008. Metodologi Penelitian Kualitatif Paradigma Baru Ilmu Komunikasi Dan Ilmu Sosial Lainnya. Bandung: Remaja Rosdakarya. Wikipedia. 2013. Kurikulum 2013, (Online),

Referensi

Dokumen terkait

Sistem pendidikan dan cara belajar yang harus diperhatikan oleh pemerintah adalah sistem yang dapat mengembangkan daya kreati itas siswa. Dengan sistem penilaian

kepala rekam medis dan perekam medis yang bekerja di ruang Unit Rekam Medis saat ini sudah merasa tidak nyaman dengan ruang kerja saat ini dikarenakan ruang kerja dan

Melihat kondisi penurunan yang terjadi pada 4 lokasi penyelidikan tanah, maka sangat diperlukan upaya perkuatan tanah untuk meminimalisir resiko yang akan terjadi. Salah satu

Langkah terakhir dilakukan pengujian hipotesis penelitian yang dilakukan dengan menggunakan uji-t.Hasil pengujian hipotesis terhadap kedua kelas sampel untuk

Metode Penelitian: Jenis penelitian kuantitatif dengan adalah rancangan penelitian analitik korelasi dengan pendekatan cross sectional yang merupakan penelitian

2rogram keahlian memfasilitasi siswa untuk memiliki keterampilan 2rogram keahlian memfasilitasi siswa untuk memiliki keterampilan bertindak produktif mandiri

Menurut Manuaba (2008; h.389) disebutkan perdarahan terjadi karena gangguan hormon, gangguan kehamilan, gangguan KB, penyakit kandungan dan keganasan genetalia. 55)

Hasil jumlah iterasi dalam satu kali konvergen terhadap jumlah varian data training pada metode improved semi supervised k-means dengan k-means Pada pengujian ketiga