TUGAS INDIVIDU
(ASUHAN KEBIDANAN PERSALINAN DAN BBL)
OLEH :
SADARIAH
PO713211151038
TINGKAT IIA
JURUSAN D III KEBIDANAN
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas
karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang bejudul “
Ukuran Panggul,Kepala Janin dan Pemeriksaan dalam “ ini tepat pada waktunya.
Keberhasilan dalam pembuatan makalah ini juga tak lepas dari bantuan
dan bimbingan dari bebagai pihak,untuk itu kami ucapkan terima kasih kepada
Dosen pembimbing dan juga teman-teman semua yang telah ikut berperan serta
dalam pembuatan makalah ini.
Disini penulis berharap semoga dengan adanya makalah ini dapat berguna
bagi orang-orang yang membacanya.
Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini belumlah
sempurna, untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat
membangun dari para pembaca demi kesempurnaan pada pembuatan
makalah-makalah yang selanjutnya.
Makassar, 15 Oktober 2016
DAFTAR ISI
KATAPENGANTAR………I
DAFTAR ISI………ii
BAB I PENDAHULUAN
1. Latar Belakang………. 2. Tujuan
Penulisan……….. 3. Rumusan Masalah………
BAB II PEMBAHASAN
1. Ukuran-Ukuran Panggul……… 2. Anatomi Kepala Janin……… 3. Pemeriksaan Dalam……….. 4. Episiotomi………. 5. Amniotomi………
BAB III PENUTUP
1. Kesimpulan……… 2. Saran……… .
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam dunia kesehatan tidak akan lepas dari anatomi terutama dunia kebidanan yang sangat penting utuk mempelajari menegnai Anatomi panggu dalah hal ini adalah ukuran-ukuran panggul. Ukuran-ukuran panggul merupakan suatu patokan yang menjadi modal seorang bidan untuk mengetahui bagaimna kelancaran proses persalinan karena kita ketahui salah satu yang mempengaruhi tidak berlangsungya persalinan dengan lancar adalah karena dari segi ukuran panggul seseorang yang tidak memeadai untuk proses pengeluaran janin.
Ukuran kepala janin merupakan suatu hal yang dapat menjadi modal seorang tenaga kesehatan khususnya bidan untuk mengetahui normal atau tidaknya ukuran kepala janin ketika lahir.
Episiotomi adalah pengguntingan mulut rahim sebagai jalan lahir pada saat proses persalinan. Bila persalinan dilakukan dengan tindakan episiotomi, maka sebaiknya jika habis ke buang air kecil atau besar, bekas luka dikompres dengan obat antiseptik. Hal ini untuk menghindari terjadinya infeksi. Selain kompres, bisa juga dilakukan dengan mengolesinya dengan salep antibiotik. Salep ini biasanya sekaligus juga menyembuhkan wasir ibunya yang kerap keluar saat persalinan.
B. Tujuan
1. Untuk mengetahui materi tentang ukuran-ukuran panggul 2. Untuk mengetahui materi tentang ukuran kepala janin 3. Untuk mengetahui materi tentang pemeriksaan Dalam 4. Untuk mengetahui materi tentang Episiotomi
5. Untuk megetahui materi tentang Amniotomi
C. Rumusan Masalah
1. Jelaskan tentang Ukuran-ukuran Panggul 2. Jelaskan tentang Ukuran-ukuran kepala janin 3. Jelaskan tentang Pemeriksaan Dalam
BAB II PEMBAHASAN
A. Ukuran Panggul
Ukuran-ukuran luar panggul ini dapat digunakan bila peilvimetri radiologic tidak dapat di lakukan.Dengan cara ini dapat di tentukan secara garis besar jenis, bentuk, dan ukuran-ukuran panggul apabila di
kombinasikan dengan pemeriksaan dalam. Alat-alat yang di pakai antara lain jangka-jangka panggul Martin, Oseander, Collin, dan Boudeloque
1. Ukuran luar panggul :
a) Distansia spinarum : jarak antara kedua spina illiaka anterior superior : 24 – 26 cm
b) Distansia cristarum : jarak antara kedua crista illiaka kanan dan kiri : 28 – 30 cm
c) Konjugata externa (Boudeloque) 18 – 20 cm d) Lingkaran Panggul 80-90 cm
e) Konjugata diagonalis (periksa dalam) 12,5 cm - Distansia Tuberum (dipakai Oseander) 10,5 cm
2. Ukuran dalam panggul :
Pintu atas panggul merupakan suatu bidang yang dibentuk oleh promontorium, linea inniminata, dan pinggir atas simfisis pubis
a) konjugata vera : dengan periksa dalam diperoleh konjugata
a) bidang terluas ukurannya 13 x 12,5 cm b) bidang tersempit ukurannya 11,5 x 11 cm c) jarak antar spina ischiadica 11 cm
4. Pintu bawah panggul (outlet) :
a) ukuran anterio posterior 10-11 cm b) kuran melintang 10,5 cm
c) arcus pubis membentuk sudut 900 lebih, pada laki-laki kurang dari 800
5. Jenis Panggul
Berdasarkan pada ciri-ciri bentuk pintu atas panggul, ada 4 bentuk pokok jenis panggul :
B. ANATOMI KEPALA JANIN
1. Bagian Tengkorak (Neuro Cranium)
Tengkorak merupakan bagian terpenting dalam persalinan, yang terdiri dari :
a) Tulang dahi (os. Frontal ) 2 buah b) Tulang ubun-ubun (os. Parietal) 2 buah c) Tulang peli[is (os. Temporal) 2 buah d) Tulang belakang kepala (os. Occipital)
2. Bagian muka (splachno Cranium)
Susunan tulang muka dan dasar kepala sangat rapat sehingga tidak dapat melakukan atau terjadi moulage. Kedudukan tulang muka ditentukan dengan meraba hidung , dagu, mulut, dan rongga mata
Gambar Anatomi Kepala Janin
3. Hubungan antara tulang tengkorak
Hubngan tulang tengkorak janin belum rapat sehingga kemungkinan mendekat saat persalinan tampa membahayakan jaringan otak, disebut moulage. Celah-celah diantara tulang tengkorak yang ditutup dengan jaringan ikat disebut sutura.
a. Sutura sagitalis (selah panah) antara tulang parietal
b. Sutura koronaria (selah mahkota) anttara tulang frontalis dan tulang parietalis
c. Sutura lamboidea antara tulang occipitalis dan tulang parietalis d. Sutura frontalis : antara ke-2 frontalis.
Disamping itu terdapat pertemuan antara sutura-sutura yang membentuk ubun-ubun ( fontanella).
1. Ubun-ubun besar (fontanella mayor)
Bentuk segi empat laying merupakan pertemuan antara sutura sagitalis
dan sutura koronaria , dan sutura frontalis
Sudut lancipnya terletak di sutura sagitalis
Sebagai petunjk letak puncak kepala
2. Ubun-ubun keci (Fontanella Minor)
Dibentuk oleh sutura sagitalis dan sutura lamboidea
Sebagai petunjuk letak belakang kepaala “sutura dan ubun-ubun
tertutup pada bayi sekitar 1.5 sampai 2 tahun”
Gambar 2 Hubungan antar tulang tengkorak
1. Diameter suboksipito-bregmatika
Antara foramen magnum ke ubun-ubun besar
Jaraknya 9,5 cm
Akan melalui jalan lahir pada letak belakang keala, dengan lingkaran
sirkumferensia suboksipito-bregmatika dengan ukuran 32 cm. 2. Diameter Suboksipito-frontalis
Antara foramen magnum ke pangkal hidung
Jaraknya 11 cm
Ukuran yang melalui jalan lahir sirkumferensia suboksipito-frontalis
dengan kedudukan fleksi sedang, belakang kepala. 3. Diameter fronto-oksipitalis
Antara titik pangkal hidung kejarak terjauh pada belakang kepala
Jaraknya 12 cm
Lingkaran fronto oksipitalis dengan sirkumferensia 34 cm melalui
jalan lahir pada letak puncak kepala
4. Diameter mento-oksipitalis
Antar dagu ketitik terjauh belakang kepala
Jaralnyan 13,5 cm
Dengan sirkumferensia 32 cm melalui jalaan lahir pada letak muka
5. Diameter submento—bregmatika
Antara os hyoid ke ubun-ubun besar
Jaraknya 9 cm
Dengan sirkumferensia 32 cm melalui jalan lahir pada letak muka
6. Ukuran melintang
Diameter biparietalis, anatra keduaa parietalis dengan ukuran 9,5 cm
Diameter bioparentalis, antara keuda tulang tempiralis dengan ukuran
8,0 cm.
C. Pemeriksaan Dalam (Vaginal Toucher)
1. Pengertian Pemeriksaan Dalam
Pemeriksaan dalam adalah suatu tindakan pemeriksaan dalam yang dilakakukan terhadap klien untuk menegakkan penyakit/ diagnosa tertentu.
2. Tujuan Pemeriksaan Dalam
b) Memantau jalannya persalinan, apakah masih fisiologis atau sudah termasuk Patologi.
c) Memantau pembukaan serviks
d) Menilai penurunan bagian terendah dari janin
e) Memantau keadaan ketuban sudah pecah atau masih utuh
3. Hal – hal yang Perlu Dinilai pada Saat Pemeriksaan Dalam yaitu :
a) Vulva Vagina yaitu dimana Ibu ditempatkan pada posisi yang memudahkan untuk inspeksi dan pemeriksaan. Kekerapan pemeriksaan vagina selama persalinan dapat meningkatkan morbiditas infeksi khususnya pada kasus ketuban pecah dini.
b) Konsistensi Portio : dimana akan menjadi tipis dan lunak bahkan tidak teraba saat pembukaan lengkap.
c) Pembukaan Serviks yaitu ditentukan dengan memperkirakan diameter rata-rata (ukuran diameter leher rahim yang teregang). Dilatasi serviks ditentukan dengan pemeriksaan VT dan dinyatakan dengan diameter serviks.
d) Air Ketuban ( utuh/pecah) yaitu bila cairan ketuban pecahnya diragukan, masukkan speculum dengan hati-hati dan cairan dicari di fornik maka dapat digunakan bidang Hodge yang terdiri atas empat bidang:
Bidang Hodge I: bidang yang dibentuk pada lingkaran PAP dengan
bagian atas simfisis dan promontorium.
Bidang Hodge II: bidang ini sejajar dengan bidang Hodge I terletak
setinggi bagian bawah simfisis.
Bidang Hodge III: bidang ini sejajar dengan bidang Hodge I dan II,
terletak setinggi spina iskiadika kanan dan kiri.
Bidang Hodge IV: bidang ini sejajar dengan bidang Hodge I, II, dan
III, terletak setinggi os koksigeus.
g) Penyusupan kepala janin/ molase
1. 0 = tulang kepala janin terpisah dan sutura dapat teraba dengan mudah 2. 1 = tulang kepala janin hanya saling bersentuhan
3. 2 = tulang kepala janin saling tumpang tindih, tetapi masih dapat dipisahkan
4. 3 = tulang kepala janin tumpang tindih dan tidak dapat di pisahkan
a) Keadaan Perineum : Pada primipara perineum utuh dan elastis. Pada multipara tidak utuh, longgar dan lembek. Untuk menentukan dengan menggerakkan jari dalam vagina ke bawah dan ke samping. Dengan cara ini juga diketahui otot levator ani normal teraba elastis .
b) Sistokel dan Rektokel : Sistokel adalah benjolan pada dinding depan vagina yg disebabkan oleh kelemahan dinding belakang kandung kemih. Rektokel adalah benjolan pada dinding belakang vagina disebabkan oleh kelemahan dinding depan rektum. Diakibatkan oleh persalinan yang berulang terutama ada robekan perineum atau bersamaan dengan prolapsus uteri.
c) Pengeluaran Pervaginaan : Lendir campur darah, cairan ketuban, darah berasal dari robekan jalan lahir, plasenta previa, solusio plasenta, mekoneum, cairan putih kekuningan akibat radang serviks atau monilia vagini , cairan hijau kekuningan karena trikhomonas.
d) Serviks : Perlu diperhatikan pembukaan, penipisan, robekan serviks dan kekakuan serviks. Pembukaan ditentukan & diukur dengan kedua jari. Kalau pembukaan > 6 cm lebih mudah diukur dari forniks lateralis dengan cara berapa (cm) lebar yang masih tersisa. Menentukan penipisan kadang sukar, terutama kalau serviks menempel di bagian bawah janin. Keadaan normal serviks lembut & elastic.
e) Ketuban : Tentukan ketuban utuh atau tidak, di ketahui bila pemeriksaan dilakukan selagi ada his. Bagaimana keadaan ketuban
f) Presentasi, titik penunjuk dan posisi : Presentasi kepala diketahui bila teraba bagian bulat dan keras, tulang parietal, sutura sagitalis, ubun-ubun besar atau ubun-ubun kecil. Posisi kepala yang perlu ditentukan adalah letak ubun-ubun kecil terhadap panggul ibu.
g) Turunnya kepala : Untuk menentukan di mana turunnya kepala diperkirakan dengan pemeriksaan luar dan dipastikan dengan pemeriksaan dalam. Untuk menentukan sampai di mana turunnya kepala ditentukan dengan bidang Hodge.
5. Keuntungan
a) Untuk menentukan apakah pasien benar dalam keadaan inpartu b) Untuk menentukan factor janin dan panggul
c) Menentukan ramalan persalinan 6. Indikasi
a) Primipara, kehamilan 36 mg bagian bawah janin belum masuk PAP b) Menentukan kemajuan persalinan
8. Melakukan dan mendokumentasikan pemeriksaan dalam
a) Kerendahan hati/ kenyamanan
Jangan meremehkan kemungkinaan rasa malu
Tutup bagian bawah ibu dengan selimut
Pastikan pintu/ tirai tertutup
b) Prosedur
Sebelum pemeriksaan
1. Yakinkan kandungan kemih ibu kosong
2. Palpasi abdomen dulu. Ini adalah kebiasaan baik yang harus dikerjakan.
3. Jangan pernah melakukan periksa dalam selama kontraksi karena sangat sensitive, nyeri dan mengimobilisasi ibu.
4. Duduklah disebelah ibu dan bercakap dengannya untuk
3. Waspadalah terhadap bahasa tubuh ibu dan pastikan ia merasa baik – baik saja.
Setelah pemeriksaan
1. Dengarlah denyut jantung janin.
2. Berilah ucapan selamat karena ia dapat menghadapi pemeriksaan dengan baik dan berilah kata – kata positif meskipun bila ada sedikit kelainan.
3. Diskusikan temuan dengan ibu. Bila dilakukan pendekatan yang sensitive dan temuannya merupakan berita baik, maka dapat mengangkat semangat ibu dan menenangkannya, bila tidak ditangani dengan sensitive atau beritanya buruk maka pemeriksaan bisa menjadi bencana atau pengalaman negative.
D. AMNIOTOMI
1. Pengertian Amniotomi
Amniotomi adalah tindakan untuk membuka selaput amnion dengan jalan membuat robekan kecil yang kemudian akan melebar secara spontan akibat gaya berat cairan dan adanya tekanan di dalam rongga amnion (Sarwono, 2006). Tindakan ini umumnya dilakukan pada saat pembukaan lengkap agar penyelesaian proses persalinan berlangsung sebagaimana mestinya. Pada kondisi selektif, amniotomi dilakukan pada fase aktif awal, sebagai upaya akselerasi persalinan. Pada kondisi demikian, dilakukan penilaian serviks, penurunan bagian terbawah dan luas panggul, menjadi sangat menentukan keberhasilan proses akselerasi persalinan.
2. Istilah untuk menjelaskan penemuan cairan ketuban/selaput ketuban
Ada beberapa istilah dalam nomenklatur kebidanan yang harus diketahui oleh petugas kesehatan yang berhubungan dengan cairan selaput ketuban, yaitu:
1. Utuh (U)
Membran masih utuh, memberikan sedikit perlindungan kepada bayi uterus, tetapi tidak memberikan informasi tentang kondisi
2. Jernih (J)
Membran pecah dan tidak ada anoksia
3. Mekonium (M)
Cairan ketuban bercampur mekonium, menunjukkan adanya anoksia/anoksia kronis pada bayi
4. Darah (D)
Cairan ketuban bercampur dengan darah, bisa menunjukkan pecahnya pembuluh darah plasenta, trauma pada serviks atau trauma bayi
Kantung ketuban bisa menunjukkan bahwa selaput ketuban sudah lama pecah atau postmaturitas janin.
3. Beberapa Teori mengenai Amniotomi :
a) Amniotomi dapat mengurangi beban rahim sebesar 40% sehingga tenaga kontraksi rahim dapat lebih kuat untuk membuka servik.
b) Amniotomi menyebabkan berkurangnya aliran darah didalam rahim kira–kira 40 menit setelah amniotomi dikerjakan, sehingga berkurangnnya oksigenesi otot–otot rahim dan keadaan ini meningkatkan kepekaan otot rahim.
c) Amniotomi menyebabkan kepala dapat langsung menekan dinding serviks dimana didalamnya terdapat banyak syaraf–syaraf yang merangsang kontraksi rahim
d) Bila setelah amniotomi dikerjakan 6 jam kemudian, belum ada tanda– tanda permulaan persalinan, maka harus diikuti dengan cara–cara lain untuk merangsang persalinan, misalnya dengan infus oksitosin
e) Pada amniotomi perlu diingat akan terjadinya penyulit–penyulit sebagai berikut:
1) Infeksi : Prolapsus funikuli (keluarnya bagian-bagian janin)
2) Gawat janin : Tanda–tanda solusio plasenta (bila ketuban sangat banyakdan dikeluarkan secara tepat ).
4. Jenis-jenis Amniotomi
Ada 2 jenis amniotomi, yaitu: 1. Amniotomi untuk Augmentasi
Ini sering dilakukan apabila persalinan spontan yang berlangsung terlalu lambat. Berdasarkan bukti-bukti yang diperoleh dari uji coba klinis pada persalinan spontan dan dari induksi persalinan, besar kemungkinan bahwa amniotomi akan meningkatkan kemajuan persalinan yang disfungsional. Bahaya dilakukan tindakan ini adalah terjadinya molase dan infeksi.
Dilakukan untuk menstimulasi mulainya proses persalinan. Bisa berupa amniotomi saja atau dikombinasikan dengan induksi yang lain seperti oksitosin
5. Indikasi Amniotomi
1. Induksi persalinan
2. Persalinan dengan tindakan
3. Untuk pemantauan internal frekuensi denyut jantung janin secara
elektronik apabila diantisipasi terdapat gangguan pada janin.
4. Untuk melakukan penilaian kontraksi intra uterus apabila persalinan
kurang memuaskan
5. Amniotomi dilakukan jika ketuban belum pecah dan serviks telah
membuka sepenuhnya. Perlu diperhatikan indikasi amniotomi pada plasenta previa :
a. Plasenta previa lateralis/marginalis/letak rendah, bila tidak ada
pembukaan.
b. Pada primigravida dengan plasenta previa lateralis/marginalis
dengan pembukaan > 4 cm.
c. Plasenta previa lateralis/marginalis dengan janin yang sudah
meninggal.
6. Kontra Indikasi Amniotomi
1. Bagian terendah janin masih tinggi
2. Persalinan preterm
3. Adanya infeksi vagina
4. Polihidramnion
5. Presentasi muka
6. Letak lintang
7. Placenta previa
8. Vasa previa
7. Persiapan Alat
1. Persiapan ibu dan keluarga
a. Perawatan sayang ibu
b. Pengosongan kandung kemih per 2 jam
c. Pemberian dorongan psikologis
3. Persiapan penolong persalinan
a. Perlengkapan pakaian
b. Mencuci tangan (sekitar 15 detik)
4. Persiapan peralatan
a. Ruangan
b. Peneranga
c. Tempat tidur
d. Handscoon
e. Klem setengah kocher
f. Bengkok
g. Larutan klorin 0.5%
h. Pengalas
i. Bak instrument
7. Teknik Amniotomi
Berikut cara-cara melakukan amniotomi yaitu : 1. Bahas tindakan dan prosedur bersama keluarga
2. Dengar DJJ dan catat pada Partograf
3. Bidan cuci tangan
4. Gunakan handscoon DTT
5. Diantara kontraksi, lakukan Pemeriksaan Dalam (PD), Jari telunjuk
dan jari tengah tangan kanan di masukkan kedalam jalan lahir sampai sedalam kanalis servikalis, sentuh ketuban yang menonjol, pastikan kepala telah engaged dan tidak teraba adanya tali pusat atau bagian-bagian kecil lainnya (bila tali pusat dan bagian-bagian-bagian-bagian yang kecil dari bayi teraba, jangan pecahkan selaput ketuban dan rujuk segera). 6. Pegang 1/2 klem kocher/kelly memakai tangan yang lain, dan
ketuban dengan hati-hati. Setelah kedua jari berada dalam kanalis servikalis, maka posisi jari diubah sedemikian rupa, sehingga telapak tangan menghadap kearah atas.
7. Saat kekuatan his sedang berkurang tangan kiri kemudian memasukan
pengait khusus kedalam jalan lahir dengan tuntunan kedua jari yang telah ada didalam. Tangan yang diluar kemudian memanipulasi pengait khusus tersebut untuk dapat menusuk dan merobek selaput ketuban 1-2 cm hingga pecah (dengan menggunakan separuh klem Kocher (ujung bergigi tajam, steril, diasukkan kekanalis servikalis dengan perlindungan jari tangan.)
8. Biarkan cairan ketuban membasahi jari tangan yang digunakan
untuk pemeriksaan
9. Tarik keluar dengan tangan kiri 1/2 klem kocher/kelly dan rendam
dalamlarutan klorin 0,5%. Tetap pertahankan jari2 tangan kanan anda di dalam vagina untuk merasakan turunnya kepala janin dan memastikan tetap tidak teraba adanya tali pusat, setelah yakin bahwa kepala turun dan tidak teraba talipusat, keluarkan jari tangan kanan dari vagina secara perlahan.
10. Evaluasi warna cairan ketuban, periksa apakah ada mekonium atau darah
mungkin diperlukan persalinan segera untuk menyelamatkan bayinya. Meskipun demikian pengeluaran mekonium sendiri bukan merupakan indikasi untuk penyelesaian persalinan secara operatif.
11. Celupkan tangan yang masih menggunakan sarung tangan kedalam
larutan klorin 0,5% lalu lepaskan sarung tangan dalam kondisi terbalik dan biarkan terendam dalam larutan klorin 0,5% selama 10 menit. 12. Cuci kedua tangan.
13. Periksa kembali Denyut Jantung Janin.
14. Catat pada partograf waktu dilakukan pemecahan selaput ketuban,
warna airketuban dan DJJ.
8. Keuntungan dan Kerugian Amniotomi
1. Ada beberapa keuntungan dari amniotomi, yaitu:
a. Memungkinkan pengamatan atas cairan amniotik terutama ada
atau tidaknya mekonium, dimana pemantauan DJJ secara terus menerus di indikasikan, maka elektroda dapat diletakkaan langsung ke atas kulit kepala janin, yang memungkinkan pelacakan yang lebih baik daripada yang diperoleh dengan menempatkan elektroda diatas abdomen ibu.
b. Kateter perekam bisa ditempatkan di dalam uterus dan dapat
mengukur tekanan intrauterin secara langsung dan akurat. c. Lamanya persalinan bisa diperpendek.
d. Bukti-bukti yang ditemukan akhir ini menunjukkan bahwa
amniotomi dan stimulasi saluran genital bawah menyebabkan peningkatan dalam prostaglandin, dan hal ini selanjutnya menyempurnakan kontraksi uterus.
e. Bagian terbawah janin yang berguna sebagai tampon akan
menekan plasenta yang berdarah dan perdarahan akan berkurang/berhenti.
f. Partus berlangsung lebih cepat
g. Bagian plasenta yang berdarah dapat bebas mengikuti cincin gerakan dan
2. Berikut beberapa kerugian dari tindakan amniotomi:
a. Tekanan diferensial yang meningkat disekitar kepala janin bisa
menimbulkan cacatnya tulang kepala janin.
b. Berkurangnya jumlah cairan amniotik bisa menambah kompresi tali pusat.
c. Amniotomi dini bisa mempercepat pembukaan cerviks, namun
bisa pula menyebabkan berkurangnya aliran darah ke plasenta. Jadi keuntungan dalam bentuk persalian yang lebih pendek bisa terelakkan oleh efek merugikan yang potensial bisa terjadi pada janin, seperti misalnya penurunan angka pH darah. Beberapa penolong telah mencatat adanya perubahan dalam pola DJJ setelah dilakukannya amniotomi.
E. EPISIOTOMI
1. Pengertian Episiotomi
Episiotomi dalam artian sempit adalah insisi pudenda. Periniotomi adalah insisi pada perineum. Akan tetapi , dalam bahasa biasa episiotomi sering sama digunakan dengan episiotomi. Dengan kata lain episiotomi adalah insisi pada perineum untuk memperbesar mulut vagina. Pengertian lain dari episiotomi adalah insisi dari perineum untuk memudahkan persalinan dan mencegah ruptur perineum totalis.Alasan mengapa episotomi bukan merupakan tindakan rutin adalah sebagai berikut :
a. Perineum dapat dipersiapkan melalui latihan keagel dan periode pada masa pranatal. Latihan keagel pada peiode post partum dapat
memperbaiki tonus otot-otot perineum.
b. Robekan dapat terjadi walaupun sudah dilakukan episiotomi.
c. Nyeri dan tidak nyaman akibat episotomi dapat menghambat interaksi ibu anak dan dimulai kembalinya hubungan seksual orang tua.
d. Kejadian laserasi derajat tiga dan empat lebih banyak terjadi pada episiotomi rutin daripada tanpa episiotomi.
e. Meningkatnya resiko infeksi ( terutama jika prosedur PI ).
2. Indikasi Episiotomi
b) Penyulit persalinan pervaginam ( sunsang, distosia bahu, ekstraksi forcep dan vakum, bayi besar, presentasi muka, dll ).
c) Pada persalinan prematur.
d) Jaringan parut pada perineum atau vagina yang memperlambat kemajuan persalinan.
3. Tujuan
a) Mempercepat persalinan dengan memperlebar jalan lahir lunak. b) Mengendalikan robekan perineum untuk memudahkan jahitan. c) Menghindari robekan perineum spontan.
d) Memperlebar jalan laahir pada persalinan pervaginam dengan tindakan.
4. Manfaat
a) Mencegah robekan perineum derajat tiga, terutama sekali dimana sebelumnya ada laserasi yang luas didasar panggul. Insisi yang bersih dan dilakukan pada posisi yang benar akan lebih cepat sembuh daripada luka yang tidak teratur.
b) Menjaga uretra dan klitoris dari trauma yang luas. Kemungkinan mengurangi regangan otot penyangga kandung kemih atau rektum yang terlalu kuat dan berkepanjangan, yang dikemudian hari akan
menyebabkan inkonensia urin daan prolaps vagina.
c) Mengurangi lama kala II yang mungkin penting terhadap kondisi ibu atau keadaan janin ( fetal distress ).
d) Memperlebar vagina jika diperlukan menipulasi untuk melahirkan bayi, contohnya pada presentasi bokong atau pada persalinan dengan
tindakan.
e) Mengurangi resiko luka intrakranial pada baayi prematur.
Pertimbangan melakukan episiotomi :
1. Waktu yang tepat melakukan episiotomi
2. Pada waktu puncak his dan saat pasien meneran. 3. Perineum sudah tipis.
4. Lingkar kepala pada perineum sekitar 5 cm. 5. Indikasi melakukan episiotomi
a) Hampir pada mayoritas primigravida, tapi evidanced based menyatakan hal ini dapat dihindari dengan mempertimbangkan elastisitas perineum.
5. Jenis-jenis Episiotomi
a. Episiotomi mediolateralis
Merupakan insisi perineum kearah bawah, tetapi menjauhi rektum, selain itu dapat juga kearah kanan atau kiri tergantung tangan dominan yaang digunakan oleh penolong.
B Episiotomi Medialis
Pengguntingan yang dimulai pada garis tengah komisura posterior lurus kebawah, tetapi tidak sampai mengebai serabut sfingter ani. Episiotomi medialis merupakan insisi pada garis tengah perineum kearah rektum, yaitu ke arah titik tendensius perineum, memisahkan dua sisi otot perineum bulbokavernosus. Otot transversus perinei profunda juga dapat dipisahkan, bergantung pada kedalaman insisi.
c. Episiotomi Lateralis
Pengguntingan yang dilakukan kearah lateral mulai dari kira-kira jam tiga atau sembilan menurut arah jarum jam. Jenis episiotomi ini sekarang tidak dilakukan lagi karena banyak menimbulkan komplikasi. Luka sayatan dapat menyebar kearah dimana terdapat pembuluh darah pudendal interna sehingga dapat menimbulkan perdarahan yang banyak. Selain itu bparut yang terjadi dapat menimbulkan rasa nyeri yang mengganggu penderita.
d. Insisi Schuchardt
Jenis ini merupakan variasi dari episotomi mediolateralis, tetapi pengguntingannya melengkung kearah bawah lateral, melingkari rektum
dan sayatannya lebih lebar.Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam
Melakukan Episotomi
1. Jelaskan pada pasien mengenai tindakan yang akan dilakukan serta tujuannya.
2. Sebelum melakukan episiotomi, berikan anastesi pada perineum terlebih dahulu karena ini merupakan salah satu dari asuhan sayang ibu.
4. Arah guntingan adalah mediolateral untuk menghindari ruptur perineum totalis.
5. Jangan menggunting perineum sedikit demi sedikit karena akan luka tidak rata dan sulit untuk dijahit.
6. Perikasa selalu gunting yang digunakan, pastikan selalu dalam keadan tajam dan steril.
Persiapan Dalam Melakukan Episotomi Adalah Sebagai Berikut :
1. Mempertimbangkan indikasi-indikasi untuk melakukan episotomi dan pastikan bahwa episiotomi itu penting dilakukan untuk keselamatan dan kenyamanan ibu dan bayi.
2. Pastikan semua bahan dan perlengkapan sudah tersedia dan dalam keadaan desinfektan tingkat tinggi atau steril.
3. Gunakan teknik aseptik tiap saat. Gunakan sarung tangan DTT atau steril.
4. Jelaskan pada ibu tindakan yang akan dilakukan , serta jelaskan secara rasional alasan diperlukannya tindakan episiotomi dilakukan.
Memberikan Anestesi Lokal
1. Jelaskan kepada ibu apa yang dilakukan dan bantu ibu untuk merasa rileks.
2. Masukkan 10 ml larutan lidokain 1% kedalam tabung suntik steril ukuran 10 ml ( tabung suntik yang lebih besar juga dapat digunakan jika diperlukan ). Jika lidokain 1% tidak tersedia, larutka sebagian lidokain 2% dengan 1 bagian cairan garam fisiologis atau air distilasi steril, sebagai contoh larutkan 5 ml larutan lidokain dalam 5 ml garam fisiologis atau air steril.
3. Pastikan tabung suntik memiliki jarum ukuran 22 dan panjang 4 cm ( jarum yang lebih panjang boleh digunakan apabila diperlukan ). 4. Letakan dua jari kedalam vaagina diantara kepala bayi dan perineum. 5. Masukkan jarum ditengah fourchete dan arahkan jarum sepanjang
tempat yang akan dilakukan episiotomi.
6. Aspirasi ( tarik batang penghisap ) untuk memastikan bahwa jarum tidak berada dalam pembuluh darah. Jika darah masuk kedalam tabung suntik, jangan suntikkan lidokain, tarik jarum tersebut keluar. Ubah posisi jarum dan tusukkan kembali.
Alasan ; ibu dapat mengalami kejang dan menimbulkan kematian jika lidokain disuntikkan ke pembuluh darah.
2. Tarik jarum bila sudah kembali ketitik asal jarum suntik ditusukkan. Kulit melembung sehingga anastesi bisa terlihat dan dipalpasi pada perineum di sepanjang garis yang akan dilakukan episotomi.
8. Prosedur Pelaksanaan Episotomi
a. Tunda tindakan episotomi hingga perineum menipis dan pucat, serta 3-4
cm kepala bayi sudah terlihat pada saat kontraksi. Alasan : melakukan
episiotomi akan menyebabkan perdarahan jangan melakukan secara dini.
b. Masukkan dua jari kedalam vagina diantara kepala bayi dan perineum. Kedua jari agak diregangkan dan berikan tekanan lembut kearah luar pada perineum.
Alasan : hal ini akan melindungi kepala bayi dari gunting dan meratakan perineum sehingga membuatnya lebih mudah di episotomi.
1. Gunakan gunting tajam disinfeksi tingkat tinggi atau steril. Tempatkan gunting ditengah fourchette posterior dan gunting mengarah kesudut yang diinginkan, untuk melakukan episotomi mediolateralis ( jika penolong bukan kidal, episiotomi mediolaterla yang dilakukakan disisi kiri lebih mudah dijahit ). Pastikan untuk melakukan palpasi/ mengidentifikasi sfingter ani eksternal dan mengarahkan gunting cukup jaauh kearah samping untuk menghindari sfingter.
2. Gunting perineum sekitar 3-4 cm dengan arah mediolateral menggunakan satu atau dua arah gunting yang mantap. Hindari menggunting sedikit demi sedikit karena akan menimbulkan tepi luka yang tidak rata sehingga akan menyulikan penjahitan atau penyembuhan yang lebih lama.
3. Gunakan gunting untuk memotong sekitar 2-3 cm kedalam vagina. 4. Jika kepala belum juga lahir, lakukan tekanan pada luka episotomi
dengan dilapisi kain atau kasaa disinfeksi tingkat tinggi atau steril diantara kontraksi untuk membantu mengurangi perdarahan.
5. Kendalikan kelahiran kepala, bahu dan badan bayi untuk mencegah perluasan episotomi.
2. Derajat Dua
1. Mukosa vagina 2. Komisura posterior 3. Kulit perineum 4. Otot perineum.
3. Derajat Tiga
1. Mukosa vagina 2. Komisura posterior 3. Kulit perineum 4. Otot perineum.
4. Derajat Empat
1. Mukosa vagina
2. Komisura posterior
3. Kulit perineum
4. Otot perineum.
5. Otot sfinter ani
6. Dindig depan rektum
Pencegahan LaserasI
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Episiotomi adalah insisi dari perineum untuk memudahkan persalinan dan mencegah ruptur perineum totalis. Pada masa lalu dianjurkan untuk melakukan episiotomi secara rutin yang tujuannya untuk mencegah ruptur yang secara berlebihan pada perineum, membuat tepi luka rata agar memudahkan penjahitan, mencegah penyulit atau tahanan pada kepala dan infeksi, tetapi hal itu tidak didukung oleh bukti-bukti ilmiah yang cukup.
Amniotomi adalah tindakan untuk membuka selaput amnion dengan jalan membuat robekan kecil yang kemudian akan melebar secara spontan akibat gaya berat cairan dan adanya tekanan di dalam rongga amnion (Sarwono,
2006).
B. Saran
Dari hasil kesimpulan yang telah dikemukakan, maka dapat diberikan saran-saran sebagai bahan masukan bagi pihak yang bersangkutan dalam rangka meningkatkan kualitas dalam pelaksanaan Amniotomi kepada klien dan menambah informasi dan wawasan.
1. Bagi Instansi pendidikan
Disarankan agar mengembangkan pengetahuan kesehatan terkait pelaksanaan amniotomi terhadap klien guna memonitoring perkembangan kesehatan ibu dalam persalinan.
3. Bagi Pembaca
Disarankan agar memahami dan memperluas wawasan mengenai pelaksaan Amniotomi ibu bersalin.
DAFTAR PUSTAKA
http://dita844.blogspot.co.id/2014/05/pemeriksaan-dalam-vaginal-touchehttp://
khikmatulleli.blogspot.co.id/p/ukuran-panggul.htmlr.html
http://jurnalbidandiah.blogspot.co.id/2012/04/macam-macam-bentuk-panggul-pada-wanita.html