• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMETAAN KETAHANAN PANGAN DI KABUPATEN BANYUMAS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PEMETAAN KETAHANAN PANGAN DI KABUPATEN BANYUMAS"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

543

Tema 3: Pangan, Gizi dan Kesehatan

PEMETAAN KETAHANAN PANGAN DI KABUPATEN BANYUMAS

Oleh

Ratna Setyawati Gunawan

a

, Emmy Saraswati

b

, dan Nunik Kadarwati

c

a,b,c

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jenderal Soedirman

[email protected]

ABSTRAK

Penelitian ini memiliki tujuan untuk (1) mengukur besarnya indikator identifikasi pangan di Kabupaten Banyumas, (2) menentukan status ketahanan pangan untuk setiap kecamatan di Kabupaten Banyumas. Penelitian ini mengikuti pedoman dari A Food Security and Vulnerability Atlasof Indonesia tahun2009, untuk mengukur ketahanan pangan, yang dalam hal ini digunakan kerawanan pangan.Berdasarkan hasil perhitungan indeks akses pangan, sebagian kecamatan masih berada dikategori sangat tahan pangan yaitu sebanyak 23 kecamatan (85,19 persen), masuk kategori agak rawan pangan ada 2 kecamatan (7,41 persen), dan masuk kategori tahan pangan dan sangat rawan pangan masing-masing berjumlah 1 kecamatan (3,7 persen).Berdasarkan data indeks akses pangan diketahui bahwa jumlah kecamatan di Kabupaten Banyumas yang masuk kategori rawan pangan ada sebanyak 2 kecamatan (7,41 persen), sedangkan yang masuk kategori agak rawan pangan ada sebanyak 6 kecamatan (22,22 persen). Adapun jumlah kecamatan yang masuk kategori sangat tahan pangan ada sebanyak 2 kecamatan (7,41 persen), masuk kategori tahan pangan ada 4 kecamatan (14,81 persen), dan cukup tahan pangan ada 13 kecamatan (48,15 persen).Berdasarkan indeks kesehatan dan gizi Kecamatan di Kabupaten Banyumas hanya terdiri dari 2 kategori yaitu tahan pangan dan sangat tahan pangan. Jumlah kecamatan yang masuk kategori sangat tahan pangan berjumlah 23 kecamatan (85,19 persen) dan tahan pangan berjumlah 4 kecamatan (14,81 persen).Berdasarkan indeks kerawanan pangan, sebagian besar kecamatan di Kabupaten Banyumas masuk kategori tahan pangan. Perinciannya adalah 7 kecamatan (25,93 persen) masuk kategori sangat tahan pangan, 18 kecamatan (66,67 persen) masuk kategori tahan pangan dan 2 kecamatan (7,41 persen) masuk kategori cukup tahan pangan. Kabupaten Banyumas memiliki indeks gabungan kerawanan pangan 0,06 yang artinya masuk dalam kategori sangat tahan pangan.

Kata kunci: ketersediaan pangan, akses pangan, kerawanan pangan

ABSTRACT

(2)

544

Regency only consist of 2 categories that is food resistant and very food resistant. The number of sub-districts included in the food-resistant category is 23 sub-districts (85.19 percent) and food security is 4 sub-districts (14.81 percent). Based on the food insecurity index, most districts in Banyumas Regency are included in the foodstuff category. The details are 7 sub-districts (25.93 percent) included in the category of highly food-resistant, 18 sub-districts (66.67 percent) included in the foodstuff category and 2 sub-districts (7.41 percent) included in the food-resistant category. Banyumas Regency has a combined food insecurity index of 0.06, which means it is categorized as very food resistant.

Keywords: food availability, food access, food insecurity

PENDAHULUAN

Kabupaten Banyumas merupakan salah satu dari 35 kabupaten/kota yang berada di wilayah

Provinsi Jawa Tengah. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Tengah

tahun 2016, diketahui bahwa pada tahun 2014, tingkat kemiskinan Kabupaten Banyumas sebesar

17,45 persen. Tingkat kemiskinan ini berada di atas tingkat kemiskinan Provinsi Jawa Tengah yang

sebesar 13,58 persen, dan tingkat kemiskinan Indonesia yang sebesar 10,96 persen. Tingginya

angka tingkat kemiskinan ini menunjukkan bahwa di Kabupaten Banyumas masih banyak

penduduk yang masuk dalam kategori miskin.

Tingginya tingkat kemiskinan dapat dijadikan indikasi menurunnya tingkat kesejahteraan

yang berarti pula menurunnya tingkat atau berubahnya pola konsumsi masyarakat (Sukiyono,

Cahyadinata, dan Sritoyo,2008). Secara sederhana, kemiskinan diartikan sebagai sebuah keadaan

dimana seseorang tidak dapat memenuhi kebutuhan dasarnya yaitu kebutuhan akan pangan

(Hermanto, 1995).

Konsep ketahanan pangan pertama kali diperkenalkan kepada masyarakat global pada

Konferensi Pangan Dunia yang diselenggarakan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun 1974

(Gartaula, Patel, Johnson, dkk, 2017). Sejak itu, sudah ada perdebatan tentang konseptualisasi dan

pengukuran ketahanan pangan. Definisi tahun 1970an tentang ketahanan pangan dipengaruhi oleh

fluktuasi pasokan makanan karena kendala produksi dan ketidakstabilan harga pangan (FAO,

1974). Yaro (2004) membagi tiga pendekatan ketahanan pangan yaitu food availabilityapproach,

the livelihood and entitlement approach, dan the food sovereignty approach.

Pendekatan food availability menyatakan bahwa penyebab utama kerawanan pangan

adalah kurangnya makanan. Oleh karena itu pendekatan ini menekankan pada peningkatan

produksi dan penyimpanan biji-bijian makanan di tingkat regional dan nasional. Pendekatan the

livelihood and entitlement didasarkan pada premis bahwa kelaparan dan malnutrisi disebabkan

tidak hanya oleh kekurangan persediaan makanan tetapi juga oleh kurangnya daya beli untuk

memenuhi kebutuhan pangan. Pendekatan food sovereignty menekankan pada kedaulatan pangan

salah satunya ketika petani kecil memiliki akses terhadap tanah dan hak berdaulat untuk memilih,

(3)

545

Adapun definisi ketahanan pangan menurut Food and Agriculture Organization (FAO,

1996) adalah suatu kondisi dimana orang secara fisik dan ekonomi mampu dan memiliki akses

terhadap pemenuhan kebutuhan pangan yang cukup, aman, dan sehat untuk memenuhi kebutuhan

dan pilihannya. Badan Ketahanan Pangan (dalam Purwantini, 2014) mendefinisikan bahwa

kerawanan pangan adalah suatu kondisi ketidakcukupan pangan yang dialami daerah, masyarakat

atau rumah tangga, pada waktu tertentu untuk me-menuhi standar kebutuhan fisiologis bagi

per-tumbuhan dan kesehatan masyarakat. Terdapat dua jenis kondisi rawan pangan, yaitu yang bersifat

kronis (chronical food insecurity) dan yang bersifat sementara (transitory food insecurity).

Rawan pangan kronis adalah ketidakmampuan rumah tangga untuk memenuhi standar

minimum kebutuhan pangan anggotanya pada periode yang lama karena keterbatasan kepemilikan

lahan, asset produktif, dan kekurangan pendapatan. Sementara itu, rawan pangan transien

(sementara) adalah suatu keadaan rawan pangan yang bersifat mendadak dan sementara.

Kerawanan pangan sementara yang terjadi secara terus menerus dapat menyebabkan menurunnya

kualitas penghidupan rumah tangga, menurunnya daya tahan, dan bahkan bisa berubah menjadi

kerawanan pangan kronis.

Di Kabupaten Banyumas, kebutuhan pangan identik dengan pemenuhan beras sebagai

makanan pokok. Walaupun Kabupaten Banyumas pada tahun 2013 pernah berhasil meraih

penghargaan Adhi Bhakti Pangan Nusantara dari Gubernur Jawa Tengah dan Adhikarya Pangan

Nusantara dari Presiden Republik Indonesia atas hasil capaian kinerja pada pembangunan

ketahanan pangan, namun berdasarkan data dari www.rri.co.id (2017), terdapat 1.265 keluarga di

Kabupaten Banyumas terindikasi dalam kategori rawan pangan yang tersebar di berbagai

kecamatan. Hal ini menunjukan bahwa adanya ketersediaan pangan belum menjamin adanya

ketahanan pangan, mengingat ketersediaan pangan hanyalah salah satu komponen dari beberapa

komponen pembentuk indeks ketahanan pangan.

Berdasarkan permasalahan tersebut, maka tujuan dari penelitian ini adalah (1) mengukur

besarnya indikator identifikasi pangan di Kabupaten Banyumas, (2) menentukan status ketahanan

pangan untuk setiap kecamatan di Kabupaten Banyumas.

METODE PENELITIAN

Penelitian dilakukan pada bulan Mei-Oktober 2017 dan dilakukan di 27 kecamatan yang

ada di wilayah Kabupaten Banyumas.

Metode pengumpulan data dalam penulisan ini adalah (1) metode survei yaitu dilakukan

dengan teknik wawancara kepada pihak yang kompeten seperti Dinas Pertanian dan Ketahanan

Pangan serta Badan Pusat Statistik Kabupaten Banyumas; (2) metode dokumentasi yaitu dengan

(4)

546

Penelitian ini mengikuti pedoman dari FSVA (A Food Security and Vulnerability Atlas) of

Indonesia tahun2009, untuk mengukur ketahanan pangan, yang dalam hal ini digunakan kerawanan

pangan. Ada dua jenis kerawanan yaitu kerawanan kronis dan kerawanan pangan sementara. Dalam

pelaksanaan penelitian, terdapat keterbatasan data di bagian kerawanan pangan sementara. Oleh

karena itu, penelitian ini hanya menggunakan indikator kerawanan kronis yang jumlahnya ada 10

indikator. Adapun indikator keraw anan pangan sementara yang terdiri dari 4 indikator yaitu: (1)

persentase daerah berhutan, (2) persentase daerah puso, (3) daerah rawan longsor dan bankir, (4)

penyimpangan curah hujan, tidak digunakan.

Kesepuluh indikator kerawanan kronis tersebut adalah (1) aspek ketersediaan: konsumsi

normatif; (2) aspek akses pangan dan mata pencaharian: keluarga miskin, tidak ada akses listik,

desa yang tidak dilalui kendaraan roda empat; (3) aspek kesehatan dan gizi: wanita buta huruf,

umur harapan hidup, tingkat kematian bayi, penduduk tinggal lebih dari 5 km dari puskesmas.

Secara mendetail indikator ini dapat dijabarkan di Tabel 1.

Tabel 1. Kategori, Indikator, Definisi, dan Sumber Data Variabel Pembentuk Indeks Ketahanan Pangan

Kategori Indikator Definisi Sumber Data

Ketersediaan tingkat kecamatan dihitung dengan menggunakan faktor konversi standar. Kemudian dihitung total produksi serealia yang layak dikonsumsi.

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten

Banyumas

2. Ketersediaan bersih serealia per kapita dihitung dengan membagi total ketersediaan serealia kecamatan dengan jumlah populasinya.Data bersih serealia dari perdagangan dan impor tidak diperhitungkan karena data tidak tersedia di tingkat

3. Konsumsi normatif serealia/hari/kapita adalah 300 gram/orang/hari, kemudian dihitung rasio konsumsi normatif perkapita terhadap ketersediaan bersih serealia perkapita.

Nilai rupiah pengeluaran per kapita setiap bulan untuk memenuhi standar minimum kebutuhan yaitu konsumsi pangan dan non pangan yang dibutuhkan oleh seorang individu untuk hidup

(5)

547

secara layak. 2. Persentase desa

yang tidak

Persentase rumah tangga yang tidak mempunyai akses terhadaplistrik

Perkiraan lama hidup rata-rata penduduk dengan asumsi tidak ada perubahan pola mortalitas menurut umur

Anak dibawah 5 tahun yang berat badannya kurang dari 2 standar

Persentase perempuan diatas 15 tahun yang tidak dapat membaca

Persentase rumah tangga yang tidak menggunakan air minum yang berasal dari air mineral, air ledeng, PAM, pompa air, sumur, atau mata air terlindung

(BAPPEDA)

Persentase rumah tangga yang tinggal pada jarak lebih dari 5 km dari fasilitas kesehatan (rumah sakit, klinik, puskesmas, dokter, juru rawat, bidan.)

BAPPEDA Kabupaten Banyumas

Adapun formula untuk menghitung indeks FIA adalah menentukan nilai akan dilakukan

dengan menghitung indeks dimana rumus indeks adalah :

Indeks = Xij = nilai ke-j dari indikator ke-i

“min” dan “max” = nilai minimum dan maksimum dari indikator tersebut. Selanjutnya indeks komposit diperoleh dihitung dengan cara sebagai berikut :

IKR = 1/3 x (IK + IA + IP )

Dimana :

IKR Indeks Gabungan Kerawanan Pangan

IK = Indeks Ketersediaan Pangan

(6)

548

Ip = Indeks Kesehatan dan Gizi

n = Jumlah indikator

Dalam penentuan suatu wilayah (Kecamatan) termasuk dalam kategori ketahanan pangan

yang mana, maka semua aspek dapat dilihat range indeksnya yaitu:

>0,80 Sangat rawan pangan

0,64 - < 0,80 Rawan pangan

0,48 - < 0,64 Agak rawan pangan 0,32 - < 0,48 Cukup tahan pangan

0,16 - < 0,32 Tahan pangan

<0,16 Sangat tahan

Dari formula tersebut diatas diperoleh hitungan dari masing-masing indeks yaitu sebagai

berikut:

Tabel 2. Aspek Ketersediaan Pangan Tingkat Kabupaten Banyumas

Kecamatan Indeks Ketersediaan Pangan

Kategori Kecamatan Indeks Ketersedian Pangan

Kategori

Pwt Utara 0,02 Sangat tahan pangan

Ajibarang 0,07 Sangat tahan pangan Pwt Timur 1,00 Sangat rawan

pangan

Purwojati 0,01 Sangat tahan pangan Pwt Barat 0,59 Agak rawan

pangan

Kalibagor 0,04 Sangat tahan pangan Pwt Selatan 0,56 Agak rawan

pangan

Patikraja 0,05 Sangat tahan pangan Sokaraja 0,08 Sangat tahan

pangan

Banyumas 0,13 Sangat tahan pangan Kembaran 0,03 Sangat tahan

pangan

Somagede 0,06 Sangat tahan pangan Sumbang 0,05 Sangat tahan

pangan

Tambak 0,00 Sangat tahan pangan Baturraden 0,08 Sangat tahan

pangan

Sumpiuh 0,04 Sangat tahan pangan Kedung Banteng 0,09 Sangat tahan

pangan

Kemranjen 0,04 Sangat tahan pangan Karang Lewas 0,17 Tahan

pangan

Kebasen 0,07 Sangat tahan pangan Cilongok 0,07 Sangat tahan

pangan

Rawalo 0,02 Sangat tahan pangan Pekuncen 0,02 Sangat tahan

pangan

Jatilawang 0,03 Sangat tahan pangan Gumelar 0,00 Sangat tahan

pangan

Wangon 0,04 Sangat tahan pangan Lumbir 0,02 Sangat tahan

pangan

Dari Tabel 2 diketehui bahwa untuk wilayah Kabupaten Banyumas, sebagian kecamatan

(7)

549

jumlah kecamatan yang masuk kategori agak rawan pangan ada 2 kecamatan (7,41 persen) dan

jumlah kecamatan yang masuk dalam kategori tahan pangan dan sangat rawan pangan

masing-masing berjumlah 1 kecamatan (3,7 persen). Adapun perhitungan indeks akses pangan dapat dilihat

di Tabel 3.

Tabel 3. Indeks Akses Pangan

Kecamatan Indeks Akses Pangan

Kategori Kecamatan Indeks Akses Pangan

Kategori

Pwt Utara 0,48 Rawan

pangan

Ajibarang 0,38 Cukup tahan pangan Pwt Timur 0,05 Sangat tahan

pangan

Purwojati 0,44 Cukup tahan pangan Pwt Barat 0,50 Agak rawan

pangan

Kalibagor 0,38 Cukup tahan pangan Pwt Selatan 0,05 Sangat tahan

pangan

Patikraja 0,40 Cukup tahan pangan

Sokaraja 0,19 Tahan

pangan

Banyumas 0,29 Tahan pangan

Kembaran 0,25 Tahan Baturraden 0,33 Cukup tahan

pangan

Sumpiuh 0,45 Cukup tahan pangan Kedung Banteng 0,42 Cukup tahan

pangan

Kemranjen 0,29 Tahan pangan

Karang Lewas 0,40 Cukup tahan pangan

Berdasarkan data indeks akses pangan seperti yang ditampilkan Tabel 3 diketahui bahwa

jumlah kecamatan di Kabupaten Banyumas yang masuk dalam kategori rawan pangan ada

sebanyak 2 kecamatan (7,41 persen), sedangkan yang masuk dalam kategori agak rawan pangan

ada sebanyak 6 kecamatan (22,22 persen). Adapun jumlah kecamatan yang masuk dalam kategori

sangat tahan pangan ada sebanyak 2 kecamatan (7,41 persen), jumlah kecamatan yang masuk

kategori tahan pangan ada 4 kecamatan (14,81 persen), dan cukup tahan pangan ada 13 kecamatan

(48,15 persen).

Indeks kesehatan dan gizi tiap kecamatan di Kabupaten Banyumas dapat dilihat pada Tabel

(8)

550

Tabel 4. Indeks Kesehatan dan Gizi

Kecamatan Indeks Akses Pangan

Kategori Kecamatan Indeks Akses Pangan

Kategori

Pwt Utara 0,12 Sangat tahan pangan

Ajibarang 0,07 Sangat tahan pangan Pwt Timur 0,00 Sangat tahan

pangan

Purwojati 0,05 Sangat tahan pangan Pwt Barat 0,00 Sangat tahan

pangan

Kalibagor 0,04 Sangat tahan pangan Pwt Selatan 0,00 Sangat tahan

pangan

Patikraja 0,03 Sangat tahan pangan Sokaraja 0,02 Sangat tahan

pangan

Banyumas 0,18 Tahan pangan

Kembaran 0,04 Sangat tahan pangan

Somagede 0,12 Sangat tahan pangan Sumbang 0,05 Sangat tahan

pangan

Tambak 0,08 Sangat tahan pangan Baturraden 0,04 Sangat tahan

pangan

Sumpiuh 0,16 Tahan pangan

Kedung Banteng 0,05 Sangat tahan pangan

Kemranjen 0,11 Sangat tahan pangan Karang Lewas 0,09 Sangat tahan

pangan

Kebasen 0,05 Sangat tahan pangan Cilongok 0,17 Tahan pangan Rawalo 0,03 Sangat tahan

pangan Pekuncen 0,16 Tahan pangan Jatilawang 0,01 Sangat tahan

pangan Gumelar 0,11 Sangat tahan

pangan

Jumlah kecamatan yang masuk dalam kategori sangat tahan pangan berjumlah 23 kecamatan

(85,19 persen) dan tahan pangan berjumlah 4 kecamatan (14,81 persen). Adapun indeks gabungan

kerawanan pangan dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Indeks Gabungan Kerawanan Pangan

Kecamatan Indeks Akses Pangan

Kategori Kecamatan Indeks Akses

Purwojati 0,17 Tahan pangan

Pwt Barat 0,24 Tahan pangan Kalibagor 0,16 Tahan pangan Pwt Selatan 0,20 Tahan pangan Patikraja 0,16 Tahan pangan Sokaraja 0,10 Sangat tahan

pangan

(9)

551

Kembaran 0,11 Sangat tahan pangan

Somagede 0,23 Tahan pangan

Sumbang 0,21 Tahan pangan Tambak 0,21 Tahan pangan Baturraden 0,15 Sangat tahan

pangan

Sumpiuh 0,22 Tahan pangan

Kedung Banteng 0,19 Tahan pangan Kemranjen 0,15 Sangat tahan pangan Karang Lewas 0,22 Tahan pangan Kebasen 0,18 Tahan pangan Cilongok 0,32 Cukup tahan

pangan

Rawalo 0,14 Sangat tahan pangan Pekuncen 0,23 Tahan pangan Jatilawang 0,16 Tahan pangan Gumelar 0,15 Sangat tahan

pangan

Wangon 0,14 Sangat tahan pangan

Lumbir 0,21 Tahan pangan

Dari Tabel 5 dapat diketahui bahwa sebagian besar kecamatan di Kabupaten Banyumas

masuk didalam kategori tahan pangan. Perinciannya adalah 7 kecamatan (25,93 persen) masuk

dalam kategori sangat tahan pangan, 18 kecamatan (66,67 persen) masuk dalam kategori tahan

pangan dan 2 kecamatan (7,41 persen) masuk dalam kategor cukup tahan pangan.

Adapun untuk Kabupaten Banyumas secara keseluruhan, memiliki indeks gabungan

kerawanan pangan 0,06 yang artinya masuk dalam kategori sangat tahan pangan.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil perhitungan indeks akses pangan, sebagian kecamatan masih berada

dikategori sangat tahan pangan yaitu sebanyak 23 kecamatan (85,19 persen), masuk kategori agak

rawan pangan ada 2 kecamatan (7,41 persen), dan masuk dalam kategori tahan pangan dan sangat

rawan pangan masing-masing berjumlah 1 kecamatan (3,7 persen).

Berdasarkan data indeks akses pangan diketahui bahwa jumlah kecamatan di Kabupaten

Banyumas yang masuk dalam kategori rawan pangan ada sebanyak 2 kecamatan (7,41 persen),

sedangkan yang masuk dalam kategori agak rawan pangan ada sebanyak 6 kecamatan (22,22

persen). Adapun jumlah kecamatan yang masuk dalam kategori sangat tahan pangan ada sebanyak

2 kecamatan (7,41 persen), masuk kategori tahan pangan ada 4 kecamatan (14,81 persen), dan

cukup tahan pangan ada 13 kecamatan (48,15 persen).

Berdasarkan indeks kesehatan dan gizi Kecamatan di Kabupaten Banyumas hanya terdiri

dari 2 kategori yaitu tahan pangan dan sangat tahan pangan. Jumlah kecamatan yang masuk dalam

kategori sangat tahan pangan berjumlah 23 kecamatan (85,19 persen) dan tahan pangan berjumlah

4 kecamatan (14,81 persen).

Berdasarkan indeks kerawanan pangan, sebagian besar kecamatan di Kabupaten Banyumas

(10)

552

dalam kategori sangat tahan pangan, 18 kecamatan (66,67 persen) masuk dalam kategori tahan

pangan dan 2 kecamatan (7,41 persen) masuk dalam kategor cukup tahan pangan.

Kabupaten Banyumas memiliki indeks gabungan kerawanan pangan 0,06 yang artinya

masuk dalam kategori sangat tahan pangan.

DAFTAR PUSTAKA

Pammusureng, Kecamatan Bonto Cani, Kabupaten Bone). Jurnal Agrisistem. Vol. 3. No. 2.

Badan Urusan Logistik. Ketahanan Pangan. www.bulog.co.id. Diakses 7 Februari 2017.

Badan Pusat Statistik. 2013. Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin. Garis Kemiskinan, Indeks Kedalaman (P1), dan Indeks Keprahan Kemiskinan (P2) Menurut Provinsi. www.bps.go.id. diakses 17 Mei 2016.

Food and Agricultural Organization.1974. World Food and Agriculture Situation. Food and Agricultural Organization. Rome.

____________________________.1996. World Food Summit: Volume 1, 2, dan 3. Food and Agricultural Organization, Rome.

Gartaula, Hom, Kirit Patel, Derek Johnson, Rachana Devkota, Kamal Khadka, dan Pashupati Chaudhary. 2017. From Food Security to Food Wellbeing: Examining Food Security Through The Lens of Food Wellbeing in Nepal’s Rapidly Changing Agrarian Landscape.

Agric Hum Values 34:573–589.

Hasan dan W. Saputra. 2008. Ketahanan Pangan dan Kemiskinan: Implementasi dan Kebijakan Penyesuaian. Jurnal Ipteks Terapan. 2(1): 146 – 168.

Hermanto. 1995. Kemiskinan di Perdesaan, Masalah dan Alternatif Penanggulangannya. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian. Bogor

Irmadi Nahib. 2013. Analisis Spasial Sebaran Ketahanan Pangan di Kabupaten Lebak Provinsi Banten. Pusat Penelitian, Promosi dan Kerjasama Badan Informasi Geospasial. Cibinong.

Kasriyati. Kemiskinan dan Penyebabnya di Indonesia. 2007. http://www.kulonprogokab.go.id/v21/files/Kemiskinan-dan-Kebijakan-Pengentasannya.pdf. Diakses 25 Mei 2016.

Radio Republik Indonesia. 1265 Keluarga di Kabupaten Banyumas Terindikasi Rawan Pangan. http://www.rri.co.id/purwokerto/post/berita/350113/banyumas/1265_keluarga_dikabupatenm _banyumas_terindikasi_rawan_pangan.html. Diakses 9 Februari 2017.

Safaat Yulianto dan Kishera Hilya Hidayatullah. 2014. Analisis Klaster untuk Pengelompokkan Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah Berdasarkan Indikator Kesejahteraan Rakyat.

Jurnal Statistika. Vol. 2. No. 1.

jurnal.unimus.ac.id/index.php/statistik/article/download/1115/1165. Diakses pada 24 Mei 2016.

(11)

553

Gambar

Tabel 1. Kategori, Indikator, Definisi, dan Sumber Data Variabel Pembentuk               Indeks
Tabel 2. Aspek Ketersediaan Pangan Tingkat Kabupaten Banyumas
Tabel 3. Indeks Akses Pangan
Tabel 5. Indeks Gabungan Kerawanan Pangan

Referensi

Dokumen terkait

Gambar 15BCD merupakan proses yang terjadi dimana asap dari pengelasan dihisap keluar oleh exhaust fan.untuk pola aliran yang dihasilakn tidak ada perbedaan yang

Dari hasil penelitian menunjukkan ampas teh dengan perlakuan T4 yaitu 20 gram ampas teh : 20 gram arang sekam pada pertambahan tinggi tanaman (cm), jumlah daun (helai),

Qusyairi juga memberikan gambaran lain tentang penyelewengan para sufi yang terjadi pada kurun ketiga dan kelima hijriah dengan mengatakan: ”Jalan kesufian ini telah sampai

Once HUVECs were seeded onto both untreated and surface treated and coated PAN fibrous scaffolds in presence of fibrin, cell attachment and proliferation were evaluated at day 1

Hal ini dikarenakan bahan baku jenis kayu bengkirai sulit diperoleh dan harganya lebih mahal, kondisi demikian akan membuat biaya produksi per unit mebel jenis

Penurunan aktiva lancar ini disebabkan diantaranya oleh adanya penurunan jumlah persediaan bersih perusahaan karena digunakan sebagai jaminan atas utang jangka pendek

Secara simultan Pajak Daerah, Retribusi Daerah, Dana Alokasi Umum, Dana Alokasi Khusus dan Dana Bagi Hasil secara bersama- sama memiliki pengaruh

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September 2014, dengan menggunakan metode deskriptif.Metode pemilihan lokasi menggunakan purposive sampling yang dilakukan di 12