543
Tema 3: Pangan, Gizi dan Kesehatan
PEMETAAN KETAHANAN PANGAN DI KABUPATEN BANYUMAS
Oleh
Ratna Setyawati Gunawan
a, Emmy Saraswati
b, dan Nunik Kadarwati
ca,b,c
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jenderal Soedirman
[email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini memiliki tujuan untuk (1) mengukur besarnya indikator identifikasi pangan di Kabupaten Banyumas, (2) menentukan status ketahanan pangan untuk setiap kecamatan di Kabupaten Banyumas. Penelitian ini mengikuti pedoman dari A Food Security and Vulnerability Atlasof Indonesia tahun2009, untuk mengukur ketahanan pangan, yang dalam hal ini digunakan kerawanan pangan.Berdasarkan hasil perhitungan indeks akses pangan, sebagian kecamatan masih berada dikategori sangat tahan pangan yaitu sebanyak 23 kecamatan (85,19 persen), masuk kategori agak rawan pangan ada 2 kecamatan (7,41 persen), dan masuk kategori tahan pangan dan sangat rawan pangan masing-masing berjumlah 1 kecamatan (3,7 persen).Berdasarkan data indeks akses pangan diketahui bahwa jumlah kecamatan di Kabupaten Banyumas yang masuk kategori rawan pangan ada sebanyak 2 kecamatan (7,41 persen), sedangkan yang masuk kategori agak rawan pangan ada sebanyak 6 kecamatan (22,22 persen). Adapun jumlah kecamatan yang masuk kategori sangat tahan pangan ada sebanyak 2 kecamatan (7,41 persen), masuk kategori tahan pangan ada 4 kecamatan (14,81 persen), dan cukup tahan pangan ada 13 kecamatan (48,15 persen).Berdasarkan indeks kesehatan dan gizi Kecamatan di Kabupaten Banyumas hanya terdiri dari 2 kategori yaitu tahan pangan dan sangat tahan pangan. Jumlah kecamatan yang masuk kategori sangat tahan pangan berjumlah 23 kecamatan (85,19 persen) dan tahan pangan berjumlah 4 kecamatan (14,81 persen).Berdasarkan indeks kerawanan pangan, sebagian besar kecamatan di Kabupaten Banyumas masuk kategori tahan pangan. Perinciannya adalah 7 kecamatan (25,93 persen) masuk kategori sangat tahan pangan, 18 kecamatan (66,67 persen) masuk kategori tahan pangan dan 2 kecamatan (7,41 persen) masuk kategori cukup tahan pangan. Kabupaten Banyumas memiliki indeks gabungan kerawanan pangan 0,06 yang artinya masuk dalam kategori sangat tahan pangan.
Kata kunci: ketersediaan pangan, akses pangan, kerawanan pangan
ABSTRACT
544
Regency only consist of 2 categories that is food resistant and very food resistant. The number of sub-districts included in the food-resistant category is 23 sub-districts (85.19 percent) and food security is 4 sub-districts (14.81 percent). Based on the food insecurity index, most districts in Banyumas Regency are included in the foodstuff category. The details are 7 sub-districts (25.93 percent) included in the category of highly food-resistant, 18 sub-districts (66.67 percent) included in the foodstuff category and 2 sub-districts (7.41 percent) included in the food-resistant category. Banyumas Regency has a combined food insecurity index of 0.06, which means it is categorized as very food resistant.
Keywords: food availability, food access, food insecurity
PENDAHULUAN
Kabupaten Banyumas merupakan salah satu dari 35 kabupaten/kota yang berada di wilayah
Provinsi Jawa Tengah. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Tengah
tahun 2016, diketahui bahwa pada tahun 2014, tingkat kemiskinan Kabupaten Banyumas sebesar
17,45 persen. Tingkat kemiskinan ini berada di atas tingkat kemiskinan Provinsi Jawa Tengah yang
sebesar 13,58 persen, dan tingkat kemiskinan Indonesia yang sebesar 10,96 persen. Tingginya
angka tingkat kemiskinan ini menunjukkan bahwa di Kabupaten Banyumas masih banyak
penduduk yang masuk dalam kategori miskin.
Tingginya tingkat kemiskinan dapat dijadikan indikasi menurunnya tingkat kesejahteraan
yang berarti pula menurunnya tingkat atau berubahnya pola konsumsi masyarakat (Sukiyono,
Cahyadinata, dan Sritoyo,2008). Secara sederhana, kemiskinan diartikan sebagai sebuah keadaan
dimana seseorang tidak dapat memenuhi kebutuhan dasarnya yaitu kebutuhan akan pangan
(Hermanto, 1995).
Konsep ketahanan pangan pertama kali diperkenalkan kepada masyarakat global pada
Konferensi Pangan Dunia yang diselenggarakan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun 1974
(Gartaula, Patel, Johnson, dkk, 2017). Sejak itu, sudah ada perdebatan tentang konseptualisasi dan
pengukuran ketahanan pangan. Definisi tahun 1970an tentang ketahanan pangan dipengaruhi oleh
fluktuasi pasokan makanan karena kendala produksi dan ketidakstabilan harga pangan (FAO,
1974). Yaro (2004) membagi tiga pendekatan ketahanan pangan yaitu food availabilityapproach,
the livelihood and entitlement approach, dan the food sovereignty approach.
Pendekatan food availability menyatakan bahwa penyebab utama kerawanan pangan
adalah kurangnya makanan. Oleh karena itu pendekatan ini menekankan pada peningkatan
produksi dan penyimpanan biji-bijian makanan di tingkat regional dan nasional. Pendekatan the
livelihood and entitlement didasarkan pada premis bahwa kelaparan dan malnutrisi disebabkan
tidak hanya oleh kekurangan persediaan makanan tetapi juga oleh kurangnya daya beli untuk
memenuhi kebutuhan pangan. Pendekatan food sovereignty menekankan pada kedaulatan pangan
salah satunya ketika petani kecil memiliki akses terhadap tanah dan hak berdaulat untuk memilih,
545
Adapun definisi ketahanan pangan menurut Food and Agriculture Organization (FAO,
1996) adalah suatu kondisi dimana orang secara fisik dan ekonomi mampu dan memiliki akses
terhadap pemenuhan kebutuhan pangan yang cukup, aman, dan sehat untuk memenuhi kebutuhan
dan pilihannya. Badan Ketahanan Pangan (dalam Purwantini, 2014) mendefinisikan bahwa
kerawanan pangan adalah suatu kondisi ketidakcukupan pangan yang dialami daerah, masyarakat
atau rumah tangga, pada waktu tertentu untuk me-menuhi standar kebutuhan fisiologis bagi
per-tumbuhan dan kesehatan masyarakat. Terdapat dua jenis kondisi rawan pangan, yaitu yang bersifat
kronis (chronical food insecurity) dan yang bersifat sementara (transitory food insecurity).
Rawan pangan kronis adalah ketidakmampuan rumah tangga untuk memenuhi standar
minimum kebutuhan pangan anggotanya pada periode yang lama karena keterbatasan kepemilikan
lahan, asset produktif, dan kekurangan pendapatan. Sementara itu, rawan pangan transien
(sementara) adalah suatu keadaan rawan pangan yang bersifat mendadak dan sementara.
Kerawanan pangan sementara yang terjadi secara terus menerus dapat menyebabkan menurunnya
kualitas penghidupan rumah tangga, menurunnya daya tahan, dan bahkan bisa berubah menjadi
kerawanan pangan kronis.
Di Kabupaten Banyumas, kebutuhan pangan identik dengan pemenuhan beras sebagai
makanan pokok. Walaupun Kabupaten Banyumas pada tahun 2013 pernah berhasil meraih
penghargaan Adhi Bhakti Pangan Nusantara dari Gubernur Jawa Tengah dan Adhikarya Pangan
Nusantara dari Presiden Republik Indonesia atas hasil capaian kinerja pada pembangunan
ketahanan pangan, namun berdasarkan data dari www.rri.co.id (2017), terdapat 1.265 keluarga di
Kabupaten Banyumas terindikasi dalam kategori rawan pangan yang tersebar di berbagai
kecamatan. Hal ini menunjukan bahwa adanya ketersediaan pangan belum menjamin adanya
ketahanan pangan, mengingat ketersediaan pangan hanyalah salah satu komponen dari beberapa
komponen pembentuk indeks ketahanan pangan.
Berdasarkan permasalahan tersebut, maka tujuan dari penelitian ini adalah (1) mengukur
besarnya indikator identifikasi pangan di Kabupaten Banyumas, (2) menentukan status ketahanan
pangan untuk setiap kecamatan di Kabupaten Banyumas.
METODE PENELITIAN
Penelitian dilakukan pada bulan Mei-Oktober 2017 dan dilakukan di 27 kecamatan yang
ada di wilayah Kabupaten Banyumas.
Metode pengumpulan data dalam penulisan ini adalah (1) metode survei yaitu dilakukan
dengan teknik wawancara kepada pihak yang kompeten seperti Dinas Pertanian dan Ketahanan
Pangan serta Badan Pusat Statistik Kabupaten Banyumas; (2) metode dokumentasi yaitu dengan
546
Penelitian ini mengikuti pedoman dari FSVA (A Food Security and Vulnerability Atlas) of
Indonesia tahun2009, untuk mengukur ketahanan pangan, yang dalam hal ini digunakan kerawanan
pangan. Ada dua jenis kerawanan yaitu kerawanan kronis dan kerawanan pangan sementara. Dalam
pelaksanaan penelitian, terdapat keterbatasan data di bagian kerawanan pangan sementara. Oleh
karena itu, penelitian ini hanya menggunakan indikator kerawanan kronis yang jumlahnya ada 10
indikator. Adapun indikator keraw anan pangan sementara yang terdiri dari 4 indikator yaitu: (1)
persentase daerah berhutan, (2) persentase daerah puso, (3) daerah rawan longsor dan bankir, (4)
penyimpangan curah hujan, tidak digunakan.
Kesepuluh indikator kerawanan kronis tersebut adalah (1) aspek ketersediaan: konsumsi
normatif; (2) aspek akses pangan dan mata pencaharian: keluarga miskin, tidak ada akses listik,
desa yang tidak dilalui kendaraan roda empat; (3) aspek kesehatan dan gizi: wanita buta huruf,
umur harapan hidup, tingkat kematian bayi, penduduk tinggal lebih dari 5 km dari puskesmas.
Secara mendetail indikator ini dapat dijabarkan di Tabel 1.
Tabel 1. Kategori, Indikator, Definisi, dan Sumber Data Variabel Pembentuk Indeks Ketahanan Pangan
Kategori Indikator Definisi Sumber Data
Ketersediaan tingkat kecamatan dihitung dengan menggunakan faktor konversi standar. Kemudian dihitung total produksi serealia yang layak dikonsumsi.
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten
Banyumas
2. Ketersediaan bersih serealia per kapita dihitung dengan membagi total ketersediaan serealia kecamatan dengan jumlah populasinya.Data bersih serealia dari perdagangan dan impor tidak diperhitungkan karena data tidak tersedia di tingkat
3. Konsumsi normatif serealia/hari/kapita adalah 300 gram/orang/hari, kemudian dihitung rasio konsumsi normatif perkapita terhadap ketersediaan bersih serealia perkapita.
Nilai rupiah pengeluaran per kapita setiap bulan untuk memenuhi standar minimum kebutuhan yaitu konsumsi pangan dan non pangan yang dibutuhkan oleh seorang individu untuk hidup
547
secara layak. 2. Persentase desa
yang tidak
Persentase rumah tangga yang tidak mempunyai akses terhadaplistrik
Perkiraan lama hidup rata-rata penduduk dengan asumsi tidak ada perubahan pola mortalitas menurut umur
Anak dibawah 5 tahun yang berat badannya kurang dari 2 standar
Persentase perempuan diatas 15 tahun yang tidak dapat membaca
Persentase rumah tangga yang tidak menggunakan air minum yang berasal dari air mineral, air ledeng, PAM, pompa air, sumur, atau mata air terlindung
(BAPPEDA)
Persentase rumah tangga yang tinggal pada jarak lebih dari 5 km dari fasilitas kesehatan (rumah sakit, klinik, puskesmas, dokter, juru rawat, bidan.)
BAPPEDA Kabupaten Banyumas
Adapun formula untuk menghitung indeks FIA adalah menentukan nilai akan dilakukan
dengan menghitung indeks dimana rumus indeks adalah :
Indeks = Xij = nilai ke-j dari indikator ke-i
“min” dan “max” = nilai minimum dan maksimum dari indikator tersebut. Selanjutnya indeks komposit diperoleh dihitung dengan cara sebagai berikut :
IKR = 1/3 x (IK + IA + IP )
Dimana :
IKR Indeks Gabungan Kerawanan Pangan
IK = Indeks Ketersediaan Pangan
548
Ip = Indeks Kesehatan dan Gizi
n = Jumlah indikator
Dalam penentuan suatu wilayah (Kecamatan) termasuk dalam kategori ketahanan pangan
yang mana, maka semua aspek dapat dilihat range indeksnya yaitu:
>0,80 Sangat rawan pangan
0,64 - < 0,80 Rawan pangan
0,48 - < 0,64 Agak rawan pangan 0,32 - < 0,48 Cukup tahan pangan
0,16 - < 0,32 Tahan pangan
<0,16 Sangat tahan
Dari formula tersebut diatas diperoleh hitungan dari masing-masing indeks yaitu sebagai
berikut:
Tabel 2. Aspek Ketersediaan Pangan Tingkat Kabupaten Banyumas
Kecamatan Indeks Ketersediaan Pangan
Kategori Kecamatan Indeks Ketersedian Pangan
Kategori
Pwt Utara 0,02 Sangat tahan pangan
Ajibarang 0,07 Sangat tahan pangan Pwt Timur 1,00 Sangat rawan
pangan
Purwojati 0,01 Sangat tahan pangan Pwt Barat 0,59 Agak rawan
pangan
Kalibagor 0,04 Sangat tahan pangan Pwt Selatan 0,56 Agak rawan
pangan
Patikraja 0,05 Sangat tahan pangan Sokaraja 0,08 Sangat tahan
pangan
Banyumas 0,13 Sangat tahan pangan Kembaran 0,03 Sangat tahan
pangan
Somagede 0,06 Sangat tahan pangan Sumbang 0,05 Sangat tahan
pangan
Tambak 0,00 Sangat tahan pangan Baturraden 0,08 Sangat tahan
pangan
Sumpiuh 0,04 Sangat tahan pangan Kedung Banteng 0,09 Sangat tahan
pangan
Kemranjen 0,04 Sangat tahan pangan Karang Lewas 0,17 Tahan
pangan
Kebasen 0,07 Sangat tahan pangan Cilongok 0,07 Sangat tahan
pangan
Rawalo 0,02 Sangat tahan pangan Pekuncen 0,02 Sangat tahan
pangan
Jatilawang 0,03 Sangat tahan pangan Gumelar 0,00 Sangat tahan
pangan
Wangon 0,04 Sangat tahan pangan Lumbir 0,02 Sangat tahan
pangan
Dari Tabel 2 diketehui bahwa untuk wilayah Kabupaten Banyumas, sebagian kecamatan
549
jumlah kecamatan yang masuk kategori agak rawan pangan ada 2 kecamatan (7,41 persen) dan
jumlah kecamatan yang masuk dalam kategori tahan pangan dan sangat rawan pangan
masing-masing berjumlah 1 kecamatan (3,7 persen). Adapun perhitungan indeks akses pangan dapat dilihat
di Tabel 3.
Tabel 3. Indeks Akses Pangan
Kecamatan Indeks Akses Pangan
Kategori Kecamatan Indeks Akses Pangan
Kategori
Pwt Utara 0,48 Rawan
pangan
Ajibarang 0,38 Cukup tahan pangan Pwt Timur 0,05 Sangat tahan
pangan
Purwojati 0,44 Cukup tahan pangan Pwt Barat 0,50 Agak rawan
pangan
Kalibagor 0,38 Cukup tahan pangan Pwt Selatan 0,05 Sangat tahan
pangan
Patikraja 0,40 Cukup tahan pangan
Sokaraja 0,19 Tahan
pangan
Banyumas 0,29 Tahan pangan
Kembaran 0,25 Tahan Baturraden 0,33 Cukup tahan
pangan
Sumpiuh 0,45 Cukup tahan pangan Kedung Banteng 0,42 Cukup tahan
pangan
Kemranjen 0,29 Tahan pangan
Karang Lewas 0,40 Cukup tahan pangan
Berdasarkan data indeks akses pangan seperti yang ditampilkan Tabel 3 diketahui bahwa
jumlah kecamatan di Kabupaten Banyumas yang masuk dalam kategori rawan pangan ada
sebanyak 2 kecamatan (7,41 persen), sedangkan yang masuk dalam kategori agak rawan pangan
ada sebanyak 6 kecamatan (22,22 persen). Adapun jumlah kecamatan yang masuk dalam kategori
sangat tahan pangan ada sebanyak 2 kecamatan (7,41 persen), jumlah kecamatan yang masuk
kategori tahan pangan ada 4 kecamatan (14,81 persen), dan cukup tahan pangan ada 13 kecamatan
(48,15 persen).
Indeks kesehatan dan gizi tiap kecamatan di Kabupaten Banyumas dapat dilihat pada Tabel
550
Tabel 4. Indeks Kesehatan dan GiziKecamatan Indeks Akses Pangan
Kategori Kecamatan Indeks Akses Pangan
Kategori
Pwt Utara 0,12 Sangat tahan pangan
Ajibarang 0,07 Sangat tahan pangan Pwt Timur 0,00 Sangat tahan
pangan
Purwojati 0,05 Sangat tahan pangan Pwt Barat 0,00 Sangat tahan
pangan
Kalibagor 0,04 Sangat tahan pangan Pwt Selatan 0,00 Sangat tahan
pangan
Patikraja 0,03 Sangat tahan pangan Sokaraja 0,02 Sangat tahan
pangan
Banyumas 0,18 Tahan pangan
Kembaran 0,04 Sangat tahan pangan
Somagede 0,12 Sangat tahan pangan Sumbang 0,05 Sangat tahan
pangan
Tambak 0,08 Sangat tahan pangan Baturraden 0,04 Sangat tahan
pangan
Sumpiuh 0,16 Tahan pangan
Kedung Banteng 0,05 Sangat tahan pangan
Kemranjen 0,11 Sangat tahan pangan Karang Lewas 0,09 Sangat tahan
pangan
Kebasen 0,05 Sangat tahan pangan Cilongok 0,17 Tahan pangan Rawalo 0,03 Sangat tahan
pangan Pekuncen 0,16 Tahan pangan Jatilawang 0,01 Sangat tahan
pangan Gumelar 0,11 Sangat tahan
pangan
Jumlah kecamatan yang masuk dalam kategori sangat tahan pangan berjumlah 23 kecamatan
(85,19 persen) dan tahan pangan berjumlah 4 kecamatan (14,81 persen). Adapun indeks gabungan
kerawanan pangan dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Indeks Gabungan Kerawanan Pangan
Kecamatan Indeks Akses Pangan
Kategori Kecamatan Indeks Akses
Purwojati 0,17 Tahan pangan
Pwt Barat 0,24 Tahan pangan Kalibagor 0,16 Tahan pangan Pwt Selatan 0,20 Tahan pangan Patikraja 0,16 Tahan pangan Sokaraja 0,10 Sangat tahan
pangan
551
Kembaran 0,11 Sangat tahan pangan
Somagede 0,23 Tahan pangan
Sumbang 0,21 Tahan pangan Tambak 0,21 Tahan pangan Baturraden 0,15 Sangat tahan
pangan
Sumpiuh 0,22 Tahan pangan
Kedung Banteng 0,19 Tahan pangan Kemranjen 0,15 Sangat tahan pangan Karang Lewas 0,22 Tahan pangan Kebasen 0,18 Tahan pangan Cilongok 0,32 Cukup tahan
pangan
Rawalo 0,14 Sangat tahan pangan Pekuncen 0,23 Tahan pangan Jatilawang 0,16 Tahan pangan Gumelar 0,15 Sangat tahan
pangan
Wangon 0,14 Sangat tahan pangan
Lumbir 0,21 Tahan pangan
Dari Tabel 5 dapat diketahui bahwa sebagian besar kecamatan di Kabupaten Banyumas
masuk didalam kategori tahan pangan. Perinciannya adalah 7 kecamatan (25,93 persen) masuk
dalam kategori sangat tahan pangan, 18 kecamatan (66,67 persen) masuk dalam kategori tahan
pangan dan 2 kecamatan (7,41 persen) masuk dalam kategor cukup tahan pangan.
Adapun untuk Kabupaten Banyumas secara keseluruhan, memiliki indeks gabungan
kerawanan pangan 0,06 yang artinya masuk dalam kategori sangat tahan pangan.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil perhitungan indeks akses pangan, sebagian kecamatan masih berada
dikategori sangat tahan pangan yaitu sebanyak 23 kecamatan (85,19 persen), masuk kategori agak
rawan pangan ada 2 kecamatan (7,41 persen), dan masuk dalam kategori tahan pangan dan sangat
rawan pangan masing-masing berjumlah 1 kecamatan (3,7 persen).
Berdasarkan data indeks akses pangan diketahui bahwa jumlah kecamatan di Kabupaten
Banyumas yang masuk dalam kategori rawan pangan ada sebanyak 2 kecamatan (7,41 persen),
sedangkan yang masuk dalam kategori agak rawan pangan ada sebanyak 6 kecamatan (22,22
persen). Adapun jumlah kecamatan yang masuk dalam kategori sangat tahan pangan ada sebanyak
2 kecamatan (7,41 persen), masuk kategori tahan pangan ada 4 kecamatan (14,81 persen), dan
cukup tahan pangan ada 13 kecamatan (48,15 persen).
Berdasarkan indeks kesehatan dan gizi Kecamatan di Kabupaten Banyumas hanya terdiri
dari 2 kategori yaitu tahan pangan dan sangat tahan pangan. Jumlah kecamatan yang masuk dalam
kategori sangat tahan pangan berjumlah 23 kecamatan (85,19 persen) dan tahan pangan berjumlah
4 kecamatan (14,81 persen).
Berdasarkan indeks kerawanan pangan, sebagian besar kecamatan di Kabupaten Banyumas
552
dalam kategori sangat tahan pangan, 18 kecamatan (66,67 persen) masuk dalam kategori tahan
pangan dan 2 kecamatan (7,41 persen) masuk dalam kategor cukup tahan pangan.
Kabupaten Banyumas memiliki indeks gabungan kerawanan pangan 0,06 yang artinya
masuk dalam kategori sangat tahan pangan.
DAFTAR PUSTAKA
Pammusureng, Kecamatan Bonto Cani, Kabupaten Bone). Jurnal Agrisistem. Vol. 3. No. 2.
Badan Urusan Logistik. Ketahanan Pangan. www.bulog.co.id. Diakses 7 Februari 2017.
Badan Pusat Statistik. 2013. Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin. Garis Kemiskinan, Indeks Kedalaman (P1), dan Indeks Keprahan Kemiskinan (P2) Menurut Provinsi. www.bps.go.id. diakses 17 Mei 2016.
Food and Agricultural Organization.1974. World Food and Agriculture Situation. Food and Agricultural Organization. Rome.
____________________________.1996. World Food Summit: Volume 1, 2, dan 3. Food and Agricultural Organization, Rome.
Gartaula, Hom, Kirit Patel, Derek Johnson, Rachana Devkota, Kamal Khadka, dan Pashupati Chaudhary. 2017. From Food Security to Food Wellbeing: Examining Food Security Through The Lens of Food Wellbeing in Nepal’s Rapidly Changing Agrarian Landscape.
Agric Hum Values 34:573–589.
Hasan dan W. Saputra. 2008. Ketahanan Pangan dan Kemiskinan: Implementasi dan Kebijakan Penyesuaian. Jurnal Ipteks Terapan. 2(1): 146 – 168.
Hermanto. 1995. Kemiskinan di Perdesaan, Masalah dan Alternatif Penanggulangannya. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian. Bogor
Irmadi Nahib. 2013. Analisis Spasial Sebaran Ketahanan Pangan di Kabupaten Lebak Provinsi Banten. Pusat Penelitian, Promosi dan Kerjasama Badan Informasi Geospasial. Cibinong.
Kasriyati. Kemiskinan dan Penyebabnya di Indonesia. 2007. http://www.kulonprogokab.go.id/v21/files/Kemiskinan-dan-Kebijakan-Pengentasannya.pdf. Diakses 25 Mei 2016.
Radio Republik Indonesia. 1265 Keluarga di Kabupaten Banyumas Terindikasi Rawan Pangan. http://www.rri.co.id/purwokerto/post/berita/350113/banyumas/1265_keluarga_dikabupatenm _banyumas_terindikasi_rawan_pangan.html. Diakses 9 Februari 2017.
Safaat Yulianto dan Kishera Hilya Hidayatullah. 2014. Analisis Klaster untuk Pengelompokkan Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah Berdasarkan Indikator Kesejahteraan Rakyat.
Jurnal Statistika. Vol. 2. No. 1.
jurnal.unimus.ac.id/index.php/statistik/article/download/1115/1165. Diakses pada 24 Mei 2016.