• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konsep Keperawatan Pariwisata berbasis kearifan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Konsep Keperawatan Pariwisata berbasis kearifan"

Copied!
33
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Sektor pariwisata sebagai salah satu sumber devisa negara dan dalam upaya meningkatkan penghasilan masyarakat Indonesia dewasa ini dan dimasa yang akan datang disadari akan semakin menjadi penting. Oleh karena itu, setiap upaya yang bertujuan untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan disektor ini perlu didukung dan digalakan.

Salah satu sektor yang erat kaitannya dan cukup menentukan bagi pertumbuhan dan perkembangan sektor pariwisata adalah sektor kesehatan. Telah banyak contoh dan pengalaman baik di luar maupun di dalam negeri tentang dampak positif terhadap pertumbuhan pariwisata bila pengelolaan sektor kesehatan dilaksanakan dengan baik. Sebaliknya, dampak negatif terhadap perkembangan pariwisata akan segera terjadi bila muncul suatu “outbreak” penyakit, atau pengelolaan pelayanan kesehatan dan sanitasi lingkungan tidak dilakukan dengan memadai.

Sehubungan dengan hal diatas, telah muncul disiplin ilmu yang mempelajari dan mengaplikasikan aspek kedokteran dan kesehatan dalam kegiatan pariwisata yang dikenal dengan nama “Travel Medicine”. Ditingkat internasional telah muncul organisasi yang menghimpun para peminat baik perorangan maupun perkumpulan di bidang ini dari berbagai negara, yang bernama “International Society of Travel Mecine (ISTM), sedangkan di tingkat regional muncul Asia Pasific Society of Travel Health (APTH). Pada tanggal 1 Agustus 1997 didirikan di Jakarta suatu organisasi yang bernama Perhimpunan Kesehatan Wisata Indonesia (PKWI) atau dalam bahasa Inggris disebut Indonesia Travel Health Society (ITHS).

(2)

kesehatan ringan dan 5% dan memerlukan penanganan medis dan kurang dari 1% memerlukan perawatan di rumah sakit.

Industri pariwisata Indonesia meningkat dengan pesat. Pada awal Pelita VI yang sekaligus awal pembangunan jangka panjang II, yaitu pada tahun 1994, jumlah wisatawan mancanegara telah mencapai 4.006.312 jiwa, suatu kenaikkan yang cukup besar yaitu 17,7% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Jumlah penerimaan devisa negara dari wisatawan tahun 1995 sebanyak 5,23 milyard dollar US, merupakan saham 19,8% dari pendapatan devisa negara. Bahkan untuk tahun 2005 sektor pariwisata diharapkan menjadi sumber devisa terbesar di Indonesia akan mampu menarik 11 juta jiwa wisatawan dengan masa tinggal 10 hari yang berarti pemasukan pendapatan sebesar US$ 15 milyard. Selain wisatawan, perkembangan dunia usaha serta globalisasi telah menyebabkan peningkatan jumlah arus traveler termasuk business travelers di Indonesia.

Pada tahun 1996 terdapat 600 jutas jiwa wisatawan di seluruh dunia, termasuk 5 juta wisatawan Indonesia. Sehingga untuk mencapai target tahun 2005, dalam jawangka waktu kurang dari 1 windu diperlukan pendayagunaan segala usaha dalam bidang yang terkait dengan wisata agar dapat dicapai lebih dari 2 kali wisatawan di Indonesia dan mereka merasa senang untuk tinggal selama 10 hari.

Kesehatan adalah salah satu faktor yang penting dalam menunjang usaha peningkatan arus wisata. Jika kesehatan makanan dalam perjalanan kurang terjamin dan kesehatan lingkungan di tempa tujuan tidak memenuhi standar, maka wisatawan tidak akan memperpanjang lama tinggalnya. Bila ada wisatawan yang terkena penyakit dapat timbul masalah seperti terjadinya issue wabah diarre di Bali pada tahun 1992, maka jumlah kunjungan akan menurun sekali. Hal ini perlu dicegah dan ditanggulangi dengan cepat dan tepat.

(3)

Jadi dapat disimpulkan bahwa kesehatan pariwisata dimulai sejak berangkat dari rumah untuk melakukan wisata, selama perjalanan, sampai di tempat tujuan, dan kembali dengan aman dan nyaman ke tempat asalnya, sehingga wisatawan tersebut tidak jera untuk kembali mengunjungi daerah wisata yang telah dikunjunginya. Dalam siklus perjalanan wisata itu, kesehatan wisata termasuk upaya pencegahan, tindakan pengobatan jika diperlukan dan kesiapan repratiasi ke tempat yang memadai / ke negara asalnya.

Upaya pencegahan dimulai sebelum melakukan perjalanan. Wisatawan diberi informasi dan petunjuk oleh biro wisata/klinik wisata melalui brosur yang disediakan di biro perjalanan mengenai kesehatan dalam perjalanan dan di daerah tujuan. Misalnya pemberian vaksinasi seperlunya, dan memakan pil untuk pencegahan malaria, jika di tujuan masih ada malaria. Untuk mempertahankan keadaan yang baik serta meningkatkan kesehatan lingkungan, diperlukan kerjasama instansi yang terkait dalam pariwisata, baik Pemerintsah (Departemen Kesehatan, Pariwisata, Kimpraswil) maupun pihak swasta dalam bidang perhotelan serta jasa makanan, dll.

Upaya pengobatan dimulai dalam perjalanan dan di daerah tujuan diusahakan memadai, sesuai dengan standar yang diperlukan, dan mudah serta cepat didapat. Jika wisatawan jatuh sakit atau mendapat kecelakaan di suatu tempat dimana pengobatan kurang memadai, disediakan sarana untuk melakukan repratiasi secepat mungkin ke rumah sakit terdekat atau tempat rujukan lainnya.

(4)

1.2 RUMUSAN MASALAH

1. Apa pengertian dari Keperawatan Pariwisata? 2. Apa saja trend isu dalam Keperawatan Pariwisata?

3. Apa Pengertian dari Kesehatan Pariwisata/ Pariwisata Kesehatan?

4. Apa saja ruang lingkup Kesehatan Pariwisata/ Apa saja jenis Pariwisata Kesehatan? 5. Bagaimana perkembangan Pariwisata Kesehatan di dunia?

6. Bagaimana perkembangan Pariwisata Kesehatan di Indonesia? 7. Apa saja faktor pendukung Kesehatan Pariwisata?

8. Bagaimana upaya perlindungan kesehatan terhadap wisatawan?

1.3 TUJUAN PENULISAN - Tujuan Umum

1. Mengetahui konsep Keperawatan Pariwisata - Tujuan Khusus

1. Apa pengertian dari Keperawatan Pariwisata 2. Apa saja trend isu dalam Keperawatan Pariwisata

3. Apa pengertian dari Kesehatan Pariwisata/ Pariwisata Kesehatan

4. Apa saja ruang lingkup Kesehatan Pariwisata/ Apa saja jenis Pariwisata Kesehatan 5. Bagaimana perkembangan Pariwisata Kesehatan di dunia

6. Bagaimana perkembangan Pariwisata Kesehatan di Indonesia 7. Apa saja faktor pendukung Kesehatan Pariwisata

8. Bagaimana upaya perlindungan kesehatan terhadap wisatawan

1.4 MANFAAT PENULISAN

Makalah ini diharapkan dapat bermanfaat guna menambah pengetahuan mengenai konsep Keperawatan Pariwisata sehingga dapat diaplikasikan dalam dunia kerja.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN KEPERAWATAN PARIWISATA

(5)

keluarga, kelompok, dan masyarakat baik sehat maupun sakit, yang mencakup keseluruhan proses kehidupan manusia (Lokakarya keperawatan nasional, 1983).

Pariwisata secara etimologis pariwisata berasal dari dua kata yaitu “pari” yang berarti banyak/ berkeliling, sedangkan pengertian wisata berarti “pergi”. Didalam Kamus Besar Bahasa Indonesia pariwisata adalah suatu kegiatan yang berhubungan dengan perjalanan rekreasi. Sedangkan pengertian secara umum pariwisata merupakan suatu perjalanan yang dilakukan seseorang sementara waktu yang diselenggarakan dari suatu tempat ketempat lain dengan meninggalkan tempat semula dan dengan suatu perencanaan atau bukan maksud mencari nafkah di tempat yang dikunjunginya, tetapi semata mata untuk menikmati kegiatan pertamasyaan atau rekreasi untuk memenuhi keinginan yang beraneka ragam.

Jadi dari definisi diatas dapat disimpulkan, keperawatan pariwisata adalah pelayanan kesehatan yang diberikan pada individu, keluarga, kelompok dan yang mana individu, keluarga dan kelompok tersebut sedang melakukan perjalanan ke suatu tempat yang berbeda dari tempat/ daerah asalnya dalam sementara waktu untuk menikmati kegiatan rekreasi baik itu dalam kondisi sehat maupun sakit. Selain itu pelayanan kesehatan tersebut diberikan bertujuan untuk menambah rasa nyaman dan aman sehingga individu, keluarga dan kelompok tersebut dapat menikmati rekreasi yang telah direncanakan hingga kembali lagi ke tempat/ daerah asalnya.

Perkembangan pariwisata global yang demikian pesat saat ini tidak saja berdampak terhadap peningkatan perekonomian nasional tetapi juga sekaligus berdampak negatif karena begitu terbukanya peluang masuk keluarnya wabah penyakit yang dibawa oleh wisatawan dari suatu negara ke negara yang lain yang meliputi penyakit-penyakit yang sedang berjangkit saat ini, penyakit menular baru (New Emerging Diseases) seperti:

– Hand Foot and Mouth Diseases (HFMD) di Singapura

– Rit Valley Fever di Saudi Arabia dan Yaman

(6)

Daerah Propinsi Bali merupakan daerah tujuan wisata, untuk menarik para wisatawan maka daerah harus mampu menyediakan fasilitas yang nyaman, aman dan menyenangkan bagi para wisatawan sehingga mereka akan senang tinggal di daerah ini sehingga merupakan promosi bagi wisatawan lainnya. Kenyamanan dalam perjalanan tentu berhubungan dengan jaminan pada wisatawan untuk selalu sehat selama perjalanan. Untuk itu perlu upaya perlindungan kesehatan pada wisatawan

2.2 TREND ISU DALAM KEPERAWATAN PARIWISATA

Trend isu dalam keperawatan pariwisata meliputi beberapa aspek diantaranya sebagai berikut:

- Kesehatan Wisata

- Penyakit Menular saat Berwisata

- Higiene dan Sanitasi Daerah Tujuan Wisata - Traveller Diarrhea

- Surveilans Penyakit Menular pada Tourist Service - Animal Bite During Travelling

- Kecelakaan Rekreasi Air

- Gangguan Kesehatan dan Kecelakaan akibat Transportasi - Imunisasi untuk Wisatawan

- Manajemen Pelayanan Kesehatan dengan Health Insurance

2.3 PENGERTIAN KESEHATAN PARIWISATA/ PARIWISATA KESEHATAN

(7)

Sementara Eliya (2000) menambahkan bahwa Recuperation tourism is a moving or tourist activity which tourists are excited because this place has facilities needed to be health or to feel fresh air in a beautiful place.

Hal senada diungkap oleh Pendit (1996:37) yang menyatakan bahwa recuperation tourism represents a journey of a tourist as a mean to convert place, environtment and situation where he remains everyday for the benefit of rest for him in spiritual and corporeal meaning by visiting resorts at the same time medititation like at the source of contained hot wellspring of mineral able to heal to to make healthy or at places providing other medication facilities.( lihat pula Tabacchi, Benbhi, Wahab, Webster Distionary, Kamus Travel dan Wisata dan Idmarta)

Lebih lanjut Oka menjelaskan bahwa this recuperation has been doing by tourists who want to go to a place and another place because they have listened their doctor or they have attitude after bored or tired for their job. Sementara Finn (2002) melihat pariwisata kesehatan sebagai a long term sustainable and profitable industry. Ahli ini kemudian menambahkan bahwa health tourism is not very different than beach, eco or traditional tourism. It is a bit different from the other forms of tourism due to the fact that it is a form of telemedicine and like conventional medicine, there are in inherent ethical rules, codes of conduct and practise guidelines and patterns.

Berdasarkan definisi yang diberikan berbagai pakar di atas dapat diasumsikan bahwa pariwisata kesehatan kegiatan wisata yang dilakukan oleh orang-orang ke berbagai tempat dengan tujuan memperoleh fasilitas yang dibutuhkan untuk memperbaiki, menyembuhkan berbagai penyakit atau sekedar menghilangkan kebosanan dari tekanan pekerjaan sehari-hari.

(8)

relaksasi dan pengobatan alternatif untuk mengobati penyakit kanker, atau penyakit lain yang tidak dapat disembuhkan oleh pengobatan modern lainnya.

Lain halnya dengan kesehatan wisata, kesehatan wisata dimulai sejak berangkat dari rumah untuk melakukan wisata, selama perjalanan sampai di tempat tujuan dan kembali dengan aman dan nyaman ke tempat asalnya sehingga wisatawan tersebut `tidak jera untuk kembali mengunjungi daerah wisata yang telah dikunjunginya.

Dalam siklus perjalanan wisata itu, kesehatan wisata termasuk upaya pencegahan penyakit, tindakan pengobatan jika diperlukan dan kesiapan repatriasi ke tempat yang memadai/ke negara asalnya.

Upaya pencegahan dimulai sebelum melakukan perjalanan. Wisatawan diberi informasi dan petunjuk oleh biro wisata/klinik wisata melalui brosur yang disediakan di biro perjalanan mengenai kesehatan dalam perjalanan dan di daerah tujuan. Misalnya pemberian vaksinasi seperlunya, dan memakan pil untuk pencegahan malaria, jika di tujuan masih ada malaria. Untuk mempertahankan keadaan yang baik serta meningkatkan kesehatan lingkungan, diperlukan kerjasama instansi yang terkait dalam pariwisata, baik Pemerintsah (Departemen Kesehatan, Pariwisata, Kimpraswil) maupun pihak swasta dalam bidang perhotelan serta jasa makanan, dll.

Upaya pengobatan dimulai dalam perjalanan dan di daerah tujuan diusahakan memadai, sesuai dengan standar yang diperlukan, dan mudah serta cepat didapat. Jika wisatawan jatuh sakit atau mendapat kecelakaan di suatu tempat dimana pengobatan kurang memadai, disediakan sarana untuk melakukan repratiasi secepat mungkin ke rumah sakit terdekat atau tempat rujukan lainnya.

2.4 RUANG LINGKUP KESEHATAN PARIWISATA/ JENIS PARIWISATA KESEHATAN

(9)

penyakit kulit, relaxation, dan kecantikan sementara kesehatan psikis terdiri dari penyembuhan akibat obat-obat terlarang, depresi, dan gangguan mental.

Kesehatan pariwisata psikis biasanya dilakukan di rumah peristirahatan, rumah sakit dan pesantren serta hanya terbatas pada pengunjung yang memang menderita penyakit dan tidak dapat dinikmati oleh rekan, keluarga, dan sanak keluarga walaupun pada masa sekarang sudah mulai dikembangkan untuk bisa pula dinikmati oleh keluarga terdekat.

Jenis kesehatan pariwisata fisik yang berkaitan dengan kecantikan biasanya berupa spa, salon kecantikan dan pemandian air panas. Jenis kesehatan pariwisata ini lebih bisa dinikmati oleh segala lapisan masyarakat karena relatif lebih murah, banyak pilihan, dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja sesuai dengan kemampuan finansial masing-masing.

2.5 PERKEMBANGAN PARIWISATA KESEHATAN DI DUNIA

Pariwisata kesehatan mulai menarik perhatian beberapa negara di dunia terutama negara yang memiliki berbagai keterbatasan kekayaaan alam. Misalnya Amerika Utara, Eropa dan negara-negara Orient yang berusaha dengan giat mencari dan memperkenalkan metoda pengobatan terapi alam dan tradisional.

Negara Dominica seperti juga Afrika Selatan, Israel, Costa Rica, Junani dan negara-negara sepanjang Laut Mediterania menggunakan keunikan dan daya tarik tanah mereka untuk mengembangkan pariwisata kesehatan dan menarik wisatawan dari seluruh belahan dunia. Secara terus-menerus pemerintahnya memberikan pendidikan modern kepada pelaksana pariwisata dan menggalang kerjasama antar departemen untuk mengembangkan berbagai potensi seperti sumber-sumber alam yang mengandung obat (air panas, danau mendidih, air terjun, hutan tropis, tanaman dan tumbuhan obat bahkan juga jenis music traditional yang menenangkan).

(10)

Pemerintahnya menggunakan misi-misi kunjungan ke luar negeri untuk mengiklankan di mana saja, kapan saja dan dengan siapa saja, menawarkan cara menikmati liburan yang menyenangkan dan menyehatkan, seperti menikmati sunset sambil makan obat dan terapi kesehatan, menikmati pagi hari di curug atau danau air panas sambil terapi kanker atau periksa kesehatan sambil relaksasi.

United Kingdom sebagai salah satu negara yang juga sangat memperhatikan pariwisata kesehatan mengeluarkan aturan-aturan yang sangat ketat untuk wisatawan yang berkunjung ke negara tersebut.

Tabel 1 berikut memperlihatkan bagaimana perkembangan pariwisata kesehatan di Romania yang memiliki 35 kota dan 103 desa pedalaman. Berbeda dengan negara lain di dunia yang mengembangkan objek wisata terlebih dahulu baru menambahkan pariwisata kesehatan, Romania melakukan hal yang sebaliknya; mengembangkan pariwisata kesehatan terlebih dahulu baru menambahkan beberapa atraksi wisata dan fasilitan lain.

Tabel 1

Treatment Fasilitas yang Tersedia

1 Vatra Dornei

1.Cardiovascular diseases

2.Degerative and abarticular rheumatic diseases

3.post traumatic conditions

1.mineral water baths in tubs,

2. mud and paraffin,

3.Electrotherapy,

4.mountainerring and winter sport

(11)

4.peripheral and central

8.natural science museum

3. metabolic and nutrition disorders

4. Degerative and abarticular rheumatic diseases

1. mineral water baths in tubs,

2. mud and paraffin,

3.Electrotherapy,

5 volly ball grounds

6. trip to hills, wine cellar, the Coopers Tower

(12)

3 Borsa 1.chronic diseases of alimentary canal

2. kidney and urinary system diseases

3.asthenia enurosis and respiratory disorders

1. mineral water baths in tubs,

2. mud and paraffin,

3.Electrotherapy,

4.hydrotherapy

1 hotel

2. mountainerring and winter sport

4 Durau 1 asthenic neurosis,

2. weakly condition

3. Physical and intellectual overrexertion,

4. seconday anemia

1. spa 1.mountainerring and

winter sport

5 Borsec 1 Cardiovascular diseases

5 kidney and urinary system diseases

6. asthenia enurosis

7 metabolic and

1.warm bath with carbonated minarel water in tubs

4.blazed mountain trails

(13)

nutrition,

6 Tusnad Bath 1.central nervous system

2. Cardiovascular diseases

3. urinary system diseases

7 Covasna 1.Cardiovascular diseases

(14)

diseases

9 Cheia 1. asthenia enurosis

2. Physical and intellectual

1.Degerative and abarticular rheumatic diseases

2.arthitis

3.polyathrrosis

4.tendonitis

1 mineral water baths in tubs,

2.cold bath in the lake

(15)

5.tendomyositis

6.scapulomeral

7.post traumatic conditions

8.peripheral and central neurological diseases

9.gynecological disorder

10.respiratory disorders

11.dermathological diseases

11 The Unirea Mine

1.respiratory disorders

2.asthma

Streambed 1.rooms house football

m.2. handball ground

n.3. running track

4. museum

o.

12 The Mihai Mine

1.respiratory disorders

2.asthma

Streambed p.resorts

13 Sovata 1.gynecological disorder

2. generative and

abarticular rheumatic diseases

1.warm baths of salt mineral water

2.tubsand pools

3.Pools for

q.1. beaches

2.hotels

(16)

3. post traumatic conditions

4. peripheral and central neurological diseases

14 Calimanesti 1.digestive disorders

2.hepatobiliary disorders

3. kidney and urinary system diseases

4. metabolic and nutrition,

5. respiratory disorders

6. peripheral and central neurological diseases

7. rheumatic diseases

8. post traumatic conditions

9. gynecological disorder

10.ear, nose, throat diseases

(17)

11. dermathological , Cardiovascular diseases

15 Olanesti Bath

1. kidney and urinary system diseases

2. chronic diseases of alimentary canal

3. metabolic and nutrition disorders

4. respiratory disorders

5. dermathological diseases

6. associated diseases

7.otorhynolaryngological diseases

1.warm baths of salt mineral water

2. Electrotherapy

3.hydrotherapy

4.gyms

5.fountains

aa.1. church

16 Voineasa 1.asthenic neurosis

2.weakly conditions

3.physical and intellectual

1 warm baths of salt mineral water

2.aeroheliotherapy

3. kinetotherapy

bb.1. forest reservation

(18)

4.secondary anemia 4. hydrotherapy

4. peripheral and central neurological diseases

1. degerative and

abarticular. rheumatic diseases

2. peripheral and central neurological diseases

2. warm baths of salt mineral water

19 Moneasa 1.degerative and

abarticular. rheumatic diseases

2. peripheral and central

1. warm baths of salt mineral water

2. hydrotherapy

pp.1.Cinemas

(19)

neurological diseases

3. gynecological disorder

4. metabolic and nutrition disorder

3.kinetotherapy

4.Electrotherapy

5. outdoor pools for cold mineral

4. Physical and intellectual overrexertion

5. anemia

6.rachitis and growth disorders

21 Felix Bath 1.inflamantory rheumatic diseases

2. degerative and

abarticular. rheumatic diseases

3.peripheral and central neurological diseases

1. warm baths of salt mineral water

2. kinetotherapy

3. thermal water pools

eee.1 natural park

(20)

4. gynecological disorder

5. post traumatic conditions

22 Lacu Sarat 1.degerative

inflamantory and

5 peripheral and central neurological diseases

23 Amara 1.degerative

inflamantory and abarticular. rheumatic

1. warm baths of salt mineral water

jjj.1 villas

(21)

diseases

2. gynecological disorder

3.assosiated diseases

2.sunbathing

3. bathing in lakes

4.spas

lll.3.chalets

mmm.4 mountains

nnn.5. monastery

Source: Mlesnita, 2002

Dari tabel di atas dapat ditarik simpulan bahwa pariwisata kesehatan dapat menjadi sumber devisa negara apabila dikelola secara profesional, tanpa merusak kondisi geography yang ada dan bahkan mengubah daerah yang tadinya susah berkembang karena lokasi yang jauh dan transportasi terbatas menjadi area yang sangat bermanfaat. Informasi mendetail dalam tabel yang sama memperlihatkan bagaimana pemerintah Rumania mengoptimalkan kondisi yang ada sedemikian rupa sehingga wisatawan dapat memperoleh pelayanan untuk berbagai penyakit dengan mempertimbangkan kesejahteraan keluarga wisatawan sehingga saat seorang wisatawan sedang melakukan pengobatan anggota keluarga lain dapat menikmati objek wisata lain baik yang sudah ada maupun yang sengaja dibangun untuk kepentingan pariwisata di lokasi tersebut.

2.6 PERKEMBANGAN PARIWISATA KESEHATAN DI INDONESIA

(22)

Tabel 2

PARIWISATA KESEHATAN YANG SUDAH DIKEMBANGKAN

DI INDONESIA

No.

Nama Lokasi Jenis Penyakit yang Disembuhkan

Fasilitas yang tersedia

1 Hot Spring Lau Debuk-debuk

Sumatera

Utara

1.Penyakit kulit

2.Relaxation

1.Kolam renang

2.Restaurant

3.Street vendour

4.Parking area

5.Steambath therapy

6.Hot waterfall

2 Simpang Balek Aceh 1.Penyakit kulit

2. Relaxation

1.Hot spinning pools

2.Restaurants

3.Play grounds

3 Danau Laut Tawar Aceh 1.Penyakit kulit

2.Relaxation

1.Hot spinning pools

2.Restaurants

3.Play grounds

4 Pemali Hot Spring Bangka 1.Penyakit kulit

2.Relaxation

1.Kolam renang

(23)

3.Street vendour

4.Parking area

5.Steambath therapy

6.Hot waterfall

5 Suban Hot Spring Bengkulu 1.Penyakit kulit

2.Relaxation

1.Kolam renang

2.Restaurant

3.Street vendour

4.Parking area

5.Steambath therapy

6.Hot waterfall

6 Air Terjun Kepala

Carup

Bengkulu 1.Penyakit kulit

2.Relaxation

1.Hot waterfall

7 Taman Sari Jakarta Natural spa products

1.Executive rooms

2.Treatment rooms

3.salon and beauty care

4.fitness cebtre

5.meditation room

(24)

7.steam and sauna rooms

8.whirlpool

9.swimming pools

10.multipurpose ball room

8 Guci Hot Spring Tegal 1.Penyakit kulit

2. Relaxation

1.Kolam renang

2.Restaurant

3.Street vendour

4.Parking area

5.Steambath therapy

6.Hot waterfall

9 Hot Spring Songgoriti

Malang 1.Penyakit kulit

2.Relaxation

1.Beautiful view

2.High sulphur

3.Restaurants

4.Hot-cold bathrooms

10 Way Belerang Lampung 1.Penyakit kulit

2.Relaxation

1.Beautiful view

2.High sulphur

(25)

4.Hot-cold bathrooms

11 Tirta Tapta Hot Spring

Bangka 1.Penyakit kulit

2.Relaxation

3.Cancer

4.Rematics

1.Kolam renang

2.Restaurant

3.Street vendour

4.Parking area

5.Steambath therapy

6.Hot waterfall

7.Flora dan fauna

8.Danau pemancingan

12 Semurup Hot Spring Jambi Berbagai penyakit Warm water

13 Kali Bancin Jambi 1.Penyakit kulit

2.Rematics

3.Fatigue

Mineral water

14 Karumenga Hot Spring

Menado Berbagai penyakit Mineral water

15 Air Panas Kalimanta Tengah

Berbagai penyakit Warm water

16 Otak Kokok Gading Nusa Tenggara

Berbagai penyakit Spa gulp

(26)

Sumber: Berbagai sumber di Perpustakaan STBA Yapari ABA Bandung: 2006

Tabel 2 menunjukkan bahwa hampir di setiap wilayah Indonesia dapat ditemukan pariwisata kesehatan yang sudah dikembangkan; hal tersebut dapat dipahami mengingat Indonesia merupakan kepulauan yang kaya akan alam dan pegunungan yang tersebar baik di lima pulau terbesar di Indonesia maupun di beribu pulau kecil lainnya. Namun sayang sekali data tentang keberadaan pariwisata kesehatan yang belum dikembangkan dan masih sangat alami belum dapat diketahui dengan pasti.

Sekarang malah bermunculan salon-salon mulai dari yang sangat sederhana sampai yang sangat eksklusif lengkap dengan dokter-dokter ahli kecantikan dan kulit. Penyebarannya juga sangat menyeluruh, sehingga kemanapun kita pergi bahkan ke daerah-daerah, kita dapat menemukan salon dengan berbagai kelebihannya mulai dari yang sangat tradisional sampai yang super canggih dengan berbagai alat dan obat buatan luar negeri.

Yang menarik untuk disimak adalah munculnya trend baru. Salon kecantikan tidak saja dikunjungi oleh kaum hawa namun juga kaum pria. Di kota-kota besar seperti Jakarta, Medan, Surabaya, dan Bandung bahkan muncul sejumlah salon yang khusus melayani para pria dari mulai membersihkan wajah, memakai master, menutupi pori-pori dengan ice globe, pengelupasan dengan enzim (enzim peeling), luluran, mengoleskan obat jerawat, pelembab dan tabir surya sampai manicure, pedicure dan lain-lain. Mustika Ratu sebagai penghasil produk kecantikan terkenal di Indonesia juga mulai meluncurkan produk kosmetik untuk pria bahkan menyediakan tempat perawatan khusus untuk pria.

2.7 FAKTOR PENDUKUNG KESEHATAN PARIWISATA

Pariwisata dapat mempengaruhi tidak hanya kesehatan pengunjung tetapi juga kesehatan masyarakat penjamu. Hal-hal yang berpengaruh terhadap kesehatan pariwisata diantaranya :

a. Kondisi lingkungan

(27)

bersih dijadikan indikator kualitas oleh wisatawan karena menunjukkan perhatian otoritas setempat terhadap masalah kesehatan lingkungan.

b. Makanan dan minuman

Kejadian yang muncul umumnya berhubungan dengan konsumsi makanan atau minuman yang tidak higienis yang mengakibatkan gangguan saluran pencernaan. Namun masalah tersebut bisa dikontrol melalui penerapan prosedur standar untuk pengelolaan makanan dan sanitasi lingkungan.

c. Upaya pencegahan, pendidikan dan promosi kesehatan masyarakat

Hal ini termasuk kesehatan lingkungan adalah fundamental dan dapat membawa perubahan sikap dan perilaku yang dapat mengurangi risiko-risiko terjadinya pemerosotan kesehatan pariwisata.

2.8 UPAYA PERLINDUNGAN KESEHATAN TERHADAP WISATAWAN

Kesehatan tidak hanya berarti sehat secara fisik tetapi juga sehat secara mental, sosial dan spiritual. Dengan demikian upaya perlindungan keseharan terhadap wisatawan meliputi empat faktor tersebut, antara lain :

 Makanan dan minuman yang sehat sehingga tidak menimbulkan gangguan pencernaan (diare).

 Tempat wisata yang aman sehingga tidak menimbulkan kecelakaan (masuk di lumpur panas di Lahendong, tenggelam di taman laut bunaken).

 Wisatawan merasa aman dan tidak di teror dalam istorahatnya / suasana yang nyaman (tidak bisa tidur, ditakut-takuti, ditonton, dsb).

 Wisatawan perlu keamanan sosial, tidak dirampok/dicuri barang-barangnya.

(28)

 Dapat mendapatkan pelayanan kesehatan yang memenuhi standar pelayanan bila mereka jatuh sakit.

 Bila diperlukan dapat melakukan evakuasi secara cepat ke negara tempat asalnya.

Pedoman bagi usaha pariwisata dalam mengupayakan kesehatan wisata di tempat usaha:

a. Obyek Wisata

 Mengupayakan lingkungan yang bersih setiap waktu, demikian juga fasilitas restoran dan WC umum.

 Menyediakan tempat-tempat pembuangan sampah dalam jumlah memadai di tempat-tempat strategis.

 Menyediakan fasilitas pertolongan pertama bila terjadi kecelakaan.

 Pemberian papan-papan peringatan pada tempat-tempat yang rawan kecelakaan yang dapat membahayakan pengunjung.

b. Akomodasi, Hotel dan Restoran

 Menjaga kebersihan kamar hotel, ruangan restoran, seluruh fasilitas dan perlengkapan.

 Mengupayakan lingkungan yang bebas lalat, nyamuk, tikus dan binatang pengganggu lainnya.

 Mengupayakan semua fasilitas yang ada seperti : salon, kolam renang dalam keadaan bersih dan bebas hama.

(29)

 Menciptakan lingkungan yang bersih dan suasana asri sehingga tamu dapat menikmati hidangan penuh selera.

 Menciptakan standar kebersihan untuk badan dan pengolahan makanan dan minuman termasuk peralatan.

 Selalu menggunakan sarung tangan plastik bila mencuci peralatan dapur dan juga pakaian tamu.

 Bertindaklah yang bijaksana bila menjumpai tamu yang kurang sehat, berikan informasi yang benar mengenai apa yang harus dilakukan.

c. Biro Perjalanan Wisata

 Menjaga agar armada angkutan yang dimiliki beserta perlengkapannya dalam kondisi bersih dan berfungsi dengan baik.

 Bis wisata harus tersedia perlengkapan: tong sampah dan kotak P3K (Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan).

 Meletakkan pesan-pesan untuk tidak merokok dalam bis pada tempat-tempat yang mudah terlihat.

 Mewaspadai mereka yang kelihatan kurang sehat dalam perjalanan. Berikan saran simpatik untuk mengatasi kondisi kurang sehat tersebut.

 Mengupayakan penampilan yang bersih, baik fisik maupun pakaian para petugas dan pramuwisata.

d. Imunisasi Untuk Wisatawan

(30)

karena ada negara-negara tertentu yang merekomendasikan untuk divaksinasikan dahulu, seperti vaksinasi menginitis bagi yang akan pergi ke Saudi Arabia (Jemaah Haji), vaksinasi yellow fever untuk yang akan pergi ke Afrika.

Ada 3 jenis imunisasi:

1. Routinel Immunization: DPT, POLIO, CAMPAK, INFLUENZA.

2. Required Immunization: Yellow Fever, Cholera, Meningococcal Meningitis.

(31)

BAB III

PENUTUP

3.1 SIMPULAN

Keperawatan pariwisata adalah pelayanan kesehatan yang diberikan pada individu, keluarga, kelompok dan yang mana individu, keluarga dan kelompok tersebut sedang melakukan perjalanan ke suatu tempat yang berbeda dari tempat/ daerah asalnya dalam sementara waktu untuk menikmati kegiatan rekreasi baik itu dalam kondisi sehat maupun sakit. Selain itu pelayanan kesehatan tersebut diberikan bertujuan untuk menambah rasa nyaman dan aman sehingga individu, keluarga dan kelompok tersebut dapat menikmati rekreasi yang telah direncanakan hingga kembali lagi ke tempat/ daerah asalnya.

3.2 SARAN

(32)

REFERENSI

Department of Information Republic of Indonesia.1998. Indonesia 1998, An Official Handbook. Jakarta: Perum Percetakan Negara

Finn, Emanuel, 2002, Health Tourism, Volume No 1 Issue No 23, Friday, June 28, 2002

Hadinoto, Kusudianto.1996. Perencanaan Pengembangan Destinasi Pariwisata. Jakarta; Penerbit Universitas Idonesia.

Mc Intoch, Robert. W.1972. Tourism Principles, Practices and Philosophies. Ohio: Grid Inc.

Mill, Robert Cristie.2000. Tourism, The International Business. Jakarta: PT Raya Grafindo Persada.

Mlesnita, Radu Adrian, 2002, Health Tourism, Volume No 1 Issue No 23, Friday, June 28, 2002

Ningsih, Wirda, 1996, Buku Pintar Wisata Indonesia,

Okshealthenv.2011. Kesehatan Wisata, Diakses pada tanggal 10 Februari 2016 website: https://okshealthenv.wordpress.com/2011/08/05/kesehatan-wisata/

IGDE. Pitana,1994. Dinamika Masyarakat dan Kebudayaan Bali. Denpasar: Penerbit BP

Irdanasputra. 2009. Pariwisata Kesehatan. Diakses pada tanggal 10 Februari 2016 website: http://irdanasputra.blogspot.co.id/2009/11/pariwisata-kesehatan.html

Oka A. Yoeti, 1987. Pengantar Ilmu Pariwisata. Bandung: Penerbit Angkasa.

1990. Pemasaran Pariwisata. Bandung: Angkasa

1996, Anatomi Pariwisata, Bandung: PT Angkasa

2000. Harian Kompas Edisi 7 Nopember 2000 Wisata Religius. Jakarta:

Pendit, Nyoman S., 2002, Ilmu Pariwisata, Jakarta: Pt. Pradnya Paramita.

(33)

Spillane, James J. 1987.Ekonomi Pariwisata, Sejarah dan Prospeknya. Yogyakarta: Penerbit Kanisius

Gambar

Tabel 1JENIS PARIWISATA KESEHATAN
Tabel 2PARIWISATA KESEHATAN YANG SUDAH DIKEMBANGKAN

Referensi

Dokumen terkait

Dalam memberikan asuhan keperawatan keluarga sehat adalah sebagai tujuan utamanya dengan cara meningkatkan status kesehatan keluarga agar keluarga dapat

Dalam memberikan pelayanan keperawatan kepada individu, keluarga, atau komunitas, perawat sangat memerlukan etika keperawatan yang merupakan filsafat yang mengarahkan

Pendahuluan : Infeksi nosokomial merupakan salah satu indikator kualitas pelayanan kesehatan yang menjadi citra penentu institusi pelayanan kesehatan. Asuhan

• Suatu bentuk pelayanan kesehatan professional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan, yang mencakup

yang diberikan kepada individu, keluarga, kelompok khusus dan masyarakat baik yang sehat maupun yang sakit (mempunyai masalah kesehatan/keperawatan), secara komprehensif

Jadi, dapat disimpulkan bahwa dokumentasi keperawatan adalah tindakan mencatat setiap data yang didapat untuk mengetahui, memantau dan menyimpulkan asuhan keperawatan Dokumentasi

Diagnosa Keperawatan Pengertian : Diagnosa keperawatan merupakan keputusan klinik tentang respon individu, keluarga dan masyarakat tentang masalah kesehatan aktual atau potensial,