• Tidak ada hasil yang ditemukan

Etika dan Ekonomi Kritik Amartya Sen ter

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Etika dan Ekonomi Kritik Amartya Sen ter"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Tugas individu Filsafat Ekonomi Paramitha Wardhani

1006692133

Etika dalam Ekonomi

(Kritik Amartya Sen atas Ekonomi Modern)

Ekonomi positif yang berkembang di era modern, konon katanya menjunjung tinggi efisisensi

dan maksimalisasi self-interseted. Ekonomi sama sekali tidak berkaitan dengan baik dan

buruk atau moral manusia. Subyek ekonomi selalu diidentikkan dengan ‘non-ethical’

counsiousness. Pandangan ini merujuk pada dikotomo Ekonomi dan Etika yang dimulai dari

tulisan Edgeworth. Yang pertama menekankan pada egoism sedang yang lain menekankan

pada pelepasan diri dari Ego. Ekonomi didasari oleh hedonism egois ajaran dari kaum

Epikurean, yang menekankan pada kesenangan diri sendiri. Sedangkan Etika berdasarkan

pada hedonism universalistic, warisan dari kaum Stoa, yang mengharapkan kebahagiaan

maksimal bagi semua orang.

Berbeda dengan pandangan Adam Smith, yang berpendapat bahwa ekonomo tidak

semata-mata berlandaskan pada pencarian kebahagiaan diri sendiri saja. Karena, menurut Smith,

seegois apapun manusia, selalu ada juga kecenderungan dalam sifat alamiah manusia untuk

menginginkan kebahagiaan bagi orang lain pula.

Sen, mengritik pandangan dua pemikir tersebut, sekaligus mengajukan pendekatan etis dalam

mengkaji kegiatan ekonomi dewasa ini. Sen menolak pemikiran Edgeworth yang

memisahkan etika dan ekonomi, namun juga memandang pemikiran Smith tidak cukup

memadai untuk menjelaskan motif tindakan ekonomi manusia, karena masih terperangkap

dalam Ego semata. Sementara bagi Sen, ego atau self-interested tidak pernah memenuhi

syarat untuk menjawab keseluruhan motif tindakan ekonomi manusia. Sebab, bagi Sen, motif

ekonomi individu tidak bisa hanya berasal dari dalam dirinya, melainkan dari banyak faktor

(2)

Dua Pendekatan Ekonomi

Amartya Sen mnyebutkan dua pendekatan dalam ekonomi, yaitu pendekatan etis dan

pendekatan engineering. Pendekatan etis tidak dapat dipisahkan dari politik. Subyek ekonomi

selalu berkaitan dengan tujuan akhir manusia. Lantas politik, sebagai suatu pengatur atas apa

yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan, haruslah meliputi segala bidang,

termasuk ekonomi. Menurut Sen, ekonomi tidaklah berfokus pada pencarian kekayaan

semata. Sedangkan uang, bukanlah tujuan akhir manusia, karena uang dan kekayaan selalu

digunakan untuk mendapatkan hal-hal lain. Dalam pendekatan etis, ada dua hal yang harus

dipahami. Yang pertama adalah ethic-related-human-motivation. Yaitu bahwa setiap tindakan

manusia tidak dapat lepas dari pertimbangan etis. Dalam hal ini, setiap tindakan manusia

tidak dapat dilepaskan dari pertanyaan-pertanyaan etis, misalnya ‘How should one’s live?’.

Yang kedua adalah ethic-related of social achievement, yaitu bahwa manusia tida bisa

semata-mata mencari kebahagiaan untuk dirinya sendiri, atau yang disebut oleh Smith

sebagai private good, melainkan juga mencari the good for man. Seperti yang dikatakan

Aristoteles, yang dikutip oleh Sen: 'though it is worthwhile to attain the end merely for one man, it is finer and more godlike to attain it for a nation or for city-states'1

Pendekatan yang kedua adalah Engineering, yaitu pendekatan yang digunakan oleh ekonomi

positivis, yang menekankan pada aspek logistik semata, dimana ekonomi dipisahkan dengan

etika. Pendekatan engineering adalah pendekatan yang berorientasi praktis, yakni bagaimana

ekonomi dapat mencapai tujuannya. Sementara tujuan ekonomi sendiri telah terberi.

Permasalahan yang ditekankan bersifat teknis, seperti bagaimana membangun sarana

prasarana, pengumpulan penghasilan, mencari koloni, dan lain sebagainya. Pertimbangan etis

dinilai tidak berperan besar dalam menganalisa human behavior.

Menurut Sen, pendekatan pertama seharusnya menempati posisi penting dalam ekonomi

modern. Namun Sen tidak menyangkal bahwa dua pendekatan ini memiliki penawaran lebih

pada masing-masing. Meski lebih menekankan pada pendekatan etis, tidak dapat ditolak

bahwa pendekatan engineering menawarkan sesuatu yang berguna kepada ekonomi.

Selanjutnya, kedua pendekatan ini malah sering dipadukan. Pemikir-pemikir besar seperti

Aristoteles dan Adam Smith yang fokus kepada permasalahan engineering, juga

memerhatikan aspek penalaran etis.

1

(3)

Rational Behavior

Asumsi bahwa manusia selalu bersikap rasional memiliki peran penting dalam ekonomi

modern. Namun demikian, tidak selamanya manusia bertindak secara rasional. Sen

membedakan antara rational behavior dengan actual behavior. Kesalahan yang terjadi adalah

seringnya actual behavior diidentikan dengan rational behavior.

Lantas bagaimana mengkriteriakan tindak mana yang rasional dan yang irrasional? Dalam

ekonomi modern, Sen menyebutkan, ada dua metode dominan untuk mengkriteriakan rational

behavior: maximalization of self-interest dan Consistency of choice.

1. Self-Interest

Makna dari self-interest sendiri mengalami berbagai perdebatan sepanjang sejarah

filsafat. Plato dengan jelas menyatakan bahwa self-interest adalah sesuatu yang buruk

dan harus dijauhi, karena kepemilikan privat hanya akan menimbulkan

ketidaksetaraan dan ketidakadilan. Sedang menurut Aristoteles, kepentingan umum

memang merupakan sesuatu yang utama. Namun untuk mencintai orang lain, kita

terlebih dahulu harus mencintai diri kita sendiri. Cinta pada diri sendiri ini dengan

demikian membawa pandangan Aristoteles untuk meletakkan kepentingan privat

mendahului kepentingan publik. Kemudian berturut-turut hingga era modern,

self-interest menjadi sesuatu yang dinilai perlu dan merupakan kodrat manusia. Hingga

kemudian ekonomi modern, mematenkan pemenuhan self-interest sebagai

satu-satunya criteria tindak rasional manusia. Dalam ekonomi modern, pemenuhan

self-interest adalah pemenuhan efisiensi dalam ekonomi.

Menurut Sen, self-interest tidak dapat menjawab semua pertanyaan mengenai

motivasi tindak ekonomi. Ada tindakan-tindakan manusia yang dipicu, bukan untuk

memenuhi self-interestnya, melainkan oleh faktor di luar dirinya. Misalnya, ketika

seseorang memberikan sumbangan. Bisa jadi orang tersebut bermaksud untuk

memenuhi doktrin atau perintah dari agamanya. Atau ketika seseorang bertindak

hanya berdasarkan kewajiban semata. Dua contoh tersebut lebih berkaitan dengan

etika daripada pemenuhan self-interest. Sen tidak bermaksud mengatakan bahwa

tindakan manusia tidak dipengaruhi oleh self-interest, melainkan bahwa self-interest

bukanlah satu-satunya penyusun dari motivasi manusia, apalagi sebagai satu-satunya

(4)

2. Consistency of choice

Sebelum membahas konsistensi pilihan, terlebih dahulu harus dipahami mengenai

konsep Capability Sen. Capability ialah kemampuan individu untuk memilih dari

tujuan-tujuan yang bisa ia pilih2. Pendekatan kapabilitas meyakini bahwa setiap

individu memiliki functioning atau sesuatu yang ia inginkan dalam hidupnya. Setiap

functioning memiliki value, yang berbeda-beda bagi masing-masing individu. Karena

functioning ini beragam, harus diseleksi melalui proses evaluasi. Evaluasi ini yang

disebut dengan pendekatan capability, yaitu refleksi dari kombinasiatas

functioning-funtioning yang ingin dicapai. Dalam Capability terdapat Choice atau pilihan. Pilihan

ini didasarkan pada value masing-masing functioning.

Dalam ekonomi modern, konsistensi pilihan individu mendaji criteria penting dalam

menentukan rasional tidaknya tindak ekonomi. Ketika seseorang memilih x daripada

y, hal tersebut menunjukkan bahwa preferensi atau functioning seseorang itu adalah x.

Sehingga, mengacu pada preferensinya, seseorang itu akan terus memilih x daripada

y. Inilah yang disebut aksioma transivitas, yaitu pola yang ajeg dalam memilih.

Ketika orang tersebut memilih y pada satu waktu, dengan demikian melanggar

aksioma transivitas, maka orang tersebut tidak rasional.

Sen mengritik pula pandangan ini, karena kecenderungan ekonomi modern

menyamakan antara choice dengan functioning, atau preferensi. Menurut Sen,

preferensi subyek ekonomi dan pilihan subyek ekonomi berbedaMemilih x, belum

tentu individu menginginkan x sebagai bagian dari satu pola ajeg. Seperti halnya

contoh pada bagian self-interest, suatu tindakan individu tidak selalu hanya

dipengaruhi oleh sesuatu dalam dirinya, tetapi juga dari luar dirinya. Banyak hal yang

mempengaruhi individu untuk memilih x atau y, yang tidak selalu merupakan pilihan

privat individu. Bisa jadi pilihan tersebut berasal dari sesuatu dari luar dirinya, atau

merupakan gabungan dari keduanya. Faktor dari luar tersebut bisa berupa

pertimbangan etis.

Dengan demikian, Sen menilai, rasionalitas sebagai konsistensi pilihan tidak relevan

jika semata-mata direduksi menjadi konsistensi internal dalam diri individu. Ada

faktor-faktor lain yang tersedia di lingkungan dimana individu tersebut hidup, yang

2

(5)

membentuk individu, dan memberi pengaruh pada pilihan yang ia ambil dalam

kondisi tertentu.

Etika dan Ekonomi

Berdasarkan kritik tersebut, Sen kemudian menentukan tiga motif dasar tindak ekonomi

individu, yaitu: self-interest, simpati, dan komitmen. Self-interest merupakan motif yang

berjalan di ranah egoistic, sedangkan simpati dan komitmen berjalan di ranah altruistic.

Keduanya berdasarkan pada etika.

Simpati merupakan tindakan dimana kebahagiaan orang lain mengakibatkan kebahagiaan

dalam diri subyek. Simpati terjadi ketika seseorang mengejar self-interest, namun

dikarenakan afeksi dari egoismenya, menjadikan seseorang tersebut sensitive terhadap

kesejahteraan orang lain. Individu tersebut akhirnya berusaha untuk menciptakan kebaikan

untuk orang lain, dengan memperbesar self-interestnya, yakni menjadikan kesejahteraan

orang lain sebagai interestnya. Pada dasarnya simpati berangkat dari pemaksimalan

self-interest masing-masing individu.

Berbeda dengan komitmen. Dalam komitmen, self-interest individu tetap ada pada

tempatnya, tidak diperbesar ataupun dipersempit, tetapi diabaikan. Artinya komitmen terjadi

ketika individu melakukan suatu tindakan terlepas dari untung-rugi bagi dirinya sendiri.

Misalnya ketika seseorang bertindak berdasarkan prinsip-prinsip agama. Terlepas dari prinsip

agama tersebut menguntungkan atau bahkan merugikannya, individu tersebut akan bertindak

berdasarkan criteria benar-salah dari nilai-nilai agama yang dianutnya.

Komitmen identik dengan persoalan kehidupan sosial individu, karena pemenuhan komitmen

bisa berarti sebagai maximalization in general, yaitu hasil maksimal bagi kepentingan umum,

tidak sekedar maksimalisasi kepentingan pribadi. Dalam kehidupan sosial, individu

dihadapkan pada nilai-nilai yang harus diembannya sebagai makhluk sosial yang hidup

berkelompok. Komitmen, merupakan tindakan-tindakan yang sama sekali tidak dipicu oleh

maximalization self-interest, melainkan semata-mata bentuk loyalitas, pemenuhan kewajiban,

seperti yang telah disebutkan dalam problem self-interest di atas.

Komitmen inilah yang disebut Sen sebagai tindakan etis dalam ekonomi. Komitmen sangat

(6)

komitmen, sudah keluar dari egonya, dan bergerak menuju kehidupan sosial. Dengan

demikian komitmen erat kaitannya dengan identitas kamonal manusia, entah itu agama, suku,

ataupun nasionalisme, di mana individu ditutunt untuk loyal.

Kesimpulan

Amartya Sen mengritik pandangan ekonomi modern yang menekankan dua jenis rasionalitas

dalam motif tindak ekonomi individu. Self-interest sebagai tolok ukur rasionalistas tindakan

tidak memadai, karena ada tindakan-tindakan yang tidak dipicu oleh upaya pemenuhan

kesejahteraan diri sendiri. Konsistensi pilihan sebagai tolok ukur tindakan rasional juga tidak

memadai, karena pilihan individu tidak sama dengan preferensinya, yang mana banyak hal

yang dapat memperngaruhi pilihan tersebut, yang berasal dari luar diri individu.

Sen berusaha menunjukkan bahwa ekonomi tidak dapat dipisahkan dari etika, karena

bagaimanapun juga banyak tindak ekonomi yang didasarkan pada prinsip-prinsip etika, yaitu

simpati dan komitmen.

Sumber

On Ethics and Economics karya Amartya Sen

The Philosophy of Economic karya Daniel M. Hausman (ed) bagian Amartya Sen: Capability and Well-Being

Referensi

Dokumen terkait

Dengan demikian, motivasi belajar dapat berasal dari diri pribadi peserta didik itu sendiri (motivasi intrinsik/motivasi internal) dan atau berasal dari luar diri

Faktor psikologis yang berpengaruh dalam kehamilan dapat berasal dari dalam diri ibu hamil (internal) dan dapat juga berasal dari faktor luar diri ibu hamil (external).

Kesulitan belajar dapat disebabkan oleh faktor yang berasal dari diri.. anak maupun faktor yang berasal dari luar diri

maupun dari luar diri guru (motivasi ekstrinsik). Motivasi yang berasal dari dalam diri guru akan menimbulkan kesadaran akan tanggung jawab terhadap

Etika dapat juga berasal dari kata “etiquette” (Perancis) bertati kebiasaan atau cara bergaul, berperilaku yang baik.. Jadi etika adalah pola sikap, perilaku, atau kebiasaan

Sedangkan hukum merupakan suatu bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan bermasyarakat yang memiliki etika, moral, dan norma-norma didalamnya Hukum berperan sebagai

Pandangan Islam tentang manusia dalam hubungannya dengan diri sendiri dan lingkungan sosialnya dapat direpresentasikan dengan empat aksioma etika yang komprehensif

Faktor ini sering disebut dengan faktor ekstrinsik yang meliputi segala sesuatu yang berasal dari luar diri individu yang dapat mempengaruhi prestasi belajarnya