• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH Menuju Suatu Teori Perekrutan Pa

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MAKALAH Menuju Suatu Teori Perekrutan Pa"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH

“Menuju Suatu Teori Perekrutan Partai Politik”

MATA KULIAH : Sosiologi Politik

DOSEN : DR. Bakran Suni, M.Ag

JURUSAN/PRODI : Ilmu Sosiologi / Sosiologi

DISUSUN OLEH :

1. ANONG PRAMONO E1041161006

2.

LEO KANDARIS E1041161038

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS TANJUNGPURA

PONTIANAK

(2)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Akhir-akhir ini kita dihebohkan oleh berita penggunaan gelar akademik (pendidikan tinggi) palsu mulai dari S1 sampai dengan S3 bahkan Profesor di kalangan elit politik (politisi), birokrat sipil, pejabat politik, kalangan militer, kepolisian, pemuka agama bahkan sampai pula pada para artis di negeri ini dari pusat sampai ke daerah. Pendek kata hampir kebanyakan lapisan dan level kehidupan seakan-akan terasa demam jika tidak mempunyai atau ada embel-embel gelar akademik tanpa mempertimbangkan legalitas, proses dan kualitasnya.

Kemudian hal ini berlanjut pada banyaknya pemilihan artis sebagai calon anggota dewan atau pimpinan daerah. Hal ini menjadi cerminan bagi kondisi politik di Indonesia. Jangan sampai artis yang dikendarai oleh salah satu parpol hanya menunjukkan suatu popularitas tertentu tanpa memperhatikan aspek integritas, kualitas, maupun kredibilitasnya.

Perilaku kriminal (crime action) yang dipertontonkan para penyelenggara negara (di pusat maupun daerah) yang tetap berjaya hingga kini dan mereka menenggelamkan bangsa ini dari keberadaban suatu bangsa. Tentunya hal ini tidak terlepas dari sistem dan proses perekrutan politik selama ini. Peraturan perundangan yang tidak mendukung terjadinya pemerintahan yang bersih, sudah pasti akan menghasilkan para aktor publik (penyelenggara negara) yang buruk dan kriminal.

(3)

pejabat publik (kepala daerah) sebagai penyelenggara pemerintahan menjadi sangat strategis dalam proses perekrutannya.

1.2. Kajian Teori

Menurut Cheng Prudjung, rekruitmen politik adalah suatu proses seleksi anggota-aggota kelompok untuk mewakili kelompoknya dalam jabatan administratif maupun politik. Dalam pengertian lain, perekrutan politik merupakan fungsi penyeleksian rakyat untuk kegiatan politik dan jabatan pemerintahan melalui penampilan dalam media komunikasi, menjadi anggota organisasi, mencalonkan diri untuk jabatan tertentu dan sebagainya.

Perekrutan politik adalah proses pengisian jabatan-jabatan pada lembaga-lembaga politik termasuk partai politik dan administrasi atau birokrasi oleh orang-orang yang akan menjalankan kekuasaan politik (Suharno, 2004: 117).

Sedangkan menurut Cholisin, perekrutan politik adalah seleksi dan pengangkatan seseorang atau kelompok untuk melaksanakan sejumlah peran dalam system politik pada umumnya dan pemerintahan pada khususnya (Cholisin, 2007: 113).

Setiap sistem politik memiliki sistem atau prosedur perekrutan yang berbeda. Anggota kelompok yang direkrut adalah yang memiliki suatu kemampuan atau bakat yang sangat dibutuhkan untuk suatu jabatan politik. Setiap partai juga memiliki pola perekrutan yang berbeda.

Di Indonesia, perekrutan politik berlangsung melalui pemilu setelah setiap calon peserta yang diusulkan oleh partainya diseleksi secara ketat oleh suatu badan resmi. Seleksi ini dimulai dari seleksi administratif, penelitian khusus yaitu menyangkut kesetiaaan pada ideologi Negara.

(4)

yang benar-benar sudah teruji saja yang akan berhasil keluar sebagai juara. Ujian tersebut biasanya menyangkut visinya tentang keadaan masyarakat atau yang di kenal sebagai platform politiknya serta nilai moral yang melekat dalam dirinya termasuk integritasnya. Sebaliknya, dalam sistem perekrutan tertutup, kesempatan tersebut hanyalah dinikmati oleh sekelompok kecil orang. Ujian oleh masyarakat terhadap kualitas serta integritas tokoh masyarakat biasanya sangat jarang dilakukan, kecuali oleh sekelompok kecil elite itu sendiri.

Perekrutan politik atau representasi politik memegang peranan penting dalam sistem politik suatu negara. Hal ini dikarenakan proses ini menentukan siapa sajakah yang akan menjalankan fungsi-fungsi sistem politik negara itu melalui lembaga-lembaga yang ada. Oleh karena itu, tercapai tidaknya tujuan suatu sistem politik yang baik tergantung pada kualitas perekrutan politik.

Kehadiran suatu partai politik dapat dilihat dari kemampuan partai tersebut melaksanakan fungsinya. Salah satu fungsi yang terpenting yang dimiliki partai politik adalah fungsi perekrutan politik. Seperti yang diungkapkan oleh pakar politik Ramlan Surbakti, bahwa perekrutan politik mencakup pemilihan, seleksi, dan pengangkatan seseorang atau sekelompok orang untuk melaksanakan sejumlah peranan dalam sistem politik pada umumnya dan pemerintah pada khususnya. Untuk itu partai politik memiliki cara tersendiri dalam melakukan perekrutan terutama dalam pelaksanaan sistem dan prosedural perekrutan yang dilakukan partai politik tersebut. Tak hanya itu proses perekrutan juga merupakan fungsi mencari dan mengajak orang-orang yang memiliki kemampuan untuk turut aktif dalam kegiatan politik, yaitu dengan cara menempuh berbagai proses penjaringan.

(5)

1.3. Rumusan Masalah

1. Apa fungsi dari partai politik ?

2. Seperti apa perekrutan politik oleh partai politik ?

3. Bagaimana mekanisme perekrutan Politik partai politik ? 4. Apa pilihan dalam perekrutan politik ?

5. Bagaiman prosedur dan jalur dalam pelaksanaan perekrutan politik ? 6. Bagaimana tahap-tahap perekrutan politik ?

7. Bagaimana system perekrutan politik ?

8. Apa perbedaan administrasi dan jabatan politik ?

1.4. Tujuan

(6)

BAB II PEMBAHASAN

2.1. Fungsi Partai Politik

Secara umum dikenal beberapa fungsi utama Partai Politik dalam sebuah negara demokrasi, fungsi pertama adalah sebagai sarana komunikasi politik, yaitu Partai Politik sebagai perantara antara kekuatan-kekuatan dan pendapat yang ada dalam masyarakat dengan lembaga resmi pemerintah. Pertama Partai melakukan penggabungan kepentingan yang berasal dari masukan berbagai fihak, selanjutnya dilakukan perumusan kepentingan yang selanjutnya disampaikan kepada pemerintah.

Fungsi kedua yaitu sebagai sarana sosialisasi politik, bisa diartikan masyarakat belajar mengenai sistem politiknya melalui Partai Politik. Dimensi lain dari fungsi ini adaalah sebagai proses yang melaluinya masyarakat “budaya politik” yaitu norma-norma dan nilai-nilai, dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dengan demikian sosialisasi politik merupakan faktor penting dalam membentuk budaya politik suatu bangsa.

Ketiga Partai Politik berfungsi sebagai Rekruitmen politik, yaitu Partai Politik dijadikan sebagai lembaga awal yang melakukan seleksi kepemimpinan. Seleksi kepemimpinan mencakup seleksi kepemimpinan di internal Partai, kepemimpinan wilayah serta yang paling penting adalah seleksi kepemimpinan tingkat nasional.

Fungsi keempat adalah sebagai sarana pengatur konflik. Konflik yang terjadi di suatu negara membutuhkan peran Partai Politik untuk membantu mengatasinya, atau setidaknya dapat diatur sedemikian rupa sehingga dampak negatifnya dapat diminimalisir. Elit Partai dapat menumbuhkan pengertian di antara mereka dan bersamaan dengan itu dapat meyakinkan pendukungnya.

2.2. Perekrutan Politik Oleh Partai Politik

(7)

pada era reformasi. Saat ini beberapa hal penting yang harus dilakukan oleh partai politik adalah bagaimana mulai menata diri agar proses seleksi kader / pemimpin mampu melahirkan pemimpin yang berkualitas.

Peran partai politik dalam perekrutan kader partai adalah sangat penting, ini sesuai dengan salah satu fungsi dari politik itu sendiri yakni perekrutan politik. Yang dimaksud dengan perekrutan politik adalah partai politik berfungsi dan mencari orang yang berbakat untuk turut aktif dalam kegiatan politik dan proses pengisian jabatan politik melalui mekanisme demokrasi. Hal ini berarti partai menjadi wadah perekrutan politik (kader) dan sekaligus menyiapkan calon-calon pemimpin baik di level lokal maupun nasional. Perekrutan politik tidak saja menjamin kontinuitas dan kelestarian partai. Sekaligus merupakan salah satu cara untuk menyeleksi calon-calon pemimpin.

Kaderisasi di organisasi manapun merupakan urat nadi bagi sebuah organisasi. Kaderisasi adalah proses penyimpanan Sumber Daya Manusia (SDM) agar kelak mereka menjadi para pemimpin yang mampu membangun peran dan fungsi organisasi secara lebih baik. Dalam pengkaderan, ada dua persoalan yang penting. Pertama, bagaimana usaha-usaha yang dilakukan oleh organisasi untuk peningkatan kemampuan baik keterampilan maupun pengetahuan. Kedua, adalah kemampuan untuk menyediakan stok kader atau SDM organisasi, dan terutama dikhususkan pada kaum muda. Ini merupakan bentuk pendidikan politik, dimana selama ini peran tersebut terabaikan. Namun yang banyak terjadi sekarang ini adalah proses seleksi yang serampangan tanpa kaedah-kaedah tertentu yang dilakukan oleh partai politik, dapat dilihat bahwa parpol tidak menseleksi secara ketat siapa-siapa yang akan dijadikan wakil rakyat nantinya. Para pemimpin partai politik besar di Indonesia kerap berasal bukan dari kualifikasinya, melainkan dari unsur “kebangsawanan” tertentu.

2.3. Mekanisme Perekrutan Politik Partai Politik

1. Partai Golongan Karya

(8)

simpatisan dan anggota yang berada pada sektor Usaha Kecil Masyarakat (UKM), Program pengelolaan kader partai, yang meliputi, 1) Rekrutmen Anggota, 2) Diklat perkaderan, 3) Penugasan kader/ Rekrutmen dalam jabatan politik, 4) Penilaian Kader, merupakan program penting yang sangat menentukan sejauh mana penampilan partai dapat terlihat oleh publik. Oleh karena itu, dalam hal penugasan kader-kader partai Golkar untuk mengisi jabatan- jabatan politik tertentu, partai Golkar menetapkan mekanisme yang demokratis dan terbuka, sehingga dapat menghindari sejauh mengkin praktik-praktik KKN.

2. Partai Nasional Demokrat

Menurut Budi Hartono seorang Admin DPD NasDem ada dua sistem yang digunakan dalam perekrutan politik partai ini. Sistem pertama yaitu sistem perekrutan politik terbuka yang gunakan dalam penerimaan kader partai. Penerimaan kader partai ini bersifat terbuka, artinya tidak memandang status, kedudukan, kekayaan, jabatan dll. Penerimaan kader ini di awali dengan pengisian surat pernyataan anggota partai NasDem disertai fotokopi data diri seperti KTP, SIM atau KTM bagi mahasiswa. Berkas tersebut kemudian diserahkan ke DPC, DPD, atau DPW partai NasDem. Setelah berkas diterima, pihak partai kemudian akan mengirimkan data ke DPP. Pengiriman data yang dilakukan secara online ini bertujuan untuk mendapatkan KTA partai dari DPP. Untuk menarik minat anggota partai, NasDem memberi beberapa iming-iming asuransi sebesar satu juta yang berlaku bila telah menjadi anggota partai.

(9)

DPC itu sendiri. Pemilihan dilakukan pada saat rapat kerja DPC, yang pemilihnya adalah seluruh anggota DPC.

Dari hasil tersebut, dapat terlihat indikasi pengumpulan kader dengan digunakannya sistem terbuka agar pelebaran sayap partainya dalam rangka melaksanakan tujuan partai. Kualitas perekrutan partai belum dapat terlihat sepenuhnya karena partai ini belum sekalipun mengikuti PEMILU, kecuali hanya PEMILU walikota Yogyakarta yang itupun NasDem hanya menjadi anggota koalisi.

2.4. Pilihan Perekrutan Partai Politik

Adapun beberapa pilihan partai politik dalam proses perekrutan politik adalah sebagai berikut;

1. Partisan, yaitu merupakan pendukung yang kuat, loyalitas tinggi terhadap partai sehingga bisa direkrut untuk menduduki jabatan strategis.

2. Compartmentalization, merupakan proses perekrutan yang didasarkan pada latar belakang pendidikan dan pengalaman organisasi atau kegiatan sosial politik seseorang, misalnya aktivis LSM.

3. Immediate survival, yaitu proses perekrutan yang dilakukan oleh otoritas pemimpin partai tanpa memperhatikan kemampuan orang-orang yang akan direkrut.

4. Civil service reform, merupakan proses perekrutan berdasarkan kemampuan dan loyalitas seorang calon sehingga bisa mendapatkan kedudukan lebih penting atau lebih tinggi.

Ada beberapa hal menurut Czudnowski, yang dapat menentukan terpilihnya seseorang dalam lembaga legislatif, sebagaimana berikut;

1. Social background : Faktor ini berhubungan dengan pengaruh status sosial dan ekonomi keluarga, dimana seorang calon elit dibesarkan.

2. Political socialization : Merupakan suatu proses yang menyebabkan seorang menjadi terbiasa dengan tugas-tugas yang harus diilaksanakan oleh suatu kedudukan politik.

(10)

4. Apprenticeship : Faktor ini menunjuk langsung kepada proses “magang” dari calon elit ke elit yang lain yang sedang menduduki jabatan yang diincar oleh calon elit.

2.5. Prosedur Dan Jalur Pelaksanaan Perekrutan Politik

Menurut teori Almond dan Powell prosedur prosedur perekrutan politik terbagi dalam dua bagian yaitu:

1. Prosedur tertutup: artinya perekrutan dilakukan oleh elit partai yang memiliki kekuasaan untuk memilih siapa saja calon-calon yang dianggap layak diberikan jabatan berdasarkan skill dan kapasitas yang dimilikinya untuk memimpin. Sehingga prosedur ini dianggap prosedur tertutup karna hanya ditentukan oleh segelintir orang

2. Prosedur terbuka: artinya setiap masyarakat berhak untuk memilih siapa saja yang bakal menjadi calon pemimpin didalam negaranya serta pengumuman hasil pemenang dari kompetisi tersebut dilaksankan secara terbuka, dan terang-terangan.

Didalam perekrutan politik juga dikenal istilah jalur-jalur politik yang perlu kita ketahui secara luas kajian-kajianya antara lain:

1. Jalur koalisi partai atau pimpinan-pimpinan partai artinya koalisi-koalisi partai merupakan bagian terpenting didalam perekrutan politik karena sebagian besar kesepakatan dan pengangkatan politik di adopsi dari hasil koalisi-kolisi antar partai yang berperan dalam suatu lingkup politik. Artinya perekrutan politik tidak terlepas dari peranan koalisi partai.

(11)

dinilai dari berbagai segi yaitu kriteria-kritreia tertentu, distribusi-distribusi kekuasaan, bakat-bakat yang terdapat didalam masyarakat, langsung tidak langsung menguntungkan partai politik. Semua faktor-faktor tersebut perlu kita kaji dan pahami karena tidak mudah untuk menjadi seorang pemimpin. Kita harus mempunyai skill, kecakapan, keahlian untuk terjun ke dalam dunia politik. Karena dunia politik merupakan dunia yang keras penuh persaingan taktik dan teknik. 3. Jalur perekrutan berdasarkan kaderisasi artinya setiap kelompok-kelompok partai harus menyeleksi dan mempersiapkan anggota-anggotanya yang dianggap mampu dan cakap dalam mendapatkan jabatan-jabatan politik yang lebih tinggi jenjangya serta mampu membawa/memobilisasi partai-partai politiknya sehingga memberi pengaruh besar dikalangan masyarakat. Hal ini menjadi salah satu tujuan dari terbentuknya suatu partai politik yang perlu kita ketahui. Seperti yang terangkum didalam teori Almond dan G. Bigham powell menjelaskan “perekrutan politik tergantung pula terhadap proses penseleksian didalam partai politik itu sendiri”. Jadi kesimpulanya setiap individu harus mempunyai skill yang mampu diperjualbelikan sehingga mampu menempati jabatan-jabatan penting suatu negara.

(12)

tidak meluas ataupun merata pembagian kekuasaanya. Hanya kelompok minoritas atau orang-orang penting yang dapat memperoleh jabatan politik didalam suatu system monarki

2.6. Tahap-tahap perekrutan Politik

Berikut ini adalah tahap perekrutan politik menurut penulis, Winardi Wardhana :

 Tahap Terdidik, yaitu tahap yang bisa dilalui oleh politikus untuk memahami strukturisasi politik dan pendidikan tentang kenegaraan. Anggota Partai Politik > Calon Anggota Legislatif > Kriteria ICW > Anggota Legislatif > Ketua DPR/MPR > Gubernur/Menteri > Pemilu > Presiden

 Tahap Terlatih (berpengalaman), yaitu tahap yang bisa menjadi strategi beberapa presiden di Indonesia dengan mengalami tata cara bernegara dalam kementerian terlebih dahulu. Anggota Partai Politik > Gubernur/Menteri > Pemilu > Presiden.

 Tahap Kepercayaan (langsung), yaitu tahap seseorang dipercaya oleh Partai Politik yang dia ikuti dan maju sebagai calon presiden dalam pemilu melawan calon presiden lainnya. Anggota Partai Politik > Ketua ParPol > Pemilu > Presiden.

 Tahap Independensi, yaitu tahap yang pernah diajukan oleh beberapa kalangan untuk maju sebagai presiden melalui dukungan banyak pihak untuk dipilih langsung dalam Pemilu. Tahap ini sempat diajukan oleh mahasiswa dan kaum independen pada Pemilu 2009. Non ParPol (Independen) > Presiden.

2.7. Sistem Perekrutan Politik

Sistem perekrutan politik terdiri dari beberapa cara yaitu: 1. Seleksi pemilihan melalui ujian.

2. Latihan(training) Kedua hal tersebut menjadi indikator utama didalam perekrutan politik.

(13)

4. Rotasi memiliki tujuan mencegah terjadinya dominasi jabatan dari kelompok-kelompok yang berkuasa maka perlu adanya pergantian secara periode dalam jabatan-jabatan politik.

5. Perebutan kekuasaan dengan menggunakan atau mengancam dengan kekerasan. Cara ini tidak patut dicontoh karena untuk menjadi seorang pemimpin tidaklah harus melakukan tindakan-tindakan tidak terpuji karena kita telah dididik dengan baik dan harus menerapkan teknik-teknik yang baik pula dalam berpolitik.

6. Petronag artinya suatau jabatan dapat dibeli dengan mudah melalui relasi-relasi terdekat. Petronag masih memiliki keterkaitanya dengan budaya korupsi.

7. Koopsi (pemilihan anggota-anggota baru) artinya memasukan orang-orang atau anggota baru untuk menciptakan pemikiran yang baru sehingga membawa suatu partai pada visi dan misi yang ditujunya.

2.8. Jabatan Politik dan Administrasi

Selanjutnya materi yang perlu kita kaji adalah pentingya mengetahui pembagian jabatan didalam politik yaitu:

1. Jabatan politik artinya jabatan yang diperoleh sebagai dari hasil pemilihan rakyatnya atau yang ditunjuk langsung oleh pemerintah dan dikenal sebagai seorang “politikus”. Masa jabatanya hanya dua kali periode.

(14)

Perlu ada penyelidikan lebih lanjut didalam suatu birokrasi negara karena:

1. Adanya pandangan kabur antara politikus dan administrator didalam masyarakat. Hampir sebagian masyarakat menganggap bahwa politikus dan administrator mengemban tugas dan jabatan yang sama. Hal ini menjadi pandangan yang salah yang perlu dikaji secara lebih luas sehingga kami menerangkan pngertianya seperti yang terangkum diatas. Bahkan di sejumlah sistem-sistem politik didunia berusaha untuk memisahkan pengertian antara jabatan politik dan administratif dengan cara melembagakan doktrin “netralitas politik” bagi para administrator.

2. Di Inggris, pegawai-pegawai politik direkrut melalui badan politik yang netral. Sedangkan di Amerika Serikat partai yang berkuasa mengadakan perubahan personil secara ekstensif pada eselon yang lebih tinggi dari dinas sipil waktu memulai pemerintahan,meliputi perluasan pengawasan partai secara langsung terhadap jabatan administratif. Politikus dapat berganti-ganti setiap periode tetapi administrator tetap pada posisinya.

(15)

BAB III PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Perekrutan politik adalah suatu proses penyeleksian individu untuk diletekan pada peranan-peranan politik yang penting didalam suatu negara. Peranan-peranan penting ini bukan sembarang orang dapat mendudukinya karena orang-orang didalamnya menentukan maju-mundurnya suatu negara. Maka didalam perekrutan politik haruslah benar-benar mencari orang-orang yang memiliki skill dan kapasitas yang maksimal karena ia kan mengemban tugas yang menyangkut masa depan suatu negara.

Didalam perekrutan politik tidak menutup kemungkinan para calon-calonya melakukan teknik-teknik yang curang seperti: perebutan kekuasaan dengan menggunakan atau mengancam dengan kekerasan, Petronag, dll. Cara-cara curang inilah yang mestinya harus dihindari karena dapat menghancurkan negara. Apabila jabatan disalah gunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab dan tidak memiliki kemampuan untuk memimpin maka hancurlah masa depan suatu negara.

3.2. Saran

(16)

DAFTAR PUSTAKA

http://chengxplore.blogspot.com/2010/12/rekrutmen-politik.html http://pajaksolusi.blogspot.com/2013/06/rekrutmen-politik-di-negara-indonesia.html

Referensi

Dokumen terkait

11 Rino Adi Nugroho (2010) Analisis Perbandingan Efisiensi Bank Umum Syariah (BUS) dan Unit Usaha Syariah (UUS) dengan metode Stochastic Frontier Analysis periode

Penelitian ini mengunakan populasi total dengan alat pengumpulan datanya adalah skala yang diisi oleh orangtua, yakni Compassion Scale untuk mengungkap compassion orangtua

Dan dari segi proses kegiatan pembelajaran peneliti menyimpulkan bahwa dengan tipe make a match ini dapat memberikan manfaat bagi santri, diantaranya adalah: (1) mampu

Usaha budidaya udang vaname dinyatakan layak, dengan NPV pada sistem intensif nilai teringgi lebih dai 1(NPV˃1), hal ini berarti usaha tersebut menguntungkan dan

Pengalaman adalah guru yang baik, demikian bunyi pepatah. Pepatah ini mengandung maksud bah!a pengalaman itu merupakan sumber pengetahuan, atau pengalaman itu merupakan

3.6.1.1.2 Menyusun angket variabel penelitian, yakni variabel standardisasi kompetensi profesionalisme konselor, angket performansi aktual kompetensi konselor

Dalam penelitian ini media yang digunakan adalah media audio visual yang menarik bagi siswa karena dengan adanya media ini siswa dapat melihat bermacam-macam

Artikel ini adalah hasil dari penelitian yang dilakukan untuk menggali khasanah khas kota dalam bentuk tampilan luar atau fasad bangunan sebagai alternatif