• Tidak ada hasil yang ditemukan

Implementasi EYD pada Makalah. doc

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Implementasi EYD pada Makalah. doc"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

BUDAYA WANI PIRO

SEBAGAI ANCAMAN DEMOKRASI DI INDONESIA

Oleh:

Eko Widyaningsih 4101413102

(2)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Bagi beberapa kalangan di masyarakat, momentum pemilu sudah tidak menjadi sebuah momen untuk memilih calon pemimpin mereka. Sikap skeptis dan lebih berorientasi kepada materi bahkan memanfaatkan momentum pemilu untuk memberi keuntungan pada diri sendiri sering terjadi. Masyarakat terlibat dalam sikap pragmatisme transaksional nomor piro wani piro. Hal tersebut sudah berada di seluruh aspek kehidupan masyarakat Indonesia saat ini.

Budaya wani piro merupakan salah satu ancaman demokrasi di Indonesia. Budaya ini dikenal dari mulai anak-anak hingga dewasa. Budaya ini seakan telah mengakar di Indonesia dan hampir selalu mewarnai pemilu di Indonesia, baik pemilu presiden, gubernur, bupati, serta wakil-wakil rakyat baik pusat maupun daerah. Antara masyarakat dan calon wakil rakyat terlihat bahwa keduanya sama-sama terlibat dalam budaya wani piro. Hal ini karena sebagian besar caleg masih mengandalkan kekuatan uang untuk mendapatkan suara sehingga budaya money politik makin sulit dihindari.

Seharusnya, budaya wani piro tersebut tidak terjadi dalam demokrasi Indonesia. Masyarakat dan calon wakil rakyat harus memiliki karakter yang baik. Keduanya seharusnya menyadari bahwa budaya wani piro dapat menghancurkan Indonesia sendiri. Budaya wani piro dapat menghasilkan pemimpin yang tidak bertanggung jawab yang pada akhirnya akan merugikan rakyat Indonesia sendiri.

(3)

Oleh karena itu, pada makalah ini penulis akan membahas tentang “Budaya Wani Piro sebagai Ancaman Demokrasi di Indonesia.”

1.2 Rumusan Masalah

Penulis merumuskan beberapa masalah sebagai berikut.

1. Bagaimana pelaksanaan demokrasi di Indonesia saat ini?

2. Mengapa budaya wani piro terjadi di Indonesia?

3. Apa saja dampak-dampak yang ditimbulkan dari budaya wani piro bagi bangsa Indonesia?

1.3 Tujuan

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut. 1. Mengetahui pelaksanaan demokrasi di Indonesia saat ini. 2. Mengetahui alasan-alasan budaya wani piro terjadi Indonesia.

3. Mengetahui dampak-dampak yang ditimbulkan dari budaya wani piro bagi bangsa Indonesia.

1.4 Manfaat

Manfaat dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut.

1. Mengetahui praktik budaya wani piro yang terjadi dalam pemilu di Indonesia.

(4)

BAB II KAJIAN TEORI

2.1 Pengertian Demokrasi

Istilah demokrasi berasal dari bahasa Yunani, yaitu “demos” yang berarti rakyat dan “kratos” yang berarti pemerintahan. Jadi, demokrasi berarti pemerintahan, atau suatu pemerintahan di mana rakyat memegang kedaulatan yang tertinggi atau rakyat diikutsertakan dalam pemerintahan negara. Abraham Lincoln menyatakan bahwa demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

2.2 Indikator Demokrasi

Untuk menentukan suatu negara benar-benar demokratis atau tidak, digunakan lima indikator.

Sunarto (2013:44) menyimpulkan kelima indikator tersebut adalah sebagai berikut.

1. Akuntabilitas, bahwa dalam demokrasi setiap pemegang jabatan yang dipilih oleh rakyat harus dapat mempertanggungjawabkan kebijaksanaan yang hendak dan telah ditempuhnya, ucapannya, dan yang tidak kalah pentingnya adalah perilaku dalam kehidupan yang pernah, sedang, bahkan akan dijalaninya,

2. Rotasi kekuasaan, bahwa dalam demokrasi peluang akan terjadinya rotasi kekuasaan harus ada dan dilakukan secara teratur dan damai, jadi tidak hanya satu orang yang selalu memegang jabatan, sementara peluang orang lain tertutup sama sekali,

3. Rekruitmen politik yang terbuka, bahwa untuk memungkinkan terjadinya rotasi kekuasaan, diperlukan suatu sistem rekruitmen yang terbuka, artinya setiap orang yang memenuhi syarat untuk mengisi suatu jabatan politik yang dipilih oleh rakyat mempunyai peluang yang sama dalam melakukan kompetisi untuk mengisi jabatan tersebut,

4. Pemilihan umum, bahwa dalam suatu negara demokrasi pemilu dilaksanakan secara teratur, setiap warga negara yang telah dewasa mempunyai hak untuk memilih dan dipilih dan bebas menggunakan haknya tersebut sesuai dengan kehendak hati nuraninya,

(5)

menyatakan pendapat, hak untuk berkumpul dan berserikat, dan hak untuk menikmati pers yang bebas.

2.3 Budaya Wani Piro

Wani piro dalam terminologi masyarakat terinspirasi sebuah iklan televisi yang diadopsi untuk menggambarkan budaya masyarakat dalam menghadapi pemilu, baik pemilu legislatif untuk memilih calon legislatif maupun pemilu kepala daerah untuk memilih calon kepala daerah. Wani piro menunjukkan politik transaksional jual beli suara yang berlangsung dalam proses dukung mendukung dan memilih calon (kontestan) peserta pemilu.

Labolo Muhadam (2011:56) menarik kesimpulan sebagai berikut.

Budaya wani piro berkaitan erat dengan logika dan logistik. Logika dan logistik adalah dua konsep yang berbeda. Logika menunjukkan cara berpikir dengan alur dan sistematika tertentu sehingga mengandung kesimpulan premis yang rasional dan abstraktif. Di masyarakat umum, sering kali sesuatu dianggap logis kalau masuk di akal. Para penyelidik suka membuat pertanyaan bagi para tersangka agar mereka mampu menyimpulkan setiap kasus secara logis, sedangkan logistik cenderung dimaknai sebagai segala sesuatu yang berbentuk materi, bahkan sumber daya yang menyokong segala hal yang lahir dari logika. Karenanya, logika tanpa logistik apalah gunanya. Ibaratnya, logika adalah konsepnya, sedangkan logistik adalah operasionalisasinya. Untuk apa logika hebat sekalipun, kalau logistiknya tidak jelas, demikian kata kawan saya. Logika sebaiknya berbanding lurus dengan logistik, supaya semua beres.

(6)

mampu menjamin logistik dan membuat rakyat tidur nyenyak tanpa gangguan, silakan pimpin daerah ini.

2.4 Undang-Undang tentang Budaya Wani Piro

Budaya wani piro sesungguhnya bertentangan dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, Pasal 301, yang berbunyi

1. Setiap pelaksana kampanye pemilu yang dengan sengaja menjanjikan atau memberikan uang atau materi lainnya sebagai imbalan kepada peserta kampanye peserta pemilu secara langsung ataupun tidak langsung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 89 dipidana dengan pidana paling lama dua tahun dan denda paling banyak Rp24.000.000,00 (dua puluh empat juta rupiah).

2. Setiap pelaksana, peserta, dan/atau petugas kampanye pemilu yang dengan sengaja pada masa tenang menjanjikan atau memberikan imbalan uang atau materi lainnya kepada pemilih secara langsung ataupun tidak langsung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 84 dipidana dengan pidana penjara paling lama empat tahun dan denda paling banyak Rp48.000.000,00 (empat puluh delapan juta rupiah).

3. Setiap orang yang dengan sengaja pada hari pemungutan suara menjanjikan atau memberikan uang atau materi lainnya kepada pemilih untuk tidak menggunakan hak pilihnya atau memilih peserta pemilu tertentu dipidana dengan pidana penjara paling lama tiga tahun dan denda paling banyak Rp36.000.000,00 (tiga puluh enam juta rupiah).

2.5 Kriteria Pemimpin Berkualitas

Dalam memilih calon pemimpin bangsa, seharusnya rakyat berpedoman pada kriteria pemimpin yang berkualitas, bukan malah berorientasi pada budaya wani piro.

(7)

(1) memiliki kemampuan memahami betul apa kekuatan daerah yang dipimpinnya. Pemahaman ini akan mendorong kemampuan pemimpin daerah tersebut dalam mengeksplorasi dan mengeksploitasi secara proporsional bagi masa depan setiap generasi. Ketidakpahaman akan potensi daerah mengakibatkan daerah kurang diuntungkan dari aspek marketable sehingga minus secara ekonomi,

(2) memiliki kemampuan untuk memahami betul apa yang menjadi kelemahan daerahnya. Jika pemimpinnya mengetahui betul apa kelemahan daerahnya maka ia akan mengetahui betul apa masalah pokok yang telah, sedang, dan akan dihadapi,

(3) kemampuan untuk menemukan jalan keluar (way out) atas masalah yang telah dipahami,

(4) kemampuan memanfaatkan peluang yang ada bagi upaya mendorong potensi daerah agar diterima secara luas. Kemampuan ini dibutuhkan sehingga daerah yang dipimpin dapat menjadi tolok ukur bagi daerah lain,

(5) kemampuan proaktif dan partisipatif terhadap setiap masalah yang dihadapi masyarakat,

(6) kemampuan mendorong bawahan sehingga mampu bekerja secara efektif, efisien, dan produktif dalam pelayanan masyarakat,

(7) kemampuan menciptakan cara dan iklim kerja yang mendukung wawasan kebersamaan dalam upaya mencapai tujuan pemerintahan daerah.

Dengan berpedoman pada kriteria-kriteria tertentu, diharapkan akan terpilih pemimpin yang benar-benar berkompeten dan mampu memimpin daerah-daerah di Indonesia dengan penuh tanggung jawab. Dengan demikian, akan terwujud pemilu yang bersih dan sehat sehingga tercipta negara Indonesia yang demokratis, aman, makmur, dan sejahtera.

2.6 Manfaat Demokrasi

Menurut Srijanti, dkk. (2006:52), manfaat demokrasi tersebut antara lain: 1. kesetaraan sebagai warga negara, artinya demokrasi bertujuan

untuk memperlakukan semua orang adalah sama dan sederajat, 2. memenuhi kebutuhan-kebutuhan umum, artinya semakin besar

suara rakyat dan menentukan kebijakan, semakin besar pula kemungkinan kebijakan itu mencerminkan keinginan dan aspirasi-aspirasi rakyat,

(8)

pendapat dan kepentingan pada sebagai besar masalah kebijakan tetapi juga menghendaki bahwa perbedaan-perbedaan itu harus dikemukakan dan didengarkan, dengan demikian demokrasi mengisyaratkan kebhinekaan dan kemajemukan dalam masyarakat maupun kesamaan kedudukan di antara para warga negara,

4. menjamin hak-hak dasar, yaitu diskusi terbuka sebagai metode mengungkapkan dan mengatasi masalah-masalah perbedaan dalam kehidupan sosial tidak dapat terwujud tanpa kebebasan-kebebasan,

(9)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

Metode penelitian dapat dipahami sebagai tata cara bagaimana suatu penelitian dilaksanakan. Sugiyono (2009:3) mendefinisikan metode penelitian adalah cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Dalam pengertian yang lain, Nana Syaodih Sukmadinata (2005:52) mendefinisikan metode penelitian sebagai rangkaian cara atau kegiatan pelaksanaan penelitian yang didasari oleh asumsi-asumsi dasar, pandangan-pandangan filosofis dan ideologis, pertanyaan dan isu-isu yang dihadapi.

(10)

BAB IV PEMBAHASAN

Ditinjau dari lima indikator negara dikatakan demokratis atau tidak, negara Indonesia belum bisa dikatakan sebagai negara yang benar-benar demokratis. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal yang terjadi dan menyimpang dari demokrasi yang seharusnya. Banyak pemimpin yang tidak mempertanggungjawabkan kebijaksanaan dan ucapannya, banyak para pemimpin yang hanya mengucapkan janji palsu. Jelas, hal ini bertentangan dengan indikator demokrasi yaitu akuntabilitas. Selain itu, pemilihan umum untuk memilih calon pemimpin rakyat diwarnai dengan budaya wani piro. Akibatnya, pemimpin yang terpilih kelak bisa saja tidak memenuhi syarat untuk mengisi jabatan politik. Jelas, hal ini bertentangan dengan indikator demokrasi yaitu rekruitmen politik yang terbuka.

Budaya wani piro telah mengancam demokrasi di Indonesia. Bagi beberapa kalangan di masyarakat, momentum pemilu sudah tidak menjadi sebuah momen untuk memilih calon pemimpin mereka. Sikap skeptis dan lebih berorientasi kepada materi bahkan memanfaatkan momentum pemilu untuk memberi keuntungan pada diri sendiri kerap terjadi. Masyarakat terlibat dalam sikap pragmatisme transaksional nomor piro wani piro. Hal tersebut sudah berada di seluruh aspek kehidupan masyarakat Indonesia saat ini.

(11)

piro yang sesungguhnya merapuhkan tujuan demokrasi untuk menghasilkan calon-calon anggota legislatif yang berkualitas dan berkarakter/berintegritas.

Demikianlah gambaran pelaksanaan demokrasi di Indonesia saat ini. Jika budaya wani piro dalam pemilu terus berlanjut maka Indonesia akan dipimpin oleh para pemimpin yang pada dasarnya kurang berkompeten. Budaya wani piro juga bertentangan dengan salah satu asas pemilu.

Budaya wani piro sesungguhnya bertentangan dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, Pasal 301 yang berbunyi:

1. Setiap pelaksana Kampanye Pemilu yang dengan sengaja menjanjikan atau memberikan uang atau materi lainnya sebagai imbalan kepada peserta Kampanye Peserta Pemilu secara langsung ataupun tidak langsung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 89 dipidana dengan pidana paling lama 2 (dua) tahun dan denda paling banyak Rp 24.000.000,00 (dua puluh empat juta rupiah).

2. Setiap pelaksana, peserta, dan / atau petugas Kampanye Pemilu yang dengan sengaja pada masa tenang menjanjikan atau memberikan imbalan uang atau materi lainnya kepada Pemilih secara langsung ataupun tidak langsung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 84 dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan denda paling banyak Rp 48.000.000,00 (empat puluh delapan juta rupiah).

3. Setiap orang yang dengan sengaja pada hari pemungutan suara menjanjikan atau memberikan uang atau materi lainnya kepada pemilih untuk tidak menggunakan hak pilihnya atau memilih Peserta Pemilu tertentu dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp 36.000.000,00 (tiga puluh enam juta rupiah).

(12)

keinginan untuk mendapatkan caleg berkualitas dan berkarakter (berintegritas) berdasarkan pemilu tidak akan tercapai, karena mengajarkan kepada masyarakat menjadi pragmatis, dan tidak dapat menggunakan hak pilih secara cerdas dan objektif.

Indonesia terancam gagal membangun demokrasi karena dua hal. Pertama, proses demokrasi yang berlangsung saat ini terjebak dalam bentuk demokrasi prosedural yang melelahkan banyak pihak. Rakyat lelah karena keadilan, kesejahteraan, dan kemakmuran yang diidamkannya melalui sistem demokrasi tak kunjung datang. Rakyat mulai merasakan demokrasi yang sekarang berjalan ini hanya menguntungkan sekelompok elite partai saja. Oleh karena itu, rakyat kini mulai berperilaku pragmatis menghadapi proses demokrasi, yaitu, mencari uang dengan menunggu “serangan fajar” dari setiap kontestan pemilu. Hampir di semua pemilu, baik itu pemilu legistif, pilpres, atau pilkada, rakyat sekarang mencari uang melaui demokrasi prosedural tersebut. Ancaman kedua, Indonesia kini memasuki babak baru dalam sejarah kesenjangan sosial. Indeks gini ratio (alat ukur kesenjangan antara kelompok kaya dan miskin) di Indonesia kini sudah mencapai 0,42 %. Kondisi ini belum pernah terjadi dalam sejarah.

Jika rakyat dalam memilih calon pemimpin berpedoman pada budaya wani piro maka pemimpin yang dihasilkan bisa jadi kurang berkompeten dan mungkin tidak memenuhi kriteria pemimpin yang seeharusnya. Akibatnya, Indonesia akan dipimpin oleh pemimpin yang kurang berkualitas. Budaya wani piro ini sesungguhnya merapuhkan tujuan demokrasi untuk menghasilkan calon-calon anggota legislatif yang berkualitas dan berkarakter (berintegritas). Budaya wani piro dapat menghasilkan pemimpin yang tidak bertanggung jawab yang pada akhirnya akan merugikan rakyat Indonesia sendiri, seperti melakukan korupsi. Dengan demikian, akan sulit bagi bangsa Indonesia untuk mewujudkan negara Indonesia yang berdaulat, adil, makmur, dan sejahtera. Selain itu, budaya wani piro juga mengajarkan kepada masyarakat menjadi pragmatis, dan tidak dapat menggunakan hak pilih secara cerdas dan objektif.

(13)
(14)

BAB V PENUTUP

5.1 Simpulan

1. Pelaksanaan demokrasi di Indonesia saat ini, utamanya dalam pemilu, terancam oleh merebaknya budaya wani piro. Sebagian besar calon pemimpin masih mengandalkan kekuatan uang untuk meraup suara. Sesuai realita di lapangan, rakyat Indonesia sendiri memang mau menerima uang dari calon pemimpin tersebut. Bagi rakyat, calon pemimpin yang memberikan jumlah uang paling besar itulah yang akan dipilih.

2. Budaya wani piro terjadi di Indonesia disebabkan sikap apatis (kurangnya kepedulian) para pemimpin terhadap kepentingan rakyat dan hanya berorientasi memperjuangkan kepentingan pribadi atau kelompoknya saja. Para calon pemimpin rakyat berharap bahwa dengan memberikan uang maka rakyat akan bersedia memilihnya untuk menjadi pemimpin. Sedangkan rakyat Indonesia sendiri mau menerima uang karena alasan tersebut dan rakyat memang membutuhkannya untuk memenuhi kebutuhannya.

3. Dampak-dampak yang ditimbulkan dari budaya wani piro antara lain pemilu menjadi tidak bersih dan tidak sehat serta tidak sesuai dengan asas pemilu, mengajarkan kepada masyarakat menjadi pragmatis, dan tidak dapat menggunakan hak pilih secara cerdas dan objektif, dapat mengancam demokrasi di Indonesia, dan merapuhkan tujuan demokrasi untuk menghasilkan pemimpin yang berkualitas dan berkarakter (berintegritas) yang akibatnya akan merugikan rakyat Indonesia sendiri sehingga akan sulit bagi bangsa Indonesia untuk mewujudkan negara Indonesia yang berdaulat, adil, makmur, dan sejahtera.

(15)

1. Melakukan sosialisasi pada rakyat Indonesia tentang kriteria pemimpin yang berkualitas dan menjelaskan dampak yang ditimbulkan dari budaya wani piro.

2. Mengadakan berbagai kegiatan pendidikan politik untuk mencerdaskan masyarakat sehingga masyarakat akan benar-benar dapat menggunakan hak pilihnya secara benar dan sesuai keinginan hati nuraninya berdasarkan pertimbangan kemampuan intelektual (akademik), dan kualitas kepribadian (berkarakter, berintegritas) serta memiliki sensitivitas terhadap rakyat.

3. Mengubah budaya wani piro menjadi wani opo.

(16)

Affan, Affandi. 2014. “Antara Budaya Wani Piro dan Berjuang”.

http://www.ipublika.com/2014/03/pemilu-2014-antara-budaya-wani-piro.html (diunduh pada tanggal 19 April 2014).

Firdaus, Fahmi. 2014. “Budaya Wani Piro Ancam Demokrasi di Indonesia”. http://pemilu.okezone.com/read/2014/01/18/568/928261/budaya-wani-piro-ancam-demokrasi-di-indonesia (diunduh pada tanggal 16 Maret 2014).

HarianSIB. 2014. “Penyebab Masyarakat Bersikap Nomor Piro Wani Piro”. http://hariansib.co/view/Dalam-Negeri/10381/Ini-Penyebab-Masyarakat-Bersikap--Nomor-Piro-Wani-Piro-.html#.U1AiHvmSwrU (diunduh pada tanggal 18 April 2014).

Infobanua. 2014. “Budaya Wani Piro Kuasai Demokrasi di Indonesia”. http://infobanua.co.id/budaya-wani-piro-kuasai-demokrasi-indonesia/

(diunduh pada tanggal 18 April 2014).

Krina, Eidi. 2013. “Ancaman Demokrasi di Indonesia di Mata Mahfud MD”.

http://daerah.sindonews.com/read/2013/12/11/12/815956/ancaman-demokrasi-indonesia-di-mata-mahfud-md (diunduh pada tanggal 18 April 2014).

Labolo, Muhadam. 2011. Dinamika Demokrasi, Politik, dan Pemerintahan Daerah. Jakarta: PT Indeks Permata Puri Media.

Srijanti, dkk. 2006. Etika Berwarga Negara. Jakarta: Salemba Empat.

Sunarto, dkk. 2013. Pendidikan Kewarganegaraan di Perguruan Tinggi. Semarang: Universitas Negeri Semarang Press.

Referensi

Dokumen terkait

Pada proses pemeriksaan ini polisi akan meminta keterangan kepada si pelaku apakah si pelaku benar pernah melakukan perjanjian kredit dengan pihak lembaga pembiayaan,

disodium phosphat dihydrat dari batuan phosphat dan dari soda ash untuk. kemudian direaksikan dengan asam seperti : asam sulfat atau

Selisih antara pola output aktual ( output yang dihasilkan) dengan pola output yang dikehendaki ( output target) yang disebut error digunakan untuk mengoreksi bobot

elusidasi struktur dengan spektroskopi inframerah, spektroskopi resonansi magnet inti proton, dan spektrometri massa menunjukkan bahwa senyawa hasil sintesis adalah asetil

Pada tahap penilaian yang dilakukan oleh subyek penelitian uji coba produk mengenai media pembelajaran dengan Lectora Inspire pada mata pelajaran kewirausahaan materi

Oleh karena banyaknya kendala yang dihadapi dalam menerapkan konsep ini sehingga konsep ini bukan cara yang efektif dalam mengelola lingkungan, maka strategi pengelolaan

Pada kegiatan inti pertemuan 1 dan pertemuan 2 pembelajaran diawali dengan guru menbagi kelas menjadi 4 kelompok, dalam kelompok terdiri dari 5 sampai 6 siswa, proses

Dari hasil pelaksanaan Survei Kepuasan Masyarakat (SKM) pada Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Kapuas Hulu secara umum