RENCANA PENGEMBANGAN PULAU KECIL SECARA
BERKELANJUTAN MELALUI POLA AGROMARINE:
KAJIAN PULAU ROMANG, MALUKU BARAT DAYA
KARYA ILMIAH
Oleh :
Bruri Melky Laimeheriwa
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS PATTIMURA
BAB I. PENDAHULUAN
1. 1. Latar Belakang
Sebagai negara kepulauan terbesar di Dunia, yang terdiri dari 13.466 pulau dan garis pantai sepanjang 95.181 km (terpanjang ke dua di Dunia setelah Canada) serta wilayah laut teritorial seluas 5,1 juta km2 (63 % dari total wilayah teritorial Indonesia), ditambah dengan Zona Ekonomi Eksklusif seluas 2,7 juta km2, sesungguhnya Indonesia memiliki potensi sumberdaya alam pesisir dan lautan yang sangat besar dan beraneka- ragam. Dari sekian ribu pulau tersebut, sebagian besar merupakan pulau-pulau kecil yang jumlahnya lebih dari 10.000 buah.
Pulau-pulau kecil pada umumnya memiliki potensi sumberdaya alam daratan yang sangat terbatas, tetapi sebaliknya memiliki potensi sumberdaya kelautan yang cukup besar, dimana potensi perikanan di pulau-pulau kecil didukung oleh adanya ekosistem seperti terumbu karang, padang lamun (seagrass) dan mangrove. Sumberdaya kelautan pada kawasan pulau-pulau kecil memiliki potensi keaneka-ragaman hayati yang bernilai ekonomi tinggi seperti berbagai jenis ikan, udang dan kerang, yang kesemuanya merupakan aset bangsa yang sangat strategis untuk dikembangkan dengan basis kegiatan ekonomi pada pemanfaatan sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan (environmental service) kelautan.
yang berbatasan dengan negara lain sebagai pinu gerbang keluar masuknya aliran orang dan barang yang rentan terhadap okupasi negara lain. Kedua, fungsi ekonomis dimana wilayah pulau-pulau kecil memiliki sumberdaya kelautan dan perikanan dengan produktifitas hayati tinggi serta pusat kegiatan wisata bahari yang potensial untuk dikembangkan sebagai wilayah bisnis yang berbasis sumberdaya. Ketiga, fungsi ekologis, dimana ekosistem pesisir dan laut pulau-pulau kecil berfungsi sebagai tempat berlangsungnya siklus hidrologi dan biogeokimia, penyerap limbah, sumberplasma nuftah dan energi alternatif, dan sistem penunjang kehidupan lainnya.
Dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk dan intensitas pembangunan, serta kenyataan bahwa sumberdaya alam di daratan (seperti hutan, lahan pertanian) dan mineral terus menipis atau sukar untuk dikembangkan, maka sumberdaya kelautan akan menjadi tumpuhan harapan bagi kesinambungan pembangunan ekonomi nasional di masa mendatang.
1.2. Perumusan masalah
Prospek pengembangan pulau-pulau kecil mempunyai peluang yang sangat baik, karena pembangunan di kawasan ini pasti akan menggunakan keunggulan sumberdaya domestik sebagai basisnya, berakar pada masyarakat dan budaya lokal yang ada, sumberdaya yang dapat diperbaharui, mempunyai peluang pasar lokal dan internasional, responsif terhadap aplikasi teknologi. Tercatat sekitar 17.500 pulau, baik berukuran besar, kecil, maupun sangat kecil (Dahuri, 2004). Namun keberadaan pulau-pulau kecil tersebut masih belum mendapat perhatian. Terdapat ratusan pulau-pulau kecil yang selama ini kurang mendapat perhatian, belum bernama dan tidak mendapat sentuhan pembangunan, sehingga belum berkembang dan dimanfaatkan secara optimal. Kondisi tersebut memerlukan penanganan dengan serius, terencana, sistematis dan terpadu berdasarkan kebijakan yang tepat dari berbagai sektor terkait.
Salah satu permasalahan yang dihadapi adalah munculnya berbagai pertanyaan yang sangat mendasar, yakni layakkah pulau-pulau kecil untuk dikembangkan?. Memang dalam upaya membangun dan mengembangkan pulau-pulau kecil di Indonesia dibutuhkan suatu pendekatan pemikiran yang agak sedikit cemerlang. Pendekatan dan pemikiran yang terjadi saat ini dinilai tidak akan mampu untuk menjawab ke arah perkembangan pulau-pulau kecil tersebut.
pendekatan secara ekonomi dan ekologi, yang lebih difokuskan pada pola usaha “agromarine”. Dengan pendekatan pola agromarine ini, diharapkan dapat tercapainya tujuan yakni: meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan penduduk setempat di satu sisi, dan terpeliharanya kelestarian sumberdaya hayati dan lingkungan di sisi lain. Karena pada dasarnya, konsep pembangunan dengan pendekatan pola agromarine adalah pola pendayagunaan alam yang mengutamakan sumberdaya hayati laut agar diperoleh manfaat optimal melalui prinsip pengembangan agribisnis sumberdaya perikanan sebagai sektor sentral, berdasarkan pada prinsip kelestarian sumberdaya alam dan lingkungan.
1.3. Tujuan dan Manfaat
Tujuan dari kajian pada tulisan ini adalah:
a. Menjelaskan karakteristik pesisir dan laut Pulau Romang sebagai pulau kecil serta keberadaan ekosistem, potensi sumberdaya dan jasa-jasa lingkungan pulau Romang.
b. Menjelaskan konsep pengembangan pulau Romang dengan pendekatan pola agromarine, dalam membangun dan memanfaatkan sumberdaya pulau-pulau kecil secara berkelanjutan, dalam hal ini melalui metode pendekatan pola agromarine.
BAB II. TINJAUAN TEORITIS
2.1. Definisi dan Batasan Pulau Kecil
Meskipun belum ada kesepakatan tentang definisi pulau kecil baik di tingkat nasional maupun dunia, namun terdapat kesepakatan umum bahwa yang dimaksud dengan pulau kecil di sini adalah pulau yang berukuran kecil yang secara ekologis terpisah dari pulau induknya (mainland), memiliki batas yang pasti, dan terisolasi dari habitat lain.
Batasan pulau kecil juga dapat didefinisikan sebagai pulau dengan luas areanya kurang dari 2.000 km2 (UU No. 27 Tahun 2007). Menurut Dahuri (1998), pulau kecil merupakan habitat yang terisolasi dengan habitat lain, keterisolasian suatu pulau akan menambah keanekaragaman organisme yang hidup di pulau tersebut. Selain itu, pulau kecil juga mempunyai lingkungan yang khusus dengan proporsi species endemik yang tinggi bila dibandingkan dengan pulau kontinen, dan pulau kecil juga mempunyai tangkapan air (catchment) yang relatif kecil sehingga kebanyakan air dan sedimen hilang ke dalam air. Dari segi budaya, masyarakat yang mendiami pulau kecil mempunyai budaya yang berbeda dengan pulau kontinen dan daratan. Adanya masukan sosial, ekonomi dan teknologi ke pulau ini akan mengganggu kebudayaan mereka.
Dari uraian di atas, terdapat tiga kriteria yang dapat digunakan dalam membuat batasan suatu pulau kecil: yaitu (1) batasan fisik (luas pulau); (2) batasan ekologis (proporsi species endemik dan terisolasi), dan (3) keunikan budaya.
2.2. Karakteristik Biofisik Pulau-Pulau Kecil
Pulau kecil memiliki karakteristik biofisik yang menonjol, yaitu: (1) tangkapan air yang terbatas dan sumberdaya/cadangan air tawar yang sangat rendah dan terbatas; (2) peka dan rentan terhadap berbagai tekanan (stressor) dan pengaruh eksternal baik alami maupun akibat kegiatan manusia, seperti badai dan gelombang besar serta pencemaran, (3) mempunyai sejumlah besar jenis-jenis (organisme) endemik dan keanekaragaman yang tipikal dan bernilai tinggi (Bengen, 2000; Ongkosongo, 1998; Sugandhy, 1998).
3.3. Ekosistem Utama dan Potensi Sumberdaya Pulau-Pulau Kecil Dalam suatu wilayah pesisir khususnya di wilayah pulau-pulau kecil terdapat satu atau lebih sistem lingkungan (ekosistem) pesisir dan sumberdaya pesisir. Ekosistem pesisir tersebut dapat bersifat alamiah ataupun buatan. Ekosistem alami yang terdapat di pulau-pulau kecil pesisir, antara lain adalah: terumbu karang (coral reefs), hutan mangrove, padang lamun (seagrass beds), pantai berpasir (sandy beach), pantai berbatu (rocky beach), formasi pes-caprea, formasi baringtonia, estuaria, laguna dan delta. Sedangkan ekosistem buatan antara lain berupa: kawasan pariwisata, kawasan budidaya (marine culture) dan kawasan pemukiman (Dahuri, dkk., 1996).
antara lain: minyak bumi dan gas, bijih besi, pasir, timah, bauksit, dan mineral serta bahan tambang lainnya.
Sumberdaya ikan di kawasan pulau-pulau kecil terkenal sangat tinggi, hal ini karena didukung oleh ekosistem yang kompleks dan sangat beragam seperti ekosistem terumbu karang, ekosistem hutan mangrove, ekosistem padang lamun.
Ekosistem terumbu karang merupakan ekosistem yang subur, dan mempunyai produktivitas organik yang tinggi. Hal ini disebabkan oleh kemampuan terumbu untuk menahan nutrien dalam sistem dan berperan sebagai kolam untuk menampung segala masukan dari luar (Nybakken, 1988). Perairan ekosistem terumbu karang juga kaya akan keragaman species penghuninya. Salah satu penyebab tingginya keragaman species ini adalah karena variasi habitat yang terdapat di terumbu, dan ikan merupakan organisme yang jumlahnya terbanyak yang dapat ditemui (Dahuri, dkk., 1996). Selain itu, ekosistem terumbu karang dengan keunikan dan keindahannya juga dapat dimanfaatkan sebagai tempat pariwisata bahari, seperti selam, layar maupun snorkling.
Sumberdaya rumput laut (seaweeds) banyak dijumpai di pulau-pulau kecil, hal ini karena kebanyakan wilayah pesisir perairannya dangkal, gelombangnya kecil, subur dan kaya bahan organik terutama wilayah dekat pantai dan muara sungai. Rumput laut merupakan sumberdaya alam yang mempunyai nilai komersial yang tinggi di samping sumberdaya perikanan. Sumberdaya rumput laut ini banyak dibudidayakan oleh penduduk sekitar sebagai mata pencaharian mereka.
Padang lamun (seagrass) merupakan ekosistem yang tinggi produktivitas organiknya, dengan keanekaragaman biota yang juga tinggi. Pada ekosistem ini hidup beranekaragam biota laut seperti ikan, krustasea, moluska, ekinodermata dan cacing. Menurut Bengen (2000), secara ekologis padang lamun mempunyai beberapa fungsi penting bagi wilayah pesisir, yaitu: (1) produsen detritus dan zat hara; (2) mengikat sedimen dan menstabilkan substrat yang lunak, dengan sistem perakaran yang padat dan saling menyilang; (3) sebagai tempat berlindung, mencari makan, tumbuh besar, dan memijah bagi beberapa jenis biota laut, terutama yang melewati masa dewasanya di lingkungan ini; (4) sebagai tudung berlindung yang melindungi penghuni padang lamun dari sengatan matahari.
Sumberdaya tak dapat pulih (non-renewable resources) dan energi kelautan, juga masih belum optimal dan masih terbatas pada sumberdaya migas, timah, bauksit, dan bijih besi. Jenis bahan tambang dan mineral lain termasuk pasir kwarsa, fosfat, mangan, nikel, chromium dan lainnya praktis belum tersentuh. Demikian juga halnya dengan potensi energi kelautan, yang sesungguhnya bersifat non-exhaustive (tak pernah habis), seperti energi angin, gelombang, pasang surut, dan OTEC (Ocean Thermal Energy Conversion).
yang mempunyai nilai tinggi bagi peningkatan pendapatan masyarakat sekitar maupun pendapatan nasional. Dengan keanekaragaman dan keindahan yang terdapat di pulau-pulau kecil tersebut, merupakan daya tarik tersendiri dalam pengembangan pariwisata.
Selain segenap potensi pembangunan tersebut di atas, ekosistem pulau-pulau kecil juga memiliki peran dan fungsi yang sangat menentukan, bukan saja bagi kesinambungan ekonomi tetapi juga bagi kelangsungan hidup umat manusia. Faktor paling utama adalah fungsi dan peran ekosistem pesisir dan lautan di pulau-pulau kecil sebagai pengatur iklim global (termasuk dinamika La-Nina), siklus hidrologi dan biogeokimia, penyerap limbah, sumber plasma nutfah dan sistem penunjang kehidupan lainnya di daratan (Dahuri, 1998). Oleh karena itu, pemanfaatan sumberdaya di kawasan tersebut mestinya secara seimbang dibarengi dengan upaya konservasi, sehingga dapat berlangsung secara optimal dan berkelanjutan.
2.3. Peran dan Fungsi Ekosistem Pulau-Pulau Kecil
kesemuanya dapat dimanfaatkan bagi kepentingan kesejahteraan masyarakat.
2.4. Kendala-kendala Pembangunan Pulau-Pulau Kecil
Menurut Dahuri (1998); Husni (1998), beberapa kendala yang dihadapi untuk pembangunan pulau-pulau kecil adalah sebagai berikut:
1. Ukuran yang kecil dan terisolasi, sehingga penyediaan prasarana dan sarana menjadi sangat mahal, dan sumberdaya manusia yang handal menjadi langka.
2. Kesulitan atau ketidakmampuan untuk mencapai skala ekonomi (economies of scale) yang optimal dan menguntungkan dalam hal administrasi, usaha produksi, dan transportasi laut turut menghambat pembangunan.
3. Ketersediaan sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan, seperti air tawar, vegetasi, tanah, ekosistem pesisir (coastal ecosystem) dan satwa liar, pada akhirnya akan menentukan daya dukung suatu sistem pulau kecil dalam menopang kehidupan manusia penghuni dan segenap kegiatan pembangunannya.
4. Produktivitas sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan (seperti pengendalian erosi) yang terdapat di setiap unit ruang (lokasi) di dalam pulau dan yang terdapat di sekitar pulau (seperti ekosistem terumbu karang dan perairan pesisir) adalah saling terkait satu sama lain.
III. METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan memilih pulau Romang yang merupakan salah pulau kecil di Kecamatan Pulau-Pulau Terselatan, Kabupaten Maluku Barat Daya (Gambar 1.) dan dilakukan selama 13 hari yakni dari tanggal 10 - 23 Agustus 2014.
Gambar 1. Peta Lokasi Penelitian
3.2. Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data dan informasi Pulau Romang yang meliputi data dasar pesisir dan laut, kebijakan pembangunan, identifikasi yang diperlukan untuk mengidentifikasi berbagai potensi dan permasalahan eksternal dan internal wilayah pesisir Pulau Romang, penulis menggunakan data primer yakni konsultasi pribadi dan wawancara dengan beberapa tokoh dan masyarakat yang berasal dari Pulau Romang yang berada di Kota Ambon maupun yang tinggal di Pulau Romang melalui komunikasi telepon. Sedangkan data sekunder, penulis peroleh dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Maluku Barat Daya berupa Database Pesisir, Laut dan Pulau-Pulau Kecil serta sosial ekonomi masyarakat Kecamatan Pulau-Pulau Terselatan yang mana Pulau Romang sebagai bagian di dalamnya. Selain itu, penulis melakukan pendekatan studi literatur dari buku-buku, jurnal maupun melalui penelurusan sumber-sumber internet. Penelusuran internet terutama data citra satelit serta peta pulau Romang diperoleh dari situs www.modis.gsfc.nasa.gov/, www.colorado.edu/ dan www.getamap.net/ maps/indonesia/ (id16)/_romang_pulau.
3.3. Metode Pengumpulan dan Analisa Data
Data dan lnformasi primer maupun sekunder yang berhasil diperoleh merupakan data mentah yang perlu diolah dan dikompilasi terlebih dahulu sesuai dengan isu pokok dalam penyusun konsep rencana pengembangan Pulau Romang ini. Penulis menggunakan analisis statistik dasar menggunakan perangkat lunak Microsoft Excell 2010 untuk mengembangkan pemikiran dan analisis dalam melakukan penyusunan konsep rencana Pulau Romang.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Data dan Informasi Pesisir dan Laut Pulau Romang
4.1.1. Deskripsi Umum Wilayah Pulau Romang
Pulau Romang secara astronomis terletak antara 127°11'09” - 127°25'59” Bujur Timur dan 07°34'03” - 07°34'60” Lintang Selatan. Adapun letaknya secara geografis sebelah selatan dibatasi oleh Pulau Kisar, sebelah utara oleh Laut Banda, sebelah timur Pulau Maopora dan sebelah barat oleh Pulau Wetar. Luas wilayah daratan pulau Romang sebesar 173,49 km2 dengan panjang garis pantai sebesar 77,74 km. Pulau ini memiliki kelengkapan ekosistem balk ekosistem mangrove, lamun maupun terumbu
karang.
Gambar 2. Letak Astronomis Pulau Romang
(Sumber: http://getamap.net/maps/indonesia/(id16)/_romang_pulau/)
Iklim di Pulau Romang dipengaruhi oleh laut Banda, Laut Arafura dan
Samudera Indonesia juga dibayangi oleh Pulau Irian bagian Timur dan
perubahan. Keadaan musim teratur, musim Timur berlangsung dari bulan
Juni sampai Agustus. Musim ini adalah musim kemarau. Musim Barat
berlangsung dari bulan Desember sampai Februari sedangkan Musim hujan
pada bulan Desember sampai bulan Pebruari dan yang paling deras terjadi
pada bulan Desember dan Februari. Musim Pancaroba dalam bulan
Maret-Mei dan September-November. Bulan April sampai Oktober bertiup angin
Tenggara. Angin kencang bertiup pada bufan Januari dan Pebruari diikuti
dengan hujan deras dan laut bergelora, sedangkan pada bulan April sampai
September bertiup angin Tenggara dan Selatan sebanyak 91% dengan
angin Tenggara dominant 61%. Pada bulan Desember sampai Februari
bertiup angin Barat Laut sebanyak 50% dengan angin Barat Laut dominan
28%.
Keadaan curah hujan secara umum di Kecamatan Pulau-Pulau
Terselatan terjadi kurang dari 1000 mm per tahun. Suhu rata-rata
sepanjang tahun adalah 27,6 °C dengan suhu minimum absolut rata-rata 21,8 °C dan suhu maksimum absolut rata-rata 33,0 °C. Sedangkan rata-rata Kelembaban udara relatif 80,2%; Penyinaran matahari rata-rata 71,0%;
dan tekanan udara rata-rata 1.011,8 milibar. Klasifikasi agroklimat menurut
OLDEMAN, IRSAL dan MULADI (1981), Pulau Romang terbagi dalam dua
zona agroklimat yakni dikategorikan dalam Zone E3 dimana bulan basah
Gambar 3. Penampakan Lahan Darat Pulau Romang
(Sumber: http://getamap.net/maps/indonesia/(id16)/_romang_pulau/)
Penggunaan lahan daratan pesisir sampai batas 1 km dari pantai di
Pulau Romang meliputi hutan primer, dan hutan sekunder, semak belukar
dan alang-alang, ladang/tegalan, kebun campuran, dan pemukiman.
Penggunaan lahan di kawasan ini didominansi oleh hutan belukar, hutan
primer dan sekunder, sisanya merupakan kebun campuran, ladang, tegalan,
perkampungan dan tanah kosong. Hutan sekunder dan hutan primer
sepanjang di pesisir pulau, sedangkan pemukiman hanya setempat dengan
agihan yang sempit. Penggunaan lahan perairan pesisir di Pulau Romang
meliputi pantai berpasir, pantai bergisik, pantai berbatu, rataan pasut
berpasir, terumbu karang, saaru dan perairan penangkapan ikan, dan
budidaya perairan. Pantai bergisik tersusun atas material pasir-kerikil dan
kerakal, merupakan lahan kosong yang ditumbuhi vegetasi semak,
terdistribusi di sepanjang pesisir pulau. Lahan ini belum dimanfaatkan
secara optimal. Pantai berbatu mencakup pantai tebing terjal, platform
Terumbu karang terdistribusi sepanjang pesisir berasosiasi dengan rataan
pasir yang ditumbuhi vegetasi lamun. Perairan di luar kawasan pasang
surut, dimanfaatkan untuk penangkapan ikan pelagis, ikan demersal dan ikan karang. Aktivitas budidaya belum berkembang di kawasan ini.
Gambar 4. Penampakan Lahan Pesisir dan Laut Pulau Romang
4.1.2. Geomorfologi Lingkungan Pesisir dan Laut Pulau Romang
Daerah ketinggian pada wilayah Pulau dibagi atas 3 kelas, yaitu: (1) daerah Rendah (R) dengan ketinggian 0 — 100 m; (2) daerah Tengah (M) dengan ketinggian 100 — 500 m; dan (3) daerah Tinggi (T) dengan ketinggian > 500 m, dengan lima kelas kemiringan lereng yaitu datar (0-3%), landai/berombak (3-8%), bergelombang (8-15%), agak curam (15-30%) dan sangat curam (>(15-30%).
pulau sedangkan di bagian tepinya berupa daerah pedataran. Aliran sungai daerah ini hanya mengalir ke arah barat dan selatan, serta hanya berair di musim penghujan. Bentuk lahan utama di kawasan ini merupakan bentuk lahan asal karst yang tersebar meluar sepanjang pesisir dan bentukiahan asal denudasional pada kawasan perbukitan.
Tenaga geomorfik yang berperan terhadap perubahan geomorfologi sepanjang pesisir pulau ini adalah tenaga marin yakni gelombang, pasang surut dan arus. Proses geomorfologi di kawasan ini meliputi proses destruksional (pelapukan sepanjang garis pantai dan erosi pantai), dan proses kontruksional (pergerakan dan deposisi sedimen). Satuan bentuk lahan hasil proses marin meliputi pantai bergisik, pantai bertebing terjal,
platform pantai, rataan pasut berbatu, rataan terumbu karang, dan tubir. Pantai abrasi sifatnya musiman dan berasosiasi dengan pantai berbatu gamping yang memiliki platform pantai. Sebaran area terumbu karang
terdapat hampir di sepanjang pulau dengan luasan yang kecil.
Gambar 5. Morfologi Pulau Romang berupa pantai terjal (cliff)
Pulau Romang termasuk pada daerah busur Banda dalam yang
sebagian besar tersusun oleh batuan hasil gunung api yang berumur Miosen
yang berupa batugamping korai yang berumur Kuarter dan aluvian.
Batuan tersingkap di daerah ini tersusun dalam tiga formasi batuan
utama yakni lava gunung api, breksi gunung api dan gamping koral. Batuan
penyusun pulau ini sebagian besar berupa lava bersusun andesit sampai
basal yang berupa Pliosen (tersier Akhir). Kemudian ditutupi oleh batuan
breksi gunung api bersusun endosit sampai basal, tuf besisipan napal yang
berumur Pliosen (Kuarter Awai). Breksi gunung api ini tersebar pada pinggir
pulau yaitu pada tepi barat, timur dan selatan. Batuan yang termuda adalah
batu gamping koral berumur kuarter, tersebar sedikit dibagian tengah,
dibagian ulara dan sepanjang tepi pantai bagian timur. Struktur geologi
tidak dijumpai di daerah ini.
4.1.3. Kondisi Oseanografi Perairan Pesisir dan Laut Pulau Romang 4.1.3.1. Faktor Fisik Perairan Pesisir dan Laut Pulau Romang
Secara batimeter, perairan pulau Romang dikategorikan sebagai
perairan dalam walupun pada bagian perairan sebelah barat daya Pulau
Romang ditemukan kedalaman yang dangkal (122-629m). Kedalaman
perairan sekitar Pulau Romang bervariasi antara 629-4519 meter.
Kedalaman perairan bagman utara bervariasi antara 2647-4519 meter;
bagian timur bervariasi antara 305-3005 meter; bagian selatan bervariasi
antara 6292.165 meter sedangkan bagian barat perairan bervariasi antara
629-1.320 meter.
Pasang surut di perairan pulau Romang memiliki tipe yang sama
dengan daerah lainnya di Maluku, yaitu digolongkan sebagai pasang
campuran mirip harian ganda (predominantly semi diurnal tide). Ciri utama
tipe pasang surut ini adalah terjadi dua kali pasang dan dua kali surut
dimana pasang pertama selalu Iebih besar dari pasang kedua. Karakteristik
pasut perairan pulau ini berkisar antara 0,9 — 2,4 m. Tunggang pasut
tertinggi umumnya terjadi pada bulan Oktober sedangkan pada bulan Maret,
tunggang pasut terlihat Iebih rendah bula dibandingkan dengan bulan
Januari, Juli dan Oktober.
Tingkat kecerahan perairan di pulau Romang dikategorikan dalam
tingkat kecerahan tinggi. Kecerahan perairan bervariasi antara 16 - 17
meter dengan nilai rerata 16 meter. Kandungan padatan tersuspensi (TSS)
di perairan berkisar antara 0,43 — 0,75 mg/l dengan nilai rerata sebesar
0,59 mg/l. Konsentrasi TSS pada perairan Pulau Romang tergolong tinggi
dibandingkan dengan pulau sekitarnya. Nilai-nilai TSS ini masih
memungkinkan bagi penetrasi cahaya matahari jauh ke dalam kolom
perairan sehingga proses fotosintesis tumbuhan akuatik dapat berlangsung
dengan balk.
Sungai di Pulau Romang umumnya pendek dengan pola aliran
memancar dan hanya berair di musim penghujan, sedangkan pada musim
kemarau kondisinya kering atau tidak berair. Berdasarkan data curah hujan
di Pulau Romang di daerah pantai berkisar antara 1.500-1.800 mm dan
pada daerah perbukitan berkisar antara 2.000-2.500 mm. Namun karena
sungai yang pendek dan pulau yang relatif kecil, maka air hujan yang turun
tidak banyak tertahan di permukaan.
Dari kondisi tersebut di atas, maka untuk mendapatkan air tawar di
pulau ini satu-satunya adalah dari sumber air tanah. Jika dilihat dari kondisi
topografi dan geologinya, sebagian besar tersusun oleh batuan lava yang
berumur pliosen, maka air tanah diperkirakan dapat dijumpai di daerah
bagian tepi pulau, terutama pada batuan yang tersusun oleh batuan gunung
api berupa breksi berumur plistosen (kuarter awal). Selain itu kemungkinan
air tanah dapat dijumpai pada batu gamoing yang berumur kuarter, yang
pada batuan gunung api terbatas di daerah pelapukan yang tebal atau pada
zona celahan atau rekahan, dengan debit umumnya kecil. Sedangkan batu
gamping walapun penyebarannya relatif sempit, namun mempunyai sifat
yang mudah melarutkan air, maka diharapkan dapat menjadi tempat
terakumulasinya air tanah, walaupun mempunyai muka air tanah yang
dalam, tergantung dari tebalnya lapisan batu gamping tersebut. Sungai
umumnya pendek dan pulaunya relatif kecil, maka air hujan yang turun
tidak banyak tertahan di permukaan. Dari kondisi tersebut di atas, maka
untuk mendapatkan air tawar salah satunya adalah dari air tanah.
Dari kondisi topografi dan geologi, dimana bagian utama pulau ini
tersusun dari batuan malihan (metamorf) yang berupa sekis bersisipan
genes, filit dan batu gamping terubah yang diduga berumur Pra Perm,
umumnya bersifat kompak dan mempunyai permeabilitas yang sangat kecil
atau bahkan kedap air, sehingga air tanah kemungkinan tidak dijumpai,
kecuali pada daerah lembah dan pada zona pelapukan yang relatif tebal
serta pada daerah retakan. Sedangkan pada endapan batu gamping kuarter
yang mengelilingi pulau ini, diharapkan dapat menjadi tempat akumulasinya
air tanah, karena batuan ini bersifat mudah melarutkan dan meresapkan
air. Pada daerah batu gamping ini biasanya mempunyai muka air tanah
dalam, tergantung dari tebalnya batuan tersebut.
Arus permukaan perairan Kecamatan Pulau-Pulau Terselatan
cenderung bergerak ke arah barat pada musim timur (Juni — Agustus) dan
ke arah timur pada musim barat (Desember — Februari). Arus permukaan
di perairan (Armondo) ini merespon tiupan angin muson. Kecepatan arus
permukaan pada musim timur berkisar antara 0,16 — 0,30 m/det dengan
rerata kecepatan arus 0,23 m/det sedangkan pada musim barat, arus
permukaan berkisar antara 0,05 — 0,26 m/det dengan rerata kecepatan
terlihat sangat Iemah dengan kecepatan berkisar antara 0,04 — 0,25 m/det
dengan rerata kecepatan arus permukaan 0,14 m/det dengan arah gerakan
yang berubah-ubah. Pada bulan Maret, arus umumnya bergerak ke arah
timur namun pada bulan April dan Mei, arus terlihat bergerak ke arah barat.
Pada bulan September dan Oktober dimana angin muson tenggara masih
terlihat bertiup pada perairan ini, arus permukaan laut terlihat bergerak ke
arah barat dengan kecepatan berkisar antara 0,12 — 0,20 m/det dengan
nilai kecepatan rata-rata 0,17 m/det.
Arus pasut mendominasi perairan selat dan teluk seperti Teluk Rumah
Kuda dan selat-selat sempit yang terletak di antara Pulau Romang dan Pulau
Mitan. Kecepatan arus pasut terekam berkisar antara 0,24 - 0,27 m.s-1 dengan kecepatan arus rerata 0,26 m.s-1. Sementara kecepatan maksimum ditemukan pada perairan Teluk Hila saat air bergerak surut.
Perairan Pulau Romang merupakan daerah lintasan massa air dalam
(Arlindo) yang mengalir sepanjang tahun ke arah selatan dan selaniutnya
mengalir ke Laut Timor. Massa air tersebut didominasi oleh massa air Laut
Banda. Dengan demikian dinamika yang terjadi di Laut Banda akan
berpengaruh terhadap karakteristik massa air lapisan dalam perairan pulau
ini.
Tiupan angin yang sangat kuat pada musim timur diperkiranan dapat
membangkitkan gelombang setinggi 4 meter di perairan pulau Romang.
Berdasarkan letak posisi pulau terhadap arah datangnya angin maka bagian
timur dan selatan Pulau Romang akan mengalami tekanan gelombang yang
kuat sementara pantai barat dan utara lebih terlindung karena bidang jatuh angin untuk membangkitkan gelombang jauh di perairan lepas.
reratanya 29,21 °C. Pada musim Peralihan I (Maret — Mei), suhu permukaan laut berkisar antara 28,92 — 29,93 °C dengan rerata suhu 29,34 °C. Massa air perairan pulau ini terlihat lebih dingin pada musim timur sebagai akibat dari pengaruh massa air Laut Banda mengatami upwelling dan pengaruh suhu udara. Suhu permukaan laut pada musim timur (Juni — Agustus) berkisar antara 26,10 — 28,16 °C dan reratanya 26,94 °C. Massa air dingin juga terlihat. pada musim Peralihan II meskipun secara umum masih lebih hangat dari musim timur. Pada musim Peralihan II (September— November), suhu perairan berkisar antara 27,36-30,05 dengan nilai rerata 28,78 °C.
Di Pulau Romang, salinitas laut bebas mempunyai kisaran 30 — 36 PSU. Sedangkan daerah pantai mempunyai variasi salinitas yang lebih besar. Semua organisme di dalam perairan dapat hidup dalam perairan yang mempunyai perubahan salinitas yang kecil. Variasi salinitas pada perairan yang jauh dari pantai relatif kecil dibandingkan dengan variasi salinitas di dekat pantai, terutama jika pemasukan air sungai. Perubahan salinitas tidak langsung berpengaruh terhadap perilaku ikan atau distribusi ikan, akan tetapi pada perubahan sifat kimia air laut. Kadar salinitas permukaan perairan relatif tinggi dengan nilai sebesar 35 PSU di pulau ini. Tingginya kadar salinitas ini mengindikasikan bahwa massa air yang melingkupi perairan tersebut adalah massa air oseanik yang berkadar garam tinggi. Pengenceran air laut oleh massa air tawar sangat kecil pengaruhnya terhadap kadar salinitas perairan.
4.1.3.2. Faktor kimia Perairan Pesisir dan Laut Pulau Romang
Tingkat kesadahan air laut atau pH untuk perairan laut Pulau Romang
dikategorikan tinggi berkisar antara 8,45-8,53 dengan nilai rerata 8,49. Nilai
meningkat di perairan Pulau Romang. Kondisi nilai pH demikian
menunjukkan bahwa perairan ini bersifat basa dan cenderung didominasi
oleh massa air oseanik. Nilai pH pada bulan ini masih berada di atas kisaran
anal pH perairan umumnya. Derajat keasaman menunjukan aktivitas ion hidrogen dalam larutan tersebut dan dinyatakan sebagai sebagai konsentrasi ion hidrogen pada suhu tertentu atau pH = - log (H+). Konsentrasi pH mempengaruhi tingkat kesuburan perairan karena mempengaruhi jasad renik. Perairan yang asam cenderung menyebabkan kematian pada ikan. Hal ini disebabkan konsentrasi oksigen yang rendah, aktivitas pernapasan tinggi dan selera makan berkurang. pH air laut umumnya berkisar antara 7,6 — 8,3 dan berpengaruh terhadap ikan. pH air laut umumnya bersifat konstan, karena adanya penyangga dari hasil keseimbangan karbon dioksida, asam karbonat, karbonat, dan bikarbonat yang bersifat Buffer. Dalam perairan nilai pH berada dalam kondisi alami, namun konsentrasi pH yang balk untuk ikan kerapu kisaran pH antara 7,8 - 8,3 dan untuk kerang mutiara pH berkisar antara 7,9 — 8,2.
Konsentrasi oksigen terlarut di permukaan perairan kecamatan
berkisar antara 4,2-4,21 mg/l dengan nilai rerata 4,215 mg/l. Nilai-nilai
kadar DO ini masih berada pada kisaran nilai yang dibolehkan maupun
diinginkan untuk kegiatan konservasi dan budidaya biota laut menurut
KepMen KLH No.02/1988. Sumber utama oksigen terlarut (DO) di laut
berasal dari atmosfir dan hasil fotosintesis fitoplankton dan berbagai jenis
tanaman laut lainnya.
Di perairan Pulau Romang unsur Cr dan Cu dijumpal tinggi dalam
kolom air permukaan perairan. Keberadaan unsur Cr bervariasi antara
0,010-0,030 mg/l dengan nilai rerata 0,017 mg/l. Sementara itu,
kandungan unsur tembaga bervariasi antara 0,31-0,57 mg/l dengan nilai
kolom air permukaan di perairan diduga kuat keberadaannya berhubungan
dengan batuan dasar yang menyusun pulau tersebut. Logam berat seperti
Crom heksavalen (Cr) dan tembaga (Cu) merupakan unsur mikro (trace
element) yang kandungannya sangat kecil di perairan. Kandungan kedua
unsur ini akan tinggi hanya jika diintrodusir oleh kegiatan manusia.
Konsentrasi yang rendah dari kedua unsur tersebut disebabkan karena
kandungan yang rendah dalam batuan dan sangat rektif dalam air. Hal
utama dari sifat reaktivitas ini adalah berhubungan dengan organisme
terutama dalam rantai makan, dimana dapat terakumulasi dalam tubuh
organisme (biomagnifikasi).
Konsentrasi sianida di perairan sekitar Pulau Romang berkisar antara
0,001 mg/liter. Masih di bawah baku mutu yang dianjurkan. Kadar sianida
dalam perairan dianjurkan adalah sekitar 0,005 mg/liter (US-EPA, 1988
dalam Moore, 1991). Sedangkan Konsentrasi bromida pada perairan laut
Pulau Romang tidak terdeteksi. Ion Bromida (Br) tidak bersifat toksik bagi
manusia, namun Brimin (Br2) bersifat sangat toksik dan merupakan oksidasi
kuat. Pada perairan tawar, Bromida ditemukan dalam jumlah yang sedikit.
4.1.3.3. Faktor Kesuburan Perairan dan Laut di Pulau Romang
Konsentrasi fosfat pada lapisan permukaan perairan Pulau Romang
berkisar antara 0,11-0,37 mg/l dengan nilai rerata 0,24 mg/l. Fosfor
merupakan unsur esensial dan berperan sebagai faktor pembatas bagi
tumbuhan tingkat tinggi dan algae akuatik sehingga mempengaruhi
produktivitas perairan. Di perairan, bentuk unsur fosfor berubah secara
terus-menerus, akibat proses dekomposisi dan sintesis antara bentuk
organik dan bentuk anorganik yang dilakukan oleh mikroba. Fosfat tertarut
biasanya dihasilkan oleh masukan bahan organik melalui darat atau juga
yang sudah mati.
Konsentrasi nitrit di lapisan permukaan perairan Pulau Romang
memiliki nilai yang cukup tinggi yaitu berkisar antara 0,003-0,004 mg/l
dengan nilai rerata 0,0035 mg/l. Sama halnya dengan nitrit, konsentrasi
nitrat di permukaan perairan cenderung tinggi dengan nilai berkisar antara
1,20-1,60 mg/l dengan nilai rerata 1,27 mg/l. Seperti halnya fosfat, nitrit
dan nitrat berfungsi sebagai indikator tingkat kesuburan perairan, tetapi di
permukaan perairan kadar nitrit sangat kecil karena dioksidasi menjadi
nitrat. Konsentrasi nitrit akan meningkat kecuali pada daerah perairan
neritik yang relatif dekat dengan buangan limbah industri.
Tingginya konsentrasi unsur hara fosfat, nitrit dan nitrat di perairan
Pulau Romang diduga berasal dari massa air Laut Banda hasil taikan selama
bulan Juli — Agustus yang kaya akan unsur hara jika dibandingkan dengan
kernampuan ekosistem mangrove yang mengintrodusir zat hara.
Konsentrasi besi pada perairan laut wilayah pulau Romang tidak
terdeteksi. Zat Besi merupakan unsur yang esensial bagi makluk hidup.
Pada tumbuhan, termasuk algae, besi berfungsi sebagai penyusun sitokrom
dan klorofil. Kadar besi yang berlebihan selain dapat mengakibatkan
timbulnya warna merah. Selain itu pada tumbuhan, besi berperan dalam
sistem enzim dan transfer elektron pada proses fotosintesis. Namun, kadar
besi yang berlebihan dapat menghambat fiksasi unsur lainnya.
Pada umumnya, untuk perairan tropis dimana ada terdapat lapisan termoklin, konsentrasi kiorofil pada lapisan permukaan sering ditemukan lebih rendah. Kecuali pada daerah yang terkena dampak langsung monsoon yang umumnya menyebabkan terjadinya up welling yang memperkaya permukaan lapisan permukaan laut dengan nutrien. Seperti telah diketahui klorofil-a merupakan parameter biologi oseanografi utama yang digunakan sebagai indikator kesuburan suatu perairan. Kandungan klorofil-a di perairan ini di deteksi menggunakan sensor satelit MODIS liputan tanggal Juli 2014 yang diperoleh melalui situs http://www.colorado.edu/
Citra MODIS memperlihatkan bahwa klorofil-a fitoplankton di perairan Pulau Romang cenderung memiliki kandungan yang tinggi. Konsentrasi yang rendah klorofil-a fitoplankton di perairan ini bervariasi antara 0,08-0,20 mg/m3 menyebar di perairan bagian barat dan selatan pulau kemudian
meningkat pada perairan antara Pulau Romang dengan nilai bervariasi antara 0,08-0,1 mg/m3. Kandungan klorofil-a fitoplankton di perairan
sekitar Pulau Kisar pada umumnya cenderung lebih tinggi jika dibandingkan dengan kawasan perairan pesisir Pulau Romang dan Maopora di kecamatan ini. Konsentrasi klorofil-a yang tinggi hanya ditemukan pada perairan pantai pulau kisar, bervariasi antara 0,30-0,2 mg/m3.
Kandungan padatan tersuspensi (TSS) di perairan Pulau Romang berkisar antara 0,43 — 0,75 mg/l dengan nilai rerata sebesar 0,59 mg/l. Nilai-nilai TSS yang diperoleh ini masih tergolong rendah sehingga memungkinkan bagi penetrasi cahaya matahari jauh ke dalam kolom perairan sehingga proses fotosintesis tumbuhan akuatik dapat berlangsung dengan baik. Padatan tersuspensi (Suspended Solid) adalah bahan-bahan tersuspensi (diameter > 1 p.m) yang tertahan pada saringan millipore dengan diameter 0,45 pm. Padatan tersuspensi terdiri dari lumpur, pasir halus, jasad-jasad renik terutama yang disebabkan oleh kikisan tanah/erosi yang terbawa ke dalam badan air. Sedangkan padatan tersuspensi yang berasal dari jasad-jasad renik umumnya berupa jaringan hidup dan mati fitoplankton dan zooplankton, kotoran manusia, dan jaringan tubuh hewan dan tumbuhan yang mati dan membusuk.
4.1.4. Kondisi Ekosistem Utama Pesisir dan Laut Pulau Romang
4.1.4.1. Kondisi Ekosistem Mangrove di Pulau Romang
Komunitas mangrove Pulau Romang terletakpada posisi 127° 21,835'
BT dan 7° 35,248' LS kenampakan secara visual di lapangan tumbuh pada substrat pasir dan pasir bercampur patahan karang memiliki dasar perairan
yang landai, Jenis mangrove yang dijumpai dan lebih mendominasi adalah
mangrove dari famili Rhizophoraceae sedangkan jenis-jenis yang ditemui
adalah Sonneratia alba, Rhyzophora apiculata, Aegiceras corniculatum,
Avicennia alba.
Jenis mangrove yang mendominasi Pulau Romang untuk tingkat
kategori Pohon didominasi oleh Rhizophora apiculata (NP = 95,90 %;
kerapatan 154 tegakan/ha) dan Exocaria agaloca sebagai kodominan (NP=
16,65 %; kerapatan 27 tegakan/ha) diikuti jenis Avicennia alba (NP= 10,76
4.1.4.2. Kondisi Ekosistem Lamun di Pulau Romang
Pada Pulau Romang ditemukan sebanyak 6 jenis lamun dengan
tingkat kerapatan sebesar 151,20 tegakan/m2. Jumlah jenis lamun di Pulau
Pulau lebih banyak dibanding dengan jenis lamun yang ditemukan di pulau
sekitarnya, dengan nilai kerapatan cukup tinggi.
Di Pulau Romang ditemukan sebanyak 6 jenis lamun yaitu Cymodocea rotundata, Cymodocea serulata, Enhalus acoroides, Halodule pinifolia,
Halophila ovalis, dan Syringodium isoetifolium. Tingkat kerapatan tertinggi
didapatkan pada jenis Halophila ovata sebesar 65,20 tegakan/m2 dan
terendah untuk jenis Cymodocea serulata sebesar 22,40 tegakan/m2; frekuensi kehadiran tertinggi untuk jenis Halophila avails yang mendominasi
perairan Pulau Romang.
Jumlah jenis makro algae yang ditemukan di pulau Romang yaitu 5
spesies yang dapat dimasukan ke dalam 5 genus, 5 famili, 4 ordo, dan 3
devisi. Pengelompokannya dalam 3 devisi utama yaitu alga hijau
(Chlorophyta) terdiri dari 1 spesies, alga coklat (Phaeophyta) yang terdiri
dari 2 spesies dan alga merah (Rhodophyta) yang terdiri dari 2 spesies. Dari
jenis-jenis yang ditemukan tersebut, tidak terdapat spesies yang memiliki
nilai ekonomis.
4.1.4.3. Kondisi Ekosistem Karang di Pulau Romang
Luas terumbu karang pada perairan pesisir pulau Roamng mencapai
15,20 km2. Karang batu yang tumbuh dan tersebar pada areal terumbu perairan ini tergolong tinggi yaitu sebanyak 119 spesies, dan seluruhnya
termasuk dalam 44 genera dan 14 famili. Famili karang batu dengan
kekayaan spesies yang tinggi adalah Acroporidae (36 spesies), Faviidae (20
Secara umum kondisi terumbu karang di perairan pesisir Pulau
Romang berada pada kategori baik (good). Kondisi terumbu karang di
perairan dipengaruhi oleh persen tutupan pasir. Sumbangan terbesar
penutupan karang batu berasal dari karang Non Acropora, Kerusakan
terumbu karang pada wilayah Pulau ini disebabkan oleh kegiatan
antropogenik dan pemanfaatan sumberdaya terumbu karang menggunakan
alat serta metode penangkapan yang tidak ramah lingkungan. Pada bagian
lain, kerusakan karang pada Pulau-Pulau kecil dalam wilayah ini disebabkan
oleh kegiatan penangkapan ikan karang menggunakan bom ikan untuk
menangkap ikan ekor kuning dan pisang-pisang, maupun ikan kembung,
serta kemungkinan penggunaan Potasium Cyanida untuk menangkapan
ikan karang bernilai ekonomis penting seperti ikan kerapu dan ikan
Napoleon. Kegiatan pemanfaatan sumberdaya terumbu karang yang tidak
ramah lingkungan itu tampak jelas dengan bekas-bekas pemboman yang
disertai patahan karang mati bentuk tumbuh bercabang yang berserakan,
juga koloni-koloni karang mati yang masih standing dan tidak patah atau
roboh.
4.1.5. Kondisi Sumberdaya Ikan di Perairan Pulau Romang 4.1.5.1. Kondisi Sumberdaya Ikan Pelagis
Jenis-jenis sumberdaya ikan pelagis kecil ekonomis penting yang
terdapat di Pulau Romang antara lain, ikan layang (Decapterus spp), ikan
kembung (Rastrelliger spp), ikan tembang (Sardinela spp), ikan terbang
(Cypsilurus spp), ikan julung-julung (Hemiramphus spp), ikan kuwe (Caranx
spp), ikan teri (Stolephorus spp) dan lain sebagainya. Kepadatan
sumberdaya ikan pelagis kecil berkisar dari 14 - 2,750 individu/ha atau 1.07
- 206.27 kg/ha, dengan nilai rata-rata sebesar 281 individu/ha atau 21.07
kg/ha. biomassa sumberdaya ikan pelagis kecil adalah sebesar 3,413
ton/tahun.
Jenis-jenis ikan pelagis besar yang dominan dijumpai di Pulau Romang
adalah ikan madidihang (Thunnus albacares), cakalang (Katsuwonus
pelamis), tongkol (Euthynus affinis, Auxis thazard), ikan setuhuk (Macaira
sPulau-Pulau), dan lainnya. Ikan cakalang memiliki nilai JIB tertinggi
(152,25 ton/tahun), kemudian diikuti oleh JIB ikan tongkol (88,11
ton/tahun) dan madidihang (54,46 ton/tahun), sementara JIB terendah
dijumpai pada ikan setuhuk (3,44 ton/tahun).
4.1.5.2. Kondisi Sumberdaya Ikan Demersal
Jenis-jenis sumberdaya ikan demersal ekonomis penting yang
terdapat di Pulau Romang antara lain ikan samandar, biji nangka,
kerong-kerong, sikuda, kerapu dan lain-lain. Kepadatan ikan demersal di perairan
ini adalah sebesar 118 kg/ha dengan biomassa ikan demersal pada luas
perairan ini adalah sebesar 2.968 ton per tahun dengan JIB sebesar 1.187
ton per tahun.
4.1.5.3. Kondisi Sumberdaya Ikan Karang
Secara keseluruhan, dijumpai sebanyak 136 spesies ikan yang
tergolong dalam 106 genera dan 36 famili di perairan pesisir Pulau Romang
dengan kelimpahan spesies ikan karang cukup tinggi. Sedangkan jumlah
spesies ikan hias Iebih tinggi dari jumlah spesies ikan konsumsi.
Tabel 1. Kekayaan Spesies, Kepadatan dan Sediaan Cadang Ikan Karang di Perairan Pesisir Pulau Romang
Parameter Nilai/Jumlah
Jumlah Spesies: 165
Ikan Konsumsi 75
Ikan Hias 90
Ikan Konsumsi 6,23
4.1.6. Sumberdaya Mamalia dan Reptilia Laut di Pulau Romang
4.1.6.1. Kondisi Sumberdaya Mamalia Laut di Pulau Romang
Berdasarkan hasil penelitian migrasi paus serta fakta lapangan
menunjukkan setidaknya di wilayah perairan pesisir dan laut Kecamatan
Pulau-Pulau Terselatan termasuk Pulau Romang dilalui oleh 6 - 7 jenis paus,
yaitu Megaptera novaeangliae (Humpback whale), Balaenoplera borealis
(Sei whale), Balaenoplera musculatus (Blue whale), Balaenoplera physalis
(Fin whale), Physeter catodon (Sperm whale), Physeter sp., dan Orcinus
orca (Killer whale). Diduga rute migrasi dari 3 jenis paus, yaitu paus biru
(Balaenoptera musculus), Balaenoptera physalis dan Balaeonoptera borealis
dari samudera Pasifik menuju samudera Indonesia atau sebaliknya melintasi
perairan Nusa Tenggara Timur, terutama Selat Timor, termasuk memasuki
perairan kecamatan ini. Kemungkinan, sewaktu jenis-jenis paus ini
melakukan migrasi memasuki perairan Pulau Romang. Pada bagian lain,
jenis paus pembunuh (Orcinus orca) yang habitat aslinya di perairan kutub selatan atau sekitar Australia, ditemukan hadir secara temporal di perairan
pesisir dan laut Pulau Romang pada musim tertentu. bertepatan dengan
kondisi suhu perairan yang agak dinging pasca upwelling di Laut Banda dan
juga bersamaan dengan musim peningkatan populasi sotong (cumi-cumi)
serta ikan pelagis kecil di perairan pesisir dan laut.
, tetapi juga memasuki wilayah perairan selatan serta laut antara pulau kecil
sekitarnya terutama jenis Physeter catodon dan Physeter sp. (sperm whale),
dan menjadi tontonan yang menarik bagi masyarakat yang bermukim di
pesisir pulau kecil tersebut. Posisi wilayah pesisir, laut dan Pulau-Pulau kecil
sekitar pulau Romang sangat potensial dan strategik bagi kehadiran paus,
karena posisinya bersinggungan dan bertepatan dengan Selat Timor serta
sangat dekat dengan samudera Indonesia di bagian selatan maupun Laut
Banda di bagian utara. Semua jenis paus yang hadir di wilayah perairan
pesisir, laut dan perairan antara Pulau kecil ini termasuk mamalia laut yang
dilindungi, sehingga kehadirannya pada wilayah laut ini sebagai ruang
migrasi maupun kepentingan berbagai aktivitas hidup (biotogis) yang perlu
ditata untuk selanjutnya dikelola secara balk.
Paling tidak terdapat lima jenis lumba-lumba yang hadir di perairan
pesisir dan laut Pulau Romang, yaitu Globicephala macrorhynchus,
Pseudorca crassidens, Delphinus delphis dan D. capensis (lumba-lumba
biasa), serta Tursiops truncatus (lumba hidung botol). Jenis
lumba-lumba yang umum ditemukan di wilayah perairan ini adalah lumba-lumba-lumba-lumba
biasa dan lumba-lumba hidung botol. Kedua jenis lumba-lumba ini
bermigrasi hingga ke perairan dangkal. Ternyata semua jenis lumba-lumba
yang berada di wilayah perairan ini adalah mamalia laut yang dilindungi,
sehingga kebutuhan ruang bagi eksistensi mamalia laut yang dilindungi ini
menjadi penting, serta perlu mendapat perhatian dalam penyusunan
rencana pengelotaan wilayah pesisir dan laut di pulau ini.
Salah satu jenis mamalia laut yang cukup penting dan umumnya hadir
pada wilayah perairan pesisir yang relatif dangkal adalah Dugong dugon
(dugong/duyung). Hasil laporan masyarakat yang bermukim di wilayah
pesisir Pulau Romang menunjukkan Dugong hadir di beberapa bagian
pada perairan pesisir wilayah Pulau Romang yang memiliki areal padang
lamun. Kehadiran dugong yang terbatas pada beberapa bagian perairan
pesisir itu berkaitan dengan kehadiran vegetasi lamun sebagai sumber
makanannya. Informasi masyarakat menunjukan populasi dugong telah
menurun karena diburu oteh manusia serta akibat intensitas penggunaan
perairan pesisir (terutama padang lamun) untuk berbagai kepentingan yang
cenderung meningkat, sehingga menghambat tujuan migrasi dugong untuk
aktivitas hidupnya, terutama mencari makan pada areal vegetasi lamun.
Dugong menjadi salah satu jenis mamalia laut yang dilindungi
undang-undang, sehingga konservasi padang lamun sebagai habitat utama di
witayah perairan pesisir di kecamatan ini menjadi sangat penting.
4.1.6.2. Kondisi Sumberdaya Reptilia Laut di Pulau Romang
Ada dua jenis penyu menempati perairan pesisir. dan laut Pulau
Roamng, yaitu penyti sisik (Eretmochelys imbricata) dan penyu hijau
(Chelonia mydas). Penyu sisik lebih umum ditemukan atau menempati
wilayah perairan pesisir, laut dan Pulau kecil sekitar dibanding Penyu hijau.
Jenis penyu sisik ini menyebar dan menempati perairan pesisir dimana
terdapat terumbu karang serta beberapa pulau kecil sebagai tempat
bertetur, dan penyu hijau di areal padang lamun.
Informasi dari nelayan maupun masyarakat pesisir bahwa kehadiran
penyu sisik kehadiran penyu sisik cukup dominan, dan menggunakan
beberapa pulau di wilayah ini sebagai tempat bertelur. Kedua jenis penyu
yang menempati perairan ini merupakan jenis reptilia laut yang dilindungi,
karena populasinya di alam telah menurun drastis akibat diburu manusia
untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidup. Pada bagian lain, frekuensi
kehadiran penyu di wilayah perairan pesisir dan pulau-pulau kecil
kualitas terumbu karang dan padang lamun akibat tekanan lingkungan dan
tekanan pemanfaatan. Uraian di atas menghendaki upaya konservasi
terhadap penyu tersebut beserta habitatnya, termasuk rehabilitas
habitatnya menjadi sangat penting.
Jenis ular laut yang ditemukan menempati perairan pesisir Pulau
Romang adalah sebanyak 6 spesies. Spesies ular laut tersebut tergolong
dalam dua kelompok utama berdasarkan habitat hidupnya, yaitu ular laut
penghuni terumbu karang dan penghuni perairan di luar ekosistem terumbu
karang. Jenis-jenis ular laut penghuni ekosistem terumbu karang dalam
perairan ini adalah Laticauda colubrina, Laticauda semifasciata, Alpysurus
laevis, dan Enhydrina schistosa. Sementara jenis ularlaut yang ditemukan
di luar perairan terumbu karang atau yang hidup pada lingkungan perairan
laut yaitu Hydrophis fasciatus dan Pelamis platurus. Keenam jenis ular laut
itu ditemukan hadir pada hampir semua wilayah perairan pesisir dan laut
pulau ini.
Beberapa jenis burung laut seperti burung camar, burung talang,
burung kondo abu-abu dan kondo putih ditemukan hadir di perairan pesisir
dan laut pulau ini. Selain itu ditemukan burung petikan menempati areal
pesisir pantai, yang dapat dipastikan berkaitan dengan musim karena
bermigrasi dari Australia sebagai habitat aslinya, memasuki Kabupaten
Kepulauan Aru dan tiba di pulau Romang.
4.1.7. Sumberdaya Bentik di Pulau Romang
Jumlah spesies makrofauna bentos yang ditemukan di Pulau Romang
dijumpai 27 spesies makrofauna bentos. Dimana dari ke-27 spesies tersebut
teridentifikasi sebanyak 15 spesies yang mempunyai nilai ekonomis tinggi,
yaitu Gafrarium tumidum, Pinctada margaritifera, Lambis lambis, Malleus
niloticus, Actinopyga lecenora, Thelenota anax, Thelenota ananas,
Holothuria atra, H. edulis, H. fuscogilva dan Stid-lopus horens.
4.1.8. Potensi Perikanan Budidaya di Pulau Romang 4.1.8.1. Potensi Lahan Budidaya Laut
Budidaya laut adalah upaya manusia melalui masukan tenaga kerja
dan energi, untuk meningkatkan produksi organisme laut ekonomis penting
dengan memanipulasi laju pertumbuhan, mortalitas dan reproduksi.
Kegiatan budidaya telah dilakukan manusia sejak dulu yaitu pemeliharaan
dalam media air dengan pemberian makanan untuk organisme air yang
dipelihara. Budidaya laut dapat dikembangkan dan menjadi alternatif bagi
pekerjaan masyarakat. Meskipun budidaya laut di Maluku telah
berkembang, namun perkembangannya belum optimal. Hal ini disebabkan
belum menyebarnya teknologi budidaya laut tersebut di kalangan
masyarakat luas termasuk masyarakat Pulau Romang. Kegiatan budidaya
laut merupakan kegiatan yang bersifatnya dapat memilih tempat yang
sesuai serta metode yang tepat dan komoditas yang diperlukan, sehingga
dengan sifatnya yang luas ini pendistribusian produk dapat disesuaikan
dengan permintaan yang ada atau pemanfaatannya.
Secara keseluruhan luas perairan di Pulau Romang yang dapat
digunakan untuk kegiatan budidaya adalah sebesar 500-600 Ha. Secara
keseluruhan areal yang terluas yang dapat dimanfaatkan sebagai areal
kegiatan usaha budidaya laut seperti rumput laut dengan metode long line,
dan budidaya ikan dengan metode keramba jaring apung.
Tidak semua perairan Pulau Romang dapat digunakan untuk lokasi
budidaya laut, hal itu dikarenakan adanya beberapa faktor yang harus
diketahui sebelum kegiatan budidaya dimutai, terutama mengenai kondisi
diketahui diantaranya adalah kecepatan dan arah arus, kedalaman perairan,
kejernihan air, bebas dari pencemaran, suhu, salinitas, kandungan oksigen
terlarut, nutrien (fosfat, nitrat dan nitrit) serta derajat keasaman (pH).
Kecepatan arus sangat membantu pertukaran air dan membawa oksigen
terlarut yang sangat dibutuhkan ikan dan organsime budidaya lainnya,
selain itu arus dapat menghanyutkan kotoran dan sisa pakan yang jatuh ke
dasar perairan. Walaupun demikian perairan dengan arus yang terlalu
kuat/berlebihan harus dihindari, karena dapat menyebabkan stres pada
ikan, energi ikan banyak terbuang dan selera makannya berkurang.
Kecepatan arus yang ideal adalah sekitar 0,2-0,5 m/detik. Kecepatan arus
pasut pada perairan Pulau Romang sepanjang musim rata-rata berkisar
antara 0,24-0,27 m/detik. Nilai ini jika dibandingkan dengan nilai ideal
untuk budidaya, maka dapat dikatakan bahwa perairan pulau ini yang telah
direkomendasikan untuk kegiatan budidaya laut, layak untuk dilakukan.
Suhu perairan Pulau Romang pada umumnya memenuhi persyaratan
untuk kegiatan budidaya laut, karena perubahan suhu harian maupun
tahunan sangat kecil. Kisaransuhu pada perairanini berkisar antara
26,94-29,210C. Sedangkan salinitas sebesar 35 PSU, nilai salinitas tersebut pada umumnya masih berada pada kisaran salinitas yang disenangi oleh ikan dan
biota laut lainnya, kecuali ikan kerapu lumpur (Epinephelus spp) yang
menyenangi perairan payau (15 PSU).
Pencermaran perairan dapat menyebabkan perubahan kualitas air.
Ada bahan pencemar yang sulit terurai dan ada yang mudah terurai. Contoh
yang sulit terurai adalah persenyawaan logam berat, sianida dan bahan
organik sintetis, sedangkan yang mudah terurai adalah limbah rumah
tangga, bakteri, limbah panas, dan limbah organik. Pada lapisan permukaan
air yang tidak tercemar biasanya mengandung oksigen terlarut cukup tinggi
paling minim yang dapat ditoleransi oleh organisrne yang dibudidaya adalah
4 ppm, sedangkan kisaran oksigen terlarut pada perairan Kecamatan
Terselatan adalah antara 4,20 — 4,21 mg/l. Air laut mempunyai daya
penyangga yang besar terhadap perubahan keasaman. Umumnya pH air
laut antara 7,6 — 8,7, dan kisaran pH untuk kebutuhan budidaya adalah
dari 6 — 9. Sedangkan kisaran pH pada perairan Pulau Romang adalah
antara 8,45 — 8,53 jadi dapat dikatakan kisaran ini masuk dalam kategori
balk karena sudah masuk dalam kisaran pH air laut pada umumnya dan
kisaran yang dibutuhkan untuk keperluan usaha budidaya laut. Di samping
itu perairan di Pulau Romang umumnya jernih dan baik untuk budidaya.
Sedangkan kandungan/konsentrasi fosfat pada perairan ini, berkisar antara
0,11 0,37 mg/l dan konsentrasi nitrat berkisar antara 1,20 — 1,60 mg/l.
Dari konsentrasi fosfat dan nitrat di perairan ini, maka perairan pulau
Romang dapat dikategorikan sebagai perairan dengan tingkat kesuburan
yang sedang, hal ini berdasarkan klasifikasi kadar fosfat dan nitrat menurut
Liaw (1982) dalam Edward (1996).
4.1.8.2. Potensi Komoditas Budidaya Laut
Setelah diketahui luasan dari areal yang dapat dimanfaatkan untuk
kepentingan usaha budidaya laut, maka hal yang juga harus diketahui
adalah potensi dari biota yang akan dibudidaya. Sebaiknya biota yang akan
dibudidaya berasal dari lokasi tempat usaha budidaya akan dilaksanakan,
namun biota tersebut bisa juga diperoleh dari perairan sekitarnya atau
bahkan dari tempat yang jauh. Karenanya perlu juga diketahui potensi dari
biota-biota yang bisa dikembangkan melalui budidaya laut tersebut.
Beberapa jenis moluska dan ekinodermata yang bisa dibudidaya dan
potensinya di perairan Pulau Romang antara lain: Gafrarium tumidum,
Pinctada margaritifera, Lambis lambis, Thelenota ananas, Bohadchiasp dan
Dengan mempertimbangkan data potensi sumberdaya yang bisa
dikembangkan melalui usaha budidaya laut, serta kondisi perairan yang
memenuhi persyaratan untuk usaha budidaya, maka dari segi teknis
beberapa tipe budidaya yang dapat-dikembangkan di Pulau Romang yaitu
Keramba Jaring Apung untuk budidaya ikan; Metode Rakit dan Long Line
untuk budidaya rumput laut. Selain beberapa jenis sumberdaya ikan yang
berpotensi untuk dikembangkan melalui usaha budidaya yang telah
disebutkan di atas, adalah ikan kerapu (Epinephelus mera), Beronang
(Siganus gutatus), Bobara (Caranx sexfasciatus) dan Kakap (Lutjanus spp).
4.1.9. Potensi Perikanan Tangkap di Pulau Romang 4.1.9.1. Jenis dan Jumlah Alat Penangkapan Ikan
Jenis dan jumlah alat tangkap yang digunakan oleh nelayan di Pulau
Romang, dapat memberikan indikasi penggunaan teknologi penangkapan
ikan dan kemampuan produksi ikan hasil tangkapan yang berasal dari sana.
Jumlah alat penangkap ikan di Pulau Romang sebanyak 658 unit, terdiri dari
jenis alat tangkap pancing (angling gear) sebanyak 380 unit, kemudian
jaring insang (gill net) sebanyak 143 unit dan paling sedikit adalah bubu
(traps) sebanyak 135 unit. Sementara alat penangkap ikan lainnya yang
juga dipergunakan adalah panah (arrow).
4.1.9.2. Armada Penangkapan Ikan
Jumlah kapal/perahu penangkap ikan di Pulau Romang sebanyak 190
unit. Armada penangkap ikan di Pulau ini terdiri dari kapal/perahu tanpa
motor sebanyak 109 unit, kapal/perahu motor tempel sebanyak 78 unit dan
kapal motor hanya sebanyak 6 unit.
4.1.9.3. Potensi Produksi
dari jenis, jumlah dan dimensi alat tangkap, juga dari aktifitas penangkapan
ikan yang dilakukan oleh nelayan yakni frekuensi operasi penangkapan dan
musim penangkapan. Kemampuan tangkap jenis alat penangkapan ikan di
Pulau Romang, ternyata sangat bervariasi yakni rata-rata berkisar antara 5
kg/trip sampai 150 kg/trip. Hal ini disebabkan oleh penggunaan alat
penangkapan ikan yang beragam dan masih tradisional dengan skala usaha
yang juga masih kecil.
Produksi ikan di Kecamatan Pulau-Pulau Terselatan dihasilkan oleh
jaring insang (gill net), bubu (traps), pancing (angling gear) dan alat
tangkap lainnya. Jumlah alat tangkap dan capaian trip penangkapan
menentukan kemampuan produksi ikan, selain faktor-faktor lainnya seperti
keterampilan dan pengetahuan nelayan, kecukupan bahan bakar,
ketersediaan ikan, musim, dan sebagainya. Produksi ikan dari aktifitas
penangkapan ikan oleh para nelayan dari Pulau Romang dapat mencapai
rata-rata 960 ton/tahun.
4.1.9.4. Daerah Penangkapan.
Daerah penangkapan ikan di Pulau Romang mencakup perairan di
sekitarnya pada batas wilayah 0-4 mil laut untuk kabupaten Maluku Barat
Daya, dengan luas 1.619,35 km2. Namun, nelayan terkadang mengoperasikan alat penangkap ikan hingga di luar batas wilayah perairan
tersebut hingga pada wilayah perairan 4-12 mil laut yang merupakan
wilayah ketola Provinsi Maluku yang luasnya 4.644,35 km2. Dengan demikian, daerah penangkapan ikan bagi nelayan Pulau Romang adalah
perairan di sekitarnya seluas 6.264,08 km2. Bita ditinjau berdasarkan SK Menteri Pertanian Republik Indonesia tanggal 5 April 1999 No. 392/Kpts./IK
120/4/99, tentang jaiur-jalur penangkapan ikan, maka luas daerah
Terselatan adalah 1.113,31 km2 dan 3— 6 mil laut (lb) adalah seluas 1.317,40 km2, serta 6-12 mil laut (II) adalah seluas 3.833,37 km2. Penggunaan teknologi penangkapan ikan oleh nelayan Pulau Romang,
mengindikasikan bahwa mereka lebih seringmemanfaatkan "jalur Ia"
sebagai daerah penangkapan ikan.
4.1.9.5. Peluang Pengembangan Perikanan Tangkap
Produksi ikan yang dihasilkan dari perairan sekitar Pulau Romang,
dapat mencapai > 1000 ton/tahun. Hal ini berarti pemanfaatan sumberdaya
ikan dari aktifitas penangkapan ikan yang dilakukan oleh nelayan-nelayan
setempat baru mencapai 12,10 % dari potensi ikan yang tersedia atau 30,26
% dari jumlah tangkapan yang diperbolehkan (JTB).
Nelayan-nelayan Pulau Romang menggunakan 2 jenis alat penangkap
ikan berupa jaring insang (gill net) dan pancing (angling gear) untuk
menangkap ikan pelagis kecil. Produksi ikan pelagis kecil dengan kedua
jenis alat tangkap ini dapat mencapai 310,75 ton/tahun, terdiri dari 260,28
ton/tahun dari hasil tangkapan jaring insang (gill net) dan 50,47 ton/tahun
dari hasil tangkapan pancing (angling gear). Dengan mengacu pada
estimasi potensi ikan pelagis kecil yang tersedia pada Wilayah 0-4 mil laut
di perairan Pulau Romang -sebesar 3.413 ton/tahun, maka pemanfaatan ikan pelagis kecil oleh nelayan setempat baru mencapai 9,10 % atau 22,77
% dari jumlah tangkapan ikan pelagis kecil yang diperbolehkan (JTB) dari
perairan ini.
Pengembangan perikanan tangkap-di dapat diarahkan untuk mengeksploitasi ikan pelagis kecil masih tersedia, dengan menambah jaring
insang (gill net) tetapi dengan mempertimbangkan kondisi nelayan
setempat. Jenis alat penangkap ikan lainnya yang mungkin dapat
tertentu yang perlu dikaji serta penerapan teknotogi penangkapan ikan
secara tepat.
Ikan pelagis besar dieksploitasi dengan menggunakan alat tangkap pancing (angling gear) oleh nelayan-nelayan Pulau Romang. Dengan menggunakan alat tangkap ini, mereka dapat menghasilkan ikan pelagis besar sebanyak 100,94 ton/tahun. Berdasarkan potensi ikan pelagis besar yang tersedia di perairan Pulau Romang, maka pemanfaatannya baru mencapai 13,54 % sehingga masih tersedia 86,46 % lagi untuk dieksploitasi.
Ikan pelagis besar yang masih tersedia untuk dimanfaatkan masih cukup besar. Akan tetapi, penguasaan teknologi penangkapan ikan oleh nelayan masih terbatas pada penggunaan pancing (angling gear) untuk mengeksploitasi ikan pelagis besar. Bila mengacu pada kemampuan tangkap pancing (angling gear), maka jenis pancing tonda (troll line) masih mungkin ditambah jumlahnya.
4.1.10. Potensi Pariwisata Bahari di Pulau Romang
Pulau Romang memiliki potensi sumberdaya dan lingkungan pesisir yang dapat menjadi basis pengembangan wisata pantai dan bahari. Potensi ini membuktikan adanya lokasi-lokasi potensial untuk pengembangan wisata pantai dan wisata bahari. Untuk jenis-jenis wisata tersebut, kondisi lingkungan perairan pesisir dan laut di sekitar pulau ini juga sangat terbuka bagi pengembangannya.
Lokasi-lokasi potensial yang berpotensi untuk dikembangkan, dinyatakan distribusinya pada gambar di bawah ini. Sedikitnya terdapat empat lokasi yang potensial untuk pengembangan wisata pantai dan bahari (Gambar 9 – 12).
4.1.11. Kendala-kendala Pembangunan Pulau-Pulau Kecil
Analisis terhadap data dan informasi di atas, maka beberapa kendala yang dihadapi dalam pengembangan Pulau Roamang sebagai salah pulau kecil di Maluku Barat Daya adalah sebagai berikut:
Ukuran pulau yang kecil dan terisolasi, sehingga penyediaan prasarana dan sarana menjadi sangat mahal, dan sumberdaya manusia yang handal menjadi sangat langka.
Kesulitan atau ketidakmampuan untuk mencapai skala ekonomi (economies of scale) yang optimal dan menguntungkan dalam hal administrasi, usaha produksi, dan transportasi laut turut menghambat pembangunan.
Produktivitas sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan yang terdapat di setiap unit ruang (lokasi) di dalam pulau dan yang terdapat di sekitar pulau (seperti ekosistem terumbu karang dan perairan pesisir) adalah saling terkait satu sama lain.
Budaya lokal kadangkala bertentangan dengan kegiatan pembangunan di pulau ini
Berdasarkan kendala-kendala tersebut, penulis mencoba untuk
menawarkan suatu konsep rencana pengembangan pulau ini untuk suatu
peruntukkan tertentu yakni sebagai pusat agro-marine sehingga bagaimana
pulau Romang sebagai salah pulau kecil di Kabuoaten Maluku Barat Daya
dapat berkembang ke arah yang lebih maju dan lebih sejahtera. Untuk
untuk pada bagian berikut akan dijelaskan rencangan pengembangan pulau
Romang berkelanjutan dengan pendekatan agro-marine.
4.2. Rencana Pengembangan Pulau Romang Berkelanjutan melalui Pola Agromarine
4.2.1. Pengembangan Pulau Romang Berkelanjutan
batas yang luwes yang bergantung pada kondisi teknologi dan sosial ekonomi tentang pemanfaatan sumberdaya alam serta kemampuan ekosistem pesisir untuk menerima dampak kegiatan manusia. Dengan perkataan lain, pengembangan pulau ini secara berkelanjutan adalah suatu strategi pemanfaatan ekosistem alamiah sedemikian rupa, sehingga kapasitas fungsionalnya untuk memberikan manfaat bagi kesejahteraan hidup masyarakat lokal tidak rusak.
Pada umumnya dalam pembangunan ekosistem kepulauan, secara garis besar terdapat tiga pilihan pola atau model pembangunan yang dapat diterapkan untuk ekosistem pulau kecil. Pertama, menjadikan pulau sebagai kawasan konservasi, sehingga dampak negatif penting akibat kegiatan manusia tidak ada atau sangat kecil. Kedua, pembangunan pulau secara optimal dan berkelanjutan, seperti untuk pertanian dan perikanan yang semi-intensif. Ketiga, pola pembangunan dengan intensitas tinggi yang mengakibatkan perubahan radikal pada ekosistem pulau, seperti pertambangan skala besar dan industri pariwisata skala besar. Di antara kedua pola ekstrim, yaitu pola pembangunan tipe pertama dan ketiga, terdapat pola pembangunan yang berkelanjutan, yang terdiri dari berbagai kegiatan pembangunan seperti pertanian terkendali, penangkapan ikan baik di perairan pantai maupun laut lepas, budidaya tambak dan budidaya laut, pariwisata, industri rumah tangga atau industri kecil, dan sektor jasa.
4.2.2. Pengembangan Pulau Romang melalui pola Agromarine
ditunjang oleh pemanfaatan sumberdaya hayati dan nirhayati di sekitarnya, dengan berdasarkan pada prinsip kelestarian sumberdaya alam dan lingkungan hidup.
Agar pengembangan pulau Romang dengan pola agromarine dapat terlaksana secara optimal dan berkelanjutan bagi sebesar-besarnya kemakmuran masyarakat, khususnya penduduk asli pulau tersebut, maka pola pembangunan agromarine hendaknya didasarkan pada tiga prinsip dasar utama, yaitu: kesesuaian dan daya dukung lingkungan, pendekatan agrobisnis dan pendekatan kemitraan. Melalui penerapan tiga prinsip ini, pembangunan pulau Romang dengan pola agromarine akan berlangsung secara berkelanjutan, baik secara ekologis, ekonomis maupun sosial budaya. Secara skematis perumusan model pembangunan wilayah Pulau Romang dengan pola agromarine disajikan pada Gambar 9.
pantai, seperti membangun dermaga dan hotel, maka harus sesuai dengan pola hidrodinamika pulau ini dan proses-proses alami lainnya.
Gambar 7. Kerangka Pendekatan dalam Perumusan Pengembangan Pulau Kisar dengan Pola Agromarine (diadaptasi dari Dahuri, 1998).