2.1 Landasan Teori
Landasan teori adalah seperangkat defnisii konsep serta proposisi yang telah disusun rapi serta sistematis tentang variable-variabel dalam sebuah penelitian. Landasan teori ini akan menjadi dasar yang kuat dalam sebuah penelitian yang akan dilakukan.
2.1.1 Teori Komunikasi
Komunikasi adalah suatu proses
penyampaian informasi (pesani idei gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain. Pada umumnyai komunikasi dilakukan secara lisan atau verbal yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. apabila tidak ada bahasa verbal yang dapat dimengerti oleh keduanyai komunikasi masih dapat dilakukan dengan menggunakan gesture tubuhi menunjukkan sikap tertentui misalnya tersenyumi menggelengkan kepalai mengangkat bahu. Menurut Notoatmojo dalam bukunya yang berjudul “Teori Komunikasi dan Komunikasi Massa”i “Komunikasi adalah proses pengoperasian rangsangan (stimulus) dalam bentuk lambang atau simbol bahasa atau gerak (non-verbal)i untuk memengaruhi perilaku orang lain. Stimulus atau rangsangan dapat berupa suara/bunyi atau bahasa lisan berupa gerakani tindakan atau simbol-simbol yang dapat dimengerti oleh pihak lain. Oleh sebab itu reaksi atau respon dalam bentuk simbol merupakan pengaruh atau hasil proses komunikasi” (2007: 175).
Proses komunikasi yang menggunakan stimulus atau respon dalam bentuk bahasa baik lisan maupun tulisan selanjutnya disebut komunikasi verbal. Sedangkan apabila
proses komunikasi tersebut menggunakan simbol-simbol disebut komunikasi non-verbal.
Menurut Daft (2006:433) bahwa “Komunikasi adalah proses dimana informasi ditukar dan dipahami oleh dua orang atau lebihi biasanya dengan maksud untuk memotivasi atau mempengaruhi perilaku”.
Dari uraian di atasi dapat disimpulkan bahwa komunikasi merupkan pertukaran informasi yang dapat dimengerti oleh pihak lain. Kemudian respon dalam bentuk symbol merupakan pengaruh yang baik atau bisa di bilang hasil proses komunikasi yang baik akan direspon dengan yang baik juga.
2.1.2 Strategi Publikasi
Strategi pemasarani merupakan salah satu hal yang sangat penting dalam menjalankan sebuah usaha. Baik peluang usaha baru maupun usaha yang telah lama dirintisi baik usaha kecil maupun usaha yang telah berkembang sekalipun. Semuanya membutuhkan strategi pemasaran untuk mengembangkan usaha yang dijalankan. Berbicara tentang konsep marketingi maka sesungguhnya kita sedang membicarakan bagaimana strategi pemasaran produk yang kita jual. Hal itu pulalah yang dihadapi oleh usaha kecil yang saat ini banyak bermunculan. Merencanakan strategi pemasaran yang tepat untuk menarik minat konsumen pada usaha kecil masih sangatlah sulit. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengembangkan usaha kecil tentunya dengan fokus pada strategi pemasaran.
anggaran biaya yang minim untuk menghasilkan strategi pemasaran yang tepat. Berikut beberapa cara untuk mengoptimalkan pemasaran dengan anggaran terbatas
1. Bekerjasama dengan pengusaha atau rekan untuk pemasangan iklan
2. Mencoba mengirimkan penawaran produk kepada pelanggan serta memberikan potongan harga untuk paket pembelian tertentu.
3. Perkenalkan produk dan usaha yang dimiliki melalui media gratisi hal ini akan membantu pencarian para konsumen tentang produk yang ditawarkan. Misalnya saja publikasi melalui internet.
4. Libatkan lingkungan yang ada disekitar usaha Andai dalam salah satu kegiatan yang usaha Anda laksanakan. Ini dapat dijadikan sebagai salah satu cara publikasi gratis kepada masyarakat sekitar.
2.1.3 Psikologi Warna
Warna adalah kesan yang diperoleh mata dari cahaya yang dipantulkan oleh benda-benda yang dikenainya (KBBIi 2008:1809). Kesan tersebut juga bisa memberikan kesan yang lain. Seperti merah jambu/pink yang memberikan kesan merah muda seperti buah jambui atau warna merah delima terkesan warna biji buah delima. Apabila ditinjau dari psikologis atau emosi manusiai makna dan arti warna-warna yang ada itu bisa menunjukan kesan perasaan akan sesuatu.
juga pernah memimpin eksperimen tentang keterkaitan warna dengan emosi (UK Essays Film Studies: 2015).
Para fotografer dan juga videografer sering menggunakan psikologi warna untuk membangun efek emosi di mana dengan harapan karyanya bisa dirasakan sepenuhnya oleh orang lain yang melihat/menonton. Di dunia flmi sebenarnya sudah sejak lama menggunakan makna warna untuk efek emosi (color grading). Seperti flm horor yang sering menggunakan warna biru untuk membangun suasana takuti dan lain-lain.
Warna diyakini mempunyai dampak psikologis terhadap manusia. Dampak tersebut daapat dipandang dari berbagai macam aspeki baik aspek panca indrai aspek budayai dan lainnya.
1. Rasa terhadap warna
a. Warna netrali adalah warna-warna yang tidak lagi memiliki kemurnian warna atau dengan kata lain bukan merupakan warna premier maupun sekunder. Warna ini merupakan campuran ketiga komponen warna sekaligusi tetapi tidak dalam komposisi tepat semua.
b. Warna kontrasi adalah warna yang berkesan berlawanan satu dengan yang lainnya. Warna kontras bisa di dapatkan dari warna yang bersebrangan (memotong titik tengah segitiga) terdiri dari warna premier dan sekunder. etapi tidak menutup kemungkinan pula membentuk kontras warna dengan mengolah nilai ataupun kemurnian warna. Contoh warna kontras adalah merah dengan hijaui kuning dengan unggu dan biru dengan jingga
warna merah hingga kuning. Warna ini menjadi symbol ringani semangati marahi dan sebagainya. Warna panas mengesankan warna yang dekat. Tetapi justru barang yang mempunyai warna panas ini radiasi panasnya kecil.
d. Warna dingini adalah kelompok warna dalam rentang setengah lingkaran di dalam lingkaran warna mulai dari warna hijau hingga unggu. Warna ini menjadi symbol kelembutani sejuki nyamani dan sebagainya. Warna sejuk mengesankan jarak yang jauh tetapi justru barang yang mempunyai warna dingin ini radiasi panasnya besar.
2. Makna budaya warna
upacarai kebanggaani
Berbicara kajian ilmu komunikasii khususnya tentang analisis teks mediai maka tidak akan pernah lepas membahas tentang semiotika. Kajian ini populer digunakan oleh akademisi/ ilmuwan komunikasi sebagai pisau analisis dalam penelitian-penelitian yang berkaitan dengan media massa.
kebudayaan itu merupakan tanda-tanda. Semiotik itu mempelajari sistem-sistemi aturan-aturani konvensi-konvensi yang memungkinkan tanda-tanda tersebut memiliki arti. Peirce berpendapat bahwa dasar semiotika konsep tentang tanda “tak hanya bahasa dan sistem komunikasi yang tersusun oleh tanda-tandai melainkan dunia sendiri puni sejauh terkait dengan pikiran manusia-seluruhnya terdiri atas tanda-tanda karenai jika tidak begitui manusia tidak akan bisa menjalin hubungannya dengan realitas.”
Ide dasar semiotika ini berangkat dari pesan kode. Penyampaian pesan tersebut satu-satunya disampaikan dengan kode. Oleh karena itu terdapat proses encoding dan decoding dalam komunikasi. Encoding merupakan proses pikiran atau komunikasi dalam menyampaikan pesani sedangkan decoding merupakan kebalikannya yaitu proses pikiran dalam menerjemahkan pesan-pesan yang terkode tersebut.
Menurut Umberto Eco dan Hoed dalam bukunya Sobur (2003 : 25-26) semiotika dibagi atas dua kajiani yaitu semiotika saluran komunikasii dan acuan (hal yang dibicarakan) serta memberikan tekanan pada teori tanda dan pemahamannya dalam suatu konteks tertentu.
2. Semiotika signifkasi tidak mempersoalkan adanya tujuan berkomunikasi. Yang diutamakan adalah segi pemahaman suatu tanda sehingga proses kognisinya pada penerima tanda lebih diperhatikan dari pada proses komunikasinya.
adanya tujuan untuk berkomunikasii contohnya lampu lalu lintasi jika merah berarti berhentii kuning berarti jalan harus berhati-hatii dan hijau berarti jalan. Ini adalah sebuah tanda tanpa adanya tujuan berkomunikasi.
2.1.5 Aspek Kultular
Untuk sebagiani pola kebudayaan dari suatu kelompok masyarakat tidak terlepas (dan bahkan merupakan refeksi) dari cara hidup atau sistem mata pencaharian masyarakat itu. untuk sebagian laini agama atau kepercayaan sering merupakan elemen pokok yang menjadi cultural focus pola kebudayaan suatu masyarakati lebih-lebih untuk masyarakat yang relatif masih bersahaja. Bersumber atau terkait pada agama/kepercayaan ini terciptalah adat-istiadat atau berbagai bentuk tradisi (termasuk sistem kekerabatan) yang mengatur seluruh kehidupan masyarakatnya.
Bagi masyarakat desa yang secara umum pengelompokannya relatif kecili adat-istiadat atau tradisi adalah identik dengan kebudayaan. Sebabi dalam adat-istiadat atau tradisi tersebut telah terkandung sistem nilaii normai sistem kepercayaani sistem ekonomi dan lainnyai yang cukup lengkap menjadi pedoman perilaku kehidupan mereka. Untuk sbagian lainnya lagii pola kehidupan masyarakat Indonesia umunyai dan desa khususnyai harus dirunut asal-muasal nenek moyang kita yang ternyata berasal dari tempat dan suku bangsa yang berbeda-beda. Denagn sendirinya pula dengan pola kebudayaan yang beragam.
Pertamai sebagian besar Jawa Tengah dan Jawa Timur yang telah sekian lamanya memiliki teknik dan system pertanian sawah. Kedua sepanjang pantai Jawai Sumatera dan Malayai Kalimantan (di muara-muara sungai) yang merupakan daerah-daerah tempat berkembangnya kota-kota pelabuhan. Kota-kota pelabuhan ini mengadakan hubungan dengan Indiai Cinai dan bahkan Jepang. Kegiatan perdagangan laut inilah yang merupaka unsur penentu corak peradaban daerah-daerah ini. Ketigai daerah-daerah pedalaman dari kota-kota pelabuhan. Daerah-daerah ini pendudukya jarang.Desa-desa pertanian sawah yang berada di Jawa Tengah dan Timuri yang umumnya disebut daerah pedalaman (hinterland)i dapat diperkirakan lebih bersifat tertutupi statis dan kurang berorientasi kepada keuntungan dibanding dengan masyarakat desa-desa di daerah peradaban ke dua.
2.1.6 Gaya Desain
Pengertian dari gaya secara umum adalah suatu ragam yang kha dari ekspresii desaini arsitektur atau cara pelaksanaan suatu hal. Gaya dalam desain grafs berarti keindahaan visual yang mempunyai pengaruh besar pada suatu masa dan tempat tertentu. Desainer grafsh pada dasarnya bertugas untuk mengatur dan mengkomunikasikan pesan untuk menempatkan sebuah produk atau ide di benak audience, memberikan kesan baiki serta memberitahukan dan mempublikasikan suatu informasi dengan cara yang efektif. dalam proses inii gaya juga berarti sebuah cara untuk menginformasikan dan menandai pesan yang ditujukan bagi audience tersebut.
1. Art Deco
Art Deco adalah sebuah gerakan desain yang populer dari 1920 hingga 1939. Gerakan inii dalam pengertian tertentui adalah gabungan dari berbagai gaya dan gerakan pada awal abad ke-20i termasuk Konstruksionismei Kubismei Modernismei Bauhausi Art Nouveaui dan Futurisme. Popularitasnya memuncak pada 1920-ani Art Deco murni bersifat dekoratif. Pada masa itui gaya ini dianggap angguni fungsionali dan ultra modern. yang mempengaruhi seni dekoratif seperti arsitekturi desain interiori dan desain industrii maupun seni visual seperti misalnya fesyeni lukisani seni grafsi dan flm.
Art Deco adalah gaya yang muncul setelah Perang Dunia I dan berakhir sebelum Perang Dunia IIi dala perkembangannya Art Deco banyak dipengaruhi oleh berbagai macam gaya modern seperti Kubismei Futurisme serta Konstuktivisme.
a. Penggunaan berani dari sapuan kurva. b. Bentuk bertingkat.
c. Motif pancaran matahari dan pola chevron.
Art Deco banyak dipakai dengan mengunakan material seperti plastiki metali kacai bakelit dan menggabungkannya dengan penemuan-penemuan baru saat itui lampu misalnyai karya-karya mereka memakai warna-warna yang kuat serta bentuk-bentuk abstrak dan geometris misalnya bentuk tanggai segitiga dan lingkaran terbukai tetapi mereka kadang masih menggunakan motif-motif tumbuhan dan fguri tetapi motif-motif tersebut cenderung berbentuk geometris.
Ungkapan Art Deco diperkenalkan pertama kali pada tahun 1966 di Paris dalam katalog yang diterbitkan oleh Musée des Arts Décoratifi sejak saat itu nama Art Deco semakin terkenal dan menjadi populer dan banyak dimuat di media cetak. Jadi sebelum tahun 1966 masyarakat belum mengenal gaya Art Decoi dan mereka lebih sering menyebut seni yang populer dalam masa PD I sampai sebelum PD II dengan nama Seni Modern.
Gambar 2.1. Art Deco
2. Flat Design Style
Gambar 2.2Flat Design
Sumber : http://www.spotlightdisplays.comi Diunduh pada tanggal 23 Desember 2017 pukul 20:21
3. Post-Modern Style (1970-1990)
Post Modern tidak miliki dampak pada desain grafs sampai pada tahun 1980-an. Awalnya banyak yang mengira ini hanya
Mixed Art (Style Campur). Namun pada kenyataanya ini adalh rancangan terbaru dari desaini Style campur ini ditandai dengan judul yang miringi ilustrasi kolasei terdapat unsur tumpeng tindih dalam desaini menampilkan look sebagai objek utamai dan dekorasi impulsive.
Ciri spesifknyai Postmodern selalu terfokus pada minimalisme dan organisasi. Oleh karena itui gaya ini memegang teguh beberapa hal berikut seperti dikutip laman hgtv.ca;
a. Menyoroti dan menonjolkan garis lurus bersih pada furnitur dan arsitektur
b. Bentuk sederhana
c. Dekorasi minimalis
d. Memiliki fungsi yang tinggi
Selain itui gaya postmodern juga dikembangkan menjadi beberapa treni seperti;
a. Klasik modernismei desain yang anggun dari Yunani kuno. b. Gaya Memphisi dimulai oleh Ettore Sottsass di tahun
1980-an. Gaya ini memamerkan kebebasan berekspresi dalam bentuk dan warna.
c. Deconstruktivismei menekankan bentuk dan desain tanpa mematuhi aturan struktural normal. Desain unik nan aneh karya Frank O. Gehry salah satunya.
d. Gaya berteknologi tinggi (High tech style)i menekankan tampilan elemen industri dan struktural dengan cara yang nyata atau dekoratif.
Berkembangnya inspirasi desain di era sekarangi
menyebabkan sulitnya membedakan karateristik antara desain postmodern asli dengan desain “postmodern”.
Gambar 2.3Post Modern
Sumber : http://www.spotlightdisplays.comi Diunduh pada tanggal 23 Desember 2017 pukul 20:21
2.1.7 Unsur dan Prinsip Desain
seorang desainer. Jika anda sebagai seorang desainer tidak paham akan hal ini anda akan susah untuk menyampaikan suatu pesan dan berpotensi untuk terjadinya miss communication.
2.1.7.1 Unsur Desain
Sebelum kita membuat hasil karyai tentunya kita harus mengetahui beberapa unsur dasar dalam membuat sebuah desain. Unsur tersebut pastinya sudah dikenal dalam kehidupan sehari-harii dimana pada setiap hasil karya desaini terdapat satu daari unsur unsur di bawah ini:
1. Warna (Color)
Warna merupakan unsur penting dalam obyek desain. Karena dengan warna orang bisa menampilkan identitasi menyampaikan pesan atau membedakan sifat dari bentuk-bentuk bentuk-bentuk visual secara jelas. Dalam prakteknya warna dibedakan menjadi dua: yaitu warna yang ditimbulkan karena sinar (Additive color/RGB) yang biasanya digunakan pada warna lampui monitori TV dan sebagainyai dan warna yang dibuat dengan unsur-unsur tinta atau cat (Substractive color/ CMYK) yang biasanya digunakan dalam proses pencetakan gambar ke permukaan benda padat seperti kertasi logami kain atau plastik.
Gambar 2.4Warna RGB dan CMYK
2. Tekstur (Texture)
Tekstur adalah tampilan permukaan (corak) dari suatu benda yang dapat dinilai dengan cara dilihat atau diraba. Yang pada prakteknyai tekstur sering dikategorikan sebagai corak dari suatu permukaan bendai misalnya permukaan karpeti bajui kulit kayui cat dindingi cat canvasi dan lain sebagainya.
Gambar 2.5 Tetur
Sumber : http://www.spotlightdisplays.comi Diunduh pada tanggal 07 Januari 2018 pukul 05:30
3. Ruang (Space)
Disini lah seorang desainer dituntut untuk pintar memanfaatkan suatu ruang pada bidang kosong.
Gambar 2.6 Ruang
Sumber : http://www.spotlightdisplays.comi Diunduh pada tanggal 07 Januari 2018 pukul 05:31
4. Garis (Line)
Gambar 2.7 Garis
Sumber : http://www.spotlightdisplays.comi Diunduh pada tanggal 07 Januari 2018 pukul 05:31
5. Bentuk (Shape)
Bentuk adalah segala hal yang memiliki diameter tinggi dan lebar. Bentuk dasar yang dikenal orang adalah kotak (rectangle)i lingkaran (circle)i dan segitiga (triangle). Pada desain komunikasi visual kita akan mempelajari bentuk dasar dan bentuk turunan.
Gambar 2.8 Bentuk
Sumber : http://www.spotlightdisplays.comi Diunduh pada tanggal 07 Januari 2018 pukul 05:32
2.1.7.2 Prinsip Desain
Prinsip-prinsip desain sebenarnya memiliki acuan pada seni rupa pada umumnya karena terkait dengan suatu estetika pada seni itu sendiri yang terdiri dari 5 bagian yaitu:
1. Kesatuan (Unity)
Gambar 2.9 Kesatuan
Sumber : http://uiaciel.blogspot.co.id/2015/07/prinsip-desain-grafs.htmli Diunduh 12 Januari 2018 pukul 05:47
2. Keseimbangan (Balance)
Karya seni dan desain harus memiliki keseimbangan agar nyaman dipandang dan tidak membuat gelisah. Seperti halnya jika kita melihat pohon atau bangunan yang akan robohi kita measa tidak nyaman dan cenderung gelisah. Keseimbangan adalah keadaan yang dialami oleh suatu benda jika semua dayan yang bekerja saling meniadakan. Dalam bidang seni keseimbangan ini tidak dapat diukur tapi dapat dirasakani yaitu suatu keadaan dimana semua bagian dalam sebuah karya tidak ada yang saling membebani.
Gambar 2.10 Keseimbangan
Sumber : http://uiaciel.blogspot.co.id/2015/07/prinsip-desain-grafs.htmli Diunduh pada 12 Januari 2018 pukul 05:56
3. Proporsi (Proportion)
sebuah bidang. Proporsi Agung (The Golden Mean) adalah proporsi yang paling populer dan dipakai hingga saat ini dalam karya seni rupa hingga karya arsitektur. Proporsi ini menggunakan deret bilangan Fibonacci yang mempunyai perbandingan 1:1i618i sering juga dipakai 8 : 13. Konon proporsi ini adalah perbandingan yang ditemukan di benda-benda alam termasuk struktur ukuran tubuh manusia sehingga dianggap proporsi yang diturunkan oleh Tuhan sendiri. Dalam bidang desain proporsi ini dapat kita lihat dalam perbandingan ukuran kertas dan layout halaman.
Gambar 2.11. Proporsi
Sumber : http://uiaciel.blogspot.co.id/2015/07/prinsip-desain-grafs.htmli Diunduh pada 12 Januari 2018 pukul 05:57
4. Irama (Rhythm)
Gambar 2.12. Irama
Sumber : http://uiaciel.blogspot.co.id/2015/07/prinsip-desain-grafs.htmli Diunduh pada 12 Januari 2018 pukul 05:59
5.
Penekanan (aksentuasi)Penekanan dimaksudkan untuk menarik perhatian pembacai sehingga ia mau melihat dan membaca bagian desain yang dimaksud. Kalau dalam konteks desain surat kabar ini bisa dilakukan dengan memberikan kotak raster atas sebuah berita. Hal ini akan mengesankan pentingnya berita itu untuk dibaca oleh pembaca. Atau juga membesarkan ukuran huruf pada judul beritai sehingga terlihat jauh berbeda dengan berita lainnya. Penekanan juga dilakukan melalui perulangan ukurani serta kontras antara teksturi nada warnai garisi ruangi bentuk atau motif.
Gambar 2.13. Penekanan
2.1.8 Ilustrasi Pada Media Publikasi
Pengertian Gambar Ilustrasi adalah hasil dari suatu tulisan dalam bentuk lukisani drawingi fotograf atau teknik seni rupa lainnya yang lebih mengutamakan hubungan subyek dengan tulisan yang dimaksud dibandingkan dengan bentuknya.
Tujuan dari pada ilustrasi yaitu untuk memperjelasi memperkuati memperindahi memperkayai mempertegasi menghiasi atau menerangkan sebuah ceritai puisii tulisani maupun tertulis lainnya. Harapannya dengan menggunakan media bantu visuali tulisan tersebut lebihh gampang dicerna.
Ilustrasi yang baik adalah ilustrasi yang bisa membantu dan merangsang si pembaca untuk berimajinasi mengenai cerita. Ilustrasi cukup membantu dalam memahami narasi dan mengembangkan imajinasi.
Selain berfungsi dalam menghidupkan sebuah ceritai gambar ilustrasi juga berfungsi memberikan bayangan pada setiap karakter di dalam sebuah cerita. Diantaranya sebagai berikut:
1. Memberikan bayangan langkah-langkah kerja.
2. Memberikan bayangan bentuk alat yang digunakan dalam tulisan ilmiah.
3. Menghubungkan tulisan dengan individualitas dan kreativitas manusia.
4. Mengkomunikasikan cerita.
5. Dapat menerangkan konsep yang disampaikan.
6. Memberikan humor-humor untuk menghilanngkan rasa bosan.
Bentuk suatu obyek ilustrasi dapat berupa gambar manusiai tumbuhan dan hewan.
gambar disesuaikan dengan narasi atau tema yang telah dibuat. Gambar ilustrasi dapat menggunakan warna hitam atau putih saja.
Dalam pembuatan ilustrasi dapat menggunakan teknologi digital maupun menggunakan lukisan tangan. Dalam pembuatan ilustrasi dapat juga menggunakan bentuk yang berupa bentuk kartuni karikaturi komiki cerita bergambar maupun karya sastra yang berupa sajak atau puisi.
2.1.9 Tipograf Pada Media Publikasi
Tipograf adalah ilmu yang mempelajari ihwal seni dan desain huruf (termasuk simbol) dalam perangkat lunaknya untuk media komunikasi visual melalui metode penataan layouti bentuki ukuran dan sifatnya sehingga pesan yang akan dihinggakan sesuai dengan yang diperlukanisecara moderni tipograf berkaitan dengan penataan huruf pada media elektroniki baik dari segi tampilan maupun outputnya ke banyak sekali media cetak. sedangkan secara tradisionali tipograf berkaitan dengan penataan huruf melalui media manual berupa lempeng baja yang timbul maupun karet (stempel) yang timbul yang berkenaan dengan tinta dan akan dituangkan ke permukaan kertas.
Menurut Surianto Rustan dalam bukunya yang berjudul “Layout Dasar & Penerapan” yaitu “Memilih jenis huruf dan ukurannya termasuk jarak antar-hurufi katai baris dan lebar paragraph”. (2014: 24)
menterjamahkan atmosfr-atsmofr yang tersirat dalam sebuah komunikasi verbal yang dituangkan melalui abstraksi bentuk-bentuk visual.
Menurut Danton SiMFA dalam bukunya yang berjudul “Tipograf dalam Desain Grafs” mengatakan bahwa “Sintaksis dalam tipograf memiliki pengertian sebagai sebuah proses penataan elemen-elemen visual kedalam kesatuan bentuk yang kohesifi studi terhadap sintaksis tipograf dimulai dari elemen komposisi yang terkecil yaitu hurufi katai garisi kolomi dan margin”. (2001: 13)
Dari uraian di atasi dapat disimpulkan bahwa tipograf mrmiliki arti sebagai proses penataan elemen-elemen visual yang dimulai dari hurufi katai garisi kolomi dan margin. Dan juga menentukan baris dan lebarnya huruf yang akan di tampilkan.
Tipograf memegang peranan penting dalam segala hal yang
berkenaan dengan penyampaian bahasa non
verbal (menggunakan tuverbal) dalam segala bentuk publikasii alasannya adalah kita harus tahu berapa ukuran tuverbal yang akan kita gunakani efek dan bentuk yang akan kita tampilkan sehingga muatan emosi dan sifat dari pesan yang muncul sesuai dengan tujuan komunikasi yang ingin kita hinggakan kepada publik. sebagai contohi dalam bahasa verbali kita tidak barangkali berteriak dengan bentakan untuk merayu/membujuk seseorang sehingga menuruti maupun memahami kemauan kita. begitu juga dalam tipografi kita tidak barangkali menjadikan tuverbal dengan bentuk tegas dan keras (mirip larangan maupun bentakan emosi) untuk publikasi yang bersifat membujuk maupun memberikan sesuatu produk maupun jasa. untuk itulah kita harus belajar tipograf.
a. Pengenalan Anatomi Huruf
Seorang desainer tidak mungkin dapat menilai seseorang itu cantik atau jeleki kalau kita tidak tahu apa itu wajah. Dan kita juga tidak bisa menilai seseorang itu anggun dan menariki kalau kita tidak tahu apa itu tangani kakii badani dan sebagainya. Begitu juga dengan Tipografi kita tidak mungkin dapat mengenali dengan baik sifat-sifat huruf yang akan gunakan apabila kita tidak mengetahui unsur-unsur yang membentuknya.
b. Pengenalan Bentuk dan Penerapannya pada Publikasi Pada tahap ini designer harus belajar bagaimana baris-baris teks itu disusun dalam format yang benar. memberi efek pada tuverbal dengan benar. mengatur jarak antar hurufi jarak antar baris dan sebagainya sehingga tuverbal dapat dibaca dengan baik oleh publik. mengatur besar kecilnya tuverbal yang sesuai. mengatur perataan yang proporsional sesuai degan sifat materi yang dihinggakan dan sebagainya. ada beberapa tahapan yang harus diketahui.
c. Mempelajari Legibility Teks dalam Publikasi