Landasan Ilmu Nutrisi 10 Kebutuhan Zat M

12  25  Download (0)

Teks penuh

(1)

10. Kebutuhan Zat Makanan

10.1. Faktor yang Mempengaruhi Konsumsi Pakan

10.2. Kebutuhan Zat Makanan untuk Non Ruminansia

10.3. Kebutuhan Zat Makanan untuk Ruminansia

10.1. Faktor yang Mempengaruhi Konsumsi Pakan

Jumlah dan macam zat makanan yang dapat dimanfaatkan oleh tubuh hewan menurut Church dan Pond (1988) sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain:

 Genetik

 Individu

 Senyawa toksik

 Kualitas bahan pakan

Faktor Genetik

Faktor genetik berperan penting dalam menentukan pemanfaatan pakan. Banyak hewan terlahir sudah dalam keadaan gangguan metabolisme (cacat) di tubuh. Keadaan ini dapat diperbaiki dengan modifikasi makanan sehingga makanan yang dikonsumsi dapat memenuhi kebutuhannya. Sebagai contoh kasus pada hewan ternak antara lain :

a. Sapi secara genetik membutuhkan mineral Zn tinggi b. Tikus secara genetik membutuhkan vitamin B yang tinggi c. Domba secara genetik membutuhkan mineral Fe tinggi

Sebagai contoh lain bahwa perlakuan pakan dapat memperbaiki mutu genetik suatu ternak. Kemampuan ternak untuk memanfaatkan zat makanan yang diberikan dapat merubah produksi (BB) dan kualitas karkas babi (menurunkan lemak punggung dan memperbaiki loin), seperti diilustrasikan pada pada Tabel 10.1.

Tabel 10.1 Pengaruh perbaikan mutu genetik dari babi melalui perlakuan

pakan

Keterangan 1956 Tahun 1976 % Perubahan Pejantan

Pertambahan bobot badan (lb) 1.89 2.13 12.7

Efisiansi pakan 0.338 0.394 16.6

Lemak punggung 1.46 0.79 - 45.9

Data karkas

Lemak punggung 1.64 1.24 - 24.3

(2)

Ham dan loin (% karkas) 32.3 34.2 5.9

Faktor Individu

Satu individu dengan individu lain pada hewan yang sejenis akan mempunyai respon yang tidak sama terhadap pemanfaatan zat makanan. Perbedaan tersebut disebabkan adanya:

a. Sistem pencernaan yang berbeda antar individu b. Kecepatan tumbuh antar individu yang berbeda c. Respon selera makan yang berbeda

Faktor Senyawa Toksik

Banyak sekali senyawa toksik (antinutrisi) dari tumbuhan yang mulai dikenal sebagai pengganggu pada konsumen (hewan). Hewan tidak selalu mampu untuk mendeteksi kandungan racun dalam pakan. Ada dua jenis toksik yang berasal dari tanaman, yaitu nitrat dan asam prusik. Hal ini sering terjadi jika hewan mengkonsumsi rumput yang dipupuk dengan N tinggi atau jika hewan mengkonsumsi biji sorgum yang telah dibekukan terlebih dahulu. Jenis antinutrisi lainnya telah dibahas pada Bab sebelumnya. Pakan yang mengandung senyawa toksik akan mempengaruhi pemanfaatan nutrient dalam tubuh hewan tersebut. Beberapa toksik dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan dan ketidak efisiensian penggunaan ransum.

Kualitas Pakan dan Efek Penyakit

Tidak banyak informasi tentang status nutrisi untuk hewan local kita, apalagi dikaitkan dengan kondisi sakit. Kualitas pakan sangat menentukan berapa banyak zat makanan yang dapat dicerna dan dimetabolis. Makin baik kualitas pakan maka hewan akan mengkonsumsi secukupnya karena adanya mekanisme kontrol secara kimia sebagai indikator tercukupi nutrien di dalam tubuh. Bila kualitas pakan jelek maka hewan akan mengalami defisiensi salah satu nutrient. Pada kasus defisiensi protein dalam pakan maka akan terjadi penurunan respon kebal tubuh hewan terhadap bakteri, virus dan jamur karena kurangnya zat antibodi. Sedangkan apabila pakan yang diberikan defisiensi vitamin A maka respon pada hewan antara lain meningkatnya kasus penyakit infeksius.

Church (1998) juga melaporkan bahwa faktor yang mempengaruhi konsumsi pakan antara lain adalah:

Palatabilitas

Selera makan terhadap suatu bahan pakan sangat mempengaruhi jumlah konsumsi bahan kering. Makin tinggi palatabilitas makan konsumsi akan meningkat, demikian pula sebaliknya.

Rasa

(3)

indera rasa untuk setiap spesies berbeda-beda, seperti pada ayam 24, anjing 1700, manusia 9000,babi dan kambing 15000 dan sapi 25000 buah. Dilaporkan pula bahwa domba hanya sedikit menyukai rasa manis, sedangkan sapi lebih suka manis dan sedikit asam, kambing cenderung menyukai semua rasa.

Bau

Bau dihasilkan oleh senyawa yang mudah menguap. Hewan kurang terpengaruh oleh adanya efek bau pakan terhadap jumlah konsumsinya. Suatu percobaan yang melakukan operasi dengan menghilangkan indera penciuman namun hasilnya tidak mengubah jumlah konsumsi pakan. Bau pakan yang paling disukai domba adalah bau asam butirat.

Tekstur Fisik

Bentuk pakan (pellet, mash atau crumble) akan mempengaruhi jumlah konsumsi pakan. Adanya sifat pakan berdebu akan menurunkan jumlah konsumsi, sedangkan pakan yang partikel dan ukurannya besar juga akan menurunkan konsumsi. Bentuk pakan seperti pellet sangat berpengaruh terhadap peningkatan jumlah konsumsi.

10.2. Kebutuhan Zat Makanan untuk Non Ruminansia

Definisi standar zat makanan adalah sejumlah nutrien yang dibutuhkan oleh hewan, baik untuk hidup pokok maupun untuk produksi. Kebutuhan zat makanan ini tergantung pada species, umur, bobot badan dan status faali. Unit per satuan kebutuhan nutrien yang digunakan untuk mengekspresikan standar zat makanan tersebut bermacam-macam, seperti contoh untuk kebutuhan energi digunakan satuan DE, ME dan NE sedangkan untuk kebutuhan protein digunakan istilah PK (Protein Kasar), Kecernaan PK, atau Nilai Biologi. Menurut NRC (1994), kebutuhan zat makanan untuk bangsa unggas dikategorikan lebih rinci seperti kebutuhan untuk ayam (pedaging dan peterlur), kalkun, angsa, bebek dan puyuh.

Lebih jauh lagi kebutuhan zat makanan untuk ayam petelur masih dibedakan lagi berdasarkan strain (white-egg atau brown-egg). Kebutuhan protein terinci sampai pada tingkat asam amino, kebutuhan mineral sampai pada yang makro dan mikro dan kebutuhan vitamin lengkap dari yang larut dalam lemak maupun yang larut dalam air, untuk masing-masing umur yang berbeda. Apabila kebutuhan nutrien telah sesuai dengan standar NRC, maka BB dan produksi dapat dijadikan patokan dari jumlah konsumsi energi metabolis (ME), seperti pada Tabel 10.2.

Kebutuhan zat makanan untuk kalkun terbatas pada tabel untuk masa pertumbuhan dan reproduksi. Adapun tabel komposisi kebutuhannya serupa dengan yang dipakai pada ayam namun jumlahnya berbeda. NRC (1994) untuk unggas juga membahas tentang pengaruh defisiennsi protein, vitamin dan mineral serta pengaruh toksisitas bahan pakan.

(4)

besarnya biaya produksi yang berasal dari pakan sehingga perlu diperhitungkan secara rinci effisiensi pemanfaatan pakan.

Tabel 10.2. Perkiraan kebutuhan ME berdasarkan BB dan % produksi telur

BB (kg)

% Produksi Telur

0 50 60 70 80 90

1.0 130 192 205 217 299 242

1.5 177 239 251 264 276 289

2.0 218 280 292 305 317 330

2.5 259 321 333 346 358 371

3.0 296 358 370 383 395 403

NRC for Poultry (1994)

Sebagai contoh kebutuhan energi bruto (GE) untuk unggas petelur dapat diestimasikan dari bobot telur (X) , seperti rumus sebagai berikut :

GE (Kal/btr) ayam = 19,70 + 1,810 X GE (Kal/btr) kalkun = 27,30 + 1,090 X GE (Kal/btr) angsa = 47,11 + 1,913 X

Balnave et al., (1977) merumuskan kebutuhan energi ayam petelur dan pedaging yang dipengaruhi oleh suhu lingkungan. Tiap kenaikan 1oC maka

kebutuhan energi untuk hidup pokok berkurang 2,7 %. GE broiler = 1,19 BB 2/3 + 2,07 T oC

GE petelur = 0,97 BB 2/3 + 2,07 T oC

Pengaruh Iklim terhadap Kebutuhan Energi untuk Hidup Pokok

Hewan mamalia dan burung bersifat homeotermik, artinya suhu tubuhnya selalu konstan, yang berkisar antara 36 – 42 oC. Oleh sebab itu apabila tubuh

menghasilkan energi bentuk panas, maka panas tersebut harus dikeluarkan. Proses pengeluaran panas tubuh tergantung dari perbedaan suhu tubuh dengan suhu lingkungannya.

Pada umumnya untuk memelihara suhu tubuhnya hewan sangat terpengaruh oleh lingkungan. Sebagai contoh babi kondisi basal dan dipelihara pada suhu 25oC, dipuasakan dan kondisi istirahat maka jika suhu udaranya

diturunkan secara bertahap babi akan kehilangan panas lebih cepat sampai ketingkat suhu tubuh yang terendah. Babi dapat mempertahankan suhu tubuhnya dengan cara meningkatkan produksi panas (PP) tubuh melalui aktivitas otot dan menggigil. Temperatur kritis adalah temperature yang rendah dimana produksi panas mulai meningkat (pada suhu 20oC). Pada babi yang puasa,

produksi panas juga dihasilkan untuk memelihara suhu tubuhnya dan lebih rendah dibandingkan babi yang diberi makan, hal ini disebabkan karena adanya HI dari proses pencernaan dan metabolisme pakan dari babi. Pada suhu di bawah 20oC, babi memerlukan konsumsi energi lebih tinggi untuk mengimbangi

suhu lingkungan yang rendah, sedangkan babi yang dipelihara pada suhu 25oC

tidak perlu ada ekstra energi karena suhu lingkungannya sudah nyaman. Titik efektif temperature kritis yaitu suhu pada 5oC dimana biasanya hewan

(5)

PP setelah makan dengan PP saat puasa itulah yang disebut dengan HI (Heat Increament). Hal ini dapat terlihat seperti Gambar 10.1. berikut

Gambar 10.1. Pengaruh suhu terhadap produksi panas tubuh

Hewan yang baru lahir selalu menderita stress dingin, hal ini disebabkan karena hewan tersebut masih kecil, luas permukaan tubuhnya lebih luas dibandingkan dengan bobot tubuhnya dan jaringan pelindung tubuhnya masih tipis dikarenakan belum adanya perlemakan. Jika anak tidak menyusu pada induknya, maka heat increament dari proses makan akan rendah, sehingga produksi panas belum tinggi. Pada anak sapi dan domba terdapat sistem pertahanan khusus di bagian perut dan bahu, yang disebut dengan jaringan lemak coklat (brown adipose) yang berguna untuk menghasilkan panas tubuh apabila diperlukan. Pada lingkungan dingin, hewan berusaha memproduksi panas, sedangkan pada suhu panas maka hewan berusaha mengeluarkan panas. Pada babi dan unggas sangat kesulitan dalam mengevaporasikan panas, jadi pada lingkungan yang panas, kedua jenis hewan tersebut mengurangi produksi panas tubuh dengan cara menekan jumlah konsumsi pakan.

Kebutuhan protein untuk hidup pokok secara praktis didefinisikan sebagai jumlah protein endogen ditambah dengan protein cadangan untuk pembentukan antibody,enzim, hormone serta mempertahankan bulu dan bobot badan.

Protein untuk ayam yang sedang tumbuh akan digunakan untuk : a) hidup pokok, b) tumbuh jaringan/otot, dan c) tumbuh bulu. Sedangkan kebutuhan protein untuk berproduksi dipengruhi beberapa faktor yaitu : a0 ukuran dan bangsa, b) suhu, c) fase produksi, d) kandang, e) kepadatan kandang, f) bentuk dan kedalaman tempat pakan, g) ketersediaan air minum dan h) penyakit.

Tanda-tanda Defisiensi Zat Makanan pada Ayam dan Kalkun

Kekurangan protein dalam pakan akan mengakibatkan defisiensi asam amino utamanya di hati dan saluran reproduksi (NRC, 1994). Akibat kekurangan nutrient tersebut terjadi penurunan produksi telur secara nyata. Beberapa asam amino yang penting dalam ransum unggas antara lain:

a. Lysine, bila defisien mengakibatkan depigmentasi di bagian bulu sayap b. Arginin, valin, leucine, tryptopan dan alanin, bila defisien akan

mengakibatkan abnormalitas pertumbuhan bulu

(6)

Sedangkan pengaruh dari defisiensi beberapa vitamin dan mineral akan mengakibatkan :

a. Vitamin A : keratinisasi pada kulit, gangguan integrasi sistim saraaf, penurunan kekebalan, gejala hypothyroidism, posporilasi terganggu b. Vitamin D : terjadi gangguan absorbsi kalsium (hipokalsemia), gangguan

osteocalsin (pembentukan protein tulang), menurunkan aktivitas pengikatan protein di usus (intestinal protein binding), abnormalitas pertumbuhan tulang kaki

c. Vitamin E : berperan sebagai antioksidan (dengan Se sebagai kofaktor), subdermal eksudative, miopati di lambung dan hati, infertile

d. Vitamin K : gangguan pembekuan darah, anemia, osteocalsin e. Vitamin B1 : aktivitas beberapa enzim dekarboxilasi terhambat

f. Vitamin B2 : proses reduksi-oksidasi terganggu, gangguan sistem saraf g. Niacin : gangguan enzim untuk glikolisis, dermatitis, rontok bulu

h. Biotin : gangguan kulit, kematian embrio

i. Vitamin B12 : bulu tipis, kematian tinggi (karena luka di lambung), mengakibatkan konsumsi protein meningkat

j. Mineral Kalsium dan Pospor : abnormalitas penulangan, kerabang lembek k. Mineral Magnesium : pertumbuhan terhambat, produksi telur turun dan

hiperiritasi otot-saraf

l. Mineral K, Na, Cl : pertumbuhan terhambat, kerabang lembek, kematian m. Mineral Fe (besi) : anemia

10.3. Kebutuhan Zat Makanan untuk Non Ruminansia

Standar kebutuhan pakan atau sering juga diberi istilah dengan standar kebutuhan zat-zat makanan pada hewan ruminansia sering menggunakan satuan yang beragam, misalnya untuk kebutuhan energi dipakai Total Digestible Nutrient (TDN), Metabolizable Energy (ME) atau Net Energy (NEl) sedangkan untuk kebutuhan protein dipakai nilai Protein Kasar (PK), PK tercerna atau kombinasi dari nilai degradasi protein di rumen atau protein yang tak terdegradasi di rumen. Istilah STANDAR didefinisikan sebagai dasar kebutuhan yang dihubungkan dengan fungsi aktif (status faali) dari hewan tersebut. Misalnya pada sapi perah, pemberian pakan didasarkan atas kebutuhan untuk hidup pokok dan produksi susu, sedangkan untuk sapi potong lebih ditujukan untuk kebutuhan hidup pokok dan pertumbuhan. Namun tidak mudah pula untuk menentukan kebutuhan hanya untuk hidup pokok saja atau produksi saja, terutama untuk kebutuhan zat makanan yang kecil seperti vitamin dan mineral. Dalam prakteknya dapat diambil contoh sebagai berikut :

(7)

lebih beragam, termasuk pengaruh perubahan cuaca. Standar ini juga masih bisa dipakai untuk kepentingan taraf nasional (dari Negara yang menyusun) atau bahkan dapat untuk keperluan dunia internasional yang mempunyai kondisi iklim yang hampir sama.

Sejak tahun 1960-1965 di Inggris, melalui Dewan Agricultural Research Council (ARC) telah membuat tabel standar kebutuhan nutrient dari beberapa jenis ternak. Pada tahun 1970 semua publikasi mengenai table kebutuhan nutrient tersebut diperbaharui (direvisi) dan keluarlah edisi terbaru untuk ruminansia pada tahun 1980. Perubahan tersebut meliputi seluruh zat makanan terutama tentang standar untuk penggunaan vitamin dan mineral. Saat ini telah banyak negara maju dan berkembang yang mempunyai standar kebutuan zat makanan untuk ternak lokalnya. Namun sampai sekarang Indonesia belum mempunyai tabel tersebut. Standar kebutuhan yang dipakai di Indonesia adalah hasil dari banyak penelitian yang ada saja.

Tabel 10.3. Nilai perkiraan kebutuhan energi untuk hidup pokok dari total kebutuhan energi untuk h

ewan.

Kebutuhan NE (MJ) % HP dari Total Hidup Pokok Produksi komposisi tubuhnya tetap, tidak tambah dan tidak kurang, tidak ada produk susu atau tidak ada tambahn ekstra energi untuk kerja. Nilai kebutuhan hidup pokok ini hanya dibutuhkan secara akademis saja, sedangkan dunia praktisi tidak membutuhkan informasi tersebut, yang dibutuhkan oleh praktisiwan adalah total kebutuhan hidup pokok dan produksi yang optimal. Jadi pendapat mengenai kebutuhan hidup pokok untuk hewan secara teori berbeda dengan prakteknya.

(8)

ransum untuk hidup pokok adalah supaya tidak terjadi perombakan cadangan tubuh yang digunakan untuk aktivitas pokok. Seperti didefinisikan bahwa ransum untuk hidup pokok adalah sejumlah zat makanan yang harus hadir dalam ransum sedemikian sehingga dalam tubuh hewan tidak terjadi penambahan atau pengurangan zat makanan. Table di bawah ini menggambarkan proporsi untuk hidup pokok dari total kebutuhan energi tubuhnya.

Kebutuhan Energi untuk Hidup Pokok

Telah dijelaskan bahwa energi yang digunakan untuk aktivitas hidup pokok diubah dalam bentuk panas dan dikeluarkan tubuh juga dalam bentuk panas. Jumlah panas yang meningkat diakibatkan oleh aktivitas hidup pokok tersebut dinamakan dengan istilah METABOLISME BASAL HEWAN. Pengukuran ini langsung diperkirakan dari jumlah NE yang harus didapat oleh ternak untuk memenuhi kebutuhan hidup pokoknya.

Pengukuran metabolisme basal ini cukup rumit karena panas yang dihasilkan oleh hewan tidak saja berasal dari aktivitas pokok namun juga berasal dari proses pencernaan dan metabolisme nutrient (Heat Increament on Feeding

= HI) dan juga dari aktivitas kerja otot. Produksi panas ini akan meningkat bila hewan ditempatkan di dalam suhu yang dingin. Untuk mengukur metabolisme basal, pengaruh HI dari pakan harus dihilangkan yaitu dengan cara hewan dipuasakan supaya tidak ada aktivitas pencernaan dan metabolisme. Namun ukuran puasa setiap hewan berbeda-beda. Untuk manusia puasa cukup satu hari, untuk ruminansia dan babi sampai 4 hari. Faktor kedua yang mempengaruhi metabolisme basal adalah nilai RQ (Respiratory quotient). Pada saat puasa oksidasi nutrient berasal dari pembakaran degradasi nutrient di jaringan organ, sehingga ada sedikit perbedaan nilai RQ. Pada manusia, kondisi postabsorptive

ditandai dengan penurunan produksi gas sampai ke tingkat yang paling rendah. Pada manusia, aktivitas otot dapat dikurangi secara sadar, sehingga nilai metabolisme basal pada pengukuran yang kontinyu mudah didapat. Lain halnya dengan hewan ruminansia, kondisi total istirahat harus dibuat sedemikian sehingga agar hewan tak banyak aktivitas, seperti misalnya ditempatkan pada kandang dan suhu yang nyaman atau dipuasakan. Oleh karena itu, istilah metabolisme basal pada hewan dapat juga diartikan sebagai metabolisme puasa, walaupun saat puasa juga terjadi aktivitas berdiri-duduk dalam jumlah yang terbatas. Beberapa nilai metabolisme puasa pada berbagai hewan seperti teesaji pada Tabel 10.4. berikut.

Tabel 10.4. Nilai metabolisme puasa pada berbagai spesies hewan dewasa

Hewan BB (kg)

Metabolisme puasa (MJ/h) Per hewan Per kg BB Per m2 luas

(9)

Pada tabel di atas terlihat bahwa semakin besar bobot dan jenis hewan maka makin besar pula nilai metabolisme puasanya, demikian pula per unit BB. Nilai produksi panas pada kondisi puasa sebanding dengan luas permukaan tubuh. Ekspresi dari luas permukaan tubuh dinyatakan sebagai W0.67, dan nilai

ini dihubungkan dengan besarnya metabolisme puasa. Selanjutnya nilai berubah menjadi W0,73 dan pada akhirnya nilai yang dipakai sehubungan dengan

metabolisme puasa adalah W0,75. (bobot badan metabolik = BBM). Nilai

metabolisme puasa per BBM relativ konstan dari hewan besar sampai hewan kecil. Nilai metabolisme puasa pada hewan dari ukuran terkecil sampai terbesar yang ditemukan oleh Brody didapatkan rataan sekitar 70 kkal/kg BBM yang setara dengan 0,27 MJ/kgBBM/hari. Nilai ini bervariasi antar spesies, bila dibandingkan dengan sapi maka nilai metabolisme puasanya lebih tinggi sekitar 15%, sedangkan bila dibandingkan dengan domba maka nilainya lebih rendah 15%. Disamping itu umur dan jenis kelamin juga mempengaruhi nilai metabolisme puasa. Pada hewan muda nilai metabolisme puasa lebih tinggi (0,39 MJ/kg BBM) dibandingkan dengan hewan tua (32 MJ/kg BBM). Pada hewan jantan lebih tinggi 15% dibandingkan hewan betina.

Estimasi kebutuhan energi untuk hidup pokok dapat dihitung dari kandungan energi pakan, seperti contoh berikut:

Sapi berat 300 kg diberi pakan 3,3 kg BK/hari dengan kandungan energi 11 MJ/kg BK dan Kf = 0,5. Jika sapi tersebut menghasilkan retensi BB 2 MJ/hari, maka kebutuhan ME adalah : ME = (3,3 x 11) – (2/0,5) = 32,3 MJ ME/hari

Metabolisme puasa merupakan dasar perhitungan dari kebutuhan untuk hidup pokok. Namun tak mudah menggunakan nilai metabolisme puasa untuk dijadikan patokan perhitungan kebutuhan nutrient untuk hidup pokok secara praktis. Hal ini disebabkan a). pada hewan yang dimasukkan ke kandang akan mempunyai sedikit beda produksi panas dibandingkan hewan yang dimasukkan ke bilik calorimeter (alat untuk mengukur produksi panas), karena pada hewan yang dipelihara dikandang biasa ada sedikit ekstra energi dari kegiatan aktivitas otot saat jalan atau berdiri., b). hewan yang kondisinya sedang produksi, maka perhitungan metabolismenya harus lebih terinci karena memiliki tingkat kebutuhan yang lebih tinggi, c). pada ternak yang dipelihara di peternakan yang luas dan terbuka memerlukan energi khusus untuk memelihara suhu tubuh normal, mengingat perlu adanya adaptasi dengan suhu lingkungan.

Pada skala lapang didapatkan angka produksi panas dari sapi yang berdiri sebesar 12% lebih tinggi dibandingkan dengan sapi yang tiduran. Pada hewan yang digembalakan di padang pangonan, kebutuhan energi untuk jalan dan merumput sekitar 25-50% dari metabolisme puasanya. Standar kebutuhan untuk hidup pokok sapi yang dipakai mengikuti rekomendasi dari ARC. Kebutuhan untuk sapi puasa dirumuskan sebagai :

Kebutuhan HP = 0,53 (BB/1,08)0,67.

Apabila untuk aktivitas minimal (istirahat) pada hewan yang dikandangkan dirumukan :

Kebutuhan I = 0,0043 BB

Untuk sapi seberat 500 kg membutuhkan energi neto sebesar : NE = 0,53 (500/1,08)0,67 + 0,0043 x 500 = 34,5 MJ/h.

(10)

Kebutuhan Protein untuk Hidup Pokok

Hewan yang diberi pakan bebas nitrogen, kenyataannya tetap terlihat adanya kehilangan nitrogen yang keluar bersama feses dan urin yang berasal dari degradasi dinding usus, enzim dan mikroba yang mati. Eksresi nitrogen diurin dapat berasal dari perubahan kreatin menjadi kreatinin dan juga urea yang merupakan hasil katabolisme asam amino. Protein tubuh pada dasarnya selalu harus diganti dengan protein yang baru. Pergantian protein di usus dan hati ini memakan waktu dalam unit jam atau hari, sedangkan pergantian di tulang dan syaraf memakan waktu dalam unit bulan bahkan tahunan.

Jika pertama kali hewan diberi pakan bebas nitrogen, maka jumlah nitrogen di urin akan menurun beberapa hari, kemudian stabil kembali setelah terjadi perombakan protein tubuh. Pada keadaan cadangan protein telah habis, eksresi N-urin dapat mencapai minimal. Eksresi-N pada kondisi minimal seperti ini disebut dengan N-endogenous urin. N-endogenous urin ini dapat untuk memperkirakan kebutuhan protein untuk hidup pokok hewan. Nilai ini sebesar 2 mg N-endogenous urin per kkal basal metabolisme (500 mg/MJ). Untuk hewan dewasa angkanya berkisar 300-400 mg N-endogenous/MJ metabolisme puasa. Pada ruminansia, nitrogen dapat dipenuhi dari sirkulasi ulang urea dari dan ke rumen. Oleh karena itu perhitungan N-endogenerus untuk hewan ruminansia menjadi 350 mg N/kg W0,75/hari dan setara dengan 1000-1500 mg/MJ

metabolisme puasa. N-urin sisa kelebihan dari N- endogenous disebut dengan N-eksogenous urin.

Jumlah kebutuhan nitrogen untuk hidup pokok akan seimbang bila besar konsumsi N dapat diimbangi dengan besarnya jumlah N-metabolik di feses dan N-endogenous di urin. Cara pengukurannya yaitu dengan menentukan nitrogen yang hilang/keluar dari hewan yang diberi pakan bebas nitrogen.

Pendugaan Kebutuhan Protein untuk HP dari total N-endogenous

dan Ekskresi N- lain.

Cara perhitungan kebutuhan protein untuk HP dari N-endogenous dilakukan seperti dalam penentuan nilai biologi (Biologi Value = BV). Pada sapi nilai BV untuk protein yang dicerna dan diserap relative sama yaitu 0,8.

Contoh seekor sapi bobot 600 kg kehilangan N-endogenous 42 g/h dan hilang bersama rontoknya bulu 2 g/h, sehingga totalnya 44 g/h. Nilai ini sama dengan 6,25 x 44 = 275 g protein. Jadi sapi tersebut membutuhkan protein yang dapat dicerna dan diserap sebanyak 275/0,8 = 344 g/h. Jika diasumsikan bahwa protein tersebut disediakan dari protein mikroba dengan kecernaan protein mikroba 0,85 dan kandungan asam amino 0,8 dari total protein, maka jumlah kebutuhan protein menjadi :

Kebutuhan protein = 344/(0,85 x 0,8) = 506 g/h.

(11)

Pendugaan Kebutuhan Protein dari Neraca Percobaan

Jika hewan diberi makan dengan jumlah BK dan energi sama, tetapi proteinnya berbeda, maka neraca nitrogen akan mengikuti pola seperti pada gambar berikut.

Gambar 10.2. Neraca konsumsi N pada berbagai umur hewan

Jika konsumsi nitrogen meningkat maka akan terjadi peningkatan neraca nitrogen dari negative menjadi positif sampai pada titik keseimbangan. Penimbunan nitrogen ini juga bergantung pada umur dan asupan nutrient yang lain. Jika penambahan protein tak menambah penimbunan retensi nitrogen maka kurva menjadi horizontal. Standar kebutuhan nitrogen tergantung pada degradasi protein makanan dalam rumen, metabolisme mikroba dan protein yang tak tercerna dirumen, serta jumlah konsentrasi ME dalam pakan ( ARC, 1984).

Standar kebutuhan nutrient untuk tumbuh

Pertumbuhan selalu diukur dari kenaikan bobot badan, padahal pada pertambahan tersebut juga terjadi kenaikan berat isi saluran pencernaan yang secara nyata sekitar 20 % dari bobot badan. Jadi pertumbuhan mengikuti persamaan :

Y = b x a

Y= berat bagian tubuh, x = bobot tubuh, a = faktor koefisien

Setiap komposisi tubuh mempunyai koefisien pertumbuhan yang berbeda seperti, air mempunyai koefisien 0,74, protein 0,80, lemak 1,99 dan energi 1,59. Perkembangan tubuh perlu diamati khususnya karena menyangkut kebutuhan nutrient baik pada proses hyperplasia (perbanyakan sel) maupun pada proses hipertropi (perbesaran sel). Makin dewasa, bobot tubuh akan meningkat sementara kebutuhan air dan protein menurun karena komposisi air dan protein tubuh juga turun. Sebaliknya kebutuhan lemak sedikit meningkat karena lemak tubuh meningkat dengan bertambahnya usia.

Kebutuhan energi dan protein untuk tumbuh

(12)

kebutuhan energi untuk jantan lebih banyak daripada untuk betina. Jenis bangsa hewan tipe besar akan membutuhkan energi lebih banyak dibandingkan dengan bangsa hewan yang kecil. Penentuan energi untuk standar biasanya didasari oleh suatu model faktorial.

Sedangkan kebutuhan protein untuk tumbuh dapat dihitung seperti: Seekor anak domba tumbuh dengan pertambahan bobot badan 0,2 kg/h dan kehilangan protein endogenous sebanyak 21 g/h, kandungan protein tubuh 170 g/kg. Maka kebutuhan protein untuk hewan tersebut

Kebutuhan Protein = 21 + (0,2 x 170) =55 g. Jika nilai BV nya 0,80 dan kecernaan proteinnya 0,85 maka protein yang dibutuhkan adalah = 55/(0,80 x 0,85) = 81 g.

Daftar Pustaka

Figur

Tabel 10.1  Pengaruh perbaikan mutu  genetik dari babi melalui perlakuan pakan

Tabel 10.1

Pengaruh perbaikan mutu genetik dari babi melalui perlakuan pakan p.1
Tabel 10.2.  Perkiraan kebutuhan ME berdasarkan BB dan % produksi telur

Tabel 10.2.

Perkiraan kebutuhan ME berdasarkan BB dan % produksi telur p.4
Gambar 10.1.

Gambar 10.1.

p.5
Tabel 10.3. Nilai perkiraan kebutuhan energi untuk hidup pokok dari total kebutuhan energi untuk hewan.

Tabel 10.3.

Nilai perkiraan kebutuhan energi untuk hidup pokok dari total kebutuhan energi untuk hewan. p.7
Tabel 10.4. Nilai metabolisme puasa pada berbagai spesies hewan dewasa

Tabel 10.4.

Nilai metabolisme puasa pada berbagai spesies hewan dewasa p.8
Gambar 10.2.

Gambar 10.2.

p.11

Referensi

Memperbarui...