• Tidak ada hasil yang ditemukan

Nilai Dan Fungsi Ndungndungen Karo

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Nilai Dan Fungsi Ndungndungen Karo"

Copied!
130
0
0

Teks penuh

(1)

NILAI DAN FUNGSI NDUNGNDUNGEN KARO

TESIS

Oleh

ROSITA GINTING

077009022/LNG

SEKOLAH PASCASARJANA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

NILAI DAN FUNGSI NDUNGNDUNGEN KARO

TESIS

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar

Magister Humaniora dalam Program Studi Linguistik pada Sekolah

Pascasarjana Universitas Sumatera Utara

Oleh

ROSITA GINTING

077009022/LNG

SEKOLAH PASCASARJANA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)

Judul Tesis : NILAI DAN FUNGSI NDUNGNDUNGEN KARO

Nama Mahasiswa : Rosita Ginting

Nomor Pokok : 077009022

Program Studi : Linguistik

Konsentrasi : Analisis Wacana Kesusastraan

Menyetujui Komisi Pembimbing,

(Prof. Dr. Robert Sibarani, M.S.) (Prof. Syaifuddin, M.A., Ph.D.) Ketua Anggota

Ketua Program Studi, Direktur,

(Prof. T. Silvana Sinar, M.A., Ph.D.) (Prof. Dr. Ir. T. Chairun Nisa B., M.Sc.)

(4)

Telah diuji pada

Tanggal 10 September 2009

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : Prof. Dr. Robert Sibarani, M.S.

Anggota : 1. Prof. Syaifuddin, M.A., Ph.D.

(5)

ABSTRAK

Tesis ini berjudul “Nilai dan Fungsi Ndungndungen Karo”. Tesis ini menjabarkan tentang macam-macam Ndungndungen Karo, nilai-nilai yang terkandung dalam Ndungndungen Karo, fungsi Ndungndungen Karo, dan bagaimana penggunaan Ndungndungen Karo pada saat sekarang ini.

Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif, dengan teknik rekaman dan interviu. Metode kepustakaan juga digunakan dalam penelitian ini karena data sekunder dari penelitian ini adalah data-data yang ditemukan pada sumber pustaka. Data primer penulis dapatkan dari para informan.

Ndungndungen Karo sama dengan pantun dalam bahasa Indonesia, pewarisannya melalui lisan (oral tradition). Umumnya, Ndungndungen Karo terdiri atas empat larik setiap bait, dua larik pertama merupakan sampiran dan dua larik terakhir merupakan isi. Menurut isinya, Ndungndungen Karo dapat dibagi atas Ndungndungen yang berisi: nasihat, nasib, percintaan, perkenalan, perpisahan, humor, dan adat.

Makna Ndungndungen Karo banyak yang mencerminkan nilai-nilai sosial, budaya dan nilai-nilai didaktis. Fungsi Ndungndungen Karo adalah: fungsi komunikasi, fungsi yang berkaitan dengan norma-norma sosial, fungsi sebagai pengajaran adat, fungsi pengungkapan emosional, fungsi estetis, dan fungsi sebagai alat pendidikan.

Penggunaan Ndungndungen Karo sekarang ini cenderung berkurang bila dibandingkan dengan masa lampau. Dahulu seorang pemuda dalam pergaulannya dengan seorang gadis mempergunakan Ndungndungen sebagai alat komunikasi antara mereka. Berbeda dengan muda-mudi sekarang tidak lagi menggunakan Ndungndungen sebagai alat untuk menyampaikan maksud. Tapi para orang tua masih sering menggunakan Ndungndungen pada setiap upacara adat Karo dan acara kebaktian di gereja.

Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa tujuan masyarakat Karo berndungndungen (berpantun) ialah untuk mendidik dan mengajar anggota masyarakat agar mampu menasihati dan mengetahui sopan santun, adat istiadat, dan kekerabatan.

(6)

ABSTRACT

The title of this thesis is “The Value and The Function of Ndungndungen Karo”. It describes some various of Ndungndungen Karo, the value contained in Ndungndungen Karo, the function of Ndungndungen Karo and how the Ndungndungen Karo is being used at the present moment.

The method being used in this research is qualitative descriptive method, in which the data is collected through recording and interviews. Library reseach is also applied in this research where the secondary data of this research is found from the library while primary data is taken from some informants.

Ndungndungen Karo is the same as poem in Bahasa Indonesia, which is regenerated orally (oral tradition). Generally, Ndungndungen Karo consists of four lines in one verse; the first two lines are as preface and the last two lines are as the contents.

According to its contents Ndungndungen Karo can be devided into advice, joy, sorrow, fate, love, acquintance, separateness, humor and culture. The essence of Ndungndungen Karo mostly reflects social, cultural as well as the education value. Ndungndungen Karo functions as communication, social related values, cultural pedagogy, emotional expressions, aesthetical, and educational functions.

At the present moment, Ndungndungen Karo is less frequently used. Compared with its usage in the past, the young couple used Ndungndungen as a media of communications in their acquaintances. It is very much different from the young couples now days who tend not to use Ndungndungen as a means communications to express their ideas any more. However, this is quite different from the older generations where ndungdungen is still commonly used among them when attending parties, traditional ceremonies and churches.

Based on the research conducted, it can be concluded that the main purpose of ndungdungen among Karo ethnic is to educate the general public so as to enable them in giving advice, knowing how to conduct proper manner in society and maintain the kinship.

(7)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, yang telah

memberikan kasih dan sayang-Nya kepada penulis sehingga penelitian tesis ini dapat

diselesaikan .

Penelitian tesis ini berjudul “Nilai dan Fungsi Ndungndungen Karo”

merupakan salah satu syarat untuk dapat menyelesaikan Sekolah Pascasarjana di

Universitas Sumatera Utara.

Penulis menyadari walaupun telah berusaha dengan baik dalam penulisan

tesis ini namun masih ada kekurangannya oleh karena itu penulis mengharapkan

kritik dan saran yang bersifat konstruktif untuk perbaikan tesis ini. Semoga tesis ini

berguna bagi pembaca dan peneliti lainnya, khususnya pengembangan

Ndungndungen Karo.

Medan, Juli 2009

(8)

UCAPAN TERIMA KASIH

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas

rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan tesis ini.

Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Prof.

Dr. Robert Sibarani, M.S. selaku Ketua Komisi Pembimbing, dan Bapak Prof.

Syaifuddin, M.A., Ph.D. selaku anggota pembimbing yang telah memberikan

bimbingan kepada penulis dalam melaksanakan penelitian dan penulisan tesis ini.

Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak Prof. Chairuddin P.

Lubis, DTM & H., Sp.A (K) selaku Rektor Universitas Sumatera Utara yang telah

memberikan izin dan bantuan dana untuk mengikuti perkuliahan di Sekolah

Pascasarjana Universitas Sumatera Utara. Ucapan terima kasih juga penulis

sampaikan kepada ibu Prof. Dr. Ir. T. Chairun Nisa B, M.Sc, selaku Direktur Sekolah

Pascasarjana, Ibu Prof. T. Silvana Sinar, M.A, Ph.D selaku Ketua Program Studi

Linguistik dan Bapak Drs. Umar Mono, M. Hum, selaku Sekretaris Program Studi

Linguistik .

Secara khusus penulis menyampaikan terima kasih kepada suami

L.Sembiring, dan ketiga anak saya Hendrik Sembiring, Joy Sembiring, dan Juita

Sembiring yang selalu memberikan doa, dorongan, dan semangat sehingga penulis

dapat menyelesaikan tesis ini.

Ucapan terima kasih juga buat adikku Lia Purba, A.md yang telah banyak

(9)

Semoga segala bantuan, dorongan dan kerja sama yang telah diberikan

mendapat berkat dan imbalan dari Tuhan Yang Maha Esa.

Medan, Juli 2009

Rosita Ginting

(10)

RIWAYAT HIDUP

Nama : Rosita Ginting

NIM : 077009022

Program Studi : Linguistik

Konsentrasi : Analisis Wacana Kesusastraan

Jenis Kelamin : Perempuan

Pekerjaan : Dosen Fakultas Sastra USU

NIP : 19590520 198601 2 002

Alamat : Jl. Karet Raya No. 55 P. Simalingkar Medan

(11)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ... i

ABSTRACT... ii

KATA PENGANTAR ... iii

UCAPAN TERIMA KASIH... iv

RIWAYAT HIDUP... vi

DAFTAR ISI... vii

DAFTAR TABEL... x

DAFTAR LAMPIRAN ... xi

DAFTAR ISTILAH ... xii

BAB I : PENDAHULUAN... 1

1.1 Latar Belakang Penelitian ... 1

1.2 Perumusan Masalah... 5

1.3 Tujuan Penelitian... 6

1.4 Manfaat Penelitian... 7

1.5 Anggapan Dasar ... 7

BAB II : KAJIAN PUSTAKA ... 9

2.1 Teori ... 11

BAB III : METODE PENELITIAN ... 14

3.1 Metode Dasar ... 14

3.2 Lokasi, Sumber Data, dan Instrumen ... 14

3.3 Teknik Pengumpula Data ... 15

(12)

BAB IV : SISTEM SOSIAL PADA MASYARAKAT KARO ... 17

5.1 Nilai-nilai yang Terkandung dalam Ndungndungen pada Masyarakat Karo ... 62

5.1.1 Ndungndungen yang Mencerminkan Nilai-nilai Sosial ... 62

5.1.2 Ndungndungen yang Mencerminkan Nilai-nilai Budaya... 73

5.1.3 Ndungndungen yang Mencerminkan Nilai-nilai Didaktis ... 80

5.2 Fungsi Ndungndungen Karo... 87

5.2.1 Fungsi komunikasi ... 87

(13)

5.2.3 Fungsi sebagai Pengajaran Adat ... 95

5.2.4 Fungsi Pengungkapan Emosional ... 97

5.2.5 Fungsi Estetis ... 98

5.2.6 Fungsi Pendidikan... 101

5.3 Pemakaian/Kedudukan Ndungndungen Sekarang Ini ... 105

BAB VI : KESIMPULAN DAN SARAN ... 108

6.1 Kesimpulan... 108

6.2 Saran ... 109

(14)

DAFTAR TABEL

No Judul Halaman 1. Frekuensi Pemakaian Frase dalam Ndungndungen Karo ... 52

2. Frekuensi Pemakaian Klausa dalam Ndungndungen Karo ... 60

(15)

DAFTAR LAMPIRAN

(16)

DAFTAR ISTILAH

1. Anak Beru artinya anak perempuan, dan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat

Karo dikenal sebagai kelompok yang mengambil isteri dari keluarga (merga)

tertentu. (Prinst 1996)

2. Dibata si idah artinya Tuhan yang nampak (Sitepu, dkk 1996)

3. Ertutur artinya berkenalan dan cara memperoleh kekerabatan dalam masyarakat

Karo ( Sitepu, dkk 1996)

4. Fungsi artinya kegunaan (Poerwadarminta 1984)

5. Kalimbubu ialah pihak keluarga perempuan yang dikawini. (Prinst 1996)

6. Merga ‘marga’ adalah suatu nama yang diwariskan secara turun temurun

berdasarkan garis keturunan ayah, menurut garis lurus baik ke atas maupun ke

bawah. (Prinst dan Darwin Prinst 1985)

7. Ndungndungen artinya sama dengan pantun (Tarigan 1979)

8. Nilai adalah sifat-sifat (hal-hal) yang penting atau berguna dan berharga bagi

kemanusiaan. (Poerwadarminta 1984)

9. Sangkep nggeluh artinya kelengkapan hidup yaitu suatu sistem kekeluargaan pada

masyarakat Karo yang secara garis besar terdiri atas Senina, Anak Beru, dan

Kalimbubu. (Prinst 1996)

(17)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian

Salah satu kekayaan kebudayaan bangsa Indonesia adalah sastra Nusantara.

Sastra Nusantara terdiri atas sastra-sastra daerah. Kekayaan akan sastra daerah adalah

hal yanga wajar karena Indonesia merupakan negara Kepulauan. Di antara

beribu-ribu pulau terdapat pula berbagai kelompok etnis yang masing-masing memiliki

kebudayaan dan tradisi yang berbeda. Pada akhirnya akan lahir pula konsep-konsep

dan sistem budaya yang berbeda.

Kekayaan sastra Nusantara yang dimiliki bangsa Indonesia kini menjadi suatu

tantangan dan tugas yang berat bagi para peneliti maupun kaum intelektual dalam

rangka menghimpun serta menyelamatkannya ke dalam bentuk yang lebih formal

yaitu tulisan. Pekerjaan tersebut jelas perlu dilakukan mengingat sastra daerah, pada

dasarnya menggunakan sistem oral (tradisi lisan). Kalalaian dan ketidakpedulian

terhadap penyelamatan hasil sastra daerah dapat berakibat fatal. Untuk

mengantisipasi kemungkinan kepunahannya maka mutlak perlu pendokumentasian

bahkan penggalian dan penganalisaan sistem konsep, dan teori-teori yang

tersembunyi di dalam tradisi karya sastra daerah.

Sastra daerah biasanya tercipta berdasarkan keadaan di mana sastra itu lahir.

Artinya, sastra daerah selalu mencerminkan situasi kebudayaan pendukung sastra

(18)

sistem nilai budaya yang terdapat dalam masyarakatnya atau kelompok. Misalnya

menyangkut norma-norma, kebiasaan-kebiasaan masyakatnya. Atau melalui sastra

daerah diungkapkan nilai moral, ajaran umum, filsafat, cita-cita hidup kelompok.

Dengan kata lain, sastra daerah merupakan perwujudan hakikat dan eksistensi dirinya

sebagai seorang manusia yang diungkapkan dengan keindahan dan kekreativitasan

bahasa yang menakjubkan. Maka sebenarnya sastra daerah memiliki nilai dan fungsi

tersendiri dalam hidup manusia, mungkin juga bagi manusia modern. Sekarang

tergantung bersedia atau tidak memetik sesuatu yang berharga dari hasil sastra daerah

tersebut. Seperti yang dikatakan Teeuw (1982:10) sebagai-berikut;

“Dalam sastra lisan suku bangsa Indonesia terungkap kreativitas bahasa yang luar biasa, dan dalam hasil sastra itu manusia Indonesia yang berusaha mewujudkan hakikat mengenai dirinya sendiri sedemikian rupa sehingga sampai sekarang pun untuk manusia modern ciptaan itu tetap mempunyai nilai dan fungsi asal dia bersedia berusaha untuk merebut maknanya bagi dia sendiri sebagai manusia modern.”

Susuai dengan UUD 1945, bab XV, pasal 36 di dalam penjelasannya,

“bahasa daerah itu adalah merupakan bagian daripada kebudayaan Indonesia yang

hidup ; bahasa daerah itu adalah salah satu unsur kebudayaan nasional yang

dilindungi oleh negara”, yang fungsinya sebagaimana disimpulkan oleh peserta

seminar politik Bahasa Nasional tahun 1975 di Jakarta :

(19)

Indonesia dan mata pelajaran lain, dan (3) alat pengembangan serta pendukung kebudayaan daerah” (Halim (ed.), 1981:145-146).

Bahasa daerah sebagai bahasa pendukung bahasa nasional sesuai dengan

perumusan Kongres Bahasa Indoneia II tahun 1954 di Medan, merupakan sumber

pembinaan bahasa Indonesia. Sumbangan bahasa daerah kepada bahasa Indonesia

antara lain bidang sintaksis, semantik dan kosa kata. Demikian juga sebaliknya,

bahasa Indonesia mempengaruhi perkembangan bahasa daerah. Hubungan timbal

balik antara bahasa Indonesia dan bahasa daerah saling melengkapai dalam

perkembangannya.

Mengingat pentingnya fungsi bahasa daerah perlu diadakan penelitian yang

mendasar secara sungguh-sungguh tehadap bahasa dan sastra daerah Indonesia.

Dalam perkembangan selanjutnya, sejak awal abab ke–20 dunia sastra

Indonesia mengenal bentuk sastra yang berbeda dari sastra tradisional. Yang disebut

sastra modern, sastra modern sebenarnya merupakan kelanjutan dari perkembangan

sastra tradisional. Secara formal keduanya dapat di bedakan. Terutama mengenai

medium percakapannya. Sastra modern (dalam hal ini sastra Indonesia) menggunakan

bahasa Indonesia sebagai alat ungkapnya. Sastra tradisional (dalam hal ini sastra

daerah) memakai bahasa daerah sebagai medium ekspresinya. Sejalan dengan itu,

sastra Indonesia lahir dengan ditandai oleh semangat nasionalisme, sedangkan sastra

daerah ditandai jiwa kedaerahannya.

Dalam kesempatan ini penulis berusaha memperkenalkan sedikit dari

(20)

ndungndungen atau ndungndungen Karo. Ndungndungen merupakan bagian sastra

lisan Karo yang dipakai dalam situasi tertentu, misalnya dalam upacara adat

meminang gadis atau di dalam masa pacaran muda-mudi. Dengan kata lain,

penggunaan ndungndungen atau Ndungndungen terikat terhadap situasi atau konteks.

Tradisi lisan (oral tradition) adalah tradisi sastra yang lahir, hidup, dan

berkembang di tengah-tengah masyarakat Karo yang diwariskan turun-temurun dari

mulut ke mulut sejak zaman nenek moyang sampai sekarang.

Ada bermacam-macam karya sastra lisan Karo yang dihasilkan oleh tradisi

lisan ini, antara lain : karya sastra yang berbentuk puisi, prosa, dan prosa liris. Karya

sastra yang berbentuk puisi dibedakan atas : (1) ndungndungen, (2) cakap lumat, (3)

tabas. Karya sastra yang berbentuk prosa liris disebut bilang-bilang dan karya sastra

yang berbentuk prosa disebut turi-turin.

Penelitian mengenai turi-turin Karo sudah banyak dilakukan, tetapi masih

bersifat inventarisasi dan dokumentasi. Oleh sebab itu, turi-turin Karo sudah cukup

dikenal oleh masyarakat pendukungnya, tetapi penelitian mengenai ndungndungen

Karo setahu peneliti masih kurang dilakukan. Oleh sebab itu, pada kesempatan ini

peneliti ingin meneliti nilai dan fungsi ndungndungen Karo itu. Mengingat

keberadaan ndungndungen di tengah masyarakat Karo pada saat sekarang ini kurang

diteliti dikatakan kurang diketahui karena sumber ndungndungen sebagai sastra lisan

adalah orang-orang tua sedangkan anak-anak muda tidak dapat lagi menggunakan

ndungndungen apalagi mengetahui maknanya. Tentu keadaan ini mempunyai

(21)

tua habis. Maka, kita akan kekurangan khasanah sastra daerah yang merupakan

pendukung dari sastra nasional kita karena bahasa dan sastra daerah adalah

pendukung dari bahasa persatuan kita bahasa Indonesia.

Berkenaan dengan hal di atas, maka penulis merasa penting untuk meneliti

nilai dan fungsi ndungndungen Karo di tengah-tengah masyarakat Karo. Karena

ndungndungen itu sendiri mengungkapkan nilai-nilai sosial, didaktis, dan moral,

maka hal itu penting untuk diteliti. Misalnya (1) apa sajakah nilai dan fungsi

ndungndungen Karo? (2) bagaimanakah bentuk dan keberadaan ndungndungen di

tengah masyarakat Karo pada saat sekarang ini? (3) dan, apakah kemajuan teknologi

mengambil dampak yang negatif terhadap eksistensi ndungndungen terutama dari

generasi muda sebagai pewaris tradisi ini.

Menurut Tarigan (1979:9) ndungndungen sama dengan pantun yang biasanya

terdiri atas empat baris serta bersajak a b a b. dua baris pertama berisi sampiran dan

dua baris terakhir merupakan isi. Setiap baris umumnya terdiri atas tiga atau lima kata

dan mempunyai suku kata tujuh sampai sepuluh.

Ndungndungen terdiri atas empat baris, dua baris pertama merupakan suatu

pengantar atau aba-aba untuk sampai kepada dua baris yang berikut berupa isi atau

maksud.

1.2 Perumusan Masalah

Penelitian ini akan membahas tentang nilai dan fungsi ndungndungen pada

(22)

menguraikan geografis wilayah Karo dan selintas sistem sosial pada masyarakat

Karo.

Adapun yang menjadi perumusan masalah dalam penelitian ini adalah :

1. Bagaimana bentuk dan nilai-nilai apa saja yang terdapat pada ndungndungen

Karo?

Dalam hal ini penulis akan membatasi pada bentuk serta nilai-nilai sosial dan

nilai-nilai didaktis yang terdapat pada ndungndungen Karo.

2. Apa fungsi ndungndungen Karo?

Apakah ndungndungen Karo berfungsi sebagai alat pendidikan? dan sebagai

alat pengawas supaya norma-norma adat masyarakat dipatuhi?

3. Bagaimana pemakaian ndungndungen Karo pada saat sekarang ini?

1.3Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk :

1. Mengetahui bentuk dan nilai-nilai yang terkandung dalam ndungndungen

Karo.

2. Mengetahui apa fungsi ndungndungen Karo.

3. Mengetahui bagaimana pemakaian ndungndungen Karo pada saat sekarang

(23)

1.4 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat :

1. Untuk menunjang perkembangan kebudayaan Karo khususnya dan

perkembangan kebudayaan Nasional umumnya.

2. Untuk menambah perkembangan ilmu pengetahuan dalam ilmu bahasa dan

sastra daerah Indonesia terutama dalam bidang ndungndungen atau pantun

yang banyak mempunyai nilai-nilai didaktis dan makna-makna yang tersirat

didalamnya.

3. Untuk melestarikan ndungndungen Karo agar tidak hilang dari pengaruh

perkembangan teknologi dan dapat dijadikan ajaran moral bagi

masyarakatnya.

4. Dapat membantu para dosen dalam mengajarkan ndungndungen Karo, dan

bermanfaat bagi siapa saja yang ingin mempelajari ndungndungen Karo.

5. Dalam hubungannya dengan sastra Nasional, penelitian ini dapat mengatasi

kefakuman sastra lisan Karo dan memperkaya khazanah sastra Indonesia.

6. Untuk mengembangkan teori dan praktek satra lisan (pantun) di Indonesia.

1.5. Anggapan Dasar

Menurut Surakhmad (1994:37) anggapan dasar adalah asumsi atau postulat

yang menjadi tumpuan segala pandangan, dan kegiatan terhadap masalah yang

dihadapi. Postulat ini yang menjadi titik pangkal, titik mana yang tidak lagi menjadi

(24)

Berdasarkan judul, masalah, tujuan penelitian, dan manfaat penelitian, maka

penulis mengemukakan anggapan dasar yakni masyarakat Karo mempunyai

ndungndungen dan banyak menggunakan ndungndungen dalam acara-acara tertentu.

(25)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

Menurut Tarigan (1980:70) ndungndungen dapat disamakan dengan pantun

Melayu. Persamaan itu disebabkan struktur ndungndungen yang terdiri dari atas

empat baris sebait bersajak a b a b dua baris pertama berisi sampiran dan dua baris

terakhir merupakan isi. Setiap baris umumnya terdiri atas 3 atau 4 kata dan

mempunyai suku kata 7 sampai dengan 10.

Pantun merupakan bentuk puisi tradisional yang paling tua; puisi tradisional

umumnya mempunyai pola atau bentuk yang tetap. Artinya tersusun dalam suatu

sistem susunan tertentu yang tidak dapat diubah; bila diubah maka eksistensinya

menjadi goyah atau hilang. (Semi, 1988:145-146)

Pantun digunakan dalam berbagai situasi kehidupan: dalam gembira orang

berpantun, dalam kesedihan orang berpantun. Oleh sebab itu, ada berbagai macam

pantun, ada pantun bersuka cita, ada pantun anak-anak, ada pantun nasihat, pantun

adat, pantun muda-mudi, dan sebagainya. (Semi, 1988:147).

Penelitian ndungndungen ini dilakukan dengan dasar pendapat di atas yang

membedakan pantun dengan jenis tradisi lain atas jumlah baris dan membagi pantun

atas empat macam. Di samping itu digunakan juga teori yang dikemukakan oleh

Bascom dalam (Danandjaja,1984:10) yang membagi fungsi sastra lisan itu atas empat

(26)

1. Sebagai sistem proyeksi, yakni mencerminkan angan-angan kelompok.

2. Sebagai alat pengesahan pranata sosial atau lembaga kebudayaan.

3. Sebagai alat pendidikan, dan

4. Sebagai alat pemaksa dan pengawas agar norma-norma masyarakat dipatuhi.

Di samping keempat fungsi di atas kemungkinan fungsi lain muncul berdasarkan

kenyataan di lapangan.

Selanjutnya penulis juga menggunakan kajian pustaka yang ditulis oleh:

a. Ginting 1998. Deskripsi Ndungndungen Karo. Hasil penelitian Fakultas Sastra,

Universitas Sumatera Utara, Medan.

Tulisan ini berisikan macam-macam ndungndungen Karo dan pembagian

ndungndungen Karo yaitu : ndungndungen anak-anak, ndungndungen anak

muda, dan ndungndungen orang tua.

b. Tarigan, H.G. 1980. Sastra Lisan Karo. Jakarta : Pusat Bahasa. Buku ini

berisikan macam-macam karya sastra lisan Karo, yang salah satu di antaranya

termasuk ndungndungen Karo.

c. Sukapiring, Peraturen dkk. 1995. Kamus Karo – Indonesia. Jakarta : Pusat

Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan

(27)

2.1 Teori

Penelitian terhadap sastra daerah atau ndungndungen ini bersifat ilmiah,

sehingga diperlukan suatu teori yang dapat mendukung keberhasilan pengungkapan

penelitian tersebut. Sehubungan penelitian ini lebih memfokuskan pembicaraan

kepada nilai dan fungsi ndungndungen Karo, maka teori yang tepat untuk

menganalisis objek tersebut adalah teori pragmatis. Teori pragmatis adalah

pendekatan terhadap sastra yang sangat berpengaruh dalam dunia pendidikan.

Menurut Nababan (1987:2), “Pragmatik adalah kajian tentang kemampuan pemakai

bahasa mengaitkan kalimat-kalimat dengan konteks-konteks yang sesuai dengan

kalimat-kalimat itu.“

Searle dalam Wijana (1996:18), “Mengemukakan bahwa secara pragmatis

setidak-tidaknya ada tiga jenis tindakan yang dapat di wujudkan oleh seorang penutur

yakni tindak lokusi, tindak ilokusi, dan tindak perlokusi”. Makna lokusi yaitu tindak

tutur dengan kata, dan kalimat itu sendiri sesuai dengan makna yang terkandung oleh

kata dan kalimat itu sendiri. Tindak ilokusi merupakan suatu tindakan melakukan

sesuatu dengan maksud dan fungsi tertentu. Sedangkan tindak perlokusi adalah suatu

tindakan yang menimbulkan efek atau pengaruh kepada mitra tutur.

Sejalan dengan pendapat di atas, penelitian ini akan membahas aspek

sintaksis dalam ndungndungen tersebut. Aspek sintaksis tersebut adalah frase dan

klausa. Menurut Sibarani (1997:16-17) frase tersebut dapat dibedakan atas frase

eksosentris dan frase endosentris. Sibarani (1997:64-65) membedakan klausa

(28)

sintaksis ini berkaitan erat dengan makna lokusi sehingga dapat ditemukan pola frase

dan klausa yang memperkuat sastra sebagai sesuatu yang pragmatis dalam

pembentukan ndungndungen Karo.

Menurut Ratna (2004:72) pendekatan pragmatis memiliki manfaat terhadap

fungsi-fungsi karya sastra dalam masyarakat, perkembangan dan penyebarluasannya,

sehingga manfaat karya sastra dapat dirasakan. Pragmatis sebagai suatu pendekatan

terutama menekankan aspek tujuan pemakai bahasa atau aspek makna yang

dihasilkan, sehingga sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat akan dicapai sebagai

hasil akhir dari penelitian ini.

Endraswara (2003:115) mengatakan “Pragmatik sastra adalah cabang

penelitian yang ke arah aspek kegunaan sastra”. Penelitian pragmatik yaitu kajian

sastra yang berorientasi pada kegunaan karya sastra dalam hal ini ndungndungen

Karo. Karena itu aspek pragmatik terpenting adalah karya sastra itu mampu

menumbuhkan kesenangan dan berguna bagi pembaca. Penelitian pragmatik banyak

mengandalkan aspek guna (useful) dan nilai karya bagi peminatnya.

Dari konsep-konsep di atas dapat dketahui bahwa penelitian pragmatik sastra

ingin mengajak pembaca terlibat dalam karya sastra yang dalam hal ini

ndungndungen Karo. Karya sastra sebagai produk yang menawarkan pandangan

saran harapan dan langkah-langkah untuk mencapai kemajuan masyarakat. Jadi

ndungndungen Karo perlu diiteliti tidak saja yang membuat pembaca tertarik,

(29)

Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1988:698) pragmatis adalah,

“Bersifat praktis dan berguna bagi umum bersifat mengutamakan segi kepraktisan dan kegunaan (kemanfaatan) mengenai atau bersangkutan dengan nilai-nilai praktis.”

Selain itu penulis juga menggunakan pendekatan didaktis yang di kemukakan

oleh Aminuddin (1987:47) yaitu :

“Pendekatan didaktis adalah suatu pendekatan yang berusaha menemukan dan memahami gagasan, tanggapan evaluatif maupun sikap pengarang terhadap kehidupan. Gagasan, tanggapan maupun sikap dalam hal ini akan mampu terwujud dalam suatu pandangan etis, filosofis, maupun orgamis sehingga akan mengandung nilai-nilai yang mampu memperkaya rohaniah pembaca”.

Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut dapat dinyatakan bahwa pragmatis

adalah suatu teori yang menekankan aspek manfaat dan sesuatu yang nikmat dan

berguna bagi manusia dari karya sastra dalam hal ini ndungndungen Karo yang

dihasilkan oleh seorang pemakai bahasa. Untuk memperoleh manfaat tersebut,

penelitian ini akan menitikberatkan analisis sintaksis serta nilai dan fungsi

ndungndungen Karo. Dengan demikian, penelitian ini dapat memperlihatkan pola

(30)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Metode Dasar

Koentjaraninggrat (1978:7) mengatakan bahwa metode (Yunani: methodos)

adalah cara atau jalan, sehubungan dengan upaya ilmiah maka metode menyangkut

masalah cara kerja, yaitu cara kerja untuk dapat memahami obyek yang menjadi

sasaran ilmu yang bersangkutan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah

metode deskriptif kualitatif karena metode dan teknik penelitian ini mencerminkan

kenyataan berdasarkan fakta-fakta (fact finding) yang ada di lapangan sebagaimana

adanya. Karena penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan nilai

dan fungsi ndungndungen Karo.

3.2 Lokasi, Sumber Data, dan Instrumen

Penelitian ini dilakukan di kabupaten Karo yaitu Kecamatan Simpang Empat

tepatnya di desa Surbakti, Perteguhan dan rumah Kabanjahe. Sumber data adalah

data yang didapat dari informan yang memenuhi syarat. Sumber data dalam

penelitian adalah subjek darimana data dapat diperoleh. (Arikunto, 1996:114).

Sumber data yang diperoleh dalam penelitian ini akan diambil dari informan yang

berasal dari ketiga tempat tersebut di atas. Instrumen penelitian yang dipergunakan

(31)

arti lebih lengkap dan sistematis sehingga mudah untuk di olah (Arikunto, 1996

:144).

3.3 Teknik Pengumpulan Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari dua sumber yaitu:

1. Data Sekunder

Sebagai langkah awal dari penelitian ini ialah melakukan studi kepustakaan. Teknik

ini digunakan untuk memperoleh data sekunder dari buku, majalah, dan

catatan-catatan yang akan digunakan sebagai data pendukung.

2. Data Primer

Data primer dikumpulkan dengan teknik rekaman (kaset rekorder) dan interviu

(dengan responden). Dengan teknik rekaman maksudnya merekam ndungndungen

dari informan di lokasi penelitian. Dengan teknik interviu maksudnya

mewawancarai informan untuk memperoleh keterangan tentang nilai dan fungsi

ndungndungen pada masyarakat Karo.

Maka dalam usaha pengumpulan data yang maksimal penulis mengadakan

wawancara dengan beberapa orang informan yang berasal dari desa dan domisili yang

berbeda. Pemilihan informan dilakukan berdasarkan beberapa kriteria, yaitu:

1. Penutur asli bahasa Karo.

2. Berusia (saat diwawancarai) minimal sudah 40 tahun.

3. Memiliki pengetahuan tentang ndungndungen Karo serta dapat memakainya

(32)

4. Masih memakai dan merasakan ndungndungen Karo sebagai media

pengungkapan hasrat hati kepada seseorang.

Dengan penetapan beberapa kriteria ini diharapkan data dapat diperoleh

dengan maksimal dan akurat.

3.4 Analisis Data

Langkah-langkah yang ditempuh untuk menganalisis data dalam penelitian ini

adalah sebagai berikut :

a. Data yang telah terkumpul ditranskripkan dan diterjemahkan ke dalam bahasa

Indonesia. Analisis dimulai dengan menentukan bentuk ndungndungen apakah

mempunyai sampiran dan isi.

b. Selanjutnya dideskripsikan menurut ciri-ciri ndungndungen Karo.

c. Kemudian dideskripsikan menurut macam dan ragam ndungndungen Karo.

d. Lalu di kaji makna-makna yang tersirat di dalam ndungndungen Karo

Baru dianalisis mengenai nilai dan fungsi ndungndungen Karo tersebut.

Setelah perolehan data melalui metode lapangan dianggap memadai maka

langkah selanjutnya adalah mengolah dan menganalisis data. Hasil rekaman

ditranskripsikan lalu data tersebut diklasifikasikan menurut keperluannya. Pada

akhirnya data dari perpustakaan dan lapangan digabungkan, maka penulis membuat

analisis dan telaah akhir tentang nilai dan fungsi ndungndungen pada masyarakat

(33)

BAB IV

SISTEM SOSIAL PADA MASYARAKAT KARO

4.1 Letak Geografis

Kabupaten Karo terletak di Provinsi Sumatera Utara, jaraknya dari Kota

Medan lebih kurang 63 km. Kabupaten Karo merupakan daerah dataran tinggi dengan

ketinggian 20–1.400 meter dari permukaan laut dan dikelilingi oleh gunung berapi,

yaitu Gunung Sinabung dan Gunung Sibayak. Luas Kabupaten Karo adalah 2.127,23

km2 atau kira-kira 3 % dari luas Provinsi Sumatera Utara. Iklimnya berkisar antara

160-270 C dengan kelembaban udara 82 %.

Batas wilayah Kabupaten Karo berbatasan dengan satu kabupaten di Provinsi

Nanggroe Aceh Darussalam dan lima kabupaten di Provinsi Sumatera Utara. Secara

geografis, di sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Langkat dan Kabupaten

Deli Serdang, di sebelah Selatan dengan Kabupaten Dairi dan Kabupaten Samosir, di

sebelah Barat dengan Kabupaten Aceh Tenggara, di sebelah Timur dengan

Kabupaten Deli Serdang dan Kabupaten Simalungun.

Pemerintahan Kabupaten Karo beribu kota di Kabanjahe. Kabupaten Karo

terdiri atas 17 kecamatan yaitu : Kecamatan Kabanjahe, Kecamatan Simpang Empat,

Kecamatan Munthe, Kecamatan Payung, Kecamatan Juhar, Kecamatan Tiga Panah,

Kecamatan Barus Jahe, Kecamatan Tiga Binanga, Kecamatan Kuta Buluh,

(34)

Merek, Kecamatan Dolat Rayat, Kecamatan Merdeka, Kecamatan Naman Teran, dan

Kecamatan Tiganderket.

4.2 Merga

Masyarakat Karo memiliki nama yang dipakai secara bersama dalam

lingkungan keluarga. Nama keluarga itu dikenal dengan istilah merga. Istilah merga

secara harafiah berarti ‘merga’. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonsia (1988:559),

‘merga’ adalah kelompok kekerabatan yang eksogen dan unilinear, baik secara

matrilineal (garis keturunan ibu) maupun patrilineal (garis keturunan ayah).

Sementara itu, Prinst dan Darwin Prinst (1985:31) menyatakan merga adalah:

“suatu nama yang diwariskan secara turun temurun berdasarkan garis keturunan ayah, menurut garis lurus baik ke atas maupun ke bawah”.

Dalam kutipan tersebut dijelaskan bahwa, pada masyarakat Karo penerus

garis keturunan terletak pada pihak laki-laki. Sedangkan menurut Jaya S. Meliala

(dalam Prinst dan Darwin Prinst, 1985:31) merga adalah kelompok unilineal

kelompok tersebut membagi masyarakat Karo menjadi lima golongan besar merga

yang terdapat pada masyarakat Karo. Kelima golongan besar itu tidak pernah saling

terpaut terhadap sejarah asal usulnya.

Berdasarkan beberapa pendapat yang telah dikemukakan, maka dapat

disimpulkan bahwa merga adalah kelompok kekerabatan yang diwariskan secara

(35)

masyarakat yang didasarkan pada merga silima dan tidak berhubungan satu sama

lainnya terhadap sejarah asal-usulnya.

Pada hakikatnya tiap orang Karo akan mewariskan merga ayahnya. Bila ia

seorang laki-laki, maka ia akan menggunakan istilah merga. Sedangkan bila ia

seorang perempuan ia akan menggunakan istilah beru. Merga/beru biasanya

dicantumkan di belakang nama sipemakainya. Fungsinya adalah sebagai tanda

pengenalan kelompok garis keturunan atau sebagai identitas asal-usul si pemakai

merga tersebut. Dalam hubungan antar individu merga sangat beperan untuk

menentukan hubungan atau jenjang kekerabatan. Menentukan jenjang kekerabatan ini

biasanya dimulai dengan ertutur (berkenalan).

Suku Karo memiliki lima merga. Menurut prinst (1996:42) sesuai dengan

Keputusan Kongres Kebudayaan Karo, 3 Desember 1995 di Sibayak Internasional

Hotel Berastagi, maka merga Ginting, Karo-Karo, Perangin-angin, Sembiring, dan

Tarigan menjadi merga dalam adat-istiadat Karo. Kelima merga ini merupakan induk

merga yang lazim di sebut “merga silima”. Setiap induk merga mempunyai sub-sub

merga yang dipakai di belakang merga dalam kelompok “merga silima”.

4.3 Sistem Kekerabatan

Sistem kekerabatan pada masyarakat Karo ialah menurut garis keturunan

ayah, yang lebih dikenal dengan istilah patrilineal. Susunan penduduk dalam

lingkungan satu desa ditentukan oleh faktor geneologi, yaitu didiami oleh satu

(36)

mengawini salah seorang puteri kelompok merga dari desa itu. Kampung sebagai

tempat tinggal di sebut urung.

Sebutan atas puncak pemerintahan, yang tertua yang dijumpai di wilayah

Karo ialah pengulu yang menjalankan pemerintahan di kampung (urung) menurut

adat. Terbentuknya suatu kuta harus memenuhi persyaratan adat, antara lain ada

merga pendiri kuta, ada anak beru simantek kuta, serta kalimbubu simantek kuta

(kalimbubu taneh). Oleh karena itu, dalam masyarakat Karo berlaku sistem

pembagian masyarakat atas tiga golongan fungsional yang mengatur tata krama

pergaulan dalam kehidupan sehari-hari yang di kenal dengan istilah telu sidalinen telu

‘tiga’, sidalinen ‘sejalan’.

Ketiga golongan itu adalah:

a. Kalimbubu, yaitu pihak yang anak perempuannya diambil dan semua teman

semerganya.

b. Senina/seumbuyak, yaitu saudara semarga.

c. Anak Beru, yaitu pihak laki-laki yang mengawini putri pihak pemberi.

Dengan adanya telu sidalinen ini, hubungan antar golongan atau merga

sedemikian rupa sehingga tercipta suatu keseimbangan dan keserasian hidup

bermasyarakat. Orang yang semerga harus seia sekata, sepenanggungan, dan

seperasaan agar tidak sampai terjadi perselisihan dan harus pandai mengambil hati

anak beru karena mereka inilah yang diharapkan dapat memberi sumbangan tenaga

dan materi, sedangkan kepada kalimbubu harus hormat karena mereka inilah pemberi

(37)

Keturunan Karo bernama me-her-ga, disingkat menjadi merga karena

orang-orang berharga dan berkuasa (meherga berarti ‘berharga’ dalam arti berkuasa).

Keturunan meherga ada lima orang mana yang sulung dan mana yang bungsu tidak

dapat diketahui, masing-masing namanya ialah Karo-Karo, Ginting, Sembiring,

Perangin-angin, dan Tarigan. Masing-masing dari kelima merga ini berkembang

menjadi induk merga dan mempunyai cabang-cabang pula sehingga penyebutan suku

ini dikenal dengan merga silima tutur siwaluh, yaitu 1) sukut, 2) senina, 3) sipemeren,

4) senina siparibanen, 5) kalimbubu, 6) puang kalimbubu, 7) anak beru, 8) anak beru

mentri. Rakut sitelu ialah 1) kalimbubu, 2) senina, 3) anak beru.

4.4 Bahasa

Menurut Tambun (1951:65), kata Karo berasal dari kata ha + ro, artinya

pertama datang (ha ‘pertama; ro ‘datang’). Kemudian, perkataan haro berubah

menjadi Karo. Pendapatnya ini mungkin disesuaikan dengan tulisan (huruf) Batak.

Adapun tulisan (huruf) Batak yang pertama ialah ha artinya ‘awal’.

Bahasa yang dipakai sebagai alat komunikasi antar suku Karo disebut cakap

Karo (bahasa Karo). Peranan bahasa Karo dalam pergaulan sehari-hari sangat

fungsional. Pemakaiannya tidak hanya terbatas pada suku Karo tetapi juga pada

suku-suku pendatang. Peranan ini terlihat dalam berbagai aspek kehidupan mereka, seperti

di dalam rumah tangga antara sesama anggota keluarga, di luar rumah antar tetangga,

di pasar, di ladang atau di sawah, tegur menegur sewaktu bertemu di jalan. Pada

(38)

berdakwah di mesjid, para ustad menggunakan bahasa Indonesia, bukan bahasa Karo.

Dalam surat-menyurat pribadi terlihat juga pemakaian bahasa Karo.

Meskipun para pejabat pemerintahan menggunakan bahasa Indonesia dalam

pertemuan resmi, akan tetapi dalam percakapan sehari-hari di kantor-kantor

pemerintah atau swasta dipergunakan juga bahasa Karo. Bahkan, pegawai pemerintah

yang memberikan penyuluhan atau menerangkan kebijakan pembangunan nasional

dan daerah kepada masyarakat desa biasanya menggunakan bahasa Karo.

Bahasa Karo sangat berperan dalam berbagai upacara adat, misalnya upacara

meminang, perkawinan, kematian, memasuki rumah baru, dsb. Di dalam berbagai

kegiatan seni-budaya, bahasa Karo digunakan untuk berbagai keperluan, sehingga

bahasa Karo dikenal dan digunakan oleh masyarakat yang bukan berasal dari suku

Karo, terutama dalam bentuk lagu berbahasa Karo. Hal ini menunjukkan kepedulian

yang tinggi pada masyarakat Karo untuk menjaga dan mengembangkan pemakaian

bahasa Karo.

4.5 Tradisi Sastra dan Bentuk Sastra Lisan Karo

4.5.1 Tradisi Sastra

Seperti halnya suku-suku lain yang terdapat di Indonesia, masyarakat Karo

juga mempunyai sastra lisan. Sastra lisan ini mempunyai peranan dan kedudukan

yang meliputi berbagai aspek kehidupan masyarakat Karo, terutama dalam upacara

(39)

Menurut Tarigan (1979:9) sastra lisan merupakan suatu tradisi pada

masyarakat Karo, mempunyai peranan dan kedudukan yang meliputi berbagai aspek

kehidupan. Sastra lisan itu biasanya di pergunakan pada upacara-upacara adat seperti

upacara melamar gadis, perkawinan, kelahiran anak, menghormati orang yang lanjut

usia, kematian, penghunian rumah baru, dan pesta tahunan.

4.5.2 Bentuk Sastra Lisan Karo

Mengenai bentuk sastra lisan Karo, Tarigan (1979:9) membaginya sebagai berikut:

a). Ndungndungen, sama dengan pantun yang biasanya terdiri atas empat baris,

serta bersajak a b a b. Dua baris pertama berisi sampiran dan dua baris

terakhir merupakan isi. Setiap baris umumnya terdiri atas tiga atau empat

kata dan mempunyai suku kata 7 samapi 10 buah.

b). Bilang-bilang, yang berupa dendang duka, biasanaya didendangkan dengan

ratapan oleh orang-orang yang pernah mengalami duka nestapa, seperti

ratapan terhadap ibu yang telah meninggal dunia, meratapi kekasih idaman

hati yang telah direbut orang lain atau pergi mengembara ke rantau orang.

c). Cakap Lumat, atau bahasa halus yang penuh dengan bahasa kias,

pepatah-petitih, perumpamaan, ndungndungen, teka-teki, dan lain-lain. Cakap

Lumat biasanya dipergunakan oleh bujang (pemuda) dan gadis

bersahut-sahutan pada masa pacaran di malam terang bulan atau oleh orang-orang tua

pemuka adat dalam upacara, misalnya upacara meminang gadis, kepintaran

bercakap lumat dapat mengalihkan utang yang menjadi piutang, seharusnya

(40)

lamaran. Sungguh asyik mendengar pemuka-pemuka adat berbahasa halus

bersahut-sahutan dalam upacara adat, terkadang lupa perut lapar dan hari

sudah sore atau larut malam.

d). Turi-turin atau cerita yang berbentuk prosa, misalnya mengenai asal-usul merga,

asal-usul kampung, cerita binatang, cerita orang-orang sakti, cerita jenaka.

Biasanya diceritakan oleh orang tua-tua pada malam hari, menjelang tidur.

e). Tabas atau mantra yang umumnya hanya dukun yang mengetahuinya.

Konon kabarnya, kalau mantra itu sudah diketahui oleh orang banyak maka

keampuhannya akan hilang.

Dari apa yang dikemukakan oleh Tarigan di atas dapat disimpulkan bahwa

menurut bentuknya sastra lisan Karo itu dapat di bedakan atas tiga bentuk, yaitu (1)

bentuk puisi, (2) bentuk prosa liris, (3) bentuk prosa. Yang termasuk dalam bentuk

puisi ialah (1) ndungndungen, (2) cakap lumat, (3) tabas. Yang termasuk dalam

bentuk prosa liris ialah bilang-bilang, yang termasuk ke dalam bentuk prosa ialah

turi-turin.

4.6. Ciri-ciri Ndungndungen Karo

Ciri ndungndungen Karo sama dengan ciri pantun Indonesia. Menurut Tarigan

(1979:9) ndungndungen biasanya terdiri atas empat baris sebait, dua baris pertama

berisi sampiran dan dua baris terakhir merupakan isi. Hal ini sesuai dengan apa yang

dikemukakan oleh Semi (1988:147) tentang pantun yaitu pantun terdiri atas empat

(41)

kepada dua baris berikut yang berupa isi atau maksud. Umumnya pantun mempunyai

pola atau bentuk yang tetap, artinya bersusun dalam suatu sistem susunan tertentu

yang tidak dapat diubah; bila diubah maka eksistensinya menjadi goyah atau hilang.

Bertitik tolak dari kedua pendapat di atas, maka dapatlah ditarik kesimpulan

bahwa ndungndungen (pantun) terdiri atas empat baris sebait, dua baris pertama

berisi sampiran dan dua baris terakhir merupakan isi. Baris pertama dan kedua tidak

mempunyai hubungan makna dengan baris ketiga dan keempat. Ia hanya berfungsi

untuk mengantarkan makna pada baris ketiga dan keempat. Ini menunjukkan bahwa

pemilik (pengguna) ndungndungen ini tidak suka berterus terang untuk

mengungkapkan isi hatinya. Dia selalu mencari pengantarnya, itulah yang disebut

sampiran (pengantar maksud).

Menurut Tarigan (1979:9) ndungndungen Karo umumnya bersajak ab ab.

Contoh :

1. Bereng-bereng kuidah

Lada jera si tangke langa Nterem jelma kuidah

Sada kena ngenca ateku ngena

Artinya :

Kumbang beterbangan Lada jera tangkai lenga Banyak orang kulihat Hanya engkau yang kucintai

2. Kandi-kandindu e Pa Lawi

Page bas para tuhur

(42)

Artinya :

Tempat airmu itu Pa Lawi Padi di atas para jemuran Untukku satu anakmu itu Mami Satupun tak bermahar

Di samping itu ada juga yang bersajak rata (aa- aa).

Contoh :

1. Isuan buluh belin

Tehndu bulung pagi man rabin Adi sereh kam man parang mbelin Kam naring pagi man tami-tamin

Artinya :

Ditanam bambu besar

Kamu tahu daun yang harus dibersihkan Kalau kamu kawin dengan duda

Hanya kamu nanti yang dipuja-puja

2. Mehuli page i Sabah Lulang

Ulin denga page i Bekilang Mesui tading melumang Suin denga si kita sirang

Artinya :

Bagus padi di Sawah Lulang Lebih bagus padi di Bekilang Sakit hidup yatim piatu Labih sakit lagi kita berpisah

Selanjutnya Tarigan (1979 : 9) mengatakan bahwa jumlah kata pada setiap

baris umumnya berkisar antara tiga sampai empat kata.

Contoh :

(43)

Artinya :

Labu-labu yang tergantung Digigit-gigit kera

Kalau lagi beruntung

Akan datang kerbau pembajak

Jumlah suku kata pada setiap baris umumnya berkisar antara tujuh sampai

sepuluh.

Contoh :

1. Bel-gang-ndu, si-bu-lung pa-ku (8 suku kata) Pa-ku la-bo lit bu-nga-na (8 suku kata)

Pan-dang-ndu, tem-pa u-sur a- ku (9 suku kata) a-ku nge a- te- ndu si nge-na-na (10 suku kata)

Artinya :

Kau rebus daun pakis Pakis tidak ada buahnya Kau selalu mencaciku

Hanya aku yang paling kau cintai

2. Me-ri-ah na-tap i Pe- ra-pat (9 suku kata) Pa-gi –pa-gi lam-pas me-dak (8 suku kata) Si-ngu-da-ngu-da mba-ru mber-kat (9 suku kata) Nda-hi da-hin ke-ri-na me-jing-kat (10 suku kata)

Artinya :

Ramai memandang di Perapat Pagi hari cepat bangun

Anak gadis remaja Semuanya rajin bekerja

Dalam bahasa Indonesia dikenal jenis pantun yang terdiri atas dua baris sebait

yang disebut pantun dua kerat (karmina) disebut juga pantun kilat. Baris pertama

pantun ini merupakan sampiran dan baris kedua berupa isinya. Rumus persajakannya

(44)

Contoh :

Sudah gaharu cendana pula Sudah tahu bertanya pula

Di dalam bahasa Karo, jenis ndungndungen dua kerat ini juga ditemui.

Contoh 1:

Isuan galuh urat-uraten Isuan ngaruh tama perubaten

Artinya :

Ditanam pisang berurat-urat Ditanam budi jadi pertengkaran

Contoh 2:

Tah kurung tah labang Tah surung tah lahang

Artinya :

Entah jangkrik tanah entah jangkrik lalang Entah jadi entah tidak

Contoh 3:

Sere-sere sala gundi Si arah lebe jadi arah pudi Artinya :

Serai-serai sala gundi (sejenis tumbuhan obat ) Yang di depan menjadi belakangan

Contoh 4:

Sikuning-kuningen radu megersing Siageng-agengen radu mbiring

Artinya :

(45)

Selain ndungndungen yang terdiri atas dua baris sebait, ada juga

ndungndungen yang terdiri atas enam baris sebait. Tiga baris pertama merupakan

sampiran dan tiga baris berikutnya merupakan isi.

Contoh 1: ndauh bulung gumba jera

Ndauh bulung gumba sabi

Urat perira sirintek-rintaken

Ndauh kuta kena

Ndauh kuta kami

Berita naring sisungkun-ungkunen

Artinya : Jauh daun gumba jera Jauh daun gumba sabi

Akar petai saling tarik-menarik Jauh kampung kamu

Jauh kampung kami

Hanya dapat saling bertanya berita

Contoh 2: Tuhan kap empuna geluhta

Gegehta pe Ia si mberekenca

Dage tetaplah bulat ukurta

Geluhta pe lalap min erguna

Lagu langkah pe la sia-sia

Gelar Tuhanlah ermulia

Artinya : Tuhanlah yang empunya hidup kita Kekuatan kita pun Dia yang memberikan Jadi tetaplah penuhi hati kita

Hidup kita teruslah berguna Kelakuan pun tidak sia-sia Nama Tuhan tetaplah terpuji

4.7. Macam/Ragam Ndungndungen Karo

4.7.1 Ndungndungen Anak-Anak

(46)

Artinya : Hari Selasa Pasar Tiga Binanga Mati berkelahi kambing jantan Pada waktu kita masih kecil Kita harus rajin belajar

Ndungndungen di atas ditujukan kepada anak sekolah agar rajin belajar

supaya tidak mendapat malu.

Contoh yang sama dapat juga kita lihat dalam ndungndungen berikut :

Cimen si molah-molah Palu-palu si Kutabuluh Adi kita nggo sekolah Mela malu kita la beluh

Artinya : Mentimun yang bergantungan Pemukul dari Kutabuluh Kalau kita sudah sekolah Malu kalau kita tak pandai

Ndungndungen di atas biasanya dinyanyikan oleh anak sekolah sebelum

pelajaran dimulai sebagai peringatan (nasehat) agar rajin belajar lebih-lebih

pada waktu masih kecil karena kalau sudah besar baru belajar, kita akan

ketinggalan.

4.7.2 Ndungndungen Anak Muda

Contoh : Bereng-bereng kuidah

(47)

Dahulu dalam bercinta muda-mudi menggunakan ndungndungen untuk

menyatakan isi hatinya. Hal itu dapat di lihat pada ndungndungen di atas yang

mana seseorang telah mengungkapkan perasaan cintanya kepada orang lain.

Dia menyampaikan perasaan cintanya melebihi dari perasaan apapun,

biasanya dalam bercinta ini akan terjadi gayung bersambut. Kadang-kadang

ndungndungen ini dinyanyikan berbalas-balasan antara wanita dan pria.

Ndungndungen di atas akan dilanjutkan dengan ndungndungen berikut :

Contoh : Cike lambang bungana

Lada jera gula batuna

Ise pe lagunana

Sada kena nomor satuna

Artinya : Pandan tikar tidak berbunga Lada jera gula batunya Siapapun tidak berguna Hanya engkau nomor satunya

Ndungndungen di atas akan dijawab dengan ndungndungen berikut :

Contoh : Sudu panta ni gelas

Contoh : Matawari si pukul siwah

Deleng sinabung mbun kertahna

Sada wari kena la kuidah

Timbang setahun kuakap dekahna

Artinya : Matahari pukul sembilan

(48)

Satu hari engkau tak kulihat Sudah setahun kurasa lamanya

Setelah selesai bercinta maka akan dilanjutkan ke pernikahan. Selanjutnya

laki-laki akan menayakan apakah kekasihnya sudah bersedia dilamar. hal ini akan

ditanyakannya dengan ndungndungen.

Contoh : Page megersing kuta Perbulan Tama ku sumpit lesung nutusa Bage dekahna kita enggo erkuan Lenga bo lit ujung tampukna

Artinya : Padi kuning kampung Perbulan Taruh kesumpit lesung menumbuknya Sudah begitu lama kita bercinta Belum ada ujung pangkalnya

Ndungndungen ini akan dijawab oleh wanita sebagai berikut :

Contoh : Kuta suah paksana nuan Maba pia rikutken jambe Suari berngi kena kuinget

Banci min kena si ngumban nande

Artinya : Kampung Suah sedang menanam Membawa bawang merah dengan labu Siang malam abang kuingat

Bolehlah abang yang menggantikan ibu

Contoh : Semangat gunung launa melas

Ingan gawah-gawah singuda-nguda anak perana Ula metersa kata ibelas

Erkadiola la lit gunana

Artinya : Gunung Semangat airnya panas Tempat wisata pemuda pemudi

(49)

Ndungndungen ini akan dijawab pula oleh pria

Contoh : Pengukuringku nggome mbages Tektekken ketang di la percaya Palana sirang lau ras beras Maka sirang kita duana

Artinya : Sudah kupikirkan matang-matang Aku bersumpah bila tak percaya Kalau berpisah air dan beras Baru kita berdua berpisah

Ndungndungen ini akan dijawab pula oleh wanita :

Contoh : Merga si lima tutur si waluh Ipeteguh rakutna telu

Tuhu kin ngena ate bas pusuh Baba dagena anak berundu

Artinya : Merga yang lima tutur yang delapan Diperkuat ikatannya tiga

Kalau benar abang cinta Bawalah sanak keluarga

4.7.3 Ndungndungen Orang Tua

Contoh : Pucuk taruk jambe buahna Labo seri ras buah tabu Enggo tumbuk kita bagenda Kai dagena pemindonndu

Artinya : Pucuk labu buahnya labu Tidak sama dengan buah tabu Kita sudah nikah begini Apa pula permintaanmu

Ndungndungen di atas diucapkan oleh suami, lalu dijawab oleh istri sebagai

berikut :

(50)

Pemindonku si pemena turang Pasang KB anak cukup dua

Artinya : Batang tebu ruasnya panjang Batang serai kecil daunnya Permintaanku yang pertama bang Pasang KB anak cukup dua

Ndungndungen di atas akan dijawab suami pula sebagai berikut : Contoh : Batang sere telu seranting

Idayaken seh ku Jakarta Soal KB tuhu penting

Sini programken pemerintahta

Artinya : Batang serai tiga seikat Dijual sampai ke Jakarta Soal KB memang penting

Yang diprogramkan oleh pemerintah kita

Ndungndungen di atas akan dijawab pula oleh istri :

Contoh : Brakbiken si buah rimo Kenca ridi baba ku tiga

Jangan berjudi jangan main perempuan

Akan dijawab pula oleh suami :

Contoh : Bahan cimpa nanamna meketket Legi balutna ku deleng singkut Uga nisura, bage nidapet Asal lanai kena mekutkut

Artinya : Buat kue rasanya enak

(51)

Ndungndungen di atas akan dijawab pula oleh istri sebagai berikut :

Contoh : Ula kita siageng-agengen Ngerana babah manjar-anjar

Marilah kita sikuning-kuningen

Radu robah kita pekepar

Artinya : Janganlah kita saling menyalahkan Mulut berbicara pelan-pelan Marilah kita berbaik-baikan Masing-masing kita berubah

4.7.4 Ndungndungen yang Berisi Sindiran

1.Sindiran kepada ibu

Ndungndungen di atas berisi sindiran kepada ibu-ibu yang tidak baik terhadap

keluarga sehingga anak-anaknya menyindir ibunya yang menyatakan bahwa

walaupun ibunya tidak baik, tetapi ayah mereka mencintainya.

2.Sindiran kepada orang yang egois

(52)

Ndungndungen di atas berisi sindiran yang ditujukan kepada orang yang egois yang

tidak memperdulikan orang lain, yang penting dia mendapat keuntungan walaupun

orang lain menderita.

3.Sindiran kepada orang yang tidak baik budi pekertinya

Contoh : Mejile tuhu bunga ndapndap

Rupa megara la erbau

Mejile tuhu rupandu i tatap

Tapi pacik kena erlagu

Artinya : Sungguh cantik bunga ndapndap Rupa merah tak berbau

Sungguh cantik wajahmu dipandang Tetapi busuk tingkah lakumu

Ndungndungen di atas berisi sindiran yang ditujukan kepada orang yang manis tutur

sapanya, tetapi buruk budi pekertinya.

4.Sindiran kepada orang yang pemalas

Contoh : Keteng-keteng pengulu Bukit

Nca keteng lanai ngasup muit

Artinya : kenyang-kenyang penghulu Bukit Setelah kenyang tak mampu bergerak

Ndungndungen di atas berisi sindiran yang ditujukan kepada orang yang pemalas,

maunya hanya makan saja, tetapi bila disuruh bekerja ia enggan bergerak.

5.Sindiran kepada orang yang tidak kawin-kawin

Contoh : Erpurih bulung binara

Buluh belin batang buhara

Kumalih gundari nggo bicara

Lakon parang mbelin asangken anak perana

(53)

Artinya : Berlidi daun binara

Bambu besar pohon buhara

Berbalik sekarang sudah zaman Lebih laku duda daripada jejaka

Ndungndungen di atas berisi sindiran yang ditujukan kepada anak muda yang tidak

kawin-kawin sehingga usianya sudah cukup tua namun tak kawin-kawin sedangkan

duda begitu ia lamar wanita terus jadi.

6.Sindiran kepada anak dara

Contoh : Isuan buluh belin

Ndungndungen di atas ditujukan kepada anak dara yang kawin dengan duda, pasti

ada maksud sehingga mau kawin dengan duda.

7.Sindiran kepada janda/perawan tua

Contoh : Suan bulung binara

Ndungndungen di atas ditujukan kepada janda/perawan tua yang kawin dengan

(54)

kebutuhan rumah tangga. Sehingga, dia harus bekerja keras sementara suaminya

goyang kaki di rumah.

8.Sindiran kepada orang yang tidak memiliki kasih

Contoh : Adi turah kayu i deleng

Ndungndungen di atas berisi sindiran yang ditujukan kepada orang yang

tidak pernah memperlihatkan kebaikan, atau kasih sayang kepada sesama. Pada

suatu saat nanti ia pasti memperoleh kesusahan, setidak-tidaknya ia juga tidak akan

diperhatikan orang lain.

Ndungndungen di atas berisi sindiran yang ditujukan kepada anak gadis yang tidak

suka bekerja, kesenangannya hanya berhias. Ndungndungen ini biasanya yang

mengucapkannya laki-laki dan akan dibalas oleh perempuan dengan ndungndungen

(55)

Mbelang bulungna batang kembiri

Ndungndungen di atas berisi sindiran yang ditujukan kepada anak muda yang

berambut panjang. Ndungndungen ini akan di balas pula oleh pemuda sebagai

berikut :

Ndungndungen di atas berisi sindiran yang ditujukan kepada anak gadis yang suka

mencaci orang (pemuda) idaman hatinya dan ndungndungen di atas akan di jawab

pula oleh anak gadis sebagai berikut :

(56)

Ndungndungen di atas berisi sindiran dari anak gadis yang ditujukan kepada anak

muda lawannya berndungndungen lalu dijawab pula oleh anak muda dengan

ndungndungen sebagai berikut :

Contoh : Singuda-nguda anak perana

Ndungndungen di atas berisi sindiran dari anak muda yang ditujukan kepada anak

gadis yang sombong agar hati-hati bicara terhadap pacarnya karena kalau ditinggal

pacar dia bisa bunuh diri, lalu akan dibalas pula oleh anak gadis sebagai berikut :

Contoh : Patikala telu seringgit

Ndungndungen di atas berisis sindiran dari anak gadis yang ditujukan kepada anak

muda lawannya berndungndungen bahwa kalau ia tidak mau kawin dengan pemuda

tersebut, dia bisa jadi duda seumur hidup.

10. Sindiran kepada orang yang menyalahgunakan bahasa

Contoh : Adi upih perpangan suari

(57)

Nggo canggih jelma gundari

Ndungndungen di atas berisi sindiran yang ditujukan kepada orang yang

menyalahgunakan penggunaan bahasa Karo karena menggunakan bahasa yang

bukan bahasa Karo pada waktu memanggil ibu.

11. Sindiran kepada orang yang menyalahgunakan adat

Contoh : Taneh kendit turah batang pinang

Ndungndungen di atas berisi sindiran yang ditujukan kepada orang-orang yang

menyalahgunakan adat, karena anak gadis yang rambutnya panjang, memakai

sarung pula dia, bukan main manisnya, tetapi sudah banyak anak gadis tidak mau

lagi memakai sarung, tak mau lagi berambut panjang. Padahal kalau memakai

sarung di depan orang tua, alangkah indah dan sopan dipandang mata.

Ndungndungen yang sejalan dengan ndungndungen di atas sebagai berikut :

Contoh : Nai laris madras India

Gundari nterem ndedah film India

Mela rabit adi si nguda-nguda

(58)

Artinya : Dahulu laris madras India

4.7.5 Ndungndungen yang Berisi Nasib

Contoh : Kopor-kopor kapias

Ndungndungen di atas menggambarkan nasib orang tidak berhasil di dalam

hidupnya. Dia membandingkan nasibnya dengan nasib orang lain yang juga tidak

beruntung tetapi nasibnya lebih buruk.

Contoh lain: Cuam si kurting-kurting

Urat nu piso-piso

Dat emas megersing

Ulih nu mindo-mindo

Artinya : Cangkol sikurting-kurting Urat piso-piso

(59)

Ndungndungen di atas menggambarkan nasib pengemis. Walaupun orang tersebut

memperoleh emas kuning yang mahal harganya, namun hal itu bukan hasil bekerja

keras, tetapi hasil mengemis.

Contoh : Sibakut liang kurkuren

Ndungndungen di atas berisi pertanyaan tentang siapakah yang dapat menghibur hati

yang susah.

4.7.6 Ndungndungen yang Berisi Humor

Contoh : Gelat-gelat kelawes

Ndungndungen di atas diucapkan sebagai peringatan, tetapi disampaikan dengan

cara berseloroh (humor) kepada teman yang mau berangkat pada waktu malam agar

hati-hati supaya jangan terpijak kotoran kucing.

Contoh lain : Ampar gedung si capah

Pelin-pelin gadung si arang

Nterem anak perana gajah

(60)

Artinya : Terletak ubi si capah Melulu ubi si arang

Banyak jejaka Kampung Gajah Semuanya tukang keranjang

Ndungndungen di atas ditujukan kepada jejaka kampung gajah sebagai sindiran

humor agar jejaka kampung gajah lebih bersemangat bekerja sehingga dapat

menaikkan tingkat pekerjaannya dari tukang keranjang ke tukang yang lain.

Contoh lain : Cuan si biluk-biluk

Kucucukken teruh tarum

Tempana aku terpiluk

Kusempul pe nggo malem

Artinya : Cangkul si biluk-biluk Kusimpan di bawah atap Nampaknya mataku tercucuk Kuhembus saja pun sudah sembuh

Ndungndungen di atas menunjukkan kehebatan seseorang dalam mengobati

matanya. Hanya dengan menghembuskan nafasnya, matanya dapat sembuh.

Biasanya ndungndungen ini disampaikan dengan rasa humor.

4.8 Struktur Linguistik Ndungndungen Karo

Sintaksis adalah bidang tata bahasa yang membicarakan seluk beluk kalimat

dan hubungan antar unsur di dalam kalimat (Sibarani 1997 :11). Frase adalah

kelompok kata yang secara deskriptif berfungsi sebagai satu unsur sintaksis dalam

kalimat (Sibarani 1997 :14). Klausa adalah sebuah konstruksi predikatif yang

merupakan bagian kalimat (Sibarani 1997:48) Dalam hal ini penulis akan

(61)

Ndungndungen Karo dibentuk oleh kata-kata dalam bahasa Karo sehingga

bentuk ndungndungen itu harus dibahas sesuai dengan bahasa Karo. Maka,

pengidentifikasikan frase dan klause dalam setiap baris ndungndungen tidak

didasarkan pada penulisan arti kata dalam terjemahan bahasa Indonesia, melainkan

pada penulisan kata yang masih dalam bahasa Karo. Frase yang akan diidentifikasi

dalam ndungndungen ini adalah frase eksosentris yang terdiri atas frase preposisi

serta frase endosentris yang terdiri atas frase modifikatis (frase nominal, frase verbal,

frase ajektival, frase adverbial, dan frase numerial) frase koordinatif serta frase

apositif.

4.8.1 Frase Dalam Ndungndungen Karo

Frase dalam Ndungndungen Karo itu adalah sebagai-berikut:

1. Erkata gendang ertongtih-tongtih

Sora sarune anggukna medate FN

Persadanta teridah sempa arih FV Pusuh salang, malem ka ate FK

Artinya:

(62)

2. Bola itipak kabang kulebe

Siayak-ayaken jelma ndatkenca

Adi ersada penggejapen keguluten pe bene FP FV Baban simbue pe la siakap mberatsa

FAd

Artinya:

Bola di sepak terbang ke depan

Berkejar-kejaran orang mendapatkannya Kalau hati bersatu, kesusahan pun hilang Pergumulan yang berat pun jadi ringan

3. Kerbo gunduk tandukna kuteruh FN

Tatapna lau meciho terinemsa lau megembur FN FN Sijaga gelah perpulungenta tetap meteguh

FP FAd Persadan ukur ola sempat luntur FAd

Artinya:

Kerbau gunduk tanduknya ke bawah

Dipandangnya air jernih terminumnya air gembur Kita jaga supaya persatuan kita tetap kuat

Bersatu hati jangan sempat luntur

4. Megersing langsat adi enggo tasak FAj FP Buah bas-bas melintang dingen piher FN FK Adi kerangapen doni kupusuhta ngasak

FP

Pusuh la dame, tendinta pe keliper FAd FAd

Artinya:

(63)

Kalau keserakahan dunia memenuhi hati Hati tidak damai jiwapun tidak tenang.

5. Enda kerakap turah babo batu FN FP

Ngeluh erpala-pala mate terbiar-biar

Adi la lit dame i tengah jabu FP FP

Latih ras mberat aminna erta doni simpar FK FP

Artinya:

Ini kerakap tumbuh di atas batu Hidup segan mati tidak berani

Kalau tidak ada damai dalam keluarga Capek dan berat walau banyak harta

6. Isuan kentang i juma tuhur FP Buahna tuhu kebelgahen

FAd

Ate meriah pegedang umur FN

Ate lesek erbahanca ayo kerah-kerahen FN FN

Artinya:

Ditanam kentang di ladang tuhur Buahnya benar-benar besar

Hati gembira memperpanjang umur Hati yang susuh membuat muka kusam

7. Itengah peken pajek ije kuburen FP FN Biang rubati sorana gerupuh

Adi nggeluh enda la sieteh tumburen FP FV FN

(64)

Artinya:

Di tengah ladang ada kuburan Anjing berkelahi suaranya menyalak Kalau hidup ini tidak tahu arah/arti Selagi tidurpun tidak nyenyak

8. Adi ipen kurang mesera nemburi FP FV

Adi mesui mata ngenen pe mesilo FP

Siman jagan ibas perpulungen ola nggemburi FP FP FV Bagepe la man pelajaren nggit kal mindo-mindo FP FV

Artinya:

Kalau gigi kurang, susah menyembur Kalau mata sakit, melihatpun silau

Yang dijaga dalam perkumpulan jangan membuat kacau/ribut Juga jangan belajar suka meminta-minta

9. Nduldul kepeken mata kepiting FN

Seding jine perdalan sige bas lau anak FP

Adi sibegi kalak ngerana ola min kita kuliting FP FP

Gelah sinuri-nuri pe ngarana ola papak FP FP

Artinya:

Menjolok keluar rupanya mata kepiting Miring jalannya dalam sungai kecil

Kalau orang bicara kita jangan ikut gelisah Supaya yang bicara tidak merasa terganggu

10. Deher kuta turah ije batang nabar FP FN

Gambar

Tabel 1 : Frekuensi Pemakaian Frase dalam Ndungndungen Karo

Referensi

Dokumen terkait

Beberapa diantara uis Adat Karo tersebut sudah langka karena tidak lagi digunakan dalam kehidupan sehari-hari, atau hanya digunakan dalam kegiatan ritual budaya yang

Penelitian ini berjudul “ Stuktur, Fungsi, dan Nilai Budaya dalam Cerita Rakyat di Kabupaten Karo serta Penerapan Hasilnya dalam Menyusun Bahan Pembelajaran Sastra di

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui misi Gereja Batak Karo Protestan yang berkaitan dengan pelestarian budaya, suku Karo yang menjadi jemaat Gereja Batak

1 Penelitian membahas tentang pengaroh stratifikasi sosial dalam penggunaan bahasa pada upacara adat perkawinan masyarakat etnis Karo. Kajian ini rnembahas. masalah

Perilaku sosial yang negatif terdiri dari perilaku yang menyimpang yang tidak sesuai dengan aturan dan norma yang berlaku baik norma masyarakat, adat istiadat dan agama..

Penggunaan ensambel musik tradisional dalam upacara-upacara adat masyarakat Karo akan dijelaskan berdasarkan konteks upacara masyarakat Karo secara umum, yaitu upacara

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada masyarakat di Desa Sukambayak masih menggunakan perhiasan-perhiasan tradisional, berbagai ragam perhiasan adat karo memiliki perbedaan

Teks ini membahas tentang fungsi dan pentingnya pembelajaran sosial dan emosional bagi