• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hubungan Ukuran Pupil Dengan Miopia Derajat Sedang Dan Berat

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Hubungan Ukuran Pupil Dengan Miopia Derajat Sedang Dan Berat"

Copied!
46
0
0

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN UKURAN PUPIL DENGAN

MIOPIA DERAJAT SEDANG DAN BERAT

TESIS

OLEH :

BOBBY RAMSES ERGUNA SITEPU

DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MATA

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

RSUP. H. ADAM MALIK

(2)
(3)
(4)

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa atas segala

berkat dan rahmatNya serta dalam memberikan bimbingan, petunjuk dan kekuatan dalam

menyelesaikan tesis ini. Tesis ini disusun untuk melengkapi tugas-tugas dan memenuhi

salah satu syarat untuk memperoleh keahlian dalam bidang Ilmu Kesehatan Mata.

Saya menyadari sepenuhnya bahwa tesis ini masih jauh dari kesempurnaan,

namun demikian besar harapan saya kiranya tulisan ini dapat bermanfaat dalam

menambah perbendaharaan bacaan, khususnya tentang Hubungan Ukuran Pupil

dengan Miopia Derajat Sedang dan Berat.

Dengan selesainya tulisan dan laporan penelitian ini, perkenankanlah saya

menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada yang

terhormat:

• Rektor Universitas Sumatera Utara dan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas

Sumatera Utara, yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk

mengikuti Program Pendidikan Dokter Spesialis di Fakultas Kedokteran USU

Medan.

• Dr. Delfi, Sp.M sebagai Kepala Departemen Ilmu Kesehatan Mata yang

memberikan bimbingan, nasehat dan petunjuk dalam pendidikan spesialis di

bagian mata ini.

• Prof. Aslim D. Sihotang, Sp.M sebagai Ketua Program Studi Pendidikan Dokter

Spesialis Mata yang telah memberikan bimbingan, petunjuk dan pengarahan serta

(5)

• Dr.Masang Sitepu, Sp.M yang telah banyak memberikan bimbingan, masukan,

saran dan bantuan selama pembuatan tesis ini, saya mengucapkan terima kasih

yang sebesar-besarnya.

• Dr. H.Mohd. Dien Mahmud, Sp.M, Dr. H. Chairul Bahri AD, Sp.M, Dr. H.Azman

Tanjung, Sp.M, Dr. Suratmin, Sp.M, Dr. H.Bachtiar, Sp.M, Dr. H.Abdul Gani,

Sp.M, Dr. Hj.Adelina Hasibuan, Sp.M, Dr. Hj.Nurhaida Djamil, Sp.M, Dr.

Hj.Rizafatmi, Sp.M, Dr. Beby Parwis, Sp.M, Dr. Hj.Heriyanti Harahap, Sp.M, Dr.

Hj.Aryani A Amra, Sp.M, Dr. H. Zaldi, Sp.M, Dr. Nurchaliza H Siregar, Sp.M,

Dr. Masitha Dewi S, Sp.M, Dr. R. Rahmawaty Lubis, Sp.M yang telah

memberikan bimbingan, bantuan dan petunjuk serta ilmu yang bermanfaat kepada

saya selama dalam pendidikan.

• Drs. H.Abdul jalil Amri Arma, M.Kes yang telah membimbing dalam bidang

statistik pada penelitian ini.

• Direktur RSUP.H. Adam Malik, yang telah memberikan kesempatan dan sarana

untuk bekerja selama mengikuti pendidikan di Departemen Ilmu Kesehatan Mata.

• Direktur RSUD. Dr. Pirngadi Medan dan Kepala UPF Ilmu Kesehatan Mata

RSUD. Dr. Pirngadi Medan yang telah memberikan kesempatan dan sarana

bekerja selama mengikuti pendidikan.

• Ucapan terima kasih juga saya ucapakan kepada Dr. Emir El Newi, Sp.M, Dr.

Syafridon, Sp.M, Mayor Laut (K) Dr. Gede Pardianto, Sp.M, dan Alm Dr.

Juniarson Barus, Sp.M, Dr. Hasmui, Sp.M yang membimbing saya dalam operasi

(6)

Salam penghormatan yang tulus dari lubuk hati yang terdalam buat yang tercinta

Ayahanda, Dr. Masang Sitepu, Sp.M dan Ibunda, Surung br. Ginting yang dengan kasih

sayang dan doa yang selalu menyertai kehidupan saya, memberikan dukungan moril dan

materil yang tak ternilai harganya, juga kepada kedua mertua saya , atas perhatian dan

dorongan yang sangat besar artinya dalam menyelesaikan pendidikan program spesialis

ini.

Terima kasih untuk istriku tercinta, Irenia Vidia Brahmana, SE atas kesabarannya

mendampingi saya dalam suka dan duka, kasih sayang, dorongan dan juga doa yang telah

diberikan selama saya menjalani pendidikan ini.

Kepada saudara-saudaraku tersayang, Ir. Ferry E.T Sitepu, MSi, Eva Marthalina

Sitepu, ST, dan Dina Jenny M Sitepu, SH, MKn, serta seluruh keluarga besarku, terima

kasih atas dukungan dan dorongan yang telah diberikan.

Akhirnya terima kasih kepada seluruh teman sejawat peserta Program Pendidikan

Dokter Spesialis, para tenaga medis, refraksionis dan administrasi SMF Mata

RSUP.H.Adam Malik dan RSUD. Dr.Pirngadi Medan dan handai taulan yang tidak dapat

saya sebutkan satu persatu, yang secara langsung maupun tidak langsung telah

memberikan bantuan dan doa dalam menyelesaikan pendidikan ini.

Semoga Tuhan Yang Maha Pengasih akan melimpahkan berkatNya kepada kita

semua. Amin

Medan, Juni 2008

(7)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ... i

DAFTAR GAMBAR DAN TABEL ... iii

BAB :

2.3. Kelainan - Kelainan Pupil yamg sering dijumpai ………... 10

2.4. Akomodasi ………... 12

2.5. Visual Pathway ………... 12

2.6. Celah Pupil Dalam Sistem Optik ……….. 14

2.7. Miopia ……….. 15

III. : KERANGKA KONSEPSIONAL, DEFINISI OPERASIONAL DAN HIPOTESA ………. 18

3.1. Kerangka Konsepsional ………. 18

(8)

3.3. Hipotesa ………. 19

IV. : METODOLOGI PENELITIAN ………. 20

4.1. Rancangan Penelitian ………. 20

4.2. Tempat dan Waktu Penelitian ………. 20

4.3. Populasi dan Sampel Penelitian ………. 21

4.4. Bahan dan Alat Penelitian ………. 22

4.5. Cara Kerja ………. 23

4.6. Pengolahan Data ………. 24

4.7. Landasan Etik Penelitian ………. 25

4.8. Personalia Penelitian ………. 25

4.9. Biaya Penelitian ………. 25

V. : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ………... 26

5.1. Hasil Penelitian ……… 26

5.2. Pembahasan ………... 30

VI. : KESIMPULAN DAN SARAN ……… 32

6.1. Kesimpulan ……….... 32

6.2. Saran ……… 33

VII : RINGKASAN ……… 34

(9)

DAFTAR GAMBAR DAN TABEL

GAMBAR

Halaman

1. Reflek Cahaya dan Akomodasi 6

2. Jaras Dilatasi Pupil 8

3. Visual Pathway 14

4. Miopia dan Lensa Koreksi 17

TABEL

1. Distribusi Penderita Menurut Umur dan Jenis Kelamin 26

2. Distribusi Penderita menurut suku bangsa dan jenis kelamin 27

3. Distribusi Penderita Miopia Sedang – Berat Berdasarkan Jenis Kelamin 27

4. Gambaran Koreksi Miopia Sedang – Berat dan Besar Pupil pada

Penderita Laki-laki dan Perempuan 28

(10)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.LATAR BELAKANG

Kelainan refraksi merupakan salah satu penyebab terbanyak gangguan

penglihatan di seluruh dunia dan menjadi penyebab kedua kebutaan yang dapat diatasi.(1)

Survei kesehatan indera penglihatan dan pendengaran tahun 1993 – 1996, menunjukkan

angka kebutaan di Indonesia 1,5 %. Kelainan refraksi sebanyak 0,14 % dari angka

kebutaan tersebut.(2) Seang-Mei Saw dkk, meneliti prevalensi miopia di Sumatera

mencapai 26,1 %. Untuk miopia derajat berat 0,8 %. Prevalensi miopia paling tinggi

dijumpai pada usia 21 – 29 tahun.(3)

Miopia merupakan salah satu kelainan refraksi yang sering dijumpai, disebabkan

oleh ketidakseimbangan kekuatan elemen optik mata dengan panjang sumbu bola mata,

sehingga diperlukan lensa koreksi atau terapi refraktif lainnya untuk membentuk

bayangan yang jelas di retina. Miopia dibedakan menjadi miopia fisiologis (simple,

school myopia) yang terjadi karena pertumbuhan normal komponen mata dan miopia

patologis (progressive, malignant, degenerative myopia) yang disebakan pertumbuhan

berlebihan sumbu bola mata walaupun komponen lainnya tumbuh normal.(3,4)

Penyebab miopia belum diketahui dengan pasti, namun diduga berhubungan

dengan faktor genetik dan lingkungan. Beberapa faktor resiko yang berperan dalam

terjadinya miopia diantaranya adalah aktifitas melihat dekat (nearwork activities) seperti

(11)

pendidikan dan sosio ekonomi berpengaruh pada insiden miopia dimana aktivitas melihat

dekat sering mereka kerjakan.(3,4)

Pupil merupakan faktor yang penting dalam optik dari sistem penglihatan. Ketika

terjadinya perubahan ukuran diameter pupil, tujuannya bukan hanya mengontrol jumlah

cahaya saja, tapi yang paling penting sebagai sistem optik. Ukuran diameter dan lokasi

dari pupil sangat penting dalam pembedahan refraksi.(5,6)

Massimo Camellin dkk, dalam evaluasi ukuran pupil untuk pembedahan refraksi,

dijumpai rata-rata ukuran diameter pupil pada mata miopia lebih besar dari pada mata

hiperopia, perbedaan ini secara signifikan terjadi pada keadaan adaptasi gelap

(mesopic).(7,8)

Ukuran pupil normal bergantung dari intensitas iluminasi retina, dekatnya

rangsangan, dan keadaan emosional dari seseorang. Diameter pupil bervariasi antara 8

mm pada keadaan adaptasi gelap (mesopic) hingga 2 mm pada keadaan adaptasi terang

(scotopic). Pupil normal yang lebih miosis dijumpai pada orang tua, tetapi pengaruh pada

pupil tersebut belum diteliti. Dengan bertambahnya diameter ukuran pupil, maka aberasi

kromatis dan sferis juga bertambah. Berkurangnya diameter ukuran pupil, difraksi cahaya

pada pupil menjadi faktor signifikan dalam mengurangi kualitas image. (6,8)

Miopia menimbulkan masalah yang cukup banyak, bukan hanya karena

prevalensinya, tetapi miopia dapat menyebabkan ancaman tajam penglihatan penglihatan

akibat komplikasinya seperti ablasi retina, glaukoma dan lainnya (9,10,11)

1.2.IDENTIFIKASI MASALAH

(12)

dan berat dibandingkan ukuran diameter pupil emetropia.

1.3.TUJUAN PENELITIAN

1.3.1. TUJUAN UMUM

Peneliti mencoba mencari besarnya hubungan ukuran diameter pupil terhadap

miopia derajat sedang dan berat.

1.3.2. TUJUAN KHUSUS

1. Untuk melihat secara rinci berapa besar perubahan ukuran diameter pupil

terhadap miopia derajat sedang dan berat.

2. Untuk melihat perbedaan proporsi penderita miopia sedang dan berat dan

hubungan ukuran diameter pupil.

3. Untuk melihat perbedaan proporsi penderita miopia sedang dan berat

berdasarkan jenis kelamin.

1.4.MANFAAT PENELITIAN

Dengan penelitian ini dapat memperlihatkan sebagai indikator perubahan ukuran

(13)

BAB II

TINJAUAN KEPUSTAKAAN

2.1. ANATOMI DAN FISIOLOGI PUPIL

Ukuran pupil normal berbeda-beda pada berbagai umur dan pada satu orang ke

lain orang. Diameter pupil normal kira-kira 3 – 4 mm, dan pada anak-anak cenderung

makin besar dan dengan bertambahnya umur, pupil makin menciut. Banyak orang normal

yang ukuran pupilnya kanan dan kiri berbeda sedikit (anisokori fisiologis).

Kadang-kadang terdapat perbedaan ukuran pupil kanan dan kiri yang nyata, walaupun pada mata

normal. Fungsi pupil adalah untuk mengontrol jumlah cahaya yang masuk ke dalam mata

untuk mendapatkan fungsi visual terbaik pada berbagai derajat intensitas cahaya.(12,13)

2.1.1. NEUROANATOMI JALUR PUPIL

Pemeriksaan mengenai reaksi pupil adalah penting untuk menentukan lokasi

kerusakan yang mengenai jalur lintas optik. Pengetahuan mengenai neuroanatomi

jalannya reaksi pupil terhadap cahaya dan miosis yang berkaitan dengan akomodasi

adalah sangat penting.

A. Refleks cahaya : Jalur yang dilalui refleks cahaya seluruhnya adalah

subkortikal. Serabut-serabut pupil aferen yang didalamnya termasuk saraf optik dan jalur

lintas optik hanya sampai di tempat meninggalkan traktus optik tepat sebelum sinapsis

serabut-serabut visual didalam badan genikulatum lateral. Kemudian berjalan ke daerah

pretektal di mesenfalon dan bersinaps. Impuls-impuls kemudian disampaikan oleh

(14)

di sisi satunya. Sebagian serabut-serabut berjalan langsung di sebelah ventral nukleus

Edinger-Westphal ipsilateral. Jalur lintas eferen melalui saraf III ke ganglion siliar di

dalam kerucut otot ekstra okular retrobulbar serabut-serabut pascaganglion berjalan

melalui saraf siliar brevis untuk mempersarafi otot sfingter iris.

B. Refleks Melihat dekat : Pada waktu mata melihat ke obyek dekat, akan terjadi

tiga reaksi : akomodasi, konvergensi dan penciutan pupil, dan memberikan bayangan

terfokus tajam pada titik-titik di retina yang bersangkutan. Ada petunjuk yang

menyakinkan bahwa jalur lintas terakhir yang biasa berjalan melalui saraf okulomotor

dengan sinapsis pada ganglion siliar. Jalur lintas aferen ini belum jelas kerjanya tapi

kenyataannya ia masuk ke dalam mesensefalon di sebelah ventral nukleus

Edinger-Westhpal dan mengirimkan serabut-serabutnya ke kedua sisi korteks.(10,12,13)

Ukuran pupil dikontrol oleh iris, yang terdiri dari 2 kelompok otot polos yaitu

1. Otot konstriktor pupil : berfungsi untuk konstriksi dan dipersarafi oleh sistem saraf

parasimpatis (N. III).

2. Otot dilator pupil : berfungsi untuk dilatasi dan dipersarafi oleh sistem saraf

simpatis.(12,13,14)

Pupil mempunyai 3 fungsi utama , yaitu :

• Mengatur jumlah sinar yang masuk ke retina.

• Mengurangi jumlah aberasi sferik serta kromatis yang ditimbulkan oleh

gangguan atau kelainan sistem optik pada kornea dan lensa.

(15)

2.1.2. JARAS KONSTRIKSI PUPIL DAN REFLEX CAHAYA (PARASIMPATIS)

Stimulus berupa cahaya akan diteruskan oleh serabut aferen (n. II) ke nukleus

pretektetal. Setelah bersinap di nukleus ini maka impuls akan diteruskan ke :

• Nukleus Edinger Westphal sisi yang sama

• Nukleus pretektal kontralateral, dari nukleus ini impuls akan diteruskan ke nukleus

Edinger Westphal kontralateral dari sumber cahaya.

Dari masing-masing nukleus Edinger Westphal ini, impuls akan diteruskan ke

ganglion siliaris. Dari ganglion ini, impuls akan diteruskan ke otot konstriktor pupil

melalui serabut eferen parasimpatis.(12,13,14)

Gambar 1 : Reflek cahaya dan akomodasi

(16)

2.1.3. JARAS DILATASI PUPIL (SIMPATIS)

• Saraf simpatis untuk otot-otot dilator pupil berasal dari hipotalamus bagian

posterolateral yang berjalan ke arah inferior melalui segmen otak dan pons tanpa

menyilang dan berakhir pada kornu intermedio lateral medula spinal setinggi C 8

hingga T 2. Bagian ini disebut sistem ke I dari neuron preganglionik.

• Sistem ke II dari serabut simpatis pre-ganglionik adalah serabut simpatis yang keluar

dari medula spinal bersama-sama dengan radiks T 1 dan masuk ke rantai simpatis para

vertebra yang sangat sangat berdekatan dengan serabut simpatis yang menuju pleura

dan apeks paru. Serabut simpatis ini berbalik keatas bersama-sama dengan ansa sub

klavia di sekeliling arteria sub klavia terus ke atas melalui ganglion servikalis inferior

dan medius selanjutnya berakhir di ganglion servikalis superior yang terletak di dasar

tengkorak.

• Sistem ke III dari serabut simpatis adalah serabut post-ganglionik okulosimpatik yang

berjalan masuk ke dalam tengkorak bersama-sama dengan arteri karotis interna,

sedangkan serabut-serabut simpatis untuk kelenjar keringat mengikuti arteri karotis

eksterna dan cabang-cabangnya.

• Serabut okulo simpatis post-ganglion memberikan serabut sarafnya ke otot-otot dilator

pupil, otot Muller pada kelopak atas dan bawah, kelenjar lakrimal serta serabut trofik

(17)

Gambar 2 : Jaras dilatasi pupil

(18)

2.2. PEMERIKSAAN KLINIS

2.2.1. ANAMNESIS

Biasanya pasien mengeluh silau jika melihat cahaya, walaupun cahaya tersebut

tidak terlalu terang.

2.2.2. PEMERIKSAAN

Prinsip pemeriksaan pupil :

• Ruangan remang-remang

• Tidak boleh terjadi reaksi akomodasi

• Cahaya batere harus cukup kuat

Pada pemeriksaan pupil yang dinilai adalah :

• Ukuran

• Bentuk

• Isokori

• Reaksi terhadap cahaya langsung dan tidak langsung

• Reaksi akomodasi dan konvergensi

Cara pemeriksaan :

• Tentukan ukuran pupil kiri dan kanan. Dinyatakan dalam milimeter, normal :

2- 5 mm.

• Lihat bentuk pupil kirri dan kanan. Bandingkan bentuk kiri dan kanan, apakah

isokor atau anisokor.

(19)

- Salah satu mata diberi sinar, kemudian dilihat reaksi pupil pada mata yang

disinar dan mata sisi kontralateral. Pemeriksaan ini menilai reflex cahaya

langsung dan tidak langsung.

Interpretasi :

Normal : jika terjadi konstriksi pada mata yang diberi sinar dan mata

kontralateral. Reflex cahaya menurun jika respon konstriksi menurun.

Reflex cahaya (-) : jika tidak ada respon sama sekali.

• Reflex akomodasi dan konvergensi :

- Pasien diminta melihat jauh, setelah itu diminta mengikuti jari pemeriksa

yang digerakkan kearah hidung penderita.

Interpretasi :

Normal : terjadi kontraksi m. Rektus medial dengan respon konstriksi pupil.

• Reflex siliospinal : diberikan rangsangan berupa cubitan pada leher pasien

dan dilihat reaksi pupil yang terjadi.

Normal : pupil akan dilatasi.(12,13,14,15)

2.3.KELAINAN-KELAINAN PUPIL YANG SERING DIJUMPAI

• Tanda pupil Marcus Gunn : disebabkan lesi pada n. II parsial.

Cara pemeriksaan :

Mata pasien secara bergantian diberi sinar, pada sisi mata yang sakit pupil

tidak mengecil tapi menjadi besar. Kelainan ini menunjukkan adanya lesi n.

II pada sisi tersebut.

• Kegagalan satu atau kedua pupil untuk konstriksi pada penyinaran yang

(20)

pada penderita koma, setelah cedera kranio-serebral, peningkatan tekanan

intrakranial. Dilatasi pupil pada satu sisi merupakan salah satu tanda-tanda

herniasi transtentorial.

• Pupil Argyl Robertson

Pupil tidak bereaksi terhadap stimulus cahaya tapi reaksi akomodasi baik

(light near dissociation). Sebagian besar kasus Argyl Robertson bersifat

bilateral dan bentuk pupil biasanya irregular. Gambaran karakteristik

sindroma Argyl Robertson adalah :

- Fungsi visual utuh

- Refleks cahaya menurun

- Miosis

- Bentuk pupil irregular

- Bilateral, asimetrik

- Atrofi iris

Penyebab paling sering adalah infeksi sifilis tapi dapat juga disebabkan

oleh berbagai lesi pada midbrain seperti : neoplasma, vaskuler, inflamasi

atau demielinisasi.

• Pupil Adie’s / Sindroma Pupil Tonik

Sering terjadi pada wanita usia muda, unilateral pada 80 % kasus dan

bersifat akut. Pada mata yang terkena akatan terjadi :

- dilatasi pupil

- tidak ada refleks cahaya langsung dan tidak langsung

(21)

- ketika akomodasi dihilangkan akan terjadi dilatasi pupil secara

perlahan-lahan

- pada pemberian pilokarpin 0,5 – 1 % akan terjadi konstriksi

- Penyebab belum diketahui dengan pasti, diduga kelainan terjadi

pada midbrain atau ganglion siliaris

Jika kelainan pada pupil ini disertai dengan berkurangnya atau hilangnya

refleks fisiologis pada tungkai disebut sindroma Holmes – Adie.

• Sindroma Horner

Gejala klinis :

- miosis

- ptosis

- gangguan sekresi keringat

- enoftalmus

Penyebabnya adalah : lesi pada sistem simpatis.(12,13,14,15)

2.4. AKOMODASI

Akomodasi adalah mekanisme dimana mata dapat merubah kekuatan refraksinya

dengan cara merubah bentuk dari lensa sehingga obyek pada jarak yang dikehendaki

dapat difokuskan di retina. Dengan mata normal atau emmetropia, seseorang dapat

melihat objek dari jarak yang berbeda dengan jelas. Kekuatan refraksi dari kornea dan

lensa di fokus pada obyek 6 meter atau 20 kaki dan tepat jatuh di retina.

Akomodasi terjadi jika otot siliaris berkontraksi dan zonula fibers relaksasi

(22)

dari kapsul lensa berkurang dan lensa menjadi lebih bulat. Lensa bergerak menjauhi

sklera pada saat akomodasi dan bergerak kearah sklera pada saat relaksasi.(12,13,14)

2.5. VISUAL PATHWAY

Cahaya akan mencapai retina, setelah mengalami penetrasi pada lapisan saraf,

sehingga sampai pada rods dan cones. Absorbsi cahaya secukupnya disebabkan oleh

perubahan kimia pada pigmen penglihatan rods dan cones, yang berperan untuk

membangkitkan potensi lokal dan eksitasi serabut saraf.

Impuls saraf berjalan berlawanan arah, dari rods dan cones ke sel bipolar. Sel

bipolar bersinaps dengan sel ganglion yang aksonnya meninggalkan mata sebagai syaraf

optik. Saraf optik melewati dasar otak, dimana masuk dalam khiasma optikum. Disini

serabut saraf retia bagian tengah menyilang kebagian sebelah dan bergabung dengan

serabut saraf dari bagian luar, yang tida menyilang. Masing-masing saraf optik

meninggalkan khiasma optikum yang berisi serabut saraf bagian tengah (medial) dari satu

mata dan serabut saraf bagian luar (lateral) dari mata yang satu lagi membentuk traktus

optikus. Traktus ptikus kemudian diteruskan ke lateral genikulatum pada thalamus,

dimana serabut ini bersinaps dengan saraf yang merupakan akhir dari traktus yaitu optik

radiasi, yang kemudian menyebar keluar dan berakhir pada korteks visual pada lobus

occipitalis.

Sensasi penglihatan diterima pada korteks visual atau sensori primer. Informasi

ini disalurkan ke area assosiasi visual yang digunakan dalam interpretasi dan pengenalan

(23)

dimana akan bersinaps dengan serabut yang berperan pada saraf cranial III, IV dan VI,

yang mempersarafi otot-otot bola mata dan spinal cord.

Sel dari kolikulus superior sangat sensitif untuk stimuli pergerakan. Hal ini

penting untuk koordinasi pergerakan terutama kepala, mata dan tangan yang diperlukan

untuk merespon rangsangan visual.

Pembentukan bayangan tajam pada retina manusia tergantung pada empat proses

yaitu : Jalannya cahaya refraksi, akomodasi lensa, konstriksi pupil dan konvergensi kedua

mata. Semua sinar dari beberapa obyek difokuskan pada sistem optikal mata sehingga

jatuh tepat pada retina. Bayangan yang dibentuk adalah terbalik dan diubah kembali ke

posisi sebaliknya. Walaupun bayangan proyeksi pada visual korteks terbalik, tetapi otak

menerimanya dalam keadaan normal.(14,15,16,17)

Gambar 3 : Visual Pathway

(24)

2.6. CELAH PUPIL DALAM SISTEM OPTIK

Dalam sistem optik celah pupil mempunyai 2 fungsi. Fungsi yang paling

diketahui adalah mengatur jumlah cahaya, tetapi tidak begitu penting. Fungsi yang tidak

begitu diketahui dan sangat penting adalah mengatur aberasi.

Sistem optik mengumpulkan fraksi cahaya yang kecil dari sebuah obyek. Celah

pupil membatasi jumlah cahaya yang dibawanya dan juga mengatur kejelasan gambar.

Ukuran dari celah pupil tidak berubah atau pada suatu perubahan dari ukuran

gambar. Pada percobaan menutupi setengah dari lensa dengan sebuah kertas (membuat

pupil menjadi setengah lingkaran). Tidak ada bagian dari gambar yang terhalangi.

Seluruh gambar terlihat ada. Tetapi keseluruhan gambar menjadi berkurang cahayanya.

Perubahan ukuran celah pupil mengatur keseluruhan kejelasan gambar (disebut juga

irradiance).

Pada percobaan diatas, menutupi setengah lensa berarti mengurangi 50% cahaya

pada gambar. Kejelasan gambar merupakan persepsi yang bergantung pada jumlah

cahaya pada retina, dan pada sistem saraf yang bertanggung jawab pada cahaya di retina.

Jumlah dari kekuatan cahaya per unit area dari sebuah gambar disebut irradiance.

Irradiance berhubungan langsung dengan area celah pupil. Yang berarti berkurangnya

50% pada area celah pupil menghasilkan berkurangnya 50% irradiance. Jadi Irradiance

berhubungan dengan area celah pupil bukan pada diameter pupil. Pada klinis, ukuran

pupil sepesifik dengan ukuran diameter. Jika ukuran diameter pupil berubah dari 2 mm ke

3 mm (50% berubah dalam diameter), area celah pupil meningkat menjadi 125%, lebih

(25)

2.7 MIOPIA

Miopia adalah suatu kondisi dimana obyek jauh tidak tepat bayangannya jatuh

pada retina yang dilakukan dari sistem optik pada mata, disebabkan sinar jatuh sebelum

mengenai retina.(20)

Boris dan Duke -Elder membuat klasifikasi miopia berdasarkan :

1. Axial myopia, yang berhubungan dengan penambahan panjang sumbu bola

mata.

2. Refractive myopia, yang berhubungan dengan kondisi media refraksi pada

mata.

Lebih jauh Boris membagi refractive miopia menjadi :

1. Curvatura miopia, yang berhubungan dengan penambahan atau

peningkatan permukaan kornea

2. Index miopia, yang berhubungan dengan variasi index refraksi pada

satu atau lebih media refraksi.

Derajat miopia diukur oleh kekuatan korektif lensa sehingga bayangan dapat jatuh

di retina, yang dapat diklasifikasikan menjadi :

1. Miopia ringan, < Sferis -3,00 D

2. Miopia sedang, Sferis -3,00 s/d -6,00

3. Miopia berat, > Sferis -6,00 D

Menjadi miopia berarti tidak dapat melihat benda jauh dengan jelas tanpa alat

bantu optik seperti kaca mata atau lensa kontak. Tanpa alat bantu tersebut penglihatan

(26)

lensa cekung (concave lens) sehingga cahaya yang datang akan disebarkan (divergen)

oleh lensa koreksi sebelum masuk ke dalam mata, sehingga cahaya yang masuk dapat

jatuh ke titik fokus lebih posterior atau tepat pada retina.(6,20,21)

Gambar 4 : Miopia dan Lensa koreksi

(27)

BAB III

KERANGKA KONSEPSIONAL, DEFINISI OPERASIONAL

DAN HIPOTESA

3.1. KERANGKA KONSEPSIONAL

Kerangka konsepsional merupakan kerangka yang menggambarkan dan

mengarahkan asumsi mengenai elemen-elemen yang diteliti. Berdasarkan rumusan

masalah yang telah dipaparkan dalam latar belakang, tinjauan kepustakaan yang ada,

maka kerangka konsep digambarkan sebagai berikut :

KERANGKA KONSEP

Karakteristik :

- Umur ≥ 14 thn - Miopia derjat sedang dan berat (tidak disertai kelainan refraksi lain

dan dapat dikoreksi) - Media refraksi baik - Segmen anterior & posterior normal

Pemeriksaan Pupilometer

(28)

3.2. DEFENISIS OPERASIONAL

3.2.1. Miopia adalah kelainan refraksi dimana penderita mengeluh pandangan kabur

saat melihat jauh.

3.2.2. Diameter pupil diukur dengan penggaris pupilometer.

3.3. HIPOTESA

Adanya dugaan ukuran diameter pupil pada derajat miopia sedang dan berat lebih

(29)

BAB IV

METODOLOGI PENELITIAN

4.1. RANCANGAN PENELITIAN

Penelitian ini adalah suatu penelitian diagnostik yang bersifat deskriptif analitik

dengan rancangan penelitian potong lintang untuk mencari hubungan ukuran diameter

pupil dengan derajat miopia.

4.2. TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN

Tempat penelitian dilakukan di Poliklinik Mata Sub Bagian Refraksi pada RSUP.

H. Adam Malik Medan. Setiap hari Senin sampai Sabtu, mulai jam 09.00 – 12.00 WIB.

Penelitian dimulai bulan 12 Februari 2007 sampai 13 April 2008.

(30)

4.3. POPULASI DAN SAMPEL PENELITIAN

4.3.1. POPULASI PENELITIAN

Semua penderita miopia sedang dan berat yang sesuai dengan kriteria penelitian

yang datang ke Poliklinik Mata Sub Bagian Refraksi pada RSUP. H. Adam Malik Medan

dan sejak 12 Februari 2007 sampai 13 April 2008.

4.3.2. BESAR SAMPEL

Jumlah sampel yang diperlukan adalah berdasarkan hasil perhitungan dengan

porsi yang ada. Menurut catatan medik dijumpai rata – rata diameter pupil pada miopia

sedang dan berat di dapat 6 mm. Untuk hal ini maka kami berasumsi bahwa rata-rata

diametr pupil untuk penelitian ini adalah 6 mm, maka standard deviasinya 1,155.

Jumlah sampel dihitung dengan rumus :

Z

α

.

σ

2

n

=

d

- n = Besar sampel

- Zα = Tingkat kemaknaan.

Tingkat kemaknaan yang dipergunakan pada penelitian ini adalah 0.05

dengan interval kepercayaan 95 %, maka nilai baku normal dari tabel

z(zα) = 1.96

- σ = Standard deviasi dari rata-rata rata – rata diameter pupil pada miopia

sedang dan berat. Pada rata-rata 6mm dijumpai standard deviasi 1,155

(31)

Jumlah sampel

Z

α

.

σ

2

(1,96) (1,155)

2

n

= = =

32,03

d

0,4

Maka diperoleh sampel minimal yang harus diambil dalam penelitian ini sebesar 32

sampel mata, agar tingkat keyakinan hasil uji analisa statistik tidak kurang dari 95 % dan

presisinya tidak lebih dari 10 %.

4.3.3. KRITERIA INKLUSI DAN EKSKLUSI

• Kriteria inklusi :

o Seluruh penderita miopia sedang dan berat yang tidak disertai kelainan

refraksi lain, dapat dikoreksi dan bersedia dilakukan penelitian ini.

o Umur ≥ 14 tahun.

o Pada pemeriksaan direct ophthalmoscope media refrakta baik.

o Segment anterior dan posterior normal.

• Kriteria eksklusi :

o Penderita miopia yang disertai penyakit sistemik lain (DM, Hipertensi,

dll).

o Pasien aphakia, pseudophakia dan glaucoma.

o Penderita dengan riwayat trauma.

o Penderita dengan kelainan segmen anterior dan posterior.

4.4. BAHAN DAN ALAT PENELITIAN

(32)

1. Snellen Chart

2. Senter

3. Loup

4. Direct Ophthalmoscope (Heine)

5. Slit Lamp (Inami)

6. Trial Lens Set

7. Tonometer Schiotz (Precisemed)

8. Penggaris Pupilometer

9. Tetes mata Pantocain 0.5 %

10.Tetes mata Chloramphenicol 1 %

4.5 CARA KERJA

Terhadap semua subjek penelitian dilakukan serangkaian pemeriksaan sebagai

berikut :

1. Identitas pasien dicatat pada formulir atau conto terlampir, yang meliputi :

nama, usia, jenis kelamin, alamat, pekerjaan, nomor rekam medis, nomor

penelitain.

2. Pada formulir juga dicatat hasil pemeriksaan visus (tajam penglihatan) ke dua

mata, tanpa atau dengan koreksi.

3. Dilakukan pemeriksaan segmen anterior dengan menggunakan direct

ophthalmoscope dan slit lamp untuk mengevaluasi media refrakta.

4. Dilakukan pemeriksaan segmen posterior dengan menggunakan direct

(33)

5. Dilakukan pengukuran tekanan intra okuler dengan menggunakan Tonometer

Schiotz, caranya dengan meneteskan Pantocain 0,5 % tetes mata pada mata

yang akan diperiksa, setelah 2 menit atau rasa perih pada mata hilang, pasien

diminta melihat pada ujung jari telunjuknya yang telah difiksasi di atas

matanya, kemudian dilakukan pemeriksaan tekanan intra okulerdengan

menggunakan 2 pemberat yaitu pemberat 5,5 dan 10. Setelah selesai teteskan

Chloramphenicol 1 % tetes mata pada mata yang telah dilakukan

pemeriksaan.

6. Setelah 5 menit dilakukan pemeriksaan tekanan intra okuler, dilakukan

pemeriksaan ukuran diameter pupil.

7. Dilakukan pemeriksaan ukuran diameter pupil dimana posisi pasien dan

pemeriksa duduk berhadapan. Mata pasien disuruh melihat lurus ke depan,

dan penggaris pupilometer diletakkan didepan kornea.

4.6. PENGOLAHAN DATA

1. Untuk melihat distribusi karakteristik individu dan klinis disajikan dalam

bentuk tabulasi dan di deskripsikan.

2. Untuk melihat hubungan kelompok umur dan jenis kelamin digunakan uji

Chi-square test.

3. untuk melihat perbedaan proporsi penderita miopia sedang dan berat

berdasarkan jenis kelamin digunakan uji Exact Fishers.

4. Untuk melihat perbedaan koreksi miopia sedang dan berat serta besar pupil

(34)

5. Untuk melihat perbedaan ukuran pupil pada penderita miopia sedang dan berat

digunakan uji t-Independent.

Untuk menolak atau menerima Ho digunakan taraf signifikansi atau α sebesar

5 %.

4.7. LANDASAN ETIK PENELITIAN

1. Usulan penelitian ini terlebih dahulu disetujui oleh Kode Etik Fakultas

Kedokteran USU/ Kode Etik RSUP. H. Adam Malik Medan.

2. Setiap peserta yang memenuhi kriteria inklusi akan mendapatkan

penjelasan tentang tujuan dan cara-cara penelitian, kemudian bersedia

menandatangani formulir persetujuan penelitian secara sukarela, tanpa

paksaan.

3. Setiap peserta penelitian berhak mengetahui hasil pemeriksaan yang telah

dilakukan.

4. Kepada setiap peserta penelitian ini tidak dikenakan biaya tambahan yang

dikaitkan dengan adanya penelitian ini.

4.8. PERSONALIA PENELITIAN

Peneliti : Dr. Bobby Ramses Erguna Sitepu

Pembantu Penelitian : - PPDS Ilmu Penyakit Mata FK USU

- Para Medis SMF Mata RSUP. H. Adam

(35)

4.9. BIAYA PENELITIAN

(36)

BAB V

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1. HASIL PENELITIAN

Selama penelitian yang dilakukan dari bulan Februari 2008 sampai April 2008

terkumpul 32 penderita miopia sedang dan berat yang datang ke Polikilinik Mata Sub

Bagian Refrksi RSUP H. Adam Malik Medan. Umur penderita 15 sampai 64 tahun dan

rata-rata 30,28 tahun. Semua penderita adalah penduduk asli (suku asli) yang ada di

Indonesia.

Tabel 1. Distribusi Penderita Menurut Umur dan Jenis Kelamin

Jenis Kelamin

Pada table 1 di atas tampak umur penderita terbanyak antara 15 – 24 tahun yaitu

16 orang (50 %). Hal ini terjadi karena usia tersebut merupakan usia sekolah yang

memungkinkan menderita miopia. Penderita perempuan hampir sama dengan penderita

laki – laki. Atau dalam kata lain tidak ada perbedaan distribusi jenis kelamin antara

(37)

Tabel 2. Distribusi Penderita Menurut Suku Bangsa dan Jenis Kelamin

Jenis kelamin

Suku Bangsa Perempuan Laki - Laki Jumlah

n % n % n %

Terdapat 9 kelompok suku bangsa yang diperoleh dari 32 sampel penelitian yang

tampak pada tabel 1 diatas. Suku Batak Toba mempunyai jumlah terbanyak (17 orang)

sedangkan suku Batak Dairi, Melayu, Minang, India merupakan jumlah terkecil

masing-masing 1 orang.

Untuk melihat perbedaan proporsi penderita miopia sedang dan berat berdasarkan

(38)

Tabel 3. Distribusi Penderita Miopia Sedang – Berat Berdasarkan Jenis Kelamin

Dari jumlah sampel yang diteliti seperti yang diperlihatkan pada tabel diatas

dijumpai tidak adanya perbedaan penderita miopia sedang dan berat antara laki-laki dan

perempuan.

Untuk melihat perbedaan koreksi miopia sedang-berat dan besarnya pupil antara

penderita laki-laki dan perempuan digunakan uji T-Independen.

Tabel 4. Gambaran Koreksi Miopia Sedang – Berat dan Besar Pupil pada

Penderita Laki-laki dan Perempuan.

Dari tabel tersebut diatas dijumpai tingkat probabilitas untuk koreksi miopia

sedang dan berat sebesar 0,719 atau P(0,719) > (0,05). Hal tersebut menunjukkan

(39)

Tingkat probabilitas untuk besar pupil sebesar 0,299 atau P(0,299) > (0,05). Hal

tersebut menunjukkan hipotesa (Ho) diterima, berarti tidak ada perbedaan besar pupil

pada penderita laki – laki dan perempuan.

Tabel 5. Gambaran Besar Pupil Berdasarkan Miopia Sedang - Berat

n X ± SD P

Pupil

• Miopa Sedang

• Miopia Berat

24

14

4,54 ± 0,78

5,50 ± 1,31

0,017

Dari tabel tersebut diatas dijumpai ukuran rata-rata pupil miopia sedang berbeda dengan

miopia berat. Dengan nilai P (0,017) < (0,05) berarti terdapat perbedaan ukuran pupil,

(40)

5.2. PEMBAHASAN

Telah dilakukan penelitian yang bersifat deskriptif analitik untuk melihat

hubungan ukuran pupil dengan perubahan kekuatan refraksi pada penderita miopia

sedang dan berat.

Penelitian ini dilakukan di Poliklinik Mata Sub Bagian RSUP H. Adam Malik

Medan, dari 12 Februari sampai 13 April 2008.

Penelitian tentang hubungan ukuran pupil dengan penderita miopia sedang dan

berat ini pernah dilakukan, dimana hasilnya didapati umumnya ukuran pupil pada

penderita miopia sedang dan berat lebih besar dibandingkan ukuran pupil mata normal.

Dari hasil penelitia ini diumpai bahwa, umur penderita 15 sampai 64 tahun dan

rata – rata 30,28 tahun. Ukuran pupil bervariasi dari 4 mm sampai 7 mm.

Tabel 1 memperlihatkan distribusi penderita menurut umur dan jenis kelamin di

dapat bahwa umur penderita terbanyak antara 15 – 24 tahun yaitu 16 orang (50 %). Hal

ini menunjukkan usia tersebut merupakan usia sekolah yang memungkinkan terjadinya

miopia.

Berdasarkan distribusi penderita miopia sedang dan berat dijumpai 9 suku bangsa

dimana suku Batak Toba mempunyai jumlah terbanyak yaitu 17 orang. Hal ini bias

disebabkan karena suku Batak Toba banyak berdomisili dikota Medan. Dari 32 penderita

miopia sedang dan berat tersebut, 18 orang perempuan dan 14 orang laki-laki.

Tabel 3 memperlihatkan jumlah penderita miopia sedang pada laki – laki 40,6%

dan pada perempuan 34,4%. Jumlah penderita miopia berat pada laki-laki 15,6% dan

pada perempuan 9,4%, hal ini menunjukkan tidak ada perbedaan jumlah penderita miopia

(41)

Tabel 4 memperlihatkan penderita perempuan dijumpai 18 sampel dengan koreksi

- 5,29 dioptri dan rata-rata ukuran pupil 4,61 mm. Untuk penderita laki – laki dijumpai 14

sampel dengan koreksi – 5,66 dioptri dengan rata-rata ukuran pupil 5,00 mm. Tidak ada

perbedaan koreksi miopia sedang-berat dan ukuran pupil pada penderita laki – laki dan

perempuan, hal ini dapat dilihat dari taraf signifikasi (Ho) < 5%.

Tabel 5 memperlihatkan gambaran ukuran pupil berdasarkan miopia sedang dan

berat. Pada miopia sedang dengan 24 sampel dijumpai ukuran dengan rata-rata 4,54 mm,

pada miopia berat dengan 8 sampel rata-rata ukuran pupil sebesar 5,50 mm. Hal ini

menunjukkan bahwa terdapat perbedaan ukuran pupil pada miopia sedang dan berat,

(42)

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. KESIMPULAN

Dari penelitian yang dilakukan terhadap penderita miopia sedang dan berat di

Poliklinik Mata Sub Bagian Refraksi RSUP H. Adam Malik Medan sejak bulan Februari

sampai dengan April 2008, didapatkan beberapa kesimpulan yaitu :

a. Pada penderita miopia ukuran pupil pada perempuan dijumpai 4,61 mm dan

pada laki – laki dijumpai 5,00 mm.

b. Ukuran pupil pada penderita miopia sedang dan berat lebih besar

dibandingkan pupil mata emetropia yang memiliki ukuran 3 mm.

(43)

6.2. SARAN

• Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap ukuran pupil dengan

pertambahan kekuatan refraksi pada penderita miopia maupun

(44)

BAB VII

RINGKASAN

Telah dilakukan penelitian observasional analitik dengan menggunakan

rancangan penelitian potong lintang terhadap 32 penderita miopia sedang dan berat yang

datang ke Poliklinik Mata Sub Bagian Refraksi RSUP H. Adam Malik Medan selama

bulan Februari sampai dengan April 2008. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui

hubungan ukuran pupil dengan pertambahan kekuatan refraksi pada penderita miopia

sedang dan berat.

Diharapkan penelitian ini dapat memberi manfaat dengan memperlihatkan secara

rinci bertambahnya ukuran pupil pada miopia berat. Dengan kata lain semakin berat

(45)

DAFTAR PUSTAKA

1. Dandona R, Dandona L ; Refractive error blindness, Bulletin of the World Health

Organization 2001, 79 : 237 – 243.

2. Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI), Hasil – hasil Kongres

Nasional PERDAMI XI Medan, 2006 p. 36.

3. Seang-Mei Saw, Gus Gazzard, David Koh, Mohamed Farook, Daniel Widjaja,

Jeanette Lee, and Donald T.H. Tan ; Prevalence rates of refractive errors in

Sumatera, Indonesia, Invest Ophthalmol Vis Sci. 2002 ; 43 : 3174 – 3180.

4. American academy of Ophthalmology, Basic and Clinical Science Course,

Section 3, Optics, Refraction, and Contact lenses, 2004-2005, p. 115, 122.

5. Yabo Yang, Keith Thompson, Stephen A. Burns ; Pupil Location under Mesopic,

Photopic, and Pharmacologically Dilated Conditions, Invest Ophthalmol Vis Sci

2002; 43 : 2508 - 2512.

6. Mihai Pop, Yvess Payette, Emma Santoriello ; Comparison of the pupil card and

pupilometer in measuring pupil size, J Refract Surg 2002; 28 : 283 - 288.

7. Massimo Camellin, Federico Gambino, Stefano Casaro ; Measurement of the

spatial shift of the pupil center, J Cataract Refract Surg 2005; 31: 1719 – 1721.

8. Elyse L. Chaglasian, Sabah Akbar, Louis E. Probst ; Pupil measurement using the

Colvard pupilometer and a standard pupil card with a cobalt blue filter penlight, J

Catarct Refract Surg 2006 ; 32: 255 - 260.

9. Weiss A H ; Unilateral high myopia : optical components, associated factors, and

(46)

10.Steidl S M ; How does visual acuity change over time in adults with high

myopia?, Br. J. Ophthalmol. 2006;90;524

11.Saw S-M ; How blinding is pathological myopia?, Br. J. Ophthalmol.

2006;90;525-526

12.Vaughan Daniel, Oftalmologi umum, Edisi 14 cetakan 1, Jakarta, Widya Medika,

2000, p16 – 17.

13.Kline, Lanning B ; Neuro-ophthalmology Review Manual, 5th edition, SLACK

incorporated, 2001, p.135 - 147.

14.Slamovits, Thomas L ; Glaser, Joel S ; The Pupils and Acomodation, Duane’s

Clinical Ophthalmology, Chapter 15, Vol. 2; Revised edition, Lippincot Williams

& Wilkins, 2004 p. 1-5.

15.American academy of Ophthalmology, Basic and Clinical Science Course,

Section 5, Neuro – Ophthalmology, 2004-2005, p.82 - 84.

16.Central Visual Pathway, http://thalamus.wustl.edu/course/cenvis.html.

17.Basic Visual Pathway, http://thalamus.wustl.edu/course/basvis.html.

18.Thall, Edmond H ; Geometrical Optics, Duane’s Clinical Ophthalmology, Chapter

30, Vol. 1; Revised edition, Lippincot Williams & Wilkins, 2004.

19.Paquin, Marie-Pierre; Hamam Habib; Simonet Pierre; Objective Measurement of

Optical Aberrations in Myopic Eyes; Optometry and Vision Science, Vol. 79,

No.5, 2002, 285 - 291.

20.Schmid Klaus ; Myopia Manual, An impartial documentation of all the reason,

therapies and recommendations, Edition February 2007, Pagefree Pub Inc, p.1-

Gambar

TABEL
Gambar 1 : Reflek cahaya dan akomodasi
Gambar 2 : Jaras dilatasi pupil
Gambar 3 : Visual Pathway
+7

Referensi

Dokumen terkait

Saran yang diberikan untuk mendapatkan hasil penelitian yang lebih baik terhadap hubungan antara derajat merokok dengan kadar saturasi oksigen dalam darah adalah

Terdapat beberapa jenis pengukuran dalam menilai derajat seseorang dalam merokok, salah satu pengukuran yang digunakan untuk melihat derajar merokok adalah dengan

Untuk mengetahui hubungan antara kadar feritin serum dengan tekanan darah diastolik pada penderita preeklampsia berat dibandingkan kehamilan normal.. Diharapkan dari penelitian

Hasil: Pada penelitian ini diperoleh sampel penelitian sebanyak 39 orang pasien yang terdiri dari 21 orang pasien asma persisten sedang dan berat dan 18 pasien

Berat badan lahir adalah ukuran berat badan bayi waktu lahir (kategori lebih: ≥4,0 kg, normal: &lt;4 kg), uru - tan kelahiran adalah urutan anak yang dila- hirkan dari ibu

Ekstrak polifenol kulit biji kakao dari penyangraian derajat sedang memiliki penghambatan oksidasi asam linoleat tertinggi pada konsentrasi 10 µg/ml (53,20 ± 0,16 %)

HUBUNGAN EKSPRESI INTERFERON-

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan derajat lesi pada penderita akne vulgaris dengan indeks glikemik tinggi dan sedang.. Jumlah sampel penelitian ini 60