HUBUNGAN UKURAN PUPIL DENGAN
MIOPIA DERAJAT SEDANG DAN BERAT
TESIS
OLEH :
BOBBY RAMSES ERGUNA SITEPU
DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
RSUP. H. ADAM MALIK
KATA PENGANTAR
Segala puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa atas segala
berkat dan rahmatNya serta dalam memberikan bimbingan, petunjuk dan kekuatan dalam
menyelesaikan tesis ini. Tesis ini disusun untuk melengkapi tugas-tugas dan memenuhi
salah satu syarat untuk memperoleh keahlian dalam bidang Ilmu Kesehatan Mata.
Saya menyadari sepenuhnya bahwa tesis ini masih jauh dari kesempurnaan,
namun demikian besar harapan saya kiranya tulisan ini dapat bermanfaat dalam
menambah perbendaharaan bacaan, khususnya tentang Hubungan Ukuran Pupil
dengan Miopia Derajat Sedang dan Berat.
Dengan selesainya tulisan dan laporan penelitian ini, perkenankanlah saya
menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada yang
terhormat:
• Rektor Universitas Sumatera Utara dan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas
Sumatera Utara, yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk
mengikuti Program Pendidikan Dokter Spesialis di Fakultas Kedokteran USU
Medan.
• Dr. Delfi, Sp.M sebagai Kepala Departemen Ilmu Kesehatan Mata yang
memberikan bimbingan, nasehat dan petunjuk dalam pendidikan spesialis di
bagian mata ini.
• Prof. Aslim D. Sihotang, Sp.M sebagai Ketua Program Studi Pendidikan Dokter
Spesialis Mata yang telah memberikan bimbingan, petunjuk dan pengarahan serta
• Dr.Masang Sitepu, Sp.M yang telah banyak memberikan bimbingan, masukan,
saran dan bantuan selama pembuatan tesis ini, saya mengucapkan terima kasih
yang sebesar-besarnya.
• Dr. H.Mohd. Dien Mahmud, Sp.M, Dr. H. Chairul Bahri AD, Sp.M, Dr. H.Azman
Tanjung, Sp.M, Dr. Suratmin, Sp.M, Dr. H.Bachtiar, Sp.M, Dr. H.Abdul Gani,
Sp.M, Dr. Hj.Adelina Hasibuan, Sp.M, Dr. Hj.Nurhaida Djamil, Sp.M, Dr.
Hj.Rizafatmi, Sp.M, Dr. Beby Parwis, Sp.M, Dr. Hj.Heriyanti Harahap, Sp.M, Dr.
Hj.Aryani A Amra, Sp.M, Dr. H. Zaldi, Sp.M, Dr. Nurchaliza H Siregar, Sp.M,
Dr. Masitha Dewi S, Sp.M, Dr. R. Rahmawaty Lubis, Sp.M yang telah
memberikan bimbingan, bantuan dan petunjuk serta ilmu yang bermanfaat kepada
saya selama dalam pendidikan.
• Drs. H.Abdul jalil Amri Arma, M.Kes yang telah membimbing dalam bidang
statistik pada penelitian ini.
• Direktur RSUP.H. Adam Malik, yang telah memberikan kesempatan dan sarana
untuk bekerja selama mengikuti pendidikan di Departemen Ilmu Kesehatan Mata.
• Direktur RSUD. Dr. Pirngadi Medan dan Kepala UPF Ilmu Kesehatan Mata
RSUD. Dr. Pirngadi Medan yang telah memberikan kesempatan dan sarana
bekerja selama mengikuti pendidikan.
• Ucapan terima kasih juga saya ucapakan kepada Dr. Emir El Newi, Sp.M, Dr.
Syafridon, Sp.M, Mayor Laut (K) Dr. Gede Pardianto, Sp.M, dan Alm Dr.
Juniarson Barus, Sp.M, Dr. Hasmui, Sp.M yang membimbing saya dalam operasi
Salam penghormatan yang tulus dari lubuk hati yang terdalam buat yang tercinta
Ayahanda, Dr. Masang Sitepu, Sp.M dan Ibunda, Surung br. Ginting yang dengan kasih
sayang dan doa yang selalu menyertai kehidupan saya, memberikan dukungan moril dan
materil yang tak ternilai harganya, juga kepada kedua mertua saya , atas perhatian dan
dorongan yang sangat besar artinya dalam menyelesaikan pendidikan program spesialis
ini.
Terima kasih untuk istriku tercinta, Irenia Vidia Brahmana, SE atas kesabarannya
mendampingi saya dalam suka dan duka, kasih sayang, dorongan dan juga doa yang telah
diberikan selama saya menjalani pendidikan ini.
Kepada saudara-saudaraku tersayang, Ir. Ferry E.T Sitepu, MSi, Eva Marthalina
Sitepu, ST, dan Dina Jenny M Sitepu, SH, MKn, serta seluruh keluarga besarku, terima
kasih atas dukungan dan dorongan yang telah diberikan.
Akhirnya terima kasih kepada seluruh teman sejawat peserta Program Pendidikan
Dokter Spesialis, para tenaga medis, refraksionis dan administrasi SMF Mata
RSUP.H.Adam Malik dan RSUD. Dr.Pirngadi Medan dan handai taulan yang tidak dapat
saya sebutkan satu persatu, yang secara langsung maupun tidak langsung telah
memberikan bantuan dan doa dalam menyelesaikan pendidikan ini.
Semoga Tuhan Yang Maha Pengasih akan melimpahkan berkatNya kepada kita
semua. Amin
Medan, Juni 2008
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ... i
DAFTAR GAMBAR DAN TABEL ... iii
BAB :
2.3. Kelainan - Kelainan Pupil yamg sering dijumpai ………... 10
2.4. Akomodasi ………... 12
2.5. Visual Pathway ………... 12
2.6. Celah Pupil Dalam Sistem Optik ……….. 14
2.7. Miopia ……….. 15
III. : KERANGKA KONSEPSIONAL, DEFINISI OPERASIONAL DAN HIPOTESA ………. 18
3.1. Kerangka Konsepsional ………. 18
3.3. Hipotesa ………. 19
IV. : METODOLOGI PENELITIAN ………. 20
4.1. Rancangan Penelitian ………. 20
4.2. Tempat dan Waktu Penelitian ………. 20
4.3. Populasi dan Sampel Penelitian ………. 21
4.4. Bahan dan Alat Penelitian ………. 22
4.5. Cara Kerja ………. 23
4.6. Pengolahan Data ………. 24
4.7. Landasan Etik Penelitian ………. 25
4.8. Personalia Penelitian ………. 25
4.9. Biaya Penelitian ………. 25
V. : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ………... 26
5.1. Hasil Penelitian ……… 26
5.2. Pembahasan ………... 30
VI. : KESIMPULAN DAN SARAN ……… 32
6.1. Kesimpulan ……….... 32
6.2. Saran ……… 33
VII : RINGKASAN ……… 34
DAFTAR GAMBAR DAN TABEL
GAMBAR
Halaman
1. Reflek Cahaya dan Akomodasi 6
2. Jaras Dilatasi Pupil 8
3. Visual Pathway 14
4. Miopia dan Lensa Koreksi 17
TABEL
1. Distribusi Penderita Menurut Umur dan Jenis Kelamin 26
2. Distribusi Penderita menurut suku bangsa dan jenis kelamin 27
3. Distribusi Penderita Miopia Sedang – Berat Berdasarkan Jenis Kelamin 27
4. Gambaran Koreksi Miopia Sedang – Berat dan Besar Pupil pada
Penderita Laki-laki dan Perempuan 28
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.LATAR BELAKANG
Kelainan refraksi merupakan salah satu penyebab terbanyak gangguan
penglihatan di seluruh dunia dan menjadi penyebab kedua kebutaan yang dapat diatasi.(1)
Survei kesehatan indera penglihatan dan pendengaran tahun 1993 – 1996, menunjukkan
angka kebutaan di Indonesia 1,5 %. Kelainan refraksi sebanyak 0,14 % dari angka
kebutaan tersebut.(2) Seang-Mei Saw dkk, meneliti prevalensi miopia di Sumatera
mencapai 26,1 %. Untuk miopia derajat berat 0,8 %. Prevalensi miopia paling tinggi
dijumpai pada usia 21 – 29 tahun.(3)
Miopia merupakan salah satu kelainan refraksi yang sering dijumpai, disebabkan
oleh ketidakseimbangan kekuatan elemen optik mata dengan panjang sumbu bola mata,
sehingga diperlukan lensa koreksi atau terapi refraktif lainnya untuk membentuk
bayangan yang jelas di retina. Miopia dibedakan menjadi miopia fisiologis (simple,
school myopia) yang terjadi karena pertumbuhan normal komponen mata dan miopia
patologis (progressive, malignant, degenerative myopia) yang disebakan pertumbuhan
berlebihan sumbu bola mata walaupun komponen lainnya tumbuh normal.(3,4)
Penyebab miopia belum diketahui dengan pasti, namun diduga berhubungan
dengan faktor genetik dan lingkungan. Beberapa faktor resiko yang berperan dalam
terjadinya miopia diantaranya adalah aktifitas melihat dekat (nearwork activities) seperti
pendidikan dan sosio ekonomi berpengaruh pada insiden miopia dimana aktivitas melihat
dekat sering mereka kerjakan.(3,4)
Pupil merupakan faktor yang penting dalam optik dari sistem penglihatan. Ketika
terjadinya perubahan ukuran diameter pupil, tujuannya bukan hanya mengontrol jumlah
cahaya saja, tapi yang paling penting sebagai sistem optik. Ukuran diameter dan lokasi
dari pupil sangat penting dalam pembedahan refraksi.(5,6)
Massimo Camellin dkk, dalam evaluasi ukuran pupil untuk pembedahan refraksi,
dijumpai rata-rata ukuran diameter pupil pada mata miopia lebih besar dari pada mata
hiperopia, perbedaan ini secara signifikan terjadi pada keadaan adaptasi gelap
(mesopic).(7,8)
Ukuran pupil normal bergantung dari intensitas iluminasi retina, dekatnya
rangsangan, dan keadaan emosional dari seseorang. Diameter pupil bervariasi antara 8
mm pada keadaan adaptasi gelap (mesopic) hingga 2 mm pada keadaan adaptasi terang
(scotopic). Pupil normal yang lebih miosis dijumpai pada orang tua, tetapi pengaruh pada
pupil tersebut belum diteliti. Dengan bertambahnya diameter ukuran pupil, maka aberasi
kromatis dan sferis juga bertambah. Berkurangnya diameter ukuran pupil, difraksi cahaya
pada pupil menjadi faktor signifikan dalam mengurangi kualitas image. (6,8)
Miopia menimbulkan masalah yang cukup banyak, bukan hanya karena
prevalensinya, tetapi miopia dapat menyebabkan ancaman tajam penglihatan penglihatan
akibat komplikasinya seperti ablasi retina, glaukoma dan lainnya (9,10,11)
1.2.IDENTIFIKASI MASALAH
dan berat dibandingkan ukuran diameter pupil emetropia.
1.3.TUJUAN PENELITIAN
1.3.1. TUJUAN UMUM
Peneliti mencoba mencari besarnya hubungan ukuran diameter pupil terhadap
miopia derajat sedang dan berat.
1.3.2. TUJUAN KHUSUS
1. Untuk melihat secara rinci berapa besar perubahan ukuran diameter pupil
terhadap miopia derajat sedang dan berat.
2. Untuk melihat perbedaan proporsi penderita miopia sedang dan berat dan
hubungan ukuran diameter pupil.
3. Untuk melihat perbedaan proporsi penderita miopia sedang dan berat
berdasarkan jenis kelamin.
1.4.MANFAAT PENELITIAN
Dengan penelitian ini dapat memperlihatkan sebagai indikator perubahan ukuran
BAB II
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
2.1. ANATOMI DAN FISIOLOGI PUPIL
Ukuran pupil normal berbeda-beda pada berbagai umur dan pada satu orang ke
lain orang. Diameter pupil normal kira-kira 3 – 4 mm, dan pada anak-anak cenderung
makin besar dan dengan bertambahnya umur, pupil makin menciut. Banyak orang normal
yang ukuran pupilnya kanan dan kiri berbeda sedikit (anisokori fisiologis).
Kadang-kadang terdapat perbedaan ukuran pupil kanan dan kiri yang nyata, walaupun pada mata
normal. Fungsi pupil adalah untuk mengontrol jumlah cahaya yang masuk ke dalam mata
untuk mendapatkan fungsi visual terbaik pada berbagai derajat intensitas cahaya.(12,13)
2.1.1. NEUROANATOMI JALUR PUPIL
Pemeriksaan mengenai reaksi pupil adalah penting untuk menentukan lokasi
kerusakan yang mengenai jalur lintas optik. Pengetahuan mengenai neuroanatomi
jalannya reaksi pupil terhadap cahaya dan miosis yang berkaitan dengan akomodasi
adalah sangat penting.
A. Refleks cahaya : Jalur yang dilalui refleks cahaya seluruhnya adalah
subkortikal. Serabut-serabut pupil aferen yang didalamnya termasuk saraf optik dan jalur
lintas optik hanya sampai di tempat meninggalkan traktus optik tepat sebelum sinapsis
serabut-serabut visual didalam badan genikulatum lateral. Kemudian berjalan ke daerah
pretektal di mesenfalon dan bersinaps. Impuls-impuls kemudian disampaikan oleh
di sisi satunya. Sebagian serabut-serabut berjalan langsung di sebelah ventral nukleus
Edinger-Westphal ipsilateral. Jalur lintas eferen melalui saraf III ke ganglion siliar di
dalam kerucut otot ekstra okular retrobulbar serabut-serabut pascaganglion berjalan
melalui saraf siliar brevis untuk mempersarafi otot sfingter iris.
B. Refleks Melihat dekat : Pada waktu mata melihat ke obyek dekat, akan terjadi
tiga reaksi : akomodasi, konvergensi dan penciutan pupil, dan memberikan bayangan
terfokus tajam pada titik-titik di retina yang bersangkutan. Ada petunjuk yang
menyakinkan bahwa jalur lintas terakhir yang biasa berjalan melalui saraf okulomotor
dengan sinapsis pada ganglion siliar. Jalur lintas aferen ini belum jelas kerjanya tapi
kenyataannya ia masuk ke dalam mesensefalon di sebelah ventral nukleus
Edinger-Westhpal dan mengirimkan serabut-serabutnya ke kedua sisi korteks.(10,12,13)
Ukuran pupil dikontrol oleh iris, yang terdiri dari 2 kelompok otot polos yaitu
1. Otot konstriktor pupil : berfungsi untuk konstriksi dan dipersarafi oleh sistem saraf
parasimpatis (N. III).
2. Otot dilator pupil : berfungsi untuk dilatasi dan dipersarafi oleh sistem saraf
simpatis.(12,13,14)
Pupil mempunyai 3 fungsi utama , yaitu :
• Mengatur jumlah sinar yang masuk ke retina.
• Mengurangi jumlah aberasi sferik serta kromatis yang ditimbulkan oleh
gangguan atau kelainan sistem optik pada kornea dan lensa.
2.1.2. JARAS KONSTRIKSI PUPIL DAN REFLEX CAHAYA (PARASIMPATIS)
Stimulus berupa cahaya akan diteruskan oleh serabut aferen (n. II) ke nukleus
pretektetal. Setelah bersinap di nukleus ini maka impuls akan diteruskan ke :
• Nukleus Edinger Westphal sisi yang sama
• Nukleus pretektal kontralateral, dari nukleus ini impuls akan diteruskan ke nukleus
Edinger Westphal kontralateral dari sumber cahaya.
Dari masing-masing nukleus Edinger Westphal ini, impuls akan diteruskan ke
ganglion siliaris. Dari ganglion ini, impuls akan diteruskan ke otot konstriktor pupil
melalui serabut eferen parasimpatis.(12,13,14)
Gambar 1 : Reflek cahaya dan akomodasi
2.1.3. JARAS DILATASI PUPIL (SIMPATIS)
• Saraf simpatis untuk otot-otot dilator pupil berasal dari hipotalamus bagian
posterolateral yang berjalan ke arah inferior melalui segmen otak dan pons tanpa
menyilang dan berakhir pada kornu intermedio lateral medula spinal setinggi C 8
hingga T 2. Bagian ini disebut sistem ke I dari neuron preganglionik.
• Sistem ke II dari serabut simpatis pre-ganglionik adalah serabut simpatis yang keluar
dari medula spinal bersama-sama dengan radiks T 1 dan masuk ke rantai simpatis para
vertebra yang sangat sangat berdekatan dengan serabut simpatis yang menuju pleura
dan apeks paru. Serabut simpatis ini berbalik keatas bersama-sama dengan ansa sub
klavia di sekeliling arteria sub klavia terus ke atas melalui ganglion servikalis inferior
dan medius selanjutnya berakhir di ganglion servikalis superior yang terletak di dasar
tengkorak.
• Sistem ke III dari serabut simpatis adalah serabut post-ganglionik okulosimpatik yang
berjalan masuk ke dalam tengkorak bersama-sama dengan arteri karotis interna,
sedangkan serabut-serabut simpatis untuk kelenjar keringat mengikuti arteri karotis
eksterna dan cabang-cabangnya.
• Serabut okulo simpatis post-ganglion memberikan serabut sarafnya ke otot-otot dilator
pupil, otot Muller pada kelopak atas dan bawah, kelenjar lakrimal serta serabut trofik
Gambar 2 : Jaras dilatasi pupil
2.2. PEMERIKSAAN KLINIS
2.2.1. ANAMNESIS
Biasanya pasien mengeluh silau jika melihat cahaya, walaupun cahaya tersebut
tidak terlalu terang.
2.2.2. PEMERIKSAAN
Prinsip pemeriksaan pupil :
• Ruangan remang-remang
• Tidak boleh terjadi reaksi akomodasi
• Cahaya batere harus cukup kuat
Pada pemeriksaan pupil yang dinilai adalah :
• Ukuran
• Bentuk
• Isokori
• Reaksi terhadap cahaya langsung dan tidak langsung
• Reaksi akomodasi dan konvergensi
Cara pemeriksaan :
• Tentukan ukuran pupil kiri dan kanan. Dinyatakan dalam milimeter, normal :
2- 5 mm.
• Lihat bentuk pupil kirri dan kanan. Bandingkan bentuk kiri dan kanan, apakah
isokor atau anisokor.
- Salah satu mata diberi sinar, kemudian dilihat reaksi pupil pada mata yang
disinar dan mata sisi kontralateral. Pemeriksaan ini menilai reflex cahaya
langsung dan tidak langsung.
Interpretasi :
Normal : jika terjadi konstriksi pada mata yang diberi sinar dan mata
kontralateral. Reflex cahaya menurun jika respon konstriksi menurun.
Reflex cahaya (-) : jika tidak ada respon sama sekali.
• Reflex akomodasi dan konvergensi :
- Pasien diminta melihat jauh, setelah itu diminta mengikuti jari pemeriksa
yang digerakkan kearah hidung penderita.
Interpretasi :
Normal : terjadi kontraksi m. Rektus medial dengan respon konstriksi pupil.
• Reflex siliospinal : diberikan rangsangan berupa cubitan pada leher pasien
dan dilihat reaksi pupil yang terjadi.
Normal : pupil akan dilatasi.(12,13,14,15)
2.3.KELAINAN-KELAINAN PUPIL YANG SERING DIJUMPAI
• Tanda pupil Marcus Gunn : disebabkan lesi pada n. II parsial.
Cara pemeriksaan :
Mata pasien secara bergantian diberi sinar, pada sisi mata yang sakit pupil
tidak mengecil tapi menjadi besar. Kelainan ini menunjukkan adanya lesi n.
II pada sisi tersebut.
• Kegagalan satu atau kedua pupil untuk konstriksi pada penyinaran yang
pada penderita koma, setelah cedera kranio-serebral, peningkatan tekanan
intrakranial. Dilatasi pupil pada satu sisi merupakan salah satu tanda-tanda
herniasi transtentorial.
• Pupil Argyl Robertson
Pupil tidak bereaksi terhadap stimulus cahaya tapi reaksi akomodasi baik
(light near dissociation). Sebagian besar kasus Argyl Robertson bersifat
bilateral dan bentuk pupil biasanya irregular. Gambaran karakteristik
sindroma Argyl Robertson adalah :
- Fungsi visual utuh
- Refleks cahaya menurun
- Miosis
- Bentuk pupil irregular
- Bilateral, asimetrik
- Atrofi iris
Penyebab paling sering adalah infeksi sifilis tapi dapat juga disebabkan
oleh berbagai lesi pada midbrain seperti : neoplasma, vaskuler, inflamasi
atau demielinisasi.
• Pupil Adie’s / Sindroma Pupil Tonik
Sering terjadi pada wanita usia muda, unilateral pada 80 % kasus dan
bersifat akut. Pada mata yang terkena akatan terjadi :
- dilatasi pupil
- tidak ada refleks cahaya langsung dan tidak langsung
- ketika akomodasi dihilangkan akan terjadi dilatasi pupil secara
perlahan-lahan
- pada pemberian pilokarpin 0,5 – 1 % akan terjadi konstriksi
- Penyebab belum diketahui dengan pasti, diduga kelainan terjadi
pada midbrain atau ganglion siliaris
Jika kelainan pada pupil ini disertai dengan berkurangnya atau hilangnya
refleks fisiologis pada tungkai disebut sindroma Holmes – Adie.
• Sindroma Horner
Gejala klinis :
- miosis
- ptosis
- gangguan sekresi keringat
- enoftalmus
Penyebabnya adalah : lesi pada sistem simpatis.(12,13,14,15)
2.4. AKOMODASI
Akomodasi adalah mekanisme dimana mata dapat merubah kekuatan refraksinya
dengan cara merubah bentuk dari lensa sehingga obyek pada jarak yang dikehendaki
dapat difokuskan di retina. Dengan mata normal atau emmetropia, seseorang dapat
melihat objek dari jarak yang berbeda dengan jelas. Kekuatan refraksi dari kornea dan
lensa di fokus pada obyek 6 meter atau 20 kaki dan tepat jatuh di retina.
Akomodasi terjadi jika otot siliaris berkontraksi dan zonula fibers relaksasi
dari kapsul lensa berkurang dan lensa menjadi lebih bulat. Lensa bergerak menjauhi
sklera pada saat akomodasi dan bergerak kearah sklera pada saat relaksasi.(12,13,14)
2.5. VISUAL PATHWAY
Cahaya akan mencapai retina, setelah mengalami penetrasi pada lapisan saraf,
sehingga sampai pada rods dan cones. Absorbsi cahaya secukupnya disebabkan oleh
perubahan kimia pada pigmen penglihatan rods dan cones, yang berperan untuk
membangkitkan potensi lokal dan eksitasi serabut saraf.
Impuls saraf berjalan berlawanan arah, dari rods dan cones ke sel bipolar. Sel
bipolar bersinaps dengan sel ganglion yang aksonnya meninggalkan mata sebagai syaraf
optik. Saraf optik melewati dasar otak, dimana masuk dalam khiasma optikum. Disini
serabut saraf retia bagian tengah menyilang kebagian sebelah dan bergabung dengan
serabut saraf dari bagian luar, yang tida menyilang. Masing-masing saraf optik
meninggalkan khiasma optikum yang berisi serabut saraf bagian tengah (medial) dari satu
mata dan serabut saraf bagian luar (lateral) dari mata yang satu lagi membentuk traktus
optikus. Traktus ptikus kemudian diteruskan ke lateral genikulatum pada thalamus,
dimana serabut ini bersinaps dengan saraf yang merupakan akhir dari traktus yaitu optik
radiasi, yang kemudian menyebar keluar dan berakhir pada korteks visual pada lobus
occipitalis.
Sensasi penglihatan diterima pada korteks visual atau sensori primer. Informasi
ini disalurkan ke area assosiasi visual yang digunakan dalam interpretasi dan pengenalan
dimana akan bersinaps dengan serabut yang berperan pada saraf cranial III, IV dan VI,
yang mempersarafi otot-otot bola mata dan spinal cord.
Sel dari kolikulus superior sangat sensitif untuk stimuli pergerakan. Hal ini
penting untuk koordinasi pergerakan terutama kepala, mata dan tangan yang diperlukan
untuk merespon rangsangan visual.
Pembentukan bayangan tajam pada retina manusia tergantung pada empat proses
yaitu : Jalannya cahaya refraksi, akomodasi lensa, konstriksi pupil dan konvergensi kedua
mata. Semua sinar dari beberapa obyek difokuskan pada sistem optikal mata sehingga
jatuh tepat pada retina. Bayangan yang dibentuk adalah terbalik dan diubah kembali ke
posisi sebaliknya. Walaupun bayangan proyeksi pada visual korteks terbalik, tetapi otak
menerimanya dalam keadaan normal.(14,15,16,17)
Gambar 3 : Visual Pathway
2.6. CELAH PUPIL DALAM SISTEM OPTIK
Dalam sistem optik celah pupil mempunyai 2 fungsi. Fungsi yang paling
diketahui adalah mengatur jumlah cahaya, tetapi tidak begitu penting. Fungsi yang tidak
begitu diketahui dan sangat penting adalah mengatur aberasi.
Sistem optik mengumpulkan fraksi cahaya yang kecil dari sebuah obyek. Celah
pupil membatasi jumlah cahaya yang dibawanya dan juga mengatur kejelasan gambar.
Ukuran dari celah pupil tidak berubah atau pada suatu perubahan dari ukuran
gambar. Pada percobaan menutupi setengah dari lensa dengan sebuah kertas (membuat
pupil menjadi setengah lingkaran). Tidak ada bagian dari gambar yang terhalangi.
Seluruh gambar terlihat ada. Tetapi keseluruhan gambar menjadi berkurang cahayanya.
Perubahan ukuran celah pupil mengatur keseluruhan kejelasan gambar (disebut juga
irradiance).
Pada percobaan diatas, menutupi setengah lensa berarti mengurangi 50% cahaya
pada gambar. Kejelasan gambar merupakan persepsi yang bergantung pada jumlah
cahaya pada retina, dan pada sistem saraf yang bertanggung jawab pada cahaya di retina.
Jumlah dari kekuatan cahaya per unit area dari sebuah gambar disebut irradiance.
Irradiance berhubungan langsung dengan area celah pupil. Yang berarti berkurangnya
50% pada area celah pupil menghasilkan berkurangnya 50% irradiance. Jadi Irradiance
berhubungan dengan area celah pupil bukan pada diameter pupil. Pada klinis, ukuran
pupil sepesifik dengan ukuran diameter. Jika ukuran diameter pupil berubah dari 2 mm ke
3 mm (50% berubah dalam diameter), area celah pupil meningkat menjadi 125%, lebih
2.7 MIOPIA
Miopia adalah suatu kondisi dimana obyek jauh tidak tepat bayangannya jatuh
pada retina yang dilakukan dari sistem optik pada mata, disebabkan sinar jatuh sebelum
mengenai retina.(20)
Boris dan Duke -Elder membuat klasifikasi miopia berdasarkan :
1. Axial myopia, yang berhubungan dengan penambahan panjang sumbu bola
mata.
2. Refractive myopia, yang berhubungan dengan kondisi media refraksi pada
mata.
Lebih jauh Boris membagi refractive miopia menjadi :
1. Curvatura miopia, yang berhubungan dengan penambahan atau
peningkatan permukaan kornea
2. Index miopia, yang berhubungan dengan variasi index refraksi pada
satu atau lebih media refraksi.
Derajat miopia diukur oleh kekuatan korektif lensa sehingga bayangan dapat jatuh
di retina, yang dapat diklasifikasikan menjadi :
1. Miopia ringan, < Sferis -3,00 D
2. Miopia sedang, Sferis -3,00 s/d -6,00
3. Miopia berat, > Sferis -6,00 D
Menjadi miopia berarti tidak dapat melihat benda jauh dengan jelas tanpa alat
bantu optik seperti kaca mata atau lensa kontak. Tanpa alat bantu tersebut penglihatan
lensa cekung (concave lens) sehingga cahaya yang datang akan disebarkan (divergen)
oleh lensa koreksi sebelum masuk ke dalam mata, sehingga cahaya yang masuk dapat
jatuh ke titik fokus lebih posterior atau tepat pada retina.(6,20,21)
Gambar 4 : Miopia dan Lensa koreksi
BAB III
KERANGKA KONSEPSIONAL, DEFINISI OPERASIONAL
DAN HIPOTESA
3.1. KERANGKA KONSEPSIONAL
Kerangka konsepsional merupakan kerangka yang menggambarkan dan
mengarahkan asumsi mengenai elemen-elemen yang diteliti. Berdasarkan rumusan
masalah yang telah dipaparkan dalam latar belakang, tinjauan kepustakaan yang ada,
maka kerangka konsep digambarkan sebagai berikut :
KERANGKA KONSEP
Karakteristik :
- Umur ≥ 14 thn - Miopia derjat sedang dan berat (tidak disertai kelainan refraksi lain
dan dapat dikoreksi) - Media refraksi baik - Segmen anterior & posterior normal
Pemeriksaan Pupilometer
3.2. DEFENISIS OPERASIONAL
3.2.1. Miopia adalah kelainan refraksi dimana penderita mengeluh pandangan kabur
saat melihat jauh.
3.2.2. Diameter pupil diukur dengan penggaris pupilometer.
3.3. HIPOTESA
Adanya dugaan ukuran diameter pupil pada derajat miopia sedang dan berat lebih
BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN
4.1. RANCANGAN PENELITIAN
Penelitian ini adalah suatu penelitian diagnostik yang bersifat deskriptif analitik
dengan rancangan penelitian potong lintang untuk mencari hubungan ukuran diameter
pupil dengan derajat miopia.
4.2. TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN
Tempat penelitian dilakukan di Poliklinik Mata Sub Bagian Refraksi pada RSUP.
H. Adam Malik Medan. Setiap hari Senin sampai Sabtu, mulai jam 09.00 – 12.00 WIB.
Penelitian dimulai bulan 12 Februari 2007 sampai 13 April 2008.
4.3. POPULASI DAN SAMPEL PENELITIAN
4.3.1. POPULASI PENELITIAN
Semua penderita miopia sedang dan berat yang sesuai dengan kriteria penelitian
yang datang ke Poliklinik Mata Sub Bagian Refraksi pada RSUP. H. Adam Malik Medan
dan sejak 12 Februari 2007 sampai 13 April 2008.
4.3.2. BESAR SAMPEL
Jumlah sampel yang diperlukan adalah berdasarkan hasil perhitungan dengan
porsi yang ada. Menurut catatan medik dijumpai rata – rata diameter pupil pada miopia
sedang dan berat di dapat 6 mm. Untuk hal ini maka kami berasumsi bahwa rata-rata
diametr pupil untuk penelitian ini adalah 6 mm, maka standard deviasinya 1,155.
Jumlah sampel dihitung dengan rumus :
Z
α
.
σ
2
n
=
d
- n = Besar sampel
- Zα = Tingkat kemaknaan.
Tingkat kemaknaan yang dipergunakan pada penelitian ini adalah 0.05
dengan interval kepercayaan 95 %, maka nilai baku normal dari tabel
z(zα) = 1.96
- σ = Standard deviasi dari rata-rata rata – rata diameter pupil pada miopia
sedang dan berat. Pada rata-rata 6mm dijumpai standard deviasi 1,155
Jumlah sampel
Z
α
.
σ
2
(1,96) (1,155)
2n
= = =
32,03
d
0,4
Maka diperoleh sampel minimal yang harus diambil dalam penelitian ini sebesar 32
sampel mata, agar tingkat keyakinan hasil uji analisa statistik tidak kurang dari 95 % dan
presisinya tidak lebih dari 10 %.
4.3.3. KRITERIA INKLUSI DAN EKSKLUSI
• Kriteria inklusi :
o Seluruh penderita miopia sedang dan berat yang tidak disertai kelainan
refraksi lain, dapat dikoreksi dan bersedia dilakukan penelitian ini.
o Umur ≥ 14 tahun.
o Pada pemeriksaan direct ophthalmoscope media refrakta baik.
o Segment anterior dan posterior normal.
• Kriteria eksklusi :
o Penderita miopia yang disertai penyakit sistemik lain (DM, Hipertensi,
dll).
o Pasien aphakia, pseudophakia dan glaucoma.
o Penderita dengan riwayat trauma.
o Penderita dengan kelainan segmen anterior dan posterior.
4.4. BAHAN DAN ALAT PENELITIAN
1. Snellen Chart
2. Senter
3. Loup
4. Direct Ophthalmoscope (Heine)
5. Slit Lamp (Inami)
6. Trial Lens Set
7. Tonometer Schiotz (Precisemed)
8. Penggaris Pupilometer
9. Tetes mata Pantocain 0.5 %
10.Tetes mata Chloramphenicol 1 %
4.5 CARA KERJA
Terhadap semua subjek penelitian dilakukan serangkaian pemeriksaan sebagai
berikut :
1. Identitas pasien dicatat pada formulir atau conto terlampir, yang meliputi :
nama, usia, jenis kelamin, alamat, pekerjaan, nomor rekam medis, nomor
penelitain.
2. Pada formulir juga dicatat hasil pemeriksaan visus (tajam penglihatan) ke dua
mata, tanpa atau dengan koreksi.
3. Dilakukan pemeriksaan segmen anterior dengan menggunakan direct
ophthalmoscope dan slit lamp untuk mengevaluasi media refrakta.
4. Dilakukan pemeriksaan segmen posterior dengan menggunakan direct
5. Dilakukan pengukuran tekanan intra okuler dengan menggunakan Tonometer
Schiotz, caranya dengan meneteskan Pantocain 0,5 % tetes mata pada mata
yang akan diperiksa, setelah 2 menit atau rasa perih pada mata hilang, pasien
diminta melihat pada ujung jari telunjuknya yang telah difiksasi di atas
matanya, kemudian dilakukan pemeriksaan tekanan intra okulerdengan
menggunakan 2 pemberat yaitu pemberat 5,5 dan 10. Setelah selesai teteskan
Chloramphenicol 1 % tetes mata pada mata yang telah dilakukan
pemeriksaan.
6. Setelah 5 menit dilakukan pemeriksaan tekanan intra okuler, dilakukan
pemeriksaan ukuran diameter pupil.
7. Dilakukan pemeriksaan ukuran diameter pupil dimana posisi pasien dan
pemeriksa duduk berhadapan. Mata pasien disuruh melihat lurus ke depan,
dan penggaris pupilometer diletakkan didepan kornea.
4.6. PENGOLAHAN DATA
1. Untuk melihat distribusi karakteristik individu dan klinis disajikan dalam
bentuk tabulasi dan di deskripsikan.
2. Untuk melihat hubungan kelompok umur dan jenis kelamin digunakan uji
Chi-square test.
3. untuk melihat perbedaan proporsi penderita miopia sedang dan berat
berdasarkan jenis kelamin digunakan uji Exact Fishers.
4. Untuk melihat perbedaan koreksi miopia sedang dan berat serta besar pupil
5. Untuk melihat perbedaan ukuran pupil pada penderita miopia sedang dan berat
digunakan uji t-Independent.
Untuk menolak atau menerima Ho digunakan taraf signifikansi atau α sebesar
5 %.
4.7. LANDASAN ETIK PENELITIAN
1. Usulan penelitian ini terlebih dahulu disetujui oleh Kode Etik Fakultas
Kedokteran USU/ Kode Etik RSUP. H. Adam Malik Medan.
2. Setiap peserta yang memenuhi kriteria inklusi akan mendapatkan
penjelasan tentang tujuan dan cara-cara penelitian, kemudian bersedia
menandatangani formulir persetujuan penelitian secara sukarela, tanpa
paksaan.
3. Setiap peserta penelitian berhak mengetahui hasil pemeriksaan yang telah
dilakukan.
4. Kepada setiap peserta penelitian ini tidak dikenakan biaya tambahan yang
dikaitkan dengan adanya penelitian ini.
4.8. PERSONALIA PENELITIAN
Peneliti : Dr. Bobby Ramses Erguna Sitepu
Pembantu Penelitian : - PPDS Ilmu Penyakit Mata FK USU
- Para Medis SMF Mata RSUP. H. Adam
4.9. BIAYA PENELITIAN
BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.1. HASIL PENELITIAN
Selama penelitian yang dilakukan dari bulan Februari 2008 sampai April 2008
terkumpul 32 penderita miopia sedang dan berat yang datang ke Polikilinik Mata Sub
Bagian Refrksi RSUP H. Adam Malik Medan. Umur penderita 15 sampai 64 tahun dan
rata-rata 30,28 tahun. Semua penderita adalah penduduk asli (suku asli) yang ada di
Indonesia.
Tabel 1. Distribusi Penderita Menurut Umur dan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin
Pada table 1 di atas tampak umur penderita terbanyak antara 15 – 24 tahun yaitu
16 orang (50 %). Hal ini terjadi karena usia tersebut merupakan usia sekolah yang
memungkinkan menderita miopia. Penderita perempuan hampir sama dengan penderita
laki – laki. Atau dalam kata lain tidak ada perbedaan distribusi jenis kelamin antara
Tabel 2. Distribusi Penderita Menurut Suku Bangsa dan Jenis Kelamin
Jenis kelamin
Suku Bangsa Perempuan Laki - Laki Jumlah
n % n % n %
Terdapat 9 kelompok suku bangsa yang diperoleh dari 32 sampel penelitian yang
tampak pada tabel 1 diatas. Suku Batak Toba mempunyai jumlah terbanyak (17 orang)
sedangkan suku Batak Dairi, Melayu, Minang, India merupakan jumlah terkecil
masing-masing 1 orang.
Untuk melihat perbedaan proporsi penderita miopia sedang dan berat berdasarkan
Tabel 3. Distribusi Penderita Miopia Sedang – Berat Berdasarkan Jenis Kelamin
Dari jumlah sampel yang diteliti seperti yang diperlihatkan pada tabel diatas
dijumpai tidak adanya perbedaan penderita miopia sedang dan berat antara laki-laki dan
perempuan.
Untuk melihat perbedaan koreksi miopia sedang-berat dan besarnya pupil antara
penderita laki-laki dan perempuan digunakan uji T-Independen.
Tabel 4. Gambaran Koreksi Miopia Sedang – Berat dan Besar Pupil pada
Penderita Laki-laki dan Perempuan.
Dari tabel tersebut diatas dijumpai tingkat probabilitas untuk koreksi miopia
sedang dan berat sebesar 0,719 atau P(0,719) > (0,05). Hal tersebut menunjukkan
Tingkat probabilitas untuk besar pupil sebesar 0,299 atau P(0,299) > (0,05). Hal
tersebut menunjukkan hipotesa (Ho) diterima, berarti tidak ada perbedaan besar pupil
pada penderita laki – laki dan perempuan.
Tabel 5. Gambaran Besar Pupil Berdasarkan Miopia Sedang - Berat
n X ± SD P
Pupil
• Miopa Sedang
• Miopia Berat
24
14
4,54 ± 0,78
5,50 ± 1,31
0,017
Dari tabel tersebut diatas dijumpai ukuran rata-rata pupil miopia sedang berbeda dengan
miopia berat. Dengan nilai P (0,017) < (0,05) berarti terdapat perbedaan ukuran pupil,
5.2. PEMBAHASAN
Telah dilakukan penelitian yang bersifat deskriptif analitik untuk melihat
hubungan ukuran pupil dengan perubahan kekuatan refraksi pada penderita miopia
sedang dan berat.
Penelitian ini dilakukan di Poliklinik Mata Sub Bagian RSUP H. Adam Malik
Medan, dari 12 Februari sampai 13 April 2008.
Penelitian tentang hubungan ukuran pupil dengan penderita miopia sedang dan
berat ini pernah dilakukan, dimana hasilnya didapati umumnya ukuran pupil pada
penderita miopia sedang dan berat lebih besar dibandingkan ukuran pupil mata normal.
Dari hasil penelitia ini diumpai bahwa, umur penderita 15 sampai 64 tahun dan
rata – rata 30,28 tahun. Ukuran pupil bervariasi dari 4 mm sampai 7 mm.
Tabel 1 memperlihatkan distribusi penderita menurut umur dan jenis kelamin di
dapat bahwa umur penderita terbanyak antara 15 – 24 tahun yaitu 16 orang (50 %). Hal
ini menunjukkan usia tersebut merupakan usia sekolah yang memungkinkan terjadinya
miopia.
Berdasarkan distribusi penderita miopia sedang dan berat dijumpai 9 suku bangsa
dimana suku Batak Toba mempunyai jumlah terbanyak yaitu 17 orang. Hal ini bias
disebabkan karena suku Batak Toba banyak berdomisili dikota Medan. Dari 32 penderita
miopia sedang dan berat tersebut, 18 orang perempuan dan 14 orang laki-laki.
Tabel 3 memperlihatkan jumlah penderita miopia sedang pada laki – laki 40,6%
dan pada perempuan 34,4%. Jumlah penderita miopia berat pada laki-laki 15,6% dan
pada perempuan 9,4%, hal ini menunjukkan tidak ada perbedaan jumlah penderita miopia
Tabel 4 memperlihatkan penderita perempuan dijumpai 18 sampel dengan koreksi
- 5,29 dioptri dan rata-rata ukuran pupil 4,61 mm. Untuk penderita laki – laki dijumpai 14
sampel dengan koreksi – 5,66 dioptri dengan rata-rata ukuran pupil 5,00 mm. Tidak ada
perbedaan koreksi miopia sedang-berat dan ukuran pupil pada penderita laki – laki dan
perempuan, hal ini dapat dilihat dari taraf signifikasi (Ho) < 5%.
Tabel 5 memperlihatkan gambaran ukuran pupil berdasarkan miopia sedang dan
berat. Pada miopia sedang dengan 24 sampel dijumpai ukuran dengan rata-rata 4,54 mm,
pada miopia berat dengan 8 sampel rata-rata ukuran pupil sebesar 5,50 mm. Hal ini
menunjukkan bahwa terdapat perbedaan ukuran pupil pada miopia sedang dan berat,
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1. KESIMPULAN
Dari penelitian yang dilakukan terhadap penderita miopia sedang dan berat di
Poliklinik Mata Sub Bagian Refraksi RSUP H. Adam Malik Medan sejak bulan Februari
sampai dengan April 2008, didapatkan beberapa kesimpulan yaitu :
a. Pada penderita miopia ukuran pupil pada perempuan dijumpai 4,61 mm dan
pada laki – laki dijumpai 5,00 mm.
b. Ukuran pupil pada penderita miopia sedang dan berat lebih besar
dibandingkan pupil mata emetropia yang memiliki ukuran 3 mm.
6.2. SARAN
• Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap ukuran pupil dengan
pertambahan kekuatan refraksi pada penderita miopia maupun
BAB VII
RINGKASAN
Telah dilakukan penelitian observasional analitik dengan menggunakan
rancangan penelitian potong lintang terhadap 32 penderita miopia sedang dan berat yang
datang ke Poliklinik Mata Sub Bagian Refraksi RSUP H. Adam Malik Medan selama
bulan Februari sampai dengan April 2008. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
hubungan ukuran pupil dengan pertambahan kekuatan refraksi pada penderita miopia
sedang dan berat.
Diharapkan penelitian ini dapat memberi manfaat dengan memperlihatkan secara
rinci bertambahnya ukuran pupil pada miopia berat. Dengan kata lain semakin berat
DAFTAR PUSTAKA
1. Dandona R, Dandona L ; Refractive error blindness, Bulletin of the World Health
Organization 2001, 79 : 237 – 243.
2. Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI), Hasil – hasil Kongres
Nasional PERDAMI XI Medan, 2006 p. 36.
3. Seang-Mei Saw, Gus Gazzard, David Koh, Mohamed Farook, Daniel Widjaja,
Jeanette Lee, and Donald T.H. Tan ; Prevalence rates of refractive errors in
Sumatera, Indonesia, Invest Ophthalmol Vis Sci. 2002 ; 43 : 3174 – 3180.
4. American academy of Ophthalmology, Basic and Clinical Science Course,
Section 3, Optics, Refraction, and Contact lenses, 2004-2005, p. 115, 122.
5. Yabo Yang, Keith Thompson, Stephen A. Burns ; Pupil Location under Mesopic,
Photopic, and Pharmacologically Dilated Conditions, Invest Ophthalmol Vis Sci
2002; 43 : 2508 - 2512.
6. Mihai Pop, Yvess Payette, Emma Santoriello ; Comparison of the pupil card and
pupilometer in measuring pupil size, J Refract Surg 2002; 28 : 283 - 288.
7. Massimo Camellin, Federico Gambino, Stefano Casaro ; Measurement of the
spatial shift of the pupil center, J Cataract Refract Surg 2005; 31: 1719 – 1721.
8. Elyse L. Chaglasian, Sabah Akbar, Louis E. Probst ; Pupil measurement using the
Colvard pupilometer and a standard pupil card with a cobalt blue filter penlight, J
Catarct Refract Surg 2006 ; 32: 255 - 260.
9. Weiss A H ; Unilateral high myopia : optical components, associated factors, and
10.Steidl S M ; How does visual acuity change over time in adults with high
myopia?, Br. J. Ophthalmol. 2006;90;524
11.Saw S-M ; How blinding is pathological myopia?, Br. J. Ophthalmol.
2006;90;525-526
12.Vaughan Daniel, Oftalmologi umum, Edisi 14 cetakan 1, Jakarta, Widya Medika,
2000, p16 – 17.
13.Kline, Lanning B ; Neuro-ophthalmology Review Manual, 5th edition, SLACK
incorporated, 2001, p.135 - 147.
14.Slamovits, Thomas L ; Glaser, Joel S ; The Pupils and Acomodation, Duane’s
Clinical Ophthalmology, Chapter 15, Vol. 2; Revised edition, Lippincot Williams
& Wilkins, 2004 p. 1-5.
15.American academy of Ophthalmology, Basic and Clinical Science Course,
Section 5, Neuro – Ophthalmology, 2004-2005, p.82 - 84.
16.Central Visual Pathway, http://thalamus.wustl.edu/course/cenvis.html.
17.Basic Visual Pathway, http://thalamus.wustl.edu/course/basvis.html.
18.Thall, Edmond H ; Geometrical Optics, Duane’s Clinical Ophthalmology, Chapter
30, Vol. 1; Revised edition, Lippincot Williams & Wilkins, 2004.
19.Paquin, Marie-Pierre; Hamam Habib; Simonet Pierre; Objective Measurement of
Optical Aberrations in Myopic Eyes; Optometry and Vision Science, Vol. 79,
No.5, 2002, 285 - 291.
20.Schmid Klaus ; Myopia Manual, An impartial documentation of all the reason,
therapies and recommendations, Edition February 2007, Pagefree Pub Inc, p.1-