• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Pengaruh Experiential Marketing,Perceived Quality Dan Advertising Terhadap Keputusan Pembelian Produk Luwak White Koffie Pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Sumatera Utara

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Analisis Pengaruh Experiential Marketing,Perceived Quality Dan Advertising Terhadap Keputusan Pembelian Produk Luwak White Koffie Pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Sumatera Utara"

Copied!
120
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

ANALISIS PENGARUH EXPERIENTIAL MARKETING,PERCEIVED QUALITY DAN ADVERTISING TERHADAP KEPUTUSAN

PEMBELIAN PRODUK LUWAK WHITE KOFFIE PADA MAHASISWA FAKULTAS EKONOMI

DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

OLEH

ROMA LAURA SEVTRININGSIH HUTAPEA 110502019

PROGRAM STUDI STRATA-1 MANAJEMEN DEPARTEMEN MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

ABSTRAK

ANALISIS PENGARUH EXPERIENTIAL MARKETING,PERCEIVED QUALITY DAN ADVERTISING TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN PRODUK

LUWAK WHITE KOFFIE PADA MAHASISWA FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS

SUMATERA UTARA

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis Pengaruh Experiential Marketing, Perceived Quality dan Advertising Terhadap Keputusan Pembelian Produk Luwak White KoffiePada Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara. Populasi dalam penelitian ini adalah 62 orang. Data diuji dengan menggunakan metode analisis linier berganda dengan taraf signifikan 5%. Hasil penelitian menunjukan bahwa secara serempak sense, feel, think, act, relate, perceived quality dan advertisingberpengaruh signifikan terhadap Keputusan Pembelian Produk Luwak White KoffiePada Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara. Uji parsial menunjukkan bahwa sense dan act berpengaruh positif dan signifikan terhadap Keputusan Pembelian Produk Luwak White KoffiePada Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara. Berdasarkan perhitungan kofisien determinan (�2) menunjukkan bahwa hubungan antara sense, feel, think, act, relate, perceived quality dan advertising memiliki hubungan yang kuat terhadap Keputusan Pembelian Produk Luwak White KoffiePada Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

(3)

ABSTRACT

ANALYSIS THE EFFECT OF EXPERENTIAL MARKETING, PERCEIVED QUALITY AND ADVERTISING ON THE PURCHASING DECISION OF

LUWAK WHITE KOFFIE ON THE STUDENTS FACULTY OF ECONOMICS AND BUSINESS UNIVERSITY

OF NORTH SUMATRA

This research aims to identify and analyze the influence of experiential marketing, perceived quality and advertising on the purchasing decision of Luwak White Koffie on The Students Faculty of Economics and Business University of North Sumatra. The population in this research are 62 people. Analytical techniques used is multiple linier regression method with significance level of 5%. The result showed that simultaneously sense, feel, think, act, relate ,perceived quality and advertising has significant on the purchasing decision of Luwak White Koffie on The Students Faculty of Economics and Business University of North Sumatra. Partial test showed that sense and act positive and siginificant on on the purchasing decision of Luwak White Koffie on The Students Faculty of Economics and Business University of North Sumatra. Based on the calculation of R-square showed that the relationship between sense, feel, think, act, relate ,perceived quality and advertising variable have a strong link to purchasing decision of Luwak White Koffie on The Students Faculty of Economics and Business University of North Sumatra.

(4)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan berkatnya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi yang merupakan kewajiban dan salah satu syarat dalam memenuhi dan melengkapi Program Studi Strata Satu di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Program Studi Manajemen.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Orangtua penulis ayahanda B.Hutapea dan ibunda H.Hutabaratterkasih yang telah memberikan dukungan doa, materi dan nasehat serta abang dan adekku tersayang yaitu B’Banggas, B’Beres, Maria dan Rizky Hutapea sehingga penulisan skripsi ini dapat berjalan dengan baik. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam penelitian hingga penulisan skripsi ini selesai, kepada :

1. Bapak Prof. Dr. Azhar Maksum,S.E, M.Ec, Ak selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

2. Ibu Dr. Isfenti Sadalia, S.E, M.E, selaku Ketua Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

3. Ibu Dra. Marhayanie, M.Si, selaku Sekretaris Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

4. Ibu Dr. Endang Sulistya Rini, S.E, M.Si, selaku Ketua Program Studi S-1 Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara . 5. Ibu Dra. Friska Sipayung, M.Si selaku sekretaris program studi

(5)

6. Ibu Dr. Beby Karina Fawzeea S, S.E, M.M selaku dosen pembimbing yang telah memberikan pengetahuan dan arahan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

7. Bapak Prof. Dr. Paham Ginting, MS selaku dosen pembaca yang telah memberikan pengarahan dan saran kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

8. Kepada Bapak dan Ibu dosen Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara yang telah mendidik dan memberikan ilmu kepada penulis selama mengikuti perkuliahan serta seluruh staf dan pegawai yang telah membantu selama proses penulisan skripsi ini.

9. Sahabat-sahabat terbaik penulis Fitrina Pardosi, Sartika Hutapea, Sinta Tampubolon, Artina Sitompul, Yetta Tambun, Theresia Purba, Rahel Manurung, Yuni Damanik, Elisabeth Nainggolan, Andri Sibarani, Sumik Sidabutar, K’Dewi Napitupulu, K’Cio Capah, Risky Trisnadian dan Desi Maisary yang telah memberikan dukungan doa, arahan dan semangat.

Medan, Mei2015

Penulis,

(6)

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... viii

DAFTAR GAMBAR ... x

DAFTAR LAMPIRAN ... xi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 8

1.3 Tujuan Penelitian ... 9

1.4 Manfaat Penelitian ... 10

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 11

2.1 Uraian Teoritis ... 11

2.1.1 Experiential Marketing ... 11

2.1.1.1 Sense (Panca Indera) ... 13

2.1.1.2 Feel (Perasaan) ... 14

2.1.1.3 Think (Cara Berpikir) ... 15

2.1.1.4 Act (Tindakan) ... 16

2.1.1.5 Relate (Pertalian) ... 17

2.1.1.6 Karakteristik Experiential Marketing ... 18

2.1.1.7 Manfaat Experiential Marketing ... 19

2.1.2 Perceived Quality ... 20

2.1.3 Advertising ... 22

2.1.3.1 Fungsi Advertising ... 23

2.1.4 Keputusan Pembelian ... 27

2.1.4.1Tahap Pengambilan Keputusan Pembelian ... 29

2.2 Penelitian terdahulu ... 31

2.3 Kerangka konseptual ... 33

2.4 Hipotesis ... 37

BAB III METODE PENELITIAN ... 39

3.1 Jenis Penelitian ... 39

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian ... 39

3.3 Batasan Operasional ... 38

3.4 Defenisi Operasional ... 40

3.5 Skala Pengukuran Variabel ... 41

3.6 Populasi dan Sampel ... 42

3.6.1 Populasi ... 42

3.6.2 Sampel ... 42

3.7 Jenis Data ... 44

(7)

3.9 Uji Validitas dan Reabilitas ... 45

3.9.1 Uji Validitas ... 45

3.9.2 Uji Reabilitas ... 48

3.10 Teknik Analisis Data ... 49

3.10.1 Analisis Statistik Deskriptif ... 49

3.10.2 Uji Asumsi Klasik ... 49

3.10.2.1 Uji Normalitas ... 49

3.10.2.2 Uji Heteroskedatisitas ... 50

3.10.2.3 Uji Multikolinieritas ... 50

3.10.3 Analisis Regresi Linear Berganda ... 50

3.10.4 Pengujian Hipotesis ... 51

3.10.4.1 Uji-t (Uji Parsial) ... 51

3.10.4.2 Uji-F(Uji Simultan) ... 52

3.10.4.3 Koefisien Determinasi (R2) ... 52

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 54

4.1 Gambaran Umum Objek Penelitian ... 54

4.1.1 Sejarah Singkat Luwak White Koffie ... 54

4.1.2 Visi dan Misi Perusahaan ... 56

4.2 Hasil Penelitian ... 56

4.2.1 Analisis Deskriptif... 56

4.2.2.1 Deskriptif Responden ... 57

4.2.2.2 Deskriptif Variabel ... 59

4.2.3 Uji Asumsi Klasik ... 67

4.2.3.1 Uji Normalitas ... 67

4.2.3.2 Uji Heteroskedastisitas ... 70

4.2.3.3 Uji Multikoleniaritas ... 71

4.2.4 Analisis Regresi Linear berganda ... 72

4.2.5 Pengujian Hipotesis dengan Analisis Regresi Linear Berganda ... 76

4.2.5.1 Uji Parsial (Uji t) ... 76

4.2.5.2 Uji-F (Uji Serempak) ... 78

4.2.5.3 Koefisien Determinasi (R) ... 79

4.3 Pembahasan ... 82

4.3.1 Hasil Analisis Deskriptif Hipotesis ... 82

4.3.2 Hasil Analisis Pengujian Hipotesis ... 83

4.3.2.1 Pengaruh Sense Terhadap Keputusan Pembelian Produk ... 83

4.3.2.2 Pengaruh Feel Terhadap Keputusan Pembelian Produk ... 84

4.3.2.3 Pengaruh Think Terhadap Keputusan Pembelian Produk ... 84

4.3.2.4 Pengaruh Act Terhadap Keputusan Pembelian Produk ... 85

(8)

4.3.2.6 Pengaruh Perceived Quality Terhadap

Keputusan Pembelian Produk ... 86

4.3.2.7 Pengaruh AdvertisingTerhadap Keputusan Pembelian Produk ... 87

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 88

5.1 Kesimpulan ... 88

5.2 Saran ... 89

DAFTAR PUSTAKA ... 91

(9)

DAFTAR TABEL

No. Tabel Judul Halaman

1.1 Daftar Perusahaan yang Memproduksi

Kopi Putih (White Coffie) ... 5

2.1 Media Iklan ... 26

2.2 Penelitian Terdahulu ... 32

3.1 Operasionalisasi Variabel ... 40

3.2 Instrumen Skala Likert ... 41

3.3 Uji Validitas Instrumen ... 46

3.4 Hasil Uji Validitas Experiential Marketing ... 47

3.5 Hasil Uji Validitas Perceived Quality ... 47

3.6 Hasil Uji Validitas Advertising ... 48

3.7 Hasil Uji Validitas Keputusan Pembelian ... 48

3.8 Uji Reabilitas ... 49

4.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ... 57

4.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Usia ... 57

4.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Program Studi ... 58

4.4 Karakteristik Responden Berdasarkan Angkatan ... 58

4.5 Distribusi Jawaban Responden Terhadap Variabel Sense ... 59

4.6 Distribusi Jawaban Responden Terhadap Variabel Feel ... 61

4.7 Distribusi Jawaban Responden Terhadap Variabel Think ... 62

4.8 Distribusi Jawaban Responden Terhadap Variabel Act ... 62

4.9 Distribusi Jawaban Responden Terhadap Variabel Relate ... 63

4.10 Distribusi Jawaban Responden Terhadap Variabel Perceived Quality ... 64

4.11 Distribusi Jawaban Responden Terhadap Variabel Advertising ... 65

4.12 Frekuensi Jawaban Responden Terhadap Keputusan Pembelian (Y) ... 66

4.13 Hasil Uji Kolmogorov-Smirnov ... 70

4.14 Uji Multikoleniaritas ... 72

(10)

4.16 Uji Signifikan Parsial (Uji-t) ... 76

4.17 Uji Signifikan Simultan (Uji-F) ... 79

4.18 Koefisien Determinasi�2 ... 80

(11)

DAFTAR GAMBAR

No. Gambar Judul Halaman

2.2 Proses Pengambilan Keputusan Pembelian ... 29 2.2 Kerangka Konseptual ... 36 4.1 Histogram ... 68 4.2 Normal P-Plot Of Regression

(12)

ABSTRAK

ANALISIS PENGARUH EXPERIENTIAL MARKETING,PERCEIVED QUALITY DAN ADVERTISING TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN PRODUK

LUWAK WHITE KOFFIE PADA MAHASISWA FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS

SUMATERA UTARA

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis Pengaruh Experiential Marketing, Perceived Quality dan Advertising Terhadap Keputusan Pembelian Produk Luwak White KoffiePada Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara. Populasi dalam penelitian ini adalah 62 orang. Data diuji dengan menggunakan metode analisis linier berganda dengan taraf signifikan 5%. Hasil penelitian menunjukan bahwa secara serempak sense, feel, think, act, relate, perceived quality dan advertisingberpengaruh signifikan terhadap Keputusan Pembelian Produk Luwak White KoffiePada Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara. Uji parsial menunjukkan bahwa sense dan act berpengaruh positif dan signifikan terhadap Keputusan Pembelian Produk Luwak White KoffiePada Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara. Berdasarkan perhitungan kofisien determinan (�2) menunjukkan bahwa hubungan antara sense, feel, think, act, relate, perceived quality dan advertising memiliki hubungan yang kuat terhadap Keputusan Pembelian Produk Luwak White KoffiePada Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

(13)

ABSTRACT

ANALYSIS THE EFFECT OF EXPERENTIAL MARKETING, PERCEIVED QUALITY AND ADVERTISING ON THE PURCHASING DECISION OF

LUWAK WHITE KOFFIE ON THE STUDENTS FACULTY OF ECONOMICS AND BUSINESS UNIVERSITY

OF NORTH SUMATRA

This research aims to identify and analyze the influence of experiential marketing, perceived quality and advertising on the purchasing decision of Luwak White Koffie on The Students Faculty of Economics and Business University of North Sumatra. The population in this research are 62 people. Analytical techniques used is multiple linier regression method with significance level of 5%. The result showed that simultaneously sense, feel, think, act, relate ,perceived quality and advertising has significant on the purchasing decision of Luwak White Koffie on The Students Faculty of Economics and Business University of North Sumatra. Partial test showed that sense and act positive and siginificant on on the purchasing decision of Luwak White Koffie on The Students Faculty of Economics and Business University of North Sumatra. Based on the calculation of R-square showed that the relationship between sense, feel, think, act, relate ,perceived quality and advertising variable have a strong link to purchasing decision of Luwak White Koffie on The Students Faculty of Economics and Business University of North Sumatra.

(14)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pemasaran saat ini terus berkembang dan berubah, mulai dari konsep pemasaran tradisional menuju konsep pemasaran modern. Perkembangan dunia usaha yang dinamis dan penuh persaingan menuntut perusahaan untuk melakukan perubahan orientasi terhadap cara mereka mengeluarkan produk, mempertahankan produknya, menarik konsumen, dan menangani pesaing. Faktor – faktor seperti meningkatnya jumlah pesaing, kecanggihan teknologi dan meningkatnya edukasi mengenai pemasaran, semakin mempercepat dan memacu para pemasar untuk semakin kreatif memasarkan produknya. Sehingga salah satu hal penting yang perlu dilakukan dan diperhatikan oleh setiap perusahaan adalah menarik pelanggan dan dapat mempertahankan pelanggan tersebut.

Persaingan yang makin semakin ketat juga menuntut perusahaan untuk mengubah strategi pemasarannya. Strategi pemasaran yang dilakukan haruslah sesuai dengan kondisi saat ini yang melingkupi dunia pemasaran. Perusahaan juga harus mampu menanggapi tuntutan konsumen yang terus berubah sesuai dengan kebutuhannya.

(15)

segmen pasar dan target secara baik dan membangun suatu citra yang mendukung untuk memposisikan produk sesuai dengan segmen dan target yang dilayani.

Salah satu upaya yang dilakukan perusahaan yakni melalui konsep Experiential Marketing. Pemikiran Schmitt tentang hubungan antar produk dan konsumennya yang dituangkan dalam buku ExperientialMarketing (EM) memang sudah lama ada, sejak 1999 (http://202.59.162.82/swamajalah). Melalui konsep ini, perusahaan mencoba melibatkan konsumen melalui emosi, perasaan, mendorong mereka untuk berpikir, melakukan tindakan, maupun untuk menjalin komunitas, keberhasilan mengeksekusi lima elemen ini akan membuat merek tertanam lebih dalam di hati konsumen.

Kertajaya (2006:228) menyatakan bahwa konsumen harus bisa merasakan, memikirkan dan bertindak sesuai harapan. Bahkan jika memungkinkan tercipta rasa memiliki terhadap suatu produk atau jasa sehingga akhirnya hal ini menjadi diferensiasi bagi produk atau jasa tersebut .

(16)

Timbulnya suatu perasaan puas dan ingin mengulangi pengalaman yang didapat, inilah yang sekarang banyak diterapkan oleh produsen untuk menghadapi ketatnya persaingan dimana banyak sekali produk sejenis dengan hanya sedikit perbedaan spesifikasi satu sama lain.

Selain diterapkannya experiential marketing, hal penting lain yaitu perceived quality dalam upaya menciptakan dan mempertahankan merek. Menurut Sunarto (2004 : 7) pelanggan biasanya menghadapi sederetan besar produk dan jasa yang dapat memuaskan kebutuhan tertentu, sehingga konsumen membuat pilihan pembelian produk atau jasa berdasarkan persepsi terhadap nilai yang melekat pada berbagai produk dan jasa. Menjaring pelanggan – pelanggan potensial baru agar pelanggan tidak beralih kepada perusahaan lain memerlukan perceived quality untuk membangun kepercayaan merek. Sudah selayaknya produk – produk baru bersaing dengan kondisi pasar dengan upaya peningkatan perceived quality sehingga kebutuhan dan keinginan konsumen dapat dipenuhi.

(17)

Pada hakikatnya, dengan menggunakan iklan kita dapat menciptakan kesadaran akan adanya produk. Itulah sebabnya iklan tidak dapat berdiri sendiri. Promosi penjualan dibutuhkan untuk memicu terjadinya penmbelian. Seorang penjual dibutuhkan untuk memperkenalkan lebih jau keunggulan-keunggulan

produk dan akhirnya untuk menghasilkan penjualan dari produk tersebut (Kotler , 2004 : 2 ) .

Kopi merupakan salah satu minuman yang digemari masyarakat dunia sejak berabad-abad silam. Sampai saat ini kopi merupakan salah satu komoditas minuman yang paling akrab di berbagai lapisan. Pada tahun 2011, 40% dari usia 18-24 tahun mengonsumsi kopi setiap hari, meningkat dari 31% pada tahun 2010 (National Coffee Association, 2011). Konsumsinya yang meluas diberbagai kalangan membuat kopi menarik untuk diteliti. Sebagian orang mengkonsumsi kopi sebagai minuman kegemaran, sedangkan sebagian lagi tidak mengkonsumsi kopi karena khawatir akan efeknya bagi kesehatan.

(18)

Menurut data statistik dari International Coffee Organization pada tahun 2000-2010, konsumsi kopi dunia terus meningkat sebesar 3-4% setiap tahunnya. Di Indonesia sendiri konsumsi masyarakat Indonesia akan kopi meningkat pesat sebesar 98% dalam 10 tahun terakhir. Persaingan bisnis kopi instant yang semakin ketat menjadi tantangan maupun ancaman bagi pelaku usaha tersebut agar dapat memenangkan persaingan, mempertahankan pasar yang dimiliki dan merebut pasar yang sudah ada. Setiap pelaku bisnis kopi instant dituntut untuk mempunyai kepekaan terhadap setiap perubahan yang terjadi, dan mampu memenuhi apa yang diinginkan pelanggan.

Banyaknya jenis kopi yang bermunculan dimana bukan hanya kopi hitam, kopi susu dan sebagainya muncul pula istilah kopi putih. Salah satunya ialahLuwakWhite Koffie. Perkembangan kopi putih yang sedang menjadi trend saat ini membuat para produsen berlomba-lomba untuk menciptakan produk kopi putih.

Tabel 1.1

Daftar Perusahaan yang Memproduksi Kopi Putih (White Coffee) No Nama Perusahaan Brand /Merek

1 PT.Java Prima Abadi Kopi Luwak White Koffie 2 PT.Santos Jaya Abadi ABC White Coffee

3 PT.Mayora Kopiko White Cofeee

4 PT.Santos Jaya Abadi Kapal Api Grande White Coffee Sumber: http// www.kopiluwak.org/2014

(19)

Strategi yang diterapkan produsen kopi instant tidak lagi hanya berada diseputar kualitas kopi, cita rasa kopi, khasiat kopi dan harga. Faktor lain yang sangat penting adalah pembentukan identitas, bagi sebuah kopi identitas meliputi banyak aspek fisik seperti, nama (merek) kopi, desain logo pada bungkus kopi, dan rasa kopi itu sendiri.

Konsumsi kopi Luwak White Koffie juga nampaknya menjadi tren di kalangan pelajar dan mahasiswa Indonesia untuk memberikan stimulasi, menambah energi dan menghilangkan kantuk saat menjelang ujian. Bagi sebagian pecinta kopi Luwak White Koffie , menikmati secangkir kopi mungkin hal yang biasa dilakukan di waktu senggang dan bisa dilakukan di manapun. Namun bagi kalangan mahasiswa, menikmati secangkir Luwak White Koffie hanya bermakna jika dilakukan di warung kopi dan dibarengi dengan diskusi-diskusi kecil. Akan tetapi bagi sebagian mahasiswa pecinta Luwak White Koffie , menikmati kopi di kos dengan racikan sendiri akan terasa berbeda dengan saat mereka menikmati kopi di warung kopi.

(20)

menyebabkan pembengkakan. Namun produk Luwak White Koffie berani memberikan pernyataan bahwa kopi ini dapat dinikmati oleh penikmat kopi untuk menikmati tanpa memikirkan hal – hal yang dapat mengganggu kesehatan dan juga karena proses produksinya yang bersifat natural dengan memanfaatkan sistem pencernaan Luwak maka secara tidak langsung kita telah menjaga kelestarian habitat luwak dan ekosistem di sekitarnya. Pengembangan metode produksi dengan penangkaran Luwak juga secara tidak langsung ikut melestarikan Luwak dan menjaganya dari kepunahan.

Dengan mengetahui tanggapan konsumen tentang keberadaan produk ini melalui panca indera mulai dari kemasan, rasa, hingga memunculkan pemikiran dan tindakan melalui experiential marketing dengan perceived quality bagaimana persepsi konsumen tentang produk ini yang cenderung baru yang nantinya akan memunculkan keputusan pembelian dan dengan adanya advertising bagaimana respon konsumen terhadap produk ini apakah maksud isi pesan dari iklan ini sampai kepada konsumen dengan baik dan akhirnya memutuskan untuk membeli.

Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul: “Analisis Pengaruh Experiential Marketing, Perceived Quality, dan Advertising terhadap Keputusan Pembelian Produk Luwak White Koffie Pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas

(21)

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

1. Apakah Sense berpengaruh terhadap keputusan pembelian produk Luwak White Koffie pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara?

2. Apakah Feel berpengaruh terhadap keputusan pembelian produk Luwak White Koffie pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara?

3. Apakah Think berpengaruh terhadap keputusan pembelian produk Luwak White Koffie pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara?

4. Apakah Act berpengaruh terhadap keputusan pembelian produk Luwak White Koffie pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara?

5. Apakah Relate berpengaruh terhadap keputusan pembelian produk Luwak White Koffie pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara?

(22)

7. Apakah Advertising berpengaruh terhadap keputusan pembelian produk Luwak White Koffie pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh Sense terhadap keputusan pembelian produk Luwak White Koffie pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara

2. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh Feel terhadap keputusan pembelian produk Luwak White Koffie pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara

3. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh Think terhadap keputusan pembelian produk Luwak White Koffie pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara

4. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh Act terhadap keputusan pembelian produk Luwak White Koffie pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara

5. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh Relate terhadap keputusan pembelian produk Luwak White Koffie pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara

(23)

7. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh Advertising terhadap keputusan pembelian produk Luwak White Koffie pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini diharapkan dapat berguna: 1. Bagi Perusahaan

Diharapkan penelitian ini dapat membantu perusahaan untuk menghadapi masalah-masalah yang berhubungan dengan keputusan pembelian konsumen. Mengetahui experiential marketing yang dialami oleh konsumen dengan adanya produk Luwak White Koffie, mengetahui perceived quality yang berada dalam benak konsumen tentang produk Luwak White Koffie dan mengetahui advertising produk Luwak White Koffie diterima konsumen dengan baik atau tidak.

2. Bagi Peneliti Lain

Sebagai masukan, referensi, dan bahan perbandingan bagi peneliti lain dalam melakukan penelitian selanjutnya.

3. Bagi Peneliti

(24)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Uraian Teoritis

2.1.1 Experiential Marketing

Experiential Marketing berasal dari dua kata yaitu Experiential dan Marketing. Sedangkan Experiential sendiri berasal dari kata experience yang berarti sebuah pengalaman. Experiential marketing merupakan sebuah pendekatan untuk memberikan informasi yang lebih dari sekedar informasi mengenai sebuah produk atau jasa.Experiential marketing lahir pada akhir tahun 90-an. Konsep ini digagas pertama kali oleh Schmitt yang memadukan elemen-elemen seperti sense, feel, think, act dan relate yang kemudian dipadatkan menjadi experiential marketing. Konsep ini tidak saja mengandalkan fitur dan benefit, tapi menyuguhkan diferensiasi unik berupa pengalaman (experience) mengesankan dalam ingatan konsumen.

(25)

Kotler (2004: 72) menyatakan bahwa Experiential marketing atau pengalaman atas pemasaran adalah bagaimana mendesain pengalaman-pengalaman dan menambahkannya di seputar barang-barang dan jasa yang kita hasilkan sedangkan Thejasukmana dan Sugiharto (2014: 2) menyatakan bahwa fokus utama dari suatu experiential marketing adalah pada tanggapan panca indra, pengaruh, tindakan serta hubungan. Oleh karena itu suatu badan usaha harus dapat menciptakan experential brands yang dihubungkan dengan kehidupan nyata dari konsumen. Tujuan dari pemasaran yang menjual pengalaman-pengalaman ini adalah untuk menambahkan drama dan hiburan. Industri dan kondisi pasar yang semakin berkembang dan bermacam – macam seperti sekarang ini, telah mengubah cara pandang terhadap suatu pemasaran kearah experiential marketing untuk mengembangkan produknya, berkomunikasi dengan konsumen, membangun hubungan penjualan dan membangun lingkungan pemasaran yang baik.

(26)

Andreani (2007:3) menyatakan bahwa pengalaman merupakan sebuah alat yang membedakan produk atau jasa sehingga dapat disimpulkan bahwa experiential marketing merupakan kemampuan dari suatu produk dalam menawarkan pengalaman emosi sehingga menyentuh hati dan perasaan konsumen.

2.1.1.1Sense (Panca Indra)

Sense marketing dalam konteks experiential marketing adalah menciptakan pengalaman sensory terhadap suatu objek melalui kelima panca indra : penglihatan, penciuman, perasa, pendengaran, dan peraba. Sense marketing ini bagi konsumen, berfungsi untuk mendiferensiasikan suatu produk dari produk yang lain, untuk memotivasi pembeli untuk bertindak, dan untuk membentuk value pada produk atau jasa dalam benak pembeli.

(27)

Terdapat tiga tujuan dari panca indera senses marketing yaitu: 1. Panca indera sebagai pendiferensiasi

Sebuah organisasi dapat menggunakan sense marketing untuk mendiferensiasikan produk organisasi dengan produk pesaing didalam pasar, memotivasi pelanggan untuk membeli produknya, dan mendistrisbusikan nilai kepada konsumen.

2. Panca indera sebagai motivator

Penerapan unsur sense dapat memotivasi pelanggan untuk mencoba produk dan membelinya.

3. Panca indera sebagai penyedia nilai

Panca indera juga dapat menyediakan nilai yang unik kepada konsumen. 2.1.1.2Feel (Perasaan)

Feel berhubungan dengan suasana hati dan perasaan berhubungan dengan perasaan yang paling dalam dan emosi pelanggan. Feel marketing adalah suatu strategi dan implementasi untuk memberikan pengaruh kepada perusahaan dan merek melalui pemberian pengalaman untuk menjadi berhasil.

(28)

Feel marketing inisering digunakan untuk membangun emosi pelanggan secara perlahan. Ketika pelanggan merasa senang terhadap produk yang ditawarkan perusahaan, pelanggan akan menyukai produk dan perusahaan. Sebaliknya, ketika pelanggan merasa tidak senang terhadap produk yang ditawarkan perusahaan, maka konsumen akan meninggalkan produk tersebut dan beralih kepada produk lain.

Jika sebuah strategi pemasaran dapat menciptakan perasaan yang baik secara konsisten bagi pelanggan, maka perusahaan dapat menciptakan loyalitas merek yang kuat dan bertahan lama. Dalam mengatur feel ini pemasar harus mempertimbangkan mood dan emosi pelanggan sesuai dengan keingginannya. 2.1.1.3Think (Cara Berpikir)

Perusahaan berusaha untuk menantang konsumen, dengan cara memberikan problem-solvingexperiences, dan mendorong pelanggan untuk berinteraksi secara kognitif dan atau secara kreatif dengan perusahaan atau produk. Objek dari think marketing adalah untuk mendorong pelanggan untuk menggunakan pemikiran yang kreatif .

Intisari dari think marketing adalah untuk menyerukan kepada konsumen pemikiran yang kreatif tentang suatu perusahaan dan mereknya. Tujuannya adalah mendorong konsumen sehingga tertarik dan berpikir secara kreatif sehingga mungkin dapat menghasilkan evaluasi kembali mengenai perusahaan dan merek tersebut.

(29)

1. Kejutan (surprise)

Kejutan merupakan suatu hal yang penting dalam membangun pelanggan agar mereka terlibat dalam cara berpikir yang kreatif. Kejutan dihasilkan ketika pemasar memulai dari sebuah harapan. Kejutan harus bersifat positif, yang berarti pelanggan mendapatkan lebih dari yang mereka minta, lebih menyenangkan dari yang mereka harapkan, atau sesuatu yang sama sekali lain dari yang mereka harapkan yang pada akhirnya dapat membuat pelanggan merasa senang.

Dalam experiential marketing, unsur surprise menempati hal yang sangat penting karena dengan pengalaman-pengalaman yang mengejutkan dapat memberikan kesan emosional yang mendalam dan diharapkan dapat terus membekas di benak konsumen dalam waktu yang lama.

2. Memikat (intrigue)

Jika kejutan berangkat dari sebuah harapan, intrigue campaign mencoba membangkitkan rasa ingin tahu pelanggan, apa saja yang memikat pelanggan. Namun, daya pikat ini tergantung dari acuan yang dimiliki oleh setiap pelanggan. Terkadang apa yang dapat memikat seseorang dapat menjadi sesuatu yang membosankan bagi orang lain, tergantung pada tingkat pengetahuan, kesukaan, dan pengalam pelanggan tersebut.

(30)

Provokasi dapat menimbulkan sebuah diskusi, atau menciptakan sebuah perdebatan. Provokasi dapat beresiko jika dilakukan secara tidak baik dan agresif.

2.1.1.4Act (Tindakan)

Act merupakan pengalaman pelanggan yang berhubungan dengan fisik, perilaku jangka panjang dan gaya hidup serta pengalaman yang terjadi sebagai hasil dari interaksi dengan orang lain. Act berhubungan dengan keseluruhan individu yaitu pikiran dan tubuh untuk meningkatkan hidup dan gaya hidupnya dimana gaya hidup sendiri merupakan pola perilaku individu dalam hidup yang direfleksikan dalam tindakan, minat dan pendapat.

Pesan-pesan yang memotivasi, menginspirasi dan bersifat spontan dapat menyebabkan pelanggan untuk berbuat hal-hal dengan cara yang berbeda, mencoba dengan cara yang baru merubah hidup mereka lebih baik. Act experience yang berupa gaya hidup dapat diterapkan dengan menggunakan trend yang sedang berlangsung atau mendorong terciptanya trend budaya baru. Tujuan dari act marketing adalah untuk memberikan kesan terhadap pola perilaku dan gaya hidup, serta memperkaya pola interaksi sosial melalui strategi yang dilakukan. 2.1.1.5Relate (Pertalian)

(31)

yang lebih luas dan abstrak (misalnya negara, masyarakat, budaya). Tujuan dari relate adalah menghubungkan konsumen tersebut dengan budaya dan lingkungan sosial yang dicerminkan oleh merek suatu produk

Perusahaan dapat menciptakan relate antara pelanggannya dengan kontak langsung baik telepon maupun kontak fisik, diterima menjadi salah satu bagian dalam kelompok atau menjadi member sehingga membuat konsumen menjadi senang atau tidak segan untuk datang kembali Sebaliknya bila hal tersebut tidak terjadi dalam arti konsumen merasa terabaikan, maka konsumen akan berfikir ulang untuk datang kembali..

2.1.1.6Karakteristik Experiential Marketing

Experiential marketing memiliki beberapa karakteristik yaitu sebagai berikut:

1. Fokus pada pengalaman konsumen

Experiential marketing berfokus pada pengalaman terjadi sebagai hasil dari interaksi atau suatu peristiwa yang menstimulasi panca indra, hati dan pikiran. Secara keseluruhan, pengalaman merangsang panca indra, emosi, kognitif, tingkah laku dan nilai hubungan yang mengakibatkan nilai fungsional.

2. Menguji situasi konsumen

(32)

produk adalah kunci untuk menumbuhkan kepuasan konsumen dan loyalitas terhadap suatu merek.

3. Mengenali aspek rasional dan emosional sebagai pemicu dari konsumsi Bagi para experiential marketing, konsumen adalah sosok emosional seperti halnya sosok rational, artinya walaupun konsumen pada waktu tertentu membuat keputusan atau pilihan secara rasional tetapi mereka juga memiliki dorongan dan keinginan secara emosi seperti kepekaan, hasrat, aktualisasi diri, fantasi dan lain – lainnya.

4. Metode dan perangkat bersifat elektrik

Metode yang digunakan dalam experiential marketing adalah electeric (tidak semata analitikal kuantitatif tetapi bervariasi dan multiaset). Dengan kata lain experiential marketing tidak terikat pada ideologi metode tertentu. Experiential marketing dapat bermanfaat untuk digunakan dalam berbagai situasi termasuk :

a. Meningkatkan kinerja perusahaan

b. Mendiferensiasikan produk dan jasa dari perusahaan pesaing c. Menciptakan image dan identitas perusahaan

d. Mempromosikan inovasi

e. Membujuk konsumen untuk mencoba, membeli, dan yang paling penting adalah menjadikan mereka loyal.

2.1.1.7Manfaat Experiential Marketing

(33)

experiential marketing dapat mencipatkan konsumen yang loyal, konsumen mencari perusahaan dan merek tertentu untuk dijadikan bagian dari hidup mereka. Experiential marketing dapat dimanfaatkan secara efektif apabila diterapkan pada beberapa situasi tertentu .

Manfaat lain yang disampaikan oleh Rini (2009: 17) dari jurnalnya yang berjudul Menciptakan Pengalaman Konsumen dengan Experiential Marketing yaitu:

a. Membuat konsumen puas

b. Meningkatkan merek pada tahap penurunan c. Mendeferensiasi produk

d. Menciptakan sebuah citra dan image perusahaan e. Meningkatkan inovasi

f. Membujuk pelanggan agar melakukan pembelian Mencipatakan pelanggan yang loyal

2.1.2 Perceived Quality

Menurut Kotler dan Keller (2008:228) dalam pemasaran persepsi lebih penting daripada realitas, karena persepsi itu yang akan mempengaruhi perilaku aktual konsumen. Pendapat Kotler dan Keller bahwa persepsi mempengaruhi bagaimana seorang memutuskan untuk menggunakan suatu produk atau jasa yang ditawarkan oleh perusahaan. Persepsi bukan hanya proses psikologis semata, tetapi diawali dengan proses fisiologis yang dikenal sebagai sensasi.

(34)

pelanggan terhadap kualitas dari merek yang dimiliki maka perusahaan dapat menentukan langkah-langkah apa yang dapat diambil guna memperkuat persepsi pelanggan terhadap merek yang dimiliki oleh perusahaan tersebut.

Menurut Aaker dalam Situmorang (2011:201) perceived quality adalah persepsi pelanggan terhadap keseluruhan kualitas atau keunggulan suatu produk atau jasa layanan berkaitan dengan apa yang diharapkan oleh pelanggan. Persepsi terhadap kualitas produk mengakibatkan seorang niat atau tidak dalam mengkonsumsi suatu produk karena persepsi kualitas produk merupakan salah satu pertimbangan konsumen dalam menggunakan produk yang nantinya dapat memberikan manfaat yang diinginkan setiap konsumen.

Persepsi seseorang terhadap suatu produk dapat berbeda beda,hal ini disebabkan oleh adanya proses seleksi terhadap berbagai stimulus yang ada. Pada hakekatnya persepsi akan berhubungan dengan perilaku seseorang dalam mengambil keputusan terhadap apa yang dikehendaki. Karena persepsi kualitas merupakan persepsi konsumen maka dapat diramalkan jika persepsi kualitas pelanggan negatif, produk tidak akan disukai dan tidak akan bertahan lama dipasar. Sebaliknya, jika persepsi kualitas positif maka produk akan disukai. Salah satu cara untuk mengetahui perilaku konsumen adalah dengan menganalisis persepsi konsumen terhadap produk. Dengan persepsi konsumen kita dapat mengetahui hal-hal apa saja yang menjadi kekuatan, kelemahan, kesempatan ataupun ancaman bagi produk kita.

(35)

consumers.The basis selected for segmenting a market is a key factor in providing a firm with a strategic advantage over its competitors.” ( Kualitas produk yang dirasakan dapat juga digunakan oleh pemasar sebagai kriteria segmentasi untuk mengidentifikasi kelompok homogen konsumen. Dasar yang dipilih untuk segmentasi pasar merupakan faktor kunci dalam memberikan perusahaan keuntungan dan strategi atas pesaingnya.)

Aaker dalam Situmorang (2011: 201) membagi persepsi kualitas kedalam enam dimensi yakni:

1. Kinerja yaitu melibatkan berbagai karakteristik operasional utama

2. Pelayanan yaitu mencerminkan kemampuan memberikan pelayanan pada produk tersebut

3. Ketahanan yaitu mencerminkan umur ekonomis dari produk tersebut 4. Kehandalan yaitu konsistensi dari kinerja yang dihasilkan suatu produk

dari suatu pembelian ke pembelian berikutnya

5. Karakteristik produk yaitu bagian-bagian tambahan dari produk (feature),seperti remote control sebuah video ,tape deck,sistem WAP untuk telepon genggam

6. Kesesuaian dengan spesifikasi yaitu pandangan mengenai spesifikasi yang telah ditentukan dan teruji

2.1.3 Advertising

(36)

mengimplementasikan dan mempromosikan ide, barang atau jasasecara non personal oleh sponsor yang jelas.

Kotler dan Armstrong (2008: 117) mengatakan bahwa iklan adalah semua bentuk terbayar presentasi nonpribadi dan promosi ide, barang, atau jasa dengan sponsor tertentu.

Dengan demikian periklanan adalah :

1. Merupakan alat komunikasi pemasaran produk maupun jasa yang dibayar oleh sponsor khusus dengan cara mempresentasikan dan mempromosikan ide, barang, jasa secara non personal.

2. Rancangan pesan khusus dan disampaikan melalui sarana media (pers, radio, televisi, dan lain – lain) yang bertujuan untuk melakukan tindakan pembelian suatu produk maupun jasa.

2.1.3.1 Fungsi Periklanan

Fungsi-fungsi periklanan menurut (Lee dan Johson, 2007 : 10-11) antara lain:

1. Periklanan menjalankan sebuah fungsi “informasi” seperti mengomunikasikan informasi produk, ciri-ciri, dan lokasi penjualannnya. 2. Periklanan menjalankan sebuah fungsi “ persuasif” seperti mencoba

membujuk para konsumen untuk membeli merek-merek tertentu tau mengubah sikap mereka terhadap produk atau perusahaan tertentu.

(37)

Setiap iklan dirancang guna mencapai sasaran tertentu. Sasaran periklanan bisa ditentukan berdasarkan klasifikasi apakah tujuan periklanan bermaksud menginformasikan, membujuk atau hanya mengingatkan saja. Kotler (2004 : 4-6) terdapat 5 M yang dianut dalam dunia periklanan yaitu:

a. Mission

Mission atau misi dari iklan dapt berupa salah satu empat hai yaitu memberi informasi, mengajak, mengingatkan, atau mendorong terjadinya keputusan untuk membeli suatu produk

b. Message

Message atau pesan yang dibawa oleh iklan itu harus dapat mengkomunikasikan nilai lebih yang dimiliki suatu produk baik dengan menggunakan kata-kata maupun dengan gambar.

c. Media

Media harus dipilih berdasarkan kemampuannya menggapai target pasar yang efektif tanpa mengabaikan segi biayanya.

Di samping media-media yang sudah lazim, seperti surat kabar, majalah, radio, televisi, billboard (papan iklan), banyak sekali sumber-sumber media terbaru seperti e-mail, fax, telemarketers, majalah digital, iklan in-store.

d. Money

(38)

memperhitungkan tagihan yang harus dibayar oleh perusahaan atas ongkos pembuatan iklan tersebut dan biaya-biaya lain.

e. Measurement

Measurement atau tolok ukur keberhasilan suatu iklan. Kampanye iklan suatu produk membutuhkan premeasurement dan postmeasurement (pengukuran pra dan pasca kampanye).

Klasifikasi periklanan menurut (Lee dan Johson, 2007 : 4-10) antara lain: a. Periklanan Produk

Porsi utama pengeluaran periklanan dibelanjakan untuk produk seperti presentasi dan promosi produk-produk baru, produk-produk yang ada dan produk-produk hasil revisi.

b. Periklanan Eceran

Berlawanan dengan iklan produk, periklanan eceran bersifat lokal dan berfokus pada toko, tempat dimana bergam produk dapat dibeli atau dimana jasa ditawarkan.

c. Periklanan Korporasi

Fokus periklnana ini adalah membangun identitas korporasi atau untuk mendapatkan dukungan publik terhadap sudut pandang organisasi.

d. Periklanan Bisnis ke Bisnis

(39)

e. Periklanan Direktori

Orang merujuk periklanan direktori untuk menemukan cara membeli sebuah produk atau jasa.

f. Periklanan Respon Langsung

Periklanan respon langsung melibatkan komunikasi dua-arah di antara pengiklan dan konsumen. Periklanan tersebut dapat menggunakan sembarang media periklanan (pos, televisi, koran atau majalah) dan konsumen dapat menanggapinya ,seringkali lewat pos, telepon, atau faks. g. Periklanan Pelayanan Masyarakat

Periklanan pelayanan masyarakat dirancang untuk beroperasi demi kepentingan masyarakat dan mempromosikan kesejahteraan masyarakat.. h. Periklanan Advokasi

Periklanan advokasi berkaitan dengan penyebaran gagasan-gagasan dan klarifikasi isu sosial yang kontroversial dan menjadi kepentingan masyarakat .

[image:39.595.118.528.597.757.2]

Menurut Kotler dan Amstrong (2004:652), terdapat berbagai media iklan beserta keunggulan dan kelemahan dari masing – masing media tersebut :

Tabel 2.1 Media Iklan

Media Kelebihan Kelemahan

Surat kabar Fleksibilitas ; ketepatan waktu; peliputan pasar lokal bagus, penerimaan luas, sangat dipercaya

Umur pendek; mutu reproduksi rendah; sedikit pembaca selain pembelinya

Televisi Peliputan pasar massal bagus; biaya rendah pertayangan; kombinasi suara,

(40)

Sumber: Kotler dan Amstrong (2004:652) 2.1.4 Keputusan Pembelian

[image:40.595.117.526.111.556.2]

Pemahaman mengenai keputusan pembelian konsumen meliputi bagaimana individu, kelompok, dan organisasi memilih, membeli, menggunakan dan tidak menggunakan barang atau jasa. Memahami konsumen tidaklah mudah karena setiap konsumen memutuskan pembelian tertentu yang berbeda-beda dan sangat bervariasi. Secara umum, banyak hal yang mempengaruhi keputusan

gambar penayangan terlalu

sebentar; selektivitas pemirsa lebih kecil

Pos Langsung

Selektivitas pemirsa tinggi; fleksibilitas; tidak ada kompetisi dengan medium yang sama; meungkinkan personalisasi

Harga per paparannya relative mahal

Radio Penerimaan lokal bagus; selektivitas geografis dan demografis tinggi; biaya rendah

Suara saja; paparan terlalu sebentar; perhatian rendah

Majalah Selektivitas geografis dan demografis tinggi; kredibilitas dan presetise; reproduksi bermutu tinggi; umur panjang dan banyak

pembaca selain pembelinya

Tenggang waktu pembelian iklan lama; harga mahal; tidak ada jaminan posisi

Alam terbuka

Fleksibilitas; paparan yang kerap berulang; biaya rendah; selektivitas posisi bagus

Selektivitas audiens kecil; pembatasan kreatif

Internet Selektivitas tinggi; harga murah; segera; kemampuan interaktif

(41)

pembelian yang dilakukan oleh konsumen. Tingkat keterlibatan konsumen dalam pembelian sangat dipengaruhi oleh kepentingan personal yang ditimbulkan serta dirasakan oleh stimulus. Berbagai upaya dilakukan perusahaan agar bisa memiliki daya tarik yang kuat tertancap di pikiran konsumen dan pada akhirnya dapat meraih pangsa pasar yang luas sehingga mampu bersaing dengan kompetitor lain.

Proses pengambilan keputusan sebagai aktivitas penting dalam perilaku konsumen perlu dipahami untuk merumuskan strategi pemasaran yang tepat yang mampu memperngaruhi setiap tahapan proses pengambilan keputusan yang berlangsung. Keputusan pembelian barang atau jasa seringkali melibatkan dua pihak atau lebih .

Menurut Suryani ( 2008: 13) umumnya ada lima peran yang terlibat antara lain: 1. Pemrakarsa yaitu orang yang pertama kali menyarankan ide untuk

membeli suatu barang atau jasa

2. Pembawa pengaruh yaitu orang yang memiliki pandangan atau nasehat yang mempengaruhi keputusan pembelian

3. Pengambil keputusan yaitu orang yang menentukan keputusan pembelian 4. Pembeli yaitu orang yang melakukan pembelian secara nyata

5. Pemakai yaitu orang yang mengkonsumsi dan menggunakan barang atau jasa yang dibeli

(42)

2.1.4.1 Tahap Pengambilan Keputusan Pembelian

[image:42.595.119.546.137.209.2]

Sumber : Kotler dan Keller (2009:185)

Gambar 2.1 Tahap Pengambilan Keputusan

Tahap – tahap pengambilan keputusan pembelian tersebut menurut (Kotler dan Keller, 2009: 185-190) sebagai berikut:

1. Pengenalan masalah

Proses pembelian dimulai pada saat pembeli mengenali sebuah masalah atau kebutuhan. Pengenalan kebutuhan ini ditujukan untuk mengetahui adanya kebutuhan dan keinginan yang belum terpenuhi dan terpuaskan. Pemasar perlu mengidentifikasi keadaan yang memicu kebutuhan tertentu. Kotler (2009:235) mengatakan bahwa dengan mengumpulkan informasi sejumlah konsumen pemasar dapat mengidentifikasi rangsangan yang paling sering membangkitkan minat akan suatu kategori produk. Jika kebutuhan tersebut diketahui, maka konsumen akan segera dipenuhi atau masih bisa ditunda pemenuhannya, serta kebutuhan yang sama-sama harus segera dipenuhi.

2. Pencarian informasi

Konsumen yang terangsang kebutuhannya akan terdorong untuk mencari informasi lebih banyak. Melalui pengumpulan informasi, konsumen mengetahui tentang merek- merek yang ada dan keistimewaan dari setiap merek tersebut.

Pengenalan masalah

Perilaku Pasca pembelian Keputusan

Pembelian Evaluasi

Alternatif Pencarian

(43)

3. Evaluasi alternatif

Beberapa konsep dasar akan membantu dalam memahami proses evaluasi konsumen. Kotler (2009 : 237) menyatakan evaluasi alternatif merupakan proses dimana suatu alternatif pilhan disesuaikan dan dipilih untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Kotler (2009 : 238) evaluasi sering mencerminkan keyakinan dan sikap. Melalui bertindak dan belajar, orang mendapatkan keyakinan dan sikap. Keyakinan (relief) adalah gambaran pemikiran yang dianut seseorang tentang gambaran sesuatu. Keyakinan orang tentang produk atau merek mempengaruhi keputusan pembelian mereka. Sedangkan yang tak kalah pentingnya adalah sikap. Sikap (attitude) adalah evaluasi, perasaan emosi dan kecenderungan tindakan yang menguntungkan atau tidak menguntungkan dan bertahan lama pada seseorang terhadap objek atau gagasan tertentu.

4. Keputusan pembelian

Pada saat hendak memutuskan pilhan pembeliannya, terdapat dua faktor pembelian. Faktor pertama adalah sikap orang lain mengurangi alternatif yang disukai seseorang akan bergantung pada dua hal yaitu: intensitas sikap negatif orang lain terhadap alternatif yang disukai konsumen untuk motivasi konsumen untuk menuruti keinginan orang lain. Faktor kedua ialah faktor situasi yang tidak terantisipasi yang dapat muncul dan mengubah niat pembelian.

(44)

metode pembayaran. Dalam pembelian produk seharihari keputusannya lebih kecil dan kebebasannya juga lebih kecil .

5. Perilaku pasca pembelian

Setelah membeli produk, konsumen mengalami level kepuasan atau ketidakpuasan tertentu. Para pemasar harus memantu kepuasan pasca pembelian, tindakan pasca pembelian dan pemakaian produk pasca pembelian. Kepuasan atau ketidakpuasan konsumen terhadap suatu produk akan mengalami perilaku selanjutnya. Jika konsumen puas, ia akan menunjukan loyalitas produk tersebut lebih tinggi.

Para pelanggan yang tidak puas akan beraksi sebaliknya. Kepuasan pembelian adalah fungsi dari seberapa sesuainya harapan pembeli produk dengan kinerja yang dipikirkan pembeli atas produk tersebut .

(45)
[image:45.595.66.545.162.708.2]

2.2 Penelitian Terdahulu

Tabel 2.2 Penelitian Terdahulu Nama

Peneliti

Judul Penelitian Variabel Penelitian Teknis Analisis Hasil Penelitian Raissa Andrawina (2013) Analisis Pengaruh Experiential Marketing, Perceived

Quality dan

Advertising Terhadap Keputusan Pembelian Pada ProdukLuwak White Koffie(Studi Kasus Pada Komunitas

Pecinta Kopi Noesantara)

Experiential Marketing (�1), Perceived Quality(�2), Advertising (�3)

Keputusan Pembelian (Y) Analisis Deksriptif dan Analisis Regresi Linier Berganda

Variabel experiential marketing, dan advertising berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian sedangkan variabel perceived quality secara

parsial tidak signifikan terhadap keputusan pembelian Fidiah Ramadhani (2012) Pengaruh Variabel Harga, Iklan dan KualitasTerhadap

Keputusan Pembelian Minuman Kemasan Merek Teh Botol Sosro di Desa Somoroto Kecamatan Kauman Kabupaten Ponorogo

Harga (�1), Iklan (�2), Kualitas (�3) Keputusan Pembelian (Y) Analisis Deksriptif dan Analisis Regresi Linier Berganda

Dari hasil penelitian diketahui bahwa variabel harga (X1), Iklan (X2), dan kualitas (X3) mempunyai pengaruh yang signifikan

terhadap keputusan pembelian minuman kemasan merek teh botol sosro pada masyarakat desa Somoroto Darma Kusuma (2012) Analisis Pengaruh Ekuitas Merek Terhadap Keputusan

Pembelian Konsumen Minuman Isotonik Pocari Sweat (Studi pada Mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro

Semarang)

Kesadaran Merek(�1),A sosiasi Merek(�2), Persepsi Kualitas (�3)Loyalita s Merek (�4)Keputus an Pembelian (Y) Analisis Deksriptif dan Analisis Regresi Linier Berganda

(46)

Almira Yusrina (2012) Analisis Pengaruh Harga dan Experiential

Marketing terhadap Keputusan

Pembelian dan dampaknya terhadap Loyalitas Pelanggan pada PT.Danapaint Jakarta (Studi Kasus di Mitra 10 Jakarta)

Harga (�1) Experiential Marketing (�2) Keputusan Pembelian (Y) Analisis Deksriptif dan Analisis Regresi Linier Berganda Dalam penelitiannya Variabel Harga (�1 )dan Experiential

Marketing ( �2 ) menunjukan adanya kontribusi yang signifikan tehadap Keputusan Pembelian secara simultan.

Secara Parsial, Variable Experiential Marketing tidak menunjukan adanya kontribusi yang signifikan terhadap Keputusan Pembelian Yusuf Kurniawan (2010) Analisis Pengaruh Ekuitas Merek terhadap Keputusan Pembelian Konsumen (Studi pada Konsumen Minuman Isotonik Fatigon Hydro di Purwokerto)

Kesadaran

Merek(�1),Asosiasi Merek(�2),Persepsi Kualitas

(�3)Loyalitas Merek

(�4)Keputusan Pembelian (Y) Analisis Deksriptif dan Analisis Regresi Linier Berganda

Hasil uji F dan uji-t menunjukan bahwa keempat variable independen yaitu Kesadaran Merek, Asosiasi Merek, Persepsi Kualitas, dan Loyalitas Merek berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian

2.3 Kerangka Konseptual

Experiential marketing secara keseluruhan sangat efektif dalam mempengaruhi persepsi atas sebuah merek (brand perception) dan keputusan pembelian (purchasing decision), experiential marketing mampu memberikan pengalaman yang kuat terhadap produk sehingga dapat menjadi informasi untuk mengambil keputusan pembelian Andreani (2007:4 ).

(47)

tersebut. Feel marketing juga adalah penting karena ketika pelanggan mengalami feel good, dia akan melakukan keputusan pembelian terhadap suatu produk dan sebaliknya.Aspek think dapat dibangun melalui kejutan, kejutan harus bersifat positif, yang berarti pelanggan mendapatkan lebih dari yang mereka minta, lebih menyenangkan dari yang mereka harapkan, atau sesuatu yang sama sekali lain dari yang mereka harapkan yang pada akhirnya dapat membuat pelanggan merasa senang membeli produk.

Act marketing bertujuan untuk menciptakan pelanggan untuk merubah perilaku dan gaya hidup pelanggaan. Act memperlihatkan kepada pelanggan suatu alternatif lain untuk berbuat sesuatu seperti melakukan pembelian.Terakhir , relate marketing merupakan seseorang dan kelompok referensinya yang dapat berinteraksi, berhubungan, dan berbagi kesenangan yang sama untuk melakukan keputusan pembelian .

Andreani (2007: 3) berpendapat bahwa relate berkaitan dengan budaya seseorang dan kelompok referensinya yang dapat menciptakan identitas sosial. Seorang pemasar harus mampu menciptakan identitas sosial (generasi, kebangsaan, etnis) bagi pelanggannya dengan produk atau jasa yang ditawarkan, agar dapat membuat konsumen merasa senang melakukan keputusan pembelian.

(48)

keputusan pembelian, dimana semakin besar penilaian konsumen terhadap aspek dari experiential marketing berarti semakin besar pula konsumen akan membeli produk atau jasa yang ditawarkan perusahaan.

Persepsi kualitas yang baik akan mendorong keputusan pembelian terhadap produk tersebut. Selanjutnya mengingat persepsi konsumen dapat diramalkan maka jika persepsi kualitasnya negatif, produk tidak akan disukai dan tidakakan bertahan lama di pasar. Sebaliknya, jika persepsi kualitas pelanggan positif maka produk akan disukai.

Menurut Monle dan Johson ( 2007 : 3 ), periklanan adalah komunikasi komersil dan nonpersonal tentang sebuah organisasi dan produk-produknya yang ditransmisikan ke suatu khayalak target melalui media bersifat massal seperti televisi, radio, koran, majalah, direct mail (pengeposan langsung) ,reklame luar ruang, atau kendaraan umum.

(49)
[image:49.595.132.502.200.589.2]

Gambar 2.2 Kerangka Konseptual Sense

Perceived Quality

Advertising

Keputusan Pembelian Y Feel

Think

Act

(50)

2.4 Hipotesis

Berdasarkan perumusan masalah yang telah dikemukakan diatas,maka hipotesis dari penelitian ini adalah:

1. Sense berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian produk Luwak White Koffie pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

2. Feel berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian produk Luwak White Koffie pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

3. Think berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian produk Luwak White Koffie pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

4. Act berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian produk Luwak White Koffie pada Mahasiswa FEB USU.

5. Relate berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian produk Luwak White Koffie pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

(51)
(52)

BAB III

METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian

Penelitian ini termasuk penelitian asosiatif, yaitu penelitian yang menghubungkan dua variabel atau lebih untuk mempelajari, mendeskripsi, mengungkapkan dan melihat pengaruh antar variabel yang terumus pada hipotesis penelitian (Sugiyono, 2012:100). Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif. Pendekatan kuantitatif adalah pendekatan yang di dalam usulan penelitian, proses, hipotesis, analisis data, dan kesimpulan data sampai dengan penulisannya menggunakan aspek pengukuran, perhitungan, rumus dan kepastian data numerik (Ginting dan Situmorang, 2008: 76).

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan terhadap mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.Waktu penelitian dimulai dari bulan Februari sampai dengan bulan April 2015.

3.3 Batasan Operasional

Agar penelitian dapat lebih terarah dan terfokus, maka dilakukan pembatasan pembatasan dalam variabel yang diteliti.Penelitian ini dibatasi pada: a. Variabel bebas (X), yaitu experiential marketing ( sense X1, ) , ( feel X2, ) ,

( think X3, ) , ( act X4, ) , ( relate X5, ) , perceived quality (X6) dan advertising (X7).

(53)

3.4 Definisi Operasional

Tabel 3.1

Operasionalisasi Variabel

Variabel Definisi Operasional Indikator Skala Pengukuran Sense

(�1)

Menciptakan

pengalaman sensory terhadap produk Luwak White Koffie melalui panca indra 1. Penglihatan 2. Pendengaran 3. Penciuman 4. Perasa 5. Peraba Likert Feel (�2)

Perasaan dan emosi

konsumen atas pengalaman setelah

mengkomsumsi Luwak WhiteKoffie

1. Suasana hati 2. Emosi jiwa

Likert

Think (�3)

Pemikiran konsumen untuk berfikir kreatif dan terus tertarik mengkonsumsi produk Luwak White Koffie

1. Citra positif terhadap produk 2. Penilaian akan

produk

Likert

Act (�4)

Menciptakan

pengalaman konsumen akan produk Luwak White Koffie dalam hubungannya dengan physical body, lifestyle, dan interaksi dengan orang lain

1. Perilaku yang nyata

2. Gaya hidup

Likert

Relate (�5)

Gabungan seluruh aspek, sense, feel, think, dan act serta menitik beratkan hubungan pelanggan dengan produk Luwak White Koffie

1. Hubungan Sosial konsumen

2. Memiliki

informasi melalui media sosial yang bisa diakses oleh pelanggan

Likert

Perceived Quality (6)

(54)

Advertising (�7)

Alat komunikasi pemasaran dari produk Luwak White Koffie yang disampaikan melalui sarana media periklanan

1. Informasi yang jelas tentang suatu produk 2. Memberikan ketertarikan kepada konsumen untuk membeli suatu produk 3. Mengingatkan konsumen tentang suatu produk Likert Keputusan Pembelian (Y) Keputusan konsumen untuk mengkonsumsi Luwak White Koffie

1. Kepercayaan terhadap produk 2. Pemilihan produk 3. Keunggulan

produk

Likert

Sumber : Andreani (2007), Aaker dalam situmorang (2011), Lee dan Johnson (2007)

3.5 Skala Pengukuran Variabel

[image:54.595.114.533.111.373.2]

Pengukuran masing-masing variabel dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan skala Likert. Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Peneliti memberikan lima alternatif jawaban kepada responden, dengan menggunakan skala 1 sampai dengan 5, dengan bobot pemetaan sebagai berikut:

Tabel 3.2

Instrumen skala Likert

No Skala Skor

1 Sangat Setuju (SS) 5

2 Setuju (S) 4

3 Kurang setuju (KS) 3

4 Tidak Setuju (TS) 2

(55)

3.6 Populasi dan Sampel Penelitian 3.6.1 Populasi

Menurut Sugiyono (2012: 115) populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakterisitik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara yang masih aktif kuliah yang pernah mengonsumsi produk Luwak White Koffie.

3.6.2 Sampel

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiyono, 2012:116). Teknik pengambilan sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah nonprobabilitysampling. Nonprobability sampling adalah teknik pengambilan sampel yang tidak memberi peluang atau kesempatan yang sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel.

Metode pengambilan sampel menggunakan purposive sampling, yaitu teknik penentuan sampel dengan kriteria atau pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2008:120). Adapun kriteria yang telah ditentukan yaitu mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara yang pernah mengkonsumsi Luwak White Koffie minimal 5 kali.

(56)

maka untuk menentukan jumlah sampel digunakan rumus (Supramono 2003 : 62 ) sebagai berikut:

n =

d2

(Zα)2

(p) (q)

Keterangan :

n = Jumlah sampel

Zα = Nilai standar normal yang besarnya tergantung α,

Bila α = 0,01 Z = 1,96 P = Estimasi proporsi populasi q = 1-p

d = Penyimpangan yang ditolerir

Berdasarkan hasil pra survei yang dilakukan peneliti terhadap 30 orang mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara, mahasiswa yang pernah mengkonsumsi Luwak White Koffie minimal 5 kali adalah sekitar 24 orang.

Sehingga dapat ditemukan estimasi proporsi populasi (p) sebesar 80% atau sama dengan 0,8. Dengan demikian, jumlah sampel yang mewakili populasi dalam penelitian ini adalah:

n =

(0,1)2 (1,96)2 (0,8) (0,2)

(57)

Berdasarkan perhitungan diatas maka jumlah responden yang akan dijadikan sampel dalam penelitian ini sebanyak 62 orang.

3.7 Jenis Data

Dalam penelitian ini penulis menggunakan 2 jenis sumber data yaitu: 1. Data Primer

Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari responden di lokasi penelitian dan diperoleh dengan memberikan kuesioner kepada mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara yang memenuhi kriteria yang telah ditentukan.

2. Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh melalui studi dokumen baik dari buku, jurnal, dan situs internet untuk mendukung penelitian.

3.8 Metode Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini penulis menggunakan 2 metode yaitu: 1. Daftar Pertanyaan (Kuesioner)

Metode pengumpulan data yang dilakukan dengan memberikan sejumlah daftar pertanyaan atau pernyataan yang tertulis kepada responden untuk dijawabnya (Sugiyono, 2012: 199).Kuesioner pada penelitian ini terdiri dari pertanyaan-pertanyaan yang bersumber dari indikator-indikator variabel penelitian.

(58)

Metode pengumpulan data melalui buku, jurnal, majalah, situs internet yang yang berkaitan dengan penelitian yang dilakukan dan menjadi bahan referensi pendukung bagi peneliti.

3.9 Uji Validitas dan Reliabilitas 3.9.1 Uji Validitas

Uji validitas digunakan oleh peneliti untuk mengukur data yang telah didapat setelah penelitian yang merupakan data yang valid dengan alat ukur yang digunakan yaitu kuesioner. Valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur (Sugiyono, 2012: 172). Pengujian validitas menggunakan pendekatan koefisien korelasi yaitu dengan cara mengkorelasikan antara skor butir pertanyaan dengan skor totalnya. Masing-masing skor butir pertanyaan dilihat harga korelasinya.

Bila harga korelasi positif dan rhitung ( 0,361 )maka butir pertanyan tersebut dinyatakan valid atau memiliki validitas konstruk yang baik.

Pengujian validitas instrumen dilakukan pada 30 orang diluar sampel pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.Uji validitas dalam penelitian ini menggunakan bantuan software SPSS.

Kriteria dalam menentukan validitas suatu kuesioner adalah sebagai berikut: 1. Jika rhitung>rtabel maka pernyataan dinyatakan valid.

(59)
[image:59.595.113.510.153.593.2]

Tabel 3.3

Uji Validitas Instrumen

Item-Total Statistics

Scale Mean if Item Deleted

Scale Variance if Item Deleted

Corrected Item-Total Correlation

Cronbach's Alpha if Item Deleted

P1 81.73 52.754 .390 .901

P2 82.00 51.310 .515 .898

P3 82.17 50.626 .530 .898

P4 81.83 51.937 .576 .897

P5 82.27 52.202 .474 .899

P6 82.27 52.754 .468 .899

P7 81.97 49.964 .658 .894

P8 81.77 51.633 .475 .899

P9 82.00 51.931 .570 .897

P10 82.30 52.838 .424 .900

P11 82.50 51.086 .481 .899

P12 82.60 52.248 .416 .901

P13 82.20 48.648 .775 .891

P14 82.27 50.892 .480 .899

P15 81.97 49.826 .748 .892

P16 82.17 51.661 .586 .897

P17 82.07 53.030 .390 .901

P18 82.03 51.826 .424 .901

P19 82.17 48.351 .722 .892

P20 82.20 51.200 .605 .896

P21 82.20 51.338 .401 .902

Sumber : Hasil Penelitian, 2015 (data diolah)

[image:59.595.114.510.162.592.2]
(60)
[image:60.595.113.467.112.482.2]

Tabel 3.4

Hasil Uji Validitas Variabel Experiential Marketing

Variabel Nomor

Item R hitung

R tabel

Keterangan

Sense (X1)

1 .390 0,361 Valid

2 .515 0,361 Valid

3 .530 0,361 Valid

4 .576 0,361 Valid

5 .474 0,361 Valid

Feel (X2)

6 .468 0,361 Valid

7 .658 0,361 Valid

Think (X3)

8 .475 0,361 Valid

9 .570 0,361 Valid

Act (X4)

10 .424 0,361 Valid

11 .481 0,361 Valid

Relate (X5)

12 .416 0,361 Valid

13 .775 0,361 Valid

Sumber: Hasil Penelitian, 2015 (data diolah) Tabel 3.5

Hasil Uji Validitas Variabel Perceived Quality

Variabel Nomor

Item R hitung

R tabel

Keterangan

Perceived Quality (X6)

14 .480 0,361 Valid

15 .748 0,361 Valid

(61)

Tabel 3.6

Hasil Uji Validitas Variabel Advertising

Variabel Nomor

Item R hitung

R tabel

Keterangan

Advertising (X7)

[image:61.595.116.450.280.421.2]

16 .586 0,361 Valid 17 .390 0,361 Valid 18 .424 0,361 Valid Sumber: Hasil Penelitian, 2015 (data diolah)

Tabel 3.7

Hasil Uji Validitas Variabel Keputusan Pembelian

Variabel Nomor

Item R hitung

R tabel

Keterangan

Keputusan Pembelian (Y)

19 .722 0,361 Valid 20 .605 0,361 Valid 21 .401 0,361 Valid Sumber: Hasil Penelitian, 2015 (data diolah)

3.9.2 Uji Reliabilitas

Uji reliabilitas digunakan untuk melihat apakah alat ukur yang digunakan menunjukkan konsistensi di dalam mengukur gejala yang sama. Reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat ukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan (Ginting dan Situmorang, 2008: 176). Setelah pernyataan dinyatakan valid dalam uji validitas, maka akan ditentukan reliabilitasnya dengan kriteria sebagai berikut:

1. Jika ralpha positif atau >dari rtabel maka pernyataan reliabel. 2. Jika ralpha negatif atau <dari rtabel maka pernyataan tidak reliabel.

(62)
[image:62.595.225.449.121.257.2]

Tabel 3.8 Uji Reliabilitas Reliability Statistics

Cronbach's Alpha N of Items

.902 21

Sumber: Hasil Penelitian, 2015 (data diolah)

Dari Tabel 3.8 dapat berarti bahwa nilai dari ralpha adalah sebesar 0.902 dengan nilai rtabel sebesar 0,361 sehingga dapat disimpulkan bahwa instrumen penelitian telah reliabel karena nilai ralpha positif dan lebih besar dari 0,80.

3.10 Teknik Analisis Data

3.10.1 Analisis Statistik Deskriptif

Analisis deskriptif merupakan metode analisis data yang digunakan dengan cara mengumpulkan, mendeskripsikan, menyusun dan mengklasifikasikan data sehingga dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai masalah yang diteliti.

3.10.2 Uji Asumsi Klasik

Uji asumsi klasik harus dipenuhi sebelum melakukan analisis regresi (Ginting dan Situmorang, 2008: 206). Adapun beberapa kriteria asumsi klasik yang harus dipenuhi, yaitu:

3.10.2.1Uji Normalitas

(63)

202). Dengan menggunakan tingkat signifikan 5% maka jika nilai Asymp.sig.(2-tailed) diatas nilai signifikan 5% artinya variabel residual berdistribusi normal. 3.10.2.2Uji Heteroskedasitisitas

Adanya varians variabel independen adalah konstan untuk setiap nilai tertentu variabel independen (homokedastisitas). Model regresi yang baik adalah tidak terjadi heteroskedastisitas. Heteroskedastisitas diuji dengan menggunakan uji Glejser. Dasar pengambilan keputusan pada uji heteroskedastisitas yaitu jika nilai signifikansi lebih besar dari 0,05, kesimpulannya ad

Gambar

Tabel 1.1
Tabel 2.1 Media Iklan
gambar penayangan
Gambar 2.1 Tahap Pengambilan Keputusan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hasil yang didapat dalam penelitian ini menunjukkan bahwa secara simultan Sense Marketing, Feel Marketing, Think Marketing, Act Marketing dan Relate Marketing, berpengaruh positif

Nilai Adjusted R Square yang diperoleh sebesar 0,908 menunjukkan bahwa variabel bebas experiential marketing yang terdiri dari sense, feel, think, act, dan

Pertama, hasil penelitian menunjukkan bahwa sense experience, feel experience, think experience, act experience dan relate experience berpengaruh signifikan terhadap customer

H 0 : Variabel-variabel bebas yaitu product, equity , sense, feel , think, act, dan relate tidak mempunyai pengaruh yang signifikan secara bersama-sama terhadap

Hasil penelitian menunjukkan bahwa experiential marketing secara simultan berpengaruh terhadap loyalitas konsumen, terlihat variabel bebas yang terdiri dari Relate , Sense ,

Hasil analisis regresi sederhana dan uji-t menunjukkan bahwa variabel- variabel tersebut meliputi experiential marketing, sense, feel, think, act, dan relate secara parsial

Hasil yang didapat dalam penelitian ini menunjukkan bahwa secara simultan Sense Marketing, Feel Marketing, Think Marketing, Act Marketing dan Relate Marketing ,

Based on the calculation of R-square showed that the relationship between sense, feel, think, act, relate ,perceived quality and advertising variable have a strong link to