• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tinjauan Atas Penerapan Prosedur Pengendalian Internal Persediaan Barang Dagangan PAda PT. Gramedia Pustaka Utama Bandung

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Tinjauan Atas Penerapan Prosedur Pengendalian Internal Persediaan Barang Dagangan PAda PT. Gramedia Pustaka Utama Bandung"

Copied!
56
0
0

Teks penuh

(1)

1 BANDUNG

HESTI AYU WANDIRA 21312019

ABSTRAK

Penelitian ini dilakukan di PT. Gramedia Pustaka Utama Bandung. Fenomena yang terjadi adalah sering terjadi ketersediaan persediaan barang dagangan yang kurang dan kerusakan persediaan barang dagangan yang mengakibatkan penjualan akan menurun. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui prosedur pengendalian internal barang dagangan, hambatan-hambatan yang terjadi serta upaya menyelesaikan hambatan yang ada di PT. Gramedia Pustaka Utama Bandung.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, pengumpulan data yang dilakukan oleh penulis adalah penelitian studi lapangan, wawancara dan studi lapang.

Hasil penelitian penulis adalah prosedur pengendalian internal barang dagangan berjalan baik hanya saja banyak hambatan yang terjadi dalam jalannya prosedur tersebut seperti adanya ketersediaan buku yang kurang,adanya ketidaksesuaian jumlah barang keluar dari bagian gudang dengan bagian keuangan, adanya keterlambatan barang datang, adanya kerusakan dalam produksi dan adanya kesalahan dalam mengaudit data barang. Jika terjadi hambatan seperti yang telah disebutkan penjualan terhadap buku akan menurun. Akan tetapi walapun terjadi beberapa hambatan dalam menjalankan prosedur pengendalian internal atas persediaan barang dagangan masih berjalan dengan baik karena PT. Gramedia Pustaka Utama melakukan berbagai upaya menyelesaikan hambatan yang terjadi dal

am prosedur pengendalian internal barang dagangan pada PT. Gramedia Pustaka Utama Bandung.

(2)

2 ABSTRACT

This research was conducted at PT. Gramedia Pustaka Utama Bandung. The phenomenon that occurs is often the availability of merchandise that is lacking and mismatches goods or books ordered by the consumer. The purpose of this study was to determine the internal control procedures merchandise, barriers that occur and attempt to resolve the obstacles that exist in PT. Gramedia Pustaka Utama Bandung.

The method used in this research is descriptive method of data collection conducted by the author is a research field studies, interviews and field studies.

Results of the study authors is the internal control procedures of merchandise going well it's just a lot of obstacles that occur in the course of the procedure such as the availability of the book is lacking, the discrepancy amount of goods out of the warehouse with the finance department, the delay in the goods arrived, the damage in the production and an error in the audit data items. If there barriers as mentioned sale of the book will decline. However, even though been some obstacles in implementing internal control procedures merchandise is still running well because PT. Gramedia Pustaka Utama made various efforts to resolve the obstacles that occur in the internal control procedures of merchandise at PT. Gramedia Pustaka Utama Bandung.

(3)

i 1.1 Latar Belakang Penelitian

Di era globalisasi seperti sekarang ini, perusahaan dituntut untuk tepat, cermat dan cepat. Keputusan yang tepat dan cermat memberikan dampak yang baik terhadap kemampuan daya saing perusahaan, termasuk perusahaan dagang. Perusahaan dagang dapat didefinisikan sebagai suatu organisasi yang melakukan kegiatan usaha dengan membeli barang dari pihak/perusahaan lain kemudian menjualnya kembali kepada masyarakat baik berupa retail

atau grosir dan distributor. Di dalam perusahaan baik perusahaan manufaktur atau perusahaan dagang penting adanya sebuah prosedur dalam melaksanakan seluruh kegiatannya. Persediaan sangat rentan terhadap kerusakan maupun ketidaksesuaian didalamnya, persediaan sering kali merupakan harta lancar yang paling besar dalam perusahaan dan juga merupakan bagian yang paling besar dalam harta perusahaan. Kerusakan, lalai untuk mencatat permintaan, barang yang dikeluarkan tidak sesuai dengan pesanan sering terjadi dalam perusahaan. Salah satunya dalam penelitian yang dilakukan di PT. Sabda Cipta Jaya sebuah perusahaan nasional yang bergerak dalam bidang importir dan distributor obat.

PT. Gramedia Pustaka Utama merupakan bisnis unit PT. Kompas Gramedia yang menyediakan jaringan toko buku dengan nama Toko Buku Gramedia di beberapa kota di Indonesia. PT. Gramedia Pustaka Utama merupakan perusahaan yang bergerak dalam berbagai macam bidang salah satunya bidang perdagangan barang. Barang utama yang diperdagangkan adalah buku, selain buku PT Gramedia Pustaka Utama juga menyediakan alat tulis, perlengkapan kantor, alat olahraga dan lain-lain.

Menurut Bapak Tony Rizal selaku kepala cabang PT. Gramedia Pustaka Utama Bandung, penerapan prosedur pengendalian internal yang dilakukan oleh PT. Gramedia Pustaka Utama tidak berjalan dengan baik dikarenakan terjadi

barang/buku yang rusak. Penjualan akan menurun jika barang rusak, tidak sesuai dalam bentuk, jenis, mutu dan jumlah yang diinginkan pelanggan. Jadi penting bagi perusahaan untuk mengendalikan persediaan dengan baik dan teliti untuk membatasi biaya penyimpanan yang terlalu besar. Oleh karena itu diperlukan suatu pengendalian internal yang memadai terhadap persediaan barang dagangan pada PT. Gramedia Pustaka Utama Bandung. Pengendalian internal PT. Gramedia Pustaka Utama Bandung terdiri atas kebijakan dan prosedur yang diciptakan untuk memberi jaminan yang memadai agar tujuan perusahaan dapat dicapai. Penerapan pengendalian internal sebaiknya teratur dalam mengelola persediaan barang dagangan sehingga Pimpinan perusahaan akan memperoleh laporan-laporan yang bermanfaat untuk meningkatkan efektivitas perusahaan, juga membantu mengambil kebijakan keputusan maupun pertanggungjawaban dalam memimpin perusahaan.

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk mengambil judul

“TINJAUAN ATAS PENERAPAN

PROSEDUR PENGENDALIAN

INTERNAL PERSEDIAAN BARANG DAGANGAN PADA PT. GRAMEDIA

PUSTAKA UTAMA BANDUNG”.

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang, penulis mengidentifikasikan masalah yang ditemui dalam prosedur pengendalian internal persediaan barang dagangan PT. Gramedia Pustaka Utama Bandung sebagai berikut:

1. Ketersediaan buku yang kurang ini terjadi akibat kurangnya pengawasan dan pengecekkan stok.

2. Kerusakan dalam persediaan barang dagangan berupa buku akibat kurangnya pengawasan dari bagian percetakan dan gudang.

1.3 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang penulis ajukan adalah sebagai berikut : 1. Bagaimana penerapan prosedur

(4)

ii barang dagang pada PT. Gramedia Pustaka Utama Bandung.

2. Apa saja hambatan yang dihadapi PT. Gramedia dalam menjalankan prosedur pengendalian internal persediaan barang dagang.

3. Bagaimana upaya menyelesaikan hambatan yang terjadi di dalam prosedur pengendalian internal atas persediaan barang dagangan pada PT. Gramedia Pustaka Utama Bandung, 1.4 Maksud dan Tujuan Penelitian 1.4.1 Maksud Penelitian

Maksud dari penelitian ini adalah untuk memperoleh jawaban dari permasalahan yang muncul pada penerapan prosedur pengendalian internal barang dagangan pada PT. Gramedia Pustaka Utama Bandung. 1.4.2 Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah yang ada diatas, tujuan dari penelitian yang dilaksanakan pada PT. Gramedia Pustaka Utama adalah:

1. Untuk mengetahui penerapan prosedur pengendalian intern persediaan barang dagangan pada PT. Gramedia Pustaka Utama Bandung.

2. Untuk mengetahui hambatan-hambatan yang terjadi dalam menjalankan prosedur pengendalian internal barang dagangan pada PT. Gramedia Pustaka Utama Bandung.

3. Untuk mengetahui upaya menyelesaikan hambatan yang terjadi dalam penerapan pengendalian intern persediaan barang dagangan PT. Gramedia Pustaka Utama Bandung.

1.5 Kegunaan Penelitian 1.5.1 Kegunaan Praktis

Bagi perusahaan, penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan masukan bagi manajemen yang berguna untuk memperbaiki kebijakan perusahaan atas pengendalian intern persediaan barang dagang.

1.5.2 Kegunaan Akademis 1. Bagi Universitas

Dengan adanya penelitian diharapkan dapat meningkatkan kerjasama antara lembaga pendidikan dengan perusahaan sehingga Universitas dan perusahaan dapat mempromosikan keberadaan di tengah-tengah dunia kerja.

2. Bagi Penulis

Penelitian ini bermanfaat dalam memperdalam pengetahuan penulis tentang penerapan prosedur pengendalian intern persediaan barang dagang yang ada di dalam perusahaan pengertian lebih lengkap prosedur adalah aturan kerja sama, aturan berkoordinasi, sehingga unit-unit dalam sistem, subsistem dan seterusnya dapat berinteraksi satu sama lain secara efisien dan efektif. Prosedur juga dapat diartikan sebagai suatu rangkaian tugas-tugas yang saling berhubungan dan berurutan menurut waktu dan tata cara tertentu untuk melaksanakan suatu tata cara kerja atau kegiatan untuk menyelesaikan pekerjaan,

2.1.1 Pengertian Prosedur

Menurut Mulyadi (2013:5) bahwa:

“Prosedur adalah suatu urutan kegiatan klerikal, biasanya melibatkan beberapa orang dalam suatu departemen atau lebih, yang dibuat untuk menjamin penanganan secara seragam transaksi perusahaan yang terjadi

berulang-ulang.”

Menurut Azhar Susanto (2013:264) bahwa:

“Prosedur adalah rangkaian aktivitas atau kegiatan yang dilakukan secara berulang-ulang dengan cara yang sama. Prosedur penting dimiliki suatu organisasi agar segala sesuatu dapat

dilakukan secara seragam.”

Menurut Zaki Baridwan (2010:30) bahwa:

“Prosedur merupakan suatu urutan-urutan pekerjaan kerani (clerical),

biasanya melibatkan beberapa orang dalam suatu bagian atau lebih, disusun untuk menjamin adanya perlakuan yang seragam terhadap transaksi-transaksi

perusahaan yang terjadi.”

Menurut Ardiyose (2013:5) bahwa:

“Prosedur adalah suatu bagian sistem

(5)

iii suatu kegiatan usaha atau transaksi dapat terjadi berulang kali dan

dilaksanakan secara beragam.”

Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa prosedur adalah suatu sistem yang disusun untuk menjamin suatu kegiatan perusahaan terhadap transaksi-transaksi perusahaan yang terjadi.

2.1.2 Karakteristik Prosedur

Karakteristik prosedur yang dikemukakan oleh Mulyadi (2013:5) menyatakan terdapat beberapa karakteristik prosedur, di antaranya sebagai berikut:

1. Prosedur menunjang tercapainya tujuan organisasi.

2. Prosedur mampu menciptakan adanya pengawasan yang baik dan menggunakan biaya yang seminimal mungkin.

3. Prosedur menunjukan urutan-urutan yang logis dan sederhana.

4. Prosedur menunjukkan adanya penetapan keputusan dan tanggung jawab.

5. Prosedur menunjukkan tidak adanya keterlambatan dan hambatan.

2.1.3 Manfaat Prosedur

Selain karakteristik prosedur Mulyadi (2010:5) menyatakan mengenai manfaat dari prosedur, di antaranya sebagai berikut:

1. Lebih memudahkan dalam menentukan langkah-langkah kegiatan dimasa yang akan datang.

2. Mengubah pekerjaan yang berulang-ulang menjadi rutin dan terbatas.

3. Adanya suatu petunjuk atau program kerja yang jelas dan harus dipatuhi oleh seluruh pelaksana.

4. Membantu dalam usaha meningkatkan produktifitas kerja yang efektif dan efisien.

5. Mencegah terjadinya penyimpangan dan memudahkan dalam pengawasan. 2.2 Pengendalian Internal

Pengendalian internal adalah suatu proses yang dipengarugi oleh sumber daya manusia dan sistem teknologi informasi, yang dirancang untuk membantu organisasi mencapai suatu tujuan atau objektif tertentu.

mengukur sumber daya suatu organisasi. Semakin besar perusahaan semakin penting pula arti pengendalian internal dalam perusahaan tersebut. 2.2.1 Pengertian Pengendalian Internal

Menurut Hery (2013:159) bahwa:

“Pengendalian internal adalah

seperangkat kebijakan dan prosedur untuk melindungi aset atau kekayaan perusahaan dari segala bentuk tindakan penyalahgunaan, menjamin tersedianya informasi akuntansi perusahaan yang akurat, serta memastikan bahwa semua ketentuan (peraturan) hukum/undang-undang serta kebijakan manajemen telah dipatuhi atau dijalankan sebagaimana mestinya oleh seluruh

karyawan perusahaan.”.

Menurut COSO (Commitee of Sponsoring Organization of Treadway Commision) yang diterjemahkan oleh Khikmatul Khasanah (2013) bahwa:

“Pengendalian internal adalah suatu

proses yang dilakukan oleh dewan entitas direksi, manajemen dan personil lainnya, dirancang untuk memberikan keyakinan memadai tentang pencapaian tujuan yang berkaitan dengan operasi,

pelaporam dam kepatuhan.”

Menurut Valery G. Kumaat (2011:15) bahwa:

“Pengendalian internal adalah suatu

cara untuk mengarahkan, mengawasi dan mengukur sumber daya suatu organisasi. Ia berperan penting untuk mencegah dan mendeteksi penggelapan (fraud) dan melindungi sumber daya organisasi baik yang berwujud maupun tidak (seperti reputasi atau hak

kekayaan intelektual).”

(6)

iv 2.2.2 Tujuan Pengendalian Internal

Menurut Institut Akuntan Publik Indonesia (2011:319) Tujuan dari pengendalian internal adalah sebagai berikut:

1) Keandalan Laporan Keuangan Umumnya

2) Efektivitas dan Efisiensi

3) Kepatuhan Terhadap Hukum dan Peraturan Yang Berlaku

2.2.3 Fungsi Pengendalian Internal Menurut Romney and Steinhart yang diterjemahkan oleh Fitriasari (2011:25) bahwa:

Pengendalian intern melaksanakan tiga fungsi penting, yaitu:

1) Pengendalian untuk pencegahan (preventive control)

2) Pengendalian untuk pemeriksaan (Detective Control)

3) Pengendalian Korektif (Corrective Control)

2.3 Persediaan

Persediaan pada umumnya merupakan salah satu jenis aktiva lancar yang jumlahnya cukup besar dalam suatu perusahaan. Hal ini mudah dipahami karena persediaan merupakan faktor penting dalam menentukan kelancaran operasi perusahaan. Persediaan merupakan bentuk investasi, dari mana keuntungan (laba) itu bisa diharapkan melalui penjualan dikemudian hari.

2.3.1 Pengertian Persediaan

Menurut Stice dan Skousen yang diterjemahkan oleh Emil Salim (2011:572) bahwa:

“Persediaan adalah istilah yang

diberikan untuk aset yang akan dijual dalam kegiatan normal perusahaan atau aset yang dimasukkan secara langsung atau tidak langsung, ke dalam barang yang akan diproduksi kemudian dijual.” Menurut Standar Akuntansi Keuangan dari IAI (Ikatan Akuntan Indonesia) PSAK No. 14 tahun 2010 bahwa:

“Persediaan adalah (a) Tersedia untuk

dijual dalam kegiatan usaha normal, (b) Dalam proses produksi dan atau dalam perjalanan, (c) Atau dalam bentuk bahan

atau perlengkapan/supplies untuk digunakan dalam proses produksi atau

pemberian jasa.”

Menurut Rangkuti (2010:146) bahwa:

“Persediaan adalah sebagai suatu

aktivitas yang meliputi barang-barang milik perusahaan dengan maksud untuk dijual dalam suatu periode usaha tertentu atau persediaan barang-barang yang masih dalam pengerjaan proses produksi ataupun persediaan bahan baku yang menunggu penggunaannya

dalam suatu proses produksi.”

Berdasarkan definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa persediaan adalah material yang berupa bahan baku, barang setengah jadi atau barang jadi yang disimpan dalam suatu tempat atau gudang dimana barang tersebut menunggu untuk di proses atau diproduksi lebih lanjut.

BAB III

OBJEK DAN METODE PENELITIAN 3.1 Objek Penelitian

Dalam melakukan sebuah penelitian yang pertama kali diperhatikan adalah objek penelitian yang akan diteliti. Objek penelitian merupakan suatu hal yang dijadikan sasaran penelitian dengan tujuan mengetahui kebenaran dan fakta tentang suatu hal.

Menurut Husein Umar (2013:38):

“Objek yang menjelaskan tentang apa

atau siapa yang menjadi objek penelitian dimana dan kapan penelitian dilakukan, dapat juga ditambahkan dengan hal-hal

yang dianggap perlu.”

Menurut Iwan Satibi (2011:74) bahwa:

“Objek penelitian secara umum akan

memetakan atau menggambarkan wilayah penelitian atau sasaran penelitian secara komprehensif, yang meliputi karakterisik wilayah, sejarah perkembangan, struktur organisasi, tugas pokok dan fungsi lain-lain sesuai dengan pemetaan wilayah penelitian

yang dimaksud.”

(7)

v

dilakukan.”

Menurut Sugiyono (2013:20) bahwa:

“Suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, objek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang diterapkan oleh peneliti untuk dipelajari

dan kemudian ditarik kesimpulannya.”

Dari pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa objek penelitian adalah variabel yang diteliti oleh peneliti di tempat penelitian dilakukan dan sasaran ilmiah untuk mendapatkan data dan mengetahui apa, siapa, kapan dan dimana penelitian tersebut dilakukan. Berdasarkan penjelasan di atas dalam penelitian ini yang menjadi objek penelitian adalah Tinjauan Atas Penerapan Prosedur Pengendalian Internal Barang Dagangan Pada PT. Gramedia Pustaka Utama Bandung. 3.2 Metode Penelitian

Metode penelitian adalah suatu teknis atau cara mencari, memperoleh, mengumpulkan atau mencatat data, baik berupa data primer maupun data sekunder yang digunakan untuk keperluan menyusun suatu karya ilmiah dan kemudian menganalisa faktor-faktor yang berhubungan dengan pokok-pokok permasalahan sehingga akan terdapat suatu kebenaran data-data yang akan diperoleh.

Menurut Umi Narimawati (2011:29) bahwa:

“Metode penelitian merupakan cara

peneliti yang digunakan untuk mendapatkan data untuk mencapai

tujuan tertentu.”

Menurut Supriati (2012:5) bahwa:

“Metode penelitian adalah tatacara

bagaimana suatu penelitian

dilaksanakan.”

Menurut Yvone Agustine (2013:5) bahwa:

“Sebuah aktivitas yang memberikan

kontribusi dalam memahami fenomena yang menjadi perhatian melalui

penelitian.”

Berdasarkan definisi diatas dapat diketahui bahwa metode penelitian adalah dapat dipahami sebagai tata cara bagaimana suatu penelitian dipahami

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif Menurut Nyoman Dantes (2012:51) bahwa:

“Penelitian Deskriptif diartikan sebagai suatu penelitian yang berusaha

mendeskripsikan suatu

fenomena/peristiwa secara sistematis

sesuai dengan apa adanya.”

Maka dapat disimpulkan bahwa metode penelitian adalah metode penelitian yang menggambarkan suatu peristiwa tanpa membandingkan atau menghubungan dengan variabel lain terhadap objek yang diteliti. Metode yang mengungkapkan, membahas masalah dengan memaparkan, menafsirkan dan menggambarkan keadaan serta peristiwa yang terjadi pada saat penelitian berlangsung untuk di analisa dan dibuat kesimpulan. Dengan metode penelitian deskriptif ini digunakan peneliti untuk menggambarkan Tinjauan Atas Penerapan Prosedur Pengendalian Internal Barang Dagangan pada PT. Gramedia Pustaka Utama.

3.2.1 Teknik Pengumpulan Data Pada penelitian yang akan dilaksanakan, terdapat beberapa metode yang dapat digunakan dalam pengumpulan data. Dalam pengumpulan data setidaknya dilakukan berbagai banyak cara agar data yang diperoleh sesuai apa yang diinginkan dan agar penelitian berlangsung dengan mudah. Teknik yang digunakan sebagai berikut: 1. Penelitian Lapangan

Penulis melakukan pengamatan secara langsung ke Gramedia Pustaka Utama Bandung. Penelitian ini dilakukan terhadap kegiatan dari seluruh objek penelitian yang meliputi:

a. Observasi (Pengamatan)

Menurut Tony Wijaya (2013:23) bahwa:

“Observasi merupakan cara memperoleh data dengan mengamati (perilaku-bukan perilaku dari subyek penelitian dan merekam jawabannya

untuk dianalisis.”

b. Wawancara (Interview)

(8)

vi Wawancara merupakan pertemuan

dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam suatu

topik tertentu.”

c. Mengumpulkan Data (Dokumentasi) Menurut Sugiyono (2012:240)

bahwa:

“Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar atau karya-karya momumental dari

seseorang.”

2. Studi Kepustakaan (Library Research)

Dalam penelaahan kepustakaan yang dimaksudkan untuk mendapatkan informasi secara lengkap serta untuk menentukan tindakan yang akan diambil sebagai langkah penting dalam kegiatan ilmiah. Penulis mencari buku dan literatur yang sesuai dengan masalah yang diangkat dan informasi yang digunakan untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan prosedur pengendalian internal barang dagangan. Data yang

diperoleh dari studi kepustakaan adalah sumber informasi yang telah ditemukan para ahli yang sedang diteliti, dalam melakukan studi kepustakaan ini penulis berusaha mengumpulkan data sebagai berikut:

a. Mempelajari konsep dan teori dari berbagai sumber yang berhubungan dan mendukung pada masalah yang diteliti. b. Memperlajari materi kuliah dan bahan tertulis lainnya.

3.2.2 Sumber Data

Sebuah data memiliki informasi namun sebuah data juga harus memiliki kejelasan rentang bagaimana data tersebut dan bagaimana data tersebut diolah.

Menurut Suharsimi Arikunto (2013:172) bahwa:

“Sumber data dalam penelitian adalah

sumber darimana data dapat diperoleh.”

Menurut Sugiyono (2013:137) sumber data dibedakan menjadi dua, adapun penjelasan mengenai pengertian sumber data primer dan sumber data sekunder sebagai berikut:

“1. Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung meliputi dokumen-dokumen perusahaan berupa sejarah

perkembangan perusahaan, struktur organisasi dan lain-lain yang berhubungan dengan penelitian.

2. Data sekunder adalah data yang diperlukan untuk mendukung hasil penelitian berasal dari literatur, artikel dan berbagai sumber lain yang berhubungan dengan masalah

penelitian.”

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian

Hasil penelitian yang penulis dapatkan dari PT. Gramedia Pustaka Utama Bandung khususnya tentang BAB IV ini, adalah data tentang aktivitas perusahaan, struktur organisasi dan penerapan prosedur pengendalian internal persediaan barang dagangan. 4.2 Pembahasan

4.2.1 Prosedur Pengendalian Internal Persediaan Barang Dagangan PT. Gramedia Pustaka Utama Bandung Prosedur pengendalian internal

barang dagangan yang diterapkan oleh PT. Gramedia Pustaka Utama Bandung melibatkan beberapa bagian terkait, dokumen dan catatan yang diperlukan serta laporan yang dihasilkan dan pencatatan ke dalam catatan akuntansi yang didasarkan atas laporan sumber yang dilampiri dengan dokumen pendukung yang lengkap.

Menurut Ardiyose (2013:5) bahwa:

“Prosedur adalah suatu bagian sistem

yang merupakan rangkaian tindakan yang menyangkut beberapa orang dalam satu atau beberapa bagian yang ditetapkan untuk menjamin agar agar suatu kegiatan usaha atau transaksi dapat terjadi berulang kali dan

dilaksanakan secara beragam.”

Sesuai dengan teori yang sudah dijelaskan di atas bahwa prosedur pengendalian internal barang dagangan PT. Gramedia Pustaka Utama meliputi beberapa bagian yang terlibat untuk menjalankan prosedur pengendalian internal barang dagangan.

(9)

vii barangan pada PT. Gramedia Pustaka Utama Bandung telah dijelaskan diatas bahwa hambatan-hambatan yang terjadi diakibatkan oleh tidak berjalannya prosedur dengan baik karena sering hilangnya nota keluar barang dan faktur-faktur dan berdampak pada penjualan. Menurut Stice dan Skousen yang diterjemahkan oleh Emil Salim (2011:572) bahwa:

“Persediaan adalah istilah yang

diberikan untuk aset yang akan dijual dalam kegiatan normal perusahaan atau aset yang dimasukkan secara langsung atau tidak langsung, ke dalam barang

yang akan diproduksi kemudian dijual.”

Menurut Tengku Nurmaliza dalam jurnalnya bahwa:

“Hambatan atau masalah yang terjadi

dalam pengendalian internal persediaan barang dagangan sangat rentan dengan lalai mencatat permintaan, keterlambatan, kerusakan dan kurangnya teliti dalam menyimpan dokumen-dokumen terkait.”

Teori tesebut sesuai dengan hambatan yang dihadapi oleh PT. Gramedia Pustaka Utama Bandung yang mempunyai beberapa hambatan seperti ketidaksesuaian jumlah, kelalaian dalam menyimpan suatu transaksi, keterlambatan barang dagangan sampai.

4.2.3 Upaya Menyelesaikan Hambatan Yang Dihadapi Agar Berjalan Efektif

Menurut Tengku Nurmaliza bahwa: “Perlunya dilakukan pemantauan agar

dapat membantu manajemen mengetahui ketidakefetifan penerapan prosedur pengendalian internal barang dagangan. Evaluasi agar ketidaksesuaian yang ditemukan juga merupakan tanggapan yang baik dan mencerminkan adanya kesadaran dan pentingnya pengendalian internal

barang dagangan.”

PT. Gramedia Pustaka Utama Bandung telah melakukan upaya sesuai dengan teori yang sudah dijelaskan di atas dengan melakukan pemantauan terhadap bagian-bagian yang terlibat jalannya prosedur pengendalian internal barang.

KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan

Setelah menganalisis data prosedur pengendalian internal barang dagangan pada PT. Gramedia Pustaka Utama Bandung, maka penulis membuat kesimpulan sebagai berikut:

1. Penerapan prosedur pengendalian internal atas persediaan barang dagangan PT. Gramedia Pustaka Utama Bandung terdiri dari beberapa bagian yang bertugas menjalankan prosedur yang terdiri dari distribusi center, bagian percetakan, bagian ekspedisi, bagian gudang, bagian keuangan, dan bagian audit. Bagian-bagian ini mempunyai peranan penting dalam penerapan prosedur pengendalian internal barang dagangan PT. Gramedia Pustaka Utama Bandung.

2. Hambatan yang dihadapi PT. Gramedia Pustaka Utama dalam menjalankan prosedur pengendalian internal barang dagangan yaitu adanya ketersediaan buku yang kurang, adanya ketidaksesuaian jumlah barang keluar, adanya keterlambatan barang datang, adanya kerusakan dalam produksi, adanya kesalahan dalam mengaudit data barang. Hambatan-hambatan tersebut dilakukan oleh bagian-bagian yang terlibat dalam menjalankan prosedur pengendalian internal barang dagangan.

3. Upaya menyelesaikan hambatan yang dihadapi PT. Gramedia Pustaka Utama Bandung dengan melakukan pemantauan atas persediaan barang dagangan dan melakukan evaluasi dalam jalannya prosedur pengendalian internal barang dagangan. Meskipun ada beberapa hambatan PT. Gramedia Pustaka Utama Bandung dapat mengurangi sedikit demi sedikit hambatan yang terjadi di dalam penerapan prosedur pengendalian barang dagangan PT. Gramedia Pustaka Utama Bandung.

5.2 Saran

(10)

viii prosedur pengendalian internal barang dagangan pada PT. Gramedia Pustaka Utama Bandung. Adapun saran yang dapat diberikan penulis adalah:

1. Jika bagian terkait penerapan prosedur pengendalian internal PT. Gramedia Pustaka Utama menemukan penyimpangan atau ketidaksesuaian dalam penerapan prosedur pengendalian barang dagangan sehingga dapat menimbulkan keluhan dari konsumen, maka bagian yang terkait dalam menjalankan prosedur pengendalian internal barang dagangan PT. Gramedia Pustaka Utama Bandung harus melakukan perbaikan yang disesuaikan dengan kesalahan-kesalahan yang mengakibatkan terjadinya hambatan.

2. Agar dapat menanggulangi hambatan-hambatan yang terjadi dalam penerapan prosedur pengendalian internal persediaan barang dagangan seharusnya bagian-bagian yang terkait lebih teliti dalam memeriksa faktur atau nota penting yang melibatkan persediaan barang dagangan.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan

Setelah menganalisis data prosedur pengendalian internal barang dagangan pada PT. Gramedia Pustaka Utama Bandung, maka penulis membuat kesimpulan sebagai berikut:

4. Penerapan prosedur pengendalian internal atas persediaan barang dagangan PT. Gramedia Pustaka Utama Bandung terdiri dari beberapa bagian yang bertugas menjalankan prosedur yang terdiri dari distribusi center,

bagian percetakan, bagian ekspedisi, bagian gudang, bagian keuangan, dan bagian audit. Bagian-bagian ini mempunyai peranan penting dalam penerapan prosedur pengendalian internal barang

dagangan PT. Gramedia Pustaka Utama Bandung. 5. Hambatan yang dihadapi PT.

Gramedia Pustaka Utama dalam menjalankan prosedur pengendalian internal barang dagangan yaitu adanya ketersediaan buku yang

kurang, adanya

ketidaksesuaian jumlah barang keluar, adanya keterlambatan barang datang, adanya kerusakan dalam produksi, adanya kesalahan dalam mengaudit data barang. Hambatan-hambatan tersebut dilakukan oleh bagian-bagian yang terlibat dalam menjalankan prosedur pengendalian internal barang dagangan.

6. Upaya menyelesaikan hambatan yang dihadapi PT. Gramedia Pustaka Utama Bandung dengan melakukan pemantauan atas persediaan barang dagangan dan melakukan evaluasi dalam

jalannya prosedur

pengendalian internal barang dagangan. Meskipun ada beberapa hambatan PT. Gramedia Pustaka Utama Bandung dapat mengurangi sedikit demi sedikit hambatan yang terjadi di dalam penerapan prosedur pengendalian barang dagangan PT. Gramedia Pustaka Utama Bandung. 5.2 Saran

Berdasarkan kesimpulan di atas, penulis memberikan saran yang mungkin bermanfaat dalam mengatasi kelemahan yang terdapat dalam prosedur pengendalian internal barang dagangan pada PT. Gramedia Pustaka Utama Bandung. Adapun saran yang dapat diberikan penulis adalah:

(11)

ix pengendalian barang dagangan sehingga dapat menimbulkan keluhan dari konsumen, maka bagian yang terkait dalam menjalankan prosedur pengendalian internal barang dagangan PT. Gramedia Pustaka Utama Bandung harus melakukan perbaikan yang disesuaikan dengan kesalahan-kesalahan yang mengakibatkan terjadinya hambatan.

(12)

x DAFTAR PUSTAKA

Sumber Buku:

Ardiyose. 2013. Kamus Besar Akuntansi. Jakarta: Citra Harta Prima Azhar Susanto. 2013. Sistem Informasi Akuntansi. Bandung: Lingga Jaya. Hery. 2013. Auditing. Jakarta: CAPS Husein Umar. 2013. Metode Penelitian

untuk Skripsi dan Tesis Bisnis.

Jakarta: Rajawali Pers.

Ikatan Akuntansi Indonesia. 2011.

Standar Akuntansi Keuangan.

Jakarta: Salemba Empat.

Iwan Satibi. 2011. Metode Penelitian untuk Skripsi dan Tesis Bisnis.

Jakarta: Rajawali Pers. Krismiaji, 2010. Sistem Informasi

Akuntansi, Edisi etiga. Yogyakarta: Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen YKPN

Lilis Puspitawati dan Sri Dewi Anggadini. 2011. Sistem Informasi Akuntansi.

Yogyakarta: Graha Ilmu.

Mulyadi. 2010. Sistem Akuntansi Edisi Tiga. Jakarta: Salemba Empat. Mulyadi. 2013. Sistem Akuntansi.

Cetakan Kelima. Jakarta: Salemba Embat.

Rama and Jones. 2011. Sistem Informasi Akuntansi I. Jakarta: Salemba Empat.

Rangkuti, Fredy. 2010. Manajemen Persediaan. Jakarta: PY. RajaGrafindo Persada. Romney and Steinhart. 2011.

Accounting Information System. New Jersey: Prentice Hall.

Skousen dan Stice. 2011. Akuntansi Keuangan. Jakarta: Salemba Empat. Sugiyono. 2013. Metodologi Penelitian

Kuantitatif, Kualitatif dan Kombinasi (Mixed Method). Bandung: Alfabeta.

Suharsimi Arikunto. 2013. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.

Jakarta: PT. Rineka Cipta. Umi Narimawati, Sri Dewi Anggadini,

Linna Ismawati. 2011. Penulisan Karya Ilmiah Panduan Awal Menyusun Skripsi dan Tugas Akhir Aplikasi pada Fakultas Ekonomi UNIKOM. Bekasi: Genesis. Yvone Augustine. 2013. Metodologi

Penelitian Bisnis dan Akuntansi.

Jakarta: PT. Dian Rakyat. Zaki Baridwan. 2009. Akuntansi

Intermedite Edisi 8. Yogyakarta: BPEE.

Sumber Internet:

(13)

xi

2

Distribusi Center Bagian Percetakan

Bagian Ekspedisi

(14)

xii

STRUKTUR ORGANISASI

KepalaCabang

AdministrasiFinan ce

AdministrasiFakt ur/Pesanan

Sales Person KepalaGudang

Inventory Ekspedisi

Office Boy Sales Promotion

(15)

8

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Prosedur

Prosedur adalah peraturan. Dalam pengertian lebih lengkap prosedur adalah

aturan kerja sama, aturan berkoordinasi, sehingga unit-unit dalam sistem,

subsistem dan seterusnya dapat berinteraksi satu sama lain secara efisien dan

efektif. Prosedur juga dapat diartikan sebagai suatu rangkaian tugas-tugas yang

saling berhubungan dan berurutan menurut waktu dan tata cara tertentu untuk

melaksanakan suatu tata cara kerja atau kegiatan untuk menyelesaikan pekerjaan,

2.1.1 Pengertian Prosedur

Menurut Lilis Puspitawati dan Sri Dewi Anggadini (2010:23) bahwa:

“Prosedur adalah serangkaian langkah/kegiatan klerikal yang tersusun secara

sistematis berdasarkan urutan-urutan yang terperinci dan harus diikuti untuk dapat

menyelesaikan suatu permasalahan.”

Menurut Mulyadi (2013:5) bahwa:

“Prosedur adalah suatu urutan kegiatan klerikal, biasanya melibatkan beberapa

orang dalam suatu departemen atau lebih, yang dibuat untuk menjamin

penanganan secara seragam transaksi perusahaan yang terjadi berulang-ulang.”

(16)

9

Menurut Azhar Susanto (2013:264) bahwa:

“Prosedur adalah rangkaian aktivitas atau kegiatan yang dilakukan secara

berulang-ulang dengan cara yang sama. Prosedur penting dimiliki suatu organisasi

agar segala sesuatu dapat dilakukan secara seragam.”

Menurut Zaki Baridwan (2010:30) bahwa:

“Prosedur merupakan suatu urutan-urutan pekerjaan kerani (clerical), biasanya

melibatkan beberapa orang dalam suatu bagian atau lebih, disusun untuk

menjamin adanya perlakuan yang seragam terhadap transaksi-transaksi

perusahaan yang terjadi.”

Menurut Ardiyose (2013:5) bahwa:

“Prosedur adalah suatu bagian sistem yang merupakan rangkaian tindakan yang

menyangkut beberapa orang dalam satu atau beberapa bagian yang ditetapkan

untuk menjamin agar agar suatu kegiatan usaha atau transaksi dapat terjadi

berulang kali dan dilaksanakan secara beragam.”

Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa prosedur adalah suatu

sistem yang disusun untuk menjamin suatu kegiatan perusahaan terhadap

(17)

2.1.2 Karakteristik Prosedur

Karakteristik prosedur yang dikemukakan oleh Mulyadi (2013:5) menyatakan

terdapat beberapa karakteristik prosedur, di antaranya sebagai berikut:

1. Prosedur menunjang tercapainya tujuan organisasi.

Dengan adanya prosedur, suatu organisasi dapat mencapai tujuannya

karena melibatkan beberapa orang dalam melakukan kegiatan operasional

organisasinya dan menggunakan suatu penanganan segala kegiatan yang

dilakukan oleh organisasi.

2. Prosedur mampu menciptakan adanya pengawasan yang baik dan

menggunakan biaya yang seminimal mungkin.

Pengawasan atas kegiatan organisasi dapat berjalan dengan baik karena

kegiatan tersebut berjalan sesuai dengan prosedur yang sudah ditetapkan.

Selain itu, biaya yang digunakan untuk melakukan kegiatan tersebut dapat

diatur seminimal mungkin karena kegiatan yang dilakukan sesuai dengan

aturan yang telah ditetapkan.

3. Prosedur menunjukan urutan-urutan yang logis dan sederhana.

Dalam suatu prosedur yang dilaksanakan oleh suatu organisasi dalam

menjalankan segala kegiatannya, biasanya prosedur tersebut menunjukan

rangkaian kegiatan yang harus dilaksanakan dan rangkaian tindakan

tersebut dilakukan seragam.

4. Prosedur menunjukkan adanya penetapan keputusan dan tanggung jawab.

Penetapan keputusan yang dibuat oleh pimpinan organisasi merupakan

(18)

11

menjalankan prosedur kegiatan yang sudah ada. Selain itu, keputusan atas

orang-orang yang terlibat dalam menjalankan prosedur tersebut,

memberikan suatu tanggung jawab yang harus dilaksanakan oleh para

pelaksana tersebut sesuai dengan tugasnya masing-masing.

5. Prosedur menunjukkan tidak adanya keterlambatan dan hambatan.

Apabila prosedur yang sudah ditetapkan oleh suatu organisasi

dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku maka hambatan yang

akan dihadapi oleh pelaksana kecil kemungkinan akan terjadi. Hal ini

menyebabkan ketepatan waktu dalam pelaksanaan kegiatan sehingga

tujuan organisasi yang ingin dicapai oleh organisasi yang ingin dicapai

organisasi dapat terlaksana dengan cepat.

2.1.3 Manfaat Prosedur

Selain karakteristik prosedur Mulyadi (2010:5) menyatakan mengenai manfaat

dari prosedur, di antaranya sebagai berikut:

1. Lebih memudahkan dalam menentukan langkah-langkah kegiatan dimasa

yang akan datang.

Jika prosedur yang telah dilaksanakan tidak berhasil dalam pencapaian

tujuan organisasi maka para pelaksana dapat dengan mudah menentukan

langkah-langkah yang harus diambil pada masa yang akan datang. Karena

dari prosedur tersebut dapat diketahui kesalahan-kesalahan yang terjadi

(19)

2. Mengubah pekerjaan yang berulang-ulang menjadi rutin dan terbatas.

Dengan prosedur yang dilaksanakan secara teratur, para pelaksana tidak

perlu melakukan pekerjaan secara berulang-ulang dan melakukan

pelaksanaan kegiatan secara teratur dan rutin. Sehingga para pelaksana

dapat melaksanakan kegiatannya secara sederhana dan hanya mengerjakan

pekerjaan yang memang sudah menjadi tugasnya.

3. Adanya suatu petunjuk atau program kerja yang jelas dan harus dipatuhi

oleh seluruh pelaksana.

Berdasarkan prosedur yang telah ditentukan oleh perusahaan, maka para

pelaksana mengetahui tugasnya masing-masing. Karena dari prosedur

tersebut dapat diketahui program kerja yang akan dilaksanakan. Selain itu,

program kerja yang telah ditentukan dalam prosedur tersebut harus

dilaksanakan oleh seluruh pelaksana.

4. Membantu dalam usaha meningkatkan produktifitas kerja yang efektif dan

efisien.

Dengan prosedur yang telah diatur oleh perusahaan, maka para pelaksana

mau tidak mau harus melaksanakan tugasnya masing-masing sesuai

prosedur yang berlaku. Hal ini menyebabkan produktifitas kinerja para

pelaksana dapat meningkat, sehingga tercapai hasil kegiatan yang efisien

dan efektif.

5. Mencegah terjadinya penyimpangan dan memudahkan dalam pengawasan.

Pengawasan terhadap kegiatan yang dilaksanakan oleh para pelaksana

(20)

13

tersebut sesuai dengan prosedur yang akan terjadi pun dapat dicegah,

tetapi apabila terjadi penyimpangan dalam pelaksanaan kegiatan, maka

akan apat segera diadakan perbaikan-perbaikan sepanjang dalam tugas dan

fungsinya masing-masing.

2.2 Pengendalian Internal

Pengendalian internal adalah suatu proses yang dipengarugi oleh sumber daya

manusia dan sistem teknologi informasi, yang dirancang untuk membantu

organisasi mencapai suatu tujuan atau objektif tertentu. Pegendalian internal

merupakan suatu cara mengarahkan, mengawasi dan mengukur sumber daya suatu

organisasi. Semakin besar perusahaan semakin penting pula arti pengendalian

internal dalam perusahaan tersebut.

2.2.1 Pengertian Pengendalian Internal

Menurut Hery(2013:159) bahwa:

“Pengendalian internal adalah seperangkat kebijakan dan prosedur untuk melindungi aset atau kekayaan perusahaan dari segala bentuk tindakan penyalahgunaan, menjamin tersedianya informasi akuntansi perusahaan yang akurat, serta memastikan bahwa semua ketentuan (peraturan) hukum/undang-undang serta kebijakan manajemen telah dipatuhi atau dijalankan sebagaimana

mestinya oleh seluruh karyawan perusahaan.”.

Menurut COSO (Commitee of Sponsoring Organization of Treadway

Commision)yang diterjemahkan oleh Khikmatul Khasanah (2013) bahwa:

“Pengendalian internal adalah suatu proses yang dilakukan oleh dewan entitas

(21)

memadai tentang pencapaian tujuan yang berkaitan dengan operasi, pelaporam

dam kepatuhan.”

Menurut Valery G. Kumaat (2011:15) bahwa:

“Pengendalian internal adalah suatu cara untuk mengarahkan, mengawasi dan

mengukur sumber daya suatu organisasi. Ia berperan penting untuk mencegah dan

mendeteksi penggelapan (fraud) dan melindungi sumber daya organisasi baik

yang berwujud maupun tidak (seperti reputasi atau hak kekayaan intelektual).”

Berdasarkan definisi di atas, dapat disimpulkan pengendalian internal adalah

suatu proses untuk mengarahkan, mengawasi dan mengukur sumber daya suatu

organisasi. Memastikan bahwa semua ketentuan (peraturan)

hukum/undang-undang serta kebijakan manajemen telah dipatuhi atau dijalankan sebagaimana

mestinya oleh seluruh karyawan perusahaan.

2.2.2 Tujuan Pengendalian Internal

Menurut Institut Akuntan Publik Indonesia (2011:319) Tujuan dari

pengendalian internal adalah sebagai berikut:

1) Keandalan Laporan Keuangan Umumnya

Pengendalian yang relevan dengan suatu audit adalah berkaitan dengan tujuan

entitas dalam membuat laporan keuangan bagi pihak luar yang disajikan secara

wajar sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.

(22)

15

Operasi pengendalian yang berkaitan dengan tujuan operasi dan kepatuhan

mungkin relevan dengan suatu audit jika kedua tujuan tersebut berkaitan

dengan data yang dievaluasi dan digunakan auditor dalam prosedur audit.

Sebagai contoh, pengendalian yang berikaitan dengan data non keuangan yang

digunakan oleh auditor dalam prosedur analitik.

3) Kepatuhan Terhadap Hukum dan Peraturan Yang Berlaku

Suatu entitas umumnya mempunyai pengendalian yang berkaitan dengan

tujuan yang tidak relevan dengan suatu audit oleh karena itu tidak perlu

dipertimbangkan.

2.2.3 Fungsi Pengendalian Internal

Menurut Romney and Steinhart yang diterjemahkan oleh Fitriasari

(2011:25) bahwa:

Pengendalian intern melaksanakan tiga fungsi penting, yaitu:

1) Pengendalian untuk pencegahan (preventive control)

Adalah mencegah timbulnya suatu masalah sebelum mereka muncul, seperti

mempekerjakan personil akuntansi yang berkualifikasi tinggi, pemisahan tugas

pegawai yang memadai dan secara efektif mengendalikan akses fisik atas aset,

fasilitas dan informasi, merupakan pencegahan pengendalian yang efektif.

(23)

Adalah dibutuhkan untuk mengungkap masalah tersebut muncul seperti

pemeriksaan salinan atas perhitungan, mempersiapkan rekonsiliasi bank dan

neraca saldo setiap bulan.

3) Pengendalian Korektif (Corrective Control)

Adalah menyelesaikan masalah yang ditemukan oleh pengendalian untuk

pemeriksaan. Pengendalian ini mencakup prosedur yang dilaksanakan untuk

mengindetifikasi penyebab masalah, memperbaiki kesalahan atau kesulitan

yang ditimbulkan dan mengubah sistem agar masalah di masa mendatang dapat

diminimalisasikan atau dihilangkan. Seperti mengikuti prosedur perbaikan

kesalahan memasuki data juga kesalahan dalam menyerahkan kembali

transaksi untuk proses lebih lanjut.”

2.2.4 Faktor-Faktor Pembentuk Lingkungan Pengendalian Internal

Lingkungan pengendalian haruslah dapat menciptakan suasana dalam sebuah

organisasi dan mempengaruhi kesadaran personil organisasi tentang pengendalian.

Lingkungan pengendalian merupakan semua unsur dalam pengendalian internal,

serta membentuk disiplin dan struktur. Lingkungan pengendalian diciptakan oleh

beberapa faktor yang mendukung keberhasilan lingkungan pengendalian dalam

suatu organisasi seperti yang telah dikemukakan oleh Mulyadi (2010:183) adalah

sebagai berikut:

“1. Nilai Integritas dan Etika.

(24)

17

6. Pembagian wewenang dan tanggung jawab.

7. Kebijakan dan praktik sumber daya manusia.”

1. Nilai Integritas dan Etika

Efektivitas pengendalian intern bersumber dari diri orang yang mendesain

dan melaksanakan pengendalian tersebut. Pengendalian yang memadai desainnya,

namun dijalankan oleh orang-orang yang tidak menjungjung tinggi integritas dan

tidak memiliki etika akan mengekibatkan tidak terwujudnya tujuan pengendalian.

Nilai integritas dan etika bisnis dapat dikomunikasikan oleh manajer

seperti yang dikemukakan oleh Mulyadi (2010:184) dengan cara-cara sebagai

berikut:

“1. Personal Behavior

Melalui personal behavior, manajer mengkomunikasikan nilai integritas dan etika melalui tindakan individual mereka, sehingga nilai-nilai tersebut dapat diamati oleh karyawan entitas.

2. Operational Behavior

Melalui operational behavior, manajer mendesain sistem yang digunakan untuk membentuk perilaku yang diinginkan, yang berdasarkan nilai integritas dan etika.”

Maka dari itu, Personal behavior dan Operational Behavior yang ditetapkan

oleh dewan direksi dalam bentuk kewajiban, larangan, dan sanksi yang harus

dipatuhi oleh setiap pegawai sehingga dapat menjadi pedoman bagi seluruh

pegawai dalam melaksanakan pekerjaannya. Dengan demikian nilai integritas dan

etika sangat lah penting dalam mengatur tingkah laku karyawan. Agar setiap unit

perusahaan agar memiliki pekerja yang patuh akan peraturan perusahaan.

(25)

2. Komitmen Terhadap Kompetensi

Komitmen terhadap kompetensi hukumnya adalah mutlak dalam

melaksanakan pekerjaan sesuai dengan keahlian dan keterampilan yang dimiliki

seorang karyawan.

Menurut Mulyadi (2010:185) bahwa :

“Untuk mencapai tujuan entitas, personil di setiap organisasi harus memiliki pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk melaksanakan tugasnya secara efektif. Komitmen terhadap kompetensi mencakup pertimbangan manajemen atas pengetahuan dan keterampilan yang diperluan dan panduan antara kecerdasan, pelatihan, dan pengalaman yang dituntut dalam pengembangan kompetensi.”

Maka dari itu, setiap karyawan dituntut untuk memiliki keahlian dibidangnya

masing-masing, karena keberhasilan suatu perusahaan ditunjang oleh keahlian

dari pekerjanya. misalnya saja pada saat melaksanakan proses penyusunan

anggaran, agar setiap pekerjaan terlaksana dengan baik maka pekerja harus

memiliki komitmen terhadap kompetensi dengan baik.

Menurut Mulyadi (2010:185) bahwa:

“Komitmen terhadap kompetensi mencakup pertimbangan manajemen dan

pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan, panduan antara kecerdasan, pelatihan dan pengalaman yang dituntut dalam mengembangkan kompetensi mengenai penyusunan anggaran. Untuk mencapai tujuan entitas, personil di setiap organisasi harus memiliki pengetahuan dan keterampian yang diperlukan untuk melaksanakan tugasnya secara efektif. Komitmen terhadap kompetensi mencakup pertimbangan manajemen atau pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan, dan panduan antara kecerdasan, pelatihan dan pengalaman yang dituntut dalam

pengembangan kompetensi.”

Dengan demikian jelaslah sudah, bahwa setiap pekerjaan, misalnya

penyusunan anggaran haruslah ditunjang dengan komitmen terhadap kompetensi

(26)

19

3. Dewan Komisaris dan Komite Audit

Dalam perusahaan berbentuk perseroan terbatas, jika penunjukan auditor

dilakukan oleh manajemen puncak, kebebasan auditor terlihat berkurang

dipandang dari sudut pemegang saham, dalam hal ini adalah dewan komisaris.

Menurut Mulyadi (2010:185) bahwa:

“Dewan komisaris adalah wakil pemegang saham dalam perusahaan berbadan hukum Perseroan Terbatas. Dewan ini berfungsi mengawasi pengelolaan data perusahaan yang dilaksanakan oleh manajemen (direksi). Dengan demikian, Dewan Komisaris yang aktif menjalankan fungsinya dapat mencegah pengendalian yang terlalu banyak di tangan manajemen (direksi).”

Pembentukan komite audit oleh perusahaan-perusahaan publik sudah banyak

dilakukan diberbagai negara termasuk Indonesia. Seiring dengan menguatnya

tuntutan agar perusahaan lebih transparan dan reliable mengenai kinerjanya,

peran komite audit menjadi semakin penting. Berikut pengertian komite audit dari

beberapa ahli:

Menurut Rangkuti (2010:49) bahwa:

“Komite Audit adalah komite yang dibentuk oleh Dewan Komisaris dalam rangka

membantu melaksanakan tugas dan fungsinya”.

Menurut Zaki Baridwan (2010:2) bahwa:

“Suatu komite yang bekerja secara profesional dan independen yang dibentuk oleh dewan komisaris dan, dengan demikian, tugasnya adalah membantu dan memperkuat fungsi dewan komisaris (atau dewan pengawas) dalam menjalankan fungsi pengawasan(oversight) atas proses pelaporan keuangan, manajemen risiko, pelaksanaan audit dan implementasi dari corporate governance di

perusahaan-perusahaan”.

Meskipun pendapat mengenai definisi komite audit menurut beberapa ahli

(27)

yang dibentuk oleh dewan komisaris yang bekerjasama untuk membantu

melaksanakan tugas dan fungsinya.

4. Filosofi dan Gaya Operasi Manajemen

Filosofi dibutuhkan oleh karyawan karena berhubungan dengan cerminan

kejujuran dalam pelaksanaan tugasnya, khusnya dalam bidang keuangan

perusahaan. Adapun teori yang mengemukakan pentingnya filosofi dan gaya

operasi manajemen seperti yang dikatakan oleh

Menurut Mulyadi (2010:186) yaitu:

“Filosofi merupakan seperangkat keyakinan dasar yang menjadi ukuran bagi

perusahan dan karyawannya, dalam berbisnis, manajemen yang memiliki filosofi akan meletakkan kejujuran sebagai dasar bisnisnya. Laporan keuangan perusahaan akan digunakan sebagai alat manajemen untuk mencerminkan kejujuran pertanggung jawaban keuangan perusahaan kepada siapa saja yang berhubungan bisnis dengan mereka. Gaya operasi mencerminkan ide manajer tentang bagaimana operasi suatu entitas harus dilaksanakan”.

Setiap manajer memiliki gaya operasi masing-masing ada yang

mementingkan laporan keuangan, penyusunan anggaran dan banyak lagi yang

lainnya. seperti teori yang dikemukakan oleh

Menurut Mulyadi (2010:186) bahwa :

”Ada manajer yang memilih gaya operasi yang sangat menekankan pentingnya pelaporan keuangan, penyusunan dan penggunaan anggaransebagai alat pengukur kinerja manajer, dan pencapaian tujuan yang telah dicanangkan dalam anggaran; ada manajer yang tidak demikian.”

5. Struktur Organisasi

Struktur organisasi memberikan kerangka untuk perencanaan,

(28)

21

organisasi suatu entitas mencakup pembagian wewenang dan pembebanan

tanggung jawab di dalam suatu organisasi dalam mencapai tujuan organisasi.

Menurut Mulyadi (2010:187) bahwa:

“Organisasi dibentuk oleh manusia untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Orang bergabung dalam suatu organisasi dengan maksud utama untuk mencapai tujuan-tujuan yang tidak dapat dicapainya dengan kemampuan yang dimilikinya sendiri. Struktur organisasi memberikan kerangka untuk perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, dan pemantauan aktivitas entitas. Pengembangan struktur organisasi suatu entitas mencakup pembagian wewenang dan pembebanan tanggung jawab di dalam suatu organisasi dalam mencapai tujuan organisasi.”

Jadi dapat dikatakan bahwa struktur organisasi dalam perusahaan adalah

rancangan atau susunan bagian dalam pelaksanaan kegiatan operasional

perusahaan.

6. Pembagian Wewenang dan Tanggungjawab

Perumusan kewenangan dan tanggung jawab ini menyangkut tentang

bagaimana dan kepada siapa kewenangan dan tanggung jawab diberian, dengan

pembagian tugas yang jelas akan memudahkan setiap personil dalam

melaksanakan aktivitasnya, selain itu pertanggung jawaban akan tugas yang

dilaksanakan menjadi jelas untuk pencapaian tujuan organisasi, seperti teori yang

dipaparkan oleh

Menurut Mulyadi (2010:187) bahwa:

“Pembagian wewenang dan pembebanan tanggung jawab dengan pembagian wewenang yang jelas, organisasi akan dapat mengalokasikan berbagai sumber daya yang dimilikinya untuk mencapai tujuan organisasi. Disamping itu, pembagian wewenang yang jelas akan memudahkan pertanggung jawaban

(29)

7. Kebijakan dan Praktik Sumberdaya Manusia

Dapat dilihat bahwa kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh perusahan

mengenai sumber daya manusia dapat dikatakan baik atau memadai, karena

semua unsur atas kebijakan sumber daya manusia seperti perekrutan,

pengangkatan, pelatihan, penilaian kinerja, rotasi jabatan/pekerjaan.

Menurut Rama dan Jones (2011:133) yang diterjemahkan oleh Fitriyani

bahwa:

“Suatu konsep fundamental dari pengendalian internal yang disebutkan sebelumnya adalah bahwa pengendalian internal dilaksanakan atau diimplementasikan oleh orang. Oleh karena itu, agar pengendalian internal efektif, adalah penting bahwa kebijakan dan prosedur sumberdaya manusia yang diterapkan akan menjamin bahwa personel entitas memiliki tingkat integritas, nilai etika, dan kompetensi yang diharapkan.

Praktik tersebut mencakup kebijakan perekrutan karyawan dan proses penyeleksian yang dikembangkan dengan baik; orientasi personel baru terhadap budaya dan gaya operasi entitas, kebijakan pelatihan yang mengkomunikasikan peran prospektif dan tanggung jawab; tindakan pendisiplinan untuk pelanggaran terhadap perilaku yang diharapkan; pengevaluasian, konseling, dan mempromosikan orang berdasarkan kinerja periodik; serta program kompensasi yang memotivasi dan memberikan penghargaan atas kinerja yang tinggi sambil menghindari disinsentif terhadap perilaku etis.”

2.3 Persediaan

Persediaan pada umumnya merupakan salah satu jenis aktiva lancar yang

jumlahnya cukup besar dalam suatu perusahaan. Hal ini mudah dipahami karena

persediaan merupakan faktor penting dalam menentukan kelancaran operasi

perusahaan. Persediaan merupakan bentuk investasi, dari mana keuntungan (laba)

(30)

23

2.3.1 Pengertian Persediaan

Menurut Stice dan Skousen yang diterjemahkan oleh Emil Salim (2011:572)

bahwa:

“Persediaan adalah istilah yang diberikan untuk aset yang akan dijual dalam

kegiatan normal perusahaan atau aset yang dimasukkan secara langsung atau tidak

langsung, ke dalam barang yang akan diproduksi kemudian dijual.”

Menurut Standar Akuntansi Keuangan dari IAI (Ikatan Akuntan

Indonesia) PSAK No. 14 tahun 2010 bahwa:

“Persediaan adalah (a) Tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha normal, (b)

Dalam proses produksi dan atau dalam perjalanan, (c) Atau dalam bentuk bahan

atau perlengkapan/supplies untuk digunakan dalam proses produksi atau

pemberian jasa.”

Menurut Rangkuti (2010:146) bahwa:

“Persediaan adalah sebagai suatu aktivitas yang meliputi barang-barang milik perusahaan dengan maksud untuk dijual dalam suatu periode usaha tertentu atau persediaan barang-barang yang masih dalam pengerjaan proses produksi ataupun persediaan bahan baku yang menunggu penggunaannya dalam suatu proses

produksi.”

Berdasarkan definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa persediaan adalah

material yang berupa bahan baku, barang setengah jadi atau barang jadi yang

disimpan dalam suatu tempat atau gudang dimana barang tersebut menunggu

(31)

2.3.2 Penggolongan Persediaan

Menurut Ikatan Akuntan Indonesia (2011:14) bahwa:

“Persediaan meliputi barang yang dibeli dan dimiliki untuk dijual kembali,

misalnya barang dagangan yang dibeli oleh pengecer untuk dijual kembali, atau pengadaan tanah dan properti lainnya untuk dijual kembali. Persediaan juga mencakupi barang jadi yang diproduksi, oleh entitas serta termasuk bahan serta

perlengkapan yang akan digunakan dalam proses produksi.”

Penggolongan persediaan tergantung pada karakteristik perusahaan itu sendiri,

yaitu apakah perusahaan dagang atau industri. Bagi perusahaan dagang yang

usahanya adalah membeli dan menjual kembali barang-barang, persediaannya

meliputi semua barang yang dimiliki perusahaan dan siap untuk dijual kembali

kepada pelanggan. Dengan kata lain perusahaan membeli barang dengan tujuan

untuk dijual kembali. Persediaan dalam perusahaan dagang disebut persediaan

barang dagangan (merchandise inventory) sedangkan dalam perusahaan industri

(manufacture), pedagang eceran (retainer) persediaan terdiri dari:

1) Persediaan Bahan Baku atau Mentah (Row Material)

Bahan baku merupakan barang-barang yang diperoleh dalam keadaan yang

harus dikembangkan yang akan menjadi bagian utama dari barang jadi. Jika

membuat sepeda, salah satu bahan mentah adalah pipa baja. Bahan baku yang

digunakan dalam proses produksi dikelompokkan menjadi bahan baku langsung

dan bahan baku tidak langsung (bahan penolong).

a) Bahan baku langsung (Direct Material) adalah semua bahan baku yang

(32)

25

b) Bahan baku tidak langsung (Indirect Material) atau bahan penolong adalah

bahan baku yang ikut berperan dalam proses produksi tetapi tidak secara

langsung tampak pada barang yang dihasilkan.

2) Persediaan Bahan Dalam Proses (Work In Process)

Persediaan bahan dalam proses adalah persediaan barang-barang yang belum

selesai dikerjakan dalam proses produksi sehingga belum menjadi barang jadi

yang siap untuk dijual. Adapun unsur-unsur biaya yang terkandung didalam

persediaan ini meliputi:

a) Biaya bahan langsung (Direct Material)

Biaya bahan yang secara langsung dikaitkan dengan barang-barang dalam

produksi.

b) Biaya upah langsung (Direct Labour)

Seluruh biaya karyawan yang secara langsung ikut serta memproduksi sampai

menjadi produk jadi yang jasanya dapat diusut secara langsung pada produk

dan upahnya merupakan bagian yang besar dalam memproduksi produk.

c) Biaya overhead pabrik (Factory Overhead Expense)

Terdiri dari seluruh biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk

memproduksi barang-barang, selain bahan langsung dan upah langsung,

biaya-biaya yang termasuk biaya overhead pabrik ini antara lain:

(33)

 Upah Tidak Langsung

 Biaya Penyusutan Pabrik, Mesin atau Peralatan Pabrik (Depresiasi).

 Pemeliharaan (Maintanance).

 Perbaikan (Reparattion).

 Pajak Kekayaan (Property taxes).

 Biaya asuransi (Insurance Expense).

 Biaya penerangan, pemanasan dan pembangkit tenaga.

 Biaya administrasi atau manajemen yang ada kolerasinya dengan

kegiatan produksi.

3. Barang Jadi (Finished Good)

Barang jadi adalah barang yang sudah selesai dikerjakan dalam proses

produksi dan siap untuk dijual ke konsumen. Selain itu barang jadi yang

merupakan hasil produksi suatu perusahaan industri baik sebagai hasil produk

selesai, juga merupakan barang yang digunakan pada proses produksi yang lebih

lanjut pada saat produk selesai biaya diakumulasikan dalam proses produksi yang

ditransfer dari barang dalam proses perkiraan barang jadi.

2.3.3 Jenis-Jenis Persediaan

Setiap jenis persediaan memiliki karakteristik tersendiri dan cara pengelolaan

yang berbeda. Rangkuti (2010:15) memaparkan persediaan dapat dibedakan

(34)

27

1) Persediaan bahan mentah (raw material) yaitu persediaan barang-barang

berwujud, seperti besi, kayu, serta komponen-komponen lain yang digunakan

dalam proses produksi.

2) Persediaan komponen-komponen rakitan (purchased parts/components), yaitu

persediaan barang-barang yang terdiri dari komponen-komponen yang

diperoleh dari perusahaan lain yang secara langsung dapat dirakit menjadi

suatu produk.

3) Persediaan bahan pembantu atau penolong (supplies), yaitu persediaan

barang-barang yang diperlukan dalam proses produksi, tetapi bukan merupakan bagian

atau komponen barang jadi.

4) Persediaan barang dalam proses (work in proces), yaitu persediaan

barang-barang yang merupakan keluaran dari tiap-tiap bagian dalam proses produksi

atau yang telah diolah menjadi suatu bentuk, tetapi masih perlu diproses lebih

lanjut menjadi barang jadi.

5) Persediaan barang jadi (finished goods), yaitu persediaan barang-barang yang

telah selesai diproses atau diolah dalam pabrik dan dijual atau dikirim kepada

pelanggan.

2.3.4 Fungsi-Fungsi Persediaan

Pada prinsipnya persediaan mempermudah atau memperlancar jalannya

(35)

memproduksi barang-barang serta menyampaikannya pada para pelanggan atau

konsumen.

Menurut Rangkuti (2010:15) adapun fungsi-fungsi persediaan oleh suatu

perusahaan/pabrik adalah sebagai berikut:

1) Fungsi Decoupling

Adalah persediaan yang memungkinkan perusahaan dapat memenuhi

permintaan pelanggan tanpa tergantung pada supplier. Persediaan bahan mentah

diadakan agar perusahaan tidak akan sepenuhnya tergantung pada pengadaannya

dalam hal kuantitas dan waktu pengiriman. Persediaan barang dalam proses

diadakan agar departemen-departemen dan proses-proses individual perusahaan

terjaga “kebebasannya”. Persediaan barang jadi diperlukan untuk memenuhi

permintaan produk yang tidak pasti dari para pelanggan. Persediaan yang

diadakan untuk menghadapi fluktuasi permintaan konsumen yang tidak dapat

diperkirakan atau diramalkan disebut fluctuation stock.

2) Fungsi Economic Lot Sizing

Persediaan lot size ini perlu mempertimbangkan penghematan atau potongan

pembelian, biaya pengangkutan per unit menjadi lebih murah dan sebagainya. Hal

ini disebabkan perusahaan melakukan pembelian dalam kuantitas yang lebih besar

dibandingkan biaya-biaya yang timbul karena besarnya persediaan (biaya sewa

gudang, investasi, resiko dan sebagainya).

(36)

29

Apabila perusahaan menghadapi fluktuasi permintaan yang dapat diperkirakan

dan diramalkan berdasar pengalaman atau data-data masa lalu, yaitu permintaan

musiman. Dalam hal ini perusahaan dapat mengadakan persediaan musiman

(37)

30

OBJEK DAN METODE PENELITIAN

3.1 Objek Penelitian

Dalam melakukan sebuah penelitian yang pertama kali diperhatikan adalah

objek penelitian yang akan diteliti. Objek penelitian merupakan suatu hal yang

dijadikan sasaran penelitian dengan tujuan mengetahui kebenaran dan fakta

tentang suatu hal.

Menurut Husein Umar (2013:38):

“Objek yang menjelaskan tentang apa atau siapa yang menjadi objek penelitian

dimana dan kapan penelitian dilakukan, dapat juga ditambahkan dengan hal-hal

yang dianggap perlu.”

Menurut Iwan Satibi (2011:74) bahwa:

“Objek penelitian secara umum akan memetakan atau menggambarkan wilayah penelitian atau sasaran penelitian secara komprehensif, yang meliputi karakterisik wilayah, sejarah perkembangan, struktur organisasi, tugas pokok dan fungsi lain-lain sesuai dengan pemetaan wilayah penelitian yang dimaksud.”

Menurut Supriyanti (2012:38) bahwa:

“Objek penelitian adalah variabel yang diteliti oleh peneliti ditempat penelitian

(38)

31

Menurut Sugiyono (2013:20) bahwa:

“Suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, objek atau kegiatan yang

mempunyai variasi tertentu yang diterapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan

kemudian ditarik kesimpulannya.”

Dari pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa objek penelitian adalah

variabel yang diteliti oleh peneliti di tempat penelitian dilakukan dan sasaran

ilmiah untuk mendapatkan data dan mengetahui apa, siapa, kapan dan dimana

penelitian tersebut dilakukan. Berdasarkan penjelasan di atas dalam penelitian ini

yang menjadi objek penelitian adalah Tinjauan Atas Penerapan Prosedur

Pengendalian Internal Barang Dagangan Pada PT. Gramedia Pustaka Utama

Bandung.

3.2 Metode Penelitian

Metode penelitian adalah suatu teknis atau cara mencari, memperoleh,

mengumpulkan atau mencatat data, baik berupa data primer maupun data

sekunder yang digunakan untuk keperluan menyusun suatu karya ilmiah dan

kemudian menganalisa faktor-faktor yang berhubungan dengan pokok-pokok

permasalahan sehingga akan terdapat suatu kebenaran data-data yang akan

diperoleh.

Menurut Umi Narimawati (2011:29) bahwa:

“Metode penelitian merupakan cara peneliti yang digunakan untuk mendapatkan

(39)

Menurut Supriati (2012:5) bahwa:

“Metode penelitian adalah tatacara bagaimana suatu penelitian dilaksanakan.”

Menurut Yvone Agustine (2013:5) bahwa:

“Sebuah aktivitas yang memberikan kontribusi dalam memahami fenomena yang

menjadi perhatian melalui penelitian.”

Berdasarkan definisi diatas dapat diketahui bahwa metode penelitian adalah

dapat dipahami sebagai tata cara bagaimana suatu penelitian dipahami sebagai tata

cara bagaimana suatu penelitian dilaksanakan.

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif

Menurut Nyoman Dantes (2012:51) bahwa:

“Penelitian Deskriptif diartikan sebagai suatu penelitian yang berusaha

mendeskripsikan suatu fenomena/peristiwa secara sistematis sesuai dengan apa

adanya.”

Menurut Husein Umar (2013:22) bahwa:

“Metode yang berfungsi untuk mendeskripsikan atau memberi gambaran terhadap

objek yang diteliti melalui data atau sampel yang telah terkumpul sebagaimana

adanya, tanpa melakukan analisis dan membuat kesimpulan yang berlaku untuk

umum.”

Referensi

Dokumen terkait

manajemen untuk memantau aktivitas setiap fungsi dan anggota organisasi. Untuk tujuan pengendalian persediaan barang dagangan, PT. Sabda Cipta Jaya. menggunakan metode

Berdasarkan hasil penelitian melalui observasi terhadap jalannya sistem pengendalian intern persediaan barang dagangan sebagai usaha untuk meminimalisasi risiko

Dalam penelitian ini, peneliti berfokus pada sistem pengendalian internal persediaan.. barang yang diterapkan

Berdasarkan analisis yang telah dilakukan pada Toko Sumber Rejo Semarang dapat disimpulkan bahwa sistem pengendalian internal atas penjualan barang dagangan masih belum bisa

Sistem pengendalian internal pada Koperasi Karyawan Sampoerna masih perlu diperbaiki, karena masih banyak kekurangan yang ditemukan seperti masih belum adanya kamera

Kesimpulan dari penelitian ini adalah: Pengendalian intern untuk siklus persediaan barang dagangan pada SPBU Kolongan sudah menerapkan unsur-unsur pengendalian intern

Berdasarkan hasil penelitian melalui observasi terhadap jalannya sistem pengendalian intern persediaan barang dagangan sebagai usaha untuk meminimalisasi risiko

Aktivitas Pengendalian Dari hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa aktivitas pengendalian internal atas persediaan barang dagang pada Toko Alfamart Bengkong Indah Batam sudah