Implikatur Percakapan pada Novel "99 Cahaya di Langit Eropa" Karya Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra serta Implikasinya Terhadap Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia

126  14 

Teks penuh

(1)

ALMAHENDRA SERTA IMPLIKASINYA TERHADAP

PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

Skripsi

Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan

Disusun oleh:

RIZA HERNITA

NIM 1110013000040

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH

(2)
(3)
(4)
(5)

i

ABSTRAK

Riza Hernita, 1110013000040, 2014, Implikatur Percakapan pada Novel 99

Cahaya di Langit Eropa; Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa Karya

Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra serta Implikasinya Terhadap Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negri Syarif Hidayatullah, Jakarta. Pembimbing Nuryani, M.A.

Bahasa merupakan jembatan dalam berkomunikasi yang sangat dibutuhkan oleh setiap individu. Setiap individu memiliki caranya tersendiri dalam menyampaikan informasi. Dalam situasi atau konteks tertentu, penutur atau orang yang menyampaikan tuturan memberikan informas i yang lebih dari apa yang dikatakannya. Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) Mendeskripsikan implikatur percakapan pada novel 99 Cahaya di Langit Eropa; Perjalanan

Menapak Jejak Islam di Eropa karya Hanum Salsabiela Rais dan Rangga

Almahendra, dan (2) Mengetahui implikatur percakapan pada novel 99 Cahaya di

Langit Eropa; Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa karya Hanum Salsabiela

Rais dan Rangga Almahendra serta implikasinya terhadap pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian ini dilakukan dengan cara mendata penggalan percakapan yang mengandung implikatur percakapan pada novel 99 Cahaya di Langit Eropa; Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa karya Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra, setelah itu menganalisisnya.

Hasil penelitian ini dapat disimpulkan beberapa hal, (1) Implikatur percakapan: a) implikatur percakapan pada novel 99 Cahaya di Langit Eropa;

Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa karya Hanum Salsabiela Rais dan

Rangga Almahendra menggunakan teori Grice mengenai prinsip kerjasama percakapan dan teori relevansi oleh Sperber dan Wilson; b) 15 sampel penggalan percakapan yang memiliki implikatur percakapan pada novel 99 Cahaya di Langit

Eropa; Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa karya Hanum Salsabiela Rais

dan Rangga Almahendra; c) data 1 penggalan percakapan melanggar maksim cara, data 2-15 melanggar maksim kuantitas dan maksim cara ; dan d) novel 99 Cahaya

di Langit Eropa; Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa karya Hanum

Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra setiap temuan penggalan percakapan mentaati teori relevansi dan maksim relevansi dari prinsip kerjasama. (2) Implikasi dari novel 99 Cahaya di Langit Eropa; Perjalanan Menapak Jejak

Islam di Eropa diharapkan menjadi salah satu pertimbangan dalam pembelajaran

bahasa Indonesia di sekolah, khususnya Sekolah Menengah Atas (SMA), semester ganjil, kelas XII, sebagai sarana komunikasi dalam mengolah, menalar, dan menyajikan informasi lisan dan tulis melalui teks cerita sejarah, berita, iklan, editorial/opini, dan novel.

(6)

ii

Riza Hernita, 1110013000040, 2014, Conversational Implicature in Novel 99 Cahaya di Langit Eropa; Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa by Hanum Salsabiela Rais and Rangga Almahendra also the Implications in Learning Indonesian Language and Literature. Department of Indonesian Language and Literature, Faculty of Tarbiyah and Teacher‟s Training of Islamic State

University Syarif Hidayatullah Jakarta. Under the supervisor Nuryani, M.A.

Language is a bridge of communication that is needed by each individual. Each individual has their own way in conveying information. In a particular situation or context, speakers or utterances that convey more information than what he says. The aim of this study is: (1) to describe the conversational Implicature in Novel 99 Cahaya di Langit Eropa; Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa by Hanum Salsabiela Rais and Rangga Almahendra, and (2) to

determine the, conversational Implicature in Novel 99 Cahaya di Langit Eropa;

Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa by Hanum Salsabiela Rais and Rangga Almahendra also the Implications in Learning Indonesian Language and Literature. The method used in this research is descriptive qualitative research method. The research completed by record conversations contained conversational Implicature in Novel 99 Cahaya di Langit Eropa; Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa by Hanum Salsabiela Rais and Rangga Almahendra, afterwards it is analyzed.

This research is concluded, such as: (1) conversational implicatures: a) conversational Implicature in Novel 99 Cahaya di Langit Eropa; Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa by Hanum Salsabiela Rais and Rangga

Almahendra using the principle of cooperation Grice‟s theory of conversation and

relevance theory stated by Sperber and Wilson; b) 15 samples fragment of a conversation that have conversational Implicature in Novel 99 Cahaya di Langit Eropa; Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa by Hanum Salsabiela Rais and Rangga Almahendra; c) 15 samples fragment of a conversation that has a conversational implicature on the novel Light in the Sky 99 Europe; Retracing the trip Traces of Islam in Europe works Hanum Salsabiela Rais and Rangga Almahendra; c) Data 1 fragment of conversation violated maxim of manner, the data 2-15 violated maxim of quantity and manner; and d) novel 99 Cahaya di Langit Eropa Works Hanum Salsabiela Rais every fragment of conversation findings obey the relevance theory and the maxim of relevance of the principle of cooperation.(2) Implications of a novel 99 Cahaya di Langit Eropa is expected to be one of the considerations in the Indonesian language learning in schools, especially high schools, the first semester, the class XII, as a means of communication in the process, reasoning, present oral and written information through of the text stories, news, advertising, editorial/opinion, and novels.

(7)

iii

rahmat dan hidayah-Nya. Shalawat beserta salam selalu tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, kepada keluarga dan para sahabatnya serta seluruh muslimin dan muslimah. Alhamdulillahi rabbil ‘alamiin, senantiasa penulis haturkan kepada-Nya. karena atas ridho-Nya penulis dapat menyelesaikan seluruh kewajibannya dalam menyusun skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa dirinya adalah makhluk sosial yang tidak mungkin hidup mandiri. Begitu pula dengan proses pelaksanaan penyusunan skripsi ini, penulis membutuhkan bantuan, dukungan, dan doa dari berbagai pihak sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan ini dengan baik. Untuk itu sebagai ungkapan rasa hormat, penulis megucapka terimakasih kepada:

1. Dra. Nurlena Rifai, M.A. Ph.D. Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negri Syarif Hidayatullah Jakarta;

2. Dra. Mahmudah Fitriyah Z.A., M.Pd. Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, sebagai dosen pembimbing akademik, dan dewan penguji pada saat Ujian Munaqasah yang telah memberikan bimbingan kepada penulis sehingga berakhirnya penulisan skripsi ini. Semoga ibu dan keluarga selalu berada dalam lindungan Allah SWT, amin;

3. Dr. Nuryani, S.pd, M.A. sebagai dosen pembimbing yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan, arahan, dan saran-saran saat menyusun skripsi ini. Semoga ibu dan keluarga selalu berada dalam lindungan Allah SWT, amin;

4. Dr. Darsita, S, M. Hum. Sebagai dewan penguji pada saat Ujian Munaqasah yang telah memberikan nasehat, petunjuk, serta bimbingan dalam menyelesaikan skripsi ini. Semoga ibu dan keluarga selalu berada dalam lindungan Allah SWT, amin;

(8)

motivasi, semangat selama menyelesaikan skripsi ini. Semoga ibu dan keluarga selalu berada dalam lindungan Allah SWT, amin;

6. Rosida Erowati, M.Hum sebagai dosen pembimbing proposal skripsi yang telah memberikan saran-saran, motivasi, dan semangat kepada penulis selama menyelesaikan skripsi ini. Semoga ibu dan keluarga selalu berada dalam lindungan Allah SWT, amin;

7. Segenap dewan Dosen dan Pegawai Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negri Syarif Hidayatullah Jakarta, atas saran-saran, pengetahuan, motivasi, dan dukungan yang diberikan. Semoga bapak-bapak, ibu- ibu dan keluarga selalu berada dalam lindungan Allah SWT, amin;

8. Teristimewa untuk orangtua penulis yaitu Bapak Herizal dan Ibu Epina Darmita. Kepada paman-paman serta sanak-keluarga penulis lainnya yang telah banyak berjasa dan memberikan motivasi serta dukungan dalam menyelesaikan pembuatan skripsi ini, semoga Allah SWT melindungi dan memberikan rodho-Nya kepada kita semua, amin;

9. Hj. Bustamam dan Hj. Fatimah yang telah berjasa dan banyak memberikan motivasi untuk menyelesaikan skripsi ini, Semoga bapak, ibu dan keluarga selalu berada dalam lindungan Allah SWT, amin;

10.Srikanth Sainam Damarla atas dukungan, semangat, motivasi, dan kesabaran kepada penulis selama menyelesaikan skripsi ini. Semoga diberikan kesehatan dan lindungan oleh Allah SWT, amin;

11.Teman-teman Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia angkatan 2010, khususnya kelas A. Dan teman-teman lainnya: Dhea, Tiwi, Ika, kak Indah, kak septi, kak ani, kak didi, wulan, suci, dan teman-teman yang belum disebutkan namanya. Terimakasih atas kesabaran, saran-saran, serta dukungan selama menyelesaikan skripsi ini. Semoga kita semua mendapatkan rido-Nya, amin; dan

(9)

Penulis haturkan doa dan rasa syukur kepada Allah SWT, semoga jasa yang telah mereka berikan menjadi amal soleh dan mendapatkan balasan yang jauh lebih baik dari Allah SWT, amin.

Akhirul kalam, penulis mohon maaf atas kekurangan yang terdapat dalam skripsi ini, dan dengan kerendahan hati penulis menerima kritik dan saran yang membangun. Besar harapan penulis, semoga skripsi ini bermanfaat bagi semua pihak yang membutuhkan.

Jakarta, 3 Mei 2014

Penulis

(10)

vi

ABSTRAK... i

ABSTRACT...ii

KATA PENGANTAR...iii

DAFTAR ISI...Vi DAFTAR LAMPIRAN...Viii BAB I: PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah...1

B. Identifikasi Masalah...3

C. Batasan Masalah...4

D. Rumusan Masalah...4

E. Tujuan Penelitian...4

F. Manfaat Penelitian...5

G. Metode Penelitian...5

H. Fokus Penelitian...6

I. Objek Penelitian...6

J. Populasi dan Sampel...6

K. Teknik Pengumpulan Data...7

L. Instrumen Penelitian...7

M. Teknik Analisis Data...7

N. Triangulasi Data...8

BAB II: LANDASAN TEORETIS A. Pragmatik...9

B. Konteks...10

Pengertian Konteks dan Ciri-ciri Konteks...10

C. Implikatur...12

1. Pengertian Implikatur...12

2. Ciri-ciri Implikatur...25

3. Macam-macam Implikatur...29

D. Prinsip Kerjasama Percakapan...33

E. Novel...39

1. Pengertian Novel...39

(11)

F. Penelitian yang Relevan...41

BAB III: HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian...44

1. Biografi Pengarang...44

2. Sinopsis Novel 99 Cahaya di Langit Eropa...44

B. Analisis Data...46

C. Pembahasan...72

D. Implikasi dalam Pendidikan...97

BAB IV: PENUTUP A. Simpulan...98

B. Saran...99

DAFTAR PUSTAKA...100

UJI REFERENSI

(12)

viii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1: Lembar Uji Referensi

Lampiran 2: Lembar Surat Bimbingan Skripsi

Lampiran 3: Gambar Nampak Depan dan Nampak Belakang Novel 99 Cahaya di

Langit Eropa; Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa

Lampiran 4: RPP Kelas XII Semester Ganjil Mengenai Analisis Unsur Intrinsik Novel

(13)

1

A. Latar Belakang Masalah

Bahasa merupakan jembatan dalam berkomunikasi yang sangat dibutuhkan oleh setiap individu. Komunikasi yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari tidak selalu diwujudkan dalam bentuk lisan, tetapi juga diterapkan dalam bentuk tulisan. Setiap melakukan tindakan komunikasi, penutur mengharapkan pendengar atau petutur mengerti dan mampu menangkap apa yang ingin diinformasikan sehingga tidak terjadi kesalahpahaman. Agar tidak terjadi kesalapahaman, seseorang harus mengetahui dan memahami bagaimana pemakaian kata dalam komunikasi yang sesuai dengan situasi dan kepada siapa berbicara. Salah satu yang harus dikuasai adalah diksi atau pilihan kata

Setiap individu memiliki caranya tersendiri dalam menyampaikan informasi. Dalam situasi atau konteks tertentu, penutur atau orang yang menyampaikan tuturan memberikan informasi yang lebih dari apa yang dikatakannya. Maksud atau informasi yang disampaikan lebih banyak secara tidak langsung kepada petutur. Untuk menangkap informasi tersebut petutur harus mengerti konteks pembicaraan dan bekerja keras dalam memahami tanda-tanda yang diberikan oleh penutur. Informasi yang berlebih dari yang dimaksud dalam hal ini melanggar prinsip kerjasama percakapan. Pelanggaran terhadap prinsip kerjasama percakapan terkadang sangat diperlukan dalam konteks tertentu. Hal tersebut bisa disebut sebagai implikatur percakapan dalam berkomunikasi.

(14)

Masyarakat Indonesia yang multikultural sangat menjunjung tinggi sopan santun dalam percakapan pada situasi komunikasi tertentu. Berdasarkan pengalaman peneliti, salah satu daerah di Indonesia yaitu daerah Minangkabau sangat mengutamakan kesopanan dalam percakapan. Masyarakat Minangkabau menganal kato nan ampek. Kato nan ampek merupakan aturan bagaimana berkomunikasi dalam masyarakat. Seringkali dalam tindak percakapan di Minang melanggar prinsip kerja sama Grice. Masyarakat Minang misalnya dalam menyuruh seseorang menggunakan kalimat pertanyaan atau pernyataan dengan tujuan orang yang disuruh tidak merasa tersinggung. Segala suatu dalam percakapan ditentukan diksi mana yang akan di pakai sehingga orang yang di ajak berkomunikasi tidak merasa tersinggung dan maksud yang ingin disampaikan tercapai.

Masyarakat tidak terlepas dari budayanya masing-masing sehingga seringkali mempengaruhi dalam cara berkomunikasi. Bagi siswa cara berkomunikasi yang baik dan sopan juga dapat dipelajari di sekolah, lingkungan, dan dari apa yang mereka baca. Berdasarkan silabus mata pelajaran bahasa Indonesia di Sekolah Menengah Atas (SMA), semester ganjil, kelas XII, terdapat Standar Kompetensi poin 1.3 yang menyatakan, Mensyukuri anugerah Tuhan akan keberadaan bahasa Indonesia dan menggunakannya sebagai sarana komunikasi dalam mengolah, menalar, dan menyajikan informasi lisan dan tulis melalui teks cerita sejarah, berita, iklan, editorial/opini, dan novel. Misalnya saja dalam berkomunikasi, siswa dapat mencontoh cara tokoh-tokoh di dalam novel berkomunikasi. Siswa dapat melihat akibat atau respon yang ditimbulkan saat tokoh bertutur kepada tokoh lain dengan menggunakan diksi yang tepat dan sesuai dengan konteks pembicaraan.

(15)

dalam novel melakukan percakapan sama persis dengan cara berkomunikasi dikehidupan nyata. Dalam berkomunikasi, penutur terkadang melanggar prinsip kerjasama demi kesopanan dan berbagai hal yang melatarbelakanginya.

Berdasarkan uraian di atas peneliti tertarik untuk menulis “Implikatur Percakapan pada Novel 99 Cahaya di Langit Eropa; Perjalanan Menapak Jejak

Islam di Eropa Karya Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra serta

Implikasinya Terhadap Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia”. Hanum Salsabiela Rais adalah putri Amien Rais, lahir dan menempuh pendidikan dasar Muhammadiyah di Yogyakarta hingga mendapat gelar Dokter Gigi dari FKG UGM. Ia mengawali karirnya menjadi seorang jurnalis dan presenter di Trans TV. Hanum memulai petualangan di Eropa selama tinggal di Austria bersama suaminya, Rangga Almahendra, dan bekerja untuk proyek video podcast

Executive Academy di WU Vienna selama 2 tahun. Ia juga tercatat sebagai

koresponden detik.com bagi kawasan Eropa dan sekitarnya.

Hanum Salsabiela Rais dan suaminya menulis novel 99 Cahaya di Langit

Eropa berdasarkan pengalaman mereka selama di Eropa. Peneliti memilih novel

99 Cahaya di Langit Eropa; Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa ini

dikarenakan sebagai berikut: (1) diksi dan struktur kalimat yang digunakan sederhana dan mudah dipahami; (2) novel ini tidak hanya bercerita tentang perjalanan Hanum dan suaminya, tetapi juga menceritakan sejarah perkembangan Islam di Eropa; (3) penyajian yang sederhana dan mudah dipahami mempunyai daya tarik tersendiri bagi pembaca untuk ikut langsung dalam perjalanan yang mereka tempuh serta menimbulkan perasaan cinta dan bangga terhadap agama Islam; dan (4) pemaparan dialog antartokoh pada novel 99 Cahaya di Langit

Eropa; Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa Hanum menambah nilai

estetika dengan pemilihan diksi dan respon yang ditimbulkan oleh petutur.

B. Identifikasi Masalah

(16)

1. Implikatur percakapan pada novel 99 Cahaya di Langit Eropa; Perjalanan

Menapak Jejak Islam di Eropa karya Hanum Salsabiela Rais dan Rangga

Almahendra

2. Pelanggaran terhadap prinsip kerjasama dalam komunikasi pada novel 99

Cahaya di Langit Eropa; Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa karya

Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra

3. Siswa mempelajari sikap berkomunikasi dengan diksi dan situasi yang relevan berdasarkan contoh dari novel 99 Cahaya di Langit Eropa;

Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa karya Hanum Salsabiela Rais

Rangga Almahendra.

C. Batasan Masalah

Penelitian ini akan memberikan penjelasan secara deskriptif tentang implikatur Percakapan pada novel 99 Cahaya di Langit Eropa; Perjalanan

Menapak Jejak Islam di Eropa Karya Hanum Salsabiela Rais dan Rangga

Almahendra serta Implikasinya Terhadap Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia.

D. Rumusan Masalah

Permasalahan penelitian ini akan menjawab beberapa pertanyaan berikut: 1. Bagaimanakah implikatur percakapan pada novel 99 Cahaya di Langit

Eropa; Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa Karya Hanum

Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra?

2. Bagaimanakah implikasi implikatur percakapan dalam novel 99 Cahaya di

Langit Eropa; Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa Karya Hanum

Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra terhadap pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia?

E. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang telah dipaparkan, penelitian ini bertujuan untuk:

1. Mendeskripsikan implikatur percakapan yang terdapat pada 99 Cahaya di

Langit Eropa; Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa Karya Hanum

(17)

2. Mengetahui implikasi implikatur percakapan dalam novel 99 Cahaya di

Langit Eropa; Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa Karya Hanum

Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra terhadap pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia.

F. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam dua aspek yaitu: 1. Teoretis

a. Secara teoretis hasil penelitian ini bermanfaat untuk rujukan bahan ajar di kelas

b. Hasil penelitian ini bermanfaat sebagai pendalaman materi

c. Hasil penelitian ini bermanfaat sebagai tambahan ilmu diluar yang mereka pelajari.

2. Praktis

Secara praktis hasil penelitian ini bermanfaat:

a. Bagi guru, penelitian ini dipakai sebagai bahan pembelajaran

b. Bagi peneliti, penelitian ini digunakan sebagai salah satu persyaratan akademik dalam menempuh perkuliahan dan kelulusan sebagai mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

c. Bagi siswa, dari penelitian ini siswa mendapatkan ilmu di luar ilmu yang dipelajari dan untuk bekal mengajar jikalau siswa menjadi guru.

G. Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian ini dilakukan dengan cara mendata penggalan percakapan yang mengandung implikatur percakapan dalam 99 Cahaya

di Langit Eropa; Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa Karya Hanum

Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra, setelah itu menganalisisnya.

(18)

diamati.1 Qualitative researchers are interested in understanding how people interpret their experiences, how they construct their worlds, and what meaning

they attribute to their experiences.2(penelitian kualitatif tertarik untuk memahami

bagaimana orang menafsirkan pengalaman mereka, bagaimana mereka membangun dunia mereka, dan apa hubungan mereka pada pengalaman). Berdasarkan pernyataan tersebut, penelitian kualitatif adalah penelitian dengan mendeskripsikan data yang dapat diamati. Peneliti terjun langsung atau menjadi kunci utama dalam melakukan penelitian. Penelitian kualitatif juga memahami bagaimana menafsirkan pengalaman, dunia yang mereka hasilkan, dan hubungan mereka dengan pengalaman atau kejadian yang mereka teliti.

H. Fokus Penelitian

Fokus dalam Penelitian ini adalah implikatur percakapan dalam novel 99

Cahaya di Langit Eropa; Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa Karya

Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra. Peneliti tidak menganalisa monolog yang ada pada novel ini. Peneliti menggunakan teori sebagai berikut:

1. Prinsip Relevansi yang dikembangkan oleh Sperber dan Wilson

2. Pelanggaran terhadap maksim percakapan yang disampaikan oleh Grice.

I. Objek Penelitian

Objek dalam penelitian ini adalah novel 99 Cahaya di Langit Eropa;

Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa Karya Hanum Salsabiela Rais dan

Rangga Almahendra. Novel ini diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, tahun 2012.

J. Populasi dan Sampel

Yang menjadi populasi dalam penelitian ini yaitu percakapan atau dialog yang memiliki implikatur. Adapun sampel penelitian terdiri atas lima belas (15) penggalan percakapan yang memiliki implikatur. Metode penarikan sampel yang digunakan yaitu dengan cara acak (Random Sampling), berarti setiap populasi

1

S. Margono, Metodologi penelitian pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2007), h. 36 2

(19)

mempunyai kesempatan yang sama untuk menjadi sampel sehingga sampel tersebut dianggap dapat mewakili populasi yang ada.

K. Teknik Pengumpulan Data

Langkah-langkah yang ditempuh dalam menganalisis data adalah sebagai berikut:

1. memilah-milah percakapan dalam novel 99 Cahaya di Langit

Eropa; Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa Karya Hanum

Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra;

2. memilih konteks-konteks tertentu sebagai sample dengan teknik purposif, yakni memilih sampel tertentu dengan pertimbangan dan penilaian sample dan mengindikasikan adanya implikatur percakapan;

3. memenggal konteks-konteks percakapan terpilih dalam penggalan pasangan percakapan;

4. menganalisis implikatur percakapan berdasarkan prinsip relevansi dan meneliti pelanggaran prinsip kerjasama dalam setiap penggalan percakapan; dan

5. menyimpulkan dan mencari implikasinya bagi pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah.

L. Instrumen Penelitian

Instrumen dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri dikarenakan penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kualitatif. Peneliti sendiri yang akan melakukan pengamatan implikatur percakapan dengan menggunakan analisis konteks menurut Dell Hymes.

M.Teknik Analisis Data

Data yang diambil dari teks bacaan akan dianalisis menggunakan SPEAKING menurut Dell Hymes. Setelah dianalisis data dibahas berdasarkan hasil analisis, teori prinsip percakapan yang dikemukakan oleh Grice, dan prinsip relevansi

(20)

N. Triangulasi Data

Triangulasi, yaitu data atau informasi dari suatu pihak harus di cek kebenarannya dengan cara memperoleh data itu dari sumber lain. Tujuannya ialah membandingkan informasi tentang hal yang sama yang diperoleh dari berbagai pihak, agar ada jaminan tentang tingkat kepercayaan data.3 Triangulasi dilakukan dengan cara (1) data penelitian ini sudah peneliti periksa ke buku teks asli; dan (2) peneliti sudah meminta izin pada penulis melalui email dan telah di setujui.

3

(21)

9

Pada bab ini peneliti menguraikan beberapa landasan teori yang akan diperlukan untuk menganalisis data sesuai dengan topik pembahasan skripsi ini. Adapun landasan teoretis yang dibahas yaitu pragmatik, konteks, implikatur, prinsip kerjasama, dan novel.

A. Pragmatik

Pragmatik merupakan cabang linguistik yang mempelajari bahasa. Pragmatik digunakan untuk berkomunikasi dalam situasi tertentu.1 Pragmatik mengkaji makna yang dipengaruhi oleh hal-hal di luar bahasa.2 Pragmatik adalah cabang ilmu linguistik yang membahas tentang apa yang termasuk struktur bahasa sebagai alat komunikasi antara penutur dan pendengar, dan sebagai pengacuan tanda-tanda bahasa pada hal-hal “ekstralingual” yang dibicarakan.3 Jadi, pragmatik merupakan cabang ilmu linguistik yang mempelajari hal-hal ekstralingual dan digunakan dalam percakapan.

Pragmatik mengkaji prilaku yang dimotivasi oleh tujuan-tujuan percakapan.4

Istilah pragmatik lahir dari filsuf Charles Morris yang mengolah kembali pemikir-pemikir filsuf-filsuf pendahulunya mengenai ilmu tanda dan lambang yang disebut semiotika. Dalam pragmatik, makna ujaran dikaji menurut makna yang dikendaki oleh penutur dan menurut konteksnya. Disamping itu, dalam pragmatik juga dilakukan kajian tentang deiksis, praanggapan, implikatur, tindak bahasa, dan aspek-aspek struktur wacana.5

Pragmatics is the sistematic study of meaning by virtue of, or dependent on, the use of language. The central topics of inquiry of pragmatics include implicature,

presuposition, speech acts, and deixis.6 (Pragmatik adalah studi sistematis

1

F.X. Nadar, Pragmatik dan Penelitian Pragmatik , (Yogyakarta: GRAHA ILMU, 2009), h. 2 2

Kushartanti, dkk., Pesona Bahasa: Langk ah awal Memahami Linguistik , (Jakarta: Gramedia Pusta, 2005), h. 104

3

Verhaar, Asas-asas Linguistik Umum, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2006), h. 14 4

Geoffrey Leech (penerjemah: Oka), Prinsip-Orinsip Pragmatik (Jakarta: Universitas Indonesia, 1993) h. 45

5

Bambang Yudi Cahyono, Kristal-k ristal Ilmu Bahasa, (Surabaya: Airlangga University Press, 1995), h. 214

6

(22)

berdasarkan makna, atau tergantung pada, penggunaan bahasa. Topik-topik utama kajian pragmatik memuat implikatur, presuposition, tindak tutur, dan deiksis). Dapat disimpulkan, pragmatik adalah salah satu cabang dari ilmu linguistik yang mengkaji unsur eksternal aspek kebahasaan. Pragmatik studi sistematis yang memuat salah satu topik kajiannya, yaitu implikatur. pragmatik di motivasi oleh tujuan-tujuan tertentu dalam berkomunikasi. Pragmatik mengkaji makna yang dipengaruhi oleh hal-hal dari luar bahasa, pada hakikatnya mempunyai konteks situasi tertentu.

B. Konteks

Pengertian Konteks dan ciri-ciri konteks

Konteks adalah hal-hal yang gayut dengan lingkungan fisik dan sosial sebuah tuturan ataupun latar belakang pengetahuan yang sama-sama dimiliki oleh penutur dan lawan tutur dan yang membantu lawan tutur menafsirkan makna tuturan.7 Konteks, yaitu unsur yang di luar bahasa, dikaji dalam pragmatik.8 Konteks merupakan latar belakang pengetahuan mengenai situasi fisik dan sosial sebuah percakapan yang berlangsung. Konteks dipelajari dalam ilmu pragmatik yang terdiri dari hal-hal di luar bahasa.

We have already noted that we can understand a sentence even if we are unable to tell whether it is true or false. Often we do k now the truth value of a sentence, and the k nowledge we use to decide is k nowledge about the world (assuming of course that the sentence is neither analytic nor contradictory). Knowledge of the world is part of context, and so pragmatics includes how language users apply k nowledge of the world to interpret utterances.9

(Kita telah mencatat bahwa kita dapat memahami kalimat bahkan kita tidak dapat mengatakan apakah itu benar atau salah. Seringkali kita tahu nilai kebenaran kalimat dan pengetahuan yang kita gunakan untuk memutuskan adalah pengetahuan tentang dunia (tentu saja dengan asumsi bahwa kalimat tersebut tidak analitik atau bertentangan). Pengetahuan tentang dunia adalah bagian dari konteks, dan pragmatik mencakup bagaimana pengguna bahasa menerapkan pengetahuan dunia untuk menafsirkan ucapan-ucapan). Dari kutipan tersebut kita

(23)

dapat menyimpulkan bahwa untuk memutuskan apakah kalimat salah atau benar kita menggunakan pengetahuan tentang dunia. Pengetahuan tentang dunia yaitu bagian dari konteks. Konteks inilah yang kita gunakan untuk menganalisis sebuah percakapan.

Konteks berhubungan dengan situasi bahasa (speech situation),situasi sosial, dan saluran. Pengucapan ujaran pada umumnya disertai dengan tingkah laku non-verbal yang disebut para bahasa, yang mencakup gerak anggota tubuh, modulasi suara, raut muka, sentuhan, dan jarak.10 Salah satu fungsi situasi dan konteks itu ialah membuat pembaca tahu apa sebuah kata, frasa atau kalimat dipakai dengan makna harfiah atau makna kiasan atau retorik.11 Konteks ialah hal-hal seperti siapa yang diajak berbicara, dalam situasi yang bagaimana kalimat yang bersangkutan diucapkan.12 Konteks berkaitan dengan situasi sosial, fisik dan saluran percakapan, seperti intonasi, bahasa tubuh, dan mimik wajah. Petutur harus bisa menafsirkan apa yang tersirat dalam percakapan yang disampaikan oleh penutur. Percakapan juga disesuaikan dengan konteks kepada siapa berbicara, di mana, dan dalam hal apa berbicara.

Berdasarkan pengertian yang telah dipaparkan sebelumnya mengenai konteks, dapat disimpulkan bahwa konteks adalah unsur di luar bahasa terkait dengan latar belakang pengetahuan yang dimiliki oleh penutur dan lawan tutur. Konteks berhubungan dengan situasi bahasa, situasi sosial, dan saluran, seperti tingkah laku non-verbal.

Dell Hymes dalam Wahab menciri unsur konteks sebagai berikut: penyampai, yaitu penutur atau penulis yang mengeluarkan ujaran; penerima, yaitu pendengar atau pembaca yang menerima pesan dalam ujaran; topik , yaitu apa yang sedang dibicarakan oleh penyampai dan penerima. Pengetahuan analisis tentang topik sangat membantu mempertajam analisis wacana yang sedang dihadapinya; setting, yang meliputi waktu, tempat, dan peristiwa. Unsur lainnya adalah saluran, yaitu bagaimana kontak antara penyampai dan penerima dilakukan-lisan atau tulisan. Kemudian ada unsur kontek yang bernama k ode, yaitu bahasa atau dialek yang dipakai dalam interaksi. Ada unsur kontek

10

Bambang Yudi Cahyono, op. cit., h. 214-217. 11

Bambang Kaswanti Purwo, Bulir-bulir Sastra dan Bahasa: Pembaharuan Pengajaran, (Yogyakarta: KANISIUS, 1991), h. 82

12

(24)

yang disebut tujuan, artinya hasil akhir dalam komunikasi antara penyampai dan penerima.13

Jadi, dapat disimpulkan bahwa unsur-unsur yang terdapat di dalam konteks yaitu penutur, petutur, topik yang dibicarakan, setting, cara berkomunikasi, bahsa yang digunakan, dan tujuan dalam berkomunikasi.

Menurut cf. Syafi‟ie dalam Rani, konteks pemakaian bahasa dapat dibedakan menjadi empat macam yaitu:

a) konteks fisik meliputi tempat terjadinya pemakaian bahasa dalam berkomunikasi;

b) konteks epitemis atau latar belakang pengetahuan yang sama-sama diketahui oleh penutur dan petutur;

c) konteks linguistik yang terdiri dari kalimat atau ujaran yang mendahului dan mengikuti ujaran tertentu dalam suatu peristiwa komunikasi; konteks linguistik disebut juga dengan istilah konteks; dan

d) konteks sosial yaitu relasi sosial dan latar yang melengkapi hubungan antara penutur dan petutur.14

Semua konteks pemakaian bahasa tersebut semuanya tentang penutur, petutur, dan ujaran. Ketiga hal tersebut harus sejalan dan konteks yang sama-sama mereka pahami pada saat terjadinya percakapan, hal tersebut merupakan hal yang sangat membentu dalam memaknai sebuah ujaran.

C. Implikatur

1. Pengertian Implikatur

Implikatur merupakan salah satu kajian utama dalam pragmatik. Pragmatik mengkaji prilaku yang dimotivasi oleh tujuan-tujuan percakapan.15 Aliran pragmatik adalah tindakan aliran struktural yang melucuti kalimat yang pada hakikatnya berkonteks, dan yang pada hakikatnya ada karena digunakan di dalam

13

Abdul Wahab, Butir-butir Linguistik , (Surabaya: Airlangga University Press, 1990), h. 56-57

14

Abdul Rani, dkk., Analisis Wacana: Sebuah Kajian Bahasa dalam Pemak ai an, (Malang: Bayumedia, 2006), h. 190

15

(25)

komunikasi.16 Berdasarkan pengertian pragmatik yang telah dijabarkan, dapat dilihat bahwa implikatur merupakan topik utama kajian pragmatik. Implikatur merupakan komunikasi yang ditimbulkan karena adanya tujuan-tujuan percakapan yang berkonteks.

Grice suggested that a conversational implicature roughly, a set of non-logical inferences which contains conveyed messages which are meant without being part of what is said in the strict sence, can arise from either strictly observing or ostentatiously flouting the maxims.17

(Grice mengemukakan bahwa implikatur percakapan kurang lebih seperangkat kesimpulan tidak logis yang mengandung penyampaian pesan yang dimaksudkan tanpa menjadi bagian dari apa yang dikatakan dalam arti yang tepat, dapat timbul baik dari penelitian yang tepat atau terang-terangan melanggar maksim). jadi, implikatur adalah penyimpulan informasi atau pesan yang disampaikan di luar dari apa yang dikatakan dalam arti sebenarnya dan melanggar maksim dalam prinsip kerjasama.

Pernyataan Grice dalam artikelnya yang berjudul Logic and conversation mengemukakan bahwa sebuah tuturan dapat melibatkan preposisi yang bukan merupakan bagian dari tuturan yang bersangkutan. Preposisi tersebut disebut implikatur (Implicature). Hubungan kedua preposisi itu bukan merupakan akibat yang mutlak (necessary consequence).”18 Grice mengatakan dalam percakapan seorang pembicara mempunyai maksud tertentu ketika mengujarkan sesuatu. Maksud yang terkandung di dalam ujaran itu disebut implikatur.19 Dapat dikatakan bahwa implikatur merupakan tujuan yang terkandung dalam percakapan yang bukan bagian dari tuturan, karena mereka tidak memiliki hubungan yang mutlak.

Jika ada dua orang yang bercakap-cakap, percakapan itu dapat berlangsung dengan lancar berkat adanya semacam “kesepakatan bersama”. Kesepakatan itu, antara lain, berupa kontrak tak tertulis bahwa ihwal yang dibicarakan itu harus saling berhubungan atau berkaitan. Hubungan atau keterkaitan itu sendiri tidak terdapat pada masing -masing kalimat secara lepas; maksudnya, makna keterkaitan itu tidak terungkapkan secara “literal” pada kalimat itu sendiri, ini yang disebut implikatur percakapan.20

I Dewa Putu Wijana dan Muhammad Rohmadi, Analisis Wacana Pragmatik ; Kajian Teori dan Analisis, (Surakarta: Yuma Pustaka, 2010), h. 37-38

19

Kushartanti, dkk., op. cit., h. 106 20

(26)

Implikatur percakapan juga dapat dikatakan sebagai makna yang tidak terungkap secara harfiah atau langsung di dalam kalimat itu sendiri. Hubungan atau keterkaitan antara tuturan dengan makna yang ingin disampaikan itu saling lepas, tidak mematuhi prinsip kerjasama dalam percakapan.

Ungkapan bahwa implikatur ialah ujaran yang menyiratkan sesuatu yang berbeda dengan yang sebenarnya diucapkan. Sesuatu “yang berbeda” tersebut adalah maksud pembicara yang tidak dikemukakan secara eksplisit. Dengan kata lain, implikatur adalah maksud, keinginan, atau ungkapan-ungkapan hati yang tersembunyi.21 Dapat disebut juga bahwa implikatur bukanlah apa yang sebenarnya diucapkan, penutur menyembunyikan maksud dan keinginan yang sebenarnya. Oleh sebab itu, penutur dan petutur harus memiliki konteks yang sama atas percakapan yang terjadi.

... Implicatures are pragmatic aspects of meaning and have certain identifiable characteristics. They are partially derived from the conventional or literal meaning of an utterance, produced in a specific context which is share by the speak er and the hearer, and depend on a recognition by the speak er and the hearer of the Cooperative Principle

and it‟s maxims. For the analyst, as well as the hearer, conversational implicatures must

be treated as inherently indeterminate since they derive from a supposition that the speak er has the intention of conveying meaning and of obeying the Cooperative Principle.22

(... Implikatur merupakan aspek pragmatik dari makna dan memiliki karakteristik tertentu yang dapat diidentifikasi. Makna dan karakteristik sebagian berasal dari arti konvensional atau harfiah dari ucapan, dihasilkan dalam konteks tertentu yang diberikan oleh pembicara dan pendengar, dan tergantung pada pengakuan pembicara dan pendengar terhadap prinsip kerjasama dan maksim-maksim itu. Untuk analis, serta pendengar, implikatur percakapan harus diperlakukan sebagai sifat tak tentu karena mereka berasal dari anggapan bahwa pembicara memiliki niat menyampaikan makna dan mematuhi Prinsip Kerjasama). Berdasarkan penjelasan mengenai implikatur tersebut dapat dikatakan bahwa implikatur merupakan bagian dari pragmatik yang memiliki karakteristik sebagian berasal dari konvensional ucapan yang dihasilkan oleh

21

Alek dan Achmad, Linguistik Umum; Sebuah ncangan Awal Memahami Ilmu Bahasa, (Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Jakarta, 2009), h. 152

22

(27)

penutur dan petutur dalam konteks tertentu dan sikapnya terhadap maksim-maksim prinsip kerjasama.

Implikatur dapat juga diartikan mengacu ke yang dikomunikasikan petutur tetapi tidak dikatakan oleh penutur.23 Menduga guessing tergantung pada konteks, yang mencakup permasalahan, peserta petuturan dan latar belakang penutur dan lawan tuturnya. Semakin dalam suatu konteks dipahami, semakin kuat dasar dugaan tersebut.24 Dari penjelasan implikatur sebelumnya dapat ditarik bahwa implikatur merupakan tuturan yang tidak secara langsung dan memberikan informasi lebih serta terkadang menuntut petutur untuk menebak apa yang dimaksud oleh penutur. Tebakan atau dugaan itu tergantung kepada konteks tuturan dan yang melatarbelakangi tuturan.

Implikatur sebuah ujaran dapat dipahami antara lain dengan menganalisis konteks pemakaian ujaran. Pengetahuan dan kemampuan menganalisis konteks pada waktu menggunakan bahasa sangat menentukan ketepatan menangkap implikatur. Konteks sangat menentukan makna sebuah ujaran.25 Implikatur bergantung kepada pemahaman latar belakang konteks dan situasi kedua pembicara.26 Jadi, implikatur sangat dipengaruhi oleh konteks yang melatarbelakangi ujaran peserta pembicara. Konteks tersebut memudahkan pembicara untuk menangkap makna implikatur. Berikut ini adalah contoh implikatur percakapan:

Konteks: seorang istri menelepon suaminya untuk menanyakan kapan akan sampai di rumah

Maika: “Kapan kamu akan sampai di rumah?”

Braka: “Seharusnya aku sampai jam delapan, tapi kamu juga tahu bagaimana macet dalam perjalanan ke rumah.”

Jawaban dari Braka terhadap istrinya mengandung setidaknya dua implikatur: pertama, Braka tidak akan sampai di rumah tepat pada jam delapan karena kata

seharusnya memiliki arti sesuatu yang tidak akan terjadi sesuai dengan yang

23

Asim Gunarwan, PELBBA 18 Pertemuan Linguistik Pusat Kajian Bahasa dan Budaya Atma Jaya k e Delapan Belas (Jakarta: Pusat Kajian Bahasa dan Budaya Unika Atma Jaya, 2007) h. 86

24

F.X. Nadar, op. cit., h. 61

25

Abdul Rani, dkk., op. cit.,h. 181

26

(28)

diharapkan. Hal ini dapat dipahami oleh istrinya. Kedua, keadaan macet dalam perjalanan tidak bisa dipastikan sehingga ketepatan sampai di rumah juga tidak bisa dipastikan. Saat Braka ditanya kapan dia akan sampai di rumah, dia tidak dapat berjanji secara pasti untuk dapat sampai di rumah pukul delapan dengan alasan macet.

Peneliti menyimpulkan bahwa implikatur adalah komunikasi yang ditimbulkan karena adanya tujuan-tujuan percakapan yang berkonteks. Penyimpulan informasi atau pesan yang disampaikan di luar dari apa yang dikatakan dalam arti sebenarnya dan melanggar maksim dalam prinsip kerjasama. Informasi yang disampaikan terkadang menuntut petutur untuk menebak apa yang dimaksud oleh penutur.

Ada empat manfaat konsep implikatur menurut Levinson dalam Rani yaitu:

1. memberikan penjelasan makna dan fakta kebahasaan yag tidak terjangkau oleh teori linguistik;

2. memberikan penjelasan yang jelas tentang perbedaan lahiriah dari yang dimaksud pemakai bahasa;

3. memberikan pemerian semantik yang sederhana mengenai hubungan klausa yang dihubungkan dengan kata peghubung yang sama; dan 4. memberikan fakta yang secara lahiriah terlihat tidak berkaitan, akan

tetapi berlawanan (metafora).27

Berdasarkan uraian tersebut, implikatur sangat bermanfaat dalam menjelaskan mengenai fakta kebahasaan yang tidak dapat di jangkau oleh teori-teori linguistik. Implikatur juga bermanfaat untuk menjelaskan makna yang berbeda dan terlihat tidak berhubungan dari apa yang dituturkan.

Berikut adalah beberapa teori yang membahas tentang implikatur. Akan tetapi, peneliti lebih fokus menggunakan teori yang disampaikan oleh Grice dan Sperber dan Wilson. Grice menjelaskan teori mengenai prinsip kerjasama percakapan dan pelanggaran terhadap prinsip kerjasama percakapan. Sementara

27

(29)

itu, Sperber dan Wilson menjelaskan teori relevansi. Adapun teorinya, yaitu sebagai berikut:

Teori Grice

Istilah implikatur sering kali dikaitkan dengan Grice, yang mengasumsikan di dalam komunikasi orang hendaklah bekerjasama dengan mitra wicaranya (petutur) agar komunikasi efisien dan efektif. Partisipan komunikasi harus mematuhi PKS (prinsip kerjasama) yang dapat dijabarkan menjadi empat maksim, yaitu maksim keinformatifan, kebenaran, relevansi, dan maksim kejelasan. Namun, partisipan komunikasi pada umumnya tidak mematuhi PKS (prinsip kerjasama) Grice. Salah satu sebabnya adalah bahwa komunikasi itu tidak selalu berupa penyampaian pesan atau informasi saja.28 Grice memostulatkan bahwa peserta dalam komunikasi seharusnya memenuhi prinsip kerjasama agar komunikasi efektif dan efisien. Namun, komunikasi yang dilakukan tidaklah hanya sekedar memberikan pesan sehingga peserta komunikasi sering melanggar prinsip kerjasama Grice.

The point of the Co-operative principle and the maxims is not to tell peopl e how to behave, of course. The point is that speak ers are permitted to flout the maxims in order to convey something over and above the literal meaning of the utterance. .... it is useful to have some way of referring to the k ind of preposition that a spe ak er intends to convey in this implicit fashion, and the standard term for this is conversational implicature. The implicature is conversational because it only arises in an appropriate conversational context.29

(Maksud dari prinsip kerjasama dan maksim tidak memberitahu orang bagaimana berperilaku, tentu saja. Intinya adalah bahwa pembicara diizinkan untuk melanggar maksim dalam rangka untuk menyampaikan sesuatu atas dan di atas arti harfiah dari ucapan. .... hal ini berguna untuk memiliki beberapa cara mengacu pada jenis preposisi bahwa pembicara bermaksud untuk menyampaikan dengan cara implisit, dan istilah standar untuk ini adalah implikatur percakapan. Implikatur percakapan ini karena hanya muncul dalam konteks percakapan yang tepat). Jadi, peneliti menyimpulkan kutipan tersebut bahwasasnya prinsip kerjasama bukanlah prinsip yang mendiktekan bagaimana cara seseorang melakukan percakapan. Maksim yang ada pada prinsip kerja sama dapat dilanggar untuk menyampaikan informasi sesuai dengan tuturan atau di luar tuturan.

28

Ibid., h. 87

29

(30)

Grice berpendapat bahwa untuk menggali kandungan eksplisit dari sebuah ujaran adalah sama dengan menggali apa yang kita sebut dengan proposisional dan mood yang diekspresikannya; sementara semua bentuk asumsi lain yang dikomunikasikan oleh ujaran, baik yang dikodekan maupun yang disimpulkan, adalah implikatur. Implikatur yang dikodekan adalah apa yang ia sebut “implikatur konvensional” sementara implikatur yang disimpulkan adalah “non-konvensional”, dimana salah satu dari bentuk implikatur non-konvensional yang paling kita kenal adalah “implikatur percakapan”.30

Implikatur adalah segala yang disimpulkan dan dikodekan dalam sebuah ujaran yang dikomunikasikan. Implikatur yang dikodekan dikenal juga dengan implikatur konvensional. Implikatur percakapan adalah salah satu dari implikatur non-konvensional.

“By providing a description of the norms speak ers operate with in conversation, Grice

makes it possible to describe what types of meaning a speaker can convey by „flouting‟ one of this

maxims. This flouthing of a maxim results in the speak er conveying, in addition to the literal meaning of his utterance, an additional meaning, which is conversational implicature.”31

(Dengan memberikan gambaran tentang norma-norma tindakan pembicara dalam percakapan, Grice memungkinkan untuk menggambarkan jenis makna apakah seorang pembicara dapat sampaikan dengan 'melanggar' salah satu dari maksim-maksim ini. Pelanggaran maksim-maksim-maksim-maksim ini hasil dari yang disampaikan pembicara, di samping arti harfiah dari ucapannya, arti tambahan, yaitu implikatur percakapan). Jadi, implikatur percakapan adalah hasil dari pelanggaran maksim yang dilakukan oleh penutur disamping arti secara konvensional.

“Menurut Leech dalam Rani mengomentari prinsip percakapan Grice tersebut sebagai kendala dalam berbahasa. Prinsip itu berlaku secara berbeda dalam konteks penggunaan yang berbeda. Maksim berlaku dalam tingkatan berbeda dan tidak ada prinsip yang berlaku secara mutlak atau sebaliknya tidak berlaku sama sekali.”32

Jadi, sanggahan Leech tersebut menyatakan bahwa prinsip kerjasama Grige memiliki kedala dalam berbahasa. Kendala tersebut terdapat pada prinsip yang menyesuaikan terhadap konteks dan maksim bukanlah suatu hal yang mutlak.

Grice argues that these maxims can account for the gap between linguistic semantic meanings and coveyed meanings, because they serve as a basis for generating implicit meanings, particularized conversational implicatures (henceforth implicatures throughout). Surprisingly perhaps, these maxims are responsible for our generating

30

Dan Sperber dan Deirdre Wilson (penerjemah: Suwarna, dkk.), Teori Relevensi; Komunik asi dan Kognisi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), h. 266

31

Gillian Brown dan George Yule, op. cit., h. 32

32

(31)

implicatures both when we observe the maxims, and when the flout them. The reasons for the generation of implicatures under these different circumstances are di fferent, of course in the first type of case, an implicature is generated because of the assumption that the speak er is following the cooperative principle (CP). Obeying the CP creates expectations that the maxims are being adhered to as well. If so, the speak er is seen as generating as implicatures whatever assumptions are needed in order to view the speak er as obeying the maxims.33

(Grice berpendapat bahwa maksim ini dapat menjelaskan kesenjangan antara makna semantik linguistik dan makna kelompok, karena mereka berfungsi sebagai dasar untuk menghasilkan makna implisit, terutama implikatur percakapan (selanjutnya seluruh implikatur). Mungkin mengherankan, maksim ini bertanggung jawab untuk menghasilkan implikatur kita baik ketika kita mengamati prinsip-prinsip, dan ketika melanggar mereka. Alasan untuk generasi implikatur dalam keadaan yang berbeda, tentu saja dalam jenis kasus pertama, implikatur yang dihasilkan karena asumsi bahwa pembicara mengikuti prinsip koperasi (CP). Mematuhi CP menciptakan harapan bahwa maksim sedang dipatuhi juga. Jika demikian, pembicara dipandang sebagai menghasilkan implikatur apapun asumsi yang diperlukan dalam rangka untuk melihat pembicara mematuhi maksim). Peneliti menyimpulkan bahwa maksim yang ada di prinsip kooperatif atau prinsip kerjasama menurut Grice merupakan landasan dari terjadinya implikatur dalam percakapan. Terlepas dari melanggar atau tidaknya pembicara terhadap prinsip kerjasama. Akan tetapi, kepatuhan akan maksim merupakan asumsi yang pertama penyebab terjadinya implikatur.

Teori Sperber dan Wilson

“Sperber dan Wilson mengkritik PKS yang diutarakan Grice. Sperber dan Wilson berpendapat bahwa yang terpenting dari bidal-bidal yang disampaikan Grice adalah bidal relevansi. Bidal relevansi menjadi titik tolak dari teori relevansi. Relevan berarti berhubungan atau berkaitan dengan hal yang sedang dibicarakan.”34

Teori relevansi bertujuan menerangkan komunikasi secara keseluruhan, baik yang eksplisit maupun yang implisit. Teori Grice bertujuan menerangkan komunikasi yang dayanya dapat ditarik secara eksplisit.35 Relevance

33

Mira Ariel, Reaserch Surveys in Linguistics; Difining Pragmatics, (New York: Cambridge University Press, 2010), h. 121-122

34

Ibid., h. 91

35

(32)

Theory maintains that speakers comply with a Communicative Principle of Relevance, which states that when someone communicates in some way, that

communicative act brings with it a guarantee of its own optimal relevance.36

(Teori Relevansi menyatakan bahwa pembicara mematuhi Prinsip Komunikatif dari Relevansi, menyatakan bahwa ketika seseorang berkomunikasi dalam beberapa cara, tindakan komunikatif membawa serta jaminan relevansi optimalnya sendiri). Jadi, Sperber dan Wilson lebih mementingkan bidal relevansi yang menjadi dasar dari teori relevansi. Teori ini bertujuan untuk menerangkan komunikasi baik secara langsung maupun tidak langsung. Tindakan komunikasi membawa jaminan relevansi sendiri dengan mematuhi prinsip komunikatif dari relevansi.

Eksplikatur menentukan dampak kontekstual dari ujaran sehingga menentukan sebagian besar dari relevansinya. ... Prinsip relevansi menuntun proses penggalian implikatur. .... Implikatur dari sebuah ujaran digali dengan merujuk pada pengharapan yang diekspresikan penutur tentang bagaimana ucapannya harus mencapai relevansi optimal.37 Jadi, tercapainya suatu relevansi yang optimal terjadi karena ekspresi dari harapan penutur terhadap implikatur yang merujuk kepada konteks. Prinsip relevansi lah yang menuntun untuk menggali makna implikatur yang didasari oleh konteks tuturan.

“Intuitively, an input (a sight, a sound, an utterance, a memory) is relevant to an individual when it connects with back ground information he has available to yield conclusions that matter to him: say, by answering a question he had in mind, improving his k nowledge on a certain topic, settling a doubt, confirming a suspicion, or correcting a mistaken impression.”38

(Secara intuitif, masukan (pandangan, suara, ucapan, memori) relevan dengan individu ketika terhubung dengan latar belakang informasi yang dia sediakan untuk menghasilkan kesimpulan yang penting baginya: katakanlah, dengan menjawab pertanyaan yang ada dalam pikirannya, meningkatkan pengetahuan tentang topik tertentu, menetap keraguan, mengkonfirmasikan kecurigaan, atau mengoreksi kesan keliru). Kesimpulan dari peneliti yaitu segala pengetahuan, pandangan,dan ucapan yang dimiliki oleh pembicara relevan dengan konteks yang

36

Andrew Radford, dkk., op. cit., h. 399

37

Dan Sperber dan Deirdre Wilson (penerjemah: Suwarna, dkk.), op. cit., h. 283-284

38

(33)

melatarbelakangi tuturan, tersimpan di dalam memori untuk merespon dan menjawab segala informasi yang disediakan. Jawaban itu bisa berupa konfirmasi mengenai dugaan, keraguan, dan meningkatkan pengetahuan mengenai topik tertentu.

The principle of Relevance requires that the speak er balances informativeness (or rather, contextual effects) on the one hand, and processing cost on the other. The ideal situation would be to produce maximal cognitive effects for a minimal processing cost. However, there is an asymmetry between the requirements of processing cost and contextual effects.39

(Prinsip Relevansi membutuhkan keseimbangan keinformatifan pembicara (atau lebih tepatnya, efek kontekstual) di satu sisi, dan juga nilai proses di sisi lain. Situasi yang ideal akan menghasilkan efek kognitif maksimal untuk nilai proses minimal. Bagaimanapun, adanya ketidakseimbangan antara kebutuhan nilai proses dan efek kontekstual). Jadi, semakin sedikit nilai proses suatu komunikasi, maka semakin maksimal efek kognitif yang dihasilkan. Dalam prinsip relevansi keseimbangan antara kontekstual dan nilai dalam proses komunikasi haruslah seimbang.

Sperber dan Wilson menyatakan bahwa dari prinsip relevansi itu dapat dikatakan bahwa surplus informasi yang diberikan dalam jawaban tak langsung tentu dalam mencapai relevansi lain tertentunya sendiri.40 Contohnya,

Konteks: Si A ingin mengajak Si B makan bersama A: “Maukah kau makan malam bersamaku?”

B: “Aku akan pergi menemani ibu ke supermarket.”

Setiap kontribusi percakapan dalam kerangka teoritis relevansi, jawaban yang diberikan B mengomunikasikan sebuah anggapan relevansi sendiri. A mengetahui anggapan ini dan memproses jawaban B bukan hanya sebagai penolakan tak langasung terhadap tawaran A, tetapi juga sebagai upaya untuk mencegah pertanyaan tentang alasan bagi penolakan ini dengan memberikan alasan semacam sebelumnya. Jaminan relevansi yang tersirat dalam penegasan ujaran petutur dalam kerangka teoritis relevansi sekali lagi dalam hal ini sudah berperan

Louise Cummings (Eti Setiawati, dkk.), Pragmatik , Sebuah Perspek tif Multidisiplin (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007), h. 30

41

(34)

tersebut, B menemukan relevansi dari jawaban A berdasarkan pengetahuannya sendiri berdasarkan konteks yang dimiliki bersama. B mengetahui jikalau A menolak ajakannya dan A memberikan jawaban seperti di contoh karena dia mengantisipasi supaya tidak terjadi lagi pertanyaan berikutnya.

Berikut adalah salah satu contoh yang membuktikan teori implikatur Sperber dan Willson lebih kuat dari teori implikatur Greice.

Konteks: dua orang teman sedang membicarakan film yang mereka sukai Penutur A: “Saya suka film perang, kamu?”

Petutur B: “Drama musikal akan lebih menyenangkan.”

Jawaban B merupakan tindak tutur tidak langsung yang memiliki implikatur percakapan. Yang langsung akan berbunyi saya tidak suka film perang atau elipsisnya Tidak. Percakapan tersebut telah melanggar PKS Grice, dengan teori Sperber dan Wilson, implikatur yang dimaksudkan B itu tidak suka menonton film perang. Bisa juga terdapat implikatur yang lain bahwa B pada saat itu lebih senang menonton drama musikal terlebih dahulu. Jawaban dari B bisa di pahami oleh A karena mereka memahami konteks yang ada.

Implikatur percakapan melanggar PKS Grice, misalnya meniadakan bidal atau maksim kuantitas karena penutur tidak mengetahui dengan pasti jawaban dari pertanyaan penutur yang membutuhkan jawaban dengan maksim kuantitas. Petutur menjawab pertanyaan dengan maksim kualitas agar percakapan dapat berjalan dan penutur mendapatkan jawaban atas pertanyaannya. Pelanggaran terhadap satu maksim bertujuan untuk menutupi maksim yang lainnya.

Sperber and Wilson‟s Relevance Theory argues for a single Principle of Relevance to

replace all of Grice‟s maxims. This principle operates to ensure that speakers‟s utterances an Optimally Relevances namely, that they provide an adequate number of contextual effects for the most minimal processing effort.42

(Teori Relevansi Sperber dan Wilson berpendapat Prinsip tunggal Relevansi untuk mengganti semua maksim Grice. Prinsip ini beroperasi untuk memastikan bahwa ucapan-ucapan pembicara itu sebuah Relevansi Optimal yakni, bahwa mereka menyediakan jumlah efek kontekstual yang memadai untuk usaha pengolahan yang paling minimal). Jadi, prinsip relevansi dapat menggantikan

42

(35)

prinsip-prinsip Grice. Prinsip relevansi ini untuk mengetahui apakah tuturan yang dilontarkan memiliki relevansi yang optimal yaitu efek kontekstual sepadan dengan usaha yang dibutuhkan dalam proses berkomunikasi.

Penutur tidak hanya bermaksud menyebabkan efek tertentu pada pendengarannya melalui penggunaan ujarannya; malahan, efek ini hanya dapat dicapai dengan tepat apabila maksud untuk menghasilkan efek ini diketahui oleh pendengar. Oleh karena itu, dia tidak merupakan bagian dari maksud komunikasi penutur.43 Jadi, maksud yang ingin disampaikan oleh penutur tidak merupakan bagian dari tuturan secara literal. Tuturan dapat dipahami oleh petutur apabila petutur menyadari konteks dan maksud yang ingin disampaikan.

A central idea of Relevance Theory is that an utterance is relevant to a hearer when the hearer can gain positive cognitive effects from that utterance, that is some useful information. There are two aspects to this. Firstly, the most relevant interpretation of an utterance must lead to inferences that the hearer would not otherwise have been able to mak e. Secondly, these inferences must be accessible to the hearer in the sense that it must be possible to draw those inferences in a short space of time with relative little effort. If the inferential process requires too much effort, then the inferences cannot be drawn.44

(Ide sentral Teori Relevansi adalah bahwa ucapan relevan dengan pendengar ketika pendengar dapat memperoleh efek kognitif positif dari ucapan, itu merupakan beberapa informasi yang berguna. Ada dua aspek. Pertama, penafsiran yang paling berkaitan dengan tuturan harus didahului dengan kesimpulan bahwa pendengar tidak akan bisa menafsirkan kesimpulan. Kedua, kesimpulan ini harus dapat diakses oleh pendengar dalam arti bahwa harus memungkinkan untuk menarik kesimpulan mereka dalam waktu singkat dengan relatif sedikit usaha. Jika proses inferensial memerlukan terlalu banyak usaha, maka kesimpulan tidak dapat ditarik). Berdasarkan kutipan tersebut peneliti menyimpulkan bahwa pendengar akan memperoleh efek positif dari sebuah ujaran apabila ujaran tersebut relevan dengan konteks yang melatarbelakanginya. Ada dua aspek positif, pertama yaitu penutur harus menyimpulkan terlebih dahulu bahwa pendengar tidak mampu menafsirkan kesimpulan. Kedua, kesimpulan harus dapat diakses oleh pendengar, menarik kesimpulan dalam waktu yang singkat dan sedikit usaha.

Relevant information, emphasize Sperber and Wilson, must n ot involve an unjustifiably high processing cost to the adderssee. A maximal degree to the Relevance then means that the speak er is conveying the most informative message (enabling a maximal number of contextual effects), but imposing on the addressee only a relatively low processing effort. Other things being equal, extracting more contextual implications comes with a higher processing cost to the addressee: first, speak ers would have to say

43

Ibid., h. 13

44

(36)

more, imposing on the addressee more interpretative processing, a nd second addressees might have to access less and less accessible contexts, in order to drive more and more contextual implications. This does not constitute a reasonable mechanism for everyday communication, argue Sperber and Wilson.45

(Informasi yang relevan, yang ditekankan Sperber dan Wilson, tidak harus melibatkan nilai proses paling tinggi dalam penyampaian suatu maksud. Tingkat maksimal kerelevansian berarti bahwa pembicara dapat menyampaikan pesan yang paling informatif (memungkinkan jumlah maksimal dari efek kontekstual), tapi memaksakan pada penerima hanya proses usaha yang relatif rendah. Hal lain dianggap sama, penggalian implikasi yang lebih kontekstual datang dengan nilai proses yang lebih penting dalam penyampaian suatu maksud: pertama, pembicara harus mengatakan lebih, memaksakan pada penerima proses lebih interpretatif, dan kedua petutur mungkin harus kurang mengakses dan konteks kurang dapat diakses, dalam mendorong semakin banyak implikasi kontekstual. Hal ini bukan merupakan mekanisme yang wajar untuk komunikasi sehari-hari, pendapat Sperber dan Wilson). Jadi, untuk menyampaikan suatu maksud tidak harus melibatkan nilai proses yang tinggi untuk menyimpulkannya. Tuturan akan memiliki relevansi yang maksimal apabila memiliki nilai kontekstual yang maksimal dan meminimalkan usaha pendengar dalam menyimpulkan tuturan atau pesan yang dimaksud. Penafsiran informasi yang lebih kontekstual ada dua cara, yang pertama yaitu penutur harus menyampaikan informasi yang lebih. Kedua, penutur tidak memberikan informasi yang lebih dan tidak sesuai dengan konteks, dalam mendorong implikasi kontekstual.

Relevant information need to be new, then. What is crucial, however, is that it modifies assumptions entertained by the addreses. This means th at Relevant information necessarily interacts with assumptions already available to the addresses. Indeed, the third, and most common way in which an utterance achieves Relevance is by combining with currently accessible contextual assumptions to yield further contextual implications. Contextual implications are conclusions drawn from premises derived from both contextual assumptions and the information conveyed by the speak er.46

(37)

adalah menggabungkan dengan anggapan kontekstual saat ini diakses untuk menghasilkan implikasi kontekstual lebih lanjut. Implikasi kontekstual adalah kesimpulan yang diambil dari tempat yang berasal dari kedua anggapan kontekstual dan informasi yang disampaikan oleh pembicara). implikasi kontekstual adalah informasi yang sesuai dengan konteks pembicaraan dan yang melatarbelakangi pembicaraan tersebut. Informasi yang relevan adalah informasi yang baru. Pendengar harus mampu memodifikasi informasi yang di peroleh dengan informasi yang ada pada memorinya. Mencapai suatu relevansi apabila menggabungkan kontekstual saat ini untuk menghasilkan kontekstual selanjutnya.

2. ciri-ciri implikatur

Ciri-ciri implikatur ada lima yaitu dapat terbatalkan, tak terlekatkan dari apa yang sedang dikatakan, bukan bagian dari makna ungkapannya, tidak dibawakan oleh apa yang dikatakannya, dan tak terbatas.47

a) dapat terbatalkan maksudnya pernyataan yang diberikan oleh penutur dapat dibatalkan dengan memilih keluar dari prinsip kooperatif percakapan. Contoh: kita dapat saja menambahkan Saya tidak bermaksud untuk menyiratkan;

b) tak terelakkan dari apa yang sedang dikatakannya yaitu hal yang sama dikatakan dengan cara yang berbeda, maka implikatur yang sama akan melekat pada kedua sikap ungkapan tersebut. Implikatur yang sama „telah gagal mencapai sesuatu‟ melekat pada ungkapan-unkapannya. Contoh, „Aku mencoba untuk melakukannya‟ dan „Aku berusaha untuk melakukannya‟ ujaran-ujaran ini melekat pada parafrase-parafrase;

c) bukan bagian dari makna ungkapannya. Maksud dari pernyataan tersebut yaitu makna yang tersimpan dari tuturan bukan bagian dari ungkapannya. Contohnya dalam kata „agaknya‟ itu dapat mengandung dua makna yang tergantung pada pengetahuan sebelumnya terhadap makna kata tersebut;

47

(38)

d) tidak dibawakan dari apa yang dikatakan yaitu makna yang disampaikan bukan bawaan dari proposisionalnya; dan

e) tak terbatas. Maksudnya makna yang dihasilkan oleh tuturan tak terbatas karena tidak terikat secara harfiah.

Berdasarkan ciri-ciri yang telah dijelaskan tersebut, implikatur bukanlah sesuatu yang kaku. Pelanggaran terhadap prinsip kerjasama dapat membatalkan pernyataan yang dituturkan oleh penutur. Tuturan yang disampaikan tidak membawakan makna yang yang dimaksud oleh penutur.

Grice characterizes a potential interpretation as an implicature if it fulfills certain conditions. (1) Implicatures are not part of the conventional, semantic meaning; (2) implicatures are nondetachable, namely, they would be generated from the same content of utterance in the same context even if the utterance was to be differently phrased (with the exclusion of manner implicatures); (3) implicatures must be computable, that is, we should be able to reconstruct all the assumed steps required in generating them; (4) implicatures are not fully determinate (they are open ended to some extent), since there

may be more than one way to explain the speaker‟s adherence to the cooperative

principles while flouting some maxim: (5) implicatures are cancelable, which means that we can explicitly deny our commitment to them without creating a contradiction.48

(Ciri interpretasi potensi Grice sebagai implikatur bila memenuhi kondisi tertentu. (1) Implikatur bukan bagian dari konvensional, makna semantik, (2) implikatur yang tidak dapat dilepaskan, yaitu mereka akan dihasilkan dari konten yang sama dari ucapan dalam konteks yang sama bahkan jika ucapan itu harus berbeda diutarakan (dengan pengecualian implikatur cara), (3) implikatur harus diperhitungkan, yaitu kita harus mampu merekonstruksi semua langkah yang diperlukan diasumsikan dalam menghasilkan mereka, (4) implikatur tidak sepenuhnya sudah tentu (mereka terbuka berakhir sampai batas tertentu), karena mungkin ada lebih dari satu cara untuk menjelaskan kepatuhan pembicara dengan prinsip-prinsip kerjasama sambil melanggar beberapa maksim: (5) implikatur dapat dibatalkan, yang berarti bahwa kita dapat secara eksplisit menyangkal komitmen kita kepada mereka tanpa membuat kontradiksi). Jadi, implikatur harus memenuhi beberapa persyaratan, pertama, bukanlah makna sebenarnya atau makana dari apa yang disampaikan atau konvensional. kedua, implikatur merupakan hasil dari konteks yang sama dan saling terkait. Ketiga, implikatur

48

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...