• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Akhir Master Plan Drainase Kota

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Laporan Akhir Master Plan Drainase Kota"

Copied!
66
0
0

Teks penuh

  • Sekolah: Universitas
  • Mata Pelajaran: Perencanaan Drainase
  • Topik: Laporan Akhir Master Plan Drainase Kota
  • Tipe: laporan akhir
  • Tahun: 2023
  • Kota: Blitar

I. PENDAHULUAN

Laporan ini dimulai dengan latar belakang yang menjelaskan perlunya penyusunan Master Plan Drainase Kota Blitar. Penurunan lahan terbuka, penurunan permukaan tanah, dan meningkatnya jumlah penduduk menjadi faktor penyebab masalah drainase. Oleh karena itu, diperlukan perencanaan yang lebih baik untuk mengatasi masalah ini.

1.1 Latar Belakang

Kota Blitar menghadapi tantangan besar dalam pengelolaan drainase akibat urbanisasi yang cepat dan penurunan area resapan air. Dengan meningkatnya jumlah penduduk, yang mencapai lebih dari 128,000 jiwa, kebutuhan akan sistem drainase yang efisien menjadi sangat mendesak. Penurunan permukaan tanah dan kondisi saluran drainase yang tidak memadai berkontribusi terhadap masalah banjir dan genangan air.

1.2 Tujuan dan Sasaran

Tujuan utama penyusunan Master Plan ini adalah untuk memberikan panduan dalam pembangunan sistem drainase yang terintegrasi. Sasaran yang ingin dicapai mencakup peninjauan kebijakan pembangunan, identifikasi kondisi fisik dan sosial, serta penyusunan rencana tindakan dan pengumpulan data yang relevan.

1.3 Deskripsi Pekerjaan

Proyek ini mencakup analisis menyeluruh terhadap kondisi drainase di Kota Blitar, termasuk penanganan masalah dan pengembangan jaringan drainase. Studi ini berfokus pada kawasan yang rawan banjir dan area strategis untuk memastikan sistem drainase yang efektif dan efisien.

1.4 Hasil yang Diharapkan

Hasil yang diharapkan dari laporan ini meliputi alternatif penanganan untuk saluran yang bermasalah dan perencanaan sistem drainase yang sesuai dengan kondisi topografi dan kebutuhan masyarakat. Rencana ini diharapkan dapat mengurangi genangan air dan meningkatkan kapasitas saluran drainase.

1.5 Sistematika Pembahasan

Laporan ini disusun dengan sistematika yang mencakup pendahuluan, tinjauan kebijakan, deskripsi wilayah studi, analisis dan evaluasi saluran drainase, serta kesimpulan dan arahan penanganan. Setiap bagian bertujuan untuk memberikan gambaran yang jelas mengenai kondisi dan rekomendasi untuk sistem drainase Kota Blitar.

II. TINJAUAN KEBIJAKSANAAN DAN RENCANA TATA RUANG WILAYAH

Bagian ini membahas kebijakan umum perencanaan tata ruang yang berkaitan dengan pengembangan sistem drainase di Kota Blitar. Penekanan pada keseimbangan ekologi dan pemanfaatan ruang yang optimal menjadi fokus utama.

2.1 Kebijaksanaan Umum Perencanaan Tata Ruang

Kebijakan perencanaan tata ruang di Kota Blitar berupaya untuk mengoptimalkan penggunaan lahan dan menjaga keseimbangan ekologi. Hal ini meliputi pengendalian penggunaan lahan dan penyediaan ruang terbuka hijau, yang penting untuk menyerap air hujan dan mengurangi risiko banjir.

2.1.1 Fungsi dan Peran Wilayah

Kota Blitar berfungsi sebagai pusat perdagangan dan jasa di Jawa Timur. Peran ini meningkatkan pentingnya perencanaan drainase yang baik untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan mencegah bencana alam yang dapat mengganggu aktivitas ekonomi.

2.1.2 Keseimbangan Ekologi Kota

Menjaga keseimbangan ekologi sangat penting untuk mencegah kerusakan lingkungan. Kebijakan yang diambil termasuk pengembangan kawasan perlindungan dan ruang terbuka hijau, yang berfungsi sebagai penyangga terhadap dampak pembangunan.

2.1.3 Kebijaksanaan Optimasi Pemanfaatan Ruang Kota

Optimasi pemanfaatan ruang di Kota Blitar bertujuan untuk menghindari penggunaan lahan produktif untuk pembangunan. Kebijakan ini penting untuk menjaga keberlanjutan lingkungan dan memastikan bahwa lahan yang ada digunakan secara efisien.

2.2 Rencana Struktur Tata Ruang

Rencana struktur tata ruang Kota Blitar mencakup pengembangan pusat-pusat pelayanan dan infrastruktur yang mendukung sistem drainase. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan aksesibilitas dan efisiensi transportasi di dalam kota.

2.3 Rencana Pemanfaatan Ruang Kota

Rencana ini menekankan pentingnya pemanfaatan ruang yang strategis untuk mendukung pembangunan drainase. Sektor-sektor seperti pertanian, perikanan, dan pariwisata harus dipertimbangkan dalam perencanaan untuk memastikan keberlanjutan sistem drainase.

2.4 Rencana Sistem Transportasi

Rencana sistem transportasi di Kota Blitar harus terintegrasi dengan sistem drainase untuk meminimalkan risiko banjir. Jaringan jalan yang baik akan membantu dalam pengelolaan air hujan dan memudahkan akses ke area rawan genangan.

2.5 Rencana Sistem Utama Jaringan Utilitas Drainase

Pengembangan sistem drainase yang efektif melibatkan perencanaan jaringan utilitas yang baik. Ini termasuk saluran pembuangan air hujan dan limbah domestik, yang harus dirancang untuk menangani volume air yang meningkat selama musim hujan.

III. DESKRIPSI WILAYAH STUDI

Deskripsi wilayah studi memberikan gambaran tentang kondisi sistem drainase, saluran drainase, dan hidrologi di Kota Blitar. Hal ini penting untuk memahami tantangan yang dihadapi dalam pengelolaan drainase.

3.1 Kondisi Sistem Drainase

Sistem drainase di Kota Blitar masih menggunakan sistem gabungan, di mana air limbah dan air hujan dialirkan melalui saluran yang sama. Hal ini menyebabkan masalah saat curah hujan tinggi, karena kapasitas saluran seringkali tidak mencukupi.

3.2 Kondisi Saluran Drainase

Kondisi saluran drainase di Kota Blitar bervariasi, dengan banyak saluran yang sudah tua dan mengalami penurunan kualitas. Penyumbatan dan kerusakan pada saluran mengakibatkan genangan air di beberapa lokasi, terutama saat hujan lebat.

3.3 Kondisi Hidrologi

Curah hujan rata-rata di Kota Blitar cukup tinggi, mencapai 1226,86 mm/tahun. Data hidrologi ini penting untuk perencanaan sistem drainase, karena mempengaruhi debit air yang harus ditangani oleh saluran drainase.

3.4 Daerah Genangan Air

Daerah genangan air di Kota Blitar sering terjadi selama musim hujan. Penyebab genangan meliputi dimensi saluran yang tidak memadai dan penyumbatan oleh sampah. Identifikasi daerah rawan genangan penting untuk pengembangan rencana penanganan yang efektif.

IV. ANALISA DAN EVALUASI SALURAN DRAINASE

Analisa dan evaluasi saluran drainase meliputi analisis hidrologi dan hidrolika untuk menentukan kapasitas saluran dan penanggulangan masalah genangan air.

4.1 Analisa Hidrologi

Analisis hidrologi dilakukan untuk memahami curah hujan, luas daerah pengaliran, dan waktu konsentrasi. Data ini digunakan untuk memperkirakan debit banjir dan menentukan kapasitas saluran yang diperlukan untuk menangani aliran air.

4.1.1 Curah Hujan Rata-rata (R)

Curah hujan rata-rata diukur dari beberapa stasiun pengamatan. Data ini penting untuk menghitung debit banjir dan merencanakan kapasitas saluran yang sesuai. Hasil perhitungan menunjukkan variasi curah hujan selama periode pengamatan.

4.1.2 Perhitungan Curah Hujan Rancangan

Perhitungan curah hujan rancangan dilakukan untuk mengantisipasi kesalahan pencatatan. Metode yang digunakan adalah rata-rata aljabar, yang memberikan hasil yang lebih akurat untuk perencanaan sistem drainase.

4.1.3 Time Concentration Analysis (Tc)

Waktu konsentrasi dihitung berdasarkan luas daerah pengaliran dan panjang saluran. Analisis ini penting untuk memahami seberapa cepat air hujan mengalir ke saluran drainase dan mempengaruhi kapasitas penanganan banjir.

4.1.4 Penentuan Intensitas Curah Hujan (I)

Intensitas curah hujan dihitung untuk mengetahui seberapa banyak air hujan yang harus ditangani oleh sistem drainase dalam waktu tertentu. Data ini membantu dalam perencanaan kapasitas saluran drainase.

4.1.5 Prakiraan Debit Banjir (Q)

Debit banjir dihitung dengan menjumlahkan debit air hujan dan debit domestik. Analisis ini penting untuk menentukan kapasitas saluran yang diperlukan dan merencanakan sistem drainase yang efisien.

4.2 Analisa Hidrolika

Analisis hidrolika dilakukan untuk mengevaluasi kapasitas saluran drainase yang ada. Ini termasuk perhitungan kapasitas maksimum dan evaluasi terhadap debit banjir yang direncanakan.

4.2.1 Kapasitas Maksimum Saluran Drainase (Q)

Kapasitas maksimum saluran drainase dihitung menggunakan rumus Manning. Hasil perhitungan ini memberikan informasi penting tentang kemampuan saluran dalam menampung aliran air, yang penting untuk perencanaan infrastruktur.

4.2.2 Evaluasi Kapasitas Saluran Drainase

Evaluasi kapasitas saluran dilakukan dengan membandingkan kapasitas eksisting dengan debit rencana. Ini membantu mengidentifikasi saluran yang tidak memadai dan perlu diperbaiki atau ditingkatkan.

4.3 Penanggulangan Masalah

Masalah genangan air di Kota Blitar disebabkan oleh kapasitas saluran yang tidak mencukupi dan sedimentasi. Rencana penanggulangan harus mencakup perbaikan saluran dan peningkatan pemeliharaan untuk mencegah masalah serupa di masa depan.

V. KESIMPULAN DAN ARAHAN PENANGANAN

Kesimpulan dari analisis dan evaluasi memberikan panduan untuk penanganan masalah drainase di Kota Blitar. Rekomendasi ini penting untuk perencanaan dan pengembangan sistem drainase yang lebih baik.

5.1 Umum

Penyusunan Master Plan Drainase Kota Blitar memberikan landasan untuk perbaikan sistem drainase yang ada. Dengan pertumbuhan penduduk yang terus meningkat, penting untuk mengimplementasikan rencana ini untuk mencegah masalah genangan air di masa depan.

5.2 Arahan Penanganan Saluran

Arahan penanganan saluran drainase mencakup perbaikan dimensi saluran yang tidak memadai dan peningkatan sistem pemeliharaan. Ini penting untuk memastikan saluran dapat berfungsi dengan baik selama musim hujan.

5.3 Alternatif Penanganan Tambahan

Alternatif penanganan tambahan termasuk pembangunan saluran baru dan normalisasi saluran yang ada. Langkah-langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas saluran dan mengurangi risiko banjir.

5.4 Pelestarian Hutan Kota

Pelestarian hutan kota juga menjadi bagian penting dalam pengelolaan drainase. Hutan berfungsi sebagai daerah resapan air yang membantu mengurangi genangan dan banjir di perkotaan.

5.5 Master Plan Drainase Kota Blitar

Rencana sistem drainase Kota Blitar harus mencakup rekomendasi dan tahapan pelaksanaan yang jelas. Ini penting untuk memastikan bahwa semua langkah yang diperlukan diambil untuk mencapai sistem drainase yang efisien dan efektif.

Gambar

Tabel 3.1  Panjang, Lebar dan Keadaan Saluran Drainase Kota Blitar _____
Tabel 3.1Panjang, Lebar, dan Keadaan Saluran Drainase Kota Blitar
Tabel 4.1Perkiraan Jumlah Penduduk Kota Blitar
Tabel 4.2Perkiraan Kepadatan Penduduk Kota Blitar

Referensi

Dokumen terkait

Kabupaten Dairi berada di Dataran Tinggi Bukit Barisan dengan ketinggian sekitar 400 - 1.700 meter diatas permukaan laut (dpl) atau sekitar 200 meter diatas permukaan

Dalam rangka Klarifikasi dan pembuktian dokumen kualifikasi maka dengan ini diundang untuk hadir dengan membawa berkas asli sesuai yang dicantumkan dalam dokumen isian

Mengacu pada kebijakan nasional dan strategi pembangunan sistem drainase tersebut di atas dan dari hasil analisis penanganan sistem drainase sampai saat ini, dimana permasalahan utama

Tempat Pembuangan Akhir Bukit Pinang tidak terletak pada daerah banjir. Secara geografis TPA Bukit Pinang terletak pada ketinggian 64 meter diatas rata-rata muka laut, yang

Saat ini, sekitar 42 juta orang di Indonesia tinggal di daerah dengan ketinggian kurang dari 10 meter di atas permukaan laut (Pemerintah Indonesia 2007). Mereka

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,

 Jumlah koloni rata-rata = jumlah kedua cawan dikalikan dengan faktor pengencerannya  Maka Angka Lempeng Total adalah : 150+250 x 102= 200 x 102 2 Prinsip Percobaan Pertumbuhan