KARAKTERISTIK BILANGAN TOTIENT SEMPURNA
Oleh
SINTA OKTARIANI
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar SARJANA SAINS
Pada
Jurusan Matematika
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
JURUSAN MATEMATIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS LAMPUNG
ABSTRAK
KARAKTERISTIK BILANGAN TOTIENT SEMPURNA
Oleh
SINTA OKTARIANI
Teori bilangan adalah cabang dari matematika murni yang mempelajari sifat-sifat bilangan bulat dan mengandung berbagai masalah terbuka yang dapat dengan mudah dimengerti sekalipun bukan oleh ahli matematika Teori bilangan pertama kali diperkenalkan oleh Phytagoras dan murid-muridnya mereka percaya bahwa penjelasan pada bilangan terdapat tentang alam semesta.
Jika dan dan dan dan dan semuanya bilangan prima maka adalah bilangan Totient sempurna. Bentuk p dengan dan untuk k antara 2 dan 3 jika bukan bilangan Totient sempurna.
DAFTAR ISI
4.2Syarat Cukup Bilangan Totient Sempurna... 22
4.3 PTN (Bilangan Totient Sempurna) Bentuk ... 24
V. KESIMPULAN
I. PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
Dalam beberapa dekade terakhir, matematika mengalami perkembangan yang luar
biasa. Telah banyak temuan-temuan penting dalam matematika yang menarik
untuk dipelajari, salah satunya yaitu di bidang teori bilangan.
Teori bilangan adalah cabang dari matematika murni yang mempelajari sifat-sifat
bilangan bulat dan mengandung berbagai masalah terbuka yang dapat dengan
mudah dimengerti sekalipun bukan oleh ahli matematika. Teori bilangan pertama
kali diperkenalkan oleh Phytagoras dan murid-muridnya mereka percaya bahwa
penjelasan pada bilangan terdapat tentang alam semesta. Tesis mereka adalah “ segalanya adalah bilangan “ dan matematika adalah suatu cara menuju akhir yaitu
Filsafat (Burton, 1980).
Dalam teori bilangan dasar, bilangan bulat dipelajari tanpa menggunakan teknik
dari area matematika lainnya. Pertanyaan tentang sifat dapat dibagi, Algoritma
Euklidean untuk menghitung faktor persekutuan terbesar, faktorisasi bilangan
bulat dalam bilangan prima, penelitian tentang bilangan sempurna dan bilangan
Dalam teori bilangan, bilangan sempurna adalah bilangan bulat positif yang sama
dengan jumlah positif yang tepat pembagi, yaitu jumlah pembagi positif termasuk
jumlah itu sendiri. bilangan prima adalah bilangan asli yang lebih besar dari angka
1, yang faktor pembaginya adalah 1 dan bilangan itu sendiri. 2 dan 3 adalah
bilangan prima. 4 bukan bilangan prima karena 4 bisa dibagi 2. Sepuluh bilangan
prima yang pertama adalah 2, 3, 5, 7, 11, 13, 17, 19, 23 dan 29. Jika suatu
bilangan yang lebih besar dari satu bukan bilangan prima, maka bilangan itu
disebut bilangan komposit.
Pernyataan dasarnya adalah teorema kecil Fermat dan teorema Euler. Sifat dari
fungsi multiplikatif seperti fungsi Mobius dan fungsi phi Euler juga dipelajari.
Demikian pula barisan bilangan bulat seperti faktorial dan bilangan Fibonacci.
Dari fungsi Euler didefinisikan bilangan Totient selanjutnya pada penelitian ini
akan di selidiki karakteristik bilangant Totient Sempurna.
1.2Batasan Masalah
Pada penelitian ini pembahasan masalah dibatasi hanya menemukan karakteristik
dari pembuktian bilangan Totient sempurna, dalam hal ini pembuktian bilangan
Totient sempurna.
1.3Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan karakteristik bilangan Totient
3
1.4Manfaat Penelitian
Manfaat yang didapat dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Mengembangkan wawasan tentang teori bilangan terutama tentang
karakteristik dari bilangan Totient sempurna.
2. Memberikan sumbangan pemikiran dalam rangka memperluas dan
memperdalam ilmu matematika di bidang teori bilangan terutama tentang
karakteristik dari bilangan Totient sempurna.
3. Sebagai referensi untuk penilaian lanjutan tentang konsep bilangan Totient
II. LANDASAN TEORI
Pada bilangan ini diterangkan materi yang berkaitan dengan penelitian,
diantaranya konsep bilangan sempurna, bilangan bulat, bilangan prima,faktor
bilangan bulat dan kekongruenan.
2.1 Keterbagian Bilangan Bulat
Secara umum, apabila α bilangan bulat dan b bilangan bulat positif, maka ada
tepat satu bilangan q dan r sedemikian hingga :
α = qb + r , 0 ≤ r < b
dalam hal ini, q disebut hasil bagi dan r sisa pada pembagian “α dibagi dengan b
“. Jika r = 0 maka dikatakan α habis dibagi b dan ditulis b ׀α. Untuk α tidak habis
dibagi b ditulis b ł α. (Burton, 1980)
Sifat keterbagian pada bilangan bulat
Secara umum apabila α bilangan bulat dan b bilangan bulat positif, maka ada tepat
satu bilangan q dan r sedemikian sehingga :
α = qb + r, 0 ≤ r < b
dalam hal ini, q disebut hasil bagi dan r adalah sisa pada pembagian “ α dibagi
dengan b”. jika r = 0 maka dikatakan α habis dibagi dengan b , dan ditulis b│α.
5
Konsep di atas dapat dinyatakan dalam definisi berikut :
Definisi 2.1.1
Bilangan bulat α membagi habis bilangan bulat b (ditulis α│b) jika dan hanya jika
terdapat bilangan bulat k sehingga b = α ∙ k.
Jika α tidak membagi habis b maka b ⍭α ( Sukirman. 1997).
Contoh:
1. , sebab 18 = 3k dengan k = 6
2. 3 ⍭10, sebab tidak ada bilangan bulat k sehingga 10 = 3k. sifat-sifat penting
keterbagian dinyatakan dalam teorema berikut :
Teorema 2.1.1
Untuk bilangan-bilangan bulat α,b,c dan d berikut :
1. α 0 , 1 0, α α
2. α|1, jika dan hanya jika α = 1 atau α = -1
3. jika α│b dan b│c maka α׀c
4. jika α│b dan b│c maka α׀(b+c).
5. jika αb│c, maka α│c dan b│c.
6. Jika d│b maka d│ - b.
7. Jikaα b dan c d mka αc bd.
8. Jika α b maka α cb, untuk bilangan bulat c sebarangan.
9. Jika α b dan α c maka α( bm + cn ), untuk sebarang bilangan bulat m dan n.
Bukti:
5) Jika αb c, ada suatu bilangan bulat m sehingga dapat ditulis dengan
7
Maka terdapat bilangan bulat n sehingga cn = d
Jika α b dan c d maka :
αm ∙ cn = bd
αc ∙ mn = bd (mn = k, untuk setiap k bilangan bulat)
αc ∙ k = bd
dengan demikian, jika α b dan c d maka αc bd
8) Jika α b, maka terdapat bilangan bulat m sehingga αm = b
αm = b
αm ∙ c = b ∙ c (untuk c bilangan bulat)
α ∙ cm = c ∙ b (cm = k, untuk setiap k bilangan bulat )
α ∙ k = c ∙ b
dengan demikian jika α b maka α cb untuk setiap c bilangan bulat
sebarang.
9) Jika α b, maka terdapat bilangan bulat k sehingga αk = b, dan jika α c
maka terdapat bilangan bulat l sehingga αl = c. maka berlaku :
bm + cn = αkm + αln = α (km + ln )
α(km + ln) = bm + cn
Dengan demikian jika α ׀ b dan α ׀ c maka α׀( bm = cn ).
2.2 Faktor Persekutuan Terbesar
Dalam matematika Faktor Persekutuan Terbesar (FPB) dari dua bilangan adalah
Definisi 2.2.1
Cara mencari FPB dari beberapa bilangan yaitu dengan mengalikan faktor-faktor
prima yang sama dan berpangkat terkecil
Contoh 2.2.1:
1. Mencari FPB dari 12 dan 20:
Faktor dari 12 = 1, 2, 3, 4, 6 dan 12
Faktor dari 20 = 1, 2, 4, 5, 10 dan 20
FPB dari 12 dan 20 adalah faktor sekutu (sama) yang terbesar, yaitu 4.
2. Mencari FPB dari 15 dan 25:
Faktor dari 15 = 1, 3, 5', dan 15
Faktor dari 25 = 1, 5, dan 25
FPB dari 15 dan 25 adalah faktor sekutu (sama) yang terbesar, yaitu 5.
2.3Bilangan Sempurna
Definisi 2.3.1
Bilangan sempurna adalah bilangan bulat positif yang merupakan penjumlahan
dari pembagi positif sejati. Yaitu penjumlahan dari pembagi positif tidak termasuk
bilangan itu sendiri. Arti lainnya, bilangan sempurna adalah bilangan yang
merupakan setengah penjumlahan dari semua pembagi positif (termasuk bilangan
itu sendiri), atau dikatakan . Contoh :
1. 6 bilangan sempurna Sebab 6 = 1 + 2 + 3
9
Faktor Bilangan Bulat
Definisi 2.3.1
Jika α, b, dan c bilangan bulat, dan α ∙ b = c disebut faktor c, atau pembagi c,
sedangkan c disebut kelipatan α atau b .
Jadi ± 1, ± 2, ± 3, ± 5, ± 6, ± 10, ± 15 dan ± 30 adalah faktor dari 30. Bilangan
bulat dengan bilangan dua sebagai salah satu faktornya dinamai dengan bilangan
bilangan bulat genap. Bilangan bulat genap dapat dinyatakan dengan 2k, dimana k
adalah bilangan bulat.
Contoh :
Misalnya 6 = 2 ∙ 3 ; -14 = 2 ∙ (-7) dan 120 = 2 ∙ 60 Dengan demikian, bilangan
bulat ganjil dapat dinyatakan 2k + 1, misalnya 11 = 2 ∙ 5 + 1 dan 17 = 2 ∙ 8 + 1
2.4Bilangan Prima
Definisi 2.4.1
Sebuah bilangan p > 1 disebut bilangan prima, atau prima sederhana jika
faktor-faktornya hanya bilangan positif 1 dan p. bilangan bulat lebih besar dari 1 yang
tidak prima dinamakan bilangan komposit. (Burton, 1980)
Contoh :
23 adalah bilangan prima Karena bilangan tersebut hanya habis dibagi 1 dan
bilangan itu sendiri atau yaitu 23.
10 adalah bilangan komposit karena bilangan tersebut habis dibagi sama dengan 2
Teorema 2.4.1
Setiap bilangan bulat positif yang lebih besar dan 1 dapat dibagi oleh suatu
bilangan prima.
Bukti :
Diambil sebarang bilangan bulat positif . Jika n suatu bilangan prima, maka
n׀ n . apabila n suatu bilangan komposit maka n mempunyai faktor selain 1 dan n
sendiri, misalnya yaitu , maka ada bilangan bulat positif sedemikian
hingga dengan jika suatu bilangan prima, maka
membagi .
Tetapi jika suatu bilangan komposit, maka mempunyai faktor selain 1 dan
, misalnya yaitu sehingga ada bilangan bulat positif sedemikian
sehingga misalnya dengan Jika suatu bilangan
prima, maka Karena dan , maka , jadi n terbagi oleh suatu
bilangan prima
Definisi 2.4.2
Dua bilangan bulat α dan b dikatakan relatif prima jika . Jika α dan
b relatif prima, maka terdapat bilangan m dan n sedemikian sehingga
mα + nb =1
(Flath,1989)
Definisi 2.4.3
Misalkan bilangan bulat tidak nol. Bilangan tersebut adalah pasangan
11
Contoh :
Bilangan bulat 4, 15, dan 77 pasangan relatif prima karena faktor persekutuan
Terbesar (FPB) dari, 4, 15 = FPB dari 4,77 = 1.
Teorema 2.4.2
Jika p bilangan prima, dan maka atau (sukirman 1997).
Bukti :
Karena p bilangan prima, maka p hanya mempunyai faktor-faktor 1 dan p.
sehingga , maka . untuk bilangan bulat sembarang jika
, karena maka jika maka . Jadi atau .
2.5Fungsi Euler
Fungsi Euler dituliskan dengan untuk yang menyatakan jumlah
bilangan bulat positif yang relatif prima dengan n
Contoh : tentukan , Bilangan bulat positif yang lebih kecil dari 20 adalah 1
sampai 19.di antara bilangan-bilangan tersebut, terdapat buah yang
relatif prima dengan 20, yaitu 1, 3, 7, 9, 11, 13, 17, 19.
2.6Kekongruenan
Teori kekongruenan merupakan pendekatan lain untuk menjawab pertanyaan
tentang konsep keterbagian. Konsep dan sifat-sifat keterbagian itu dapat dipelajari
lebih mendalam lagi dengan menggunakan konsep kekongruenan. Kekongruenan
Definisi 2.6.1
Misalkan α dan b bilangan bulat dan n adalah bilangan bulat positif. Jika ,
dikatakan bahwa α kongruen dengan b modulo n dan ditulis : .
(Stark, 1970)
Teorema 2.6.1
Misalkan n bilangan bulat positif. Untuk semua bilangan-bilangan bulat α.
III. METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada semester ganjil tahun akademik 2013/2014 di
Jurusan Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Lampung.
3.2 Metode Penelitian
Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah studi pustaka seperti
buku-buku dan jurnal-jurnal yang berhubungan dengan teori bilangan terutama tentang
bilangan totient sempurna. Adapun tahap-tahap yang dilakukan dalam penelitian
ini adalah sebagai berikut :
1. Diberikan bilangan bulat positif n
2. Menentukan faktor prima dari n
3. Menentukan fungsi Euler
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1Fungsi Euler
Definisi 4.1
Bilangan Totient sempurna (Perpect Totient Number atau PTN) adalah suatu
bilangan bulat yang sama dengan jumlah dari iterasi Totientnya.
yaitu jika :
∑
dengan
∫
adalah fungsi iterasi Totient dan c bilangan bulat sedemikian hingga
maka n adalah bilangan Totient sempurna.
Definisi 4.2
Contoh fungsi aritmatika :
= Banyaknya pembagi positif dari n
= Jumlah semua pembagi positif dari n
15
= Banyaknya bilangan bulat positif yang lebih kecil atau sama dengan n
dan relatif prima terhadap n.
Definisi 4.3
Suatu fungsi aritmatika f di katakan multiplikatif jika f(mn)=f(m) f(n) bila m dan n
∑
Selanjutnya juga fungsi
multiplikatif. Jadi adalah suatu fungsi multiplikatif. Sehingga untuk suatu
( )
Terbukti untuk 111 adalah bilangan Totient sempurna.
Contoh 5
243 adalah bilangan Totient sempurna dengan bilangan bulat
Penyelesaian :
( )
( ) ( )
( ) ( )
( ) ( )
( ) ( )
( ) ( )
( ) ( )
Mohan dan Suryanarayana menemukan syarat cukup pada prima tunggal untuk
dan menjadi bilangan totient sempurna. Secara khusus misalkan
menjadi bilangan bulat tidak negatif. jika dan
bilangan prima maka dikatakan sebuah bilangan otient sempurna
Terbukti memenuhi syarat cukup bilangan Totinet sempurna.
4.3 PTN (Bilangan Totient Sempurna ) Bentuk p
Untuk menentukan PTN (Bilangan Totient Sempurna) bentuk p, k ≥ 2, di pilih
25
Jika k = 2, maka ruas kanan persamaan (4.1) menjadi :
jika,
Karena 7 bilangan prima, maka dri persamaan (4.4) diperoleh :
Dengan
Ada dua kasus yang diperhatikan :
a). Jika , maka yang berakibat y
ganjil, juga diperoleh karena
(mod 7), maka
, sehingga
ini tidak mungkin karena genap k ganjil.
b). Jika maka sehingga y
genap, Jika
maka
ini berakibat x ganjil
ini berakibat x ganjil.
Tetapi dari persamaan (4.1), , sehingga x genap terjadi
kontradiksi.
Berdasarkan uraian di atas dapat dinyatakan teorema berikut :
Tidak ada PTN berbentuk dengan adalah prima dan
V.KESIMPULAN
A.Kesimpulan
Dari hasil dan pembahasan dapat diambil kesimpulan bahwa jika dan
dan dan dan
dan semuanya bilangan prima maka adalah bilangan Totient
sempurna. Bentuk p dengan dan untuk k antara
2 dan 3 jika bukan bilangan Totient sempurna.
B.Saran
Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk Bilangan Totient Sempurna yang
DAFTAR PUSTAKA
Burton, D.M. 1980. Elementary Number Theory. University of New Hampshire, United States of Afrika.
Flath, D. E. 1989. Introduction to Number Theory. Jhon Willez and Soms, Inc, Canada.
Munir, R. 2004. Bahan Kuliah IF5054 Kriptografi. Departemen Teknik Informatika ITB, Bandung.
Stark, H. M. 1770. Introduction to Number Theory. Markam Publishing Company, Chicago.
KARAKTERISTIK BILANGAN TOTIENT SEMPURNA
Oleh
SINTA OKTARIANI
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar SARJANA SAINS
Pada
Jurusan Matematika
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
JURUSAN MATEMATIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS LAMPUNG
ABSTRAK
KARAKTERISTIK BILANGAN TOTIENT SEMPURNA
Oleh
SINTA OKTARIANI
Teori bilangan adalah cabang dari matematika murni yang mempelajari sifat-sifat bilangan bulat dan mengandung berbagai masalah terbuka yang dapat dengan mudah dimengerti sekalipun bukan oleh ahli matematika Teori bilangan pertama kali diperkenalkan oleh Phytagoras dan murid-muridnya mereka percaya bahwa penjelasan pada bilangan terdapat tentang alam semesta.
Jika dan dan dan dan dan semuanya bilangan prima maka adalah bilangan Totient sempurna. Bentuk p dengan dan untuk k antara 2 dan 3 jika bukan bilangan Totient sempurna.
DAFTAR ISI
4.2Syarat Cukup Bilangan Totient Sempurna... 22
4.3 PTN (Bilangan Totient Sempurna) Bentuk ... 24
V. KESIMPULAN
I. PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
Dalam beberapa dekade terakhir, matematika mengalami perkembangan yang luar
biasa. Telah banyak temuan-temuan penting dalam matematika yang menarik
untuk dipelajari, salah satunya yaitu di bidang teori bilangan.
Teori bilangan adalah cabang dari matematika murni yang mempelajari sifat-sifat
bilangan bulat dan mengandung berbagai masalah terbuka yang dapat dengan
mudah dimengerti sekalipun bukan oleh ahli matematika. Teori bilangan pertama
kali diperkenalkan oleh Phytagoras dan murid-muridnya mereka percaya bahwa
penjelasan pada bilangan terdapat tentang alam semesta. Tesis mereka adalah “
segalanya adalah bilangan “ dan matematika adalah suatu cara menuju akhir yaitu
Filsafat (Burton, 1980).
Dalam teori bilangan dasar, bilangan bulat dipelajari tanpa menggunakan teknik
dari area matematika lainnya. Pertanyaan tentang sifat dapat dibagi, Algoritma
Euklidean untuk menghitung faktor persekutuan terbesar, faktorisasi bilangan
bulat dalam bilangan prima, penelitian tentang bilangan sempurna dan bilangan
Dalam teori bilangan, bilangan sempurna adalah bilangan bulat positif yang sama
dengan jumlah positif yang tepat pembagi, yaitu jumlah pembagi positif termasuk
jumlah itu sendiri. bilangan prima adalah bilangan asli yang lebih besar dari angka
1, yang faktor pembaginya adalah 1 dan bilangan itu sendiri. 2 dan 3 adalah
bilangan prima. 4 bukan bilangan prima karena 4 bisa dibagi 2. Sepuluh bilangan
prima yang pertama adalah 2, 3, 5, 7, 11, 13, 17, 19, 23 dan 29. Jika suatu
bilangan yang lebih besar dari satu bukan bilangan prima, maka bilangan itu
disebut bilangan komposit.
Pernyataan dasarnya adalah teorema kecil Fermat dan teorema Euler. Sifat dari
fungsi multiplikatif seperti fungsi Mobius dan fungsi phi Euler juga dipelajari.
Demikian pula barisan bilangan bulat seperti faktorial dan bilangan Fibonacci.
Dari fungsi Euler didefinisikan bilangan Totient selanjutnya pada penelitian ini
akan di selidiki karakteristik bilangant Totient Sempurna.
1.2Batasan Masalah
Pada penelitian ini pembahasan masalah dibatasi hanya menemukan karakteristik
dari pembuktian bilangan Totient sempurna, dalam hal ini pembuktian bilangan
Totient sempurna.
1.3Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan karakteristik bilangan Totient
3
1.4Manfaat Penelitian
Manfaat yang didapat dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Mengembangkan wawasan tentang teori bilangan terutama tentang
karakteristik dari bilangan Totient sempurna.
2. Memberikan sumbangan pemikiran dalam rangka memperluas dan
memperdalam ilmu matematika di bidang teori bilangan terutama tentang
karakteristik dari bilangan Totient sempurna.
3. Sebagai referensi untuk penilaian lanjutan tentang konsep bilangan Totient
II. LANDASAN TEORI
Pada bilangan ini diterangkan materi yang berkaitan dengan penelitian,
diantaranya konsep bilangan sempurna, bilangan bulat, bilangan prima,faktor
bilangan bulat dan kekongruenan.
2.1 Keterbagian Bilangan Bulat
Secara umum, apabila α bilangan bulat dan b bilangan bulat positif, maka ada
tepat satu bilangan q dan r sedemikian hingga :
α = qb + r , 0 ≤ r < b
dalam hal ini, q disebut hasil bagi dan r sisa pada pembagian “α dibagi dengan b
“. Jika r = 0 maka dikatakan α habis dibagi b dan ditulis b ׀α. Untuk α tidak habis
dibagi b ditulis b ł α. (Burton, 1980)
Sifat keterbagian pada bilangan bulat
Secara umum apabila α bilangan bulat dan b bilangan bulat positif, maka ada tepat
satu bilangan q dan r sedemikian sehingga :
α = qb + r, 0 ≤ r < b
dalam hal ini, q disebut hasil bagi dan r adalah sisa pada pembagian “ α dibagi
dengan b”. jika r = 0 maka dikatakan α habis dibagi dengan b , dan ditulis b│α.
5
Konsep di atas dapat dinyatakan dalam definisi berikut :
Definisi 2.1.1
Bilangan bulat α membagi habis bilangan bulat b (ditulis α│b) jika dan hanya jika
terdapat bilangan bulat k sehingga b = α ∙ k.
Jika α tidak membagi habis b maka b ⍭α ( Sukirman. 1997).
Contoh:
1. , sebab 18 = 3k dengan k = 6
2. 3 ⍭10, sebab tidak ada bilangan bulat k sehingga 10 = 3k. sifat-sifat penting
keterbagian dinyatakan dalam teorema berikut :
Teorema 2.1.1
Untuk bilangan-bilangan bulat α,b,c dan d berikut :
1. α 0 , 1 0, α α
2. α|1, jika dan hanya jika α = 1 atau α = -1
3. jika α│b dan b│c maka α׀c
4. jika α│b dan b│c maka α׀(b+c).
5. jika αb│c, maka α│c dan b│c.
6. Jika d│b maka d│ - b.
7. Jikaα b dan c d mka αc bd.
8. Jika α b maka α cb, untuk bilangan bulat c sebarangan.
9. Jika α b dan α c maka α( bm + cn ), untuk sebarang bilangan bulat m dan n.
Bukti:
5) Jika αb c, ada suatu bilangan bulat m sehingga dapat ditulis dengan
7
Maka terdapat bilangan bulat n sehingga cn = d
Jika α b dan c d maka :
αm ∙ cn = bd
αc ∙ mn = bd (mn = k, untuk setiap k bilangan bulat)
αc ∙ k = bd
dengan demikian, jika α b dan c d maka αc bd
8) Jika α b, maka terdapat bilangan bulat m sehingga αm = b
αm = b
αm ∙ c = b ∙ c (untuk c bilangan bulat)
α ∙ cm = c ∙ b (cm = k, untuk setiap k bilangan bulat )
α ∙ k = c ∙ b
dengan demikian jika α b maka α cb untuk setiap c bilangan bulat
sebarang.
9) Jika α b, maka terdapat bilangan bulat k sehingga αk = b, dan jika α c
maka terdapat bilangan bulat l sehingga αl = c. maka berlaku :
bm + cn = αkm + αln = α (km + ln )
α(km + ln) = bm + cn
Dengan demikian jika α ׀ b dan α ׀ c maka α׀( bm = cn ).
2.2 Faktor Persekutuan Terbesar
Dalam matematika Faktor Persekutuan Terbesar (FPB) dari dua bilangan adalah
Definisi 2.2.1
Cara mencari FPB dari beberapa bilangan yaitu dengan mengalikan faktor-faktor
prima yang sama dan berpangkat terkecil
Contoh 2.2.1:
1. Mencari FPB dari 12 dan 20:
Faktor dari 12 = 1, 2, 3, 4, 6 dan 12
Faktor dari 20 = 1, 2, 4, 5, 10 dan 20
FPB dari 12 dan 20 adalah faktor sekutu (sama) yang terbesar, yaitu 4.
2. Mencari FPB dari 15 dan 25:
Faktor dari 15 = 1, 3, 5', dan 15
Faktor dari 25 = 1, 5, dan 25
FPB dari 15 dan 25 adalah faktor sekutu (sama) yang terbesar, yaitu 5.
2.3Bilangan Sempurna
Definisi 2.3.1
Bilangan sempurna adalah bilangan bulat positif yang merupakan penjumlahan
dari pembagi positif sejati. Yaitu penjumlahan dari pembagi positif tidak termasuk
bilangan itu sendiri. Arti lainnya, bilangan sempurna adalah bilangan yang
merupakan setengah penjumlahan dari semua pembagi positif (termasuk bilangan
itu sendiri), atau dikatakan . Contoh :
1. 6 bilangan sempurna Sebab 6 = 1 + 2 + 3
9
Faktor Bilangan Bulat
Definisi 2.3.1
Jika α, b, dan c bilangan bulat, dan α ∙ b = c disebut faktor c, atau pembagi c,
sedangkan c disebut kelipatan α atau b .
Jadi ± 1, ± 2, ± 3, ± 5, ± 6, ± 10, ± 15 dan ± 30 adalah faktor dari 30. Bilangan
bulat dengan bilangan dua sebagai salah satu faktornya dinamai dengan bilangan
bilangan bulat genap. Bilangan bulat genap dapat dinyatakan dengan 2k, dimana k
adalah bilangan bulat.
Contoh :
Misalnya 6 = 2 ∙ 3 ; -14 = 2 ∙ (-7) dan 120 = 2 ∙ 60 Dengan demikian, bilangan
bulat ganjil dapat dinyatakan 2k + 1, misalnya 11 = 2 ∙ 5 + 1 dan 17 = 2 ∙ 8 + 1
2.4Bilangan Prima
Definisi 2.4.1
Sebuah bilangan p > 1 disebut bilangan prima, atau prima sederhana jika
faktor-faktornya hanya bilangan positif 1 dan p. bilangan bulat lebih besar dari 1 yang
tidak prima dinamakan bilangan komposit. (Burton, 1980)
Contoh :
23 adalah bilangan prima Karena bilangan tersebut hanya habis dibagi 1 dan
bilangan itu sendiri atau yaitu 23.
10 adalah bilangan komposit karena bilangan tersebut habis dibagi sama dengan 2
Teorema 2.4.1
Setiap bilangan bulat positif yang lebih besar dan 1 dapat dibagi oleh suatu
bilangan prima.
Bukti :
Diambil sebarang bilangan bulat positif . Jika n suatu bilangan prima, maka
n׀ n . apabila n suatu bilangan komposit maka n mempunyai faktor selain 1 dan n
sendiri, misalnya yaitu , maka ada bilangan bulat positif sedemikian
hingga dengan jika suatu bilangan prima, maka
membagi .
Tetapi jika suatu bilangan komposit, maka mempunyai faktor selain 1 dan
, misalnya yaitu sehingga ada bilangan bulat positif sedemikian
sehingga misalnya dengan Jika suatu bilangan
prima, maka Karena dan , maka , jadi n terbagi oleh suatu
bilangan prima
Definisi 2.4.2
Dua bilangan bulat α dan b dikatakan relatif prima jika . Jika α dan
b relatif prima, maka terdapat bilangan m dan n sedemikian sehingga
mα + nb =1
(Flath,1989)
Definisi 2.4.3
Misalkan bilangan bulat tidak nol. Bilangan tersebut adalah pasangan
11
Contoh :
Bilangan bulat 4, 15, dan 77 pasangan relatif prima karena faktor persekutuan
Terbesar (FPB) dari, 4, 15 = FPB dari 4,77 = 1.
Teorema 2.4.2
Jika p bilangan prima, dan maka atau (sukirman 1997).
Bukti :
Karena p bilangan prima, maka p hanya mempunyai faktor-faktor 1 dan p.
sehingga , maka . untuk bilangan bulat sembarang jika
, karena maka jika maka . Jadi atau .
2.5Fungsi Euler
Fungsi Euler dituliskan dengan untuk yang menyatakan jumlah
bilangan bulat positif yang relatif prima dengan n
Contoh : tentukan , Bilangan bulat positif yang lebih kecil dari 20 adalah 1
sampai 19.di antara bilangan-bilangan tersebut, terdapat buah yang
relatif prima dengan 20, yaitu 1, 3, 7, 9, 11, 13, 17, 19.
2.6Kekongruenan
Teori kekongruenan merupakan pendekatan lain untuk menjawab pertanyaan
tentang konsep keterbagian. Konsep dan sifat-sifat keterbagian itu dapat dipelajari
lebih mendalam lagi dengan menggunakan konsep kekongruenan. Kekongruenan
Definisi 2.6.1
Misalkan α dan b bilangan bulat dan n adalah bilangan bulat positif. Jika ,
dikatakan bahwa α kongruen dengan b modulo n dan ditulis : .
(Stark, 1970)
Teorema 2.6.1
Misalkan n bilangan bulat positif. Untuk semua bilangan-bilangan bulat α.
III. METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada semester ganjil tahun akademik 2013/2014 di
Jurusan Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Lampung.
3.2 Metode Penelitian
Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah studi pustaka seperti
buku-buku dan jurnal-jurnal yang berhubungan dengan teori bilangan terutama tentang
bilangan totient sempurna. Adapun tahap-tahap yang dilakukan dalam penelitian
ini adalah sebagai berikut :
1. Diberikan bilangan bulat positif n
2. Menentukan faktor prima dari n
3. Menentukan fungsi Euler
V.KESIMPULAN
A.Kesimpulan
Dari hasil dan pembahasan dapat diambil kesimpulan bahwa jika dan
dan dan dan
dan semuanya bilangan prima maka adalah bilangan Totient
sempurna. Bentuk p dengan dan untuk k antara
2 dan 3 jika bukan bilangan Totient sempurna.
B.Saran
Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk Bilangan Totient Sempurna yang
DAFTAR PUSTAKA
Burton, D.M. 1980. Elementary Number Theory. University of New Hampshire, United States of Afrika.
Flath, D. E. 1989. Introduction to Number Theory. Jhon Willez and Soms, Inc, Canada.
Munir, R. 2004. Bahan Kuliah IF5054 Kriptografi. Departemen Teknik Informatika ITB, Bandung.
Stark, H. M. 1770. Introduction to Number Theory. Markam Publishing Company, Chicago.