PEMENUHAN KEBUTUHAN NUTRIEN SAPI POTONG BIBIT
YANG DIGEMBALAKAN DI PADANG MENGATAS
MUHAJIRIN
SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR
PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER
INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul Pemenuhan Kebutuhan Nutrien Sapi Potong Bibit yang Digembalakan di Padang Mengatas adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.
iv
RINGKASAN
MUHAJIRIN. Pemenuhan Kebutuhan Nutrien Sapi Potong Bibit yang Digembalakan di Padang Mengatas. Dibimbing oleh DESPAL dan KHALIL.
Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak Padang Mengatas atau yang dikenal dengan BPTU-HPT Padang Mengatas merupakan sentra peternakan milik pemerintah yang memproduksi sapi. Kawasan BPTU-HPT Padang Mengatas memiliki potensi sumberdaya berupa padang penggembalaan alam yang luas untuk mendukung program pengembangan sapi. Kawasan BPTU-HPT Padang Mengatas terletak di lereng gunung sago Kecamatan Luhak, Kabupaten 50 Kota memiliki kondisi alam yang dipengaruhi oleh pergantian musim, dengan tiga topografi yang berbeda yaitu miring sampai berombak, miring bergelombang dan miring berbukit. Curah hujan pada musim hujan yaitu 163.48 mm sampai 346.46 mm dan pada musim kemarau memiliki curah hujan yang lebih kecil dibandingkan musim hujan yaitu 55.09 mm sampai 99.26 mm. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi komposisi botani, produksi biomasa dan kandungan nutriennya untuk melihat produktivitas dan kualitas hijauan pakan di lahan pastura BPTU-HPT Padang Mengatas dalam mencukupi kebutuhan ternak yang digembalakan pada musim hujan dan musim kemarau.
Penelitian ini terdiri dari tiga tahap yaitu survei, observasi lapang dan penentuan paddock, pengambilan sampel hijauan, dan analisa kualitas nutrien. Survei, observasi lapang dilakukan untuk mengetahui gambaran yang lebih jelas mengenai lokasi pengambilan sampel serta untuk mengkonfirmasi kepada karyawan agar tidak melakukan penggembalaan pada waktu pengambilan sampel. Alat yang digunakan untuk pengambilan sampel hijauan terdiri dari kuadran 0.5 x 0.5 m2, gunting rumput, sabit, kantong plastik, karung, tali plastik, dan alat tulis. Pada penelitian analisa kualitas nutrien menggunakan sampel hijauan pastura BPTU-HPT Padang Mengatas, bahan-bahan kimia dan alat laboratorium yang digunakan untuk analisa proksimat dan van soest. Data produksi hijauan, kapasitas tampung, kandungan nutrien, dan kandungan serat hijauan dianalisis secara statistik menggunakan analisis ragam (ANOVA).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rumput Bede (Brachiaria decumbens) adalah spesies dominan di padang rumput (83,95% musim hujan dan 81.33% pada musim kemarau). Spesies legum ditemukan dalam persentase yang relatif rendah (0,66% selama musim hujan dan 0,13% pada musim kemarau). Produksi biomasa, kandungan serat kasar, abu, ADF dan NDF musim memberikan pengaruh nyata (P<0.05) sedangkan protein kasar, selulosa dan hemiselulosa tidak dipengaruhi musim. Jumlah ternak yang mampu di tampung di padang rumput adalah 1 228.80 ST. Sedangkan kapasitas tampung padang rumput berdasarkan produksi biomassa selama musim hujan adalah 1 054.55 ST untuk penggembalaan berat, 689.84 ST untuk penggembalaan sedang dan 437.66 untuk penggembalaan ringan. Selama musim kemarau kapasitas menjadi kurang (662.74, 433.49 dan 275.10 ST).
yang tinggi pada musim hujan dan mencukupi pada musim kemarau dengan kebutuhan ternak. Kebutuhan protein di lahan masih mengalami kekurangan ternak perlu ditambahkan pakan konsentrat.
SUMMARY
MUHAJIRIN. Nutrient Sufficiencies of Cow Grazing in Padang Mengatas Pasture. Supervised by DESPAL and KHALIL.
BPTU-HPT Padang Mengatas is government-owned farm centers that produce cows. BPTU-HPT Padang Mengatas Region to have the resource potential in the form of extensive natural grazing land to support the development of cattle. BPTU-HPT Padang Mengatas lies on the slopes of the District Luhak sago, District 50 Kota has natural conditions that are affected by the change of seasons, with three different topographies that is tilted to wavy, undulating and sloping sloping hilly. Rainfall during the rainy season is 163.48 mm to 346.46 mm and the dry season rainfall is smaller than the rainy season is 55.09 mm to 99.26 mm. This research needs to be done to look at the productivity and quality of forage in BPTU-HPT Padang aspire in the rainy season and dry season.
The study consisted of three stages such us surveys, field observation and determination of the paddock, forage sampling and analysis quality of nutrients. The survey, field observation was conducted to determine a clearer picture of the location of the sampling and for mengkonfermasi to employees to refrain from grazing at the time of sampling. The tools used for sampling quadrant forage consisting of 0.5 x 0.5 m2, grass shears, sickles, plastic bag size 10 and a size of 2 kg, sacks, plastic rope, and stationery. In the study of nutrient quality analysis using pasture forage samples BPTU-HPT Padang aspire, chemicals and laboratory equipment used for proximate analysis and vansoest. Data forage production, capacities, nutrient content and fiber content of forage were statistically analyzed using analysis of variance (ANOVA), if there are significant differences among treatments then followed by DUNCAN distance test.
The results showed that signal grass (B. decumbens) were dominant species in the pasture (83.95% during rainy season and 81.33% during dry season). Legume species were found in relatively low percentage (0.66% during rainy season and 0.13% during dry season). There were significant different (P <0.05) of biomass (DM) and nutrient (crude fiber, ash, NDF and ADF) production, carrying capacity between rainy and dry seasons but crude protein, cellulosa and hemicellulosa production were not affected by the seasons. Number beef cattle grazing in the pasture were 1 228.80 AU. Carrying capacities of the pasture based on biomass production during rainy season were 1 054.55 AU for heavy grazing, 689.84 AU for middle grazing intensity and 437.66 for mild grazing intensity. During dry seasons the capacity become less (662.74, 433.49 and 275.10 AU respectively).
From the study it can be concluded that the percentage of plants that many Brachiaria decumbens grass, Legume still low needs to be improved. Pasture can produce high biomass production in the rainy season and the dry season. The protein requirement in the land is still experiencing a shortage of livestock feed concentrates need to be added. Comparing the number of cattle kept in the pasture to their carrying capacity, it can be concluded that the pasture provided sufficient biomass for the animals in both seasons.
viii
© Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2017
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan IPB
Tesis
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains
pada
Program Studi Ilmu Nutrisi dan Pakan
PEMENUHAN KEBUTUHAN NUTRIEN SAPI POTONG
BIBIT YANG DIGEMBALAKAN DI PADANG MENGATAS
MUHAJIRIN
SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR
x
xii
PRAKATA
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Judul yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Januari 2016 sampai Oktober 2016 ini ialah Pemenuhan Kebutuhan Nutrien Sapi Potong Bibit yang Digembalakan di Padang Mengatas. Hasil penelitian ini telah dipublikasi di Jurnal Bulletin Makanan Ternak (Bulmater) dengan judul Pemenuhan Kebutuhan Nutrien Sapi Potong Bibit yang Digembalakan di Padang Mengatas.
Terima kasih penulis ucapkan kepada Dr Despal, SPt MSc selaku ketua komisi pembimbing dan Prof Dr Ir Khalil, MSc selaku anggota komisi pembimbing yang telah banyak memberi bimbingan, saran, dan motivasi sehingga penelitian dan tesis ini dapat diselesaikan. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Prof Dr Ir Yuli Retnani, MSc dan Dr Ir Lilis Khotijah, MSi sebagai ketua dan sekretaris program studi Ilmu Nutrisi dan Pakan, kepada Dr Ir Asep Sudarman, MrurSc sebagai dosen penguji luar komisi. Ucapan terima kasih juga kepada Dr Ir Dwierra Evvyernie A, MS MSc yang selalu memberi motivasi dan dukungan untuk terus melanjutkan studi, sehingga penulis dapat menyelesaikan studi dengan baik. Terima kasih kepada Pak Supri dan Bu Ade serta seluruh staff dan pegawai Pascasarjana khususnya Departemen Ilmu Nutrisi dan Pakan atas segala bantuan dan bimbingannya. Penulis juga mengucapkan terima kasih banyak kepada Prof Dr Ir Khalil, MSc atas bantuan finansialnya dalam pembiayaan selama penelitian.
Ucapan terima kasih sebesar-besarnya penulis sampaikan kepada kedua orang tua (Ibu dan Bapak) maupun Mertua segenap keluarga besar saya dan istri serta anakku tercinta atas segala kepercayaan, keikhlasan, kasih sayang dan do’a yang tiada henti selalu menguatkan dan memotivasi penulis selama menuntut ilmu. Istri yang telah banyak membantu menulis serta berkorban waktu demi selesainya studi. Teman-teman Pascasarjana INP 2015 dan teman-teman
organisasi Himpunan Mahasiswa Muslim Pascasarjana IPB atas do’a dan
motivasinya, kenangan manis, dan kebersamaan singkat yang telah terjalin namun begitu bermakna. Keluarga Besar BPTU-HPT Padang Mengatas yang telah memberikan kepercayaan dan kesempatan dalam melakukan penelitian. Ucapan terima kasih kepada ayuk Sutrimah, kak Nur Cholis, ayuk Wiji Lestari, Uni Ariesta, SSos MSi, Hapziah, SSos, Putri Damela serta Wafiatul Ahdi yang telah memberikan kepercayaan serta memberikan motivasi kepada penulis. Kepada Bu Jas, dan segenap asisten Laboratorium Nutrisi Ruminansia Fakultas Peternakan Universitas Andalas Padang serta adik-adik S1 Fakultas Peternakan II Universitas Andalas Payakumbuh yang telah banyak membantu selama penelitian. Terimakasih atas bantuan dari semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. Semoga Allah selalu membalas amal baiknya dan semoga karya ilmiah ini bermanfaat. Aamiin.
Bogor, Maret 2017
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL xi
DAFTAR GAMBAR xi
DAFTAR LAMPIRAN xii
1 PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Tujuan Penelitian 2
2 MATERI DAN METODE 3
Waktu dan Tempat Penelitian 3
Materi 4
Prosedur Penelitian 5
3 HASIL DAN PEMBAHASAN 12
Keragaman Tanaman 12
Produksi Biomas dan Kandungan Nutrien Hijauan 15 Kapasitas Tampung Berdasarkan Produksi BK dan PK 18
4 KESIMPULAN DAN SARAN 22
Simpulan 22
Saran 22
DAFTAR PUSTAKA 22
LAMPIRAN 27
xiv
DAFTAR TABEL
1 Waktu dan tempat penelitian 3
2 Nama alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian 4
3 Lokasi pengambilan sampel 5
4 Prosedur pengambilan sampel hijauan 7
5 Perhitungan komposisi botanis 8
6 Prosedur penyiapan analisa sampel 9
7 Perbandingan komposisi botanis di lahan pastura BPTU-HPT Padang
Mengatas 13
8 Produksi biomas, kandungan nutrien hijauan dan produksi nutrien di
lahan pastura BPTU-HPT Padang Mengatas 16
9 Kapasitas tampung berdasarkan BK dan PK 19
10 Bobot badan ternak, jumlah ternak, total ternak, dan pemenuhan kebutuhan nutrien serta suplemen pakan yang ditambahkan di
DAFTAR LAMPIRAN
1 Hasil analisa ragam produksi biomas segar (Kg/ha/hari) 27 2 Hasil analisa ragam produksi biomas kering (Kg/ha/hari) 27 3 Hasil analisa ragam produksi biomas segar (Ton/ha/tahun) 27 4 Hasil analisa ragam produksi biomas kering (Ton/ha/tahun) 28
5 Hasil analisa ragam bahan kering (BK) 28
6 Hasil analisa ragam kandungan abu 28
7 Hasil analisa ragam kandungan protein kasar (PK) 29 8 Hasil analisa ragam kandungan serat kasar (SK) 29
9 Hasil analisa ragam kandungan NDF 29
10 Hasil analisa ragam kandungan ADF 30
11 Hasil analisa ragam kandungan selulosa 30
12 Hasil analisa ragam kandungan hemiselulosa 30
13 Hasil analisa ragam produksi nutrient kandungan abu 31 14 Hasil analisa ragam produksi nutrien kandungan protein kasar 31 15 Hasil analisa ragam produksi nutrien kandungan serat kasar 31 16 Hasil analisa ragam produksi nutrien kandungan NDF 32 17 Hasil analisa ragam produksi nutrien kandungan ADF 32 18 Hasil analisa ragam produksi nutrien kandungan selulosa 32 19 Hasil analisa ragam produksi nutrien kandungan hemiselulosa 33 20 Hasil analisa ragam kapasitas tampung sapi unggul berdasarkan bahan
kering penggembalaan berat 33
21 Hasil analisa ragam kapasitas tampung sapi unggul berdasarkan bahan
kering penggembalaan sedang 33
22 Hasil analisa ragam kapasitas tampung sapi unggul berdasarkan bahan
kering penggembalaan ringan 34
23 Hasil analisa ragam kapasitas tampung sapi pesisir berdasarkan bahan
kering penggembalaan berat 34
24 Hasil analisa ragam kapasitas tampung sapi pesisir berdasarkan bahan
kering penggembalaan sedang 34
25 Hasil analisa ragam kapasitas tampung sapi pesisir berdasarkan bahan
kering penggembalaan ringan 35
1 PENDAHULUAN
Latar Belakang
Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak Padang Mengatas atau yang dikenal dengan BPTU-HPT Padang Mengatas merupakan sentra peternakan milik pemerintah yang memproduksi ternak sapi. Kawasan BPTU-HPT Padang Mengatas memiliki potensi sumberdaya berupa padang penggembalaan alam yang luas untuk mendukung program pengembangan sapi. Data BPTU-HPT Padang Mengatas (2016) memperlihatkan bahwa luas lahan pastura sekitar 208,41 ha. Luasnya lahan BPTU-HPT ini menunjukkan bahwa BPTU- HPT Padang Mengatas memiliki potensi ketersediaan lahan dan sumber hijauan pakan ternak yang cukup untuk mendukung pengembangan ternak ruminansia akan tetapi produksi hijauan pakan masih terkendala oleh pengaruh musim.
Komposisi hijauan lahan penggembalaan menjadi tidak stabil disebabkan pengaruh iklim (Susetyo 1980). Kondisi suhu udara di BPTU-HPT Padang Mengatas mencapai 18o – 28oC dengan iklim tropis yang dicirikan dengan musim hujan yang lebih panjang (enam sampai tujuh bulan yaitu November sampai Mei) dan musim kemarau yang pendek (empat sampai lima bulan yaitu Juni sampai Oktober). Curah hujan pada musim hujan yaitu 163.48 mm sampai 346.46 mm dan pada musim kemarau memiliki curah hujan yang lebih kecil dibandingkan musim hujan yaitu 55.09 mm sampai 99.26 mm (BMKG 2016). Lakitan (2011) menyatakan bahwa pertumbuhan tanaman hijauan pakan dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, suhu, curah hujan dan intensitas cahaya. Pergantian musim hujan dan musim kemarau memberikan pengaruh yang negatif terhadap kualitas dan kuantitas hijauan pakan yang tersedia di padang penggembalaan dan secara tidak langsung berpengaruh terhadap proses produksi dan reproduksi pada ternak (Manu 2013).
Kondisi alam yang dipengaruhi musim ini mengakibatkan produksi biomassa hijauan pakan menjadi berbeda antara musim hujan dan musim kemarau, sehingga mengakibatkan produksi hijauan pada musim hujan melimpah dan berkurang pada musim kemarau. Lugiyo (2006) menyatakan bahwa musim kemarau menyebabkan jumlah produksi biomassa hijauan pakan menurun, pertumbuhan tanaman terganggu sehingga suplai pakan hijauan ternak akan berkurang. Selain itu Prawiradiputra et al. (2012) menyatakan bahwa pada musim hujan produksi hijauan tinggi tetapi memiliki mutu kualitas hijauan rendah. Sehingga Sawen et al. (2003) memberikan pendapat bahwa ketidakseimbangan produksi hijauan pakan pada musim hujan dan kemarau mengakibatkan kesulitan dalam penyediaan pakan hijauan secara baik.
2
Kawasan BPTU-HPT Padang Mengatas terletak di lereng gunung sago Kecamatan Luhak, Kabupaten 50 Kota memiliki kondisi alam yang dipengaruhi oleh pergantian musim, dengan topografi yang berbeda. Perbedaan topografi diukur berdasarkan kederajatan kemiringan lahan. Topografi datar sampai bergelombang (berombak) memiliki kemiringan 0 – 5o, bergelombang 5 – 12o, berbukit 12 – 23o, dan curam > 25o. Di Kawasan BPTU-HPT Padang Mengatas ditemukan tiga topografi lahan yaitu miring berombak, miring bergelombang dan miring berbukit. Perbedaan topografi ini akan memberikan pengaruh terhadap kesuburan tanaman yang berakibat kepada produksi, kualitas serta kuantitas tanaman. Susetyo (1980) menyatakan bahwa kondisi tanah di padang penggembalaan mempengaruhi komposisi hijauan di padang pengembalaan.
Suplai nutrien pada ternak menjadi berfluktuasi dengan perbedaan produksi biomasa dan kandungan nutriennya. Informasi produksi biomasa dan nutrient pada masing-masing musim dan kemiringan lahan perlu diketahui untuk melihat apakah ternak yang digembalakan mendapatkan nutrien yang cukup atau defisien atau surplus.
Tujuan
2 MATERI DAN METODE
Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BPTU-HPT) Padang Mengatas yang terletak di Kecamatan Luhak, Kabupaten 50 Kota Sumatera Barat untuk survei dengan pengamatan langsung ke lapang dan pengambilan sampel tanaman di lahan pastura. Pengambilan sampel dan analisa hijauan dilakukan 2 periode (musim hujan dan musim kemarau). Periode pertama (musim hujan) diambil pada bulan Januari - Maret 2016 dan periode kedua (musim kemarau) diambil pada bulan Agustus - Oktober 2016. Indentifikasi komposisi botani dan persiapan sampel analisa nutrisi dilakukan di Laboratorium Fakultas Peternakan II UNAND Payakumbuh. Analisa zat makanan dilakukan di Laboratorium Nutrisi Ruminansia Fakultas Peternakan Universitas Andalas.
Tabel 1 Waktu dan tempat penelitian
4
Materi
Alat
Penelitian ini terdiri dari tiga tahap, yaitu survei, observasi lapang dan penentuan paddock, pengambilan sampel hijauan, dan analisa kualitas nutrien. Survei, observasi lapang dilakukan untuk mengetahui gambaran yang lebih jelas mengenai lokasi pengambilan sampel serta untuk mengkonfirmasi kepada karyawan agar tidak melakukan penggembalaan pada waktu pengambilan sampel. Alat yang digunakan untuk pengambilan sampel hijauan terdiri dari kuadran 0.5 x 0.5 m2, gunting rumput, sabit, kantong plastik ukuran 10 dan ukuran 2 kg, karung, tali plastik, dan alat tulis. Penyiapan sampel dan analisa kimia zat makanan menggunakan alat yang terdiri dari pisau, telenan, kertas koran, aluminium foil, timbangan listrik, oven, kantong plastik, kertas label dan blender sebagai penggiling. Zat makanan yang dianalisa yaitu Proximat dan Van Soest. Alat laboratorium yang digunakan untuk menganalisa kandungan zat makanan terdiri dari cawan porselin, oven, eksikator, tanur, neraca analitik, labu kjedal, lemari asam, labu ukur, corong, alat destilasi, labu destilasi, elemeyer, pemanas listrik, kertas saring, pompa vakum, dan gelas filter.
Bahan
Penelitian ini menggunakan bahan hijauan pastura BPTU-HPT Padang Mengatas yang diambil pada musim hujan dan kemarau. Analisa kandungan zat makanan menggunakan bahan yang terdiri dari sampel hijauan yang sudah berbentuk tepung, selenium mixture, aquades, NaOH, asam boraks, aseton, NDS, ADS dan H2SO4.
Tabel 2 Nama alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian
Prosedur Penelitian
Penelitian ini dilakukan 2 periode (musim hujan dan musim kemarau). Setiap periode terbagi dalam 3 tahap. Penelitian tahap pertama ini diawali dengan melakukan survei dan mempelajari serta mengamati lahan pastura BPTU-HPT Padang Mengatas. Tahap kedua pengambilan sampel hijauan yang terbagi atas 15 paddock dengan 3 topografi yang berbeda yaitu miring sampai berombak, miring bergelombang dan miring berbukit masing-masing paddock di ambil sebanyak 5 sampel. Tahap ketiga analisa kandungan zat makanan dan mineral hijauan.
Tabel 3 Lokasi pengambilan sampel
No Topografi
Miring Berombak Miring Bergelombang Miring Berbukit 1
XX II E
2
XVIII. B XVI XII. A
3
XVII. B XV. B B
4
XV. T XIII. B D. Barat
5
6
Keterangan: : Topografi miring berombak : Topografi miring bergelombang : Topografi miring berbukit
Observasi Lapang dan Penetapan Lokasi Pengambilan Sampling
Penelitian ini diawali dengan melakukan survei dan mempelajari serta mengamati lahan pastura BPTU-HPT Padang Mengatas. Pengamatan dilakukan untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai lokasi lahan pastura setiap paddock. Pengamatan juga dilakukan sebagai konfermasi terhadap teknisi karyawan di BPTU-HPT untuk tidak melakukan penggembalaan pada waktu melakukan pengambilan sampel. Survei ini dilakukan 2 kali sebelum pengambilan sampel yaitu pada musim hujan dan musim kemarau.
Jumlah paddock pastura yang ada di BPTU-HPT Padang Mengatas sebanyak 40 paddock dengan luas dan ukuran yang berbeda (BPTU-HPT Padang Mengatas 2016). Paddock yang digunakan dalam pengambilan sampel diambil berdasarkan tingkat topografi.
Topografi miring berombak dengan kode peddock XX, XVIII B, XVII B, XV T, XIV, topografi miring bergelombang dengan kode peddock II, XVI, XV B, XIII B, XIII T, tingkat topografi yang berbukit diambil peddock dengan kode B, XII A, E, D Barat, D Timur (Gambar 1). Perbedaan masing-masing topografi dapat dilihat pada Tabel 3.
Pengambilan Sampel Hijauan
Pengambilan sampel hijauan yang terbagi atas 15 paddock. Penentuan lokasi sampling dilakukan dengan metode Stratified Random Sampling berdasarkan topografi. Sampel hijauan diambil pada 15 paddock yang terbagi 3 topografi yang berbeda yaitu miring sampai berombak, miring bergelombang dan miring berbukit.
Pengambilan sampel hijauan dilakukan 5 titik disetiap paddock terpilih dengan bantuan kuadran (plate meter) berukuran 0.5 x 0.5 m2. Kuadran ditempatkan secara diagonal dengan secara acak pada masing-masing titik yang terpilih. Selanjutnya semua tanaman hijauan yang berada didalam kuadran dipotong setinggi 5 – 10 cm dari permukaan tanah atau sampai direnggut oleh ternak (Junaidi dan Sawen 2010). Hijauan yang telah dipotong kemudian dimasukkan ke dalam kantong plastik, kemudian diikat dan diberi label. Selanjutnya hijauan dibawa ke laboratorium untuk ditimbang berat segarnya dan dilakukan perhitungan jenis serta analisa vegetasi tanaman. Prosedur pengambilan sampel disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4 Prosedur pengambilan sampel hijauan
8
3 Pemotongan hijauan 5 sampai 10 cm
4 Pengemasan dan
pemberian label
Identifikasi komposisi botani dan Analisa kandungan zat makanan
Hijauan yang telah ditimbang berat segarnya kemudian dianalisa vegetasi (identifikasi komposisi botanis) tanaman dengan memisahkan berdasarkan jenis tanamannya kemudian ditimbang berdasarkan jenis tanaman (Tabel 5). Analisa kandungan zat makanan diawali dengan pemotongan tanaman sepanjang 2 sampai 3 cm dengan pisau (golok) dan menggunakan telenan sebagai alasnya. Hijauan yang sudah dipotong dikomposit agar tercampur dengan merata kemudian dimasukkan kedalam aluminium foil yang di disaign seperti kotak dengan ukuran 27 x 11.5 x 5.5 cm dan ditimbang hingga beratnya mencapai 150 g dengan ulangan sebanyak 3 kali. Sampel tanaman kemudian dikeringkan dalam oven pada suhu 60 - 65oC selama 48 jam atau sampai batang dari tanaman mudah dipatahkan. Hijauan yang telah di oven kemudian ditimbang berat keringnya dan dihaluskan dengan menggunakan blender sampai menjadi tepung. Proses penyiapan sampel analisa disajikan pada Tabel 6.
Tabel 5 Perhitungan komposisi botanis
No Kegiatan Gambar
1
Hijauan ditimbang total berat segar 2
Hijauan dipisahkan berdsarkan jenisnya 3 Hijauan
ditimbang berdasarkan berat
Tabel 6 Prosedur penyiapan analisa sampel
No Kegiatan Gambar
1 Hijauan
dipotong 2 sampai 3 cm.
2 Pengadukan hijauan yang sudah dipotong hingga
homogeny 3 Hijauan di
masukkan ke dalam
aluminium foil secara
representative 4 Hijauan
ditimbang beserta
aluminium foil dengan berat 150 gr.
5 Hijauan dikeringkan kedalam oven dengan suhu 60 sampai 65oC
6 Penimbangan berat sampel setelah di oven.
7 Sampel
10
Parameter yang diukur antara lain:
1. Komposisi Botanis
Komposisi botanis dihitung untuk mengetahui jumlah vegetasi yang ada di lahan pastura BPTU-HPT Padang Mengatas. Pada setiap titik pengambilan sampel diamati jenis vegetasi yang ada yaitu jenis rumput, legum dan gulma. Hitung persentase masing-masing vegetasi dari setiap petak (kuadran) yang diambil dengan rumus:
Komposisi botanis dihitung = Jumlah Hijauan : Jumlah Total Hijauan x 100%
2. Produksi Biomas
Produksi biomas dihitung dengan rumus (Infitria dan Khalil 2014): a. Tabulasi data berat hijauan masing-masing frame (g/m2).
b. Perhitungan berat hijauan masing-masing frame (kg/ha) 10.000 x produksi (g/m2)= ...kg/ha
1.000
c. Perhitungan produksi hijauan dalam satu tahun (kg/ha/tahun) Berat hijauan (kg/ha) x (365/45) = ... kg/ha/tahun
3. Kapasitas Tampung Berdasarkan BK dan PK
a. Hasil perhitungan produksi hijauan dalam satu tahun (kg/ha/tahun)
b. Dihitung hijauan yang tersedia untuk ternak dengan rumus: % proper use x produksi hijauan kg/ha/tahun, dimana: untuk pengembalaan berat 65 %, pengembalaan sedang 42.5% dan pengembalaan ringan 27.5%.
c. Kebutuhan pakan yang tersedia (kg/ha/tahun)
Produksi hijauan satu tahun x proper use : 100= ...(kg/ha/tahun) d. Perhitungan jumlah kebutuhan BK dan PK
KBK = KBK ternak x BBT x 365 = ...ST/Tahun
KPK = KPK ternak x KBK ternak x BBT x 365 = ...ST/tahun Keterangan :
KBK : Kebutuhan bahan kering KPK : Kebutuhan protein kasar BBT : Bobot badan ternak e. Didapat kapasitas tampung:
4. Pemenuhan Kebutuhan Nutrien BK dan PK
Pemenuhan kebutuhan nutrien BPTU-HPT Padang Mengatas dengan mengamsusikan total perhitungan kapasitas tampung. Pemenuhan kebutuhan nutrien BK dan PK dihitung dengan cara:
A : B x 100 = ...% Keterangan :
A = Total perhitungan kapasitas tampung
B = Total kapasitas tampung ternak saat sekarang
5. Analisa Kandungan Zat Makanan dan Kandungan Serat
Sampel hijauan pakan yang didapatkan dari lahan pastura dipersiapkan dengan dikeringkan menggunakan oven 60o-65oC lalu digiling halus menggunakan blender. Kandungan zat makanan yang akan dianalisa dari sampel hijauan antara lain bahan kering (BK), Abu, protein kasar (PK), serat kasar (SK) Metoda AOAC (2000), sedangkan kandungan serat berupa ADF dan NDF, selulosa dan hemiselulosa dianalisis menggunakan metode Van Soest (1991).
6. Produksi Nutrien
Produksi nutrien di lahan pastura BPTU-HPT Padang Mengatas dengan cara: PBK x KZM : 100 = ...ton/ha/tahun
Keterangan :
PBK = Produksi biomas kering (ton/ha/tahun)
KZM = Hasil analisa kandungan zat makanan (PK, SK, Abu, ADF, NDF, selulosa dan hemiselulosa)
Rancangan Percobaan
Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok dengan 5 ulangan. Tiga topografi (miring berombak, miring bergelombang dan miring berbukit) yang terdapat pada BPTU-HPT Padang Mengatas digunakan sebagai strata (kelompok), dua musim (hujan dan kemarau) merupakan faktor yang diamati (perlakuan). Masing-masing topografi diambil 5 paddock sebagai ulangan. Model matematika yang digunakan adalah sebagai berikut:
Yij = µ + i + ßj+ ij
Yij = nilai pengamatan ulangan (kelompok) ke j dr perlakuan ke i µ = nilai tengah umum
12
3 HASIL DAN PEMBAHASAN
Keragaman Tanaman
Hijauan pakan ternak ruminansia memiliki banyak keragaman. Pengolahan hijauan pakan dimulai dari pemilihan lokasi dan pengolahan tanah, penanaman rumput unggul, pemeliharaan yang menyangkut pemupukan, penyiangan dan pemberantasan penyakit tanaman dan pemanenan. Keragaman tanaman atau komposisi botanis pastura perlu dilakukan analisis. Komposisi botanis merupakan suatu metoda yang digunakan untuk menggambarkan adanya spesies tumbuhan tertentu serta poporsinya didalam ekosistem padangan (Yoku et al. 2015). Berbandingan komposisi botanis pastura BPTU-HPT Padang Mengatas dengan dua musim dan perbedaan topografi disajikan pada Tabel 7.
Hasil analisa komposisi botanis pastura BPTU-HPT Padang Mengatas memiliki banyak varietas hijauan yang tumbuh. Varietas gramineae yang tumbuh di lahan pastura BPTU-HPT Padang Mengatas yaitu rumput Brachiaria decumbens, Panicum maximum, dan Cynodon plectostachyus. Ketiga jenis ini merupakan gramineae yang ditanam pada lahan pastura BPTU-HPT Padang Mengatas. Jenis hijauan yang pertama ditanam dan dibudidaya pada lahan pastura BPTU-HPT Padang Mengatas adalah jenis rumput B. decumbens, P. maximum, dan C. plectostachyus (BPTU-HPT Padang Mengatas 2016).
Persentase rumput pastura berdasarkan analisa yaitu rumput B. decumbens 83.95 musim hujan dan 81.33 musim kemarau, rumput P. maximum 4.03% musim hujan dan 1.74% musim kemarau, sedangkan rumput C. plectostachyus musim hujan 4.61% dan musim kemarau 13.42% (Tabel 7). Persentase rumput paling tinggi yaitu jenis rumput B. decumbens. Rumput B. decumbens merupakan salah satu rumput gembala yang memiliki produksi tinggi pada musim hujan dan lebih tahan pada musim kemarau, tahan dalam injakan ternak, dan memiliki nilai nutrisi yang tinggi. Rumput B. decumbens ini sangat cocok ditanam di lahan pastura BPTU-HPT Padang Mengatas karena kondisi iklim yang sesuai dengan pertumbuhannya. Lokasi lahan pastura BPTU-HPT Padang Mengatas yang berada di bawah kaki gunung dengan ketinggian 790 sampai 1 030 m dari permukaan laut dan mempunyai temperatur antara 18oC sampai 28oC serta curah hujan pada musim hujan berkisar 163.48 mm sampai 346.46 mm dan pada musim kemarau berkisar antara 55.09 mm sampai 99.26 mm (BMKG 2016) kondisi ini sangat cocok untuk pembudidayaan rumput B. decumbens.
Tabel 7 Perbandingan komposisi botanis di lahan pastura BPTU-HPT Padang
3 Stargras Cynodon plectostachyus 4.61 13.42
Jumlah 92.60 98.04
Kacang-kacangan Leguminosa
4 Sentro Centrocema pubescens 0.35 0.08
5 Stylo Stylosantes guyanensis 0.31 0.05
Jumlah 0.66 0.13
Gulma
6 Sidaguri Sida rhombifolia linn 0.82 0.00
7 Rumput Teki Cyperus Rotundus L. 1.07 0.58
8 Rumput Kebo Digitaria Ciliaris 0.41 0.00
9 Calincing Oxallis Barrelieri 0.02 0.00
10 Pecut Kuda Stachytarpheta jamaicensis 0.40 0.25
11 Jenis Gulma Lain 4.02 2.54
Jumlah 6.75 3.37
Kecukupan leguminosa di lahan pastura sangat diperlukan karena leguminosa memiliki kandungan nutrisi yang baik dibanding rumput (Infitria dan Khalil 2014). Junaidi dan Sawen (2010) menyatakan bahwa ketersediaan leguminosa sangat diperlukan suatu pastura karena tanaman leguminosa memiliki kandungan nutrisi yang lebih tinggi dibanding dengan tanaman rumput terutama kandungan protein. Presentase leguminosa di lahan pastura BPTU-HPT Padang Mengatas masih tergolong sangat rendah. Rendahnya leguminosa di lahan pastura BPTU-HPT Padang Mengatas dikarenakan leguminosa mempunyai pertumbuhan yang sangat lambat dibandingkan dengan jenis rumput-rumputan serta kurangnya manajemen yang baik. Faktor lain yang mengakibatkan rendahnya tanaman leguminosa di lahan pastura BPTU-HPT Padang Mengatas disebabkan karena pemanfaatan lahan pastura secara terus menerus. Berdasarkan hasil analisis komposisi botanis bahwa jenis golongan leguminosa yang didapatkan yaitu Centrocema pubescens dan Stylosantes guyanensis. Golongan leguminosa C. pubescens dan S. guyanensis merupakan golongan leguminosa yang dibudidaya oleh BPTU-HPT Padang Mengatas (BPTU-HPT Padang Mengatas 2016).
14
yang berat karena leguminosa memiliki perakaran yang kurang kuat dan tidak tahan terhadap injakan.
Tingginya produksi gramineae ini berakibat dapat menurunkan leguminosa pada lahan pastura. Peningkatan proporsi rumput dan penurunan proporsi leguminosa pada lahan pastura disebabkan oleh keberadaan rumput yang lebih tinggi terutama rumput B. decumbens, hal ini dikarenakan tanaman leguminosa adalah tanaman yang lemah bila ditanam campuran dengan rumput (Tosti dan Thorup-Kristensen 2010). Diperkuat oleh Ali (2014) bahwa interspesific competition antara rumput dan leguminosa dapat menurunkan kelangsungan hidup dan menghambat pertumbuhan tanaman yang subdominan (leguminosa). Penanaman sistem campuran rumput dan leguminosa di lahan pastura sedikit mengalami kesulitan dalam pengelolaan dibandingkan dengan pastura monokultur, hal ini disebabkan karena adanya persaingan tanaman dalam mendapatkan air, cahaya, dan kandungan mineral tanah (Albayrak dan Ekiz 2005). Kuatnya persaingan antar tanaman dapat menyebabkan tanaman yang subdominan produksinya menurun (Hirpa 2013).
Upaya dalam meningkatkan nilai kandungan nutrien, mengendalikan hama, serta membantu dalam penyuburan tanah maka tanaman leguminosa di lahan pastura BPTU-HPT Padang Mengatas perlu ditingkatkan. Silva et al. (2012) menyatakan bahwa pastura yang dibudidayakan dengan menambah tanaman leguminosa dapat meningkatkan unsur hara pada tanah. Golongan C. pubescens dan S. guyanensis sangat dibutuhkan di lahan pastura. Menurut Yusuf dan Partridge (2002) bahwa suatu pastura S. guyanensis perlu dikombinasikan untuk disebarkan yang dapat merubah kompisisi botanis dalam menuju ke spesies yang lebih produktif dengan pertumbuhannya yang lebih cepat juga berpengaruh baik terhadaap ternak. Vasileva dan Vasilev (2012) menyatakan bahwa pertanaman campuran rumput dan leguminosa adalah lebih tahan dan lebih baik dalam mengatasi kondisi yang tidak menguntungkan dibandingkan dengan tanam tunggal; (Albayrak et al. 2011) dan cenderung dapat memberikan keseimbangan nilai gizi hijauan.
Persentase gulma di lahan pastura BPTU-HPT Padang Mengatas masih tergolong tinggi (Tabel 7). Tingginya gulma di lahan pastura diakibatkan karena rendahnya persentase gramineae yang tumbuh serta manajemen yang kurang baik. Hasil Tabel 7 terlihat bahwa persentase gulma yang paling tinggi terdapat pada topografi miring berbukit sebesar 10.91% pada musim hujan dan 6.30% musim kemarau. Kelompok gramineae yang tumbuh pada topografi miring berbukit lebih rendah dibandingkan dengan topografi miring berombak dan bergelombang sehingga mengakibatkan kelompok gulma tumbuh secara liar.
(2004) bahwa gulma dominan tumbuh tergantung pada kondisi air dan manajamen suatu lahan, proses pembajakan, pembuatan galengan serta persiapan penanaman.
Produksi Biomas dan Kandungan Nutrien Hijauan
Produksi Biomas
Kondisi curah hujan yang bersifat fluktuatif dapat mengganggu pertumbuhan dan produktivitas dari tanaman hijauan, berakibat pada penurunan produksi biomas dan kapasitas tampung di lahan pastura. Air merupakan bahan utama yang diperlukan dalam proses fotosintesis tanaman (Rostini 2014). menurunnya kondisi air yang diakibatkan rendahnya curah hujan (musim kemarau) mengakibatkan produksi bahan kering menurun dan secara tidak langsung dapat mengganggu proses metabolisme pada tumbuhan yang berakibat terhadap produksi tumbuhan.
Produksi biomas segar (PBS) dan produksi biomas kering (PBK) tanaman pastura BPTU-HPT Padang Mengatas ditampilkan pada Tabel 8. Hasil analisis statistik memperlihatkan bahwa musim memberikan pengaruh sangat nyata (P<0.01) terhadap PBS dan PBK. Pastura BPTU-HPT Padang Mengatas mampu memproduksi PBS (kg/ha/hari) pada musim hujan sebesar 569.86±153.79 dan pada musim kemarau 316.92±100.02, sedangkan PBK (kg/ha/hari) tanaman di lahan pastura BPTU-HPT Padang Mengatas yaitu 116.70±27.71 pada musim hujan dan 73.22±24.36 pada musim kemarau.
Hasil PBS dan PBK pastura BPTU-HPT Padang Mengatas terlihat berbeda. Terjadinya penurunan PBS dan PBK pada musim kemarau diduga karena kondisi cekaman air dimana suplai air pastura berkurang pada musim kemarau. Menurunnya kondisi air suatu pastura dapat menyebabkan terjadinya penurunan proses fotosintesis sehingga berdampak pada penurunan produksi bahan kering. Rostini (2014) menyatakan bahwa menurunnya kondisi air dapat mengakibatkan produksi bahan kering menurun dan terganggunya proses metabolisme pada tumbuhan secara tidak langsung juga berpengaruh terhadap produksi tumbuhan. Xiuhai et al. (2005) mengatakan bahwa penurunan laju fotosintesis dapat menurunkan pembentukan karbohidrat sehingga produksi bahan kering tumbuhan juga menurun.
16
Tabel 8 Produksi biomas, kandungan nutrien hijauan dan Produksi Nutrien di lahan pastura BPTU-HPT Padang Mengatas
Parameter Satuan Musim
Hujan Kemarau
Luas Lahan Ha 208.41 208.41
Produksi Biomas Kg BS/ha/hari 569.86±153.79A 316.92±100.02B Kg BK/ha/hari 116.70±27.71A 73.22±24.36B Ton BS/ha/tahun 208.00±56.13A 115.68±36.51B Ton BK/ha/tahun 42.60±10.11A 26.73±8.89B Kandungan Nutrien
BK % BS 20.68±2.26a 23.08±2.95b
Abu % BK 10.47±1.07a 9.42±1.17b
PK % BK 9.24±3.13 11.50±3.31
SK % BK 33.26±3.05A 27.73±2.15B
NDF % BK 75.62±2.75A 69.35±3.47B
ADF % BK 45.96±3.46A 38.66±2.70B
Selulosa % BK 33.62±4.05 31.46±2.19
Hemiselulosa % BK 29.79±3.68 30.69±2.21
Produksi Nutrien
Abu Ton/ha/tahun 4.45±1.13A 2.48±0.80B
PK Ton/ha/tahun 3.84±1.35 2.97±1.31
SK Ton/ha/tahun 14.23±4.08A 7.50±2.57B
NDF Ton/ha/tahun 32.28±8.27A 18.67±6.19B
ADF Ton/ha/tahun 19.64±5.16A 10.50±3.79B
Selulosa Ton/ha/tahun 14.38±4.25A 8.54±3.09B
Hemiselulosa Ton/ha/tahun 12.70±3.75A 8.17±2.41B Keterangan : BK (Berat Kering), BS (Berat Segar), PK (Protein Kasar), SK (Serat Kasar), NDF (Netral Detergen
Fiber), ADF (Acid Detergen Fiber), Angka yang diikuti huruf kapital yang berbeda pada pada
baris yang sama menunjukan berbeda sangat nyata (P<0.01), Angka yang diikuti huruf kecil yang berbeda pada pada baris yang sama menunjukan berbedaan nyata (P<0.05).
Kandungan Nutrien Hijauan
Kandungan nutrien hijauan dengan perbedaan musim di lahan pastura BPTU-HPT Padang Mengatas disajikan pada Tabel 8. Kualitas nutrien hijauan yang diamati adalah bahan kering (BK), abu, protein kasar (PK) dan serat kasar (SK). Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa musim memberikan pengaruh nyata (P<0.05) terhadap kandungan BK, abu, dan SK (P<0.01) sedangkan PK musim tidak memberikan pengaruh nyata.
rendahnya kandungan zat makanan di lahan pastura diduga karena perbedaan waktu pemotongan tanaman ketika pemanenan.
Humpreys (1994) mengatakan bahwa pemotongan yang terlalu sering pada lahan pastura dapat menyebabkan produksi bahan kering menjadi lebih rendah. Semakin tua umur pemotongan maka semakin tinggi produksi namun terbalik dengan kualitas pakan bahwa kandungan protein kasar menurun, serat kasar meningkat (Savitri et al. 2012).
Menurut Lugiyo (2006) dari hasil penelitiannya bahwa semakin tua umur pemotongan tanaman nilai PK menurun dan kandungan SK meningkat. Ella (2002) menyatakan bahwa pada tanaman muda memiliki nilai PK dan kandungan air yang tinggi dan kandungan SK rendah. Hijauan pakan yang terlambat dilakukan grazing (tua dipanen) memiliki kandungan PK yang rendah dan SK meningkat, sebaliknya hijauan pakan lebih cepat dilakukan grazing (muda dipanen) memiliki PK tinggi dan SK menurun (Prawiradiputra et al. 2012). Damry (2009) faktor penyebab rendahnya kandungan PK dan tingginya kandungan SK yaitu kondisi undegrazing sehingga vegetasi tanaman mengalami penuaan.
Netral detergen fiber (NDF) dan acid detergen fiber (ADF) merupakan komponen SK yang menentukan laju pencernaan pada ternak ruminansia. Kandungan serat hijauan di lahan pastura BPTU-HPT Padang Mengatas dengan perbedaan dua musim disajikan pada Tabel 8. Kandungan serat yang diamati yaitu NDF, ADF, selulosa dan hemiselulosa. Hasil analisis statistik kandungan NDF dan ADF, hijauan di lahan pastura BPTU-HPT Padang Mengatas bahwa musim berpengaruh sangat nyata (P<0.01), sedangkan hasil analisis statistik kandunagn selulosa dan hemiselulosa memperlihatkan bahwa musim tidak memberikan pengaruh.
Kandungan NDF pada musim hujan yaitu 75.62±2.75 dan musim kemarau 69.35±3.47. Kandungan ADF pada musim hujan 45.96±3.46 dan musim kemarau 38.66±2.70. Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian Minson (1990) yang melaporkan bahwa kandungan serat NDF dan ADF hijauan pakan di daerah tropika berkisar 45 - 85% dan 21 – 55%. Hasil ini juga tidak berbeda jauh dengan Fahriani (1996) bahwa kandungan NDF beberapa hijauan berkisar 66.30 – 72.30 %, ADF 38.03 – 41.07%. Rostini (2014) dalam penelitiannya melaporkan bahwa tumbuhan yang tumbuh pada musim hujan memberikan kandungan NDF berkisar antara 26.62
– 70.95%, ADF berkisar antara 20.89 – 58.47%, sedangkan pada musim kemarau kandungan NDF berkisar antara 31 – 66.48%, ADF berkisar antara 22.28 – 47.60%. Adanya variasi kandungan NDF dan ADF tanaman hijauan disebabkan oleh faktor ginetik, lingkungan dan jenis tanah (Nasrullah et al. 2003; Evitayani et al. 2004).
Kandungan NDF dan ADF yang rendah lebih baik untuk ternak, hal ini karena menandakan bahwa kandungan SK juga rendah dan kandungan PK meningkat. Kandungan NDF dan ADF menurun lebih baik untuk kebutuhan ternak karena kadar serat juga menurun dan kadar protein meningkat sehingga memberikan pengaruh terhadap kualitas pakan (Anam et al. 2012). Menurut Evitayani et al (2004) melaporkan bahwa terdapat hubungan negatif antara kandungan PK dan fraksi serat, dimana kandungan PK yang tinggi maka berkaitan dengan rendahnya kandungan fraksi serat.
18
selulosa pada musim hujan 33.62±4.05 sedangkan musim kemarau 31.46±2.19. Kandungan hemiselulosa pada musim hujan 29.79±3.68 sedangkan musim kemarau 30.69±2.21. Hasil ini sesuai dengan hasil penelitian Fahriani dan Eviyati (2008) melaporkan bahwa hijauan darat pada suatu pastura memiliki kandungan serat berkisar antara 30.30 – 37.30% berupa selulosa, sedangkan hemiselulosa berkisar antar 29.60 – 31%.
Kandungan NDF, ADF dan selulosa pada musim hujan lebih tinggi dibandingkan dengan musim kemarau. Tinggi rendahnya NDF, ADF dan selulosa ini diduga karena pengaruh pemotongan hijauan dan pergantian musim. Menurut Evitayani et al. (2004) komponen serat menjadi berbeda karena dipengaruhi oleh musim, pada musim kemarau dengan meningkatnya intensitas cahaya matahari dan sedikitnya curah hujan menyebabkan pematangan lebih cepat dan ini mengakibatkan isi dinding sel lebih tinggi dan isi sel lebih rendah. Infitria dan Khalil (2014) kandungan serat dipengaruhi oleh umur tanaman, semakin tua tanaman maka kandungan serat semakin meningkat. Hal ini didukung oleh penelitian Djuned et al. (2005) yang menyatakan bahwa kandungan fraksi serat pada tanaman pakan terus meningkat seiring dengan lamanya umur pemotongan.
Bila hijauan semakin tua proporsi selulosa dan hemiselulosa bertambah, sedangkan karbohidrat yang mudah larut berkurang (Manu 2013). Martaguri et al. (2015) menjelaskan bahwa tingginya nilai masing-masing fraksi serat rumput diperkirakan karena kemampuan rumput yang tinggi dalam menyerap karbon selama fotosintesis, lebih banyak dirubah menjadi komponen karbohidrat struktural. Varga et al. (1998) menyatakan bahwa serat dipengaruhi oleh jenis tanaman, umur tanaman dan lingkungan yang memberikan perbedaan sumber hijauan pada serat yang dimanfaatkan oleh mikroba rumen.
Kapasitas Tampung Berdasarkan Produksi BK dan PK
Produksi biomas erat kaitannya dengan kapasitas tampung. Kapasitas tampung merupakan kemampuan dalam menganalisis suatu areal lahan pastura dalam menampung sejumlah ternak, sehingga kebutuhan hijauan rumput terpenuhi dengan cukup dalam satu tahun (Rinaldi et al. 2012; Rusnan et al. 2015). Hasil perhitungan kapasitas tampung lahan pastura BPTU-HPT Padang Mengatas dengan dua musim yang berbeda disajikan pada Tabel 9. Pada Tabel 9 terlihat bahwa semakin tinggi produksi hijauan yang dihasilkan maka kapasitas tampung semakin meningkat, namun sebaliknya produksi hijauan yang rendah menyebabkan kapasitas tampung juga rendah.
Tabel 9 Kapasitas tampung berdasarkan BK dan PK
Keterangan: PB (Penggembalaan Berat), PS (Penggembalaan Sedang), PR (Penggembalaan Ringan), BK (Bahan Kering), PK (Protein Kasar), Ha (Hektar), Angka yang diikuti huruf kapital yang berbeda pada pada baris yang sama menunjukan berbeda sangat nyata (P<0.01).
Hasil perhitungan kapasitas tampung berdasarkan produksi BK pada musim hujan dengan pengembalaan berat, sedang, ringan untuk ternak unggul adalah 5.06±1.20, 3.31±0.79 dan 2.10±0.50 ekor/ha, sedangkan musim kemarau lebih sedikit yaitu 3.18±1.00, 2.08±0.65, dan 1.32±0.41 ekor. Sedangkan perhitungan kapasitas tampung berdasarkan produksi PK memperlihatkan angka yang lebih kecil pada musim hujan dan lebih besar pada musim kemarau. Hal ini disebabkan karena kadar PK hijauan yang dihasilkan pada musim hujan lebih rendah (9.24%) dibandingkan kebutuhan ternak (10.5%), sedangkan kandungan PK hijauan pada musim kemarau yaitu 11.5% lebih tinggi dibandingkan dengan kebutuhan ternak. Kebutuhan protein berdasarkan berat badan sapi unggul (700 kg) sekitar 1.09 kg/hari dan berat badan sapi pesisir (270 kg) sekitar 0.851 kg/hari (NRC 2000).
20
penggembalaan berat, 42.5% untuk penggembalaan sedang dan 27% untuk penggembalaan ringan. Jika tingkatan penggembalaan tidak dipertimbangkan, produksi total biomas di padang penggembalaan tersebut mampu menampung 7.78 ST/ha yang relative sama dengan hasil yang disampaikan di atas.
Tabel 10 Bobot badan ternak, jumlah ternak, total ternak, dan pemenuhan kebutuhan nutrien serta suplemen pakan yang ditambahkan di BPTU-HPT Padang Mengatas
a. PB 85.64±20.34A 53.74±17.87B
b. PS 56.00±13.30A 35.13±11.69B
c. PR 35.58±8.45A 22.32±7.42B
Keterangan: BBT (Bobot Badan Ternak), * Perhitungan Satuan Ternak Berdasarkan Bobot Badan Ternak (Sapi Unggul 700 kg, Sapi Pesisir 270 kg), PKN BK (Pemenuhan Kebutuhan Nutrien Bahan Kering), PKN PK (Pemenuhan Kebutuhan Nutrein Protein Kasar), TS BK (Tambahan Suplemen Bahan Kering), TS PK (Tambahan Suplemen Protein Kasar), PB (Penggembalaan Berat), PS (Penggembalaan Sedang), PR (Penggembalaan Ringan), BK (Bahan Kering), PK (Protein Kasar), Angka yang diikuti huruf kapital yang berbeda pada pada baris yang sama menunjukan berbeda sangat nyata (P<0.01).
Poso Sulawesi Tengah desa Kelei 0.96 ST/Ha dan desa Didiri 1.12 ST/ha. Hasil penelitian Rostini (2014) mendapatkan bahwa kapasitas tampung tertinggi terdapat pada tanaman kumpai Minyak sebesar 2.98 ST.
Balai BPTU-HPT Padang Mengatas memiliki lahan penggembalaan seluas 208.41 ha dan memelihara jenis ternak sapi unggul (Simental dan Limousin) sebanyak 714 ekor (BB 700 kg) atau setara dengan 987.17 ST dan sapi lokal (Pesisir) sebanyak 335 ekor (BB 270 kg) atau setara dengan 241.63 ST (Tabel 10). Jumlah ternak yang dipelihara di BPTU-HPT Padang Mengatas tahun 2016 dengan demikian sebanyak 1 228.80 ST (Tabel 10).
Tingginya populasi sapi unggul di BPTU-HPT Padang Mengatas mengakibatkan ternak yang ada tidak dapat terpenuhi kebutuhannya jika hanya mengandalkan hijauan dari padang penggembalaan. Diperlukan suplemen konsentrat atau pakan lain dari luar jika ternak ingin dipelihara dalam jumlah saat ini. Persentase kebutuhan ternak yang sudah terpenuhi diperlihatkan pada Tabel 10.
Tabel diatas memperlihatkan bahwa pemenuhan kebutuhan ternak di BPTU-HPT Padang Mangatas secara umum tidak terpenuhi sepenuhnya dari produksi hijauan yang ada. Diperlukan suplemen baik berupa hijauan atau konsentrat. Produksi biomas yang ada hanya mampu memenuhi kebutuhan BK 85% ternak yang digembalakan di padang penggembalaan tersebut dengan intensitas berat dan pada musim hujan. Pada musim kemarau kekurangan semakin besar karena produksi biomas yang melambat. Besarnya suplemen pakan pada musim hujan mencapai 14.36% pada penggembalaan berat, 44.00% pada penggembalaan sedang dan 64.42% pada penggembalaan ringan. Pada musim kemarau suplemen pakan yang diberikan semakin besar.
22
4 KESIMPULAN DAN SARAN
KESIMPULAN
Meskipun tanaman unggul yang ditanam di BPTU-HPT Padang Mengatas terdiri dari beberapa jenis hijauan, namun hanya B. decumbens yang mampu mendominasi. Gulma dan leguminosa ditemukan dalam jumlah minor (<10%). Produksi biomas yang dihasilkan di Pastura BPTU-HPT Padang Mengatas dua kali lebih tinggi pada musim penghujan dibandingkan musim kemarau yang mampu menampung hingga 5 ST pada musim hujan dan 3.18 ST pada musim kemarau. Kapasitas tersebut menurun pada musim hujan jika mempertimbangkan produksi PK dalam memenuhi kebutuhan ternak, namun meningkat pada musim kemarau. Membandingkan produksi biomas dan nutrien dengan jumlah ternak yang ada di BPTU-HPT Padang Mangatas, dapat disimpulkan bahwa produksi biomas dan nutrien yang ada belum mampu memenuhi kebutuhan semua ternak yang dipelihara sehingga disarankan untuk menambah suplemen seperti konsentrat jika ingin memelihara ternak dalam jumlah yang ada saat ini. Suplemen lain yang dapat disarankan adalah meningkatkan persentase legume dengan legume pohon yang lebih tahan kekurangan air.
SARAN
1. Produksi hijauan pada musim kemarau menurun sehingga mengalami kekurangan hijauan, sedangkan pada musim hujan mengalami kelebihan mencapai dua sampai tiga kali lipat. Hal ini dapat dilakukan dengan pembuatan pengawetan pakan seperti pembuatan silase dan hay dalam penyediaan pakan saat memasuki musim kemarau.
2. Lahan pastura BPTU-HPT Padang Mengatas produksi leguminosa masih tergolong rendah, jadi perlu ditambah tanaman leguminosa di setiap paddock dalam meningkatkan kualitas nutrisi hijauan terutama protein.
3. Kebutuhan nutrien ternak di lahan pastura BPTU-HPT Padang Mengatas masih mengalami kekurangan terutama protein, maka perlu ditambahkan pakan berupa konsentrat dan meningkatkan tanaman leguminosa herbal maupun pohon.
DAFTAR PUSTAKA
Albayrak S, Turk M, Yuksel O, Yilmaz M. 2011. Forage yield and the quality of perennial legume-grass mixtures under rainfed conditions. Not Bot Hort Agrobot Cluj. 39 (1): 114-118.
Albayrak S, Ekiz H. 2005. An investigation on the establishment of artificial pasture
under Ankara’s ecological condition. Turk J Agric For. 29: 69-74.
Ali A. 2014. Sistem pertanaman campuran rumput dan leguminosa di lahan gambut terdegradasi untuk produksi hijauan pakan ternak berkelanjutan [disertasi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
[AOAC] Association of Analitical Comunites. 2000. Offical Method of Analysis. 17th edition. Assoc. Off. Anal. Chem., Arlington. Virginia.
[BPTU-HPT] Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak Padang Mengatas. 2016. Sumber data BPTU-HPT Padang Mengatas tahun 2016. Payakumbuh (ID). BPTU-HPT.
[BMKG] Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika. 2016. Curah Hujan Padang Mengatas. sumber data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. Stasiun Klimatologi Sicincin Tahun 2015. Sumatera Barat (ID). BMKG. Damry. 2009. Produksi dan kandungan nutrien hijauan padang penggembalaan alam
di kecamatan Lore Utara, kabupaten Poso. J Agroland. 16 (4) : 296 – 300. Djuned H, Mansyur, Wijayanti HB. 2005. Pengaruh umur pemotongan terhadap
kandungan fraksi serat hijauan murbei (Morus indica L. Var. Kanva-2). Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner.
Ella A. 2002. Produktivitas dan Nilai Nutrisi Beberapa Jenis Rumput dan Leguminosa Pakan yang Ditanam pada Lahan Kering Iklim Basah. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sulawesi Selatan. Makasar (ID).
Evitayani, Warly L, Fariani A, Ichinohe T, Fujihara T. 2004. Study on nutritive value of tropical forages in North Sumatera, Indonesia. Asian-Aust J Anim Sci. 17 (11): 1518-1523.
Fahriani A. 1996. The evaluation of nutritive value of forages by in situ and in vitro [thesis]. Japan (JP): The united graduate School of Agricultural Tottory University.
Fahriani A, Eviyati. 2008. Potensi rumput rawa sebagai pakan ruminansia : produksi, daya tampung dan kandungan fraksi seratnya. J Indon Trop Anim Agric. 33: 299-304.
Hirpa T. 2013. Maize productivity as affected by intercropping date of companion legume crop. Peak J Agric Sci. 1 (5): 70-82.
Humphreys LR. 1994. Tropical Forages: their Role in Sustainable Agriculture. Longman Scientific & Technical.
Infitria dan Khalil. 2014. Studi produksi dan kualitas hijauan di lahan padang rumput UPT peternakan Universitas Andalas Padang. Bulmater. 101 (1) : 25-33. Junaidi M. Sawen D. 2010. Keragaman botanis dan kapasitas tampung padang
penggembalaan alami di kabupaten Yapen. J Ilmu Petern. 5 (2): 92-97.
Jun-Feng S, Guo MX, Lian JR, Xiaobin P, Guo WY, Ping CX. 2010. Gene expression profile of respon to water stress at the jointing stage in wheat. Agricul Sci in China. 9 (3): 323-330.
Johnson DE, Wopereis MCS, Mbodj D, Diallo S, Powers S, HaefeleSM. 2004. Timing of weed management and yield losses due to weeds in irrigated rice in the sahel. Field Crops Research. 85: 31-42.
24
Karti PDMH, Abdullah L, Prihantoro I. 2015. Eksplorasi dan produktifitas padang penggembalaan di kecamatan Pamona Timur kabupaten Poso Sulawesi Tengah. Pastura. 4 (2): 91-94
Kleden MM, Ratu MRD, Randu MDS. 2015. Kapasitas tampung hijauan pakan dalam areal perkebunan kopi dan padang rumput alam di kabupaten Flores Timur Nusa Tenggara Timur. J Zootek. 35 (2): 340-350.
Lakitan B. 2011. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan. Cetakan ke-10. Raja Grafindo Persada. Jakarta (ID).
Lugiyo. 2006. Pengaruh umur pemotongan terhadap produksi hijauan rumput Sorghum sp sebagai tanaman pakan ternak. Temu Teknis Nasional Tenaga Fungsional Pertanian; 2006; Bogor, Indonesia. Bogor (ID): Balai Penelitian Ternak. Hlm 57-61.
Manu AE. 2013. Produktivitas padang penggembalaan Sabana Timur Barat. Pastura. 3 (1): 25-29.
Martaguri I, Abdullah L, Karti PDMH, Wiryawan IKG, Dianita R. 2015. Simpanan karbon dan kandungan nutrisi beberapa spesies rumput tropis asal perkebunan kelapa sawit rakyat di kabupaten Sarolangun propinsi Jambi. Patura. 4 (2): 66-69.
Mattjik AA, Sumertajaya M. 2002. Perancangan Percobaan dan Aplikasi SAS dan Minitab. Jilid I. Edisi ke-2. Bogor (ID) : IPB Pres.
Mayadewi NNA. 2007. Pengaruh jenis pupuk kandang dan jarak tanam terhadap pertumbuhan gulma dan hasil jagung manis. Agritrop. 26 (4): 153-159.
Minson DJ. 1990. The Chemical Composition and Nutritive Value of tropical grasses. In: Skerman, P.J. Cameroon,D.G. and F.Riveros) Tropical Grassi.pp 172-180. Food and Agriculture Organization of the United Nations, Rome. Mwebaze S. 2002. Pasture improvement technologies. Regional Land Management
Unit (RELMA). Kenya.
Moore G, Sanford P, Wiley T. 2006. Perennial pastures for Western Australia. Department of Agriculture and Food Western Australia, Bulletin 4690, Perth. Mousavi SA, Eskandari H. 2011. A general overview on intercropping and its
advantages in sustainable agriculture. JAEB. 1 (11) : 482-486.
Muyassir. 2010. Analisis potensi sumberdaya lahan untuk pengembangan peternakan kabupaten Aceh Besar. Lentera. 10 (1): 16-28.
Nasrullah, Niimi M, Akashi R, Kawamura O. 2003. Nuritive evalution of forage plant grown in South Sulawesi, Indonesia. Asian-Aust J Anim Sci. 16 (5): 693-701.
National Research Council. 2000. Nutrient Requirements of Beef Cattle. Washington DC (US): National Acad Press.
Reksohadiprodjo S. 1985. Produksi Hijauan Makanan Ternak. BPFE. Yogyakarta (ID).
Rinaldi R, Hairul B, Manfarizah. 2012. Bahaya erosi dan upaya konservasi padang penggembalaan sapi di Aceh Besar. J Manaj SDL. 1 (2): 136-145.
Rostini T. 2014. Produktivitas dan pemanfaatan tumbuhan rawa di Kalimantan Selatan sebagai hijauan pakan berkelanjutan [disertasi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Rusnan H, Ch. L. Kaunang dan Yohanis L. R. Tulung. 2015. Analisis potensi dan strategi pengembangan sapi potong dengan pola integrasi kelapa – sapi di kabupaten Halmahera Selatan provinsi Maluku Utara. J Zootek. 35(2): 187 - 200.
Sawen D, Yoku O, Junaedi M. 2003. Kualitas silase rumput irian (Sorghum sp) dengan perlakuan penambahan dedak padi pada berbagai tingkat produksi bahan kering. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner; 2003 Sep 29-30; Fakultas Peternakan Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Negeri Papua. Manokwari, Indonesia. Bogor (ID): Puslitbang Peternakan. Hlm 167-171.
Savitri MV, Sudarwati H, Hermanto. 2012. Pengaruh umur pemotongan terhadap produktivitas gamal (Gliricidia sepium). JIP. 23 (2): 25-35.
Silva HMS, Dubeux JCB Jr, Santos MVF, Lira MA, Lira MA Jr, Muir JP. 2012. Signalgrass litter decomposition rate increases with inclusion of calopo. Crop Sci. 52: 1416-1423.
Susetyo S. 1980. Padang Penggembalaan. Departemen Ilmu Makanan Ternak Fakultas Peternakan IPB. Bogor (ID).
Tomita S, Nawata E, Kono Y. 2003. Differences in weed vegetation in process to cultivating methods and water condition in rainfed paddy fields in north-east Thailand. WBM. 3: 117-127.
Tosti G, Thorup-Kristensen K. 2010. Using colored roots to study root interaction and competition in intercropped legumes and non-legumes. J Plant Ecol. 3 (3): 191-199.
Van Soest PJ, Robertson JB, Lewis BA. 1991. Methods of Dietery Fiber, Neutral Detergent Fibre, and Non-Starch Polysaccharides in Relation to Animal Nutrition. J Dairy Sci. 74:3583-3597.
Varga GA, Dann HM, Ishler VA. 1998. The use fiber concentration for ration formulation. J Dairy sci. 81: 3063-3074.
Vasileva V, Vasilev E. 2012. Study on productivity of some legume crops in pure cultivation and mixtures. Agric Conspec Sci. 77 (2): 91-94.
26
Yusuf AS, Partridge IJ. 2002. Mengelola Padang Rumput Alam di Indonesia Tenggara. Departement of Primary Industries Quessnsland. Publieshed by ACIAR.
LAMPIRAN
Hasil Pengolahan Data Menggunakan SPSS 16.0
Lampiran 1 Hasil analisa ragam produksi biomas segar (Kg/ha/hari) Sumber Corrected Model 488427,296a 3 162809,099 9,570 ,000 Intercept 5897956,045 1 5897956,045 346,670 ,000
Musim 479852,474 1 479852,474 28,205 ,000
Perlakuan 8574,821 2 4287,411 ,252 ,779
Error 442342,678 26 17013,180
Total 6828726,019 30
Corrected Total 930769,974 29
Lampiran 2 Hasil analisa ragam produksi biomas kering (Kg/ha/hari) Sumber
Intercept 270531,544 1 270531,544 339,042 ,000
Musim 14178,393 1 14178,393 17,769 ,000
Perlakuan 285,462 2 142,731 ,179 ,837
Error 20746,172 26 797,930
Total 305741,572 30
Corrected Total 35210,028 29
Lampiran 3 Hasil analisa ragam produksi biomas segar (Ton/ha/tahun) Sumber Corrected Model 65069,606a 3 21689,869 9,569 ,000
Intercept 785755,858 1 785755,858 346,660 ,000
musim 63926,984 1 63926,984 28,203 ,000
perlakuan 1142,622 2 571,311 ,252 ,779
Error 58932,844 26 2266,648
Total 909758,308 30
28
Lampiran 4 Hasil analisa ragam produksi biomas kering (Ton/ha/tahun) Sumber
Corrected Total 4690,499 29
Lampiran 5 Hasil analisa ragam bahan kering (BK) Sumber
Intercept 14364,220 1 14364,220 2038,685 ,000
Musim 42,841 1 42,841 6,080 ,021
Perlakuan 21,815 2 10,908 1,548 ,232
Error 183,191 26 7,046
Total 14612,068 30
Corrected Total 247,848 29
Lampiran 6 Hasil analisa ragam kandungan abu Sumber
Lampiran 7 hasil analisa ragam kandungan protein kasar (PK)
Corrected Total 354,630 29
Lampiran 8 Hasil analisa ragam kandungan serat kasar (SK) Sumber
Intercept 27894,691 1 27894,691 3772,530 ,000
musim 229,025 1 229,025 30,974 ,000
perlakuan 15,729 2 7,865 1,064 ,360
Error 192,248 26 7,394
Total 28331,694 30
Corrected Total 437,002 29
Lampiran 9 Hasil analisa ragam kandungan NDF Sumber
Intercept 157612,109 1 157612,109 15045,230 ,000
musim 294,533 1 294,533 28,115 ,000
perlakuan 1,953 2 ,976 ,093 ,911
Error 272,373 26 10,476
Total 158180,968 30
30
Lampiran 10 Hasil analisa ragam kandungan ADF Sumber
Intercept 53697,314 1 53697,314 5559,528 ,000
musim 399,383 1 399,383 41,350 ,000
perlakuan 6,083 2 3,041 ,315 ,733
Error 251,124 26 9,659
Total 54353,903 30
Corrected Total 656,590 29
Lampiran 11 Hasil analisa ragam kandungan selulosa Sumber
Intercept 31774,009 1 31774,009 2854,988 ,000
musim 34,970 1 34,970 3,142 ,088
perlakuan 29,133 2 14,567 1,309 ,287
Error 289,362 26 11,129
Total 32127,475 30
Corrected Total 353,466 29
Lampiran 12 Hasil analisa ragam kandungan hemiselulosa Sumber
Intercept 27439,171 1 27439,171 2623,068 ,000
musim 6,048 1 6,048 ,578 ,454
perlakuan 6,806 2 3,403 ,325 ,725
Error 271,979 26 10,461
Total 27724,004 30
Lampiran 13 Hasil analisa ragam produksi nutrient kandungan abu
Corrected Total 56,019 29
Lampiran 14 Hasil analisa ragam produksi nutrien kandungan protein kasar Sumber
Corrected Total 51,145 29
Lampiran 15 Hasil analisa ragam produksi nutrien kandungan serat kasar Sumber
32
Lampiran 16 Hasil analisa ragam produksi nutrien kandungan NDF Sumber
Corrected Total 3020,482 29
Lampiran 17 Hasil analisa ragam produksi nutrien kandungan ADF Sumber
Corrected Total 1293,126 29
Lampiran 18 Hasil analisa ragam produksi nutrien kandungan selulosa Sumber
Lampiran 19 Hasil analisa ragam produksi nutrien kandungan hemiselulosa
Corrected Total 426,849 29
Lampiran 20 Hasil analisa ragam kapasitas tampung ternak unggul berdasarkan BK (Penggembalaan berat)
Corrected Total 33,734 29
Lampiran 21 Hasil analisa ragam kapasitas tampung ternak unggul berdasarkan BK (Penggembalaan sedang)
34
Lampiran 22 Hasil analisa ragam kapasitas tampung ternak unggul berdasarkan BK (Penggembalaan ringan)
Corrected Total 226,613 29
Lampiran 24 Hasil analisa ragam kapasitas tampung sapi pesisir berdasarkan BK
Lampiran 25 Hasil analisa ragam kapasitas tampung sapi pesisir berdasarkan BK
Corrected Total 39,065 29
Lampiran 26 Hasil analisa ragam kapasitas tampung berdasarkan BK
Corrected Total 65,112 29
Lampiran 27 Hasil analisa ragam kapasitas tampung berdasarkan BK
36
Corrected Total 11,253 29
Lampiran 29 Hasil analisa ragam pemenuhan kebutuhan nutrien BK
Intercept 145695,308 1 145695,308 339,040 ,000
Musim 7635,903 1 7635,903 17,769 ,000
Perlakuan 153,651 2 76,825 ,179 ,837
Error 11172,945 26 429,729
Total 164657,807 30
Corrected Total 18962,500 29
Lampiran 30 Hasil analisa ragam pemenuhan kebutuhan nutrien BK
Lampiran 31 Hasil analisa ragam pemenuhan kebutuhan nutrien BK
Corrected Total 3271,873 29
Lampiran 32 Hasil analisa ragam pemenuhan kebutuhan nutrien PK
Intercept 127689,033 1 127689,033 200,368 ,000
Musim 2054,600 1 2054,600 3,224 ,084
Perlakuan 153,262 2 76,631 ,120 ,887
Error 16569,088 26 637,273
Total 146465,983 30
Corrected Total 18776,950 29
Lampiran 33 Hasil analisa ragam pemenuhan kebutuhan nutrien PK
38
Lampiran 34 Hasil analisa ragam pemenuhan kebutuhan nutrien PK
(Penggembalaan ringan) Sumber
Keragaman (SK)
Jenis Keragaman
(JK)
Derajat Bebas
(db)
Kuadrat Tengah
(KT)
F. hit Sig
Corrected Model 381,072a 3 127,024 1,155 ,346
Intercept 22030,674 1 22030,674 200,386 ,000
Musim 354,664 1 354,664 3,226 ,084
Perlakuan 26,408 2 13,204 ,120 ,887
Error 2858,465 26 109,941
Total 25270,211 30
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan pada tanggal 19 September 1989 di Kabupaten Tebo, Jambi. Penulis merupakan anak keempat dari empat bersaudara dari pasangan Bapak Paino dan Ibu Suminah. Penulis menyelesaikan program sarjana pada Jurusan Ilmu Peternakan pada tahun 2009 sampai 2014 di Fakultas Peternakan, Universitas Andalas, Padang. Penulis diterima sebagai mahasiswa Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor pada Program Studi Ilmu Nutrisi dan Pakan pada tahun 2015 melalui jalur mandiri.
Selama mengikuti perkuliahan di Sekolah Pascasarjana Penulis aktif diorganisasi Himpunan Mahasiswa Muslim Pascasarjana sebagai Wakil Ketua Umum. Sebuah karya ilmiah hasil penelitian ini telah dipublikasikan di Bulletin
Makanan Ternak (Bulmater) dengan judul “ Pemenuhan Kebutuhan Nutrien Sapi