Analisis ekonomi rehabilitasi ekosistem terumbu karang dengan metode terumbu buatan (Artificial reefs) di Perairan Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu,Provinsi DKI Jakarta

132  24  Download (3)

Teks penuh

(1)
(2)

PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN

SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesisAnalisis Ekonomi Rehabilitasi

Ekosistem Terumbu Karang dengan Metode Terumbu Buatan (Artificial Reefs) di Perairan Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber

informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak

diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam

Daftar Pustaka dibagian akhir tesis ini.

Bogor, Februari 2010

(3)

ABSTRACT

JUSTIANA LOLITA TAHYA. Economic Analysis of Rehabilitation of Coral

Reefs Ecosystem with Artificial Reefs Method in Seribu ISland Waters Administative District, Province of DKI Jakarta. Directed by: ACHMAD FAHRUDIN and LUKY ADRIANTO

The focus of study is the economic analysis of rehabilitation of coral reefs ecosystem with artificial reefs method and to know the effectiveness of artificial reefs program in Seribu Island waters. Aim this research is: (1) to identify artificial reefs uses in Seribu Island waters; (2) to estimate economic value of artificial reefs program in Seribu Island waters; (3) to know the effectiveness of artificial reefs program in Seribu Island waters. The economic values of artificial reefs areas examined in the study were use effect on production method (EOP) and contingen valuation method (CVM). The effectiveness of artificial reefs program examined use cost benefit analysis. The result of study showed that uses of artificial reefs area is fishery. Total economic value of artificial reefs area was Rp 19.383.488.670 per year. Cost benefit analysis yield net present value (NPV) in Pramuka Island was Rp 92.296.872.199 with benefit cost ratio (BCR) was 84,75. NPV Gosong Karang Lebar was Rp 7.303.491.828 with BCR was 4,99. NPV in Kelapa Island was Rp 5.990.764.050 with BCR was 13,20. NPV in Semak Daun Island was Rp-195.469.937 with BCR 0,94 and NPV in Gosong Pramuka was Rp-4.269.670.649 with BCR was 0,68. Economically artificial reefs program in Pramuka Island, Gosong Karang Lebar and Kelapa Island is relatively effective to developed rather than artificial reefs in Semak Daun Island and Gosong Pramuka.

(4)

RINGKASAN

JUSTIANA LOLITA TAHYA. Analisis Ekonomi Rehabilitasi Ekosistem Terumbu Karang dengan Metode Terumbu Buatan (Artificial reef) di Perairan Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta. Dibimbing oleh ACHMAD FAHRUDIN dan LUKY ADRIANTO.

Terumbu karang adalah bangunan ribuan hewan yang menjadi tempat hidup berbagai ikan dan makhluk laut lainnya. Terumbu karang yang sehat dengan luas 1 km2 dapat menghasilkan 20 ton ikan. Terumbu karang Indonesia merupakan salah satu penyumbang terbesar perikanan laut di dunia yang menyediakan sekitar 3,6 juta ton dari produksi perikanan laut secara keseluruhan. Persediaan karang dan ikan karang Indonesia yang melimpah terancam oleh praktek penangkapan ikan yang merusak seperti penangkapan ikan dengan menggunakan racun sianida dan bahan peledak. Terumbu karang memiliki fungsi ekosistem yang penting, yang menyediakan barang dan jasa bagi ratusan juta penduduk khususnya di negara-negara berkembang. Terumbu karang yang kondisinya menurun akan kehilangan nilai karena menjadi tidak produktif. Di Kepulauan Seribu (perairan bagian Utara Jakarta), sekitar 90-95% terumbu karang hingga kedalaman 25 m mengalami kematian. Ada beragam upaya mengatasi penurunan atau kelangkaan stok sumberdaya ikan. Beberapa diantaranya dengan menggunakan rumpon dan terumbu buatan. Upaya yang dilakukan untuk mengembalikan fungsi ekologi terumbu karang Kepulauan Seribu adalah dengan rehabilitasi melalui penenggelaman terumbu buatan (artificial reefs).

Terumbu buatan (artificial reefs) memiliki fungsi yang serupa dengan rumpon, namun bersifat lebih permanen dan stabil karena memungkinkan terbentuknya suatu habitat baru, dapat memberikan rumah baru bagi ikan dan biota-biota laut lainnya yang kehilangan habitat aslinya. Fokus dari studi ini adalah analisis ekonomi rehabilitasi ekosistem terumbu karang dengan metode terumbu buatan dan efektivitas program terumbu buatan di Perairan Kepulauan Seribu. Tujuan penelitian adalah (1) mengidentifikasi pemanfaatan terumbu buatan (artificial reefs) di Perairan Kepulauan Seribu; (2) mengestimasi nilai ekonomi program terumbu buatan (artificial reefs) di Perairan Kepulauan Seribu; (3) mengetahui efektivitas ekonomi program terumbu buatan (artificial reefs) di Perairan Kepulauan Seribu. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey. Objek penelitian adalah kawasan terumbu buatan (artificial reefs) di perairan Kabupaten Adminstratif Kepulauan Seribu (Pulau Pramuka, Gosong Pramuka, Pulau Semak Daun, Gosong Karang Lebar dan Pulau Kelapa). Metode analisis data untuk menentukan nilai ekonomi program terumbu buatan dilakukan

dengan menggunakan Effect on Production (EOP) dan Contingen Valuation

Method (CVM). Metode analisis data untuk efektivitas program terumbu buatan dilakukan dengan menggunakan analisis biaya manfaat.

(5)

Pulau Pramuka sebesar Rp92.296.872.199 dengan BCR sebesar 84,75. NPV Gosong Karang Lebar sebesar Rp7.303.491.828 dengan BCR sebesar 4,99. NPV Pulau Kelapa sebesar Rp5.990.764.050 dengan BCR sebesar 13,20. NPV Pulau Semak Daun sebesar Rp-195.469.937 dengan BCR sebesar 0,68 dan NPV Gosong Pramuka sebesar Rp-4.269.670.649 dengan BCR sebesar 0,94. Secara ekonomi program terumbu buatan di Pulau Pramuka, Gosong Karang Lebar dan Pulau Kelapa efektif untuk dikembangkan sedangkan Pulau Semak Daun dan Gosong Karang Lebar program terumbu buatan belum efektif untuk dikembangkan.

(6)

© Hak cipta milik Institut Pertanian Bogor, Tahun 2010 Hak cipta dilindungi Undang-Undang

1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumber

a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penulisan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah

b. Pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB

(7)

ANALISIS EKONOMI REHABILITASI EKOSISTEM

TERUMBU KARANG DENGAN METODE TERUMBU

BUATAN (

ARTIFICIAL REEFS

) DI PERAIRAN KABUPATEN

ADMINISTRATIF KEPULAUAN SERIBU, PROVINSI DKI

JAKARTA

JUSTIANA LOLITA TAHYA

Tesis

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh gelar Magister Sains Pada

Program Studi Ekonomi Sumberdaya Kelautan Tropika

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(8)
(9)

Judul Tesis : Analisis Ekonomi Rehabilitasi Ekosistem Terumbu Karang dengan Metode Terumbu Buatan (Artificial Reefs) di Perairan Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta

Nama : Justiana Lolita Tahya

NRP : H352060011

Disetujui

Komisi Pembimbing

Dr. Ir. Achmad Fahrudin, M.Si Dr.Ir. Luky Adrianto, M.Sc

Ketua Anggota

Diketahui

Ketua Program Studi Ekonomi Dekan Sekolah Pascasarjana

Sumberdaya Kelautan Tropika

Prof. Dr. Ir. H. Tridoyo Kusumastanto, MS Prof. Dr. Ir. Khairil A. Notodiputro, MS

(10)

PRAKATA

Ucapan syukur, hormat dan terima kasih kepada Tuhan Yesus atas karunia

dan berkat-Nya sehingga karya ilmiah ini dapat diselesaikan. Judul penelitian

yang dilaksanakan bulan Maret 2009 sampai Mei 2009 adalah Analisis Ekonomi

Rehabilitasi Ekosistem Terumbu Karang dengan Metode Terumbu Buatan

(Artificial Reefs) di Perairan Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta. Penulis mengucapkan terima kasih dengan penuh rasa hormat kepada : 1) Dr. Ir. Achmad Fahrudin, M.Si selaku ketua komisi pembimbing atas ilmu

dan bimbingannya dalam penyelesaian karya ilmiah ini.

2) Dr. Ir. Luky Adrianto, M.Sc selaku anggota komisi pembimbing yang telah

membimbing, membantu, dan memotivasi penulis selama penelitian hingga

penyelesaian penulisan karya ilmiah ini.

3) Ir. Moch. Prihatna Sobari, MSc selaku dosen penguji atau koreksi, masukan

dan referensi bagi penyempurnaan karya ilmiah ini.

4) Prof. Dr. Ir. H. Tridoyo Kusumastanto, MS selaku Ketua Program Studi

Ekonomi Sumberdaya Kelautan Tropika yang senantiasa membantu,

mengarahkan dan memotivasi penulis dalam penyelesaian studi.

5) Pihak PKSPL yang telah membantu memberikan informasi lokasi penelitian

sehingga penelitian dapat dilaksanakan.

6) Pak Giri Andono dan Pak Kholik yang telah membantu dan memberikan

informasi yang berguna bagi penulis selama penelitian.

7) Mba Muti, bung Edwin Telehala, bung Rudy Latuihamallo, mba Erin, mas

Bule, mas Bedo, bang Aib dan keluarga untuk bantuannya selama penulis

melakukan penelitian.

8) Teristimewa penulis mengucapkan terima kasih kepada Papa, Mama, San dan

Piere yang sabar dan setia membantu penulis dalam doa dan dukungan baik

moral maupun materiil.

Bogor, Maret 2010

(11)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Ambon pada tanggal 25 Agustus 1982 dari Bapak

Daniel Tahya dan Ibu Cornelia Tahya-Berhitu. Penulis merupakan putri kedua

dari dua bersaudara. Tahun 2000 penulis lulus dari SMU Kristen YPKPM

Ambon dan tahun yang sama penulis lulus seleksi masuk Universitas Pattimura

melalui jalur PMDK. Penulis memilih Program Studi Teknologi Hasil

Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Tahun 2006 penulis

terdaftar sebagai mahasiswa Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor,

(12)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL... xiii

DAFTAR GAMBAR... xiv

DAFTAR LAMPIRAN... . xv

I. PENDAHULUAN... 1

1.1Latar Belakang... 1

1.2 Perumusan Masalah... 6

1.3 Tujuan Penelitian... 7

II. TINJAUAN PUSTAKA... 8

2.1 Penilaian Manfaat... 8

2.2 Penilaian Biaya... 10

2.3 Analisis Biaya Manfaat (Cost Benefit Analysis)... 12

2.4 Teknik dan Valuasi Ekonomi... 17

2.5 Eksternalitas... 20

2.6 Ekosistem Terumbu Karang... 21

2.7 Terumbu Buatan (Artificial Reefs)... 26

2.8 Aspek Sosial dan Ekonomi Terumbu Buatan (Artificial Reef)……. 28

III. KERANGKA PENDEKATAN STUDI... 34

IV. METODOLOGI PENELITIAN... 36

4.1 Tempat dan Waktu Penelitian... 36

4.2 Metode Penelitian... 37

4.3 Metode Pengambilan Sampel... 37

4.4 Metode Analisis Data...………. 39

(13)

V. KEADAAN UMUM WILAYAH PENELITIAN...……….... 45

5.1 Letak Geografis dan Administrasi………... 45

5.2 Topografi, Iklim dan Oseanografi...………. 45

5.3 Keadaan Sosial Ekonomi Lokasi Studi...………. 46

5.4 Potensi Ekosistem Sumberdaya Pesisir dan Laut...……….. 48

5.5 Karakteristik Responden……….. 50

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN...……….. 53

6.1 Identifikasi Pemanfaatan Terumbu Buatan (Artificial Reefs)…….. 53

6.2 Pendugaan Nilai Utilitas Konsumen dari Sumberdaya Perikanan pada Kawasan Terumbu Buatan………...………... 54

6.3 Estimasi Nilai Ekonomi Program Terumbu Buatan.…………... 57

6.4 Nilai Manfaat Bersih Kawasan Terumbu Buatan…....……… 67

VII. KESIMPULAN DAN SARAN 7.1 Kesimpulan...………... 69

7.2 Saran……..………... 69

DAFTAR PUSTAKA……….……….. 70

(14)

DAFTAR TABEL

Halaman

1. Potensi Keuntungan Bersih per Tahun per km2dari

Terumbu Karang dalam Kondisi Baik di Asia Tenggara………... 1

2. Kondisi Terumbu Karang di Indonesia……… 2

3. Jumlah dan Manfaat Kerugian yang Disebabkan oleh Kegiatan terhadap Terumbu Karang ……... 3

4. Ringkasan Persentase Tutupan Karang Keras Karang Mati dan Indeks Mortalitas dari 23 Transek di Kepulauan Seribu pada Tahun 2004-2005…... 4

5. Perbandingan Model Terumbu Buatan (Artificial Reefs) di Kepulauan Seribu………... 6

6. Riwayat Penenggelaman Terumbu Buatan (Artificial Reefs) di Kepulauan Seribu…... 7

7. Definisi Total Nilai Ekonomi (TEV)..………... 17

8. Empat Tipe Karang Utama ………... 21

9. Goods and Ecological service ... 23

10. KelompokStakeholderdan Kerangka Institusi....……… 33

11 Rincian Jumlah Responden Manfaat Langsung ……….. 38

12. Perincian Jumlah Responden Berdasarkan Pulau.………... 38

13. Nama Pulau, Luas dan Peruntukannya di Kelurahan Pulau Panggang ………. 46

14. Data Perkembangan Usaha Perikanan .………... 47

15. Penggunaan Armada dan Alat Tangkap di Kelurahan Pulau Panggang………... 49

16. Jenis Alat Tangkap diKelurahan Pulau Panggang ………... 49

17. Pemanfaatan Kawasan Terumbu Buatan .………. 53

(15)

19. Nilai Ekonomi Kawasan Terumbu Buatan Berdasarkan

Pemanfaatan Aktual Tahun 2009 ………. 59

20. Manfaat Tidak Langsung Kawasan Terumbu Buatan …………. 60

21. Manfaat Pilihan Kawasan Terumbu Buatan ……….. 61

22. Koefisien Penduga Fungsi WTP Keberadaan Kawasan

Terumbu Buatan ….…….…..………. 62

23. Ringkasan Kajian Pustaka terkait dengan Nilai R2dari Manfaat

Keberadaan Ekosistem Terumbu Karang ..……… 62

25. Nilai Manfaat Total per Kawasan Terumbu Buatan .………. 63

26. Nilai Total Ekonomi Kawasan Terumbu Buatan ……… 64

27. Biaya Investasi dan Biaya Tetap Pemanfaatan Kawasan

Terumbu Buatan per Alat Tangkap ……..………. 65

28. Biaya Tidak Langsung (Pembuatan dan Penenggelaman

Terumbu Buatan) ………...………. 66

29. Biaya Pembuatan dan Penenggelaman Terumbu Buatan pada

Kawasan Terumbu Buatan ………...……….. 67

30. Perhitungan NPV Skenario Pengelolaaan Kawasan

(16)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

1. NilaiMarket Goods ………. 8

2. TipologiTotal Economic Value ……..………. 17

3. Kerangka Berfikir PendekatanEffect on Production Approach ……….… 19

4. Tingkat Output yang Efisien ..………. 20

5. Interaksi dalamSeascape, menunjukkan hubungan antara Mangrove, Padang Lamun dan Terumbu Karang .………. 22

6. BentukArtificial Reefs dari Blok Semen,BentukTurtle Block dan Bentuk Kubus ……… 27

7. Kerangka Adaptasi Managemen untuk Penelitian Artificial Reefs ………..……… 29

8. Tujuan dan Sasaran Definisi untuk ProgramArtificial Reefs ……. 31

9. Kerangka Pendekatan Studi .………. 35

10. Peta Lokasi Penelitian ………. 36

11.Klasifikasi Umur Respoden ……… 50

12. Klasifikasi Tingkat Pendidikan Responden ... 50

13. Mata Pencaharian Responden ... 51

14. Jumlah Tanggungan Keluarga Responden ... 53

15. Pendugaan Surplus Konsumen Kawasan Terumbu Buatan ... 54

16. Kurva Permintaan Konsumen terhadap Manfaat Perikanan Pulau Pramuka ... 55

17. Kurva Permintaan Konsumen terhadap Manfaat Perikanan Gosong Pramuka ... 55

(17)

19. Kurva Permintaan Konsumen terhadap Manfaat Perikanan

Gosong Karang Lebar ... 56

20. Kurva Permintaan Konsumen terhadap Manfaat Perikanan

(18)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

1. Peta Lokasi Penelitian ………. 73

2. Data Produksi dan Harga Ikan di Kawasan Terumbu Buatan .……. 74

3. Koefisien Regresi Manfaat Langsung Kawasan Terumbu Buatan

Pulau Pramuka ……….… 75

4. Kurva Permintaan Manfaat Langsung Terumbu Buatan

Pulau Pramuka ..……… 77

5. Koefisien Regresi Manfaat Langsung Terumbu Buatan

Gosong Pramuka………...………. 79

6. Kurva Permintaan Manfaat Langsung Terumbu Buatan

Gosong Pramuka …..……… 81

7. Koefisien Regresi Manfaat Langsung Pulau Semak Daun ………… 83

8. Kurva Permintaan Manfaat Langsung Pulau Semak Daun ….……. 85

9. Koefisien Regresi Manfaat Langsung Gosong Karang Lebar .……. 87

10. Kurva Permintaan Manfaat Langsung Gosong Karang Lebar ……. 89

11. Koefisien Regresi Manfaat Langsung Pulau Kelapa .……… 91

12. Kurva Permintaan Manfaat Langsung Pulau Kelapa ... 93

13. Analisis Ekonomi Manfaat Langsung Kawasan Terumbu Buatan

Berdasarkan Surplus Konsumen …... 95

14. Analisis Ekonomi Manfaat Langsung Kawasan Terumbu Buatan

Berdasarkan Kondisi Aktual ... 96

15. Manfaat Tidak Langsung Kawasan Terumbu Buatan ... 97

(19)

17. Perhitungan Hubungan WTP dengan Karakteristik Responden ... 100

18. Perhitungan Biaya Investasi dan Biaya Depresiasi

Dari Manfaat Perikanan per Responden ... 102

19. Analisis Biaya Manfaat Kawasan Terumbu Buatan

Pulau Pramuka …………... 104

20. Analisis Biaya Manfaat Kawasan Terumbu Buatan

Gosong Pramuka ... 106

21. Analisis Biaya Manfaat Kawasan Terumbu Buatan

Pulau Semak Daun ... 108

22. Analisis Biaya Manfaat Kawasan Terumbu Buatan

Gosong Karang Lebar ... 110

23. Analisis Biaya Manfaat Kawasan Terumbu Buatan

(20)

I.

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Terumbu karang adalah bangunan ribuan hewan yang menjadi tempat hidup

berbagai ikan dan makhluk laut lainnya. Terumbu karang yang sehat dengan luas

1 km2dapat menghasilkan 20 ton ikan (Terangi 2009). Terumbu karang Indonesia merupakan salah satu penyumbang terbesar perikanan laut di dunia yang

menyediakan sekitar 3,6 juta ton dari produksi perikanan laut secara keseluruhan

(Situmorang 2004). Persediaan karang dan ikan karang Indonesia yang melimpah

terancam oleh praktek penangkapan ikan yang merusak seperti penangkapan ikan

dengan menggunakan racun sianida dan bahan peledak. Terumbu karang memiliki

fungsi ekosistem yang penting, yang menyediakan barang dan jasa bagi ratusan

juta penduduk khususnya di negara-negara berkembang. Tabel 1 menunjukkan

sebuah ringkasan tentang keuntungan bersih tahunan setiap km2terumbu karang yang sehat di Asia Tenggara.

Tabel 1 Potensi Keuntungan Bersih per Tahun per km2 dari Terumbu Karang dalam Kondisi Baik di Asia Tenggara

Penggunaan

Nilai estetika dan keanekargaman

(21)

Puslit Oseanografi LIPI (2007), menyebutkan persentase penutupan karang

hidup yang masih dalam kondisi sangat baik pada wilayah Indonesia bagian Barat

sekitar 5,52%, wilayah Indonesia bagian Tengah dengan persentase penutupan

karang hidup menunjukkan kondisi baik sekitar 5,11%, dan untuk wilayah

Indonesia bagian Timur persentase penutupan karang hidup menunjukkan kondisi

sangat baik sekitar 5,88%. Kondisi terumbu karang di Indonesia dapat dilihat pada

Tabel 2.

Tabel 2 Kondisi Terumbu Karang di Indonesia (%)

Lokasi

Barat 362 5,52 27,07 33,98 33,43

Tengah 274 5,11 30,29 44,89 19,71

Timur 272 5,88 17,28 34,19 42,65

Indonesia 908 5,51 25,11 37,33 32,05

Sumber : Puslit Oseanografi-LIPI (2007)

Keterangan:

Sangat baik : persentase tutupan karang antara 75-100% Baik : persentase tutupan karang antara 50-74% Cukup : persentase tutupan karang antara 25-49% Kurang : persentase tutupan karang antara 0-24%

Burke et al. (2002), menyatakan bahwa aktivitas manusia mengancam lebih dari 85% terumbu karang Indonesia. Persediaan terumbu karang dan ikan

karang di Indonesia yang melimpah terancam oleh praktek penangkapan ikan

yang merusak. Persentase ancaman akibat penangkapan ikan secara berlebihan

dapat mencapai 64% dari luas keseluruhan dan mencapai 53% akibat

penangkapan ikan dengan metode yang merusak. Burke et al. (2002),

mengestimasi kerugian di Indonesia akibat penangkapan ikan menggunakan

bahan peledak selama 20 tahun ke depan adalah sebesar 570 juta dolar AS,

sedangkan estimasi kerugian dari penangkapan ikan dengan racun sianida secara

berkala sebesar 46 juta dolar AS. Ekosistem terumbu karang yang rusak,

mengancam ketersediaan sumberdaya hayati yang menjadi tumpuan hidup

masyarakat di sekitarnya sehingga menimbulkan kelangkaan ikan dan

(22)

secara langsung maupun tidak langsung yang ditimbulkan akibat eksploitasi

terumbu karang (Tabel 3).

Tabel 3 Jumlah Manfaat dan Kerugian Disebabkan oleh Kegiatan terhadap Terumbu Karang (nilai saat ini; suku diskonto 10%; jangka waktu 25 tahun; dalam ribuan US$; per km2)

Kegiatan yang

33 40 0 3-436 n.q 43-476 10-443

Penangkapan ikan dengan bahan peledak

15 86 9-193 3-482 n.q 98-761 84-746

Sedimentasi

121 94 12-260 3-482 >672) 176-903 55-782

Sumber : Dahuri (1999)

Selang menunjukkan lokasi dari nilai rendah dan tinggi atas nilai potensi pariwisata dan perlindungan pantai, n.q. = tidak dapat dihitung

1) = lainnya mencakup kerugian kehilangan pengamanan pangan dan nilai kenaekaragaman hayati (tidak dapat dihitung)

2) = kerusakan hutan disebabkan oleh pengambilan kayu untuk pengolahan batu kapur (karang) diperkirakan US$ 67.000

Terumbu karang yang kondisinya menurun akan kehilangan nilai karena

menjadi tidak produktif. Aktivitas yang merusak terumbu karang dalam waktu

singkat dapat memberikan manfaat secara individual akan tetapi keuntungan

bersih dari pihak-pihak yang terlibat dalam aktivitas ini memiliki nilai yang lebih

kecil dibandingkan dengan kerugian masyarakat akibat turunnya produktivitas

ekosistem terumbu karang. Terumbu karang juga mendapat tekanan dari aktivitas

di daratan, dengan laju rata-rata penebangan hutan tahunan antara tahun 1985 dan

1997 sebesar 1,7 juta ha. Terumbu karang yang terkena pencemaran dari darat,

menunjukkan penurunan keanekaragaman hayati sebesar 30–50% pada

(23)

terumbu karang yang masih alami. Terumbu karang yang kondisinya menurun

akan kehilangan nilai karena menjadi tidak produktif. Kepulauan Seribu termasuk

dalam Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu yang terbagi menjadi dua

kecamatan yaitu Kecamatan Kepulauan Seribu Utara (Kelurahan Pulau Panggang,

Pulau Harapan dan Pulau Kelapa) dan Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan

(Kelurahan Pulau Tidung, Pulau Pari dan Pulau Untung Jawa). Kepulauan Seribu

berada di pusat kawasan segitiga karang (coral triangle), yang kaya akan berbagai kehidupan laut. Tabel 4 menujukkan persentase tutupan karang di Kepulauan

Seribu pada tahun 2004 dan tahun 2005.

Tabel 4 Ringkasan Persentase Tutupan Karang Keras (% KK), Karang Mati (%KM) dan Indeks Mortalitas (% IM) dari 23 Transek Garis di Kepulauan Seribu pada Tahun 2004- 2005

No Lokasi

2004 2005

KK KM IM KK KM IM

(24)

Secara umum terdapat sedikit kenaikan rerata penutupan karang keras di

Kepulauan Seribu dari tahun 2004 (32,9%) ke tahun 2005 (33,2%). Karang mati

menunjukkan penurunan persentase penutupan dari tahun 2004 ke 2005 (22,3%

menjadi 16,9%) diikuti peningkatan di kategori abiotik yang terdiri dari patahan

karang dan pasir dari 26% menjadi 31,7% (TERANGI 2007). Ada beragam

ancaman terhadap terumbu karang di Kepulauan Seribu, mulai dari penangkapan

ikan dengan metode destruktif (menggunakan bom dan sianida) atau dengan

intensitas tinggi (overfishing), sedimentasi, penambangan karang, pencemaran limbah, baik yang berasal dari daratan dan laut, bahkan pemanasan global.

Di Kepulauan Seribu (perairan bagian Utara Jakarta), sekitar 90-95%

terumbu karang hingga kedalaman 25 m mengalami kematian. Ada beragam

upaya mengatasi penurunan atau kelangkaan stok sumberdaya ikan. Beberapa

diantaranya dengan menggunakan rumpon dan terumbu buatan. Rumpon (fish shelter) berfungsi menarik ikan agar berkumpul pada suatu lokasi tertentu dengan memberikan atau menempatkan beberapa bahan yang berfungsi sebagai

perangsang (attractor) bagi ikan-ikan untuk berkumpul dan selanjutnya dijadikan lokasi penangkapan oleh nelayan. Upaya yang dilakukan untuk mengembalikan

fungsi ekologi terumbu karang Kepulauan Seribu adalah dengan rehabilitasi

melalui penenggelaman terumbu buatan (artificial reefs).

Terumbu buatan (artificial reefs) memiliki fungsi yang serupa dengan rumpon, namun bersifat lebih permanen dan stabil karena memungkinkan

terbentuknya suatu habitat baru, dapat memberikan rumah baru bagi ikan dan

biota-biota laut lainnya yang kehilangan habitat aslinya. Fungsi dari terumbu

buatan (artificial reefs) ini untuk memberikan rumah baru bagi ikan dan hewan lain yang kehilangan habitat aslinya. Biota yang umum terdapat di modul

artificial reefs adalah karang lunak (soft coral) dan karang kipas (gorgonion). Komposisi komunitas ikan di tiap modul fish shelter secara umum adalah

CaesionidaedanPomacentridae.

Keberadaan ikan target di modul artificial reefs adalah kemungkinan terbesar untuk menggantikan fungsi dasar dari ekosisitem terumbu karang yaitu

(25)

organisme bentik yang hidup menempel pada substrat seperti karang, spons, alga,

dan lain-lain. Berbagai bahan dan metode telah diujicobakan, mulai dari becak

bekas, kubus konkrit, keranjang besi maupun beton (Tabel 5).

Tabel 5 Perbandingan Model Terumbu Buatan (Artificial Reefs) di Kepulauan Seribu

Kubus Kubah Blok Susun Piramid

Keranjang Besi Susun

Ukuran modul fish

shelter

Sedang Kecil Kecil Besar Besar

Keanekaan komunitas bentik

Sedang Rendah Rendah Tinggi Sedang

Komunitas bentik dominan

Sponge, ascidian Turf algae Sponge, ascidian

juvenile ikan Tidak ada Tidak ada Tidak ada Ada Ada

Sumber : Suku Dinas Perikanan dan Kelautan Kab Adm Kep. Seribu (2007)

Pembuatan dan penenggelaman terumbu buatan (artificial reefs) berbagai model di perairan Kabupaten Administratif KepulauanSeribu sudah sejak dahulu

dilakukan, riwayat penenggelaman terumbu buatan di Kepulauan Seribu terlihat

pada Tabel 6.

Tabel 6 Riwayat Penenggelaman (Deployment)Fish Shelterdi Kepulauan Seribu

No Tahun Model Jumlah (unit)

Titik Lokasi

Kawasan

1 2002 Ban dan hong 11 Utara P. Pramuka P. Pramuka 2 2003 Kubah 31 P. Semak Daun P. Semak Daun 3 2004 Kubus 147 Gosong Pramuka Gosong Pramuka 4 2005 Silinder 20 Timur Karang Lebar Gosong Karang Lebar 5 2005 Besi Susun 5 Barat P. Kelapa P. Kelapa

Sumber : Suku Dinas Perikanan dan Kelautan Kab Adm Kep. Seribu (2007)

1. 2 Perumusan masalah

(26)

ekosistem terumbu karang di perairan Kepulauan Seribu adalah sebesar

Rp57.544.017.4 – Rp174.981.017,4 per ha per tahun (Malay 2000 dalam

Adrianto 2006), sedangkan nilai manfaat ekonomi total ekosistem terumbu karang

di sekitar pulau–pulau yang terkena tumpahan minyak di perairan Kepulauan

Seribu berkisar antara Rp58.697.750.018–Rp65.194.427.478 per tahun. Tingkat pemanfaatan ekosistem terumbu karang di Kepulauan Seribu menimbulkan

kerusakan.

Ekosistem terumbu karang memiliki berbagai fungsi ekologi, sehingga

kerusakan-kerusakan ini menyebabkan fungsi ekosistem terumbu karang menjadi

terganggu dan berakibat pada penurunan nilai ekonomi eksosistem terumbu

karang. Untuk mengantisipasi dan mengurangi kerugian-kerugian yang terjadi

maka dilakukan upaya rehabilitasi dengan metode terumbu buatan (artificial reefs), yang bermanfaat memperbaiki kondisi terumbu karang. Terumbu karang setelah rehabilitasi diharapkan akan memberikan nilai atau manfaat ekonomi yang

baru. Sejauh mana efektivitas terumbu buatan (artificial reefs) dapat dianalisis dengan menggunakan analisis biaya manfaat (cost benefit analysis). Berdasarkan uraian di atas maka rumusan masalah dari penelitian ini adalah:

1) Bagaimana pemanfaatan terumbu buatan (artificial reefs) dalam rehabilitasi ekosistem terumbu karang di Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu?

2) Bagaimana dengan nilai ekonomi program terumbu buatan (artificial reefs) di Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu?

3) Bagaimana efektivitas ekonomi program terumbu buatan (artificial reefs) di Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu?

1.3 Tujuan penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah:

1) Mengidentifikasi pemanfaatan terumbu buatan (artifcial reefs) di Perairan Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu

2) Mengestimasi nilai ekonomi program terumbu buatan (artficial reefs) di Perairan Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu

(27)

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Penilaian manfaat

Menurut Abelson (1979), output dari proyek termasuk output yang

dikonsumsi pengguna dan manfaat eksternal (external benefit) dipertimbangkan dalam tiga kategori yaitu penurunan dalam biaya produksi, nilai market goods, nilainon market goods.

1. Nilaimarket goods

Nilaimarket goodsdilustrasikan dalam Gambar 1 dimana barang Q0dibeli

pada harga P0. Gross value goods Q0 ditunjukan oleh area A dan B, antara

kesediaan membayar (willingness to pay) kurva permintaan (demand curve) dan sumbu horizontal.

Price $

Marginal supply cost

P1

P0 A

E

Willingness to pay demand curve

B

Q0 Quantity of goods sold

Gambar 1 NilaiMarket Goods(Diadopsi dari Abelson 1979).

Menurut Abelson (1979), ada empat pengecualian dasar untuk harga pasar

yang mencerminkan jumlah dimana rumah tangga bersedia untuk membayar

barang yaitu: (a) jika harga dikontrol maka perhitungan harga digunakan untuk

(28)

barang disubsidi maka harga konsumen merupakan willingness to pay(WTP) di bawah yang diterima oleh produsen; (c) ketika barang dijual secara internasional

maka harga relevan dengan harga ekspor; (d) muncul ketika proyek bukan

marginal produsen dari barang jenis baru. Gambar 1 merepresentasikan surplus

konsumen dan penambahan konsumsi yang dihasilkan ditunjukkan dengan

segitiga P1 E P0. Surplus konsumen dari konsumsi yang dihasilkan dapat

diestimasi dengan formula ½ (QP), dimana Qadalah kenaikan konsumsi

dan P adalah perubahan dalam harga. Diperkirakan bahwa Q0,

merepresentasikan jutaan unit yang dikonsumsi tiap tahun dan P1 adalah harga

maksimum yang akan dibayar konsumen untuk satu unit baru (Abelson 1979).

2. Nilai barang yang tidak dipasarkan

Menurut Abelson (1979), ada tiga jenis manfaat yaitu manfaat pilihan

(option benefit), manfaat tidak tergantung (interdependent benefit), dan manfaat keberadaan (existence benefit). Option benefit merupakan atribut manfaat untuk ketersediaan aset kapital, interdependent benefit terjadi ketika orang memperoleh

kesenangan dari menikmati kesenangan yang lain dan existence benefit

merupakan nilai yang dipasang untuk lingkungan dalam hak milik dan tanpa

referensi untuk kegunaan manusia. Manfaat dari barang yang tidak dipasarkan

direpresentasikan oleh area di bawah kurva permintaan yaitu A + B terlihat pada

Gambar 1. Tidak adanya informasi harga pasar maka digunakan dua metode

utama untuk mengestimasi apakah individu bersedia membayar untuk barang

yang tidak dipasarkan adalah survei dan suatu teknik dimana digambarkan oleh

para ekonomi sebagai analisis preferensi.

Analisis preferensi yang digunakan adalah studi tentang perilaku pasar

untuk menyimpulkan nilai-nilai individu. Survei dan analisis preferensi yang

terungkap harus digunakan sebagai pelengkap daripada sebagai teknik kompetisi.

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan survei hipotesis tentang preferensi konsumen

jauh diperkuat jika konsisten dengan perilaku pasar yang diamati, tapi kesimpulan

statistik dari perilaku pasar juga diperkuat jika sesuai dengan keinginan yang

(29)

3. Manfaat sekunder (secondary benefit)

Pengeluaran proyek dan surplus menghasilkan permintaan untuk barang

dan jasa yang mengarah kepada penciptaan nilai tambah. Prediksi bahwa proyek

dapat menghasilkan manfaat sekunder tidak berarti bahwa manfaat tersebut harus

dihitung dalam evaluasi proyek dimana proyek-proyek alternatif dapat juga

menghasilkan manfaat sekunder, hanya perbedaan dalam manfaat sekunder yang

dapat mempengaruhi net present value (NPV) nasional secara agregat. Secara singkat, untuk tujuan cost benefit analysis (CBA) manfaat sekunder dapat diabaikan jika permintaan agregat tidak bergantung pada pilihan proyek. Manfaat

sekunder mungkin penting, misalnya di wilayah negara-negara berkembang

dengan sumberdaya tetapi sedikit proyek-proyek alternatif.

2.2 Penilaian biaya

Ada empat komponen penting dalam penilaian biaya (Abelson 1979):

a. Perhitungan harga untuk buruh (labour)

Dalam ekonomi pasar kompetitif, biaya kesempatan (opportunity cost) dari tenaga kerja adalah upah yang diperlukan untuk menarik pekerja untuk

proyek, kompensasi upah untuk upah pekerja terdahulu dalam pekerjaan

alternatif. Pasar tidak kompetitif atau tidak ekonomi, opportunity cost tenaga kerja memiliki komponen langsung dan tidak langsung. Biaya langsung adalah

jumlah dari nilai output yang hilang ditambah biaya lain yang terikat dengan

perubahan gaya hidup para pekerja. Biaya tidak langsung mempekerjakan tenaga

kerja jika tingkat preferensi waktu sosial (social time preference rate) lebih rendah dari laba atas investasi dan jika mempekerjakan buruh bukan mesin dapat

meningkatkan konsumsi dan mengurangi surplus proyekreinvestment.

Umumnya biaya tidak langsung buruh dimasukkan dalam CBA hanya jika

implikasi lain dari perbedaan antara pengembalian modal dan perhitungan social time preference rate (STPR). Ada dua ciri perhitungan harga untuk buruh yaitu pertama umumnya harga pasar di bawah untuk kelompok yang output masa

depannya rendah atau tidak ada. Prediksi dimana bukan tingkat pekerjaan

sekarang yang sangat menentukan perhitungan harga buruh dalam proyek-proyek

(30)

ukuran kepuasan dari biaya mempekerjakan buruh terampil. Kedua, biaya relatif

dari semua buruh meningkat dari waktu ke waktu dengan peningkatan upah riil

yang diimbangi dengan peningkatan produktivitas yang terus menerus.

b. Perhitungan harga untuk input material

Alasan menonjol bahwa harga pasar material dapat melebihi biaya sosial

riil dari produksi disebabkan monopoli, pajak tidak langsung dan penggangguran.

Diberikan perbedaan antara harga material dan biaya produksi yang sebenarnya,

pertanyaannya adalah apakah perhitungan harga material harus dibebankan ke

proyek dan jawaban umumnya adalah bahwa material-material yang disediakan

dialihkan dari pengguna lain maka harga pasar mewakili biaya sosial karena

mencerminkan nilai dalam penggunaan alternatif. Material yang disuplai dari

peningkatan produksi tidak akan terjadi sebaliknya perhitungan harga adalah

biaya produksi marginal, harus mengecualikan mark-up monopoli dan pajak tidak

langsung dimana mencerminkan transfer dari konsumsi sumberdaya dan harus

mencakup perhitungan harga yang sesuai untuk buruh yang terlibat dalam

material produksi.

c. Perhitungan harga untuk lahan

Harga pasar untuk lahan memberikan beberapa indikasi dari nilai kepada

masyarakat yang dimodifikasi dalam dua cara untuk merepresentasikan nilai

sosial riil. Pertama, harga dapat dipengaruhi oleh subsidi yang diwakili oleh

transfer dari pemerintah untuk pemilik lahan dibandingkan dengan nilai produktif

riil lahan dimana subsidi tersebut adalah pengecualian dari CBA. Kedua, harga

mungkin gagal mencerminkan eksternalitas dari penggunaan lahan tersebut,

seperti polusi udara yang dapat merugikan pengguna industri pada masyarakat

setempat. Eksternalitas negatif seperti ini akan mengurangi perhitungan harga

lahan di bawah harga pasar. Secara luas, jika harga pasar harus direvisi maka nilai

lahan mungkin lebih baik untuk diabaikan dengan memperkirakan keuntungan

bersih terdahulu dalam penggunaan alternatif yang terbaik. Penilaian lahan dalam

(31)

meskipun secara finansial kepada pemerintah lahan tidak memiliki biaya tapi

masih memilikiopportunity cost.

d. Biaya eksternal (exsternal cost)

Biaya eksternal adalah pecahan kecil dari pendapatan rumah tangga yang

dapat diasumsi untuk tujuan CBA dimana kompensasi dan nilai willingness to pay (WTP) dapat menjadi sama, tapi asumsi ini tidak dapat dipertahankan jika rumah tangga kehilangan asset terbesar seperti perdamaian dan ketenangan. Ada

dua kemungkinan pendekatan untuk pendugaan nilai kompensasi. Pendekatan

pertama, digunakan untuk estimasi utilitas marginal rata-rata dari uang yang dapat

digunakan untuk konversi nilai WTP menjadi nilai kompensasi sedangkan

pendekatan kedua digunakan untuk mengestimasi nilai kompensasi yang

melibatkan pendugaan harga dimana rumah tangga akan membatalkan aset

tertentu. Nilai-nilai kompensasi dapat digunakan jika CBA yang berkaitan dengan

biaya dan manfaat dari setiap perubahan di masa kini dan dapat memperkirakan

nilai kompensasi atas hilangnya asset saat ini yang membentuk bagian signifikan

dari pendapatan rumah tangga.

2.3 Analisis biaya manfaat (cost benefit analysis)

Analisis biaya manfaat (Cost benefit analysis) dalam ekonomi lingkungan merupakan prinsip dasar yang dapat digunakan lebih lanjut untuk menilai atau

mengukur barang lingkungan (environmental goods) yang tidak memiliki nilai pasar. Cost benefit analysis (CBA) menjadi alat utama dalam evaluasi ekonomi dari program-program masyarakat yang berkaitan dengan manajemen sumberdaya

alam (Intanet al. 2007). CBA dipertimbangkan dengan maksimisasi nilai agregat dari barang dan jasa yang dikonsumsi oleh masyarakat. Konsumsi dalam konsep

ini termasuk lingkungan dan barang yang tidak dipasarkan lainnya yang dapat

dinilai dalam istilah moneter (Abelson 1979). Pada dasarnya tujuan studi biaya

manfaat mempengaruhi kesejahteraan individu, penilaian individu dari barang

diukur dengan perilaku pasar atau dengan pendapat.

Tujuan CBA untuk menemukan tambahan manfaat bersih dari proyek,

(32)

menerima kerugian. Metode valuasi, khususnya CBA dipertimbangkan dalam tiga

kriteria yang relevan untuk pembuatan keputusan seperti (Abelson 1979): (a)

komperhensif; (b) kecocokan dengan partisipasi demokrasi dan prosedur

keputusan; (c) biaya manfaat aktual dari metode dalam latihan. CBA mempunyai

dua ciri utama yang berbeda. Pertama, usaha untuk nilai biaya dan benefit selama

mungkin dalam unit moneter dapat diringkas dan dibandingkan. Kedua, CBA

menyertakan pemandu keputusan seperti net present value (NPV) atau internal rate of return(IRR).

1. Pemandu keputusan (decision guide)

Menurut Kadariah et al. (1999) dalam mencari ukuran yang

menyeluruh sebagai dasar penerimaan atau penolakan suatu proyek,

dikembangkan berbagai macam indeks yang disebut kriteria investasi

(investment criteria). Setiap indeks menggunakan nilai sekarang (present value) yang telah di discount dari arus-arus manfaat dan biaya selama umur suatu proyek. Kriteria investasi atau dua pemandu utama untuk pembuatan

keputusan digunakan dalam CBA adalahnet present value(NPV) dan internal rate of return(IRR). NPV suatu proyek adalah selisihpresent value(PV) arus manfaat (benefit) denganpresent value(PV) arus biaya (cost). Dalam evaluasi suatu proyek tanda go dinyatakan oleh nilai NPV yang sama atau lebih besar dari nol. Jika NPV = 0, berarti proyek mengembalikan persis sebesar social opportunity cost of capital(SOC). Menurut Layard dan Walters (1976)dalam

Abelson (1979) nilai agregat dari konsumsi dalam istilah present valuesangat tinggi dengan proyek dibanding tanpa proyek, jika r melebihi tingkatdiscount ratesosial, proyek diduga dalam kriteria dari nilai agregat dapat diterima.

NPV adalah selisih antara PV manfaat (benefit) dan PV biaya (cost). IRR adalah nilai discount rate social yang membuat NPV proyek sama dengan nol atau tingkat keuntungan atas investasi bersih dalam suatu proyek. Suatu nilai IRR

yang lebih besar atau sama dengan social discount rate menyatakan tanda diterima untuk suatu proyek, sedangkan IRR kurang dari social discount rate

memberikan tanda ditolak. Kemungkinan ketiga pemandu keputusan adalah

(33)

digolongkan dalam proyek secara berbeda dari kriteria NPV. Menurut Feldstein

dan Fleming (1964)dalam Abelson (1979), proyek harus dipilih dalam tingkatan

present value(PV) per unit dari biaya pembatas sampai biaya pembatas tersebut terpakai. Margin proyek kecil dengan BCR yang tinggi tidak perlu digantikan

dengan BCR yang rendah kecuali kalau jumlah present value dan proyek baru menerima dana lebih besar dibanding dari proyek besar (Layard 1976 dalam

Abelson 1979).

2. Pilihan tingkat suku bunga (discount rate)

Pilihan tingkat suku bunga (discount rate) penting untuk dapat diterima sebuah proyek bahkan ketika pilihan terletak seperti tingkat yang serupa seperti

7% dan 10% per tahun. Pada pemandangan pertama nampak tidak ada masalah:

surplus proyek dapat didiskon menurut bobot yang dipasang untuk konsumsi

dalam periode yang berbeda yang dapat diberikan dengan social time preference rate (STRP). Kesulitan mengestimasi STRP, juga menghasilkan STRP rendah dibandingkan keuntungan sosial yang dapat dicapai pada investasi alternatif

(biaya opportunitas sosial kapital, social opportunity cost ). Ukuran relevan dari

social oportunity cost(SOC) adalah untuk memperoleh keuntungan total sebelum pajak pada marginal kapital pribadi. Pada pasar tidak sempurna, maka keuntungan

sosial pada investasi private juga termasuk pembayaran untuk para pekerja dan untuk penyedia material menjadi lebih dan di atas perhitungan upah dan harga,

seperti halnya manfaat eksternal dan biaya (Abelson 1979). Keuntungan total

pada investasi private sesuai ukuran SOC jika pemerintah meminjam dana marginal dari sektor private atau jika mencoba maksimisasi konsumsi agregat, maka diperlukan usaha untuk menyamakan keuntungan marginal sosial untuk

privatedan investasi publik.

Marginal investasi publik dapat menghasilkan surplus yang tinggi

dibandingkan marginal investasi private. Menurut Abelson (1979), SOC harus diestimasi sebagai real rate dari keuntungan, tidak sebagai monetary rate. Dua cara mengestimasi STPR adalah dengan observasi perilaku pasar individu dan

pengambilan pendekatan sosial untuk masalah. STPR dapat didefinisikan sebagai

(34)

elastisitas marginal utilitas dari konsumsi per kapita. Jika dikatakan elastisitas 1,5

dan pertumbuhan pendapatan per kapita yang diharapkan 3% per tahun, maka

STPR sama dengan 4,5% per tahun (Layard 1972 dalam Abelson 1979).

Discount rate yang lebih sering dipilih adalah SOC. Alasan pertama bahwarate

SOC dari discountmenyeimbangkan kapital yang diterima untuk proyek dengan kapital yang dapat diterima. Kedua, menggunakan SOC membuat lebih mudah

untuk menghindari ketidakefisien proyek. Ketiga, menggunakan SOC adalah

konsisten dengan usaha untuk maksimisasi nilai agregat dari konsumsi.

3. Analisis pendistribusian

Secara tradisonal, CBA digunakan untuk maksimisasi nilai konsumsi

agregat dengan tanpa melihat kelompok manfaat (benefit) dan biaya (cost). Ada dua dasar pemikiran untuk hal ini. Pertama, jika kriteria ini diterapkan oleh rumah

tangga maka lebih baik jika proyek dibandingkan dengan NPV negatif (Abelson

1979). Kedua, kasus yang kuat dapat dibuat untuk gambaran sasaran distribusi

yang dapat dicapai lebih efektif dengan sedikit biaya dan kombinasi dari

perpajakan, pengeluaran dan kebijakan moneter dibanding melalui proyek

individu dengan NPV yang negatif. Dua komponen utama analisis distribusi yang

berguna dan terkenal. Pertama adalah analisis dari timbulnya biaya (cost) dan manfaat (benefit) pada kelompok masyarakat yang dipilih, kadang-kadang disebut analisis kecelakaan (incidence analysis) yang melibatkan penentuan (Abelson 1979): (a) data apa yang diperlukan dalam penambahan yang

dikumpulkan untuk kalkulasi NPV; (b) kelompok mana yang berarti; (c)

bagaimana biaya dan manfaat bertahan atau ditinggalkan antara kelompok.

Kedua, komponen analisis distribusi memperlihatkan bagaimana

timbulnya biaya dan manfaat yang dapat mempengaruhi keputusan proyek.

Bagian pertama dari distribusi ini mengestimasi surplus. Beberapa dari surplus

untuk pekerja pada proyek dan untuk bisnis menyediakan material untuk proyek

dibayar lebih dibanding perhitungan harga untuk tenaga kerja dan material

(Abelson 1979). Kedua, transfer mempengaruhi timbulnya biaya dan manfaat,

(35)

pengaruh utama dari pajak tidak langsung dan subsidi. Ketiga, besaran dan

distribusi manfaat sekunder dan biaya.

4. Ketidakpastian (uncertainty)

Menurut Abelson (1979), ketidakpastian untuk CBA berarti: (a) manfaat

dan biaya mempunyai cakupan nilai kemungkinan; (b) berarti nilai riil dari

manfaat dan biaya dan kemungkinan distribusi tidak diketahui, bagaimana

seharusnya masalah ini dapat diselesaikan yaitu pertama dapat dibuat titik umum

perbedaan antara variabel yang dapat diukur dengan variabel yang tidak dapat

diukur yang mencerminkan tingkat ketidakpastian disekelilingnya dibandingkan

jenis biaya dan manfaat yang terwakili. Analisis ketidakpastian yang paling umum

digunakan adalah pengujian sensitivitas, ini menunjukkan variasi dalam NPV

sebagai fungsi dari perubahan dalam nilai yang ditangkap untuk variabel khusus

seperti harga ramalan atau output. Bentuk analisis ketidakpastian umumnya

disukai oleh para ekonom adalah metode nilai yang diharapkan. Nilai yang

diharapkan dari satu variabel adalah rata-rata dari semua nilai variabel, ini belum

tentu nilai yang kita harapkan terjadi dalam beberapa kasus nilai yang harapkan

adalah sesuatu yang belum tentu terjadi.

Sudut pandang sosial, nilai dari sebuah asset adalah nilai yang diharapkan

digunakan jika perubahan tidak dapat diubah. Alasan bahwa dengan peningkatan

pengetahuan tingkat investasi dibawah dapat diperbaiki, mengingat kesalahan

kelebihan investasi tidak dapat diubah dan konsekuensi yang mungkin membawa

kerugian jangka panjang. Asimetris ini berarti bahwa manfaat yang diharapkan

dari suatu keputusan yang tidak dapat diubah harus dapat diatur untuk

mencerminkan kehilangan dari pilihan yang diperlukan. Ketika hal ini tidak dapat

diteruskan, secara normal CBA akan mengadopsi uji sensitivitas untuk

menunjukkan efek dari tinggi atau rendahnya nilai dari variabel-variabel penting,

walaupun terbatas, uji ini dapat memberikan gambaran yang jelas. Secara final

estimasi dari distribusi NPV suatu proyek tidak memutuskan keberlangsungan

proyek, tetapi pemecahan bergantung pada sikap pembuat keputusan terhadap

(36)

2.4 Teknik dan valuasi ekonomi

Kerangka nilai ekonomi yang digunakan dalam mengevaluasi ekonomi

sumberdaya alam adalah konsep nilai ekonomi total (total economic value).Total economic value (TEV) merupakan penjumlahan dari nilai ekonomi berbasis pemanfaatan (use value) dan nilai ekonomi berbasis bukan pemanfaatan (non use value). Secara rinci, tipologi TEV terlihat pada Gambar 2, dan definisi nilai TEV terlihat pada Tabel 7 (Barton 1994dalamAdrianto 2006).

Gambar 2 TipologiTotal Economic Value(Diadopsi dari Adrianto 2006).

Tabel 7 Definsi Total Nilai Ekonomi (TEV)

No Jenis Nilai Definsi

1 Direct use value Nilai ekonomi yang diperoleh dari pemanfaatan langsung dari suatu sumberdaya atau ekosistem 2 Indirect use

value

Nilai ekonomi yang diperoleh dari pemanfaatan tidak langsung dari suatu sumberdaya atau ekosistem

3 Option value Nilai ekonomi yang diperoleh dari potensi pemanfaatan langsung maupun tidak langsung dari suatu sumberdaya atau ekosistem di masa mendatang

4 Bequest value Nilai ekonomi yang diperoleh dari manfaat pelestarian sumberdaya atau ekosistem untuk kepentingan generasi mendatang

5 Existence value Nilai ekonomi yang diperoleh dari sebuah persepsi bahwa keberadaan dari suatu sumberdaya atau ekosistem itu ada, terlepas dari apakah sumberdaya atau ekosistem tersebut dimanfaatkan atau tidak

Sumber : Barton (1994)dalamAdrianto (2006)

(37)

Metode valuasi secara umum terdiri atas dua pendekatan yaitu, pertama

pendekatan manfaat (benefit) menyangkut nilai pasar (market value), nilai pasar pengganti (substitute atau surrogate) atau barang-barang komplementer (complementary goods). Metode valuasi dengan pendekatan manfaat untuk nilai pasar adalah effect on production (EOP), sedangkan metode valuasi untuk nilai penganti adalah travel cost method (TCM). Kedua, pendekatan biaya (cost) contohnya biaya pengganti (replacement cost), proyek bayangan (shadow project), pencegahan pengeluaran (preventive expenditure) dan biaya relokasi (relocation cost). Metode valuasi berdasarkan survei untuk mengukur keinginan membayar (willingness to pay) dan keinginan untuk menerima (willingness to accept) dengan mengeksplor preferensi dari konsumen melalui pendekatan

contingen valuation method(CVM).

2.4.1 Pendekatan produktivitas (effect on production approach)

Metode valuasi effect on production (EOP) digunakan untuk melihat bagaimana pengaruh terhadap produksi dari sumberdaya alam. Pendekatan

produktivitas memandang sumberdaya alam sebagai input dari produk akhir yang

kemudian digunakan masyarakat luas, dengan demikian maka langkah pertama

dari pendekatan ini adalah menentukan aliran jasa dari sumberdaya alam yang

dinilai kemudian dianalisis hubungannya dengan produk akhir yang dikonsumsi

masyarakat. Pendekatan EOP memerlukan sebuah pendekatan yang integratif

antara arus ekologi dan arus ekonomi, karena pendekatan ini lebih memfokuskan

pada perubahan aliran fungsi ekologis yang memberikan dampak pada nilai

ekonomi sumberdaya alam yang dinilai.

Secara konseptual, pendekatan produktivitas beranjak dari pemikiran

bahwa apabila ada gangguan terhadap sistem sumberdaya alam (seperti polusi),

maka kemampuan sumberdaya alam untuk menghasilkan aliran barang dan jasa

menjadi terganggu. Gangguan ini mengakibatkan perubahan produksi barang dan

jasa yang dihasilkan oleh sumberdaya alam dan merubah perilaku

pemanfaatannya. Menurut Adrianto (2006), perubahan perilaku pemanfaatan ini

akan mengubah nilai sumberdaya alam tersebut, secara diagram kerangka berfikir

(38)

Gambar 3 Kerangka Berfikir Pendekatan EOP (Diadopsi dari Adrianto 2006).

Pengukuran untuk barang dan jasa yang dihasilkan dari sumberdaya alam

yang diperdagangkan (traded goods) dengan harga yang terukur dapat dilihat dari perubahan dalam surplus konsumen. Pengukuran yang didasarkan pada

perubahan surplus konsumen adalah untuk mengukur seberapa besar kehilangan

surplus akibat perubahan harga atau kuantitas yang mempengaruhi keinginan

membayar seseorang terhadap komoditas yang dihasilkan dari sumberdaya alam.

Surplus konsumen adalah pengukuran kesejahteraan ditingkat konsumen yang

diukur berdasarkan selisih keinginan membayar dari seseorang dengan apa yang

sebenarnya dibayar (Fauzi 2006).

2.4.3Contingen Valuation Method(CVM)

Penilaian berdasarkan preferensi (contingen valuation method) adalah metode yang digunakan untuk melihat atau mengukur seberapa besar nilai suatu

barang berdasarkan estimasi seseorang. Contingen valuation method (CVM)

adalah suatu pendekatan untuk mengetahui seberapa besar nilai yang diberikan

seseorang untuk memperoleh suatu barang (willingness to pay) dan seberapa besar

Gangguan terhadap SDA

Fungsi sistem SDA terganggu

Aliran produksi barang dan jasa

terganggu

Perubahan produksi barang dan jasa

Perubahan perilaku pemanfaatan SDA

(39)

nilai yang diinginkan untuk melepaskan suatu barang (willingness to accept), jika harus kehilangan kualitas lingkungan yang baik (Adrianto 2006). Cost benefit analysis (CBA) merupakan teknik yang digunakan dan membantu dalam pengambilan keputusan dalam perencanaan dan pengelolaan. CBA digunakan

untuk mengukur semua keuntungan atau dampak positif (benefit) dan biaya (cost) sebuah pengelolaan dari awal sampai akhir dalam bentuk nilai uang dan

memberikan ukuran efisiensi ekonomi (Kusumastanto 2000).

2.5 Eksternalitas

Konsumsi terhadap barang publik (public goods) sering menimbulkan eksternalitas atau damapak eksternal. Eksternalitas terjadi jika kegiatan produksi

atau konsumsi dari satu pihak mempengaruhi utilitas dari pihak lain secara tidak

diinginkan, dan pihak pembuat eksternalitas tidak menyediakan kompensasi

terhadap pihak yang terkena dampak. Kaitannnya dengan sumberdaya alam,

eksternalitas penting untuk diketahui karena eksternalitas akan menyebabkan

alokasi sumberdaya yang tidak efisien (Fauzi 2006). Eksternalitas adalah

pengaruh atau dampak yang diterma oleh beberapa pihak sebagai akibat dari

kegiatan ekonomi, baik produksi, konsumsi atau pertukaran yang dilakukan oleh

pihak lain. Eksternalitas dapat bersifat menguntungkan (positive externality) dan bersifat merugikan (negative externality), dengan adanya eksternalitas kita tidak dapat mencapai kondisi-kondisi pareto optimal.

P

Marginal Sosial cost

Marginal Private Cost

ps

pp

D

qs qp Jumlah output

(40)

2.6 Ekosistem terumbu karang

Terumbu karang menyediakan barang dan jasa seperti seafood, rekreasi, perlindungan pantai seperti estetika dan manfaat budaya. Hampir sepertiga dari

laut di dunia ditemukan spesies ikan pada terumbu karang, dan tangkapan dari

area terumbu mendasari sekitar 10% dari ikan yang dikonsumsi manusia. Jennings

dan Polunin (1996) dalam Folke dan Moberg (1999), mengkalkulasi bahwa 1 km2dari aktivitas pertumbuhan terumbu dapat menyokong lebih dari 300 orang. Empat tipe utama terumbu karang adalah fringing reef, barrier reef, atol dan

platform reef (Tabel 8), banyak fungsi berbeda diantara tipe karang ini dan berhubungan dalam tingkat yang bervariasi untuk sistem lain seperti hutan

mangrove, padang lamun dan laut terbuka.

Tabel 8 Empat Tipe Karang Utama

Sumber: Folke dan Moberg (1999)

Terumbu karang sebagai penyangga fisik padang lamun dan mangrove,

untuk interaksi fisik jasa biologi dan interaksi biogeochemical antara ekosistem yang salling berhubungan. Ogden (1988) dalam Folke dan Moberg (1999), menyebutnya sebagai biomas zona pantai tropis yang terdiri atas mozaik

kompleks dari mangrove, padang lamun dan terumbu karang (Gambar 5).

(41)
(42)

Tabel 9 Good and Ecological ServiceEkosistem Terumbu Karang

(43)

2.6.1 Produk ekosistem terumbu karang (ecological goods of coral reefs)

Terumbu karang menghasilkan berbagai produk makanan laut seperti ikan,

remis, krustasea, teripang dan rumput laut. Tangkap lebih (overfishing) terumbu karang diasosiakan dengan populasi ikan merupakan masalah utama. Industri

farmasi menemukan manfaat unsur potensial dengan anti-kanker, menghambat

AIDS, anti-mikroba, anti radang dan anti pembekuan kekayaan antara rumput

laut, sponge, moluska, karang, dan anemon laut di terumbu (Folke dan Moberg

1999). Sebagai pupuk dan skeleton, karang terbukti memiliki peluang dalam

operasi penyokong tulang. Manfaat terumbu karang yang paling merusak adalah

eksploitasi karang keras untuk material bangunan dan untuk produksi kapur,

perekat, mortir dan semen.

2.6.2 Jasa ekosistem terumbu karang (ecological service of coral reefs)

Terumbu karang menghasilkan persediaan pasir karang pantai yang baik

dengan karakteristik pasir putih dari pulau tropis dan satu dari atraksi utama

dalam turis pantai. Fungsi terumbu karang penting sebagai daerah memijah,

pengasuhan, beternak dan mencari makan untuk banyak organisme. Terumbu

karang penting dalam pemeliharaan keanekaragaman hayati yang luas dan

perpustakaan genetik untuk generasi mendatang. Sekitar 60 ribu hewan dan

tumbuhan yang hidup pada karang, spesies lain dan kelompok spesies penting

dalam pemeliharaan ketahanan ekosistem terumbu karang. Beberapa organisme

terumbu karang migrasi di antara ekosistem yang bersebelahan seperti ikan

migrasi ke mangrove dan padang lamun dana menjadikannya sebagai daerah

pengasuhan (nursery ground).

Migrasi ikan dari ekosistem terumbu karang dapat mempengaruhi siklus

nutrien dari padang lamun dan mangrove melalui ekresi. Terumbu karang tidak

hanya menyediakan perlindungan fisik, tetapi juga pendukung biologi untuk

padang lamun, mangrove dan laut terbuka. Hubungan secara biologi adalah input

untuk karang dari dan produk dari migrasi ikan (Folke dan Moberg 1999). Input

dari nutrien dan bahan organik dari migrasi kemudian makan di padang lamun

pada malam dan beristirahat di atas koloni karang sepanjang hari, meningkatkan

(44)

pelagis dengan ekspor dari kelebihan produksi organik dan dipecahkan bahan

organik seperti bakteri plankton, fitoplankton, dan zooplankton. Terumbu karang berfungsi sebagai pencampur nitrogen dalam lingkungan yang kurang nutrien.

Karang mungkin tidak produktif dan berbeda tanpa kapasitas dari mikroba

dan asosiasi cyanobacteria dalam biotope karang bawah dan juga cyanobacteria

dalam kolom air untuk asimilasi nitrogen atmosfir (Folke dan Moberg, 1999).

Kemampuan mencampur nitrogen tidak hanya untuk sistem karang tapi juga

untuk produktivitas komunitas pelagis yang bersebelahan untuk pelepasan

kelebihan nitrogen yang tercampur dalam karang. Proses biokimia terumbu

karang memegang peranan yang signifikan dalam keseimbangan dunia kalsium.

Terumbu karang dapat mengubah, mengurai dan menyerap limbah yang

dilepaskan manusia dan menyediakan jasa pembersihan. Produk minyak tang

dalam lingkungan laut diuiraikan oleh mikroba, memutar hidrokarbon menjadi

karbon dioksida dan air. Seperti jasa asimilasi limbah dari karang diuraikan dalam

studi kasus Galapagos oleh de Groot (1992) dalam Folke dan Moberg (1999), telah diestimasi mempunyai nilai US$ 57 per ha per tahun.

Organisme karang digunakan dalam monitoring dan sebagai catatan

polusi. Terumbu karang merupakan sistem sangat sensitif dan secara ekstentif

digunakan dalam pertukaran monitoring terbaru dalam lingkungan laut dan efek

dari gangguan manusia. Terumbu karang berfungsi sebagai pencatat iklim,

komposisi kimia skeleton karang dapat digunakan untuk rekonstruksi temperatur

permukaan laut tropis dan jalur variasi dalam salinitas. Lapisan deposit karang

raksasa dari skeleton bertukar-tukar dan densitas bergantung pada kondisi

lingkungan. Terumbu karang pendukung rekreasi, nilai rekreasi karang

diindikasikan dengan banyaknya pendapatan turis. Nilai finansial turis di Greet

Barrier Reef World Heritage Area (WHA) diestimasi oleh Driml (1994) dalam

Folke dan Moberg (1999), menjadi US$ 682 juta tiap tahun.

2.7 Terumbu buatan (artificial reefs)

Terumbu buatan (artificial reefs) adalah satu atau lebih objek dari alam atau berasal dari manusia yang disebar secara penuh pada dasar laut untuk

(45)

sumberdaya penghuni laut (Seaman 2000). Terumbu buatan didefinisikan

sebagai benda berbentuk kotak bolong dikeenam sisinya, yang terbuat dari

susunan batangan beton bertulang yang dapat mempengaruhi jumlah dan jenis

biota yang memanfaatkannya (Mawardi 2003). Menurut Seaman (2000), manfaat

terumbu buatan (artificial reefs) pada lingkungan laut antara lain: (1) menambah produksi perikanan artisinal; (2) meningkatkan poduksi pemancingan komersial;

(3) lokasi produksi akuakultur; (4) meningkatkan rekreasi pemancingan dengan

kail dan tombak; (5) lokasi rekreasi diving; (6) kontrol kematian ikan; (7)

manipulasi sejarah hidup organisme; (8) perlindungan habitat; (9) konservasi dan

biodiversity.

Menurut Chou (1997), fungsi utama dari terumbu buatan adalah (1) tempat

berkumpulnya organisme terutama ikan sehingga dapat menambah efisiensi

penangkapan; (2) meningkatkan produktivitas alam dengan menyediakan habitat

baru untuk organisme menempel yang berkontribusi pada rantai makanan; (3)

menyediakan habitat baru spesies target; (4) melindungi organism kecil atau

juvenile dan sebagai nursery ground; (5) pelindung pantai dari gelombang serta sebagai tempat naungan organism dari arus yang kuat dan pemangsaan; (6)

meningkatkan kompleksitas habitat dasar. Karakteristik terumbu buatan (artificial reefs) menunjuk pada komponen fisik terumbu dan lingkungan fisik dimana terumbu ditempatkan. Secara umum, terumbu buatan (artificial reefs) ditempatkan di pantai yang dangkal dan perairan estuaria sepanjang danau dan sungai.

Terumbu juga diletakan di pantai dangkal untuk mengontrol erosi. Terumbu

diletakan di dasar lautan atau estuari yang merupakan subjek untuk kekuatan arus

(Seaman 2000).

Struktur terumbu menunjuk kepada material fisik dari komposisi dan

distribusi geografi seperti material terumbu. Untuk capaian keberhasilan terumbu,

penting untuk memastikan struktur terumbu akan tinggal di lokasi dengan (1)

penentangan kekuatan hidrodinamik lokal; (2) tidak melebihi kemampuan

sedimen dasar untuk mendukung bobot struktur terumbu dan (3) pengaturan

(46)
(47)

kompleksnya interaksi dalam ekosistem terumbu karang menyebabkan sukarnya

mendapatkan bentuk umum dan desain terumbu buatan untuk semua perairan.

Pembuatan terumbu buatan dengan cara mengecor adonan semen, batu kricak,

dan pasir pada sebuah cetakan. Kotak-kotak itu kemudian disusun menjadi bentuk

piramida, dengan komposisi sembilan (bawah), empat (tengah), satu (puncak),

kemudian diikat satu sama lain. Proses selanjutnya yaitu menenggelamkan

piramida ke dalam laut. Kedalamannya harus memenuhi syarat minimal 10

sampai 30 meter dari permukaan laut, supaya tidak menganggu pelayaran.

Setelah terpasang di lokasi yang memenuhi syarat, di permukaan ditempatkan

sebuah pelampung yang dihubungkan dengan tali dan diikatkan pada karang

buatan itu. Pelampung itu akan menjadi tanda atau peringatan bagi pengguna

perairan, bahwa di lokasi yang dimaksud terdapat karang buatan. Benda ini

selanjutnya akan dihinggapi binatang-binatang karang, yang seiring perjalanan

waktu akan mengalami proses pengerasan atau pengapuran.

2.8 Aspek sosial dan ekonomi terumbu buatan (artificial reefs)

Pengumpulan data sosial dan evaluasi adalah suatu bagian integral dari

suatu strategi adaptasi managemen untuk penggunaan sumberdaya dengan

monitoring, evaluasi fisik, biologi dan tanggapan sistem sosial harus

diselenggarakan untuk menduga hipotesis kerja awal untuk mengurangi

ketidakpastian ilmiah sebagai informasi publik dan jika perlu untuk

mengembangkan hipotesis alternatif dan rencana pelaksanaan (Milonet al. 1979

dalam Seaman 2000). Gambar 7 menunjukkan kerangka umum untuk adaptasi manajemen terumbu buatan. Tujuan sosial dan kebijakan untuk pengembangan

terumbu buatan dinyatakan melalui variasi politik dan agen pemerintahan. Tujuan

atau sasaran ini secara umum sering dinyatakan dan memerlukan perbaikan lebih

lanjut oleh ahli untuk menjadi dasar sasaran penelitian. Kebijakan alternatif

tersedia untuk menunjuk tujuan sosial dalam konteks sasaran penelitian studi

(48)
(49)

Bentuk dan interpretasi sasaran penelitian dibentuk oleh ahli bahwa

pemahaman hubungan antara pengaruh sosial dan ekologi dari sistem dan penentu

kebijakan terumbu buatan dalam mencapai tujuan sosial spesifik. Ketika pembuat

kebijakan dan ahli setuju pada sasaran penelitian, kumpulan hipotesis dibentuk

tentang proses ekologi dan sosial dalam sistem terumbu buatan bahwa hasil dalam

seleksi lokasi dan bentuk lebih disukai. Proses adaptasi managemen juga

menyediakan forum penggunaan penuh untuk stakeholder yang berminat dalam pengembangan terumbu buatan. Informasi dokumen sosial ekonomi tentang

terumbu buatan dapat digunakan untuk mendidik non-user tentang jasa yang disediakan oleh sumberdaya pantai (Ditton dan Burke 1985dalamSeaman 2000).

Langkah assesment sosial ekonomi meliputi sasaran atau identifikasi hipotesis, mengembangkan instrumen survei dan pengumpulan data dan analisis.

Langkah-langkah ini kompleks dan mudah menjadi bias dalam beberapa cara,

hasil tidak dapat valid kecuali jika ahli pemandu berpengalaman dan banyak

mengetahui identifikasi pada langkah pertama dari evaluasi yang dapat diuji

dengan instrumen penelitian spesifik dan data yang dikumpulkan dalam langkah

dua dan tiga. Sasaran khusus ekologi atau lingkungan didefinisikan untuk

memandu pengumpulan data dan upaya evaluasi yang juga dapat digunakan untuk

menduga sasaran sosial ekonomi yang lebih luas. Kerangka untuk dugaan sosial

ekonomi pada suatu proyek terumbu buatan dengan empat tingkat definisi sasaran

(50)

Gambar 8 Tujuan dan Sasaran Definisi untuk ProgramArtificial Reef(Diadopsi dari Seaman 2000).

Monitoring lewat observasi, survei dan atau wawancara langsung

Sasaran Tindaka

Figur

Tabel 7 Definsi Total Nilai Ekonomi (TEV)

Tabel 7

Definsi Total Nilai Ekonomi (TEV) p.36
Gambar 2 Tipologi Total Economic Value (Diadopsi dari Adrianto 2006).

Gambar 2

Tipologi Total Economic Value (Diadopsi dari Adrianto 2006). p.36
Gambar 3 Kerangka Berfikir Pendekatan EOP (Diadopsi dari Adrianto 2006).

Gambar 3

Kerangka Berfikir Pendekatan EOP (Diadopsi dari Adrianto 2006). p.38
Gambar 4 Tingkat Output yang Efisien (Diadopsi dari Intan et al. 2007).

Gambar 4

Tingkat Output yang Efisien (Diadopsi dari Intan et al. 2007). p.39
Tabel 8 Empat Tipe Karang Utama

Tabel 8

Empat Tipe Karang Utama p.40
Tabel 9 Good and Ecological Service Ekosistem Terumbu Karang

Tabel 9

Good and Ecological Service Ekosistem Terumbu Karang p.42
Gambar 7 Kerangka Adaptasi Manajemen untuk Penelitian Terumbu Buatan

Gambar 7

Kerangka Adaptasi Manajemen untuk Penelitian Terumbu Buatan p.48
Gambar 8 Tujuan dan Sasaran Definisi untuk Program Artificial Reef (Diadopsi dari Seaman 2000).

Gambar 8

Tujuan dan Sasaran Definisi untuk Program Artificial Reef (Diadopsi dari Seaman 2000). p.50
Tabel 10 Kelompok Stakeholder dan Kerangka Institusi

Tabel 10

Kelompok Stakeholder dan Kerangka Institusi p.52
Tabel 10 menghadirkan daftar potensial kelompok stakeholder terumbu buatan

Tabel 10

menghadirkan daftar potensial kelompok stakeholder terumbu buatan p.52
Gambar 9 Kerangka Pendekatan Studi.

Gambar 9

Kerangka Pendekatan Studi. p.54
Tabel 12 Perincian Jumlah Responden Berdasarkan Pulau

Tabel 12

Perincian Jumlah Responden Berdasarkan Pulau p.57
Tabel 11 Rincian Jumlah Responden Manfaat Langsung

Tabel 11

Rincian Jumlah Responden Manfaat Langsung p.57
Tabel 13 Nama Pulau, Luas dan Peruntukannya di Kelurahan Pulau Panggang

Tabel 13

Nama Pulau, Luas dan Peruntukannya di Kelurahan Pulau Panggang p.65
Tabel 14 Data Perkembangan Usaha Perikanan Kelurahan Pulau Panggang

Tabel 14

Data Perkembangan Usaha Perikanan Kelurahan Pulau Panggang p.66
Tabel 16 Jenis Alat Tangkap di Kelurahan Pulau Panggang

Tabel 16

Jenis Alat Tangkap di Kelurahan Pulau Panggang p.68
Gambar 12 Klasiflasifikasi Tingkat Pendidikan Responden

Gambar 12

Klasiflasifikasi Tingkat Pendidikan Responden p.69
Gambar 13r 13 Mata Pencaharian Responden

Gambar 13r

13 Mata Pencaharian Responden p.70
Gambar 14 Jumlmlah Tanggungan Keluarga Responden

Gambar 14

Jumlmlah Tanggungan Keluarga Responden p.71
Gambar 15 PendugaanTerumbu Buaan Surplus Konsumen dari Pemanfaatan  Kawasau Buatanasan

Gambar 15

PendugaanTerumbu Buaan Surplus Konsumen dari Pemanfaatan Kawasau Buatanasan p.73
Tabel 18 Manfaat Ekonomi Kawasan Terumbu Buatan Berdasarkan SurplusKonsumen Tahun 2009

Tabel 18

Manfaat Ekonomi Kawasan Terumbu Buatan Berdasarkan SurplusKonsumen Tahun 2009 p.77
Tabel 20 Manfaat Tidak Langsung Kawasan Terumbu Buatan

Tabel 20

Manfaat Tidak Langsung Kawasan Terumbu Buatan p.79
Tabel 21 Manfaat Pilihan Kawasan Terumbu Buatan

Tabel 21

Manfaat Pilihan Kawasan Terumbu Buatan p.80
Tabel 23 Ringkasan Kajian Pustaka terkait dengan Nilai R2 dari Nilai WTP

Tabel 23

Ringkasan Kajian Pustaka terkait dengan Nilai R2 dari Nilai WTP p.81
Tabel 24 Nilai Manfaat Total per Kawasan Terumbu Buatan

Tabel 24

Nilai Manfaat Total per Kawasan Terumbu Buatan p.82
Tabel 25 Nilai Total Ekonomi Kawasan Terumbu Buatan

Tabel 25

Nilai Total Ekonomi Kawasan Terumbu Buatan p.83
Tabel 26  Biaya Investasi dan Biaya Operasional Pemanfaatan KawasanTerumbu Buatan

Tabel 26

Biaya Investasi dan Biaya Operasional Pemanfaatan KawasanTerumbu Buatan p.84
Tabel 27 Biaya Tidak Langsung (Pembuatan dan Penenggelaman Artificial Reefs)

Tabel 27

Biaya Tidak Langsung (Pembuatan dan Penenggelaman Artificial Reefs) p.85
Tabel 29 Biaya Pembuatan dan Penenggelaman Artificial Reefs

Tabel 29

Biaya Pembuatan dan Penenggelaman Artificial Reefs p.86
Tabel 30 Perhitungan NPV Kawasan Terumbu Buatan

Tabel 30

Perhitungan NPV Kawasan Terumbu Buatan p.87

Referensi

Memperbarui...