UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS EKONOMI
MEDAN
PENGARUH MODAL FISIK DAN SUMBER DAYA MANUSIA
TERHADAP PDRB SUMATERA UTARA
S K R I P S I
Diajukan Oleh :
Andre L. Tobing 050501103
Ekonomi Pembangunan
Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi
KATA PENGANTAR
Puji syukur serta hormat sebesar-besarnya kepada Tuhan Yang Maha Esa
karena atas kasih dan rahmatNya lah penulis mampu menyelesaikan proses
pengerjaan skripsi ini guna memenuhi salah satu syarat dalam menyelesaikan
studi di departemen Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas
Sumatera Utara.
Adapun judul dari skripsi ini adalah: “Pengaruh Modal Fisik dan
Sumber Daya Manusia Terhadap PDRB Sumatera Utara”
Secara khusus skripsi ini penulis persembahkan kepada kedua orang tua
tercinta, Ayahanda Antonius L. Tobing dan Ibunda Rebekka br. Rajagukguk serta
adinda Kenny L. Tobing. Terimka kasih unutk segala bimbingan, perhatian serta
dukungan dan kasih sayang yang kalian berikan selama ini.
Dalam kesempatan ini penulis juga tidak lupa mengucapkan terima kasih
yang sebesar-besarnya kepada berbagai pihak yang telah membantu penulis dalam
menyelesaikan skripsi ini baik dalam dukungan doa, moril maupun materil
terutama kepada:
1. Bapak Drs.Jhon Tafbu Ritonga, M.Ec, selaku Dekan Fakultas Ekonomi
Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Wahyu Ario Pratomo, SE, MEc selaku Ketua Departemen Ekonomi
Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Drs. Iskandar Syarief, MA sebagai Dosen Pembimbing yang telah
bersedia meluangkan waktu untuk memberikan masukan dan bimbingan mulai
dari awal pengerjaan sampai dengan selesainya skripsi ini.
4. Bapak Drs. Rujiman, MA dan Bapak Drs. Syahrir Hakim Nasution selaku
dosen pembanding yang telah banyak memberi masukan hingga selesainya
5. Seluruh staf pengajar dan staf pegawai di Fakultas Ekonomi terutama
Departemen Ekonomi Pembangunan yang telah mengajar dan membimbing
penulis selama masa perkuliahan.
6. Kepada rekan-rekan seperjuangan di dalam mengarungi masa perkuliahan
terutama kepada sahabat-sahabat penulis “EPO5” terima kasih untuk
kebersamaan kita selama ini, biarlah kesuksesan menjadi bagian dari kita
semua.
7. Teristimewa kepada sahabat hatiku “Susanna Evi Sairettha Hutagalung”
terima kasih untuk segala dukungan dan perhatian yang telah diberikan kepada
penulis terutama dalam melalui masa-masa sulit selama pengerjaan skripsi ini.
8. Untuk abang dan sahabat penulis (B.Viktor, B.Sepin, B.Evan, Eko, Luhut,
Sonder, Benny, Marnov dan Jhon) terima kasih untuk dukungan yang telah
diberikan kepada penulis selama ini.
9. Kepada teman-teman di Berdikari 40 dan Harmonika 48, tempat dimana
kepribadian penulis banyak dibentuk, terima kasih atas kebersamaan kita
selama ini.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, oleh
karena itu penulis mengharapkan segala kritikan dan saran yang konstruktif
demi kesempurnaan skripsi ini.
Semoga kiranya skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua orang yang
memerlukan
Medan, Juni 2009
Penulis
ABSTRACT
The main aim of this research is to know the pesific impact of
independen variables as previous year physic capital accumulation (X1(t-1)), investment as previous year government expenditure in healthnes and educational
sector (X2(t-1)), and productive labour (X3) to dependent Variable as Gross Domestic Regional Product (GDRP) of North Sumatera. And to know the
contribution of each independent variables to dependent variable GDRP (Y) and
to know which variable is dominantly influencing the growth of North Sumatera
GDRP.
For the purpose of the analysis, this research use data of time series
during 1984-2007. Method of Ordinary Least Squared used to estimate model in
this research.
The result of this research indicate that independent variables X1(t-1), X 2(t-1) and X3 have an positive affect to dependent variable (Y). Pursuant to this, Hypothesizing expressing independent variables have an positive effect to
dependent variable can be accepted.
Key words: GDRP (Y), Previous Physic Capital Accumulation (X1(t-1)),
Previous Government Expenditure (X2(t-1)) and Productive
Labour (X3)
ABSTRAK
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh akumulasi
modal fisik tahun sebelumnya (X1(t-1)), investasi yaitu pengeluaran pemerintah di sektor kesehatan dan pendidikan tahun sebelumnya (X2(t-1)) dan angkatan kerja produktif (X3) terhadap PDRB Sumatera Utara (Y), serta untuk mengetahui kontribusi maing-masing variabel tersebut terhadap PDRB Sumatera Utara dan
untuk mengetahui variabel manakah dalam penelitian ini yang paling dominan
mempengaruhi peningkatan PDRB Sumatera Utara.
Untuk mencapai tujuan analisis, penelititian ini menggunakan data time
series dengan rentang waktu selama 1984-2007. Metode yang digunakan unutk
mengestimasi model dalam penelitian ini adalah metode kuadrat terkecil biasa
Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa variabel-variabel independen
yaitu X1(t-1), X2(t-1) dan X3 mempunyai pengaruh terhadap variabel dependen yaitu Y. Berdasarkan hasil penelitian di atas, maka hipotesis yang menyatakan bahwa
variabel-variabel independen mempunyai pengaruh positif terhadap variabel
dependen dapat diterima.
Kata kunci: PDRB (Y), akumulasi modal fisik tahun sebelumnya (X1(t-1)),
investasi yaitu pengeluaran pemerintah di sektor pendidikan dan kesehatan tahu sebelumnya (X2(t-1)) dan angkatan kerja
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR i
ABSTRACT iii
DAFTAR ISI v
DAFTAR TABEL viii
DAFTAR GAMBAR ix
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Penelitian 1
1.2 perumusan masalah 6
1.3 hipotesis 6
1.4 tujuan penelitian 7
1.5 manfaat penelitian 8
BAB II URAIAN TEORITIS
2.1 perumbuhan ekonomi 9
2.1.1 pengertian pertumbuhan ekonomi 9
2.1.2 teori-teori pertumbuhan ekonomi 10
2.1.3 perhitungan tingkat pertumbuhan ekonomi 13
2.1.4 faktor-faktor pertumbuhan ekonomi 16
2.1.5 Produk Domestik Regional Bruto 20
2.2 Sumber Daya Manusia 22
2.2.1 pengertian Sumber Daya Manusia 23
2.2.2 masalah pengembangan Sumber Daya Manusia 23
2.3 Pembentukan Modal 37
2.3.1 pengertian dan jenis pembentukan modal 37
2.3.2 masalah pembentukan modal 40
2.3.3 teori pembentukan modal 43
BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Ruang Lingkup Penelitian 46
3.2 Jenis dan Sumber Data 46
3.4 model analisis data 47
3.5 test of goodnes of fit 48
3.5.1 koefisien determinasi (R2) 48
3.5.2 Overall test (uji F) 49
3.5.3 parsial test (uji t) 49
3.6 uji asumsi klasik 50
3.6.1 multikolinearitas 50
3.6.2 autokorelasi 51
3.7 defenisi operasional 52
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 deskriptif daerah penelitian 53
4.1.1 gambaran umum propinsi Sumatera Utara 53
4.1.2 perkembangan ekonomi Sumatera Utara 56
4.1.3 perkembangan angkatan kerja Sumatera Utara 62
4.1.4 perkembangan pembentukan modal Sumatera utara 66
4.2 Hasil peneliian dan Interpretasi data 67
4.2.1 hasil penelitian 67
4.2.2 Interpretasi data 68
4.3 test of goodnes of fit 69
4.3.1 analisis koefisien determinasi (R2) 69
4.3.2 uji F-statistik 70
4.3.3 uji t-statistik 71
4.4 uji asumsi klasik 74
4.4.1 multikolinearitas 74
4.4.2 autokorelasi 76
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 kesimpulan 77
5.2 saran 78
DAFTAR TABEL
Tabel 4.1 Struktur perekonomian Sumatera Utara 2003-2007 (%)
Tabel 4.2 Realisasi penerimaan dan pengeluaran pemerintah propinsi
Sumatera Utara 2001-2007 (milyar rupiah)
Tabel 4.3 Produk Domestik Regional Bruto Sumatera Utara atas dasar harga
berlaku menurut lapangan usaha tahun 2005-2007 (milyar rupiah)
Tabel 4.4 Produk Domestik Regional Bruto Sumatera Utara atas dasar harga
konstan menurut lapangan usaha tahun 2005-2007 (milyar rupiah)
Tabel 4.5 Banyaknya penduduk usia 15 tahun ke atas menurut jenis kegiatan
2005-2007 (jiwa)
Tabel 4.6 Jumlah angkatan kerja berumur 15 tahun ke atas menurut jenis
kelamin dan pendidikan tertinggi yang ditamatkan 2007 (jiwa)
Tabel 4.7 persentase penduduk usia 15 tahun ke atas yang bekeja menurut
lapagan usaha dan jenis kelamin 2007 (jiwa)
Tabel 4.8 Banyaknya proyek dan investasi proyek penanaman modal dalam
negeri (PMDN) yang disetujui menurut rebcana dan target
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Kurva permintaan tenaga kerja
Gambar 2.2 Hubungan antara investasi dengan pendapatan nasional
Gambar 2.3 Kurva permintaan investasi
Gambar 4.1 Uji F-statistik 70
Gambar 4.2 Uji t-statistik pada variabel X1 (akumulasi modal fisik)
Gambar 4.3 Uji t-statistik pada variabel X2 (pengeluran pemerintah)
ABSTRACT
The main aim of this research is to know the pesific impact of
independen variables as previous year physic capital accumulation (X1(t-1)), investment as previous year government expenditure in healthnes and educational
sector (X2(t-1)), and productive labour (X3) to dependent Variable as Gross Domestic Regional Product (GDRP) of North Sumatera. And to know the
contribution of each independent variables to dependent variable GDRP (Y) and
to know which variable is dominantly influencing the growth of North Sumatera
GDRP.
For the purpose of the analysis, this research use data of time series
during 1984-2007. Method of Ordinary Least Squared used to estimate model in
this research.
The result of this research indicate that independent variables X1(t-1), X 2(t-1) and X3 have an positive affect to dependent variable (Y). Pursuant to this, Hypothesizing expressing independent variables have an positive effect to
dependent variable can be accepted.
Key words: GDRP (Y), Previous Physic Capital Accumulation (X1(t-1)),
Previous Government Expenditure (X2(t-1)) and Productive
Labour (X3)
ABSTRAK
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh akumulasi
modal fisik tahun sebelumnya (X1(t-1)), investasi yaitu pengeluaran pemerintah di sektor kesehatan dan pendidikan tahun sebelumnya (X2(t-1)) dan angkatan kerja produktif (X3) terhadap PDRB Sumatera Utara (Y), serta untuk mengetahui kontribusi maing-masing variabel tersebut terhadap PDRB Sumatera Utara dan
untuk mengetahui variabel manakah dalam penelitian ini yang paling dominan
mempengaruhi peningkatan PDRB Sumatera Utara.
Untuk mencapai tujuan analisis, penelititian ini menggunakan data time
series dengan rentang waktu selama 1984-2007. Metode yang digunakan unutk
mengestimasi model dalam penelitian ini adalah metode kuadrat terkecil biasa
Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa variabel-variabel independen
yaitu X1(t-1), X2(t-1) dan X3 mempunyai pengaruh terhadap variabel dependen yaitu Y. Berdasarkan hasil penelitian di atas, maka hipotesis yang menyatakan bahwa
variabel-variabel independen mempunyai pengaruh positif terhadap variabel
dependen dapat diterima.
Kata kunci: PDRB (Y), akumulasi modal fisik tahun sebelumnya (X1(t-1)),
investasi yaitu pengeluaran pemerintah di sektor pendidikan dan kesehatan tahu sebelumnya (X2(t-1)) dan angkatan kerja
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
Tujuan dari pembangunan ekonomi di antaranya adalah untuk
meningkatkan pertumbuhan ekonomi, disamping dua tujuan lainnya yaitu
pemerataan (distribution of income) dan stabilitas. Indikator pembangunan
ekonomi penting diketahui dalam melakukan analisis tentang pembangunan
ekonomi suatu daerah karena akan dapat memberikan gambaran secara makro atas
kebijaksanaan yang dilaksanakan pemerintah, khususnya dalam bidang ekonomi.
Menurut Todaro bahwa pembangunan haruslah diartikan sebagai suatu
proses multidimensional yang melibatkan perubahan-perubahan besar dalam
struktur sosial, sikap-sikap mental yang sudah terbiasa dan lembaga-lembaga
nasional termasuk pula percepatan pertumbuhan ekonomi, pengurangan
ketimpangan dan pemberantasan kemiskinan. Salah satu indikator kemajuan
perekonomian suatu negara atau daerah adalah melalui pencapaian tingkat
pertumbuhan PDB untuk tingkat nasional dan PDRB untuk tingkat daerah setiap
tahunnya. PDRB Sumatera Utara sendiri mengalami kenaikan setiap tahunnya
walaupun persentase kenaikannya berfluktuasi, namun peningkatan PDRB ini
menandakan bahwa pertumbuhan tetap terjadi di Sumatera Utara.
Pertumbuhan ekonomi menunjukkan sejauh mana aktivitas perekonomian
akan menghasilkan tambahan penghasilan masyarakat dalam suatu periode
tertentu, karena pada dasarnya aktivitas perekonomian adalah suatu proses
ekonomi terus meningkat dan dapat dipertahankan dalam jangka panjang, maka
perlu diketahui hal-hal apa saja yang mempengaruhinya.
Pertumbuhan ekonomi dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor ekonomi
seperti sumber daya alam, sumber daya manusia, modal, teknologi, dan lain
sebagainya serta faktor non ekonomi seperti lembaga sosial, kondisi politik dan
nilai-nilai moral suatu bangsa yang mendukung berlangsungnya proses
pertumbuhan ekonomi. Modal berarti persediaan faktor produksi yang secara fisik
dapat direproduksi. Apabila stok modal naik dalam batas waktu tertentu, hal ini
disebut pembentukan modal (investasi).
Menurut Prof.Nurske, makna pembentukan modal atau investasi adalah
masyarakat tidak melakukan keseluruhan kegiatannya saat ini sekedar untuk
memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumsi yang mendesak, tetapi
mengarahkan sebagian daripadanya untuk penyediaan mesin, pabrik, fasilitas
pengangkutan dan peralatan fisik lainnya. Dalam hal ini disebut juga
pembentukan modal fisik. Pembentukan modal mempunyai arti penting bagi
negara sedang berkembang, dimana proses pembentukan modal menghasilkan
output nasional.
Dalam proses pertumbuhan ekonomi semakin disadari bahwa tidak hanya
modal fisik yang dibutuhkan, tetapi perlu adanya modal manusia. Kotler (1997)
menyatakan bahwa perekonomian suatu bangsa dipengaruhi oleh anugerah
ekonomis yang dimiliki oleh suatu bangsa yang mencakup sumber daya alam,
jumlah penduduk, human capital, modal fisik, tekhnologi dan infrastruktur.
dengan ekspor produk-produk lain atau dengan pinjaman luar negeri. Kualitas
sumber daya manusia terutama untuk mengantisipasi kehidupan global yang sarat
dengan persaingan. Mengingat faktor sumber daya manusia ini sangat dominan
dalam menentukan keberhasilan pembangunan suatu bangsa, maka tidak
mengherankan jika sumber daya manusia menjadi isu utama dalam perencanaan
pembangunan.
Beberapa alasan pembangunan sumber daya manusia menjadi sangat
penting dalam pembangunan nasional diantaranya:
1. Semakin dirasakan perlunya berorientasi pada nilai tambah dan
menghasilkan produksi nasional yang lebih kompetitif dalam rangka
meningkatkan produktivitas nasional dan meningkatkan pertumbuhan
ekonomi sebagai upaya memelihara dan meningkatkan pembangunan yang
berkelanjutan.
2. Perkembangan pembangunan yang semakin cepat dan kompleks serta
perkembangan globalisasi berupa keterbukaan hubungan antar negara baik
di bidang ekonomi, industrialisasi, perdagangan serta kemajuan di bidang
ilmu pengetahuan dan tekhnologi.
3. Proses pembangunan ekonomi sekarang ini sedang mengalami masa
transisi dari ekonomi yang dipengaruhi oleh budaya agraris kepada
ekonomi yang dipengaruhi budaya industri dalam waktu yang relatif
singkat
Pembangunan sumber daya manusia ini dapat dilakukan melalui investasi
untuk proses pendidikan maupun pengeluaran untuk meningkatkan kualitas
kesehatan masyarakat itu sendiri. Pemerintah Indonesia sendiri telah
mengalokasikan dana untuk pembangunan manusia yang tertuang dalam APBN
untuk skala nasional dan di dalam APBD untuk skala daerah tingkat I dan II
dimana pengeluaran ini digolongkan kepada pengeluaran pembangunan yang
membiayai sektor pendidikan dan kesehatan. Di dalam APBN maupun APBD,
selain di bidang pendidikan dan kesehatan, pengeluaran pembangunan ini meliputi
beberapa bidang lain diantaranya: bidang hukum, bidang ekonomi, bidang
pembangunan daerah, bidang agama, bidang politik dan beberapa bidang lainnya.
Namun yang dianggap mempunyai dampak secara langsung terhadap masyarakat
ataupun individu-individu adalah pengeluaran di bidang pendidikan dan
kesehatan, karena pengeluaran di bidang ini dapat mendorong dan meningkatkan
kualitas dari masyarakat itu sendiri.
Anggaran pembangunan di bidang pendidikan dan kesehatan merupakan
salah satu upaya yang ditempuh pemerintah untuk meningkatkan kualitas dan
daya saing sumber daya manusia yang ada. Salah satu indikator yang sering
dijadikan sebagai tolak ukur kualitas manusia adalah tingkat pendidikannya,
dimana semakin tinggi tingkat pendidikannya, maka kualitas dan skillnya
dianggap semakin tinggi pula. Dampak alokasi anggaran pembangunan di bidang
pendidikan dapat diamati melalui pertambahan angkatan kerja dengan kualifikasi
yang juga meningkat. Semakin meningkatnya jumlah angkatan kerja dengan
tingkat pendidikan sekolah menengah maupun dengan tingkat pendidikan diploma
peningkatan. Kondisi Di Sumatera Utara sendiri memiliki lebih banyak angkatan
kerja dengan kualifikasi pendidikan menengah dibandingkan dengan angkatan
kerja dengan kualifikasi tinggi, hal ini menunjukkan bahwa daya beli masyarakat
terhadap pendidikan masih sangat rendah. Ada beberapa hal yang menyebabkan
kondisi ini diantaranya yang paling utama adalah masalah biaya pendidikan untuk
memperoleh pendidikan di level yang lebih tinggi lagi. Pemerintah diharapkan
mampu mengambil langkah-langkah yang tepat agar lebih banyak masyarakat
yang mampu memiliki kualifikasi pendidikan dengan tingkat yang tinggi.
Angkatan kerja dengan kualifikasi pendidikan yang tinggi dianggap mampu
memberikan sumbangan yang lebih besar pula terhadap pembangunan ekonomi.
Memperhatikan perkembangan yang terjadi selama ini maka upaya
mempersiapan penduduk sebagai sumber daya yang memiliki kemampuan dan
bijaksana dalam mengelola sumber daya yang ada serta mampu menghadapi
tantangan, merupakan suatu keharusan. Oleh karena itu strategi dasar dalam
pembangunan sumber daya manusia adalah bagaimana mengubah penduduk yang
pada mulanya dianggap sebagai beban unutk kemudian menjadi pelaku
pembangunan.
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka penulis
tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “Pengaruh modal fisik dan
sumber daya manusia terhadap PDRB Sumatera Utara” 1.2. Perumusan Masalah
Dengan memperhatikan latar belakang yang telah diuraikan diatas dapat
1. Bagaimanakah pengaruh investasi yaitu pengeluaran pemerintah
khususnya anggaran pembangunan di sektor pendidikan dan kesehatan
tahun sebelumnya terhadap peningkatan PDRB Sumatera Utara?
2. Bagaimanakah pengaruh akumulasi modal fisik tahun sebelumnya
terhadap peningkatan PDRB Sumatera Utara?
3. Bagaimanakah pengaruh jumlah angkatan kerja produktif berpendidikan
menengah dan tinggi terhadap peningkatan PDRB Sumatera Utara?
1.3. Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara dari permasalahan yang menjadi
objek peneliti dimana tingkat kebenarannya masih perlu diuji. Berdasarkan
perumusan masalah di atas, maka hipotesis yang dikemukakan penulis adalah
sebagai berikut:
1. Investasi yaitu pengeluran pemerintah khususnya anggaran pembangunan
di sektor pendidikan dan kesehatan tahun sebelumnya berpengaruh positif
terhadap peningkatan PDRB Sumatera Utara, Cateris Paribus ( >0).
2. Akumulasi modal fisik tahun sebelumnya berpengaruh positif terhadap
peningkatan PDRB Sumatera Utara, Cateris Paribus ( >0).
3. Angkatan kerja produktif dengan tingkat pendidikan menengah dan tinggi
berpengaruh positif terhadap peningkatan PDRB Sumatera Utara, Cateris
1.4 .Tujuan Penelitian
Secara umum penelitian ini bertujuan:
1. Untuk mengetahui pengaruh akumulasi modal fisik tahun sebelumnya,
investasi yaitu pengeluaran pemerintah di sektor kesehatan dan pendidikan
tahun sebelumnya dan angkatan kerja produktif dengan tingkat pendidikan
menengah dan tinggi terhadap PDRB Sumatera Utara, serta untuk
mengetahui kontribusi masing-masing variabel tersebut terhadap PDRB
Sumatera Utara.
2. Untuk mengetahui variabel manakah dalam penelitian ini yang paling
dominan mempengaruhi peningkatan PDRB Sumatera Utara.
1.5. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk:
1. Menambah khasanah ilmu pengetahuan, khususnya tentang pengaruh
investasi yaitu pengeluaran pemerintah di sektor kesehatan dan pendidikan
dan akumulasi modal fisik terhadap peningkatan PDRB atau pertumbuhan
ekonomi Sumatera Utara.
2. Sebagai bahan acuan terutama yang berminat untuk melengkapi kajian
mengenai pengaruh modal fisik dan investasi yaitu pengeluaran
pemerintah di sektor kesehatan dan pendidikan dengan ruang lingkup yang
lebih luas.
3. Sebagai proses pembelajaran dan menambah wawasan ilmiah penulis
BAB II
URAIAN TEORITIS 2.1Pertumbuhan ekonomi
2.1.1 Pengertian pertumbuhan ekonomi
Secara umum pengertian pertumbuhan ekonomi didefenisikan sebagai
suatu peningkatan kemampuan dari suatu perekonomian dalam memproduksi
barang atau jasa. Pertumbuhan ekonomi adalah salah satu indikator yang amat
penting dalam melakukan analisis tentang pembangunan ekonomi yang terjadi
pada suatu negara. Pertumbuhan ekonomi menunjukkan sejauh mana aktifitas
perekonomian akan menghasilkan tambahan pendapatan masyarakat pada suatu
periode tertentu. Karena pada dasarnya aktifitas ekonomi adalah suatu proses
penggunaan faktor-faktor produksi untuk menghasilkan output maka prosoes ini
pada gilirannya akan menghasilkan suatu aliran balas jasa terhadap faktor
produksi yang dimiliki oleh masyarakat. Dengan adanya pertumbuhan ekonomi,
maka diharapkan pendapatan masyarakat selaku pemilik faktor produksi juga
akan mengalami peningkatan.
Perekonomian dianggap mengalami pertumbuhan jika seluruh balas jasa
riil terhadapa penggunaan faktor produksi pada tahun tertentu lebih besar daripada
pendapatan riil masyarakat tahun sebelumnya.
Menurut Simon Kuznets, pertumbuhan ekonomi adalah kenaikan kapasitas
dalam jangka panjang dari negara yang bersangkutan untuk menyediakan berbagai
barang ekonomi kepada penduduknya. Kenaikan kapasitas itu sendiri akan
institutional (kelembagaan) dan ideologis terhadap barbagai tuntutan keadaan
yang ada.
Kenaikan output secara berkesinambungan adalah manifestasi atau
perwujudan dari apa yang disebut pertumbuhan ekonomi, sedangkan kemampuan
menyediakan berbagai jenis barang itu sendiri merupakan tanda kematangan
ekonomi di suatu negara yang bersangkutan.
Perkembangan tekhnologi merupakan dasar atau prakondisi bagi
berlangsungnya suatu pertumbuhan ekonomi secara berkesinambungan, tetapi
tidak cukup itu saja, masih dibutuhkan faktor-faktor lain. Guna mewujudkan
potensi yang terkandung di dalam tekhnologi, maka perlu diadakan serangkaian
penyesuaian kelembagaan, sikap dan ideologi. ( Michael P Todaro,2000:144).
2.1.2 Teori-teori pertumbuhan ekonomi
1. Teori Pertumbuhan Klasik
Teori ini dipelopori oleh Adam Smith, David Ricardo, Malthus dan John
Stuart Mill. Menurut teori ini perumbuhan ekonomi dipengaruhi oleh empat faktor
yaitu jumlah penduduk, jumlah barang modal, luas tanah dan kekayaan alam serta
tekhnologi yang digunakan. Mereka lebih menaruh perhatiannya pada pengaruh
pertumbuhan penduduk terhadap pertumbuhan ekonomi. Mereka asumsikan luas
tanah dan kekayaan alam serta tekhnologi tidak mengalami perubahan. Teori yang
menjelaskan keterkaitan antara pendapatan perkapita dengan jumlah penduduk
disebut dengan teori penduduk optimal.
Menurut teori ini pada mulanya pertambahan penduduk akan
bertambah maka hukum hasil lebih yang semakin berkurang (law of diminishing
returns) akan mempengaruhi fungsi produksi yaitu produksi marjinal akan
mengalami penurunan, dan akan membawa pada keadaan pendapatan perkapita
sama dengan produksi marjinal. Pada keadaan ini pendapatan perkapita mencapai
kondisi yang maksimal. Jumlah penduduk pada waktu itu dinamakan penduduk
optimal. Apabila jumlah penduduk terus meningkat melebihi titik optimal, maka
pertumbuhan penduduk akan menyebabkan penurunan nilai pertumbuhan
ekonomi.
2. Teori Pertumbuhan Harrod-Domar
Teori Harrod-Domar adalah perkembangan langsung dari teori makro
Keyness jangka pendek menjadi suatu teori makro jangka panjang. Aspek utama
yang dikembangkan oleh teori Keyness adalah aspek yang menyangkut peranan
investasi (I) dalam jangka panjang. Harrod – Domar melihat pengaruh investasi
dalam jangka waktu yang lebih panjang. Menurut kedua ekonom ini, pengeluaran
investasi (l) tidak hanya mempunyai pengaruh terhadap permintaan agregat (Z),
tetapi juga terhadap penawaran agregat (S) melalui pengaruhnya terhadap
kapasitas produksi. Dalam perspektif waktu yang lebih panjang ini, l menambah
stok kapital. Jadi l = ΔK, dimana K adalah stok kapital dalam masyarakat. Ini
berarti pula peningkatan kapasitas produksi masyarakat.
3. Teori Pertumbuhan Neo-Klasik
Robert Solow dan Trevor Swan mengembangkan model pertumbuhan
ekonomi yang sering disebut model pertumbuhan neo-klasik. Model Solow-Swan
kapital, kemajuan tekhnologi dan output saling berinteraksi dalam proses
pertumbuhan ekonomi.
Ada 4 anggapan yang melandasi model neo-klasik :
• Tenaga kerja (L), tumbuh dengan laju tertentu, misalnya p per tahun
• Adanya fungsi produksi Q= F (K,L) yang berlaku bagi setiap periode.
• Adanya kecenderungan menabung oleh masyarakat.
• Semua tabungan masyarakat diinvestasikan S = I = ΔK
4. Teori Pertumbuhan Schumpeter
Schumpeter berpendapat bahwa motor penggerak perkembangan ekonomi
adalah suatu proses yang ia beri nama inovasi dan pelakunya adalah para
inovator. Menurut Schumpeter, yang lebih menarik dan lebih penting adalah
kenaikan output yang bersumber dari perkembangan ekonomi. Perkembangan
ekonomi adalah kenaikan output yang disebabkan oleh inovasi yang dilakukan
oeh para wiraswasta.
Inovasi mempunyai tiga pengaruh, yang pertama adalah diperkenalkannya
teknologi baru, yang kedua, inovasi menimbulkan keuntungan lebih yang
merupakan sumber dana penting bagi akumulasi kapital. Yang ketiga, inovasi
akan diikuti oleh timbulnya proses imitasi.
Menurut Schumpeter ada lima (5) macam kegiatan yang termasuk sebagai
inovasi, yaitu:
• Diperkenalkannya produk baru yang sebelumnya tidak ada.
• Diperkenalkannya cara berproduksi baru.
• Penemuan sumber-sumber bahan mentah baru.
• Perubahan organisasi industri sehingga meningkatkan efisiensi industri.
2.1.3 Perhitungan tingkat pertumbuhan ekonomi
Dalam perhitungan pendapatan nasional dikenal ada tiga pendekatan yaitu
pendekatan pengeluaran (expenditure approach), pendekatan pendapatan (income
aproach), dan pendekatan produksi (production approach).
1. Pendekatan Pengeluaran
Pendekatan pengeluaran adalah suatu pendekatan dimana produk nasional
diperoleh dengan cara menjumlahkan nilai pasar dari seluruh permintaan akhir
atas output yang dihasilkan dalam perekonomian. Dengan kata lain, produk
nasional diperoleh dengan cara menjumlahkan nilai pasar dari permintaan sektor
rumah tangga untuk barang-barang konsumsi dan jasa-jasa (C), pengeluaran
sektor bisnis untuk barang-barang investasi (I), pengeluaran pemerintah (G) dan
pengeluaran sektor luar negeri untuk ekspor dan impor (X-M). secara matematis,
dapat dirumuskan sebagai berikut:
Y = C + G + I + (X-M)
2. Pendekatan Pendapatan
Pendekatan pendapatan adalah suatu pendekatan dimana pendapatan
nasional diperoleh dengan cara menjumlahkan pendapatan dari berbagai faktor
produksi yang menyumbang terhadap faktor produksi. Dalam hal ini pendapatan
nasional adalah penjumlahan dari unsur-unsur atau jenis-jenis pendapatan sebagai
• Kompensasi untuk pekerja, yang terdiri dari upah dan gaji dan merupakan
komponen terbesar dari pendapatan nasional.
• Keuntungan perusahaan, yang merupakan kompensasi kepada pemilik
perusahaan, dimana sebagian dipergunakan untuk membayar pajak
keuntungan perusahaan, sebagian lagi dibagikan kepada pemegang saham
dan sebagian lagi ditabung oleh perusahaan.
• Pendapatan usaha perorangan, yang merupakan kompensasi untuk
penggunaan tenaga kerja.
• Pendapatan sewa, yang merupakan kompensasi untuk para pemilik tanah.
• Bunga netto, terdiri atas bunga yang dibayar oleh perusahaan dikurangi
bunga yang diterima oleh perusahaan ditambah bunga netto yang diterima
dari luar negeri.
Secara matematis, pendapatan nasional dapat dirumuskan sebagai berikut:
NI = Yw + Yr + Yi + Yπr + Yπd
Dimana Yw menunjukkan pendapatan dari upah, gaji, dan pendapatan
lainnya sebelum dikenakan pajak, Yr adalah pendapatan bersih dari sewa, Yi
adalah pendapatan dari bunga. Yπr , Yπd adalah pendapatan dari keuntungan
perusahaan dan pendapatan lain sebelum pengenaan pajak.
3. Pendekatan Produksi
Dengan pendekatan produksi pendapatan nasional diperoleh dengan
menjumlahkan nilai pasar dari seluruh barang dan jasa yang dihasilkan oleh
berbagai sektor di dalam perekonomian. Secara matematis dapat dinyatakan
Y=
Dimana:
Y = pendapatan nasional
P = harga barang dari unit ke-1 hingga unit ke-n
Q = jumlah barang dari jenis ke-1 sampai jenis ke-n
Dengan perkataan lain, pendapatan nasional diperoleh dengan
menjumlahkan nilai tambah (value added) yang dihasilkan oleh berbagai sektor
perekonomian. Dalam hal ini pendapatan nasional merupakan penjumlahan dari
nilai tambah di sektor pertanian, ditambah nilai tambah di sektor pertambangan
dan seterusnya sektor-sektor perekonomian.
Y =
Dimana VA adalah nilai tambah (value added) sektor-sektor perekonomian (mulai
dari sektor ke-1 sampai dengan sektor ke-n).
2.1.4. Faktor-Faktor Pertumbuhan Ekonomi
Proses pertumbuhan ekonomi pada dasarnya ditentukan dan dipengaruhi
oleh dua faktor yaitu faktor ekonomi dan nonekonomi.
• Faktor Ekonomi
a. Sumber Daya Alam (SDA)
Yang dimaksud dengan sumber daya alam meliputi luas dan kesuburan
tanah, letak dan susunannya, kekayaan hutan, sumber mineral, iklim, sumber air,
sumber lautan dan sebagainya. Bagi pertumbuhan ekonomi, ketersediaan sumber
daya alam yang melimpah adalah sangat baik dalam menunjang pembangunan.
tersebut kurang dimanfaatkan sebaik-baiknya, dalam arti pemanfaatannya tidak
terarah secara tepat. Jika SDA yang tersedia itu tidak digunakan secara tepat,
maka tidaklah mungkin negara yang bersangkutan akan mengalami kemajuan
ekonomi sebagaimana yang diharapkan.
b. Sumber Daya Manusia (SDM)
Sumber daya manusia merupakan faktor terpenting dalam pertumbuhan
ekonomi. Pertumbuhan ekonomi tidak semata-mata tergantung pada jumlah
sumber daya manusia saja, tetapi lebih menekankan kepada efisiensi mereka.
Untuk mendorong agar sumber daya manusia dapat bekerrja secara efisien dan
maksimal, maka diperlukan pembentukan modal insani, yaitu proses peningkatan
ilmu pengetahuan, keterampilan dan kemampuan seluruh penduduk negara /
wilayah yang bersangkutan. Proses ini mencakup kesehatan, pendidikan dan
pelayanan sosial pada umumnya. Sehingga pada kondisi dimana penduduk dapat
berproduktifitas secara efisien, akan mendorong laju pertumbuhan ekonomi.
c. Akumulasi Modal
Permodalan merupakan persediaan faktor produksi yang secara fisik dapat
dihasilkan atau direproduksi. Jika stok modal tersebut meningkat dalam jangka
waktu tertentu dikatakan terjadinya pembentukan modal. Akumulasi modal inilah
yang serba kekurangan di negara-negara berkembang, sedangkan modal ini
memegang peranan penting dalam menunjang perumbuhan ekonomi.
d. Tenaga Manajerial dan Organisasi Produksi
Organisasi produksi merupakan bagian penting dalam proses pertumbuhan
berbagai kegiatan perekonomian. Organisasi produksi ini dilaksanakan dan diatur
oleh tenaga manajerial dalam berbagai kegiatannya sehari-hari. Dan dalam
perkembangan dan pertumbuhan ekonomi, para wiraswasta (enterpreneur) tampil
sebagai tenaga organisator dalam menggerakkan berbagai sumber produksi dalam
proses produksi dengan memperkenalkan penemuan baru yang dikenal sebagai
inovasi.
e. Faktor dan Pemanfaatan Teknologi
Kemajuan teknologi merupakan faktor yang penting dalam proses
pertumbuhan ekonomi. Dan perubahan atau kemajuan teknologi tersebut dapat
meningkatkan produktifitas tenaga kerja, modal dan faktor produksi lainnya.
f. Pembagian Kerja dan Perluasan Skala Produksi
Pembagian kerja dan spesialisasi dalam proses produksi akan
menimbulkan peningkatan produktifitas. Kedua hal ini akan membawa perubahan
ke arah usaha produksi skala besar, yang selanjutnya akan dapat membantu
perkembangan dan kemajuan produksi serta pertumbuhan ekonomi dalam
masyarakat.
• Faktor Nonekonomi
a. Faktor Politik dan Administrasi Pemerintahan
Struktur dan situasi politik serta admiistrasi pemerintahan yang lemah
merupakan faktor penghambat yang besar bagi pertumbuhan ekonomi
negara-negara berkembang. Politik yang tidak stabil serta pemerintahan yang lemah dan
korup sangat menghambat kemajuan ekonomi.
Aspek sosial budaya dalam kehidupan masyarakat meliputi antara lain
sikap, tingkah laku, pandangan masyarakat, motivasi kerja, kelembagaan
masyarakat dan hal-hal lainnya yang berkaitan dengan itu. Sebagai ilustrasi,
misalnya pendidikan dan kebudayaan barat membawa pemikiran dan pandangan
ke arah penalaran, sikap dan skeptisme, dan semangat untuk menghasilkan
penemuan baru, yang kesemuanya dapat menunujang pertumbuhan ekonomi.
c. Susunan dan Tertib Hukum
Susunan dan tertib hukum serta pelaksanaan hukum dan peraturan
perundang-undangan yang keliru sering kali menghambat kemajuan ekonomi,
sehingga tidak mendukung terlaksananya pertumbuhan ekonomi. Sehubungan
dengan itu maka hukum harus dilaksanakan secara tertib dan konsekuen, yang
ditujukan untuk menunjang pertumbuhan ekonomi.
2.1.5 Produk Domestik Regional Bruto
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) adalah jumlah seluruh nilai
produk barang dan jasa yang dihasilkan oleh unit-unit produksi yang beroperasi
pada suatu daerah dalam jangka waktu tertentu. Atau apabila ditinjau dari segi
pendapatan merupakan jumlah pendapatan yang diterima oleh faktor-faktor
produksi yang dimiliki oleh penduduk di wilayah tersebut yang ikut serta dalam
proses produksi dalam jangka waktu tertentu.
Hasil perhitungan PDRB disajikan atas dasar harga berlaku (at current
price) merupakan jumlah seuruh nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh
dengan harga tahun yang bersangkutan. Pada perhitungan atas dasar harga berlaku
masih terdapat faktor inflasi di dalamnya.
Perhitungan atas harga konstan (at constant price) menggambarkan
perubahan volume / kuantum produksi saja. Pengaruh perubahan harga telah
dihilangkan dengan cara menilai dengan harga suatu tahun dasar tertentu. Pada
perhitungan atas dasar harga konstan ini, faktor inflasi telah dihilangkan. Cara
perhitungan PDRB menurut harga konstan dapat dilakukan dengan rumus berikut
ini:
PDBHKx = . PDBHBx
Keterangan:
HKx = Harga konstan
HBx = Harga berlaku
IHKx = Indeks Harga Konsumen
100 = IHK tahun dasar
X = tahun tertentu
Ada beberapa cara yang lazim digunakan dalam perhitungan pendapatan suatu
daerah, yakni:
a. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas Dasar Harga Pasar
Diperoleh dengan menjumlahkan nilai tambah bruto yang timbul dari
seluruh perekonomian suatu daerah. Nilai tambah bruto di sini mencakup
b. Produk Domestik Regional Netto atas Dasar Harga Pasar
Perbedaan antara konsep “bruto” dan konsep “netto” adalah karena pada
konsep bruto, faktor penyusutan masih termasuk di dalamnya, sedangkan pada
konsep netto, faktor penyusutan telah dikeluarkan. Penyusutan yang dimaksud
adalah nilai susut barang-barang modal yang terjadi selama ikut serta dalam
proses produksi. Jika nilai susut barang-barang modal dari seluruh faktor ekonomi
dijumlahkan, maka hasilnya merupakan “penyusutan” yang dimaksud di atas.
2.2 Sumber Daya Manusia
2.2.1. Pengertian Sumber Daya Manusia
Gagasan pembentukan sumber daya manusia adalah benar-benar baru.
Pengertian sumber daya manusia adalah manusia yang mampu bekerja untuk
memberikan jasa guna memenuhi kebutuhan masyarakat. Pembentukan sumber
daya manusia karenanya dikaitkan dengan investasi pada manusia dan
pengembangannya sebagai suatu sumber yang kreatif dan produktif.
Para ekonom berpendapat bahwa langkanya investasi pada sumber daya
manusia merupakan penyebab lambannya pertumbuhan negara terbelakang.
Tanpa mengembangkan pendidikan, pengetahuan dan keterampilan maka
produktifitas akan merosot. Karena itu, sumber daya manusia diperlukan untuk
menyiapkan tenaga-tenaga pemerintahan yang semakin penting unuk
memperkenalkan sistem baru penggunaan lahan dan metode baru pertanian, untuk
membangun peralatan baru komunikasi, untuk melaksanakan industrialisasi dan
proses perubahan dari masyarakat statis atau tradisional, memerlukan sejumlah
besar sumber daya manusia.
2.2.2 Masalah Pengembangan Sumber Daya Manusia
Pengembangan sumber daya manusia akhir-akhir ini menjadi perhatian
para pakar ilmu ekonomi. Banyak Negara industri maupun Negara industri baru
memusatkan perhatiannya pada investasi sumber daya manusia. Seperti pernah
dituturkan oleh Harry Oshima bahwa Negara-negara asia timur berkembang lebih
cepat dibandingkan dengan Negara-negara asia tenggara (kecuali Singapura)
disebabkan oleh perbedaan tingkat kualitas manusianya.
Sejak tahun 1960-an perkembangan ilmu ekonomi mengalami perubahan
orientasi, karena memperlihatkan objek bahasan baru tentang pentingnya
pembentukan sumber daya manusia dalam proses pembangunan. Faktor manusia
yang sulit dikuantifikasi kontribusinya terhadap pembangunan ekonomi dan
banyak diabaikan oleh kelompok ekonom klasik maupun struktulis, ternyata
memainkan peranan kunci. Theodore Schultz, pakar ilmu ekonomi pemenang
nobel, memulai kajian tentang sumber daya manusia ini sejak tahun 1960-an,
yang menekankan pentingnya pembentukan sumber daya manusia dalam
pembangunan.
Kekurangan mendasar dalam sumber daya manusia inilah yang biasa
dijumpai di negara tengah berkembang pada umumnya. Biasanya
Negara-negara tengah berkembang mengalami dua masalah pokok dalam pembangunan
ekonomi. Pertama, kekurangan tenaga-tenaga ahli di sektor modernnya dan kedua,
Seperti dikemukakan oleh Harbison, kekurangan tenaga kerja berkeahlian
biasanya mudah dideteksi dalam beberapa kategori, antara lain sebagai berikut:
• Di kebanyakan Negara sedang berkembang kekurangan tenaga ahli
biasanya terlihat pada bidang-bidang yang sangat diperlukan seperti
ilmuwan, insinyur, dokter dan beberapa ahli lainnya.
• Biasanya juga terlihat adanya kekurangan teknisi dan tenaga lapangan. Ini
biasanya lebih kritis, karena pemuda di Negara berkembang tidak terbiasa
kerja keras di lapangan.
• Kekurangan tenaga profesional di bidang manajemen dan administrasi
baik di sektor swasta maupun sektor pemerintah.
Ketiga masalah inilah yang dinilai menjadi bagian paling kritis dalam
proses pembangunan di Negara-negara dunia ketiga. Yang dibutuhkan adalah
bagaimana mengembangkan proses akumulasi sumber daya manusia, dalam arti
menambah jumlah dan kualitas orang-orang yang ahli, berketerampilan,
berpendidikan, berpengalaman pada bidang-bidang yang sangat diperlukan dalam
proses pertumbuhan ekonomi.
Ini sulit dilakukan dan tampaknya tidak relevan untuk memacu
perkembangan secepat itu mengingat keadaan sumber daya manusia
negara-negara sedang berkembang masih terbelakang. Tetapi yang terpenting adalah
bagaimana membangun pertumbuhan kualitas sumber daya manusia baik dari segi
keterampilan (skill) maupun budaya kerjanya (culture of work). Yang pertama
kedua dikembangkan dengan pembangunan pendidikan formal maupun non
formal dan pembangunan politik secara umum.
Kualitas sumber daya manusia menjadi faktor yang menerangkan mengapa
suatu Negara dapat berkembang pesat. Misalnya ketika ilmu pengetahuan
berkembang sangat lambat di lingkungan masyarakat, maka kualitas penduduknya
akan senantiasa rendah.
Harbison berpendapat bahwa agar investasi di bidang pendidikan lebih
berdaya guna bagi pertumbuhan yang cepat, kepada pria dan wanita harus
diberikan rangsang yang memadai untuk melibatkan diri pada kegiatan-kegiatan
produktif untuk mempercepat proses modernisasi. Status dan gaji yang diberikan
kepada para pekerja harus sesuai dengan kebutuhan perekonomian.
Beberapa masalah pengembangan sumber daya manusia di Negara-negara
sedang berkembang diantaranya:
• Penduduk yang tumbuh dengan pesat
• Pengangguran yang meningkat di sektor perekonomian modern dan
meluasnya pengangguran pada pertanian tradisional
• Langkanya tenaga manusia dengan keterampilan dan pengetahuan yang
diperlukan bagi pembangunan nasional
• Organisasi dan lembaga yang tidak memadai untuk memobilisasi usaha
manusia
• Kurangnya rangsangan bagi masyarakat untuk melibatkan diri pada
Salah satu masalah yang paling penting di bidang pengembangan sumber daya
manusia adalah dalam bidang pendidikan. Para ahli ekonomi menyarankan
kriteria sebagai berikut:
1. Kriteria Tingkat Pengembalian
Pendidikan sebagai suatu investasi mempunyai dua komponen yaitu
komponen konsumsi masa depan dan komponen penghasilan masa depan.
Investasi di bidang keterampilan dan pengetahuan menaikkan penghasilan masa
depan, sementara kepuasan yang diperoleh dari pendidikan merupakan komponen
konsumsi. Jadi dalam menghitung pengembalian investasi di bidang pendidikan,
komponen penghasilan masa depan harus benar-benar diperhatikan. Metode yang
dipakai berdasarkan perbandingan antara penghasilan hidup rata-rata orang yang
lebih bependidikan dengan orang-orang yang kurang berpendidikan, yang bekerja
dengan prrofesi yang sama.
2. Kriteria Sumbangan Pendidikan Pada Pendapatan Nasional
Menurut kriteria ini, investasi di bidang pendidikan ditentukan oleh
sumbangannya dalam menaikkan pendapatan nasional bruto. Schultz menelaah
sumbangan pendidikan pada perumbuhan nasional di Amerika Serikat dari tahun
1900 sampai dengan 1956 adalah 33,5 lebih banyak daripada investasi fisik.
3. Peran Sumber Daya Manusia
Faktor manusia diakui sebagai faktor yang dominan mempengaruhi setiap
aspek pembangunan. Harry Oshima menilai bahwa Indonesia di satu sisi kurang
pendidikan yang relatif rendah. Di Asia timur, seperti Jepang dan Korea selatan,
faktor pendidikan memberikan sumbangan besar terhadap pertumbuhan ekonomi.
Di Negara-negara sedang berkembang, sumber daya manusia, khususnya
yang berkenaan dengan keterampilan dan pengetahuan sering tidak dipandang
sebagai bentuk kekayaan. Padahal menurut Schumacher, sumber daya manusia
merupakan faktor kunci dalam pembangunan. Karena betapa pentingnya sumber
daya manusia dan peningkatan kualitassnya, Schultz mempelopori agar sumber
daya manusia dijadikan salah satu bentuk modal dalam ilmu ekonomi.
1. Pendidikan
Profil Pendidikan
Pendidikan adalah berkenaan dengan pengembangan pengetahuan serta
keahlian dan keterampilan dari manusia maupun tenaga kerja dalam proses
pembangunan. Karena kontribusinya yang sangat besar dalam pembangunan
ekonomi, maka pendidikan dikatakan sebagai modal manusia.
Pada dasarnya terdapat tiga jenis pendidikan yatu pendidikan formal,
pendidikan nonformal dan pendidikan informal.
1. pendidikan formal merupakan pendidikan yang diselenggarakan di
sekolah, Dan pendidikan formal ini dapat dikembangkan secara
berkelanjutan baik di dalam maupun di luar sekolah.
2. pendidikan nonformal dapat dipandang sebagai program pendidikan yang
terorganisasi yang berlangsung di luar sekolah. Biasanya program
pendidikan nonformal ini waktunya lebih pendek, difokuskan pada
pengetahuan aplikasi daripada yang terdapat pada program pendidikan
formal.
3. pendidikan informal merupakan pendidikan yang berlangsung di luar
kerangka lembaga pendidikan formal maupun di luar program pendidikan
yang terorganisasi. Dalam hal ini orang-orang mempelajari berbagai hal
yang penting di rumah, di tempat kerja dan di lingkungan masyarakat.
Mekanisme kelembagaan utama dalam pengembangan keahlian dan
pengetahuan adalah sistem pendidikan formal. Perluasan kesempatan memperoleh
pendidikan dipandang merupakan kunci utama dalam mencapai keberhasilan
pembangunan nasional. Semakin meningkat pendidikan semakin cepat terjadinya
proses pembangunan untuk mencapai pertumbuhan yang tinggi. Namun demikian,
perluasan dan kesempatan sistem pendidikan formal perlu diprogramkan dan
dilaksanakan secara terarah sehingga dapat disesuaikan dengan kebutuhan
pembangunan nasional.
Di banyak negara berkembang masalah pokok yang dihadapi di bidang
pendidikan adalah:
• kekurangan tenaga kerja professional, seperti insinyur, manajer dan dokter
• kekurangan tenaga kerja professional di atas terjadi karena berbagai hal,
antara lain tidak cukupnya jumlah lembaga yang mendidik tenaga
professional itu secara memadai.
Kekurangan yang kritis akan tenaga teknis, guru, perawat dan sebagainya karena
jumlah teknisi yang diperlukan jauh lebih banyak daripada julah tenaga kerja
professional dan jumlah tenaga kerja berkualifikasi untuk memasuki lembaga
teknis yang lebih menyukai masuk perguruan tinggi. Dan dalam hal ini terdapat
permasalahan kurangnya persiapan dan kurangnya fasilitas yang diperlukan.
o Ilmu ekonomi tentang pendidikan
Pendidikan yang diterima seseorang, disamping banyak dipengaruhi oleh
faktor yang melatarbelakangi, sebagian besar dapat dipandang ditentukan oleh
permintaan dan penawarannya. Dari sisi permintaan terdapat dua hal penting yang
paling berpengaruh terhadap jumlah pendidikan yang diinginkan, yaitu harapan
bagi seorang murid yang didik untuk mendapatkan penghasilan yang lebih baik
pada masa yang mendatang dan biaya pendidiakn yang harus dikeluarkan oleh
murid atau keluarga yang bersangkutan.
Dari sisi penawaran, jumlah sekolah pada tingkat SD, SMP, SMA dan
perguruan tinggi ditentukan oleh proses atau pertimbangan politis, yang sering
kali tidak banyak sangkut pautnya dengan pertimbangan ekonomi. Namun
penawaran atau penyediaan sekolah oleh pemerintah ditentukan oleh keterbatasan
anggaran pengeluaran pemerintah untuk bidang pendidikan, dan pada akhirnya
akan dipengaruhi pula oleh permintaan agregat masyarakat terhadap pendidikan.
Permintaan akan pendidikan yang cukup untuk mendapatkan pekerjaan di
sektor modern pada dasarnya ditentukan oleh kombinasi dari variabel-variabel
1. Perbedaan tingkat upah
2. Ini terutama berkaitan dengan perbedaan upah atau tingkat penghasilan
antara sektor modern dengan sektor tradisional
3. Kemungkinan keberhasilan mendapatkan pekerjaan di sektor modern
4. Biaya-biaya pendidikan individual yang bersifat langsung, misalnya uang
sekolah, biaya pembelian buku dan sebagainya.
5. Biaya-biaya pendidikan tidak langsung
Di negara-negara berkembang, biaya-biaya sosial dari pendidikan meningkat
cepat dengan semakin banyaknya para murid yang ingin mengecap pendidikan
yang lebih tinggi. Yang dimaksud dengan biaya sosial pendidikan disini adalah
biaya oportunitas yang harus ditanggung masyarakat seluruhnya sebagai akibat
dari keiinginannya untuk meningkatkan besarnya pembiayaan dan perluasan
pendidikan yang mahal dengan dana yang mungkin dapat lebih produktif jika
seandainya digunakan pada bidang atau sektor ekonomi lainnya. Sedangkan biaya
pribadi disini adalah biaya yang ditanggung langsung oleh si anak didik.
2. Kesehatan dan pertumbuhan ekonomi
Pada teori permintaan konvensional diajukan asumsi bahwa konsumen
mempunyai cukup informasi untuk melakukan pemilihan barang yang akan
dikonsumsi secara optimal dalam mencapai utiliti maksimum, namun model
tersebut tidak berlaku secara sempurna pada pasar pelayanan kesehatan. Hal ini
terjadi arena karakteristik komoditi kesehatan yaitu ketidaksempurnaan informasi,
keterbatasan pengetahuan (lack of knowledge), ketidakpastian permintaan,
(non-excludeability), bahaya moral dan tergolong barang mutu jasa atau merit goods
(Tjipto dan Soesetyo,1994).
Membicarakan kesehatan tidak hanya mempersoalkan pelayanan
kesehatannya saja, melainkan akan berkaitan dengan kesejahteraan seluruh
masyarakat. Pemerintah harus bertindak mengatur pasar komoditi kesehatan guna
menghindarkan konsumen menanggung kerugian besar akibat kerugian dalam
melakukan pemilihan konsumsi komoditi pelayanan kesehatan.
Tjiptoherijanto (1994) menyatakan bahwa secara umum sumber
pembiayaan kesehatan berasal dari pemerintah, swasta, lembaga komersil dan
pengeluaran langsung oleh rumah tangga. Porsi terbesar dari segi kuantitas
pembiayaan kesehatan secara nasional berasal dari pengeluaran langsung oleh
rumah tangga. Program-program di bidang kesehatan dan pendidikan lebih
berhubungan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
3. Ketenagakerjaan
* Pengertian Ketenagakerjaan
Yang dimaksud dengan tenaga kerja dalah penduduk pada usia kerja
(15-64 tahun) yang secara potensial dapat bekerja. Tenaga kerja terdiri dari angkatan
kerja dan bukan angkatan kerja. Angkatan kerja adalah penduduk yang bekerja
dan yang tidak bekerja tetapi siap untuk mencari kerja. Sedangkan yang tergolong
bukan angkatan kerja adalah mereka yang sedang bersekolah, ibu rumah tangga
dan golongan lain-lain penerima pendapatan.
• Mereka yang selama seminggu sebelum pencacahan melakukan pekerjaan
atau bekerja dengan maksud memperoleh penghasilan paling sedikit satu
jam dalam seminggu yang lalu dan tidak boleh terputus
• Mereka yang selama seminggu sebelum pencacahan tidak melakukan
pekerjaan, tetapi mereka adalah pekerja tetap, pegawai-pegawai
pemerintahan atau swasta yang sedang tidak masuk bekerja, petani-petani
yang tidak bekerja karena sedang menunggu panenan dan orang-orang
yang bekerja di bidang keahlian seperti dokter, tukang pangkas dan
sebagainya
Sedangkan yang termasuk ke dalam kelompok penganggur dalah mereka yang
tidak bekerja dan sedang mencari pekerjaan menurut referensi waktu tertentu.
• Tingkat partisipasi angkatan kerja
Tingkat partisipasi kerja (TPK) adalah perbandingan antara jumlah angkatan kerja
dengan penduduk dalam usia kerja dalam kelompok yang sama. TPK adalah
jumlah angkatan kerja dibagi dengan jumlah tenaga kerja dalam kelompok yang
sama.
TPK =
Semakin besar TPK, semakin besar jumlah angkatan kerja dalam kelompok yang
sama. Sebaliknya semakin besar jumlah penduduk yang masih bersekolah dan
yang mengurus rumah tangga, semakin besar jumlah yang tergolong bukan
Dengan demikian terdapat beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi TPK,
antara lain:
- Jumlah penduduk yang masih bersekolah
- Jumlah penduduk yang mengurus rumah tangga
- Umur
- Tingkat upah
- Tingkat pendidikan
o Permintaan dan Penawaran Kerja
1. Permintaan Tenaga Kerja
Sehubungan dengan tenaga kerja, permintaan adalah hubungan antara
tingkat upah dan kuantitas tenaga kerja. Kurva permintaan menggambarkan
jumlah maksimum tenaga kerja yang seorang pengusaha bersedia untuk
mempekerjakannya pada setiap kemungkinan tingkat upah dalam jangka waktu
tertentu.
Gambar 1
Kurva permintaan tenaga kerja
U
Kita dapat mengidentifikasikan determinasi permintaan:
- Tingkat upah
Tingkat upah merupakan biaya kurva diperhitungkan untuk titik optimal kuantitas
TK yang akan digunakan. Makin tinggi tingkat upah, semakin sedikit jumlah
tenaga kerja yang diminta (cateris paribus), demikian juga sebaliknya.
- teknologi
kemampuan menghasilkan tergantung teknologi yang dipergunakan. Makin
efektif teknologi makin besar artinya bagi tenaga kerja dalam mengaktualisasikan
kemampuannya.
- produktifitas
produktifitas tergantung modal yang dipakai. Keleluasaan modal yang dipakai
akan menaikkan produktifitas tenaga kerja.
- Kualitas tenaga kerja
Latar belakang pendidikan dan pengalaman kerja merupakan indeks kualitas
tenaga kerja.
2. Penawaran Tenaga Kerja
Penawaran tenaga kerja merupakan fungsi yang menggambarkan
hubungan antara tingkat upah dengan jumlah tenaga kerja yang ditawarkan.
Jumlah tenaga kerja yang disediakan bagi perekonomian tergantung pada jumlah
penduduk, persentase jumlah penduduk yang memilih masuk angkatan kerja,
2.3.Pembentukan Modal
2.3.1 Pengertian dan jenis-jenis pembentukan modal
Modal berarti persediaan faktor produksi yang secara fisik dapat
direproduksi. Menurut Nurske, “pembentukan modal adalah masyarakat tidak
melakukan seluruh kegiatannya saat ini sekedar unutk memenuhi kebutuhan dan
keinginan konsumsi yang mendesak, tetapi mengarahkan sebagian daripadanya
untuk pembuatan barang-barang modal, alat-alat dan perlengkapan, mesin dan
fasilitas pengangkutan, pabrik dan peralatannya” pembentukan modal ini disebut
juga dengan investasi.
Dalam ekonomi pembangunan, investasi ini lebih banyak ditinjau dari segi
prouktifitasnya. Dalam hubungan ini barang-barang modal dapat diklasifikasikan:
1. Economic directly productive capital, yaitu barang-barang modal yang
secara langung dapat menghasilkan produksi, seperti bangunan pabrik,
lahan pertanian, mesin-mesin dan lain-lain.
2. Economic overhead capital yaitu barang-barang yang menjadi dasar atau
landasan bagi perekonomian yang secara tidak langsung dapat
menghasilkan produksi, seperti fasilitas transportasi, pelabuhan, saluran
irigasi dan lain-lain.
3. Social overhead capital yaitu barang-barang modal yang menjadi dasar
atau sarana penting bagi keperluan masyarakat yang secara tidak langsung
bermanfaat dalam usaha meningkatkan produksi, seperti perumahan,
Ada tiga unsur yang perlu diperhatikan dalam pembentukan modal atau investasi,
yaitu:
1. Expected Return
Yaitu hasil yang diharapkan dari suatu pebentukan modal tertentu. Hal ini
logis bagi investor yang mengiginkan hasil di masa mendatang dari tindakan
penanaman modal. Hasil yang diharapkan dari suatu pembentukan modal sering
disebut MEC (Marjinal Efficiency of Capital). Jika MEC lebih tinggi dari tingkat
bunga (i) maka kecenderungan menanam modal tinggi. Sebaliknya apabila
interest lebih tinggi dari MEC, maka investor tidak akan tertarik untuk
menanamkan modalnya.
2. Return and Risk
Yaitu tindakan yang tidak terlepas dari hasil perhitungan hasil dan resiko.
Dalam pembentukan modal, investor sangat peka terhadap return dan risk.
Seandainya investor tahu dan sadar bahwa resiko penanaman modal saat ini jauh
lebih besar daripada hasil yang akan diraih, disebabkan tingginya tingkat inflasi
yang dapat mengurungkan niat investor untuk menanamkan modalnya.
3. The Time Factor
Jangka waktu pembentukan modal merupakan unsur penting bagi seorang
investor. Oleh karena itu dalam melakukan pembentukan modal, investor harus
mempertimbangkan apakah pembentukan modal tersebut bersifat jangka panjang,
menengah atau pendek, dan hasil yang diperoleh apakah lama atau tidak.
Menurut Schumpeter, pembentukan modal dibagi dalam dua jenis yaitu:
Yaitu pembentukan modal yang dilakukan bukan berdasarkan besar
kecilnya pendapatan nasional. Walaupun pendapatan nasional rendah,
pembentukan modal ini dapat dilakukan dengan memperhatikan tingkat bunga,
teknologi, ramalan masa mendatang, keuntungan yang dicapai oleh perusahaan.
Malah pembentukan modal ini ditujukan untuk menaikkan pendapatan nasional.
2. Inducement Invesment (pembentukan modal terpengaruh)
Yaitu pembentukan modal yang tergantung pada besar kecilnya
pendapatan nasional. Jadi apabila pendapatan nasional (Y) naik, maka penanaman
modal (I) akan meningkat. Adanya peningkatan pendapatan nasional tentunya
akan menaikkan konsumsi masyarakat yang berarti daya beli (D) masyarakat naik
sehinga menjadi dorongan bagi pengusaha untuk melakukan penanaman modal.
Fungsi pembentukan modal ini dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar 2
Hubungan antara investasi dengan pendapatan nasional
Dalam perhitungan pendapatan nasional, pembentukan modal meliputi
hal-hal antara lain seluruh nilai pembelian para pengusaha atas barang dan
perbelanjaan untuk mendirikan industri-industri, pengeluaran masyarakat untuk I = f (Y)
I
mendirikan tempat tinggal dan pertambahan dalam nilai stok barang perusahaan
berupa bahan mentah, barang yang belum selesai diproses dan barang jadi.
2.3.2 Masalah Pembentukan Modal
Di negara berkembang, tingkat pembentukan modal umumnya rendah.
Alasannya karena negara tersebut kekurangan faktor yang menentukan
pembentukan modal. Alasan pokok rendahnya tingkat pembentukan modal adalah
sebagai berikut:
• Pendapatan rendah
Tabungan yang besar penting bagi pembentukan modal, dan tabungan
bergantung pada besarnya pendapatan.
• Kependudukan
Negara berkembang memiliki permasalahan penduduk yang membuat laju
pembentukan modal tetap rendah. Laju pertumbuhan penduduk sangat
tinggi, sedangkan di lain pihak pendapatan perkapita rendah.
• Kekurangan wiraswasta
Kurangnya kemampuan wiraswasta merupakan faktor lain penyebab
rendahnya laju pembentukan modal di negara terbelakang.
• Ketimpangan dalam distribusi pendapatan
Ketimpangan di dalam distribusi pendapatan turut menjadi penyebab
• Pasar sempit
Pasar yang sempit merupakan alasan penyebab rendahya laju
pembentukan modal. Pasar sempit merupakan penghalang bagi tumbuhnya
usaha dan inisiatif. Dengan demikian, pasar yang sempit menghalangi
investasi karena pasar domestik mempunyai kemampuan yang terbatas
untuk menyerap penawaran suatu produk baru.
• Keterbelakangan ekonomi
Keterbelakangan ekonomi juga merupakan penyebab rendahnya laju
pembentukan modal. Efisiensi buruh yang rendah, spesialisasi dan aktifitas
berusaha yang terbatas, mencegah naiknya laju pembentukan modal.
• Keterbelakangan teknologi
Keterbelakangan teknologi juga menghalangi laju pembentukan modal.
Sebagai akibat dari rendahnya teknik memproduksi, produktifitas per unit
buruh dan produktifitas per unit modal tetap rendah.
Proses pembentukan modal menyangkut tiga langkah, yaitu meningkatkan volume
tabungan nyata, mengerahkan tabungan melalui lembaga kredit dan keuangan dan
menginvestaikan tabungan adapun yang menjadi sumber pembentukan modal
adalah sumber internal dan eksternal. Yang menjadi sumber internal adalah
kenaikan pendapatan nasional, penggalakan tabungan, pendirian lembaga
keuangan, tabungan desa dan sebagainya. Sedangkan sumber eksternal adalah
2.3.4 Teori Pembentukan Modal
a. Teori Investasi Keynes
Jhon Maynard Keynes mendasarkan teori tenteng permintaan investasi
atas konsep efisiensi marjinal kapital ( Marginal Efficiency of Capital atau MEC).
MEC dapat didefinisikan sebagai tingkat perolehan bersih yang diharapkan atas
pengeluaran kapital tambahan. Tepatnya MEC adalah tingkatan diskonto yang
menyamakan aliran perolehan yang diharapkan di masa yang akan datang dengan
biaya sekarang dari kapital tambahan. Investasi akan dilakukan jika tingkat
perolehan bersih yang diharapkan lebh besar daripada biaya peminjaman dana
atau tingkat bunga atau jika MEC > i. sedangkan hubungan antara permintaan
investasi dan tingkat bunga oleh Keynes dinyatakan dalam bentuk fungsi sebagai
berikut:
I = f(i)
Secara grafik, hubungan antara investasi dan tingkat bunga dapat
digambarkan di halaman selanjutnya
Gambar 3
Kurva permintaan investasi
Tingkat bunga (i)
Investasi (I) i1
i2
Dalam gambar di atas terlihat bahwa apabila tingkat bunga turun misalnya dari i1
ke i2 akan menyebabkan permintaan investasi meningkat dari i1 ke i2, dan hal
yang sebaliknya akan berlaku kalau tingkat bunga mengalami kenaikan.
b. Teori Akselerator
Teori ini memusatkan perhatiannya pada hubungan antara permintaan
akan barang modal (capital goods) dan permintaan akan produk akhir (final
produk), dimana permintan akan barang modal dilihat sebagai permintaan turunan
dari permintaan akan barang atau produk akhir.
Dalam bentuknya yang paling sederhana, teori tersebut mulai dengan
mengasumsikan adanya capital-output ratio (COR) yang tertentu, yang ditentukan
oleh kondisi teknis produksi.
c. Teori neo klasik
Menurut teori ini, stok kapital yang diinginkan ditentukan oleh output dan
harga dari jasa kapital relatif terhadap harga output. Harga jasa kapital bergantung
pada harga barang-barang modal, tingkat bunga dan perlakuan pajak atas
pendapatan perusahaan. Teori ini mengatakan bahwa tingkat bunga merupakan
BAB III
METODE PENELITIAN 3.1 Ruang lingkup Penelitian
Penelitian memfokuskan kajian pada tiga variabel bebas yaitu akumulasi
modal fisik tahun sebelumnya (X1(t-1)), pengeluaran pemerintah di sektor
pendidikan dan kesehatan tahun sebelumnya (X2(t-1)), jumlah angkatan kerja (X3)
yang dianggap mempengaruhi pertumbuhan PDRB Sumatera Utara.
3.2 Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data yang bersifat
kuantitatif yaitu data yang berbentuk angka-angka. Sedangkan sumber data yang
digunakan dalam penelitian adalah data sekunder. Data sekunder merupakan data
yang diperoleh langsung melalui hasil laporan-laporan dari suatu penelitian.
Disamping itu data lainnya yang mendukung penelitian ini diperoleh dari sumber
bacaan seperti: buletin penelitian, jurnal, majalah dan buku bacaan. Data yang
digunakan dalam penelitian ini adalah data time series yang berkurun waktu 24
tahun (1984-2007).
3.3 Metode dan teknik pengumpulan data
Dalam penyusunan skripsi ini, penulis menggunakan metode kepustakaan
(library search) yaitu penelitian yang dilakukan dengan bahan-bahan kepustakaan
berupa tulisan-tulisan ilmiah, dan laporan-laporan penelitian ilmiah yang memiliki
Teknik pengumpulan data yang dipergunakan adalah dengan melakukan
pencatatan langsung berupa data time series dalam kurun waktu selama 24 tahun
(1984-2007).
3.4 Model Analisis Data
Dalam menganalisis besarnya pengaruh variabel-variabel bebas terhadap
variabel terikat digunakan model ekonometrika dengan meregresikan
variabel-variabel yang ada dengan menggunakan metode Ordinary Least Square (OLS).
Variabel-variabel tersebut ditransformasikan ke dalam bentuk fungsi, kemudian
selanjutnya dibuat persamaan regresinya.
Y = f (X1(t-1), X2(t-1), X3)...( 1 )
Kemudian fungsi di atas ditransformasikan ke dalam model ekonometrika dengan
persamaan regresi liniear berganda dalam bentuk model distributed lag sebagai
berikut:
logY = α + β1X1(t-1) + β2X2(t-1) + β3X3 + μ ……….( 2 )
dimana:
Y = produk domestik regional bruto sumatera utara (milyar rupiah)
α = intercept / konstanta
X1(t-1) = pembentukan modal fisik tahun sebelumnya (milyar Rupiah)
X2(t-1) = Investasi yaitu pengeluaran pemerintah di sektor kesehatan dan
pendidikan tahun sebelumnya (milyar Rupiah)
X3 = Angkatan kerja produktif berpendidikan menengah dan tinggi
β1,β2,β 3 = Koefisien Regresi
3.5 test of goodnes of fit
3. 5. 1 Koefisien Determinasi (R²)
Uji ketepatan perkiraan (R²) dilakukan untuk mendeteksi ketepatan paling
baik dari garis regresi. Uji ini dilakukan dengan melihat besarnya nilai koefisien
determinasi R² merupakan besaran nilai non negatif. Besarnya nilai koefisien
determinasi adalah antara nol sampai dengan 1 (0 ≤R²≤1). Koefisien determinasi
bernilai nol berarti tidak ada hubungan antara variabel independen dengan
variabel dependen, sebaliknya nilai koefisien determinasi 1 berarti suatu
kecocokan sempurna dari ketepatan pekiraan model.
3. 5. 2 Uji F (Overall Test)
Uji F dilakukan untuk mengetahui pengaruh variabel independen secara
bersama-sama terhadap variabel dependen. Hipotesa yang dipakai sebagai berikut:
• Ho: b1 = b2 = b3 = 0, artinya secara bersama-sama tidak ada pengaruh
variabel independen terhadap variabel dependen.
• Ha: b1 ≠ b2 ≠ b3 ≠ 0, artinya secara bersama-sama ada pengaruh variabel
independen terhadap variabel dependen.
Cara menentukan kriteria dengan membandingkan nilai F hitung dengan F tabel
sebagai berikut:
Jika F hitung > F tabel maka Ho ditolak dan Ha diterima artinya semua
variabel independen secara bersama-sama merupakan penjelas yang signifikan
3. 5. 3 Uji t (Partial Test)
Uji statistik t (uji parsial) pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh
pengaruh satu variabel bebas secara individual dalam menerangkan variasi
variabel dependen dengan hipotesa sebagai berikut:
• Hipotesis nol atau Ho: bi = 0 artinya variabel independen bukan
merupakan penjelas yang signifikan terhadap variabel dependen.
• Hipotesis alternatif atau Ha: bi ≠ 0 artinya variabel independen
merupakan penjelas yang signifikan terhadap variabel dependen.
Untuk mengetahui kebenaran hipotesis digunakan kriteria bila t hitung > t tabel
maka menolak Ho dan menerima Ha artinya ada pengaruh antara variabel
dependen terhadap variabel independen dengan derajat keyakinan yang digunakan
adalah α = 1 %, α = 5%, α = 10 %, dan begitu pula sebaliknya.
3. 6. Uji Asumsi Klasik 3.6.1 Multikoliniearity
Multikoliniearity adalah alat untuk mengetahui suatu kondisi, apakah
terdapat korelasi diantara variabel independen. Untuk mengetahui ada tidaknya
multikoliniearity dapat dilihat dari nilai R-Square, F-hitung, t-hitung, serta standar
error.
Adanya multikoliniearity ditandai dengan:
a. Standar error tidak terhingga
b. Tidak ada satupun t-statistik yang signifikan pada α = 5%, α =10%, α =