RUMAH TJONG A FIE SALAH SATU OBJEK WISATA
BANGUNAN BERSEJARAH DI KOTA MEDAN
KERTAS KARYA
OLEH
FRANSISKA UTAMA
082204021
PROGRAM STUDI D3 PARIWISATA
FAKULTAS SASTRA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
LEMBAR PENGESAHAN
Judul Kertas Karya
: RUMAH TJONG A FIE SALAH SATU
OBJEK WISATA BANGUNAN
BERSEJARAH DI KOTA MEDAN
Oleh
: Fransiska Utama
NIM
: 082204021
FAKULTAS SASTRA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Dekan,
Dr. Syahron Lubis, MA
NIP. 19511013 197603 1 001
PROGRAM STUDI D3 PARIWISATA
Ketua,
LEMBAR PERSETUJUAN
RUMAH TJONG A FIE SALAH SATU OBJEK WISATA
BANGUNAN BERSEJARAH DI KOTA MEDAN
OLEH
FRANSISKA UTAMA
082204021
Dosen Pembimbing,
Dosen Pembaca,
ABSTRAK
Pariwisata adalah salah satu komoditi penting yang menunjang dan berdampak besar terhadap perekonomian suatu negara, karena melalui sektor pariwisata, pemerintah menrima pendapatan berupa devisa negara. Saat ini Indonesia sedang berusaha untuk mengembangkan dan mempromosikan objek-objek wisata di provinsi lain ke dunia internasional. Indonesia merupakan suatu negara yang kaya akan budaya, pemandangan alam yang indah serta bangunan-bangunan bersejarah yang sangat diminati oleh wisatawan lokal maupun internasional. Salah satu provinsi yang mempunyai banyak bangunan-bangunan bersejarah adalah Provinsi Sumatera Utara tepatnya di Kota Medan. Rumah Tjong A Fie adalah salah satu dari sekian banyak bangunan bersejarah di Kota Medan. Rumah ini dibangun dengan menggunakan tiga campuran arsitektur yaitu China, Eropa dan Melayu. Keunikan dari arsitektur China terdapat di ukiran-ukiran kayu yang ada di pintu rumah, atap dan perabotannya. Keunikan dari arsitektur Eropa terdapat di perabotan-perabotannya sedangkan keunikan dari arsitektur Melayu terdapat di bentuk-bentuk jendelanya serta beberapa perabotan-perabotan.
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Pengasih atas kasih dan
anugrah yang telah dilimpahkan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan kertas karya
ini.
Kertas karya ini merupakan tugas akhir yang wajib dilaksanakan oleh setiap
mahasiswa Program Studi Pariwisata untuk memenuhi salah satu syarat dalam
menyelesaikan studi diploma III Ahli Madya Pariwisata di Fakultas Sastra Universitas
Sumatera Utara.
Atas bimbingan dan berbagai pengetahuan yang penulis terima selama mengikuti
perkuliahan sampai penyelesaian kertas karya ini, penulis mengucapkan terima kasih
kepada :
1. Bapak Dr. Syahron Lubis, MA, selaku Dekan Fakultas Sastra Universitas
Sumatera Utara.
2. Ibu Arwina Sufika, SE., M.Si., selaku Ketua Program Program Studi
D-III Pariwisata Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara dan dosen
pembimbing yang memberikan bimbingan dan saran kepada penulis
selama penyusunan kertas karya ini..
3. Bapak Solahuddin Nasution, SE., M.SP, selaku koordinator praktek
4. Seluruh staf pengajar dan pegawai pada program Studi D-III Pariwisata,
yang telah memberikan banyak ilmu kepada penulis selama perkuliahan.
5. Terkhusus buat mama Juni Untung, dan juga semua keluargaku. Terima
kasih buat doa dan dukungan serta kasih saying yang telah diberikan
selama ini.
6. Buat kawan-kawan UW stambuk ’08 Yolanda Lumban Tobing, Mardiana
Nainggolan, Intan purnamasari, Jahrona, Lenni Dora Barus, Kasih dan
lain-lain yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu terima kasih buat
semuanya.
Penulis menyadari bahwa kertas karya ini masih jauh dari sempurna.
Maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk
memperbaiki kertas karya ini.
Akhir kata penulis berharap kertas karya ini dapat member manfaat bagi
semua pihak yang membacanya.
Medan, Maret 2011
Penulis
DAFTAR ISI
ABSTRAK ... i
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... iv
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Tujuan Pembahasan ... 2
1.3 Batasan Masalah ... 3
1.4 Metode Penelitian ... 3
1.5 Sistematika Penulisan ... 4
BAB II URAIAN TEORITIS TENTANG KEPARIWISATAAN DAN HERITAGE TOURISM 2.1 Pengertian Pariwisata dan Industri Pariwisata ... 6
2.1.1 Pengertian Pariwisata ... 6
2.1.2 Pengertian Industri Pariwisata ... 8
2.2.1 Sarana Kepariwisataan ... 10
2.2.2 Prasarana Kepariwisataan ... 12
2.3 Jenis-jenis Pariwisata ... 14
2.4 Benyuk-bentuk Pariwisata ... 17
2.5 Motivasi melakukan perjalanan wisata ... 19
2.6 Pengertian Heritage ... 20
2.6.1 Peraturan pemerintah mengenai Heritage ... 22
2.7 Peraturan pemerintah untuk pelestarian bangunan bersejarah ... 28
BAB III GAMBARAN UMUM DAN SEJARAH TJONG A FIE 3.1 Sejarah Tjong A Fie ... 30
3.2 Potensi Rumah Tjong A Fie sebagai objek wisata ... 36
3.3 Upaya pengembangan Rumah Tjong A Fie sebagai Cagar Budaya ... 37
BAB IV RUMAH TJONG A FIE SALAH SATU OBJEK WISATA BANGUNAN BERSEJARAH DI KOTA MEDAN 4.1 Keunikan dari Rumah Tjong A Fie ... 40
4.1.2 Keunikan dari Segi Arsitektur ... 42
4.1.3 Keunikan dari segi budaya ... 44
4.2 Upaya pemerintah setempat mengembangkan dan menjaga Rumah Tjong A Fie salah satu bangunan bersejarah di Kota Medan ... 45
4.3 Kendala yang dihadapi ... 46
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan ... 49
5.2 Saran ... 50
DAFTAR PUSTAKA ... 52
ABSTRAK
Pariwisata adalah salah satu komoditi penting yang menunjang dan berdampak besar terhadap perekonomian suatu negara, karena melalui sektor pariwisata, pemerintah menrima pendapatan berupa devisa negara. Saat ini Indonesia sedang berusaha untuk mengembangkan dan mempromosikan objek-objek wisata di provinsi lain ke dunia internasional. Indonesia merupakan suatu negara yang kaya akan budaya, pemandangan alam yang indah serta bangunan-bangunan bersejarah yang sangat diminati oleh wisatawan lokal maupun internasional. Salah satu provinsi yang mempunyai banyak bangunan-bangunan bersejarah adalah Provinsi Sumatera Utara tepatnya di Kota Medan. Rumah Tjong A Fie adalah salah satu dari sekian banyak bangunan bersejarah di Kota Medan. Rumah ini dibangun dengan menggunakan tiga campuran arsitektur yaitu China, Eropa dan Melayu. Keunikan dari arsitektur China terdapat di ukiran-ukiran kayu yang ada di pintu rumah, atap dan perabotannya. Keunikan dari arsitektur Eropa terdapat di perabotan-perabotannya sedangkan keunikan dari arsitektur Melayu terdapat di bentuk-bentuk jendelanya serta beberapa perabotan-perabotan.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pariwisata adalah salah satu komoditi penting yang menunjang dan
berdampak besar terhadap perekonomian suatu negara, karena melalui sektor pariwisata,
pemerintah menerima pendapatan berupa devisa negara. Begitu juga bagi Indonesia,
meskipun sudah memiliki Bali sebagai salah satu objek wisata yang sangat terkenal, saat
ini Indonesia sedang berusaha untuk mengembangkan dan mempromosikan objek-objek
wisata di provinsi lain ke dunia internasional. Indonesia merupakan suatu negara yang
kaya akan budaya, pemandangan alam yang indah, bangunan-bangunan bersejarah yang
sangat diminati oleh wisatawan lokal maupun internasional.
Salah satu provinsi yang mempunyai potensi pariwisata yang
menjanjikan adalah Provinsi Sumatera Utara dengan ibukotanya Medan. Kota Medan
dikenal sebagai kota ke-4 terbesar di Indonesia yang dihuni oleh masyarakat dari
berbagai suku, agama, bahasa yang hidup berdampingan. Kota Medan juga memiliki
banyak objek wisata, salah satunya adalah bangunan bersejarah yang sangat diminati
oleh wisatawan mancanegara maupun wisatawan lokal yang terletak di pusat kota
Medan. Banyaknya bangunan-bangunan bersejarah disebabkan karena Indonesia
dulunya dijajah oleh tiga negara sehingga arsitektur bangunan yang dibangun pada masa
itu disesuaikan dengan bangsa yang menjajah Indonesia serta adanya penggunaan tenaga
Salah satu bangunan bersejarah yang terkenal di Kota Medan adalah rumah Tjong A Fie.
Rumah Tjong A Fie memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan
bangunan-bangunan bersejarah lainnya yang masih dijaga keaslian bangunan-bangunannya serta perabotan di
dalam rumah tersebut. Selain itu masih banyak lagi keunikan yang menjadi daya tarik
yang terdapat di rumah Tjong A Fie ini. Oleh sebab itu, penulis memilih judul “Rumah
Tjong A Fie Salah Satu Objek Wisata Bangunan Bersejarah Di Kota Medan” agar
masyarakat lebih mengetahui mengenai bangunan bersejarah ini.
1.2 Tujuan Pembahasan
Adapun tujuan dalam penulisan kertas karya ini adalah :
1. Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Ahli Madya program
Diploma III Pariwisata bidang keahlian Usaha Wisata di Fakultas Sastra
Universitas Sumatera Utara.
2. Untuk memperkenalkan Rumah Tjong A Fie sebagai salah satu bangunan
bersejarah sebagai objek wisata di Kota Medan yang berpotensi
mengembangkan pariwisata di Kota Medan.
3. Untuk menambah wawasan bagi pembaca umumnya dan bagi penulis
1.3 Batasan Masalah
Agar penulisan kertas karya ini tetap terarah, maka penulis memfokuskan
pembahasan tentang :
1. Kepariwisataan Indonesia serta potensi-potensi pariwisata yang
ada di Indonesia.
2. Informasi umum serta objek-objek wisata yang ada di Provinsi
Sumatera Utara.
3. Keunikan dan daya tarik dari rumah Tjong A Fie.
4. Upaya pemerintah dalam mengembangkan serta menjaga keaslian
rumah Tjong A Fie sebagai salah satu objek wisata bangunan
bersejarah di Kota Medan.
1.4 Metode Penelitian
a. Library research (penelitian kepustakaan), yakni
pengumpulan data-data yang berasal dari buku-buku, artikel-artikel dan media
massa yang berkaitan dengan topik pembahasan.
pengumpulan data-data yang dilakukan dengan cara mewawancarai langsung
masyarakat sekitar, pengelola yang bertanggung jawab, dinas pariwisata dan
penulis langsung ke lokasi.
1.5 Sistematika Penulisan
Dalam penulisan kertas karya ini, penulis menyusun sistematika pembahasan
dalam lima bab, dan pembahasan tiap-tiap bab dibagi kedalam sub-sub bab. Sistematika
pembahasan tersebut adalah sebagai berikut :
Bab I : Pendahuluan,
meliputi Latar Belakang, Tujuan Pembahasan, Batasan Masalah,
Metode Penelitian, serta Sistematika Penulisan.
Bab II : Uraian Teoritis,
membahas mengenai pengertian pariwisata, jenis-jenis pariwisata,
bentuk-bentuk pariwisata, motivasi melakukan suatu perjalanan wisata,
cagar budaya, peraturan pemerintah untuk pelestarian bangunan
bersejarah.
Bab III : Gambaran Umum Tjong A Fie,
meliputi sejarah Tjong A Fie, potensi rumah Tjong A Fie sebagai objek
wisata, program-program pengembangan rumah Tjong A Fie sebagai
Bab IV : Rumah Tjong A Fie salah satu objek wisata bangunan bersejarah di
Kota Medan, yang
membahas keunikan dari rumah Tjong A Fie, upaya pemerintah setempat
dalam mengembangkan dan menjaga rumah Tjong A Fie sebagai salah
satu bangunan bersejarah di Kota Medan.
Bab V : Penutup
Meliputi kesimpulan dan saran.
Daftar Pustaka
BAB II
URAIN TEORITIS TENTANG KEPARIWISATAAN DAN
HERITAGE TOURISM
2.1. Pengertian Pariwisata dan Industri Pariwisata
2.1.1 Pengertian Pariwisata
Pariwisata berasal dari bahasa Sansekerta yaitu kata “pari“ yang berarti halus
maksudnya mempunyai tata krama tinggi dan “wisata“ yang berarti kunjungan atau
perjalanan untuk melihat, mendengar, menikmati dan mempelajari sesuatu. Jadi
pariwisata berarti menyuguhkan suatu kunjungan secara bertatakrama dan berbudi.
Dalam Pasal 1 Undang-Undang Nomor 10 tahun 2009 tentang Kepariwisataan
dijelaskan pengertian pariwisata yaitu “berbagai macam kegiatan wisata dan didukung
berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, pemerintah
dan pemerintah daerah“.
Beberapa defenisi tentang pariwisata akan dikemukakan sebagai berikut :
1. Menurut Pendit (2006)
2. Menurut Fandeli (2001), pariwisata merupakan keseluruhan kegiatan, proses dan
kaitan-kaitan yang berhubungan dengan perjalanan dan persinggahan dari
orang-orang di luar tempat tinggalnya serta tidak dengan maksud mencari nafkah.
3. Menurut Matheison dan Wall (dalam Fandeli, 2001), pariwisata atau tourism
adalah fenomena yang meliputi perpindahan ke dan tempat tujuan di luar tempat
tinggal sehari-hari.
4. Menurut Yoeti (2000), pariwisata merupakan segala sesuatu yang berhubungan
dengan wisata terutama pengusahaan objek dan daya tarik wisata serta usaha
yang terkait dengan bidang tersebut.
5. Menurut Prof. Hunziker dan Prof. Krapf (Bapak Ilmu Pariwisata), pariwisata
adalah sejumlah hubungan dan gejala yang dihasilkan dari tinggalnya
orang-orang asing, asalkan tinggalnya mereka itu tidak menyebabkan timbulnya tempat
tinggal serta usaha-usaha yang bersifat permanen sebagai usaha mencari kerja
penuh.
Dari beberapa definisi pariwisata di atas, beberapa unsur pokok pariwisata adalah
a. Perjalanan pariwisata ke suatu tempat yang bukan tempat asalnya atau tempat
tinggalnya.
b. Perjalanan pariwisata ke suatu tempat bukan dengan tujuan untuk tinggal dan
bekerja secara permanen.
c. Pariwisata membutuhkan pihak lain dalam penyediaan fasilitas-fasiltas yang
diperlukan oleh wisatawan yang datang berkunjung ke suatu tempat.
d. Perjalanan pariwisata harus memiliki unsur rekreasi atau bersenang-senang
e. Orang yang melakukan perjalanan itu harus sebagai konsumen.
2.1.2 Pengertian Industri Pariwisata
Pengertian kata industri di sini bukanlah suatu tempat untuk mengubah bahan
mentah menjadi barang jadi. Namun pengertian kata industri di sini lebih cenderung
memberikan pengertian industri pariwisata yang artinya kumpulan dari berbagai macam
perusahaan yang secara bersama-sama menghasilkan barang dan jasa (Goods and
Services) yang dibutuhkan wisatawan khususnya dan travel pada umumnya.
Beberapa pengertian mengenai industri pariwisata dapat dikemukakan sebagai
berikut :
Industri pariwisata adalah industri yang kompleks, yang meliputi industri-industri lain. Dalam kompleks industri-industri pariwisata terdapat industri-industri perhotelan, industri rumah makan, industri kerajinan/cendera mata, industri perjalanan dan sebagainya. Konsumen dari industri pariwisata disebut wisatawan.
2. Menurut Kusudianto (1996, p.11),
Industri pariwisata adalah suatu susunan organisasi, baik pemerintah maupun swasta yang terkait dalam pengembangan, produksi dan pemasaran produk suatu layanan yang memenuhi kebutuhan dari orang yang sedang berpergian.
3. Menurut Prof. Dr. Hunzieker (dalam Yoeti, 1996:154),
Industri pariwisata adalah “ Tourism Enterprise are always business entities which by combining various means of production provide goods and service of specially tourists nature “. Maksudnya industri pariwisata adalah semua kegiatan usaha yang terdiri dari bermacam-macam kegiatan produksi barang dan jasa yang diperlukan para wisatawan.
4. Menurut R. S. Damarjati ( dalam Yoeti, 1996:153),
Industri pariwisata adalah rangkumkan dari berbagai bidang usaha yang secara bersama-sama menghasilkan produk maupun jasa yang nantinya secara langsung akan dibutuhkan oleh wisatawan selama perlawatannya.
5. Menurut GA. Schmoll dalam bukunya Tourism Promotion (dalam Yoeti,
1985:143)
kedudukan, letak secara geografis, fungsi, bentuk organisasi yang mengelola dan metode permasalahannya.
Dari definisi-definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa industri pariwisata
adalah kumpulan perusahaan, baik perusahaan swasta maupun pemerintah yang secara
bersama-sama menghasilkan dan memasarkan barang dan jasa yang dibutuhkan
wisatawan pada khususnya dan travellers pada umumnya selama perjalanannya, dan
yang termasuk sebagai industri pariwisata adalah :
- Perusahaan pengangkutan
- Tour Operator / Travel Agent
- Akomodasi
- Bar, Restaurant, Catering Trade
- Souvenir Shop and Handicraft Industry
- Money Changer
- Entertaiment
2.2 Pengertian Sarana dan Prasarana Pariwisata
2.2.1 Sarana Pariwisata
Sarana pariwisata (tourism infrastructure) adalah semua fasilitas yang
memungkinkan agar prasarana kepariwisataan dapat hidup dan berkembang serta dapat
memberikan pelayanan pada wisatawan untuk memenuhi kebutuhan mereka yang
Sarana kepariwisataan merupakan kelengkapan daerah tujuan wisata yang
diperlukan untuk melayani kebutuhan wisatawan dalam menikmati perjalanan
wisatanya. (Suwantono, 2004:22)
Pembangunan sarana kepariwisataan di daerah tujuan wisata maupun objek
wisata tertentu harus disesuaikan dengan kebutuhan wisatawan baik secara kuantitatif
maupun kumulatif. Sarana wisata secara kuantitatif menunjuk pada jumlah sarana wisata
yang harus disediakan, dan secara kualitatif yang menunjukan pada mutu pelayanan
yang diberikan dan tercermin pada kepuasaan wisatawan yang memperoleh pelayanan.
Dalam hubungannya dengan jenis dan mutu pelayanan sarana wisata di daerah tujuan
wisata telah disusun standar wisata yang baku, baik secara nasional maupun secara
internasional, sehingga penyedia sarana wisata tinggal memilih dan menentukan jenis
dan kualitas yang akan disediakan.
Kita mengenal tiga macam sarana kepariwisataan (Yoeti, 1996:199), yakni :
1. Sarana pokok kepariwisataan (Main Tourism Suprastructure) adalah perusahaan yang
usahanya sangat tergantung pada kedatangan wisatawanya. Perusahaan-perusahaan yang
dimaksud adalah perusahaan-perusahaan yang usaha kegiatannya mempersiapkan dan
merencanakan suatu perjalanan wisata seperti : Travel Agent, Tour Operator, Tourist
Transportation. Selain itu perusahaan-perusahaan lain juga dapat memberikan pelayanan
di daerah tujuan kemana wisatawan pergi. Seperti : Hotel, Motel, Cottages dan lain-lain.
Ketentuannya apabila tidak ada wisatawan, maka perusahaan tersebut tidak dapat hidup
2. Sarana pelengkap kepariwisataan (Supllementing Tourism Superstructure) adalah
perusahaan yang menyediakan fasilitas-fasilitas untuk rekreasi yang fungsinya tidak
hanya melengkapi sarana pokok sedemikian rupa, sehingga fungsinya dapat membuat
agar para wisatawan dapat lebih lama tinggal atau di daerah yang dikunjunginya.
Perusahaan ini mendorong wisatawan agar lebih lama tinggal di suatu tempat.
Sarana pelengkap yang dimaksud adalah :
- Sarana olahraga, seperti : golf course, tennis court, swimming pool, daerah
perburuan, pelayaran dan sebagainya.
- Sarana ketangkasan, seperti : Billyard, dan sebagainya.
3. Sarana penunjang kepariwisataan (Supporting Tourism Superstrructure) adalah
perusahaan yang menunjang sarana pelengkap dan sarana pokok yang berfungsi
tidak hanya membuat wisatawan lebih banyak membelanjakan uangnya di
tempat yang dikunjunginya dan yang termasuk dalam kelompok ini adalah :
Night Club, Souvenir Shop, Bioscop, Opera dan Steambath.
2.2.2 Prasarana Kepariwisataan
Prasarana berarti semua fasilitas yang dapat memungkinkan proses
perekonomian dapat berjalan dengan lancer sedemikian rupa sehingga memudahkan
manusia untuk memenuhi kebutuhannya.
Prasarana kepariwisataan adalah sumberdaya alam dan sumberdaya manusia
seperti air, jalan, listrik, telekomunikasi, terminal, jembatan dan lain sebagainya.
(Suwantono, 2004:21)
Menurut Yoeti (1985, p.181), prasarana kepariwisataan adalah semua fasilitas
yang memungkinkan agar sarana kepariwisataan dapat hidup dan berkembang sehingga
dapat memberikan pelayanan untuk memuaskan kebutuhan wisatawan yang beraneka
ragam.
Menurut Prof. Salah Wahab (dalam Yoeti, 1996:192) prasarana dibagi dalam
tiga bagian, yaitu :
1. Prasarana umum (General Infrastructure), yakni prasarana yang menyangkut
orang banyak yang pengadaannya untuk memajukan kelancaran roda
perekonomian seperti pembangkit tenaga listrik, penyediaan air bersih, sistem
irigasi, perhubungan dan lain-lain.
2. Prasarana kebutuhan masyarakat banyak (Basic needs of civil life), misalnya
seperti Rumah sakit, bank dan kantor pos.
3. Prasarana kepariwisataan, adalah prasarana yang menyangkut kepariwisataan.
Prasarana ini dibagi dalam tiga kelompok, yaitu :
a. Receptive Tourist Plan adalah segala bentuk usaha yang mengurus
kedatangan wisatawan seperti BPW dan APW.
b. Resident Tourist Plan adalah segala fasilitas yang menampung wisatawan
c. Rerecreative and Sportive Tourist Plan adalah semua fasilitas yang dapat
digunakan untuk kegiatan olahraga seperti kolam renang, lapangan golf
dan lain-lain.
Menurut Prof. Salah Wahab (dalam Yoeti, 1996:197), prasarana
kepariwisataan adalah semua bentuk perusahaan yang dapat memberikan pelayanan
kepada wisatawan, tetapi hidup dan kehidupannya tidak tergantung kepada wisatawan.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa prasarana kepariwisataan adalah
semua fasilitas yang memungkinkan semua sarana kepariwisataan dapat hidup dan
berkembang, serta dapat memberikan pelayanan kepada wisatawan untuk memenuhi
berbagai kebutuhan mereka dalam perjalanan.
2.3 Jenis-jenis Pariwisata
Pendit (1999:42-48) memperinci penggolongan pariwisata menjadi beberapa
jenis yaitu :
1. Wisata Budaya, adalah perjalanan wisata atas dasar keinginan untuk memperluas
pandangan seseorang dengan mengadakan kunjungan atau peninjauan ke tempat
lain atau ke luar negeri, mempelajari keadaan rakyat, kebiasaan dan adat istiadat
mereka.
2. Wisata Kesehatan, adalah perjalanan seorang wisatawan dengan tujuan untuk
menukar keadaan dan lingkungan tempat sehari-hari di mana ia tinggal demi
mengunjungi tempat peristirahatan seperti mata air panas mengandung mineral
yang dapat menyembuhkan, tempat yang memiliki iklim udara menyehatkan atau
tempat yang memiliki fasilitas-fasilitas kesehatan lainnya.
3. Wisata Olahraga, adalah wisata yang dilakukan dengan tujuan berolahraga atau
memang sengaja bermaksud mengambil bagian aktif sebagai peserta olahraga di
satu tempat atau negara seperti Asian Games, Olympiade, Thomas Cup, Uber
Cup dan lain-lain. Bisa juga olahraga seperti memancing, berburu, berenang.
4. Wisata Komersial, yakni perjalanan untuk mengunjungi pameran-pameran dan
pekan raya yang bersifat komersial, seperti pameran industri, pameran dagang
dan sebagainya.
5. Wisata Industri, yakni perjalanan yang dilakukan oleh rombongan pelajar atau
mahasiswa atau orang-orang awam ke suatu kompleks atau daerah perindustrian
dimana terdapat pabrik-pabrik atau bengkel-bengkel besar dengan maksud tujuan
untuk mengadakan peninjauan atau penelitian, misalnya, rombongan pelajar
yang mengunjungi industri tekstil.
6. Wisata Politik, yakni perjalanan yang dilakukan untuk mengunjungi atau
mengambil bagian aktif dalam peristiwa kegiatan politik, misalnya, ulang tahun
17 Agustus di Jakarta, perayaan 10 Oktober di Moskow, penobatan Ratu Inggris,
perayaan kemerdekaan, kongres atau konvensi politik disertai dengan
7. Wisata Konvensi, yaitu perjalanan yang dilakukan untuk kegiatan konvensi atau
konferensi. Misalnya APEC, KTT non Blok.
8. Wisata Sosial merupakan pengorganisasian suatu perjalanan murah serta mudah
untuk memberi kesempatan kepada golongan masyarakat ekonomi lemah untuk
mengadakan perjalanan seperti kaum buruh, pemuda, pelajar atau mahasiswa,
petani dan sebagainya.
9. Wisata Pertanian merupakan pengorganisasian perjalanan yang dilakukan ke
proyek-proyek pertanian, perkebunan, ladang pembibitan dan sebagainya dimana
wisatawan rombongan dapat mengadakan kunjungan dan peninjauan untuk
tujuan studi maupun melihat-lihat keliling sambil menikmati segarnya tanaman
beraneka ragam warna dan suburnya pembibitan di tempat yang dikunjunginya.
10. Wisata Maritim (Marina) atau Bahari adalah wisata yang dikaitkan dengan
kegiatan olahraga di air, lebih-lebih danau, bengawan, teluk atau laut, seperti
memancing, berlayar, menyelam, berselancar, balapan mendayungdan lainnya.
11. Wisata Cagar Alam adalah wisata ini biasanya diselenggarakan oleh agen atau
biro perjalanan yang mengkhususkan usaha-usaha dengan jalan mengatur wisata
ke tempat atau daerah cagar alam, tanaman lindung, hutan daerah pegunungan
dan sebagainya.
12. Wisata Buru adalah wisata untuk berburu di tempat atau hutan yang telah
ditetapkan pemerintah negara yang bersangkutan sebagai daerah perburuan
13. Wisata Pilgrim adalah wisata yang berkaitkan dengan agama, sejarah,
adat-istiadat dan kepercayaan umat atau kelompok dalam masyarakat ini banyak
dilakukan rombongan atau perorangan ke tempat-tempat suci, ke makam-makam
orang besar, bukit atau gunung yang dianggap keramat, tempat pemakaman
tokoh atau pemimpin yang dianggap legenda. Contoh makam Bung Karno di
Blitar, makam Wali Songo, tempat ibadah seperti Candi Borobudur, Pura
Besakihdi Bali, Sendang Solodi Jawa Tengah dan sebagainya.
14. Wisata Bulan Madu adalah suatu penyelenggaraan perjalanan bagi
pasangan-pasangan, penganti baru yang sedang berbulan madu dengan fasilitas-fasilitas
khusus dan tersendiri demi kenikmatan perjalanan dan kunjungan mereka.
2.4 Bentuk-bentuk Pariwisata
Menurut Pendit (2002:37) bentuk pariwisata dapat dibagi menjadi lima kategori
yaitu menurut asal wisatawan, menurut akibatnya terhadap neraca pembayaran, menurut
jangka waktu, menurut jumlah wisatawan dan menurut alat angkut yang digunakan.
Bentuk-bentuk pariwisata tersebut dijelaskan di bawah ini :
1. Menurut asal wisatawan
Pertama-tama perlu diketahui apakah asal wisatawan dari dalam maupun dari
luar negeri. Kalau asalnya dari dalam negeri sendiri berarti bahwa sang
wisatawan ini hanya pindah tempat sementara di dalam lingkungan wilayah
wisatawan domestik. Sedangkan kalau ia datang dari luar negeri dinamakan
wisatawan internasional.
2. Menurut akibatnya terhadap neraca pembayaran
Kedatangan wisatawan dari luar negeri adalah membawa mata uang asing.
Pemasukan valuta asing ini berarti memberi efek positif terhadap neraca
pembayaran luar negeri suatu negara yang dikunjungi wisatawan, ini disebut
pariwisata aktif. Sedangkan kepergian seorang warganegara ke luar negeri
memberikan efek negatif terhadap neraca pembayaran luar negri negaranya, ini
disebut pariwisata pasif.
3. Menurut jangka waktu
Kedatangan seorang wisatawan di suatu tempat atau negara diperhitungkan pula
menurut waktu lamanya ia tinggal di tempat atau negara yang bersangkutan. Hal
ini menimbulkan istilah pariwisata jangka pendek dan pariwisata jangka panjang,
yang mana tergantung pada ketentuan-ketentuan yang diberlakukan oleh suatu
negara untuk mengukur panjang atau pendeknya waktu yang dimaksud.
4. Menurut jumlah wisatawan
Perbedaan ini diperhitungkan atas jumlah wisatawan yang datang, apakah
wisatawan itu datang sendiri atau dalam suatau rombongan. Maka timbullah
istilah pariwisata tunggal dan pariwisata rombongan.
Kategori ini dapat dibagi menjadi pariwisata udara, pariwisata laut, pariwisata
kereta api dan mobil, tergantung apakah sang wisatwan tiba dengan pesawat
udara, kapal laut, kereta api, atau mobil.
2.5 Motivasi Melakukan Perjalanan Pariwisata
Motivasi adalah dorongan dalam diri seseorang yang menyebabkan melakukan
sesuatu untuk memenuhi kebutuhan secara biologis atau keinginan secara psikologis.
Motivasi yang berbeda ditimbulkan dari kebiasaan dan minat yang berbeda. Demikian
pula dalam berwisata, wisatawan juga mempunyai motivasi yang berbeda dalam
melakukan perjalanan dan menentukan tujuan wisata. Karena itu motivasi-motivasi dan
karakter wisatawan yang berbeda-beda dipadukan dengan jalan mengemas paket-paket
dan tujuan-tujuan wisata.
Menurut Fridgen ( 1996 ), ada empat motivasi yang utama yaitu :
1. Motivasi untuk melarikan diri, yakni
lari dari rutinitas, menghindari stress, lari dari orang-orang sekitar dan dari
norma-norma yang ada.
Contoh : libur akhir pekan, berlibur di sebuah pulau, berlibur sendirian dan
melihat kebudayaan yang baru.
2. Motivasi sosial
Motivasi ini bersifat keinginan untuk berkumpul dengan orang lain, menjalin
Contoh : mengunjungi teman, keluarga, bertemu dengan orang –orang baru,
berlibur seorang diri.
3. Motivasi untuk membandingkan, yakni motivasi yang biasanya dilakukan oleh
petualang untuk mendapatkan simbol status, tantangan fisik, pemuasan secara
internal.
Contoh : mendaki gunung, berlayar dengan kapal pesiar yang mahal, belajar
memanjat tebing, mengumpulkan batuan-batuan unik dari seluruh dunia untuk
koleksi.
4. Motivasi untuk mencari sesuatu yang baru
Penjelajahan, memuaskan rasa penasaran, membangkitkan semangat.
Contoh : mengunjungi negara-negara di belahan bumi lain, jalan-jalan atau arung
jeram.
2.6 Pengertian Heritage
Akhir-akhir ini di dunia pariwisata dikenal istilah ‘wisata heritage’. Namun
pengertian heritage seringkali dipahami terlalu spesifik, yaitu semata-mata berwisata
mengunjungi gedung atau bangunan kuno. Demikian pula, dengan berdirinya klub-klub
pemerhati dan pecinta kota tua yang menggunakan heritage sebagai sebutannya, seperti :
Jakarta Heritage Society, Bandung Heritage Society, hingga Magelang Heritage Society.
gedung-gedung lama (terbatas) peninggalan masa-masa pra kemerdekaan. Padahal pengertian
heritage sesungguhnya cukup luas.
Dalam kamus Inggris-Indonesia susunan John M Echols dan Hassan Shadily,
heritage berarti warisan atau pusaka. Sedangkan dalam kamus Oxford, heritage ditulis
sebagai sejarah, tradisi, dan nilai-nilai yang dimiliki suatu bangsa atau negara selama
bertahun-tahun dan diangap sebagai bagian penting dari karakter mereka. Dalam buku
Heritage : Management, Interpretation, Identity, Peter Howard memaknakan heritage
sebagai segala sesuatu yang ingin diselamatkan orang, termasuk budaya material
maupun alam. Selama ini warisan budaya lebih ditujukan pada warisan budaya secara
publik, seperti berbagai benda yang tersimpan di museum. Padahal menurut Howard,
tiap orang juga punya latar belakang kehidupan yang bisa jadi warisan tersendiri.
Merujuk pada Piagam Pelestarian Pusaka Indonesia yang dideklarasikan di
Ciloto 13 Desember 2003, heritage disepakati sebagai pusaka. Pusaka (heritage)
Indonesia meliputi Pusaka Alam, Pusaka Budaya, dan Pusaka Saujana. Pusaka Alam
adalah bentukan alam yang istimewa. Pusaka Budaya adalah hasil cipta, rasa, karsa, dan
karya yang istimewa dari lebih 500 suku bangsa di tanah air Indonesia, secara
sendiri-sendiri, sebagai kesatuan bangsa Indonesia, dan dalam interaksinya dengan budaya lain
sepanjang sejarah keberadaannya.
Pusaka Budaya mencakup pusaka berwujud (tangible) dan pusaka tidak berwujud
(intangible). Pusaka Saujana adalah gabungan Pusaka Alam dan Pusaka Budaya dalam
cultural landscape (saujana budaya), yakni menitikberatkan pada keterkaitan antara
budaya dan alam dan merupakan fenomena kompleks dengan identitas yang berwujud
dan tidak berwujud.
Berpegang pada paparan di atas, folklor dalam bentuk cerita rakyat, tarian, kulinari,
musik tradisional, dan lainnya masuk dalam pusaka budaya yang dalam bahasa kerennya
disebut heritage. Selanjutnya, Howard mengingatkan bahwa peninggalan atau warisan
orang per orang pun masuk dalam katagori heritage. Terserah pada keluarga mereka
apakah akan menyimpan dan memelihara kenangan atas, katakan, kakek atau nenek
mereka. Baik itu dalam bentuk petuah, buku harian, koleksi buku, etos kerja, mobil tua,
album foto, dll.
Khusus untuk gedung atau bangunan tua, yang bisa dikategorikan sebagai pusaka
kota, kita bisa mengacu pada UU No 5 Tahun 1992, tentang Cagar Budaya. Dalam UU
itu, kategori gedung atau bangunan yang berusia di atas 50 tahun bisa dimasukkan
sebagai cagar budaya yang keberadaannya harus dilindungi dan dilestarikan.
2.6.1 Peraturan Pemerintah Mengenai Heritage
Di dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 Tentang
Cagar Budaya Pasal 1 mengatakan bahwa :
1. Cagar Budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa Benda Cagar
Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya,
keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan,
pendidikan, agama, dan kebudayaan melalui proses penetapan.
2. Benda Cagar Budaya adalah benda alam atau benda buatan manusia, baik
bergerak maupun tidak bergerak, berupa kesatuan atau kelompok dan
bagian-bagiannya, atau sisa-sisanya yang memiliki hubungan erat dengan kebudayaan
dan sejarah perkembangan manusia.
3. Bangunan Cagar Budaya adalah susunan binaan yang terbuat dari benda alam
atau benda buatan manusia untuk memenuhi kebutuhan ruang berdinding atau
tidak berdinding dan beratap.
4. Struktur Cagar Budaya adalah susunan binaan yang terbuat dari benda alam atau
benda buatan manusia untuk memenuhi kebutuhan ruang kegiatan yang menyatu
dengan alam, sarana, dan prasarana untuk menampung kebutuhan manusia.
5. Situs Cagar Budaya adalah lokasi yang berada di darat atau di air yang
mengandung Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya atau Struktur Cagar
Budaya sebagai hasil kegiatan manusia atau bukti kejadian pada masa lalu.
6. Kawasan Cagar Budaya adalah satuan ruang geografis yang memiliki dua Situs
Cagar Budaya atau lebih yang letaknya berdekatan dan memperlihatkan ciri tata
ruang yang khas.
7. Kepemilikan adalah hak terkuat dan terpenuh terhadap Cagar Budaya dengan
8. Penguasaan adalah pemberian wewenang dari pemilik kepada Pemerintah,
Pemerintah Daerah, atau setiap orang untuk mengelola Cagar Budaya dengan
tetap memperhatikan fungsi sosial dan kewajiban untuk melestarikannya.
9. Dikuasai oleh Negara adalah kewenangan tertinggi yang dimiliki oleh negara
dalam menyelenggarakan pengaturan perbuatan hukum berkenaan dengan
pelestarian Cagar Budaya.
10. Pengalihan adalah proses pemindahan hak kepemilikan atau penguasaan Cagar
Budaya dari setiap orang kepada setiap orang lain atau kepada negara.
11. Kompensasi adalah imbalan berupa uang atau bukan uang dari Pemerintah atau
Pemerintah Daerah.
12. Insentif adalah dukungan berupa advokasi, perbantuan, atau bentuk lain bersifat
nondana untuk mendorong pelestarian Cagar Budaya dari Pemerintah atau
Pemerintah Daerah.
13. Tim Ahli Cagar Budaya adalah kelompok ahli pelestarian dari berbagai bidang
ilmu yang memiliki sertifikat kompetensi untuk memberikan rekomendasi
penetapan, pemeringkatan, dan penghapusan Cagar Budaya.
14. Tenaga Ahli Pelestarian adalah orang yang karena kompetensi keahlian
khususnya atau memiliki sertifikat di bidang Pelindungan, Pengembangan, atau
15. Kurator adalah orang yang karena kompetensi keahliannya bertanggung jawab
dalam pengelolaan koleksi museum.
16. Pendaftaran adalah upaya pencatatan benda, bangunan, struktur, lokasi, dan
satuan ruang geografis untuk diusulkan sebagai Cagar Budaya kepada
pemerintah kabupaten/kota atau perwakilan Indonesia di luar negeri dan
selanjutnya dimasukkan dalam Register Nasional Cagar Budaya.
17. Penetapan adalah pemberian status Cagar Budaya terhadap benda, bangunan,
struktur, lokasi, atau satuan ruang geografis yang dilakukan oleh pemerintah
kabupaten/kota berdasarkan rekomendasi Tim Ahli Cagar Budaya.
18. Register Nasional Cagar Budaya adalah daftar resmi kekayaan budaya bangsa
berupa Cagar Budaya yang berada di dalam dan di luar negeri.
19. Penghapusan adalah tindakan menghapus status Cagar Budaya dari Register
Nasional Cagar Budaya.
20. Cagar Budaya Nasional adalah Cagar Budaya peringkat nasional yang ditetapkan
Menteri sebagai prioritas nasional.
21. Pengelolaan adalah upaya terpadu untuk melindungi, mengembangkan, dan
memanfaatkan Cagar Budaya melalui kebijakan pengaturan perencanaan,
22. Pelestarian adalah upaya dinamis untuk mempertahankan keberadaan Cagar
Budaya dan nilainya dengan cara melindungi, mengembangkan, dan
memanfaatkannya.
23. Pelindungan adalah upaya mencegah dan menanggulangi dari kerusakan,
kehancuran, atau kemusnahan dengan cara Penyelamatan, Pengamanan, Zonasi,
Pemeliharaan, dan Pemugaran Cagar Budaya.
24. Penyelamatan adalah upaya menghindarkan dan menanggulangi Cagar Budaya
dari kerusakan, kehancuran, atau kemusnahan.
25. Pengamanan adalah upaya menjaga dan mencegah Cagar Budaya dari ancaman
dan gangguan.
26. Zonasi adalah penentuan batas-batas keruangan Situs Cagar Budaya dan
Kawasan Cagar Budaya sesuai dengan kebutuhan.
27. Pemeliharaan adalah upaya menjaga dan merawat agar kondisi fisik Cagar
Budaya tetap lestari.
28. Pemugaran adalah upaya pengembalian kondisi fisik Benda Cagar Budaya,
Bangunan Cagar Budaya, dan Struktur Cagar Budaya yang rusak sesuai dengan
keaslian bahan, bentuk, tata letak, dan teknik pengerjaan untuk memperpanjang
29. Pengembangan adalah peningkatan potensi nilai, informasi, dan promosi Cagar
Budaya serta pemanfaatannya melalui Penelitian, Revitalisasi, dan Adaptasi
secara berkelanjutan serta tidak bertentangan dengan tujuan Pelestarian.
30. Penelitian adalah kegiatan ilmiah yang dilakukan menurut kaidah dan metode
yang sistematis untuk memperoleh informasi, data, dan keterangan bagi
kepentingan Pelestarian Cagar Budaya, ilmu pengetahuan, dan pengembangan
kebudayaan.
31. Revitalisasi adalah kegiatan pengembangan yang ditujukan untuk menumbuhkan
kembali nilai-nilai penting Cagar Budaya dengan penyesuaian fungsi ruang baru
yang tidak bertentangan dengan prinsip pelestarian dan nilai budaya masyarakat.
32. Adaptasi adalah upaya pengembangan Cagar Budaya untuk kegiatan yang lebih
sesuai dengan kebutuhan masa kini dengan melakukan perubahan terbatas yang
tidak akan mengakibatkan kemerosotan nilai pentingnya atau kerusakan pada
bagian yang mempunyai nilai penting.
33. Pemanfaatan adalah pendayagunaan Cagar Budaya untuk kepentingan
sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat dengan tetap mempertahankan kelestariannya.
34. Perbanyakan adalah kegiatan duplikasi langsung terhadap Benda Cagar, Budaya,
Bangunan Cagar Budaya, atau Struktur Cagar Budaya, baik seluruh maupun
35. Setiap orang adalah perseorangan, kelompok orang, masyarakat, badan usaha
berbadan hukum atau badan usaha bukan berbadan hukum.
36. Pemerintah Pusat, selanjutnya disebut Pemerintah, adalah Presiden Republik
Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan Negara Kesatuan Republik
Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945.
37. Pemerintah Daerah adalah gubernur, bupati, atau wali kota, dan perangkat daerah
sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah.
38. Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang
kebudayaan.
Di dalam Pasal 5 mengatakan bahwa :
Benda, bangunan, atau struktur dapat diusulkan sebagai Benda Cagar Budaya,
Bangunan Cagar Budaya, atau Struktur Cagar Budaya apabila memenuhi kriteria:
1. Berusia 50 (lima puluh) tahun atau lebih.
2. Mewakili masa gaya paling singkat berusia 50 (lima puluh) tahun.
3. Memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan
kebudayaan.
Di dalam Pasal 7 mengatakan bahwa :
Bangunan Cagar Budaya dapat :
1. Berunsur tunggal atau banyak.
2. Berdiri bebas atau menyatu dengan formasi alam.
2.7 Peraturan pemerintah untuk pelestarian bangunan bersejarah
Bangunan bersejarah mempunyai nilai yang sangat penting bagi suatu negara
karena merupakan salah satu objek yang bisa mendukung di dalam sektor pariwisata
sehingga perlu dijaga dan dilestarikan dengan sebaik mungkin. Pelstarian bangunan
bersejarah juga tidak boleh dilakukan secara sembarangan tetapi haruslah dilakukan
sesuai dengan peraturan pemerintah.
Di dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 Pasal 53-55
mengenai pelestarian bangunan bersejarah sebagai salah satu cagar budaya yaitu :
1. Pelestarian Cagar Budaya dilakukan berdasarkan hasil studi kelayakan yang
dapat dipertanggungjawabkan secara akademis, teknis, dan administratif.
2. Kegiatan Pelestarian Cagar Budaya harus dilaksanakan atau dikoordinasikan
oleh Tenaga Ahli Pelestarian dengan memperhatikan etika pelestarian.
3. Tata cara Pelestarian Cagar Budaya harus mempertimbangkan kemungkinan
4. Pelestarian Cagar Budaya harus didukung oleh kegiatan pendokumentasian
sebelum dilakukan kegiatan yang dapat menyebabkan terjadinya perubahan
keasliannya.
5. Setiap orang berhak memperoleh dukungan teknis atau kepakaran dari
Pemerintah atau Pemerintah Daerah atas upaya Pelestarian Cagar Budaya yang
dimiliki atau yang dikuasai.
6. Setiap orang dilarang dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi, atau
BAB III
GAMBARAN UMUM DAN SEJARAH TJONG A FIE
3.1 Sejarah Tjong A Fie
Tjong A Fie dilahirkan dengan nama Tjong Fung Nam
di
yang sederhana. Bersama kakaknya
meninggalkan bangku
mendapatkan pendidikan seadanya, tetapi Tjong A Fie sangat cerdas dan menguasai
cara-cara
Tjong A Fie datang pada tahun kelima sejak dimulainya sejarah pengapalan kuli
Cina ke Tanah Deli pada tahun 1875. Sejak itu, pertumbuhan perantau Cina tumbuh
pesat di Kota Medan. Pada saat itu ia baru berusia 18 tahun berbekal 10dolar perak uang
Manchu yang diikatkan ke ikat pinggangnya, Tjong A Fie memutuskan untuk merantau
ke
meninggalkan kampung halamannya, menyusul kakaknya
terlebih dahulu datang ke Medan dan tinggal selama 5 tahun. Tjong A Fie adalah
seorang yang berwatak mandiri dan tidak mau menggantungkan diri pada orang lain
terutama kepada kakaknya, pada saat itu sudah
Tjong A Fie bekerja di toko milik teman kakaknya yang bernama Tjong Sui Fo.
Di toko tersebut, Tjong A Fie bekerja dari memegang buku, melayani pelanggan,
menagih utang serta tugas-tugas lainnya. Ia dikenal pandai bergaul, tidak hanya dengan
orang
mulai belajar berbicara dengan
masyarakat di tanah
Tjong A Fie tumbuh menjadi sosok yang tangguh, menjauhi candu, judi,
mabuk-mabukan dan pelacuran. Ia menjadi teladan dan menampilkan watak
antara orang Tionghoa dengan etnis lain. Di daerah perkebunan milik Belanda sering
terjadi keributan di kalangan buruh yang menimbulkan kekacauan. Karena
kemampuannya, Tjong A Fie sering diminta Belanda untuk membantu mengatasi
masalah-masalah tersebut. Ia lalu diangkat menjadi
Medan. Tjong A Fie membangun rumahnya di Kesawan, di atas bekas persawahan
penduduk lokal yang masih banyak pacet, dan kemudian berkembang menjadi pusat
bisnis baru.
Karena kejeliaannya melihat peluang bisnis, maka pada tahun 1886 Tjong A Fie
kemudian memindahkan pusat imperium bisnisnya ke Medan. Kala itu, Medan hanyalah
sebuah kampung kecil yang berada diantara Sungai Deli dan Sungai Babura.
Di sini ia bekerja keras dan giat membangun relasi, hingga kemudian terkenal
di Asia Tenggara. Lebih dari itu, A Fie dianggap sebagai salah satu pendiri Kota Medan.
Perusahaannya mempekerjakan lebih dari 10.000 karyawan. Meskipun ia bukan
satu-satunya yang terkaya di Medan, tapi kedermawanan dan kepemimpinannya sebagai
Kapitan China (Majoor der Chineezen), membuat namanya istimewa.
Di tanah Deli, Tjong A Fie mempunyai pergaulan yang luas dan terkenal sebagai
pedagang yang luwes dan dermawan, ia kemudian membina hubungan yang baik dengan
Sultan Deli, Makmoen Al Rasjid Perkasa Alamsjah dan Tuanku Raja Moeda. Atas
kesetiakawanan yang tinggi, maka Tjong A Fie berhasil menjadi orang kepercayaan
Sultan Deli dan mulai menangani beberapa urusan bisnis. Pengaruhnya terbentang mulai
dari Sumatera, Jawa, Penang, Hongkong, Cina, hingga daratan Eropa. Jabatan Major
Cina membuatnya banyak berurusan dengan masalah hubungan kerja, persengketaan,
dan masalah-masalah sosial lainnya. Ia dianggap bijak memberi solusi untuk setiap
persoalan yang muncul sebagai akibat pertumbuhan industri di Tanah Deli dan
ikutannya ke luar negeri.
Dengan demikian ia memperoleh reputasi yang baik dan terkenal di seluruh Deli.
Ia terkenal baik di kalangan pedagang maupun orang Eropa, serta pejabat pemerintah
setempat. Hubungan yang baik dengan Sultan Deli ini menjadi awal sukses Tjong A Fie
dalam dunia bisnis. Sultan memberinya konsesi penyediaan atap daun nipah untuk
keperluan perkebunan tembakau antara lain untuk pembuatan bangsal. Dengan
dan cultuurraad
Hindia Belanda untuk urusan Tiongkok.
Karena dinilai kaya raya dan punya hubungan baik dengan Sultan Deli,
pemerintah Belanda menganugrahinya pangkat Letnan, tercatat pada tanggal 4
September 1885. Ini merupakan jabatan bergengsi bagi orang-orang Cina di Tanah Deli.
Tak lama kemudian Tjong A Fie ditunjuk sebagai kepala orang-orang Cina Tanah Deli.
Sewaktu menjabat sebagai Kapitan Cina, Tjong A Fie ikut mengoperasikan
tempat perjudian yang disahkan pemerintah dan hampir tiga puluh rumah bordil. Di
Amsterdam, dia menjadi salah seorang pendiri Institut Kolonial yang kini bernama
Institut Tropis Kerajaan (Koninklijk Instituut voor de Tropen).
Di propinsi Nanking, Cina, Tjong A Fie membangun sebuah pabrik, untuk
mendorong perindustrian di sana. Atas jasa-jasanya yang begitu besar pada Kerajaan
Cina, Tjong A Fie diangkat menjadi bangsawan dengan gelar Tjie Voe, dan pada tahun
1911 gelar itu dinaikkan lagi menjadi To Thay. Keluhuran budi Tjong A Fie juga
diperlihatkannya ketika dia membangun kuburan khusus untuk orang-orang Cina di
Medan. Pasalnya, ketika jalur kereta api Medan-Belawan dibangun, Tjong A Fie sering
menerima laporan kalau para pekerja sering menemukan tengkorak orang Cina. dan
untuk menghormati jenasah orang-orang Cina itulah, dia kemudian membangun
pekuburan Cina di daerah Pulo Brayan, Medan. Selain itu Tjong A Fie ternyata punya
Tjong A Fie menjadi orang Tionghoa pertama yang memiliki perkebunan
tembakau. Ia juga mengembangkan usahanya di bidang perkebunan teh di Bandar Baroe,
di samping perkebunan teh si Boelan. Ia juga memiliki perkebunan kelapa yang sangat
luas. Di Sumatera Barat ia menanamkan modalnya di bidang pertambangan di daerah
Sawah Luntoh, Bukit Tinggi.
Ketika masih berada di Tiongkok, Tjong A Fie telah menikahi
seorang
dari
Tjong Kwei-Jin. Namun istri keduanya meninggal dunia. Untuk ketiga kalinya ia
menikah dengan Lim Koei Yap dari
perkebunan tembakau di
memiliki tujuh orang anak, yakni Tjong Foek-Yin (Queeny), Tjong Fa-Liong, Tjong
Khian-Liong, Tjong Kaet Liong (Munchung), Tjong Lie Liong (Kocik), Tjong See Yin
(Noni) dan Tjong Tsoeng-Liong (Adek).
Bersama kakaknya Tjong Yong Hian, Tjong A Fie bekerjasama dengan Tio Tiaw
Siat alias Chang Pi Shih, paman sekaligus konsul Tiongkok di Singapura mendirikan
perusahaan kereta api The Chow-Chow & Swatow Railyway Co.Ltd. di daerah
Tiongkok Selatan yang menghubungkan kedua kota tersebut. Untuk jasanya mereka
sempat bertemu muka dengan ibu suri Tsu His di Beixing.
Pada 4 Februari 1921, Tjong A Fie meninggal dunia karena apopleksia atau
gempar dan turut berkabung, ribuan orang pelayat datang berduyun-duyun bukan saja
dari kota Medan, tetapi dari berbagai kota di Sumatera Timur, Aceh, Padang, Penang,
Malaysia, Singapura dan Pulau Jawa. Upacara pemakamannya berlangsung dengan
megah dan penuh kebesaran sesuai dengan tradisi dan kedudukannya pada masa itu.
Karena kedermawanannya, tanpa membeda-bedakan bangsa, ras, agama dan asal-usul,
Tjong A Fie telah menjadi legenda dan namanya dikenang oleh penduduk kota Medan
dan sekitarnya.
Empat bulan sebelum meninggal dunia, Tjong A Fie telah membuat surat wasiat
di hadapan notaris Dirk Johan Facquin den Grave. Isinya adalah mewariskan seluruh
kekayaannya di Sumatera maupun di luar Sumatera kepada Yayasan Toen Moek Tong
yang harus didirikan di Medan dan Sungkow pada saat ia meninggal dunia. Yayasan
yang berkedudukan di Medan diminta untuk melakukan lima hal. Tiga diantaranya
untuk memberikan bantuan keuangan kepada kaum muda yang berbakat dan
berkelakuan baik serta ingin menyelesaikan pendidikannya, tanpa membedakan
kebangsaan. Yayasan ini juga harus membantu mereka yang tidak mampu bekerja
dengan baik karena cacat tubuh, buta, atau menderita penyakit berat. Juga yayasan
diharapkan membantu para korban bencana alam tanpa memandang kebangsaan atau
etnisnya.
Tjong A Fie dikenal sangat berjasa dalam membangun
saat itu dinamakan
Beberapa jasanya dalam usaha mengembangkan kota Medan adalah menyumbangkan
tahun 1908 ini didesain oleh Hulswit & Fermont Weltevreden bersama Ed Cuypers
Amsterdam. Pembangunannya diikuti oleh pembangunan Kantor Pos Besar pada tahun
1909-1911, yang didesain oleh Snuyf, kepala Departemen Pekerjaan Umum. Pada tahun
1910, Javasche Bank yang juga didesain Hulswit & Fermont Weltevreden + Ed Cuypers
Amsterdam, berdiri, pembanguna
Ia dikenal pula sebagai pelopor industri perkebunan dan transportasi kereta api
pertama di
Medan dengan pelabuhan
dengan masyarakat
orang. Sebagai dermawan, ia banyak menyumbang untuk warga yang kurang mampu. Ia
sangat menghormati warga
ibadah yakni
hari-hari besar keagamaan bersama mereka. Nama Tjong A Fie pernah akan dijadikan
sebagai nama sebuah jalan di kota Medan, tapi dibatalkan dan jalan itu menjadi Jalan
K.H.
3.2 Potensi Rumah Tjong A Fie Sebagai Objek Wisata
Rumah Tjong A Fie terletak di Jalan Ahmad Yani Medan atau di kawasan
peninggalan zaman penjajahan dahulu. Kita bisa mengenali bangunan-bangunan tersebut
dari arsitekturnya yang unik dan berbeda dengan arsitektur zaman sekarang, tetapi
sayang banyak bangunan-bangunan ini sudah tidak terurus bahkan sudah dijadikan
sebagai gedung-gedung perkantoran, padahal bila dilestarikan dan dirawat maka akan
mennunjang sektor pariwisata di Kota Medan.
Salah satu bangunan tua atau bangunan bersejarah yang masih sangat terawat
hingga kini adalah Rumah Tjong A Fie. Rumah ini sangat mudah dikenali karena sangat
berbeda dengan rumah-rumah yang ada di sekitarnya dengan arsitektur Tiongkok sangat
kental di bagian atap dan juga pintu gerbangnya.
Rumah Tjong A Fie yang sebelumnya tidak dibuka untuk umum memiliki daya
tarik atau potensi tersendiri. Potensi yang dimiliki oleh rumah ini bisa kita lihat dari
arsitektur rumah yang megah, perabotan-perabotan yang masih asli yang dipakai oleh
Tjong A Fie dan keluarganya semasa hidup, foto-foto Tjong A Fie bersama dengan
pembesar-pembesar sampai foto-foto keluarga yang bersifat pribadi misalnya foto
pernikahan anak-anaknya, foto pernikahan cucu-cucunya dan sebagainya.
3.3 Upaya Pengembangan Rumah Tjong A Fie Sebagai Cagar Budaya
Sebelumnya rumah Tjong A Fie tidak pernah dibuka untuk umum dikarenakan
alasan keamanan mengingat usianya yang sudah lebih 100 tahun. Tetapi pada tanggal 18
Agustus 2009 rumah Tjong A Fie telah dibuka untuk umum. Pembukaan rumah ini
Exhibition” yang pertama kali dilaksanakan sejak wafatnya Tjong A Fie 88 tahun yang
lalu.
Setelah melalui diskusi keluarga, Fon Prawira alias “Munchong” yang
merupakan cucu Tjong A Fie dari anak keempat pernikahannya dengan Liem Koei Yap
di daulat sebagai penanggungjawab pengelolaan keseluruhan rumah yang akhirnya di
tetapkan pemerintah sebagai cagar budaya sejak tahun 1999. Campur tangan UNESCO
disebut-sebut berpengaruh dalam penetapannya sebagai bagian dari sejarah yang harus
dilestarikan.
Di dalam proses pengembangannya, rumah Tjong A Fie saat ini dikelola hampir
sepenuhnya oleh pihak keluarga yaitu sekitar 90% sedangkan sisa 10% lagi dikelola oleh
pemerintah. Wallpaper yang dulunya melekat di dinding rumah Tjong A Fie telah
dilepaskan dan di ganti dengan cat permanen, ini dikarenakan sudah kusamnya dan ada
bagian-bagian yang robek membuat keadaan rumah tersebut terlihat tidak menarik dan
tidak terurus. Rumah Tjong A Fie diperbaharui cat rumahnya setiap tahunnya oleh
petugas dari pemerintah. Patung-patung singa yang berada di pintu gerbangnya
dibersihkan setiap hari oleh petugas yang ada, serta beberapa barang yang lainnya
layaknya membersihkan sebuah rumah pada umumnya. Selain itu foto-foto Tjong A Fie
bersama para pembesar-pembesar jaman dulu maupun dengan keluarga juga dipajang
dengan baik dan rapi agar setiap pengunjung dapat melihatnya dengan nyaman.
Perabotan-perabotan yang masih asli, yang dipakai semasa hidupnya juga diletakkan
sesuai dengan tempatnya terdahulu meskipun ada beberapa perabotan-perabotan yang
Di lantai dua rumah Tjong A Fie, kita hanya bisa melihat foto-foto keluarga
Tjong A Fie dan beberapa piala juara dari anak-anak Tjong A Fie. Di lantai dua rumah
ini tidak diletakkan perabotan maupun benda-benda yang berbeban berat dikarenakan
dijaga kelestarian lantai ruangan yang terbuat dari kayu yang masih asli, tetapi kayu
tersebut masih kokoh dan kuat.
Salah satu usaha pengembangan rumah Tjong A Fie yang terbaru adalah
beberapa ruangan rumah Tjong A Fie akan disulap dan dijadikan sebagai cafe yang
menyajikan beberapa macam makanan peranakan. Kemungkinan cafe ini akan segera
dibuka dalam tahun ini. Bagian-bagian dalam ruangan ini tidak akan diubah
arsitekturnya tetapi tetap dipertahankan sehingga terdapat suasana jaman dulu yang bisa
kita rasakan pada saat kita menikmati makanan khas peranakan, hanya saja akan
BAB IV
RUMAH TJONG A FIE SALAH SATU OBJEK WISATA
BANGUNAN BERSEJARAH DI KOTA MEDAN
4.1 Keunikan dari rumah Tjong A Fie
Terletak di Jalan Ahmad Yani di Medan, kawasan Kesawan, rumah Tjong A
Fie ini selesai dibangun sebesar luas sekarang pada tahun
menunjukkan pengaruh campuran
juga dermawan, Major Tjong A Fie kini menjadi salah satu ikon kota Medan.
Bentuk rumah ini sangat mirip dengan rumah Cheong Fatt Tze, famili mereka yang
merupakan
Rumah tersebut memang mempunyai desain yang unik dan penuh improvisasi.
Bila melihat dari depan rumah Tjong A Fie, tampak adanya perpaduan arsitektur
bergaya Eropa, China, dan lokal. Rumah tersebut memang menggambarkan sosok si
pemilik yang berasal dari negeri China, pengembara yang sukses mengembangkan hasil
perkebunan pada zaman penjajahan Belanda. Rumah Tjong A Fie kaya akan
ornament-ornamen pada pembatas ruangannya serta ukiran pada kayunya, menunjukan fragmen
cerita tradisional China.
Luas Bangunan rumah Tjong A Fie lebih kurang 2.200 meter persegi. Di
tengah-tengah rumah terdapat plasa bergaya Eropa, sempat dibanggakan oleh sang anak sendiri.
yang dicahayai dengan sangat melimpah. Ada taman indah yang menghubungkan rumah
dengan jalan raya di depannya “, demikian penuturan Queeny Chang, anak Tjong A Fie,
dalam bukunya yang berjudul Memories of a Nonya. Bangunan itu memiliki ukiran kayu
yang indah dan memiliki dua patung singa yang terletak di dekat gerbang.
4.1.1 Keunikan dari Segi Sejarah
Tjong A Fie adalah salah satu tokoh jaman dulu yang memiliki cerita kehidupan
atau sejarah yang unik. Dia berasal dari keluarga yang pas-pasan dan juga dia adalah
seorang yang tidak menyelesaikan sekolahnya, tetapi ingin mencoba hal lain. Seperti
halnya orang lain yang ingin mencoba peruntungan di negeri orang lain, maka Tjong A
Fie datang ke Indonesia untuk mencoba peruntungan itu.
Hari berganti hari dan tahun berganti tahun, berkat kegigihannya dan juga
semangat kerja kerasnya, akhirnya Tjong A Fie menjadi seorang yang berhasil bahkan
dia dipercaya menjadi seorang letnan atau kepala orang cina yang ada di Medan.
Selain itu, Tjong A Fie juga dikenal sebagai seorang yang ramah dan pandai, dia
berteman dengan siapa saja tanpa memandang suku bangsa, agama serta status sosial
mereka. Ini dibuktikan dengan banyaknya campur tangan Tjong A fie didalam
pembangunan beberapa Mesjid di Medan, serta Tjong A Fie juga bersahabat karib
dengan sang Sultan Deli. Karena sifatnya tersebut Tjong A Fie sangat disegani oleh
masyarakat maupun pembesar-pembesar jaman dulu.
Kepintaran yang dimiliki oleh Tjong A fie juga membawa dia menjadi seorang
industrialis Tionghoa yang paling dihormati di Asia Tenggara, dia juga memiliki kebun
tembakau sendiri sehingga dia menjadi orang cina terkaya di Medan.
4.1.2 Keunikan dari Segi Arsitektur
Dikarenakan Tjong A Fie adalah salah satu orang terkaya di Medan dan juga
mempunyai banyak kenalan orang-orang penting pada masa itu, maka dia harus
menyesuaikan rumahnya untuk menerima tamu-tamu penting yang berasal dari berbagai
kalangan dalam menyambut mereka untuk acara-acara tertentu.
Rumah Tjong A Fie dibangun dengan megah dan luas yang seperti sekarang.
Arsitektur yang terdapat di dalam rumah merupaka gabiungan dari seni arsitektur China,
Eropa dan juga melayu. Arsitektur Chinanya tampak dari ornamen-ornamen rumahnya,
lampion-lampion, serta terdapat huruf-huruf tulisan cina. Begitu memasuki pekarangan
yang bagian tengahnya ditumbuhi bunga berbentuk melingkar, kita akan tiba di teras
depan dengan langit-langit yang sangat tinggi. Disini kita akan bertemu dengan pintu
besar yang bagian atasnya berbentuk bundar. Pintu ini berasal dari kayu jati yang di
pesan langsung dari daratan China, terdiri dari dua bagian yang sekelilingnya diberi
ukiran bertuliskan huruf China. Sesuai dengan Fengshui, pintu ini berfungsi untuk
menghimpun semua energi positif untuk masuk ke dalamnya. Pintu ini juga dibuat lebar,
untuk memudahkan pengangkutan barang-barang berskala besar. Di samping kiri dan
kanan pintu gerbang ini terdapat dua patung singa khas cina. Pada bagian atap juga
Arsitektur yang berasal dari Eropa dapat kita lihat dari lantai tegel yang berasal
dari Italia yang dilukis dengan tangan, serta beberapa perabotan yang ada di
ruangan-ruangannya.
Sedangkan dari arsitektur Melayu dapat kita liahat dari bentuk jendela yang
terdapat di rumah Tjong A Fie, serta warna cat rumahnya yaitu warna hijau dan putih
kekuning-kuningan yang bermakna kesuburan.
Tjong A Fie mansion terbagi menjadi 3 bangunan utama, yaitu gedung bagian
kiri, tengah, dan kanan. Gedung bagian kanan dan tengah terbuka bagi pengunjung,
sedangkan gedung bagian kiri tertutup bagi wisatawan mengingat gedung ini masih
dihuni oleh keluarga dan kerabat Tjong A Fie. Ruangan terasa sejuk karena tinggi
plafond yang mencapai 6 meter dan ukuran jendela yang besar-besar. Di bagian kiri kita
bisa menemukan seperangkat kursi lengkap dengan meja kecil berbahan metal. Tak jauh
dari situ, terdapat sebuah lemari tua yang berisi aneka jenis foto tua. Kebanyakan foto
itu berisi aktivitas Tjong A Fie dengan keluarganya. Sedang di dindingnya terdapat
beberapa foto dalam ukuran besar berlapis kaca. Di salah satu bagian, terpampang jelas
foto Tjong A Fie yang terlihat gagah bersanding dengan foto istri ketiganya Liem Koei
Yap.
Sedangkan di bagian kanan rumah, terdapat seperangkat perabotan tua dengan
latar belakang sebuah jendela besar yang jarang di buka. Berbeda dengan sisi kiri,
Dari semua sisi ruangan, bagian tengah merupakan bagian yang paling mewah.
Sebuah sofa berwarna merah lengkap dengan pembatas ruangan ber-ornamen etnis
China yang juga berwarna merah tampak begitu mendominasi. Biasanya, di tempat ini
para tamu akan dijamu oleh tuan rumah.
Dan, apabila kita melangkah lebih jauh melewati pembatas ruangan bagian
tengah, kita akan menemukan sepetak ruang kosong beratapkan langit, yang di
pinggirnya dipenuhi bunga aneka warna. Bangunan ini menjadi khas, karena terdapat 4
buah kayu jati berdiameter 0,5 m yang berfungsi sebagai penopang bangunan yang
bagian belakangnya terdiri dari 2 lantai. Kemiripan 4 tiang penopang tersebut dibuatkan
pada sebuah mesjid di daerah kesawan, Medan, yang terkenal dengan sebutan “ Mesjid
Bengkok ”. Kabarnya, sebagian dana pembuatan masjid berasal dari sumbangan pribadi
seorang Tjong A Fie.
4.1.3 Keunikan dari Segi Budaya
Di dalam hidupnya Tjong A Fie adalah seorang yang sangat menghormati dan
menghargai budayanya sendiri maupun budaya orang lain. Meskipun Tjong A Fie telah
bermukim ke Indonesia tetapi beliau tidak pernah melupakan budayanya. Terdapat dua
ruangan di dalam rumah Tjong A fie yang dijadikan sebagai tempat untuk
bersembahyang. Satu ruangan di lantai satu dipergunakan untuk altar tempat
sembahyang dan menaruh papan nama leluhur yang sudah meninggal, sedangkan di
lantai dua terdapat altar tempat sembahyang bagi dewa, konon di tempat inilah Tjong A
diharuskan untuk berkata jujur, apabila ada yang berkata bohong maka dewa akan
mengetahuinya dan akan memberikan hukuman.
Di dalam rumah Tjong A fie juga terdapat beberapa ruangan khusus untuk
menerima tamunya. Ruangan-ruangan ini disesuaikan perabotannya maupun suasananya
dalam menyambut tamu-tamunya. Di dalam menyambut tamu yang berasal dari China,
maka ruangan tamunya diisi oleh berbagai perabotan-perabotan yang khas memiliki
unsur cina dan diimport langsung dari China. Sedangkan untuk tamu-tamunya yang
berkebangsaan Melayu, maka dikhususkan satu ruang tamu yang juga diisi dengan
perabotan-perabotan khas Melayu. Ruang tamu ini terdapat di lantai satu. Ruang tamu
khusus untuk pejabat-pejabat Eropa berada di lantai dua, ruangannya dibuat dengan
besar lenkap dengan ballroom diperuntukan untuk acara dansa.
Berada di jantung rumah tersebut terdapat satu ruangan utama yang luasnya
melebihi ketiga ruang tamu yang lainnya. Ruang tamu ini diperuntukan untuk menerima
tamu yang bersifat umum atau ketika berkumpulnya semua tamu Tjong A Fie yang
berasal dari ketiga suku bangsa tersebut.
Ruang-ruang tamu tersebut dibuat oleh Tjong A Fie sedemikian rupa untuk
menghormati dan menghargai budaya dari para tamu-tamunya yang berkebangsaan
4.2 Upaya Pemerintah Setempat Mengembangkan dan Menjaga Rumah Tjong
A Fie Salah Satu Bangunan Bersejarah di Kota Medan
Rumah Tjong A Fie sebagian besar dikelola oleh pihak keluarga, apabila ada
campur tangan dari pemerintah itu pun hanya sedikit saja. Salah satu upaya pemerintah
dalam mengembangkan dan menjaga Rumah Tjong A Fie sebagai salah satu bangunan
bersejarah Kota Medan adalah dibukanya rumah Tjong A Fie sebagai salah satu objek
wisata bagi umum. Rumah Tjong A Fie juga tidak boleh berubah fungsi karena telah
dilindungi oleh Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 1988 tentang Pelestarian Bangunan
dan Lingkungan yang Bernilai Sejarah Arsitektur dan Kepurbakalaan. Tidak banyak
upaya yang dilakukan oleh pemerintah dalam pengembangan dan menjaganya.
4.3 Kendala yang Dihadapi
Rumah Tjong A Fie memiliki potensi kepariwisataan yang cukup besar, namun
sejauh ini masih kurang dikembangkan dengan baik. Hal ini disebabkan oleh beberapa
faktor yang menjadi kendala pengembangan objek wisata tersebut. Kendala-kendala
tersebut adalah :
1. Faktor usia dan kurangnya bantuan
Rumah Tjong A Fie yang masih berdiri dengan kokohnya itu sudah mulai lapuk
dikarenakan faktor usia. Di dalam sepuluh tahun terakhir ini tidak ada bantuan
biaya renovasi. Padahal, ahli waris sudah menyampaikan permohonan bantuan
tersebut kepada pihak pemerintah maupun swasta. Pihak keluarga tidak berani
total di kawasan bangunan seluas 3.000 meter persegi ini. Dari pihak Badan
Warisan Sumatera pernah menyarankan agar rumah tersebut di renovasi.
Berdasarkan pembicaraan awal dengan konsultan arsitektur, renovasi total
bangunan ini membutuhkan sedikitnya Rp 3 miliar. Pihak keluarga tidak mampu
mengeluarkan uang sebanyak itu jika tidak ada bantuan sama sekali.
2. Kurangnya promosi
Salah satu untuk memperkenalkan suatu objek wisata adalah dengan melakukan
promosi supaya lebih dikenal oleh umum dan dapat menarik minat wisatwan
untuk mengunjunginya. Dalam hal promosi rumah Tjong A Fie sudah pernah
dilakukan pembukaan untuk umum pasalnya rumah tersebut sebelumnya tidak
diperuntukan untuk umum. Meskipun demikian, masih banyak masyarakat di
Kota Medan yang tidak mengetahuinya.
3. Kurang terawatnya
Menarik, bersih adalah salah satu faktor yang membuat wisatawan tertarik
kepada suatu objek dan mempunyai suatu keinginan untuk mengunjunginya.
Rumah Tjong A Fie memang masih terlihat sangat megah dan cukup indah,
tetapi kurang terawat. Hal ini bisa kita lihat pada saat kita memasuki pekarangan
rumahnya, taman bunga dan pekarangan rumahnya sedikit kotor, tidak ada lagi
bunga yang bisa dilihat serta pada beberapa bagian taman bunga terdapat rumpur
liar yang sangat menganggu pemandangan. Selain itu, sistem sanitasi rumah juga
4. Kurangnya campur tangan dari pemerintah
Pemerintah telah menetapkan rumah Tjong A Fie beserta segala perabotan yang
ada di dalamnya sebagai salah satu bangunan tua yang harus dilindungi dan
dilestarikan, serta turut serta dalam pembukaan rumah Tjong A Fie untuk umum.
Namun, ketika rumah tersebut membutuhkan renovasi dalam
mempertahankannya agar tidak rusak, pemerimtah sama sekali tidak begitu ikut
serta. Begitu juga didalam hal promosi, pemerintah hanya mempromosikannya
melalui brosur-brosur saja dan di dalam brosur tersebut hanya beerisi sedikit
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Indonesia adalah suatu negara yang mempunyai banyak sekali objek-objek
wisata yang menarik, salah satunya adalah bangunan bersejarah atau biasa disebut
sebagai bangunan tua peninggalan kolonial Belanda dulu. Salah satu kota yang tidak
luput adalah Kota Medan. Kota Medan juga mempunyai banyak sekali
bangunan-bangunan tua yang bisa kita lihat sampai sekarang. Salah satunya adalah rumah Tjong A
Fie. Rumah ini sangat mencolok karena bangunannya yang sangat khas Tiongkok.
Rumah ini dulunya adalah rumah seorang miliuner Tionkok yang bernama Tjong A Fie.
Beliau adalah seorang perantau yang dapat untuk mengadu nasib di Indonesia dan beliau
berhasil menjadi sukses sehingga beliau menjadi salah satu tokoh yang sangat terkenal
hingga kini.
Rumah yang ditinggalinya kini telah menjadi salah satu objek wisata bangunan
bersejarah di Kota Medan dikarenakan rumah tersebut adalah rumah tua dan mempunyai
nilai sejarah yang sangat terkenal. Bentuk serta bangunan rumah tersebut juga unik
sehingga mempunyai daya tarik sendiri. Perabotan-perabotan yang dipakai oleh Tjong A
Fie juga masih bisa kita lihat apabila kita berkunjung ke rumah tersebut. Rumah yang
luas tersebut dibangun dengan menggabungkan tiga seni arsitektur yaitu China, Eropa
dan juga Melayu. Kita juga bisa melihat kebesaran-kebesaranya pada saat kita
Yang namanya bangunan tua, bisa rusak dan rubuh kapan saja. Rumah tersebut
mulai terlihat kurang terawat dengan adanya beberapa bagian yang dimakan rayap, juga