FORMASI IDEOLOGI DALAM NOVEL ENTROK
KARYA OKKY MADASARI
TESIS
OLEH
PRINSI RIGITTA
097009009/LNG
SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
M E D A N
KATA PENGANTAR
Tesis ini berjudul “Formasi Ideologi dalam Novel Entrok Karya Okky
Madasari”; tesis ini memfokuskan analisis terhadap representasi realitas sosial yang
tergambar dalam sebuah karya sastra.
Tujuan disusunnya tesis ini adalah untuk melengkapi persyaratan
pemerolehan gelar Magister Humaniora dalam Program Studi Linguistik: Konsentrasi
Analisis Wacana Kesusastraan pada Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera
Utara.
Dengan diselesaikannya tesis ini, peneliti berharap dapat memberikan suatu
kontribusi ilmu pengetahuan yang berharga dan bermanfaat, terutama dalam ranah
ilmu kesusastraan. Hasil penelitian diharapkan dapat mengilhami pemahaman
terhadap karya sastra terutama Cultural Studies, yakni sebagai cerminan isu-isu sosial
yang meliputi ideologi, politik dan kekuasaan yang terjadi dalam kehidupan
masyarakat; sehingga pada akhirnya dapat memposisikan karya sastra sebagai sarana
luapan ekspresi yang bersifat mendidik sekaligus mengintrospeksi dan memotivasi
pembacanya.
Akhirnya, penulis menyadari bahwa tesis ini belum dapat dikatakan
sempurna, dan juga belum sepenuhnya mampu menjawab keinginan pembaca;
melainkan merupakan sebuah langkah awal untuk menumbuhkan minat pengkajian
dan pendalaman ilmu kesusasteraan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan adanya
kritik konstruktif ataupun ilham lainnya dari pembaca demi penyempurnaan
pembahasan di lain waktu.
Medan, September 2011
UCAPAN TERIMA KASIH
Puji syukur dan sembah sujud penulis haturkan kepada Allah S.W.T. atas
segala rahmat dan hidayah-Nya sehingga tesis ini dapat diselesaikan dengan baik.
Tak lupa dikumandangkan shalawat dan salam kepada Rasulullah Muhammad
S.A.W. Perlu diketahui bahwa selama penulisan tesis ini, penulis memperoleh
bantuan dan motivasi dari banyak pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis
ingin sekali menyampaikan sebentuk ucapan terima kasih setulus hati.
Ucapan terima kasih penulis haturkan kepada Bapak Prof. Dr. Ikhwanuddin
Nasution, M.Si., yang berperan sebagai Pembimbing I. Selama masa bimbingan,
beliau selalu memberikan motivasi, arahan, kritik, saran, serta kesediaan waktu
ditengah-tengah kesibukannya yang sangat padat, sehingga dirasakan sangat
bermanfaat dalam penyelesaian tesis ini. Penulis memperoleh banyak pelajaran
berharga dari beliau, antara lain kedisiplinan, ketekunan, dan kemandirian. Beliau
juga dengan tulus meminjamkan beberapa referensi kepada penulis untuk mendukung
penyelesaian tesis ini.
Terima kasih dan rasa sayang saya kepada Ibu Dr. Asmyta Surbakti, M.Si.,
yang berperan sebagai Pembimbing II. Beliau adalah sosok pembimbing sekaligus
Ibu bagi penulis, beliau selalu menyediakan waktunya ditengah-tengah kesibukannya
yang sangat padat untuk mendidik penulis dengan ilmu pengetahuan, referensi, dan
filosofi kehidupan yang sangat relevantif. Beliau senantiasa memberikan
wejangan-wejangan berharga kepada penulis, dan juga memotivasi penulis dengan nilai
kesabaran, etika, moral, dan konsistensi. Sungguh suatu hal yang tidak pernah
disangka penulis sebelumnya, bisa mendapat kesempatan menjadi mahasiswa
bimbingannya.
Selanjutnya penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua
pihak yang telah memberikan bantuan, baik moral, material, spiritual, maupun ilham
1. Bapak Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, M.Sc., (CTM), Sp.A(K). selaku
Rektor Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Prof. Dr. Ir. A. Rahim Matondang, MSIE. selaku Direktur Sekolah
Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.
3. Ibu Prof. T. Silvana Sinar, M.A., Ph.D. dan Ibu Dr. Nurlela, M.Hum. selaku
Ketua dan Sekretaris Program Studi Magister Linguistik Universitas Sumatera
Utara, yang telah memberikan segala kemudahan dalam penyelenggaraan
kegiatan akademik.
4. Ibu Dr. T. Thyrhaya Zein, M.A. dan Ibu Dr. Rosmawaty, M.Pd. selaku penguji,
yang telah banyak memberikan koreksi bermanfaat.
5. Semua Dosen Program Studi Magister Linguistik dan Konsentrasi Analisis
Wacana Kesusastraan USU.
6. Kepada seluruh Staf Administrasi Program Studi Magister Linguistik Sekolah
Pascasarjana USU.
7. Kepada kedua orangtua saya. Ayahanda tercinta Ir. Syahril Dulman dan Ibunda
(Almh.) Hj. Trisnawati yang telah membuai, membesarkan, mendidik, dan
membina etika, moral, mental dan spiritual saya sebagai bekal menghadapi
kehidupan yang didasari oleh tanggung jawab dan reputasi baik. Kepada Ibunda
Nilawaty, yang turut mencurahkan seluruh kasih sayang dan perhatiannya.
8. Kepada Kakak-kakak tercinta, Ulfa Nadra, S.E, M.Si. dan Sucahyanto, S.T.,
M.M., Iqbal Reza, S.T. dan Vivi Ekayanti, S.T., Novel Faisal dan Yunita, Farid
Aulia, S.Sos., M.Si. dan Rahima Purba, S.E., M.Si., Dwi Bagus Gunawan, S.T.
dan Maslinda, S.S., yang selalu menstimulasi, membantu, menguatkan,
menghibur, dan mencerahkan saya selama proses penyelesaian tesis ini.
9. Kepada keponakan-keponakan tercinta, R. Alfito Satria Kamil, Rr. Jasmine
Tresna Sukmahani, Shiellsy Revioza Daulay, Fanny Nabila Putri Daulay, M.Wira
Daulay, Thariq Daulay, Arrafa Istiqlal Jauhari Daulay, Nabila, Zahra, dan
Camila. Generasi-generasi platinum ini telah menginspirasi saya untuk segera
10.Sahabat-sahabat saya di AWK angkatan 2009/2010, Kak Ayu, Kak Elva, Kak
Isma, Kak Henni, Kak Erni, Yelly, Bang Riko, Anggi Daulay, dan Cito. Juga
rekan-rekan mahasiswa/i Magister Linguistik angkatan 2009/2010.
Momen-momen manis kebersamaan kita selamanya akan menjadi pengerat tali silaturahmi
kita.
11.Kepada tokoh-tokoh yang mengilhami penulis: Okky Madasari, Tenggina
Rahmad Siswadi, Antonio Gramsci, Louis Althusser, John Storey, dan Stuart
Hall.
Medan, September 2011
Penulis,
DAFTAR ISI
Halaman
JUDUL
PERSETUJUAN KOMISI PEMBIMBING
PANITIA PENGUJI
PERNYATAAN
RIWAYAT HIDUP
KATA PENGANTAR... i
UCAPAN TERIMA KASIH ... ii
DAFTAR ISI... v
DAFTAR TABEL ... viii
DAFTAR BAGAN... ix
DAFTAR LAMPIRAN ... x
ABSTRAK ... xi
ABSTRACT ... xii
BAB I PENDAHULUAN... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Batasan Masalah... 8
1.3 Rumusan Masalah ... 9
1.4 Tujuan Penelitian ... 9
1.5 Manfaat Penelitian ... 10
1.5.1 Manfaat Teoritis ... 10
BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA TEORETIK, DAN
KONSEP ... 12
2.1 Kajian Pustaka... 12
2.2 Landasan Teoretis ... 15
2.2.1 Cultural Studies... 16
2.2.2 Teori Hegemoni ... 18
2.3.5 Postrukturalisme... 25
2.3.6 Representasi ... 26
BAB III METODE PENELITIAN ... 28
3.1 Metode dan Teknik Pengumpulan Data ... 28
3.2 Teknik Analisis Data... 30
3.3 Data dan Sumber Data ... 32
3.3.1 Sumber Data Primer... 32
3.3.2 Sumber Data Sekunder... 33
3.4 Model Penelitian ... 33
BAB IV FORMASI IDEOLOGI TOKOH-TOKOH DAN IDEOLOGI INSTITUSI PUBLIK DALAM NOVEL ENTROK... 36
4.1 Ideologi Tokoh-tokoh dan Ideologi Institusi Publik ... 36
4.2 Sifat-sifat Formasi Ideologi Tokoh-tokoh dan Ideologi Institusi Publik ... 56
4.2.1 Tokoh-tokoh Publik dalam Novel Entrok ... 56
4.3 Kelompok Ideologi ... 59
BAB V POLITIK DAN KEKUASAAN YANG BERKAITAN
DENGAN IDEOLOGI DALAM NOVEL ENTROK ... 66
5.1 Ideologi dalam Novel Entrok ... 66
5.2 Politik dan Kekuasaan... 68
BAB VI PENGARUH POLITIK DAN KEKUASAAN YANG
BERKAITAN DENGAN IDEOLOGI PARA TOKOH
DALAM NOVEL ENTROK ... 75
6.1...Kekuas
aan Pemerintah Orde Baru ... 75
6.2...Kekuas
aan Kaum Militer ... 78
6.3...Kekuas
aan Partai Politik ... 85
6.4...Doktrin
asi Ideologi ... 89
BAB VII SIMPULAN DAN SARAN... 92
7.1...Simpula
n... 92
7.2...Saran
... 93
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 4.1 Kelompok Ideologi Para Tokoh dalam Novel Entrok ... 64
DAFTAR BAGAN
Halaman
Bagan 1. Strategi Analisis Data Deskriptif-Kualitatif ... 31
Bagan 2. Sifat-sifat Formasi ... 58
Bagan 3. Penguasaan Legislatif Melalui Sentralisasi Kekuasaan Pada
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Foto dan Biografi Okky Madasari ... 98
Lampiran 2. Sinopsis Novel Entrok Karya Okky Madasari ... 99
Lampiran 3. Kulit Sampul Novel Entrok Karya Okky Madasari ... 106
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan memformasikan ideologi tokoh-tokoh dan ideologi institusi publik, mendeskripsikan politik dan kekuasaan yang berkaitan dengan ideologi serta menganalisis pengaruh politik dan kekuasaan yang berkaitan dengan ideologi. Ketiga hal tersebut dibahas melalui pendekatan cultural studies dan berdasarkan teori Hegemoni Gramsci serta konsep Ideologi Althusser, sehingga dapat diperoleh hubungan antara politik, kekuasaan, dan ideologi dalam novel Entrok. Metode penelitian yang digunakan adalah metode Deskriptif Kualitatif.
Data penelitian adalah novel Entrok karya Okky Madasari dan sejumlah buku acuan. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik catat pada kartu data, dan metode membaca heuristik dan hermeneutik. Teknik analisis data dilakukan dengan strategi analisis isi (content analysis), yaitu model analisis yang digunakan untuk mengungkap, memahami, dan menangkap pesan karya sastra.
Berdasarkan hasil analisis diperoleh ideologi-ideologi masing-masing tokoh dan tokoh-tokoh institusi publik yang saling bertentangan sehingga menimbulkan pergolakan akibat tidak adanya konsensus di antara keduanya. Untuk mengatasi hal itu, maka diadakanlah negosiasi antara ideologi yang dianut tokoh dan tokoh-tokoh institusi publik, sehingga segala konflik yang muncul dapat diatasi. Hal ini menumbuhkan kesadaran masyarakat sekaligus menjadi pembelajaran publik.
ABSTRACT
The purpose of this research is to formate the ideology of the characters and the ideology of public institution, to describe power and politic concerning with the ideologies and to analyze the influence of power and politic concerning with the ideologies. The three subjects are discussed with cultural studies approach and based on Gramsci’s theory of Hegemony as well as Althusser’s concept of Ideology, so that the relation among politic, power, and ideology in the novel Entrok can be found. The method of research used is Qualitative Descriptive method.
The data of research are Entrok, a novel by Okky Madasari, and some books of reference. The technique of collecting data is done by the technique of taking notes on data card, and the method of heuristic and hermeneutic reading. The technique of data analysis is done by the strategy of content analysis, which is the type of analysis used to reveal, understand, and catch the message of literary work.
The result of analysis finds that the contradicting ideologies of each character and the characters of public institution cause upheaval as a result of the absence of consensus between both of them. Therefore a negotiation between the ideology of the characters and the ideology of the characters of public institution is held so that all conflicts that happen can be solved. This thing grows the public awareness and becomes public learning.
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan memformasikan ideologi tokoh-tokoh dan ideologi institusi publik, mendeskripsikan politik dan kekuasaan yang berkaitan dengan ideologi serta menganalisis pengaruh politik dan kekuasaan yang berkaitan dengan ideologi. Ketiga hal tersebut dibahas melalui pendekatan cultural studies dan berdasarkan teori Hegemoni Gramsci serta konsep Ideologi Althusser, sehingga dapat diperoleh hubungan antara politik, kekuasaan, dan ideologi dalam novel Entrok. Metode penelitian yang digunakan adalah metode Deskriptif Kualitatif.
Data penelitian adalah novel Entrok karya Okky Madasari dan sejumlah buku acuan. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik catat pada kartu data, dan metode membaca heuristik dan hermeneutik. Teknik analisis data dilakukan dengan strategi analisis isi (content analysis), yaitu model analisis yang digunakan untuk mengungkap, memahami, dan menangkap pesan karya sastra.
Berdasarkan hasil analisis diperoleh ideologi-ideologi masing-masing tokoh dan tokoh-tokoh institusi publik yang saling bertentangan sehingga menimbulkan pergolakan akibat tidak adanya konsensus di antara keduanya. Untuk mengatasi hal itu, maka diadakanlah negosiasi antara ideologi yang dianut tokoh dan tokoh-tokoh institusi publik, sehingga segala konflik yang muncul dapat diatasi. Hal ini menumbuhkan kesadaran masyarakat sekaligus menjadi pembelajaran publik.
ABSTRACT
The purpose of this research is to formate the ideology of the characters and the ideology of public institution, to describe power and politic concerning with the ideologies and to analyze the influence of power and politic concerning with the ideologies. The three subjects are discussed with cultural studies approach and based on Gramsci’s theory of Hegemony as well as Althusser’s concept of Ideology, so that the relation among politic, power, and ideology in the novel Entrok can be found. The method of research used is Qualitative Descriptive method.
The data of research are Entrok, a novel by Okky Madasari, and some books of reference. The technique of collecting data is done by the technique of taking notes on data card, and the method of heuristic and hermeneutic reading. The technique of data analysis is done by the strategy of content analysis, which is the type of analysis used to reveal, understand, and catch the message of literary work.
The result of analysis finds that the contradicting ideologies of each character and the characters of public institution cause upheaval as a result of the absence of consensus between both of them. Therefore a negotiation between the ideology of the characters and the ideology of the characters of public institution is held so that all conflicts that happen can be solved. This thing grows the public awareness and becomes public learning.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Karya sastra merupakan wujud dari proses imajinatif dan kreatif pengarang.
Adapun proses kreatif itu berasal dari pengalaman pengarang sebagai manusia yang
hidup di alam semesta ini atau segala sesuatu yang ditemukan pengarang yang
dianggap menarik dan layak untuk dituangkan dalam sebuah tulisan. Oleh karena
adanya pengalaman hidup yang dialami pengarang atau hal-hal hidup yang menarik
yang pernah dijumpai pengarang dalam bersosialisasi dengan individu lainnya, maka
karya sastra menjadi satu kesatuan yang utuh jika dipasangkan dengan masyarakat
serta kebudayaan yang terlahir di dalamnya.
Karya sastra sebagai cerminan dari perilaku kehidupan manusia, tentunya
tidak akan pernah lepas dari rekaman peristiwa-peristiwa kebudayaan di dalam hidup
manusia. Hal ini didasarkan pada hakikat sastra dan kebudayaan itu sendiri, yakni
memiliki objek yang sama, yaitu manusia dalam masyarakat, manusia sebagai fakta
kebudayaan adalah multidisiplin yang secara terus-menerus menelusuri model
antarhubungan keduanya, sehingga makna karya sastra secara terus-menerus dapat
ditafsirkan.
Karya sastra adalah pengungkapan sebuah sistem kultural yang tersimpan
pada suatu bangsa. Hal ini didasarkan atas pentingnya peranan karya sastra itu sendiri
dan bahasa yang ada di dalamnya. Pengungkapan sistem kultural di dalam karya
sastra meliputi aspek-aspek kebudayaan yang sama sekali tidak bisa dipahami jika
terpisah dari gejala yang lain. Karya sastra yang menyajikan permasalahan
kebudayaan di dalamnya mempunyai sebuah bagian integral yang menceritakan
berbagai aspek kehidupan dengan cara imajinatif kreatif, dan sekaligus masuk akal.
Permasalahan budaya di dalam karya sastra senantiasa memaparkan persoalan antara
karya sastra dan manusia sebagai penghasil kebudayaan, dalam hubungan ini manusia
yang dimaksudkan adalah tokoh-tokoh dalam karya sastra. 1
Apabila dilihat dari relevansi sastra terhadap eksistensi kebudayaan dan
sumbangan yang dapat diberikan sastra terhadap pemahaman aspek-aspek
kebudayaan, khususnya kebudayaan kontemporer, maka model hubungan ini
mengacu pada cultural studies. Hal ini didasarkan pada hakikat sastra dan
kebudayaan, yang pada umumnya berbeda, kebudayaan memiliki hakikat objektif
empiris sedangkan karya sastra memiliki hakikat subjektif imajinatif.
Menurut Hutcheon (Ratna, 2005: 13) postmodernisme dan cultural studies,
meskipun secara umum didefinisikan sebagai kajian yang mempelajari seluruh
diawali dengan perdebatan mengenai sastra, khususnya perbedaan sastra tinggi
dengan sastra kelas pekerja. Milner (Ratna, 2005: 13-14) juga menambahkan, pada
dasarnya cultural studies merupakan pergeseran sosiologis, sebagai pergeseran
paradigma dari penelitian sastra yang memberikan perhatian pada kualitas estetis,
karya sastra yang tidak terkait dengan ruang dan waktu ke penelitian sastra sebagai
konstruksi sosial. Pendekatan cultural studies merupakan teori dan kritik dalam
kesusastraan Inggris kontemporer yang menekankan peran penting intelektual dan
bersifat emansipatoris (Klarer, 1999).
Williams (Siswadi, 2010) mengungkapkan tiga kategori dalam
mendefinisikan kebudayaan. Pertama, kebudayaan merupakan proses atau ketetapan
manusia yang sempurna pada bagian kebenaran tertentu atau nilai-nilai universal.
Proses ini merupakan penemuan dan gambaran di dalam kehidupan dan pekerjaan
dari semua nilai. Kedua, kebudayaan diartikan sebagai manusia yang bekerja dengan
intelektualitas, daya khayal, ide, dan pengalaman yang bermacam-macam dalam
ingatan mereka. Kegiatan kritik berlangsung secara alami, gagasan dan pengalaman
digambarkan serta dinilai. Ketiga, kebudayaan merupakan gambaran perjalanan fakta
kehidupan yang diungkapkan dengan makna pasti dan nilai, tidak hanya dalam seni
dan belajar tetapi juga dalam institusi dan tingkah laku yang luar biasa. Selanjutnya
juga dipaparkan mengenai pembedaan kebudayaan mencakup kebudayaan tinggi
(high culture) dan kebudayaan populer (popular culture) sebagai ranah cultural
studies karena masing-masing kebudayaan tersebut memiliki ciri-ciri yang
pejabat (dahulu kerajaan atau keraton), sedangkan kebudayaan populer berasal dari
rakyat biasa. Kebudayaan tinggi tentu saja hanya dapat dinikmati oleh para petinggi
di keraton saja (sekarang, masyarakat lapisan atas), sedangkan kebudayaan populer
dapat dinikmati secara massal oleh masyarakat.
Kebudayaan tinggi senantiasa dipenuhi oleh orang-orang khusus dan pilihan,
juga biaya yang diperlukan tidak sedikit, kebudayaan ini cenderung mewah dan
bersifat sakral serta penciptaannya tidak bertujuan komersial. Sebaliknya kebudayaan
populer senantiasa bersifat sederhana dan tidak membutuhkan biaya yang besar,
kebudayaan ini dilakukan dan dinikmati oleh rakyat biasa, dan penciptaan
kebudayaan ini bertujuan komersial.
Siswadi (2010) memaparkan bahwa kebudayaan populer dihasilkan dari
masyarakat modern (kapitalisme dan demokrasi). Kebudayaan ini tidak sekadar
dianggap sebagai seni, tetapi juga sebagai barang komoditi yang mampu
menghasilkan keuntungan yang besar. Hal ini disebabkan karena sifat universal yang
dimiliki oleh kebudayaan populer. Sejalan dengan hal tersebut maka muncul
anggapan bahwa konstruksi sastra merupakan bagian dari industri budaya dan telah
mengkhawatirkan kalangan kritikus sastra, karena penciptaan sastra berbasis pada
logika industri. Karya sastra atau produk-produk kebudayaan lainnya, tidak dapat
disamakan dengan barang-barang industri. Akan tetapi logika industri itu sedikit
banyak ikut mempengaruhi perkembangan strategi, bentuk, gaya, dan kandungan isi
karya-karya sastra. Tekanan agar karya sastra dapat diterima, diapresiasi, dipahami,
telah mendorong ke arah bentuk-bentuk sastra yang disesuaikan dengan selera massa
itu sendiri.
Selanjutnya Siswadi (2010) juga mengemukakan bahwa kebudayaan populer
menghasilkan karya sastra yang bergenre sastra populer. Sastra populer lahir dari
semangat kebudayaan populer, sehingga keduanya tidak dapat dipisahkan. Sastra
populer merupakan sebuah situs ideologi, sebab semua elemen dalam teks sastra
(meliputi elemen material, elemen kesadaran, elemen solidaritas-identitas, dan
elemen kebebasan) merupakan representasi ideologi yang melekat pada setiap elemen
tersebut. Sastra populer sebagai salah satu wujud dari fiksi populer, telah berhasil
mentransmisikan ideologi dominan dari industri-industri budaya kepada massa yang
dikorbankan dan termanipulasi. Menurut Storey (Siswadi, 2010), ideologi itu sendiri
adalah sistem besar yang memberikan orientasi kepada manusia, yang mempunyai
pengikut. Ideologi bersifat kolektif dan berada di wilayah superstruktur atau
kesadaran dan menjelma dalam praktik-praktik sosial setiap orang, lembaga-lembaga
pemerintah, institusi pendidikan, organisasi-organisasi, perusahaan komersial, dan
lain-lain. Sastra populer memiliki ciri yang khas yang membedakannya dengan apa
yang dianggap sastra tinggi, seperti mengharamkan makna ganda, menghindari
kerumitan dengan cara penyelesaian masalah dengan mudah, penokohan stereotip
dengan sistem bintang, dan sebagainya.
Salah satu karya sastra populer yang saat ini sedang banyak diperbincangkan
dan dinikmati masyarakat adalah novel Entrok karya Okky Madasari. Novel Entrok
karya pertamanya dalam dunia kreativitasnya. Novel ini berlatar waktu dan tempat,
pada tahun 1950-1999 di sekitar daerah Madiun. Novel ini diterbitkan untuk
memperingati hari Kartini 21 April 2010 lalu, bersama beberapa novel lainnya. Novel
ini menceritakan perjalanan hidup dua wanita di masa-masa sulit dan penuh
pergolakan. Namun yang lebih menarik adalah beberapa tema besar yang khas yang
menyatu dan mengalir bersama dengan wajar dalam novel ini, seperti tema
perempuan, politik, profesi, dan kepercayaan serta agama. Novel ini juga
memaparkan ketimpangan-ketimpangan sosial yang kerap terjadi pada masa Orde
Baru. Pada masa kepemimpinan Soeharto diceritakan dalam novel ini berkisar antara
tahun 1950 sampai 1999. Peristiwa yang mendominasi alur penceritaan dalam novel
ini adalah kekuasaan kaum militer yang bertindak sewenang-wenang terhadap rakyat
lemah dan mengakibatkan doktrinasi ideologi terhadap masyarakat di dalam novel
tersebut.
Di samping itu juga ditemukan kekuasaan partai politik dominan yang
memengaruhi kehidupan sosial dalam novel Entrok. Sejalan dengan realitas sosial
yang terdapat dalam novel, maka dapat dirujuk pada fakta sosial yang pernah terjadi
sekitar tahun 1966 sampai 1998. Masa ini adalah masa pemerintahan Presiden
Soeharto di Indonesia. Orde Baru menggantikan Orde Lama di bawah kepemimpinan
Soekarno. Pada masa Soeharto ditemukan banyak ketimpangan sosial, seperti realitas
sosial yang kerap dijumpai dalam novel Entrok.
Ketimpangan sosial pada era Orde Baru dapat dilihat melalui beberapa fakta
tindakan kerasnya yang pertama terhadap mahasiswa dan politisi sipil yang
sebelumnya telah menjadi penyokong utama rezim Orde Baru. Tindakan
penangkapan dan pengadilan yang dilakukan dalam kaitan dengan Malari dilakukan
pula dalam kerangka “penyingkiran lawan politik” (Fatah, 2010: 199). Kedua, peran
militer yang semakin meningkat, padahal tidak pernah terjadi sebelumnya dalam
politik dan administrasi negara, dan seusai pembubaran parlemen untuk pertama
kalinya militer duduk dengan jumlah yang tidak tanggung-tanggung sebanyak 35
orang dalam parlemen yang anggotanya 283 orang, jadi 12% untuk pertama kalinya
sejak proklamasi kemerdekaan di dalam bidang yang sama sekali tidak berhubungan
dengan pekerjaan militer. Sebuah proses yang dapat dikatakan state-corporatism
sudah mulai berjalan sejak itu, ketika suatu sistem perwakilan dibuat di mana militer
mewakili dirinya di dalam suatu parlemen. Di bidang administrasi negara jumlah
militer aktif mulai mengambil tempat di dalam badan eksekutif di dalam
pemerintahan daerah seiring dengan menguatnya pusat dan perlahan-lahan
melenyapnya otonomi daerah (Dhakidae, 2003: 243). Ketiga, peristiwa penembakan
massal rakyat Timor Timur di Santa Cruz yang dilakukan oleh militer (Dhakidae,
2003: 279). Keempat, adanya politik etnisitas seperti superioritas kebudayaan Jawa
yang dimasukkan ke dalam politik Orde Baru, serta pelarangan terhadap bahasa Cina
dan serpihan-serpihan kebudayaan Cina yang dipaksakan ke dalam politiknya melalui
birokrasi sipil dan militer hanya dimungkinkan oleh kekerasan (Dhakidae, 2003:
288). Berdasarkan fakta sosial di atas, penulis didorong untuk menelusuri jejak fakta
ideologi-ideologi yang terdapat di dalam novel ini menjadikannya sebuah situs yang
menarik bagi penulis untuk mengkajinya.
Novel Entrok karya Okky Madasari merupakan perwujudan dari sastra
populer. Novel ini juga mengandung produk ideologi tokoh-tokoh dan industri di
dalamnya. Oleh sebab itu, penelitian ini menitikberatkan pada ideologi yang muncul
dari para tokoh dan industri, politik, dan kekuasaan dalam novel Entrok. Ketiga aspek
ini merupakan isu yang fundamental dalam ranah cultural studies. Cultural studies
juga menyentralkan budaya pop dalam kajiannya. Budaya pop secara gamblang
dideskripsikan dalam novel Entrok karya Okky Madasari.
1.2 Batasan Masalah
Karya sastra mengandung berbagai persoalan hidup dan kehidupan manusia.
Dengan kalimat lain, karya sastra merupakan kompleksitas dalam kehidupan
manusia. Di dalamnya tertuang berbagai bentuk kehidupan manusia. Untuk
membahas permasalahan yang bersifat kompleks dalam sebuah karya sastra,
diperlukan batasan masalah agar penelitian tidak menyimpang dari tujuan yang ingin
dicapai.
Berdasarkan judul penelitian ini, masalah dibatasi dengan hanya
memformasikan (membuat suatu susunan dengan hubungan yang bersifat
bertentangan, korelatif, dan subordinatif) ideologi-ideologi yang lahir dari para tokoh
dan institusi publik, mendeskripsikan politik dan kekuasaan yang terdapat dalam
Pada akhirnya, semua ruang lingkup pembahasan ini merupakan sebuah deskripsi
yang disertai analisis untuk memberikan pemahaman kepada pembaca terhadap novel
Entrok.
1.3 Rumusan Masalah
Masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah :
1. Bagaimana formasi ideologi tokoh-tokoh dan ideologi institusi publik dalam
novel Entrok karya Okky Madasari?
2. Bagaimana pendeskripsian politik dan kekuasaan yang berkaitan dengan
ideologi dalam novel Entrok?
3. Bagaimana pengaruh politik dan kekuasaan yang berkaitan dengan ideologi
terhadap tokoh-tokoh dalam novel Entrok?
1.4 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian tesis adalah sebagai berikut:
1. Memformasikan ideologi tokoh-tokoh dan ideologi institusi publik dalam
novel Entrok.
2. Mendeskripsikan politik dan kekuasaan yang berkaitan dengan ideologi
dalam novel Entrok.
3. Menganalisis pengaruh politik dan kekuasaan yang berkaitan dengan ideologi
1.5 Manfaat Penelitian
1.5.1 Manfaat Teoretis
Manfaat teoretis penelitian antara lain, sebagai berikut:
1. Penelitian ini diharapkan bermanfaat sebagai salah satu rujukan penelitian
mengenai Kesusastraan Indonesia, dan selanjutnya dapat membantu
penelitian-penelitian yang berhubungan dengan pembahasan tentang Cultural
Studies, Budaya Populer, dan novel-novel karya Okky Madasari.
2. Diharapkan mampu berkontribusi dalam pengembangan keilmuan, khususnya
mengenai kajian Postrukturalisme.
3. Penelitian ini diharapkan mampu mengilhami sastrawan dan pengarang
Indonesia untuk mengangkat tema-tema yang menceritakan tentang realitas
1.5.2 Manfaat Praktis
Manfaat praktis penelitian antara lain, sebagai berikut:
1. Memberikan edukasi publik untuk memahami bagaimana isu-isu sosial,
ideologi, politik, dan kekuasaan yang digambarkan dalam sebuah novel dapat
bertujuan emansipatoris demi meningkatkan mutu kehidupan manusia.
2. Memberikan kontribusi terhadap masyarakat dan pemerintah mengenai
sejarah bangsa Indonesia pada masa Orde Baru.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA TEORETIK, DAN KONSEP
Dalam melakukan penelitian yang bersifat ilmiah, tentunya tidak terlepas dari
peran kajian pustaka, kerangka teoretik, dan konsep yang dijadikan pegangan atau
pedoman dalam memecahkan permasalahan yang diangkat.
2.1 Kajian Pustaka
Beberapa kajian pustaka yaitu penelitian yang terkait dengan judul ini
dikemukakan sebagai berikut:
1. Tesis Universitas Diponegoro oleh Akhlis Purnomo yang
berjudul Pandangan Para Tokoh Utama dalam Novel A Bird Named Enza
Karya Dawn Meier Mengenai American Dream: Sebuah Pendekatan
Sosiologi Sastra (2009). Pada penelitian ini dibahas pandangan mengenai
American Dream dalam novel A Bird Named Enza. Pandangan American
Dream dibahas menurut tokoh-tokoh utama secara bervariasi tetapi
kehidupan yang lebih baik di Lemmon dengan semangat khas American
Dream yaitu liberty, equality, dan prosperity.
Penelitian di atas memiliki kesamaan dengan penelitian ini, yaitu
keduanya membahas masalah ideologi tokoh-tokoh yang berkaitan dengan
wilayah praktik sosial berlangsung. Sedangkan perbedaan antara penelitian di
atas dan penelitian ini, yaitu dalam penelitian ini penulis membahas ideologi
tokoh-tokoh dan institusi publik dalam novel Entrok secara bervariasi dan
bertentangan, seperti ideologi Marni sebagai tokoh ibu bertentangan dengan
ideologi Rahayu sebagai tokoh anak. 12
2. Tesis Universitas Sumatera Utara oleh Bima Pranachitra yang
berjudul Representasi Byronic Hero dalam Novel Mary Shelley
Frankenstein Karya Mary Shelley (2010). Pada penelitian ini dibahas
mengenai penokohan Byronic Hero dan representasinya terhadap konteks
sosial, politik, dan budaya masyarakat dalam novel Mary Shelley
Frankenstein.
Penelitian di atas memiliki kesamaan dengan penelitian ini, yaitu
keduanya menggunakan konsep Postrukturalisme dalam penelitiannya
masing-masing. Sedangkan perbedaan antara penelitian di atas dan penelitian
ini, yaitu dalam penelitian ini penulis membahas formasi ideologi,
mendeskripsikan politik dan kekuasaan yang berkaitan dengan ideologi, serta
mengkaji pengaruh politik dan kekuasaan yang berkaitan dengan ideologi
3. Jurnal Studi Islam dan Budaya: “Relasi Formatif Hegemoni
Gramsci dalam Novel Perburuan Karya Pramoedya Ananta Toer” oleh
Heru Kurniawan (2007). Pada penelitian ini dibahas pertentangan antara
ideologi nasionalisme humanisme dan ideologi priyayi yang muncul dari
hegemoni pemerintah kolonial Belanda di Indonesia yang terdapat dalam
novel Perburuan.
Penelitian di atas memiliki kesamaan dengan penelitian ini, yaitu
keduanya menggunakan teori hegemoni Gramsci dalam menganalisis objek
penelitian. Sedangkan perbedaan antara penelitian di atas dan penelitian ini,
yaitu dalam penelitian ini penulis membahas pertentangan antara ideologi
yang lahir dari masyarakat Jawa abangan di Magetan dan ideologi yang
muncul dari hegemoni kaum militer pada masa Orde Baru di Indonesia,
keduanya terdapat dalam novel Entrok.
4. Penelitian essay Tenggina Rahmad Siswadi yang berjudul
Perang Ideologi dalam Novel Entrok: Kajian Sastra Populer dan
Hegemoni Gramsci (2010). Pada penelitian ini dibahas formasi dan
negosiasi ideologi dalam novel Entrok.
Penelitian di atas memiliki kesamaan dengan penelitian ini, yaitu
keduanya menganalisis novel Entrok sebagai objek penelitian dan
menggunakan teori hegemoni Gramsci dalam menganalisis novel tersebut.
Sedangkan perbedaan antara penelitian di atas dan penelitian ini, yaitu dalam
dan kekuasaan yang terdapat dalam novel Entrok serta mengkaji pengaruh
ideologi, politik, dan kekuasaan terhadap tokoh-tokoh dalam novel. Di
samping itu juga teori yang digunakan dalam menganalisis objek penelitian
adalah teori hegemoni Gramsci dan teori ideologi Althusser.
5. Penelitian essay Apsanti Djokosujatno yang berjudul Entrok:
Sebuah Novel Multifaset (2010). Pada penelitian ini dibahas tema-tema
yang dimunculkan dari novel Entrok, seperti tema perempuan, politik,
profesi, dan kepercayaan serta agama.
Penelitian di atas memiliki kesamaan dengan penelitian ini, yaitu
keduanya menganalisis novel Entrok sebagai objek penelitian. Sedangkan
perbedaan antara penelitian di atas dan penelitian ini, yaitu dalam penelitian
ini penulis mengedepankan salah satu tema, yakni politik, yang berhubungan
dengan perubahan kebijakan pemerintah yang semakin lama cenderung pada
militer, menjadikan militer semakin berkuasa dan bertindak
sewenang-wenang semenjak PKI dihancurkan. Hal ini melahirkan hegemoni dengan
ideologi-ideologi tertentu.
2.2 Landasan Teoretis
Konsep teori merupakan bagian terpenting dalam membantu memecahkan
masalah. Adanya peran konsep menjadikan peneliti lebih memahami serta melakukan
dilakukan penelitian, peneliti sudah mempunyai gambaran, harapan, jawaban atau
bayangan tentang apa yang akan ditemukannya melalui penelitian yang dimaksud.
Sesuai dengan format penelitian yang dibuat dalam desain
deskriptif-kualitatif, maka digunakan beberapa teori yang dimaksudkan sebagai pijakan.
2.2.1 Cultural Studies
Menurut Hall (Barker, 2009: 6), pendekatan cultural studies merupakan suatu
pembentukan wacana, yaitu kluster (atau bangunan) gagasan-gagasan, citra-citra dan
praktik-praktik, yang menyediakan cara-cara untuk membicarakan topik, aktivitas
sosial tertentu atau arena institusional dalam masyarakat. Cara-cara tersebut dapat
berbentuk pengetahuan dan tindakan yang terkait dengannya.
Cultural studies adalah satu teori yang dibangun oleh para pemikir yang
memandang produksi pengetahuan teoretis sebagai praktik politik. Di sini,
pengetahuan tidak pernah menjadi fenomena netral atau objektif, melainkan soal
posisionalitas, soal dari mana orang berbicara, kepada siapa dan untuk tujuan apa.
Cultural studies dibangun oleh suatu cara berbicara yang tertata perihal objek-objek
(yang dibawanya sebagai permasalahan) dan yang berkumpul di sekitar
konsep-konsep kunci, gagasan-gagasan dan pokok-pokok perhatian. Selain itu, cultural
studies memiliki suatu momen ketika dia menamai dirinya sendiri, meskipun
penamaan itu hanya menandai penggalan atau kilasan dari suatu proyek intelektual
Menurut Hall (Storey, 2010: 2) cultural studies mengandung wacana yang
berlipat ganda; merupakan seperangkat formasi; ia merekam momen-momen di masa
lalu dan kondisi krisisnya (conjuncture) sendiri yang berbeda. Cultural studies
mencakup pelbagai jenis karya yang berbeda; senantiasa merupakan seperangkat
formasi yang tidak stabil; mempunyai banyak lintasan; kebanyakan orang telah
mengambil posisi teoretis yang berbeda, kesemuanya teguh pada pendiriannya.
Storey (2010: 1) mengatakan bahwa cultural studies bukanlah sekumpulan teori dan
metode yang monolitik.
Cultural studies merupakan wacana yang membentang, yang merespons
kondisi politik dan historis yang berubah dan selalu ditandai dengan perdebatan,
ketidaksetujuan, dan intervensi. Cultural studies juga menganggap budaya itu bersifat
politis dalam pengertian yang sangat spesifik, yaitu sebagai ranah konflik dan
pergumulan. Budaya dalam cultural studies lebih didefinisikan secara politis
ketimbang secara estetis. Objek kajian dalam cultural studies bukanlah budaya yang
didefinisikan dalam pengertian yang sempit, yaitu sebagai objek keadiluhungan
estetis (seni tinggi); juga bukan budaya yang didefinisikan dalam pengertian yang
sama-sama sempit, yaitu sebagai sebuah proses perkembangan estetik, intelektual,
spiritual; melainkan budaya yang dipahami sebagai teks dan praktik hidup sehari-hari.
Inilah definisi budaya yang bisa mencakup dua definisi sebelumnya; selain itu, dan
ini sangat penting, melibatkan kajian budaya pop bisa bergerak melampaui
Bennett (Barker, 2009: 8) memaparkan bahwa cultural studies adalah suatu
arena interdisipliner di mana perspektif dari disiplin yang berlainan secara selektif
dapat digunakan untuk menguji hubungan kebudayaan dengan kekuasaan.
Bentuk-bentuk kekuasaan yang dieksplorasi oleh cultural studies beragam, termasuk gender,
ras, kelas, kolonialisme, dan lain-lain. Cultural studies berusaha mengeksplorasi
hubungan antara bentuk-bentuk kekuasaan ini dan berusaha mengembangkan cara
berpikir tentang kebudayaan dan kekuasaan yang dapat dimanfaatkan oleh sejumlah
agen dalam upayanya melakukan perubahan.
Cultural studies dilihat sebagai situs penting bagi produksi dan reproduksi
hubungan sosial dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Storey (2010: 3), elaborasi
yang sangat bagus mengenai cara melihat budaya ini barangkali datang dari Stuart
Hall, yang menggambarkan budaya pop sebagai sebuah arena konsensus dan
resistensi. Budaya pop merupakan tempat di mana hegemoni muncul, dan wilayah di
mana hegemoni berlangsung.
2.2.2 Teori Hegemoni
Sugiono (2006: 31) mengemukakan bahwa teori hegemoni Gramsci adalah
sebuah teori politik paling penting abad XX. Teori ini dibangun di atas premis
pentingnya ide dan tidak mencukupinya kekuatan fisik belaka dalam kontrol sosial
politik. Di mata Gramsci, agar yang dikuasai mematuhi penguasa, yang dikuasai tidak
hanya harus merasa mempunyai dan menginternalisasi nilai-nilai serta norma
mereka. Inilah yang dimaksud Gramsci dengan hegemoni atau menguasai dengan
kepemimpinan moral dan intelektual secara konsensual.
Selanjutnya pandangan Gramsci (Sugiono, 2006: 34-35) menjelaskan bahwa
mengenai pentingnya kepemimpinan kultural ini membuatnya mempertimbangkan
kembali konsep “suprastruktur” Marxian. Tetapi bukannya memandang suprastruktur
sebagai sebuah epifenomena semata, yakni refleksi semata dari elemen ekonomi sub /
struktur, ia justru mengkarakterisasi suprastruktur sebagai penting dengan sendirinya.
Ia memilah pengertian suprastruktur menjadi “dua level struktur utama”: tingkat
pertama ia sebut “masyarakat sipil,” lainnya adalah “masyarakat politik” atau
“negara”. Dalam konsepsi Gramsci “masyarakat sipil” mencakup seluruh aparatus
transmisi yang lazim disebut “swasta” seperti universitas, sekolah, media massa,
gereja dan lain sebagainya. Karena aparatus-aparatus tersebut memainkan peran
sangat signifikan dalam membentuk kesadaran massa, maka kemampuan
kelompok(-kelompok) berkuasa dalam melestarikan kontrol sosial dan politiknya atas
kelompok-kelompok lain sepenuhnya bergantung pada kemampuannya mengontrol
aparatus-aparatus tadi. Yang dimaksud Gramsci dengan “masyarakat politik,” sebaliknya,
adalah semua institusi publik yang memegang kekuasaan untuk melaksanakan
“perintah”. Termasuk dalam kategori ini, masyarakat politik mengacu pada, antara
lain, institusi seperti tentara, polisi, pengadilan, birokrasi dan pemerintah. Dengan
kata lain, hal itu menunjuk pada semua institusi yang biasa disebut sebagai negara
dan, memang demikian halnya, pada beberapa bagian Prison Notebooks Gramsci
Mengikuti konsepsi di atas, Gramsci (Sugiono, 2006: 36) mendefinisikan
negara sebagai persamaan dari masyarakat politik plus masyarakat sipil atau memakai
rumusannya sendiri: “negara= masyarakat politik + masyarakat sipil, dengan kata lain
hegemoni dilindungi oleh baju besi koersi. Patria dan Andi Arief (2003: 32)
mengatakan bahwa hegemoni menurut Gramsci merujuk pada pengertian tentang
situasi sosial-politik, dalam terminologinya disebut momen dimana filsafat dan
praktik sosial masyarakat menyatu dalam keadaan seimbang. Dominasi merupakan
konsep dari realitas yang menyebar melalui masyarakat dalam sebuah lembaga dan
manifestasi perorangan. Pengaruh dari spirit ini berbentuk moralitas, adat, religi,
prinsip-prinsip politik dan semua relasi sosial, terutama dari intelektual. Hegemoni
selalu berhubungan dengan penyusunan kekuatan negara sebagai klas diktator.
Harjito (Siswadi, 2010) menjelaskan bahwa terdapat empat hal yang
ditonjolkan dari teori Gramsci dalam bandingannya dengan teori Marx. Pertama,
Gramsci berpendapat bahwa di dalam masyarakat selalu terdapat pluralitas ideologi.
Kedua, konflik tidak hanya antarkelas, tetapi konflik antara kelompok-kelompok
dengan kepentingan-kepentingan yang bersifat global untuk mendapatkan kontrol
ideologi dan politik terhadap masyarakat. Ketiga, jika Marx menyebut kelas sosial
harus menyadari keberadaan dirinya dan memiliki semangat juang sebagai kelas,
Gramsci menyatakan bahwa untuk menjadi kelompok dominan, kelompok harus
mewakili kepentingan. Kelompok dominan harus berkoordinasi, memperluas, dan
mengembangkan interest-nya dengan kepentingan-kepentingan umum kelompok
bagi kolektif yang terdiri atas orang-orang tertindas serta kelompok yang didominasi,
dieksploitasi, dan kurang memiliki kesadaran kelas. Selanjutnya Harjito (Siswadi,
2010) menjelaskan pandangan Gramsci berikutnya. Keempat, Gramsci berpandangan
bahwa seni atau sastra berada dalam superstruktur. Seni diletakkan dalam upaya
pembentukan hegemoni dan budaya baru. Seni membawa ideologi atau superstruktur
yang kohesi sosialnya dijamin kelompok dominan. Ideologi tersebut merupakan
wujud counter-hegemoni (hegemoni tandingan) atas hegemoni kelas penguasa yang
dipertahankan anggapan palsu bahwa kebiasaan dan kekuasaan penguasa merupakan
kehendak Tuhan atau produk alam.
2.3 Konsep
Pada bagian ini, peneliti akan memaparkan konsep yang digunakan dalam
penelitian, antara lain: (1) Formasi, (2) Ideologi, (3) Politik, (4) Kekuasaan, (5)
Postrukturalisme, dan (6) Representasi.
2.3.1 Formasi
Harjito (Siswadi, 2010) menyatakan bahwa formasi merupakan suatu susunan
dengan hubungan yang bersifat bertentangan, korelatif, dan subordinatif. Formasi
ideologi tidak hanya membahas ideologi apa saja yang terdapat dalam teks, akan
tetapi juga membahas bagaimana relasi antar ideologi tersebut. Menurut Storey
(Siswadi, 2010), formasi ideologi dapat ditelusuri melalui elemen material, kemudian
solidaritas-identitas, dan elemen kebebasan. Keempat elemen tidak harus muncul
bersamaan. Elemen yang harus muncul adalah elemen material, yang berwujud
berbagai aktivitas praktis dan terjelma dalam kehidupan keseharian, cara hidup
kolektif masyarakat, lembaga, serta organisasi tempat praktik sosial berlangsung.
2.3.2 Ideologi
Menurut Althusser (2010: 39), ideologi adalah sebuah representasi relasi
individu-individu imajiner pada kondisi nyata dari eksistensinya. Terjadinya
transposisi imajiner atas kondisi-kondisi eksistensi nyata disebabkan oleh eksistensi
dari sejumlah kecil manusia sinis yang mengandalkan representasi dunia yang
dipalsukan yang diimajinalisasikannya demi dominasi dan eksploitasi terhadap
rakyat, sehingga sanggup memperbudak kecerdasannya dengan mendominasi
imajinasi.
Selanjutnya Althusser (2010: 51) juga menjelaskan bahwa ideologi bertindak
atau berfungsi dengan suatu cara yang merekrut subjek-subjek di antara
individu-individu (ideologi merekrut mereka semua), atau mengubah individu-individu-individu-individu
menjadi subjek-subjek (ideologi mengubah mereka semua) melalui operasi yang
sangat presisi, yang dinamakan interpelasi. Individu diinterpelasi sebagai suatu
subjek (bebas) agar ia dapat taat sepenuhnya pada perintah-perintah Subjek, yakni
agar dia dapat (sepenuhnya) menerima ketaatannya, agar dia membuat gerak-gerik
subjek kecuali dengan, dan demi ketaatannya. Itulah sebabnya mereka menjalaninya
sendiri.
Berdasarkan penjelasan di atas, diketahui bahwa sepertinya manusia
memiliki esensi sebagai makhluk ideologi yang tak mungkin lepas darinya,
seolah-olah ideologi merupakan udara tempat manusia menghirup nafas untuk
melangsungkan hidup. Dengan adanya ideologi, dapat menolong manusia untuk
memperoleh sumberdaya pemenuh kebutuhan bagi diri sendiri dan kelompoknya,
juga mencegah lawan-lawannya untuk memperoleh hal yang sama.
Setiap individu dalam kelompok harus mampu menjaga keberlangsungan
usaha pemenuhan kebutuhan, wujud konkretnya adalah produksi. Usaha-usaha itu
dilakukan sedemikian rupa dan setiap usaha yang dianggap baik bagi produksi
dipertahankan, dibakukan dan diwariskan kepada generasi penerus, senantiasa
direproduksi. Setiap individu baru dipersiapkan untuk menjadi penerus proses
produksi, menjadi alat bagi reproduksi produksi dan pelengkap bagi relasi produksi.
Agar keberlangsungan proses reproduksi produksi dan relasi produksi terjaga dengan
baik, maka individu-individu dipersatukan dan direkatkan oleh struktur tertinggi yaitu
negara.
Takwin (Althusser, 2010: xxiv) memaparkan bahwa negara dengan
aparatusnya menjaga dengan berbagai cara agar kondisi yang menunjang reproduksi
dan relasi produksi berlangsung terus. Althusser lalu membedakan dua jenis aparatus
negara menjadi: (a) Repressive State Apparatus (RSA) yang bekerja dengan cara
dan (b) Ideological State Apparatus (ISA) yang bekerja dengan cara persuasif,
ideologis (agama, pendidikan, keluarga, media massa, dan sebagainya).
Selanjutnya Althusser (2010: 20-21) menjelaskan bahwa aparatus Negara
Represif (RSA) sepenuhnya berada pada wewenang institusi publik, sebaliknya,
aparatus Negara Ideologis (ISA) kebanyakan merupakan wewenang institusi privat.
Adapun institusi-institusi privat yang termasuk ke dalam aparatus Negara Ideologis
(ISA) adalah sebagai berikut.
1.ISA Agama (sistem Gereja-gereja yang berbeda)
2.ISA Pendidikan (sistem Sekolah privat dan publik yang berbeda)
3.ISA Keluarga (merupakan unit produksi dan/atau unit konsumsi)
4.ISA Hukum
5.ISA Politik (sistem politik, termasuk pelbagai partai yang berbeda)
6.ISA Serikat Buruh
7.ISA Komunikasi (press, radio dan televisi, dan sebagainya)
8.ISA Budaya (kesusastraan, seni, olahraga, dan sebagainya)
2.3.3 Politik
Menurut Machiavelli (Schmandt, 2009: 269), politik mempunyai sistem
nilainya sendiri yang berbeda dari sistem etika perseorangan. Kekuasaan sebagai
nexus sistem ini, karena tanpa kekuasaan realisasi dari tujuan-tujuan sosial tidaklah
mempertahankan, dan meluaskan kekuasaan politik bisa dibenarkan sekalipun hal itu
jelas merupakan kejahatan dilihat dari sudut pandang moralitas dan agama.
2.3.4 Kekuasaan
Kekuasaan dipandang terdapat pada setiap level hubungan sosial. Kekuasaan
bukan hanya sekadar perekat yang menyatukan kehidupan sosial, atau kekuatan
koersif yang menempatkan sekelompok orang di bawah orang lain, meskipun dia
pada dasarnya memang demikian, karena dia juga merupakan proses yang
membangun dan membuka jalan bagi adanya segala bentuk tindakan, hubungan atau
tatanan sosial. Dalam hal ini, kekuasaan, meskipun benar-benar menghambat, juga
melapangkan jalan. Di samping itu, cultural studies menunjukkan perhatian khusus
terhadap kelompok-kelompok pinggiran, pertama-tama karena soal kelas, dan
kemudian baru karena soal ras, gender, kebangsaan, kelompok umur,dll (Barker,
2009: 10-11).
2.3.5 Postrukturalisme
Postrukturalisme merupakan aliran penyempurnaan terhadap aliran
strukturalisme. Pada awal abad ke-20 atau sekitar tahun 1980-an, dilakukan revisi
pretensi-pretensi ilmiahnya. Postrukturalisme memiliki ciri khas yaitu ketidakmantapan teks.
Hal ini dapat dijelaskan bahwa makna sebuah karya ditentukan oleh apa yang
dilakukan oleh teks, bukan apa yang dimaksudkan, sehingga terjadi pergeseran dari
estetika produksi ke estetika konsumsi, penerima menjadi pencipta. Makna sebuah
teks tidak diproduksi melalui kontemplasi pasif, melainkan partisipasi aktif. Karya
sastra tidak hanya milik pengarang, tetapi juga milik pembaca. Karya sastra juga
sebagai anonimitas, tidak ada karya pertama, semua intertekstual. Oleh sebab itu,
makna teks tergantung pada konteks, interaksi pada pembaca, teks juga tidak tertutup,
tetapi terbuka karena secara terus-menerus berinteraksi ke luar dirinya.
Adapun beberapa kelemahan strukturalisme yang dikemukakan Teeuw
(Ratna, 2004: 160), antara lain: (a) belum memiliki syarat sebagai teori yang lengkap;
(b) karya seni tidak bisa diteliti secara terpisah dari struktur sosial; (c) kesangsian
terhadap struktur objektif karya; (d) karya dilepaskan dari relevansi pembacanya; dan
(e) karya sastra juga dilepaskan dari relevansi sosial budaya yang
melatarbelakanginya.
2.3.6 Representasi
Representasi adalah gambaran sesuatu yang akurat atau realita yang
terdistorsi. Representasi tidak hanya berarti “to present”, “to image”, atau “to depict”.
Representasi adalah sebuah cara memaknai apa yang diberikan pada benda yang
digambarkan. Konsep lama mengenai representasi ini didasarkan pada premis bahwa
diberikan oleh representasi dan arti benda yang sebenarnya digambarkan. Hal ini
terjadi antara representasi dan benda yang digambarkan. Berlawanan dengan
pemahaman standar itu, Hall (Yolagani, 2007) berargumentasi bahwa representasi
harus dipahami dari peran aktif dan kreatif orang memaknai dunia.
“so the representation is the way in which meaning is somehow given to the things
which are depicted through the images or whatever it is, on screens or the words on a
page which stand for what we’re talking about.”
Hall menunjukkan bahwa sebuah imaji akan mempunyai makna yang berbeda
dan tidak ada garansi bahwa imaji akan berfungsi atau bekerja sebagaimana mereka
dikreasi atau dicipta. Hall menyebutkan “Representasi sebagai konstitutif.
Representasi tidak hadir sampai setelah selesai direpresentasikan, representasi tidak
terjadi setelah sebuah kejadian. Representasi adalah konstitutif dari sebuah kejadian.
Representasi adalah bagian dari objek itu sendiri, ia adalah konstitutif darinya
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Metode dan Teknik Pengumpulan Data
Format desain penelitian ini adalah deskriptif-kualitatif, dengan analisis isi
(content analysis). Dalam penelitian kualitatif, penggunaan analisis isi lebih banyak
ditekankan pada bagaimana teks-teks yang ada dalam komunikasi itu terbaca dalam
interaksi sosial; dan bagaimana teks-teks itu terbaca dan dianalisis oleh peneliti. Oleh
karena itu, kredibilitas peneliti menjadi amat penting, dan diharapkan mampu untuk
merajut fenomena isi komunikasi menjadi fenomena sosial yang terbaca oleh orang
pada umumnya (Bungin, 2008: 158). Selanjutnya digunakan juga metode membaca
heuristik dan hermeneutik. Pradopo (Jabrohim, 2003:80) menjelaskan,
Metode membaca heuristik pada cerita rekaan atau novel merupakan metode pembacaan berdasarkan tata bahasa ceritanya yaitu pembacaan novel dari awal sampai dengan akhir cerita secara berurutan, cerita yang memiliki alur sorot balik dapat dibaca secara alur lurus. Hal ini dipermudah dengan dibuatnya sinopsis cerita dari novel yang dibaca tersebut. Pembacaan heuristik itu adalah penerangan kepada bagian cerita secara berurutan.
Selanjutnya beliau juga menjelaskan, pembacaan hermeneutik adalah
konvensi sastranya. Pembacaan hermeneutik juga merupakan pembacaan ulang
(retroaktif) sesudah pembacaan heuristik dengan memberikan konvensi sastranya.
Menurut Teeuw (1984: 123) hermeneutik adalah ilmu atau keahlian menginterpretasi
karya sastra dan ungkapan bahasa dalam arti yang lebih luas menurut maksudnya.
Dalam praktik interpretasi sastra itu dipecahkan secara dialektik, bertangga, dan
lingkaran dalam bentuk spiral. Selanjutnya interpretasi (Palmer, 2005: 24) merupakan
kerja pokok intelektualitas dalam memformulasikan keputusan yang benar tentang
sesuatu.
Menurut Endraswara (2008: 5), ciri penting dari penelitian kualitatif dalam
sastra antara lain:
“(1) peneliti merupakan instrumen kunci yang akan membaca secara cermat sebuah karya sastra, (2) penelitian dilakukan secara deskriptif, artinya terurai dalam bentuk kata-kata atau gambar jika diperlukan, bukan berbentuk angka, (3) lebih mengutamakan proses dibandingkan hasil, karena karya sastra merupakan fenomena yang banyak mengundang penafsiran, (4) analisis secara induktif, dan (5) makna merupakan andalan utama.”
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan mencatat pada
kartu data. Kartu data dibuat sesuai dengan kebutuhan permasalahan penelitian.
Adapun tahapan pengumpulan data: (1) membaca novel Entrok secara cermat dan
berulang-ulang; (2) menuliskan temuan data dalam kartu data, diklasifikasikan
berdasarkan permasalahan penelitian; (3) pada saat bersamaan dilakukan reduksi
data, yakni dengan cara mengabaikan data-data yang kurang relevan.
Menurut Bungin (2008), dalam penelitian kualitatif, terdapat keterkaitan antara
pengumpulan data dan teknik-teknik analisis data dilakukan sekaligus secara
bersamaan, karena suatu metode pengumpulan data juga sekaligus adalah metode dan
teknik analisis data. Observasi sebagai metode penelitian kualitatif merupakan suatu
pengamatan dengan menggunakan panca indra mata sebagai alat bantu utamanya.
Oleh sebab itu, observasi adalah kemampuan seseorang untuk menggunakan
pengetahuannya melalui hasil kerja panca indra mata, serta dibantu oleh panca indra
lainnya.
3.2 Teknik Analisis Data
Sebagaimana yang telah dipaparkan pada halaman sebelumnya, bahwasanya
relasi metode pengumpulan data dan teknik-teknik analisis data dilakukan sekaligus
secara bersamaan, karena suatu metode pengumpulan data juga sekaligus adalah
metode dan teknik analisis data. Strategi analisis data penelitian ini menggunakan
strategi analisis isi (content analysis), yaitu model analisis yang digunakan untuk
mengungkap, memahami, dan menangkap pesan karya sastra. Menurut Endraswara
(2008: 160):
Dalam penelitian kualitatif, analisis konten ditekankan pada bagaimana
peneliti melihat keajekan isi komunikasi secara kualitatif, dan juga bagaimana
peneliti memaknakan isi komunikasi. Pemahaman dasar terhadap kultur di mana
komunikasi itu terjadi amat penting. Kultur ini menjadi muara yang luas terhadap
berbagai macam bentuk komunikasi di masyarakat (Bungin, 2008: 158).
Pada dasarnya, metode-metode pengumpulan data dalam penelitian kualitatif
sekaligus juga adalah metode analisis data atau, dengan kata lain, prosedur metodis
sekaligus juga adalah strategis analisis data itu sendiri, sehingga proses pengumpulan
data juga adalah proses analisis data. Bahkan, keduanya erat berkaitan dengan teori.
Keseluruhan data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan strategi
analisis data deskriptif-kualitatif (Bagan 1). Setelah seluruh data terkumpul,
dilakukan analisis secara induktif dengan menggunakan metode triangulasi, yaitu
penggunaan bermacam-macam metode, sumber data, peneliti, dan teori. Keterangan
tersebut digambarkan sebagai berikut:
Penokohan
Keterangan :
: tanda panah dua arah menunjukkan kesalinghubungan.
: tanda panah satu arah menunjukkan hubungan satu arah.
: tanda panah putus-putus satu arah menunjukkan keterbukaan.
3.3 Data dan Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data pustaka deskriptif yang
berupa uraian cerita, ungkapan, pernyataan, kata-kata tertulis, dan perilaku yang
digambarkan dalam teks. Jenis data yang digunakan dalam penelitian kualitatif adalah
data deskriptif menggunakan pendekatan cultural studies, yang dipelopori oleh Stuart
Hall. Cultural studies cenderung merespons kondisi politik dan historis yang berubah
dan selalu ditandai dengan perdebatan, ketidaksetujuan, dan intervensi.
3.3.1 Sumber Data Primer
Sumber data primer yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah:
Judul : Entrok
Pengarang : Okky Madasari
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 288 halaman
Ukuran : 20 cm
Cetakan : Pertama
Warna sampul : warna cokelat muda, hijau, kuning, dan merah muda
Gambar sampul: Gambar bra
Desain sampul : Restu Ratnaningtyas
3.3.2 Sumber Data Sekunder
Sumber data sekunder yang digunakan peneliti dalam menganalisis data
primer antara lain berupa analisis sumber dari internet dan buku-buku yang dapat
dijadikan sebagai acuan.
Kekuasaan Partai Doktrinasi Kekuasaan Kaum
Pendekatan Cultural Studies
Keterangan : Pedoman Hidup Multifaset Bagi Manusia
: tanda panah dua arah menunjukkan kesalinghubungan.
: tanda panah satu arah menunjukkan hubungan satu arah.
: tanda panah putus-putus satu arah menunjukkan keterbukaan.
Penjelasan Model :
Novel Entrok karya Okky Madasari dibahas menurut konsep pendekatan yang
dipelopori oleh Wellek dan Warren (1977), yakni pendekatan intrinsik dan ekstrinsik
yang dilakukan secara bersamaan. Pada pendekatan intrinsik dikaji penokohan, alur
cerita, tema, dan latar novel, sedangkan pada pendekatan ekstrinsik dikaji melalui
ideologi, politik, dan kekuasaan.
Formasi ideologi yang digambarkan Okky Madasari dalam novel Entrok
menitikberatkan pada ideologi aparatus negara yaitu militer yang kerap melakukan
tindakan-tindakan represif terhadap masyarakat sebagai tokoh-tokoh publik yang
berada di wilayah praktik sosial berlangsung. Permasalahan tersebut kemudian
Setelah dilakukan analisis, dapat diketahui bahwa ideologi muncul dari
kekuasaan pemerintah pada masa Orde Baru yang menekankan pada kekuasaan kaum
militer sebagai aparatus negara. Kemudian ideologi juga lahir dari kekuasaan partai
politik dominan dan kerap memunculkan terjadinya doktrinasi ideologi oleh
kelompok dominan terhadap kelompok subaltern atau yang lazim dikenal sebagai
kelompok subordinat atau yang terpinggirkan.
Selanjutnya, hasil analisis di atas didasarkan pada pendekatan cultural studies
untuk menyingkap isu-isu sosial yang fundamental. Dengan mengetahui adanya
keberagaman isu-isu sosial dalam objek yang diteliti, maka dapat disimpulkan bahwa
melalui karya sastranya, Okky Madasari berusaha untuk menciptakan suatu tamsil
BAB IV
FORMASI IDEOLOGI TOKOH-TOKOH DAN IDEOLOGI INSTITUSI
PUBLIK DALAM NOVEL ENTROK
4.1 Ideologi Tokoh-tokoh dan Ideologi Institusi Publik
Pada era Orde Baru kerap ditemukan orang-orang animis, seperti halnya tokoh
Simbok dan Marni dalam novel Entrok yang menganut Animisme. Hal inilah yang
mengakibatkan mereka takut kepada pemerintah, terutama kepada tentara-tentara.
Sebab kalangan tentara melabelisasi orang-orang di atas sebagai orang-orang PKI
atau organisasi terlarang yang menjadi musuh negara. Sebagaimana yang dikatakan
Dhakidae (2003: 204), bahwasanya perwira dalam kategori alat negara dengan tujuan
utama menjadi pelayan negara yang sama sekali tidak politis, mereka PKI,
anti-kiri, dan anti-Islam, kanan, bukan karena keyakinan mendalam dan pemahaman
mendalam tentang keduanya, akan tetapi hanya bermodalkan keyakinan bahwa
kedua-duanya akan menghancurkan tata tertib priyayi abangan Jawa. Hal tersebut
"Tumpeng dan panggang itu kubuat untuk sesajen dewamu. Agar kau kembali ingat masih ada Dia di sana yang dulu selalu kau puja. Ayo minta ke Dia! Minta agar Dia kembali membuatmu punya jiwa!” (Entrok: 12).
Percakapan di atas merupakan ucapan Rahayu yang ditujukan kepada Marni
agar Marni menyadari bahwa hal di atas merupakan kebiasaan yang kerap
dilakukannya ketika jiwanya belum terganggu. 36
“Aku sebenarnya tidak tahu apa yang harus kulakukan. Sekadar mengikuti perintah Simbok, kuucapkan permintaanku dalam hati, “Gusti Mbah Ibu Bumi Bapa Kuasa, berkatilah usahaku. Aku mau punya uang, memiliki seperti yang dimiliki Nyai Wedana. Biar nggak ngrepoti orang lain.” Permintaan itu kuulangi terus, sampai Simbok menyentuh bahuku dan mengajakku masuk rumah.” (Entrok: 43).
Monolog di atas merupakan permintaan Marni dalam hati yaitu nyuwun
kepada Mbah Ibu Bumi Bapa Kuasa. Semua peristiwa dapat terjadi jikalau Dia yang
menginginkan.
Kedua kutipan di atas menunjukkan ISA agama, meskipun dalam cerita
Marni dan Simbok belum mempunyai agama atau animisme, tetapi hal tersebut
menunjukkan aktivitas transendental. Kutipan-kutipan tersebut merupakan elemen
material yang berwujud aktivitas praktis dan terjelma dalam kehidupan keseharian,
kemudian merupakan elemen kesadaran yaitu tradisi dalam mempercayai sesuatu,
elemen solidaritas-identitas sebagai rakyat biasa, serta elemen kebebasan hak warga
Tentara-tentara senantiasa melakukan tradisi ronda keliling kampung dengan
dalih menjaga keamanan. Di dalam menjalankan tradisi ronda tersebut, para tentara
kerap melakukan pengutipan uang keamanan. Adapun orang-orang yang menjadi
target utama bagi para tentara tersebut adalah orang-orang yang mempunyai banyak
uang atau orang usahawan. Di samping itu juga orang animis dan
orang-orang yang tidak disukai atau kontradiktif terhadap pemerintah. Hal tersebut dapat
ditunjukkan melalui data sebagai berikut.
“Dulu, aku pernah bertanya pada Ibu kenapa orang-orang berseragam datang ke rumah kami. Kata Ibu, untuk keamanan. Lalu kenapa Ibu selalu memberikan uang pada mereka? tanyaku lagi. Namanya keamanan ya bayar, jawab Ibu. Orang-orang berseragam loreng sering datang ke rumah. Mereka selalu datang pada hari Senin dua minggu sekali. Kadang-kadang ada juga yang datang di luar hari itu. Katanya kebetulan lewat atau cuma mampir. Tapi sudah tahulah Ibu apa yang harus dilakukannya setiap orang-orang itu datang. Apalagi kalau bukan menyerahkan setumpuk uang.” (Entrok: 53).
Percakapan di atas menunjukkan keberadaan institusi publik dalam hal ini
tentara, yang dinyatakan melalui ‘orang-orang berseragam loreng’ yang rutin datang
mengambil uang keamanan dari Ibu, yaitu Marni.
Gambaran situasi di atas menunjukkan institusi publik atau tentara, hal ini
dinyatakan melalui ‘petugas berseragam loreng dengan pistol’ mengatur orang-orang
dalam pemilu.
Kedua kutipan di atas menunjukkan RSA yang mengatur lewat kekerasan
dan represi terutama kepada orang-orang yang lemah dan bodoh. Kutipan-kutipan
tersebut merupakan elemen material yang berwujud aktivitas praktis dan terjelma
dalam kehidupan keseharian, dan juga merupakan elemen kesadaran yaitu tradisi
untuk melakukan represi dan kekerasan.
Masa-masa sulit dalam perekonomian yang terjadi sebelum rezim Orde Baru
berkuasa, menjadikan rakyat Indonesia sulit untuk mengingat berbagai peristiwa
penting dalam kehidupan mereka, seperti halnya momen kelahiran mereka atau
sejarah berdirinya sebuah monumen nasional. Pada masa itu mereka hanya fokus
pada upaya-upaya pemenuhan kebutuhan pangan sehari-hari bagi keluarganya
masing-masing. Hal tersebut dapat ditunjukkan melalui data sebagai berikut.
“Tak juga kutahu kapan tepatnya aku dilahirkan. Simbok hanya berkata aku lahir waktu zaman perang. Saat semua orang menggunakan baju goni dan ramai-ramai berburu tikus sawah untuk digoreng.” (Entrok: 15).
Monolog di atas merupakan pernyataan Marni yang berkaitan dengan
ingatannya atas waktu atau momen kelahirannya, yakni ketika orang-orang menjalani
“Orang tak pernah tahun kapan persisnya Pasar Ngranget mulai ada. Mbah Noto, kuli paling tua yang bekerja paling awal dibanding kuli lain, hanya ingat dia sudah nguli pada zaman Jepang. Waktu zaman susah itu, barang dagangan sudah dicari. Singkong saja susah dicari di pasar. Semua hasil bumi petani diminta sama Jepang, buat bekal perang. Mbah Noto masih ingat rasa daging tikus hasil buruannya di sawah.” (Entrok: 36).
Gambaran situasi di atas menjelaskan tentang riwayat berdirinya Pasar
Ngranget yang dirunut melalui kisah hidup Mbah Noto yang dikaitkannya dengan
zaman Jepang, zaman susah, dimana orang berburu tikus di sawah untuk dimakan.
Kedua kutipan di atas menunjukkan ISA keluarga. Hal ini dapat dilihat
melalui Simbok, Mbah Noto, dan orang-orang lain pada zaman tersebut, zaman
perang, baju goni dan berburu tikus di sawah untuk dimakan. Kutipan-kutipan
tersebut juga merupakan elemen material yang berwujud aktivitas praktis dan
terjelma dalam kehidupan keseharian, yaitu berburu tikus di sawah, di samping itu
juga merupakan elemen kesadaran tradisi hidup susah, elemen solidaritas identitas
rakyat biasa serta elemen kebebasan hak warga negara.
Tokoh Marni yang menganut Animisme senantiasa menjadi bulan-bulanan
kaum militer. Marni berupaya untuk selalu menuruti segala permintaan komandan
tentara terhadapnya, namun satu hal yang tetap dipertahankannya dari paksaan dan
hasutan kaum militer adalah kepercayaannya terhadap Mbah Ibu Bumi Bapa Kuasa.
Marni kerap melakukan aktivitas transendental yang kontradiktif dengan kepercayaan
yang dianut oleh putrinya, Rahayu dan Pak Waji, guru agama Rahayu di sekolah. Hal