• Tidak ada hasil yang ditemukan

Formasi Ideologi Dalam Novel Entrok Karya Okky Madasari

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Formasi Ideologi Dalam Novel Entrok Karya Okky Madasari"

Copied!
123
0
0

Teks penuh

(1)

FORMASI IDEOLOGI DALAM NOVEL ENTROK

KARYA OKKY MADASARI

TESIS

OLEH

PRINSI RIGITTA

097009009/LNG

SEKOLAH PASCASARJANA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

M E D A N

(2)

KATA PENGANTAR

Tesis ini berjudul “Formasi Ideologi dalam Novel Entrok Karya Okky

Madasari”; tesis ini memfokuskan analisis terhadap representasi realitas sosial yang

tergambar dalam sebuah karya sastra.

Tujuan disusunnya tesis ini adalah untuk melengkapi persyaratan

pemerolehan gelar Magister Humaniora dalam Program Studi Linguistik: Konsentrasi

Analisis Wacana Kesusastraan pada Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera

Utara.

Dengan diselesaikannya tesis ini, peneliti berharap dapat memberikan suatu

kontribusi ilmu pengetahuan yang berharga dan bermanfaat, terutama dalam ranah

ilmu kesusastraan. Hasil penelitian diharapkan dapat mengilhami pemahaman

terhadap karya sastra terutama Cultural Studies, yakni sebagai cerminan isu-isu sosial

yang meliputi ideologi, politik dan kekuasaan yang terjadi dalam kehidupan

masyarakat; sehingga pada akhirnya dapat memposisikan karya sastra sebagai sarana

luapan ekspresi yang bersifat mendidik sekaligus mengintrospeksi dan memotivasi

pembacanya.

Akhirnya, penulis menyadari bahwa tesis ini belum dapat dikatakan

sempurna, dan juga belum sepenuhnya mampu menjawab keinginan pembaca;

melainkan merupakan sebuah langkah awal untuk menumbuhkan minat pengkajian

dan pendalaman ilmu kesusasteraan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan adanya

kritik konstruktif ataupun ilham lainnya dari pembaca demi penyempurnaan

pembahasan di lain waktu.

Medan, September 2011

(3)

UCAPAN TERIMA KASIH

Puji syukur dan sembah sujud penulis haturkan kepada Allah S.W.T. atas

segala rahmat dan hidayah-Nya sehingga tesis ini dapat diselesaikan dengan baik.

Tak lupa dikumandangkan shalawat dan salam kepada Rasulullah Muhammad

S.A.W. Perlu diketahui bahwa selama penulisan tesis ini, penulis memperoleh

bantuan dan motivasi dari banyak pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis

ingin sekali menyampaikan sebentuk ucapan terima kasih setulus hati.

Ucapan terima kasih penulis haturkan kepada Bapak Prof. Dr. Ikhwanuddin

Nasution, M.Si., yang berperan sebagai Pembimbing I. Selama masa bimbingan,

beliau selalu memberikan motivasi, arahan, kritik, saran, serta kesediaan waktu

ditengah-tengah kesibukannya yang sangat padat, sehingga dirasakan sangat

bermanfaat dalam penyelesaian tesis ini. Penulis memperoleh banyak pelajaran

berharga dari beliau, antara lain kedisiplinan, ketekunan, dan kemandirian. Beliau

juga dengan tulus meminjamkan beberapa referensi kepada penulis untuk mendukung

penyelesaian tesis ini.

Terima kasih dan rasa sayang saya kepada Ibu Dr. Asmyta Surbakti, M.Si.,

yang berperan sebagai Pembimbing II. Beliau adalah sosok pembimbing sekaligus

Ibu bagi penulis, beliau selalu menyediakan waktunya ditengah-tengah kesibukannya

yang sangat padat untuk mendidik penulis dengan ilmu pengetahuan, referensi, dan

filosofi kehidupan yang sangat relevantif. Beliau senantiasa memberikan

wejangan-wejangan berharga kepada penulis, dan juga memotivasi penulis dengan nilai

kesabaran, etika, moral, dan konsistensi. Sungguh suatu hal yang tidak pernah

disangka penulis sebelumnya, bisa mendapat kesempatan menjadi mahasiswa

bimbingannya.

Selanjutnya penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua

pihak yang telah memberikan bantuan, baik moral, material, spiritual, maupun ilham

(4)

1. Bapak Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, M.Sc., (CTM), Sp.A(K). selaku

Rektor Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Prof. Dr. Ir. A. Rahim Matondang, MSIE. selaku Direktur Sekolah

Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.

3. Ibu Prof. T. Silvana Sinar, M.A., Ph.D. dan Ibu Dr. Nurlela, M.Hum. selaku

Ketua dan Sekretaris Program Studi Magister Linguistik Universitas Sumatera

Utara, yang telah memberikan segala kemudahan dalam penyelenggaraan

kegiatan akademik.

4. Ibu Dr. T. Thyrhaya Zein, M.A. dan Ibu Dr. Rosmawaty, M.Pd. selaku penguji,

yang telah banyak memberikan koreksi bermanfaat.

5. Semua Dosen Program Studi Magister Linguistik dan Konsentrasi Analisis

Wacana Kesusastraan USU.

6. Kepada seluruh Staf Administrasi Program Studi Magister Linguistik Sekolah

Pascasarjana USU.

7. Kepada kedua orangtua saya. Ayahanda tercinta Ir. Syahril Dulman dan Ibunda

(Almh.) Hj. Trisnawati yang telah membuai, membesarkan, mendidik, dan

membina etika, moral, mental dan spiritual saya sebagai bekal menghadapi

kehidupan yang didasari oleh tanggung jawab dan reputasi baik. Kepada Ibunda

Nilawaty, yang turut mencurahkan seluruh kasih sayang dan perhatiannya.

8. Kepada Kakak-kakak tercinta, Ulfa Nadra, S.E, M.Si. dan Sucahyanto, S.T.,

M.M., Iqbal Reza, S.T. dan Vivi Ekayanti, S.T., Novel Faisal dan Yunita, Farid

Aulia, S.Sos., M.Si. dan Rahima Purba, S.E., M.Si., Dwi Bagus Gunawan, S.T.

dan Maslinda, S.S., yang selalu menstimulasi, membantu, menguatkan,

menghibur, dan mencerahkan saya selama proses penyelesaian tesis ini.

9. Kepada keponakan-keponakan tercinta, R. Alfito Satria Kamil, Rr. Jasmine

Tresna Sukmahani, Shiellsy Revioza Daulay, Fanny Nabila Putri Daulay, M.Wira

Daulay, Thariq Daulay, Arrafa Istiqlal Jauhari Daulay, Nabila, Zahra, dan

Camila. Generasi-generasi platinum ini telah menginspirasi saya untuk segera

(5)

10.Sahabat-sahabat saya di AWK angkatan 2009/2010, Kak Ayu, Kak Elva, Kak

Isma, Kak Henni, Kak Erni, Yelly, Bang Riko, Anggi Daulay, dan Cito. Juga

rekan-rekan mahasiswa/i Magister Linguistik angkatan 2009/2010.

Momen-momen manis kebersamaan kita selamanya akan menjadi pengerat tali silaturahmi

kita.

11.Kepada tokoh-tokoh yang mengilhami penulis: Okky Madasari, Tenggina

Rahmad Siswadi, Antonio Gramsci, Louis Althusser, John Storey, dan Stuart

Hall.

Medan, September 2011

Penulis,

(6)

DAFTAR ISI

Halaman

JUDUL

PERSETUJUAN KOMISI PEMBIMBING

PANITIA PENGUJI

PERNYATAAN

RIWAYAT HIDUP

KATA PENGANTAR... i

UCAPAN TERIMA KASIH ... ii

DAFTAR ISI... v

DAFTAR TABEL ... viii

DAFTAR BAGAN... ix

DAFTAR LAMPIRAN ... x

ABSTRAK ... xi

ABSTRACT ... xii

BAB I PENDAHULUAN... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Batasan Masalah... 8

1.3 Rumusan Masalah ... 9

1.4 Tujuan Penelitian ... 9

1.5 Manfaat Penelitian ... 10

1.5.1 Manfaat Teoritis ... 10

(7)

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA TEORETIK, DAN

KONSEP ... 12

2.1 Kajian Pustaka... 12

2.2 Landasan Teoretis ... 15

2.2.1 Cultural Studies... 16

2.2.2 Teori Hegemoni ... 18

2.3.5 Postrukturalisme... 25

2.3.6 Representasi ... 26

BAB III METODE PENELITIAN ... 28

3.1 Metode dan Teknik Pengumpulan Data ... 28

3.2 Teknik Analisis Data... 30

3.3 Data dan Sumber Data ... 32

3.3.1 Sumber Data Primer... 32

3.3.2 Sumber Data Sekunder... 33

3.4 Model Penelitian ... 33

BAB IV FORMASI IDEOLOGI TOKOH-TOKOH DAN IDEOLOGI INSTITUSI PUBLIK DALAM NOVEL ENTROK... 36

4.1 Ideologi Tokoh-tokoh dan Ideologi Institusi Publik ... 36

4.2 Sifat-sifat Formasi Ideologi Tokoh-tokoh dan Ideologi Institusi Publik ... 56

4.2.1 Tokoh-tokoh Publik dalam Novel Entrok ... 56

(8)

4.3 Kelompok Ideologi ... 59

BAB V POLITIK DAN KEKUASAAN YANG BERKAITAN

DENGAN IDEOLOGI DALAM NOVEL ENTROK ... 66

5.1 Ideologi dalam Novel Entrok ... 66

5.2 Politik dan Kekuasaan... 68

BAB VI PENGARUH POLITIK DAN KEKUASAAN YANG

BERKAITAN DENGAN IDEOLOGI PARA TOKOH

DALAM NOVEL ENTROK ... 75

6.1...Kekuas

aan Pemerintah Orde Baru ... 75

6.2...Kekuas

aan Kaum Militer ... 78

6.3...Kekuas

aan Partai Politik ... 85

6.4...Doktrin

asi Ideologi ... 89

BAB VII SIMPULAN DAN SARAN... 92

7.1...Simpula

n... 92

7.2...Saran

... 93

(9)

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 4.1 Kelompok Ideologi Para Tokoh dalam Novel Entrok ... 64

(10)

DAFTAR BAGAN

Halaman

Bagan 1. Strategi Analisis Data Deskriptif-Kualitatif ... 31

Bagan 2. Sifat-sifat Formasi ... 58

Bagan 3. Penguasaan Legislatif Melalui Sentralisasi Kekuasaan Pada

(11)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Foto dan Biografi Okky Madasari ... 98

Lampiran 2. Sinopsis Novel Entrok Karya Okky Madasari ... 99

Lampiran 3. Kulit Sampul Novel Entrok Karya Okky Madasari ... 106

(12)

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan memformasikan ideologi tokoh-tokoh dan ideologi institusi publik, mendeskripsikan politik dan kekuasaan yang berkaitan dengan ideologi serta menganalisis pengaruh politik dan kekuasaan yang berkaitan dengan ideologi. Ketiga hal tersebut dibahas melalui pendekatan cultural studies dan berdasarkan teori Hegemoni Gramsci serta konsep Ideologi Althusser, sehingga dapat diperoleh hubungan antara politik, kekuasaan, dan ideologi dalam novel Entrok. Metode penelitian yang digunakan adalah metode Deskriptif Kualitatif.

Data penelitian adalah novel Entrok karya Okky Madasari dan sejumlah buku acuan. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik catat pada kartu data, dan metode membaca heuristik dan hermeneutik. Teknik analisis data dilakukan dengan strategi analisis isi (content analysis), yaitu model analisis yang digunakan untuk mengungkap, memahami, dan menangkap pesan karya sastra.

Berdasarkan hasil analisis diperoleh ideologi-ideologi masing-masing tokoh dan tokoh-tokoh institusi publik yang saling bertentangan sehingga menimbulkan pergolakan akibat tidak adanya konsensus di antara keduanya. Untuk mengatasi hal itu, maka diadakanlah negosiasi antara ideologi yang dianut tokoh dan tokoh-tokoh institusi publik, sehingga segala konflik yang muncul dapat diatasi. Hal ini menumbuhkan kesadaran masyarakat sekaligus menjadi pembelajaran publik.

(13)

ABSTRACT

The purpose of this research is to formate the ideology of the characters and the ideology of public institution, to describe power and politic concerning with the ideologies and to analyze the influence of power and politic concerning with the ideologies. The three subjects are discussed with cultural studies approach and based on Gramsci’s theory of Hegemony as well as Althusser’s concept of Ideology, so that the relation among politic, power, and ideology in the novel Entrok can be found. The method of research used is Qualitative Descriptive method.

The data of research are Entrok, a novel by Okky Madasari, and some books of reference. The technique of collecting data is done by the technique of taking notes on data card, and the method of heuristic and hermeneutic reading. The technique of data analysis is done by the strategy of content analysis, which is the type of analysis used to reveal, understand, and catch the message of literary work.

The result of analysis finds that the contradicting ideologies of each character and the characters of public institution cause upheaval as a result of the absence of consensus between both of them. Therefore a negotiation between the ideology of the characters and the ideology of the characters of public institution is held so that all conflicts that happen can be solved. This thing grows the public awareness and becomes public learning.

(14)

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan memformasikan ideologi tokoh-tokoh dan ideologi institusi publik, mendeskripsikan politik dan kekuasaan yang berkaitan dengan ideologi serta menganalisis pengaruh politik dan kekuasaan yang berkaitan dengan ideologi. Ketiga hal tersebut dibahas melalui pendekatan cultural studies dan berdasarkan teori Hegemoni Gramsci serta konsep Ideologi Althusser, sehingga dapat diperoleh hubungan antara politik, kekuasaan, dan ideologi dalam novel Entrok. Metode penelitian yang digunakan adalah metode Deskriptif Kualitatif.

Data penelitian adalah novel Entrok karya Okky Madasari dan sejumlah buku acuan. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik catat pada kartu data, dan metode membaca heuristik dan hermeneutik. Teknik analisis data dilakukan dengan strategi analisis isi (content analysis), yaitu model analisis yang digunakan untuk mengungkap, memahami, dan menangkap pesan karya sastra.

Berdasarkan hasil analisis diperoleh ideologi-ideologi masing-masing tokoh dan tokoh-tokoh institusi publik yang saling bertentangan sehingga menimbulkan pergolakan akibat tidak adanya konsensus di antara keduanya. Untuk mengatasi hal itu, maka diadakanlah negosiasi antara ideologi yang dianut tokoh dan tokoh-tokoh institusi publik, sehingga segala konflik yang muncul dapat diatasi. Hal ini menumbuhkan kesadaran masyarakat sekaligus menjadi pembelajaran publik.

(15)

ABSTRACT

The purpose of this research is to formate the ideology of the characters and the ideology of public institution, to describe power and politic concerning with the ideologies and to analyze the influence of power and politic concerning with the ideologies. The three subjects are discussed with cultural studies approach and based on Gramsci’s theory of Hegemony as well as Althusser’s concept of Ideology, so that the relation among politic, power, and ideology in the novel Entrok can be found. The method of research used is Qualitative Descriptive method.

The data of research are Entrok, a novel by Okky Madasari, and some books of reference. The technique of collecting data is done by the technique of taking notes on data card, and the method of heuristic and hermeneutic reading. The technique of data analysis is done by the strategy of content analysis, which is the type of analysis used to reveal, understand, and catch the message of literary work.

The result of analysis finds that the contradicting ideologies of each character and the characters of public institution cause upheaval as a result of the absence of consensus between both of them. Therefore a negotiation between the ideology of the characters and the ideology of the characters of public institution is held so that all conflicts that happen can be solved. This thing grows the public awareness and becomes public learning.

(16)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Karya sastra merupakan wujud dari proses imajinatif dan kreatif pengarang.

Adapun proses kreatif itu berasal dari pengalaman pengarang sebagai manusia yang

hidup di alam semesta ini atau segala sesuatu yang ditemukan pengarang yang

dianggap menarik dan layak untuk dituangkan dalam sebuah tulisan. Oleh karena

adanya pengalaman hidup yang dialami pengarang atau hal-hal hidup yang menarik

yang pernah dijumpai pengarang dalam bersosialisasi dengan individu lainnya, maka

karya sastra menjadi satu kesatuan yang utuh jika dipasangkan dengan masyarakat

serta kebudayaan yang terlahir di dalamnya.

Karya sastra sebagai cerminan dari perilaku kehidupan manusia, tentunya

tidak akan pernah lepas dari rekaman peristiwa-peristiwa kebudayaan di dalam hidup

manusia. Hal ini didasarkan pada hakikat sastra dan kebudayaan itu sendiri, yakni

memiliki objek yang sama, yaitu manusia dalam masyarakat, manusia sebagai fakta

(17)

kebudayaan adalah multidisiplin yang secara terus-menerus menelusuri model

antarhubungan keduanya, sehingga makna karya sastra secara terus-menerus dapat

ditafsirkan.

Karya sastra adalah pengungkapan sebuah sistem kultural yang tersimpan

pada suatu bangsa. Hal ini didasarkan atas pentingnya peranan karya sastra itu sendiri

dan bahasa yang ada di dalamnya. Pengungkapan sistem kultural di dalam karya

sastra meliputi aspek-aspek kebudayaan yang sama sekali tidak bisa dipahami jika

terpisah dari gejala yang lain. Karya sastra yang menyajikan permasalahan

kebudayaan di dalamnya mempunyai sebuah bagian integral yang menceritakan

berbagai aspek kehidupan dengan cara imajinatif kreatif, dan sekaligus masuk akal.

Permasalahan budaya di dalam karya sastra senantiasa memaparkan persoalan antara

karya sastra dan manusia sebagai penghasil kebudayaan, dalam hubungan ini manusia

yang dimaksudkan adalah tokoh-tokoh dalam karya sastra. 1

Apabila dilihat dari relevansi sastra terhadap eksistensi kebudayaan dan

sumbangan yang dapat diberikan sastra terhadap pemahaman aspek-aspek

kebudayaan, khususnya kebudayaan kontemporer, maka model hubungan ini

mengacu pada cultural studies. Hal ini didasarkan pada hakikat sastra dan

kebudayaan, yang pada umumnya berbeda, kebudayaan memiliki hakikat objektif

empiris sedangkan karya sastra memiliki hakikat subjektif imajinatif.

Menurut Hutcheon (Ratna, 2005: 13) postmodernisme dan cultural studies,

meskipun secara umum didefinisikan sebagai kajian yang mempelajari seluruh

(18)

diawali dengan perdebatan mengenai sastra, khususnya perbedaan sastra tinggi

dengan sastra kelas pekerja. Milner (Ratna, 2005: 13-14) juga menambahkan, pada

dasarnya cultural studies merupakan pergeseran sosiologis, sebagai pergeseran

paradigma dari penelitian sastra yang memberikan perhatian pada kualitas estetis,

karya sastra yang tidak terkait dengan ruang dan waktu ke penelitian sastra sebagai

konstruksi sosial. Pendekatan cultural studies merupakan teori dan kritik dalam

kesusastraan Inggris kontemporer yang menekankan peran penting intelektual dan

bersifat emansipatoris (Klarer, 1999).

Williams (Siswadi, 2010) mengungkapkan tiga kategori dalam

mendefinisikan kebudayaan. Pertama, kebudayaan merupakan proses atau ketetapan

manusia yang sempurna pada bagian kebenaran tertentu atau nilai-nilai universal.

Proses ini merupakan penemuan dan gambaran di dalam kehidupan dan pekerjaan

dari semua nilai. Kedua, kebudayaan diartikan sebagai manusia yang bekerja dengan

intelektualitas, daya khayal, ide, dan pengalaman yang bermacam-macam dalam

ingatan mereka. Kegiatan kritik berlangsung secara alami, gagasan dan pengalaman

digambarkan serta dinilai. Ketiga, kebudayaan merupakan gambaran perjalanan fakta

kehidupan yang diungkapkan dengan makna pasti dan nilai, tidak hanya dalam seni

dan belajar tetapi juga dalam institusi dan tingkah laku yang luar biasa. Selanjutnya

juga dipaparkan mengenai pembedaan kebudayaan mencakup kebudayaan tinggi

(high culture) dan kebudayaan populer (popular culture) sebagai ranah cultural

studies karena masing-masing kebudayaan tersebut memiliki ciri-ciri yang

(19)

pejabat (dahulu kerajaan atau keraton), sedangkan kebudayaan populer berasal dari

rakyat biasa. Kebudayaan tinggi tentu saja hanya dapat dinikmati oleh para petinggi

di keraton saja (sekarang, masyarakat lapisan atas), sedangkan kebudayaan populer

dapat dinikmati secara massal oleh masyarakat.

Kebudayaan tinggi senantiasa dipenuhi oleh orang-orang khusus dan pilihan,

juga biaya yang diperlukan tidak sedikit, kebudayaan ini cenderung mewah dan

bersifat sakral serta penciptaannya tidak bertujuan komersial. Sebaliknya kebudayaan

populer senantiasa bersifat sederhana dan tidak membutuhkan biaya yang besar,

kebudayaan ini dilakukan dan dinikmati oleh rakyat biasa, dan penciptaan

kebudayaan ini bertujuan komersial.

Siswadi (2010) memaparkan bahwa kebudayaan populer dihasilkan dari

masyarakat modern (kapitalisme dan demokrasi). Kebudayaan ini tidak sekadar

dianggap sebagai seni, tetapi juga sebagai barang komoditi yang mampu

menghasilkan keuntungan yang besar. Hal ini disebabkan karena sifat universal yang

dimiliki oleh kebudayaan populer. Sejalan dengan hal tersebut maka muncul

anggapan bahwa konstruksi sastra merupakan bagian dari industri budaya dan telah

mengkhawatirkan kalangan kritikus sastra, karena penciptaan sastra berbasis pada

logika industri. Karya sastra atau produk-produk kebudayaan lainnya, tidak dapat

disamakan dengan barang-barang industri. Akan tetapi logika industri itu sedikit

banyak ikut mempengaruhi perkembangan strategi, bentuk, gaya, dan kandungan isi

karya-karya sastra. Tekanan agar karya sastra dapat diterima, diapresiasi, dipahami,

(20)

telah mendorong ke arah bentuk-bentuk sastra yang disesuaikan dengan selera massa

itu sendiri.

Selanjutnya Siswadi (2010) juga mengemukakan bahwa kebudayaan populer

menghasilkan karya sastra yang bergenre sastra populer. Sastra populer lahir dari

semangat kebudayaan populer, sehingga keduanya tidak dapat dipisahkan. Sastra

populer merupakan sebuah situs ideologi, sebab semua elemen dalam teks sastra

(meliputi elemen material, elemen kesadaran, elemen solidaritas-identitas, dan

elemen kebebasan) merupakan representasi ideologi yang melekat pada setiap elemen

tersebut. Sastra populer sebagai salah satu wujud dari fiksi populer, telah berhasil

mentransmisikan ideologi dominan dari industri-industri budaya kepada massa yang

dikorbankan dan termanipulasi. Menurut Storey (Siswadi, 2010), ideologi itu sendiri

adalah sistem besar yang memberikan orientasi kepada manusia, yang mempunyai

pengikut. Ideologi bersifat kolektif dan berada di wilayah superstruktur atau

kesadaran dan menjelma dalam praktik-praktik sosial setiap orang, lembaga-lembaga

pemerintah, institusi pendidikan, organisasi-organisasi, perusahaan komersial, dan

lain-lain. Sastra populer memiliki ciri yang khas yang membedakannya dengan apa

yang dianggap sastra tinggi, seperti mengharamkan makna ganda, menghindari

kerumitan dengan cara penyelesaian masalah dengan mudah, penokohan stereotip

dengan sistem bintang, dan sebagainya.

Salah satu karya sastra populer yang saat ini sedang banyak diperbincangkan

dan dinikmati masyarakat adalah novel Entrok karya Okky Madasari. Novel Entrok

(21)

karya pertamanya dalam dunia kreativitasnya. Novel ini berlatar waktu dan tempat,

pada tahun 1950-1999 di sekitar daerah Madiun. Novel ini diterbitkan untuk

memperingati hari Kartini 21 April 2010 lalu, bersama beberapa novel lainnya. Novel

ini menceritakan perjalanan hidup dua wanita di masa-masa sulit dan penuh

pergolakan. Namun yang lebih menarik adalah beberapa tema besar yang khas yang

menyatu dan mengalir bersama dengan wajar dalam novel ini, seperti tema

perempuan, politik, profesi, dan kepercayaan serta agama. Novel ini juga

memaparkan ketimpangan-ketimpangan sosial yang kerap terjadi pada masa Orde

Baru. Pada masa kepemimpinan Soeharto diceritakan dalam novel ini berkisar antara

tahun 1950 sampai 1999. Peristiwa yang mendominasi alur penceritaan dalam novel

ini adalah kekuasaan kaum militer yang bertindak sewenang-wenang terhadap rakyat

lemah dan mengakibatkan doktrinasi ideologi terhadap masyarakat di dalam novel

tersebut.

Di samping itu juga ditemukan kekuasaan partai politik dominan yang

memengaruhi kehidupan sosial dalam novel Entrok. Sejalan dengan realitas sosial

yang terdapat dalam novel, maka dapat dirujuk pada fakta sosial yang pernah terjadi

sekitar tahun 1966 sampai 1998. Masa ini adalah masa pemerintahan Presiden

Soeharto di Indonesia. Orde Baru menggantikan Orde Lama di bawah kepemimpinan

Soekarno. Pada masa Soeharto ditemukan banyak ketimpangan sosial, seperti realitas

sosial yang kerap dijumpai dalam novel Entrok.

Ketimpangan sosial pada era Orde Baru dapat dilihat melalui beberapa fakta

(22)

tindakan kerasnya yang pertama terhadap mahasiswa dan politisi sipil yang

sebelumnya telah menjadi penyokong utama rezim Orde Baru. Tindakan

penangkapan dan pengadilan yang dilakukan dalam kaitan dengan Malari dilakukan

pula dalam kerangka “penyingkiran lawan politik” (Fatah, 2010: 199). Kedua, peran

militer yang semakin meningkat, padahal tidak pernah terjadi sebelumnya dalam

politik dan administrasi negara, dan seusai pembubaran parlemen untuk pertama

kalinya militer duduk dengan jumlah yang tidak tanggung-tanggung sebanyak 35

orang dalam parlemen yang anggotanya 283 orang, jadi 12% untuk pertama kalinya

sejak proklamasi kemerdekaan di dalam bidang yang sama sekali tidak berhubungan

dengan pekerjaan militer. Sebuah proses yang dapat dikatakan state-corporatism

sudah mulai berjalan sejak itu, ketika suatu sistem perwakilan dibuat di mana militer

mewakili dirinya di dalam suatu parlemen. Di bidang administrasi negara jumlah

militer aktif mulai mengambil tempat di dalam badan eksekutif di dalam

pemerintahan daerah seiring dengan menguatnya pusat dan perlahan-lahan

melenyapnya otonomi daerah (Dhakidae, 2003: 243). Ketiga, peristiwa penembakan

massal rakyat Timor Timur di Santa Cruz yang dilakukan oleh militer (Dhakidae,

2003: 279). Keempat, adanya politik etnisitas seperti superioritas kebudayaan Jawa

yang dimasukkan ke dalam politik Orde Baru, serta pelarangan terhadap bahasa Cina

dan serpihan-serpihan kebudayaan Cina yang dipaksakan ke dalam politiknya melalui

birokrasi sipil dan militer hanya dimungkinkan oleh kekerasan (Dhakidae, 2003:

288). Berdasarkan fakta sosial di atas, penulis didorong untuk menelusuri jejak fakta

(23)

ideologi-ideologi yang terdapat di dalam novel ini menjadikannya sebuah situs yang

menarik bagi penulis untuk mengkajinya.

Novel Entrok karya Okky Madasari merupakan perwujudan dari sastra

populer. Novel ini juga mengandung produk ideologi tokoh-tokoh dan industri di

dalamnya. Oleh sebab itu, penelitian ini menitikberatkan pada ideologi yang muncul

dari para tokoh dan industri, politik, dan kekuasaan dalam novel Entrok. Ketiga aspek

ini merupakan isu yang fundamental dalam ranah cultural studies. Cultural studies

juga menyentralkan budaya pop dalam kajiannya. Budaya pop secara gamblang

dideskripsikan dalam novel Entrok karya Okky Madasari.

1.2 Batasan Masalah

Karya sastra mengandung berbagai persoalan hidup dan kehidupan manusia.

Dengan kalimat lain, karya sastra merupakan kompleksitas dalam kehidupan

manusia. Di dalamnya tertuang berbagai bentuk kehidupan manusia. Untuk

membahas permasalahan yang bersifat kompleks dalam sebuah karya sastra,

diperlukan batasan masalah agar penelitian tidak menyimpang dari tujuan yang ingin

dicapai.

Berdasarkan judul penelitian ini, masalah dibatasi dengan hanya

memformasikan (membuat suatu susunan dengan hubungan yang bersifat

bertentangan, korelatif, dan subordinatif) ideologi-ideologi yang lahir dari para tokoh

dan institusi publik, mendeskripsikan politik dan kekuasaan yang terdapat dalam

(24)

Pada akhirnya, semua ruang lingkup pembahasan ini merupakan sebuah deskripsi

yang disertai analisis untuk memberikan pemahaman kepada pembaca terhadap novel

Entrok.

1.3 Rumusan Masalah

Masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah :

1. Bagaimana formasi ideologi tokoh-tokoh dan ideologi institusi publik dalam

novel Entrok karya Okky Madasari?

2. Bagaimana pendeskripsian politik dan kekuasaan yang berkaitan dengan

ideologi dalam novel Entrok?

3. Bagaimana pengaruh politik dan kekuasaan yang berkaitan dengan ideologi

terhadap tokoh-tokoh dalam novel Entrok?

1.4 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian tesis adalah sebagai berikut:

1. Memformasikan ideologi tokoh-tokoh dan ideologi institusi publik dalam

novel Entrok.

2. Mendeskripsikan politik dan kekuasaan yang berkaitan dengan ideologi

dalam novel Entrok.

3. Menganalisis pengaruh politik dan kekuasaan yang berkaitan dengan ideologi

(25)

1.5 Manfaat Penelitian

1.5.1 Manfaat Teoretis

Manfaat teoretis penelitian antara lain, sebagai berikut:

1. Penelitian ini diharapkan bermanfaat sebagai salah satu rujukan penelitian

mengenai Kesusastraan Indonesia, dan selanjutnya dapat membantu

penelitian-penelitian yang berhubungan dengan pembahasan tentang Cultural

Studies, Budaya Populer, dan novel-novel karya Okky Madasari.

2. Diharapkan mampu berkontribusi dalam pengembangan keilmuan, khususnya

mengenai kajian Postrukturalisme.

3. Penelitian ini diharapkan mampu mengilhami sastrawan dan pengarang

Indonesia untuk mengangkat tema-tema yang menceritakan tentang realitas

(26)

1.5.2 Manfaat Praktis

Manfaat praktis penelitian antara lain, sebagai berikut:

1. Memberikan edukasi publik untuk memahami bagaimana isu-isu sosial,

ideologi, politik, dan kekuasaan yang digambarkan dalam sebuah novel dapat

bertujuan emansipatoris demi meningkatkan mutu kehidupan manusia.

2. Memberikan kontribusi terhadap masyarakat dan pemerintah mengenai

sejarah bangsa Indonesia pada masa Orde Baru.

(27)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA TEORETIK, DAN KONSEP

Dalam melakukan penelitian yang bersifat ilmiah, tentunya tidak terlepas dari

peran kajian pustaka, kerangka teoretik, dan konsep yang dijadikan pegangan atau

pedoman dalam memecahkan permasalahan yang diangkat.

2.1 Kajian Pustaka

Beberapa kajian pustaka yaitu penelitian yang terkait dengan judul ini

dikemukakan sebagai berikut:

1. Tesis Universitas Diponegoro oleh Akhlis Purnomo yang

berjudul Pandangan Para Tokoh Utama dalam Novel A Bird Named Enza

Karya Dawn Meier Mengenai American Dream: Sebuah Pendekatan

Sosiologi Sastra (2009). Pada penelitian ini dibahas pandangan mengenai

American Dream dalam novel A Bird Named Enza. Pandangan American

Dream dibahas menurut tokoh-tokoh utama secara bervariasi tetapi

(28)

kehidupan yang lebih baik di Lemmon dengan semangat khas American

Dream yaitu liberty, equality, dan prosperity.

Penelitian di atas memiliki kesamaan dengan penelitian ini, yaitu

keduanya membahas masalah ideologi tokoh-tokoh yang berkaitan dengan

wilayah praktik sosial berlangsung. Sedangkan perbedaan antara penelitian di

atas dan penelitian ini, yaitu dalam penelitian ini penulis membahas ideologi

tokoh-tokoh dan institusi publik dalam novel Entrok secara bervariasi dan

bertentangan, seperti ideologi Marni sebagai tokoh ibu bertentangan dengan

ideologi Rahayu sebagai tokoh anak. 12

2. Tesis Universitas Sumatera Utara oleh Bima Pranachitra yang

berjudul Representasi Byronic Hero dalam Novel Mary Shelley

Frankenstein Karya Mary Shelley (2010). Pada penelitian ini dibahas

mengenai penokohan Byronic Hero dan representasinya terhadap konteks

sosial, politik, dan budaya masyarakat dalam novel Mary Shelley

Frankenstein.

Penelitian di atas memiliki kesamaan dengan penelitian ini, yaitu

keduanya menggunakan konsep Postrukturalisme dalam penelitiannya

masing-masing. Sedangkan perbedaan antara penelitian di atas dan penelitian

ini, yaitu dalam penelitian ini penulis membahas formasi ideologi,

mendeskripsikan politik dan kekuasaan yang berkaitan dengan ideologi, serta

mengkaji pengaruh politik dan kekuasaan yang berkaitan dengan ideologi

(29)

3. Jurnal Studi Islam dan Budaya: “Relasi Formatif Hegemoni

Gramsci dalam Novel Perburuan Karya Pramoedya Ananta Toer” oleh

Heru Kurniawan (2007). Pada penelitian ini dibahas pertentangan antara

ideologi nasionalisme humanisme dan ideologi priyayi yang muncul dari

hegemoni pemerintah kolonial Belanda di Indonesia yang terdapat dalam

novel Perburuan.

Penelitian di atas memiliki kesamaan dengan penelitian ini, yaitu

keduanya menggunakan teori hegemoni Gramsci dalam menganalisis objek

penelitian. Sedangkan perbedaan antara penelitian di atas dan penelitian ini,

yaitu dalam penelitian ini penulis membahas pertentangan antara ideologi

yang lahir dari masyarakat Jawa abangan di Magetan dan ideologi yang

muncul dari hegemoni kaum militer pada masa Orde Baru di Indonesia,

keduanya terdapat dalam novel Entrok.

4. Penelitian essay Tenggina Rahmad Siswadi yang berjudul

Perang Ideologi dalam Novel Entrok: Kajian Sastra Populer dan

Hegemoni Gramsci (2010). Pada penelitian ini dibahas formasi dan

negosiasi ideologi dalam novel Entrok.

Penelitian di atas memiliki kesamaan dengan penelitian ini, yaitu

keduanya menganalisis novel Entrok sebagai objek penelitian dan

menggunakan teori hegemoni Gramsci dalam menganalisis novel tersebut.

Sedangkan perbedaan antara penelitian di atas dan penelitian ini, yaitu dalam

(30)

dan kekuasaan yang terdapat dalam novel Entrok serta mengkaji pengaruh

ideologi, politik, dan kekuasaan terhadap tokoh-tokoh dalam novel. Di

samping itu juga teori yang digunakan dalam menganalisis objek penelitian

adalah teori hegemoni Gramsci dan teori ideologi Althusser.

5. Penelitian essay Apsanti Djokosujatno yang berjudul Entrok:

Sebuah Novel Multifaset (2010). Pada penelitian ini dibahas tema-tema

yang dimunculkan dari novel Entrok, seperti tema perempuan, politik,

profesi, dan kepercayaan serta agama.

Penelitian di atas memiliki kesamaan dengan penelitian ini, yaitu

keduanya menganalisis novel Entrok sebagai objek penelitian. Sedangkan

perbedaan antara penelitian di atas dan penelitian ini, yaitu dalam penelitian

ini penulis mengedepankan salah satu tema, yakni politik, yang berhubungan

dengan perubahan kebijakan pemerintah yang semakin lama cenderung pada

militer, menjadikan militer semakin berkuasa dan bertindak

sewenang-wenang semenjak PKI dihancurkan. Hal ini melahirkan hegemoni dengan

ideologi-ideologi tertentu.

2.2 Landasan Teoretis

Konsep teori merupakan bagian terpenting dalam membantu memecahkan

masalah. Adanya peran konsep menjadikan peneliti lebih memahami serta melakukan

(31)

dilakukan penelitian, peneliti sudah mempunyai gambaran, harapan, jawaban atau

bayangan tentang apa yang akan ditemukannya melalui penelitian yang dimaksud.

Sesuai dengan format penelitian yang dibuat dalam desain

deskriptif-kualitatif, maka digunakan beberapa teori yang dimaksudkan sebagai pijakan.

2.2.1 Cultural Studies

Menurut Hall (Barker, 2009: 6), pendekatan cultural studies merupakan suatu

pembentukan wacana, yaitu kluster (atau bangunan) gagasan-gagasan, citra-citra dan

praktik-praktik, yang menyediakan cara-cara untuk membicarakan topik, aktivitas

sosial tertentu atau arena institusional dalam masyarakat. Cara-cara tersebut dapat

berbentuk pengetahuan dan tindakan yang terkait dengannya.

Cultural studies adalah satu teori yang dibangun oleh para pemikir yang

memandang produksi pengetahuan teoretis sebagai praktik politik. Di sini,

pengetahuan tidak pernah menjadi fenomena netral atau objektif, melainkan soal

posisionalitas, soal dari mana orang berbicara, kepada siapa dan untuk tujuan apa.

Cultural studies dibangun oleh suatu cara berbicara yang tertata perihal objek-objek

(yang dibawanya sebagai permasalahan) dan yang berkumpul di sekitar

konsep-konsep kunci, gagasan-gagasan dan pokok-pokok perhatian. Selain itu, cultural

studies memiliki suatu momen ketika dia menamai dirinya sendiri, meskipun

penamaan itu hanya menandai penggalan atau kilasan dari suatu proyek intelektual

(32)

Menurut Hall (Storey, 2010: 2) cultural studies mengandung wacana yang

berlipat ganda; merupakan seperangkat formasi; ia merekam momen-momen di masa

lalu dan kondisi krisisnya (conjuncture) sendiri yang berbeda. Cultural studies

mencakup pelbagai jenis karya yang berbeda; senantiasa merupakan seperangkat

formasi yang tidak stabil; mempunyai banyak lintasan; kebanyakan orang telah

mengambil posisi teoretis yang berbeda, kesemuanya teguh pada pendiriannya.

Storey (2010: 1) mengatakan bahwa cultural studies bukanlah sekumpulan teori dan

metode yang monolitik.

Cultural studies merupakan wacana yang membentang, yang merespons

kondisi politik dan historis yang berubah dan selalu ditandai dengan perdebatan,

ketidaksetujuan, dan intervensi. Cultural studies juga menganggap budaya itu bersifat

politis dalam pengertian yang sangat spesifik, yaitu sebagai ranah konflik dan

pergumulan. Budaya dalam cultural studies lebih didefinisikan secara politis

ketimbang secara estetis. Objek kajian dalam cultural studies bukanlah budaya yang

didefinisikan dalam pengertian yang sempit, yaitu sebagai objek keadiluhungan

estetis (seni tinggi); juga bukan budaya yang didefinisikan dalam pengertian yang

sama-sama sempit, yaitu sebagai sebuah proses perkembangan estetik, intelektual,

spiritual; melainkan budaya yang dipahami sebagai teks dan praktik hidup sehari-hari.

Inilah definisi budaya yang bisa mencakup dua definisi sebelumnya; selain itu, dan

ini sangat penting, melibatkan kajian budaya pop bisa bergerak melampaui

(33)

Bennett (Barker, 2009: 8) memaparkan bahwa cultural studies adalah suatu

arena interdisipliner di mana perspektif dari disiplin yang berlainan secara selektif

dapat digunakan untuk menguji hubungan kebudayaan dengan kekuasaan.

Bentuk-bentuk kekuasaan yang dieksplorasi oleh cultural studies beragam, termasuk gender,

ras, kelas, kolonialisme, dan lain-lain. Cultural studies berusaha mengeksplorasi

hubungan antara bentuk-bentuk kekuasaan ini dan berusaha mengembangkan cara

berpikir tentang kebudayaan dan kekuasaan yang dapat dimanfaatkan oleh sejumlah

agen dalam upayanya melakukan perubahan.

Cultural studies dilihat sebagai situs penting bagi produksi dan reproduksi

hubungan sosial dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Storey (2010: 3), elaborasi

yang sangat bagus mengenai cara melihat budaya ini barangkali datang dari Stuart

Hall, yang menggambarkan budaya pop sebagai sebuah arena konsensus dan

resistensi. Budaya pop merupakan tempat di mana hegemoni muncul, dan wilayah di

mana hegemoni berlangsung.

2.2.2 Teori Hegemoni

Sugiono (2006: 31) mengemukakan bahwa teori hegemoni Gramsci adalah

sebuah teori politik paling penting abad XX. Teori ini dibangun di atas premis

pentingnya ide dan tidak mencukupinya kekuatan fisik belaka dalam kontrol sosial

politik. Di mata Gramsci, agar yang dikuasai mematuhi penguasa, yang dikuasai tidak

hanya harus merasa mempunyai dan menginternalisasi nilai-nilai serta norma

(34)

mereka. Inilah yang dimaksud Gramsci dengan hegemoni atau menguasai dengan

kepemimpinan moral dan intelektual secara konsensual.

Selanjutnya pandangan Gramsci (Sugiono, 2006: 34-35) menjelaskan bahwa

mengenai pentingnya kepemimpinan kultural ini membuatnya mempertimbangkan

kembali konsep “suprastruktur” Marxian. Tetapi bukannya memandang suprastruktur

sebagai sebuah epifenomena semata, yakni refleksi semata dari elemen ekonomi sub /

struktur, ia justru mengkarakterisasi suprastruktur sebagai penting dengan sendirinya.

Ia memilah pengertian suprastruktur menjadi “dua level struktur utama”: tingkat

pertama ia sebut “masyarakat sipil,” lainnya adalah “masyarakat politik” atau

“negara”. Dalam konsepsi Gramsci “masyarakat sipil” mencakup seluruh aparatus

transmisi yang lazim disebut “swasta” seperti universitas, sekolah, media massa,

gereja dan lain sebagainya. Karena aparatus-aparatus tersebut memainkan peran

sangat signifikan dalam membentuk kesadaran massa, maka kemampuan

kelompok(-kelompok) berkuasa dalam melestarikan kontrol sosial dan politiknya atas

kelompok-kelompok lain sepenuhnya bergantung pada kemampuannya mengontrol

aparatus-aparatus tadi. Yang dimaksud Gramsci dengan “masyarakat politik,” sebaliknya,

adalah semua institusi publik yang memegang kekuasaan untuk melaksanakan

“perintah”. Termasuk dalam kategori ini, masyarakat politik mengacu pada, antara

lain, institusi seperti tentara, polisi, pengadilan, birokrasi dan pemerintah. Dengan

kata lain, hal itu menunjuk pada semua institusi yang biasa disebut sebagai negara

dan, memang demikian halnya, pada beberapa bagian Prison Notebooks Gramsci

(35)

Mengikuti konsepsi di atas, Gramsci (Sugiono, 2006: 36) mendefinisikan

negara sebagai persamaan dari masyarakat politik plus masyarakat sipil atau memakai

rumusannya sendiri: “negara= masyarakat politik + masyarakat sipil, dengan kata lain

hegemoni dilindungi oleh baju besi koersi. Patria dan Andi Arief (2003: 32)

mengatakan bahwa hegemoni menurut Gramsci merujuk pada pengertian tentang

situasi sosial-politik, dalam terminologinya disebut momen dimana filsafat dan

praktik sosial masyarakat menyatu dalam keadaan seimbang. Dominasi merupakan

konsep dari realitas yang menyebar melalui masyarakat dalam sebuah lembaga dan

manifestasi perorangan. Pengaruh dari spirit ini berbentuk moralitas, adat, religi,

prinsip-prinsip politik dan semua relasi sosial, terutama dari intelektual. Hegemoni

selalu berhubungan dengan penyusunan kekuatan negara sebagai klas diktator.

Harjito (Siswadi, 2010) menjelaskan bahwa terdapat empat hal yang

ditonjolkan dari teori Gramsci dalam bandingannya dengan teori Marx. Pertama,

Gramsci berpendapat bahwa di dalam masyarakat selalu terdapat pluralitas ideologi.

Kedua, konflik tidak hanya antarkelas, tetapi konflik antara kelompok-kelompok

dengan kepentingan-kepentingan yang bersifat global untuk mendapatkan kontrol

ideologi dan politik terhadap masyarakat. Ketiga, jika Marx menyebut kelas sosial

harus menyadari keberadaan dirinya dan memiliki semangat juang sebagai kelas,

Gramsci menyatakan bahwa untuk menjadi kelompok dominan, kelompok harus

mewakili kepentingan. Kelompok dominan harus berkoordinasi, memperluas, dan

mengembangkan interest-nya dengan kepentingan-kepentingan umum kelompok

(36)

bagi kolektif yang terdiri atas orang-orang tertindas serta kelompok yang didominasi,

dieksploitasi, dan kurang memiliki kesadaran kelas. Selanjutnya Harjito (Siswadi,

2010) menjelaskan pandangan Gramsci berikutnya. Keempat, Gramsci berpandangan

bahwa seni atau sastra berada dalam superstruktur. Seni diletakkan dalam upaya

pembentukan hegemoni dan budaya baru. Seni membawa ideologi atau superstruktur

yang kohesi sosialnya dijamin kelompok dominan. Ideologi tersebut merupakan

wujud counter-hegemoni (hegemoni tandingan) atas hegemoni kelas penguasa yang

dipertahankan anggapan palsu bahwa kebiasaan dan kekuasaan penguasa merupakan

kehendak Tuhan atau produk alam.

2.3 Konsep

Pada bagian ini, peneliti akan memaparkan konsep yang digunakan dalam

penelitian, antara lain: (1) Formasi, (2) Ideologi, (3) Politik, (4) Kekuasaan, (5)

Postrukturalisme, dan (6) Representasi.

2.3.1 Formasi

Harjito (Siswadi, 2010) menyatakan bahwa formasi merupakan suatu susunan

dengan hubungan yang bersifat bertentangan, korelatif, dan subordinatif. Formasi

ideologi tidak hanya membahas ideologi apa saja yang terdapat dalam teks, akan

tetapi juga membahas bagaimana relasi antar ideologi tersebut. Menurut Storey

(Siswadi, 2010), formasi ideologi dapat ditelusuri melalui elemen material, kemudian

(37)

solidaritas-identitas, dan elemen kebebasan. Keempat elemen tidak harus muncul

bersamaan. Elemen yang harus muncul adalah elemen material, yang berwujud

berbagai aktivitas praktis dan terjelma dalam kehidupan keseharian, cara hidup

kolektif masyarakat, lembaga, serta organisasi tempat praktik sosial berlangsung.

2.3.2 Ideologi

Menurut Althusser (2010: 39), ideologi adalah sebuah representasi relasi

individu-individu imajiner pada kondisi nyata dari eksistensinya. Terjadinya

transposisi imajiner atas kondisi-kondisi eksistensi nyata disebabkan oleh eksistensi

dari sejumlah kecil manusia sinis yang mengandalkan representasi dunia yang

dipalsukan yang diimajinalisasikannya demi dominasi dan eksploitasi terhadap

rakyat, sehingga sanggup memperbudak kecerdasannya dengan mendominasi

imajinasi.

Selanjutnya Althusser (2010: 51) juga menjelaskan bahwa ideologi bertindak

atau berfungsi dengan suatu cara yang merekrut subjek-subjek di antara

individu-individu (ideologi merekrut mereka semua), atau mengubah individu-individu-individu-individu

menjadi subjek-subjek (ideologi mengubah mereka semua) melalui operasi yang

sangat presisi, yang dinamakan interpelasi. Individu diinterpelasi sebagai suatu

subjek (bebas) agar ia dapat taat sepenuhnya pada perintah-perintah Subjek, yakni

agar dia dapat (sepenuhnya) menerima ketaatannya, agar dia membuat gerak-gerik

(38)

subjek kecuali dengan, dan demi ketaatannya. Itulah sebabnya mereka menjalaninya

sendiri.

Berdasarkan penjelasan di atas, diketahui bahwa sepertinya manusia

memiliki esensi sebagai makhluk ideologi yang tak mungkin lepas darinya,

seolah-olah ideologi merupakan udara tempat manusia menghirup nafas untuk

melangsungkan hidup. Dengan adanya ideologi, dapat menolong manusia untuk

memperoleh sumberdaya pemenuh kebutuhan bagi diri sendiri dan kelompoknya,

juga mencegah lawan-lawannya untuk memperoleh hal yang sama.

Setiap individu dalam kelompok harus mampu menjaga keberlangsungan

usaha pemenuhan kebutuhan, wujud konkretnya adalah produksi. Usaha-usaha itu

dilakukan sedemikian rupa dan setiap usaha yang dianggap baik bagi produksi

dipertahankan, dibakukan dan diwariskan kepada generasi penerus, senantiasa

direproduksi. Setiap individu baru dipersiapkan untuk menjadi penerus proses

produksi, menjadi alat bagi reproduksi produksi dan pelengkap bagi relasi produksi.

Agar keberlangsungan proses reproduksi produksi dan relasi produksi terjaga dengan

baik, maka individu-individu dipersatukan dan direkatkan oleh struktur tertinggi yaitu

negara.

Takwin (Althusser, 2010: xxiv) memaparkan bahwa negara dengan

aparatusnya menjaga dengan berbagai cara agar kondisi yang menunjang reproduksi

dan relasi produksi berlangsung terus. Althusser lalu membedakan dua jenis aparatus

negara menjadi: (a) Repressive State Apparatus (RSA) yang bekerja dengan cara

(39)

dan (b) Ideological State Apparatus (ISA) yang bekerja dengan cara persuasif,

ideologis (agama, pendidikan, keluarga, media massa, dan sebagainya).

Selanjutnya Althusser (2010: 20-21) menjelaskan bahwa aparatus Negara

Represif (RSA) sepenuhnya berada pada wewenang institusi publik, sebaliknya,

aparatus Negara Ideologis (ISA) kebanyakan merupakan wewenang institusi privat.

Adapun institusi-institusi privat yang termasuk ke dalam aparatus Negara Ideologis

(ISA) adalah sebagai berikut.

1.ISA Agama (sistem Gereja-gereja yang berbeda)

2.ISA Pendidikan (sistem Sekolah privat dan publik yang berbeda)

3.ISA Keluarga (merupakan unit produksi dan/atau unit konsumsi)

4.ISA Hukum

5.ISA Politik (sistem politik, termasuk pelbagai partai yang berbeda)

6.ISA Serikat Buruh

7.ISA Komunikasi (press, radio dan televisi, dan sebagainya)

8.ISA Budaya (kesusastraan, seni, olahraga, dan sebagainya)

2.3.3 Politik

Menurut Machiavelli (Schmandt, 2009: 269), politik mempunyai sistem

nilainya sendiri yang berbeda dari sistem etika perseorangan. Kekuasaan sebagai

nexus sistem ini, karena tanpa kekuasaan realisasi dari tujuan-tujuan sosial tidaklah

(40)

mempertahankan, dan meluaskan kekuasaan politik bisa dibenarkan sekalipun hal itu

jelas merupakan kejahatan dilihat dari sudut pandang moralitas dan agama.

2.3.4 Kekuasaan

Kekuasaan dipandang terdapat pada setiap level hubungan sosial. Kekuasaan

bukan hanya sekadar perekat yang menyatukan kehidupan sosial, atau kekuatan

koersif yang menempatkan sekelompok orang di bawah orang lain, meskipun dia

pada dasarnya memang demikian, karena dia juga merupakan proses yang

membangun dan membuka jalan bagi adanya segala bentuk tindakan, hubungan atau

tatanan sosial. Dalam hal ini, kekuasaan, meskipun benar-benar menghambat, juga

melapangkan jalan. Di samping itu, cultural studies menunjukkan perhatian khusus

terhadap kelompok-kelompok pinggiran, pertama-tama karena soal kelas, dan

kemudian baru karena soal ras, gender, kebangsaan, kelompok umur,dll (Barker,

2009: 10-11).

2.3.5 Postrukturalisme

Postrukturalisme merupakan aliran penyempurnaan terhadap aliran

strukturalisme. Pada awal abad ke-20 atau sekitar tahun 1980-an, dilakukan revisi

(41)

pretensi-pretensi ilmiahnya. Postrukturalisme memiliki ciri khas yaitu ketidakmantapan teks.

Hal ini dapat dijelaskan bahwa makna sebuah karya ditentukan oleh apa yang

dilakukan oleh teks, bukan apa yang dimaksudkan, sehingga terjadi pergeseran dari

estetika produksi ke estetika konsumsi, penerima menjadi pencipta. Makna sebuah

teks tidak diproduksi melalui kontemplasi pasif, melainkan partisipasi aktif. Karya

sastra tidak hanya milik pengarang, tetapi juga milik pembaca. Karya sastra juga

sebagai anonimitas, tidak ada karya pertama, semua intertekstual. Oleh sebab itu,

makna teks tergantung pada konteks, interaksi pada pembaca, teks juga tidak tertutup,

tetapi terbuka karena secara terus-menerus berinteraksi ke luar dirinya.

Adapun beberapa kelemahan strukturalisme yang dikemukakan Teeuw

(Ratna, 2004: 160), antara lain: (a) belum memiliki syarat sebagai teori yang lengkap;

(b) karya seni tidak bisa diteliti secara terpisah dari struktur sosial; (c) kesangsian

terhadap struktur objektif karya; (d) karya dilepaskan dari relevansi pembacanya; dan

(e) karya sastra juga dilepaskan dari relevansi sosial budaya yang

melatarbelakanginya.

2.3.6 Representasi

Representasi adalah gambaran sesuatu yang akurat atau realita yang

terdistorsi. Representasi tidak hanya berarti “to present”, “to image”, atau “to depict”.

Representasi adalah sebuah cara memaknai apa yang diberikan pada benda yang

digambarkan. Konsep lama mengenai representasi ini didasarkan pada premis bahwa

(42)

diberikan oleh representasi dan arti benda yang sebenarnya digambarkan. Hal ini

terjadi antara representasi dan benda yang digambarkan. Berlawanan dengan

pemahaman standar itu, Hall (Yolagani, 2007) berargumentasi bahwa representasi

harus dipahami dari peran aktif dan kreatif orang memaknai dunia.

“so the representation is the way in which meaning is somehow given to the things

which are depicted through the images or whatever it is, on screens or the words on a

page which stand for what we’re talking about.”

Hall menunjukkan bahwa sebuah imaji akan mempunyai makna yang berbeda

dan tidak ada garansi bahwa imaji akan berfungsi atau bekerja sebagaimana mereka

dikreasi atau dicipta. Hall menyebutkan “Representasi sebagai konstitutif.

Representasi tidak hadir sampai setelah selesai direpresentasikan, representasi tidak

terjadi setelah sebuah kejadian. Representasi adalah konstitutif dari sebuah kejadian.

Representasi adalah bagian dari objek itu sendiri, ia adalah konstitutif darinya

(43)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Metode dan Teknik Pengumpulan Data

Format desain penelitian ini adalah deskriptif-kualitatif, dengan analisis isi

(content analysis). Dalam penelitian kualitatif, penggunaan analisis isi lebih banyak

ditekankan pada bagaimana teks-teks yang ada dalam komunikasi itu terbaca dalam

interaksi sosial; dan bagaimana teks-teks itu terbaca dan dianalisis oleh peneliti. Oleh

karena itu, kredibilitas peneliti menjadi amat penting, dan diharapkan mampu untuk

merajut fenomena isi komunikasi menjadi fenomena sosial yang terbaca oleh orang

pada umumnya (Bungin, 2008: 158). Selanjutnya digunakan juga metode membaca

heuristik dan hermeneutik. Pradopo (Jabrohim, 2003:80) menjelaskan,

Metode membaca heuristik pada cerita rekaan atau novel merupakan metode pembacaan berdasarkan tata bahasa ceritanya yaitu pembacaan novel dari awal sampai dengan akhir cerita secara berurutan, cerita yang memiliki alur sorot balik dapat dibaca secara alur lurus. Hal ini dipermudah dengan dibuatnya sinopsis cerita dari novel yang dibaca tersebut. Pembacaan heuristik itu adalah penerangan kepada bagian cerita secara berurutan.

Selanjutnya beliau juga menjelaskan, pembacaan hermeneutik adalah

(44)

konvensi sastranya. Pembacaan hermeneutik juga merupakan pembacaan ulang

(retroaktif) sesudah pembacaan heuristik dengan memberikan konvensi sastranya.

Menurut Teeuw (1984: 123) hermeneutik adalah ilmu atau keahlian menginterpretasi

karya sastra dan ungkapan bahasa dalam arti yang lebih luas menurut maksudnya.

Dalam praktik interpretasi sastra itu dipecahkan secara dialektik, bertangga, dan

lingkaran dalam bentuk spiral. Selanjutnya interpretasi (Palmer, 2005: 24) merupakan

kerja pokok intelektualitas dalam memformulasikan keputusan yang benar tentang

sesuatu.

Menurut Endraswara (2008: 5), ciri penting dari penelitian kualitatif dalam

sastra antara lain:

“(1) peneliti merupakan instrumen kunci yang akan membaca secara cermat sebuah karya sastra, (2) penelitian dilakukan secara deskriptif, artinya terurai dalam bentuk kata-kata atau gambar jika diperlukan, bukan berbentuk angka, (3) lebih mengutamakan proses dibandingkan hasil, karena karya sastra merupakan fenomena yang banyak mengundang penafsiran, (4) analisis secara induktif, dan (5) makna merupakan andalan utama.”

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan mencatat pada

kartu data. Kartu data dibuat sesuai dengan kebutuhan permasalahan penelitian.

Adapun tahapan pengumpulan data: (1) membaca novel Entrok secara cermat dan

berulang-ulang; (2) menuliskan temuan data dalam kartu data, diklasifikasikan

berdasarkan permasalahan penelitian; (3) pada saat bersamaan dilakukan reduksi

data, yakni dengan cara mengabaikan data-data yang kurang relevan.

Menurut Bungin (2008), dalam penelitian kualitatif, terdapat keterkaitan antara

(45)

pengumpulan data dan teknik-teknik analisis data dilakukan sekaligus secara

bersamaan, karena suatu metode pengumpulan data juga sekaligus adalah metode dan

teknik analisis data. Observasi sebagai metode penelitian kualitatif merupakan suatu

pengamatan dengan menggunakan panca indra mata sebagai alat bantu utamanya.

Oleh sebab itu, observasi adalah kemampuan seseorang untuk menggunakan

pengetahuannya melalui hasil kerja panca indra mata, serta dibantu oleh panca indra

lainnya.

3.2 Teknik Analisis Data

Sebagaimana yang telah dipaparkan pada halaman sebelumnya, bahwasanya

relasi metode pengumpulan data dan teknik-teknik analisis data dilakukan sekaligus

secara bersamaan, karena suatu metode pengumpulan data juga sekaligus adalah

metode dan teknik analisis data. Strategi analisis data penelitian ini menggunakan

strategi analisis isi (content analysis), yaitu model analisis yang digunakan untuk

mengungkap, memahami, dan menangkap pesan karya sastra. Menurut Endraswara

(2008: 160):

(46)

Dalam penelitian kualitatif, analisis konten ditekankan pada bagaimana

peneliti melihat keajekan isi komunikasi secara kualitatif, dan juga bagaimana

peneliti memaknakan isi komunikasi. Pemahaman dasar terhadap kultur di mana

komunikasi itu terjadi amat penting. Kultur ini menjadi muara yang luas terhadap

berbagai macam bentuk komunikasi di masyarakat (Bungin, 2008: 158).

Pada dasarnya, metode-metode pengumpulan data dalam penelitian kualitatif

sekaligus juga adalah metode analisis data atau, dengan kata lain, prosedur metodis

sekaligus juga adalah strategis analisis data itu sendiri, sehingga proses pengumpulan

data juga adalah proses analisis data. Bahkan, keduanya erat berkaitan dengan teori.

Keseluruhan data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan strategi

analisis data deskriptif-kualitatif (Bagan 1). Setelah seluruh data terkumpul,

dilakukan analisis secara induktif dengan menggunakan metode triangulasi, yaitu

penggunaan bermacam-macam metode, sumber data, peneliti, dan teori. Keterangan

tersebut digambarkan sebagai berikut:

Penokohan

(47)

Keterangan :

: tanda panah dua arah menunjukkan kesalinghubungan.

: tanda panah satu arah menunjukkan hubungan satu arah.

: tanda panah putus-putus satu arah menunjukkan keterbukaan.

3.3 Data dan Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data pustaka deskriptif yang

berupa uraian cerita, ungkapan, pernyataan, kata-kata tertulis, dan perilaku yang

digambarkan dalam teks. Jenis data yang digunakan dalam penelitian kualitatif adalah

data deskriptif menggunakan pendekatan cultural studies, yang dipelopori oleh Stuart

Hall. Cultural studies cenderung merespons kondisi politik dan historis yang berubah

dan selalu ditandai dengan perdebatan, ketidaksetujuan, dan intervensi.

3.3.1 Sumber Data Primer

Sumber data primer yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah:

Judul : Entrok

Pengarang : Okky Madasari

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Tebal Buku : 288 halaman

Ukuran : 20 cm

Cetakan : Pertama

(48)

Warna sampul : warna cokelat muda, hijau, kuning, dan merah muda

Gambar sampul: Gambar bra

Desain sampul : Restu Ratnaningtyas

3.3.2 Sumber Data Sekunder

Sumber data sekunder yang digunakan peneliti dalam menganalisis data

primer antara lain berupa analisis sumber dari internet dan buku-buku yang dapat

dijadikan sebagai acuan.

Kekuasaan Partai Doktrinasi Kekuasaan Kaum

(49)

Pendekatan Cultural Studies

Keterangan : Pedoman Hidup Multifaset Bagi Manusia

: tanda panah dua arah menunjukkan kesalinghubungan.

: tanda panah satu arah menunjukkan hubungan satu arah.

: tanda panah putus-putus satu arah menunjukkan keterbukaan.

Penjelasan Model :

Novel Entrok karya Okky Madasari dibahas menurut konsep pendekatan yang

dipelopori oleh Wellek dan Warren (1977), yakni pendekatan intrinsik dan ekstrinsik

yang dilakukan secara bersamaan. Pada pendekatan intrinsik dikaji penokohan, alur

cerita, tema, dan latar novel, sedangkan pada pendekatan ekstrinsik dikaji melalui

ideologi, politik, dan kekuasaan.

Formasi ideologi yang digambarkan Okky Madasari dalam novel Entrok

menitikberatkan pada ideologi aparatus negara yaitu militer yang kerap melakukan

tindakan-tindakan represif terhadap masyarakat sebagai tokoh-tokoh publik yang

berada di wilayah praktik sosial berlangsung. Permasalahan tersebut kemudian

(50)

Setelah dilakukan analisis, dapat diketahui bahwa ideologi muncul dari

kekuasaan pemerintah pada masa Orde Baru yang menekankan pada kekuasaan kaum

militer sebagai aparatus negara. Kemudian ideologi juga lahir dari kekuasaan partai

politik dominan dan kerap memunculkan terjadinya doktrinasi ideologi oleh

kelompok dominan terhadap kelompok subaltern atau yang lazim dikenal sebagai

kelompok subordinat atau yang terpinggirkan.

Selanjutnya, hasil analisis di atas didasarkan pada pendekatan cultural studies

untuk menyingkap isu-isu sosial yang fundamental. Dengan mengetahui adanya

keberagaman isu-isu sosial dalam objek yang diteliti, maka dapat disimpulkan bahwa

melalui karya sastranya, Okky Madasari berusaha untuk menciptakan suatu tamsil

(51)

BAB IV

FORMASI IDEOLOGI TOKOH-TOKOH DAN IDEOLOGI INSTITUSI

PUBLIK DALAM NOVEL ENTROK

4.1 Ideologi Tokoh-tokoh dan Ideologi Institusi Publik

Pada era Orde Baru kerap ditemukan orang-orang animis, seperti halnya tokoh

Simbok dan Marni dalam novel Entrok yang menganut Animisme. Hal inilah yang

mengakibatkan mereka takut kepada pemerintah, terutama kepada tentara-tentara.

Sebab kalangan tentara melabelisasi orang-orang di atas sebagai orang-orang PKI

atau organisasi terlarang yang menjadi musuh negara. Sebagaimana yang dikatakan

Dhakidae (2003: 204), bahwasanya perwira dalam kategori alat negara dengan tujuan

utama menjadi pelayan negara yang sama sekali tidak politis, mereka PKI,

anti-kiri, dan anti-Islam, kanan, bukan karena keyakinan mendalam dan pemahaman

mendalam tentang keduanya, akan tetapi hanya bermodalkan keyakinan bahwa

kedua-duanya akan menghancurkan tata tertib priyayi abangan Jawa. Hal tersebut

(52)

"Tumpeng dan panggang itu kubuat untuk sesajen dewamu. Agar kau kembali ingat masih ada Dia di sana yang dulu selalu kau puja. Ayo minta ke Dia! Minta agar Dia kembali membuatmu punya jiwa!” (Entrok: 12).

Percakapan di atas merupakan ucapan Rahayu yang ditujukan kepada Marni

agar Marni menyadari bahwa hal di atas merupakan kebiasaan yang kerap

dilakukannya ketika jiwanya belum terganggu. 36

“Aku sebenarnya tidak tahu apa yang harus kulakukan. Sekadar mengikuti perintah Simbok, kuucapkan permintaanku dalam hati, “Gusti Mbah Ibu Bumi Bapa Kuasa, berkatilah usahaku. Aku mau punya uang, memiliki seperti yang dimiliki Nyai Wedana. Biar nggak ngrepoti orang lain.” Permintaan itu kuulangi terus, sampai Simbok menyentuh bahuku dan mengajakku masuk rumah.” (Entrok: 43).

Monolog di atas merupakan permintaan Marni dalam hati yaitu nyuwun

kepada Mbah Ibu Bumi Bapa Kuasa. Semua peristiwa dapat terjadi jikalau Dia yang

menginginkan.

Kedua kutipan di atas menunjukkan ISA agama, meskipun dalam cerita

Marni dan Simbok belum mempunyai agama atau animisme, tetapi hal tersebut

menunjukkan aktivitas transendental. Kutipan-kutipan tersebut merupakan elemen

material yang berwujud aktivitas praktis dan terjelma dalam kehidupan keseharian,

kemudian merupakan elemen kesadaran yaitu tradisi dalam mempercayai sesuatu,

elemen solidaritas-identitas sebagai rakyat biasa, serta elemen kebebasan hak warga

(53)

Tentara-tentara senantiasa melakukan tradisi ronda keliling kampung dengan

dalih menjaga keamanan. Di dalam menjalankan tradisi ronda tersebut, para tentara

kerap melakukan pengutipan uang keamanan. Adapun orang-orang yang menjadi

target utama bagi para tentara tersebut adalah orang-orang yang mempunyai banyak

uang atau orang usahawan. Di samping itu juga orang animis dan

orang-orang yang tidak disukai atau kontradiktif terhadap pemerintah. Hal tersebut dapat

ditunjukkan melalui data sebagai berikut.

“Dulu, aku pernah bertanya pada Ibu kenapa orang-orang berseragam datang ke rumah kami. Kata Ibu, untuk keamanan. Lalu kenapa Ibu selalu memberikan uang pada mereka? tanyaku lagi. Namanya keamanan ya bayar, jawab Ibu. Orang-orang berseragam loreng sering datang ke rumah. Mereka selalu datang pada hari Senin dua minggu sekali. Kadang-kadang ada juga yang datang di luar hari itu. Katanya kebetulan lewat atau cuma mampir. Tapi sudah tahulah Ibu apa yang harus dilakukannya setiap orang-orang itu datang. Apalagi kalau bukan menyerahkan setumpuk uang.” (Entrok: 53).

Percakapan di atas menunjukkan keberadaan institusi publik dalam hal ini

tentara, yang dinyatakan melalui ‘orang-orang berseragam loreng’ yang rutin datang

mengambil uang keamanan dari Ibu, yaitu Marni.

(54)

Gambaran situasi di atas menunjukkan institusi publik atau tentara, hal ini

dinyatakan melalui ‘petugas berseragam loreng dengan pistol’ mengatur orang-orang

dalam pemilu.

Kedua kutipan di atas menunjukkan RSA yang mengatur lewat kekerasan

dan represi terutama kepada orang-orang yang lemah dan bodoh. Kutipan-kutipan

tersebut merupakan elemen material yang berwujud aktivitas praktis dan terjelma

dalam kehidupan keseharian, dan juga merupakan elemen kesadaran yaitu tradisi

untuk melakukan represi dan kekerasan.

Masa-masa sulit dalam perekonomian yang terjadi sebelum rezim Orde Baru

berkuasa, menjadikan rakyat Indonesia sulit untuk mengingat berbagai peristiwa

penting dalam kehidupan mereka, seperti halnya momen kelahiran mereka atau

sejarah berdirinya sebuah monumen nasional. Pada masa itu mereka hanya fokus

pada upaya-upaya pemenuhan kebutuhan pangan sehari-hari bagi keluarganya

masing-masing. Hal tersebut dapat ditunjukkan melalui data sebagai berikut.

“Tak juga kutahu kapan tepatnya aku dilahirkan. Simbok hanya berkata aku lahir waktu zaman perang. Saat semua orang menggunakan baju goni dan ramai-ramai berburu tikus sawah untuk digoreng.” (Entrok: 15).

Monolog di atas merupakan pernyataan Marni yang berkaitan dengan

ingatannya atas waktu atau momen kelahirannya, yakni ketika orang-orang menjalani

(55)

“Orang tak pernah tahun kapan persisnya Pasar Ngranget mulai ada. Mbah Noto, kuli paling tua yang bekerja paling awal dibanding kuli lain, hanya ingat dia sudah nguli pada zaman Jepang. Waktu zaman susah itu, barang dagangan sudah dicari. Singkong saja susah dicari di pasar. Semua hasil bumi petani diminta sama Jepang, buat bekal perang. Mbah Noto masih ingat rasa daging tikus hasil buruannya di sawah.” (Entrok: 36).

Gambaran situasi di atas menjelaskan tentang riwayat berdirinya Pasar

Ngranget yang dirunut melalui kisah hidup Mbah Noto yang dikaitkannya dengan

zaman Jepang, zaman susah, dimana orang berburu tikus di sawah untuk dimakan.

Kedua kutipan di atas menunjukkan ISA keluarga. Hal ini dapat dilihat

melalui Simbok, Mbah Noto, dan orang-orang lain pada zaman tersebut, zaman

perang, baju goni dan berburu tikus di sawah untuk dimakan. Kutipan-kutipan

tersebut juga merupakan elemen material yang berwujud aktivitas praktis dan

terjelma dalam kehidupan keseharian, yaitu berburu tikus di sawah, di samping itu

juga merupakan elemen kesadaran tradisi hidup susah, elemen solidaritas identitas

rakyat biasa serta elemen kebebasan hak warga negara.

Tokoh Marni yang menganut Animisme senantiasa menjadi bulan-bulanan

kaum militer. Marni berupaya untuk selalu menuruti segala permintaan komandan

tentara terhadapnya, namun satu hal yang tetap dipertahankannya dari paksaan dan

hasutan kaum militer adalah kepercayaannya terhadap Mbah Ibu Bumi Bapa Kuasa.

Marni kerap melakukan aktivitas transendental yang kontradiktif dengan kepercayaan

yang dianut oleh putrinya, Rahayu dan Pak Waji, guru agama Rahayu di sekolah. Hal

Gambar

Gambar sampul: Gambar bra
Tabel 4.1
Tabel 4.2

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan struktur yang membangun dalam novel Pasung Jiwa karya Okky Madasari, mendeskripsikan kritik sosial dalam novel Pasung Jiwa

berawal dari seorang Marni yang begitu ingin memiliki entrok untuk menutupi dadanya yang mulai membesar. Marni meminta kepada Si Mboknya, namun hal tersebut

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan struktur naratif ketiga novel tersebut, menganalisis perjuangan perempuan yang terdapat dalam ketiga novel,

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan struktur naratif ketiga novel tersebut, menganalisis perjuangan perempuan yang terdapat dalam ketiga novel,

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan: (1) semua kata, frasa, dan kalimat yang mengandung unsur budaya dalam novel Entrok dan terjemahannya pada novel

Inisiatif anak dalam novel Mata di Tanah Melus ditunjukkan oleh tokoh Mata dan tokoh Atok dalam cerita yang berinisiatif untuk bertindak kreatif, berkenalan dengan

Abstrak : Penelitian ini bertujuan untuk:(1) mendeskripsikan unsur-unsur struktural yang membangun novel Entrok karya Okky Madasari, (2) kejiwaan tokoh utama dalam

Menurut Nurgiyantoro (1995:2), novel adalah suatu karya sastra yang bersifat imajinasi selalu menawarkan berbagai permasalahan manusia dan kemanusian,hidup dan