VERBA
‛
POTONG’ DALAM BAHASA BATAK TOBA
SKRIPSI
OLEH :
GIO VANI LUMBAN GAOL
NIM 100701021
DEPARTEMEN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA
MEDAN
PERNYATAAN
Penulis menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar sarjana di suatu perguruan tinggi. Sepanjang pengetahuan penulis juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka. Apabila pernyataan penulis ini tidak benar, penulis bersedia menerima sanksi berupa pembatalan gelar sarjana yang penulis peroleh.
Medan, Juli 2014
VERBA ‛POTONG’ DALAM BAHASA BATAK TOBA
GIO VANI LUMBAN GAOL (Fakultas Ilmu Budaya USU)
ABSTRAK
Penelitian ini mendeskripsikan kategorisasi dan makna verba POTONG dalam bahasa Batak Toba. Data yang digunakan adalah data lisan, data tulis, dan data intuitif. Data dikumpulkan dengan menggunakan metode cakap dan metode simak. Kemudian, data dianalisis dengan metode agih dan hasilnya disajikan dengan metode formal dan informal. Teori yang digunakan adalah teori MSA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa verba POTONG dikategorisasikan berdasarkan alat dan objek. Selanjutnya, makna verba POTONG dibentuk oleh dua makna asali MELAKUKAN dan TERJADI yang berkombinasi membentuk sintaksis makna universal ‛X melakukan sesuatu pada Y karena ini sesuatu terjadi pada Y.’
PRAKATA
Puji dan Syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kasih dan kemurahan-Nya sehingga penulis diberi kesehatan dan hikmat untuk menyelesaikan skripsi ini. Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Dr. Syahron Lubis, M.A., Dekan Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara, yang telah menyediakan fasilitas pendidikan bagi penulis.
2. Prof. Dr. Ikhwanuddin Nasution, M.Si., Ketua Departemen Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara, yang telah mengarahkan penulis dalam menjalani perkuliahan dan membantu penulis dalam hal administrasi.
3. Drs. Haris Sutan Lubis, M.S.P., Sekretaris Departemen Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara, yang telah memberikan informasi terkait perkuliahan kepada penulis.
5. Dra. Salliyanti, M.Hum., Dosen Pembimbing II, yang telah meluangkan waktu untuk membimbing penulis dan mengarahkan penulis dalam penyusunan skripsi.
6. Dra. Rosliana Lubis, M.Hum., dosen Penasihat Akademik, yang telah memberikan bimbingan serta perhatian kepada penulis selama menjalani perkuliahan.
7. Bapak dan Ibu staf pengajar Departemen Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan bimbingan dan pengajaran selama penulis menjalani perkuliahan.
8. Kak Tika yang telah membantu penulis dalam hal administrasi di Departemen Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara.
9. Kedua orang tua tercinta, Ayahanda J.K Lumban Gaol, SH dan Ibunda Medina Saragih, yang telah memberikan dukungan moral, material, dan kasih sayang tanpa batas kepada penulis dan doa yang tidak pernah berhenti untuk penulis .
10. Adik penulis Geby Agnes dan Abang Ben yang memotivasi dan mendoakan penulis selama mengikuti perkuliahan.
mengunjungi informan. Terima Kasih atas doa dan dorongan yang diberikan kepada penulis selama perkuliahan dan penyelesaian skripsi ini.
12.Para informan yang telah meluangkan waktunya untuk membantu penulis menyediakan data penelitian.
13.BNI yang telah memberikan beasiswa kepada penulis sehingga membuat penulis termotivasi untuk belajar.
14.Sahabat karib CNC (Raesita, Siska, Betti, dan Amelia), dan Rofinta yang telah memotivasi penulis dan selalu ada dalam suka dan duka.
15.Teman-teman stambuk 2010 terima kasih atas kebersamaan yang selama ini terjalin sangat baik.
16.KTB Laveria (Kak Gohanna, Misni, Rosita, Gio, dan Amelia) dan adik-adik PETRA (Devi, Putri, Wike, dan Tini) terima kasih buat doa dan motivasinya.
17.Teman-teman kos (Dame, Ka Desi dan Clara) yang selalu membantu penulis dan bersama dengan penulis, baik senang maupun sedih.
Medan, Juni 2014
DAFTAR ISI
Halaman
PERNYATAAN ... i
ABSTRAK ... ii
PRAKATA ... iii
DAFTAR ISI ... iv
DAFTAR TABEL ... vii
DAFTAR GAMBAR ... viii
DAFTAR LAMBANG DAN SINGKATAN ... xi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Masalah ... 8
1.3 Tujuan Penelitian ... 9
1.4 Manfaat Penelitian ... 9
BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA ... 10
2.1 Konsep ... 10
2.2 Landasan Teori ... 11
2.3 Tinjauan Pustaka ... 16
BAB III METODE PENELITIAN ... 22
3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 22
3.2 Sumber Data ... 25
3.3 Metode dan Teknik Pengumpulan Data ... 27
3.4 Metode dan Teknik Pengkajian Data ... 29
3.4.1 Metode Padan ... 29
3.5 Metode dan Hasil Penyajian Analisis Data ... 32
BAB IV VERBA POTONG BAHASA BATAK TOBA ... 33
4.1 Pengantar ... 33
4.2 Kategorisasi Verba POTONG berdasarka Alat yang digunakan ... 33
4.2.1 Subkategori sesuatu terjadi pada Y pada waktu yang sama ... 37
4.3 Makna verba POTONG ... 40
4.3.1 Makna Verba TABA ‛tebang’ ... 38
4.3.2 Makna Verba BOLAH ‛belah’ ... 43
4.3.3 Makna Verba RABBAS ‛babat’... 47
4.3.4 Makna Verba PONGGOL ‛patah’ ... 53
4.3.5 Makna Verba SEAT ‛potong’ ... 57
4.3.6 Makna Verba JALJALI ‛cincang’ ... 58
BAB V SIMPULAN DAN SARAN ... 61
5.1 Simpulan ... 61
5.2 Saran ... 61
DAFTAR PUSTAKA ... 62
LAMPIRAN : ... 64
LAMPIRAN 1: LEKSIKON VERBA POTONG ... 64
LAMPIRAN 2: DAFTAR KLAUSA VERBA POTONG ... 65
LAMPIRAN 3: DAFTAR MAKNA VERBA POTONG ... 66
LAMPIRAN 4: DATA INFORMAN ... 74
VERBA ‛POTONG’ DALAM BAHASA BATAK TOBA
GIO VANI LUMBAN GAOL (Fakultas Ilmu Budaya USU)
ABSTRAK
Penelitian ini mendeskripsikan kategorisasi dan makna verba POTONG dalam bahasa Batak Toba. Data yang digunakan adalah data lisan, data tulis, dan data intuitif. Data dikumpulkan dengan menggunakan metode cakap dan metode simak. Kemudian, data dianalisis dengan metode agih dan hasilnya disajikan dengan metode formal dan informal. Teori yang digunakan adalah teori MSA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa verba POTONG dikategorisasikan berdasarkan alat dan objek. Selanjutnya, makna verba POTONG dibentuk oleh dua makna asali MELAKUKAN dan TERJADI yang berkombinasi membentuk sintaksis makna universal ‛X melakukan sesuatu pada Y karena ini sesuatu terjadi pada Y.’
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kata dalam sebuah bahasa terikat oleh budaya penuturnya. Melalui bahasa masyarakat dapat mengetahui budayanya. Menurut Ohoiwutun (2002 dalam Aslinda, 2007: 4), pola-pola komunikasi yang dipengaruhi oleh kebudayaan dapat ditelusuri melalui pengamatan terhadap kecenderungan-kecenderungan berbahasa. Dapat dikatakan bahwa bahasa sangat dipengaruhi kebudayaan. Dalam pengertian lain, segala hal yang ada dalam kebudayaan akan tercermin di dalam bahasa.
Salah satu aktivitas budaya pada masyarakat Batak Toba berkaitan dengan pemotongan. Tindakan pemotongan penting dalam budaya Batak Toba karena mata pencaharian masyarakatnya pada umumnya adalah bertani. Itu sebabnya, dalam bahasa Batak Toba banyak butir leksikal yang bermakna POTONG, misalnya, pada saat membuka ladang digunakan verba seperti manaba
‛menebang’, manaha ‛membelah’, manallik ‛menebas’, mangarambas
‛membabat’, manggotap ‛memotong’, manggorbang ‛memotong’, mangarambis
‛menebang’, maraprap ‛membabat (habis)’, maniptip ‛memotong (rata)’; pada
saat menanam digunakan verba seperti manasapi ‛membabat’, manggotap
‛memotong’, manipulhon ‛mematahkan’; dan pada saat memanen digunakan
menggunakan komponen semantis. Dalam teori MSA komponen itu disebut perangkat makna asali (Wierzbicka, 1996: 31).
Verba POTONG tergolong unik karena ada kata-kata yang dianggap bersinonim terletak pada ranah yang berbeda. Misalnya, dalam bahasa Batak Toba terdapat kata manaltali ‛mencincang’ dan manjaljali ‛mencincang’ yang dipahami sebagai dua kata yang bersinonim. Namun, manaltali mempunyai ciri khusus, yaitu berobjek daging, sedangkan manjaljali mempunyai ciri khusus, yaitu berobjek tumbuhan. Hal ini tampak pada contoh di bawah ini.
(1a) ?Manaltali/manjaljali happa anggi. mencincang keladi adik ‛Adik mencincang keladi.’
(b) Manaltali/?manjaljali jagal anggi.
mencincang daging adik ‛Adik mencincang daging.’
Pada contoh (1) terlihat bahwa verba manjaljali ‛mencincang’ objeknya adalah keladi, sedangkan pada contoh (2) terlihat bahwa verba manaltali ‛mencincang’
objeknya adalah daging.
managil ‛memarang’, dan maneat ‛memotong’ (hlm. 327). Kemudian, maneat
‛memotong’ berelasi dengan manallik ‛menebas’ dan managil ‛memarang’
(hlm.330). Relasi semantisnya tampak pada ilustrasi berikut.
manallik maneat
manaba
managil
Gambar 1.1
Relasi Semantis Verba POTONGdalam Bahasa Batak Toba
Semua anggota verba POTONG dapat ditempatkan ke dalam satu kategori, atau subkategori karena verba POTONG memiliki ciri makna yang berhubungan sehingga tidak ada satu verba POTONG pun yang dapat berdiri sendiri dari verba POTONGyanglain dalam satu ranah semantis. Misalnya, verba POTONG yang menggunakan alat adalah maneat ‛memotong’, mangkampak
‛mengampak’, managil ‛memarang’, manaha ‛membelah’, mangiris ‛mengiris’
dan verba POTONG tanpa penggunaan alat ialah manipulhon ‛mematahkan’,
manilbakkon ‛membelah’, dan mamutik ‛memetik’. Selanjutnya, verba POTONG
berdasarkan ukuran objek, yaitu yang berobjek kecil, misalnya mangiris
‛mengiris’, mamutik ‛memetik’, manipulhon ‛mematahkan’, mamutik ‛memetik’,
manilbakkon ‛membelah’dan yang berobjek besar, misalnya manaha‛membelah’
Tabel 1.1
Kategorisasi Verba POTONG Bahasa Batak Toba
Selanjutnya, tiap anggota verba POTONG dalam satu ranah mengandung konfigurasi makna yang berbeda. Hal ini tampak apabila verba-verba POTONG
yang berkerabat secara semantis ditempatkan pada sebuah kalimat. Verba manaha
‛membelah’ mensyaratkan bahwa objeknya adalah kayu, mambola2 ‛membelah’
objeknya kayu dan boleh juga hewan, tetapi hal itu tidak berlaku pada verba
manilbakkon ‛membelah’. Verba manilbakkon ‘membelah’ mensyaratkan
manipulhon
‛Kalau mematahkan/?memutuskan/??membelah (dua) bunga ini harus pelan- pelan.’
Pada kalimat (3) di atas terlihat bahwa verba manipulhon ‛mematahkan’ objeknya berupa bunga, tetapi hal itu tidak berlaku pada verba manggotap
‛memutuskan’ dan mamongol ‛mematahkan (dua)’. Objek verba manggotap
‛memutuskan’ adalah tali, sedangkan objek verba mamonggol ‛membelah (dua)’
adalah singkong.
manallik
‛Dia cepat-cepat menebas/?membabat (habis) /??memotong (rata) kayu itu.’
maraprap
(b) Leleng halak i maniptip bunga haddang i. lama orang DEM ?manallik bunga pagar DEM
‛Orang itu lama membabat (habis)/memotong (rata)/??menebas kayu yang besar itu.’
mangaraprap
(c) Halak i ?maniptip harangan. Orang DEM ??manallik hutan
‛Orang itumembabat (habis)/?memotong (rata)/??menebas hutan.’
Pada contoh (4c), perbedaan ciri maniptip ‛memotong (rata)’ dan
mangraprap ‛membabat (habis)’ terletak pada objeknya. Jelasnya, maniptip
berobjek tumbuhan dan kayu, sedangkan maraprap berobjek hutan dan kayu.
Verba POTONG dalam bahasa Batak Toba seperti mambola, manaha, dan
mamonggol ‛membelah’ memiliki makna yang kompleks sebab mambola2,
manaha, dan mamonggol ‛mematahkan’ memiliki fitur semantis yang mencakup
objek yang dipotong, alat yang digunakan, dan hasil yang diinginkan.
(5a) Mamakke parang amang mambola2 butuha horbo i.
AKT. pakai parang ayah AKT.belah perut kerbau DEM
(b) Mambola2 hau inong asa tarbola hau i.
verba mamonggol ‛membelah’ objeknya umbi, alatnya pisau dan tangan, hasilnya umbi terbelah dua.
Penelitian verba POTONG sudah pernah dilakukan beberapa ahli. Misalnya, Gande (2000) meneliti verba POTONG dalam bahasa Manggarai dan Budiasa (2011) meneliti verba POTONG dalam bahasa Bali. Penelitian verba berdasarkan teori MSA juga pernah dilakukan oleh Mulyadi, yaitu struktur semantis verba bahasa Indonesia (2000), kategori dan peran semantis verba dalam bahasa Indonesia (2009), verba emosi statif dalam bahasa Melayu Asahan (2010), serta verba emosi bahasa Indonesia dan bahasa Melayu Asahan (2012). Selain itu, Suciati Beratha (2000) meneliti verba ujaran bahasa Bali, Kartika (2007) meneliti konsep warna dalam bahasa Batak Toba, dan Agus Subiyanto (2008) meneliti verba gerakan bukan agentif bahasa Jawa.
Dari penjelasan di atas terlihat bahwa kajian semantik verba POTONG pada bahasa Batak Toba belum pernah dilakukan. Dalam penelitian ini diperlihatkan bahwa semantik verba POTONG pada bahasa Batak Toba mencakup kategorisasi dan maknanya.
1.2Masalah
(1) Bagaimanakah kategorisasi verba POTONG dalam bahasa Batak Toba? (2) Bagaimanakah makna verbaPOTONGdalam bahasa Batak Toba?
1.3 Tujuan Penelitian
sesuai dengan konsepsi dan persepsi penuturnya. Selanjutnya, tujuan khusus penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan kategorisasi verba POTONG dalam bahasa Batak Toba dan (2) mendeskripsikan makna verba POTONG dalam bahasa Batak Toba.
1.4 Manfaat
Manfaat penelitian ini mencakup dua hal, yaitu manfaat teoretis dan manfaat praktis.
Manfaat teoretis, antara lain, ialah:
(1) Menambah khazanah pengetahuan tentang makna asali dari verba POTONG dalam bahasa Batak Toba.
(2) Memperkaya penelitian semantik tentang makna verba POTONG dengan menggunakan teori MSA.
Manfaat praktis, antara lain, ialah:
(1) Sebagai bahan masukan bagi peneliti-peneliti lain, yang ingin membahas verbaPOTONGdalam bahasa-bahasa daerah, khususnya di sumatera utara. (2) Sebagai bahan informasi bagi pemerintah daerah mengenai hasil penelitian
BAB II
KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep
Ada beberapa konsep yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu verba, verba POTONG, komponen semantis, kategorisasi, dan makna. Konsep-konsep tersebut perlu dibatasi untuk menghindari salah tafsir bagi pembaca.
Konsep verba pada penelitian ini mengacu kepada pendapat Frawley (1992: 140-144) yang menyatakan bahwa verba mengacu pada peristiwa. Verba sebagai peristiwa mengimplikasikan perubahan waktu. Dengan demikian, ada keterkaitan peristiwa dengan perubahan dan temporalitas. Sebagai suatu peristiwa verba digolongkan atas verba keadaan, proses, dan tindakan (Givon, 1984 dalam Frawley, 1992: 140). Verba POTONG adalah subkelas verba tindakanyang secara khusus mengacu pada peristiwa memotong yang dibentuk oleh interaksi sebab akibat dari dua subperistiwa bdk. (Mulyadi, 2000: 50, 2009: 62).
Komponen semantis adalah perangkat makna yang dimiliki oleh sebuah butir leksikon (Frawley, 1992: 71). Mulyadi (2000: 40) mengatakan bahwa komponen semantis mencakup kombinasi dari perangkat makna seperti ‛seseorang’, ‛sesuatu’, ‛mengatakan’, ‛melakukan’, ‛terjadi’, ‛ini’, dan ‛baik’.
‛mencincang’, managil ‛memarang’, dan mangarambas‛membabat’ yang terdapat
dalam satu ranah semantis yang sama.
Makna sebuah kata adalah konfigurasi dari makna asali untuk setiap kata (Wierzbicka, 1996: 170). Konfigurasi yang dimaksud adalah kombinasi antara satu makna asali dengan makna asali yang lain yang membentuk sintaksis makna universal. Makna yang dikaji dalam penelitian ini adalah makna denotasi.
2.2Landasan Teori
Ada dua alasan peneliti memilih teori Metabahasa Semantik Alami (MSA). Pertama, teori MSA dapat menetapkan kategorisasi dan mengeksplikasi semua makna leksikal, gramatikal, ilokusi, dan pragmatik, termasuk aspek tata bahasa dan tipologi universal melalui seperangkat elemen sederhana. Sebagai bagian dari kategori leksikal, verba POTONG dapat dieksplikasi dengan teori MSA. Kedua, parafrase makna yang dihasilkan mudah dipahami oleh banyak orang, khususnya penuturjati bahasa yang dibicarakan sebab parafrasenya dibingkai dalam sebuah metabahasa yang bersumber dari bahasa alamiah (Mulyadi, 2012: 34).
Asumsi dasar teori MSA berhubungan dengan Prinsip Semiotik. Prinsip ini dikemukakan sebagai berikut.
‛‛A sign cannot be reduced to or analyzed in to any combination of
things which are not themselves signs, consequently, it is impossible to reduce meanings to any combination of things which
are not themselves meanings’’ (Wierzbicka, 1996: 10).
asali. Dengan pernyataan ini, analisis makna sekompleks apa pun dapat dijelaskan tanpa harus berputar-putar (Wierzbicka, 1996: 10). Terkait dengan hal itu, MSA tidak terlepas dari sejumlah konsep teoretis penting seperti makna asali (semantic
primitive/semantic prime), polisemi takkomposisi (non-compositional polysemy),
dan sintaksis makna universal (universal syntax).
Makna asali adalah seperangkat makna yang tidak berubah yang telah diwarisi oleh manusia sejak lahir. Dengan kata lain, makna asali merupakan makna pertama dari sebuah kata yang tidak mudah berubah walaupun ada perubahan kebudayaan (perubahan zaman). Makna asali merupakan refleksi dari pembentukan pikiran (Goddard, 1994: 2 dalam Mulyadi, 2000: 41). Makna asali dapat diuraikan dengan tuntas dari bahasa alamiah (ordinary language) yang merupakan satu-satunya cara menyajikan makna (Wierzbicka, 1996: 31). Uraian makna tersebut harus meliputi makna kata yang secara intuitif memiliki medan makna yang sama.
Berdasarkan hasil penelitian Wierzbicka (1996) ditemukan makna asali sejumlah bahasa di dunia, seperti bahasa Cina, Jepang, Aceh, Inggris, dan bahasa Aborigin di Australia. Pada tahun 1972, dia menemukan 14 buah makna asali, kemudian pada tahun 1980 menjadi 15 buah makna asali. Terakhir, Wierzbicka (1996) dan Goddard (2006) mengusulkan 63 buah makna asali seperti di bawah ini:
Tabel 2.1
Perangkat Makna Asali Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia
KOMPONEN ELEMEN MAKNA ASALI
Substantif I AKU, YOU KAMU, SOME ONE
ORANG, SOMETHING/THING
SESUATU/HAL, BODY TUBUH
Substantif Relasional KIND JENIS, PART BAGIAN
Pewatas THIS INI, THE SAME SAMA,
Deskriptor BIG BESAR, SMALL KECIL
Predikat Mental THINK PIKIR, KNOW TAHU, WANT
INGIN, FEEL RASA, SEE LIHAT,HEAR DENGAR
Ujaran SAY UJAR, WORDS KATA, TRUE
BENAR
Tindakan,peristiwa, gerakan, perkenaan DO LAKU, HAPPEN TERJADI, MOVE
GERAK, TOUCH SENTUH
Waktu WHEN/TIME BILA/WAKTU, NOW
SEKARANG, BEFORE SEBELUM,
AFTER SETELAH, A LONG TIME
LAMA, A SHORT TIME SINGKAT, FOR
SOME TIME SEBENTAR, MOMENT
SAAT
Ruang WHERE/PLACE (DI) MANA/TEMPAT,
HERE (DI) SINI, ABOVE (DI) ATAS,
Augmentor intensifier VERY SANGAT, MORE LEBIH
Kesamaan LIKE/AS SEPERTI
Sumber : Mulyadi (2012: 38)
Misalnya, dalam bahasa Yakunytjatjara konsep BERPIKIR dan MENDENGAR diwujudkan pada verba kulini (Wierzbicka, 1996: 25-26).
Menurut Wierzbicka (1996: 25-26 dalam Mulyadi, 2006: 71), ada dua hubungan nonkomposisi yang paling kuat, yakni hubungan pengartian
(entailment-like relationship) dan hubungan implikasi (implikasional). Hubungan
pengartian diilustrasikan pada MELAKUKAN/TERJADI dan MELAKUKAN PADA/TERJADI. Contoh: jika X MELAKUKAN SESUATU PADA Y, SESUATU TERJADI PADA Y. Hubungan implikasi terdapat pada eksponen TERJADI dan MERASAKAN. Contoh: jika X MERASAKAN SESUATU, SESUATU TERJADI PADA X.
Konsep dasar yang ketiga, yaitu sintaksis makna universal, dikembangkan oleh Anna Wierzbicka pada akhir tahun 1980-an sebagai perluasan dari sistem makna asali (Goddard, 1998: 24). Dalam teori MSA, makna memiliki struktur yang sangat kompleks, terdiri atas komponen yang berstruktur seperti ‛aku menginginkan sesuatu’, ‛ini baik’, atau ‛ kau melakukan sesuatu yang buruk’. Kalimat seperti ini disebut sintaksis makna universal. Jadi, sintaksis makna universal adalah kombinasi dari butir-butir leksikon makna asali yang membentuk proposisi sederhana sesuai dengan perangkat morfosintaksisnya (Mulyadi dan Siregar, 2006: 71).
Makna asali Makna k
(8) Aku memikirkan sesuatu yang baik.
(9) Sesuatu yang buruk terjadi padamu.
(10) Jika aku melakukan ini, orang akan mengatakan sesuatu yang baik tentang aku.
(11) Aku tahu bahwa kamu orang baik.
(12) Aku melihat sesuatu terjadi di sana.
(13) Aku mendengar sesuatu yang baik.
Pola kombinasi yang berbeda dalam sintaksis makna universal mengimplikasikan gagasan valensi. Contohnya, elemen MELAKUKAN, selain memerlukan ‛‛subjek” dan ‛‛komplemen” wajib (seperti ‛ seseorang melakukan sesuatu’), juga memerlukan ‛‛pasien” (seperti ‛seseorang melakukan sesuatu kepada seseorang’. Begitu pula, MENGATAKAN, di samping memerlukan ‛‛subjek” dan ‛‛komplemen” wajib (seperti ‛seseorang mengatakan sesuatu’), juga
memerlukan ‛‛pesapa” (seperti ‛ seseorang mengatakan sesuatu pada seseorang tentang sesuatu’) (Mulyadi dan Siregar, 2006: 71). Hubungan ketiga konsep dasar tersebut dapat diringkas dalam gambar di bawah ini:
Makna asali
Polisemi Sintaksis Makna Universal
Gambar 2.1
Dari gambar di atas dapat diketahui bahwa gabungan dari dua makna asali berkombinasi untuk membentuk polisemi. Polisemi merupakan kunci untuk mengetahui makna dan dasar pembentukan sintaksis makna universal yang melalui skenario pada sintaksis makna universal persamaan dan perbedaan makna dapat diungkapkan dengan tuntas dan tidak berputar-putar.
2.3Tinjauan Pustaka
Penelitian terhadap verba sudah pernah dilakukan oleh beberapa ahli. Berikut akan dijelaskan hasil-hasil penelitian yang relevan dengan penelitian ini.
Budiasa (2011) dalam artikelnya meneliti verba yang bermakna POTONG dalam bahasa Bali. Ia membahas jumlah verba yang bermakna POTONGdalam bahasa bali, tipe-tipe, dan strukturnya. Teori yang digunakan adalah Teori MSA (Metabahasa Semantik Alami). Teori ini dipakai untuk menentukan tipe-tipe makna verba POTONG dan struktur semantis verba tersebut. Untuk memperoleh data digunakan metode simak dan didukung oleh teknik catat. Data verba POTONG dianalisis dengan menggunakan metode padan dan metode agih,
Penelitian Budiasa mempunyai kelemahan karena elemen sintaksis yang digunakan tidak sesuai dengan perangkat makna asali. Jelasnya, tidak ada elemen
TERPOTONG pada makna asali yang diusulkan dalam Teori MSA. Pada verba
POTONG kemungkinan yang terjadi ialah kombinasi antara elemen MELAKUKAN dan elemen TERJADI dan kombinasi ini dalam Teori MSA disebut
hubungan pengartian. Walapun demikian, penelitiannya banyak memberikan kontribusi berupa metode analisis, teori, dan data.
Selanjutnya, Gande (2012) menerapkan teori MSA dalam artikelnya yang berjudul ‛‛Tipologi Leksikal Verba ‛‛POTONG” dalam bahasa Manggarai : A
Natural Semantic Metalanguage (MSA)”. Gande membahas realisasi leksikal
verba ‛‛ memotong”, struktur semantik verba ‛‛memotong”, dan fitur-fitur pembeda struktur semantis verba ‛‛memotong” dalam bahasa Manggarai. Data dikumpulkannya dengan cara observasi lapangan, metode wawancara, metode eksploratif, metode introspeksi, dan metode deskripsi. Data dianalisis dengan mengikuti langkah-langkah berikut: kualifikasi data, klasifikasi data, menganalisis struktur semantik verba ‛‛memotong”, formulasi verba ‛‛memotong”, melalui pemetaan eksponen, dan subeksponen berdasarkan kategori leksiko-sintaksis, motivasi prototipikal, alat yang digunakan, cara memotong, dan hasil yang diinginkan.
ropo, dan kuntir) (3) memotong pohon (mis., poka, keto, campi, wancing,
we’ang, rucik, dan coco) (4) memotong rumput (mis., ako, arep, peketo, babar,
dan sasap) (5) memotong daun (mis., ciak, sarit, lata, koer, dan rekut) (6)
memotong buah (mis., pu’a, lesep, kasi, pu’ik, kengket, ro’e, dan wegek) (7) memotong tali (mis., wingke, wicok, wete, kere, kandit) dan (8) memotong kain (mis., wirot, rotas, kerek, gunting). Gande mengusulkan struktur semantis verba
POTONG dalam bahasa Manggarai adalah ‛X melakukan sesuatu pada Y’,
‛sesuatu terjadi pada Y’. Kemudian, fitur pembeda untuk verba POTONG
bergantung pada usia, motivasi, objek, alat, cara, dan hasil yang diinginkan. Penelitian Gande memberi banyak masukan dari segi teori dan cara menganalisis verba POTONG. Masukan dari segi teori terlihat pada fitur-fitur pembeda dan pola sintaksis yang digunakan dalam penelitian tersebut. Kemudian, masukan dari segi cara menganalisis verba POTONG tampak pada penggunaan parafrase yang bersumber dari perangkat makna asali. Kontribusi Gande ini akan dikembangkan pada penelitian verba POTONG dalam bahasa Batak Toba.
Berdasarkan hasil penelitiannya, komponen semantis verba bukan agentif bahasa Jawa memiliki ciri [+dinamis], [-kesengajaan], [+/- kepungtualan], [+/- telik], dan [- kinesis]. Di samping itu, verba gerakan bukan agentif dalam bahasa Jawa memiliki komponen semantis [kesengajaan], artinya verba tidak dikontrol oleh agen. Selanjutnya, struktur semantis verba gerakan bukan agentif bahasa Jawa ada dua, yaitu (1) berdasarkan arah gerakan, struktur semantisnya ialah BERGERAK dan MELAKUKAN dan (2) berdasarkan kualitas gerakan struktur semantisnya MELAKUKAN dan TERJADI.
Penelitian Subiyanto memberikan kontribusi pada komponen semantis arah gerakan (mis. ‛X bergerak horizontal’ dan ‛ X melakukan beberapa kali’). Komponen semantis yang diusulkannya diterapkan dan dikembangkan dalam penelitian ini untuk menganalisis komponen makna verba POTONG dalam bahasa Batak Toba.
agentif. Verba tindakan mempunyai kelas gerakan agentif, ujaran, dan perpindahan. Kemudian, struktur semantis verba bahasa Indonesia diformulasikan dari sejumlah polisemi dan dari kombinasi makna asali ini terlihat persamaan dan perbedaan struktur semantisnya.
Cara kerja teori MSA dalam penelitian Mulyadi menjadi acuan untuk menerapkan teori MSA pada verba POTONG bahasa Batak Toba. Pembagian verba berdasarkan property temporal memberi inspirasi dalam mengategorisasikan verba POTONG dalam bahasa Batak Toba.
Sidabutar (2007) dalam skripsinya yang berjudul ‛‛Konsep Warna dalam Bahasa Batak Toba” membahas kategorisasi warna dan makna warna dalam bahasa Batak Toba. Dalam pengumpulan data digunakan metode cakap dengan teknik dasar berupa teknik pancing. Data dianalisis dengan metode padan dengan teknik pilah unsur penentu dan metode distribusional. Teori MSA digunakan untuk megetahui kategorisasi dan makna warna dalam bahasa Batak Toba.
Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa kategori warna dalam bahasa Batak Toba ada dua, yaitu (1) warna dasar yang terdiri atas hitam, putih, dan merah (2) warna turunan yang terdiri atas hijau, kuning, biru, dan coklat. Makna warna dapat berupa objek (benda), perasaan, sifat objek. Makna warna dasar dalam Bahasa Batak Toba adalah warna birong ‛hitam’ yang bermakna ‛arang’, ‛kebijaksanaan’, dan ‛neraka’; warna bontar ‛putih’ yang bermakna ‛kapas’, ‛kesucian’, dan ‛surga’; warna rara ‛merah’ yang bermakna ‛darah’, ‛semangat’,
kunyit; warna balau ‛biru’ yang bermakna ‛belau’ (pewarna pakaian); dan warna
gara‛coklat’ yang bermakna ‛tanah’.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
Perkembangan bahasa Batak Toba dipengaruhi oleh jumlah penutur bahasa Batak Toba. Penutur bahasa ini sekitar lima juta orang (Badan Statistik Kabupaten Toba Samosir 2013). Secara geografis penutur bahasa Batak Toba tinggal di Kab.Tapanuli Utara, Kab. Samosir, Kab. Humbang Hasundutan, dan Kab. Toba Samosir yang berada di bagian tengah wilayah Provinsi Sumatera Utara, yakni di punggung Bukit Barisan yang terletak di antara 10 20’ – 204’ LU
dan 98010’ – 90035’BT.
Berdasarkan keempat kabupaten tersebut,penelitian ini dilakukan di Desa Bonan Dolok III Kec. Balige, Kab. Toba Samosir. Desa Bonan Dolok III berbatasan dengan Desa Bonan Dolok I dan II di sebelah Utara, di sebelah Timur berbatasan dengan Desa Haunatas Kec. Laguboti, di sebelah Barat berbatasan dengan Desa Hutagaol Pea Taum, dan di sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Matio dan Barwara. Desa Bonan Dolok III dibagi atas 4 dusun, yaitu Sihobuk I, Sihobuk II, Lumban gala-gala I, dan Lumban Gala-Gala II.
kabupaten ke Desa Bonan Dolok III adalah 70 menit dan dari ibukota kecamatan adalah 60 menit (Badan Pusat Statistik 2013).
Letak Desa Bonan Dolok III dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Gambar 3.2 Desa Bonan Dolok III
Penduduk Desa Bonan Dolok III berjumlah 543 orang, dan terdiri atas 299 perempuan, dan 286 laki-laki. Pekerjaan Desa Bonan Dolok dapat dilihat dalam tabel berikut (Badan Pusat Statistik, 2013).
Tabel 3.1 Pekerjaan Penduduk
Pekerjaan Jumlah/jiwa
Petani 120
PNS 15
Wiraswasta 16
Pensiunan 6
Penelitian ini dilakukan selama dua bulan. Pengumpulan data dilakukan selama dua minggu, pengelolahan data dilakukan selama satu bulan, dan pengkosepan skripsi dikerjakan selama tiga minggu (lihat Lamp. 1).
3.2 Sumber Data
Data penelitian ini ada dua yaitu, data lisan dan data tulis. Data lisan diperoleh dari penutur bahasa Batak Toba yang ditentukan berdasarkan kriteria berikut ini.
1. Berjenis kelamin pria atau wanita. 2. Berusia 25-65 tahun.
3. Orang tua, istri, atau suami informan lahir dan dibesarkan di desa itu serta jarang atau tidak pernah meninggalkan desanya.
4. Berstatus sosial menengah.
5. Memiliki kebanggan terhadap isolek dan masyarakat isoleknya. 6. Sehat jasmani dan rohani (Mahsun, 1995: 106).
Gambar 3.3 Informan kunci
Wawancara dilakukan pada siang hari sekitar pukul 19.00-22.00 WIB dan pada hari kamis, sabtu, dan minggu.Biasanya wawancara dilakukan di rumah informan.Pada saat penelitian, ada beberapa hambatan, yakni
1. Peneliti kesulitan menyesuaikan waktu dengan informan. Informan biasanya bekerja di ladang dari pagi sampai sore. Akibatnya, waktu melakukan wawancara terbatas.
2. Masyarakat memandang peneliti secara negatif. Hal ini terjadi karena tingginya intensitas penelitian ke rumah informan.
ada dan data intuisi juga digunakan untuk menguji keberterimaan yang disediakan oleh narasumber.
3.3 Metode dan Teknik Pengumpulan Data
Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah metode simak dan metode cakap (Sudaryanto, 1993: 133-137). Data lisan dikumpulkan dengan menggunakan metode simak dengan teknik lanjutan berupa teknik simak libat cakap, yaitu peneliti terlibat langsung dalam dialog dengan narasumber. Pada topik pembicaraan peneliti berusaha memunculkan calon data sambil merekam pembicaraan (Sudaryanto, 1993: 133).
Pada teknik simak bebas libat cakap, peneliti tidak terlibat dalam dialog peneliti hanya sebagai pemerhati yang menyimak pembicaraan orang-orang yang sedang berdialog. Teknik simak bebas libat cakap juga efektif digunakan untuk menjaring data tulis. Di sini pencatatan berperan penting untuk menjaring data. Teknik simak bebas libat cakap didukung dengan teknik rekam dan teknik catat (Sudaryanto, 1993: 133-135).
Selanjutnya, metode cakap dengan teknik dasar teknik pancing. Dengan teknik pancing, peneliti memancing narasumber untuk memunculkan data yang diinginkan. Penerapan teknik pancing didukung teknik cakap semuka, teknik cakap tansemuka, teknik rekam, dan teknik catat.
pembicaraan sesuai dengan kepentingan untuk memperoleh data yang diharapkan sambil merekam pembicaraan.
Teknik cakap tansemuka juga diterapkan untuk mengumpulkan data dengan menyediakan kuesioner yang berisi daftar kalimat yang mengandung verba POTONG yang akan diterjemahkan oleh informan ke dalam bahasa Batak toba pada kolom yang telah disediakan.
Data verba POTONG yang telah dikumpulkan dikelompokkan berdasarkan alat, temporal, dan objeknya. Tahapan-tahapan pengelompokan data ialah sebagai berikut.
1. Mengelompokkan data yang termasuk verba POTONG.
2. Mengelompokkan data yang termasuk verba POTONG berdasarkan alat, temporal, objek, dan cara melakukan tindakan memotong.
3. Data yang memiliki ciri semantis yang sama dikelompokkan pada komponen semantis yang sama.
4. Mengidentifikasi ciri-ciri khusus verba POTONG yang berada komponen semantis yang sama.
Verba POTONG dalam bahasa Batak Toba dikelompokkan berdasarkan ciri semantisnya. Misalnya, manaha ‛membela’, mangarambis ‛menebang’, dan
mambola2 ‛membelah’ mempunyai ciri semantis yang sama menggunakan alat
dan berobjek besar, sedangkan verba POTONG yang memiliki ciri semantis dengan menggunakan tangan dan berobjek kecil, misalnya mamutik ‛memetik’,
mambola1‛membelah’, dan manipulhon‛mematahkan’, seperti yang diilustrasikan
Tabel 3.2
Kategorisasi Verba POTONG dalam Bahasa Batak Toba
No.
Setelah semua data terkumpul dilakukan analisis data yang merupakan langkah terpenting untuk mendapatkan jawaban dari masalah yang ingin dipecahkan. Data dianalisis dengan menggunakan metode agih yang didukung dengan metode padan terutama dalam menentukan makna verba (Sudaryanto, 1993: 13-31). Cara kerja kedua metode tersebut dapat diringkas seperti di bawah ini.
3.4.1 Metode Padan
Verba POTONG yang memiliki ciri yang sama dikelompokkan pada komponen semantis yang sama dengan menggunakan teknik hubung banding sama. Contoh: mamutik ‛memetik’, manipulhon ‛mematahkan’, dan mambola2
‛membela’ berada pada kategori yang sama sebab mengacu pada peristiwa yang
sama, yaitu ‛‛peristiwa verba POTONG yang menggunakan tangan”. Dari ciri-ciri itu dirumuskan komponen ‛X melakukan sesuatu pada sesuatu yang kecil dengan sesuatu (tangan)’.
Verba POTONG yang berada pada komponen semantis yang sama dibandingkan dengan menggunakan teknik hubung banding beda untuk mengungkapkan ciri-ciri khusus yang membangun kategorisasi verba POTONG. Contoh: mamutik ‛memetik’, manipulhon ‛mematahkan’, dan mambola2
‛membelah’ meskipun merupakan jenis peristiwa yang sama ‛‛melakukan sesuatu
dengan sesuatu (tangan)” mengandung ciri khusus sebagai unsur pembedanya. Ciri-ciri itu berhubungan dengan temporal, ukuran, dan wujud.
3.4.2 Metode Agih
mangiris
mengiris
(14a) Mamakke raut do hami ??manjaljali jagal i.
AKT.pakai pisau T 1Jmk mencincang daging DEM mananggoi
menyayat ‛Kami memakai pisau mengiris/ menyayat daging itu.’
manjaljali
(b) Mamakke piso do hami ??mangiris happa i.
AKT.pakai pisau T 1Jmk ?mananggoi keladi DEM
‛Kami memakai pisau mencincang keladi itu.’
mangiris
(c) Mamakke raut do hami ??mananggoi bawang i.
AKT.pakai pisau T 1Jmk ?manjaljali bawang DEM
‛Kami memakai pisau mengiris bawang itu.’
Pada kalimat (14) terlihat jelas bahwa berdasarkan alat yang digunakan verba mangiris ‛mengiris’, manjaljali ‛mencincang’, mananggoi ‛menyayat’
menggunakan pisau. Berdasarkan objeknya verba mangiris ‛mengiris’ objeknya
daging, tumbuhan dan umbi, verba manjaljali ‛mencincang’ objeknya tumbuhan,
dan verba mananggoi‛menyayat’ objeknya daging. Setelah ditemukan komponen semantis yang terkandung pada verba POTONG, dilakukan parafrase pada makna. Sebagai ilustrasi verba mangiris ‛mengiris’, manjaljali ‛mencincang’, dan
(15) Mangiris ‛mengiris’
3.5 Metode dan Teknik Penyajian Hasil Analisis Data
BAB IV
VERBA POTONG BAHASA BATAK TOBA
4.1 Pengantar
Verba POTONG dalam bahasa Batak Toba dikelompokkan berdasarkan ciri semantisnya. Berdasarkan ciri semantisnya verba POTONG dibagi menjadi tiga kategori, yaitu (1) berdasarkan alat misalnya, menggunakan alat atau tangan, (2) berdasarkan waktu seperti pungtual dan duratif, (3) berdasarkan cara ada dua yaitu vertikal dan horizontal.
4.1.1 Kategori Verba POTONG Berdasarkan Alat yang Digunakan
Kategori verba POTONG didasari oleh kesamaan pada ciri semantisnya. Verba POTONG yang memiliki ciri yang sama berada pada medan makna yang sama. Melalui perangkat makna pada komponen, informasi semantis sebuah verba dapat diungkapkan dengan jelas.
Dalam beberapa artikel disebutkan bahwa verba POTONG mempunyai dua ciri dasar, yaitu verba POTONG yang menggunakan alat dan verba POTONG yang menggunakan tangan dalam melakukan tindakannya (lihat Gande, 2012: 4; Budiasa, 2000: 6)
Kategorisasi Verba POTONG yang mengacu pada penggunaan alat. Verba POTONG seperti manaha ‛membelah’, mangkampak ‛mengampak’, mamonggol ‛mematahkan’, dan manilbakkon ‛membelah’ terikat dengan alat yang digunakan.
parang, pisau, dan kampak sedangkan mamonggol ‛mematahkan’ dan
manilbakkon ‛membelah’ menggunakan tangan. Dengan pemahaman seperti ini
verba POTONG dibagi atas dua subkategori, yaitu verba POTONG yang menggunakan alat dan verba POTONG yang menggunakan tangan. Kategorisasi verba POTONG berdasarkan alat yang digunakan dapat dilihat pada Gambar 4.1 di bawah ini.
mambola‛membelah’
managil‛memarang’ manilbakkon‛membelah’
manaha‛membelah’ mananggoi‛menyayat’
mangkampak‛mengampak’ manggusting‛menggunting’
manggargaji‛menggergaji’ mangaritik‛memotong’
mamonggol‛mematahkan’
mangaribak‛merobek’
mamutik ‛memetik’
Gambar 4.1 Kategorisasi verba POTONG berdasarkan alat
Pada Gambar 4.1 Kategorisasi verba POTONG berdasarkan alat yang digunakan dibagi menjadi dua subkategori, yaitu (1) verba POTONG yang menggunakan alat
(managil ‛memarang’) dan sub-subkategorinya ‛X melakukan sesuatu dengan
sesuatu pada sesuatu yang besar’ terdiri dari manaha ‛membelah’, mangkampak
‛mengampak’, dan manggargaji ‛menggergaji’ menggunakan alat berupa pisau,
‛menggunting’, dan mangaritik ‛memotong’. (2) verba POTONG yang
menggunakan tangan (manilbakkon ‛membelah’) hanya mempunyai satu sub-subkategori ‛X melakukan sesuatu pada sesuatu yang kecil’ misalnya,
manilbakkon‛membelah’ mangaribak‛mengoyak’, dan mamutik ‛memetik’.
(18a) Gulok do ibahen among managil hau i.
Mesin T PASbuat Ayah membelah kayu DEM ‛Ayah memarang kayu dengan parang.’
(b) ?? Simangido do ibahen among managil hau i.
Tangan T PAS.buat Ayah memarang kayu DEM ‛Ayah memarang kayu itu dengan tangan.’
(19a) Simangido mi ma bahen manilbakkon hau i !
Tangan 2Jm PART buat memetikkan bunga DEM INTERJ ‛Gunakan tanganmu membelah kayu itu!’
(b) ?? Gulok i mabaen manilbakkon hau i !
Parang DEM gunakan memetikan bunga DEM INTERJ ‛Gunakan Parang membelah kayu itu!’
Pada contoh (18a) dan (18b) terlihat jelas bahwa verba managil
‛memarang’ menggunakan alat berupa parang bukan dengan tangan sedangkan
pada contoh (19a) dan (19b) terlihat bahwa verba manilbakkon ‛membelah’ alat yang digunakan adalah tangan.
sedangkan verba POTONG yang menggunakan tangan hanya menggunakan tangan dalam melakukan tindakannya.
Tabel 4.1
Komponen Semantis Verba POTONG
Verba POTONG menggunakan alat Verba POTONG menggunakan tangan Seseorang (X) melakukan sesuatu pada
sesuatu yang besar/kecil(Y)
Seseorang (X) melakukan sesuatu pada sesuatu kecil(Y)
Dengan sesuatu (Z) Dengan tangan
Karena ini sesuatu terjadi pada Y Karena ini sesuatu terjadi pada Y X menginginkan ini X menginginkan ini
X melakukan seperti ini X melakukan seperti ini
Pada Tabel 4.1 menyajikan gambaran umum komponen semantis verba POTONG yang menggunakan alat dan verba POTONG yang menggunakan tangan. Kategorisasi verba POTONG mensyaratkan kombinasi antar komponen semantis yang akan membentuk sebuah kalimat sintaksis makna universal.
Verba POTONG yang menggunakan alat
X melakukan sesuatu pada sesuatu yang besar/kecil dengan sesuatu Y Karena ini sesuatu terjadi pada Y
Verba POTONG yang menggunakan tangan
X melakukan sesuatu pada sesuatu yang kecil dengan tangan Karena ini sesuatu terjadi pada Y
‛membelah’ dan manggargaji ‛menggergaji’ adalah verba POTONG yang
menggunakan alat berobjek besar sebab ketiganya secara semantis berkorelasi dengan sub-subkomponen ‛X melakukan sesuatu pada sesuatu yang besar dengan sesuatu’ bukan dengan sub-subkomponen ‛X melakukan sesuatu pada sesuatu yang kecil dengan sesuatu’. Contoh:
(20a) X melakukan mangkampak/manaha/manggraji pada sesuatu yang besar dengan sesuatu.
(b) ?? X melakukan manaba/manaha/mangalapa pada sesuatu yang kecil dengan sesuatu.
Pada contoh (20a) dan (20b) verba mangkampak ‛mengampak’, manaha
‛membelah’ dan manggargaji‛menggergaji’ menggunakan alat dalam melakukan
tindakannya sehingga sangat tepat berkorelasi dengan sub-subkomponen ‛X melakukan sesuatu pada sesuatu yang besar dengan sesuatu’
Verba mamonggol ‛mematahkan’, mamutik ‛memetik’ dan mangaribak
‛merobek’ lebih tepat dikategorikan sebagai verba POTONG yang menggunakan
tangan dan berobjek kecil karena itu lebih tepat berpasangan dengan sub-subkomponen ‛X melakukan sesuatu pada sesuatu dengan tangan.’ Contoh:
(21a) X mamonggol/mangaribak/mamutik sesuatu yang kecil dengan tangan.
(b) ?? X mamonggol/mangaribak/mamutik sesuatu yang besar.
Pada contoh (21a) dan (21b) dapat diketahui bahwa verba
‛memetik’ mencakup dua ciri yaitu berobjek kecil dan menggunakan
tangan dalam melakukan tindakan memotong.
4.1.1.1 Subkategori ‛X melakukan sesuatu pada sesuatu dengan
sesuatu’
Komponen ‛X melaku kan sesuatu pada sesuatu dengan sesuatu’ menggambarkan suatu ‛‛peristiwa verba POTONG menggunakan alat’’. Komponen ini membatasi verba POTONG ‛‛yang menggunakan alat”. Butir leksikalnya anatara lain manaha ‛membelah’, manggargaji ‛menggergaji’,
manggusting ‛menggunting’, dan mangaritik ‛memotong’. Contoh:
(22a) manaha
‛Sari membelah/??menggergaji/??memotong kayu dengan kampak.’
‛Mereka ??membelah/??menggergaji/memotong padi dengan sabit.’
?manaha
(c) Sari manggargaji hau dohot gargaji sari ??mangaritik kayu KONJ gergaji
Pada contoh (22) terlihat jelas bahwa manaha dan manggargaji memiliki objek yang sama yaitu kayu tetapi memiliki alat yang berbeda manaha menggunakan alat berupa kampak dan parang sedangkan managgargaji memiliki alat yang khusus yaitu gergaji, berbeda dengan mangaritik ‛memotong’ memiliki objek khusus yaitu padi yang baru ditanam dan alat yang digunakan adalah sabit.
4.1.1.1.1 Sub-subkategori ‛X melakukan sesuatu pada sesuatu yang
besar dengan sesuatu’
Salah satu ciri verba POTONG selain menggunakan alat juga berobjek besar sehingga membentuk sub-subkomponen semantis ‛X melakukan sesuatu pada sesuatu yang besar dengan sesuatu ’. Butir leksikalnya, antara lain,
manaha ‛membelah’, mangkampak ‛mengampak’, dan manggargaji
‛menggergaji’.
Verba mirip manaha, mangkampak dan manggargaji dapat diidentifikasi berdasarkan ciri semantis berikut: objeknya besar dan keras, alat yang digunakan benda tajam, contoh:
(22a) Maol do manaha/mangkampak hau na balga jala pir i
Susah T membelah/mengampak kayu KONJ besar dan keras DEM dohot kampak.
dengan kampak
(b) ??Ura do manaha/mangkampak hau na
Gampang T membelah/mengampak kayu KONJ
balga jala pir i.
besar dan keras DEM
4.1.2 Kategorisasi verba POTONG berdasarkan waktu
4.1.3 Kategorisasi verba POTONG berdasarkan cara
4.2 Makna
Makna sebuah kata adalah konfigurasi dari makna asali untuk setiap kata (Wierzbicka, 1996: 170). Konfigurasi yang dimaksud adalah kombinasi antara satu makna asali dengan makna asali lain yang membentuk sintaksis makna universal. Kombinasi makna asali yang membentuk verba POTONG yaitu kombinasi makna asali MELAKUKAN dan TERJADI yang membentuk sintaksis makna universal ‛X melakukan sesuatu pada sesuatu (Y) karena ini sesuatu terjadi pada Y’. Lebih lanjut akan dibahas pada subbab berikut ini.
4.2.1 Makna Verba ‛X melakukan sesuatu dengan sesuatu’
Makna verba POTONG ‛X melakukan sesuatu dengan sesuatu’ mencakup ‛X melakukan sesuatu pada sesuatu yang besar dengan sesuatu’ dan ‛X melakukan
sesuatu pada sesuatu kecil dengan sesuatu’. Sekalipun terletak pada ranah semantis yang sama, tetapi tiap verba memiliki perbedaan halus. Misalnya,
mamangkas ‛memangkas’, dibandingkan dengan kata-kata lain yang berada pada
satu ranah semantis yang sama seperti mangguddul ‛menggundul’ dan manukkur
(18a) ?mamangkas
‛Ayah ?memangkas/?mengundul/mencukur kumis dengan silet.’
(18b) Mamangkas
‛Ayah menggundul/memangkas/mencukur kepala Roy dengan gunting.’
mamangkas ‛memangkas’ objeknya rambut dan tumbuhan, mangguddul
‛menggundul’ objeknya adalah kepala, manukkur ‛mencukur’. Selanjutnya untuk
mengetahui perbedaan halus yang terkandung pada verba mamangkas
‛memangkas’, mangguddul ‛menggundul’, dan manukkur ‛mencukur’ dilakukan
parafrase makna seperti ilustrasi di bawah ini. (19) Mangguddul ‛menggundul’
Dengan sesuatu (pisau cukur)Z)
Pada contoh (19) mangguddul ‛menggundul’ memiliki ciri khusus yang
membedakannya dengan ketiga verba tersebut. Berdasarkan hasil potongannya verba mangguddul ‛menggundul’ objeknya terpotong habis akibatnya entitas
menjadi botak sedangkan pada contoh (20) mamangkas ‛memangkas’ hasilnya
entitas terpotong rapi sedangkan pada contoh (21) manukkur‛mencukur’ hasilnya entitas terpotong pendek.
4.2.2 Makna verba ‛X melakukan sesuatu dengan tangan’
Inti makna dari verba X melakukan sesuatu dengan tangan menyangkut peristiwa ‛‛melakukan sesuatu dengan tangan terhadap objek yang kecil”. Misalnya, verba manipulhon ‛mematahkan’, mamutik ‛memetik’, mamonggol
‛mematahkan’ dan manilbakkon ‛membelah’ berada pada satu ranah semantis
akan tetapi setiap verba tersebut memiliki perbedaan halus yang membedakan antara satu verba dengan verba lainnya. Perilaku keempat verba tersebut dapat kita lihat pada contoh di bawah ini.
manipulhon
mematahkan
Tangan T buat 3Jm mematahkan kayu DEM
??mamutik
Memetik
?mamonggol
mematahkan
‛Kami mematahkan/?memetik ranting kayu dengan tangan.’
(b) ?Manipulhon
?Manilbakkon rabbutan anggi dohot simangindo
Mamutik rambutan adik KONJ tangan
??Mamonggol
‛Adik ?mematahkan/memetik rambutan dengan tangan.’
?manipulhon
(c) Mamakke simangindo do inong ??manilbakkon jagung i
AKT.Pakai tangan T ibu mamutik jagung DEM
mamonggol
‛Ibu memakai tangan ?mematahkan/mematahkan/memetik jambu.’
(d) Manipulhon
?? Manilbakkon tukkot ni oppung doli akka dakdanak
??Mamonggol tongkat Pos Kakek anak-anak
??Mamutik
‛Anak-anak mematahkan/memetik tongkat.’
Pada contoh (22) manilbakkon‛membelah’ mensyaratkan objeknya entitas
yang hampir terbelah seperti kayu dan buah-buahan sedangkan verba manipulhon
mamutik ‛memetik’ berobjek bunga dan buah-buahan dan verba mamonggol
‛mematahkan’ berobjek khusus umbi-umbian dan kue. Selanjutnya akan
dijelaskan perbedaan halus keempat verba tersebut pada contoh di bawah ini: (23) Manipulhon ‛mematahkan’
Karena ini sesuatu terjadi pada Y (Y terpisah dari tangkainya) X menginginkan ini
Pada contoh (23), (24), (25), dan (26) manipulhon‛mematahkan’ memiliki
mamonggol ‛mematahkan’ entitas patah menjadi dua, mamutik ‛memetik’
entitasnya terpisah dari tangkainya.
4.2.3 Makna X melakukan sesuatu dalam waktu yang cepat
Komponen X melakukan sesuatu dengan sesuatu berhubungan dengan peristiwa ‛‛X melakukan sesuatu pada sesuatu yang besar dalam waktu yang pungtual” dan ‛‛X melakukan sesuatu pada sesuatu yang kecil dalam waktu yang pungtual”. Misalnya, mangotom ‛mengetam’, manura ‛menikam’, mangarujak
‛merobek’, manampuki ‛mematahkan’, berada pada satu ranah karena memiliki
ciri yang sama yaitu ciri pungtual ditandai dengan penggunan frasa hatop-hatop
‛cepat-cepat’, gira ‛cepat’, satokkin ‛sebentar’, dan sihob ‛sebentar’ seperti pada
contoh (26). Mangotom ‛mengetam’ objeknya adalah kayu, manura ‛menikam’
objeknya manusia, sedangkan manullang ‛menikam’ dan mangarujak ‛merobek’ objeknya adalah binatang buas, lebih jelas lagi dapat diperhatikan contoh di bawah ini:
(26a) Mangotom mengetam
??Manura papan partukkang hatop-hatop
menikam papan tukang cepat-cepat
??Manullang menikam
??Mangarujak
‛Tukang mengetam/??menikam/??menikam/??merobek papan.’
‛Dia sebentar mengetam/menikam/menikam/merobek pencuri itu.’
??mangotom
(c) Gira do among ?manura aili i Cepat T ayah manullang babi hutan DEM
mangarujak
‛Bapak ??mengetam/?menikam/menikam/menusuk babi hutan itu dengan
cepat.’
‛Kakak sebentar ??mengetam/menikam/menikam/menusuk macan itu’
X menginginkan ini
Pada contoh (27), (28), (29), dan (30) mangotom ‛mengetam’ hasil potongannya halus-halus, manura ‛menikam’ hasil potongannya perut entitas tertusuk, sedangkan mangarujak ‛menusuk’ hasil potongannya perut entitas tertusuk dan robek menjadi dua akan tetapi dari segi motivasi manura‛menikam’
dan mangarujak ‛menusuk’ memiliki motivasi yang sama yaitu dendam.
Manullang ‛menikam’ hasil potongannya entitas tertusuk. Perbedaan antara
manullang ‛menikam’ dan mangarujak ‛menusuk’ terletak pada bagian yang
ditusuk mangarujak‛menusuk’ bagian yang ditusuk adalah bagian perut binatang buas sedangkan manullang ‛menikam’ bagian yang ditikam bisa berupa bagian tubuh hewan seperti punggung, perut, kaki ataupun kepala dan alat yang digunakan seperti tombak, besi, bambu ataupun benda tajam lainnya.
4.2.4 Makna verba POTONG X melakukan sesuatu dalam waktu yang
Komponen X melakukan sesuatu dalam waktu yang duratif menerangkan dua peristiwa. Pertama, peristiwa melakukan sesuatu kepada sesuatu yang besar dengan jangka waktu yang duratif. Kedua, peristiwa melakukan sesuatu kepada sesuatu yang kecil dengan jangka waktu duratif. Misalnya, Manggargaji
‛menggergaji’, maragat ‛mengiris’, managil ‛memarang’, dan ‛memotong’ berada
pada ranah semantis yang sama yaitu memiliki jangka waktu yang duratif ditandai oleh frasa leleng ‛lama’, nenget-nenget ‛pelan-pelan’ dan manat hian ‛hati-hati sekali’ seperti pada contoh (30). keempat verba tersebut memiliki perbedaan ciri.
Manggargaji ‛menggergaji’ dan managil ‛memarang’ memiliki objek kayu akan
tetapi manggargaji ‛menggergaji’ memiliki durasi waktu yang lebih panjang
daripada managil ‛memarang’. Maragat ‛mengiris’ memiliki objek pohon tuak,
dan mangarabi ‛memotong’ mensyaratkan objeknya adalah dahan bambu dan
juga menggunakan alat khusus seperti sabit yang tangkainya panjang, seperti terlihat pada contoh berikut.
?managil
memarang
(30a) Leleng do ibana na ??manggargaji bona ni tuak i
Lama Part 3Tg KONJ menggergaji pohon Pos tuak DEM maragat
mengiris ??mangarabi
memotong
??mangarabi
(b) Boasa leleng anggi i manggargaji hau ? Mengapa lama adik DEM managil kayu INTRO
??maragat
‛Mengapa adik lama ??memotong/menggergaji/memarang/mengiris kayu itu?’
??Maragat
(c) Mangarabi dakka buluh ikkon do nenget-nenget
?Manggargaji dahan bambu harus T pelan-pelan
?Managil
‛??mengiris/memotong/?menggergaji/?memarang dahan bambu harus pelan-
pelan.’
‛Aku memarang/??menggergaji/mengiris/??memotong kayu bakar itu dengan
hati-hati sekali.’
Lebih lanjut perbedaan keempat verba tersebut dapat dililihat dari ilustrasi di bawah ini.
(31) managil ‛memarang’
Orang (X) melakukan sesuatu pada sesuatu (kayu(Y) Dengan waktu yang lama
Karena ini sesuatu terjadi pada Y (Y terpotong menjadi beberapa bagian) X menginginkan ini
X melakukan seperti ini.
(32) manggargaji ‛menggergaji’
Orang (X) melakukan sesuatu pada sesuatu (kayu(Y) Dengan waktu yang lama
Karena ini sesuatu terjadi pada Y (Y patah menjadi dua bagian) X menginginkan ini
X melakukan seperti ini.
Orang (X) melakukan sesuatu pada sesuatu (pohon aren(Y) Dengan waktu yang lama
Karena ini sesuatu terjadi pada Y (Y teriris halus sampai mengeluarkan tuak)
X menginginkan ini X melakukan seperti ini.
(34) mangarabi ‛memotong’
Orang (X) melakukan sesuatu pada sesuatu (dahan bambu(Y) Dengan waktu yang lama
Karena ini sesuatu terjadi pada Y (Y terpisah dari batangnya) X menginginkan ini
X melakukan seperti ini.
Pada contoh (31), (32), (33), dan (34) sangat terlihat jelas perbedaan halus antara verba managil ‛memarang’, manggargaji ‛menggergaji’, maragat
‛mengiris’, dan mangarabi ‛memotong’. Perbedaan tersebut terletak pada hasil
potongannya. Verba managil ‛memarang’ hasilnya entitas terpotong menjadi
beberapa bagian, verba manggargaji ‛menggergaji’ hasil potongannya kayu patah menjadi dua bagian, sedangkan verba maragat ‛mengiris’ hasil potongannya pohon aren tepatnya bagian mayang teriris halus-halus sehingga mengeluarkan tuak dan verba mangarabi ‛memotong’ berdasarkan hasil potongannya dahan
bambu terpisah dari batangnya.
4.2.5 Makna verba POTONG X melakukan sesuatu dengan cara vertikal
Berdasarkan cara memotong manaltali‛mencincang’, mangiris‛mengiris’,
manaha ‛membelah’, manghurhur ‛mengkukur’, makkasim ‛memotong’, dan
mambola2‛membelah’ mempunyai cara yang sama dalam melakukan tindakannya
toru ‛lurus ke bawah’, sian gijjang ‛dari atas’, dan tigor-tigor ‛lurus-lurus’.
‛Ayah mengetam/??mencincang/??memotong/ membelah kayu itu dari
atas ke bawah. ’
?manaltali
(b) Nenget-nenget do among makkasim pinahan i tigor tu toru
Pelan-pelan T ayah ??mambola2 babi DEM lurus P bawah
??manaha
‛Ayah memotong testis babi pelan-pelan dengan gerakan lurus ke bawah.’
??manaltali
??makkasim
(c) Sian gijjang do haha mambola2 durian i
Konj atas T abang manaha durian DEM ‛Ayah membelah durian dari atas.’
manaltali
(d) Tigor-tigor ibahen nasida na ??makkasim jagal i
Lurus Pas.buat 1 Jm KONJ mambola2 daging DEM
??manaha
Dari contoh (31) di atas terlihat jelas bahwa ada perbedaan objek antara
manaltali ‛mencincang’, makkasim ‛memotong’, mambola2 ‛membelah’, dan
manaha ‛membelah’. Verba manaltali ‛mencincang’ objeknya adalah daging,
makkasim ‛memotong’ objeknya testis babi dan anjing saja, mambola2
‛membelah’ objeknya adalah buah-buahan, umbi-umbian, dan kue, verba manaha
mensyaratkan objeknya adalah kayu.
Lebih jauh, perbedaan keempat verba tersebut dapat dijelaskan melalui parafrase di bawah ini:
(32) manaltali ‛mencincang’
Orang (X) melakukan sesuatu pada sesuatu (daging(Y) Dengan cara vertikal
Karena ini sesuatu terjadi pada Y (Y terpotong kecil-kecil) X menginginkan ini
X melakukan seperti ini.
(33) makkasim‛memotong’
Orang (X) melakukan sesuatu pada sesuatu (babi dan anjing(Y) Dengan cara vertikal
Karena ini sesuatu terjadi pada Y (Y terpotong sangat kecil) X menginginkan ini
X melakukan seperti ini.
(34) mambola2‛membelah’
Orang (X) melakukan sesuatu pada sesuatu (buah-buahan, umbi-umbian, kue, dan kayu(Y)
Dengan cara vertikal
Karena ini sesuatu terjadi pada Y (Y terbelah dua menjadi bagian yang lebih kecil)
X menginginkan ini X melakukan seperti ini.
(35) manaha ‛membelah’
Orang (X) melakukan sesuatu pada sesuatu (kayu(Y) Dengan cara vertikal
Karena ini sesuatu terjadi pada Y (Y terbelah dua) X menginginkan ini
Berdasarkan parafrase di atas dapat dilihat perbedaan halus keempat verba tersebut. Verba manaltali ‛mencincang’ hasilnya entitas terpotong kecil -kecil, verba makkasim‛memotong’ hasil potongannya sangat kecil, hasil potongan
verba mambola2 ‛membelah’ hasil potongannya entitas terbelah dua, sedangkan
verba manaha ‛membelah’ hasil potongannya entitas terbelah dua. Berdasarkan ukurannya hasil potongan verba manaha ‛membelah’ lebih besar daripada verba
mambola2‛membelah’.
4.2.6 Makna verba POTONG X melakukan sesuatu dengan cara horizontal
Butir leksikal seperti manaba‛menebang’, manabi‛menyabit’, mangalapa
‛membelah’, manambilu ‛memotong’, dan manallik ‛menebas’ mempunyai ciri
semantis yang sama yaitu cara melakukan tindakan memotong horizontal. Walaupun mempunyai ciri semantis yang sama dan berada pada ranah yang sama apabila dibandingkan kelima butir leksikal tersebut mempunyai perilaku semantis yang berbeda seperti pada contoh di bawah ini:
??manaba menebang
??manambilu memotong (36a)
mangalapa butuha ni lobbu do haha sian siamun membelah perut Pos lembu T abang P kanan
‛Abang membelah perut lembu dari sebelah kanan.’
?? manaba
(b) Sian siamun do bidan i manambilu tali pusok ni si ucok
P kanan T bidan DEM ??mangalapa tali pusat Pos si ucok
??mangaritik
‛Bidan itu memotong/??memotong/??menebang/??membelah tali pusat si
ucok dari sebelah kanan.’
‛Mereka memotong/??manaba/??memotong/??membelah padi ke arah kiri.’
manaba
(d) Hu sabola habbirang do ibana na ?? mangaritik hau i P sebelah kanan T 3Tg yang ?? manambilu kayu DEM
?? mangalapa
‛Dia menebang/??memotong/memotong/??membelah kayu ke arah kiri.’
Pada contoh (32) verba mangalapa ‛membelah’ mensyaratkan objeknya
perut hewan yang besar dan cara memotongnya juga harus secara horizontal, ditandai oleh frasa sian siamun ‛dari kanan’, verba manambilu ‛memotong’
memiliki objek khusus yaitu tali pusat bayi dan alat yang khusus yaitu sambilu
‛bambu’ berdasarkan cara memotongnya memang secara horizontal ditandai
dengan penggunaan kata sian siamun ‛dari sebelah kanan’, begitu juga verba
mangaritik ‛memotong’ berdasarkan cara memotongnya horizontal ditandai oleh
kata dompak habbirang ‛ke arah kiri’ tetapi verba mangaritik ‛memotong’
mensyaratkan objeknya adalah kayu, berdasarkan caranya secara horizontal ditandai dengan penggunaan kata hu sabolah habbirang‛kesebelah kiri’ .
Selanjutnya, perbedaan halus keempat tesebut dapat dijelaskan melalui parafrase berikut ini:
(37) mangalapa ‛membelah’
Orang (X) melakukan sesuatu pada sesuatu (perut hewan besar (Y) Dengan cara horizontal
Karena ini sesuatu terjadi pada Y (Y terbelah dua) X menginginkan ini
X melakukan seperti ini
(38) manambilu ‛memotong’
Orang (X) melakukan sesuatu pada sesuatu (dahan bambu(Y) Dengan cara horizontal
Karena ini sesuatu terjadi pada Y (potongan Y agak pendek dan terpisah) X menginginkan ini
X melakukan seperti ini.
(39) mangaritik ‛memotong’
Orang (X) melakukan sesuatu pada sesuatu (perut (Y) Dengan cara horizontal
Karena ini sesuatu terjadi pada Y (Y terpotong sama rata) X menginginkan ini
X melakukan seperti ini.
(40) manaba ‛menebang’
Orang (X) melakukan sesuatu pada sesuatu (kayu(Y) Dengan cara horizontal
Karena ini sesuatu terjadi pada Y (Y terpotong menjadi dua bagian besar) X menginginkan ini
X melakukan seperti ini.
Terkait dengan parafrase di atas verba mangalapa ‛membelah’ hasil
potongannya entitas terbelah dua, verba manambilu ‛memotong’ hasil
potongannya entitas terpotong agak pendek dan terpisah, verba mangaritik
‛memotong’ hasil potongannya entitas terpotong sama rata dan verba manaba
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Simpulan
dengan sub kategori (X melakukan sesuatu kepada sesuatu yang kecil dengan tangan), (2) berdasarkan objek ada dua kategori verba POTONG yang berobjek kecil dan besar (3) berdasarkan temporal ada dua kategori yaitu (a) pungtual (‛X melakukan sesuatu dengan cepat’) dibagi menjadi dua sub kategori (‛X melakukan sesuatu kepada sesuatu yang besar dengan cepat’) dan (‛X melakukan sesuatu kepada sesuatu yang kecil dengan cepat’) dan (b) duratif (‛X melakukan sesuatu kepada sesuatu dalam jangka waktu yang lama’) terdiri dari dua sub kategori (‛X melakukan sesuatu kepada sesuatu yang besar dalam waktu yang lama’) dan (‛X melakukan sesuatu kepada sesuatu yang kecil dalam waktu yang lama’), dan (4) berdasarkan cara dibagi menjadi dua kategori yaitu (a) horizontal (‛X melakukan sesuatu kepada sesuatu dengan cara horizontal’) terdiri dari dua sub kategori (‛X melakukan sesuatu kepada sesuatu yang besar dengan horizontal’) dan (‛X melakukan sesuatu kepada sesuatu yang kecil dengan horizontal’) dan (b) vertikal terdiri dari dua kategori (‛X melakukan sesuatu kepada sesuatu yang besar dengan vertikal’) dan (‛X melakukan sesuatu kepda sesuatu yang kecil dengan vertikal’).
Hasil kajian ini juga menunjukkan bahwa verba POTONG Bahasa Batak Toba dibentuk oleh dua makna asali yaitu MELAKUKAN/TERJADI yang berpolisemi menjadi ‛ X melakukan sesuatu pada Y karena ini sesuatu terjadi pada Y’.