• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tindak Pidana Mengedarkan Sediaan Farmasi Tanpa Izin Edar Menurut Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan (Studi Putusan No. 1902/PID B/2004/PN Medan)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Tindak Pidana Mengedarkan Sediaan Farmasi Tanpa Izin Edar Menurut Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan (Studi Putusan No. 1902/PID B/2004/PN Medan)"

Copied!
79
0
0

Teks penuh

(1)

TINDAK PIDANA MENGEDARKAN SEDIAAN FARMASI TANPA IZIN EDAR MENURUT UNDANG-UNDANG NO.36 TAHUN 2009 TENTANG

KESEHATAN (STUDI PUTUSAN NO.1902 / PID B / 2004 / PN MEDAN)

SKRIPSI

Diajukan Untuk Melengkapi Tugas Dan Memenuhi Syarat Dalam Mencapai

Gelar Sarjana Hukum

Oleh :

Nama : Leo Bastanta Barus Nim : 040200136

DEPARTEMEN HUKUM PIDANA

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

(2)

TINDAK PIDANA MENGEDARKAN SEDIAAN FARMASI TANPA IZIN EDAR MENURUT UNDANG-UNDANG NO.36 TAHUN 2009 TENTANG

KESEHATAN(STUDI PUTUSAN NO.1902 / PID B / 2004 / PN MEDAN)

SKRIPSI

Diajukan Untuk Melengkapi Tugas Dan Memenuhi Syarat Dalam Mencapai

Gelar Sarjana Hukum

Oleh :

Nama : Leo Bastanta Barus Nim : 040200136

DEPARTEMEN HUKUM PIDANA Disetujui Oleh :

Ketua Departemen Hukum Pidana

Abul Khair SH Mhum Nip : 196107021989031001

Pembimbing I Pembimbing II

Syafruddin SH. MH DFM Liza Erwina SH. Mhum Nip : 196305111989031001 Nip : 196110241989032002

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

(3)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa.

Yang terus memberkati dan memberikan anugrah kepada penulis sehingga penulis

dapat menyelesaikan penulisan skripsi in dengan baik

Penulisan skripsi adalah syarat bagi seluruh mahasiswa untuk memperoleh

gelar Sarjana Hukum di Universitas Sumatra Utara Medan. Sehubungan dengan

syarat tersebut maka penulis telah memilih judul yang menjadi pembahasan

penulis dalam penulisan skripsi ini yamg berjudul :

TINDAK PIDANA MENGEDARKAN SEDIAAN FARMASI TANPA IZIN EDAR MENURUT UNDANG-UNDANG NO. 36 TAHUN 2009 TENTANG KESEHATAN (STUDI PUTUSAN NO. 1902 /PID B/ 2004 / PN MEDAN)

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari

sempurna dan tentunya mempunyai kekurangan dan kelemahan. Hal ini

disebabkan keterbatasan ilmu pengetahuan dan literatur yang dimiliki penulis.

Untuk itu penulis dengan segala kerendahan hati mengharapkan saran dan kritik

(4)

ABSTRAKSI

Tindak pidana mengedarkan sediaan farmasi tanpa izin edar adalah judul skripsi yang merupakan tugas akhir penulis sebagai syarat untuk mencapai sarjana hukum di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

Maraknya beredar obat tanpa izin edar dalam masyarakat sangat memperihatinkan kita sebagai anggota masyarakat. Hal ini menunjukan tingkat kesadaran masyarakat akan hukum masih sangat rendah sehingga cendrung melakukan tindak pidana termasuk mengedarkan sediaan farmasi tanpa izin edar.

Penelitian ini dilakukan penulis untuk mengetahui bagaimana pengaturan hukum terhadap tindak pidana mengedarkan sediaan farmasi tanpa izin edar, hal-hal yang dilakukan dalam upaya penangulanganya

Dalam melakukan penelitian ini penulis mengunakan metode yuridis normatif dan yuridis empiris. Dengan memilih lokasi penelitian diwilayah hukum Pengadilan Negeri Medan dengan menganalisis kasus yang telah diputus oleh Pengadilan Negeri Medan (STUDI PUTUSAN NO. 1902 /PID B/ 2004 / PN MEDAN) sebagai bahan penulisan skripsi ini ditambah dengan data-data skunder melalui pustaka yaitu dengan melakukan penelitian terhadap berbagai sumber pustaka buku-buku, peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan tindak pidana mengedarkan sediaan farmasi tanpa izin edar.

(5)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR……….……... i

ABSTRAKSI……….. ii

DAFTARA ISI………... iii

BAB I Pendahuluan A.Latar belakang………... 1

B.Perumusan masalah……… 7

C.Tujuan dan manfaat penulisan……… 7

D.Keasliaan penulisan………... 8

E.Tinjauan pustaka………. 9

1. UU No. 23 Tahun 1992 Tentang kesehatan………... 9

2. UU No. 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan………... 11

3. Pengertian tindak pidana……… 13

4. Pengertian sediaan farmasi………. 18

5. Putusan No. 1902/ PID B/ 2004/ PN Medan……….. 26

F. Metode penulisan……… 27

G.Sistematika penulisan………. 29

BAB II Pengaturan tindak pidana mengedarkan sediaan farmasi tanpa izin edar dalam hukum positif Indonesia A.Berdasarkan Undang-Undang No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan……… 31

(6)

C.Berdasarkan Undang-Undang no.5 Tahun 1997 tentang

Psikoptopika dan Undang-Undang N0. 36 Tahun 2009 tentang

Narkotika……… 37

D.Berdasarkan Peraturan Pemerintah No.72 Tahun 1998 tentang

Pengamanan Sediaan Farmasi Dan Alat Kesehatan………... 43

BAB III Analisis Kasus Putusan No. 1902 / Pid B / 2004 / PN Medan

A.Kasus Posisi……… 46

B.Analisis Kasus……… 48

1. Unsur-unsur Tindak Pidana Mengedarkan Sediaan Farmasi Tanpa

Izin Edar………. 48

2. Pertanggung Jawaban Pidana Mengedarkan Sediaan Farmasi Tanpa

Izin Edar………. 54

BAB IV Upaya penanggulangan tindak pidana mengedarkan sediaan farmasi

tanpa izin edar

A. Kebijakan penal………... 56

B. Kebijakan non-penal………... 62

BAB V Penutup

A. Kesimpulan………. 65

(7)

ABSTRAKSI

Tindak pidana mengedarkan sediaan farmasi tanpa izin edar adalah judul skripsi yang merupakan tugas akhir penulis sebagai syarat untuk mencapai sarjana hukum di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

Maraknya beredar obat tanpa izin edar dalam masyarakat sangat memperihatinkan kita sebagai anggota masyarakat. Hal ini menunjukan tingkat kesadaran masyarakat akan hukum masih sangat rendah sehingga cendrung melakukan tindak pidana termasuk mengedarkan sediaan farmasi tanpa izin edar.

Penelitian ini dilakukan penulis untuk mengetahui bagaimana pengaturan hukum terhadap tindak pidana mengedarkan sediaan farmasi tanpa izin edar, hal-hal yang dilakukan dalam upaya penangulanganya

Dalam melakukan penelitian ini penulis mengunakan metode yuridis normatif dan yuridis empiris. Dengan memilih lokasi penelitian diwilayah hukum Pengadilan Negeri Medan dengan menganalisis kasus yang telah diputus oleh Pengadilan Negeri Medan (STUDI PUTUSAN NO. 1902 /PID B/ 2004 / PN MEDAN) sebagai bahan penulisan skripsi ini ditambah dengan data-data skunder melalui pustaka yaitu dengan melakukan penelitian terhadap berbagai sumber pustaka buku-buku, peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan tindak pidana mengedarkan sediaan farmasi tanpa izin edar.

(8)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Seiring dengan tuntutan perkembangan zaman, membawa masyarakat pada

suatu tatanan hidup yang serba cepat dan praktis. Kemajuan ilmu pengetahuan

merupakan penentu bagi suatu peradaban yang modren.

Keberhasilan yang dicapai dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi

tentu saja membawa suatu negara pada kesejahteraan dan kemakmuran bagi

rakyatnya. Namun tidak dapat dipungkiri kemajuan di bidang teknologi dan ilmu

pengetahuan diringi dengan meningkatnya penyimpangan dan kejahatan dibidang

ekonomi dan sosial. Ini dapat dilihat di negara maju ataupun dinegara yang sedang

berkembang, jenis penyimpangan dan kejahatan semakin banyak ragamnya.

Semakin tinggi pradaban suatu bangsa maka semakin maju pula ilmu

pengetahuan yang berkembang dalam bangsa tersebut. Apabila kemajuan ilmu

pengetahuan tidak diimbangi dengan semangat kemanusiaan, maka berpengaruh

pada akses yang negatif. Munculnya tindak pidana baru pada bidang ilmu

pengetahuan yang berkembang tersebut. Yang menimbulkan gangguan

ketenteraman, ketenangan dan sering kali menimbulkan kerugian materil maupun

immateril bagi masyarakat.

Tindak pidana merupakan suatu bentuk perilaku menyimpangan yang

hidup dalam masyarakat. Yang artinya tindak pidana akan selalu ada selama

manusia masih ada di muka bumi ini. Hukum sebagai sarana bagi penyelesaian

problematika ini diharapkan dapat memberikan solusi yang tepat. Oleh karena itu

(9)

diupayakan secara terpadu. Kodifikasi, unifikasi bidang-bidang hukum tertentu

serta penyusunan Undang-undang baru sangat dibutuhkan untuk menjawab semua

tantangan dari semakin meningkatnya perkembangan tindak pidana.

Ilmu kesehatan adalah salah satu bidang ilmu yang mengalami

perkembangan paling cepat saat ini. Begitu pula dengan perkembangan tindak

pidana dibidang ilmu kesehatan. Adapun tindak pidana yang terjadi di bidang

ilmu kesehatan antara lain : malpraktek, pemalsuan obat, mengedarkan obat tanpa

izin dan transplantasi organ manusia.

Masalah kesehatan merupakan keprihatinan serius di setiap negara, baik

negara maju maupun sedang berkembang. karena kesehatan merupakan salah satu

faktor yang menentukan kemajuan suatu negara dan merupakan hak asasi

manusia. Negara memiliki kewajiban kepada rakyatnya untuk menyediakan

layanan kesehatan dan menetapkan aturan-aturan hukum yang terkait dengan

kepentingan perlindungan kesehatan.

Secara awam kesehatan dapat diartikan ketiadaan penyakit. Menurut

WHO kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang

memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis1

Hukum kedokteran dan hukum kesehatan mulai di perkenalkan di

Indonesia dengan terbentuknya kelompok study untuk Hukum Kedokteran di . Dapat

disimpulkan kesehatan itu sangat penting dalam kelangsungan hidup masyarakat.

Jadi apabila terjadi tindak pidana di bidang kesehatan akan menyerang langsung

masyarakat baik secara materil maupun immateril. Sehingga masyarakat tidak

dapat melangsungkan kehidupanya dengan baik.

1

(10)

Universitas Indonesia pada tanggal 1 November 1982 di Rumah Sakit Cipto

Mangunkusumo oleh beberapa dokter dan sarjana hukum2

Salah satu kejahatan dalam hukum kesehatan yang marak terjadi pada saat

ini adalah kejahatan dibidang farmasi. Farmasi adalah suatu profesi yang

berhubungan dengan seni dan ilmu dalam penyediaan bahan sumber alam dan

bahan sintetis yang cocok dan menyenagkan untuk didistribusikan dan digunakan

dalam pengobatan dan pencegahan suatu penyakit

. Hukum kesehatan ini

sebenarnya sudah lama diperkenalkan, namun dalam perkembanganya hukum

kesehatan ini masih kurang mendapat perhatian oleh para sarjana hukum di

indonesia. Ini dapat dilihat dari masih jarangnya ditemukan buku-buku yang

membahas tentang hukum kesehatan.

3

2

Amri Amir, Bunga Ranpai Hukum Kesehatan, Jakarta 1997 hal 2 3

Moh. Anief, Farmasetika, Yogyakarta 1993 hal 11

. Masih segar di ingatan,

hebohnya kasus formalin dalam makanan, ditariknya produk pengusir nyamuk

HIT karena dikhawatirkan mengandung bahan yang berbahaya bagi keamanan

dan keselamatan konsumen. Juga kasus minuman isotonik yang mengandung zat

pengawet berbahaya yang disinyalir oleh Lembaga Komite Masyarakat Anti

Bahan Pengawet (KOMBET). Adapun zat berbahaya yang terkandung dalam

minuman isitonik tersebut adalah natrium benzoat dan kalium sorbet yang dapat

menyebabkan penyakit yang dalam ilmu kedokteran disebut Sytemic Lupus

Erythematosus, yaitu penyakit yang mematikan yang dapat menyerang seluruh

tubuh dan sistem internal manusia itu sendiri. Sekarang heboh jamu berbahaya,

kosmetik berbahaya, makanan-minuman mengandung susu produk RRC yang

(11)

Konsumen di Indonesia masih cenderung pasif meskipun sudah ada

Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen yang

mengatur tentang hak-hak konsumen, kewajiban pelaku usaha serta memberikan

bentuk-bentuk perlindungan hukum yang diberikan kepada konsumen.

Konsumen masih belum sepenuhnya menyadari hak-hak mereka, sedangkan

pelaku usaha juga belum sepenuhnya memenuhi kewajibannya. Kondisi tersebut

cenderung untuk mendorong lahirnya berbagai bentuk pelanggaran pelaku usaha

terhadap hak konsumen namun pelaku usaha yang bersangkutan tidak

memperoleh sanksi hukum yang mengikat. Oleh karena itu pemerintah selaku

pihak yang berwenang untuk menegakkan hukum perlindungan konsumen harus

bersifat proaktif dalam melindungi hak-hak konsumen di Indonesia. Terkait

dengan sediaan farmasi yang akan dibahas oleh penulis, upaya pemerintah untuk

melindungi konsumen adalah melalui pembentukkan lembaga yang bertugas

untuk mengawasi pada suatu produk serta memberikan perlindungan kepada

konsumen

Di Indonesia telah dibentuk suatu badan yang bertugas untuk mengawasi

peredaran obat dan makanan, yakni Badan Pengawas Obat dan Makanan

(BPOM). BPOM dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 166

Tahun 2000 jo Keppres Nomor 103 Tahun 2001 tentang Kedudukan, Tugas,

Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah

Non Departemen (LPND) yang mengatur mengenai pembentukan

lembaga-lembaga pemerintah nondepartemen. LPND adalah lembaga-lembaga pemerintah pusat

yang dibentuk untuk menjalankan tugas pemerintahan tertentu dari presiden serta

(12)

yang mempunyai tugas yang terkait dengan pengawasan obat dan makanan.4

4

www.tesishukum.com, Tanggung Jawab Badan Pengawas Makana Dan Obat, terakhir kali di akses 12 februari 2010

Tetapi lembaga yang bertugas mengawasi belum optomal dalam melakukan

tugasnya, ini terbukti dengan masih banyaknya ditemui obat dan makanan yang

tidak sesuai dengan standar kesehatan masih beredar di masyarakat.

Untuk mencapai kesembuhan jasmani dan rohani dari suatu penyakit, tidak

bisa lepas dari suatu pengobatan optimal dan benar. Namun apabila obat yang

diedarkan oleh pihak yang di tunjuk oleh Undang-Undang berhak mengedarkan

obat, mengedarkan obat dengan melakukan penyimpangan sudah tentu obat

tersebut tidak dapat digunakan dalam proses penyembuhan . Karena mungkin saja

obat tersebut tidak memenuhi standar racikan obat, kadaluarsa dan aturan pakai.

Obat seperti ini apabila digunakan dapat menimbulkan penyakit baru bagi

penggunanya bahkan dapat menimbulkan kematian.

Suatu perbuatan yang dapat menimbulkan sakit pada orang lain atau

bahkan menimbulkan kematian merupakan kejahatan dalam Undang-undang.

Perbuatan jahat merupakan suatu perbuatan yang harus dipidana. Dalam hal ini

yang bertanggung jawab adalah pihak yang ditunjuk Undang-undang berhak

mengedarkan obat dan memberikan pelayanan kesehatan pada masyarakat.

Kebutuhan masyarakat atas perlindungan kesehatan merupakan hal yang

tidak bisa ditawar lagi, Karena langsung menyerang kebutuhan masyarakat yang

primer. Sudah menjadi kewajiban pemerintah untuk menegakan aturan perundang

-undangan yang ada untuk menanggulangi permasalahan yang semakin kompleks

(13)

Oleh sebab itu penulis mencoba mengkaji mengenai tindak pidana

mengedarkan sediaan farmasi tanpa izin edar untuk mengetahui bagaimana

sebenarnya tindak pidana ini. Dalam hal ini penulis mencoba mengkaji pengaturan

tindak pidana mengedarkan sediaan farmasi tanpa izin edar dalam hukum positif

Indonesia, faktor-faktor yang melatarbelakangi perbuatan ini serta upaya

(14)

B. Perumusan Masalah

Dari uraian diatas adapun permasalahan yang akan dibahas penulis yaitu :

1. Bagaimana pengaturan tindak pidana mengedarkan sedian farmasi tanpa izin

edar dalam hukum positif indonesia

2. Bagaimana penerapan Undang-Undang No.23 tahun 1992 tentang Kesehatan

dan Undang-Undang No.36 tentang Kesehatan terhadap penegakan tindak

pidana mengedarkan sediaan farmasi tanpa izin edar (Studi Putusan No

1902/Pid B/2004/PN Medan)

3. Upaya penanggulangan tindak pidana mengedarkan sediaan farmasi tanpa izin

edar

C. Tujuan Dan Manfaat Penulisan

Secara umum yang menjadi tujuan penulis membahas skripsi ini adalah

guna melengkapi dan memenuhi persyaratan untuk memperoleh gelar Sarjana

Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, disamping untuk

membiasakan penulis dalam menyusun suatu karya ilmiah.

Adapun tujuan yang khusus dari penulisan skripsi ini adalah untuk

mengetahui :

1. Untuk mengetahui pengaturan tindak pidana mengedarkan sediaan farmasi

tanpa izin edar dalam hukum positif Indonesia.

2. Untuk mengetahui bagaimana penerapan UU No.36 Tahun 12009 Tentang

Kesehatan terhadap tindak pidana mengedarkan sediaan farmasi tanpa izin edar

(15)

3. Untuk mengetahui upaya yang dilakukan dalam penanggulangan tindak pidana

mengedarkan sediaan farmasi tanpa izin edar.

Selain tujuan-tujuan tersebut diatas, penulisan skripsi ini diharapkan

bermanfaat untuk berbagai hal diantaranya:

a. Secara teoritis

Hasil penelitiaan ini diharapkan dapat menambah khazanah ilmu hukum,

Khususnya hukum pidana yang terkait dengan tindak pidana kesehatan di

bidang farmasi.

b. Secara praktis

Penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk:

1. Bagi aparat penegak hukum, sebagai sumbanagan pemikiran untuk penanganan

tindak pidana mengedarkan sediaan farmasi tanpa izin edar.

2. Akademisi dan praktisi hukum untuk memberi masukan dan gambaran

mengenai tindak pidana mengedarkan sediaan farmasi tanpa izin edar

khususnya di kota medan.

D. Keaslian Penulisan

Skripsi ini berjudul “ Tindak Pidana Mengedar Sediaan Farmasi Tanpa

Izin Edar Menurut Undang-Undang No.36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan (Studi

Putusan No. 1902 /PID B/ 2004 / PN Medan) “ .

Penulisan ini dilakukan penulis dimulai dengan mengumpulkan

bahan-bahan yang berkaitan dengan tindak pidana mengedarkan sediaan farmasi tanpa

(16)

perpustakaan maupun media cetak dan elektronik, disamping itu juga diadakan

analisis kasus.

Dan sehubungan dengan penulisan skripsi ini, pada saat penulis menulis

skripsi ini belum ada judul yang sama. Walaupun ada yang membicarakan tindak

pidana mengedarkan sediaan farmasi tanpa izin edar, namun objek yang dibahas

tidak sama. Bila dikemudian hari ternyata terdapat judul yang sama atau telah di

tulis oleh orang lain dalam bentuk skripsi maka hal itu akan menjadi tanggung

jawab penulis sepenuhnya.

E. Tinjauan kepustakaan

1. UU NO.23 TAHUN 1992 TENTANG KESEHATAN

Pelayanan kesehatan adalah hak semua orang. kekurangan dalam

pelayanan kesehatan masyarakat bisa disebabkan oleh sistem pelayanan kesehatan

yang buruk. Oleh karena itu diperlukan peraturan perundangan yang menjamin

terlaksananya sistem pelayanan kesehatan yang sempurna bagi masyarakat.

Dalam rangka memberikan perlindungan dan kepastiaan hukum untuk

meningkatkan, mengarahkan dan memberi dasar bagi pembangunan kesehatan

diperlukan perangkat hukum kesehatan yang dinamis bagi pemberi jasa pelayanan

kesehatan, makanan, minuman hasil produksi rumah tangga yang masih dalam,

pembinaan pemerintah, pelaksanaan hukum diberlakukan secara bertahap.

Perangkat hukum tersebut hendaknya dapat menjangkau perkembangan yang

masih kompleks yang terjadi dimasa akan datang.

Undang-Undang No.23 Tahun 1992 Tentang Kesehatan dimaksud sebagai

(17)

seluruh masyarakat. Undang-Undang ini mencakup pengaturan berbagai hal

pokok tentang kesehatan, antara lain:

1. Asas dan tujuan yang menjadi landasan dan memberi arah pembangunan

kesehatan yang dilaksanankan melalui upaya kesehatan untuk meningkatkan

kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi orang sehingga

terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal tanpa membedakan status

sosial;

2. Hak dan kewajiban setiap orang untuk memperoleh derajat kesehatan yang

optimal serta wajib untuk ikut serta didalam memelihara dan meningkatkan

derajat kesehatan;

3. Tugas dan tanggung jawab pemerintah pada dasarnya adalah mengatur,

membina, dan mengawasi penyelenggaraan upaya kesehatan serta mengerakan

peran serta masyarakat;

4. Upaya kesehatan dilaksanakan secara menyeluruh, terpadu, dan

berkesinambungan melalui pendekatan peningkatan kesehatan, pencegahan

penyakit, penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan;

5. Sumber daya kesehatan sebagai pendukung upaya kesehatan, harus tetap

melaksanakan fungsi dan tanggung jawab sosialnya, dengan pengertian bahwa

sarana kesehatan harus tetap memperhatikan golongan masyarakat yang kurang

mampu dan tidak semata-mata mencari keuntungan;

6. Ketentuan pidana untuk melindungi pemberi dan penerima jasa pelayanan

(18)

2. Undang-Undang No.36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan

Dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 tercantum jelas cita-cita

bangsa Indonesia yang sekaligus merupakan tujuan nasional bangsa Indonesia.

Tujuan nasional tersebut adalah melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh

tumpah darah Indonesia dan memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan

kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan

kemerdekaan perdamaian abadi serta keadilan sosial.

Untuk mencapai tujuan nasional tersebut diselenggarakanlah upaya

pembangunan yang berkesinambungan yang merupakan suatu rangkaian

pembangunan yang menyeluruh terarah dan terpadu, termasuk di antaranya

pembangunan kesehatan.

Kesehatan merupakan hak asasi manusia dan salah satu unsur

kesejahteraan yang harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia

sebagaimana dimaksud dalam Pancasila dan Pembukaan Undang-Undang Dasar

Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Oleh karena itu, setiap kegiatan dan upaya untuk meningkatkan derajat

kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya dilaksanakan berdasarkan prinsip

nondiskriminatif, partisipatif, perlindungan, dan berkelanjutan yang sangat

penting artinya bagi pembentukan sumber daya manusia Indonesia, peningkatan

ketahanan dan daya saing bangsa, serta pembangunan nasional.

Upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya pada

mulanya berupa upaya penyembuhan penyakit, kemudian secara berangsur-angsur

berkembang ke arah keterpaduan upaya kesehatan untuk seluruh masyarakat

(19)

promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif yang bersifat menyeluruh terpadu dan

berkesinambungan

Selain itu, perkembangan teknologi kesehatan yang berjalan seiring

dengan munculnya fenomena globalisasi telah menyebabkan banyaknya

perubahan yang sifat dan eksistensinya sangat berbeda jauh dari teks yang

tercantum dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan.

Pesatnya kemajuan teknologi kesehatan dan teknologi informasi dalam era global

ini ternyata belum terakomodatif secara baik oleh Undang-Undang Nomor 23

Tahun 1992 tentang Kesehatan.

Perencanaan dan pembiayaan pembangunan kesehatan yang tidak sejiwa

dengan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992, yaitu menitikberatkan pada

pengobatan (kuratif), menyebabkan pola pikir yang berkembang di masyarakat

adalah bagaimana cara mengobati bila terkena penyakit. Hal itu tentu akan

membutuhkan dana yang lebih besar bila dibandingkan dengan upaya

pencegahan. Konsekuensinya, masyarakat akan selalu memandang persoalan

pembiayaan kesehatan sebagai sesuatu yang bersifat konsumtif/pemborosan.

Selain itu, sudut pandang para pengambil kebijakan juga masih belum

menganggap kesehatan sebagai suatu kebutuhan utama dan investasi berharga di

dalam menjalankan pembangunan sehingga alokasi dana kesehatan hingga kini

masih tergolong rendah bila dibandingkan dengan negara lain.

Untuk itu, sudah saatnya kita melihat persoalan kesehatan sebagai suatu

faktor utama dan investasi berharga yang pelaksanaannya didasarkan pada sebuah

(20)

kesehatan yang mengutamakan upaya promotif dan preventif tanpa mengabaikan

kuratif dan rehabilitatif.

Dalam rangka implementasi paradigma sehat tersebut, dibutuhkan sebuah

undang-undang yang berwawasan sehat, bukan undang-undang yang berwawasan

sakit.

Oleh karena itu, perlu dibentuk kebijakan umum kesehatan yang dapat

dilaksanakan oleh semua pihak dan sekaligus dapat menjawab tantangan era

globalisasi dan dengan semakin kompleksnya permasalahan kesehatan dalam

suatu Undang-Undang Kesehatan yang baru untuk menggantikan Undang-Undang

Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan.

3. Pengertian Tindak Pidana

Berbicara tentang hukum pidana tidak akan terlepas dari masalah pokok

yang menjadi titik perhatianya. Masalah pokok dalam hukum pidana tersebut

meliputi masalah tindak pidana (perbuatan jahat), kesalahan dan pidana serta

korban.5 Istilah tindak pidana adalah berasal dari istilah yang dikenal dalam

hukum pidana Belanda yaitu “strafbaar feit”. Istilah ini terdapat dalam WvS

Belanda dan demikian juga dalam Wvs Hindia Belanda (KUHP), tetapi tidak ada

penjelasan resmi tentang apa yang dimaksud dengan strafbaar feit itu.6

Strafbaar feit, terdiri dari 3 kata, yakni straf, baar dan feit. Berbagai istilah

yang digunakan sebagai terjemahan dari strafbaar feit itu, ternyata straf

diterjemahkan sebagai pidana dan hukum. Perkataan baar diterjemahkan dengan

5

Fuat Usfa & Tongat, Pengantar Hukum Pidana, UMM Press, , Malang ,2004 ,hal 31 6

(21)

dapat dan boleh, sedangkan untuk kata feit diterjemahkan dengan tindak,

peristiwa, pelanggaran dan perbuatan7

Tindak pidana merupakan suatu peristiwa dasar dalam hukum pidana.

Tindak pidana merupakan suatu pengertian yuridis, lain halnya dengan istilah

”perbuatan jahat” atau “kejahatan” (crime) yang bisa diartikan secara yuridis atau

kriminologis. Isi dari pengertian tindak pidana tersebut dalam kenyataanya tidak

ada kesatuan pendapat diantara para sarjana. .

8

Menurut Pompe, sebagaimana yang dikemukakan oleh Bambang

Poernomo9

Sejalan dengan definisi atau pengertian menurut teori dan hukum positif di

atas, J.E Jonkers juga telah memberikan defenisi strafbaar feit menjadi dua

pengertiaan, sebagaimana yang dikemukakan Bambang Pornomo , pengertian strafbaar feit dibedakan menjadi :

a. Defenisi menurut teori memberikan pengertian “strafbaar feit” adalah suatu

pelanggaran terhadap norma, yang dilakukan karena kesalahan si pelanggar

dan diancam dengan pidana untuk mempertahankan tata hukum dan

menyelamatkan kesejahteraan umum ;

b. Definisi menurut hukum positif, merumuskan pengertian “strafbaar feit”

adalah suatu kejadiaan (feit) yang oleh peraturan perundang-undangan

dirumuskan sebagai perbuatan yang dapat dihukum.

10

7

Adawi Chazawi. Op. Cit, hal 69 8

Sudarto, Hukum Pidana I, Yayasan Sudarto, Semarang ,1990, hal. 40 9

Bambang Poernomo, Asas-asas Hukum Pidana, Ghalia Indonesia, Jakarta, hal 91 10

Ibid

, yaitu :

a. Definisi pendek memberikan pengertian “strafbaar feit” adalah suatu kejadian

(22)

b. Definis panjang atau lebih dalam memberikan pengertian “strafbaar feit”

adalah suatu kelakuan yang melawan hukum berhubung dilakukan dengan

sengaja atau alfa oleh orang yang dapt dipertanggungjawabkan.

Menurut definisi pendek pada hakekatnya menyatakan bahwa pastilah

untuk setiap delik yang dapat dipidana harus berdasarkan Undang-Undang yang

dibuat oleh pembentuk Undang-Undang, dan pendapat umum tidak dapat

menentukan lain daripada apa yang telah ditetapkan dalam Undang-undang.

Definisi yang panjang lebih menitikberatkan kepada sifat melawan hukum dan

pertanggung jawaban yang merupakan unsur-unsur yang telah dirumuskan secara

tegas didalam setiap delik, atau unsur yang tersembunyi secara diam-diam

dianggap ada.11

Pendapat Moeljanto sebagaimana yang dikemukakan oleh E.Y Kanter dan

S.R Sianturi12

Pengertian perbuatan hukum pidana tidaklah diikuti oleh hukum pidana

kita. Menurut sistem hukum adat tidaklah diadakan pemisahan antara pelanggaran , memilih “perbuatan pidana” sebagai terjemahan dari “strafbaar

feit”. Beliau memberikan perumusan atau pembatas sebagai perbuatan yang

dilarang dan diancam dengan pidana, barangsiapa melanggar larangan tersebut

dan perbuatan itu harus pula betul-betul dirasakan oleh masyarakat sebagai

perbuatan yang tidak boleh menghambat akan tercapainya tata pergaulan

masyarakat yangdicita-citakan. Makna perbuatan pidana, secara mutlak harus

termasuk dalam unsur formil, yaitu mencocoki rumusan Undang-Undang, dan

Unsur materil, yaitu sifat bertentangan dengan cita-cita mengenai pergaulan

masyarakat atau sifat melawan hukum (rechtswiradigkeit).

11 Ibid. 12

(23)

hukum yang memungkinkan reaksi dalam lapangan hukum pidana dan

pelanggaran hukum yang hanya dapat digugat di lapangan hukum perdata.

Berdasarkan hal tersebut, apabila terjadi suatu pelanggaran hukum maka petugas

hukum mengambil tindakan konkrit (inilah reaksi adat) guna membetulkan hukum

yang dilanggar.13

Satochid Kartanegara14

Secara literlijk kata “straf” artinya pidana, “baar” artinya dapat atau boleh

dan “feit” adalah perbuatan. Kaitannya dengan istilah strafbaar feit secara utuh

ternyata diterjemahkan juga dengan kata hukum, padahal sudah lazim hukum itu

adalah berupa terjemahan dari kata recht seolah-olah arti straf sama dengan recht,

yang sebenarnya tidak demikian halnya.

menganjurkan pemakaian istilah “tindak pidana”

hal ini karena istilah tindak (tindakan) , mencakup pengertian melakukan atau

perbuatan dan/atau pengertian tidak melakukan, tidak berbuat (passive handeling).

Istilah perbuatan berarti melakukan, berbuat tidak mencakup pengertian

mengakibatkan. Istilah peristiwa tidak menunjukkan kepada hanya tindakan

manusia, sedangkan terjemahan pidana untuk straffbaar adalah sudah tepat.

15

Kata “baar” mempunyai 2 istilah yang digunakan yakni boleh dan dapat.

Secara literlijk bisa kita terima. Kata feit biasa digunakan 4 istilah yakni tindak,

peristiwa, pelanggaran dan perbuatan. Secara literlijk feit memang lebih pas

untuk diterjemahkan sebagai perbuatan. Kata perbuatan lebih lazim digunakan

dalam perbendaharaan hukum kita untuk mengartikan dari istilah overtreding

13

Roeslan Saleh. Perbuatan Pidana Dan Pertanggungjawaban Pidana, Aksara baru, Jakarta, hal. 15

14

Satochid Kartenegara, Hukum Pidana Bag I, Balai lektur Mahasiswa, hal. 74 15

(24)

sebagai lawan dari istilah misdrijven (kejahatan) terhadap kelompok tindak pidana

masing-masing dalam buku III dan buku II KUHP.16

Kata “peristiwa”, menggambarkan pengertian yang lebih luas dari

pengertian perbuatan. Hal ini karena peristiwa tidak saja menunjuk kepada

perbuatan manusia melainkan mencakup pada seluruh kejadian yang tidak saja

disebabkan oleh adanya perbuatan manusia semata tetapi juga oleh alam seperti

matinya orang karena disambar petir atau tertimbun tanah longsoryang tidak

masuk dalam hukum pidana. Peristiwa baru menjadi penting dalam hukum pidana

apabila kematian orang itu diakibatkan oleh perbuatan manusia (pasif maupun

aktif).17

Istilah “tindak” memang telah lazim digunakan dalam peraturan

perundang-undangan walaupun masih dapat diperdebatkan juga ketepatanya.

Tidak menunjuk pada hal kelakuan manusia dalam arti positif (handelen) semata,

dan tidak termasuk kelakuan manusia yang pasif atau negatif (nalaten). Pengertian

sebenarnya dalam istilah feit itu adalah termasuk baik perbuatan aktif maupun

perbuatan pasif tersebut. Perbuatan aktif artinya suatu bentuk perbuatan yang

untuk mewujudkanya diperlukan /disyaratkan adanya suatu gerakan dari tubuh

atau bagian tubuh manusia, misalnya mengambil pasal 362 KUHP “Barang siapa

mengambil suatu barang yang sama sekali atau sebagian termasuk kepunyaan

orang lain, dengan maksud untuk memiliki barang itu dengan melawan hak,

dihukum, karena pencurian” atau merusak pasal 406 KUHP “Barang siapa

dengan sengaja dan dengan melawan hakmembinasakan, merusak, membuat

sehinga tidak bisa dipakai lagi atau menghilangkan suatu barang yang sama sekali

16 Ibid. 17

(25)

atau sebagianya kepunyaan orang lain, dihukum penjara delapan bulan atau

denda”. Perbuatan pasif adalah suatu perbuatan tanpa melakukan suatu perbuatan

fisik apapun oleh karenanya, dengan demikian seorang tersebut telah

mengabaikan kewajiban hukumnya, misalnya perbuatan tidak menolong pasal 351

KUHP “Barang siapa menyaksikan sendiri ada orang didalam keadaan maut, lalai

memberikan atau mengadakan pertolongan kepadanya sedang pertolongan itu

dapat diberikannyaatau diadakanyadengan tidak atau menguatirkanya, bahwa iya

sendiri atau orang lain akan kena bahaya dihukum kurungan” atau perbuatan

membiarkan pasal 304 KUHP “Barang siapa dengan sengaja menyebabkan atau

membiarkan orang dalam kesengsaraan, sedang dia wajib memberikan kehidupan

perawatan atau pemeliharaan pada orang itu karena hukum yang berlaku atasnya

atau karena perjanjian, dihukum penjara”. 18

18 Ibid

4. PENGERTIAN SEDIAN FARMASI

Adapun yang dimaksud dengan sediaan farmasi dalam Undang-Undang

No.36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan dan Peraturan pemerintah No.72 Tahun

1998 Tentang pengamanan sediaan farmasi adalah obat, bahan obat, obat

tradisional dan kosmetik.

Obat dapat didefinisikan sebagai bahan yang menyebabkan perubahan

dalam fungsi biologis melalui proses kimia. Sedangkan definisi yang lengkap,

obat adalah bahan atau campuran bahan yang digunakan untuk :

1. Pengobatan, peredaan, pencegahan atau diagnosa suatu penyakit, kelainan fisik

(26)

2. Dalam pemulihan, perbaikan atau pengubahan fungsi organik pada manusia

atau hewan.

Obat dapat merupakan bahan yang disintesis di dalam tubuh (misalnya :

hormon, vitamin D) atau merupakan merupakan bahan-bahan kimia yang tidak

disintesis di dalam tubuh.

Penggolongan sederhana dapat diketahui dari definisi yang lengkap di atas

yaitu obat untuk manusia dan obat untuk hewan. Selain itu ada beberapa

penggolongan obat yang lain, dimana penggolongan obat itu dimaksudkan untuk

peningkatan keamanan dan ketepatan penggunaan serta pengamanan distribusi.

Berdasarkan undang-undang obat digolongkan dalam :

1. Obat Bebas

2. Obat Keras

3. Obat Psikotropika dan Narkoba

Berikut penjabaran masing-masing golongan tsb :

1. OBAT BEBAS

Obat bebas adalah obat yang boleh digunakan tanpa resep dokter (disebut

obat OTC = Over The Counter), terdiri atas obat bebas dan obat bebas terbatas.

1.1. Obat bebas

Ini merupakan tanda obat yang paling “aman” . Obat bebas, yaitu obat

yang bisa dibeli bebas di apotek, bahkan di warung, tanpa resep dokter, ditandai

dengan lingkaran hijau bergaris tepi hitam. Obat bebas ini digunakan untuk

mengobati gejala penyakit yang ringan. Misalnya : vitamin/multi vitamin (Livron

B Plex, )

(27)

Obat bebas terbatas (dulu disebut daftar W). yakni obat-obatan yang dalam

jumlah tertentu masih bisa dibeli di apotek, tanpa resep dokter, memakai tanda

lingkaran biru bergaris tepi hitam. Contohnya, obat anti mabuk (Antimo), anti flu

(Noza). Pada kemasan obat seperti ini biasanya tertera peringatan yang bertanda

kotak kecil berdasar warna gelap atau kotak putih bergaris tepi hitam, dengan

tulisan sebagai berikut :

P.No. 1: Awas! Obat keras. Bacalah aturan pemakaiannya.

P.No. 2: Awas! Obat keras. Hanya untuk bagian luar dari badan.

P.No. 3: Awas! Obat keras. Tidak boleh ditelan.

P.No. 4: Awas! Obat keras. Hanya untuk dibakar.

P.No. 5: Awas! Obat keras. Obat wasir, jangan ditelan19

Apabila menggunakan obat-obatan yang dengan mudah diperoleh tanpa

menggunakan resep dokter atau yang dikenal dengan Golongan Obat Bebas dan

Golongan Obat Bebas Terbatas, selain meyakini bahwa obat tersebut telah

memiliki izin beredar dengan pencantuman nomor registrasi dari Badan Pengawas

Obat dan Makanan atau Departemen Kesehatan, terdapat hal- hal yang perlu Memang, dalam keadaaan dan batas-batas tertentu; sakit yang ringan

masih dibenarkan untuk melakukan pengobatan sendiri, yang tentunya juga obat

yang dipergunakan adalah golongan obat bebas dan bebas terbatas yang dengan

mudah diperoleh masyarakat. Namun apabila kondisi penyakit semakin serius

sebaiknya memeriksakan ke dokter. Dianjurkan untuk tidak sekali-kalipun

melakukan uji coba obat sendiri terhadap obat – obat yang seharusnya diperoleh

dengan mempergunakan resep dokter.

19

(28)

diperhatikan, diantaranya: Kondisi obat apakah masih baik atau sudak rusak,

Perhatikan tanggal kadaluarsa (masa berlaku) obat, membaca dan mengikuti

keterangan atau informasi yang tercantum pada kemasan obat atau pada brosur /

selebaran yang menyertai obat yang berisi tentang Indikasi merupakan petunjuk

kegunaan obat dalam pengobatan

Kontra-indikasi (yaitu petunjuk penggunaan obat yang tidak

diperbolehkan), efek samping (yaitu efek yang timbul, yang bukan efek yang

diinginkan), dosis obat (takaran pemakaian obat), cara penyimpanan obat, dan

informasi tentang interaksi obat dengan obat lain yang digunakan dan dengan

makanan yang dimakan.

2. OBAT KERAS

Obat keras (dulu disebut obat daftar G = gevaarlijk = berbahaya) yaitu

obat berkhasiat keras yang untuk memperolehnya harus dengan resep dokter,

memakai tanda lingkaran merah bergaris tepi hitam dengan tulisan huruf K di

dalamnya. Obat-obatan yang termasuk dalam golongan ini adalah antibiotik

(tetrasiklin, penisilin, dan sebagainya), serta obat-obatan yang mengandung

hormon (obat kencing manis, obat penenang, dan lain-lain)

Obat-obat ini berkhasiat keras dan bila dipakai sembarangan bisa

berbahaya bahkan meracuni tubuh, memperparah penyakit atau menyebabkan

mematikan.

3. PSIKOTROPIKA DAN NARKOTIKA

Obat-obat ini sama dengan narkoba yang kita kenal dapat menimbulkan

(29)

Karena itu, obat-obat ini mulai dari pembuatannya sampai pemakaiannya

diawasi dengan ketat oleh Pemerintah dan hanya boleh diserahakan oleh apotek

atas resep dokter. Tiap bulan apotek wajib melaporkan pembelian dan

pemakaiannya pada pemerintah.

3.1.PSIKOTROPIKA

Psikotropika adalah Zat/obat yang dapat menurunkan aktivitas otak atau

merangsang susunan syaraf pusat dan menimbulkan kelainan perilaku, disertai

dengan timbulnya halusinasi (mengkhayal), ilusi, gangguan cara berpikir,

perubahan alam perasaan dan dapat menyebabkan ketergantungan serta

mempunyai efek stimulasi (merangsang) bagi para pemakainya.

Menurut Undang-Undang No.5/1997 psikotropika dibedakan dalam 4

golongan sebagai berikut:

• Psikotropika golongan I : Psikotropika yang hanya dapat digunakan untuk

tujuan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai

potensi amat kuat mengakibatkan sindrom ketergantungan, contoh: MDMA,

ekstasi, LSD, ST

• Psikotropika golongan II : Psikotropika yang berkhasiat untuk pengobatan dan

dapat digunakan dalam terapi dan atau tujuan ilmu pengetahuan serta

mempunyai potensi kuat mengakibatkan sindrom ketergantungan, contoh:

Amfetamin, fesiklidin, sekobarbital, metakualon,metilfenidat (Ritalin)

• Psikotropika golongan III : Psikotropika yang berkhasiat untuk pengobatan dan

(30)

mempunyai potensi sedang mengakibatkan sindrom ketergantungan, contoh :

Fenobarbital, flunitrazepam

• Psikotropika golongan III : Psikotropika yang berkhasiat untuk pengobatan dan

sangat luas digunakan dalam terapi dan atau untuk tujuan ilmu pengetahuan

serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan sindrom ketergantungan,

contoh: Diazepam, klobazam, bromazepam, klonazepam, khlordiazepoxide,

nitrazepam (BK, DUM, MG).20

Bentuk psiotropika

a. Ekstasi

Ekstasi adalah salah satu obat bius yang di buat secara ilegal di sebuah

laboratorium dalam bentuk tablet atau kapsul.Ekstasi dapat membuat tubuh si

pemakai memiliki energi yang lebih dan juga bisa mengalami dehidrasi yang

tinggi. Sehingga akibatnya dapat membuat tubuh kita untuk terus bergerak.

b.Amfetamin

Nama aslinya methamphetamine. Berbentuk kristal seperti gula atau bumbu

penyedap masakan. Jenisnya antara lain yaitu gold river, coconut dan kristal.

Sekarang ada yang berbentuk tablet.Obat ini dapat di temukan dalam bentuk

kristal dan obat ini tidak mempunyai warna maupaun bau, maka ia di sebut

dengan kata lain yaitu Ice. Obat ini juga mempunyai pengaruh yang kuat terhadap

syaraf.

c.Diazepam

Sedatif (obat penenang) dan hipnotikum (obat tidur). Nama jalanan BDZ antara

20

(31)

lain BK, Lexo, MG, Rohip, Dum. Cara pemakaian BDZ dapat diminum, disuntik

intravena, dan melalui dubur.21

3.2 NARKOTIKA

Adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik

sintetis maupun semi sintetis yang dapat menimbulkan pengaruh-pengaruh

tertentu bagi mereka yang menggunakan dengan memasukkannya ke dalam tubuh

manusia.

Pengaruh tersebut berupa pembiusan, hilangnya rasa sakit, rangsangan

semangat , halusinasi atau timbulnya khayalan-khayalan yang menyebabkan efek

ketergantungan bagi pemakainya.

Menurut Undang-Undang No 35 tahun 2009, Narkotika dibagi menjadi 3

golonggan, yaitu :

• Narkotika Golongan I

adalah Narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan

pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta

mempunyai potensi sangat tinggi mengakibatkan ketergantungan.

Merupakan kelompok narkotika yang terdiri atas : tanaman papaver

somniferum, opium mentah, opium masak, erythroxylon cocae (koka),

cannabis satira (ganja), tetra hydro cannabinol

• Narkotika Golongan II

adalah Narkotika berkhasiat pengobatan digunakan sebagai pilihan

terakhir dan dapat digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan

pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi

21

(32)

mengakibatkan ketergantungan. Merupakan kelompok narkotika yang

terdiri atas : alpha-cethyl-metadol, alpha-medprodina, alpha-prodine,

phentanyl, pethidine, methadone

• Narkotika Golongan III

adalah Narkotika berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam

terapi dan/atau untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta

mempunyai potensi ringan mengakibatkan ketergantungan. Merupakan

kelompok narkotika yang terdiri atas : asetildihidrokodeina, kodeina, etil

morfina.22

Obat tradisional dilarang menggunakan bahan kimia hasil isolasi atau

sintetik berkhasiat obat, narkotika atau psikotropika, hewan atau tumbuhan yang

dilindungi, dan bahan kimia obat di dalam obat tradisional. Ini sesuai dengan

Peraturan Mentri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 246/Menkes/Per/V/1990

(Permenkes 246/1990) tentang Izin Usaha Industri Obat Tradisional dan

Pendaftaran Obat Tradisional.

BahanObat adalah sesuatu yang dapat dipergunakan atau dipakai untuk

tujuan membuat obat. Baik itu bahan kimia, tumbuhan, bahan mineral atau

campuran dari bahan tersebut.

Obat tradisional adalah bahan atau ramuan yang berupa bahan tumbuhan,

bahan mineral, sediaan sarian (galenik) atau campuran dari bahan tersebut yang

secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman.

23

Kosmetik adalah bahan atau sediaan yang dimaksud untuk digunakan pada

bagian luar tubuh manusia (epidermis, rambut, kuku, bibir dan organ genital

22

penjelasan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika 23

(33)

bagian luar) atau gigi dan mukosa mulut terutama untuk membersihkan,

mewangikan, untuk mengubah penampilan dan atau memperbaiki bau badan

atau memelihara tubuh pada kondisi baik.

Menurut Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat Dan Makanan

Republik Indonesia Nomor Hk.00.05.4.1745 Tentang Kosmetik. Kosmetik dibagi

2 (dua) golongan Berdasarkan bahan dan penggunaannya

1. Kosmetik golongan I adalah :

a. Kosmetik yang digunakan untuk bayi;

b. Kosmetik yang digunakan disekitar mata, rongga mulut dan mukosa lainnya;

c. Kosmetik yang mengandung bahan dengan persyaratan kadar dan penandaan;

d. Kosmetik yang mengandung bahan dan fungsinya belum lazim serta belum

diketahui keamanan dan kemanfaatannya.

2. Kosmetik golongan II adalah kosmetik yang tidak termasuk golongan I

5. Putusan No. 1902/ PID B/ 2004/ PN Medan

Putusan ini merupakan putusan perkara tindak pidana mengedarkan

sediaan farmasi tanpa izin edar. Terdakwa dalam kasus ini telah terbukti

mengedarkan sediaan farmasi atau alat kesehatan tanpa izin edar, yang hanya

dapat diedarkan setelah mendapat izin edar.

Bahwa dalam pemeriksaan yang dilakukan oleh petugas Balai Besar

Pengawas Obat dan Makanan Medan berdasarkan surat perintah Tugas Kepala

Balai Besar Pengaawas Obat dan Makanan di Medan No : PO.02.02.82.824.2550.

Menemukan sejumlah obat yang tidak terdaftar atau tanpa izin edar di dalam toko

(34)

F. Metode penulisan

1. Pendekatan Masalah

Penelitian yang digunakan untuk menjawab persoalan dalam skripsi ini

adalah dengan menggunakan metode Yuridis Normatif dan Yuridis Empiris.

Penelitian yuridis normatif dinamakan juga dengan penelitian hukum normatif

atau penelitian hukum doktrinal

Menurut Soerjono Soekamto sebagaimana dikemukakan oleh burhan

ashofa, bentuk penelitian normatif (doktrinal) ini dapat berupa:24

1. Inventaris hukum positif

2. Penemuan azas hukum

3. Penemuan hukum in concreto

4. Perbandingan hukum

5. Sejarah hukum

Soetandyo Wignosoebroto sebagaimana dikemukakan oleh Bambang

Sunggono, membagi penelitian hukum doktrinal sebagai berikut:25

1. Penelitian yang berupa usaha inventarisasi hukum positif

2. Penelitian yang berupa penemuaan azas-azas dan dasar- dasar falsafah ( dogma

atau doktrinal ) hukum positif

3. Penelitian yang berupa usaha penemuan hukum in concreto yang layak

diterapkan untuk menyelesaikan suatu perkara tertentu.

Penelitian yuridis empiris merupakan penelitian yang dilakukan dengan

melakukan study langsung dilapangan atau pada instansi-instansi terkait guna

memperoleh data-data yang berkaitan penulisan skripsi.

24

Burhan Ashofa, Metode Penelitian Hukum, Rieneke Cipta, Jakarta ,1996 ,hal 14 25

(35)

2. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian dilakukan di kota Medan, alasan dipilihnya kota Medan

dikarenakan terdapat kasus mengenai tindak pidana mengedarkan sediaan farmasi

tanpa izin edar yang penyelesaiannya belum memuaskan, dalam hal ini

penelitian lapangan penulis melakukannya di Pengadilan Negeri Medan, untuk

mendapat gambaran atau bahan akurat dengan penulisan skripsi ini.

3. Sumber Dan Pengumpulan Data

Jenis data yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah:

i. Data primer yaitu data yang dilakukan melalui studi lapangan.26

ii. Data skunder, diperoleh melalui studi pustaka yaitu dengan melakukan

penelitian terhadap berbagai sumber pustaka buku-buku, dokumen-dokumen

resmi hasil penelitian yang berwujud laporan, peraturan perundang-undangan

yang terkait dengan tindak pidana mengedarkan sedian farmasi tanpa izin

edar.

Dilakukan

dengan menggali dan memahami secara mendalam persepsi mengenai Tindak

Pidana “Mengedarkan Sediaan Farmasi Tanpa Izin Edar studi Putusan

No.1902/ Pid B/ 2004/ Pengadilan Negeri Medan” sehingga dapat dijadikan

untuk menjawab permasalahan dalam skripsi ini. Studi lapangan ini dilakukan

melalui pembahasan mengenai kasus No.1902/ Pid B/ 2004/ PengadilanNegeri

Medan. Jadi lapangan pokok bahasan dalam skripsi ini yaitu : Pengadilan

Negeri Medan.

27

26

Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, UI-Press, Jakarta, 1984 hal 12 27

(36)

4. Metode Dan Analisis Data

Data yang diperoleh melalui pustaka dikumpulkan dan diurutkan lalu di

organisasikan dalam satu pola, kategori dan satuan uraian dasar.28

G. Sistematika Penulisan

Analisis data

yang dilakukan dalam penulisan skripsi ini adalah dengan cara kualitatif, yaitu

menganalisis melalui data lalu mengorganisasikan dalam pendapat atau tanggapan

dari responden dan data-data yang diperoleh dari lapangan, kemudian dianalisis

secara kualitatif sehingga memperoleh data yang dapat menjawab permasalahan

dalam skripsi ini.

Sisitematika penulisan skripsi ini dibagi dalam beberapa bab, dimana

masing-masing bab diuraikan permasalahanya secara tersendiri, namun dalam

konteks yang saling terkait antara satu dengan yang lainnya. Secara sistematika

penulis penulis menempatkan materi pembahasan keseluruhanya dalam beberapa

bab berikut ini:

Bab I Pendahuluan:

Dalam bab ini akan dibahas mengenai latar belakang permasalahan,

permasalahan, tujuan dan manfaat penulisan, tinjauan kepustakaan,

metode penulisan dan sistematika penulisan.

Bab II Pengaturan Tindak Pidana Mengedarkan Sediaan Farmasi Tanpa Izin Edar Dalam Hukum Positif Indonesia

Dalam bab ini akan dibahas mengenai pengaturan hukum terhadap

tindak pidana mengedarkan sediaan farmasi tanpa izin edar.

28

(37)

Bab III Studi Kasus Putusan No. 1902 / Pid B / 2004 / PN Medan

Dalam hal ini akan dibahas mengenai penerapan Undang-Undang No.

23 Tahun 1992 tentang Kesehatan dan Undang-Undang No.36 tahun

2009 tentang Kesehatan. STUDI PUTUSAN NO. 1902 /PID B/ 2004 /

PN MEDAN, apa saja yg menjadi unsur-unsur tindak pidana

mengedarkan sediaan farmasi dan pertanggung jawaban pidananya.

Bab IV Upaya Penaggulangan Tindak Pidana Mengedarkan Sediaan Farmasi Tanpa Izin Edar Dan Upaya

Dalam bab ini dibahas mengenai upaya penangulangan tindak pidana

mengedarkan sediaan farmasi tanpa izin edar melalui kenijakan penal

dan non penal.

Bab V Penutup

Dalam bab ini akan diambil kesimpulan yang disertai dengan saran dari

(38)

BAB II

PENGATURAN TINDAK PIDANA MENGEDARKAN SEDIAAN FARMASI TANPA IZIN EDAR DALAM HUKUM POSITIF INDONESIA

Dalam uraian-uraian yang telah di jelaskan sebelumnya maka dalam hal ini

penulis berpendapat bahwa tindak pidana adalah suatu perbuatan yang oleh

peraturan perundang-undangan dirumuskan sebagai perbuatan yang dapat

dihukum. Dengan demikian maka mengedarkan sediaan farmasi sebelum diberi

izin edar merupakan suatau tindak pidana. Adapun pengaturan tindak pidana

mengedarkan sediaan farmasi tanpa izin edar dalam hukum positif Indonesia

adalah :

A. Berdasarkan Undang-Undang NO.23 Tahun 1992 Tentang Kesehatan

(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 100, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3495)

Pengertian sediaan farmasi dalam Undang-Undang ini diatur dalam pasal 1

ayat (9) yaitu sediaan farmasi adalah obat, bahan obat, obat tradisional dan

kosmetik. Mengenai pengamanan sediaan farmasi diatur dalam pasal 39 sampai

pasal 43. Adapaun bunyi dari pasal-pasal tersebut adalah :

Pasal 39

Pengamanan sediaan farmasi dan alat kesehatan diselengarakan untuk melindungi

masyarakat dari bahaya yang disebabkan oleh penggunaan sediaan farmasi dan

alat kesehatan yang tidak memenuhi sediaan mutu dan atau keamanan dan atau

kemamfaatan.

Pasal 40

(39)

ayat (1) Sediaan farmasi berupa obat dan bahan obat harus memenuhi syarat

farmakof Indonesia atau buku standar lainya.

ayat (2) Sediaan farmasi yang berupa obat tradisional dan kosmetik serta alat

kesehatan harus memenuhi standar dan atau persyaratan yang ditentukan.

Pasal 41

ayat (1) Sediaan farmasi dan alat kesehatan hanya dapat diedarkan setelah

mendapat izin edar.

ayat (2) Penandaan dan informasi sediaan farmasi dan alat kesehatan harus

memenuhi persyaratan objektif dan kelengkapan serta tidak menyesatkan.

ayat (3) Pemerintah berwenang mencabut izin edar dan memerintahkan penarikan

dari peredaran sediaan farmasi dan alat kesehatan yang telah mendapat izin edar,

yang kemudiaaan terbukti tidak memenuhi persyaratan mutu dan atau keamanan

dan atau kemamfaatan, dapat disita dan dimusnahkan sesuai dengan peraturan

perundang-undangan yang berlaku.

Pasal 42

Pekerjan kefarmasian harus dilakukan dalam rangka menjaga mutu sediaan

farmasi yang beredar.

Pasal 43

Ketentuan tentang pengamanan sediaan farmasi dan alat kesehatan ditetapkan

dengan peraturan pemerintah.

Ketentuan mengenai tindak pidana mengedarkan sediaan farmasi diatur

dalam Pasal 81 ayat (2), rumusan yang terdapat dalam pasal ini adalah Barang

siapa dengan sengaja mengedarkan sediaan farmasi dan atau alat kesehatan tanpa

(40)

penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan atau pidana denda paling banyak Rp.

140.000.000.00 (seratus empat puluh juta rupiah.29

29

Undang-undang No.23 Tahun 1992 Tentang Kesehatan

B. Berdasarkan Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 Tentang kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 nomor 144,Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5063)

Pengertian sediaan farmasi dalam Undang-Undang ini diatur dalam pasal 1

ayat (4) yaitu, sediaan farmasi adalah obat, bahan obat, obat tradisional dan

kosmetik. Mengenai pengaturan pengamanan dan pengunaan sediaan farmasi

diatur dalam pasal 98 sampai pasal 108. Adapun bunyi dari pasal-pasal tersebut

adalah :

Pasal 98

ayat (1) Sediaan farmasi dan alat kesehatan harus aman, berkhasiat/bermanfaat,

bermutu, dan terjangkau.

ayat (2) Setiap orang yang tidak memiliki keahlian dan kewenangan dilarang

mengadakan, menyimpan, mengolah, mempromosikan, dan mengedarkan obat

dan bahan yang berkhasiat obat.

ayat (3) Ketentuan mengenai pengadaan, penyimpanan, pengolahan, promosi,

pengedaran sediaan farmasi dan alat kesehatan harus memenuhi standar mutu

pelayanan farmasi yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.

ayat (4) Pemerintah berkewajiban membina, mengatur, mengendalikan, dan

mengawasi pengadaan, penyimpanan, promosi, dan pengedaran sebagaimana

(41)

Pasal 99

ayat (1) Sumber sediaan farmasi yang berasal dari alam semesta dan sudah

terbukti berkhasiat dan aman digunakan dalam pencegahan, pengobatan, dan/atau

perawatan, serta pemeliharaan kesehatan tetap harus dijaga kelestariannya.

ayat (2) Masyarakat diberi kesempatan yang seluas-luasnya untuk mengolah,

memproduksi, mengedarkan, mengembangkan, meningkatkan, dan menggunakan

sediaan farmasi yang dapat dipertanggungjawabkan manfaat dan keamanannya.

ayat (3) Pemerintah menjamin pengembangan dan pemeliharaan sediaan farmasi.

Pasal 100

ayat (1) Sumber obat tradisional yang sudah terbukti berkhasiat dan aman

digunakan dalam pencegahan, pengobatan, perawatan, dan/atau pemeliharaan

kesehatan tetap dijaga kelestariannya.

ayat (2) Pemerintah menjamin pengembangan dan pemeliharaan bahan baku obat

tradisional.

Pasal 101

ayat (1) Masyarakat diberi kesempatan yang seluas-luasnya untuk mengolah,

memproduksi, mengedarkan, mengembangkan, meningkatkan, dan menggunakan

obat tradisional yang dapat dipertanggungjawabkan manfaat dan keamanannya.

ayat (2) Ketentuan mengenai mengolah, memproduksi, mengedarkan,

mengembangkan, meningkatkan, dan menggunakan obat tradisional diatur dengan

Peraturan Pemerintah.

(42)

ayat (1) Penggunaan sediaan farmasi yang berupa narkotika dan psikotropika

hanya dapat dilakukan berdasarkan resep dokter atau dokter gigi dan dilarang

untuk disalahgunakan.

ayat (2) Ketentuan mengenai narkotika dan psikotropika dilaksanakan sesuai

dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 103

ayat (1) Setiap orang yang memproduksi, menyimpan, mengedarkan, dan

menggunakan narkotika dan psikotropika wajib memenuhi standar dan/atau

persyaratan tertentu.

ayat (2) Ketentuan mengenai produksi, penyimpanan, peredaran, serta

penggunaan narkotika dan psikotropika sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.

Pasal 104

ayat (1) Pengamanan sediaan farmasi dan alat kesehatan diselenggarakan untuk

melindungi masyarakat dari bahaya yang disebabkan oleh penggunaan sediaan

farmasi dan alat kesehatan yang tidak memenuhi persyaratan mutu dan/atau

keamanan dan/atau khasiat/kemanfaatan.

ayat (2) Penggunaan obat dan obat tradisional harus dilakukan secara rasional.

Pasal 105

ayat (1) Sediaan farmasi yang berupa obat dan bahan baku obat harus memenuhi

syarat farmakope Indonesia atau buku standar lainnya.

ayat (2) Sediaan farmasi yang berupa obat tradisional dan kosmetika serta alat

kesehatan harus memenuhi standar dan/atau persyaratan yang ditentukan.

(43)

ayat (1) Sediaan farmasi dan alat kesehatan hanya dapat diedarkan setelah

mendapat izin edar.

ayat (2) Penandaan dan informasi sediaan farmasi dan alat kesehatan harus

memenuhi persyaratan objektivitas dan kelengkapan serta tidak menyesatkan.

ayat (3) Pemerintah berwenang mencabut izin edar dan memerintahkan penarikan

dari peredaran sediaan farmasi dan alat kesehatan yang telah memperoleh izin

edar, yang kemudian terbukti tidak memenuhi persyaratan mutu dan/atau

keamanan dan/atau kemanfaatan, dapat disita dan dimusnahkan sesuai dengan

ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 107

Ketentuan lebih lanjut mengenai pengamanan sediaan farmasi dan alat kesehatan

dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 108

ayat (1) Praktik kefarmasiaan yang meliputi pembuatan termasuk pengendalian

mutu sediaan farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan pendistribusian

obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat serta

pengembangan obat, bahan obat dan obat tradisional harus dilakukan oleh tenaga

kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan sesuai dengan ketentuan

peraturan perundang-undangan.

ayat (2) Ketentuan mengenai pelaksanaan praktik kefarmasian sebagaimana

dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.

Ketentuan mengenai tindak pidana mengedarkan sediaan farmasi dalam

Undang-Undang ini diatur dalam pasal 197, rumusan yang terdapat dalam pasal

(44)

sediaan farmasi dan atau/alat kesehatan yang tidak memiliki izin edar

sebagaimana dimaksud dalam pasal 106 ayat (1) dipidanana dengan pidana

penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp

1.500.000.000,00 (satu miliar limaratus juta rupiah )

C. Berdasarkan Undang-Undang No. 5 Tahun 1997 Tentang Psikotropika (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 nomor 10, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3671) Dan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 143, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 5062)

Sebenarnya dalam kedua Undang-Undang diatas tidak ada pasal-pasal

yang secara langsung mengatur tentang mengedarkan sedian farmasi tanpa izin

edar, namun terdapat beberapa pasal yang sangat berkaitan erat dengan

mengedarkan sediaan farmasi.

1. Berdasarkan Undang-Undang No.5 tahun 1997 tentang Psiotropika

Pengaturan mengenai peredaran psiotropika dalam Undang-Undang ini

diatur dalam pasal 8 sampai pasal 13. Adapun bunyi dari pasal-pasal tersebut

yaitu:

Pasal 8

Peredaran psikotropika terdiri dari penyaluran dan penyerahan

Pasal 9

ayat (1) Psikotropika yang berupa obat hanya dapat diedarkan setelah terdaftar

(45)

ayat (2) Menteri menetapkan persyaratan dan tata cara pendaftaran psikotropika

yang berupa obat

Pasal 10

Setiap pengangkutan dalam rangka peredaran psikotropika, wajib dilengkapi

dengan dokumen pengangkutan psikotropika

Pasal 11

Tata cara peredaran psikotropika diatur lebih lanjut oleh Menteri

Pasal 12

ayat (1) Penyaluran psikotropika dalam rangka peredaran sebagaimana dimaksud

dalam pasal 8 hanya dapat dilakukan oleh pabrik obat, pedagang besar farmasi,

dan sarana penyimpanan sediaan farmasi Pemerintah

ayat (2) penyaluran psiotropika sebagaimana diatur dalam ayat 1 hanya dapat

dilakukan oleh :

a. Pabrik obat kepada pedagang besar farmasi, apotek, sarana penyimpanan

sediaan farmasi pemerintah, rumah sakit, dan lembaga penelitian dan atau

lembaga pendidikan.

b. Pedagang basar farmasi kepada pedang besar farmasi lainnya, sarana

penyimpanan sediaan farmasi pemerintah, rumah sakit, dan lembaga penelitian

dan atau lembaga pendidikan

c. Sarana penyimpanan sediaan farmasi pemerintah kepada rumah sakit

pemerintah, puskesmas dan balai pengobatan pemerintah.

ayat (3) Psiotropika gokongan satu hanya dapat disalurkan oleh pabrik obat dan

pedagang besar farmasi kepada lembaga penelitian dan atau pendidikan guna

(46)

Pasal 13

Psiotropika yang digunakan untuk kepentingan ilmu pengetahuan dapat disalurkan

oleh pabrik obat dan pedagang besar farmasi kepada lembaga penelitian dan atau

lembaga pendidikan yang bersangkutan.

Ketentuan mengenai tindak pidana mengedarkan sediaan farmasi dalam

Undang-Undang ini diatura dalam pasal 60 ayat (1) huruf (c), rumusan yang

terdapat dalam pasal ini adalah Barang siapa memproduksi atau mengedarkan

psikotropoka berupa obat yang tidak terdaftar pada departemen yang bertanggung

jawab dibidang kesehatan sebagaiman dimaksud dalam pasal 9 ayat (1) di pidana

dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling

banyak Rp.200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) 30

30

Undang-Undang No.5 tahun 1997 tentang Psiotropika

2. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika

Pengaturan mengenai peredaran narkotika dalam Undang-Undang ini

diatur dalam pasal 35 sampai pasal 38. Adapun bunyi dari pasal-pasal tersebut

Pasal 35

Peredaran Narkotika meliputi setiap kegiatan atau serangkaian kegiatan

penyaluran atau penyerahan Narkotika, baik dalam rangka perdagangan, bukan

perdagangan maupun pemindah tanganan, untuk kepentingan pelayanan

kesehatan dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pasal 36

ayat (1) Narkotika dalam bentuk obat jadi hanya dapat diedarkan setelah

(47)

ayat (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai syarat dan tata cara perizinan peredaran

Narkotika dalam bentuk obat jadi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur

dengan Peraturan Menteri.

ayat (3) Untuk mendapatkan izin edar dari Menteri, Narkotika dalam bentuk obat

jadi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus melalui pendaftaran pada Badan

Pengawas Obat dan Makanan.

ayat (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai syarat dan tata cara pendaftaran

Narkotika dalam bentuk obat jadi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur

dengan Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan.

Pasal 37

Narkotika Golongan II dan Golongan III yang berupa bahan baku, baik alami

maupun sintetis, yang digunakan untuk produksi obat diatur dengan Peraturan

Menteri.

Pasal 38

Setiap kegiatan peredaran Narkotika wajib dilengkapi dengan dokumen yang sah.

Pasal 39

(1) Narkotika hanya dapat disalurkan oleh Industri Farmasi, pedagang besar

farmasi, dan sarana penyimpanan sediaan farmasi pemerintah sesuai dengan

ketentuan dalam Undang-Undang ini.

(2) Industri Farmasi, pedagang besar farmasi, dan sarana penyimpanan sediaan

farmasi pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memiliki izin

khusus penyaluran Narkotika dari Menteri.

Pasal 40

(48)

Narkotika kepada:

a. pedagang besar farmasi tertentu;

b. apotek;

c. sarana penyimpanan sediaan farmasi pemerintah tertentu; dan

d. rumah sakit.

ayat (2) Pedagang besar farmasi tertentu hanya dapat menyalurkan Narkotika

kepada:

a. pedagang besar farmasi tertentu lainnya;

b. apotek;

c. sarana penyimpanan sediaan farmasi pemerintah tertentu;

d. rumah sakit; dan

e. lembaga ilmu pengetahuan;

ayat (3) Sarana penyimpanan sediaan farmasi pemerintah tertentu hanya dapat

menyalurkan Narkotika kepada:

a. rumah sakit pemerintah;

b. pusat kesehatan masyarakat; dan

c. balai pengobatan pemerintah tertentu.

Pasal 41

Narkotika Golongan I hanya dapat disalurkan oleh pedagang besar farmasi

tertentu kepada lembaga ilmu pengetahuan tertentu untuk kepentingan

pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pasal 42

Ketentuan lebih lanjut mengenai syarat dan tata cara penyaluran Narkotika diatur

(49)

Ketentuan mengenai tindak pidana mengedarkan sediaan farmasi dalam

Undang-Undang ini diatur menurut golongannya. Ketentuan mengenai tindak

pidanan mengedarkan narkotika golongan I diataur dalam pasal 113 ayat (1),

rumusan yang terdapat dalam pasal ini adalah Setiap orang yang tanpa hak atau

melawan hukum memproduksi, mengimpor, mengekspor, atau menyalurkan

Narkotika Golongan I, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima)

tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling sedikit

Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) dan paling banyak Rp10.000.000.000,00

(sepuluh miliar rupiah).

Mengenai tindak pidana mengedarkan narkotika golongan II diatur dalam

pasal 118 ayat (1), rumusan yang terdapat dalam pasal ini adalah Setiap orang

yang tanpa hak atau melawan hukum memproduksi, mengimpor, mengekspor,

atau menyalurkan Narkotika Golongan II, dipidana dengan pidana penjara paling

singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 12 (dua belas) tahun dan pidana denda

paling sedikit Rp800.000.000,00 (delapan ratus juta rupiah) dan paling banyak

Rp8.000.000.000,00 (delapan miliar rupiah)

Mengenai tindak pidana mengedarkan narkotika golongan III diatur dalam

pasal 123 ayat (1), rumusan yang terdapat dalam pasal ini adalah Setiap orang

yang tanpa hak atau melawan hukum memproduksi, mengimpor, mengekspor,

atau menyalurkan Narkotika Golongan III, dipidana dengan pidana penjara paling

singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 10 (sepuluh) tahun dan pidana denda paling

sedikit Rp600.000.000,00 (enam ratus juta rupiah) dan paling banyak

Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah). 31

31

(50)

D. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No.72 Tahun 1998 Tentang Pengamanan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 138, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3781)

Peraturan pemerintah tentang pengamanan sediaan farmasi dan alat

kesehatan ini dibuat atas perintah UU kesehatan untuk mengatur hal teknis dan

oprasional dari UU tersebut. Pengaturan mengenai peredaran sediaan farmasi

dalam Peraturan Pemerintah ini diatur dalam pasal 6 sampai pasal 8. Adapun

bunyi dari pasal-pasal tersebut

Pasal 6

Peredaran sediaan farmasi dan alat kesehatan terdiri dari penyaluran dan

penyerahan

Pasal 7

peredaran sediaan farmasi dan alat kesehatan dilaksanakan dengan

memperhatikan upaya pemeliharaan mutu sediaan farmasi dan alat kesehatan.

Pasal 8

ayat (1) Setiap pengankutan sedian farmasi dan alat kesehatan dalam rangka

peredaran harus disertai dengan dokumen pengangkutan sediaan farmasi dan alat

kesehatan

ayat (2) Setiap pengankutan sediaan farmasi dan alat kesehatan dalam rangka

peredaran bertanggung jawab atas kelengkapan dokumen pengangkutan sediaan

farmasi dan alat kesehatan.

(51)

Pasal 9 sampai pasal 10 Peraturan pemerintah ini mengatura mengenai tata

cara mendapatkan izin edar, adapun bunyi dari pasal-pasal tersebut adalah

Pasal 9

ayat (1) Sediaan farmasi dan alat kesehatan hanya dapat diedarkan setelah

memperoleh izin edar dari menteri kesehatan

ayat (2) Dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dagi

sediaan farmasi yang berupa obat tradisional yang diperoduksi oleh perorangan

Pasal 10

ayat (1) Izin edar sediaan farmasi dan alat kesehatan diberikan atas dasar

permohonan secara tertulis kepada menteri kesehatan

ayat (2) Permohonan secara tertulis sebagaiman dalam ayat (1) disertai dengan

keterangan dan atau data mengenai sediaan farmasi dan alat kesehatan yang

dimohonkan untuk memperoleh izin edar serta contoh sediaan farmasi dan alat

kesehatan

ayat (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara permohonan izin edar

sebagaiman dimaksud dalam ayat (1) dan (2) ditetapkan oleh menteri kesehatan

Pasal 11

Sediaan farmasi dan alat kesehatan yang dimohonkan untuk memperoleh izin edar

dari segi mutu, keamanan dan kemanfaatan

Ketentuan mengenai tindak pidana mengedarkan sediaan farmasi dalam

Peraturan Pemerintah ini diatura dalam pasal Pasal 75 huruf (b) rumusan yang

ter

Referensi

Dokumen terkait

Kejahatan di bidang farmasi berkaitan dengan obat tanpa izin edar ini sebenarnya sudah diatur akan tetapi masih banyak ditemukan obat tanpa izin edar contohnya pada kasus

2011, Pelajaran Hukum Pidana 1: Stelsel Pidana, Tindak Pidana, Teori-Teori Pemidanaan & Batas Berlakunya Hukum Pidana, Jakarta: PT Grafindo Persada.. Norton

Sedangkan obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik), atau campuran dari bahan