KOMIK SEBAGAI KOLEKSI PERPUSTAKAAN
UMUM KOTAMADYA JAKARTA PUSAT
Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi (S.IP)
Oleh
Mety Dwi Puspita
NIM: 104025000869
PROGRAM STUDI ILMU PERPUSTAKAAN DAN INFORMASI
FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
LEMBAR PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa:
1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi
salah satu persyaratan memperoleh gelar strata 1 di UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta.
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan
sesuai dengan ketentuan yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau
merupakan jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima
sanksi yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Jakarta, 4 Desember 2008
KOMIK SEBAGAI KOLEKSI PERPUSTAKAAN UMUM KOTAMADYA JAKARTA PUSAT
Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Adab dan Humaniora untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi (S.IP)
Oleh Mety Dwi Puspita NIM: 104025000869
Pembimbing
Ida Farida, MLIS NIP. 150 299 935
PROGRAM STUDI ILMU PERPUSTAKAAN DAN INFORMASI FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
PENGESAHAN PANITIA UJIAN
Skripsi berjudul KOMIK SEBAGAI KOLEKSI PERPUSTAKAAN
UMUM KOTAMADYA JAKARTA PUSAT telah diujikan dalam sidang munaqasyah Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada
15 Januari 2009. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat memperoleh
gelar Sarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi (S.IP) pada Program Studi Ilmu
Perpustakaan dan Informasi.
Jakarta, 23 Februari 2009
Sidang Munaqasyah
Ketua Jurusan, Sekretaris Jurusan,
Rizal Saiful-Haq, MLS Pungki Purnomo, MLS
NIP. 780 005 380 NIP. 150 295 486
Penguji, Pembimbing,
Pungki Purnomo, MLS Ida Farida, MLIS
ABSTRAK
METY DWI PUSPITA
Komik sebagai Koleksi di Perpustakaan Umum Kotamadya Jakarta Pusat
KATA PENGANTAR
Bismillahirahmanirrahim
Puji serta syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah
memberikan nikmat iman, Islam, dan kesehatan kepada penulis sehingga
penulisan skripsi ini dapat penulis selesaikan dengan baik. Shalawat dan salam
tercurah kepada panutan kita Nabi Muhammad SAW, yang telah membawa kita
dari zaman jahiliyah ke zaman yang terang benderang ini.
Setelah pengerjaan yang penuh perjuangan ini, akhirnya penulis dapat
menyelesaikan skripsi ini. Oleh karena itu, penulis ingin mengucapkan terima
kasih kepada semua pihak yang telah membanu proses pengerjaan skripsi ini,
yaitu:
1. Bapak Abd. Chair selaku Dekan Fakultas Adab dan Humaniora
2. Bapak Rizal Saiful-Haq selaku Kepala Jurusan Ilmu Perpustakaan dan
Informasi
3. Bapak Pungki Purnomo selaku Sekretaris Jurusan Ilmu Perpustakaan dan
Informasi dan selaku penguji
4. Ibu Ida Farida selaku dosen pembimbing yang telah memberikan masukan,
bimbingan, dan kritik. Terima kasih telah meluangkan waktu, tenaga, dan
pikiran untuk membantu penulis
5. Seluruh dosen jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi atas transfer ilmunya
6. Seluruh pihak Perpustakaan Umum Kotamadya Jakarta Pusat: Ibu Yusnidar
selaku Kepala Perpustakaan, Bapak Daldiri, Ibu Sarti, Ibu Ana, dan semua
bagian yang tidak dapat saya sebut satu per satu. Terima kasih atas kesediaan
dan kerjasamanya selama penulis melakukan penelitian.
7. Kedua orangtua penulis: Bapak Djatmiko dan Ibu Pudji Astuti yang telah
dengan sabar mengasuh dan mendidik hingga membiayai pendidikan penulis.
Terima kasih kepada kakak penulis, Ikhsan Eko Nugroho, SE yang telah
mengantar penulis ke tempat penelitian dan kepada adik penulis Imay Tri
Setiawan yang telah sering menemani penulis ke warnet.
8. Keluarga besar SMP Negeri 1 Pamulang yang telah memberi kesempatan
penulis untuk menggunakan ilmunya walaupun penulis belum menamatkan
studi. Terima kasih kepada Bapak Drs. H.U.R. Wahyudin, MM. selaku mantan
Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Pamulang, Ibu Hj. Rita Juwita, S.Pd selaku
Kepala Sekolah, Ibu Yayat Hayati Nufus dan Bapak Saprudin selaku Wakil
Kepala Sekolah. Tak lupa semua guru SMP Negeri 1 Pamulang dan juga
bagian Tata Usaha yang tak dapat saya daftar satu per satu.
9. Untuk Yana Andriyani, thanks to be my best friend. You know what? You’re
my savior when I’m feel lonely in this world. Terima kasih Allah, karena
engkau telah mempertemukan aku dengan Yana saat kelas 3 SMP.
10. Untuk sahabat-sahabatku di SMA Negeri 1 Ciputat: Annisa Listyana, Lisa
Adha Melisari, Dwi Luthfiana, Jumrawati, jangan putus persahabatan kita.
Jangan lupa karena setiap Ramadhan kita pasti mengadakan buka puasa
bersama. Juga, untuk semua guru-guru di SMA Negeri 1 Ciputat dan SD
11. Untuk sahabat dan teman jurusan IPI angkatan 2004, Puji, Retna, Ien (Riana),
Wiwie (Nurul), Dian, Agil, Gigih, Indra dan teman-teman lain baik SL dan
LS. Takdir telah mempertemukan kita di jurusan ini.
12. Untuk semua sahabat dan temanku yang lain: Salbiah, Mirza, Nanda,
Wulandari, anak-anak SMP Negeri 1 Pamulang: Theresia, Andrea Prita,
Denise, Anindira, Fitriana, Gabriella, dan yang lainnya, terima kasih sudah
mengisi kehidupanku.
13. Untuk keluarga Ibu Karlina Helmanita dan adik-adik di Sanggar “Jendela
Dunia” atas penyambutan yang baik kepada penulis dalam merintis taman
bacaan bagi sanggar.
Semoga skripsi ini bermanfaat bagi semua yang membacanya, yaitu bagi
mahasiswa, dosen, maupun masyarakat pada umumnya.
Jakarta, 4 Desember 2008
DAFTAR ISI
ABSTRAK...i
KATA PENGANTAR...ii
DAFTAR ISI...v
DAFTAR TABEL...viii
DAFTAR GAMBAR...ix
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah...1
B. Perumusan Masalah ...8
C. Tujuan Penelitian ...9
D. Manfaat Penelitian ...9
E. Metodologi Penelitian ...10
F. Sistematika Penulisan ...13
BAB II TINJAUAN LITERATUR A. Komik ...15
1. Pengertian Komik ...15
2. Bagian-Bagian dalam Komik ...17
3. Sejarah dan Asal Usul Komik ...23
4. Fungsi Komik ...28
5. Manfaat Komik ...30
B. Komik sebagai Bacaan Anak ...36
2. Perbedaan antara Komik dengan Buku Bergambar ...37
3. Alasan Pro dan Kontra Komik sebagai Bacaan Anak...39
4. Sensor dan Rating dalam Komik ...41
C. Pengembangan Koleksi...52
1. Penyusunan Kebijakan Koleksi ...53
2. Seleksi Bahan Pustaka...55
3. Pengadaan...60
4. Penyiangan ...61
D. Komik sebagai Koleksi Perpustakaan Umum ...62
1. Pengorganisasian ...63
2. Pembinaan dan Pengembangan ...63
E. Sikap ...64
1. Pengertian dan Proses Pembentukan Sikap...64
2. Fungsi Sikap ...66
3. Komponen/ Aspek Sikap...66
4. Ciri-Ciri Sikap ...67
5. Jenis Sikap ...68
6. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Terbentuknya Sikap ....69
BAB III TINJAUAN UMUM PERPUSTAKAAN A. Sejarah Perpustakaan Umum Kotamadya Jakarta Pusat...70
B. Visi, Misi, Tujuan, Sasaran, Tugas Pokok, dan Fungsi Perpustakaan...72
D. Syarat, Hak, Kewajiban Anggota, Peraturan, Jadwal Buka,
Fasilitas, dan Layanan Perpustakaan ...76
E. Tinjauan Lingkungan dan Ruang Lingkup Perpustakaan ...79
F. Bidang Kegiatan Perpustakaan Umum Kotamadya Jakarta Pusat...81
BAB IV HASIL PENELITIAN A. Sikap Pustakawan Terhadap Keberadaan Komik sebagai Bagian dari Koleksi ...95
B. Pengembangan Koleksi Komik di Perpustakaan Umum Kotamadya Jakarta Pusat ...106
C. Standar Seleksi yang Diberlakukan dalam Hal Pengadaan Komik ... 110
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan...112
B. Saran ...113
DAFTAR PUSTAKA...116
DAFTAR TABEL
1. Tabel 1 Klasifikasi Rating ...43
DAFTAR GAMBAR (ILUSTRASI)
1. Gambar Panel Tunggal...16
2. Contoh-contoh Onomatope ...18
3. Balon Kata/ Dialog Standar ...19
4. Kreasi Lain Balon Kata/ Dialog...20
5. Panel Komik ...21
6. Bagian-Bagian Komik...22
7. Komik Yellow Kids...25
8. Komik Program Tanggap Bencana Tsunami Indonesia...31
9. Komik Cerita Nabi Isa A.S...32
10. Komik Strip Panji Koming ...33
11. Komik Iklan Produk Susu ...34
12. Komik sebagai Media Pembelajaran...35
13. Contoh Buku Bergambar...37
14. Struktur Organisasi Perpustakaan Umum Kotamadya Jakarta Pusat...74
15. Lokasi Perpustakaan Umum Kotamadya Jakarta Pusat ...81
16. Proses (Alur) Pengadaan Koleksi PerpustakaanUmum Kotamadya Jakarta Pusat ...84
17. Proses (Alur) Pengolahan Koleksi ...88
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Bacaan anak sebagai koleksi sebuah perpustakaan umum sangat multak
keberadaannya. Hal ini disebabkan karena tidak ada batasan usia pemakai
perpustakaan umum. Pemakai perpustakaan umum adalah semua anggota lapisan
masyarakat, bahkan dari strata sosial manapun, seperti yang disebutkan dalam ciri
perpustakaan umum yang diungkapkan oleh Sulistyo Basuki yaitu: terbuka untuk
umum artinya terbuka bagi siapa saja tanpa memandang perbedaan jenis kelamin,
agama, kepercayaan, ras, usia, pandangan politik dan pekerjaan.1
Komik merupakan salah satu jenis bacaan yang oleh banyak kalangan
digolongkan sebagai bacaan anak. Namun, pada kenyataannya keberadaan komik
sebagai bacaan anak sebelah mata. Alasan dianaktirikannya komik antara lain
karena banyak kalangan yang menilai isi dan cerita pada komik tidak mendidik.
Perbuatan yang digambarkan dalam komik terlalu keras, brutal, dan kasar.
Selain itu, banyak yang mengemukakan bahwa komik menghambat
kecerdasan anak dikarenakan bahasa dalam komik tidak sesuai dengan kaidah dan
norma literer. Hal ini seperti yang diungkap oleh Marcel Bonneff:
“Mengenai bahasa, dengan cepat dapat ditemukan unsure-unsur yang tidak memenuhi criteria bacaan yang baik; penggunaan tanda baca yang tidak tepat, kerap digunakan singkatan, kesalahan tata bahasa, dan bahkan ejaan.”2
1
Sulistyo Basuki, Pengantar Ilmu Perpustakaan (Jakarta: Gramedia, 1993), h. 46.
2
Penulis berpendapat komik bukanlah bacaan yang digolongkan sebagai
bacaan anak semata. Komik merupakan jenis bacaan yang dapat disamaratakan
dengan bacaan lain (misalnya novel dan buku non-fiksi). Sama halnya dengan
buku lainnya, komik dapat dikelompokkan menjadi bacaan anak, remaja, dan
dewasa, tergantung pada tema serta isi dari bacaan tersebut.
Anggapan negatif masyarakat Indonesia mengenai cerita komik diperparah
dengan munculnya komik Crayon Shinchan yang kemudian diikuti dengan
tayangan animasinya di televisi. Karya Yoshito Usui ini sebetulnya di negeri
asalnya, Jepang, adalah bacaan dewasa. Di Indonesia, karena tokoh utamanya
adalah anak-anak, lantas diterbitkan begitu saja sebagai bacaan anak. Setelah
muncul pendapat miring di masyarakat, barulah komik ini diberi label “untuk 15
tahun ke atas” oleh penerbitnya.3 Inilah kesalahkaprahan orang Indonesia yang
menganggap bahwa komik adalah bacaan khusus anak-anak.
Visualisasi komik dapat menarik perhatian anak untuk mendorongnya
menyukai membaca. Komik yang menampilkan gambar sebagai sajian utama
menjadikannya sebagai daya pikat para pembaca muda.
Menurut Mary Leonhardt dalam bukunya “99 Cara Menjadikan Anak
Anda Keranjingan Membaca”, tak mengapa menyediakan komik sebagai bacaan
untuk anak, terutama bagi anak yang masih dalam tahap belajar dan memiliki
kelemahan membaca.
“…Saya kira komik adalah buku cerita yang sangat menarik. Karena anak saya adalah pembaca visual, maka melalui gambar-gambar biasanya mereka dapat mengetahui kata-kata yang tidak mereka ketahui…”4
3
Donny Anggoro, “Terdakwa Itu adalah Komik,” artikel diakses pada 15 Februari 2008 dari http://www.sinarharapan.co.id/hiburan/budaya/2005/0625/bud2.html
4
Bahkan, Marcel Bonneff menyatakan komik dapat menjadi wahana agar
tetap berhubungan dengan bahasa tulis bagi orang-orang yang putus sekolah.5
Banyak judul komik yang isinya mendidik dan merangsang anak untuk
membaca. Dari komikus negeri sendiri, terdapat komik berjudul Archi dan Meidy.
Komik ini merupakan komik sains buah ide dari Yohanes Surya. Komik ini
bercerita mengenai Archi dan Meidy yang berusaha memecahkan misteri
menggunakan ilmu pengetahuan. Tiap cerita berisi satu konsep sains, sehingga
secara tak sadar pembaca sesungguhnya sedang belajar sains. Hal ini sungguh
baik karena akan menggiring anak-anak untuk menyukai pelajaran sains.6
Ada pula biografi tokoh yang disajikan dengan bentuk komik. Misalnya,
seri Biografi Tokoh Dunia terbitan Gramedia Pustaka Utama. Saat ini, seri
tersebut sudah mencapai banyak seri. Judul-judul dalam seri Biografi Tokoh
Dunia antara lain adalah Ludwig van Beethoven, Mahatma Gandhi, Isadora
Duncan, Isaac Newton, Hans Christian Andersen, Albert Einstein, dan Walt
Disney. Dari banyaknya cetakan ulang dari tiap-tiap judul, dapat disimpulkan
bahwa seri ini sungguh diminati oleh pembaca karena buku biografi tokoh dan
kejadian sejarah tak lagi dirasakan membosankan untuk dibaca.
Dengan pertimbangan bahwa sesungguhnya komik bukanlah bacaan yang
negatif bila dilihat dari sisi lain dan untuk mengetahui sikap pustakawan mengenai
koleksi komik dalam perpustakaan yang dikelolanya, maka penulis membahas
skripsi dengan judul “Komik sebagai Koleksi Perpustakaan Umum Kotamadya
Jakarta Pusat”.
5
Marcel Bonneff, Komik Indonesia, h. 99.
6
Dari penelitian ini akan diketahui seperti apa sikap para pustakawan di
Perpustakaan Kotamadya Jakarta Pusat terhadap komik yang juga merupakan
bagian dari koleksi perpustakaan, pengembangan koleksi komik, dan standar
penyeleksian mereka terhadap bacaan ini.
Sebelum penelitian ini, terdapat pula penelitian sebelumnya (skripsi)
mengenai komik dengan judul “Bacaan Komik di Perpustakaan Anak” yang
ditulis oleh Saraswati Indira dari Fakultas Sastra Jurusan Ilmu Perpustakaan
Universitas Indonesia Depok pada tahun 1985, dengan jabaran sebagai berikut:
Permasalahan:
1. Apakah komik yang sebenarnya?
2. Apakah bacaan anak itu?
3. Perbedaan antara komik dengan buku bergambar?
4. Unsur-unsur apa apa saja yang membuat anak tertarik membaca komik?
5. Alasan dari pihak yang pro maupun kontra komik dibaca anak?
6. Bagaimana sikap perpustakaan terhadap bacaan komik?
Subyek: bacaan komik dalam bentuk buku yang dikenal dengan istilah komik. Obyek: Perpustakaan Anak Balai Pustaka, Perpustakaan Umum bagian anak DKI Jakarta, dan Perpustakaan Naka Taman Ismail Marzuki.
Metode Penulisan:
Untuk memperoleh data, digunakan teknik pengumpulan data berupa tinjauan
literatur, observasi ke tempat-tempat penjualan komik serta kunjungan ke
Tujuan penelitian:
1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan komik mengingat kata ‘komik’
memilki konotasi banyak.
2. Mengetahui asal usul dan sejarah komik sebagai bacaan.
3. Mengetahui sejak kapan anak mulai mengenal komik serta unsur-unsur apa
saja yang membuat anak menyukainya.
4. Mengetahui perbedaan komik dengan buku bergambar.
5. Mengetahui sikap dan tindakan perpustakaan terhadap komik.
Hasil penelitian:
1. Komik tidak selalu berarti bacaan yang harus dihindari; sebab ‘komik’ adalah
istilah untuk penyampaian gagasan yang disajikan dalam corak komik.
2. Penyajian bercorak komik ialah penyajian materi secara visual dengan
memakai rangkaian gambar. Rangkaian gambar ini dilengkapi dengan urutan
cerita, teks percakapan, teks perasaan, teks penjelas gambar serta bingkai.
3. Dalam wawasan yang luas komik dapat dimanfaatkan sebagai alat pelajaran,
menimbulkan motivasi serta alat menyampaikan informasi kepada
masyarakat.
4. Sejarah komik Indonesia tidak bermula dari popularitas komik Amerika yang
dimuat oleh surat kabar yang terbit pada tahun 30-an. Sebab penyajian
gagasan dengan menggunakan media gambar sudah lama dikenal jauh
sebelum komik Amerika masuk ke Indonesia; hanya bentuknya tidak seperti
sekarang, contoh: relief candi dan wayang beber.
5. Kesenangan anak akan komik dimulai sejak usia dini, yaitu sejak usia 2 atau 3
untuk selanjutnya berangsur-angsur menurun sesuai dengan pertambahan usia
dan pendidikannya.
6. Anak menyukai komik karena:
a. Adanya kemudahan dalam pemahaman cerita.
b. Penyajian materi yang menarik sebab diwarnai oleh gerak yang dinamis
sehingga komik mampu mengikat pembaca mengikuti jalannnya cerita
hingga selesai.
c. Materi cerita yang bervariasi memungkinkan anak memilih komik dengan
cerita tertentu yang disukainya.
d. Adanya kemungkinan ditemukannya tokoh identifikasi dalam diri tokoh
cerita komik. Sebab biasanya tokoh komik digambarkan sebagai tokoh
yang kuat, berani, tampan/ cantik, serba bisa, dan sebagainya.
7. Buku bergambar diciptakan dengan mempertimbangkan unsur-unsur yang
sesuai dengan kemampuan serta usia anak dengan tujuan untuk mengimbangi
popularitas komik; hanya sayangnya buku bergambar tidak memberikan kesan
dinamis seperti yang dimiliki komik.
8. Melarang anak untuk tidak membaca komik adalah tindakan yang sia-sia,
maka alternatif yang ada ialah:
a. Memperbaiki mutu komik
b. Pengawasan dan bimbingan orangtua kepada anaknya dalam memilih
komik.
c. Menempatkan komik-komik pilihan anak di ruang kelas secara bebas,
sehingga dapat diperoleh kriteria bagi komik yang baik dan komik yang
d. Menyediakan bacaan pengganti komik; bacaan tersebut memiliki cirri
tertentu yang pada dasarnya dapat bersaing dengan komik.
9. Sebagai bacaan yang disuakai anak, komik dapat dimanfaatkan sebagai:
a. Sarana untuk memperkenalkan anak kepada bacaan selain komik.
b. Bacaan bagi mereka yang berkemampuan baca rendah.
c. Sarana untuk memperkenalkan perpustakaan sebagai sumber yang dapat
diandalkan untuk memperoleh informasi dan bacaan.
10. Sikap perpustakaan: komik sebagai bacaan anak merupakan bagian dari ketiga
perpustakaan yang diteliti. Dengan demikian ketiga perpustakaan tersebut
tidak menganggap komik sebagai bacaan yang harus dihindari anak.
11. Pedoman pemilihan:
a. Ketiga perpustakaan yang diteliti belum memiliki pedoman yang ditulis
dan terperinci mengenai unsur apa saja yang perlu diperhatikan oleh
petugas yang menangani pemilihan koleksi.
b. Pokok-pokok pikiran di bawah ini dapat membantu petugas bagian
pemilihan untuk menentukan koleksi komik bagi perpustakaannya:
1) Memahami alasan dimasukkannya komik sebagai bagian koleksi
perpustakaan.
2) Mengetahui serta menerapkan teori bacaan anak.
3) Memiliki pengetahuan tentang aspek-aspek yang harus diperhatikan
dalam memilih komik.
12. Koleksi
a. Penempatan: koleksi komik tidak selalu harus ditempatkan pada jajaran
buku bergambar seperti yang dilakukan oleh ketiga perpustakaan yang
diteliti. Misalnya, jika komik dimaksudkan sebagai sarana menuju bacaan
selain komik, maka koleksi dapat diletakkan berdekatan dengan koleksi
buku fiksi maupun non-fiksi.
b. Jumlah: besar kecilnya koleksi komik di sebuah perpustakaan tergantung
dari kebijakan masing-masing perpustakaan.
13. Tinjauan koleksi: koleksi komik di ketiga perpustakaan sebagian besar berupa
komik terjemahan. Banyaknya komik terjemahan mempunyai akibat positif
dan negatif. Segi positif, anak Indonesia dapat menimati karya pengarang
terkenal dunia tanpa menungggu sampai mereka mampu membaca
karya-karya tersebut dalam bentuk aslinya. Segi negatifnya, komik terjemahan
membuat anak Indonesia menjadi akrab denga pola perbuatan, nilai hidup dari
tokoh asing. Selain itu, juga merangsang timbulnya anggapan bahwa sesuatu
yang berasal dari luar negeri adalah lebih baik daripada sesuatu yang berasal
dari negeri sendiri.
B. Perumusan Masalah
Adapun permasalahan yang akan dibahas pada skripsi ini dapat
dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana sikap pustakawan terhadap keberadaan komik sebagai bagian dari
2. Bagaimana pengembangan koleksi komik di Perpustakaan Umum Kotamadya
Jakarta Pusat?
3. Apa saja standar seleksi yang diberlakukan dalam hal pengadaan komik?
C. Tujuan Penelitian
Penelitian yang penulis adakan bertujuan untuk:
1. Untuk mengetahui sikap pihak Perpustakaan Umum Kotamadya Jakarta Pusat
dalam menyikapi keberadaan komik sebagai bagian dari koleksi.
2. Untuk mengetahui pengembangan koleksi komik di Perpustakaan Umum
Kotamadya Jakarta Pusat.
3. Untuk mengetahui standar seleksi yang diberlakukan dalam hal pengadaan
komik pada Perpustakaan Umum Jakarta Pusat.
D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Akademis
Untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam meraih gelar kesarjanaan
strata satu (S1) Fakultas Adab dan Humaniora Jurusan Ilmu Perpustakaan dan
Informasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Manfaat Praktis
a. Untuk Perpustakaan, dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat
memberikan masukan yang berguna.
b. Untuk penulis sebagai sarana untuk menambah wawasan praktek dalam
pelaksanaan perpustakaan.
E. Metodologi Penelitian 1. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analisis, yaitu penelitian
yang bertujuan untuk memperoleh informasi mengenai sikap pustakawan terhadap
komik sebagai koleksi dan bacaan anak. Penelitian ini bertujuan untuk membuat
deskripsi, gambaran, atau lukisan secara sistematis, fakual, dan akurat mengenai
fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki.7
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode pendekatan penelitian
kualitatif. Penelitian kualitatif menghasilkan dan mengolah data yang sifatnya
deskriptif, seperti transkripsi wawancara, catatan lapangan, gambar, foto, rekaman
video, dan lain sebagainya.8
2. Sumber Data
Sumber data yang digunakan antara lain:
a. Sumber data primer
Sumber data primer adalah sumber data yang diperoleh langsung dari staf
perpustakaan.
b. Sumber data sekunder
Sumber data sekunder adalah data yang diperoleh dari buku dan
dokumen-dokumen lain.
3. Metode Pengumpulan Data
Adapun metode yang digunakan penulis untuk mendapatkan data dan informasi
dalam penelitian ini adalah:
7
Moh. Nasir, Metode Penelitian (Jakarta: Ghalia Indonesia, 2003), h. 54.
8
a. Library research (riset kepustakaan), yaitu penelitian melalui buku, literatur,
dan artikel baik cetak maupun online yang dimaksudkan untuk mendapatkan
gambaran teoritis yang berhubungan dengan masalah yang diteliti.
b. Field research (penelitian lapangan), yaitu penelitian dengan terjun langsung
ke lapangan demi mendapatkan data secara langsung dari objek penelitian,
dengan cara:
1) Observasi : mengamati langsung objek penelitian untuk mendapatkan
data yang diperlukan dalam penulisan skripsi ini.
2) Wawancara : digunakan untuk memperoleh informasi yang lebih
mendalam tentang masalah yang berkaitan dengan penelitian. Metode ini
merupakan metode penelitian utama yang digunakan oleh penulis.
Wawancara dilakukan kepada dua orang responden yaitu Bapak Daldiri
selaku Kasie Pengolahan dan Pelestarian Perpustakaan Umum Jakarta
Pusat dan Ibu Sarti selaku pustakawan Perpustakaan Umum Kotamadya
Jakarta Pusat. Wawancara dilakukan pada hari yang sama, yaitu pada
tanggal 29 Oktober 2008 di kantor Perpustakaan Umum Kotamadya
Jakarta Pusat. Durasi dari masing-masing wawancara adalah 20 menit 45
detik ditambah 14 menit 49 detik untuk Ibu Sarti dan 25 menit 53 detik
untuk Bapak Daldiri. Wawancara direkam pada media MP3. Hasil
wawancara tersebut dibuat draftnya. Untuk Bapak Daldiri, penulis
melakukan wawancara tambahan, yaitu pada tanggal 24 November 2008.
Penulis melakukan wawancara terbuka dengan menggunakan pedoman
wawancara. Jalannya wawancara diusahakan santai dan layaknya hanya
secara terbuka berdasarkan dari pengalaman-pengalaman mereka.
Terkadang muncul pula pertanyaan yang tidak terdapat pada pedoman
wawancara akibat reaksi penulis terhadap jawaban yang dilontarkan oleh
responden.
4. Subyek dan Obyek Penelitian
Subyek penelitian adalah tempat diadakannya penelitian, yaitu
Perpustakaan Umum Kotamdya Jakarta Pusat (khususnya pustakawannya),
sedangkan obyek penelitian ini adalah masalah yang ingin diketahui dari sumber,
yaitu mengenai komik sebagai salah satu koleksi di Perpustakaan Umum
Kotamadya Jakarta Pusat.
5. Teknik Analisis Data
Tahapan yang dilakukan untuk menganalisa data kualitatif adalah:
a. Mengumpulkan data melalui riset kepustakaan dan observasi awal ke
perpustakaan.
b. Menyusun draft wawancara sehingga peneliti mempunyai pedoman
wawancara pada saat interview dilangsungkan.
c. Menganalisis data dengan menghubungkan data yang diperoleh melalui riset
kepustakaan dengan data yang ditemukan melalui wawancara dan observasi.
d. Membahas hasil wawancara pada bab hasil penelitian.
Data yang diperoleh dituangkan dalam bentuk deskriptif yang bertujuan
untuk menjelaskan permasalahan untuk menemukan jawaban yang diharapkan
disertai dengan alasan. Hasil analisa data adalah berupa pemaparan fakta-fakta
F. Sistematika Penulisan
Akan dijelaskan satu persatu bab-bab yang terdapat pada tulisan ini, yaitu :
BAB I PENDAHULUAN
Pada bab ini berisi latar belakang masalah, pembatasan dan perumusan
masalah, tujuan dan manfaat penelitian, metode penelitian, dan sistematika
penulisan.
BAB II TINJAUAN LITERATUR
Bab ini berisi pengertian komik dan bacaan anak, bagian-bagian dalam
komik, sejarah dan asal usul komik, fungsi komik, manfaat komik, perbedaan
antara komik dengan buku bergambar, alasan pro dan kontra komik sebagai
bacaan anak, serta unsur-unsur apa saja yang membuat anak tertarik pada komik,
sensor dan rating dalam komik, serta komik sebagai koleksi perustakaan umum di
Brazil.
Selain hal-hal yang berkaitan dengan komik, dalam bab ini penulis juga
memaparkan sub-bab mengenai pengembangan koleksi, dengan rincian penjelasan
tentang kebijakan pengembangan koleksi, seleksi bahan pustaka, pengadaan, dan
penyiangan.
Dikarenakan skripsi ini mencakup bahasan sikap, maka dalam tinjauan
literatur, dijabarkan pula mengenai sikap. Penjabaran mengenai sikap terdiri atas
sub-bab pengertian dan proses pembentukan sikap, fungsi sikap, komponen/ aspek
sikap, ciri-ciri sikap, jenis sikap, serta faktor-faktor yang mempengaruhi
BAB III TINJAUAN UMUM PERPUSTAKAAN
Pada bab ini diuraikan mengenai profil perpustakaan, tugas dan fungsi
perpustakaan, struktur organisasi perpustakaan, dan hal-hal lain yang berkaitan
dengan perpustakaan yang bersangkutan.
BAB IV HASIL PENELITIAN
Berisi pembahasan dari hasil penelitian yang telah dilakukan di
Perpustakaan Umum Kotamadya Jakarta Pusat.
BAB V PENUTUP
Pada bab ini berisi kesimpulan dari pembahasan skripsi dan penulis
BAB II
TINJAUAN LITERATUR
A. Komik
1. Pengertian Komik
Kata komik berasal dari bahasa Perancis comique. Sebagai kata sifat,
comique berarti lucu atau menggelikan dan sebagai kata benda artinya pelawak
atau badut. Comique sendiri berasal dari bahasa Yunani komikos. Disebut komik
karena pada zaman dahulu cerita komik mengacu kepada cerita-cerita humoristis
atau satiris untuk menghibur khalayak.9
Scott McCLoud, dalam bukunya Understanding Comics menyebutkan
definisi berbeda mengenai komik, yaitu:
“Ko-mik: kata benda. 1. Gambar-gambar serta lambang-lambang lain yang terjukstaposisi10 dalam urutan tertentu, untuk menyampaikan informasi dan/ atau mencapai tanggapan estetis dari pembacanya. 2. Tokoh-tokoh pahlawan super berkostum warna cerah melawan penjahat, yang ingin menguasai dunia dengan segala tindak kekerasan yang sensasional. 3. Kelinci, tikus dan beruang lucu, berdansa dengan riang. 4. Sesuatu yang merusak mental remaja negara kita.”11
Definisi yang lebih khusus mengenai komik diberikan oleh David Kunzle
(dalam Harrison: 87) yang dikutip oleh Saraswati Indira:
“(1) harus terdiri dari potongan-potongan gambar yang terpisah, (2) jumlah gambar harus jauh lebih banyak daripada teks, (3) media bagi komik strip harus media cetak yang reproduktif, merupakan media massa, (4) penggambaran cerita harus bertutur tentang moral atau topik-topik tertentu.”
9
Atmakusumah, “Komik”, dalam Ensiklopedia Nasional Indonesia, vol. 9(Jakarta: Delta Pamungkas, 2004), h. 54.
10
berurutan dalam jarak yang berdekatan, bersebelahan (istilah dalam sekolah seni).
11
Dalam Ensiklopedi Nasional Indonesia disebutkan bahwa:
“Komik adalah cerita gambar serial sebagai perpaduan karya seni rupa atau seni gambar dan seni sastra. Di Perancis, orang menyebutnya sastra ekspresi grafis. Komik berbentuk rangkaian gambar, masing-masing dalam kotak, yang keseluruhannya merupakan rentetan satu cerita. Gambar-gambar itu umumnya dilengkapi balon-balon ucapan dan ada kalanya masih disertai narasi sebagai penjelasan. Komik dimuat secara tetap sebagai cerita bersambung dalam majalah dan surat kabar, atau diterbitkan sebagai buku dan dalam bentuk majalah.
Dalam bahasa Inggris, komik sekali muat atau bersambung dalam penerbitan pers disebut comic strip atau strip cartoon. Komik yang diterbitkan dalam bentuk buku disebut comic book. Secara umum, seluruhnya disebut comics.”12
Dari berbagai definisi yang telah disebut, unsur utama komik merupakan
gambar. Namun, banyak juga beredar buku bacaan lain yang memuat banyak
gambar dan memiliki teks, namun teks hanya berupa narasi. Bacaan yang
memiliki banyak gambar dan memiliki teks tetapi teks percakapan tidak
menggunakan balon, maka buku tersebut bukanlah komik. Buku tersebut
dikategorikan sebagai cerita bergambar. Hal ini dikarenakan dalam komik
terdapat unsur/ bagian yang menjadikannya sebagai ciri khas yang membedakan
komik dengan bacaan lainnya.
Lalu, bagaimana dengan gambar pada panel tunggal seperti di bawah ini?
Gambar 1 Panel Tunggal
Sumber gambar: http://www.acehinstitute.org/humaniora_jumat_230207.htm diakses pada 2 November 2008
12
Scott McCloud menyebutkan panel tunggal sering dianggap sebagai komik
namun sesungguhnya bukan.
“Panel tunggal seperti ini sering dianggap sebagai komik, padahal tidak ada turutan yang hanya terdiri dari satu bagian. Panel tunggal bisa digolongkan sebagai “seni komik” karena menggunakan sebagian perbendaharaan visual komik.”13
Dari berbagai definisi komik di atas, penulis berpendapat definisi komik
adalah suatu bacaan yang penyajiannya berbentuk gambar dan simbol lain dalam
panel-panel, dapat dilengkapi dengan ataupun tanpa teks. Bila dengan teks,
perkataan dari para tokohnya akan disajikan dalam balon dialog. Isi cerita
tergantung dari tema, sehingga komik tidak hanya digolongkan sebagai bacaan
anak.
2. Bagian-bagian dalam Komik
Seperti yang sudah dijelaskan dalam pengertian komik, terdapat beberapa
unsur/ bagian yang menjadi ciri khas dari komik.
Selain unsur gambar, komik memerlukan sarana untuk menyampaikan
materi atau gagasan, yaitu: teks, balon dialog, balon perasaan dan bingkai.
Adapun fungsi dari sarana tersebut adalah:
a. Teks, yaitu teks percakapan, teks perasaan, teks penjelas gambar (narasi), dan
onomatope. Teks percakapan berisi materi yang sedang dipersoalkan; teks
perasaan berisi jalan pikiran atau suara batin, teks penjelas gambar yang
ditempatkan di atas atau di bawah berfungsi untuk menambah kejelasan,
misalnya untuk menunjukkan pergantian waktu, lokasi, sedangkan onomatope
adalah teks yang bacaannya meniru bunyi yang tercantum dalam gambar,
seperti bunyi dor untuk tembakan, bruk untuk benda jatuh, dan deg-deg untuk
13
suara hati yang berdebar-debar. Toni Masdiono menyebut onomatope dengan
istilah sound lettering (huruf bunyi-bunyian). Setiap komikus memiliki gaya
tersendiri dalam menggambarkan onomatope.
Gambar 2 Contoh-contoh Onomatope
b. Balon kata/ dialog, berfungsi untuk menempatkan teks percakapan yang
dilakukan oleh tokoh cerita, sedangkan balon perasaan berisi ungkapan
perasaan, suara batin. Perbedaan dari kedua jenis balon tersebut terletak pada
penggambaran ujung balon. Pada balon perasaan ujung balon dilukiskan
terputus-putus atau dengan bulatan-bulatan yang makin lama makin kecil ke
arah mulut atau kepala tokoh, sedangkan pada balon dialog ujung balon
dilukis tanpa terputus-putus. Namun, seiring dengan perkembangan banyak
komikus yang berkreasi pada penggambaran balon kata.
Gambar 3Balon Kata/ Dialog standar
Gambar 4 Kreasi Lain Balon Kata/ Dialog
c. Bingkai/ panel, berguna sebagai batas antara peristiwa yang satu dengan
peristiwa lain. Pada mulanya bingkai berbentuk segi empat, tetapi sekarang
bentuknya bervariasi tergantung dari selera komikus.14
Gambar 5 Panel Komik
Sumber gambar: Toni Masdiono, 14 Jurus Membuat Komik (Jakarta: Creativ Media), h. 28
14
Teks penjelas gambar (narasi)
Panel/ bingkai
Balon perasaan, berisi teks perasaan
Onomatope
balon kata yang berisi
teks percakapan
Gambar 6 Bagian-bagian Komik
3. Sejarah dan Asal Usul Komik
Sejarah komik bermula pada masa pra-sejarah di Gua Lascaux, Prancis
Selatan. Banyak ditemukan gambar-gambar bison (jenis banteng atau kerbau
Amerika) yang dilukis pada dinding gua.15
Sementara itu, pada tahun 3000 sebelum Masehi, seniman dari Mesir
menjadikan papirus sebagai media untuk menggambar kartun binatang. Begitu
juga dengan bangsa Romawi yang sudah biasa mengambar kartun satire pada
tabula.16
Di Indonesia, cikal bakal komik banyak dipengaruhi oleh agama Budha,
Hindu, dan Islam. Hal ini terlihat pada relief Candi Borobudur yang bercerita
mengenai riwayat Sang Budha, relief Candi Prambanan yang berkisah tentang
Ramayana, juga pada candi-candi sekitar abad ke-18 yang terdapat gambar kuno
di atas kertas dengan tinta berwarna dengan keterangan teks beraksara Arab dalam
bahasa Jawa.17
Perkembangan komik menurut Wall dan Walker, seperti yang dikutip oleh
Dina Listiorini, dimulai dari komik strip yang diperkenalkan melalui surat kabar
akhir abad 19 untuk menarik minat pembaca (Wall, Peter and Walker, 1997: 153).
Komik strip pertama di Amerika Serikat muncul pada surat kabar edisi Minggu
sebagai sisipan.18 Komik strip pertama adalah karya James Swinnerton berjudul
The Little Bear and Tigers pada tahun 1892. Serial komik strip yang pertama kali
15
Guntur Angkat, “Selintas Sejarah Komik Indonesia,” artikel diakses pada 15 Februari 2008 dari
http://re-searchengines.com/art05-72.html. Penulis adalah dosen di Universitas Tarumanagara Jakarta, bergelar SS.n
16
David Manning White, “Comics,” dalam Encyclopedia Americana, vol. 7 (New York: Americana Corp., 1975), h. 370.
17
Angkat, “Selintas Sejarah Komik Indonesia.”
18
sukses secara besar-besaran adalah komik berjudul Down in Hogan’s Alley karya
Richard Outcault yang diterbitkan pertama kali di surat kabar New York World
milik Joseph Pulitzer pada tahun 1895. 19
Pada tahun 1896 penerbit Wiliam Randolph Hearst, menerbitkan komik
strip Yellow Kids dalam surat kabar Morning Journal yang merupakan surat
kabar pertama yang menampilkan sisipan komik strip berwarna. Dalam surat
kabar inilah pertama kalinya digunakan balon kata untuk menunjukkan suatu
percakapan. Cerita Yellow Kids merupakan lanjutan dari komik strip Hogan’s
Alley.20
19
E. M. Plunket, “Comic Strip,” dalam Grolier Academic Encyclopedia, vol. 5 (United States of America: Grolier International, 1983), h. 135.
20
Gambar 7 Komik Yellow Kids
Sumber gambar: http://loc.gov//rr/print/swann/artwood/aw-comics.html diakses pada 25
Komik pertama Indonesia yang diterbitkan melalui surat kabar adalah
adalah Put On karya Kho Wang Gie tahun 1930 di harian Sin Po. Komik panjang
pertama dibuat oleh Nasroen A.S. berjudul Mentjari Poetri Hidjaoe, yang dimuat
berseri pada majalah Ratoe Timoer yang terbit di Yogyakarta.21
Sekitar akhir tahun 1940-an komik-komik sisipan surat kabar Amerika
Serikat seperti Tarzan, Rip Kirby, Phantom, dan Johnny Hazard, oleh penerbit
Gapura dan Keng po dari Jakarta serta Perfects dari Malang menerbitkannya
dalam bentuk buku. Membanjirnya komik-komik bertema superhero membuat
para komikus Indonesia mengadaptasi karakter tokoh komik Amerika ke dalam
tampilan lokal. Komikus yang melakukan hal tersebut di antaranya adalah R. A.
Kosasih yang menciptakan karakter Sri Asih yang merupakan imitasi dari karakter
Wonder Woman. Karakter superhero lain yang diciptakan oleh komikus lain
adalah Siti Gahara, Puteri Bintang, Garuda Putih dan Kapten Comet. Penciptaan
karakter Garuda Putih dan Kapten Comet merupakan inspirasi dari karakter
Superman dan Flash Gordon.22
Pada akhir tahun 1960-an dan selama tahun 1970-an, eksistensi komik
semakin mendapat perhatian seperti ditunjukkan oleh pembuatan tiga film
berdasarkan karya-karya Ganes Th. Si Buta dari Goa Hantu adalah komik pertama
yang difilmkan di Indonesia pada tahun 1970, disusul dengan dua komik lainnya,
yaitu Tuan Tanah Kedawung (1972) dan Sorga yagng Hilang (1977). Komikus
lainnya yang sukes pula pada masa itu antara lain Jan Mintaraga, Teguh Santosa,
dan S. H. Mintardjo.23
21
Atmakusumah, “Komik,” h. 55
22
“Komik Indonesia,” artikel diakses pada 15 Februari 2008 dari http://id.wikipedia.org/wiki/Komik_Indonesia
23
Tahun 1970-an hingga tahun 1980-an merupakan masa subur bagi
pemasaran komik-komik terjemahan yang berasal dari luar negeri. Komik-komik
yang pada umumnya berasal dari Amerika Serikat dan beberapa Negara Eropa dan
dicetak berwarna itu menyingkirkan banyak komik hitam-putih Indonesia dari
pasaran. 24
Sejak tahun 1990 hingga sekarang, dunia perkomikan lokal mulai eksis
kembali. Komik-komik independen komikus muda Indonesia mengawali
perlawanan mereka terhadap eksistensi komik-komik impor (Amerika Serikat dan
Jepang). Banyak komikus indie yang melakukan penggandaan karya mereka
dengan menggunakan mesin foto copy untuk disebarluaskan melalui
pameran-pameran komik, baik untuk dibeli ataupun dibarter. Beberapa studio komik indie,
antara lain adalah Badjak Laoet, RED Army, Daging Tumbuh, Bengkel Qomik,
Akademi Samali, dan Mubal Komike. Komik-komik karya komikus muda
Indonesia juga mulai banyak diterbitkan.25
Namun sayang, kebangkitan komik lokal tidak diikuti dengan
kerorisinalan gaya dalam penggambaran karakter tokohnya. Pada saat ini ada dua
aliran gaya yang cenderung masih dijadikan kiblat para komikus muda Indonesia
dalam penggambaran karakternya, yaitu gaya gambar Amerika dan gaya gambar
manga (komik Jepang). Komikus dengan gaya gambar Amerika mereferensikan
karya mereka pada gaya gambar komik dari Amerika. Sebagian dari mereka
bahkan ada yang bekerja untuk produksi komik Amerka. Komikus yang dapat
dikatakan memiliki ciri gaya gambar dari komik Amerika antara lain adalah
Admiranto Wijayadi, Ahmad Thoriq, Alfi Zachkyelle, Donny Kurniawan, Pe’ong,
24
Ibid., h. 57.
25
Tony Masdiono, dan Wisnoe Lee. Sedangkan komikus Indonesia yang gaya
gambarnya condong ke arah gaya gambar komik Jepang, seperti halnya komikus
dengan aliran Amerika, mereferensikan gaya gambarnya pada komik Jepang
(dengan ciri khas menonjol yaitu penggambaran bentuk mata yang besar). Para
komikus dengan gaya ini banyak yang menggunakan nama samaran pada
karya-karyanya. Komikus aliran ini yang banyak menghasilkan karya antara lain
Sentimental Amethyst atau Hisako Ikeda (Anthony Ann), Calista, Anzu Hizawa,
Lily, dan Shinju Arisa, dan studio PETSHOP.26
4. Fungsi Komik
Suatu kelompok di Kirl, Jerman, bekerjasama dengan Malte Dahrendorf
menyusun daftar fungsi komik.
“Fungsi itu tidak perlu dianggap sebagai tujuan. Di sini soalnya berkenaan
dengan pernyataan-pernyataan umum dan kebanyakan hipotesis yang dapat
diubah menurut jenis komik dan kelompok penerimanya. Pada penyajian fungsi
komik harus diperhatikan pula persyaratan perekonomian masyarakat (pasaran,
laba, taktik promosi, konflik masyarakat, cara sosialisasi dalam masyarakat).
Berikut adalah fungsi komik, seperti yang dikutip oleh Franz dan Meier:
a. Memenuhi keperluan yang dipersyaratkan orang tua, sosial, dan masyarakat
1) Penjauhan-aku:
a) Dengan membuat otoritas sebagai tertawaan,
b) Melalui identifikasi (penyamaan) diri dengan ‘pahlawannya’, yang atas
nama pembaca ‘dapat melakukan semuanya’ (keinginan serba mampu
yang regresif).
26
2) Penyediaan benda agresi, memperbolehkan penyaluran dan pelepasan
agresivitas (rasa ingin menyerang) dan membebaskan diri dari frustasi;
suatu pemroyeksikan konflik pada benda pengganti. Benda agresi: yang
asing sebagai jenis/ ras/ bangsa; yang berkuasa (juga orang dewasa); orang
luar dalam masyarakatnya (seperti yang intelektual, kriminal).
3) Penyederhanaan masalah, model yang meringankan kehidupan dan
memberikan rasa terjamin.
4) Pelarian dari kebosanan (monotani) dan kehidupan sehari-hari
(eskapisme).
5) Kesenangan, kesantaian, kebebasan dari beban, pengisian waktu tanpa
bersusah payah.
b. Strategi/ taktik pemuasan
Pemuasan keperluan dan keinginan terjadi dalam dua tahap:
1) Imbauan terhadap keinginan tak sadar, suatu sikap yang cara berbuatnya
tabu (tak diperbolehkan) dalam masyarakat, dan karenanya menimbulkan
ketegangan, ketakutan, harapan.
2) Dan itu semuanya diatasi dengan kegiatan pahlawannya (rasa puas).
c. Kemungkinan pengaruh
1) Pemecahan konflik dan ketakutan, pembebasan dari beban (menertawakan
otoritas, seperti membayarnya kembali dengan tunai, suatu kesempatan
untuk membebaskan diri dari serangan).
2) Fungsi terapi bagi kesulitan dan keperluan yang terdapat dalam
perkembangan (petualangan, perjuangan, agresivitas).
4) Tetapi juga pembongkaran fungsi kritis, karena kebutuhan yang diinginkan
secara tak sadar masih tetap ada (pengaruh gambaran) dan demikian saja
‘dialami’ menurut fantasi.
5) Pemantapan dan karenanya pengesahan sosialisasi yang palsu (paksaan
penyesuaian, penekanan hasrat).
6) Penetapan struktur kemasyarakatan yang mendasari sosialisasi.
7) Penetralan energi yang mengubah masyarakat.
8) Membawa serta/ penerimaan yang ada dan diketahui, perhatian terhadap
otoritas, mempercayakan diri pada ‘penyelamat’.
9) Kesangsian terhadap yang ‘nonkonformis’ (tak sesuai dengan dirinya),
pemantapan praduga, permusuhan terhadap yang asing (etnosentrisme).
10) Kebergantungan pada sarana, kemantapan pada budaya-pengganti,
kebiasaan konsumtif alih-alih berbuat secara giat: kegiatan pahlawan yang
mengganti/ mewakilinya, pada pahlawan itu berganti menjadi kegiatan
dalam menerima, membeli, atau memakai (kegiatan konsumtif).” 27
5. Manfaat Komik
Dalam arti yang luas, ternyata komik tidak hanya berarti buku berisi cerita
atau kisah. Karena bentuknya yang menarik, komik juga dapat dimanfaatkan
untuk tujuan-tujuan sebagai berikut:
a. Penyampaian program pemerintah, misalnya Keluarga Berencana, perbaikan
gizi, kesehatan, dan sebagainya.
27
Gambar 8 Komik Program Tanggap Bencana Tsunami Indonesia
b. Untuk memperkenalkan peristiwa keagamaan berdasarkan kitab suci.
Gambar 9 Komik Cerita Nabi Isa A.S.
c. Untuk menyatakan kritik terhadap masalah yang sedang hangat dibicarakan,
misalnya tentang kenaikan BBM.
Gambar 10 Komik Strip Panji Koming
d. Untuk menawarkan produk (iklan).
Gambar 11 Komik Iklan Produk Susu
e. Sebagai media pembelajaran. Contoh: untuk menjelaskan konsep-konsep
yang sangat abstrak dan memerlukan obyek yang kongkrit pada beberapa
mata pelajaran. Misalkan fisika, kimia atau matematika. Selain itu juga
untuk memberi pengambaran yang kongkrit pada masa lalu pada satu
kejadian sejarah.28 Bahkan, biografi tokoh juga dapat ditulis dalam bahasa
komik.
Gambar 12 Komik sebagai Media Pembelajaran
Sumber gambar: Kanjiro Kobayashi, Seri Pelajaran Doraemon – Menguasai Hitungan, (Jakarta: Elex Media Komputindo, 1994), h. 84-8529
28
Muhammad Ikhsan, “Buku Terlarang Itu Bernama Komik,” artikel diakses pada 15 Februari 2008 dari http://teknologipendidikan.wordpress.com/category/artikel/page/2/.
29
B. Komik sebagai Bacaan Anak 1. Pengertian Bacaan Anak
Untuk menjelaskan pengertian bacaan anak, dua pendapat di bawah ini
dapat dijadikan penjelasan:
a. Bacaan anak dan remaja tidak termasuk dalam kelompok buku pelajaran, berbentuk fiksi atau non-fiksi. Bacaan anak berguna untuk mengembangkan watak, pengetahuan, keahlian dan apresiasi budaya yang materinya disajikan dengan cara menarik, jelas, dan mudah dipahami.30
b. Bacaan anak ialah bacaan yang dikonsumir anak dengan mendapat bimbingan dan pengarahan dari orang dewasa, demikian juga penulisannya.31
Pendapat lain dikemukakan oleh Supardinah Nugroho tentang kualifikasi
bacaan anak, yaitu:
Dalam bacaan anak, tidak ada patokan yang menentukan hanya “siapa” atau “apa” yang layak dijadikan tokoh. Ia tidak harus anak ia bisa binatang maupun benda yang dipersonifikasikan.32
Gaya penulisan dan kosakata bacaan anak harus ditulis dengan susunan
kata yang sederhana dan mudah dipahami oleh anak, terutama untuk
anak-anak yang kemampuan membacanya masih terbatas.33
Jadi, sesungguhnya cara penyajianlah yang menentukan apakah sebuah
bacaan merupakan bacaan anak atau bukan. Sebuah bacaan merupakan bacaan
anak jika cerita yang ditulis disajikan berdasarkan perspektif anak-anak apapun
temanya dan siapapun yang menulisnya, baik itu buku fiksi maupun non-fiksi.
30
Indira, “Bacaan Komik di Perpustakaan Anak,” h. 35. Penulis skripsi ini mengutip dari naskah Seminar Bacaan Anak-Anak dan Remaja, yang diselenggarakan dalam rangka Tahun Buku Internasional, 16-18 Juni 1973.
31
Riris K. Sarumpaet, Bacaan Anak-Anak: Suatu Penyelidikan Pendahuluan ke dalam Hakekat Sifat dan Corak Bacaan Anak-Anak Serta Minat Anak pada Bacaannya (Jakarta: Pustaka Jaya, 1976), h. 23.
32
Supardinah Nugroho. “Resensi Bacaan Anak Fiksi pada Beberapa Surat Kabar di Jakarta.,” (SkripsiS1 Fakultas Sastra Jurusan Ilmu Perpustakaan, Universitas Indonesia, 1987), h. 20.
33
2. Perbedaan antara Komik dengan Buku Bergambar
Penyajian gagasan dengan media gambar sudah dikenal lama. Hal ini
disebabkan media gambar lebih mudah dipahami daripada tulisan.
Komik dan buku bergambar, secara fisik hampir sama. Keduanya memuat
banyak gambar. Ciri khas yang terdapat pada buku bergambar antara lain adalah:
ukurannya lebih besar daripada buku biasa; ilustrasinya lebih banyak daripada
teks, rata-rata 70% dari isi buku; teks pada tiap halamannya terbatas pada satu
atau dua kalimat sederhana; isi pada umumnya untuk anak kelas 1, 2, 3 tingkatan
SD yang baru mulai membaca. Pendapat ini diungkapkan oleh Sunidyo yang
dikutip oleh Supardinah Nugroho34
Biasanya, pada buku bergambar terdapat sebuah gambar ilustrasi pada
suatu halaman, dan pada halaman lain atau halaman yang sama di mana ilustrasi
itu berada terdapat teks atau narasi yang berisi cerita. Dalam buku bergambar,
gambar hanyalah sebagai penjelas cerita.
Gambar 13 Contoh Buku Bergambar
Sumber gambar: Eka Wardhana dan Ade Wawa, Jarwok Ingin Botak, (Bandung: Syaamil Kid, 2006), h. 1
34
Secara rinci, perbedaan antara komik dan buku bergambar adalah sebagai
berikut:
Komik
a. Tidak ada batasan dalam jumlah gambar.
b. Semua gerak, perbuatan diwujudkan dalam gambar, sehingga terasa adanya
unsur ketegangan.
c. Percakapan disajikan dalam balon ucapan,
d. Sering memakai dialek, bahasanya kurang terjaga.
e. Teks berperan sebagai pelengkap gambar.
f. Materi cerita bervariasi.
g. Pembaca komik tidak dibatasi umur maupun tingkat pendidikan.
Buku bergambar
a. Jumlah gambar dipengaruhi oleh kemampuan baca pembacanya.
b. Tidak semua gerakan, perbuatan tokoh disajikan dalam gambar, sehingga
unsur ketegangan tidak selalu ada.
c. Percakapan disajikan bersama uraian teks.
d. Bahannya terjaga, disesuaikan dengan tingkat kemampuan anak.
e. Gambar berperan sebagai penambah kejelasan dari uraian teks.
f. Materi cerita dipersiapkan sesuai kemampuan anak sesuai dengan usia dan
pendidikannya.
g. Pembacanya terbatas pada anak usia 5-8 tahun, anak kelas 1-3 SD. 35
35
3. Alasan Pro dan Kontra Komik sebagai Bacaan Anak
Banyak pihak (terutama dari kalangan pendidik) yang menyatakan
anggapan negatifnya mengenai komik. Komik dianggap berdampak buruk bagi
anak dan remaja. Dampak buruk itu antara lain berhubungan dengan kecerdasan
anak dan perilaku buruk yang menurut mereka disebabkan karena bacaan komik.
Namun, setelah ditelaah, sesungguhnya komik juga memiliki banyak sisi positif
dan manfaat.
Secara lebih jelas, Elizabeth. B. Hurlock menguraikan alasan-alasan
berbagai pihak yang mendukung ataupun yang menentang komik sebagai bacaan
anak:
Alasan dari pihak yang pro terhadap komik
a. Untuk anak yang memiliki kemampuan membaca terbatas, komik dapat
membantunya memiliki pengalaman membaca yang menyenangkan.
b. Komik dapat membantu anak mengembangkan motivasi dan keterampilannya
membaca.
c. Tidak ada perbedaan prestasi yang signifikan antara anak yang sering
membaca komik dengan mereka yang jarang membacanya.
d. Komik memperkenalkan kosakata kepada para pembacanya.
e. Komik dapat digunakan untuk menyebarluaskan propaganda, terutama
propaganda yang menentang prasangka.
f. Komik memberikan anak kebebasan emosi yang tertahan pada anak.
g. Pengidentifikasian diri anak dengan tokoh pada buku komik yang memiliki
sifat yang dikaguminya.
a. Komik mengalihkan perhatian anak dari bacaan lain yang lebih berguna.
b. Anak yang kurang mampu membaca tidak akan berusaha membaca teks,
karena gambar pada komik sudah menerangkan isi cerita.
c. Terdapat sedikit atau bahkan tidak ada kemajuan pengalaman membaca bila
yang dibaca hanya buku komik.
d. Gambar, cerita, dan gambar pada komik mayoritas bermutu rendah.
e. Cerita yang berkaitan dengan seks, kekerasan, dan ketakutan terlalu
merangsang dan sering menakutkan anak.
f. Komik menghambat anak melakukan bentuk kegiatan/ permainan fisik
lainnya.
g. Komik yang memiliki unsur cerita antisosial akan mendorong timbulnya
agresivitas dan kenakalan remaja.
h. Komik menjadikan kehidupan sebenarnya membosankan dan tidak menarik.
i. Komik menimbulkan stereotip dan mendorong timbulnya prasangka. 36
4. Unsur-unsur yang Membuat Anak Tertarik pada Komik
Apapun alasan penolakan komik sebagai bacaan anak, tak menyurutkan
anak dan remaja untuk menjadikan komik sebagai bacaan yang paling diminati.
Alasan anak-anak menyukai komik, seperti yang diungkapkan oleh
Elizabeth B. Hurlock, antara lain:
a. Komik dapat membantu anak memecahkan masalah sosial dan pribadinya
melalui wawasan pada identifikasi karakter dalam komik
b. Komik menarik imajinasi anak dan rasa ingin tahu tentang supernatural dan
hal-hal lain yang bersifat gaib.
36
c. Komik memberikan rehat sejenak dari aktivias rutin anak.
d. Komik mudah dibaca. Bahkan anak yang kurang mampu membaca dapat
memahami artinya dari gambarnya.
e. Harga komik yang murah menjadikan anak-anak dari kalangan kurang mampu
dapat memilikinya.
f. Karena banyak komik yang menggairahkan, misterius, dan lucu, komik
mendorong anak untuk membaca.
g. Bila berbentuk serial, komik dapat memberikan kontinuitas membaca pada
anak.
h. Dalam komik, tokoh sering melakukan atau mengatakan hal-hal yang tidak
berani mereka lakukan sendiri, walaupun mereka ingin melakukannya. Ini
memberinya rasa kegembiraan.
i. Tokoh dalam komik sering kuat, berani, dan berwajah tampan, sehingga
menjadikan tokoh-tokoh tersebut dapat diteladani.
j. Gambar dalam komik berwarna-warni dan cukup sederhana untuk dimengerti
anak-anak. 37
Dari hal-hal yang membuat anak-anak tertarik kepada komik itulah, orang
tua maupun para pendidik dapat mengambil sisi positif komik untuk menjadikan
komik sebagai media pembelajaran serta media pengenalan membaca anak.
5. Sensor dan Rating dalam Komik
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang dimaksud dengan sensor
adalah:
37
“Pengawasan dan pemeriksaan surat-surat atau sesuatu yang akan disiarkan (berita majalah, buku, dan sebagainya).”38
Jadi, yang dimaksud dengan sensor dalam komik adalah pengawasan yang
dilakukan terhadap isi atau materi yang terdapat pada buku komik. Sensor dapat
berupa pemotongan/ penghapusan gambar, penutupan gambar dengan bayangan,
ataupun dengan teknik komputer lainnya.
Dikarenakan banyaknya pembaca yang mengeluhkan penerapan sensor
yang terkesan asal, kini banyak penerbit komik yang menerapkan rating untuk
komik-komik terbitannya. Yang dimaksud rating di sini bukanlah peringkat bagus
atau tidaknya suatu objek (seperti dalam hal rating program-program televisi yng
menunjukkan berapa tingkat persentase program tersebut ditonton oleh pemirsa),
rating yang dimaksud adalah rating yang menunjukkan kesesuaian materi dengan
keadaan pengguna objek tersebut.39 Jadi, dapat dikatakan bahwa rating yang
dimaksud adalah pengelompokan suatu materi (dapat berupa buku, film, dan
sebagainya) menjadi beberapa tingkatan usia pengguna (pembaca/ penonton).
Berikut adalah klasifikasi rating:
38
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1988), h. 817.
39
Aspek
Bahasa Normal Agak bebas Bebas, sedikit
bahasa kasar
Penilaian untuk rating 18+ berlaku juga untuk rating D (Dewasa).
40
Contoh judul komik berdasarkan rating:
Detective Mythical Loki
(Jepang)
Tabel 2: Contoh Judul Komik Berdasarkan Rating
Di Jepang dan Amerika terdapat Undang-Undang ataupun peraturan yang
menjadi standar penulisan komik. Undang-undang yang membatasi pornografi di
Jepang yang biasa dijadikan standar disebut Penal Code 175 – Obscenity Law,
tetapi peraturan ini sering disiasati oleh pekerja pada industri anime dan manga
karena kurang spesifik dan ketat.
Penal Code 175 – Obscenity Law diresmikan sejak akhir Perang dunia II.
Pasal ini menetapkan bahwa:
"any person who distributes, sells or publicly displays an obscene writing, picture or other materials shall be punished with penal servitude for not more than two years or be fined not more than two million and a half yen or minor fine. The same shall apply to any person who possesses the same with the intention of selling it."41
Meski demikian, tidak ada definisi khusus yang jelas pada pasal tersebut
untuk istilah “pornografi” itu sendiri dan apa saja batasan-batasannya. Definisi
“pornografi” yang kabur menyebabkan ketidakseimbangan dalam keputusan
41
pengadilan dan menimbulkan perdebatan tentang kebebasan berekspresi di
Jepang.
Batasan mengenai pornografi baru ada bila terjadi kasus. Kasus-kasus
yang terjadi dapat berupa pornografi dalam film, buku, dan komik. Batasan
pornografi antara lain:
"refers to a writing, picture, and everything else which tends to stimulate and excite sexual desire or satisfy the same; and consequently, to be an obscene matter, it must be such that it causes man to engender feeling of shame and loathsomeness"
"refers to that which unnecessarily excites or stimulates sexual desire, injures the normal sense of embarrassment commonly present in a normal ordinary person, and runs counter to the good moral concept pertaining to sexual matters."42
Batasan pornografi itu muncul saat terdapat kasus pada sebuah novel
berjudul Lady Chatterley's Lover karya D.H. Lawrence. Pada 1950, editor Kyujiro
Koyama dan penerjemah Sei Ito ditangkap karena telah mempublikasikan dan
mendistribusikan novel ini. Pada novel ini terdapat 12 halaman yang menceritakan
aktivitas seksual yang terlalu rinci dan realistis.
Batasan lain pornografi dalam pasal ini antara lain:
"depicting poses of male-female intercourse and sex play" and "in which male-female sexual intercourse or sex play is described frankly"43
Ini muncul pada saat terjadi kasus pada buku mengenai film yang
dibintangi Nagisa Oshima, Ai No Corrida, produksi negara Perancis dengan
penggunaan artis dan kru dari Jepang. Buku tersebut berisi esai yang ditulis
sutradara, skrip naskah, dan 12 foto yang diambil dari film tersebut. Meski
demikian, versi film ini tidak dipermasalahkan dan tidak diajukan ke pengadilan.
42
Ibid.
43
Film yang akhirnya diedarkan di Jepang itu hanya disensor dan dipotong pada
beberapa adegan.
Untuk komik, juga pernah terjadi pelanggaran terhadap Penal Code 175.
Komik yang dinyatakan melanggar berjudul Misshitsu. Peristiwa pelanggaran ini
terjadi pada April 2002. Pada Januari 2004, editor komik tersebut yaitu Motonori
Kishi diputuskan dijatuhi hukuman 1 tahun penjara dengan dakwaan: menjual dan
mendistribusikan literatur yang mengandung pornografi.
Walau putusan sudah dijatuhkan, namun masih terdapat keraguan dan
perdebatan. Komik ini dinilai sebagai sebuah karya grafis yang menyajikan seni.
Oleh karena itu, Kishi mengajukan banding pada Pengadilan Tinggi Tokyo
dengan alasan terdapat pelanggaran kebebasan berekspresi. Hasil banding yang
diajukan Kishi menjadikan hukuman bagi Kishi lebih ringan. Ia hanya diharuskan
membayar denda sebesar 1,5 juta yen.
Penilaian komik sebagai bacaan di Amerika Serikat sangat ketat. Para
komikus harus memperhatikan hal-hal yang berhubungan dengan isi. Berikut
adalah cukilan dari kode-etik komik di AS, yang dikutip oleh Franz dan Meier:
Cukilan dari kode-etik komik di Amerika
a. Kejahatan kriminal sama sekali tidak boleh disajikan sedemikian rupa hingga
menimbulkan simpati terhadap penjahat, tidak percaya terhadap badan
pelaksana hukum dan pengadilan, atau hal-hal yang mendorong untuk meniru
kejahatannya.
b. Dalam komik detail dan metode khusus suatu kejahatan tidak boleh disajikan
c. Polisi, hakim, pegawai negeri, dan badan-badan terhormat tidak boleh
digambarkan dengan jenis dan cara yang dapat merendahkan martabat dan
menghilangkan respek terhadap otoritas yang telah dikukuhkan.
d. Bila kejahatan disajikan, maka harus digambarkan sebagai perbuatan yang
rendah dan memualkan.
e. Kejahatan tidak boleh digambarkan sedemikian hingga kelihatan sebagai
kepahlawanan atau diberi posisi yang dapat menjadi alasan untuk ditiru.
f. Yang baik harus selalu menang terhadap yang jahat, dan penjahat harus
menerima hukumannya yang setimpal.
g. Adegan dan tindakan yang melampaui batas, dilarang. Adegan dengan
penganiayaan yang brutal, perkelahian dengan senjata tajam dan senjata api
yang tidak perlu atau yang keterlaluan, penderitaan jasmaniah, kejahatan
berdarah dan tak berkemanusiaan, harus dihilangkan.
h. Tidak boleh diperlihatkan cara-cara khusus dan luar biasa dalam
menyembunyikan senjata.
i. Episode tewasnya penegak hukum karena tindakan kejahatan, sedapat
mungkin tidak diperlihatkan.
j. Kejahatan penculikan tidak boleh digambarkan sampai rinciannya, juga tidak
boleh sama sekali penculik atau penyandera, dari perbuatannya yang jahat itu,
bagaimana pun memperoleh keuntungan apa pun.
k. Huruf-huruf dalam kata “kriminal” pada halaman judul buku komik tidak
boleh berukuran lebih besar daripada huruf-huruf lain dalam judul. Kata
l. Pemakaian kata “kriminal” dalam judul atau subjudul sedapat mungkin
dihindari.
Garis pengarah umum bagian B
a. Majalah komik tidak diperbolehkan mencantumkan kata “horor” (yang
mengerikan) atau “teror” (kengerian).
b. Semua adegan dengan “horor”, pertumpahan darah yang berlebihan, kejahatan
berdarah atau mengerikan, penghancuran terkutuk, kenikmatan badaniah
semata-mata, sadisme, harus ditiadakan.
c. Semua penggambaran yang tak pantas, seram, mengerikan, menjijikkan, harus
dijauhkan.
d. Peristiwa yang menceritakan kejahatan hanya dapat dipergunakan atau
disajikan bila maksudnya untuk menggambarkan pendirian yang etis.
Bagaimana pun yang jahat itu tidak boleh disajikan seolah-olah sangat
menarik atau sedemikan rupa hingga melukai pendirian pembaca.
e. Adegan dengan mayat yang berjalan-jalan, penganiayaan berlebihan, dan
gejala vampir (makhluk pemakan mayat atau pengisap darah manusia), juga
kanibalisme (makan daging orang) dan binatang gadungan (peralihan manusia
menjadi binatang), atau hal-hal lain dalam hubungan itu, harus dihilangkan.
Garis pengarah umum bagian C
Semua hal atau teknik yang di sini tidak dikemukakan secara jelas, tetapi
berlawanan dengan makna dan tujuan kode etik komik serta dianggap melukai
Dialog
a. Sumpahan, kutukan, kata-kata rendah, kotor atau mesum, juga kata dan
lambang yang telah mempunyai arti tak diinginkan, dilarang penggunaannya.
b. Perlu diadakan pencegahan khusus terhadap penyajian cacat tubuh atau
tunaraga lainnya yang berlebihan.
c. Meskipun bahasa pergaulan dan gaya khusus dalam pemakaian bahasa dapat
diterima, dianjurkan untuk tidak terlalu berlebihan memakainya.
Sedapat-dapatnya, teks yang benar menurut tata bahasalah sebaiknya yang digunakan.
Agama
Menghina atau menyerang agama atau kelompok yang kepercayaan, agama, serta
kebangsaannya berbeda, sama sekali tidak diperkenankan dan tidak boleh terjadi.
Pakaian
a. Telanjang dalam bentuk apapun dilarang; begitu juga menanggalkan pakaian
secara tidak pantas dan melukai rasa kesopanan orang lain.
b. Gambar yang merangsang seks atau kenikmatan badaniah atau sikap tubuh
yang sangat sugestif ke arah itu, tidak dapat diterima dan dianggap melawan
kesopanan.
c. Semua orang dalam pertemuan harus tampak dengan pakaian yang sopan dan
dapat diterima. Catatan:Perlu diperhatikan bahwa larangan dalam hal pakaian,
dialog ataupun gambar, berlaku baik bagi gambar pada kulit majalah komik
maupun bagi gambar isinya.
d. Bentuk tubuh wanita harus digambarkan secara realistis, tanpa penyajian sifat