FAKTOR DOMINAN PENYEBAB ANAK MENJADI ANAK JALANAN
DI KOTA BINJAI
SKRIPSI
Diajukan Guna Memenuhi Salah Satu Syarat
Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Sumatera Utara
Diajukan Oleh: EKO SYAHPUTRA
110902041
DEPARTEMEN ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK DEPARTEMEN ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL
HALAMAN PERSETUJUAN Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan oleh:
Nama : Eko Syahputra
Nim : 110902041
Judul : Faktor Dominan Penyebab Anak Menjadi Anak Jalanan Di Kota
Binjai
Medan, Juni 2015
PEMBIMBING
(Dra. Tuti Atika, M.S.P) NIP.19630117 198803 2 001
KETUA DEPARTEMEN ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL
(Hairani Siregar, S.Sos, M.S.P) NIP. 19710927199801 2 001
DEKAN FISIP USU
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK DEPARTEMEN ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL
Nama : Eko Syahputra NIM : 110902041
ABSTRAK
FAKTOR DOMINAN PENYEBAB ANAK MENJADI ANAK JALANAN DI KOTA BINJAI
( Skripsi ini terdiri dari 6 bab, 103 halaman, 23 kepustakaan, 12 tabel, dan lampiran )
Skripsi ini diajukan guna memenuhi syarat meraih gelar sarjana Ilmu Kesejahteraan Sosial. Masalah yang dihadapi dalam skripsi ini adalah apa yang menjadi faktor dominan yang menyebabkan seorang anak menjadi anak jalanan di Kota Binjai.
Informan dalam penelitian ini berjumlah 8 orang, yang dibagi menjadi 5 orang informan utama dan 3 orang informan kunci. Informan utama dalam penelitian ini merupakan anak jalanan yang ada di Kota Binjai yang beraktivitas di 3 lokasi yang menjadi lokasi penelitian di dalam skripsi ini yaitu Tanah Lapang Merdeka Kota Binjai, Pasar Kaget Kota Binjai dan Jalan Jendral Sudirman Kota binjai. Informan kunci dalam penelitian ini merupakan orang tua dari anak jalanan serta pihak dari Dinas Sosial Kota Binjai yang mengetahui informasi pokok mengenai apa yang menjadi pokok permasalahan dalam penelitian ini. Tipe penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan tipe penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini melalui wawancara mendalam dengan informan dan observasi terhadap objek – objek yang diteliti.
Faktor – faktor penyebab anak menjadi anak jalanan dalam penelitian ini dibagi ke dalam 3 tingkatan faktor yaitu faktor mikro, meso dan makro. Berdasarkan data – data yang telah didapatkan dalam proses penelitian bahwa yang menjadi faktor dominan penyebab anak menjadi anak jalanan di Kota Binjai berada pada faktor di tingkat mikro yaitu seorang anak menjadi anak jalanan didasari oleh faktor yang berasal dari dalam dirinya dan keluarganya.
Kesimpulan bahwa faktor dominan penyebab anak menjadi anak jalanan di Kota Binjai berada pada faktor di tingkat mikro yaitu faktor yang berasal dari dalam diri anak dan keluarganya.
UNIVERSITY OF NORTH SUMATERA FACULTY OF SOCIAL AND POLITIC SCIENCE DEPARTMENT OF SOCIAL WELFARE SCIENCE
Name : Eko Syahputra NIM : 110902041
ABSTRACT
DOMINANT FACTORS CAUSE CHILDREN TO BECOME STREET CHILDREN IN BINJAI CITY
( This Skripsi consisted of 6 chapters, 103 pages, 23 references, 12 tables, and appendixes )
The Skripsi was submitted to eligible in reached a bachelor’s degree of social prosperity science. The problems were founded in this skripsi about what were the dominant factors that caused a child to become street children in Binjai city.
The informant in this research consisted of 8 persons, which divided into 5 main informants and 3 key informants. The main informant in this research was street children in the Binjai city that had activity in 3 locations that became research location in this skripsi that was Tanah Lapang Merdeka Binjai, pasar kaget Binjai and Sudirman Street Binjai. The key informant in this research was parents of street children and staffs of social official Binjai which was known the main information about what was the main problem in this research. The type of research that used in the research was qualitative research design. The techniques of collecting data in this research were deep interview with informant and observation with the objects that researched.
The factors were caused a child became street children in this research divided into 3 factors level that were micro, meso and macro factor. Based on the data which was found in the research process was dominant factor that caused a child became street children in Binjai city in a place of micro level factor was a child became street children was caused by internal and family factors.
The conclusion that dominant factor caused a child became street children in the Binjai city in a place of factor of micro level which was the factor of child’s internal and their family.
KATA PENGANTAR
Bissmillahhirrahmanirrahim...
Syukur Alhamdulillah penulis ucapkan kehadirat Allah SWT atas rakhmat
dan anugerah-Nya penulis mendapat kesempatan untuk menyelesaikan studi di
Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP USU dan atas pertolongan-Nya pula
penulis dapat menyelesaikan skripsi ini sesuai jadwal. Serta Shalawat dan salam
ke pangkuan Nabi besar Muhammad SAW yang telah membawa umat manusia ke
jalan yang benar. Adapun judul skripsi ini adalah “Faktor Dominan Penyebab Anak Menjadi Anak Jalanan Di Kota Binjai”. Skripsi ini disusun untuk diajukan sebagai salah satu syarat untuk meraih gelar Sarjana Sosial pada
Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik,
Universitas Sumatera Utara.
Selama penyusunan skripsi ini, penulis menyadari akan sejumlah
kekurangan dan kelemahan, untuk itu penulis membuka diri untuk saran dan kritik
yang dapat membangun guna perbaikan di masa yang akan datang.
Skripsi ini saya persembahkan terkhusus untuk kedua orang tua yang
sangat saya cintai. Yaitu Ayahanda Abu Zahar dan Ibunda Tiranis, serta Abang Antoni SH, Kakak Irawati, dan dua Adik Saya Indra Koto dan Rio Ariansyah Koto yang telah menjadi semangat untuk saya dan memberikan dukungan berupa motivasi dan materi, serta para saudara yang telah mendukung
penulis selama penulisan skripsi ini.
Pada kesempatan ini penulis juga mengucapkan terimakasih kepada semua
pihak yang membantu penulis dalam penyelesaian skripsi ini, dan secara khusus
penulis menghanturkan banyak terimakasih kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Badaruddin, M.Si, selaku Dekan Fakultas Ilmu
2. Ibu Hairani Siregar, S.Sos, M.S.P, selaku Ketua Departemen
IlmuKesejahteraan Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Sumatera Utara
3. Ibu Dra. Tuti Atika, M.S.P, selaku Dosen Pembimbing yang telah bersedia membimbing dan member dukungan dalam
penyelesaian skripsi ini, serta telah bersedia mendidik dan
membagi ilmunya kepada saya.
4. Seluruh Dosen Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP USU yang telah
memberikan ilmu kepada penulis baik dalam perkuliahan dan
kehidupan sehari-hari.
5. Seluruh staff pendidikan dan administrasi FISIP USU terkhusus
buat Bu Zuraidah dan Kak Debby.
6. Bapak Darwan Barus selaku Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial di
Dinas Sosial Kota Binjai yang telah bersedia menjadi salah satu
informan dan membagi informasi yang dibutuhkan dalam proses
penelitian.
7. Seluruh informan yang telah bersedia membagi informasi untuk
melengkapi segala yang dibutuhkan dalam penelitian ini.
8. Buat teman TERDEKAT dan TERBAIK selama perkuliahan di
KesSos, Anugerah Mubarak Dalimunthe, Ronni Situmorang,
Revor Duha, Asa Mitra, Chairi Firnanda, Sausan Faras, Erlia Puji
Astuti, Dina Rahmiana, Siti Mahyardani Nst, Dina Rizky Triyanti,
Adistilia Pradita, Cindy Charina Sembiring, M. Iqbal, Teuku M.
Haikal Chalik, Ferri Arif, Febriani, M. Fikri Arifi, Amar Yusuf
Nasution, yang setia setiap saat mendukung dan menghibur penulis
dalam cara apapun.
9. Buat teman seperjuangan sesama stambuk 2011 di KesSos Neysa
Rasenta Munthe, Stephanie Dwiyanti Siahaan, Mesya Ayu
Ningsih, Dadan Nasution, Alm. Nur Haji, Herianna Bangun, Dina
Rizky, Halim, Chairi Firnanda, Simon Sinaga, Elvana Togatorop,
Wandro Sitanggang, Noni Gulo, Ria Sapta, Tika Juntak, William
Hasibuan, dan teman-teman KesSos lainnya yang tidak tersebutkan
namanya, terimakasih atas waktu kebersamaannya dan
memberikan semangat kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi
ini. Viva KesSos~
10. Buat orang-orang yang tidak tersebutkan namanya yang telah
mendukung dan membantu dalam menyelesaikan skripsi ini,
penulis mengucapkan terimakasih banyak dan sukses buat kita
semua. Amin ya Allah.
Dengan segala kerendahan hati penulis menyadari masih terdapat
kekurangan dalam skripsi ini, untuk itu sangat diharapkan saran dan kritik guna
menyempurnakannya agar kedepan penulis dapat lebih baik lagi. Penulis berharap
semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Sekian dan terimakasih.
Medan, Juli 2015
Penulis
Eko Syahputra
DAFTAR ISI
ABSTRAK... i
KATA PENGANTAR... ii
DAFTAR ISI... iii
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah... 1
1.2. Perumusan Masalah... 7
1.3. Tujuan Penelitian... 8
1.4. Manfaat Penelitian... 8
1.5. Sistematika Penulisan... 8
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Konsep Anak... 10
2.1.1. Pengertian Anak... 10
2.1.2. Hak-Hak Anak... 11
2.1.3. Kesejahteraan Anak... 12
2.1.4. Perlindungan Hukum Anak... 14
2.2. Anak Jalanan... 16
2.2.1. Pengertian Anak Jalanan... 16
2.2.3. Faktor Penyebab Timbulnya Anak Jalanan... 20
2.2.4. Resiko Anak Jalanan... 30
2.3. Pendekatan Penyelesaian Anak Jalanan... 32
2.4. Kerangka Pemikiran... 34
2.5. Definisi Konsep... 37
BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Tipe Penelitian... 38
3.2. Lokasi Penelitian... 38
3.3. Informan... 39
3.3.1. Informan Kunci... 39
3.3.2. Informan Utama... 39
3.4. Teknik Pengumpulan Data... 40
3.5. Teknik Analisis Data... 41
BAB IV DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN 4.1. Sejarah Kota Binjai... 42
4.2. Demografi Kota Binjai... 44
4.3. Geografi Kota Binjai... 54
4.4.1. Tanah Lapang Merdeka Kota Binjai... 55
4.4.2. Pasar Kaget Kota Binjai... 56
4.4.3. Jalan Jendral Sudirman Kota Binjai... 57
BAB V ANALISIS DATA 5.1. Hasil Temuan... 58
5.1.1. Informan Utama I... 58
5.1.2. Informan Utama II... 62
5.1.3. Informan Utama III... 66
5.1.4. Informan Utama IV... 70
5.1.5. Informan Utama V... 74
5.1.6. Informan Kunci VI... 77
5.1.7. Informan Kunci VII... 81
5.1.8 Informan Kunci VIII... 84
5.2. Analisis Data... 87
BAB 6 PENUTUP 6.1. Kesimpulan... 97
6.2. Saran... 99
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK DEPARTEMEN ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL
Nama : Eko Syahputra NIM : 110902041
ABSTRAK
FAKTOR DOMINAN PENYEBAB ANAK MENJADI ANAK JALANAN DI KOTA BINJAI
( Skripsi ini terdiri dari 6 bab, 103 halaman, 23 kepustakaan, 12 tabel, dan lampiran )
Skripsi ini diajukan guna memenuhi syarat meraih gelar sarjana Ilmu Kesejahteraan Sosial. Masalah yang dihadapi dalam skripsi ini adalah apa yang menjadi faktor dominan yang menyebabkan seorang anak menjadi anak jalanan di Kota Binjai.
Informan dalam penelitian ini berjumlah 8 orang, yang dibagi menjadi 5 orang informan utama dan 3 orang informan kunci. Informan utama dalam penelitian ini merupakan anak jalanan yang ada di Kota Binjai yang beraktivitas di 3 lokasi yang menjadi lokasi penelitian di dalam skripsi ini yaitu Tanah Lapang Merdeka Kota Binjai, Pasar Kaget Kota Binjai dan Jalan Jendral Sudirman Kota binjai. Informan kunci dalam penelitian ini merupakan orang tua dari anak jalanan serta pihak dari Dinas Sosial Kota Binjai yang mengetahui informasi pokok mengenai apa yang menjadi pokok permasalahan dalam penelitian ini. Tipe penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan tipe penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini melalui wawancara mendalam dengan informan dan observasi terhadap objek – objek yang diteliti.
Faktor – faktor penyebab anak menjadi anak jalanan dalam penelitian ini dibagi ke dalam 3 tingkatan faktor yaitu faktor mikro, meso dan makro. Berdasarkan data – data yang telah didapatkan dalam proses penelitian bahwa yang menjadi faktor dominan penyebab anak menjadi anak jalanan di Kota Binjai berada pada faktor di tingkat mikro yaitu seorang anak menjadi anak jalanan didasari oleh faktor yang berasal dari dalam dirinya dan keluarganya.
Kesimpulan bahwa faktor dominan penyebab anak menjadi anak jalanan di Kota Binjai berada pada faktor di tingkat mikro yaitu faktor yang berasal dari dalam diri anak dan keluarganya.
UNIVERSITY OF NORTH SUMATERA FACULTY OF SOCIAL AND POLITIC SCIENCE DEPARTMENT OF SOCIAL WELFARE SCIENCE
Name : Eko Syahputra NIM : 110902041
ABSTRACT
DOMINANT FACTORS CAUSE CHILDREN TO BECOME STREET CHILDREN IN BINJAI CITY
( This Skripsi consisted of 6 chapters, 103 pages, 23 references, 12 tables, and appendixes )
The Skripsi was submitted to eligible in reached a bachelor’s degree of social prosperity science. The problems were founded in this skripsi about what were the dominant factors that caused a child to become street children in Binjai city.
The informant in this research consisted of 8 persons, which divided into 5 main informants and 3 key informants. The main informant in this research was street children in the Binjai city that had activity in 3 locations that became research location in this skripsi that was Tanah Lapang Merdeka Binjai, pasar kaget Binjai and Sudirman Street Binjai. The key informant in this research was parents of street children and staffs of social official Binjai which was known the main information about what was the main problem in this research. The type of research that used in the research was qualitative research design. The techniques of collecting data in this research were deep interview with informant and observation with the objects that researched.
The factors were caused a child became street children in this research divided into 3 factors level that were micro, meso and macro factor. Based on the data which was found in the research process was dominant factor that caused a child became street children in Binjai city in a place of micro level factor was a child became street children was caused by internal and family factors.
The conclusion that dominant factor caused a child became street children in the Binjai city in a place of factor of micro level which was the factor of child’s internal and their family.
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Anak merupakan aset masa depan yang sangat berharga, dapat dikatakan
bahwa baik buruknya masa yang akan datang pada suatu bangsa ditentukan oleh
generasi-generasi penerusnya, dalam hal ini maka ditangan anaklah tergenggam
masa depan bangsa tersebut. Tidak terkecuali pada Anak jalanan, mereka juga
merupakan salah satu aset yang sangat berharga untuk menjadi penerus bangsa.
Selain itu Anak juga mempunyai posisi penting sebagai penerus keturunan
keluarga. Agar mampu memikul tanggung jawab tersebut, anak perlu mendapat
perhatian khusus dan kesempatan yang seluas-luasnya untuk terpenuhi
kebutuhannya.
Orang tua dalam hal ini sebagai pemimpin, pelindung dan pendidik untuk
anak-anaknya didalam keluarga harusnya menyadari akan masalah ini dan
menyiapkan strategi yang sebaik mungkin untuk mendidik anak-anaknya. Tidak
hanya itu proses tumbuh kembang anak harus sangat diberi perhatian khusus
dalam rangka membimbing dan mengarahkan mereka menuju tujuan yang
diinginkan. Oleh karena itu maka perhatian terhadap hak-hak anak menjadi suatu
keharusan untuk mewujudkan cita-cita ini yaitu menciptakan generasi-generasi
masa depan yang berkualitas untuk mengemban dan melanjutkan masa depan
keluarga serta bangsanya.
Kenyataannya apa yang terjadi pada saat ini, banyak anak yang seharusnya
menjadi anak jalanan yang melakukan berbagai aktifitas di jalanan yang tidak
seharusnya mereka lakukan pada usia mereka yang masih belia. Hidup menjadi
anak jalanan bukanlah merupakan harapan dan cita-cita seorang anak, tidak ada
seorang anakpun yang dilahirkan bercita-cita menjadi anak jalanan. Anak
merupakan bagian dari komunitas seluruh manusia di muka bumi tidak terkecuali
anak jalanan. Hal ini tentu saja tidak terlepas dari berbagai faktor-faktor yang
menyebabkan mereka harus turun kejalanan menjadi anak jalanan.
Anak jalanan umumnya sering ditemui oleh masyarakat didaerah
perkotaan. Penanganan anak jalanan dan pemenuhan hak-hak anak oleh
pemerintah belum melekat dalam diri anak jalanan. Sementara razia-razia yang
dilakukan oleh petugas cenderung bersifat refresif yang secara nyata melanggar
hak anak untuk mendapatkan perlindungan dari tindak kekerasan. Kebijakan yang
ada untuk menangani anak jalanan terjadi diskriminasi dan marginalisasi anak
jalanan yang semakin menjauhkan mereka dari hak-hak yang semestinya mereka
peroleh. UU No. 23 Tahun 2002 Pasal 4 Tentang Perlindungan Anak menegaskan
setiap anak berhak untuk dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi
secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat
perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.
Fenomena anak jalanan sebenarnya sudah menjadi perhatian tersendiri,
namun saat ini semakin menjadi perhatian dunia seiring dengan terus
meningkatnya jumlah anak jalanan diberbagai kota besar dunia. Menurut Rajani
dan Kudrati (dalam Nurhadjadmo, 1999:1), di Dakka terdapat 45 ribu anak
jalanan, sementara di Metro Manila jumlahnya mencapai 50 hingga 60 ribu anak
sedang berkembang di kawasan Asia, Afrika, maupun Amerika Latin jumlah anak
jalanan semakin meningkat. Di Asia tercatat sedikitnya 25 hingga 30 juta anak
jalan. Angka ini diperkirakan akan meningkat dua kali lipat dalam 30 tahun
mendatang.
Begitu juga di Indonesia keberadaan anak jalanan semakin meningkat,
menurut Pusat Data dan Informasi Kesejahteraan Sosial Departemen Sosial, pada
tahun 2004 jumlah anak jalanan mencapai 98.113 anak. Pada tahun 2006, jumlah
ini meningkat mencapai 144.889 anak yang tersebar di 33 provinsi Indonesia
(Suhartini & Panjaitan, 2009:216). Pada tahun 2007 diperkirakan terdapat 104.497
anak, bahkan mungkin lebih, yang menghabiskan waktu produktifnya di jalanan.
Berdasarkan data Kementrian Sosial, pada tahun 2011 terdapat 230.000
anak jalanan di Indonesia. Dapat dilihat bahwa pertambahan jumlah anak jalan di
Indonesia semakin meningkat dalam hal kuantitas. Trend peningkatan jumlah ini
tentu saja akan memberikan dampak dan masalah baik kepada lingkungan sosial
maupun kepada anak jalanan itu sendiri.
(http://m.tribunnews.com/nasional/2011/08/25/jumlah-anak-jalanan-230-ribu-di-Indonesia. Diakses pada 22:00 WIB. Selasa 3 Maret 2015).
Tingginya jumlah anak jalanan tersebut kontradiktif dengan
Undang-Undang tentang Kesejahteraan Anak (UU No. 4 tahun 1979) yang ditetapkan jauh
sebelum konvensi hak-hak anak diratifikasi. Dalam UU tersebut dirumuskan
perihal hak-hak anak yang perlu dikedepankan, yang menegaskan bahwa anak
berhak atas kesejahteraan perawatan, asuhan, dan bimbingan berdasarkan kasih
sayang dalam keluarga maupun dalam asuhan khusus untuk tumbuh dan
mengembangkan kemampuan dan kehidupan sosialnya, sesuai dengan
kebudayaan dan kepribadian bangsa untuk menjadi warga negara yang berguna.
Selanjutnya anak juga berhak mendapatkan perlindungan terhadap lingkungan
yang dapat membahayakan atau menghambat pertumbuhan dan
perkembangannya secara wajar. (Siregar dalam Siregar & dkk, 2006:23).
Jumlah anak jalanan di Sumatera Utara, tercatat sebanyak 2.867 anak
jalanan yang tersebar di 5 kota, yakni Medan (663 anak), Dairi (530 anak),
Tapanuli Tengah (225 anak), Nias Selatan (224 anak), dan Tanah Karo (157
anak). Sisanya tersebar di 25 Kabupaten/Kota lainnya. Sebagian besar keberadaan
anak jalanan tersebut tersebar di tempat-tempat seperti
persimpangan-persimpangan jalan utama kota (lampu merah), pasar tradisional,
terminal-terminal bus dan pusat-pusat keramaian lainnya (PKPA, 2011:2).
Jumlah anak jalanan terus meningkat dari tahun ketahun, hal ini
merupakan sebuah masalah yang sangat mengkhawatirkan, mengingat betapa
pentingnya posisi anak tersebut sebagai generasi pemuda penerus bangsa. Banyak
hal yang menjadi faktor pendorong seorang anak menjadi anak jalanan, salah
satunya adalah masalah kemiskinan yang tentu saja bukanlah hal baru di
Indonesia. Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut tahun 2007
menyebutkan, bahwa jumlah penduduk miskin perkotaan hingga bulan Juni 2007
tercatat 47,11 persen dari 1,768 juta jiwa. Walaupun pada dasarnya bukan hanya
masalah ekonomi dan kemiskinan saja yang menyebabkan seorang anak menjadi
anak jalanan, akan tetapi banyak faktor - faktor lainnya yang meyebabkan anak
blogspot.com/2007/08/anak-jalanan-harus-diberi-pendidikan.html. Diakses pada
21.00 WIB. Rabu 4 Maret 2015).
Terdapat berbagai faktor resiko menyebabkan anak turun ke jalanan,
seperti tekanan kemiskinan yang mengharuskan anak-anak mereka turun kejalan,
anak menyadari kondisi keluarga dalam keadaan miskin, mendapatkan kekerasan
dari orang tua, maupun faktor lingkungan sosial si anak, seperti ajakan atau
mengikuti teman sebayanya. Kondisi tersebut mendorong munculnya fenomena
anak jalanan dilingkungan perkotaan (YPLS Humana, 2006: 14).
Sebagian besar dari anak jalanan beranggapan bahwa mereka lebih baik
bekerja dan mencari uang daripada pergi ke sekolah, karena malas berfikir.
Apalagi mereka bisa mendapatkan uang dari kegiatan yang mereka lakukan
dijalan. Akibatnya dapat ditebak anak-anak jalanan menjadi malas diajak
kehabitat “normal” seperti pada umumnya anak seusia mereka, misalnya untuk
bersekolah, mereka lebih menikmati bermain dan mencari uang di jalan.
Walau demikian jalanan tetap bukanlah tempat yang baik bagi anak-anak.
Karena dengan mereka menjalankan sebagian besar waktunya dijalanan hal itu
akan memberi dampak yang kurang baik bagi perkembangan diri mereka. Banyak
hal-hal negative yang ada dijalanan seperti tindak-tindak kriminalitas serta
kekerasan yang dapat merasuk kedalam perilaku anak-anak jalanan tersebut,
mengingat pada usia anak-anak dan remajalah karakter seorang anak akan
terbentuk yang akan mempengaruhi bagaimana perilakunya dimasa depan ketika
mereka dewasa.
Kota Binjai dahulunya sangat jarang dijumpai anak jalanan akan tetapi
jalanan. Anak jalanan sekarang semakin menjamur dan mudah ditemui di Kota
Binjai yang sebagian besar terbagi ditiga titik daerah yaitu di Lampu Merah Tanah
Lapang Merdeka Binjai, Pasar Kaget Binjai dan sebagian lainnya
dipelataran-pelataran toko di Jalan Jendral Sudirman. Kegiatan mereka pun beragam mulai
dari meminta-minta, mengamen serta berdagang asongan. Kegiatan tersebut
dimulai dari sekitar pukul 12.30 WIB. Bahkan, aktivitas anak jalanan itu berlanjut
hingga malam serta pagi dinihari. Namun Keberadaan mereka terkesan luput dari
pantauan Pemko Binjai, dalam hal ini Dinas Sosial Kota Binjai.
(http://sumutpos.co//2013/02/25370/anak-jalanan-semakin-menjamur-di-kota-binjai. Diakses pada 11.00 WIB. Rabu 4 Maret 2015).
Menurut data yang diperoleh dari Dinas Sosial Kota Binjai, di Kota binjai
pada tahun 2014 tercatat ada 69 anak jalanan. Dimana anak jalanan tersebut
sebagian besar beraktivitas sebagai peminta-minta, mengamen serta berdagang
asongan. Mereka tersebar melakukan aktivitas-aktivitasnya dipusat kota dan di
tempat keramaian yang ada di Kota Binjai (Dinas Sosial Kota Binjai, 2014).
Secara statistik, memang sulit untuk memastikan jumlah yang akurat
mengenai populasi anak jalanan (PKPA, 2011:2). Hal ini belum lagi termasuk
anak yang rentan menjadi anak jalanan. Ini mengindikasikan bahwa jumlah anak
jalanan sebenarnya membentuk fenomena gunung es, dimana jumlah anak jalanan
yang ditemukan di jalan, sebenarnya lebih sedikit daripada yang tidak diketahui.
Fenomena ini terjadi hampir di setiap kota-kota termasuk kota Binjai.
Pentingnya posisi anak sebagai penerus bangsa sudah seharusnya
seharusnya dapat membantu menjamin memberikan perlindungan kepada anak
tersebut agar mereka dapat hidup dengan layak, namun pada kenyataannya, masih
banyak anak yang hidup dalam kondisi yang tidak dapat terpenuhi kebutuhannya,
terutama mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu, sehingga terpaksa
bekerja demi memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Pemenuhan kebutuhan
ekonomi, sering kali dijadikan alasan utama dari keberadaan anak jalanan.
Dengan menggunakan sebagian besar waktunya untuk beraktivitas dijalan, anak
sering kali dihadapkan pada situasi yang tidak menguntungkan dan sangat rentan
terhadap berbagai persoalan sosial yang dapat mempengaruhi kualitas
perkembangan fisik dan psikis mereka (Sanie, 2006:1).
Penelitian ini penting dilakukan dalam rangka untuk mengetahui masalah
apa saja yang sebenarnya menjadi faktor anak menjadi anak jalanan di Kota
Binjai, sehingga diharapkan dapat menemukan berbagai pendekatan dan solusi
yang tepat dalam menangani permasalahan anak menjadi anak jalanan sesuai yang
berkenaan dengan faktor-faktor yang ada tersebut.
Berdasarkan pemaparan-pemaparan latar belakang masalah tersebut, maka
peneliti merasa tertarik untuk mengkaji lebih lanjut mengenai masalah apa yang
menjadi faktor dominan penyebab anak menjadi anak jalanan di Kota Binjai
dalam bentuk skripsi dengan judul “Faktor Dominan Penyebab Anak Menjadi Anak jalanan di Kota Binjai”.
1.2. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah penelitian yang telah diuraikan
1.3. Tujuan Penelitian
Adapun yang menjadi tujuan dalam penelitian ini adalah:
a. Untuk mengetahui faktor dominan penyebab anak menjadi anak jalanan
di Kota Binjai.
b. Untuk mengetahui mengenai gambaran kehidupan anak jalanan di Kota
Binjai.
1.4. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna dalam rangka
pengembangan konsep dan teori-teori yang berkenaan dengan anak jalanan. Serta
mengetahui apa saja yang menjadi faktor-faktor penyebab anak menjadi anak
jalanan, sehingga dapat menjadi tolak ukur dan revrensi bacaan dalam mengatasi
masalah anak jalanan baik untuk pemerintah ataupun bagi masyarakat, khususnya
di Kota Binjai.
1.5. Sitematika Penulisan
Penulisan penelitian ini disajikan dalam enam bab dengan sistematika penulisan
sebagai berikut:
BAB I : PENDAHULUAN
Bab ini berisikan latar belakang masalah, perumusan masalah,
tujuan dan manfaat penelitian, serta sitematika penulisan.
BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini berisikan uraian konsep yang berkaitan dengan masalah
dan objek yang diteliti, kerangka pemikiran, definisi konsep, dan
BAB III : METODE PENELITIAN
Bab ini berisikan tipe penelitian, lokasi penelitian, populasi,
sampel, teknik pengumpulan data, serta teknik analisis data.
BAB IV : DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN
Bab ini berisikan sejarah singkat gambaran umum lokasi
penelitian dan data-data lain yang mendukung karya ilmiah.
BAB V : ANALISIS DATA
Bab ini berisikan tentang uraian data yang diperoleh dari hasil
penelitian beserta dengan analisisnya.
BAB VI : PENUTUP
Bab ini berisikan tentang kesimpulan dan saran dari hasil
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Konsep Anak 2.1.1. Pengertian anak
Terdapat berbagai definisi yang menjelaskan mengenai pengertian tentang
anak, definisi anak mengacu pada Konvensi Hak Anak (KHA) yaitu: “Setiap manusia yang berusia dibawah 18 tahun.” Sedangkan menurut ketentuan Undang
-undang RI tentang Perlindungan Anak No. 23 tahun 2002 pasal 1, yaitu: “Setiap orang yang berusia dibawah 18 tahun termasuk janin dalam kandungan”.
Berdasarkan standar internasional dan nasional disepakati bahwa anak adalah
seseorang yang usianya belum mencapai 18 tahun (PKPA, 2011:4).
Pengertian anak berdasarkan umur sampai saat ini belum ada
keseragaman, terutama tentang usia bagi anak. Soedijar 1989 (dalam Nurhadjamo,
1999:6), dalam The Minimum age Convention on The Right of The Child (1989)
anak adalah mereka yang berumur 18 tahun kebawah. Untuk Indonesia, menurut
Undang-undang Nomor 4 tahun 1979, anak adalah mereka yang berusia dibawah
21 tahun. Departemen Sosial membatasi anak pada usia 7-15 tahun sebagai
ukuran anak.
Sedangkan menurut The Minimum Age Convention Nomor 138 tahun
1973, pengertian tentang anak adalah seorang yang berusia 15 tahun kebawah.
Sebaliknya, dalam Convention on the right child tahun 1989, yang telah
disebutkan bahwa anak adalah mereka yang berusia 18 tahun ke bawah (Huraerah,
2006:19).
2.1.2. Hak-Hak Anak
Hak merupakan bagian dari Hak Asasi Manusia yang wajib dijamin dan
dimiliki oleh seluruh manusia tidak terkecuali dengan anak, anak juga memiliki
hak - hak yang harus dilindungi dan dipenuhi oleh orang tua, keluarga,
masyarakat, pemerintah, dan negara. Hak-hak asasi anak tersebut meliputi:
a. Hak untuk dapat hidup, tumbuh, berkembang dan berpartisipasi secara
wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan.
b. Hak atas suatu nama sebagai identitas diri dan satus kewarganegaraan
c. Hak untuk beribadah, berfikir, dan berekspresi.
d. Hak mengetahui orang tuanya, dibesarkan, dan diasuh oleh orang tuanya
sendiri.
e. Dalam hal karena suatu sebab orang tuanya tidak dapat menjamin tumbuh
kembang anak, atau anak dalam keadaan terlantar, maka anak tersebut
diasuh atau diangkat sebagai anak asuh oleh orang sesuai dengan peraturan
yang berlaku.
f. Hak untuk memperoleh pelayanan kesehatan dan jaminan sosial.
g. Hak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan
pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan bakatnya.
h. Hak memperoleh pendidikan luar biasa bagi anak yang menyandang cacat
dan hak mendapatkan pendidikan khusus bagi anak yang memiliki
i. Setiap anak berhak menyatakan dan didengar pendapatnya, menerima,
mencari, dan memberikan informasi sesuai dengan tingkat kecerdasan dan
usianya.
j. Hak untuk beristirahat dan memanfaatkan waktu luang, bergaul dengan
anak yang sebaya, bermain, berekreasi, dan berkreasi.
k. Hak untuk memperoleh rehabilitasi, bantuan sosial, dan pemeliharaan taraf
kesejahteraan sosial bagi anak yang menyandang cacat (Herlina, 2003:23).
Selain hak-hak anak di atas, anak juga berhak dilindungi dari perlakuan
sebagai berikut:
a. Diskriminasi, yakni perlakuan yang membeda-bedakan jenis kelamin, ras,
agama, dan status hukum anak.
b. Eksploitasi, yakni tindakan memperalat, dan memeras anak.
c. Penelantaran, yakni dengan sengaja mengabaikan perawatan dan pengurus
anak.
d. Kekejaman, yakni tindakan yang keji, bengis, dan tidak menaruh belas
kasihan anak.
e. Kekerasan dan penganiayaan, yakni perbuatan mencederai, melukai baik
fisik maupun mental
f. Perlakuan salah lainnya, yakni perbuatan cabul terhadap anak (Herlina,
2003:24).
2.1.3. Kesejahteraan Anak
Terdapat berbagai penjelasan mengenai kesejahteraan anak, menurut
merupakan orientasi utama dari perlindungan hukum. Secara umum,
kesejahteraan anak tersebut adalah suatu tata kehidupan dan penghidupan anak
yang dapat menjamin pertumbuhan dan perkembangannya dengan wajar, baik
secara rohani, jasmani maupun sosial.
Berdasarkan prinsip non-diskriminasi, kesejahteraan merupakan hak setiap
anak tanpa terkecuali. Maksudnya adalah bahwa setiap anak, baik anak dalam
keadaan normal maupun anak yang sedang bermasalah tetap mendapatkan
prioritas yang sama dari pemerintah dan masyarakat dalam memperoleh
kesejahteraan tersebut (Windari, 2010:36).
Anak sebagai bagian dari generasi muda merupakan penerus cita-cita
perjuangan bangsa sekaligus modal sumberdaya manusia bagi pembangunan
nasional. Disebutkan dalam Pasal 34 ayat (1) Undang-undang 1945 bahwa fakir
miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara. Negara mengembangkan
sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang
lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan. Negara
bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas
pelayanan umum yang layak.
Adanya jaminan dalam Undang-undang Dasar 1945 tersebut dapat
diartikan bahwa anak dianggap belum memiliki kemampuan untuk berdiri sendiri
baik secara rohani, jasmani maupun sosial. Oleh karena itu menjadi kewajiban
bagi orang dewasa, baik orang tua, keluarga, masyarakat maupun bangsa untuk
memberikan jaminan, memelihara dan mengamankan kepentingan anak serta
Kesejahteraan Anak menurut ketentuan Pasal 1 butir 1 Undang-Undang
Nomor 4 Tahun 1979 adalah suatu tata kehidupan dan penghidupan anak yang
dapat menjamin pertumbuhan dan perkembangannya dengan wajar, baik secara
rohani, jasmani maupun sosial. Dari definisi - definisi tentang kesejahteraan anak
tersebut, dapat ditarik pengertian bahwa kesejahteraan anak merupakan hak asasi
bagi masing-masing anak dan pengadaan kesejahteraan anak merupakan
kewajiban asasi setiap anggota masyarakat dan negara.
2.1.4. Perlindungan Hukum Anak
Anak sebagai manusia dan sebagai warga negara pada hakikatnya harus
memiliki perlindungan hukum yang dapat menjamin kehidupan mereka, dalam
pasal 26 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945
“penduduk ialah warga negara Indonesia dan orang asing yang bertempat tinggal di Indonesia”. Negara memberikan perlindungan kepada anak jalanan yang
tertuang dalam pasal 34 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun
1945 yaitu “fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.
Kemudian pasal 31 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
tahun 1945 dinyatakan bahwa:
a. Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan.
b. Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah
wajib membiayainya.
c. Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan suatu sistem
akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur
dengan undang-undang.
d. Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua
puluh persen dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari
anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan
penyelenggaraan pendidikan nasional.
e. Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan
menjunjung tinggi nilai-nilai agam dan persatuan bangsa untuk kemajuan
peradaban serta kesejahteraan umat manusia.
Perlindungan hukum untuk anak juga tertuang dalam undang-undang
perlindungan anak yaitu:
a. Negara, pemerintah, masyarakat, keluarga, orang tua berkewajiban dan
bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan perlindungan anak (pasal
20).
b. Kewajiban dan tanggung jawab masyarakat terhadap perlindungan anak
dilaksanakan melalui kegiatan peran masyarakat dalam penyelnggaraan
perlindungan anak (pasal25).
c. Pemerintah wajib menyelenggarakan pemeliharaan dan perawatan anak
terlantar, baik dalam lembaga maupun diluar lembaga (pasal 55).
Perlindungan anak merupakan segala kegiatan untuk menjamin dan
melindungi hak-hak anak agar tetap hidup, berkembang dan berpartisipasi secara
optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat
2.2. Anak Jalanan
2.2.1. Pengertian Anak Jalanan
Banyak terdapat penjelasan yang menjelaskan mengenai pengertian anak
jalanan, istilah anak jalanan pertama kali diperkenalkan di Amerika Selatan atau
Brazilia yang digunakan bagi kelompok anak-anak yang hidup dijalanan yang
umumnya sudah tidak memiliki hubungan dengan keluarganya (PKPA, 2011:4).
Anak jalanan atau sering disingkat anjal adalah sebuah istilah umum yang
mengacu pada anak-anak yang mempunyai kegiatan ekonomi di jalanan, namun
masih memilki hubungan dengan keluarganya.
(http://id.wikipedia.org/wiki/Anak-jalanan. Diakses pada 11:30 WIB. 5 Maret 2015).
UNICEF memberikan batasan tentang anak jalanan, yaitu: Street child are
those who have abandoned their homes, school and immediate communities
before they are sixteen years of age, and have drifted into a nomadic street life,
yang artinya bahwa anak jalaan merupakan anak-anak berumur dibawah 16 tahun
yang sudah melepaskan diri dari keluarga, sekolah dan lingkungan masyarakat
terdekatnya, larut dalam kehidupan yang berpindah-pindah dijalan raya.
Sedangkan menurut Departemen Sosial RI, anak jalanan adalah anak yang
sebagian besar menghabiskan waktunya untuk mencari nafkah atau berkeliaran
dijalanan atau tempat-tempat umum lainnya. (Herdiana, 2012).
Penelitian yang dilakukan oleh Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ)
berkerjasama dengan Balatbangsos Departemen Sosial RI, mendeskripsikan anak
jalanan sebagai anak yang sebagian besar waktunya berada dijalanan atau di
tempat-tempat umum yang memiliki ciri-ciri yakni berusia antara 5 sampai
yang kebanyakan kusam dan tidak terurus, serta mobilitasnya tinggi
(http://tkskponorogo.blogspot.com/2010/03/peta-masalah-anak-jalanan-dan.html.
Diakses pada 12.30 WIB. 5 Maret 2015).
Dalam buku “Intervensi Psikososial”, anak jalanan adalah anak yang
sebagian besar menghabiskan waktunya untuk mencari nafkah atau berkeliaraan
dijalanan atau tempat-tempat umum lainnya. Definis tersebut memberikan empat
faktor penting yang saling terkait, yaitu:
a. Anak-anak
b. Menghabiskan sebagian waktunya
c. Mencari nafkah atau berkeliaraan
d. Jalanan dan tempat-tempat umum lainnya (Astuti, 2004:15).
Untuk mempermudah pemahaman atas konsep anak jalanan, berikut tabel
karakteristik anak jalanan:
Faktor Pembeda Hidup Dijalanan Bekerja di Jalanan
Rentan Menjadi Anak Jalanan
Lama di jalan 24 jam 7-12 jam 4-6 jam
Hubungan dengan
Keluarga
Putus hubungan Tidak teratur
pulang Ke rumah
Masih tinggal
bersama orang tua
Tempat tinggal Di jalanan Mengontrak
(Bersama-sama)
Bersama keluarga
Pendidikan Tidak sekolah Tidak sekolah Masih sekolah
Sumber: PKPA 2011
Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), anak jalanan adalah anak
atau beraktifitas lain. Anak jalanan tinggal dijalanan karena dicampakkan atau
tercampak dari keluarga yang tidak mampu menanggung beban karena
kemiskinan dan kehancuran keluarganya.
2.2.2. Kategori Anak Jalanan
Terdapat berbagai penjelasan yang menjelaskan mengenai kategori anak
jalanan. Dalam (PKPA, 2011:5) pada mulanya terdapat dua kategori anak jalanan,
yaitu children on the street dan children of the street. Namun pada
perkembangannya ada penambahan kategori, yaitu children in the street atau
sering disebut juga children from families of the street.
Pengertian untuk children on the street adalah anak-anak yang mempunyai
kegiatan ekonomi dijalanan yang masih memiliki hubungan dengan keluarga. Ada
dua kategori kelompok anak jalanan dalam kategori ini, yaitu anak-anak yang
tinggal bersama dan senantiasa pulang ke setiap keluarganya, dan anak-anak yang
melakukan kegiatan ekonomi dan tinggal dijalanan namun masih
mempertahankan hubungan dengan keluarga dengan cara pulang, baik berkala
ataupun dengan yang tidak rutin.
Children of the street adalah anak-anak yang menghabiskan seluruh atau
sebagian besar waktunya di jalanan dan tidak memiliki hubungan atau ia
memutuskan hubungan dengan orang tua atau keluarganya. Biasanya anak jalanan
kategori ini hidup mengelandang dijalanan seharian penuh tanpa harus kembali
kekeluarganya. Sedangkan Children in the street atau children from families of the
street adalah anak-anak yang menghabiskan seluruh waktunya dijalanan yang
anak jalanan seperti ini disebut juga anak jalanan yang berasal dari keluarga yang
hidup di jalanan.
Berdasarkan kajian yang pernah dilakukan oleh Yayasan Lembaga
Pengkajian Sosial (YLPS) HUMANA tahun 2004, mengenai anak jalanan di
Indonesia, pengkategorian anak jalanan juga didasari oleh interaksi anak di ruang
publik perkotaan, sebagai tempat hidup atau sekedar untuk bekerja (kegiatan
produktif). Interaksi anak diruang publik perkotaan ada yang dilakukan sendiri
juga ada yang dilakukan bersama keluarga.
Anak yang memperlakukan ruang publik sebagai tempat hidup melahirkan
kategori sebagai berikut:
a. Anak dalam keluarga gelandangan
b. Anak yang hidup sendiri di jalanan
Sementara, mereka yang menganggap jalanan hanya sekedar tempat
mencari uang melahirkan kategori:
a. Anak jalanan pulang berkala
b. Anak jalanan pulang setiap hari atau anak kerja di jalan (YLPS
HUMANA, 2004:11-12).
Kemudian, Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia 1999 (dalam Siregar,
Dkk., 2006:24-25) telah membedakan anak jalanan menjadi empat kelompok,
yaitu:
1. Anak-anak yang tidak lagi berhubungan dengan orang tua (children of the
street) mereka ini telah mempergunakan fasilitas jalanan sebagai ruang
lingkupnya. Hubungan dengan keluarga sudah terputus. Kelompok ini
kekerasan, penolakan, penyiksaan, dan perceraian orang tua. Umumnya
mereka tidak mau kembali ke rumah, kehidupan anak jalanan dan
solidaritas sesama temannya telah menjadi ikatan mereka.
2. Anak-anak yang berhubungan tidak teratur dengan orang tuanya. Mereka
adalah anak yang bekerja di jalanan (children on the street). Mereka sering
kali di identifikasikan sebagai pekerja migrant kota yang pulang tidak
teratur kepada orang tuanya di kampung. Pada umumnya mereka bekerja
dari pagi sampai sore hari seperti menyemir sepatu, pengasong, pengamen,
tukang ojek payung, dan kuli panggul. Tempat tinggal mereka
dilingkungan kumuh bersama dengan saudara atau teman-teman senasib.
3. Anak-anak yang berhubungan langsung dengan orang tua. Mereka tinggal
dengan orang tuanya, bebrapa jam di jalanan karena ajakan dari teman,
belajar mandiri, membantu orang tua dan disuruh oleh orang tua. Aktivitas
mereka yang paling menyolok adalah berjualan koran.
4. Anak-anak jalanan yang berusia diatas 16 tahun. Mereka berada di jalanan
untuk mencari kerja. Umumnya mereka telah lulus SD bahkan ada yang
lulus SLTP. Mereka biasanya kaum urban yang mengikuti orang dewasa
(orang tua maupun saudara) ke kota. Pekerjaan mereka biasanya mencuci
bus, menyemir sepatu, membawa barang belanjaan (kuli panggul),
pengasong, pengamen, pengemis, dan pemulung.
2.2.3. Faktor-Faktor Penyebab Timbulnya Anak Jalanan
Pada awal kajian tentang anak jalanan, persoalan kemiskinan ekonomi
Belakangan statement ini mulai diperdebatkan, karena tidak semua keluarga
miskin menghasilkan anak jalanan. Kemiskinan kemudian dipandang sebagai
salah satu faktor beresiko yang memunculkan anak jalanan tetapi bukan satu
-satunya. Ada variabel lain yang saling merajut, seperti kekerasan dalam rumah
tangga, perpecahan dalam keluarga, atau pengaruh lingkungan (YLPS HUMANA,
2004:14).
Hubungan kemiskinan dengan faktor-faktor lain yang membuat anak-anak
beresiko turun ke jalan dapat dijelaskan sebagai berikut: tekanan ekonomi akibat
kemiskinan membuat orang tua mengharuskan anak-anak mereka turut
menanggung beban keluarga. Atau, anak-anak yang menyadari kondisi sosial
keluarganya miskin, kemudian ikut membantu memenuhi kebutuhan keluarga
dengan cara bekerja, baik di jalanan atau tempat lainnya. Ada pula anak-anak dari
keluarga miskin tersebut yang turun ke jalan setelah mendapat kekerasan dari
orang tua atau karena masalah lain seperti perceraian orang tua. Selain itu, faktor
lingkungan sosial seperti diajak teman atau ikut dengan teman menajdi pendorong
munculnya fenomena anak jalanan. Maka dapatlah disimpulkan bahwa
faktor-faktor yang membuat anak beresiko menjadi anak jalanan antara lain: Faktor
keluarga dan faktor lingkungan yang dijelaskan sebagai berikut:
1. Faktor keluarga
Keluarga adalah kelompok primer yang paling penting didalam masyarakat.
Keluarga merupakan sebuah group yang terbentuk dari perhubungan laki-laki dan
wanita, perhubungan dimana sedikit banyak berlangsung lama untuk menciptakan
kesatuan sosial yang terdiri dari suami istri dan anak-anak yang belum dewasa
(Hartono dan Azis, 2008:79). Dalam faktor keluarga dibagi menjadi dua, yaitu:
a. Persoalan ekonomi keluarga
Kondisi ekonomi keluarga yang miskin seringkali dipahami sebagai faktor
utama yang memaksa anak untuk turun ke jalan. Akibat kemiskinanan atau
faktor ekonomi tersebut, anak terpaksa mencari nafkah untuk membantu
memenuhi kebutuhan hidup keluarganya atau untuk kebutuhan pribadinya,
sehingga banyak anak yang putus sekolah dan turun ke jalan untuk bekerja
sebagai pengamen, pengemis, dan lain-lain.
b. Kekerasan dalam keluarga
Kekerasan dalam keluarga adalah salah satu faktor yang mendorong anak
lari dari rumah dan pergi ke jalan. Tindak kekerasan yang dilakukan anggota
keluarga terhadap anak memang dapat terjadi di semua lapisan sosial
masyarakat. Namun, pada lapisan bawah, kemungkinan terjadinya kekerasan
lebih besar dengan tipe yang lebih beragam.
Kekerasan terhadap anak dapat terkait dengan masalah ekonomi. Hali ini
bisa terjadi ketika sebuah keluarga mengalami berbagai masalah akibat beban
ekonomi yang tidak tertahankan. Sebagian atau seluruh masalah keluarga itu
kemudian terpaksa dibebankan pada anak-anak mereka. Bentuk pelimpahan
beban itu bukan saja memaksa anak bekerja, tetapi bisa juga menjadikan anak
sebagai sasaran kekesalan terhadap keadaan. Ketika si anak sudah menjadi
sasaran kekesalan, maka tindak kekerasan sangat mungkin akan dilakukan
Menurut Gunarsa (dalam Zulfadli, 2004:8), keluarga sebagai landasan bagi
anak yang memberikan macam bentuk dasar:
1. Didalam keluarga yang teratur dengan baik dan sejahtera, seseorang anak
akan memperoleh latihan-latihan dasar dalam mengembangkan sikap
sosial yang baik dan kebiasaan berprilaku. Misalnya anak belajar
melakukan tugas-tugas tertentu dan mengikuti tata cara keluarganya,
belajar disiplin diri dan disiplin waktu agar kelak kebiasaan disiplin
terbentuk dan memudahkan anak dalam pergaulan dan hubungan sosial
dengan temen-teman, serta mendukung kelancaran perkembangan
kongkrit dan prestasi.
2. Didalam keluarga dan hubungan-hubungan antar anggota keluarga
membentuk pola penyesuaian sebagai dasar bagi hubungan sosial dan
interaksi yang lebih luas. Anak akan belajar dari latihan-latihan dasar
mengembangkan sikap-sikap sosial yang baik. Kebiasaan-kebiasaan
bertingkah laku yang memudahkan terbentuknya perilaku tanpa
keragu-raguan, tanpa pertarungan motif dan konflik yang terlalu lama.
3. Didalam ikatan keluarga yang akrab dan hangat, seorang anak akan
memperoleh pengertian tentang hak, kewajiban, tanggung jawab yang
diharapkan. Dalam keluarga anak juga bisa belajar mengenai kewibawaan
dan sikap ototriter dari yang lebih tua, anak belajar mematuhi peraturan
tatacara keluarga.
4. Didalam keluarga anak akan mengalami peristiwa yang menyenangkan,
menyedihkan, penolakan, belas kasih dan frustasi. Keluarga sangat penting
perkembangan emosi, respon, kepercayaan anak, remaja, dan orang
dewasa.
Menurut BKKBN (2011), terdapat fungsi-fungsi yang seharusnya berjalan
didalam kehidupan keluarga. Fungsi yang dimaksud tersebut dikenal sebagai
“Delapan Fungsi Keluarga”, yaitu:
1. Pertama fungsi “Agama”, yang mempunyai makna bahwa keluarga adalah wahana pembinaan kehidupan ber Agama yaitu beriman dan bertaqwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa. Setiap langkah yang dilakukan oleh setiap
anggota keluarga hendaknya selalu berpijak pada tuntunan agama yang
dianutnya. Dalam menerapkan fungsi Agama, yang tidak boleh diabaikan
salah satunya adalah toleransi ber-agama, mengingat bahwa kita hidup
dinegara yang terdiri dari berbagai suku bangsa dan mempunyai
kepercayaan dan agama yang sangat beragam.
2. Kedua “Fungsi Sosial Budaya” yang mempunyai makna bahwa keluarga adalah menjadi wahana pembinaan dan persemaian nilai-nilai luhur
budaya yang selama ini menjadi panutan dalam tata kehidupan mereka.
Sehingga nilai luhur yang selama ini sudah menjadi panutan dalam
kehidupan bangsa tetap dapat dipertahankan dan dipelihara.
3. Ketiga “Fungsi Cinta Kasih” yang mempunyai makna bahwa keluarga
harus menjadi tempat untuk menciptakan suasana cinta dan kasih sayang
dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarkat, berbangsa dan bernegara.
Dalam kehidupan keluarga cinta kasih dan kasih saynag antara anggota
keluarga akan dapat menumbuhkan rasa bertanggung jawab yang besar
keluarga akan selalu menjaga komitmen yang telah dibuat bersama,
demikian juga dalam kehidupan bermasyarakat, dengan fungsi ini akan
menumbuhkan keharmonisan dalam bertetangga dan bermasyarakat.
4. Keempat “Fungsi Perlindungan” yang mempunyai makna bahwa keluarga itu merupakan wahana terciptnanya suasana aman, nyaman, damai dan
adil bagi seluruh anggota keluarganya. Sehingga setiap anggota keluarga
akan selalu merasa bahwa tempat yang paling baik dan pantas adalah
didalam lingkungan keluarganya sendiri, dan ini tentu sangat membantu
dalam menghadapi segala tantangan yang muncul dalam kehidupannya.
5. Kelima “Fungsi Reproduksi” yang mempunyai makna bahwa didalam
keluarga tempat diterapkannya cara hidup sehat, khususnya dalam
kehidupan reproduksi. Diharpkan setiap anggota keluarga harus
memahami cara hidup sehat dan mengerti tentang kesehatan
reproduksinya. Oleh sebab itu pemahaman dan pengetahuan tentang alat
kontrasepsi, alat kontrasepsi rasional, pengetahuan lain tentang penyiapan
kehidupan berkeluarga bagi remaja, tentang ketahanan keluarga melalui
bina-bina yang tentu wajib harus dimiliki.
6. Keenam “Fungsi Pendidikan” yang mempunyai makna bahwa keluarga
adalah wahana terbaik dalam proses sosialisasi dan pendidikan bagi
anak-anaknya. Pendidikan dalam keluarga ini sebetulnya adalah pendidikan inti
yang menjadi fondasi untuk perkembangan anak. Sedangkan pendidikan
yang diperoleh dari sekolah maupun dari lingkungan sebetulnya hanya
7. Ketujuh “Fungsi Ekonomi” yang mempunyai makna, bahwa keluarga tempat membina kualitas kehidupan ekonomi, dan kesejahteraan keluarga.
Setiap anggota keluarganya punya kewajiban yang sama untuk
melakukanan kegiatan yang akan menambah kesejahteraan keluarga. Ini
mempunyai makna bahwa seluaruh anggota keluarga dapat bersikap
ekonomis, realistis dan mau berjuang untuk peningkatan kesejahteraan
keluarga.
8. Kedelapan “Fungsi Lingkungan” yang mempunyai makna, bahwa kelaurga adalah wahana untuk menciptakan warganya yang mampu hidup
harmonis dengan lingkungan masyarakat sektitar dan alam, dalam bentuk
keharmonisan antar anggota keluarga, keharmonisan dengan tetangga serta
keharmonisanterhadapalam sekitarnya.
(http://www.bkkbn.go.id/ViewArtikel.aspx?ArtikelIID=35. Diakses pada
13:00 WIB. 6 Maret 2015).
2. Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan merupakan salah satu faktor pendorong anak turun ke
jalan. Adakalanya sebelum terpengaruh faktor lingkungan, seorang anak memang
berasal dari keluarga kurang mampu, sehingga faktor lingkungan, seperti diajak
teman atau bermasalah disekolah, menjadi penguat alasan untuk turun ke jalanan.
Namun demikian, banyak ditemukan kasus anak jalanan yang bukan berasal dari
keluarga miskin dan tidak mengalami kekerasan dalam keluarga, tetapi justu
ini umumnya identik dengan soal gaya hidup dan kehendak si anak sendiri untuk
mencari kebebasan (YLPS HUMANA, 2004:14).
Selanjut menurut Surjana (dalam Siregar, dkk., 2006:26) menyebutkan
bahwa faktor yang mendorong anak turun ke jalan terbagi dalam tiga tingkatan,
yakni:
1. Tingkat mikro (immediate causes), yaitu faktor yang berhubungan dengan
anak dan keluarga. Sebab-sebab yang bisa diidentifikasikan dari anak
adalah lari dari rumah (sebagai contoh anak yang selalu hidup dengan
orang tua yang terbiasa dengan mengunakan kekerasan, seperti sering
menampar, memukul, menganiaya karena kesalahan kecil, jika sudah
melampaui batas toleransi anak, maka anak cenderung memilih keluar dari
rumah dan hidup di jalanan), disuruh bekerja dengan kondisi masih
sekolah atau disuruh putus sekolah, dalam rangka bertualang,
bermain-main atau diajak teman. Sebab-sebab yang berasal dari keluarga adalah
terlantar, ketidakmampuan orang tua menyediakan kebutuhan dasar, salah
perawatan dari orang tua sehingga mengalami kekerasan di rumah
(childabuse) kesulitan berhubungan dengan keluarga karena terpisah dari
orang tua. Permasalahan atau sebab-sebab yang timbul baik dari anak
maupun keluarga ini salaing terkait satu sama lain.
2. Tingkat meso (underlying cause), yaitu anak turun ke jalanan dilatar
belakangi oleh faktor di masyarakat seperti kebiasaan mengajarkan untuk
bekerja sehingga suatu saat menjadi keharusan kemudian meninggalkan
masyarakat miskin, anak-anak adalah aset untuk membantu meningkatkan
ekonomi keluarga. Menurut Suparlan, 1993 (dalam Pramuchtia, 2008:11),
sekali kebudayaan kemiskinan tersebut tumbuh, ia cenderung
melanggengkan dirinya dari generasi ke generasi melalui pengaruhnya
terhadap anak-anak. Ketika anak-anak di wilayah slum brumur enam atau
tujuh tahu, mereka biasanya menyerap nilai-nilai dasar dan sikap-sikap
dari sub-kebudayaan mereka dan secara kejiwaan tidak sanggup
memanfaatkan kondisi-kondisi perubahan dan memberikan
kesempatan-kesempatan yang mungkin terjadi dalam hidup mereka. Hal ini terlihat
dari penelitian Handoyo dkk, 2004 (dalam Pramuchtia, 2008:11), bahwa
anak jalanan yang turun ke jalan pada usia dini (3 sampai 10 tahun) adalah
mereka yang mengikuti aktivitas orang mencari nafkah.
3. Tingkat makro (basic cause), memberikan penjelasan seperti peluang
pekerjaan pada sektor informal yang tidak terlalu membutuhkan modal
dan keahlian besar, urbanisasi, biaya pendidikan yang tinggi, dan belum
adanya kesamaan persepsi instansi pemerintah terhadap anak jalanan. Oleh
karenanya, anak dengan keterbatasan kemampuan yang dimilikinya
cenderung memilih untuk turun ke jalanan yang tidak memerlukan
keahlian besar.
Lubis, dkk, 2006, kemudian menjelaskan beberapa faktor berpengaruh
terhadap anak turun ke jalanan ialah faktor kemiskinan dan faktor sosial.
Kemiskinan merupakan salah satu faktor yang menyebabkan anak-anak ke
jalanan. Hal tersebut terjadi karena adanya keluarga anak jalanan yang
merasa tidak mampu memberikan hak dasar untuk tumbuh kembang anak.
Alasan-alasan tersebut antara lain:
a. Jumlah beban anggota keluarga lebih tinggi dibandingkan dengan
pendapatan orang tua.
b. Ketidakmampuan keluarga mengelola keuangan untuk melihat
prioritas pengeluaran rumah tangga.
c. Urbanisasi, yakni kota yang padat penduduknya dan banyak keluarga
bermasalah, baik masalah ekonomi, sosial dan pendidikan rendah
membuat sebagian anak-anak mereka turun ke jalan.
2. Faktor sosial
Beberapa faktor sosial yang mempengaruhi anak turun ke jalan antara lain:
a. Adanya pembiaran dari orang tua terhadap anak yang meninggalkan
sekolah dan menimati kehidupan jalanan. Orang tua berfikir pragmatis,
ketika anak mampu mencari uang untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya maka hal tersebut dirasa sangat menguntungkan, apalagi
anak bisa memberikan setoran kepada orang tua maka pujianpun akan
diberikan.
b. Anak-anak sejak usia dini telah diperkenalkan dengan kehidupan
jalanan, kondisi tersebut berpengaruh terhadap perkembangan fisik,
c. Anak tidak menemukan tempat yang menyenangkan untuk bermain,
belajar dan berinteraksi sosial dengan teman-temannya. Anak-anak
kecewa dengan kehidupan keluarga dan sekolah yang tidak menjawab
kepentingan dan kebutuhan anak.
d. Anak-anak tidak mendapat perhatian, kasih sayan dan perlindungan
dari tindakan eksploitasi serta kekerasan di dalam rumah tangga.
Kemudian anak memilih jalan pintas lari dari rumah meski tanpa
tempat tujuan yang pasti (PKPA, 2011:26).
2.2.4. Resiko Anak Jalanan
Menjadi anak jalanan selalu penuh dengan resiko. Resiko tersebut ada
yang ditimbulkan oleh relasi anak dengan lingkungan fisik (spasial), relasi anak
dengan lingkungan sosial budaya, atau relasi anak dengan struktur atau aparatus
kekuasaan. Dengan demikian ruang-ruang publik perkotaan dengan segala macam
interaksi yang terjadi di dalamnya selalu berpotensi mengancam keselamatan
anak-anak yang banyak menghabiskan waktu di dalamnya. Sejauh ini ada beberap
macam resiko yang dialami anak jalanan, antara lain: korban operasi tertib sosial,
korban kekerasan orang dewasa, kehilangan pengasuhan, resiko penyakit,
kehilangan kesempatan pendidikan, eksploitasi seksual dan berkonflik dengan
hukum (YLPS HUMANA, 2004:24).
Darwansyah (2012), menyebutkan akibat yang ditimbulkan bagi sang anak
di jalanan adalah:
1. Perkembangan dan pembentukan kepribadian anak tidak berjalan dengan
tertentu belum mempunyai bentukan mental emosional yang kokoh,
sementara pada saat yang sama mereka harus bergelut dengan dunia
jalanan yang keras, sehingga hal ini akan berpengaruh negatif terhadap
perkembangan dan pembentukan kepribadian sang anak.
2. Anak-anak jalan pada umumnya menjadi pribadi yang introvert (tidak
terbuka), cenderung sukar mengendalikan diri, dan lebih bersifat asosial.
3. Bagi anak jalanan perempuan seringkali mereka dijadikan sebagai tempat
pelampiasan kebutuhan seksual para preman (lelaki dewasa yang
sama-sama tinggal di jalanan), atau bahkan mereka dijual sebagai pelacur.
4. Menjadi subjek dan objek kriminalitas. Seorang anak jalan seringkali
dimanfaatkan oleh para preman untuk mencari uang sebanyak -banyaknya
dengan cara yang tidak benar seperti mencurui dan merampas. Dan
kadang-kadang anak jalanan yang tidak patuh dengan orang yang
menyuruhnya bisa menerima perlakuan kriminal seperti dipukul dan
dianiaya atau bahkan diperkosa bagi anak jalanan perempuan.
5. Kehidupan masa depan sang anak tidak terjamin karena tidak dibekali oleh
pengetahuan dan keterampilan yang cukup ketika masih kecil. Bahkan
dapat dikatakan anak-anak jalanan itu tidak mempunyai masa depan.
Selamanya mereka akan berada di jalanan dan akan sulit sekali bagi
mereka untuk keluar dari kehidupan jalanan.
6. Pendidikan formal sang anak tidak maksimal karena mereka mungkin
lebih memilih untuk berada di jalanan daripada di sekolah dengan berbagai
2.3. Pendekatan Penyelesaian Anak Jalanan
Berbagai upaya yang dilaksanakan oleh pemerintah dalam usaha
mengatasi anak jalanan di perkotaan dilaksanakan dengan melibatkan semua
unsur yang terkait baik instansi pemerintah, International Labour Organization
(ILO) maupun organisasi kemasyarkatan non pemerintah (NGO) yang fokus
dalam upaya pendampingan dan perlindungan pekerja anak (Jauchar, 2008:155).
Sementara itu Twikromo 1999 (dalam Jauchar, 2008:155), melihat bahwa
setidaknya ada dua pendekatan yang lazim digunakan dalam menanggulangi
masalah anak jalanan yaitu: Pertama, Penanggulangan preventif. Biasanya dibawa
kesituasi formal, cara semacam ini cenderung dilaksanakan didalam kelas dengan
jumlah peserta yang cukup besar, seperti situasi formal yang mana bimbingan,
latihan dan pendekatan bisa diselenggarakan secara individual di jalan-jalan, dan
Kedua, Penanggulangan represif. Dilakukan secara terorganisir dan instansi
pemerintah untuk mengurangi atau mencegah meluasnya pengaruh masalah anak
jalanan seperti razia. Upaya penanggulangan secara represif biasanya
dilaksanakan oleh pemerintah kota ketika melihat aktifitas anak jalanan telah
menggangu ketertiban umum/perkotaan.
Menurut Jauchar (2008: 161-163), guna mengatasi permasalahan anak
jalan, terdapat tiga startegi penanggulangan anak jalanan melalui identifikasi dan
pengembangan kelompok sasaran yang diharapkan mampu mengakomodir
beebagai segmen usia yang ada dalam anak jalanan. Ketiga strategi itu adalah:
1. Pengembangan pendidikan formal/non formal
2. Pengembangan kemampuan permodalan
Strategi pertama berupa pengembangan pendidikan formal/non formal
lebih diajukan pada anak-anak jalanan usia sekolah (5-9 tahun dan 10-14 tahun)
yaitu agar mereka tetap dapat melanjutkan sekolahnya dan berada dalam
lingkungan sekolah dan keluarga. Dalam strategi ini instansi terkait tidak hanya
bekerja sendiri, akan tetapi juga menjalin kerjasama dengan lembaga swadaya
masyarakat yang fokus dalam bidang pendampingan dan perlindungan anak.
Strategi kedua terkait dengan kemampuan permodalan yang ditujukan
pada anak-anak jalanan yang sudah dro out dari sekolah dan usia sudah tidak
memungkinkan untuk melanjutkan sekolah. Melalui strategi ini anak -anak jalanan
diberi pelatihan keterampilan dan permodalan baik secara kelompok maupun
perorangan. Upaya pengembangan strategi ini dilaksanakan dengan pola
kemitraan dengan lembaga-lembaga terkait yang memilik kompetensi dalam
bidang usaha tertentu. Usia anak jalanan yang mendapatkan program ini terutama
bagi mereka yang berusia antara 16-19 tahun. Hal ini dilaksanakan dengan asumsi
bahwa mereka akan segera memasuki masa remaja yang berarti pola pikir mereka
diharapkan dapat berkembanga untuk beralih berwirausaha dan tidak lagi berada
di jalanan.
Strategi ketiga adalah pengembangan kelembagaan ekonomi kerakyatan.
Anak-anak jalanan yang semula berusaha secara individu, didorong agar mau
berusaha secara berkelompok maupun perorangan. Pembentukan kelompok
maupun jenis usaha yang akan dilaksanakan hendaknya muncul dari aspirasi
mereka sendiri. Peran institusi pemerintah maupun lembaga-lembaga
pemberdayaan dilaksanakan terbatas pada upaya pendampingan dan monitoring
bimbingan sehingga keterlibatan mereka dalam kelompok murni karena kesaan
visi dan sehingga terjalin susana kondusif dalam melaksanakan usaha-usahanya.
2.4.Kerangka Pemikiran
Pemenuhan kebutuhan perlindungan anak, baik itu perlindungan,
perawatan, hak asuh, dan kebutuhannya sering terkendala oleh berbagai faktor
yang menyebabkan anak turun ke jalan. Berbagai faktor tersebut dibagi dalam tiga
tingkatan, yakni tingkat mikro, tingkat messo, dan tingkat makro.
Tingkat mikro memberikan penjelasan bahwa anak memilih untuk turun
ke jalanan lebih dilatar belakangi oleh anak itu sendiri, yaitu seperti lari dari
rumah (sebagai contoh anak yang selalu hidup dengan orang tua yang terbiasa
dengan menggunakan kekerasan, seperti sering menampar, memukul, menganiaya
karena kesalahan kecil, jika sudah melampaui batas toleransi anak, maka anak
cenderung memilih keluar dari rumah dan hidup di jalanan), disuruh bekerja
dengan kondisi masih sekolah atau disuruh putus sekolah, berpetualang, atau
bermain-main. Sebab-sebab yang berasal dari keluarga adalah penelantaraan,
ketidakmampuan orang tua menyediakan kebutuhan dasar, salah perawatan dari
orang tua sehingga mengalami kekerasan di rumah (childabuse), serta kesulitan
berhubungan dengan keluarga karena terpisah dari orang tua. Permasalahan atau
sebab-sebab yang timbul baik dari anak maupun keluarga ini saling terkait satu
sama lain.
Tingkat messo memberikan penjelasan bahwa anak turun ke jalanan
dilatar belakangi oleh faktor masyarakat (lingkungan sosial) seperti kebiasaan