KARAKTERISTIK IBU PASANGAN USIA SUBUR YANG MENGALAMI ABORTUS DI RUMAH SAKIT SANTA ELISABETH MEDAN
TAHUN 2010 – 2013
Erniwati Silalahi1, Sorimuda Sarumpaet2, Jemadi2 1
Mahasiswa Departemen Epidemiologi FKM USU 2
Staf Pengajar Departemen Epidemiologi FKM USU Jl. Universitas No.21 Kampus USU Medan, 20155
Email: [email protected]
ABTRACTS
Abortion is an important public health problem. It gives impact the maternal morbidity and mortality in the cases of bleeding complications and sepsis. In the world, there are 114 cases of abortion per hour and in 2010 about 4% of maternal mortality in Indonesia.
This study is to know the characteristicsmother of Eligible couples in Santa Elisabeth hospital Medan in 2010-2013, this study used a descriptive study with case series design. Population and sample is the whole Mother of Eligible couples 106 people.
The highest proportion of the age group 28-31 years is 32,1%, Bataknese 85,5%, Protestant christian 59,4%, housewife 40,6%, Medan 83,0%, bleeding 70,7%, the first trimester 91,5%, no history of abortion 84,9%, unsafe parity 72,4%, spontaneous abortion 99,1%, incompletus abortion 77,4%, no complications 95,3%, no history of diseases 79,2%, curettage 78,3%, not referral 55,7%, the average duration of patient care is 2 days, a status while returning cured97,2%, and own costs 80,2%.
There is no difference between proportion ofparity based on history of abortion (p= 0,274),parity based oncomplications(p= 0,320), complication based on circumstances after treatment (p= 1.000), medical management by circumstances after treatment (p= 0,118),duration of treatment by the complication (0,145), duration of treatment by the history of diseases (p=0,066), and motherof Eligible couples having abortion with the conservative medical treatment, the average duration of treatment was significantly higher than curettage (3 days vs 2 day; t=-4,049, p=0,000).
Santa Elisabeth hospital expected to complete the record of status card on the history of prenatal care.Itis expected to the society by the preventingthe abortion by improving family planning and to related health servicesto do counseling to the mother of Eligible couples who experience of abortion on the prevention in subsequent pregnancies.
Pendahuluan
Kehamilan merupakan proses alamiah (normal) dan bukan proses patologi tetapi kondisi normal dapat menjadi patologi/abnormal. Kondisi abnormal pada kehamilan dapat berupa komplikasi kehamilan, dimana salah satu bentuk dari komplikasi kehamilan adalah abortus. Abortus adalah berakhirnya proses kehamilan sebelum fetus atau janin mampu hidup di luar kandungan pada umur kurang dari 20 minggu. Abortus yang dilakukan tanpa tindakan disebut abortus spontan sedangkan abortus yang berlangsung akibat tindakan sengaja disebut abortus buatan(Chalik, 1998).
Saat ini abortus masih merupakan masalah kontroversi di masyarakat Indonesia. Namun terlepas dari kontroversi tersebut, abortus merupakan masalah kesehatan masyarakat karena memberikan dampak pada kesakitan dan kematian ibu. Sebagaimana diketahui penyebab utama kematian ibu hamil dan melahirkan adalah perdarahan, hipertensi dan infeksi. Namun sebenarnya abortus merupakan penyebab kematian ibu, hanya saja muncul dalam bentuk komplikasi perdarahan dan sepsis. Akan tetapi kematian ibu yang diakibatkan oleh komplikasi abortus sering tidak muncul dalam laporan kematian, tetapi dilaporkan sebagai perdarahan atau sepsis (Muharikah, 2014).
Komplikasi yang sering terjadi ketika terjadi abortus adalah perdarahan yang bisa terjadi mendadak dengan jumlah yang banyak dan bisa menyebabkan syok. Perdarahan dalam perut dan infeksi
dalam abdomen juga bisa terjadi pada saat penanganan dengan metode kuretasi. Abortus juga dapat menyebabkan Korio karsinoma sekitar 15 sampai 20% (Ida, 2010).
Kematian akibat abortus yang tidak aman merupakan masalah serius di dunia, karena risiko maternal 100-500 kali lebih tinggi akibat abortus yang dilakukan secara tidak amandaripada abortus yang aman (Royston, Armstrong, 1994). Hal ini dapat dilihat dari laporan WHO (2008) yang menyatakan bahwa satu dari delapan kematian ibu (13%) adalah akibat abortus yang dilakukan secara tidak aman. Menurut Depkes (2013) pada tahun 2010 sekitar 4% kejadian abortus menyumbang terjadinya kematian ibu di Indonesia.
. Berdasarkan hasil survey pendahuluan pada Bidang Rekam Medikdi Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2010 – 2013, diperoleh data Ibu PUS yang mengalami abortus sebanyak 106 kasus. Tahun 2010 terdapat 29 kasus(26,9%), 2011 terdapat 26 kasus( 24,1%), tahun 2012 terdapat 25 kasus(23,1%), dan pada tahun 2013 terdapat 26 kasus(25,9%).
Perumusan masalah dalam penelititan ini adalah belum diketahuinya karakteristik Ibu PUS yang mengalami abortus di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2010-2013.
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik Ibu PUS yang mengalami abortus di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2010-2013. Tujuan khusus penelitian ini adalah:
a. Mengetahui distribusi proporsi Ibu PUS yang mengalami abortus berdasarkan sosiodemografi yang
meliputi umur,
suku,agama,pekerjaan, dan tempat tinggal.
b. Mengetahui distribusi Ibu PUS yang mengalami abortus berdasarkan mediko obstetri yang meliputi: keluhan,umur kehamilan, paritas,frekuensi abortus, riwayat kejadian abortus, klasifikasi abortus secara klinis, komplikasi, danriwayat penyakit. c. Mengetahui distribusi proporsi
IbuPUS yang mengalamiabortus berdasarkan status rawatan yang meliputi: penatalaksanaan medis, lama rawatan rata-rata, asal rujukan, keadaan sewaktu pulang, dan sumber pembiayaan. d. Mengetahui distribusi proporsi
penatalaksanaan medis Ibu PUS yang mengalami abortus berdasarkan klasifikasi abortus secara klinis.
e. Mengetahui perbedaan proporsi paritas berdasarkan riwayat kejadian abortus.
f. Mengetahui perbedaan proporsi paritas berdasarkan komplikasi. g. Mengetahui perbedaan proporsi
komplikasi berdasarkan keadaan sewaktu pulang.
h. Mengetahui perbedaan proporsi
penatalaksanaan medis
berdasarkan keadaan sewaktu pulang.
i. Mengetahui perbedaan lama rawatan rata-rata berdasarkan komplikasi.
j. Mengetahui perbedaan lama rawatan rata-rata berdasarkan riwayat penyakit.
k. Mengetahui perbedaan lama rawatan rata-rata berdasarkan penatalaksanaan medis.
l.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskritif dengan jenis desain penelitian yang digunakan adalah case series. Populasi penelitian ini adalah seluruh Ibu PUS di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2010-2013 sebanyak 106 orang. Sampel dari penelitian adalah seluruh Ibu PUS yang mengalami abortus di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan. Teknik pengumpulan data yang dilakukan yaitu dengan memanfaatkan data sekunder dari catatan rekam medik Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan. Data yang diambil kemudian dianalisis dengan bantuan SPSS untuk analisis univariat dan bivariat. Analisis univariat dilakukan untuk menggambarkan distribusi, frekuensi dan persentase masing –masing variabel, dan analisis bivariat menggunakan uji statistik Chi Square, Exact Fisher, dan T-test. Analisis Univariat
Tabel 1. Distribusi Proporsi Ibu PUS yang Mengalami Abortus Berdasarkan Sosiodemografi di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2010-2013 Sosiodemografi f % Umur 20-23 6 5,7 24-27 13 12,3 28-31 34 32,1 32-35 25 23,5 36-39 15 14,2 40-43 13 12,2 Total 106 100,0 Suku Jawa 8 7,5 Batak 91 85,9 Melayu 1 0,9 Chinesse 2 1,9
Aceh 1 0,9 India 1 0,9 Tamil 2 1,9 Total 106 100,0 Sub Suku Batak Toba 71 78,0 Batak Karo 15 16,5 Batak Simalungun 2 2,2 Batak Mandailing 2 2,2 Batak Pakpkak 1 1,1 Total 91 100,0 Agama Islam 11 10,4 Kristen Protestan 63 59,4 Katolik 28 26,4 Hindu 2 1,9 Budha 2 1,9 Total 106 100,0 Pekerjaan Pegawai Negeri Sipil 15 14,2 Pegawai Swasta 31 29,2 Wiraswasta 17 16,0
Ibu Rumah Tangga 43 40,6
Total 106 100,0
Tempat Tinggal
Kota Medan 88 83,0
Luar Kota Medan 18 17,0
Total 106 100,0
Berdasarkan tabel 1 dapat dilihat bahwa berdasarkan umur proporsi tertinggi Ibu PUS yang mengalami abortus adalah pada kelompok umur 28-31 tahun dengan proporsi 32,1%, usia tersebut merupakan keadaan yang optimal bagi seorang wanita untuk hamil dan melahirkan sesuai dengan penelitian Azhari (2002) yang menyatakan bahwa umur reporduksi sehat dan aman untuk kehamilan dan persalinan adalah umur 20-35 tahun.Berdasarkan suku, proporsi tertinggi Ibu PUS yang mengalami abortus adalah suku Batak dengan proporsi 85,8%. Berdasarkan agama, proporsi tertingi adalah agama Kristen Protestan dengan proporsi 59,4%. Berdasarkan pekerjaan, proporsi tertinggi Ibu PUS yang
mengalami abortus adalah Ibu Rumah Tangga dengan proporsi 40,6%. Kemudian berdasarkan tempat tinggal, proporsi tertinggi Ibu PUS yang mengalami abortus adalah bertempat tinggal di Kota Medan dengan proporsi 83,0%.
Tabel 2. Distribusi Proporsi Ibu PUS yang Mengalami Abortus Berdasarkan Mediko Obstetri
di Rumah Sakit Santa
Elisabeth Medan tahun 2010-2013
Mediko Obstetri f (%)
Keluhan
Perdarahan 75 70,7
Sakit perut atau
mulas 20 18,9 Pengeluaran hasil konsepsi 11 10,4 Total 106 100,0 Umur Kehamilan Tahu 94 88,7 Tidak tahu 12 11,3 Total 106 100,0 Umur Kehamilan (minggu) 1 -3 2 2,2 4-6 13 13,8 7-9 44 46,8 10-12 27 28,7 13-15 7 7,4 16-18 1 1,1 Total 94 100 Umur Kehamilan Resiko Tinggi (Trimester I) 86 91,5 Resiko Rendah (trimester II) 8 8,5 Total 94 100,0 Paritas Aman 29 27,6 Tidak aman 77 72,4 Total 106 100,0 Frekuensi Abortus Tidak pernah mengalami abortus 90 84,9 Frekuensi jarang ≤2 15 14,2 Frekuensi sering >2 1 0,9 Total 106 100,0 Riwayat Kejadian Abortus Abortus spontan 105 99,1
Abortus Buatan 1 0,9 Total 106 100,0 Klasifikasi abortus Secara Klinis Abortus imminiens 20 18,8 Abortus insipiens 2 1,9 Abortus inkompletus 82 77,4 Abortus kompletus 2 1,9 Total 106 100,0 Komplikasi Ada komplikasi 5 4,7 Tidak ada Komplikasi 101 95,3 Total 106 100,0 Komplikasi Perdarahan 5 100 Total 5 100,0 Riwayat Penyakit Ada Penyakit 22 20,8
Tidak Ada Penyakit 84 79,2
Total 106 100,0
Berdasarkan tabel 2 dapat dilihat bahwa proporsi tertinggi Ibu PUS yang mengalami abortus berdasarkan keluhan adalah perdarahan dengan proporsi 70,7%. Berdasarkan usia kehamilan adalah pada usia 8 minggu 22,6% dan pada trimester I dengan proporsi 91,5%. Sekitar 60-80% abortus spontan terjadi pada trimester I yang disebabkan kelainan kromosom 50%, gangguan endokrin 23%, kelainan rahim 15%, dan gangguan pada perkembangan embrio 12%. Hal ini menyebabkan usia kehamilan pada trimester I berisiko tinggi terhadap abortus (Winkjosastro 2009). Berdasarkan paritas adalah pada paritas tidak aman dengan proporsi 72,4%. Berdasarkan frekuensi abortus yang pernah dialami Ibu PUS sebelumnya adalah tidak pernah abortus dengan proporsi 84,9%. Berdasarkan riwayat kejadian abortus adalah pada abortus spontan dengan proporsi 99,1%. Berdasarkan klasifikasi klinis abortus adalah
inkompletus dengan proporsi 77,4%. Berdasarkan komplikasi adalah tidak ada komplikasi dengan proporsi 95,3%. Berdasarkan adanya riwayat penyakit yang dimiliki oleh Ibu PUS adalah tidak memiliki riwayat penyakit, yaitu dengan proporsi 79,2%.
Tabel 3. Distribusi Proporsi Ibu PUS yang Mengalami Abortus Berdasarkan Status Rawatan Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2010-2013 Status Rawatan f (%) Penatalaksanaan Medis Kuretasi Konservatif 83 23 78,3 21,7 Total 106 100,0 Asal Rujukan
Rujukan rumah sakit lain
Rujukan bidan/ klinik/
prakter dokter Bukan rujukan 3 44 59 2,8 41,5 55,7 Total 106 100
Keadaan Sewaktu Pulang
PS PAPS Meninggal 103 3 0 97,2 2,8 0 Total 106 100,0 Sumber Pembiayaan Biaya sendiri Bukan biaya sendiri
85 21
80,2 19,8
Total 106 100.0
Berdasarkan tabel 3 dapat dilihat bahwa proporsi tertinggi Ibu PUS yang mengalami abortus berdasarkan penatalaksanaan medis adalah kuretase dengan proporsi 77,4%. Berdasarkan asal rujukan adalah bukan rujukan dengan proporsi 55,7%, berdasarkan keadaan sewaktu pulang adalah pulang sembuh dengan proporsi 97,2%, berdasarkan sumber pembiayaan adalah biaya sendiri dengan proporsi 80,2%.
Tabel 4. Lama rawatan rata-rata Ibu Pus yang Mengalami Abortus di Rumah Sakit Santa
Elisabeth Medan Tahun 2010-2013
Lama Rawatan Rata- Rata Mean Standar Deviation 95% CI Min Max 1,82 1,608 1,51 – 2,13 1 11 Lama rawatan rata-rata Ibu PUS yang mengalami abortus di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan adalah 1,84 hari (2 hari) dan Standard Deviation (SD) 1,589 hari. Lama rawatan rata-rata yang paling
singkat adalah 1 hari dan yang paling lama adalah 11 hari.
Ibu PUS dengan lama rawatan 11 hari yaitu 1 orang, menunjukkan ada keterkaitan lama rawatan dengan kondisi kesehatan ibu yang mengalami abortus imminiens disertai penyakit lain yaitu deman, diare akut, dan batuk. Hal ini memerlukan perawatan yang cukup lama sampai kondisi Ibu Pus benar-benar pulih.
Tabel 5. Distribusi Proporsi Klasifikasi
Abortus Secara Klinik Berdasarkan Penatalaksanaan Medis di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan Tahun 2010 – 2013
Dari tabel 5 dapat dilihat bahwa dari 20 Ibu PUS yang mengalami abortus
iminniens 100% dengan
penatalaksanaan medis konservatif, dari dua Ibu PUS yang mengalami abortus insipiens 50% dengan penatalaksanaan medis kuretase dan 50% dengan penatalaksanaan medis konservatif. Dari 82 yang mengalami abortus inkompletus 98,8% dengan penatalaksanaan medis kuretase dan 1,2% dengan penatalaksanaan medis konservatif, dan dari 2 Ibu PUS yang mengalami abortus 100% dengan penatalaksanaan medis konservatif
Tabel 6. Distribusi Proporsi Paritas Ibu PUS yang Mengalami Abortus Berdasarkan Riwayat Kejadian Abortus di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan Tahun 2010 - 2013
Berdasarkan tabel 6 dapat dilihat bahwa dari 105 Ibu PUS yang mengalami abortus dengan riwayat kejadian abortus spontan proporsi tertinggi adalah paritas tidak aman 73,3%, dan dari Ibu PUS yang mengalami abortus dengan riwayat kejadian abortus buatan adalah paritas aman 100%.
Hasil analisa statistik dengan menggunakan Exact Fisher diperoleh nilai p>0,05. Hal ini berarti tidak ada perbedaan proporsi paritas berdasarkan riwayat kejadian abortus.
Tabel 7. Distribusi Proporsi Paritas Ibu PUS yang Mengalami Abortus
Berdasarkan Komplikasi
Abortus di Rumah Sakit Santa Elisabeth MedanTahun 2010 – 2013 Riwayat Kejadia n Abortus Paritas Jumlah Aman Tidak Aman f % f % f % Abortus Spontan 2 8 26, 7 7 7 73, 3 10 5 10 0 Abortus Buatan 1 100 0 0 1 10 0
Berdasarkan tabel 7 dapat dilihat bahwa dari 5 Ibu PUS yang mengalami abortus dengan riwayat kejadian ada komplikasi proporsi tertinggi adalah paritas tidak aman 100%, dan dari Ibu PUS yang
mengalami abortus dengan riwayat kejadian tidak ada komplikasi dengan paritas tidak aman 71,3%
Hasil analisa statistik dengan menggunakan Exact Fisher diperoleh nilai p>0,05. Hal ini berbarti tidak ada perbedaan proporsi paritas berdasarkan riwayat kejadian abortus.
Tabel 8. Distribusi Proporsi Komplikasi Ibu PUS yang Menglami Abortus Berdasarkan Keadaan Sewaktu Pulang di Rumah sakit Santa Elisabeth Medan
Berdasarkan tabel 8 dapat dilihat bahwa dari 103 Ibu PUS yang mengalami abortus dengan keadaan sewaktu pulang sembuh proporsi tertinggi adalah tidak ada komplikasi 95,1%, dan dari Ibu PUS yang mengalami abortus dengan keadaan sewaktu pulang adalah pulang atas permintaan sendiri merupakan tidak ada komplikasi 100%.
Hasil analisa statistik dengan menggunakan Exact Fisher diperoleh
nilai p>0,05. Hal ini berarti tidak ada perbedaan proporsi paritas berdasarkan riwayat kejadian abortus.
Tabel 9. DistribusiProporsi
Penatalaksanaan Medis Ibu PUS yang Mengalami Abortus Berdasarkan Keadaan Sewaktu Pulang di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan Tahun 2010 - 2013
Berdasarkan tabel .9 dapat dilihat bahwa dari 103 Ibu PUS yang mengalami abortus dengan keadaan sewaktu pulang sembuh proporsi tertinggi adalah dengan
penatalaksanaan medis kuretase 78,6%, dan dari dari 3 Ibu PUS yang mengalami abortus dengan keadaan sewaktu pulang adalah pulang karena permintaan sendiri proporsi tertinggi adalah dengan konservatif 66,7%.
Hasil analisa statistik dengan menggunakan Exact Fisher diperoleh nilai p>0,05. Hal ini berbarti tidak ada perbedaan proporsi paritas berdasarkan riwayat kejadian abortus.
Tabel 10. Lama Rawatan Rata-rata Berdasarkan Komplikasi di
Komplikasi Paritas Jumlah
Aman Tidak Aman f % f % f % Ada 0 0 5 100 5 100 Tidak Ada 29 28,7 72 71,3 101 100 Keadaan Sewaktu Pulang Komplikasi Jumlah Ada Tidak Ada f % f % f % PS 5 4,9 98 95,1 103 100 PAPS 0 0 3 100 3 100 Keadaa n Sewakt u Pulang Penatalaksanaan Medis Jumlah Kuret Konservati f f % f % f % PS 8 2 79,6 2 1 20,4 10 3 100 PAPS 1 33,3 2 66,7 3 10 0
Rumah Sakit Santa Elisabeth tahun 2010-2013
Berdasarkan tabel 10 dapat dilihat bahwa lama rawatan rata-rata dari 5 Ibu PUS yang mengalami abortus dengan komplikasi adalah 2,87 (3 hari) dan lama rawatan rata-rata dari Ibu PUS yang mengalami abortus tanpa komplikasi adalah 1,78 (2 hari).
Analisa statistik dengan menggunakan uji t diperoleh nilai p= 0,145 artinya tidak ada perbedaan yang bermakna antara lama rawatan rat-rata Ibu Pus yang mengalami abortus berdasarkan komplikasi. Pada Ibu Pus dengan ada komplikasi lama rawatan rata-rata lebih tinggi dengan tidak ada komplikas
Tabel 11. Lama Rawatan Rata-rata Berdasarkan Riwayat Penyakit di Rumah Sakit Santa Elisabeth tahun 2010-2013
Berdasarkan tabel 11 dapat dilihat bahwa lama rawatan rata-rata dari 22 Ibu PUS yang mengalami abortus dengan ada riwayat penyakit adalah 2,32 (2 hari) dan lama rawatan rata-rata dari Ibu PUS yang mengalami abortus dengan tidak ada riwayat penyakit adalah 1,70 (2 hari). Analisa statistik dengan menggunakan uji t diperoleh nilai p= 0,066 artinya tidak ada perbedaan yang bermakna antara lama rawatan rat-rata Ibu PUS yang mengalami abortus berdasarkan riwayat penyakit. Pada Ibu Pus dengan ada penyakit, lama rawatan rata-rata lebih tinggi dengan tidak ada penyakit
Tabel 12. Lama Rawatan Rata-Rata Berdasarkan
Penatalaksanaan Medis
diRumah Sakit Santa
Elisabeth Medan Tahun 2010-2013
t= -4,049 df=104 p= 0,000
Berdasarkan tabel 12 dapat dilihat bahwa lama rawatan rata-rata dari 82 ibu PUS yang mengalami abortus dengan komplikasi adalah 1,51 (2 hari) dan lama rawatan rata-rata dari Ibu PUS yang mengalami abortus tanpa komplikasi adalah 2,92 (3 hari).
Analisa statistik dengan menggunakan uji t diperoleh nilai p= 0,000 artinya ada perbedaan bermakna antara lama rawatan rata-rata Ibu PUS yang mengalami abortus berdasarkan penatalaksanaan medis.
Dari hasil penelitian
ditemukan dari 106 Ibu PUS yang mengalami abortus terdapat 20 kasus abortus imminiens dan semuanya mendapatkan penatalaksanaan medis konservatif yaitu bed rest dan obat-obatan. Artinya kehamilan Ibu masih bisa dipertahankan. Untuk mencegah terjadinya abortus insipiens diperlukan lama rawatan yang lebih lama.
Komplikasi Lama Rawatan Rata-Rata (hari) n Mean SD Ada 5 2,87 2,168 Tidak ada 101 1,78 1,566 Riwayat Penyakit
Lama Rawatan Rata-Rata (hari) n Mean SD Ada 22 2,32 2,255 Tidak ada 84 1,70 1,369 Penatalaksanaan Medis Lama Rawatan Rata-Rata (hari) n Mean SD Kuretase 82 1,51 0,997 Konservatif 24 2,92 2,569
Kesimpulan dan Saran Kesimpulan
1. Berdasarkan sosiodemografi, proporsi tertinggi Ibu PUS yang mengalami abortus pada kelompok umur 28-31 tahun 32,1%, suku Batak 85,5% agama Kristen Protestan 59,4%, pekerjaan Ibu Rumah Tangga 40,6%, tempat tinggal di Kota Medan 83,0%.,
2. Berdasarkan mediko obstetri, proporsi tertinggi Ibu Pus yang mengalami abortus dengan keluhan perdarahan 70,7%, umur kehamilan pada trimester I 91,5%, paritas tidak aman 72,4%, frekuensi abortus dengan tidak pernah mengalami abortus 84,9%, riwayat kejadian abortus spontan 99,1%, abortus inkompletus 77,4%, tidak ada komplikasi 95,3%, tidak ada riwayat penyakit 79,2%.
3. Berdasarkan status rawatan, proporsi tertinggi Ibu Pus yang mengalami abortus adalah penatalaksanaan medis kuretase 78,3%, bukan rujukan 55,7%, lama rawatan 2 hari, keadaan sewaktu pulang sembuh 97,2%, dan biaya sendiri 80,2%.
4. Tidak ada perbedaan proporsi paritas berdasarkan riwayat kejadian abortus (p= 0,274), paritas berdasarkan komplikasi (p= 0,320), komplikasi berdasarkan keadaan sewaktu
pulang (p= 1,000),
penatalaksanaan medis berdasarkan keadaan sewaktu pulang (p= 0,118), lama rawatan rata-rata berdasarkan komplikasi (p= 0,145), lama rawatan rata-rata berdasarkan riwayat
penyakit (p=0,066), dan pada Ibu PUS yang mengalami abortus dengan penatalaksanaan medis konservatif, lama rawatan rata-rata secara bermakna lebih tinggi dari kuretase ( 3 hari vs 2 hari; t=-4,049, p=0,000).
Saran
1. Pihak Rumah Sakit
diharapkan untuk melengkapi pencatatan pada kartu status yang berkaitan dengan abortus seperti riwayat pemeriksaan kehamilan.
2. Diharapkan kepada
masyarakat untuk melakukan pencegahan terjadinya abortus dengan meningkatkan keluarga Berencana (KB). 3. Diharapkan kepada
pihak-pihak terkait supaya meningkatkan kegiatan promosi dan pendidikan kesehatan reproduksi khususnya mengenai abortus
pada Ibu PUS dan
memberikan penyuluhan kepada Ibu PUS yang mengalami abortus agar dapat menghindari abortus berulang pada kehamilan berikutnya. Daftar Pustaka
Armstrong, S.,Royston E., 1994. Pencegahan Kematian Ibu Hamil. Penerbit Binarupa Aksara. Jakarta.
Azhari, 2002. Masalah Abortus dan Kesehatan Reproduksi Perempuan. Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. Palembang
BKKBN.,2013.Profil
Kependudukan dan
Pembangunan di
Indonesia.Jakarta.
Chalik,TM., 1998. Hemoragi utama Obstetri dan Ginekologi. Penerbit Widya Medika. Jakarta.
Ida, dkk. 2010. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan
KB. Penerbit Buku
Kedokteran EGC. Jakarta.
Muharikah, dkk., 2014.
Karakteristik Kejadian Abortus Habitualis Di Rumah Sakitibu Dan Anak Pertiwi Makassar Periode1 Januari – 31 Desember 2012. Jurnal Ilmiah Kesehatan Volume 4.
Prawirohardjo, Sarwono., 1994.lmu Kandungan, Penerbit Yayasan Bina Pustaka. Jakarta
WHO, 2008. Understanding and Addressing Violence
Against Woman