58 KEBIJAKAN PEMERINTAH TENTANG KURIKULUM PENDIDIKAN
INDONESIA DAN IMPLIKASINYA PADA PENDIDIKAN ISLAM MARZUKI1), IRAWATI2), MOHD. WINARIO3)
1)STAI Sultan Syarif Hasim Siak Sri Indrapura HP. 0813xxxxxxxx / email: [email protected]
2)UIN Sultan Syarif Kasim Riau
HP. 081365567405 / email: [email protected] 3)STEI Iqra Annisa Pekanbaru
HP. 085264528808 / email: [email protected] ABSTRACT
This research is a study related to government policies regarding the Indonesian education curriculum, its implications for Islamic education, starting from the time of the President of the Republic of Indonesia led by President Soekarno to President Joko Widodo. The method of writing this research the writer takes references related to the theme of this paper, then the authors analyze developments that occur in Indonesia related to the analysis of government policies regarding the Indonesian education curriculum and its implications for Islamic education. by using qualitative methods, by means of descriptive analysis. The results of this study show that the Islamic education curriculum in Indonesia is closely related to the history of the arrival of Islam itself to Indonesia, starting from the government of President Soekarno to the government of Prediden Joko Widodo. As Yunus argues, explaining that the history of Islamic education in Indonesia is as old as the entry of this religion to Indonesia. In the long journey of the history of Islamic education, there have always been ups and downs in different stages by following the circumstances of the trip.
Keywords: Government, Policy, Curriculum, Indonesian Education, Islamic. ABSTRAK
Penelitian ini merupakan penelitian yang berkaitan dengan kebijakan pemerintah tentang kurikulum pendidikan Indonesia implikasinya dengan pendidikan islam, mulai dari masa presiden Republik Indonesia yang dipimpin oleh Presiden Soekarno sampai dengan Presiden Joko Widodo. Metode penulisan penelitian ini penulis mengambil referensi terkait dengan tema tulisan ini, kemudian penulis analisa perkembangan yang terjadi di Indonesia yang berkaitan dengan analisis kebijakan pemerintah tentang kurikulum pendidikan Indonesia dan Implikasinya pada Pendidikan Islam. dengan menggunakan metode kualitatif, dengan cara analisis deksriptif. Hasil dari penelitian ini menujukkan bahwa Kurikulum pendidikan Islam di Indonesia sangat erat hubungannya dengan sejarah kedatangan Islam itu sendiri ke Indonesia di mulai dari Pemeintahan Presiden Soekarno sampai kepada pemerintahan Prediden Joko Widodo. Sejarah pendidikan Islam di Indonesia sama tuanya dengan masuknya agama tersebut ke Indonesia. Dalam perjalanan yang panjang sejarah pendidikan Islam selalu
59 mengalami pasang surut dalam babakan yang berbeda-beda dengan mengikuti situasi dan kondisi perjalanan tersebut.
Kata Kunci: Kebijakan, Pemerintah, Kurikulum, Pendidikan, Indonesia, Islam A. PENDAHULUAN
Undang-undang pendidikan dari masa dahulu sampai dengan sekarang tampaknya masih adanya dikotomi pendidikan. Bila dicermati undang-undang pendidikan nasional masih membeda-bedakan antara pendidikan umum dan pendidikan agama, padahal apabila digabungkan antara pendidikan ilmu agama dan ilmu umum justru akan memperkuat dan menciptakan kebersamaan juga mampu menciptakan kehidupan yang harmonis, serasi dan seimbang.
Kebijakan pemerintah tentang sistem pendidikan nasional pada masa orde baru didasarkan pada Tap MPRS No. 27, pasal 1 tanggal 5 Juli 1966; yang menetapkan bahwa "Pendidikan agama menjadi mata pelajaran pokok dan wajib diikuti oleh setiap murid/mahasiswa sesuai dengan agamanya masing-masing. Kemudian melihat peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 35 Tahun 2018 tentang perubahan atas peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 58 Tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 Sekolah Menengah Pertama/ Madrasah Tsnawiyah dibagian pendahuluan menyebutkan ada beberapa karakteristik Kurikulum 2013 diantaranya:
1. Mengembangkan keseimbangan antara sikap spritual dan sosial, pengetahuan dan keterampilan serta menerapkannya dalam berbagai situasi sekolah dan masyarakat.
2. Menempatkan sekolah sebagai bagian dari masyarakat yang memberikan pengalaman belajar agar peserta didik mampu menerapkan apa yang dipelajari disekolah kemasyarakat dan memfaatkan masyarakat sebagai sumber belajar.
3. Memberi waktu yang cukup leluasa untuk mengembangkan berbagai sikap, pengetahuan dan keterampilan.
4. Mengembangkan kompetensi yang dinyatakan dalam bentuk kompetensi inti kelas yang lebih rinci lebih lanjut dalam kompetensi dasar mata pelajaran
5. Mengembangkan kompetensi inti kelas menjadi unsur pengorganisasi kompetensi dasar. Semua kompetensi dasar dan proses pembelajaran dikembangkan untuk mencapai kompetensi yang dinyatakan dalam kompetensi inti.
6. Mengembangkan kompetensi dasar berdasar pada prinsip akumulatif saling memperkuat dan memperkaya antar mata pelajaran dan jenjang pendidikan.
Dilihat dalam kareakteristik kurikulum KBK yang dituangkan dalam Undang-Undang Sisdiknas No. 2 Tahun 1989 diganti dengan Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 bahwa karakteristik kurikulum KBK diantaranya sebagai berikut:
1. Menekankan pada ketercapaian kompetensi baik secara individual maupun klasik.
60 2. Berorientasi pada hasil belajar dan keberagaman artinya keberhasilan
pencapaian kompetensi dasar diukur oleh indikator hasil belajar.
3. Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi sesuai dengan keberagaman siswa.
4. Sumber belajar bukan hanya guru tetapi sumber belajar lain yang memenuhi unsur edukatif.
5. Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi. (Depdiknas)
Selanjutnya dilihat dari karakterisitiknya, Jika dilihat dari karakteristik Kurikulum Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menurut E Mulyasa dalam bukunya, menyatakan sebagai berikut:
1. Pemberian otonomi luas pada sekolah dan satuan pendidikan yaitu KTSP mernberikan otonomi luas kepada sekolah dan satuan pendidikan, disertai seperangkat tanggung jawab untuk mengembangkan kurikulum sesuai dengan kondisi setempat. Sekolah dan satuan pendidikan juga diberi kewenangan dan kekuasaan yang luas untuk mengembangkan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan peserta didik serta tuntutan masyarakat.
2. Partisipasi Masyarakat dan Orang Tua yang tinggi adalah pelaksanaan kurikulurn didukung oleh partisipasi masyarakat dan orang tua peserta didik yang tinggi. Orang tua peserta didik dan masyarakat tidak hanya mendukung sekolah melalui bantuan keuangan, tetapi melalui komite sekolah dan dewan pendidikan merumuskan serta mengembangkan program-program yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran.
3. Kepemimpinan yang demokratis dan Profesional yaitu Kepala sekolah dan guru-guru sebagai tenaga pelaksana kurikulum merupakan orang-orang yang memiliki kemampuan dan integrity profesional. Kepala sekolah adalah manajer pendidikan profesional yang bekerjasama dengan komite sekolah untuk mengelola segala kegiatan sekolah berdasarkan kebijakan yang ditetapkan.
4. Tim kerja yang kompak dan transparan adalah keberhasilan pengembangan kurikulum dan pembelajaran didukung oleh kinerja tim yang kompak dan transparan dari berbagai pihak yang terlibat dalam pendidikan. Dengan demikian, keberhasilan KTSP merupakan hasil sinergi (synergistic effect) dari kolaborasi tim yang kompak dan transparan. (E. Mulyasa. 2007: 179-180)
B. KONSEP TEORITIS 1. Pengertian Kebijakan
Menurut beberapa pakar/ahli yang mengartikan pengertian kebijakan seperti yang di sampaikan oleh Solichin Abdul Wahab menyatakan kebijakan publik adalah suatu tindakan bersanksi yang mengarah pada tujuan tertentu yang diarahkan pada suatu masalah tertentu yang saling berkaitan yang mempengaruhi sebagian besar warga masyarakat. (Solichin Abdul Wahab, 2012: 89)
James E. Anderson dalam Bukunya Irfan Islamy mendefenisikan kebijakan itu adalah serangkaian tindakan yang mempunyai tujuan tertentu
61 yang diikuti dan dilaksanakan oleh seseorang pelaku sekelompok pelaku guna memecahkan suatu masalah tertentu. (Muh. Irfan Islamy. 2018: 105)
Menurut Holwet dan M. Rames dalam bukunya Subarsono berpendapat bahwa proses kebijakan publik terdiri atas lima tahapan yaitu sebagai berikut :
a. Penyusunan agenda yakni suatu proses agar suatu masalah bisa mendapat perhatian dari pemerintah.
b. Formulasi kebijakan yakni proses penyusunan pilihan-pilihan kebijakan oleh pemerintah.
c. Pembuatan kebijakan yakni proses ketika pemerintah memilih untuk melakukan suatu tindakan atau tidak melakukan suatu tindakan.
d. Implementasi kebijakan yaitu proses untuk melaksanakan kebijakan agar mencapai hasil.
e. Evaluasi kebijakan adalah proses monitor dan memilih kerja atau hasil kebijakan. (AG Subarsono. 2005: 13)
Kebijakan dapat pula merujuk pada proses pembuatan keputusan-keputusan seperti halnya perubahan kurikulum dari kurikulum KBK, Kurikulum KTSP, maupun Kurikulum 2013. Kebijakan juga dapat diartikan sebagai makanisme politis, manajemen, finansial, atau administratif untuk mencapai tujuan eksplisit.
Kemudian kebijakan itu adalah suatu ucapan atau tulisan yang memberikan petunjuk umum tentang penetapan ruang lingkup yang emberi batas dan arah umum kepada seseorang untuk bergerak. Penulis juga menyampaikan dalam tulisan ini kebijakan dapat juga berarti sebagai rangkaian konsep dan asaz yang menjadi pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan, dan cara bertindak. Disamping itu juga kebijakan dapat berbentuk keputusan yang dipikirkan secara matang dan hati-hati oleh pengambil keputusan puncak dan bukan kegiatan – kegiatan yang berulang rutin dan terprogram atau terkait dengan aturan-aturan keputusan.
2. Faktor yang Mempengaruhi Pembuatan Kebijakan
Menurut Suhartono (2010: 52) proses pembuatan kebijakan merupakan pekerjaan yang rumit dan kompleks dan tidak semudah yang dibayangkan. Walaupun demikian para pemerintah yang berada diindonesia khususnya dalam bidang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI setiap ganti kepemimpinan maka kebijakan berganti-ganti apalagi kebijakan dalam bentuk kurikulum.
Pembuatan kebijakan dipengaruhi oleh beberapa faktor sehingga dalam pengambilan kebijakan sesuai dengan maksud dan tujuan yang diharapkan, oleh karena itu hal penting yang harus diwaspadai dan dapat diantisipasi adalah dalam pembuatan kebijakan sering terjadi kesalahan-kesalahan yang biasa terjadi. Kemudian faktor-faktor yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut:
a) Pengaruh tekanan eksternal
Dalam pengambilan kebijakan, tidak jarang pengambil kebijakan memenuhi tuntutan eksternal atau membuat kebijakan dengan tekanan eksternal.
62 b) Pengaruh kebiasaan lama
Kebiasaan lama berorganisasi yang disebut Nigro disebut Sunk Cost, seperti kebiasaan menanam modal yang hingga saat ini belum profesional dan terkadang sangat birokratis. Meskipun keputusan atau kebijakan yang berkaitan dengan hak. Karna sebagai suatu yang salah dan perlu diubah. Apalagi yang berhubungan dengan mencerdaskan generasi bangsa.
c) Adanya pengaruh sifat-sifat pribadi
Berbagai kebijakan yang dibuat oleh para pembuat kebijakan dalam hal ini pemerintah Kementerian dan Kebudayaan RI khususnya Kurikulum banyak dipengaruhi oleh sifat-sifat pribadinya. Sifat pribadi merupakan faktor yang berperan besar dalam penentuan keputusan / kebijakan. d) Adanya pengaruh dari kelompok luar
Lingkungan sosial atau kelompok diluar dalam organisasi sangat berpengaruh sehingga dari pembuat keputusan juga berperan sangat besar.
e) Adanya pengaruh keadaan masa lalu
Maksudnya bahwa pengalaman lama seperti dimulai dari pemerintahan soekarno sampai kepada pemerintahan jokowi itu sangat berpengaruh karna tidak terlepas dari sejarah. Maka dalam membuat suatu kebijakan hal itu juga harus diperhatikan apalagi dalam kebijakan kurikulum. C. METODE
Pada penulisan karya ilmiah ini penulis mengambil referensi terkait dengan tema tulisan ini, kemudian penulis analisa perkembangan yang terjadi di Indonesia yang berkaitan dengan analisis kebijakan pemerintah tentang kurikulum pendidikan Indonesia dan Implikasinya pada Pendidikan Islam. Dalam penulisan ini penulis menggunakan metode kualitatif, dengan cara analisis deksriptif.
D. HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Peraturan-Peraturan Pemerintah Dalam Kebijakan Kurikulum
Dalam Kamus Besar bahasa Indonesia Peraturan pemerintah adalah peraturan perundang-undangan di Indonesia yang ditetapkan oleh Presiden untuk menjalankan undang-undang sebagaimana mestinya. (Dedi Sugono, 2005).
Materi muatan peraturan pemerintah adalah materi yang menjalankan undang- undang sebagaimana di dalam Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2011 tentang pembentukan peraturan perundang-undangan dinyatakan bahwa peraturan pemerintah sebagai aturan “Organik” dari pada undang-undang menurut hirarkinya tidak boleh tumpang tindih atau bertolak belakang.
Kebijakan kurikulum sering dilakukan oleh pemerintah sehingga kurikulum yang diterapkan berganti-ganti. Oleh karena itu penulis akan coba mengupas peraturan–peraturan dalam kebijakan kurikulum dimasa pemerintahan soekarno sampai sekarang.
63 a. Pemerintahan Soekarno
Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 hasil proklamasi, menjelaskan bahwa salah satu tujuan dan tugas mendirikan Republik Indonesia adalah “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa.” Sistem pemerintahan berganti, berganti pula ideologi/cita-cita negaranya. Pada masa pemerintahan Soekarno, skenario yang pertama kali dilakukan oleh
Soekarno dan kabinetnya adalah bagaimana mempertahankan
kemerdekaan Indonesia. Semenjak proklamasi 17 agustus 1945, sekolah-sekolah yang telah dibangun pada masa pendudukan Jepang dilanjutkan dengan serba kekurangan.
Namun, dasar-dasar pendidikan nasional telah disempurnakan dan disesuaikan dengan kebutuhan bangsa Indonesia. Masa revolusi pendidikan nasional mulai meletakkan dasar-dasarnya. Pada masa revolusi sangat terasa serba terbatas, tetapi bangsa kita dapat melaksanakan pendidikan nasional sebagaimana yang diamanatkan dalam UUD 1945. Kita dapat merumuskan Undang-Undang Pendidikan No. 4/1950 junto no. 12/ 1954. Kita dapat membangun sistem pendidikan yang tidak kalah mutunya.
Pendidikan memang tidak bisa terlepas dari tujuan negara atau pemerintah. Pada masa kepemimpinan bung Karno, pemerintahannya menginginkan pembentukan masyarakat sosialis Indonesia. Untuk itu, tujuan pendidikan disesuaikan dengan tujuan negara. Walau bagaimanapun, hal ini dianggap penting karena dengan adanya penyesuaian tujuan pendidikan dengan tujuan pemerintah atau negara, maka menjadi jelaslah arah pelaksanaan pendidikan pada suatu negara.
Para pengajar, pelajar melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya walaupun serba terbatas. Dengan segala keterbatasan itu memupuk pemimpin-pemimpin nasional yang dapat mengatasi masa pancaroba seperti rongrongan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jika dibandingkan dengan sekarang, yaitu tidak ada kejelasan tujuan pendidikan yang dilaksanakan dan cenderung diwarnai arus menyambut globalisasi serta mengesampingkan akar kebudayaan bangsa, maka diperlukan pembahasan mengenai salah satu pendidikan yang pernah dilaksanakan oleh bangsa Indonesia, yang sesuai dengan tujuan negara, yaitu pendidikan sosialisme Indonesia oleh pemerintahan Ir. Soekarno (1961-1966).
Indonesia pada era soekarno sangat mendukung pendidikan sebagai satu alat akselarasi masyarakat menuju masyarakat adil dan makmur sesuai cita-cita UUD 1945. Indonesia bahkan mampu mengekspor guru ke Negara tetangga, menyekolahkan ribuan mahasiswa ke luar negeri, dan menyebarkan mahasiswa-mahasiswa ke seluruh penjuru negeri untuk mengatasi buta huruf.
Tahun 1960-an terjadi peningkatan luar biasa perguruan-perguruan tinggi yang sekaligus berarti peningkatan jumlah mahasiswa dan pelajar di seluruh negeri. Tenaga-tenaga pengajar diupah dengan layak, bahkan menjadi primadona pekerjaan bagi rakyat. Jargon “Study,
64 Work, Rifle” atau “Belajar, Berkarya, dan Senjata” merupakan satu jargon yang juga dipakai oleh beberapa organisasi mahasiswa dan pelajar pada era tersebut.
Masa Soekarno adalah orde di mana semua orang merasa sejajar, tanpa dibedakan warna kulit, keturunan, agama, dan sebagainya. Begitu juga dalam dunia pendidikan. Orde Lama berusaha membangun masyarakat sipil yang kuat, yang berdiri di atas demokrasi, kesamaan hak dan kewajiban antara sesama warga negara termasuk dalam bidang pendidikan. Inilah amanat UUD 1945 yang menyebutkan salah satu cita-cita pembangunan nasional adalah mencerdaskan bangsa.
Tujuan dan dasar pendidikan pada orde Lama dapat dilihat pada pasal 3 dan 4.Pasal 3: “Tujuan pendidikan dan pengajaran adalah membentuk manusia susila yang cakap dan warga Negara yang demokratis serta bertanggungjawab tentang kesejahteraan masyarakat dan dan tanah air ”Pasal 4:“ Pendidikan dan pengajaran berdasar atas asas-asas yang termaktub dalam Pancasila, UUD Negara Republik Indonesia dan atas kebudayaan kebangsaan Indonesia”.
Setelah bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, bangsa Indonesiapun menunjukan kepeduliannya terhadap pendidikan. Hal itu terbukti dengan menempatkan usaha untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sebagai tujuan nasional bangsa Indonesia. Sebagaimana tertulis dalam pembukaan Undang-undang Dasar 1945.
Pada tahun 1965, Pendidikan Nasional telah memiliki pondasi atau identitasnya, yaitu Pancasila, ketika terkait dengan fungsinya sebagai transformasi sosial. Namun jauh sebelum penegasannya, pendidikan sebagai transformasi sosial sendiri sebenarnya dimulai pada tahun 1959, ketika Soekarno memberikan penegasan mengenai ideologi bangsa yang berdasarkan budaya dan pengalaman sejarah bangsa Indonesia, dan kemudian menempatkan pendidikan untuk mewujudkan ideologi bangsa.
Sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan, kurikulum harus mencerminkan kepada falsafah sebagai pandangan hidup suatu bangsa, karena ke arah mana dan bagaimana bentuk kehidupan bangsa itu kelak, banyak ditentukan dan tergambarkan dalam kurikulum pendidikan bangsa.
Kemudian setelah Indonesia merdeka, terjadi dua kali perubahan kurikulum, yang pertama dilakukan dengan dikeluarkannya rencana pelajaran tahun 1947 yang menggantikan seluruh sistem pendidikan kolonial, kemudian pada tahun 1952 kurikulum ini mengalami penyempurnaan. Perubahan kedua terjadi dengan dikeluarkannya rencana pendidikan tahun 1964.
b. Pemerintahan Soeharto
Pada masa Orde Baru (1968-1998), pendidikan nasional mengenal empat tahap kurikulum, yaitu kurikulum 1968, 1975, 1984 dan 1994. Kurikulum 1968 dikatakan paling berpengaruh secara politik, karena
65 kecenderungan rezim Orde Baru menghapus semua jejak pendidikan di era Sukarno.
Sedangkan tiga kurikulum terakhir menjunjung tinggi keseragaman output di kalangan siswa. Mereka diharapkan menjadi pekerja yang terampil, berbudi luhur yang berlandaskan agama dan nilai-nilai Pancasila.
Karena bentuknya yang sentralistik, kurikulum pada masa pemerintahan Soeharto lebih suka dipaksakan gagasan dari pusat ke daerah. Diasumsikan bahwa penyelenggara pendidikan yaitu guru di sekolah dengan sendirinya akan memahami tujuan dari implementasi kurikulum yang sedang berlangsung. Akibatnya, kurikulum pendidikan nasional Orde Baru kerap menemui banyak kendala.
c. Pemerintahan BJ. Habibie, Abdurrahman Wahid dan Megawati Soekarno Putri
Masa reformasi terjadi pada tahun 1998 dimana mahasiswa indonesia melakukan power people (demo besar-besaran) untuk menjatuhkan orde baru atau pemerintahan soeharto yang sudah lama berlangsung lebih kurang 32 tahun. Demo besar-besaran ini membuahkan hasil, presiden soeharto yang militeristik dan diktator kemudian mengundurkan diri dari jabatannya pada tanggal 21 Mei 1998. (Riant Nugroho. 2008: 15)
Perubahan yang sangat menonjol pada era Reformasi adalah dilaksanakannya otonomi daerah sebagai implementasi dari UU No 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Kebijakan tersebut juga berdampak pada berbagai sektor kehidupan termasuk pada aspek pendidikan.
Dari aspek pendidikan pada era Reformasi, kuantitas dan kualitas guru lebih meningkat dari pada masa orde lama dan orde baru karena pemerintah pusat melakukan pemerataan jumlah guru dan pengadaan perubahan kurikulum dengan berbasis kompetensi (KBK), selain itu pihak pemerintah juga meningkatkan anggaran pendidikan menjadi 20% dari APBN dan 1,56 Juta untuk siswa SLTP/MTs. Untuk SLTA dan perguruan tinggi jumlahnya akan ditentukan kemudian. (Sam M. Chan Dkk. 2007: 8)
Pada era pemerintahan BJ. Habibie masih menggunakan Kurikulum 1994 yang disempurnakan sampai pada masa pemerintahan Abdurahman Wahid (Gus Dur). Kemudian kekuasaan berganti kepada Megawati (Mega). Pada era Mega terjadi beberapa perubahan di bidang pendidikan diantaranya:
1) Perubahan Kurikulum 1994 menjadi Kurikulum 2000 dan akhirnya disempurnakan menjadi Kurikulum 2002, kemudian menjadi Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang kerap disebut dengan Kurikulum 2004. KBK merupakan kurikulum yang pada dasarnya berorientasi pada pengembangan tiga aspek utama, antara lain aspek afektif (sikap), kognitif (pengetahuan) dan psikomotorik (ketrampilan).
66 Diantara ciri utama KBK yaitu: a). Menekankan pencapaian kompetensi siswa, bukan tuntasnya materi. b). Kurikulum dapat diperluas, diperdalam dan disesuaikan dengan potensi siswa (normal, sedang dan tinggi). c). Berpusat pada siswa. d). Orientasi pada proses dan hasil. e). Pendekatan dan metode yang digunakan beragam dan bersifat kontekstual. f). Guru bukan satu-satunya sumber ilmu pengetahuan. g). Buku pelajaran bukan satu-satunya sumber belajar. h). Belajar sepanjang hayat. i). Belajar mengetahui (learning now to know). j). Belajar melakukan (learning how to do). k. Belajar menjadi diri sendiri (leraning how to be). l. Belajar hidup dalam keberagaman (learning ho to live together)
2) Pada tanggal 8 Juli 2003 disahkannya Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional yang kerap disebut UU No. 20/2003 atau UU Sisdiknas. Undang-undang ini memberikan dasar hukum untuk membangun pendidikan nasional dengan menerapkan prinsip demokrasi, desentralisasi, otonomi, keadilan dan menjunjung Hak Asasi Manusia (HAM).
Pembaharuan sistem pendidikan nasional sendiri dilakukan untuk memperbaharui visi, misi dan strategi pembangunan pendidikan nasional. Adapun visi pendidikan nasional adalah terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga Negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah.
Sedangkan misi pendidikan nasional yaitu: pertama, mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan memperleh pendidikan dan bermutu bagi seluruh rakyat Indonesia. Kedua, membantu dan memfasilitasi pengembangan potensi anak bangsa secara utuh sejak usia dini sampai akhir hayat dalam rangka mewujudkan masyarakat belajar.
3) Meningkatkan kesiapan masukan dan kualitas proses pendidikan untuk mengoptimalkan pembentukan kepribadian yang bermoral. 4) Meningkatkan keprofesionalan dan akuntabilitas lembaga pendidikan
sebagai pusat pembudayaan ilmu pengetahuan, ketrampilan, pengalaman, sikap dan nilai berdasarkan standar nasional dan global. 5) Memberdayakan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan
pendidikan berdasarkan prinsip otonomi dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia.
d. Pemerintahan Susilo Bambang Yudiono ( SBY)
Pada era SBY, UU No. 20/2003 masih tetap berlaku. Namun pada periode awal kabinet SBY, muncul dan ditetapkan UU No. 14/2005 Tentang Guru dan Dosen. Penetapan Undang-Undang tersebut disusul dengan pergantian kurikulum KBK menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Kurikulum ini berasaskan pada PP No. 19 tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP).
67 KTSP merupakan kurikum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan. KTSP terdiri dari tujuan pendidikan, tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan serta silabus.
KTSP dikembangkan berdasarkan prinsip sebagai berikut: pertama. Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan dan kepentingan pesrta didik serta lingkungan; kedua. Beragam dan terpadu; ketiga. Tanggapan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni; keempat. Relevan dengan kebutuhan kehidupan; kelima. Menyeluruh dan berkesinambungan; keenam. Belajar sepanjang hayat; dan g. Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah.
Adapun tujuan pendidikan KTSP yaitu: Pertama. Untuk pendidikan dasar, diantaranya meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia serta ketrampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut; Kedua. Untuk pendidikan menengah, meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia serta ketrampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut; Ketiga. Untuk pendidikan menengah kejuruan adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia serta ketrampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya.
e. Pemerintahan Jokowi sampai sekarang
Pemerintah Jokowi juga menghadapi persoalan yang tidak ringan. Sekarang ini didunia pendidikan (praktik ajar mengajar), terutama di tingkat sekolah dasar madrasah Ibtidaiyah hingga lanjut ke SLTA/MA sedang dalam masa transisi menyusul penerapan pemberlakuan kurikulum tahun 2013, menggantikan kurikulum lama yang dianggap kurang mendukung penciptaan kualitas siswa yang benar-benar baik secara mental (moral) maupun keterampilan (skill). Sudah diketahui bersama kurikulum 2013 mencakup tiga aspek wajib yang digarap secara serius, maksimal, dan efektif terutama dikalangan pendidik ( guru). Ketiga aspek itu adalah pengetahuan, keterampilan, sikap.
Penekanan aspek pengetahuan pada kurikulum 2013 sama seperti kurikulum sebelumnya, yakni pada tingkat pemahaman siswa dalam pelajaran. Nilai aspek pengetahuan bisa didapat ulangan harian, ujian tengah dan akhir semester, serta ujian kenaikan kelas.
Penekanan aspek keterampilan sebagai hal ( unsur) baru dalam kurikulum 2013 ditekankan pada upaya eksplorasi ataupun pembentukan/ pembangunan Skill ( kemampuan) siswa seperti kemampuan mengungkapkan pendapat, berdiskusi ( musyawarah), membuat laporan ( kemampuan menulis), dan berpresentasi. Tanpa keterampilan, pengetahuan siswa tak akan pernah disalurkan dan berhenti sebagai teori semata. Itu sebabnya kegiatan belajar- mengajar (KBM) disekolah berdasarkan kurikulum 2013 ini setiap siswa dituntut lebih aktif dan guru harus dapat menjadi pendengar yang baik yang harus sanggup ( mampu)
68 memfasilitasi semua keberagaman baik penalaran, kecerdasan maupun latar belakang siswa.
Penekanan pada aspek sikap tentu terkait erat dengan upaya membentuk mental (moral spritual) dan prilaku ( budi pekerti) siswa yang luhur, mulia. Unsur-unsur penting yang diperhatikan dalam aspek ini antara lain sopan santun, adab dalam belajar, absensi, sensivitas/kepekaan sosial, dan religi/agama. Agar garapan aspek sikap optimal, maka diperlukan kerjasama yang baik antara orang tua, guru mata pelajaran, wali kelas dan guru BK. Dan penilaian aspek sikap dapat diterapkan setiap tatap muka. (Dimuat Harian Barnas, hal 4 Rubrik “Wacana” sabtu kliwon 18 Oktober 2015 dikutip pada Tanggal 16 Oktober 2020.)
Menurut hemat penulis diluar carut marut implementasi kurikulum 2013 yang masih sarat masalah sekarang ini, secara konseptual kurikulum 2013 memang tampak bagus dan mendukung lahirnya generasi emas bangsa Indonesia diharapkan sangat kompotitif ditengah ketat dan kerasnya kompetisi kehidupan antarnegara bangsa disegala bidang dieraglobalisasi sekarang dan yang akan datang. Kurikulum 2013 mengarahkan dunia pendidikan kita tidak sekadar menjadi ajang transfer of knowledge ( transfer ilmu pengetahuan dari guru buku kepada murid) semata, melainkan juga tempat pembangunan keterampilan dan karakter (character building) demi terciptanya siswa didik yang cakap intelgensi (cerdik, pandai), berketrampilan, dan berbudi pekerti yang luhur ( berakhlakul karimah). Dengan kurikulum 2013 dunia pendidikan diarahkan untuk mendidik siswa mengarah kepada:
1) Agar belajar tahu (how to now) 2) Belajar kecakapan (how to do)
3) Belajar melahirkan potensi diri (how to be)
4) Belajar hidup bersama keberagaman (how to live together) 5) Belajar menghasilkan (how to earn)
6) Berlaku sopan santun.
2. Kebijakan Pemerintah terhadap Implementasi Kurikulum Pendidikan Islam
Islam sebagai salah satu agama yang dipeluk oleh mayoritas penduduk Indonesia merupakan salah satu komponen yang turut membentuk dan mewarnai corak kehidupan masyarakat Indonesia. Kesuksesan Islam dalam menembus dan mempengaruhi kehidupan masyarakat Indonesia serta menjadikan dirinya sebagai agama mayoritas merupakan prestasi luar biasa.
Hal ini terlihat dari letak geografis, dimana jarak negara Indonesia dengan negara Jazirah Arab sebagai negara asal Islam cukup jauh. Apalagi bila dilihat sejak dimulainya proses penyebaran Islam itu sendiri, di Indonesia belum terdapat suatu metode atau organisasi dakwah yang dianggap cukup mapan dan efektif untuk memperkenal-kan Islam kepada masyarakat. Pendidikan Islam merupakan pewarisan dan perkembangan budaya manusia yang bersumber dan berpedoman pada ajaran dasar agama
69 Islam yakni al-Qur’an dan hadits. Sebagaimana dijelaskan bahwa “dasar pendidikan Islam sudah jelas dan tegas, yaitu firman Tuhan dan sunah Rasulullah SAW., kalau pendidikan diibaratkan bangunan, maka Al-Qur’an dan haditslah yang menjadi fundamennya” (Samsul Nizar. 2007: 346- 347).
Undang-undang pendidikan dari zaman dahulu sampai sekarang tampaknya masih terdapat dikotomi pendidikan. Dimana bila dicermati bahwa undang-undang pendidikan nasional masih membeda-bedakan antara pendidikan umum dan agama, padahal bila digabungkan antara ilmu agama dan ilmu umum justru akan menciptakan kebersamaan dan juga mampu menciptakan kehidupan yang harmonis, serasi dan seimbang. Prioritas pendidikan Islam harus diarahkan pada empat hal, sebagai berikut:
a. Pendidikan Islam bukanlah hanya untuk mewariskan faham atau pola keagamaan hasil internalisasi generasi terhadap anak didik.
b. Pendidikan hendaknya menghindari kebiasaan mengunakan andai-andaian model yang diidealisir yang sering kali membuat kita terjebak dalam romantisme yang berlebihan.
c. Bahan-bahan pengajaran agama hendaknya selalu dapat mengintegrasikan problematik empirik disekitarnya.
d. Perlunya dikembangkan wawasan emansipatoris dalam proses mengajar agama. (Haidar Putra. 2009).
Pada masa ini, kebijakan sistem pendidikan nasional didasarkan pada Tap MPRS No.27, pasal 1 tanggal 5 Juli 1966; yang menetapkan bahwa “Pendidikan agama menjadi mata pelajaran pokok dan wajib diikuti oleh setiap murid/mahasiswa sesuai dengan agamanya masing-masing”.Pada pasal 4 TAP MPRS ini menyebutkan bahwa isi pendidikan untuk mencapai dasar dan tujuan pendidikan adalah:
a. Mempertinggi mental, moral, budi pekerti dan memperkuat keyakinan beragama.
b. Mempertinggi kecerdasan dan keterampilan.
c. Membina dan mengembangkan fisik yang kuat dan sehat
Pendidikan Agama Islam sejak UU No. 2 Tahun 1989 sampai lahirnya kurikulum 1994 yaitu :
a. Pendidikan Agama Islam di Sekolah Umum pada dasarnya telah mendapat respon yang positif, dengan dikeluarkannya Undangundang No.2 Tahun 1989 tentang Pendidikan Nasional (UUSPN), dimana didalamnya diperkenalkan dua Istilah, yaitu Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan.
b. Pendidikan Agama adalah pendidikan yang diselenggarakan di sekolah umum, dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi.
c. Pendidikan Keagamaan adalah lembaga pendidikan Islam atau satuan pendidikan Islam yang lazim dinamakan dengan perguruan agama. Pendidikan Keagamaan merupakan pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat menjalankan peranan yang menuntut penguasaan pengetahuan khusus tentang ajaran agama yang bersangkutan. (Hasbullah. 2001: 55).
70 Sementara itu, tentang pendidikan keagamaan pada pasal 30 Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan sebagai berikut: “(1) Pendidikan Keagamaan diselenggarakan oleh pemerintah dan/atau kelompok masyarakat dari pemeluk agama, sesuai dengan peraturan perundang-undangan, (2) Pendidikan keagamaan berfungsi mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memahami dan mengamalkan nilai-nilai ajaran agamanya dan/ atau menjadi ahli ilmu agama, (3) Pendidikan keagamaan dapat diselenggarakan pada jalur pendidikan formal, nonformal dan informal, (4) Pendidikan keagamaan berbentuk pendidikan diniyah, pesantren, pasraman, pabhaya samanera, dan bentuk lain yang sejenis. (Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, bab IV bagian kesembilan pasal 30 ayat 1, 2, 3 dan 4).
Pada pasal 30 ini menyebutkan tentang penjelasan pendidikan keagamaan baik pada penyelenggaraan , fungsi, dan bentuknya. Pada Bab X Pasal 36 menyatakan point tentang pedoman penyusunan kurikulum yakni: “Kurikulum disusun sesuai dengan jenjang pendidikan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan memperhatikan: (a) Peningkatan Iman dan Taqwa (b) Peningkatan akhlak mulia (c) peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat peserta didik (d) keragaman potensi daerah dan lingkungan (e) tuntutan pembangunan daerah dan nasional (f) tuntutan dunia kerja (g) perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni (h) agama (i) dinamika perkembangan global; dan (j) persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan. (Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003..., bab X tentang kurikulum pasal 36 ayat 3).
Memuat pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan, bahasa, dan untuk pendidikan dasar dan menengah masih diwajibkan materi lainnya. Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 ini yang kemudian menjadi pijakan hukum dan konstitusional bagi penyelenggaraan pendidikan agama di sekolah-sekolah, baik negeri maupun swasta. Pada pasal 37 ayat (1) bahwa: “kurikulum pendidikan dasar dan menengah wajib memuat pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan, bahasa, matematika, ilmu pengetahuan sosial, seni dan budaya, pendidikan jasmani dan olahraga, keterampilan/kejuruan dan muatan lokal”.
Dalam penjelasan atas pasal 37 ayat 1 ini ditegaskan, pendidikan agama dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia`. Pelaksanaan pendidikan agama di sekolah umum, juga diatur dalam undang-undang baik yang berkaitan dengan sarana dan prasarana pendidikan, biaya pendidikan, tenaga pengajar, kurikulum dan komponen pendidikan lainnya.
Dengan banyaknya regulasi-regulasi yang telah dikeluarkan oleh Pemerintah Indonesia baik berupa Undang-undang (UU) maupun Peraturan Pemerintah (PP), hal ini merupakan langkah yang kongkrit yang telah dibuat pemerintah untuk pengembangan dan peningkatan kurikulum pendidikan di Indonesia untuk menjadi lebih baik.
71 Walaupun kenyataan di lapangan terjadi banyak deregualasi-deregulasi yang dilakukan pemerintah karena pergantian pemerintahan, pergantian kementerian, misanya pada Kementerian Pendidikan Kebudayaan yang awalnya terpisah dengan Kementerian Riset dan Teknologi, saat ini Kementerian tersebut digabung kembali menjadi Kementerian Pendidikan dan kebudayaan, sehingga waktu untuk peningkatan kualitas pendidikan terkesan terfokus pada regulasi-regulasi, yang seharusnya dilakukan Pemerintah Indonesia adalah fokus pada peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) menjadi lebih unggul. E. KESIMPULAN
Kurikulum pendidikan Islam di Indonesia sangat erat hubungannya dengan sejarah kedatangan Islam itu sendiri ke Indonesia di mulai dari Pemeintahan Presiden Soekarno sampai kepada pemerintahan Prediden Joko Widodo. Sejarah pendidikan Islam di Indonesia sama tuanya dengan masuknya agama tersebut ke Indonesia. Dalam perjalanan yang panjang sejarah pendidikan Islam selalu mengalami pasang surut dalam babakan yang berbeda-beda dengan mengikuti situasi dan kondisi perjalanan tersebut. Kebijakan sistem pendidikan nasional pada masa orde baru didasarkan pada Tap MPRS No. 27, pasal 1 tanggal 5 Juli 1966; yang menetapkan bahwa “Pendidikan agama menjadi mata pelajaran pokok dan wajib diikuti oleh setiap murid/mahasiswa sesuai dengan agamanya masing-masing”. Pada pasal 4 TAP MPRS ini menyebutkan bahwa isi pendidikan untuk mencapai dasar dan tujuan pendidikan adalah: Mempertinggi mental, moral, budi pekerti dan memperkuat keyakinan beragama, Mempertinggi kecerdasan dan keterampilan, dan membina dan mengembangkan fisik yang kuat dan sehat.
DAFTAR PUSTAKA
(1) AG Subarsono, Analisis Kebijakan Publik Konsep Teori dan Aplikasi, Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2005.
(2) Dedi Sugono, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 2005.
(3) Daoed Joesoef, Rekam Jejak Anak Tiga Zaman,Jakarta: Kompas, 2017. (4) Dimuat Harian Barnas, hal 4 Rubrik “ Wacana” sabtu kliwon 18 Oktober
2015 dikutip pada Tanggal 16 Oktober 2020.
(5) Depdiknas, Pedoman Umum pada Pelaksanaan Pendidikan Berbasis Kompetensi Hidup ( Life Skill) Melalui Pendidikan Broad Based Education dalam Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda, Jakarta.
(6) Mulyasa, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, Bandung: Remaja Rosda Karya, 2007.
(7) Haidar Putra, "Dinamika Pendidikan Islam di Asia Tenggara”. Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2009.
(8) Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001.
(9) Muh. Irfan Islamy, Kebijakan Publik, Jakarta: Karunia Universitas Terbuka, 2018.
72 (10) Riant Nugroho, Pendidikan Indonesia:Harapan Visi dan Strategi,
Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2008.
(11) Suhartono, Ensiklopedi Perpajakan Indonesia, Jakarta: Salemba Empat, 2010.
(12) Sam M. Chan Dkk, Analisis SWOT Kebijakan Pendidikan Era Otonomi Daerah, Jakarta: Grapindo, 2007.
(13) Solichin Abdul Wahab, Analisis Kebijakan dari Formulasi ke Penyusunan Model-Model Implementasi Kebijakan Publik, Jakarta : Bumi Aksara, 2012. (14) Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam, Bandung: Kencana, 2007.
(15) Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, bab IV bagian kesembilan pasal 30 ayat 1, 2, 3 dan 4