Administrasi sebagai Seni
Dalam Webster’s New World
Dictionary (1951)administration merupakan bentuk adjective dari kata administer.
Adapun kata administer menurut kamus tersebut
berasal dari kata lain : ad + ministrate yang
artinya adalah to serve dalam bahasa Indonesia melayani.
Kemudian kata administer dalam bahasa Inggris itu diartikan sebagai :To manage, to conduct, to
Administrasi sebagai Seni
Sementara seni, G. R. Terry (1977)
mengatakan, “Art is personal creative power plus
skill in performance”. Seni merupakan
kemampuan atau kemahiran seseorang untuk menerapkan knowledge yang dimiliki dalam menjalankan tugas dan fungsi tertentu.
Selain itu, istilah “seni” atau arti ini berasal
dari bahasa Latin yang berarti skill atau keahlian, kemahiran yang timbul dari dalam untuk
Administrasi sebagai Seni
Kaitannya dengan administrasi berartibagaimana menerapkan knowledge (science) dengan menggunakan
kemahiran, ketrampilan, pengalaman yang dilakukan oleh para administrator/manajer (top, middle, lower level) dalam suatu
kegiatan kerjasama dalam mencapai tujuan yang diinginkan.
Dengan kata lain administrasi dan
manajemen ditinjau dari segi praktisnya.
Negara yg menerapkan sistem
administrasi jaman dulu
Mesir adalah negara tertua yang menjalankan sistem
administrasi, khususnya adminitrasi birokratik.
Tiongkok kuno, dapat diketahui tentang konstitusi Chow
yang dipengaruhi oleh ajaran Confucius dalam “Administrasi Pemerintahan”.
Yunani (430 SM) dengan susunan kepengurusan Negara
yang demokratis,
Romawi dengan “De Officiis dan “De Legibus”nya Marcus
Tullius Cicero.
Indonesia terlihat pada zaman Pemerintahan Kerajaan
Mataram I, Majapahit dan Sriwijaya, dan salah satu buktinya adalah candi Borobudur, yang terus di kagumi oleh setiap orang.
Survival Period (1886-1930)
Tahun 1886 sering disebut sebagai “tahun” lahirnya
ilmu administrasi, karena pada tahun itulah gerakan manajemen/administrasi ilmiah dimulai oleh Frederick Winslow Taylor di Amerika Serikat yang dijuluki bapak ilmu manajemen, dan kemudian diikuti oleh Henry Fayol di Prancis yang dijuluki pula bapak ilmu Administrasi.
Dalam masa ini para sarjana mulai memperjuangkan supaya pengetahuan administrasi sebagai ilmu yang mandiri atau sebagai salah satu tertib-ilmu (disiplin). Demikian juga dalam masa inilah para ahli dan sarjana mengkhususkan dirinya dalam bidang administrasi dan manajemen.
Consolidation and Completion Period
(1930-1945)
Dalam masa ini asas-asas,
rumus-rumus dan kaidah-kaidah (norma) ilmu
administrasi lebih disempurnakan.
Dalam masa ini juga mutu (quality) dan
jumlah (quantity) para sarjana
administrasi turut dikembangkan serta
gelar-gelar kesarjanaan dalam ilmu
administrasi Negara dan niaga banyak
diberikan oleh lembaga-lembaga
pendidikan tinggi.
Human Relations Period (1945-1959).
Dalam masa ini para sarjana administrasi mulai memperhatikan segi manusiawi dan menyelidiki segala hubungan dari semua orang dalam kegiatan kerjasama, baik
hubungan yang bersifat resmi
(dinas,formal) maupun yang tidak resmi (informal).
Pada masa ini pula ditulis pula hampir semua buku mengenai hubungan antar manusia dalam kegaiatan kerjasama mereka.
Behavioral Period (1959-sekarang).
Dalam masa ini para sarjana
administrasi mulai mengadakan
perhatian serta peningkatan terhadap
penyelidikan mengenai
tindakan-tindakan dan perilaku orang-orang
dalam kehidupan berorganisasi dan
dalam bidang pekerjaannyan system
maupun pendekatan kontingensi
Perkembangan
ADMINISTRASI Publik
(Nicholas Henry, 1995)
I. Dikotomi politik – administrasi (1900-1926)
Tokoh paradigma ini adalah Frank J. Goodnow dan Leonard D. White. Goodnow dalam “Politics and
Administration” (1900) mengungkapkan politik
harus memusatkan perhatiannya terhadap
kebijakan atau ekspresi dari kehendak rakyat, sedang administrasi berkenaan dengan
pelaksanaan atau implementasi dari kebijakan atau kehendak tersebut. Locus-nya adalah birokrasi
PARADIGMA
ADMINISTRASI NEGARA
II. Prinsip-prinsip Administrasi (1927-1937)
Tokoh paradigma ini adalah Willoughby, Gullick dan Urwick. Mereka memperkenalkan prinsip-prinsip administrasi yang berlaku universal
sebagai focus administrasi negara. Prinsip-prinsip tersebut dituangkan dalam istilah POSDCORB
(Planning, Organizing, Staffing, Directing,
PARADIGMA
ADMINISTRASI NEGARA
III. Administrasi Negara sebagai ilmu politik (1950-1970)
Morstein-Marx editor buku Elements of Public
Administration mempertanyakan pemisahan politik
dan administrasi tidak mungkin/realistis. Herbert Simon menyatakan prinsip administrasi tidak
konsisten dan universal. John Gaus mengatakan bahwa teori administrasi adalah teori politik dimana
PARADIGMA
ADMINISTRASI NEGARA
IV. Administrasi negara sebagai ilmu administrasi (1956-1970)
Pengembangan prinsip-prinsip administrasi
secara ilmiah dan mendalam memicu paradigma ini. Bahkan Keith M. Henderson berpendapat
bahwa teori organisasi seharusnya menjadi focus dari administrasi negara. Fokus tersebut tidak
hanya pada bidang bisnis tapi juga dalam administrasi negara.
PARADIGMA
ADMINISTRASI NEGARA
V.
Administrasi negara sebagai administrasi
negara (1970-sekarang)
Dalam paradigma ini focus dan locus yang dimiliki sudah jelas. Focus-nya adalah teori organisasi,
teori manajemen, kebijakan publik dan locus-nya adalah masalah-masalah dan kepentingan publik.
Lima paradigma tersebut bersifat tumpang tindih atau “overlaping”. Di mana “locus”
(tempat = letak) dan “focus” (yang diperhatikan) administrasi publik saling berganti .
Paradigma 1 lebih mementingkan “locus”,
paradigma 2 menonjolkan “focus”, paradigma 3 kembali lebih mementingkan “locus”, sedang paradigma 4 mementingkan “focus”, dan
paradigma 5 berusaha untuk mengaitkan antara “focus” dan “locus” dari administrasi publik.
Identifikasi Terhadap
Administrasi Negara
menurut Gerald E. Caiden,
1. Identifikasi Administrasi Pemerintahan, mencoba
mengenali administrasi negara dari aktivitas yang dilakukan
2. Identifikasi Organisasi Publik, identifikasi ini mencoba
mengungkapkan administrasi negara berdasarkan adanya lembaga-lembaga publik.
3. Identifikasi Orientasi Sikap Administrasi, mengidentifikasi
berdasarkan orientasi sikap administrasi.
4. Identifikasi Proses Yang Bersifat Khusus, mencoba
mengidentifikasi administrasi negara berdasarkan proses-prosesnya yang bersifat khusus/unik.
5. Identifikasi Aspek Publik, pusat perhatian diletakkan pada
pelayanan barang dan jasa publik yang ditekankan adalah hakikat publiknya.
Peranan Studi Administrasi
Negara
1. Leonard D. White (1926) menyatakan bahwa administrasi negara terdiri dari
semua kegiatan yang bertujuan untuk melaksanakan kebijakan publik (public policy) Pentingnya studi administrasi negara dikaitkan dengan kenyataan bahwa kehidupan menjadi tak bermakna, kecuali dengan kegiatan-kegiatan yang bersifat public. Segala hal yang berkenaan dengan penyelenggaraan kegiatan-kegiatan yang bersifat public telah dicakup dalam pengertian
administrasi Negara, khususnya dalam mengkaji kebijaksanaan publik.
2. Dalam proses pembangunan sebagai konsekuensi dari pandangan bahwa
administrasi Negara merupakan motor penggerak pembangunan, maka
administrasi Negara membantu untuk meningkatkan kemampuan administrasi. Artinya, di samping memberikan ketrampilan dalam bidang prosedur, teknik, dan mekanik, studi administrasi akan memberikan bekal ilmiah mengenai bagaimana mengorganisasikan segala energi social dan melakukan evaluasi terhadap kegiatan.
3. Peranan administrasi Negara makin dibutuhkan di era globalisasi yang amat
menekankan prinsip persaingn bebas. Secara politis, peranan administrasi Negara adalah memelihara stabilitas Negara, baik dalam pengertian keutuhan wilayah maupun keutuhan politik. Secara ekonomi, peranan administrasi
Negara adalah menjamin adanya kemampuan ekonomi nasional untuk menghadapi dan mengatasi persaingan global.
Ruang Lingkup Ilmu Administrasi
Publik
• Dibidang Hubungan, Peristiwa Dan Gejala Pemerintahan
1. Administrasi pemerintahan pusat 2. Administrasi pemerintahan daerah
3. Administrasi pemerintahan kecamatan 4. Administrasi pemerintahan kelurahan 5. Administrasi pemerintahan desa
6. Administrasi pemerintahan kotamadya
7. Administrasi pemerintahan kota administratif 8. Administrasi departemen
9. Administrasi non-departemen
• Dibidang Kekuasaan
1. Administrasi politik luar negeri 2. Administrasi politik dalam negeri
3. Administrasi partai politik, posisi masyarakat LSM
4. Administrasi kebijakan pemerintahan, policy,wisdom, kondisi dan peranan pemerintah
• Dibidang Peraturan Perundang-undangan, meliputi: landasan
• Di Bidang Pemikiran Hakiki (Para Pakar Ilmu Filsafat)
1. Etika administrasi publik, tata nilai organisasi dana manajemen 2. Estetika administrasi publik, cinta, rasa, karsa administrator 3. Logika admiinstrasi publik, disiplin ilmu, sumber daya manusia, hokum administrasi negara
4. Hakikat administrasi publik, pembentukan system, kultur, struktur.
• Di Bidang Kenegaraan
1. Tugas dan kewajiban Negara 2. Hak dan kewajiban Negara 3. Tipe dan bentuk Negara 4. Fungsi dan prinsip Negara 5. Unsur-unsur Negara
• Dibidang Ketatalakssanaan (Pakar Ilmu Administrasi Publik) 1. Administrasi pembangunan 2. Administrasi perkantoran 3. Administrasi kepegawaian 4. Administrasi kemiliteran 5. Administrasi perpajakan 6. Administrasi pengadilan 7. Administrasi kepenjaraan • Administrasi Perusahaan 1. Administrasi penjualan 2. Administrasi periklanan 3. Administrasi pemasaran 4. Administrasi perbankan 5. Administrasi perhotelan 6. Administrasi pengangkutan