IV.KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN

19 

Teks penuh

(1)

IV.KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN

4.1. Kondisi geografis

Kota Jayapura adalah ibukota Provinsi Papua Timur dengan luas 940 Km2 (0,23 %) dari luas daratan Provinsi Papua. Kota Jayapura terletak di tepian Teluk Humbolt atau Yos Sudarso pada ketinggian < 700 m di atas permukaan laut (dpl) dengan posisi equatorial antara 1300-1410 BT dan 107„-3049„ LS.

Menurut pencatatan badan meteorologi dan geofisika wilayah V Jayapura tahun 2007 suhu udara rata-rata 24,20C – 32,60C. Kelembapan udara berkisar antara 76 – 83 persen, sedang curah hujan tertinggi pada bulan Maret 2007 yaitu 456 mm dan terendah bulan Juni 2007 yaitu 29 mm.

Secara administrasi luas Kota Jayapura ± 940.000 Ha yang terbagi dalam 5 distrik yaitu distrik abepura, distrik jayapura selatan, distrik jayapura utara distrik muara tami, dan distrik Heram. Kota Jayapura terdiri dari 25 wilayah kelurahan, dan 14 wilayah kampung. Urbanisasi merupakan salah satu isu lingkungan Kota Jayapura, tingginya mobilisasi penduduk di Kota Jayapura tiap tahunnya seiring dengan meningkatnya aktivitas perekonomian Kota Jayapura, seperti meningkatnya jumlah hotel, jumlah pasar, jumlah pusat perbelanjaan modern. Peningkatan aktivitas perekonomian ini membuat penduduk dari luar daerah bermigrasi ke Kota Jayapura, sehingga terjadi peningkatkan penduduk, jumlah pemukiman, jumlah keramba, jumlah limbah yang bisa menyebabkan penurunan kualitas lingkungan Teluk Youtefa dan sekitarnya

4.2. Topografi dan iklim

Kota Jayapura memiliki tofografi yang relatif bervariasi, yaitu dataran rendah dan pantai, terdapat juga perbukitan dan gunung. Sekitar 40 % tidak layak huni karena merupakan daerah perbukitan yang terjal dengan tingkat kemiringan 400. Beriklim tropis basah dengan suhu minimum 290C dan maksimum 31,800C, curah hujan rata-rata 146 mm/tahun, kelembapan udara rata-rata 80,42 %, serta musim kemarau dan hujan yang tidak teratur.

Suhu udara rata-rata bulanan di Kota Jayapura mengalami fluktuasi, pada bulan Juni rata-rata 29 0C sebagai suhu terendah. Bulan April, Mei, dan November

(2)

tercatat sebagai bulan yang paling panas dalam satu tahun, dengan suhu rata-rata 32,5 0C. Kelembapan udara di Kota Jayapura selama tahun 2009 minimim 77% dan maksimum 82%. Kecepatan angin minimum 6,5 knot dan maksimum 7,5 knot. Data iklim selengkapnya disajikan pada Tabel 9.

Tabel 9. Kondisi Iklim Kota Jayapura tahun 2009

No Bulan

Suhu (0C) Kelembapan Kecepatan

angin Hujan

Min Maks % Knot Curah hujan

(mm) Hari hujan 1 Januari 24,7 32,2 77 7,1 180 20 2 Februari 24,2 31,2 82 6,8 584 28 3 Maret 24,4 31,6 80 6,7 465 30 4 April 25,1 32,5 77 7,5 201 19 5 Mei 25,3 32,5 77 7,0 136 17 6 Juni 23,9 31,4 80 6,7 203 20 7 Juli 24,4 31,5 82 6,8 347 27 8 Agustus 24,9 31,9 79 7,4 246 15 9 September 24,8 32,1 77 6,9 260 18 10 Oktober 25,1 32,3 77 7,8 203 18 11 November 25,4 32,4 77 7,1 164 17 12 Desember 25,2 31,9 80 6,5 352 17

Sumber: BPS Kota Jayapura, 2010 4.3. Kondisi umum Teluk Youtefa

Kondisi Teluk Youtefa yang semakin menurun dapat dilihat dari adanya penumpukan limbah padat, masukan limbah cair, sedimentasi dan kerusakan-kerusakan lain yang ada disekitar teluk seperti lahan kritis, pengerukan bahan galian C. Pencemaran di Teluk Youtefa disebabkan beberapa hal diantaranya bahan buangan limbah cair, limbah padat baik dari permukiman di Teluk Youtefa maupun dari hulu. Buangan limbah domestik dapat dilihat pada Gambar 20

Gambar 20 Sedimen dan potensi sumber limbah domestik dari pemukiman

(3)

Limbah cair dan limbah padat memasuki Teluk Youtefa disebabkan lemahnya penerapan regulasi terhadap pelanggaran, dan sikap masyarakat yang selalu membuang limbah langsung ke badan sungai tanpa pengolahan. Tingginya sedimen disebabkan kurangnya konservasi tanah disekitar teluk sehingga mengakibatkan meningkatnya lahan-lahan kritis, kondisi tersebut dapat dilihat pada Gambar 21

Teluk Youtefa memiliki multi fungsi bagi masyarakat yaitu sebagai transportasi air masyarakat nelayan, masyarakat umum, pariwisata, keramba jaring apung. Kondisi Teluk Youtefa semakin menurun, akibat tekanan dari teluk maupun akibat kegiatan antropogenik di hulu.

Gambar 21 Bahan galian, lahan kritis, tumpukan sampah dan pengerukan

(4)

4.4. Kondisi umum perairan sungai 4.4.1. Karakteristik sungai

Faktor penting sungai Kota Jayapura ada dua yaitu kedalaman dan kecepatan air dimana setiap segmen dan penampangnya berbeda. Badan lingkungan hidup daerah Kota Jayapura menyebutkan bahwa sungai yang bermuara ke Teluk Youtefa memiliki panjang yang berbeda yaitu: sungai acai 2.245 meter, sungai sibhorgoni 11.619 meter, dan sungai PTC entrop 4.068 meter, serta sungai hanyaan 2.413 meter. Lebar sungai acai berkisar antara 6,76 meter – 11,65 meter atau rata-rata 9,69 meter. Lebar sungai sibhorgoni berkisar antara 5 meter – 7,30 meter atau rata 6 meter. Lebar sungai PTC berkisar antar 5 meter – 5,50 meter atau rata-rata 5,25 meter. Kemudian lebar sungai hanyaan berkisar antar 6,40 meter – 8 meter atau rata-rata 7,2 meter. Kecepatan aliran rata-rata sungai acai adalah 0,69 m/detik, sungai sibhorgoni 0,37 m/detik, sungai PTC 0,58 m/det, dan sungai hanyaan 0,49 m/detik. Rata-rata debit sungai berbeda yaitu sungai acai 2,20 m3/detik, sungai sibhorgoni 0,45 m3/detik, sungai PTC 0,37 m3/detik, sungai hanyaan 0,60 m3/detik.

Debit sungai Kota Jayapura dipengaruhi oleh curah hujan. Secara kuantitas, sungai Kota Jayapura menunjukkan pola perubahan debit yang seragam sepanjang tahun

4.4.2. Kualitas fisik-kimia sungai

Nitrat sebagai salah satu indikator pencemar bahan organik pada perairan sungai di Kota Jayapura. Hasil analisis terhadap nilai nitrat diperairan sungai diperoleh rata-rata 2,32 mg/l. Berdasarkan Peraturan Pemerintah nomor 82 tahun 2001 tentang pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air bahwa nilai tersebut berada dibawah baku mutu ( 10 mg/l). Jika dibandingkan dengan baku mutu yang merujuk pada Keputusan menteri Lingkungan Hidup nomor 51 tahun 2004, maka batas nitrat untuk biota laut adalah 0,008 mg/l, dengan demikian hasil penelitian menjelaskan bahwa input nitrat dari perairan sungai sudah melebihi nilai ambang batas yang ditentukan untuk kehidupan biota laut

Komponen nutrien lain selain nitrat sebagai parameter indikator pencemar bahan organik pada perairan sungai di Kota Jayapura adalah fosfat. Hasil analisis terhadap nilai fosfat diperairan sungai diperoleh rata-rata 1,15 mg/l. Berdasarkan

(5)

Peraturan Pemerintah nomor 82 tahun 2001 tentang pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air bahwa nilai tersebut berada di atas baku mutu (0,2 mg/l). Jika dibandingkan dengan baku mutu yang merujuk pada Keputusan menteri Lingkungan Hidup nomor 51 tahun 2004, maka batas fosfat untuk biota laut adalah 0,015 mg/l di atas nilai baku mutu. Dengan demikian hasil penelitian menjelaskan bahwa input nitrat dari perairan sungai sudah melebihi nilai ambang batas yang ditentukan untuk kehidupan biota laut.

Air sungai sering kelihatan berwarna coklat dan berlumpur yang mengandung padatan tersuspensi, sebagian besar bersumber dari partikel-partikel tanah yang masuk kesungai melalui run off permukaan. Hasil analisis terhadap nilai TSS diperairan sungai diperoleh rata-rata 161,5 mg/l. Berdasarkan Peraturan Pemerintah nomor 82 tahun 2001 tentang pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air bahwa nilai tersebut berada di atas baku mutu (50 mg/). Jika dibandingkan dengan baku mutu yang merujuk pada Keputusan menteri Lingkungan Hidup nomor 51 tahun 2004, maka batas TSS untuk biota laut adalah 20 mg/l di atas nilai baku mutu. Dengan demikian hasil penelitian menjelaskan bahwa input nitrat dari perairan sungai sudah melebihi nilai ambang batas yang ditentukan untuk kehidupan biota laut.

Parameter lainnya sebagai indikator pencemaran adalah BOD. Hasil analisis terhadap nilai BOD diperairan sungai diperoleh rata-rata 15,9 mg/l. Berdasarkan Peraturan Pemerintah nomor 82 tahun 2001 tentang pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air bahwa nilai tersebut berada di atas baku mutu (6 mg/l). Jika dibandingkan dengan baku mutu yang merujuk pada Keputusan menteri Lingkungan Hidup nomor 51 tahun 2004, maka batas BOD untuk biota laut adalah 20 mg/l di bawah nilai baku mutu. Dengan demikian hasil penelitian menjelaskan bahwa input BOD dari perairan sungai belum melebihi nilai ambang batas yang ditentukan untuk kehidupan biota laut.

Amonia merupakan indikator pencemar perairan sungai. Hasil analisis terhadap nilai amonia diperairan sungai diperoleh rata-rata 1,06 mg/l. Berdasarkan Peraturan Pemerintah nomor 82 tahun 2001 tentang pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air bahwa nilai tersebut berada di atas baku mutu (0,5

(6)

mg/l). Jika dibandingkan dengan baku mutu yang merujuk pada Keputusan menteri Lingkungan Hidup nomor 51 tahun 2004, maka batas amonia untuk biota laut adalah 0,3 mg/l di atas nilai baku mutu. Dengan demikian hasil penelitian menjelaskan bahwa input amonia dari perairan sungai sudah melebihi nilai ambang batas yang ditentukan untuk kehidupan biota laut.

Parameter selanjutnya sebagai indikator pencemaran adalah COD. Hasil analisis terhadap nilai COD diperairan sungai diperoleh rata-rata 64,9 mg/l. Berdasarkan Peraturan Pemerintah nomor 82 tahun 2001 tentang pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air bahwa nilai tersebut berada di atas baku mutu (10 mg/l). Jika dibandingkan dengan baku mutu yang merujuk pada Keputusan menteri Lingkungan Hidup nomor 51 tahun 2004, maka batas COD untuk biota laut adalah 80 mg/l di bawah nilai baku mutu. Dengan demikian hasil penelitian menjelaskan bahwa input COD dari perairan sungai belum melebihi nilai ambang batas yang ditentukan untuk kehidupan biota laut.

4.4.3. Asumsi masalah sampah, limbah cair penduduk, ternak, tinja, dan perikanan. Sampah adalah bahan yang tidak dipakai atau bahan yang terbuang dari hasil sisa aktivitas manusia maupun proses alam yang dipandang belum memiliki nilai ekonomis. Secara garis besar sampah dibedakan menjadi 3 jenis yaitu sampah anorganik/kering yaitu sampah yang tidak dapat mengalami pembusukan secara alami, sampah organik/basah yaitu sampah yang dapat mengalami pembusukan secara alami, kemudian sampah berbahaya yaitu sampah yang mengandung bahan berbahaya. Secara umum, manusia di perkotaan menghasilkan sampah 3,5 kg/hari, dan banyaknya penduduk yang diasumsikan memberikan pengaruh buruk terhadap Teluk Youtefa dari sampah adalah 40 % atau 65.769 jiwa. Hal tersebut diperoleh dari jumlah penduduk di Distrik Abepura, Distrik Jayapura Selatan, Vim adalah 164.424 jiwa.

Limbah cair diasumsikan berdasarkan jumlah pemakaian air menurut Ditjen Cipta Karya (2006) diacu dalam Suwari (2010) yaitu 144 liter/orang/hari, sedangkan jumlah air buangan 80 % pemakaian air atau 115,2 liter/orang/hari. Faktor konversi yang digunakan untuk mengestimasi beban limbah cair domestik untuk BOD adalah 46 gram/orang/hari (Harnanto dan Hidayat 2003) diacu dalam

(7)

Suwari (2010). Sedangkan limbah domestik untuk COD adalah 57 gram/orang/hari (Salim 2002 diacu dalam Suwari 2010). Limbah tersebut diasumsikan masuk ke Teluk Youtefa sekitar 52,7 %.

Menurut Soeminto (1987) dalam Setiawan (2007) kotoran dari seekor babi ternak dewasa terdiri dari 2,72 kg/hari, kotoran padat dan 1,59 kg/hari kotoran cair. Banyaknya ternak babi yang bisa memberikan pengaruh terhadap kawsan Teluk Youtefa adalah 1.529 ternak atau sekitar 27 % bisa masuk ke perairan Teluk Youtefa. Kemudian satu ternak sapi dewasa menghasilkan 23,59 kg/hari kotoran padat dan 9,07 kg/hari kotoran cair. Banyaknya ternak sapi yang dapat memberikan pengaruh di sekitar Teluk Youtefa adalah 846 ekor, atau sekitar 31 % limbah sapi dapat masuk ke perairan Teluk Youtefa.

Menurut Sasimartoyo (2001) bahwa manusia menghasilkan limbah tinja per hari adalah 1.141 gram. Jumlah penduduk yang bermukim di atas perairan Teluk Youtefa adalah 285 jiwa, atau sekitar 4,5 % limbah tinja dibuang ke perairan Teluk Youtefa. Kemudian banyaknya KJA adalah 87, dan jumlah total ikan dalam KJA adalah 43.500 ekor, atau sekitar 84 % limbah pakan ikan berada dalam air teluk.

Sungai di Kota Jayapura khususnya 4 sungai yang bermuara ke Teluk Youtefa menjadi tempat penampungan sampah. Jenis sampah yang sering dibuang ke sungai adalah ketiga jenis tersebut di atas, namun yang paling dominan adalah sampah yang mudah membusuk, sampah plastik, botol plastik, dan kaleng berbagai macam ukuran. Kontribusi seperti ini sangat berpotensi mencemari lingkungan dengan limbah organik, apalagi jenis sampah yang mudah terurai telah mendominasi kedua kehadirannya di sungai. Sampah yang terdapat di sungai dan teluk dapat disajikan pada gambar 23.

(8)

4.5. Tata Guna Lahan

Penggunaan lahan di Kota Jayapura saat ini didominasi permukiman yang berkembang sangat pesat terutama di Abepura

Tabel 10. Penggunaan lahan Kota Jayapura

No Penggunaan Luas lahan (ha) Persentase

1 Permukiman 4.095,15 2,14

2 Perkantoran 126,25 0,06

3 Pariwisata 1.927,90 1,00

4 Perdagangan dan jasa 252,490 0,132

5 Pemakaman 20 0,010

6 Pertambangan 92.849,87 48,52

7 Tanaman pangan 10.983,47 5,74

8 Hutan produksi terbatas 27.016,19 14,12

9 Perkebunan 4.292,39 2,24

10 Tambak 1.641,21 0,86

11 Resapan air 10.884,15 5,69

12 Kawasan lindung 37.279,87 19,48 Jumlah 191.367,945

Sumber: Kota Jayapura, 2010

(9)

Berdasarkan tabel 10 di atas bahwa penggunaan lahan didominasi untuk lahan pertambangan (42,52 %), lahan untuk kawasan lindung (19,48 %), dan lahan hutan produksi terbatas (14,12 %). Kemudian penggunaan lahan berikutnya adalah untuk perkantoran (0,06 %), dan permukiman penduduk (2,14 %).

4.6. Biologi

Teluk Youtefa memiliki banyak sumberdaya alam yang biasa dimanfatkan oleh masyarakat dan perlu dilestarikan. Komponen biologi disekitar Teluk Youtefa terdiri dari dua kelompok yaitu akuatik dan terestrial.

4.6.1. Akuatik

Tabel 11. Jenis biota air di Teluk Youtefa

No Nama Latin Nama lokal

Tobati dan Enggros Nafri

1 Bandeng Chanos chanos Rumeng Tamuanta

2 Samandar sejati Siganus vulpinus Menin Mnina

3 Lolosi biru Caesio caerulaunea ---- Osaokanane

4 Belanak Mugil cephalus Rar Hoyouw

5 Bawal hitam Parastromateus niger Soui ----

6 Kembung Rastrelinger brachysoma Usau Osao

7 Bubara/Kwe Caranx cexfaciatus Orou Ebefrou

8 Bubara hijau Caranx melampygus Bokrorik ---

9 Bubara ekor kuning Gnathanodon Speciosus Mor ---

10 Bubara lebar Alectis ciliaris Obecoui ---

11 Kerong-kerong Terapon jarbua Job/Kambraw Hambirao

12 Japuh Dussumieria acuta --- Make

13 Kapasan Gerres kapas Hemos Homosi

14 Pari Dasyatis spp Sinyer Harao

15 Kerapu lumpur Epinephelius tauvina Mef/Tramp Foru

16 Samandar papan Siganus gutatus Menin Frefre

17 Alu-alu Sphyaena barracuda Sowo/Wes ---

18 Julung Hemirhampus spp Mu ---

19 Tenggiri Scomberomorus commoerson

Forbor ---

20 Kepiting Scylia serrata Yapruki Harang

21 Cumi-cumi Loligo spp --- Miso

22 Udang

Sumber: Data primer dan sekunder 1. Mangrove

Mangrove adalah jenis tanaman berbiji berbelah dua (dikotil) yang hidup di habitat payau. Kelompok pohon di daerah mangrove terdiri atas jenis pohon tertentu saja atau sekumpulan komunitas pepohonan yang dapat hidup di air asin. Hutan mangrove biasa ditemukan di sepanjang pantai daerah tropis dan sub tropis, antara 320 Lintang Utara dan 380 Lintang Selatan. Apabila dilihat dari bentuk

(10)

akarnya ada yang muncul dari tanah ke atas berbentuk pinsil atau kerucut dan berfungsi sebagai akar pernafasan (pneumatophores) disebut akar pasak. Ada pula akar yang muncul ke atas tanah kemudian menekuk dan menancap lagi ke bawah, disebut akar lutut. Ada lagi yang berbentuk papan pipih disebut akar papan dan yang bertipe akar tongkat tumbuh melengkung dari batang bagian bawah masuk ke tanah sebagai penyangga pohon maupun menggantung di udara sebagai akar pernafasan.

Bentuk daun bermacam-macam, ada yang oval, bulat lonjong, elips runcing, ujung daun bulat atau melengkung. Ketebalan daun juga bervariasi, ada yang tebal kaku berlapis semacam lilin, adapula yang tipis, permukaan daun ada yang mengeluarkan kristal garam atau ada yang berbintik-bintik. Buahnya berbiji dikotil dan vivipar untuk semua jenis bakau sejati. Bentuk dan ukuran bakal pohon (propagules) ada yang kecil panjang, berbentuk cerutu dengan ujung melengkung runcing dan ada yang bulat pendek.

Bentuk bunga mangrove bervariasi dari yang berukuran kecil, bulat-bulat kecil sampai berbentuk kumpulan benang-benang berwarna putih. Warnanya bermacam-macam, ada yang putih, kekuningan atau ada yang merah jambu dan merah.

2. Lamun

Lamun merupakan tumbuhan berbunga yang beradaptasi di lingkungan bahari di zona intertidal (antara air pasang dan air surut) yaitu zone peralihan antara lautan dan daratan. Lamun, dalam bahasa daerah Tobati (vasrak atau vas) dan bahasa Nafri (sasaro), hidupnya di perairan dangkal yang agak berpasir dan atau di daerah terumbu karang membentuk padang lamun yang cukup luas. Ekosistem ini merupakan ekosistem bahari yang produktif dan dapat mendukung kehidupan keanekaragam tumbuhan dan hewan yang menurut daerah setempat digunakan sebagai tempat untuk menempel, bernaung dan menyediakan makanan bagi ikan–ikan di sekitarnya.

Luasan lamun Teluk Youtefa berdasarkan hasil analisis citra landsat ETM tahun 2004 dan hasil verifikasi di lapangan adalah sekitar 59,7 Ha. Padang lamun di teluk Youtefa sangat kurang berasosiasi dengan terumbu karang karena banyak

(11)

terumbu karang yang sudah rusak. Padang lamun di daerah hulu kampung Tobati didominasi oleh Enhalus acoroides dengan luas tutupan 60 %. Padang lamun di daerah substrat pasir berlumpur dekat kampung enggros didominasi oleh

Cymodocea rotundata, sedangkan di daerah substrat pasir terdapat jenis Halodule pinifolia, Halophila ovalis, Halophila minor dan Enhalus acoroides. Sebelah

timur kampung nafri didominasi oleh enhalus acoroides dengan luas tutupan 5 – 20%. Berdasarkan luas tutupan (menurut Keputusan Menteri Lingkungan Hidup 2004) di atas maka padang lamun di Teluk Youtefa dikategorikan rendah sampai sedang atau dalam kondisi kurang sehat.

Kondisi ekosistem padang lamun sudah banyak mengalami gangguan sehingga tidak utuh lagi, di daerah sebelah timur kampung nafri pun sudah mengalami kerusakan fisik, di kampung tobati dan enggros rusak karena dilalui perahu-perahu untuk transportasi dan nelayan pada kondisi air surut. Padang lamun di beberapa tempat di sekitar dermaga pasar abepura sudah habis, ini diduga akibat adanya kegiatan pembuangan limbah domestik terutama dari pemukiman dan dari pasar youtefa yang dibuang ke saluran pembuangan yang bermuara ke Teluk Youtefa, serta banyaknya pasokan sedimen dari hulu akibat pembukaan lahan pemukiman dan adanya lahan marginal.

4.6.2. Terestrial

Tabel 12. Produksi tanaman sayur di Kota Jayapura tahun 2008 dan 2009 (ton)

No Jenis sayuran Tahun

2008 % Tahun 2009 % Jumlah 1 Bayam 272 11,10 392 10,24 664 2 Kangkung 472 19,25 528 13,80 1.000 3 Buncis 96 3,91 147 3,85 243 4 Kacang panjang 304 12,40 444 11,60 748 5 Tomat 150 6,12 264 6,90 414 6 Ketimun 252 10,28 300 7,85 552 7 Labu siam --- --- --- --- --- 8 Lobak --- --- --- --- --- 9 Cabe 213 8,70 246 6,43 459 10 Bawang merah 92 3,76 96 2,50 188 11 Bawang daun 28 1,14 28 0,74 56 12 Sawi 448 18,28 616 16,11 1064 12 Wortel --- --- --- --- --- 13 Lainnya 124 5,06 764 19,98 888 Jumlah 2451 100 3825 100 6276

(12)

Data di atas (tabel 12) menunjukkan bahwa produksi tanaman sayur tertinggi adalah jenis sayuran kangkung (19,25 %). kemudian jenis sayuran sawi (18,28 %). Sedangka produksi terendah adalah jenis sayuran bawang daun (1,14 %).

Tabel 13. Produksi tanaman buah di Kota Jayapura tahun 2008 dan 2009 (ton)

No Jenis buah-buahan Tahun

2008 % Tahun 2009 % Jumlah 1 Alpokat 396 10,70 396 10,37 792 2 Mangga 548 14,81 548 14,34 1.096 3 Rambutan 104 2,81 104 2,72 208 4 Langsat 96 2,60 96 2,51 192 5 Jeruk 220 5,94 220 5,76 440 6 Durian --- --- --- --- --- 7 Jambu 108 2,92 108 2,83 216 8 Sawo --- --- --- --- --- 9 Pepaya 596 16,10 608 15,91 1.204 10 Pisang 688 18,61 733,5 19,19 1.421,5 11 Salak 152 4,10 152 3,98 304 12 Nenas 136 3,68 160 4,19 296 12 Nangka 108 2,92 108 2,82 216 13 Semangka 548 14,81 588 15,38 1.136 Jumlah 3.700 100 3.821,5 100 7521,5

Sumber: Kota Jayapura dalam angka, 2010

Data di atas (tabel 13) menunjukkan bahwa produksi tanaman buah tertinggi adalah jenis buah pisang (18,61 % atau 688 ton), kemudian jenis buah pepaya (16,10 % atau 596 ton). Sedangka produksi terendah adalah jenis buah langsat (2,60 % atau 96 ton) pada tahun 2008. Produksi tanaman buah pada tahun 2009 tidak berbeda secara signifikan dibanding pada tahun 2008.

Gambar 24 menunjukkan bahwa produksi buah pisang memiliki produksi tertinggi dibanding produksi buah lainnya, diikuti dengan produksi buah pepaya,

(13)

mangga, dan semangka. Hal tersebut dapat terlihat di lapangan seperti di beberapa pasar, dan swalayan. Buah-buahan tersebut mendominasi di pasaran. Produksi buah terendah adalah langsat, nangka, dan jambu. Sedangkan produksi durian dan sawo tidak ada. Hal tersebut di duga bahwa tanaman tersebut tidak merupakan produksi unggulan di Kota Jayapura atau tanaman tersebut tidak ada. Tanaman durian dan sawo hanya terdapat di Kabupaten Jayapura.

4.7. Kondisi sosial ekonomi 4.7.1. Kependudukan

Jumlah penduduk Kota Jayapura pada tahun 2010 mencapai 242.267 orang terdiri atas 128.576 jiwa penduduk laki-laki (53,07%) dan 113.691 jiwa penduduk perempuan (46,93%) dengan tingkat kepadatan 2,57 jiwa/ha dan pertumbuhan rata-rata 4,10% pertahun. Perkembangan pembangunan Kota Jayapura yang cukup pesat menimbulkan daya tarik dari daerah sekitar maupun dari luar Papua, sehingga mengakibatkan jumlah penduduk Kota Jayapura menjadi semakin bertambah. Jumlah penduduk menurut jenis kelamin tiap kecamatan di Kota Jayapura pada tahun 2009 diperlihatkan pada tabel 14

Tabel 14 Jumlah penduduk menurut jenis kelamin per kecamatan

No Distrik Laki-Laki Perempuan Jumlah

1 Abepura 34.574 29.866 64.440 2 Jayapura Selatan 34.592 29.844 64.436 3 Heram 18.682 16.906 35.588 4 Jayapura Utara 33.909 32.656 66.565 5 Muara Tami 6.819 4.419 11.238 Jumlah 128.576 113.691 242.267

Sumber: Kota Jayapura dalam angka (2010)

Berdasarkan komposisi penduduk tiap distrik pada tahun 2009 bahwa jumlah penduduk terbanyak terdapat di Jayapura Utara, Abepura, dan Jayapura Selatan. Sedangkan jumlah penduduk terendah terdapat di distrik Muara Tami.

4.7.2. Pendidikan

Tingkat pendidikan merupakan salah satu indikator yang dapat digunakan untuk melihat perkembangan kota. Komposisi Kota Jayapura berdasarkan tingkat pendidikan pada tahun 2010 terbanyak adalah pada tingkat SD sebanyak 31.873 jiwa (37,91 %), kemudian tingkat pendidikan universitas sebanyak 18.699 jiwa (22,24 %). Sedangkan tingkat pendidikan terendah adalah pada tingkat kejuruan 4.047

(14)

(4,81 %). Komposisi (jumlah dan porsentase) penduduk Kota Jayapura tahun 2010 berdasarkan tingkat pendidikan selengkapnya dapat diperlihatkan pada gambar 25.

4.7.3. Sebaran marga-marga suku asli Teluk Youtefa

a. Kampung tobati yaitu: Hamadi, Ireuw, Injama, Dawir, Assor, Mano, Haazi, Afaar, Habakuk, Itar, Sremsrem;

b. Kampung enggros yaitu: Sanyi, Drunyi, Merauje, Semra, Hanasbei, Iwo, Haai, Samai, Hamadi, Habakuk, Itar;

c. Kampung Nafri yaitu: Hamueki, Marahabia, Aulinero, Acali, Kay, Tamian, Awi, Fingkrew

4.7.4. Karakteristik budaya

Teluk Youtefa memiliki 3 (tiga) suku asli yang hidup dalam suatu perkampungan/desa yaitu tobati, enggros dan nafri. Suku tobati termasuk dalam suku bangsa malanesia, mereka termasuk dalam kelompok suku yang terdapat di Teluk Humbolt. Kelompok suku ini terdiri dari kelompok orang kayu pulau, nafri, skow dan tobati. Suku tobati memiliki dua kelompok masyarakat yaitu tobati (Tobatji) yang artinya sudah jadi orang di sini atau kampung saya di sini dan enggros (Injros) terdiri dari dua kata yaitu inj (tempat) dan ros (dua) maka artinya tempat tinggal (kampung) kedua, karena perkembangan dan jumlah penduduk pada akhirnya kedua kelompok masyarakat yang dulunya bersatu kini terpisah.

Orang tobati mengisahkan bahwa dahulu hanya ada satu kampung besar tobati, namun karena perkembangan jumlah penduduk sehingga dua klen yaitu "Drunyi" dan "Sanyi" pindah ke tempat permukiman kedua (Injros). Dalam sistem kekerabatan dikenal istilah Matarumah untuk menyebutkan beberapa keret yang

(15)

merupakan satu sub-klen, disebut matarumah karena pada mulanya mereka bersama-sama menghuni satu rumah besar yang dibagi menjadi beberapa kekerabatan. Bilik-bilik keluarga itulah yang kemudian terpecah dan disebut matarumah yang kemudian berkembang meliputi beberapa keret.

4.7.5. Kondisi budaya

Tahun 1858 orang Belanda pada awalnya datang dengan menggunakan kapal laut "ETNA" yang dipimpin oleh H.D.A. Van Der Goes, kemudian mendirikan pos pertama Belanda di Teluk Youtefa tepatnya di pulau debi yang kemudian pernah juga diduduki oleh orang Jepang sekitar tahun 1942. Penyebaran agama kristen pertama kali di Kota Jayapura dimulai dari pulau debi oleh seorang penginjil dari Maluku yang bernama pendeta laurents tanamal pada tahun 1923.

Suku tobati hanya mengenal dan menggunakan satu bahasa yaitu bahasa Indonesia yang digunakan pada acara pertemuan-pertemuan resmi dan untuk berkomunikasi dengan kelompok luar yang bukan suku mereka. Mereka menggunakan bahasa pidgin english untuk berkomunikasi dengan saudara-saudara mereka yang berada di Negara Papua New Guinea.

Orang tobati termasuk dalam rumpun suku melanesia, berkulit hitam dan berambut keriting, tinggi badan pria berkisar 165 - 175 cm. Orang-orang tobati yang tinggal di kawasan tersebut bermata pencaharian sebagai nelayan.

4.7.6. Struktur sosial

Penduduk kampung tobati dan Injros terdiri dari beberapa keret yang mengikuti garis keturunan ayah (Patrilineal). Menurut struktur adat, pimpinan masyarakat kedua kampung ondoafi besar adalah dari keret hamadi, namun dalam masing-masing keret terdapat pimpinan keret yang disebut kepala suku. Selain kepala suku besar atau ondoafi besar, dalam kedua kampung ini masing-masing terdapat keret utama. Keret utama di kampung tobati adalah hamadi dan ireuw. Keret lain yang dianggap golongan bawah antara lain haai, dawir, asor, hababuk, injama, afaar, mano, dan itar. Sedangkan di kampung injros dua keret utama adalah sanyi dan drunyi. Sebagai lapisan bawah terdapat sembilan keret, yakni meraujwe, semra, hanasbei, iwo, haai, samai, hamadi, hababuk dan itar.

(16)

Terdapat pembagian peran antara keret utama maupun keret bawah menurut kedudukannya. Keret hamadi sebagai Ondoafi Besar berperan mengawasi, mengatur dan memutuskan segala hal yang berhubungan dengan kepentingan bersama masyarakat kedua kampung. Keret Itar adalah kepala suku bagian perburuan babi maksudnya dialah yang berhak mengatur perburuan babi hutan, atau membeli babi peliharaan kerabatnya untuk keperluan suatu pesta adat. Drunyi adalah kepala suku Taring, yakni berhak meyimpan dan mengatur alat-alat penangkapan tradisional yang dibutuhkan untuk menangkap ikan.

4.7.7 Pola-pola pengalihan hak atas penguasaan lahan

Teluk Youtefa yang letaknya relative berdekatan dengan Kota Jayapura mempunyai beberapa permasalahan dan harus mendapat perhatian khusus dalam hal pengelolaan serta pengamanan kawasan tersebut demi kepentingan konservasi. Salah satu permasalahan yang terjadi dalam Teluk Youtefa adalah pemanfaatan lahan/jual beli lahan.

Selain keperluan lahan untuk berkebun dan pemukiman, banyak juga permintaan pemilikan tanah oleh kelompok masyarakat, sehingga pihak masyarakat pemilik tanah menjualnya pada pihak ketiga. Hal ini terjadi seiring dengan dibukanya ruas jalan entrop (kelapa dua) sehingga memberi peluang kepada masyarakat untuk berusaha memiliki tanah di sepanjang jalan tersebut. 4.7.8. Pola konsumsi

Masyarakat Teluk Youtefa sebagai masyarakat nelayan lebih banyak mengkonsumsi ikan sebagai lauk utama. Setelah akses ke pasar cukup lancar, proporsi konsumsi semakin berkurang karena sebagian besar dari tangkapan dijual ke pasar. Selain itu, makanan pokok masyarakat juga mengalami banyak perubahan dari sagu ke nasi. Jika di masa lalu masih ada interaksi sosial yang baik antara sesama keluarga untuk menokok sagu, sekarang fungsi sosial seperti itu semakin jarang terjadi. Masyarakat youtefa sudah mengenal berbagai kebutuhan dapur seperti layaknya orang di kota. Mereka membeli semua keperluan dapur dengan uang hasil menjual hasil buruan, ternak atau ikan. Budaya saling berbagi hasil tangkapan yang berlebih juga masih ditemukan di kampung youtefa.

(17)

4.7.9.1. Tingkat produksi berdasarkan alat tangkap

Setiap alat tangkap memiliki produktifitas yang berbeda dimana kelompok alat tangkap jaring (pukat pantai, jaring angkat) mempunyai produktivitas yang tinggi. Alat tangkap pancing dan alat tangkap lain memiliki produktifitas sedang, kemudian penangkapan hasil laut tanpa alat atau memungut memiliki produktivitas yang rendah. Produktivitas alat tangkap ini juga dipengaruhi oleh musim penangkapan ikan atau biota laut lainnya.

Hasil tangkapan nelayan pada musim ikan normal dengan alat tangkap jaring dapat mencapai 20 – 30 ekor atau 3 – 4,5 kg/trip. Puncak musim ikan hasil tangkapan dapat berkisar dari 1,5 – 2 termos (1 termos dapat berisi 200 ekor ikan ukuran sedang) atau sekitar 45 - 60 kg untuk ikan kembung, belanak dan ikan layur.

Hasil tangkapan cumi-cumi, biasanya berkisar dari 50-60 ekor/trip (10-20 kg/trip) pada musim terang dan 10 ekor/trip (1,6-2 kg/trip) pada musim gelap. Pukat pantai (masyarakat menyebutnya jaring dampar) dalam semalam dapat menghasilkan 60 keranjang ikan hasil tangkapan. Bagan perahu ataupun bagan rakit dengan bantuan lampu petromaks atau lampu neon dapat menangkap ikan 5-50 coolbox atau 25 – 25-50 kg/trip. Satu coolbox dapat mencapai 100 – 200 ekor ikan ukuran kecil atau bila masyarakat menjualnya bernilai Rp 300.000,-/cool box.

Alat tangkap pancing berupa pancing tenda maupun pancing dasar serta alat tangkap lain (kelawai, tombak dan lain-lain) biasanya memiliki hasil tangkapan yang tidak terlalu banyak. Pada keadaan normal hasil tangkapan alat pancing tidak sebanyak hasil tangkapan alat tangkap jaring meskipun alat tangkap pancing telah dimodifikasi dengan memberi kail yang banyak.

4.7.9.2. Tingkat produksi per komoditi

Hasil tangkapan setiap jenis komoditas bervariasi antar kampung. Hasil tangkapan tersebut merupakan rata-rata hasil tangkapan nelayan per orang atau per kepala keluarga dengan variasi alat tangkap. Rata-rata waktu operasi penangkapan 4 hari dalam seminggu atau 16 hari dalam sebulan. Hasil tangkapan

(18)

tertinggi berasal dari komoditas ikan, disusul kerang-kerangan, cumi-cumi dan teripang seperti disajikan pada Tabel 15

Tabel 15. Tingkat produksi per komoditi per kampung Nama

Kampung

Jenis, produksi (kg/bln), dan rata-rata Cumi-cumi Rata-rata Ikan segar* Rata-rata Kerang** Rata-rata Teripang Rata-rata Abepantai --- 50-100 75 --- -- 9-10 9,5 Tobati 20-100 60 504 35-400 217,5 8-9 8,5 Enggros 24-120 82 50-100 75 48-480 204 16-18 264 Nafri --- --- 45 45 --- --- 4-6 5

Sumber : Kota Jayapura dalam angka 2010

Keterangan: * Ikan campuran; ** termasuk cangkang kerang

Tabel 15 di atas memperlihatkan bahwa tangkapan ikan segar bervariasi antar kampung. Hasil tangkapan ikan tertinggi dihasilkan oleh nelayan kampung enggros dan abe pantai, sedangkan hasil tangkapan ikan terendah berasal dari nelayan kampung tobati dan nafri. Nelayan tobati, enggros dan abe pantai dapat menangkap ikan dalam kisaran 3 – 60 kg/trip dalam musim biasa dan musim puncak ikan, sedangkan nelayan di kampung nafri hasil tangkapannya di bawah produksi tersebut

Hasil tangkapan cumi-cumi terbanyak di kawasan teluk dihasilkan oleh nelayan di kampung tobati dan enggros. Nelayan kampung enggros pada musim bulan terang dapat menangkap 50 – 60 ekor/trip atau 10 kg/trip dan saat musim gelap hanya dapat menangkap cumi sebanyak 10 ekor/trip atau 2 kg/trip (diperkirakan setiap ekor cumi memiliki berat 200 gr).

Hasil tangkapan teripang bervariasi dari 5 kg/bulan di kampung nafri sampai tertinggi 17 kg/bulan di kampung enggros. Nelayan bila beruntung dapat menangkap sampai 5 ember berukuran sekitar 30 liter dan sebaliknya hanya dapat 1 sampai 2 ember. Hasil tangkapan kerang terbanyak berasal dari kampung enggros disusul nelayan kampung tobati dengan produksi masing-masing 217,5 kg/bulan dan 264 kg/bulan.

Perbedaan hasil tangkapan terutama disebabkan oleh penggunaan jenis alat tangkap dan orientasi penangkapan nelayan setiap kampung. Hasil tangkapan didominasi oleh komoditas ikan karena orientasi penangkapan lebih ditujukan pada berbagai jenis ikan. Hal ini didukung oleh banyaknya alat tangkap jaring dan

(19)

armada penangkapan yang dominan digunakan untuk menangkap ikan. Sementara komoditas lain merupakan prioritas berikutnya.

Perbedaan hasil tangkapan juga disebabkan oleh perbedaan kondisi kampung. Kampung enggros mengungguli semua kampung dalam produksi semua jenis komoditas karena letak kampungnya berada di tengah-tengah perairan Teluk Youtefa. Selain itu warga kampung enggros memiliki sedikit pilihan dalam menentukan jenis pekerjaan tambahan lain sehingga pada umumnya masyarakat di kampung ini lebih fokus pada pekerjaan sebagai nelayan. Sebaliknya nelayan di kampung nafri, ada banyak pilihan pekerjaan yang mempengaruhi motivasi melaut mereka.

4.7.9.3. Pengolahan

Usaha pengolahan ikan di kawasan Teluk Youtefa dilakukan secara sederhana dan skala kecil. Jenis pengolahan yang dilakukan umumnya dalam bentuk pengeringan dan pengasapan. Jenis hasil perikanan yang pengolahannya dilakukan melalui pengeringan umumnya adalah teripang yakni dengan cara menjemur di bawah terik matahari. Pengolahan dengan cara pengasapan dilakukan terhadap komoditi kerang (bia).

4.7.9.4. Pemasaran

Pemasaran hasil perikanan yang dilakukan oleh pelaku perikanan dilakukan di kawasan Teluk Youtefa. Hasil tangkapan dari kampung tobati, enggros, dan pantai abe dipasarkan di pasar hamadi dan pasar youtefa. Hasil tangkapan dari nafri dipasarkan di pasar youtefa. Harga jual kerang olahan Rp 3.000/tusuk (1 tusuk berisi 15 kerang). Kerang segar berharga Rp 5.000- 7.500/kg, cumi-cumi segar Rp 30.000 per tumpuk (satu tumpuk 5 ekor cumi-cumi berukuran sedang) atau Rp 5.000-10.000/ekor cumi ukuran besar. Harga jual ikan (samandar) satu tumpuk (5 ekor ukuran besar) Rp 10.000 sedangkan 5 ekor ikan berukuran sedang berharga Rp 7.000/tumpuk. Harga Ikan belanak ukuran besar (seukuran telapak tangan) adalah sekitar Rp 15.000/ekor.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :