Makalah
ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL PATOLOGI NY. R UMUR 26 TAHUN G1P0A0 UK 33+5 MINGGU
DENGAN ANEMIA RINGAN DI PUSKESMAS SAMIGALUH 1
Disusun Oleh:
1. Cori Yolanda Sari (120012) 2. Tria Marliantina (120118)
3. Vinsensia Tora(120071) 4. Isnaini Muslimatun (120120) 5. Indah Widi Astutik (120257)
AKADEMI KEBIDANAN YOGYAKARTA YOGYAKARTA
2013/2014
LEMBAR PERSETUJUAN
ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL PATOLOGI NY. R UMUR 26 TAHUN G1P0A0 UK 33+5 MINGGU
DENGAN ANEMIA RINGAN DI PUSKESMAS SAMIGALUH 1
Telah memenuhi syarat dan disetujui untuk diseminarkan Makalah Asuhan Kebidanan di Akademi Kebidanan Yogyakarta
Tanggal 24 Juni 2014
Dipersiapkan dan disusun oleh: 1. Cori Yolanda Sari (120012) 2. Tria Marliantina (120118)
3. Vinsensia Tora(120071) 4. Isnaini Muslimatun (120120) 5. Indah Widi Astutik (120257)
Mengetahui,
Pembimbing Pendidikan Pembimbing Lapangan
Wiwin Hendriyawati, SST. M. Kes Siwi Trimulyani, Amd. Keb
LEMBAR PENGESAHAN
Makalah
DENGAN ANEMIA RINGAN DI PUSKESMAS SAMIGALUH 1
Telah diseminarkan dan dipertahankan di depan penguji Pada tanggal 24 Juni 2014
Dipersiapkan dan disusun oleh: 1. Cori Yolanda Sari (120012) 2. Tria Marliantina (120118)
3. Vinsensia Tora(120071) 4. Isnaini Muslimatun (120120) 5. Indah Widi Astutik (120257)
Mengetahui,
Penguji I : Christina Pernatun .K. S.SiT. MPH ...
Penguji II : Diyah Paramita, SST. M. Kes ...
Pembimbing Pendidikan : Wiwin Hendriyawati, SST. M. Kes ...
Pembimbing Lapangan : Siwi Trimulyani, Amd. Keb ...
KATA PENGANTAR
Terimakasih disampaikan kepada:
1. Drs. H. Hendri Soekirdi, M.Kes selaku Direktur Akademi Kebidanan Yogyakarta
2. Ibu Wiwin Hindriyawati, SST. M. Kes selaku Pembimbing Pendidikan dalam penyusunan makalah ini.
3. Ibu Siwi Trimulyani, Amd. Keb, selaku Pembimbing Lapangan dalam penyusunan makalah ini.
Tentu banyak kekurangan yang masih luput dari pencermatan kami, semata-mata kekurangmampuan kami dalam hal bahasa ataupun penguasaan materi. Kritik, masukan, dan saran yang membangun sangat diharapkan oleh kami demi perbaikan makalah ini.
Demikian makalah ini kami susun semoga bermanfaat bagi semua.
Yogyakarta, Juni 2014
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL... i
LEMBAR PERSETUJUAN... ii
LEMBAR PENGESAHAN... iii
KATA PENGANTAR... iv
DAFTAR ISI... v
BAB I PENDAHULUAN... 6
B. Tujuan... 8
C. Manfaat... 8
BAB II TINJAUAN TEORI... 10
A. Anemia... 10
B. Tinjauan Asuhan Kebidana... 19
BAB III TINJAUAN KASUS... 23
BAB IV PEMBAHASAN... 33
BAB V PENUTUP... 37
A. Kesimpulan... 37
B. Saran... 37
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pelayanan kesehatan maternal merupakan salah satu unsur penentu status kesehatan (Saifuddin, 2009). Dalam literatur demografi, Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan indikator yang menunjukkan banyaknya kematian perempuan pada saat hamil atau selama 42 hari sejak terminasi kehamilan tanpa memandang lama dan tempat persalinan yang disebabkan karena kehamilannya atau pengelolaannya, dan bukan karena sebab-sebab lain, per 100.000 kelahiran hidup (BKKBN, 2011).
Hasil SDKI terbaru (selanjutnya disebut SDKI-2012)
menyebutkan, sepanjang periode 2007-2012 kasus kematian ibu melonjak cukup tajam. Diketahui, pada 2012, AKI mencapai 359 per 100 ribu penduduk atau meningkat sekitar 57% bila dibandingkan dengan kondisi pada 2007, yang hanya sebesar 228 per 100 ribu penduduk.
Berdasarkan laporan rutin Pemantauan Wilayah Setempat (PWS) tahun 2007, penyebab langsung kematian ibu dari 228 per 100.000 yaitu perdarahan sekitar 84 kasus (39%), eklampsia sekitar 49 kasus (20%), infeksi 21 kasus (7%) dan lain-lain 71 kasus (33%) per 100.000 kelahiran hidup (Depkes, 2008).
Selain itu, keadaan ibu sejak pra-hamil dapat berpengaruh terhadap kehamilannya. Penyebab tak langsung kematian ibu ini antara lain adalah anemia (Saifuddin, 2009).
Anemia dalam kehamilan ialah kondisi ibu dengan kadar
hemoglobin di bawah 11gr% pada trimester 1 dan 3 atau kadar <10,5gr% pada trimester 2. Nilai batas tersebut dan perbedaannya dengan kondisi wanita tidak hamil terjadi karena hemodilusi, terutama pada trimester 2 (Prawiroharjo, 2010).
berat yang sudah tentu akan mempengaruhi tumbuh kembang janin dalam rahim.
Angka kejadian anemia di Indonesia semakin tinggi dikarenakan penanganan anemia dilakukan ketika ibu hamil bukan dimulai sebelum kehamilan. Berdasarkan profil kesehatan tahun 2010 didapatkan data bahwa cakupan pelayanan K4 meningkat dari 80,26% (tahun 2007) menjadi 86,04% (tahun 2008) (Depkes, 2008).
Di Yogyakarta sendiri, untuk situasi gizi ibu hamil, prevalensi ibu hamil anemia masih pada kisaran 15% sampai 39% di 4 Kabupaten/Kota, kecuali di Kabupaten Sleman anamia bumil sudah di bawah 15 % (Profil Kesehatan Propinsi DIY, 2012).
Di Kecamatan Samigaluh, angka kejadian ibu dengan anemia pada tahun 2013 yaitu 9,09% atau 9 orang dari 99 ibu hamil.
Tingginya anemia yang menimpa ibu hamil memberikan dampak negative terhadap janin yang di kandung dari ibu dalam kehamilan, persalinan maupun nifas yang di antaranya akan lahir janin dengan berat badan lahir rendah (BBLR), partus prematur, abortus, pendarahan post partum, partus lama dan syok. Hal ini tersebut berkaitan dengan banyak faktor antara lain; status gizi, umur, pendidikan, dan pekerjaan (Sarwono Prawirohardjo, 2011).
Dampak kekurangan zat besi pada wanita hamil dapat diamati dari besarnya angka kesakitan dan kematian maternal, peningkatan angka kesakitan dan kematian janin, serta peningkatan resiko terjadinya berat badan lahir rendah. Penyebab utama kematian maternal antara lain adalah perdarahan pasca partum (disamping eklampsia, dan penyakit infeksi) dan plasenta previa yang semuanya berangkat dari pada anemia difesiensi (Arisman, 2004).
Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, maka penulis tertarik untuk menulis makalah yang berjudul “Asuhan Kebidanan Pada Ibu Hamil Patologi Ny. R Umur 26 Tahun G1P0A0 Uk 33+5 Minggu Dengan Anemia
Ringan Di Puskesmas Samigaluh 1” B. Tujuan
1. Umum
Memahami dan memberikan penatalaksanaan pada pasien dengan kasus anemia menggunakan Management Varney secara komprehensif. 2. Khusus
a. Mengetahui pengertian, etiologi, dan gejala dari anemia b. Mengetahui penatalaksanaan anemia pada ibu hamil sesuai 7
langkah Varney, yaitu: 1. Pengkajian data 2. Interpretasi data 3. Diagnosa potensial
4. Antisipasi tindakan segera 5. Perncanaan
6. Pelaksanaan 7. Evaluasi C. Manfaat
1. Bagi Puskesmas Samigaluh 1 Kulonprogo
Menambah suasana belajar dengan melakukan asuhan secara langsung pada pesien dengan tetap memperhatikan Standart Operasional
Prosedur.
2. Bagi Institusi Akademi Kebidanan Yogyakarta
Untuk menambah referensi bacaan mahasiswa dan evaluasi pembelajaran pratikum di lapangan
3. Bagi Mahasiswa
a. Meningkatkan kemampuan untuk membandingkan teori dengan praktik lapangan
b. Dapat mengetahui asuhan yang dilakukan pada pasien dengan anemia
BAB II TINJAUAN TEORI A. Anemia
1. Pengertian
Anemia dalam kehamilan ialah kondisi ibu dengan kadar
hemoglobin di bawah 11gr% pada trimester 1 dan 3 atau kadar <10,5gr% pada trimester 2. Nilai batas tersebut dan perbedaannya dengan kondisi wanita tidak hamil terjadi karena hemodilusi, terutama pada trimester 2 (Prawiroharjo, 2010).
dapat mempengaruhi timbulnya defisiensi tersebut. Menurut kemampuan darah untuk mengikat oksigen yang dapat disebabkan oleh menurunnya sel darah merah, berkurangnya konsentrasi hemoglobin atau kombinasi keduanya dalam sirkulasi darah dengan kadar hemoglobin di bawah 11gr % pada trimester I dan III atau kadar hemoglobin kurang dari 10,5gr% pada trimester II (Saifuddin, 2001).
Menurut Varney (2000) anemia yang secara umum dapat diterima adalah turunnya kadar hemoglobin kurang dari 12,0gr/l00ml darah pada wanita yang tidak hamil. Anemia yang terkait dengan kehamilan adalah anemia defisiensi besi hampir 95% (Varney, 2000). 2. Etiologi
Menurut Marmi (2011) anemia umumnya disebabkan oleh: a. Kurang gizi (malnutrisi),
b. Kurang zat besi dalam diet, c. Malabsorbsi
d. Kehilangan darah yang banyak; pesalinan yang lalu, haid, dll
e. Penyakit-penyakit kronis; TBC, paru-paru, cacing usus, malaria, dll. Dalam kehamilan jumlah darah bertambah (hiperemia /
hipervolumia) karena itu terjadi pengencaran darah karena sel-sel darah tidak sebanding pertambahannya dengan plasma darah. Perbandingan pertambahan tersebut adalah:
1. Plasma darah bertambah : 30% 2. Sel-sel darah bertambah : 18% 3. Hemoglobin bertambah : 19%
Secara fisiologis, pengenceran darah ini adalah untuk membantu meringankan kerja jantung (Marmi, 2011).
Anemia pada kehamilan yang disebabkan kekurangan zat besi mencapai kurang lebih 95%. Terjadinya peningkatan volume darah menyebabkan hemodilusi atau pengenceran darah sehingga kadar Hb mengalami penurunan dan menyebabkan anemia (Varney, 2007).
Hemodilusi dianggap sebagai penyesuaian diri secara fisiologis dalam kehamilan untuk meringankan beban jantung yang harus bekerja lebih berat dalam massa hamil (Hudono, 2007).
Perlu diingat ada beberapa kondisi yang menyebabkan defisiensi kalori-besi, misalnya infeksi kronik, penyakit hati dan thalasemia (Saifudin, 2009).
Menurut Varney (2007), terdapat sejumlah faktor yang menjadi penyebab anemia seperti status ekonomi mempunyai efek, status ekonomi yang lebih rendah menimbulkan angka nutrisi buruk yang lebih tinggi dan sehingga mengakibatkan angka anemia defisiensi zat besi lebih tinggi. Ras juga memainkan peranan sebagai contoh rata-rata orang kulit hitam kadar hemoglobinnya lebih rendah daripada orang kulit putih tanpa
memperhatikan tingkat sosio-ekonomi.
3. Patofisiologi
Selama kehamilan terjadi peningkatan volume darah
(hypervolemia). Hypervolemia merupakan hasil dari peningkatan volume plasma dan eritrosit (sel darah merah) yang berada dalam tubuh tetapi peningkatan ini tidak seimbang yaitu volume plasma peningkatannya jauh lebih besar sehingga memberi efek yaitu konsentrasi hemoglobin
berkurang dari 12 g/100 ml (Sarwono, 2009).
Pengenceran darah (hemodilusi) pada ibu hamil sering terjadi dengan peningkatan volume plasma 30%-40%, peningkatan sel darah 18%-30% dan hemoglobin 19%. Secara fisiologis hemodilusi untuk membantu meringankan kerja jantung.
Hemodilusi (pengenceran darah) terjadi sejak kehamilan 10 minggu dan mencapai puncaknya pada kehamilan 32-36 minggu. Bila hemoglobin ibu sebelum hamil berkisar 11 gr% maka dengan terjadinya hemodilusi akan mengakibatkan anemia hamil fisiologis dan Hb ibu akan menjadi 9,5-10 gr%.
4. Kategori Anemia
Berikut ini kategori tingkat keparahan pada anemia (Soebroto, 2010) :
Kategori tingkat keparahan pada anemia (Waryana, 2010) yang bersumber dari WHO adalah sebagai berikut:
a. Kadar Hb 11 gr% tidak anemia b. Kadar Hb 9-10 gr % anemia ringan c. Kadar Hb 7-8 gr% anemia sedang d. Kadar Hb < 7 gr% anemia berat
Kategori tingkat keparahan anemia (Nugraheny E, 2009) adalah sebagai berikut:
a. Kadar Hb < 10 gr% disebut anemia ringan b. Kadar Hb 7-8 gr% disebut anemia sedang c. Kadar Hb < 6gr% disebut anemia berat
d. Kadar Hb normal pada ibu nifas adalah 11-12 gr % 5. Klasifikasi Anemia dalam Kehamilan
Klasifikasi anemia dalam kehamilan menurut Winkjosastro (2005), yaitu:
a. Anemia defisiensi besi
Anemia dalam kehamilan yang paling sering dijumpai ialah anemia akibat kekurangan zat besi, kekurangan ini dapat disebabkan karena kurang masuknya unsur besi dengan makanan karena gangguan reabsorpsi, gangguan penggunaan atau karena terlampau banyaknya besi keluar dari badan, misalnya pada perdarahan.
b. Anemia megaloblastik
Anemia megaloblastik dalam kehamilan disebabkan karena defisiensi asam folik (pteroyglutamic acid), jarang sekali karena defisisensi vitamin B12.
c. Anemia hypoblastik
Anemia pada wanita hamil yang disebabkan karena sumsum tulang kurang mampu membuat sel-sel darah baru, dinamakan anemia hipoblastik dalam kehamilan.
d. Anemia hemolitik
Disebabkan karena penghancuran sel darah merah berlangsung lebih cepat dari pembuatannya, wanita dengan anemia hemolitik sukar menjadi hamil, apabila ia hamil, maka anemia biasanya menjadi lebih berat.
1. Anemia Megaloblastik
Anemia megaloblastik biasanya berbentuk makrositik atau pernisiosa. Penyebabnya adalah karena kekurangan asam folik, jarang sekali akibat kekurangan vitamin B12. Biasanya karena
malnutrisi dan infeksi yang kronik. 2. Anemia Hipoplasti
Anemia hipoplasti disebabkan oleh hipofungsi sumsum tulang membentuk sel-sel darah merah baru.
3. Anemia Hemolitik
Anemia hemolitik disebabkan penghancuran/pemecahan sel darah merah yang lebih cepat dari pembuatannya.
6. Tanda dan Gejala
Gejala yang seringkali muncul pada penderita anemia diantaranya (Soebroto, 2010):
a. Lemah, letih, lesu, mudah lelah, dan lunglai. b. Wajah tampak pucat.
c. Mata berkunang-kunang. d. Nafsu makan berkurang.
e. Sulit berkonsentrasi dan mudah lupa. f. Sering sakit.
Keluhan lemah, pucat, mudah pingsan sementar tekanan darah masih dalam batas normal, perlu dicurigai anemia defisiensi. Secara klinik dapat dilihat tubuh yang malnutrisi atau pucat (Saifuddin, 2009).
Salah satu dari tanda yang paling sering dikaitkan dengan anemia adalah pucat. Keadaan ini umumnya diakibatkan dari berkurangnya volume darah, berkurangnya hemoglobin, dan vasokonstriksi untuk memaksimalkan pengiriman O2 ke organ-organ vital. Warna kulit bukan
pada lidah dan membran mukosa mulut), gejala-gejala umumnya disebabkan oleh keadaan defisiensi, seperti defisiensi zat besi (Price, 2005).
Menurut Varney (2002) berkurangnya konsentrasi hemoglobin selama masa kehamilan mengakibatkan suplay oksigen ke seluruh jaringan tubuh berkurang sehingga menimbulkan tanda dan gejala anemia secara umum, sebagai berikut: lemah, mengantuk, pusing, lelah, malaise, sakit kepala, nafsu makan turun, mual dan muntah, konsentrasi hilang dan nafas pendek (pada anemia berat).
7. Diagnosis Anemia dalam Kehamilan
Dalam mendiagnosis anemia tidak hanya berdasarkan gejala-gejala yang dikeluhkan pasien, namun juga dari pemeriksaan fisik yang
dilakukan oleh petugas kesehatan. Petugas kesehatan memerlukan tes laboratorium, uji laboratorium yang paling baik untuk mendiagnosis anemia meliputi pengukuran hematokrit atau kadar hemoglobin (Hb). Anemia dapat didiagnosis dengan pasti kalau kadar Hb lebih rendah dari batas normal, berdasarkan kelompok umur dan jenis kelamin (Soebroto, 2010).
Diagnosa anemia dalam kehamilan dapat ditegakkan dengan: a. Anamnese
Pada anamnese sering didapatkan keluhan cepat lelah, sering pusing, mata berkunang - kunang, nafsu makan berkurang dan keluhan muntah - muntah lebih hebat pada kehamian muda (Manuaba, 2009).
b. Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisik diperoleh lemah, kulit pucat, mudah pingsan, sementara tensi masih dalam batas normal, pucat pada membran mukosa dan kunjungtiva oleh karena kurangnya sel darah merah pada pembuluh darah kapiler dan pucat pada kuku dan jari tangan
(Saifuddin, 2002). c. Pemeriksaan darah
dapat dipastikan dengan pemeriksaan kadar Hb (Safiuddin, 2002). 8. Pengaruh Anemia dalam Kehamilan, Persalinan, dan Nifas
Pengaruh anemia terhadap kehamilan, persalinan, dan nifas, yaitu: - Keguguran
- Partus prematurus
- Inersia uteri, partus lama, ibu lemah - Atonia uteri dan menyebabkan perdarahan - Syok
- Afibrigenemia dan hipofibrinogenemia - Infeksi intrapartum dan post partum,
- Bila terjadi anemia gravis (Hb di bawah 4gr%) terjadi payah jantung yang bukan saja menyulitkan kehamilan dan persalinan, bahkan bisa fatal (Marmi, 2011).
Anemia juga mempengaruhi hasil konsepsi. Hasil konsepi (janin, plasenta, darah) membutuhkan zat besi dalam jumlah besar untuk
pembuatan butir-butir darah merah. Jumlah ini merupakan 1/10 dari seluruh besi dalam tubuh. Terjadinya anemia dalam kehamilan bergantung dari jumlah persediaan besi dalam hati, limfa, dan sum-sum tulang.
Selama masih mempunyai cukup persediaan besi, Hb tidak turun dan bila persediaan ini habis, Hb akan turun. Ini terjadi pada bulan ke5-6 kehamilan, pada waktu janin membutuhkan banyak zat besi. Bila terjadi anemia, pengaruhnya terhadap hasil konsepsi adalah:
- Kematian mudigah (keguguran) - Kematian janin dalam kandungan - Kematian janin waktu lahir - Kematian perinatal tinggi - Prematuritas
- Dapat terjadi cacat bawaan
- Cadangan besi kurang (Marmi, 2011).
Pengaruh anemia terhadap kehamilan, persalinan, nifas dan janin menurut Manuaba (2009):
1. Pengaruh anemia dalam kehamilan a. Resiko terjadi abortus
b. Persalinan prematurus.
c. Hambatan tumbuh kembang janin dalam rahim. d. Mudah terjadi infeksi
e. Ancaman dekompensasi kordis (Hb<6gr%) f. Mengancam jiwa dengan kehidupan ibu. 2. Pengaruh anemia dalam persalinan
lama
b. Anemia dalam kehamilan dapat mengakibatkan atonia uteri atau inertia dalam semua kala persalinan dan terjadinya
perdarahan post partum.
c. Dalam persalinan dapat mengakibatkan kematian ibu. 3. Pengaruh anemia dalam nifas.
a. Pedarahan post partum karena atonia uteri dan involusio uteri b. Memudahkan infeksi puerperium
c. Pembentukan dan pengeluaran ASI berkurang 4. Pengaruh anemia terhadap janin:
a. Bayi berat lahir rendah b. Cacat bawaan
c. Intelegensia rendah oleh karena kekurangan oksigen dan nutrisi yang menghambat pertumbuhan janin.
d. Morbiditas dan mortalitas perinatal tinggi jika kadar Hb<6 gr%. 9. Pencegahan anemia dan penanganan anemia
a. Pencegahan anemia
Untuk menghindari terjadinya anemia sebaiknya ibu hamil
melakukan pemeriksaan sebelum hamil sehingga dapat diketahui data dasar kesehatan umum ibu tersebut, dalam pemeriksan kesehatan disertai pemeriksaan laboratorium termasuk pemeriksaan tinja sehingga diketahui adanya infeksi parasit (Manuaba, 2009).
Untuk daerah dengan frekuensi anemia kehamilan yang tinggi sebaiknya setiap wanita hamil diberi sulphas ferrosus atau glukonat ferrosus 1 tablet sehari. Selain itu, wanita dinasihati pula untuk mengkonsumsi lebih banyak protein, mineral dan vitamin. Makanan yang kaya zat besi antara lain kuning telur, ikan segar dan kering, hati, daging, kacang-kacangan dan sayuran hijau. Makanan yang kaya akan asam folat yaitu daun singkong, bayam, sawi ijo, sedangkan makanan yang mengandung vitamin C adalah jeruk, tomat, mangga, papaya dan lain-lain (Wiknjosastro, 2006,).
Menurut Waryana (2010) pencegahan anemia adalah sebagai berikut:
1. Istirahat yang cukup
susu.
3. Pada ibu hamil dengan rutin memeriksakan kehamilannya
minimal 4 kali selama hamil untuk mendapatkan Tablet Besi (Fe) dan vitamin yang lainnya pada petugas kesehatan, serta makan-makanan yang bergizi 3x1 hari, dengan porsi 2 kali lipat lebih banyak.
b. Penanganan pada anemia, yaitu sebagai berikut: a. Anemia ringan
Pada kehamilan dengan kadar Hb 9-10 gr% masih dianggap ringan sehingga hanya perlu diperlukan kombinasi 60 mg/hari zat besi dan 500 mg asam folat per oral sekali sehari (Arisman, 2004).
b. Anemia sedang
Pengobatan dapat di mulai dengan preparat besi feros 600-1000 mg/hari seperti sulfat ferosus atau glukonas ferosus (Wiknjosastro, 2005).
c. Anemia berat
Pemberian preparat parenteral yaitu dengan ferum dextran
sebanyak 1000 mg (20 ml) Intravena atau 2 x 10 ml intramuskuler - transfusi darah pada kehamilan lanjut dapat diberikan walaupun sangat jarang diberikan karena transfusi darah dapat berisiko bagi ibu dan janin (Wiknjosastro, 2005).
Pemberian preparat besi 60 mg dan asam folat 400 mg, 6 bulan selama hamil, dilanjutkan sampai 3 bulan setelah
melahirkan (Arisman, 2004).
Efek samping berupa gangguan perut pada pemberian zat besi oral menurunkan kepatuhan pemakaian secara massal, teryata rata-rata hanya 15 tablet yang dipakai oleh wanita hamil
(Saifuddin, 2009).
B. Tinjauan Asuhan Kebidanan 1. Manajemen Kebidanan
pemecahan masalah secara sistematis mulai dari pengkajian, analisis data, diagnosis kebidanan, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.
Manejemen kebidanan adalah suatu metode proses berpikir yang logis dan sistematis. Istilah manejemen kebidanan digunakan untuk memberikan bentuk khusus dari proses yang dilakukan oleh bidan di dalam suatu asuhan atau pelayanan kebidanan (DepKes, 2003)
Asuhan kebidanan dengan anemia ini merupakan manajemen kebidanan yang terdiri dari tujuh langkah yang dikembangkan oleh
Varney dan didokumentasikan dalam bentuk SOAP. 2. Langkah-langkah asuhan kebianan menurut Varney (1997)
Proses manajemen terdiri dari 7 (tujuh) langkah yang berurutan dimana setiap langkah disempurnakan secara periodik. Proses dimulai dengan pengumpulan data dasar yang berakhir dengan evaluasi. Ketujuh langkah tersebut membentuk suatu kerangka lengkap yang dapat
diaplikasikan dalam situasi apapun. Akan tetapi, setiap langkah dapat diuraikan lagi menjadi langkah-langkah yang lebih rinci dan ini bisa berubah sesuai dengan kebutuhan klien.
Ketujuh langkah tersebut adalah sebagai berikut: a. Langkah I (pertama) : Pengumpulan Data Dasar
Pada langkah pertama ini dilakukan pengkajian dengan mengumpulkan semua data yang diperlukan untuk mengevaluasi keadaan klien secara lengkap yaitu :
1. Riwayat kesehatan
2. Pemeriksaan fisik sesuai dengan kebutuhannya 3. Meninjau catatan terbaru atau catatan sebelumnya
4. Meninjau data laboratorium dan membandingkannya dengan hasil studi
b. Langkah II (kedua) : Interpretasi Data Dasar
sudah dikumpulkan di Interpretasikan sehingga ditemukan masalah atau diagnosa yang spesifik.
c. Langkah III (ketiga) : Mengidentifikasi Diagnosa atau Masalah Potensial
Pada langkah ini kita mengidentifikasi masalah atau diagnose potensial lain berdasarkan rangkaian masalah dan diagnosa yang sudah diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila
memungkinkan dilakukan pencegahan, sambil mengamati klien bidan diharapkan dapat bersiap-siap bila diagnose/masalah potensial ini benar-benar terjadi.
d. Langkah IV (empat) : Identifikasi Kebutuhan yang Memerlukan Penanganan Segera
Mengidentifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter dan/atau untuk dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan yang lain sesuai dengan kondisi klien.
e. Langkah V (kelima) : Merencanakan Asuhan yang menyeluruh Pada langkah ini direncanakan asuhan yang menyeluruh, ditentukan oleh langkah-langkah sebelumnya. Langkah ini
merupakan kelanjutan manajemen terhadap masalah atau diagnosa yang telah diidentifikasi atau diantisipasi, pada langkah ini
informasi/data dasar yang tidak lengkap dapat dilengkapi. f. Langkah VI (keenam) : Melaksanakan Perencanaan
berkolaborasi dengan dokter, untuk menangani klien yang mengalami komplikasi.
g. Langkah VII (terakhir) : Evaluasi
Pada langkah ke VII ini dilakukan evaluasi keefektifan dari asuhan yang sudah diberikan meliputi pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakah benar-benar telah terpenuhi sesuai dengan
BAB III TINJAUAN KASUS
ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL PATOLOGI NY. R UMUR 26 TAHUN G1P0A0 DENGAN ANEMIA RINGAN
DI PUSKESMAS SAMIGALUH 1
Nomer Register :
Tanggal masuk / jam : 2 Juni 2014 / jam 08.50 WIB
I. PENGKAJIAN 2 Juni 2014 / jam 08.50 WIB A. Data Subyektif
1. Identitas
a. Identitas pasien
Nama : Ny R
Umur : 26 tahun Agama : Islam
Suku/Bangsa : Jawa /Indonesia Pendidikan : SMA
Pekerjaan : IRT
Alamat : Sendangrejo, Samigaluh, Kulon Progo b. Identitas Penanggungjawab/Suami
Nama : Tn. W
Umur : 30 tahun Agama : Islam
Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia Pendidikan : S1
Pekerjaan : Guru
2. Anamnesa
a. Alasan Datang ke klinik
Ibu mengatakan ingin memeriksakan kehamilannya
b. Keluhan utama
Ibu mengatakan merasa sering mengantuk, cepat lelah dan pusing
c. Riwayat Menstruasi
Menarche : 15 tahun
Haid : Siklus : 28 hari
Lama : 6 hari, Teratur Konsistensi : cair
Banyak : 2-3x ganti pembalut/ hari Fluor Albus : tidak ada
Dismenorea : tidak ada
HPHT : 8-10-2013
HPL : 15-7-2014
Umur Kehamilan : Oktober : 3 minggu 3 hari Nopember : 4 minggu 2 hari Desember : 4 minggu 3 hari Januari : 4 minggu 3 hari Februari : 4 minggu Maret : 4 minggu 3 hari April : 4 minggu 2 hari Mei : 4 minggu 3 hari Juni : 2 hari UK : 33 minggu 5 hari
d. Riwayat Perkawinan
Nikah : 1 kali
Umur : 25 tahun
e. Riwayat kesehatan
1. Riwayat kesehatan yang lalu
Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit menular seperti TBC, hepatitis, penyakit menurun seperti DM, asma, dan penyakit kronis seperti jantung.
2. Riwayat kesehatan sekarang
Ibu mengatakan saat ini sedang tidak menderita penyakit menular seperti TBC, hepatitis, penyakit menurun seperti DM, asma, dan penyakit kronis seperti jantung.
3. Riwayat kesehatan keluarga
Ibu mengatakan baik dari keluarga ibu maupun suami tidak ada yang menderita penyakit menular seperti TBC, hepatitis, penyakit menurun seperti DM, asma, ataupun penyakit kronis seperti jantung, serta tidak ada riwayat keturunan kembar.
h. Pola kebutuhan sehari-hari 1. Pola nutrisi
Frekuensi : 3x sehari
Macam : nasi, sayur, lauk, Keluhan : nafsu makan berkurang 2. Pola eliminasi
BAK
Frekuensi : 5-7x/hari Warna : kuning jernih Keluhan : tidak ada BAB
Frekuensi : 1x sehari Konsistensi : lembek Keluhan : tidak ada
3. Pola aktivitas pekerjaan
Ibu mengatakan aktivitasnya sehari-hari sebagai ibu ibu rumah tangga yaitu memasak, mencuci, menyapu, mengepel dan lain-lain.
4. Pola istirahat
5. Personal hygiene
Mandi : 2x sehari Ganti celana dalam : 2x sehari Gosok gigi : 2x sehari Ganti pakaian: 1-2 kali sehari 6. Pola seksual
Ibu mengatakan baik dan tidak ada keluhan i. Pola Psikososial, Spiritual, dan Ekonomi
1. Ibu dan keluarga senang atas kehamilannya 2. Ibu mengatakan tinggal bersama suami
3. Jika ada masalah dalam keluarga diselesaikan secara musyawarah 4. Ibu menunaikan ibadah sholat 5 waktu
5. Ibu mengatakan cemas dengan keadaannya B. Data Obyektif
1. Pemeriksaan Umum
Keadaan umum : baik
Kesadaran : composmentis
TTV :
TD : 110/80 mmHg N : 82x/m
R : 22x/m S : 36,20C
BB sebelum hamil : 45 kg BB sekarang : 51 kg
TB : 152 cm
Lila : 23 cm
2. Pemeriksaan Fisik
Kepala : bersih, tidak ada odem, tidak ada luka Muka : pucat, tidak ada odem
Mata : konjungtiva anemis, sklera putih Hidung : bersih, tidak ada polip
Telinga : bersih, tidak ada serumen
Mulut : tidak ada stomatitis, tidak ada gigi karies, bibir pucat Leher : tidak ada pembengkakan vena jugularis, kelenjar tiroid,
Payudara : payudara simetris, puting susu menonjol, tidak ada nyeri tekan
Ketiak : tidak ada pembengkakan
Abdomen : tidak ada nyeri tekan, tidak ada bekas operasi
Genetalia : tidak ada pembengkakan kelenjar bartolini tidak ada odem ataupun varises
Ekstremitas : tidak ada odem dan varises
Reflek patella : Kanan positif kiri positif Anus : tidak hemoroid
3. Status Obstetri
a. Inspeksi
Muka : pucat, tidak ada kloasma gravidarum
Payudara : simetris, puting susu menonjol, areola hiperpigmentasi Abdomen : ada linea nigra, tidak ada striae gravidarum, tidak ada
luka bekas operasi
Genetalia : tidak ada cairan abnormal, tidak ada varises dan odem
b. Palpasi
Payudara : tidak ada benjolan abnormal, colostrum belum keluar
Abdomen :
Bentuk : pembesaran abdomen sesuai dengan UK Bekas luka : tidak ada bekas luka operasi
TFU : 27 cm
Leopold I : teraba bulat, lunak, tidak melenting Kesimpulan : bokong
Leopold II : sebelah kiri teraba keras dan panjang, sebelah kanan teraba kecil-kecil janin
Kesimpulan : puki
Leopold III : teraba keras, bulat,melenting Kesimpulan : kepala
Kesimpulan : kepala belum masuk panggul TBJ : (27-12)x155 = 2325 gr
c. Auskultasi
DJJ : 143 kali/menit
4. Pemeriksan penunjang
Hb (2 Juni 2014) : 8,4 gr%
II. INTEPRETASI DATA 2 Juni 2014 / jam 09.00 WIB A. Diagnosa kebidanan
Ny.R umur 20 tahun G1P0A0 hamil 33 minggu 5 hari, janin tunggal,
hidup, intra uteri, puki, kepala belum masuk PAP/konvergen dengan anemia
Data dasar DS :
- Ibu mengatakan umurnya 20 tahun
- Ibu mengatakan ini kehamilannya yang pertama
- Ibu mengatakan gerakan janin dalam satu hari ini aktif sebanyak 8 kali
- Ibu mengatakan sering pusing lelah dan mudah mengantuk DO :
KU : baik
Kesadaran : composmentis BB/TB : 152cm / 51 kg
TTV : TD : 110/80mmHg, Nadi : 82x/menit, RR : 22x/menit, Suhu : 36, 20C
Muka : pucat
Mata : konjungtiva anemis Mulut : bibir pucat
Hb : 8,4gr%
B. Masalah
C. Kebutuhan
Memberikan support dan dukungan kepada ibu
III. DIAGNOSA POTENSIAL Hemodilusi
IV. ANTISIPASI TINDAKAN SEGERA Berikan terapi tablet Fe
V. PERENCANAAN 2 Juni 2014 / jam 09.05 WIB 1. Jelaskan kepada ibu hasil pemeriksaan
2. Jelaskan kepada ibu tentang keluhan ibu dan berikan dukungan 3. Jelaskan KIE tentang nutrisi untuk ibu hamil
4. Anjurkan ibu untuk istirahat cukup dan mengurangi aktifitas 5. Anjurkan ibu untuk rutin melakukan cek Hb
6. Berikan terapi vitamin sesuai advice bidan
7. Anjurkan ibu untuk kunjungan ulang 2 minggu lagi 8. Dokumentasi
VI. PELAKSANAAN
1. Menjelaskan kepada ibu tentang hasil
pemeriksaan bahwa saat ini ibu dalam keadaan kurang baik, karena kadar Hb dalam darah ibu rendah yaitu 8,4%, ibu mengalami anemia ringan sedangkan kondisi janin baik ditandai dengan DJJ 142x/menit. 2. Menjelaskan tentang keluhan ibu yaitu ibu mengeluh sering merasa
pusing, cepat lelah dan cepat mengantuk, hal ini merupakan gejala dari anemia atau kurang darah. Anemia bisa disebabkan karena asupan nutrisi ibu kurang terutama asupan zat besi. Anemia pada kehamilan bisa berlanjut sampai pada persalinan dan nifas dan dapat menyebabkan perdarahan, sehingga ibu harus tetap menjaga asupan nutrisi ibu dan ibu tidak perlu khawatir karena kondisi ibu bisa segera membaik.
3. Menjelaskan KIE tentang nutrisi untuk ibu hamil yaitu ibu harus
banyak mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung karbohidrat seperti nasi dan roti, selain itu ibu membutuhkan protein untuk
juga ibu membutuhkan tambahan vitamin dan mineral yang diperoleh dari sayuran, buah, dan susu. Untuk ibu hamil dengan anemia, ibu harus mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung zat besi seperti kacang-kacangan, hati ayam, sayuran hijau seperti kangkung, pepaya, dan bayam.
4. Menganjurkan ibu untuk istirahat cukup dan mengurangi aktifitasnya agar kondisinya segera membaik.
5. Menganjurkan ibu untuk rutin melakukan cek Hb yaitu 1 bulan lagi untuk mengetahui kondisi ibu apakah anemia atau tidak.
6. Memberikan terapi vitamin sesuai dengan advice bidan, yaitu : Fe 60 mg : XIV 1x1 tablet diminum dengan air putih Vit.C 100 mg : XIV 1x1 tablet diminum dengan air putih Kalk 500 mg : XIV 1x1 tablet diminum dengan air putih
Fe dan Vit. C diminum pada pagi hari dan malam hari, sedangkan Kalk diminum pada pagi hari.
7. Menganjurkan ibu untuk kunjungan ulang 2 minggu lagi yaitu pada tanggal 16 Juni 2014.
8. Melakukan dokumentasi. VII. EVALUASI
1. Ibu paham dengan kondisinya saat ini. 2. Ibu mengerti tentang keluhannya.
3. Ibu paham tentang nutrisi untuk ibu hamil. 4. Ibu bersedia untuk istirahat cukup.
5. Ibu bersedia untuk rutin cek Hb. 6. Terapi obat telah diberikan.
BAB IV PEMBAHASAN
Manejemen kebidanan adalah suatu metode proses berpikir yang logis dan sistematis. Istilah manejemen kebidanan digunakan untuk memberikan bentuk khusus dari proses yang dilakukan oleh bidan di dalam suatu asuhan atau pelayanan kebidanan (DepKes, 2003). Pengertian tersebut sejalan dengan manajemen asuhan kebidanan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di
Puskesmas Samigaluh I yang memberikan pelayanan dengan metode berfikir dan bertindak tepat secara logis tentang asuhan akan yang diberikan. Hal terlihat dari tindakan segera yang diberikan kepada pasien dengan anemia yaiyu pemberian tablet Fe dan rutin melakukan cek Hb.
Dalam menyajikan asuhan kebidan yang diberikan, penulis menyajikan dalam bentuk Varney, sesuai dengan teori Varney (1997) meliputi pengumpulan data dasar yang terdiri dari data subyektif dan obyektif; interpretasi data yang terdiri dari diagnose kebidanan, masalah serta kebutuhan; diagnosa potensial; antispasi masalah; perencanaan; pelaksanaan dan evaluasi.
dilakukan dengan anamnesa yaitu pasien mengeluh cepat lelah, pusing, mudah mengantuk, dan nafsu makan berkurang. Menurut Soebroto (2010) keluhan yang dialami oleh pasien ini termasuk dalam anemia.
Dari data obyektif sendiri didapatkan hasil yaitu muka pucat, konjungtiva anemis, bibir pucat, serta tekanan darah masih dalam batas normal. Ini
merupkan tanda dari anemia. Hal ini didukung oleh pendapat Price (2005) yang mengemukakan bahwa tanda yang paling sering dikaitkan dengan anemia adalah pucat. Keadaan ini umumnya diakibatkan dari berkurangnya volume darah, berkurangnya hemoglobin, dan vasokonstriksi untuk memaksimalkan pengiriman O2 ke organ-organ vital. Bantalan kuku, telapak tangan dan
membrane mukosa mulut serta konjungtiva merupakan indikator yang lebih baik untuk menilai pucat.
Pada pemeriksaan penunjang diperoleh kadar Hb Ny. R 8,4gr%. Pemeriksaan kadar Hb sangat membantu dalam penegakan diagnosa anemia. Pemeriksaan kadar Hb ini dilakukan pada saat trimester III. Hal ini sesuai pendapat Saifuddin (2002) bahwa pemeriksaan darah dilakukan minimal 2 kali selama kehamilan yaitu pada trimester I dan trimester III. Dengan melihat hasil anamnese dan pemeriksaan fisik maka diagnosa dapat dipastikan dengan pemeriksaan kadar Hb (Safiuddin, 2002).
Ny. R termasuk dalam kategori anemia ringan, ini didasarkan pada pendapat Soebroto (2010) yaitu jika kadar Hb dalam darah antara 10 gr% sampai 8 gr% maka disebaut dengan anemia ringan
Patofisiologi dari anemia ini akan menyebabkan hemodilusi (pengenceran darah), kemungkinan hemodilusi ini terjadi sampai pada Trimester III. Seperti yang dijelaskan oleh Sarwono (2009) yaitu hemodilusi (pengenceran darah) terjadi sejak kehamilan 10 minggu dan mencapai
puncaknya pada kehamilan 32-36 minggu. Bila hemoglobin ibu sebelum hamil berkisar 11 gr% maka dengan terjadinya hemodilusi akan mengakibatkan anemia hamil fisiologis dan Hb ibu akan menjadi 9,5-10 gr%.
menyebabkan terjadinya infeksi, persalinan prematurus. Saat persalinan, anemia juga akan mempengaruhi kekuatan ataupun menyebabkan atonia uteri. Pengaruh anemia dalam nifas yaitu perdarahan post partum, infeksi dan pengeluaran ASI berkurang. Dan pada janin akan menyebabkan BBLR, cacat bawaan, serta menghambat pertumbuhan janin (Manuaba, 2009).
Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan tersebut, Puskesmas Samigaluh 1 melakukan beberapa tindakan pada Ny. R. Menjelaskan KIE tentang nutrisi untuk ibu hamil terutama pada ibu hamil dengan anemia ibu harus banyak mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung karbohidrat, protein dan tambahan vitamin dan mineral. Untuk ibu hamil dengan anemia, ibu harus mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung zat besi seperti kacang-kacangan, hati ayam, sayuran hijau seperti kangkung, daun pepaya, dan bayam, setra menganjurkan ibu untuk istirahat cukup dan mengurangi
aktifitasnya. Seperti yang dijelaskan oleh Waryana (2010) bahwa Makan-makanan yang bergizi dan banyak mengandung Fe, misalnya daun pepaya, kangkung, daging sapi, hati ayam, dan susu.
Perencanaan lain yaitu menganjurkan ibu untuk rutin melakukan cek Hb untuk mengetahui kondisinya. Pendapat Saifuddin (2002) pemeriksaan kadar Hb dilakukan minimal 2 kali selama kehamilan yaitu pada trimester I dan trimester III. Di puskesmas Samigaluh, pemeriksaan Hb dilakukan pada Trimester I dan III, namun pada ibu hamil dengan anemia pemeriksaan ini dilakukan secara rutin agar antisipasi bisa dilakukan segara.
Selain itu, Ny. R juga diberikan terapi obat yaitu Fe 60 mg (XIV) 1x1 tablet diminum dengan air putih, Vit.C 100 mg (XIV) 1x1 tablet diminum dengan air putih, Kalk 500 mg (XIV) 1x1 tablet diminum dengan air putih. Fe dan Vit. C diminum pada pagi hari dan malam hari, sedangkan Kalk diminum pada pagi hari.
pertumbuhan tulang dan gigi janin. Jika tubuh ibu hamil tidak memiliki persediaan yang cukup untuk kalsium, maka untuk janin akan mengambil kalsium dari tulang ataupun gigi ibu. Untuk menghindari hal tersebut, maka Ny. R diberikan terapi Kalk. Seperti pendapat dari Arisman (2004) bahwa pada kehamilan dengan kadar Hb 9-10 gr% masih dianggap ringan sehingga
diperlukan kombinasi 60 mg/hari zat besi dan 500 mg asam folat per oral sekali sehari. Di dalam kemasan SF yang ada di puskesmas sudah ada kandungan asam folatnya senilai 0,25 mg. Jadi, terapi yang diberikan di Puskesmas Samigaluh 1 kombinasi dari 60 mg Fe dan asam folat 0,25 mg, Kalk 500 mg, dan Vit. C 100 mg. Asam folat juga diberikan pada saat Trimester I untuk pertumbuhan otak janin. Selain itu Waryana (2010) juga berpendapat bahwa pada ibu hamil dengan rutin memeriksakan kehamilannya minimal 4 kali selama hamil untuk mendapatkan Tablet Besi (Fe) dan vitamin yang lainnya pada petugas kesehatan.
Selanjutnya menganjurkan ibu untuk kunjungan ulang satu minggu lagi untuk mengetahui kondisi ibu. Dan yang tidak kalah penting adalah
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dari pembahasan teori dan kasus pada “Asuhan Kebidanan Pada Ibu Hamil Patologi Ny. R Umur 26 Tahun G1P0A0 UK
33+5 Minggu Dengan Anemia Ringan Di Puskesmas Samigaluh 1”, dapat
kami simpulkan bahwa:
1. Manajemen kebidanan yang
diberikan di Puskesmas Samigaluh 1 telah dilakukan dengan baik, walaupun ada kesenjangan dengan teori, namun kesenjangan tersebut membuat asuhan yabg diberikan menjadi lebih baik lagi.
2. Asuhan kebidanan yang
diberikan kepada Ny. R sudah sesuai dengan kebutuhan. B. Saran
1. Bagi Mahasiswa
Mahasiswa diharapkan bisa lebih aktif mempelajari dan
meningkatkan pengetahuan tentang ibu hamil dengan anemia serta menambah ketrampilan dalam memberikan asuhan kebidanan. 2. Bagi Instansi
Diharapkan bisa menambah referensi yang berkaitan dengan asuhan kebidanan .
3. Bagi Puskesmas
DAFTAR PUSTAKA
Arisman MB, 2004, Gizi Daur Kehidupan Penerbit Buku Kedokteran EGG, Jakarta
Marmi, dkk, 2011, Asuhan Kebidanan Patologi, Pustaka Pelajar, Yogyakarta Prawirohardjo, Sarwono, 2004, Ilmu Kebidanan, Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirahardjo, Jakarta
Saifuddin, Abdula Bari, dkk, 2001, Buku Acuan Pelayanan, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirahardjo, Jakarta
Saifudin, A.B, 2009. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirahardjo, Jakarta
Varney, S, 2000, Buku Saku Bidan Penerbit Buku Kedokteran, EGC, Jakarta Waryana, 2010, Gizi Reproduksi, Pustaka Rihama, Yogyakarta
Wiknjosastro Hanifa, 2000, llmu Kebidanan Edisi 3, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirahardjo, Jakarta