BAB I
PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
Pendidikan berfungsi membekali, membantu dan mengembangkan potensi manusia untuk bisa hidup dan menyesuaikan diri sesuai dengan tuntutan atau perubahan kehidupan. Karena itu pendidikan harus berorientasi tidak hanya ke masa kini tetapi juga masa depan. Pendidikan tidak hanya berperan mengembangkan aspek intelektual semata, tetapi juga membekali dan mengembangkan kecakapan pribadi dan kecakapan sosial. Kedua fungsi tersebut diperlukan dalam kehidupan (life skill). Mengingat besarnya fungsi pendidikan, dalam pendidikan tinggi selain pengembangan aspek intelektual, dibentukalah sebuah wadah kegiatan mahasiswa yang secara khusus bertujuan mengembangkan kecakapan pribadi dan sosial melalui aktifitas-aktifitas dalam organisasi mahasiswa.
Organisasi mahasiswa di Universitas Sumatera Utara (USU) selain memiliki tujuan umum sebagaimana disebutkan di atas, juga berfungsi sebagai wahana penyalur bakat, pengembang potensi dan kemampuan mahasiswa yang disesuaikan dengan minat mahasiswa. Terdapat berbagai macam organisasi mahasiswa di USU, baik di tingkat jurusan, fakultas hingga tingkat universitas dengan ragam dan corak berbeda-beda.
dipelajari, diamati, diperkenalkan, disosialisasikan ataupun diujicobakan tentang sebuah konsep dan tata kehidupan sosial yang baik sebagaimana di dalam lingkungan keluarga. Melalui wadah kegiatan mahasiswa ini pula, usaha mencetak generasi yang mampu memperbaiki tatanan kehidupan sesuai perkembangan zaman dan berusaha menguraikan permasalahan-permasalahan kehidupan sosial yang ada.
Tanpa disadari, aktifitas mahasiswa di lingkungan kampus yang berlandaskan pada pendidikan yang sedang ditempuh di perguruan tinggi, juga memiliki keterkaitan erat dengan kondisi masyarakat setempat ataupun masyarakat di mana mahasiswa itu berasal. Maka tidaklah mengherankan bila mana semua permasalahan dan isu-isu yang ada dalam lingkungan sosial masyarakat, masuk kedalam sendi-sendi aktifitas dalam organisasi mahasiswa seperti; isu politik, isu perekonomian, budaya, lingkungan, agama hingga isu tentang tuntutan akan persamaan hak antara laki-laki dan perempuan (gender) dalam kehidupan sosial bermasyarakat.
Unit Kegiatan Mahasiwa (UKM) ataupun wadah aktivitas kemahasiswaan luar kelas adalah untuk mengembangkan minat, bakat dan keahlian tertentu. Pembinaan kegiatan UKM mempunyai arti yang sangat penting bagi pengembangan kepribadian mahasiswa dan kemampuan tambahan sesuai minat dan bakatnya.
(decision maker) bila dianggap dapat membangun organisasi kearah yang lebih baik lagi. Dan yang membuat saya juga tertarik utuk membahas tentang kesetaraan gender di KOMPAS USU karena kebetulan saat ini ketua umumnya dijabat oleh seorang perempuan, walaupun ini bukan kali pertama KOMPAS USU diketuai oleh seorang perempuan. Tetapi hal itu sangat menarik untuk diketahui oleh orang banyak, bahsawanya kegiatan mahasiswa pencinta alam bukan hanya untuk laki-laki saja dan beranggapan bilapun ada perempan hanya sebagai pelengkap saja. Hal itu sangatlah salah karena sudah ada buktinya bahwasanya KOMPAS USU pernah dipimpin oleh seorang perempuan dan yang sedang memimpin KOMPAS USU saat ini adalah seorang perempuan. Dalam kegiatan lapangannya KOMPAS – USU juga tidak pernah membedakan peran baik pra kegiatan sampai pasca kegiatan. Dalam pra kegiatan yaitu persiapan fisik, porsi latihan fisik yang dilakukan pria sama dengan porsi latihan fisik yang dilakukan oleh perempuan. Sisanya diberikan pembagian tugas sesuai dengan jabatan yang dipegangnya dalam kegiatan tersebut. Jadi didalam proses pemilihan ketua umum tidak terdapat perbedaan antara laki-laki dan perempuan, kedua-duanya mempunyai hak yang sama ketika sudah menyandang status sebagai anggota biasa KOMPAS – USU.
kedudukan disini tidak terjadi. Seks atau jenis kelamin merupakan perbedaan antara laki-laki dengan perempuan berdasarkan ciri biologisnya.
Namun, kadang-kadang gender sebagai salah satu nilai sosial yang berlaku di masyarakat memiliki sifat yang cenderung untuk dipertahankan sebagaimana nilai sosial yang lainnya.Nilai dan peran gender yang timpang tersebut masih ada berlaku di masyarakat. Hal ini disebabkan adanya proses sosialisasi yang masih ada di lingkungan sosial individu. Mahasiswa sebagai individu juga tidak luput dari proses sosialisasi nilai dan peran gender tersebut. Proses sosialisasi dipengaruhi oleh tiga faktor, yakni agen sosialisasi, proses atau cara sosialisasi, dan isi sosialisasi.
1.2Tinjauan Pustaka
Manusia merupakan makhluk yang memiliki kebudayaan, dimana Koentjaraningrat (1997:4) merincikan unsur-unsur kebudayaan yang terdapat di dalam setiap masyarakat secara universal, yaitu : (1) bahasa, (2) sistem teknologi (3) sistem ekonomi, (4) organisasi sosial, (5) sistem pengetahuan, (6) kesenian (7) sistem kepercayaan atau religi yang merupakan salah satu unsur penting dalam kebudayaan. Agama tak lepas dalam setiap kebudayaan masyarakat.
A. Gender
Dalam memahami konsep gender harus dibedakan terlebih dahulu antara kata gender dan kata seks (jenis kelamin). Pengertian jenis kelamin merupakan penafsiran atau pembagian dua jenis kelamin manusia yang ditentukan secara biologis yang melekat pada jenis kelamin tertentu. Misalnya, laki-laki adalah manusia yang memiliki penis, memiliki jakala (kala menjing) dan memproduksi sperma. Sementara perempuan memiliki alat reproduksi, seperti rahim dan saluran untuk melahirkan, memproduksi telur, memiliki vagina dan mempunyai alat untuk menyusui. Alat-alat ini secara biologis atau sering disebut sebagai ketentuan Tuhan atau "kodrat". Sedangkan konsep gender yaitu suatu sifat yang melekat pada kaum laki-laki maupun perempuan yang direkonstruksi secara sosial maupun kultural. (M. Fakih, 1996). Dengan kata lain gender adalah konstruksi sosial yang mengatur pembagian peran sosial menurut jenis kelamin (L. Margiyani, 1998).
Dalam pemahaman gender terdapat 2 teori, yakni :
1. Teori nature yang beranggapan bahwa perbedaan psikologis antara perempuan dan laki-laki hanya disebabkan oleh perbedaan fisiologis dan biologis saja.
2. Teori nurture yang beranggapan bahwa perbedaan psikologis antara perempuan dan laki-laki disebabkan oleh proses belajar dari lingkungan. Konstruksi sosial budayalah yang memunculkan maskulinitas dan feminimitas.
Dari uraian teori di atas, maka jelaslah bahwa pemimpin merupakan hasil budaya yang dibentuk oleh lingkungan yang merupakan faktor dari teori nurture.
Trisakti Handayani dan Sugiarti (2008:15-18) mengungkapkan bahwa perbedaan gender dapat melahirkan ketidakadilan. Adapun bentuk manifestasi ketidakadilan tersebut di antaranya adalah1
1. Gender dan marginalisasi perempuan :
Bentuk manifestasi ini merupakan proses marginalisasi atau pemiskinan terhadap kaum perempuan atau disebut juga pemiskinan ekonomi.
2. Gender dan subordinasi pekerjaan perempuan.
Adanya anggapan bahwa perempuan tidak penting terlibat dalam pengambilan keputusan. Perempuan cenderung tersubordinasi oleh faktor-faktor yang dikonstruksikan secara sosial dan mengakibatkan adanya diskriminasi kerja bagi perempuan.
1
3. Gender dan stereotip atas pekerjaan perempuan.
Stereotip merupakan pelabelan terhadap suatu kelompok ataujenis pekerjaan tertentu. Hal ini merupakan bentuk ketidakadilan, sehingga dinamakan pelabelan negatif. Biasanya terjadi karena disebabkan pelabelan yang sudah melekat pada laki-laki, misalnya laki-laki adalah manusia yang kuat, rasional, jantan, dan perkasa. Sedangkan perempuan adalah makhlukyang lembut, cantik, emosional, atau keibuan. Dengan adanya pelabelan tersebut membuat perempuan dikonstruksikan sebagai kaum yang identik dengan pekerjaan-pekerjaan rumah, maka peluang perempuan untuk bekerja di luar rumah sangat terbatas.
4. Gender dan kekerasan terhadap perempuan.
Jika diperhatikan bahwa kekerasan yang terjadi pada perempuan merupakan kekerasan yang disebabkan adanya keyakinan gender.
5. Gender dan beban kerja lebih berat
masyarakat, menunggu sentuhan kemanusiaan untuk memperbaiki pandangan yang kurang memanusiakan perempuan.
Hingga pada zaman filsafatpun, perempuan masih diragukan eksistensinya. Dikalangan filsuf sendiri terjadi perdebatan apakah perempuan mempunyai roh atau tidak? Di Yunani, posisi perempuan kurang menguntungkan. Mereka menjadi barang komoditi yang bisa di perjual-belikan. Di Romawi, demikian pula kenyataannya, mereka dianggap sebagai makhluk tak berjiwa, dan keberadaannya adalah perwujudan setan yang datang untuk merusak hati manusia. Di India, Hidup seorang perempuan tergantung pada suaminya, jika suaminya mati maka tidak ada alasan bagi perempuan untuk tetap hidup2
Oleh karena itu muncullah gerakan feminisme yang merasa telah terjadi diskriminasi terhadap nasib perempuan. Feminisme adalah sebuah gerakan perempuan yang menuntut emansipasi antara kesamaan hak dan keadilan dengan laki-laki. Secara umum sejarah gerakan feminisme terlahir pertama kali pada abad 18 M. di Eropa
.
3
2
Achmad Satori Ismail, Fiqih Perempuan dan Feminisme dalam Antologi Membincang Feminisme : Diskursus Gender Perspektif Islam (Surabaya : Risalah Gusti, 2000), hlm. 132-133
3
feminisme mulai berkembang ketika zaman Renaissance atau zaman pencerahan di Eropa, yang dipelopori oleh Lady Mary Wortley Montagu dan Marquis de Condorcet. Perkumpulan masyarakat ilmiah pertama kali didirikan di Middelburg, sebuah kota di dekat Belanda pada tahun 1785.
oleh karena itu kedudukan perempuan tidaklah sama dengan laki-laki dihadapn hukum.
Feminisme dicetuskan pertama kali oleh aktivis sosial Utopia, yakni sebagi penggagasnya Charles Fourier pada tahun 1837, pergerakan ini berpusat di Eropa dan berpindah ke Amerika dan terus berkembang pesat sejak dipublikasikan oleh John Stuart Mill “ TheSubjection Of Women” pada tahun 1869. Pergerakan kaum feminis ini semakin berkembang ketika pada era liberalism di Eropa dan terjadi revolusi Prancis di abad 18 yang merambah ke Amerika dan seluruh dunia, dari sinilah sejarah feminisme mulai berkembang hingga sekarang.
Menurut Mansour Fakih (1996:8) gender adalah suatu sifat yang melekat pada kaum laki-laki maupun perempuan yang dikonstruksikan secara sosial maupun cultural. Menurut Ann Oakley (2001:2) gender adalah masalah budaya, ia merujuk kepada klasifikasi sosial dari laki-laki dan perempuan menjadi ‘maskulin’ dan ‘feminim’.Menurut Alice Schlegel gender mempunyai arti yang serupa dengan ideology gender, yaitu bagiaman kedua jenis kelamin “dipersepsikan, dinilai, dan diharapakan untuk bertingah laku”.
perdagangan masih dikaitkan dengan ciri-ciri yang bersifat negative, seperti penipuan dan hal-hal yang bernilai tidak baik (Geertz, 1982: Burger, 1983). Kalangan masyarakat petani juga menganggap bahwa pekerjaan di luar pengolahan tanah, di antaranya perdagangan adalah pekerjaan yang kurang baik dilakukan oleh orang yang tidak tahan bekerja keras, di samping itu, perdagangan merupakan arena permainan mengadu untung (Redfield, 1982:92-93). Pandangan negatif terhadap perdagangan dalam masyarakat Jawa merupakan suatu warisan yang ditinggalkan oleh kalangan priyayi dan muncul sejak awalmasuknya perdagangan dalam perekonomian Indonesia, khususnya Jawa.
Data sensus penduduk memperlihatkan perubahan struktur pekerjaan sejak tiga dekade lalu. Sejalan dengan menurunnya kesempatan kerja disektor pertanian, persentase penduduk yang terlibat dalam kegiatan luar pertanian, khususnya dalam sektor jasa dan perdagangan (Irwan Abdullah,2001:149). Sebagian peneliti menilai pergeseran ini sebagai indicator kemajuan, yakni dalam pengertian terjadinya peningkatan diversifikasi ekonomi pedesaan. Keterlibatan anggota rumah tangga tani dalam sektor luar pertanian menjadi tanda perubahan perekonomian desa, yang secara langsung mempengaruhi ekonomi rumah tangga. Satu persoalan menarik adalah keterlibatan perempuan: persentase keterlibatan perempuan dalam pekerjaan luar pertanian relatif tinggi (Irwan Abdullah,2001:150).
oleh keyakinan atau paham kebebasan dan perlindungan hak-hak individu kemanusiaan (human rights) atau demokrasi. Kedua paham ini merupakan unsur-unsur dasar dari nilai-nilai budaya orang Amerika.
Kesetaraan berasal dari kata setara atau sederajat. Jadi, kesetaraan juga dapat disebut kesederajatan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sederajat artinya sama tingkatan (kedudukan, pangkat). Dengan demikian, kesetaraan atau kesederajatan menunjukkan adanya tingkatan yang sama, kedudukan yang sama, tidak lebih tinggi atau tidak lebih rendah antara satu sama lain.Kesetaraan manusia bermakna bahwa manusia sebagai mahkluk Tuhan memiliki tingkat atau kedudukan yang sama. Tingkatan atau kedudukan yang sama itu bersumber dari pandangan bahwa semua manusia tanpa dibedakan adalah diciptakan dengan kedudukan yang sama, yaitu sebagai makhluk mulia dan tinggi derajatnya dibanding makhluk lain.
Kesetaraan gender adalah suatu kondisi dimana semua manusia (baik laki-laki maupun perempuan) bebas mengembangkan kemampuan personal mereka dan membuat pilihan-pilihan tanpa dibatasi oleh stereotype, peran gender yang kaku4
perempuan yang bisa dilakukan sebagai gerakan sosial (social movement) tumbuh dan berkembang di Amerika.
Istilah gerakan (movement) menurut kamus Webster berarti “organized action by people working toward a goal”. Kemudian Steven Buechler
menyatakan bahwa gerakan sosial itu sering digambarkan sebagai reaksi kolektif dari suatu kelompok masyarakat yang tersubordinasi (collective respons to a group’s experience of subordination). Jadi mengacu pada rumusan diatas, dapat
diartikan bahwa gerakan kaum perempuan Amerika sebagai usaha sekelompok orang untuk mencapai cita-citanya yaitu membebaskan diri dari tekanan masyarakat yang bersifat patriarki yang menganggap merek ini sebagai kelompok yang inferior atau subordinasi (Nana Nurliana Soeyono, 2000:16-17).
Banyak perusahaan cenderung lebih suka mempekerjakan perempuan daripada pria karena dalam beberapa hal dianggap lebih baik. Namun di sisi lain, perempuan juga sulit mencapai posisi lebih tinggi.Masalah ini adalah masalah yang umum di seluruh dunia. Secara umum perempuan lebih diterima bekerja pada posisi junior, namun sulit bagi mereka untuk bisa meraih posisi yang lebih tinggi walaupun mampu.Sebabnya, karena masih banyak perusahaan besar yang memiliki persepsi bahwa perempuan kurang cocok memegang posisi tinggi. Mereka tak terbiasa dipimpin oleh seorang perempuan.
Kaum perempuan Indonesia dalam beberapa tahun terakhir kian memberi kontribusi yang besar bagi naiknya pertumbuhan ekonomi di negeri ini. Namun, kesetaraan dalam karir, baik di sektor industri maupun politik, masih belum dinikmati oleh banyak perempuan di negeri ini.
Penilaian itu disampaikan oleh tim ahli dari Bank Dunia, yang menyusun laporan "World Development Report 2012 on Gender Equality and Development." Laporan Bank Dunia itu menyusun data dan mengidentifikasi sejauh mana pengaruh dan masalah yang dihadapi kaum perempuan dalam pembangunan ekonomi di penjuru dunia.
Dipimpin oleh ekonom senior, Sudhir Shetty, tim penyusun laporan Bank Dunia 2012 itu menilai bahwa, seperti di sejumlah negara lain, partisipasi kaum perempuan Indonesia dalam lapangan kerja dan pendidikan sudah meningkat pesat. Selain itu juga timbul kesadaran yang kuat dari kaum perempuan untuk menunjang kebutuhan hidup mereka secara mandiri dan kolektif - seperti yang terlihat pada program Pekka (Perempuan Kepala Keluarga)
Kesetaraan gender adalah seperti sebuah frase (istilah) “suci” yang sering diucapkan oleh para aktivis sosial, kaum feminis, politikus, bahkan oleh para pejabat negara. Istilah kesetaran gender dalam tataran praktis, hampir selalu diartikan sebagai kondisi “ketidaksetaraan” yang dialami oleh para wanita.
Sebuah adat dapat saja berfungsi sebagai wujud kearifan lokal yang memiliki sanksi sosial bila dilihat ancaman kekerasan atas nama aturan adat. Sebagai contoh wilayah Aceh, aturan adat menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari yang menjaga nilai dan norma masyarakat menjadi bagian dari pola pikir dan perilaku masyarakat yang dikuatkan dengan syariat Islam. Tantangan menjadi berat ketika perubahan sosial terjadi dalam kurun waktu yang tidak dapat diantisipasi oleh masyarakat yang masih dalam transisi pasca konflik. Pelanggaran Syariat Islam memberikan ruang multi interprestasi dan menimbulkan interaksi masyarakat dengan penegak hukum Syariat Islam.
Salah satu poin dari Deklarasi Umum Hak Asasi Manusia adalah setiap manusia dijamin atas hak kebebasan beragama dan melaksanakan keyakinan agama yang dimilikinya. Hal ini juga dipertegas oleh hukum di Indonesia yaitu UUD 1945 tentang kebebasan beragama dan melaksanakan keyakinan agamanya, sehingga pelaksanaan Syariat Islam di Aceh secara legal formal telah diamanahkan oleh Undang-Undang Negara Kesatuan Republik Indonesia. Menurut Amnesty Internasional sehubungan dengan melanggar Hak Asasi Manusia (HAM) dan meminta hukuman cambuk di cabut, ini harus dapat melihat kembali karena tidak bertentangan dengan HAM. Solusi adalah melengkapi hukum syariat sebagai aturan yang sifatnya preventif, maka revitalitasi adat diharapkan lebih spesifik mencakup perspektif penghormatan terhadap HAM yang meliputi kebutuhan untuk melindungi perempuan. Karena persoalan perempuan dalam setiap individu, tafsir agama, dan negara, upaya penegakan keadilan gender dapat menggugat privilege yang dapat dinikmati sebagai kelompok masyarakat termasuk perempuan.
agama serta epistemologi ilmu pengetahuan. Karena itu diperlukan berbagai aksi melalui kampanye, pendidikan kritis, advokasi untuk mengubah kebijakan, tafsir ulang terhadap aturan keagamaan serta memberi ruang epistemologi berperspekti feminis untuk memberikan makna terhadap realitas yang terjadi yang tidak sesuai.
Merujuk pada Inpres No 9/2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional, dalam strategi ini upaya mencapai kesetaraan dan keadilan gender didorong melalui proses perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi seluruh sektor pembangunan, oleh sebab itu proses tersebut akan dapat berjalan baik dengan melihat kuantitas perempuan sehingga keadilan gender atas gender budgeting dapat berjalan dengan baik.
B. Organisasi
Organisasi berasal dari bahasa latin organum yang berarti alat atau badan. Di
integritas kepribadian untuk mencapai tujuan pendidikan yang tinggi. Menurut Siagian (2011:12) organisasi adalah setiap bentuk persekutuan antara dua orang atau lebih yang bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama, dan terikat secara formal dalam suatu ikatan hirarki dimana selalu terdapat hubungan antar seorang atau sekelompok yang disebut pemimpin dan seorang atau sekelompok yang disebut bawahan.
Dengan organisasi seorang mahasiswa selain mendapatkan pengalaman sosialisasi tambahan juga mendapat ilmu mengenai tanggungjawab yang sepatutnya dimiliki oleh seorang mahasiswa. Edgar (2000:55) menyatakan organisasi adalah koordinasi yang direncanakan mengenai kegiatan-kegiatan sejumlah orang untuk mencapai tujuan bersama melalui pembagian kerja dan fungsi berdasarkan tingkatan otoritas (kewenangan) dan tanggungjawab. Organisasi mahasiswa intrakampus (Unit Kegiatan Mahasiswa) adalah organisasi mahasiswa yang memiliki kedudukan resmi di lingkunga mendapat pendanaan kegiatan kemahasiswaan dari pengelola perguruan tinggi. Menurut Silvia Sukirman (2004:72-73), organisasi kemahasiswaan intra-universiter (intrakampus) adalah organisasi kemahasiswaan yang berkedudukan di
dalam perguruan tinggi yang bersangkutan.
penalaran, minat dan kegemaran, kesejahteraan, dan minat khusus sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya. Kedudukan lembaga ini berada pada wilayah universitas yang secara aktif mengembangkan sistem pengelolaan organisasi secara mandiri.
Organisasi mahasiswa intra kampus yang ada di USU terdiri dari dua bentuk yaitu ditingkat institut meliputi : Presiden Mahasiswa (PRESMA) dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), selanjutnya ditingkat fakultas meliputi : Pemerintah Mahasiswa (PEMA) dan Himpunan Mahasiswa Departemen (HMD). PRESMA dan UKM merupakan organisasi yang mahasiswa yang berada ditingkat institut. UKM di USU terdiri dari 25 lembaga organisasi kemahasiswaan, yaitu: Korps Mahasiswa Pencinta Alam dan Studi Lingkungan Hidup Universitas Sumatera Utara(KOMPAS USU), Resimen Mahasiswa (MENWA), SUARA USU, PRAMUKA USU, Fotografi USU, Bulutangkis USU, Robotik Sikonek, Teater “O”, Marching Band, Merpati Putih, Beladiri Taekwondo USU, Tenis Meja, dll.
tengah masyarakat dan langsung dengan cepat mengaplikasikan ilmunya ( Dukarno, 2009:96).
1.3Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengimplementasian kesetaraan gender di KOMPAS USU?
1.4Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan yang dicapai oleh penelitian dalam penelitian ini adalah :
1. Mengetahui pengimplementasian kesetaraan gender di KOMPAS USU.
1.5Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan beberap manfaat, antara lain sebagai berikut :
1. Manfaat teoritis
a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khasanah ilmu pengetahuan, khususnya pada bidang studi Antropologi mengenai kesetaraan gender di organisasi KOMPAS USU.
2. Manfaat praktis
a. Bagi Universitas Sumatera Utara
Penelitian ini dapat menambah koleksi karya ilmiah mahasiswa sehingga dapat digunakan untuk sarana acuan atau bacaan dalam menambah wawasan atau pengetahuan yang berkaitan dengan kesetaraan gender
b. Bagi Mahasiswa
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk menambah referensi sebagai bahan informasi dan menambah wawasan mengenai kesetaraan gender di Organisasi KOMPAS USU.
c. Bagi Organisasi Kemahasiswaan
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai bahan evaluasi dan referensi terhadap aplikasi kesetaran gender dalam kepengurusan organisasi kemahasiswaan, dan diharapkan dapat memberi masukan untuk perkembangan dan kemajuan pelaksanan organisasi kemahasiswaan.
d. Bagi Masyarakat Umum
mengenai kesetaraan gender di sebuah organisasi yang rawan terjadi ketimpangan gender.
e. Bagi Peneliti
• Penelitian ini digunakan untuk memenuhi salah satu syarat guna
memperoleh gelar sarjana pada program studi Antopologi Sosial FISIP USU
• Peneliti dapat mengetahui lebih dalam mengeni aplikasi kesetaraan
gender di organisasi KOMPAS USU yang berpotensi adanya ketimpangan gender.
• Peneliti dapat memperoleh pengalaman terjun langsung dalam
penelitian yang dapat dijadikan bekal untuk melakukan penelitian-penelitian selanjutnya.
1.6Metode Penelitian
1.6.1. Bentuk Penelitian
Metode yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi etnografi, penelitian ini bersifat subjektif karena penulis turut menjadi bagian penelitian yang dilakukan, akan tetapi penulis berusaha untuk bersikap objektif terhadap data yang diperoleh di lapangan.
hubungan antara suatu masalah dengan masalah lainnya. Pendekatan studi etnografi bertujuan untuk mempertahankan keutuhan dari objek, artinya data yang dikumpulkan dalam rangka studi etnografi, dipelajari sebagai suatu yang terintegrasi.
1.6.2. Lokasi Penelitian
Penulis akan memusatkan penelitian di Universitas Sumatera Utara yaitu Unit Kegiatan Mahasiswa Korps Mahasiswa Pencinta Alam dan Studi Lingkungan Hidup Universitas Sumatera Utara (KOMPAS USU) yang terletak di Jl. Alumni No. 2 Samping FKG USU, Padang Bulan, Kec. Medan Baru, Sumatera Utara.
1.6.3. Teknik Pengumpulan Data
1. Pengumpulan data primer
Data primer, yaitu data autentik atau data langsung dari tangan pertama tentang masalah yang diungkapkan. Atau disebut dengan data asli. Pengumpulan data yang digunakan adalah :
parsipasi, yaitu peneliti ikut mengambil bagian dalam aktifitas organisasi kemahasiswaan dan perikehidupan mereka.
b. Pada penelitian ini, wawancara yang dilakukan melalui dua cara. Pertama wawancara sebagai strategi utama dalam mengumpulkan data. Dalam konteks ini, catatan data lapangan yang diperoleh berupa transkrip wawancara. Kedua wawancara sebagai strategi penunjang teknik lain dalam mengumpulkan data,seperti analisis dokumen (Sudarwan Danim, 2002: 130) hasil dari aktifitas atau kegiatan organisasi mahasiswa.
c. Wawancara, yaitu dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan secara langsung dan terbuka kepada informan atau pihak yang mengetahui masalah penelitian dengan cara interview guide5
Informan pangkal yaitu sesorang yang memberikan informasi secara mendalam dan langsung mengalami keadaan tentang informasi yang ingin diketahui peneliti. Dalam penelitian ini, penulis memilih mantan ketua umum KOMPAS USU periode 2009 sebagai informan pangkal, . Peneliti akan
melalukan wawancara mendalam kepada informan mengenai masalah yang akan diteliti. Informan adalah orang yang memberikan informasi sesuai dengan apa yang dibutuhkn oleh peneliti. Informan dalam penelitian ini terdiri dari informan pangkal, informan pokok/kunci, dan informan biasa. Yang dimaksud dengan ketiga informan diatas, yaitu :
5
yaitu Syaiful. Beliau adalah alumni dari dari jurusan Ilmu Politik FISIP USU. Alasan penulis memilih beliau karena pengetahuan dan pemahamannya tentang KOMPAS USU, baik itu ke angkatan yang sudah jauh di atasnya maupun angkatan di bawahnya.
Yang menjadi fokus pertanyaan saya adalah pengetahuan tentang kesetaraan gender, pengimplementasian kesetaraan gender di KOMPAS USU, pembagian peran antara laki-laki dan perempuan di KOMPAS USU.
Fakultas Hukum. Ishak adalah angkatan ke 28 di KOMPAS USU. Informan pokok yang ketiga adalah Kakanda Herlina M Situmorang. Beliau pernah menjabat sebagai ketua umum pada tahun 2004. Beliau merupakan angkatan ke 18 di KOMPAS USU. Telah menyelesaikan masa studinya dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Dan informan pokok yang terakhir adalah Darmawan Saputra. Darmawan menjabat sebagai ketua umum pada tahun 2012. Telah menyelesaikan masa studinya dari Fakultas Ekonomi yang sekarang telah berganti menjadi Fakultas Ekonomi dan Bisnis.
2. Pengumpulan data sekunder
Data sekunder merupakan data yang diperoleh melalui berbagai sumber seperti : buku, literatur, jurnal, tesis, laporan penelitian, skripsi, serta bahan-bahan relevan lainnya.
1.7. Analisa Data