JUDUL: ANALISIS KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS MAHASISWA PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR: Studi Kualitatif pada Mahasiswa PGSD Semester V FKIP Universitas Tadulako
A. Latar Belakang
Guru memiliki peranan untuk meningkatkan mutu pendidikan secara nasional (UU No.14 tahun 2005). Sebagai pendidik yang baik, guru diharapkan agar memiliki pengetahuan dan pemahaman yang mendalam terhadap materi yang diajarkan. Kualitas pemahaman para siswa ditentukan oleh pemahaman para guru terhadap materi yang disampaikan. Selain itu, guru juga diharapkan memiliki persiapan yang baik sebelum mengajar. Karena pengetahuan yang memadai tidak cukup untuk membangun pemahaman siswa dengan baik tanpa persiapan yang cukup sebelum mengajar. Dengan pengetahuan yang baik dan cara mengajar yang tepat akan membantu siswa untuk lebih mudah membangun pemahaman mereka terhadap materi yang disampaikan oleh gurunya. Paduan antara pengetahuan yang mendalam terhadap materi dan pengetahuan akan cara mengajar yang tepat disebut oleh Shulman sebagai pengetahuan konten pedagogi (Pedagogical Content Knowledge) (Ball, Thames, & Phelps, 2008).
lebih menikmati matematika dan berpikir bahwa matematika merupakan seuatu yang menyenangkan (Hirschfeld & Cotton, 2008:1)
Pengajaran matematika untuk setiap jenjang pendidikan memiliki karakter yang berbeda. Misalnya untuk tingkat sekolah dasar, guru tidak hanya dituntut untuk menguasai materi yang diajarkan tetapi mampu mengkomunikasikan materi tersebut kepada siswa. Tingkat sekolah dasar merupakan dasar untuk jenjang pendidikan berikutnya, sehingga dasar ilmu yang dibangun harus kuat. Ketika siswa salah memahami konsep dari dasarnya, maka akan sulit untuk mengubah konsep tersebut. Guru membantu membangun sebuah konsep pengetahuan dengan menggunakan kemampuan yang dimiliki oleh guru. Salah satu kompetensi inti yang harus dimiliki oleh guru sekolah dasar adalah mampu berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan peserta didik (Robandi, 2010:8). Dalam kurikulum 2013 dijelaskan:
Kompetensi Inti merupakan terjemahan atau operasionalisasi Standar Kompetensi Lulusan dalam bentuk kualitas yang harus dimiliki oleh peserta didik yang telah menyelesaikan pendidikan pada satuan pendidikan tertentu atau jenjang pendidikan tertentu, gambaran mengenai kompetensi utama yang dikelompokkan ke dalam aspek sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang harus dipelajari peserta didik untuk suatu jenjang sekolah, kelas dan mata pelajaran. Kompetensi Inti harus menggambarkan kualitas yang seimbang antara pencapaian hard skills dan soft skills.
Jadi, mahasiswa calon guru sekolah dasar perlu memiliki pengetahuan mengenai cara berkomunikasi yang efektif, empatik dan bersikap santun kepada siswa sehingga dapat menjadi seorang guru yang kompeten. Walaupun kemampuan berkomunikasi yang baik bukan satu-satunya faktor utama keberhasilan seorang guru dalam mengajar, namun hal ini perlu dimiliki oleh guru agar dapat menanamkan makna dari pembelajaran. Memiliki keterampilan berkomunikasi yang baik dan memiliki pengetahuan yang luas merupakan modal dasar mahasiswa calon guru untuk menjadi seorang guru yang kompeten.
memberikan respon yang tepat antara siswa dan media pembelajaran (Qahar, 2011:1). Selain siswa, guru juga harus mampu berkomunikasi secara matematis dalam pembelajaran, agar dapat memperjelas sebuah ide matematis dan menyampaikan ide tersebut kedalam sebuah bahasa matematis yang mudah dipahami oleh siswa.
Salah satu rahasia guru agar sukses dalam mengajar adalah membangun komunikasi yang baik dengan siswa. Seperti yang disampaikan dalam A Guide to Effective Instruction in Mathematics Kindergarten to Grade 6:
The secret to successful teaching is being able to determine what students are thinking and then using that information as the basis for instruction. Teachers learn what students are thinking through student communication. When students communicate mathematically, either orally or in writing, they make their thinking and understanding clear to others as well as to themselves.
Dari hasil diskusi juga diperoleh bahwa materi yang dianggap cukup rumit dalam menjelaskan kepada siswa dengan menggunakan objek konkrit adalah pecahan. Beberapa penilitian menemukan bahwa, selama ini calon guru mengalami kesulitan dalam menjelaskan perkalian dan pembagian dalam pecahan dan bilangan desimal (Izsak, Jacobson, de Araujo & Orril, 2012). Sering ditemukan kasus ketika seorang guru mengajar pecahan pada anak sekolah dasar dengan menggunakan cara-cara yang prosedural. Cara seperti ini hanya dapat memberi pemahaman yang dangkal kepada siswa tentang pecahan, karena kurang bermakna bagi sebagian siswa. Sebagian besar siswa tidak akan memahami makna perkalian atau pembagian pecahan jika hanya dijelaskan dengan cara-cara prosedural.
Pentingnya memahamkan siswa mengenai pecahan karena integritas matematika mengharuskan guru untuk memberikan landasan yang solid kepada siswa dalam pecahan sebelum melanjutka ke bagian aritmatika desimal khususnya pecahan desimal (Milgram, 2005:32). Salah satu kesalahan konsep yang seringkali ditemui yaitu ketika siswa langsung menjumlahkan pembilang dengan pembilang dan penyebut dengan penyebut padahal dua buah pecahan tersebut memiliki penyebut yang berbeda. Akan sulit memahamkan siswa jika guru tidak menyampaikan makna dari operasi penjumlahan pecahan, dana alasan mengapa ketika menjumlahkan dua buah pecahan, syaratnya harus memiliki penyebut yang sama. Masi terdapat beberapa kesalahan konsep yang dialami oleh siswa dalam materi pecahan, yang harus diluruskan oleh guru. Untuk meluruskan kesalahan konsep tersebut, guru perlu memiliki pengetahuan yang baik dalam materi ini dan mampu mengkomunikasikannya kepada siswa.
Studi ini akan mencoba menganalisis kemampuan komunikasi mahasiswa calon guru sekolah dalam mengajarkan pecahan. Analisis kemampuan komunikasi matematis mahasiswa ini dilakukan secara kualitatif karena beberapa pertimbangan, diantaranya:
dari pengolahan hasil tes akan tetapi data yang akurat diperoleh dari hasil wawancara yang mendalam (deep interview) dan observasi.
Yang kedua, masalah ini berfokus tidak hanya untuk mengetahui hasil dari perkuliahan akan tetapi lebih menekankan pada proses yang terjadi dalam perkuliahan sehingga dapat melihat bagaimana kemampuan komunikasi matematis itu dibangun.
B. Fokus Penelitian
Agar permasalahan dalam penelitian tidak meluas, maka ada beberapa hal yang perlu dibatas, yaitu:
1. Masalah yang diteliti dalam penelitian ini adalah analisi kemampuan komunikasi matematis mahasiswa calon guru yang belajar dengan menggunaka metode Creative Problem Solving (CPS)
2. Penelitian dilakukan terhadap mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Semester V di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Tadulako yang berjumlah 20 orang
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya dan fokus penelitian yang disampaikan diatas, maka rumusan masalah yang diajukan penulis secara umum dari penelitian ini adalah “Bagaimana Kemampuan Komunikasi Matematis Mahasiswa PGSD Semester V di FKIP Universitas Tadulako?”. Permasalahan tersebut dipetakan lebih mendalam lagi ke pertanyaan penelitian berikut:
1. Bagaimana kemampuan komunikasi matematis mahasiswa PGSD semester V di FKIP Universitas Tadulako selama proses perkuliahan berlangsung?
2. Kendala apa saja yang ditemui mahasiswa dan dosen selama proses perkuliahan berlangsung?
3. Bagaimana upaya dosen dalam meningkatkan kemampuan komunikasi matematis mahasiswa selama proses perkuliahan?
Berdasrkan rumusan masalah diatas maka tujuan umum dari dilakukannya penelitian ini adalah untuk menganalisis kemampuan matematis mahasiswa PGSD semester V di FKIP Universitas Tadulako, dan secara khusus penulis bertujuan untuk:
1. Memperoleh gambaran mengenai kemampuan komunikasi matematis mahasiswa PGSD semester V di FKIP Universitas Tadulako selama proses perkuliahan berlangsung.
2. Memperoleh gambaran mengenai kendala yang ditemui mahasiswa dan dosen selama proses perkuliahan berlangsung.
3. Memperoleh gambaran mengenai upaya dosen dalam meningkatkan kemampuan komunikasi matematis mahasiswa selama proses perkuliahan.
E. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi mahasiswa, dosen, institusi dan peneliti. Adapun manfaatnya bagi:
1. Mahasiswa
Membantu mahasiswa dalam mengembangkan kemampuan komunikasi matematis sebagai bekal menjadi guru kelak.
2. Dosen
Sebagai bahan masukan dalam mengembangkan kemampuan dan keterampilan komunikasi matematis para mahasiswa agar dapat menghasilkan lulusan yang kompeten dalam dunia kerja khususnya sebagai guru sekolah dasar.
3. Institusi
Sebagai bahan masukan yang konstruktif dalam mengembangkan kemampuan komunikasi matematis mahasiswa PGSD
4. Peneliti
Dapat menambah pengetahuan mengenai kemampuan komunikasi matematis mahasiswa PGSD, dan juga sebagai bahan masukan yang konstruktif bagi peneliti untuk mengembangkan kemampuan komunikasi matematis.
F. Definisi Istilah
permsalahan pada penelitian ini tidak meluas. Istilah yang perlu didefinisikan adalah sebagai berikut:
“Analisis merupakan pemaparan data secara rinci dari setiap teknik pengumpulan data. Data dari setiap sumber ditriangulasi, untu meyakinkan bahwa semua data dari semua sumber mengarah pada kesimpulan yang sama” (Universitas Pendidikan Indonesia, 2012:22)
“Komunikasi matematika adalah cara berbagi ide dan memperjelas pemahaman. Melalui komunikasi, gagasan menjadi objek refleksi, perbaikan, diskusi, dan perubahannya. Ketika siswa ditantang untuk mengkomunikasikan hasil pemikiran mereka kepada orang lain secara lisan atau tertulis, mereka belajar untuk menjadi jelas, meyakinkan, dan tepat dalam penggunaan bahasa matematika” (NCTM, 2004:4)
G. Metodologi Penelitian 1. Jenis Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif, karena penulis ingin memberikan gambaran yang lebih mendalam mengenai kemampuan komunikasi matematis mahasiswa PGSD semester V.
2. Subjek Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada 20 mahasiswa PGSD semester V di FKIP Universitas Tadulako. Tempat pelaksanakan penelitian adalah di dalam ruangan kuliah dan di luar ruang kuliah. Peneliti melakukan observasi kepada mahasiswa yang diteliti selama proses perkuliahan berlangsung dan mendokumentasikan hasil observasi tersebut ke dalam bentuk rekaman video. Setelah itu peneliti melakukan wawancara kepada mahasiswa ketika proses perkuliahan selesai, dana peneliti mendokumentasikannya ke dalam bentuk rekaman video.
3. Waktu Penelitian
dan lembar observasi. Pelaksanaan peneltian dijadwalkan akan dimulai pada pekan kedua bulan Januari 2014 sampai akhir bulan Maret 2014. Dan tahap analisis data dilaksanakan selama bulan April 2014.
4. Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian merupakan tahapan-tahapan yang dilalui dalam penelitian untuk mengumpulkan data dan menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam penelitian. Prosedur dalam penelitian ini meliputi tiga tahapan utama yaitu tahap persiapan, tahap pelaksanaan dan tahap analisis data.
4.1 Tahap Persiapan
Dalam melakukan penelitian ini, penulis melakukan beberapa persiapan sebagai berikut:
4.1.1 Menentukan Subjek Wawancara
Untuk menentukan subjek penelitian dalam penelitian kualitatif digunakan metode purposive sampling karena dalam melakukan penelitian ini penulis membutuhkan sampel sesua dengan permasalahn penelitian yang diajukan.
4.1.2 Membuat Pedoman Wawancara
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam penelitian ini salah satu metode pengumpulan datanya melalui wawancara. Diperlukan sebuah pedoman wawancara agar jawaban dari responden terarah kepada permsalahan yang diteliti. Pedoman wawancara bukan merupkan daftar pertanyaan terstruktur, melainkan aspek-aspek yang akan ditanyakan berkaitan dengan kemampuan komunikasi matematis mahasiswa.
4.1.3 Mempersiapkan Soal
Kemampuan komunikasi yang akan dianalisis dalam penelitian ini adalah kemampuan menyampaikan ide matematis secara lisan dan tertulisan. Soal yang dipersiapkan bertujuan untuk menganalisis kemampuan komunikasi dalam bentuk tertulis.
Selama proses penelitian akan dilakukan observasi. Lembar observasi digunakan sebagai panduan dalam melakukan observasi
4.2 Tahap Pelaksanaan
4.2.1 Wawancara Pertama
Wawancara pertama dilaksanakan selama masa penelitian. Beberapa mahasiswa yang dianggap cukup mewakili mahasiswa yang lain akan diwawancarai setelah perkuliahan berakhir.
4.2.2 Angket
Angket diberikan kepada mahasiswa pada pertemuan terakhir perkualiahan dalam penelitian ini.
4.2.3 Observasi pertama
Observasi pertama berlangsung penelitian ini sejak dilaksanakan pertemuan pertama sampai pertemuan terakhir dan selam proses perkuliahan dan selama proses wawancara berlangsung
4.2.4 Wawancara Lanjutan
Wawancara lanjutan dilakukan apabila penulis masih membutuhkan tambahan informasi. Wawancara lanjutan diperlukan penulis memperoleh gambaran yang lebih jelas dan mendalam.
4.2.5 Triangulasi Data
Triangulasi data yaitu menggabungkan seluruh data yang diperoleh selama penelitian berlangsung, kemudian membanding data yang diperoleh dengan data lain. Data dalam bentuk hasil rekaman wawancara, angket, lembar observasi dan video observasi akan digabungkan untuk memperoleh interpretasi yang sama.
4.3 Tahap Analisis Data
Pada tahap ini data akan dianalisis menggunakan teknik analisis data untuk memperoleh jawaban dari permsalahn-permasalah penelitian.
5. Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknnik pengumpulan data yang penulis lakukan melalui beberapa cara yaitu: wawancara, observasi, dokumentasi dan gabungan/Triangulasi (Sugiyono, 2007:309).
5.1 Wawancara
pendapatnya sendiri. Data yang diperoleh berubaha rekaman suara dan video. Data tersebut nantinya akan diubah kedalam bentuk teks.
5.2 Observasi
Observasi digunakan untuk mengamati perilaku dan sikap mahasiswa selama proses perkuliahan berkaitan dengan kemampuan komunikasi matematis mereka. Penulis akan dibantu oleh pihak lain untuk melakukan observasi kemudian hasil observasi tersebut akan disatukan untuk memperoleh interpretasi yang sama.
5.3 Dokumentasi
Dokumentasi penting sebagai bukti pelaksanaan penelitian ini dan membantu penulis untuk mempelajari kembali proses yang mungkin penulis lewatkan. Dokumentasi dilakukan dengan merekam video dan mengambil foto selama proses perkuliahan dan ketika wawancara.
5.4 Triangulasi
Triangulasi menggabungkan data hasil wawancara, observasi dan dokumentasi. Data tersebut digabungkan untuk memperoleh interpretasi yang sama.
6. Teknik Analisis Data
Menurut Marvasti (2004: 88-90) terdapat beberapa langkah dasar dalam menganalisis data penelitian kualitatif yaitu : mereduksi data, menyajikan data dan menyimpulkan.
6.1 Reduksi
Reduksi data adalah proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data kasar yang muncul dari catatatan-catatan tertulis di lapangan (Agusta, 2009). Proses ini terjadi terus menenrus selama penelitian berlangsung. Reduksi data meliputi:
a. Meringkas data b. Mengkode c. Menelusur tema d. Membuat gugus-gugus Cara mereduksi data:
b. Uraian singkat
c. Menggolongkan dalam pola yang lebih luas (Agusta, 2009)
6.2 Penyajian Data
Data yang telah ditriangulasi kemudian disajikan dalam bentuk teks. Data yang disajikan kedalam bentuk teks narasi deskriptif yang mengarah pada jawaban dari pertanyaan-pertanyaan penelitian.
6.3 Menyimpulkan Data
Sebelum data yang diperoleh dimpulkan terlebih dahulu harus melalui verifkasi. Verifkasi merupakan proses pemeriksaan kembali terhadap data-data yang telah dikumpulkan, jika telah sesuai dengan permasalahn penelitian yang diajukan akan dilakukan penarikan kesimpulan.
7. Metode validasi
Menurut Sugiyono (2007:363) terdapat dua jenis validasi penelitian yaitu, validasi eksternal dan validasi internal. Validasi eksternal berikaitan dengan akurasi hasil penelitian, apakah dapat digeneralisasikan atau diterapkan pada populasi dari sampel tersebut diambil. Sedangkan validasi internal berkaitan dengan akurasi desain penelitian dengan hasil yang diperoleh.
Untuk memeriksa keabsahan data penelitian kuliatatif dilakukan metode triangulasi. Metode triangulasi adalah memanfaatkan sesuatu diluar data itu sendiri, manfaatnya untuk mengecek dan membanding data tersebut. Jenis triangulasi menurut Denzin (Bryman, 2002:2) terdapat empat jenis triangulasi, yaitu:
a. Triangulasi data, memerlukan pengumpulan data melalui beberapa strategi dan sumber.
b. Triangulasi peneliti, yang mengacu pada penggunaan lebih dari satu peneliti yang memiliki disiplin ilmu yang berbeda di lapangan untuk mengumpulkan dan menginterpretasikan data.
c. Triangulasi teoritis, yang mengacu pada penggunaan lebih dari satu acuan teoritis dalam menafsirkan data.
d. Triangulasi metodologi, yang mengacu pada penggunaan lebih dari satu metode pengumpulan data.
Penulis menemukan bahwa dari bebrapa mahasiswa PGSD yang telah melalui masa Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) mengalami kendala dalam mengkomunikasi ide-ide matematis khususnya yang berkaitan dengan materi pecahan. Sehingga diperlukan tindakan lanjut untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas dan mendalam mengenai kemampuan komunikasi matematis mahasiswa PGSD yang lain.
I. Garis Waktu
N
o Kegiatan
Desember Januari Februari Maret April
Minggu
ke-Minggu
ke-Minggu
ke-Minggu
ke-Minggu ke-1 2 3 4 ke-1 2 3 4 ke-1 2 3 4 ke-1 2 3 4 ke-1 2 3 4
1. Tahap Persiapan
Penyusunan Proposal: - Membuat
Pedoman Wawancara - Membuat
instrumen (soal, angket, observasi)
2. Tahap Pelaksanaan
a. Wawancara pertama b. Angket
c. Observasi Pertama d. Wawancara
Lanjutan
DAFTAR PUSTAKA
Agusta, Ivan. (2009). Tekhnik Pengumpulan dan Anlisis Data Kualitatif1. [Online]. Tersedia: http://ivanagusta.files.wordpress.com/2009/04/ivan-pengumpulan-analisis-data-kualitatif.pdf [09 Juni 2013]
Babang, Robandi. (2008). Standar Kompetensi Guru SD/MI. [Online]. Tersedia:
http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEDAGOGIK/196108141986031-BABANG_ROBANDI/STANDAR_KOMPETENSI_GURU_KELAS_SD .pdf [09 Juni 2013]
Ball, D.L., Thames, M.H., dan Phelps, G. (2008) Content Knowledge for Teaching: What Makes It Special? [Online].
Tersedia: http://conferences.illinoisstate.edu/nsa/papers/thamesphelps.pdf
[3 Desember 2012]
Bryman, Alan. (2002) Triangulation. [Online]. Tersedia:
http://www.referenceworld.com/sage/socialscience/triangulation.pdf [10 Juni 2013]
Hirschfeld, K dan Cotton. (2008). Mathematical Communication, Conceptual Understanding, and Students' Attitudes Toward Mathematics. [Online]. Tersedia: http://scimath.unl.edu/MIM/files/research/CottonK.pdf [06 Juni 2013]
Marvasti, A.B. (2004). Qualitative Research in Sociology. [Online]. Tersedia:
http://www.tlu.ee/~katrinka/gigapeedia/qvalitative%20researc %20sociology.pdf [10 Juni 2013]
NCTM. (2004). Executive Summary Principles and Standards for School Mathematics. [Online]. Tersedia:
http://www.nctm.org/uploadedFiles/Math_Standards/12752_exec_pssm.pd f [06 Juni 2013]
Ontario Mynister of Education (2005) A Guide to Effective Instruction in Mathematics Kindergarten to Grade 6 Vol. 2. [Online]. Tersedia:
http://www.eworkshop.on.ca/edu/resources/guides/Guide_Math_K_6_Volu me_2.pdf [09 Juni 2013]
Qohar, Abd. (2011). Mathematical Communication: What And How To Develop It In Mathematics Learning?. [Online]. Tersedia:
http://eprints.uny.ac.id/354/1/P%20-%201.pdf [09 Juni 2013]
Universitas Pendidikan Indonesia. (2012). Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Bandung: UPI Press