˺
BAHAYA PENYEBARAN SYIAH DI NEGARA-NEGARA SUNNI
(Bagian Kelima: Qadha dan Qadar)
Kamaluddin Nurdin Marjuni
https://www.dakwatuna.com/2013/06/11/34826/bahaya-penyebaran-syiah-di-
negara-negara-sunni-bagian-kelima-rukun-iman-qadha-dn-qadar/#axzz4t1e534pT
dakwatuna.com–Takdir merupakan rukun iman terakhir yang wajib diyakini
oleh umat Islam. Dan dalam pembahasan ini terdapat dua kata yaitu qadha dan
qadar. Kedua istilah ini serupa tapi tak sama, sebab keduanya mempunyai makna
yang berbeda.
Dari segi etimologi sebagaimana yang dijelaskan oleh imam Maturidi
bahwa qadha diartikan sebagai keputusan, sedangkan qadar diartikan sebagi
ketentuan[1]. Sedangkan dari segi terminologi, qadar adalah takdir Allah sejak
zaman azali, sedangkan qadha` adalah hukum Allah mengenai sesuatu ketika
sesuatu itu terjadi. Oleh karena itu, kalau Allah menetapkan terjadinya sesuatu
pada waktu yang ditentukan, maka itulah yang dinamakan qadar. Dan ketika
telah datang masa waktu terjadinya sesuatu yang telah ditetapkan sebelumnya
itu, maka itulah yang dinamakan qadha . Dengan demikianqadar wujud lebih
dulu dibanding qadha, sebab qadha menyusul di belakang setelah adanya qadar. Bila kita teliti dalam permasalahan takdir, syi ah cenderung kepada pandangan Mu tazilah yang berpendapat bahwa Tuhan tidak menciptakan perbuatan
manusia, tetapi manusialah yang mewujudkan perbuatan itu. Perbuatan adalah
˻
Di sinilah titik perbedaan antara pandangan sunni dan syi ah dari satu sisi, dan di sini jugalah titik persamaan antara syi ah dengan Mu tazilah. Sunni yang diwakili oleh dua golongan besar, yaitu: Asy ariah dan Maturidiyah, berkeyakinan bahwa Allah menciptakan perbutan manusia, dan manusia yang
melakukan perbutan yang Allah ciptakan tersebut[3].
Di samping itu perlu disebutkan di sini bahwa golongan sunni, syi ah dan
mu tazilah sama-sama mengkritik pandangan golongan Jabariah (Fatalisme),
yang berasumsi bahwa manusia tidak mampu untuk berbuat apa-apa, tidak
mempunyai daya, dan tidak mempunyai pilihan. Punulis tidak perlum
memaparkan lebih jauh tentang masalah ini, karena silang pendapat dalam
masalah ini tidak begitu jauh antara satu kelompok dengan kelompok yang lainnya. Dalam artian, polemik antara sunni dan syi ah dalam masalah ini tidak
berakibat fatal, seperti halnya polemik pada rukun-rukun iman yang lain.
Ada beberapa perbedaan lain yang sangat signifikan yang diyakini oleh
golongan syi ah )mamiyah selain perkara-perkara rukun di atas, yaitu:
1. Khalifah diwasiatkan secara nash dan bersifat turun temuran.
2. )mam adalah terpelihara dari dosa dan noda, alias bersifat ma shum.
3. Meyakini adanya raj ah kebangkitan kembali)[4].
4. Memaki para sahabat Nabi dan ummahatul mukminin.
5. Menghalalkan nikah Muta h.
6. Menolak ijma & qiyas. dalam masalah ini terjadi perdebatan intern antara
sesama syi ah sendiri. Yaitu antara dua kelompok: al-Akhbariyyun (al-Nashiyyun,
al-Muhadditsun), dan kelompok al-Ushuliyyuun (Madrasah ar-Ra’yi, Madrasah
at-Ta’wil).
7. Tidak menerima hadis yang diriwayatkan oleh perawi Ahli Sunnah.
Tentunya masih banyak lagi permasalahan selain yang penulis sebutkan di atas.
Apabila menoleh ke sejarah Islam, imamah (politik) merupakan faktor utama
˼
sehingga terpecah belah ke berbagai aliran, sekte dan mazhab. Ini akibat lahirnya
konflik antar sekte Islam sepeninggalnya Nabi saw ketika suksesi politik diadakan untuk merebut tampuk kepemimpinan. Dalam istilah syi ah, politik dinamakan (al-Imamah), dan istilah yang digunakan sunni adalah (al-Khilafah).
Sedangkan pada zaman modern saat ini dikenal dengan istilah (ar-Ri`asah).
Dalam pandangan politik syi ah dikatakan bahwa imamah bukanlah masalah
kepentingan pribadi yang diberikan kepada pilihan publik, akan tetapi adalah
salah satu pilar agama atau asal-usul dan dasar perinsip agama (Arkan ad-Din),
dimana iman seseorang tidaklah sempurna kecuali percaya dengan Imamah.
Oleh karena itu, mesti diyakini bahwa Imam Ali merupakan pelanjut Nabi saw
yang sah dengan penunjukan langsung dari Nabi saw (bukannya Abu Bakar).
Dan bagi mereka, kedudukan para Imam setara dengan kedudukan Nab saw. Oleh sebab itu, syi ah dalam setiap kasus berpendirian bahwa hak politik adalah
mutlak dimiliki oleh kalangan Ahlul Bait.
Dengan demikian konsep imamah dijadikan sebagai rukun agama oleh
seluruh penganut dan golongan syi ah. Sementara ahlu sunnah menjadikan
imamah hanya sebatas sebuah kajian fiqh saja dan bukan sebagai rukun agama.
Jadi bagi mereka, imamah itu adalah pangkat atau jabatan yang ditentukan oleh
Allah swt, oleh karena itu posisi imam itu mereka samakan dengan posisi Nabi.
Dan kalau Nabi dipilih langsung olehi Yang Maha Kuasa, maka imam dipilih oleh
Nabi Muhammad saw. Dan pilihan beliau jatuh kepada Imam Ali, dan Imam Ali
memilih penerusnya dari Ahlul Bait. Jika demikian, dapat kita katakan bahwa
syi ah secara tidak langsung memasukkan sistem pemerintahan teokrasi dalam
Islam dan peradaban bangsa Arab. Dan berdasarkan konsep imamah ini, maka
umat tidak berhak memilih seorang imam, karena pemilihan imam merupakan
ketentuan Ilahi.
Mereka menggunakan banyak landasan. Hampir semua ayat-ayat al-Qur an dan sunnah Rasulullah saw yang berkaitan dengan kepemimpinan, perwalian, penghakiman dll mereka interpretasikan sebagai konsep Imamah.
˽
(ai orang-orang yang beriman, ta atilah Allah dan ta atilah Rasul-Nya,
dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang
sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur an dan Rasul
(sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama bagimu dan lebih baik akibatnya . Q.S.
an-Nisaa`: 59).
Ayat Yaa ayyuhallazdina amanu ati ullah wa ati u ar-rasul wa ulil Amri
minkum , menurut mereka kalimat wa ulil amri minkum , adalah para
imam-imam syi ah dan keturunannya. Dan pendapat ini disepakati oleh seluruh golongan syi ah yang terbesar, yaitu: syi ah Zaidiyah, syi ah )mamiyah dan syi ah
)sma iliyah[5]. Begitu juga halnya dengan Akhbar (hadits), seperti wasiat
Rasulullah saw pada saat peristiwa Ghadir Kham selepas haji Wada . Yaitu manakala Rasulullah saw mengatakan kepada umatnya ketika itu, bahwa Imam
Ali adalah penerima wasiat dan sebagai khalifah sepeninggalku[6].
Namun, kalau kita renungkan dengan teliti ucapan-ucapan Rasulullah saw dalam haji Wada , sebenarnya tidak ada dalam ucapan dan penyebutan Rasulullah saw mengenai khilafah, melainkan beliau hanya menyebutkan
tentang kebaikan, keutamaan (afdaliyah) imam Ali terhadap apa-apa
pengorbanan yang telah disumbangkan kepada umat Islam ketika itu. Oleh karena itu, syi ah merasa tidak cukup puas untuk menjadikan peristiwa Ghadir
Kham sebagai argumentasi mereka, sehingga mereka berusaha mencari
dalil-dalil lain yang boleh menguatkan keyakinan mereka[7]. Dan untuk menguatkan
peristiwa ini, salah seorang ulama syi ah )mamiyah bernama Abdul (usain
Ahmad al-Amini mengarang sebuah buku sebanyak 10 jilid yang berjudul
˾
yang mereka gunakan dari kalangan mereka sendiri, karena bagi syi ah )mamiyah ataupun )sma iliyah, hadist yang shahih adalah hadits yang diriwayatkan oleh )mam Ma shum dalam semua tingkatan.
Setelah memaparkan bentuk-bentuk perbedaan keyakinan, kepercayaan
(ideologi) dan politik yang dianut oleh masing-masing golongan sunnah dan golongan syi ah )mamiyah, maka kita boleh menilai secara objektif tentang pandangan bahwa Tidak ada perbedaan antara Syiah dan Sunni atau Perbedaan hanya sedikit dan bersifat furu’iyah bukan asas . Menurut hemat penulis, pandangan ini sebenarnya pandangan yang lebih beriorentasikan kepada rasa simpati Atifi terhadap mazhab Syi ah dan bukan daripada hasil
kajian dan penyelidikan ilmiah. Sebagai bukti, kalau memang perbedaan terbatas
hanya kepada hal furu iyyah bukan asasi dan prinsip, seperti berbeda pada tata
cara wudhu , cara bertakbir dalam shalat, dan permasalahan fiqh lainnya, kalau
hanya demikian, kenapa mesti saling mencela, menghina dan menjatuhkan
bahkan saling mengkafirkan?. Kalau beda tipis kenapa ada gerakan syiahisasi di
kalangan sunnah?. bukankah bagus kalau masing-masing berjalan sesuai akidah
keyakinan sendiri tanpa menjajah ideologi golongan lain?.
Pemaparan di atas telah membuktikan bahwa perbedaan antara sunnah
dan syi ah sangat fundamental. Di mana golongan sunnah berpendapat bahwa
rukun Islam setelah mengucapkan dua kalimat syahadat ada 4 perkara, yaitu: (1)
Shalat, (2) Puasa, (3) Zakat, (4) Haji.
Sedangkan Syi ah )mamiyah berpendapat bahwa rukun )slam ada 5, yaitu: (1) Shalat, (2) Zakat, (3) Hajji, (4) Puasa, (5) Wilayah.
Adapun Syi ah )sma iliyah mereka meyakini lebih banyak lagi rukun )slam, yaitu: (1) Wilayah, (2) Kesucian, (3) Shalat, (4) Zakat, (5) Puasa, (6) Hajji, (7) Jihad.
[1] Lihat: Maturidi, kitab at-Tauhid, hal: 305-307.
˿
[3] Untul Lebih jelasnya: lihat buku penulis: al-Mazahib al-Aqaaidiyah al
-Islamiyah, Universiti Sains Islam Malaysia, 2010.
[4] (akikat Raj ah diperselisihkan olehsyi ah )mamiyah, lihat buku penulis, al
-Aqidah al-Islamiyah Fi Dhau` ad-Dirasat al-Kalamiyah, hal: 35-60.
[5] Lihat rinciannya: DR. Kamaluddin Nurdin Marjuni: al-Firaq as-Syi iyah wa
Ushuluha as-Siyasiyah wa Mauqif Ahli Sunnah Minha, hal: 63-68, Universiti
Sains Islam Malaysia, 2009.
[6] Al-Kulaini, Ushul al-Kaafi, 1/324. al-Qadhi an-Nu man, al-Azjuuza
al-Mukhtarah, hal: 71.
[7] Lihat rinciannya: DR. Kamaluddin Nurdin Marjuni, Mauqif az-Zaidiyah wa
Ahli Sunnah Min al-Aqidah al-)sma iliyah Wa Falsafatuha, hal: -397, Darul